Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa Pajak Penjualan Atas Barang Mewah

Teks penuh

(1)

Subject 4

Pajak Pertambahan Nilai Barang dan

Jasa & Pajak Penjualan Atas Barang

Mewah

Presented By :

Nyoman Darmayasa

Bali State Polytechnic

2013

(2)

Subjects

1. Dasar Hukum PPN & PPnBM

2. Penyerahan BKP

3. PKP & Pengusaha Kecil

4. Objek dan Non Objek PPN

5. Faktur Pajak

6. Penyetoran dan Pelaporan PPN

7. Kegiatan Membangun Sendiri (KMS)

8. Tax Refund (PPN Konsumsi LN)

(3)

Objective

Memberikan Pemahaman Atas :

Dasar Hukum PPN & PPnBM

Penyerahan BKP

PKP & Pengusahan Kecil

Objek dan Non Objek PPN

Faktur Pajak

Penyetoran dan Pelaporan PPN

Kegiatan Membangun Sendiri (KMS)

Tax Refund (PPN Konsumsi LN)

Pedoman Penghitungan

(4)
(5)

Dasar Hukum PPN & PPnBM

1.UU No. 8 Tahun 1983

2.UU No. 11 Tahun 1994

3.UU No. 18 Tahun 2000

4.UU No. 42 Tahun 2009

Tentang Perubahan Ketiga atas

(6)

Pengertian dalam Pasal 1

1. Daerah Pabean adalah wilayah Republik

Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan,

dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat

tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas

kontinen yang di dalamnya berlaku

Undang-Undang yang mengatur mengenai kepabeanan.

2. Barang Kena Pajak adalah barang yang dikenai

pajak berdasarkan Undang-Undang ini.

3. Penyerahan Barang Kena Pajak adalah setiap

kegiatan penyerahan Barang Kena Pajak.

4. Jasa Kena Pajak adalah jasa yang dikenai pajak

berdasarkan Undang-Undang ini.

(7)

Pengertian dalam Pasal 1

6. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah

Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan Jasa

Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam

Daerah Pabean.

7. Impor adalah setiap kegiatan memasukkan barang

dari luar Daerah Pabean ke dalam Daerah

Pabean.

8. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud

dari luar Daerah Pabean adalah setiap kegiatan

pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud

dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah

Pabean.

9. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud adalah

setiap kegiatan mengeluarkan Barang Kena Pajak

Berwujud dari dalam Daerah Pabean ke luar

(8)

Pengertian dalam Pasal 1

10. Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha yang

melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau

penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak

berdasarkan Undang-Undang ini.

11. Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual,

Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau nilai lain

yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak

yang terutang.

12. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat

oleh PKP yang melakukan penyerahan BKP atau

penyerahan JKP.

(9)

Pengertian dalam Pasal 1

14. Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai

yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha

Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak

dan/atau perolehan Jasa Kena Pajak dan/atau

pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud

dari luar Daerah Pabean dan/atau pemanfaatan

Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean

dan/atau impor Barang Kena Pajak.

15. Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai

terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha

Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang

Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor

Barang Kena Pajak Berwujud, ekspor Barang

(10)
(11)

Pasal 1A (1) Penyerahan BKP

a. Penyerahan hak atas BKP karena suatu perjanjian;

b. Pengalihan BKP karena suatu perjanjian sewa beli

dan/atau perjanjian sewa guna usaha (leasing);

c. Penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau

melalui juru lelang;

d. Pemakaian sendiri dan/atau pemberian cuma-cuma atas

BKP;

e. BKP berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut

tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih

tersisa pada saat pembubaran perusahaan;

f. Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya

dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak antar cabang;

g. Penyerahan BKP secara konsinyasi; dan

h. Penyerahan BKP oleh PKP dalam rangka perjanjian

pembiayaan yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah,

yang penyerahannya dianggap langsung dari PKP

(12)

Pasal 1A (2) Tidak Termasuk

Penyerahan BKP

a. Penyerahan BKP kepada makelar sebagaimana

dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang;

b. Penyerahan BKP untuk jaminan utang-piutang;

c. Penyerahan BKP sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

huruf f dalam hal Pengusaha Kena Pajak melakukan

pemusatan tempat pajak terutang;

d. Pengalihan BKP dalam rangka penggabungan,

peleburan, pemekaran, pemecahan, dan

pengambilalihan usaha dengan syarat pihak yang

melakukan pengalihan dan yang menerima pengalihan

adalah PKP; dan

e. BKP berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak

untuk diperjual belikan, yang masih tersisa pada saat

pembubaran perusahaan, dan yang Pajak Masukan atas

perolehannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana

(13)
(14)

Pasal 3 A (1)

PKP & Pengusaha Kecil

Pengusaha yang melakukan penyerahan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)

huruf a, huruf c, huruf f, huruf g, dan huruf h,

kecuali pengusaha kecil

yang batasannya

ditetapkan

oleh Menteri Keuangan

, wajib

melaporkan usahanya untuk dikukuhkan

sebagai Pengusaha Kena Pajak dan wajib :

Memungut,

Menyetor, dan

Melaporkan

(15)

Pengusaha Kecil

PMK 68/PMK.03/2010 Tgl 23 Maret 2011

(berlaku mulai 1 April 2010) mengenai Batasan

Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai sesuai

Pasal 3A (1) UU PPN No. 42 Tahun 2009.

(16)
(17)

Pasal 4 (1) Objek PPN

a. Penyerahan BKP di dalam Daerah Pabean

yang dilakukan oleh pengusaha;

b. Impor BKP;

c. Penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean

yang dilakukan oleh pengusaha;

d. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar

Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;

e. Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean

di dalam Daerah Pabean;

f. Ekspor BKP Berwujud oleh PKP;

(18)

Pasal 4 A Non Objek PPN

(2) BKP Non Objek PPN

a.Barang hasil pertambangan atau hasil

pengeboran yang diambil langsung dari

sumbernya;

b.Barang kebutuhan pokok yang sangat

dibutuhkan oleh rakyat banyak;

c.Makanan dan minuman yang disajikan di hotel,

restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya,

meliputi makanan dan minuman baik yang

dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk

makanan dan minuman yang diserahkan oleh

usaha jasa boga atau katering; dan

(19)

Pasal 4 A Non Objek PPN

(3) JKP Non Objek PPN

a.Jasa pelayanan kesehatan medis; b.Jasa pelayanan sosial;

c.jasa pengiriman surat dengan perangko; d.Jasa keuangan;

e.Jasa asuransi; f.Jasa keagamaan; g.Jasa pendidikan;

h.Jasa kesenian dan hiburan;

i.Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan;

j.Jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri;

k.Jasa tenaga kerja; l.Jasa perhotelan;

m.Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum;

n.Jasa penyediaan tempat parkir;

o.Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam; p.Jasa pengiriman uang dengan wesel pos; dan

(20)
(21)

Faktur Pajak (Pasal 13-1a)

Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada Pasal

13 ayat (1) harus dibuat pada:

a. Saat penyerahan Barang Kena Pajak

dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak.

b. Saat penerimaan pembayaran dalam hal

penerimaan pembayaran terjadi sebelum

penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau

sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak.

c. Saat penerimaan pembayaran termin dalam

hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan;

atau

d. saat lain yang diatur dengan atau

(22)

Faktur Pajak (Pasal 13)

2

Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1), Pengusaha Kena

Pajak dapat membuat 1 (satu) Faktur

Pajak meliputi seluruh penyerahan yang

dilakukan kepada pembeli Barang Kena

Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak

yang sama selama 1 (satu) bulan

kalender.

(23)
(24)

Penyetoran dan

Pelaporan

Pasal 15A

(1) Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai oleh

Pengusaha Kena Pajak sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) harus

dilakukan paling lama akhir bulan

berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak

dan

sebelum Surat Pemberitahuan Masa

Pajak Pertambahan Nilai disampaikan.

(2) Pelaporan Surat Pemberitahuan Masa

Pajak Pertambahan Nilai disampaikan

(25)

Penyetoran dan

Pelaporan

Pasal 15A

(1) Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai oleh

Pengusaha Kena Pajak sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) harus

dilakukan paling lama akhir bulan

berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak

dan

sebelum Surat Pemberitahuan Masa

Pajak Pertambahan Nilai disampaikan.

(2) Pelaporan Surat Pemberitahuan Masa

Pajak Pertambahan Nilai disampaikan

(26)
(27)

Ilustrasi

1. PKP ND pada tanggal 3 Desember 2012

membayar

Down Payment

Rp. 30 Jt kepada

PKP KD atas pemesanan 20 Laptop @ Rp. 5

jt, (belum termasuk PPN).

2. Tanggal 10 Desember 2012, 20 Laptop

diterima oleh PKP ND.

3. Tanggal 15 Desember 2012, PKP ND

melunasi hutang pembelian laptop kepada

PKP KD

4. Tanggal 20 Desember 2012, PKP ND

menjual seluruh Laptop kepada Konsumen

dengan total harga Rp. 130 Jt (sudah

termasuk PPN), dengan pembayaran

(28)

Pertanyaan:

1. Kapan PKP KD membuat Faktur?

2. Kapan PKP ND membuat Faktur?

3. Buatlah jurnal (metode perpetual) untuk

PKP ND selama masa Desember 2012!

4. Hitunglah besarnya PPN yang lebih atau

kurang bayar masa Desember 2012!

5. Kapan batas akhir PKP ND menyetor

PPN yang kurang bayar (jika ada)

6. Kapan batas akhir PKP ND melaporkan

SPT masa PPN Desember 2012

(29)

PPN atas Kegiatan

(30)

KMS

UU No. 18 Tahun 2000 Tentang PPN dan PPnBM

Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau

pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya

digunakan sendiri atau digunakan pihak lain yang batasan dan tata caranya diatur dengan “Keputusan Menteri Keuangan."

UU No. 42 Tahun 2009 Tentang PPN dan PPnBM (1-4-2010)

PMK 39/PMK.03/2010 tentang Batasan dan Tata Cara Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan

Membangun Sendiri, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku DPP : 40 %

Tarif : 10 %

Luas Bangunan : >= 300 M2

PMK 163/PMK.03/2012 (22-11-2012)

DPP : 20 % Tarif : 10 %

(31)

Ilustrasi

Tuan ND melakukan pembangunan sendiri mulai tgl 10 Oktober 2011, dengan luas 350 M2 diatas tanah dengan harga perolehan Rp. 250.000.000,00., dengan rincian biaya sbb :

• Selama bulan Oktober 2011, biaya material Rp. 50.000.000,00, dalam biaya material terdapat PPN pembelian material

sebesar Rp. 3.000.000,00

• Selama bulan November 2011, biaya material Rp.

60.000.000,00, dalam biaya material terdapat PPN pembelian material sebesar Rp. 3.500.000,00

• Selama bulan Desember 2011, biaya material Rp.

70.000.000,00, dalam biaya material terdapat PPN pembelian material sebesar Rp. 4.000.000,00

• Bulan Januari 2012, membayar biaya tukang Rp. 40.000.000

Pertanyaan :

1. Apakah pembangunan sendiri tersebut terutang PPN membangun sendiri ?, jelaskan !

(32)
(33)

Tax Refund

(PPN Konsumsi LN)

Pasal 16 E UU No. 42 Tahun 2009

(1) PPN dan PPnBM yang sudah dibayar atas pembelian BKP yang dibawa ke luar Daerah Pabean oleh orang pribadi pemegang paspor luar negeri dapat diminta kembali.

(2) PPN dan PPnBM yang dapat diminta kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat:

– nilai PPN paling sedikit Rp500.000,00 dan dapat disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah;

– pembelian BKP dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sebelum keberangkatan ke luar Daerah Pabean; dan

– Faktur Pajak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5), kecuali pada kolom NPWP dan alamat pembeli disi dengan nomor paspor dan alamat lengkap di negara yang menerbitkan paspor atas penjualan kepada orang pribadi

pemegang paspor luar negeri yang tidak mempunyai NPWP.

(3) Permintaan kembali PPN dan PPnBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada saat orang pribadi pemegang paspor luar negeri meninggalkan Indonesia dan disampaikan kepada DJP melalui Kantor DJP di bandar udara yang

(34)

Tax Refund

(PPN Konsumsi LN)

(4) Dokumen yang harus ditunjukkan pada saat

meminta kembali Pajak Pertambahan Nilai dan

Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah:

Paspor;

Pas naik (boarding pass) untuk keberangkatan

orang pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) ke luar Daerah Pabean; dan

Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat

(2) huruf c.

(5) Ketentuan mengenai tata cara pengajuan dan

penyelesaian permintaan kembali Pajak

Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas

Barang Mewah sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) diatur dengan atau berdasarkan

Peraturan

(35)

Tax Refund

(PPN Konsumsi LN)

PMK 76/PMK.03/2010 (31 Maret 2010), berlaku mulai 1 April 2010 Pasal 3 (2) jo PMK 18/PMK.03/2011 (24 Januari 2011), berlaku mulai 24 Maret 2011)

Pasal 3 (2)

PPN atas perolehan Barang Bawaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak dapat diminta kembali adalah PPN atas perolehan:

• Makanan, minuman, produk-produk tembakau;

• Senjata api dan bahan peledak; dan

• Barang yang dilarang dibawa ke dalam pesawat.

Pasal 6 (1)

PPN yang dapat diminta kembali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 harus memenuhi syarat:

• Nilai PPN paling sedikit Rp500.000,00

(36)

Pedoman Penghitungan

(37)

Pedoman Penghitungan Pengkreditan

Pajak Masukan

Pasal 9 (7)

Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh PKP yang peredaran usahanya dalam 1 (satu) tahun tidak melebihi jumlah tertentu, kecuali PKP sebagaimana dimaksud pada ayat (7a), dapat dihitung dengan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan.

Pasal 9 (7a)

Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh PKP yang melakukan kegiatan usaha tertentu dihitung dengan

menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan.

Pasal 9 (7b)

(38)

Pedoman Penghitungan Pengkreditan

Pajak Masukan

PMK 74/PMK.03/2010 (31-3-2010), berlaku mulai 1 April 2010.

Pasal 2

PKP yang dapat menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan adalah PKP yang mempunyai peredaran usaha dalam 1 (satu) tahun buku tidak melebihi Rp1.800.000.000,00

Pasal 7

Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan yang dihitung

menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, yaitu sebesar:

• 60% (enam puluh persen) dari Pajak Keluaran untuk penyerahan Jasa Kena Pajak; atau

• 70% (tujuh puluh persen) dari Pajak Keluaran untuk penyerahan Barang Kena Pajak.

Pasal 9

• Bagi PKP yang melakukan penyerahan JKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a adalah sama dengan 4% (empat persen) dari DPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2);

(39)

Pedoman Penghitungan Pengkreditan

Pajak Masukan

PMK 79/PMK.03/2010 (5-4-2010), berlaku mulai 1 April 2010.

Pasal 3

Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan yang dihitung

menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, yaitu sebesar:

• 90% dari Pajak Keluaran, dalam hal Pengusaha Kena Pajak

melakukan penyerahan kendaraan bermotor bekas secara eceran;

• 80% dari Pajak Keluaran, dalam hal Pengusaha Kena Pajak melakukan penyerahan emas perhiasan secara eceran. Pasal 5

PPN yang wajib disetor pada setiap Masa Pajak dihitung dengan cara Pajak Keluaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dikurangi dengan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, yaitu sebesar:

• 1% (satu persen) dari DPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), bagi PKP yang melakukan penyerahan kendaraan bermotor bekas secara eceran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a;

(40)

Ilustrasi

1. PT. A (Toko Elektronik), adalah perusahaan yang berdiri pada Januari 2012, sampai dengan akhir bulan Juni 2012 peredaran usaha PT. A adalah Rp. 600.000.000.

2. Pada tanggal 10 Agustus 2012 PT A, melakukan pembelian BKP 66 Jt (sudah termasuk PPN)

3. Pada tanggal 25 Agustus 2012 PT A, melakukan penyerahan BKP sejumlah Rp. 77 Jt (sudah termasuk PPN)

Pertanyaan:

1. Pada bulan Januari 2012, apakah PT A termasuk Pengusaha Kecil atau bukan ?, jelaskan beserta dasar hukumnya !

2. Kapan paling lambat PT A, wajib dikukuhkan sebagai PKP ? 3. Apakah PT. A, boleh menghitung PPN yang terutang dengan

metode Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan ? jelaskan beserta dasar hukumnya !

(41)
(42)

Dasar Hukum SPT

PMK 181/PMK.03/2007

Dirubah dengan PMK 152/PMK/.03/2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor

181/Pmk.03/2007 Tentang Bentuk dan Isi Surat Pemberitahuan, Serta Tata Cara Pengambilan Pengisian, Penandatanganan, dan Penyampaian Surat Pemberitahuan.

Pasal 14 : Ketentuan lebih lanjut mengenai:

bentuk dan isi SPT serta keterangan dan/atau dokumen yang harus dilampirkan dalam SPT

Per 44/PJ/2010 tentang Bentuk, Isi, dan Tata Cara Pengisian Serta Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak

Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN)

Per 45/PJ/2010 tentang Bentuk, Isi, dan Tata Cara Pengisian Serta Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak

Pertambahan Nilai (Spt Masa Ppn) Bagi Pengusaha Kena Pajak Yang Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan

(43)

Jenis SPT

1.

Per 44/PJ/2010 tentang Bentuk, Isi, dan Tata Cara

Pengisian Serta Penyampaian Surat Pemberitahuan

Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN)

SPT Masa PPN 1111

Faktur Pajak > 25 Menggunakan E_SPT

2. Per 45/PJ/2010 tentang Bentuk, Isi, dan Tata Cara

Pengisian Serta Penyampaian Surat Pemberitahuan

Masa Pajak Pertambahan Nilai (Spt Masa Ppn) Bagi

Pengusaha Kena Pajak Yang Menggunakan

Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan

SPT Masa PPN 1111 DM

(44)
(45)

Pedoman Penghitungan

(46)

Dasar Hukum

Pasal 9 (6) UU PPN

Apabila dalam suatu Masa Pajak Pengusaha

Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang

terutang pajak juga melakukan penyerahan

yang tidak terutang pajak, sedangkan Pajak

Masukan untuk penyerahan yang terutang

pajak tidak dapat diketahui dengan pasti,

(47)

Dasar Hukum

Pasal 16 B UU PPN

1. Pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya atau dibebaskan dari pengenaan pajak, baik untuk sementara waktu maupun selamanya, untuk:

 Kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean;

 Penyerahan BKP tertentu atau penyerahan JKP tertentu;

 Impor Barang Kena Pajak tertentu;

 Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; dan

 Pemanfaatan JKP tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean, diatur dengan Peraturan Pemerintah.

2. Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP dan/atau perolehan JKP yang atas penyerahannya tidak dipungut PPN dapat dikreditkan.

(48)

PMK 78/PMK.03/2010

PMK 78/PMK.03/2010

Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Bagi PKP Yang Melakukan Penyerahan Yang Terutang Pajak Dan Penyerahan Yang Tidak Terutang Pajak.

Pasal 2

1.Pengusaha Kena Pajak yang melakukan kegiatan: 2.Usaha terpadu (integrated), terdiri dari:

a. Unit atau kegiatan yang melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak; dan

b. Unit atau kegiatan lain yang melakukan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak;

3.Usaha yang atas penyerahannya terutang pajak dan yang tidak terutang pajak;

4.Usaha untuk menghasilkan, memperdagangkan barang, dan usaha jasa yang atas penyerahannya terutang pajak dan yang tidak terutang pajak; atau

5.Usaha yang atas penyerahannya sebagian terutang pajak dan sebagian lainnya tidak terutang pajak,

(49)

PMK 78/PMK.03/2010

Pasal 3

Formula Perhitungan Kembali

P = PM x Z

P : Jumlah Pajak Masukan yang dapat

dikreditkan;

PM : Jumlah Pajak Masukan atas perolehan

Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena

Pajak;

(50)

PMK 78/PMK.03/2010

Pasal 3

Formula Perhitungan Kembali

P = PM x Z

P : Jumlah Pajak Masukan yang dapat

dikreditkan;

PM : Jumlah Pajak Masukan atas perolehan

Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena

Pajak;

(51)
(52)

Summary

1. Dasar Hukum PPN & PPnBM adalah UU

No. 42 Tahun 2009

2. PMK No. 68/PMK.03/2010 mengatur

tentang Batasan Pengusaha Kecil.

3. Penyerahan BKP di dalam Daerah

Pabean yang dilakukan oleh

pengusaha merupakan Objek PPN

4. Jasa boga atau katering bukan

(53)

Questions

1. Sebutkan Dasar Hukum PPN &

PPnBM?

2. Jelaskan Pengertian Penyerahan

BKP?

3. Sebutkan Batasan Pengusaha Kecil?

4. Sebutkan Objek PPN?

(54)

References

IKPI, 2012,

Kumpulan Soal & Jawab

Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak "A, B,

& C"

, PT Cipta Bina Parama, Jakarta

IKPI, 2011,

Rangkuman

Undang-Undang Perpajakan

, PT Cipta Bina

Parama, Jakarta

Mardiasmo, 2011 ,

Perpajakan

, Edisi

Revisi, Andi Yogyakarta

(55)

Thank You

International Registered

Tax Consultant

www.nyomandarmayasa.com

As long as we still keep our exciting

goal in mind, we should not stop half

way.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...