Pemicu 4
Siklus Hidup
Learning Objective
MM. Teori proses penuaan
MM. Faktor yang mempengaruhi aging
proses
MM. Gangguan fungsi organ dan sistem
otonom
MM. Perubahan fisik, psikososial, sosial,
emosi lansia
MM. Penilaian status gizi ps lansia
MM. Faktor yang mempengaruhi status gizi
lansia
MM . Terapi nonfarmakologis (edukasi) yang
LO 1
“Menua( = menjadi tua = aging) adalah
suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan
memperbaiki kerusakan yang diderita “ (Constantinides,1994)
Aging
dapat bertahan thd infeksi dan
memperbaiki kerusakan yang diderita
TEORI-TEORI PROSES MENUA
Pada dasarnya dibagi menjadi dua (Azizah, 2011), yaitu :
1.Teori biologi
a.Teori seluler
b.Teori “genetic clock”
c.Sintesis protein
d.Keracunan oksigen e.Sistem imun
f.Mutasi somatik (teori error catastrophe)
g.Teori menua akibat metabolisme h.Kerusakan akibat radikal bebas
2.Teori psikososial a.Activity theory
b.Continuity theory
Teori Seluler
•Penurunan kemampuan sel dalam membelah •Jumlah sel yg akan membelah pada lansia
lebih >> sedikit
•Sel sistem syaraf, muskulo, jantung
irreversibel aging proses penurunan fungsi >> dahulu
•Inrepair Unrepair dead
Teori “
genetic clock”
•Genetic clock
jam genetik
TIMER
sudah diprogram dari awal
kapan
mulai& kapan selesai
•Jika jam genetik berhenti
mati
meskipun tanpa penyebab
•Setiap spesies punya perbedaan
Rekor rentang hidup (record in life-span)
Genetic clock tiap spesies berbeda-beda
Secara teoritis memungkinkan pemutaran ulang jam biologis
bantuan faktor eksternal peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, atau tindakan-tindakan tertentu
• Pada tabel diatas yang tertera adalah usia
maksimal sedangkan usia harapan hidup tertinggi terdapat di Jepang yaitu Pria 76 tahun dan wanita 82 tahun (WHO, 1989-1995)
• Pengontrolan genetik umur rupanya dikontrol
dalam tingkat seluler, kultur sel in vitro menunjukan bahwa ada hubungan antara kemampuan untuk membelah sel dalam kultur dengan umur spesies
• Hasil penelitian transplantasi silang dari
Mutasi somatik
(teori error catastrophe)
•Kesalahan mekanisme pengontrolan genetik seluler transkripsi dan transalasi DNA/RNA
terbentuk enzim yg salah reaksi
Mutasi Somastik (teori Error Catastrophe)
• Faktor-faktor yang menyebabkan proses
menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik
• Radiasi dan zat kimia dapat memperpendek
umur, sebaliknya menghindari terkena radiasi atau tercemar zat kimia yang bersifat
karsinogenikatau tolsik dapat memperpanjang umur
• Menurut teori ini terjadi mutasi yang
Menurut hipotesis “Error Catastrophe”
menua di sebabkan oleh kesalahan
beruntun sepanjang kehidupan setelah
berlangsung dalam waktu yang cukup
lama, terjadi kesalahan dalam proses
transkripsi (DNA RNA)maupun dalam
proses translasi (RNA protein/enzim)
Jika terjadi kesalahan dalam proses
Sistem Imun
•Kemampuan sistem imun mengenali dirinya sendiri (self recognition) menurun
merusak sel tubuh nya sendiri sedikit demi sedikit autoimunitas
Rusaknya sistem Imum Tubuh
Mutasi yang berulang atau perubahan
protein pasca translasi, dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imum
tubuh mengenali sirinya sendiri (self recognation)
Jika mutasi somastik menyebabkan
terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini dapat menyebabkan sistem imum tubuh menganggap sel yang
Hasilnya dapat berupa reaksi antigen/antibodi
yang luas mengenai jaringan-jaringan beraneka ragam, efek menua jadi akan menyebabkan
reaksi histoinkomtabilitas pada banyak jaringan
Sistem imum tubuh sendiri daya pertahannya
mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa
membelah belah sehingga terjadi meningkatnya sesuai meningkatnya umur
Semua sel somastik akan mengalami proses
Sintesis protein
(kolagen & elastin)
•Perubahan sintesis protein (kolagen dan
kartilago, elastin) perubahan struktur kimia protein fleksibilitas ↓, lebih tebal kulit
Keracunan oksigen
•Kemampuan sel dalam tubuh untuk
mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat racun kadar tinggi
membran sel rusak proses dalam sel
Teori menua akibat metabolisme
•Pengurangan intake kalori menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur
menurunnya proses metabolisme
•Penurunan hormon insulin dan hormon pertumbuhan menurunnya proses
Kerusakan akibat radikal bebas
•Radikal Bebas (RB) terbentuk dari alam
bebas, dalam tubuh di fagosit (pecah), dan sebagai produk sampingan proses sel
superoksida (O2-), radikal hidroksi (OH), dan juga peroksida hidrogen (H2O2)
pemendekan telomer
•RB bersifat merusak dapat beraksi dengan
DNA ada mekanisme penangkal
Aktivitas atau Kegiatan
(
Activity Theory)
•Masa muda aktif dan terus terjaga sampai tua
Kepribadian Berlanjut
(
Continuity Theory)
•Perubahan yg terjadi dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya
•Dasar kepribadian/tingkah laku tidak berubah pada lansia identitas yg mantap
Teori Pembebasan (
Disengagement
Theory)
•Usia bertambah pelan tapi pasti
melepaskan diri dari masyarakat interaksi sosial menurun triple loss
•Kehilangan peran(loss of role)
•Hambatan kontak sosial
TEORI BIOLOGI
Teori Pakai dan Rusak (Wear & Tear Theory) Dr August
Weismann
Tubuh & sel-sel rusak karena banyak terpakai & digunakan secara
berlebihan.
Dengan atau tidak ada toksin yang kita dapat, tubuh kita akan
tetap menua karena kita gunakan tiap hari
Teori Neuro-Endokrin Vladimir Dilman, Ph.D
Penuaan terjadi karena produksi hormon tubuh menjadi
berkurang, sehingga kemampuan tubuh untuk memperbaiki sendiri (self-repaired) dan mengatur sendiri (self-regulation) menjadi rendah
Teori Kontrol Genetik
Tubuh sudah memiliki program genetik dalam DNA
masing-masing individu.
Keturunan genetik ini yang menentukan berapa usia kita mulai
Teori Radikal Bebas Dr Denham Harman
Penuaan terjadi karena radikal bebas (suatu elektron dalam
tubuh yang tidak memiliki gandengan, sehingga berusaha mencari elektron pasangan) menyerang sel-sel tubuh,
akibatnya sel-sel menjadi cepat rusak dan menua.
Teori Telomerase oleh grup ilmuwan dari Geron
Corporation
Telomer (rangkaian asam nukleat yang terdapat di ujung
kromosom) akan memendek tiap kali sel tubuh membelah.
Bila telomer sudah terlalu pendek, kemampuan sel untuk
membelah akan berkurang, melambat, dan sel tidak dapat membelah lagi.
Teori Crosslinking
DNA dan molekul lain akan saling melekat dan memilin,
akibatnya protein yang rusak tidak dapat dicerna oleh e.
TEORI SOSIAL
Activiy Theory (Teori aktivitas)
Menurut teori ini aktivitas, especially, social activity, adalah esensi
hidup seseorang, dan terjadi pada setiap orang di setiap tingkatan usia.
Kesehatan fisik dan psikologis lansia akan optimal bila mereka tetap
aktif dan mampu bersosialisasi.
Disengagement Theory (Teori Pelepasan)
Bahwa lansia ingin melepaskan diri dari segala ikatan dan tanggung jawab
sosial. Lansia menjadi lebih pasif, aktivitasnya mengarah ke self-directed bukan other directed or goal-oriented
Age Stratification Theory (Teori statifikasi usia)
Bahwa masyarakat terbagi dalam kelompok2 usia, setiap individu
masuk dalam “kohort” usia tertentu.
Phenomenological Theory (Teori Fenomenologis)
Teori ini memandang bagaimana lansia memberikan arti terhadap
LO 2
Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Aging
Proses
Internal Eksternal
Radikal bebas
Penurunan produksi
hormon
Penurunan sistem imun Apoptosis
Gen
Lifestyle
Diet
Radiasi UV, Polusi Stress
Radikal bebas
Stress
alkohol
Polusi udara Sinar UV
pernapasan rokok
Makanan
Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Aging
Proses
1) Hereditas
2) Nutrisi atau makanan 3) Status kesehatan
4) Pengalaman hidup 5) Lingkungan
LO3
PERUBAHAN SISTEM ORGAN
A. Perubahan pada panca indera
Sekresi saliva berkurang mengakibatkan pengeringan rongga mulut.
Papil-papil pada permukaan lidah mengalami atrofi sehingga terjadi penurunan sensitivitas terhadap rasa terutama rasa manis dan asin. Perubahan indera penciuman, penglihatan dan pendengaran
mengalami penurunan fungsi
Patologis: ggg nafsu makan, kurang energi protein kronik
B. Sistem Gastrointestinal
Lapisan otot polos esofagus dan sfingter gastro esofageal mulai
melemah yang akan menyebabkan gangguan kontraksi dan refluk gastrointestinal spontan
Pengosongan lambung lebih lambatmakan lebih sedikit karena
lambung terasa penuh.
Penyerapan zat gizi berkurang dan produksi asam lambung serta
enzim pankreas menjadi lebih sedikit untuk mencerna makanan.
Patologis : kesulitan menelan, anoreksia, malabsorbsi lemak dan
C. Sistem Muskuoskeletal
Kepadatan tulang akan menurun. Tulang akan mudah rapuh
(keropos) dan patah, mengalami cedera, trauma yang kecil saja dapat menyebabkan fraktur.
Penurunan Lean Body Mass ( otot, organ tubuh, tulang) dan
metabolisme dalam sel-sel otot berkurang sesuai dengan usia. Penurunan kekuatan otot mengakibatkan orang sering merasa letih dan merasa lemah, daya tahan tubuh menurun karena terjadi atrofi.
Patologis: fraktur
D. Sistem Urogenital
Fungsi ginjal menurun sekitar 55% antara usia 35 – 80 tahun. Banyak fungsi yang mengalami kemunduran, contohnya laju
filtrasi, ekskresi, dan reabsorbsi oleh ginjal.
Pembuangan sisa-sisa metabolisme protein dan elektrolit
E. Sistem Kardiovaskular
Pada lansia jumlah jaringan ikat pada jantung (baik katup
maupun ventrikel) meningkat sehingga efisien fungsi pompa jantung berkurang.
Pembuluh darah besar terutama aorta menebal dan menjadi
fibrosis. Pengerasan ini, selain mengurangi aliran darah dan meningkatkan kerja ventrikel kiri,juga mengakibatkan
ketidakefisienan baroreseptor (tertanam pada dinding aorta, arteri pulmonalis, sinus karotikus).
Kemampuan tubuh untuk mengatur tekanan darah
berkurang.
F. Sistem Respirasi
Elastisitas jaringan paru dan dinding dada berkurang, Kekuatan kontraksi otot pernapasan menurun sehingga
G. Sistem Endokrin
Terjadi perubahan dalam kecepatan dan jumlah
sekresi,respon terhadap stimulasi serta struktur kelenjar endokrin.
Pada usia diatas 60 tahun terjadi penurunan sekresi
testosteron,estrogen,dan progesteron. H. Sistem Integumen
Kulit berubah menjadi tipis,kering,keriput dan tidak
elastis lagi.
Rambut rontok dan berwarna putih,kering dan tidak
mengkilat.
I. Sistem Imunologik
Penurunan fungsi imunologik sesuai dengan umur yang
ORGAN
PERUBAHAN
Paru-paru
Daya pegas dinding dada menurun Kekuatan otot pernapasan menurun Kekakuan iga meningkatDaya pegas jaringan elastik paru menurun
Paru-paru lebih mengembang, namun kaku
Saluran
nafas
Refleks batuk menurun
Mudah tersedak
Jantung-
pembuluh
darah
Katup jantung kaku
Jumlah sel pacu berkurang Sistem konduksi menurun
Penumpukan jar. Ikat di otot jantung kaku
Pembuluh darah kurang lentur TD naik
Isi sekuncup menurun; curah jantung ber<
Ginjal Jumlah nefron, glomerulus < Fungsi filtrasi menurun
Kepekaan tubulus terhadap ADH < Reabsorbsi <
LFG menurun 7,5 mL/m/dekade
Tulang, sendi, otot
Saluran
cerna
Produksi air liur <
Osteoporosis tulang rahang, gigi tanggal
Gerakan kerongkongan & lambung melambat
Produksi enzim pencernaan < Gerakan usus besar <
Saluran Kemih &
Kelamin Kelenjar prostat membesarSelaput mulut rahim kering Otot dasar panggul melemah Susunan Saraf
Pusat Pengerasan pembuluh darah otakDemensia (neurofibril tangie, amyloid)
MACROSCOPIC CHANGES OF AGING BRAIN
LO 4
Penurunan massa otot
menyebabkan
laju metabolisme basal menurun
Peningkatan massa lemak
Penurunan total body water (cairan
tubuh total)
Penurunan massa tulang
Pergeseran penumpukan lemak dari
subkutan ke arah sentral : abdomen,
paha, bokong
Penurunan sel tubuh
Perubahan Fisik
Beberapa perubahan gangguan fisik yang timbul adalah sebagai berikut :
Perubahan pada kulit : kulit wajah, leher, lengan, dan tangan menjadi lebih kering dan keriput, kulit di bagian bawah mata membentuk seperti kantung dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas, warna merah kebiruan
sering muncul di sekitar lutut dan di tengah tengkuk.
Perubahan otot : pada umumnya otot orang berusia madya menjadi lembek dan mengendur di sekitar dagu, lengan bagian atas, dan perut
Perubahan pada persendian : masalah pada persendian terutama pada bagian tungkai dan lengan yang membuat mereka menjadi agak sulit berjalan
Perubahan pada mata : mata terlihat kurang bersinar dan cenderung mengeluarkan kotoran yang menumpuk di
susdut mata, kebanyakan menderita presbiop atau kesulitan melihat jarak jauh, menurunnya akomodasi karena menurunnya elastisitas mata
Perubahan pada telinga : fungsi pendengaran sudah mulai menurun, sehingga tidak sedikit yang mempergunakan alat bantu pendengaran. mulai terjadi penurunan. Penurunan ini bisa berlangsung secara perlahan bahkan bisa terjadi secara cepat tergantung dari kebiasaan hidup pada masa usia muda.
Perubahan pada sistem pernafasan : nafas menjadi lebih pendek dan sering tersengal-sengal, hal ini akibat
terjadinya penurunan kapasitas total paru-paru, residu volume paru dan konsumsi oksigen basal, ini akan
menurunkan fleksibilitas dan elastisitas dari paru
Faktor yang mempengaruhi kesehatan
psikososial lansia
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan psikososial lansia menurut Kuntjoro (2002), antara lain:
1) Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan
ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan
kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat
2) Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti:
a) Gangguan jantung
b) Gangguan metabolisme, misal diabetes millitus c) Vaginitis
d) Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi
e) Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang
f) Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer, serta
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :
a) Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia
b) Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya
c) Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya d) Pasangan hidup telah meninggal
Macam-Macam Perubahan Psikososial yang
Terjadi pada Lansia
Ada beberapa macam perubahan psikososial yang terjadi pada lansia menurut Anonim (2006) antara lain :
1) Perubahan fungsi sosial
Perubahan yang dialami oleh lansia yang berhubungan dengan aktivitas-aktivitas sosial pada tahap sebelumnya baik itu dengan lingkungan keluarga atau masyarakat luas
2) Perubahan peran sesuai dengan tugas perkembangan
Kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh
kembang pada tahap sebelumnya. Apabila pada tahap perkembangan sebelumnya melakukan kegiatan sehari-hari dengan teratur dan baik serta membina hubungan yang serasi dengan orang di sekitarnya,
3) Perubahan tingkat depresi
Tingkat depresi adalah kemampuan lansia dalam menjalani hidup dengan tenang, damai, serta menikmati masa pensiun bersama anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih sayang 4) Perubahan stabilitas emosi
Kemampuan orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan atau konflik akibat perubahan – perubahan fisik,
maupun sosial – psikologis yang dialaminya dan kemampuan untuk mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari lingkungan, yang disertai dengan
Secara umum beberapa gangguan psikologis yang timbul adalah Kecemasan (angietas)
Depresi
Rasa bersalah (guilty feeling)
Masalah perkawinan atau juga akibat dari rasa takut akan gagal dalam
berhubungan intim
Khusus pada perempuan, ada beberapa gangguan yang sangat berpengaruh besar terhadap sisi kewanitaannya seperti :
Penurunan sekresi estrogen setelah menopause
Hilangnya kelenturan/elastisitas jaringan buah dada Cerviks yang menyusut ukurannya
Dinding alat vital atropi ukurannya memendek Berkurangnya pelumas alat vital
Matinya steroid hubungan intim secara tidak langsung mempengaruhi
aktivitas seks
Perubahan aging meliputi penipisan bulu alat vital, penyusutan bibir kalat
Psikologis Pada Lansia + Gangguan
5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:
1. Tipe kepribadian konstruktif (Construction personality)
Biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang
dan mantap sampai sangat tua.
2. Tipe kepribadian mandiri (Independent personaliy)
Pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power
sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak di isi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.
3. Tipe kepribadian Tergantung (Dependent personality)
Pada tipe ini bisanya sangat dipengaruhi kehidupan
keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang di
4. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality)
Lansia tetap merasa tidak puas dengan
kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
5. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate Personality)
Lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara,
TUGAS PERKEMBANGAN MASA LANSIA
Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan
fisik dan kesehatan.
Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan
berkurangnya income keluarga.
Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup. Membentuk hubungan dengan orang-orang yang
seusia.
LO5
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang
berbeda-beda setiap indicidu pada umumnya dihitung berdasarkan kebutuhan kalori dan energi, sebagai berikut:
1. Energi
Menurut Widya Karya Pangan Gizi tahun 1998,
untuk usia lanjut (>60 tahun) - laki-laki 2200 kalori
- wanita 1850 kalori.
Kebutuhan energi pada usia lanjut menurun
2. Protein
Kecukupan protein sehari sekitar 0,8 gram/kg berat
badan atau 15-25% dari kebutuhan energi.
Konsumsi protein berlebih dapat membebani faal
ginjal sehingga tidak dianjurkan untuk usia lanjut.
Dianjurkan memenuhi kebutuhan protein terutama
dari protein nabati dan dari protein hewani dengan perbandingan 2:1.
Jumlah protein yang dibutuhkan untuk laki-laki usia
3. Lemak
Kebutuhan lemak untuk usia lanjut lebih sedikit karena
akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah
Pada usia lanjut dianjurkan konsumsi lemak jangan
lebih dari 15% kebutuhan energi dan dianjurkan untuk menggunakan minyak nabati karena mengandung
asam lemak tak jenuh (kecuali santan). 4. Karbohidrat
Untuk usia lanjut dianjurkan mengkonsumsi
karbohidrat komplek karena juga mengandung vitamin, mineral, dan serat daripada mengkonsumsi karbohidrat murni seperti gula.
Dianjurkan pada usia lanjut mengkonsumsi 60-65%
5. Vitamin
Untuk usia lanjut dianjurkan untuk
meningkatkan konsumsi makanan kaya vitamin A, D dan E untuk mencegah penyakit
degeneratif (sebagai antioksidan).
Selain itu, konsumsi makanan yang banyak
mengandung vitamin B12, asam folat, vitamin B1 dan vitamin C juga dianjurkan untuk
6. Mineral
Pada usia lanjut dianjurkan mengkonsumsi makanan
kaya Fe, Zn, Selenium dan Kalsium untuk mencegah anemia dan pengeroposan tulang terutama pada
wanita, selain juga perlu untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Disamping itu, zat gizi mikro lain seperti pospor,
kalium, natrium, dan magnesium juga dibutuhkan untuk proses metabolisme di dalam tubuh.
7. Air dan Serat
Air sangat penting untuk proses metabolisme dan
mengeluarkan sisa pembakaran tubuh.
Selain itu serat juga dianjurkan untuk usia lanjut
Mini Nutritional Assessment (MNA)
Mini Nutritional Assesment (MNA) adalah
menggolongkan pasien atau lansia dalam
keadaan status gizi baik, beresiko malnutrisi ataukah malnutrisi berat.
MNA mempunyai dua bagian besar yaitu
screening dan assessment, dimana
penjumlahan semua skor akan menentukan seorang lansia pada status gizi baik, beresiko malnutrisi, atau beresiko underweight
Penapisan Status Gizi
Mini Nutritional Assesment (MNA)
Form Penilaian 18 item dikelompokkan menjadi 4:
Penilaian Antropometrik : BMI, Penurunan BB, LILA,
Lingkar betis
Penilaian Umum : pola hidup, riwayat pengobatan,
tanda depresi atau demensia
Penilaian Makanan : jumlah asupan makanan dan
minuman
Penilaian Subjektif : persepsi responden terhadap
Hal-hal yang Obat-obat yang
digunakan
Frekuensi full
meals
Asupan
makanan
Status
kesehatan
Lingkar lengan
atas
Penilaian Status Gizi
Antropometri
Biokimia/ laboratorium
Gejala klinis
Pemeriksaan Fisik Lansia
Pemeriksaan AntropometrikBerat Badan Tinggi Badan Knee Heght IMT
LO 6
Faktor Yang Mempengaruhi
Asupan Gizi Lansia
Faktor Fisiologis
Faktor Fisiologis
Perubahan Akibat Asupan Gizi
- Pe Massa bebas Lemak Massa otot kebutuhan Energi kebutuhan protein
Pe massa lemak retensi cairan me resiko dehidrasi Pe massa air cadangan air tubuh resiko dehidrasi
Resistensi insulin Gula darah puasa
resiko DM 2
Sekresi asam lambung absorpsi vit B12,
Faktor Fisiologis
Perubahan Akibat Asupan Gizi
Intoleransi laktosa asupan susu & prod turunan Asupan kalsium
& vit D
Perubahan sensoris nafsu makan cenderung makan
manis
Faktor Patofisiologis
Gigi geligi nyeri mengunyah
makanan lembut konsumsi daging& buah
asupan protein
Faktor Patofisiologis
Fungsi ginjal daya filtrasi resorpsi
ekskresi obat produksi vit D
Daya Tahan Tubuh sering terserang
penyakit
LO 7
Terapi Non Farmakologi Penyakit Demensia
1. Konsumsi ikan
Ikan sangat penting untuk mengatasi penyakit demensia, karena ikan mengandung senyawa omega-3 yang sangat tinggi, dimana kandungan tersebut menurut sebuah penelitian mampu menggabungkan saraf-saraf yang sempat terputus atau tidak berfungsi akibat dari penyakit demensia, terutama untuk penyakit demensia alzheimer, Anda dapat mengonsumsi ikan-ikan laut segar, seperti tuna, tongkol dan masih banyak lagi.
2. Hindari stres
Stres dapat membuat otak bekerja lebih keras dari pada sebelumnya, menurut sebuah
penelitian di Swedia seseorang yang mengalami stres akan lebih beresiko terkena penyakit demensia dari wanita normal, maka dari itu jika Anda saat ini saja sudah menderita penyakit demensia, akan sangat tidak baik apabila Anda stres terlalu banyak tekanan. Anda dapat menghindari stres dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama dengan orang yang disayang, seperti keluarga, teman ataupun kekasih.
3. Tidur cukup
Tidur sangat erat kaitanya dengan kesehatan tubuh dan otak, oleh sebab itu jika Anda
mengalami penyakit demensia, akan sangat lebih baik apabila menghindari begadang dan tidur dengan cukup, minimal orang normal tidur selama 6 jam, namun apabila Anda mengalami
penyakit demensia perbanyak waktu tidur hingga minimal 8 jam setiap harinya, dengan begitu kondisi kesehatan dan otak Anda akan menjadi lebih baik.
4. Berhenti merokok dan minum alkohol
Terapi non farmakologi penyakit
parkinson
1. Menghindari trauma otak
Terapi non farmakologi yang pertama adalah dengan menghindari trauma otak, seperti tidak
mengingat kejadian yang membuat otak menjadi berfikir lebih keras, karena pada dasarnya penyakit perkinson ini menyerang pada bagian neuron. Bagian inilah yang berfungsi menyalurkan pesan
berupa sinyal listrik ke seluruh saraf tubuh. 2. Meningkatkan kebugaran fisik dan mental
Meningkatkan aktivitas fisik dan mental akan menjadi terapi non farmakologi yang sangat efektif untuk penderita lakukan, karena aktivitas fisik seperti olahraga ataupun mental seperti santapan rohani dapat mencegah terjadinya penuaan sel-sel pada otak. Olahraga dapat dilakukan dengan
berjalan diatas kerikil atau batuan kecil selama 30 menit. Dan untuk santapan rohani penderita dapat pergi kesebuah tempat dimana dia bisa tenang seperti tempat-tempat yang dia sukai.
3. Menjauhkan bahan beracun
Bahan beracun seperti Insektisida, herbisida, pestisida dan sebagainya, dapat menjadi pemicu sel-sel tubuh menjadi mati atau rusak, dan jika hal ini terjadi pada penderita penyakit parkinson maka akan sangat berbahaya, selain itu asap kendaraan atau polusi juga bisa menjadi racun bagi otak karena didalam polusi udara tersebut terkadung karbon monoksida, karbon disulfida dan racun sianida yang sangat berbahaya.
4. Membatasi asupan vitamin B6
Memang vitamin b6 sangat baik di konsumsi untuk manusia pada umumnya, namun tidak untuk penderita parkinson, karena jika penderita perkinson memperbanyak konsumsi vitamin B6 akan menyebabkan Shidopa.
5. Menghindari aktivitas siang hari
Pada penderita penyakit parkinson akan memiliki tingkat sensitif terhadap lingkungan yang sangat tinggi, seperti terkena panas sinar matahari saja penderita bisa pingsan dan bahkan bisa kehilangan nyawa, hal ini terjadi karena panas siang hari yang sangat menyengat memicu sel otak menjadi panas pula sehingga akan berakibat buruk pada penderita penyakit perkinson ini. maka dari itu jika
Daftar Pustaka
Djuanda, Edwin. 2007. Anti Aging Rahasia
Awet Muda. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Darmojo B. Buku Ilmu Kesehatan Usia Lanjut.
2013. Balai penerbit FKUI, Jakarta
Arisman MB. Buku Ajar Ilmu Gizi Dalam Daur