• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DASAR PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN pdf"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

DASAR PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN

Nurfadilah, Helmy Thalia, Risdah Damayanti N, dan Utari Ratih Purwaningrum

Pendidikan Kimia ICP A Abstrak

Dari pengamatan atas dasar pengukuran dan ketidakpastian memiliki tujuan yang dapat menentukan nilai dari perangkat skala pengukuran terkecil, dapat menggunakan alat ukur benar dan dapat menentukan nilai pengukuran yang cermat dan akurat. Pengukuran adalah kegiatan membandingkan jumlah diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai unit. Semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran disebut angka penting. Angka penting terdiri dari angka yang tepat dan angka di atas perkiraan (jumlah diragukan) sesuai dengan alat ukur yang digunakan. Tapi ada juga sesuatu yang menyebabkan pengukuran yang tepat tidak bisa mengatakan yang disebut oleh ketidakpastian. Ketidakpastian dalam pengukuran obyek disebabkan oleh beberapa hal, antara lain, karena gesekan pada bagian yang bergerak dari alat ukur yang membuat akurasi pengukuran kecil. Kata Kunci: Angka Penting, Ketelitian, Ketepatan, Ketidakpastian.

RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana cara menentukan nilai skala terkecil suatu alat ukur? 2. Apa yang berbeda antara akurasi dan presisi?

TUJUAN

(2)

METODOLOGI EKSPERIMEN

Teori Singkat

Pengukuran adalah suatu bentuk teknik untuk mengaitkan suatu bilangan dengan suatu besaran standar yang telah diterima sebagai suatu satuan. Selanjutnya semua pengukuran sedikit banyak dipengaruhi oleh kesalahan eksperimen karena ketidaksempurnaan yang tak terelakkan dalam alat ukur atau karena batasan yang ada pada indera kita (penglihatan dan pendengaran), yang harus merekam informasi.

Tujuan pengukuran adalah untuk mendapatkan hasil berupa nilai ukur yang tepat dan benar. Ketepatan pengukuran merupakan hal yang sangat penting didalam fisika untuk memperoleh hasil atau data yang akurat dan dapat dipercaya.

Dalam melakukan pengukuran, digunakan suatu alat yang disebut alat ukur. Alat ukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda atau kejadian tersebut. Seluruh alat pengukur dapat terkena kesalahan peralatan yang bervariasi.

Semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran disebut angka penting. Angka penting terdiri dari atas angka pasti dan angka taksiran (angka yang diragukan) sesuai dengan alat ukur yang digunakan.

Aturan angka penting

1. Semua angka bukan nol adalah angka penting. Contoh: 836,5 gr memiliki empat angka penting

2. Angka nol yang terletak di antara dua angka bukan nol termasuk angka penting.

Contoh: 75,006 Kg lima angka penting

3. Untuk bilangan desimal yang lebih kecil dari satu, maka angka nol setelah angka bukan nol termasuk angka penting.

Contoh: 0,0060 m dua angka penting

4. Untuk bilangan desimal yang lebih kecil dari satu, maka angka nol sebelum angka bukan nol tidak termasuk angka penting.

(3)

5. Bilangan-bilangan puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya yang memiliki angka nol harus ditulis dalam notasi ilmiah. Angka-angka pada notasi ilmiah merupakan angka penting.

Contoh: 8900 gr ditulis menjadi 8,9 x 103 gr memiliki dua angka penting NST adalah nilai terkecil dari hasil pengukuran masih dapat dibaca dengan instrumen. NST mikrometer sekrup dapat ditentukan dengan cara yang sama dengan prinsip Jangka Sorong, yaitu:

Nonius

Dengan N = jumlah skala Nonius.

(4)

b. Bola Kecil c. Air

d. Spiritus

Identifikasi Variabel

Kegiatan 1 : Pengukuran panjang 1. Panjang

2. Lebar 3. Tinggi 4. Diameter

Kegiatan 2 : Pengukuran massa - Massa

Kegiatan 3 :Pengukuran waktu dan suhu 1. Waktu

2. Suhu

Definisi Operasional Variabel Kegiatan 1 : Pengukuran panjang

1. Panjang, lebar, tinggi : jarak antara titik satu ke titik yang lain dalam suatu bidang 3 dimensi.

2. Diameter (D) : jarak dari satu sisi ke sisi yang lain melalui titik pusatnya. Kegiatan 2 : Pengukuran massa

- Massa (m) : beratnya suatu objek yang sedang diukur. Kegiatan 3 : Pengukuran waktu dan suhu

1. Suhu (℃) : keadaan udara pada waktu dan tempat tertentu.

2. Waktu (s) : cepat atau lambat yang dibutuhkan suatu kegiatan penelitian.

Prosedur Kerja

Kegiatan 1 : Pengukuran panjang

(5)

2. Ukur masing-masing untuk panjang, lebar dan tinggi balok yang disediakan dengan menggunakan ketiga alat ukur sebanyak 3 kali. Catat hasil pengukuran pada tabel hasil pengamatan disertai ketidakpastianpengukuran.

3. Ukur masing-masing untuk diameter bola (ditempat berbeda) yang disediakan denganmenggunakan ketiga alat ukur tersebut sebanyak 3 kali. Catat hasil pengukuran pada tabel hasil pengamatan disertai ketidakpastianpengukuran.

Kegiatan 2 : Pengukuran massa

1. Tentukan NST masing-masing neraca (310 gram, 311 gram dan 2610 gram).

2. Ukur massa balok kubus dan bola (yang digunakan di pengukuran panjang) sebanyak 3 kali secara berulang.

3. Catat hasil pengukuran yang disertai ketidakpastian pengukuran. Kegiatan 3 : Pengukuran waktu dan suhu

1. Siapkan gelas ukur, ebuah termometer, pembakar bunsenbeserta dengan kaki tiga dan lapisan asbesnya.

2. Isi gelas ukur dengan air hingga ½ bagian dan letakkan di ratas kaki tiga tanpa pembakar.

3. Ukur temperaturnya sebagai temperatur mula-mula (T0).

4. Nyalakan bunsen pembakar dan tunggu beberapa saat hingga nyalanya terlihat normal.

5. Letakkan bunsen pembakar tadi tepat di bawah gelas kimia bersamaan dengan jalannya alat pengatur waktu (stopwatch).

6. Catat perubahan temperatur yang ada pada termometer tiap selang waktu 1 menit sampai diperoleh 6 hasil pengamatan.

HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS DATA Hasil Pengamatan

(6)

NST Mistar : 1 cm10 = 0,1 cm = 1 mm NST JangkaSorong: 50 SN = 49 SU

50 SN = 49 mm

1 SN = 49 mm50 = 0,98 mm

NST alat = 1 mm – 0,98 mm = 0,02 mm NST MikrometerSekrup :NST SkalaMendatar = 5 mm10 = 0,5 mm

NST Mikrometer = 0,5 mm50 = 0,01 mm Tabel 1. Hasil Pengukuran Panjang

Benda

a. Neraca Ohauss 2610 gram

Nilai Skala Lengan 1 = 10 g1 = 10 g

(7)

Nilai Skala Lengan 3 = 1 g10 = 0,1 g

Mass load suspension = -

Tabel 2. Pengukuran Massa dengan Neraca Ohauss 2610 gram

Benda Lengan 1 Penun. Lengan 2 Penun. Lengan 3 Penun. Gantung Massa Benda (g) Beban Balok 50 g 0 g 4,05 g - |54,05±0,05|

50 g 0 g 4,25 g - |54,25±0,05| 50 g 0 g 4,20 g - |54,20±0,05|

Bola 10 g 0 g 9,65 g - |19,65±0,05|

10 g 0 g 9,50 g - |19,50±0,05| 10 g 0 g 9,60 g - |19,60±0,05|

b. Neraca Ohauss 311 gram

Nilai Skala Lengan 1 = 200 g

2 = 100 g

Nilai Skala Lengan 2 = 100 g10 = 10 g

Nilai Skala Lengan 3 = 10 g10 = 1 g

Nilai Skala Lengan4 = 0,1 g10 = 0,01 g

Tabel 3. Pengukuran Massa dengan Neraca Ohauss 311 gram

Benda Lengan 1 Penun. Lengan 2 Penun. Lengan 3 Penun. Lengan 4 Massa Benda (g) Penun.

Balok 0 g 50 g 4 g 0 g |54,000±0,005|

0 g 50 g 3 g 0,99 g |53,990±0,005|

0 g 50 g 4 g 0 g |54,000±0,005|

Bola 0 g 10 g 9 g 0,41 g |19,410±0,005| 0 g 10 g 9 g 0,42 g |19,420±0,005| 0 g 10 g 9 g 0,44 g |19,440±0,005|

(8)

Nilai Skala Lengan 1 = 100 g1 = 100 g

Nilai Skala Lengan 2 = 10 g1 = 10 g

Nilai Skala Putar = 1 g10 = 0,1 g Nilai Skala Nonius = 10 SN

NST Neraca Ohauss 310 gram : 10 SN = 1,9 SU 10 SN = 1,9 g

1 SN = 1,9 g10 = 0,19 g

NST Alat = 0,2 g – 0,19 g = 0,01 g

Tabel 4. Pengukuran Massa dengan Neraca Ohauss 310 gram

Benda Lengan 1 Penun. Lengan 2 Penun. Penun. Skala Putar

Penun. Skala

Nonius Massa Benda (g)

Balok 0 g 50 g 4,1 5 |54,15±0,01|

0 g 50 g 4,1 6 |54,16±0,01|

0 g 50 g 4,1 5 |54,15±0,01|

Bola 0 g 10 g 10 0 |20,00±0,01|

0 g 10 g 9,9 5 |19,95±0,01|

0 g 10 g 9,9 4 |19,94±0,01|

3. Pengukuran Waktu dan Temperatur

NST Termometer = 1oC NST Stopwatch = 0,1 s

Temperatur Awal (To) = 29,5oC

Tabel 5. Pengukuran Waktu dan Temperatur Waktu (s) Temperatur (oC) Perubahan Temperatur (oC)

(9)

300 |38,00±0,50| |8,50±0,50| 360 |40,00±0,50| |10,50±0,50|

Analisis Data

1. Pengukuran Panjang a. Balok

1. Mistar - Panjang

p1 = |18,0 ± 0,5| mm

p2 = |18,0 ± 0,5| mm

p3 = |18,0 ± 0,5| mm

p = (18,0 + 18,0 + 18,03 ) mm = 18,0 mm

δ1= |18,0 - 18,0| mm = 0,0 mm

δ = |18,0 - 18,0| mm = 0,0 mm δ3= |18,0 - 18,0| mm = 0,0 mm

∆p = ∆x = 0,5 mm

KR = ∆pp x 100 % = 18,0 mm0,5 mm x 100 % = 2,78 % 3 A.P PF = |18,0 ± 0,5| mm

- Lebar

l1 = |19,0 ± 0,5| mm

l2 = |19,0 ± 0,5| mm

l3 = |19,0 ± 0,5| mm

l = ̅ (19,0 + 19,0 + 19,03 ) mm = 19,0 mm

δ1= |19,0 - 19,0| mm = 0,0 mm

δ = |19,0 - 19,0| mm = 0,0 mm δ3= |19,0 - 19,0| mm = 0,0 mm

∆l = ∆x = 0,5 mm

KR = ∆ll x 100 % = 19,0 mm0,5 mm x 100 % = 2,63 % 3 A.P

(10)

- Tinggi

t1 = |19,0 ± 0,5| mm

t2 = |19,0 ± 0,5| mm

t3 = |19,0 ± 0,5| mm

t = ̅ (19,0 + 19,0 + 19,03 ) mm = 19,0 mm

δ1= |19,0 - 19,0| mm = 0,0 mm

δ = |19,0 - 19,0| mm = 0,0 mm δ3= |19,0 - 19,0| mm = 0,0 mm

∆t = ∆x = 0,5 mm

KR = ∆tt x 100 % = 19,0 mm0,5 mm x 100 % = 2,63 % 3 A.P

PF = |19,0 ± 0,5| mm

2. Jangka Sorong - Panjang

p1 = |18,04 ± 0,02| mm

p2 = |18,02 ± 0,02| mm

p3 = |18,18 ± 0,02| mm

p = (18,04 + 18,02 + 18,183 ) mm

= 18,08 mm

δ1= |18,08 - 18,04| mm = 0,04 mm

δ = |18,08- 18,02| mm = 0,06 mm δ3= |18,08 - 18,18| mm = 0,1 mm

∆p = δmaks = 0,1 mm

KR = ∆pp x 100 % = 18,08 mm0,1 mm x 100 % = 0,55 % 4 A.P

PF = |18,08 ± 0,10| mm - Lebar

l1 = |19,02 ± 0,02| mm

l2 = |19,00 ± 0,02| mm

l3 = |19,02 ± 0,02| mm

(11)

δ1= |19,01 - 19,02| mm = 0,01 mm

δ = |19,01 – 19,00| mm = 0,01 mm δ3= |19,01 - 19,02| mm = 0,01 mm

∆l = δmaks = 0,01

KR = ∆ll x 100 % = 19,01 mm0,01 mm x 100 % = 0,05 % 4 A.P

PF = |19,01 ± 0,01| mm - Tinggi

t1 = |19,00 ± 0,02| mm

t2 = |19,04 ± 0,02| mm

t3 = |19,10 ± 0,02| mm

t = ̅ (19,00 + 19,04 + 19,103 ) mm

= 19,05 mm

δ1= |19,05 - 19,00| mm = 0,05 mm

δ = |19,05 - 19,04| mm = 0,01 mm δ3= |19,05 - 19,10| mm = 0,05 mm

∆t = = 0,05 mm

KR = ∆tt x 100 % = 19,05 mm0,05 mm x 100 % = 0,26 % 4 A.P

PF = |19,05 ± 0,05| mm

3. Mikrometer Sekrup - Panjang

p1 = |18,080 ± 0,005| mm

p2 = |18,070 ± 0,005| mm

p3 = |18,040 ± 0,005| mm

p = (18,080 + 18,070 + 18,0403 ) mm

= 18,063 mm

δ1=|18,063 - 18,080| mm = 0,017 mm

δ =|18,063 - 18,070| mm = 0,007 mm δ3=|18,063 - 18,040| mm = 0,023 mm

(12)

KR = ∆pp x 100 % = 18,063 mm0,023 mm x 100 % = 0,13 % 4 A.P

PF = |18,06 ± 0,02| mm - Lebar

l1 = |19,030 ± 0,005| mm

l2 = |18,990 ± 0,005| mm

l3 = |19,080 ± 0,005| mm

l = ̅ (19,030 + 18,990 + 19,0803 ) mm = 19,033 mm

δ1=|19,033 - 19,030| mm = 0,003 mm

δ =|19,033 - 18,990| mm = 0,043 mm δ3=|19,033 - 19,080| mm = 0,047 mm

∆l = δmaks = 0,047 mm

KR = ∆ll x 100 % = 19,033 mm0,047 mm x 100 % = 0,27 % 4 A.P

PF = |19,03 ± 0,05| mm - Tinggi

t1 = |19,080 ± 0,005| mm

t2 = |19,080 ± 0,005| mm

t3 = |19,000 ± 0,005| mm

t = ̅ (19,080 + 19,080 + 19,0003 ) mm= 19,053 mm

δ1=|19,053 - 19,080| mm = 0,027 mm

δ =|19,053 - 19,080| mm = 0,027 mm δ3=|19,053 - 19,000| mm = 0,053 mm

∆t = = 0,053 mm

KR = ∆tt x 100 % = 19,053 mm0,053 mm x 100 % = 0,28 % 4 A.P

PF = |19,05 ± 0,05| mm b. Bola

(13)
(14)

KR = ∆dd x 100 % = 24,603 mm0,317 mm x 100 % = 1,29 % 3 A.P

PF = |24,6 ± 0,3| mm 2. Pengukuran Massa

a. Balok

1) Neraca Ohauss 2610 gram m1 = |54,05 ± 0,05| g

m2 = |54,25 ± 0,05| g

m3 = |54,20 ± 0,05| g

m = (54,05 + 54,25 + 54,203 ) g = 54,17

δ1= |54,17 – 54,05| g = 0,12 g

δ = |54,17 – 54,25| g = 0,08 g δ3= |54,17 – 54,20| g = 0,03 g

∆m = δmaks = 0,12

KR = ∆mm x 100 % = 54,17 g0,12 g x 100 % = 0,22 % 4 A.P PF = |54,17 ± 0,12| g 2) Neraca Ohauss 311 gram

m1 = |54,000 ± 0,005| g

m2 = |53,990 ± 0,005| g

m3 = |54,000 ± 0,005| g

m = (54,000 + 53,990 + 54,0003 ) g = 53,997 g

δ1= |53,997 – 54,000| g = 0,003 g

δ = |53,997 – 53,990| g = 0,007 g δ3= |53,997 – 54,000| g = 0,003 g

∆m = δmaks = 0,007 g

KR = ∆mm x 100 % = 53,997 g0,007 g x 100 % = 0,01 % 4 A.P

(15)

3) Neraca Ohauss 310 gram

1) Neraca Ohauss 2610 gram m1 = |19,65 ± 0,05| g 2) Neraca Ohauss 311 gram

m1 = |19,410 ± 0,005| g

m2 = |19,420 ± 0,005| g

m3 = |19,440 ± 0,005| g

(16)

δ1= |19,423 – 19,410| g = 0,013 g

δ = |19,423 – 19,420| g = 0,003 g δ3= |19,423 – 19,440| g = 0,017 g

∆m = δmaks = 0,017 g

KR = ∆mm x 100 % = 19,423 g0,017 g x 100 % = 0,09 % 4 A.P

PF = |19,43 ± 0,02| g 3) Neraca Ohauss 310 gram

m1 = |20,00 ± 0,01| g

m2 = |19,95 ± 0,01| g

m3 = |19,94 ± 0,01| g

m = (20,00 + 19,95 + 19,943 ) g = 19,96 g

δ1= |19,96 – 20,00| g = 0,04 g

δ = |19,96 – 19,95| g = 0,01 g δ3= |19,96 – 19,94| g = 0,02 g

∆m = δmaks = 0,04 g

KR = ∆mm x 100 % = 19,96 g0,04 g x 100 % = 0,20 % 4 A.P

PF = |19,96 ± 0,04| g

4. Perhitungan Volume (Rambat Ralat Pengukuran Panjang) a. Balok

1) Mistar

= ̅ ̅ ̅

= 18,0 19,0 19,0 = 6.498

= ∆ + ∆ + ∆

(17)

= . . ∆. . + . . ∆. . + . . ∆. .

∆ = ∆ + ∆ + ∆

∆ = 18,0 + 0,5 19,0 + 0,5 19,0 6.498 0,5

∆ = 522,5

= ∆ 100 % = . , 100 % = 8,04 % 2 A.P

PF = |6.498 ± 522,5| mm3

2) Jangka Sorong

= ̅ ̅ ̅

= 18,08 19,01 19,05 = 6.547,50

= ∆ + ∆ + ∆

∆ = | . . ∆ + . . ∆ + . . ∆ | ∆ = . . ∆

. . + . . ∆

. . + . . ∆

. .

∆ = ∆ + ∆ + ∆

∆ = 18,08 + 0,1 19,01 + 0,01 19,05 6.547,50 0,05

∆ = 56,84

= ∆ 100 % = . , , 100 % = 0,86 % 4 A.P

PF = |6.548 ± 56.84| mm3

(18)

= ̅ ̅ ̅

= 18,063 19,033 19,053 = 6.550,290

= ∆ + ∆ + ∆

∆ = | . . ∆ + . . ∆ + . . ∆ | ∆

= . . ∆. . + . . ∆. . + . . ∆. .

∆ = ∆ + ∆ + ∆

∆ = 18,063 + 0,023 19,033 + 0,047 19,053 6.550,290 0,053

∆ = 42,737

= ∆ 100 % = . , , 100 % = 0,65 % 4 A.P

PF = |6.550 ± 43| mm3

b. Bola 1) Mistar

= =

= 16 3.14 2.17

=16 32.09 = 5.35

=

= 3

= 3 d

(19)

∆V = 3 ∆

= 3 0.052.17 16 .(3,14). (2.17 )

= 0.06

=0.065.35 × 100% = 1.12 %(3 ) =100% - 1.12% = 98.88%

V = |5,35 ± 0.05|

2) Jangka Sorong

= =

= 16 3.14 24.35

=16 14437.67 = 2406.2772

=

= 3

= 3 d

= 3d

∆V = 3 ∆

= 3 2406.27720.02 16 .(3,14). (24.35 )

= 0.06

=2406.2772 × 100% = 0.00249 % (4 )0.06 =100% - 0.00249% = 99.99751%

(20)

3) Mikrometer Sekrup

= =

= 16 3.14 24.6

=16 46744.979 = 7790.8298

=

= 3

= 3 d

= 3d

∆V = 3 ∆

= 3 7790.82980.005 16 .(3,14). (24.6 )

= 0.015

=7790.8298 × 100% = 0.00019 % (4 )0.015 =100% - 0.00019% = 99.99981%

V = |7790 ± 0.015 |

5. Menentukan massa jenis a. Balok

1) Mistar

= → =

=54.156.498 8.3

(21)

= +

= +

∆ = ∆ +∆

∆ = 54.15 +0.01 522.56.498 .(8.3)

= (80.409541). (8.3) = 667.39919 g/

KR = 667.399198.3 × 100% = 1.13996% (3 AP)

DK = 100% - 1.13996% = 98.86004%

= |8.30 ± 0,09 |g/

2) Jangka Sorong

= → =

=6547.5 = 0.0082703 54.15

d = +

= +

= +

∆ = ∆ +∆

∆ = 54.15 +0,01 6547.5 .56.48 6547.554.15

= (0.00088705). (0.0082703)

= 0,0000734 g/

(22)

DK = 100% - 0.88751% = 99.11249%

= |8.27 ± 0.88| x 10 g/

3) Mikrometer Sekrup

= → =

=6.550,290 = 0.0082668 54.15

d = +

= +

= +

∆ = ∆ +∆

∆ = 54.15 +0,01 6.550,290 .42,737 6.550,29054.15

= (0.0067091). (0.0082668) = 0,0000555 g/

KR = 0,00005550.0082668 × 100% = 0.67091% (3 AP)

DK = 100% - 0.67091%= 99.32909%

= |8.26 ± 0,05 | x10 g

b. Bola 1) Mistar

= → =

=19.965.35 = 3.7308411

(23)

= +

= +

∆ = ∆ +∆

∆ = 19.96 +0,01 0.065.35 .(3.7308411)

= (0.011716). (3.7308411) = 0,0437105 g/

KR = 0,04371053.7308411 × 100% = 1.1716% (3 AP)

DK = 100% - 1.1716%= 99,8284%

= |3.73 ± 0,01| g/

2) Jangka Sorong

= → =

=2406.2772 = 0.008295 19.96

d = +

= +

= +

∆ = ∆ +∆

∆ = 19.96 +0,01 2406.2772 .0.06 (0.008295)

= (0.0005259). (0.008295) = 0,0000044 g/

KR = 0,00000440.008295 × 100% = 0.05259% (4 AP)

(24)

= |8.295 ± 0,004| x 10 g/

3) Mikrometer Sekrup

= → =

=7790.8298 = 0.002562 19.96

d = +

= +

= +

∆ = ∆ +∆

∆ = 19.96 +0,01 7790.8298 .0.015 (0.002562)

= (0.0005029). (0.002562) = 0,0000013 g/

KR = 0,00000130.002562 × 100% = 0.05029% (4 AP)

DK = 100.05029%= 99,94971%

= |2.562 ± 0,004 | x 10 g/

PEMBAHASAN

Hasil yang diperoleh sesuai dengan teori. Setelah menentukan nst setiap alat ukur, diukur dengan menggunakan dua benda, Balok dan Bola. Dan kemudian ada beberapa hasil pengukuran yang berbeda. Dalam pengamatan, hasil pengukuran yang diperoleh termasuk dalam karakteristik nilai akurasi untuk nilai rata-rata mendekati nilai sebenarnya. Masing-masing memiliki karakteristik lain yang nilai setiap presisi pengukuran tidak memiliki banyak berbeda.

(25)

akurasi yang berbeda. Di bar / a Mistar berfungsi untuk mengukur panjang suatu benda yang memiliki presisi 1 mm. Istilah In- fungsi geser untuk mengukur ketebalan suatu benda, diameter dalam dan di luar objek yang memiliki presisi 0,1 mmsea memiliki skala dan skala Nonius besar. Mikrometer Sekrup itu sendiri memiliki fungsi untuk mengukur objek Panjang dengan sangat hati-hati dengan akurasi 0,01 mm. Mikrometer Sekrup sendiri memiliki skala dan skala rotary besar. Neraca ohauss berfungsi untuk menghitung massa suatu benda. Neraca ohauss memiliki berbagai bentuk, yaitu neraca tiga lengan dan neraca empat lengan. Neraca sendiri memiliki prinsip kerja sama dengan tuas. Ketika kesalahan pengukuran dapat terjadi atau ketidakpastian, yaitu:

a. Kesalahan kalibrasi. b. Kesalahan titik nol c. Komponen alat kelelahan

d. Gesekan selalu muncul antara bagian dari bergerak menuju alat yang lain.

SIMPULAN DAN DISKUSI

Simpulan

(26)

Discussion

Sebelum percobaan dan pengukuran disarankan untuk memahami konsep pertama pengukuran, alat ukur yang digunakan, skala dan unit untuk praktek berjalan lancar dan mudah dimengerti. Lakukan setiap pengukuran setidaknya tiga kali untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

DAFTAR RUJUKAN

Sumarno, Joko. 2010. Fisika SMA Kelas X. Jakarta:Erlangga.

Tipler, Paul A. 2001. Fisika untuk Sains dan Teknik Edisi Kedua Jilid 2 (Terjemahan). Jakarta:Erlangga.

Gambar

Tabel 1. Hasil Pengukuran Panjang

Referensi

Dokumen terkait

Tentukan panjang benda yang diukur dengan jangka sorong, seperti pada gambar berikut inia. Fisika SMA/Pengukuran dan Ketidakpastian/ Latihan 4

Gelas ukur dapat juga digunakan untuk mengukur volume benda padat yang tidak teratur bentuknya, misalnya batu, kunci, dan anak timbangan.. Langkah-langkah untuk mengukur

 Anak dapat menyebutkan, memberi contoh, mengukur, membandingkan, panjang suatu benda dan jarak suatu tempat melalui kegiatan sehari-hari. (pendek-panjang / dekat-jauh) 

Siswa dapat mengukur panjang benda dengan satuan tidak baku2. Siswa dapat mengukur panjang benda dengan

Tinggi adalah jarak antara pangkal balok dengan ujung balok yang ukurannya lebih panjang dari ukuran lebar dan panjang yang diukur menggunakan mistar, jangka

Misalkan x adalah suatu besaran fisis tertentu yang nilai benarnya adalah xo yang akan diketahui melalui pengukuran, maka setiap kali dilakukan suatu pengukuran pada besaran

a. Untuk mengukur panjang,terdapat macam-macam alat ukur,seperti meteran, mistar, jangka sorong, atau micrometer skrup. Pilihlah alat ukur yang digunakan sesuai

Pengukuran panjang dengan mikrometer sekrup Merupakan alat ukur panjang yang paling teliti dengan ketelitian 0,01 milimeter, digunakan untuk mengukur tebal benda yang berbentuk pelat,