• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEHAMILAN DENGAN HEPATITIS B

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEHAMILAN DENGAN HEPATITIS B"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KEHAMILAN

DENGAN HEPATITIS B

Prof. Dr. dr. IGP Surya, Sp.OG (K)

dr. RyanSaktika Mulyana, M.Biomed, Sp.OG

dr. Endang Sri Widiyanti, M.Biomed, Sp.OG

(3)

KEHAMILAN DENGAN HEPATITIS B Penyusun

Prof. Dr. dr. IGP Surya, Sp.OG (K)

dr. RyanSaktika Mulyana, M.Biomed, Sp.OG dr. Endang Sri Widiyanti, M.Biomed, Sp.OG

© 2016 CV. Sagung Seto P.O. Box 4661 / Jakarta 10001 Telp. (021) 8577251

Email: [email protected], [email protected] Anggota IKAPI

Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang mengutip, memperbanyak dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Penata letak:

Desainer cover:

ISBN :

Edisi Pertama, Cetakan Pertama (2016)

Sanksi Pelanggaran Pasal 72

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(4)

Epidemiologi Infeksi VHB iii

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih dan karunia-Nya, Penulis dapat menyelesaikan buku ”Kehamilan dengan Hepatitis B” ini.

Buku ini membahas mengenai epidemiologi infeksi virus hepatitis B, cara penularan infeksi virus hepatitis B, partikel virus hepatitis B, petanda serologik virus hepatitis B, manifestasi infeksi virus hepatitis B dan cara pencegahan virus hepatitis B, dengan fokus pada hepatitis B dalam kehamilan.

Pada kesempatan ini perkenankanlah Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya buku ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya pada semua pihak yang telah membantu penulisan buku ini.

Penulis,

I Gusti Putu Surya

Kata Pengantar

(5)
(6)

Epidemiologi Infeksi VHB v

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... v

Epidemiologi Infeksi VHB ... 1

Distribusi Penyakit ... 1

Prevalensi Infeksi VHB ... 2

Prevalensi Pengidap VHB pada Ibu Hamil ... 3

VHB dan Penularannya ... 7

Cara Penularan VHB ... 7

Pola Penularan VHB ... 9

Penularan VHB Vertikal ... 9

Penularan VHB in-utero ... 13

Mekanisme Terjadinya Penularan Infeksi VHB in-utero. ... 18

Penularan Perinatal ... 19

Penularan Post-natal VHB ... 21

Virus Hepatitis B ... 23

Partikel Virus Hepatitis B ... 23

Daftar Isi

(7)

Komposisi Antigenik VHB ... 24

HBsAg ... 24

HBcAg ... 27

HBeAg ... 28

Beberapa petanda serologik VHB. ... 30

HBsAg ... 30

Anti-HBs ... 31

Antibodi terhadap pre-S1 dan pre-S2 ... 31

Anti-HBc ... 32

HBeAg ... 32

Anti-HBe ... 33

DNA-VHB ... 33

Imunologi Infeksi VHB ... 34

Respon Imun terhadap VHB ... 36

Imunitas Seluler... 38

Respon Imun terhadap Vaksin Hepatitis B ... 42

Manifestasi Klinis Infeksi VHB ... 45

Infeksi VHB Akut ... 45

Infeksi VHB Kronik ... 47

Gambaran Serologik Infeksi VHB... 49

Sirosis Hati pada Infeksi VHB ... 51

Kanker Hati Primer ... 52

Mutasi Virus Hepatitis B ... 57

Mutasi pada HBsAg (envelope mutants) : ... 59

Mutasi pada region pre-S : ... 63

Mutasi Pre-core : ... 64

Mutasi inti (core mutants) : ... 67

Pencegahan Infeksi VHB... 69

(8)

Epidemiologi Infeksi VHB vii

Pencegahan Infeksi Perinatal ... 70

Strategi Vaksinasi Hepatitis B ... 71

Imunisasi Hepatitis B ... 75

Imunisasi Aktif ... 77

Imunisasi Pasif ... 78

Imunisasi Pasif Aktif ... 79

Vaksin Hepatitis B (Vaksin HB) ... 79

Vaksin dari Plasma Pengidap VHB ... 80

Vaksin Hepatitis B Rekombinan ... 80

Perkembangan Vaksin Hepatitis B ... 82

Daftar Pustaka ... 85

(9)
(10)

Epidemiologi Infeksi VHB ix Tabel 1. Proporsi HBsAg dan HBeAg ibu hamil di

beberapa Negara di dunia. ... 4 Tabel 2. HbsAg dan HBeAg pada ibu hamil dari berbagai

RS di Indonesia. ... 5 Tabel 3. HBsAg positif pada ibu hamil di RS Kabupaten di Bali. ... 6 Tabel 4. Petanda serologik VHB dan interpretasinya pada

infeksi VHB. ... 30 Tabel 5. Kemungkinan terjadinya pengidap kronik VHB

menurut umur pada waktu terjadinua infeksi VHB. ... 71 Tabel 6. Vaksinasi pencegahan infeksi HB menurut

endemisitas infeksi VHB. ... 72

Daftar Tabel

(11)
(12)

Epidemiologi Infeksi VHB xi

Daftar Gambar

Gambar 1. Kemungkinan toleransi sel T terhadap

HBeAg in-utero ... 41 Gambar 2. Double loop HBsAg dan posisi dimana

biasanya terjadi mutasi. ... 63 Gambar 3. Alternatif pendekatan strategi vaksinasi hepatitis B .... 73

(13)
(14)

Epidemiologi Infeksi VHB 1

Distribusi Penyakit

Diseluruh dunia saat ini diperkirakan terdapat 400-500 juta pengidap VHB (Moradpour dan Wands, 1995). Sekitar 80%

pengidap VHB tersebut terdapat di Asia (Yeoh, 1990), dimana diperkirakan 25% akan meninggal karena penyakit hati kronik, terutama karena Sirosis Hati (SH) dan Kanker Hati Primer (KHP).

WHO (1991), menyatakan setiap tahun di seluruh dunia 1 – 1,5 juta dari pengidap VHB ini akan meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan pengidap kronik VHB. Komisi ahli hepatitis WHO membagi dunia menjadi tiga bagian menurut tingginya prevalensi infeksi VHB (WHO, 1991) yaitu;

1. Daerah endemik rendah (low endemicity); di mana prevalensi pengidap VHB kurang dari 2% dan prevalensi penduduk yang terinfeksi VHB atau total infeksi VHB kurang dari 30%.

Keadaan ini terdapat di Australia, Eropa Barat, Amerika Utara.

2. Daerah endemik sedang (intermediate endemicity); dimana prevalensi pengidap VHB 2-5% dan total infeksi VHB 30-

Epidemiologi Infeksi VHB

(15)

50%, terdapat di Eropa Timur sebagian di Eropa Selatan,Timur Tengah dan Asia Selatan.

3. Daerah endemik berat atau tinggi (high endemicity);dimana prevalensi pengidap VHB 5-20% dan total infeksi VHB 50- 95%, terdapat di Asia Timur dan Tenggara, Afrika, sebagian Eropa Timur, daerah palung Pasifi c, daerah Kutub Utara dan Timur Tengah.

Pada daerah endemik berat VHB, penularan biasanya terjadi secara perinatal dan penularan horizontal masa anak. Pada daerah endemik sedang penularan VHB umumnya terjadi pada masa anak dan dewasa, sedangkan pada daerah endemik rendah penularan perinatal pada masa anak jarang terjadi, tetapi lebih sering secara horizontal melalui hubungan kelamin, pemakaian jarum suntik yang tercemar VHB (Kane, et al. 1990).

Prevalensi Infeksi VHB

Prevalensi pengidap VHB berbeda menurut Negara dan pada satu Negara juga berbeda dari suatu daerah dengan daerah lainnya.

Prevalensi VHB terendah di Amerika Utara dan Eropa Barat yaitu 0,5% dan tertinggi di Asia Afrika sebesar 10-20% (Dienstag, 1984).

Tingginya prevalensi VHB dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain; faktor geografi k, dimana umumnya prevalensi VHB lebih tinggi didaerah tropik dibandingkan dengan di daerah beriklim sedang dan lebih tinggi pada penduduk di daerah urban dibandingkan dengan penduduk di daerah rural (Kurstak, 1993).

Pengaruh etnik terhadap prevalensi VHB dapat dilihat pada

(16)

Epidemiologi Infeksi VHB 3

penduduk etnik Cina di USA, dimana didapatkan prevalensi pengidap kronik VHB lebih tinggi dibandingkan dengan golongan penduduk kulit putih di USA (Beasley, 1982). Keadaan yang sama juga terdapat di New Zealand dimana prevalensi pengidap VHB lebih tinggi pada penduduk Maori dibandingkan dengan golongan kulit putih yang berasal dari Eropa (Gust, 1982). Faktor genetik yaitu Human Leucocyte Antigen (HLA) nampaknya juga ada hubungannya dengan tingginya pengidap VHB (Iwarson, et.al., 1985). Disamping itu pada penelitian di Cina didapatkan pengidap HBsAg positif lebih banyak didaptkan pada keluarga dengan anggota keluarga 6-10 dibandingkan dengan anggota keluarganya kurang dari jumlah itu (Kurstak, 1993).

Di Indonesia prevalensi pengidap VHB bervariasi di tiap daerah atau pulau dan berkisar antara 3-20% (Soewignjo, 1992), sedangkan dari donor darah di seluruh Indonesia didapatkan prevalensi berkisar antara 3-17% (Mulyanto, 1994). Penelitian serologik infeksi VHB yang dilakukan di berbagai daerah di Bali didapatkan hasil prevalensi HBsAg berkisar antara 1,5-17,2%

yaitu: (Brown, et al 1995) melaporkan 1,5%, Suastika (1982) 17,25%, Budhiarta dan Soewignjo (1993) 5%, Oka,et.al.(1990) 5,33%.

Prevalensi Pengidap VHB pada Ibu Hamil

Pada table 1. dapat dilihat proporsi HBsAg dan HBeAg pada ibu

hamil di dunia, dimana di Negara Asia prevalensi HBsAg berkisar

antara 1,7-17% dengan proporsi HBeAg 8-64%, di Asia tengah

dan Afrika HBsAg 3-11% dan HBeAg 8-19%, sedangkan di

(17)

Eropa Selatan HBsAg berkisar antara 1-3% dengan HBeAg 4-5%

(Coursaget, 1987).

Tabel 1. Proporsi HBsAg dan HBeAg ibu hamil di beberapa Negara di dunia.

Negara HBsAg

Proporsi HBeAg Positif Pada wanita

dengan HBsAG positif (%)

Pada wan- ita hamil (per 1000)

Taiwan 17 40 68

Philipina 10.7 20 21

Korea 9.4 45 42

Malaysia 6.5 28 18

Thailand 5.8 38 23

China 5.1 36 18

Indonesia 4.7 64 30

India 4 8 3

Japan 1.7 22 4

Senegal 11 19 21

South Africa 11 16 17

Kenya 8 8 6

Burundi 4 12 5

Tunisia 3 11 3

Italy 3 5 1.5

Spain 1 4 0.5

Dikutip dari Coursaget, 1987.

Prevalensi HBsAg pada wanita usia subur di Indonesia

sekitar 6,8% sedagkan untuk ibu hamil 4% (Mulyanto, 1994).

(18)

Epidemiologi Infeksi VHB 5

Untuk populasi wanita diempat kabupaten di Bali, Arhya (1991) mendapat prevalensi yang bervariasi antara 2,87 – 7,7% (RPHA).

Pada penelitian Lombok Hepatitis B Model Immunization Project (1991) yang dilaporkan oleh Ruff , et al. (1995), didapatkan prevalensi HBsAg positif untuk ibu pada masa reproduksi sebesar 8,7% (ELISA) dan dari jumlah tersebut 34% HBeAg pada ibu hamil berkisarantara 2,1 – 5,2% sedangkan prevalensi HBsAg padaibu hamil berkisar antara 2,1 – 5,2%, sedangkan HBeAg berkisar antara 18,2 – 66,6% seperti table 2.

Tabel 2. HbsAg dan HBeAg pada ibu hamil dari berbagai RS di Indonesia.

Rumah

Sakit Sampel % HB-

sAg % HBeAg Peneliti

Jakarta 200

736

4 5.2

62.5 38.8

Noer, 1981*

Wiharta, 1985*

Surabaya 100

1016

3 4.6

33.3 66.6

Hendraraharja, 1981*

Edison, 1989*

Mataram 1253

3079

3.4 3.8

62.8 50.9

Soewignjo, 1984*

Soewignjo, 1988*

Yogyakarta 524 2.1 18.2 Sebodo, 1984*

Denpasar 569

1552 6043 9700

2.4 2.5 2.45 2.73

- 47.5 48.3 -

Montessori, 1992 Surya, 1992 Surya, 1993a Surya, 1993

Surakarta 1800 3.4 54.2 Suparyatmo, 1992

Dikutip dari Soewignjo (1992).

(19)

Pada penelitian yang dilakukan terhadap ibu hamil yang melahirkan di rumah sakit Kabupaten di Bali didapatkan prevalensi HBsAg berkisar antara 0,67 – 4,73% dengan prevalensi pada tiap rumah sakit seperti pada table 3 (Surya, et.al., 1993).

Tabel 3. HBsAg positif pada ibu hamil di RS Kabupaten di Bali.

Rumah Sakit Jumlah

Sampel

HBsAg (+)

Jumlah %

RSU Singaraja 190 9 4.73

RSU Negara 244 11 4.50

RSU Tabanan 237 5 2.63

RSU Wangaya 387 6 1.55

RSU Gianyar 373 14 3.75

RSU Bangli 125 4 3.20

RSU Klungkung 171 3 1.75

RSU Amlapura 148 1 0.67

RSU Kabupaten 1875 56 2.83

RSUP Denpasar 7825 205 2.62

9700 261 2.73

Dikutip dari Surya, et al., 1993

(20)

HBV dan Penularannya 7

Cara Penularan VHB

Partikel VHB paling banyak terdapat di dalam hati dan serum, tetapi bias terdapat pada semua cairan yang dihasilkan oleh tubuh manusia (Dienstag, et al., 1991). VHB Bisa terdapat pada air liur, airmata, air mani, air susu ibu, disamping juga bias terdapat pada cairan asites, pleura, serebrospinal dan lendir vagina (Hollinger, 1991), tetapi sumber yang infeksius adalah berasal dari air mani, disamping liur disamping dari serum.

Lee, et al. (1986), melaporkan pada penelitiannya terhadap ibu melahirkan dengan HBsAg positif, didapatkan HBsAg positif pada sampel air ketuban sebesar 33%, tali pusat 50%, air susu ibu71%, cairan lambung bayi yang baru lahir sebesar 95%. Kalau cairan yang mengandung VHB tersebut masuk ke dalam tubuh individu lain maka kemungkinan akan terjadi penularan VHB. Selain itu dikatakan bahwa VHB bisa terdapat pada Poli Morpo Nuclear Cells (PMN), sedangkan pada pasien yang dilakukan transplantasi hati,

VHB dan Penularannya

(21)

meskipun sudah diberikan Hepatitis B Immune Globulin (HBIG) atau vaksinasi sebelumnya, tetapi juga terjadi infeksi VHB yang ternyata sumbernya adalah VHB yang ada pada PMN (Gerlich dan Herman, 1991).

Secara garis besar penularan VHB terjadi hanyadua hal yaitu;

karena pencemaran oleh darah atau cairan tubuh dari seorang pengidap VHB (Gregorio, et al 1993) sedangkan penularan dapat terjadi melalui empat cara yaitu ;

1. Parenteral melalui transfusi darah yang mengandung VHB.

Pada sekitar tahun 1980 dimana uji saring HBsAg pada donor belum dilakukan dengan baik, hepatitis pasca transfusi dilaporkan 14-65%, dimana 22% disebabkan oleh VHB dan setelah skrining darah dilakukan dengan metode yang lebih peka (RIA) maka hepatitis pasca transfusi menurun menjadi 0,6%. Saat ini skrining darah donor juga dilakukan dengan anti-HBc disamping HBsAg, sehingga memberikan hasil yang lebih memuaskan karena pada window period anti HBc positif meskipun HBsAg atau anti HBs masih negatif (Alter dan Seef, 1993).

2. Tusukan melalui kulit (percutaneous exposure). Cara ini terjadi melalui tusukan jarum di bawah kulit dengan jarum yang pernah dipakai pengidap VHB seperti pada pasien ketagihan obat, akupuntur, membuat tatto, tindik kuping, memakai pisau cukur, sikat gigi dan lainnya.

3. Melalui hubungan seksual; karenaVHB juga terdapat pada

cairan sperma, lendir vagina dan air liur. Dengan pemeriksaan

(22)

HBV dan Penularannya 9

PCR pada lendir servik didapatkan adanya genom VHB pada 21% pasien yang diperiksa (Pao, et al, 1991).

4. Penularan VHB dari ibu ke bayi yang baru dilahirkan. Cara ini disebut penularan VHB vertikal dan merupakan cara penularan yang paling penting daerah endemik berat VHB (Tong et, al.

1981).

Pola Penularan VHB

Walaupun infeksi VHB dapat ditularakan dengan berbagai cara, tetapi pola penularan infeksi VHB dapat dibagi menjadi dua yaitu;

1. Pola penularan vertical ialah penularan VHB dari ibu dengan HBsAg positif ke bayi yang dilahirkannya.

2. Pola penularan horizontal ialah penularan VHB dari seorang pengidap infeksi VHB kepada orang yang rentan disekitarnya.

Penularan VHB Vertikal

Yang dimaksud dengan penularan VHB vertikal ialah penularan VHB dari ibu ke bayinya yang bias terjadi (Gilbert, 1981; Ghendon, 1987; Kurstak, 1993).

1. Sebelum persalinan yang disebut infeksi VHB in-utero.

2. Selama persalinan disebut infeksi VHB perinatal.

3. Setelah persalinan disebut infeksi post-natal.

Laporan mengenai penularan VHB vertikal pertama kali dilaporkan oleh Obayashi et al, (1972), kemudian oleh Okada, et al.

(1975) dan Stevens, et al. (1975), tetapi bagaimana mekanismenya

(23)

belum diketahui. Tahun 1972 penularan VHB vertikal belum dianggap penting oleh WHO, setelah tahun tersebut baru disadari penularan VHB vertikal ini merupakan faktor penting yang berperan terhadap tingginya prevalensi pengidap VHB.

Sejak tahun 1982, WHO kemudian lebih menekankan terhadap besarnya peran penularan vertikal terhadap tingginya prevalensi pengidap VHB. Prevalensi penularan VHB vertikal bervariasi dari 0% (Skinhoj et al. 1972) sampai 6% (Stevens et al, 1975) dan variasi ini tergantung dari persentase positifnya HBeAg dari ibu dengan HBsAg positif.

Pengidap kronik VHB 80% terdapat di Asia dan daerah Pasifi k bagian barat dan 40% dari pengidap kronik VHB ini mendapatkan infeksi VHB secara perinatal. Di Asia dan Afrika sekitar 20% wanitanya adalah pengidap VHB dan penularan vertikal terjadi sebesar 50% sedangkan di Negara lain besarnya bervariasi yaitu ; 75% di Jepang, 20% di Taiwan dan hanya 5% di USA (Crumpacker, 1983; dikutip dari Stiehm, 1991).

Pada penelitian terhadap anak di Mataram, diperkirakan bahwa

penularan VHB vertikal terjadi sekitar 25,4% dan sisanya adalah

penularan horizontal (Soewignjo, 1988). Bayi yang tertular secara

vertikal dapat merupakan sumber penularan horizontal, dan

kalau bayi tersebut wanita akan menularkan lagi pada generasi

berikutnya. Karena itu maka penularan vertikal berperan sangat

penting terhadap besarnya prevalensi pengidap kronik infeksi

VHB yang berakibat akan terjadinya KHP dan SH (Beasley, et al.,

1993

b

, Kane, 1990). Diperkirakan 25-30% dari pengidap VHB

kronik yang mempunyai harapan hidup 30 tahun atau lebih mulai

(24)

HBV dan Penularannya 11

terjadinya infeksi akan meninggal karena SH atau KHP (Beasley dan Hwang, 1984).Secara umum faktor yang mempengaruhi efektivitas penularan ialah konsentrasi VHB (viral load), volume inokulum, lamanya paparan dan cara masuk VHB ke dalam tubuh (Dienstag, 1984). Sedangkan faktor yang berpengaruh terhadap besarnya penularan VHB vertical ialah:

1. Konsentrasi VHB; konsentrasi VHB dapat ditunjukkan secara serologik dengan tingginya titer HBsAg, atau positif-negatifnya HBeAg dan DNA-VHB. HBeAg merupakan indicator yang paling praktis dan paling baik untuk menunjukkan kosentrasi VHB (Steven, et al., 1979; Tong, et al. 1981). PositifnyaHBeAg dalam darah ibu dapat dipakai sebagai petunjuk akan terjadinya infeksi vertikal, disamping sebagai petunjuk kuat adanya partikel Dane dalam darah ibu (Okada, et al., 1976).

Soewignjo, (1988) di mataram mendapatkan bahwa bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAG dan HBeAg positif akan tertular VHB sebesar 66,6%, sedangkan pada semua ibu HBsAg positif tanpa memperhatikan HBeAg, kemungkinan tertular hanya 33,4%. Bayi yang lahir dari ibu dengan titer DNA-VHB kurang dari 5 pg/ml, tidak mempunyai risiko tertular VHB (Ip, et al. 1989; Lilie, et al. 1991), sedangkan jika titer lebih dari 5pg/ml, 79% bayi akan teridentifi kasi (Ip, et al., 1989).

2. Infeksi akut VHB pada trimester III kehamilan akan

menyebabkan terjadinya infeksi vertikal sebesar 75% (Tong et

al., 1981), sedangkan jika terjadi pada kehamilan trimester I

lebih besar kemungkinan akan terjadi abortus atau persalinan

prematur (Gilbert, 1981).

(25)

3. Lama persalinan diduga ikut berperan terhadap terjadinya penularan vertikal, karena persalinan yang lebih lama dari 9 jam berhubungan dengan meningkatnya penularan VHB ke bayi (Wong, et al, 1980).

4. Adanya VHB pada bayi baru lahir yang bias ditunjukkan dengan positifnya pemeriksaan PCR hari ke-0, dapat dipakai untuk menunjukkan dengan cepat adanya penularan VHB dari ibu ke bayi disamping mempelajari kemungkinan transmisi VHB yang mengalami mutasi (Brechot, 1993).

5. Faktor genetik kemungkian mempengaruhi besarnya kejadian

penularan VHB vertikal, karena beberapa penulis melaporkan

bahwa faktor genetik ada hubungan terhadap kemungkinan

terjadinya pengidap VHB kronik. Dan besarnya pengidap

VHB kronik di masyarakat, sudah tentu akan memperbesar

kemungkinan terjadinya penularan VHB vertikal, jika

pencegahan secara efektif tidak dilakukan. Irwan Setiabudi

(1992) di Surabaya pada penelitiannya mendapatkan, bahwa

tidak ada hubungan antara kemungkinan untuk menjadi

pengidap kronik VHB ataupun sembuh total dengan

kekebalan protektif pada suku Jawa. Tetapi antigen HLA

kelas I B38 dan BW53 menunjukkan kecenderungan untuk

menjadi kronis bila terinfeksi VHB, sedangkan antigen HLA

kelas I A34, B7, BW77 menunjukkan kecenderungan untuk

sembuh total dengan kekebalan protektif. Hsu, et al. (1991)

menyatakan bahwaHLA-DR14-DR52 berpengaruh terhadap

low responsiveness terhadap vaksin HB di Taiwan. Craven,

et.al. (1986) mendapatkan ada golongan penduduk yang non

(26)

HBV dan Penularannya 13

responder atau hypo-responder yang terjadi pada kelompok penduduk dengan halotip HLA B8.DR3.SC01 dan B44.DR7.

FC31). Almarri dan Batchelor (1994), pada penelitiannya di Qatar mendapatkan bahwa adanya HLA-DRB*1302 akan berhubung dengan kemungkinan terhindarnya terhadap infeksi VHB pada masyarakat Gambia.

6. Penularan vertikal lebih kecil kemungkinan terjadi pada bayi wanita dibandingkan dengan bayi laki (Wheeley, et al., 1989).

Penularan VHB in-utero

Yang dimaksud dengan penularan VHB in-utero ialah penularan atau tramsmisi VHB dari ibu ke bayi di dalam rahim ibu, yang kemudian menyebabkan bayi mengalami infeksi VHB. Sebagai bukti yang pasti bahwa terjadinya infeksi in-utero ialah jika bayi yang baru lahir di dalam hatinya sudah terdapat VHB (Lin, 1987).

Secara klinis karena masa inkubasi VHB adalah 6 minggu sampai 6

bulan, maka bayi dikatakan mengalami infeksi VHB in-utero, jika

bayi berumur 1 bulan sudah menunjukkan HBsAg positif (Wong,

et al. 1980). Tetapi HBsAg positif pada bayi baru lahir, belum

pasti menunjukkan adanya penularan VHB in-utero, seperti yang

didapatkan leh Lee (1988), dimana pada penelitiannya dengan

melakukan pemeriksaan darah pada bayi 3 jam setelah lahir

mendapatkan prevalensi HBsAG positif dengan metode Radio

Immuno Assay (RIA) sebesar 18,1% tetapi setelah 3 hari HBsAG

menjadi negatif. Keadaan ini disebabkan karena HBsAg dapat

ditransmisikan secara pasif dari ibu ke bayi melalui plasenta dan

kemudian dalam beberapa hari titer HBsAg menurun dan menjadi

(27)

negatif, seperti yang disampaikan oleh Mollica, et.al. (dikutip dari Wong, et al., 1984) yang menyatakan HBsAg secara pasif dapat ditularkan dari ibu ke bayi melalui plasenta dan setelah 3 hai titer HBsAg menurun. Kalau dalam waktu lebih dari 3 hari titer meningkat maka kemungkinan VHB sudah mengadakan replika pada bayi.

Dari penelitian yang ada sampai saat ini, penularan VHB in- utero dilaporkan terjadi sebesar 5-15% dari penularan vertikal (Wong et.al., 1980; Beasley, et. Al., 1983, Ghendon, 1987). Tetapi He, et al., (dikutip dari Ghendon, 1987), mendapatkan positifnya HBsAg pada serum dan hati bayi yang mengalami abortus dari ibu dengan HBsAg positif sebesar 43,8% (7/16) dan 33,3% dari bayi yang mengalami abortus dari ibu dengan HBsAg dan DNA-VHB positif didapatkan adanya integrasi DNA-VHB dengan genom sel hati bayi yang mengalami abortus tersebut. Hasil yang didapatkan ini sesuai dengan hipotesis dari Alexander dan Eddleston (1986) yang menyatakan bahwa infeksi VHB in-utero terjadi lebih besardari yang diduga saat ini.

Beberapa faktor yang diduga berperan untuk terjadinya infeksi in-utero ini, pada dasarnya sama dengan faktor berperan pada penularan VHB vertikal secara umum yaitu ;

1. Positifnya HBsAg pada darah tali pusat.

2. Ada beberapa petunjuk bahwa bayi yang lahir akan tertular

VHB dan menjadi pengidap kronik, antara lain; jika saudara

kandung yang lebih tua menjadi pengidap kronik VHB dan

HBsAg pada darah tali pusat bayi yang baru lahir ini positif

(28)

HBV dan Penularannya 15

(Stevens, 1975). Tetapi Lin (1987) menyatakan infeksi VHB in-utero tidak ada hubungannya dengan positifnya HBsAg pada darah tali pusat bayi yang dilahirkan oleh ibu HBsAg positif dengan metode PCR, dari 11 darah tali pusat yang diperiksa, didapatkan satu dengan DNA-VHB positif dan bayi tersebut akhirnya mengalami infeksi VHB kronik walaupun telah diberikan HBIG dan vaksin.

3. Dikatakan juga bahwa bila HBsAg dalam darah tali pusat positif maka respon bayi terhadap vaksin rendah dan akan menyebabkan penularan VHB vertikal dan keadaan ini kemungkinan disebabkan karena sudah terjadi infeksi in-utero, pemberian HBIG secara awal dapat mencegah bayi dari viremia, tetapi karena VHB sudah menginfeksi lekosit, sel hati dan sel yang lain maka akan terjadi reaktifasi dan kemungkina yang lain karena bayi secara genetik sudah mempunyai kemampuan membentuk kekebalan yang rendah (low responder-hubungan dengan gen pada HLA DR). Surya dan Soewignjo di RSUP Sanglah Denpasar (1993) mendapatkan prevalensi HBsAg pada darah tali pusat dengan metode RPHA sebesar 12,5%, tetapi penularan in-utero hanya terjadi pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg dan HBeAg positif di samping DNA- VHB pada tali pusat positif yang diperiksa dengan metode hibridisasi tanpa amplifi kasi.

4. Titer HBsAg tinggi biasanya juga menunjukkan HBsAg dan DNA-VHB positif di samping adanya anti-HBe negatif.

Goudeau, et al., (1983) menyatakan 31% dari bayi yang lahir

dari ibu dengan HBsAg dab HBeAg positif, maka HBsAg pada

(29)

bayi akan positif pada saat bayi dilahirkan, sedangkan kalau ibunya dengan HBsAg positif tetapi HBeAg negatif maka HbsAg akan positif hanya sebesar 5%.

5. Beberapa keadaan nampaknya memberikan peluang terjadinya infeksi VHB in-utero lebih besar yaitu infeksi akut VHB pada ibu hamil trimester III akan lebih mudah menyebabkan penularan VHB pada bayi yang dilahirkan (Schweitzer, et al., 1973; Tong, et al., 1981). Keadaan ini disebabkan karena anti- HBs lebih mudah dan cepat menembus plasenta dibandingkan dengan HbsAg. Kalu infeksi akut VHB terjadi pada trimester III maka sebelum anti HBs ibu terbentuk dalam jumlah cukup bayi telah lahir sehingga VHB yang masuk ke tubuh bayi tidak dapat dinetralisasi. Sedangkan kalau terjadi pada trimester I atau II meskipun VHB dapat masuk ke tubuh bayi, tetapi memerlukan waktu 6 minggu sampai 6 bulan untuk terjadinya infeksi sedangkan anti-HBs telebih dahulu masuk ke tubuh bayi, sehingga VHB dapat dinetralisasi oleh anti-HBs dari ibu (Schweitzer, et.al, 1973).

6. Anti-HBc ibu yang masuk ke darah bayi dapat menekan

ekspresi dan replikasi VHB sampai anti-HBc ibu pada bayi

hilang (Milich, et al., 1993). Dan dapat dihubungkan antara

titer anti-HBc pada ibu dengan HBeAg positif yang ada pada

peredaran darah bayi, dengan kemungkinan terjadinya pengidap

VHB kronik pada bayi. Makin kecil titer anti-HBc ibu yang

masuk ke peredaran darah janin, makin besar kemungkinan

bayi akan menjadi pengidap VHB kronik (Chang, et al.,

1996). Keadaan inilah yang menyebabkan mengapa meskipun

(30)

HBV dan Penularannya 17

terjadinya infeksi in-utero manifestasi infeksi tidak segera atau tidak selalu terjadi. Imunisasi yang diberikan setelah lahir menyebabkan infeksi tidak terjadi dalam waktu beberapa tahun tetapi bayi yang lahir ini masih tetap mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya KHP. Karena keadaan ini maka kemungkinan besar infeksi VHB in-utero terjadi lebih sering dari yang diduga sebelumnya (Alexander dan Eddleston, 1986). London dan O-connell (1986), menyatakan bahwa bayi yang lahir dari ibu dengan pengidap VHB yang infeksius, sel hati telah terinfeksi in-utero. Vaksinasi aktif dan pasif yang diberikan kepada bayi hanya mencegah penularan VHB dari sel hati ke sel hati lainnya tetapi tidak pada sel hati yang sejak awal terinfeksi dan kalau terjadi penurunan daya tahan tubuh di kemudian hari barulah VHB tadi dapat menyebar. Pendapat yang menyatakan bahwa anti-HBc ibu yang ditransmisikan ke bayi memegang peranan penting, tidak disetujui oleh Panda, et al., (1986) yang menyatakan bahwa infeksi pada bayi lebih cenderung disebabkan oleh jumlah virion yang tinggi dibandingkan dengan anti-Hbc, karena 7% infeksi vertikal terjadi pada 3-5 bulan setelah persalinan. Kalau anti-Hbc yang memegang peranan penting maka penularan VHB vertikal seharusnya baru terjadi setelah bulan ke-6 dimana kadar anti-HBc ibu ke anak sudah menurun.

7. Lamanya persalinan dikatakan juga dapat menyebabkan

penularan VHB in-utero (Wong, et.al., 1980; Lin, et al., 1987)

seperti diutarakan mekanisme terjadinya penularan VHB in-

utero.

(31)

8. Kemungkinan lainnya adalah karena bayi dalam kandungan menelan air ketuban yang mengandung partikel Dane, tetapi cara penularan seperti ini kemungkinan sangat kecil karena memerlukan jumlah VHB yang sangat besar untuk dapat menyebabkan infeksi VHB (Lee, et al., 1978).

Mekanisme Terjadinya Penularan Infeksi VHB in-utero.

Infeksi VHB in-utero pada dasarnya terjadi karena masuknya VHB dai ibu ke bayi di dalam kandungan, melalui robekan kecil plasenta yang menyebabkan terjadinya microtransfusion darah ibu yang mengandung partikel Dane ke bayi (Lin. et.al., 1987). Jika hasil pemeriksaan PCR pada bayi harike-0 positif, berarti ada genom VHB yang masuk ke bayi, tetapi ada dua kemungkinan yang bisa menimbulkan hasil PCR hari ke-0 positif, yaitu;

1. Genom VHB dari ibu masuk ke bayi pada saat mulainya persalinan atau hanya beberapa jam sebelum anak lahir. Karena sistem imun tubuh, atau vaksinasi yang diberikan segera setelah bayi lahir, disamping genom VHB yang masuk ke tubuh bayi hanya sedikit, maka VHB dapat dieliminasi atau terjadi infeksi VHB yang disebut dengan penularan perinatal.

2. Genom VHB masuk ke tubuh bayi pada trimester I, II, II atau lebih dari 7 hari sebelum terjadinya persalinan, sehingga VHB telah masuk dan mengadakan replikasi di dalam hati bayi.

Menurut Wong, et al., (1984), terjadinya robekan kecil, atau

microtransfusion, karena kontraksi uterus yang cukup kuat pada

kehamilan trimester II atau III. Sedangkan Lin, et al., (1987) dari

hasil penelitiannya pada ibu melahirkan yang pernah mengalami

(32)

HBV dan Penularannya 19

gejala persalinan prematur dan abortus, mendapatkan bahwa bayi yang mengalami keadaan seperti di atas lebih dari enam minggu sebelum persalinan itu, bayi mengalami penularan VHB in-utero. Sedangkan yang mengalami kontraksi uterus hanya satu minggu sebelum persalinan tidak terjadi penularan in-utero. Keadaan ini dapat diterangkan karena persalinan akan berlangsung dalam waktu 6-8 jam pada multipara dan 12-16 jam pada primipara dimana akan terjadi kontraksi uterus lebih dari 100 kali. Keadaan tersebut menyebabkan terjadi robekan plasenta atau terganggunya barier plasenta dan darah ibu dengan genome VHB masuk ke dalam sirkulasi darah anak.

Kontraksi uterus menyebabkan pecahnya pili plasenta pada persalinan dan keadaan ini merupakan cara penting untuk terjadinya infeksi VHB in-utero.

Penularan Perinatal

Yang dimaksud dengan infeksi perinatal VHB ialah infeksi VHB padabayi yang terjadi pada saat dilahirkan dari ibu dengan HBsAg positif. Pada penularan VHB vertikal, HBsAg pada bayi umumnya positif 3 bulan setelah persalinan. Karena itu maka diduga bahwa penularan VHB lebih sering terjadi pada saat persalinan atau perinatal (Beasley, et al., 1975). Pengidap kronik VHB 30- 40% disebabkan karena infeksi perinatal, 30-40% karena infeksi horizontal pada masa anak dan 20-25% karena infeksi horizontal pada masa dewasa (Tong, et al., 1991).

Mekanisme terjadinya penularan VHB perinatal belum jelas,

tetapi beberapa teori yang dikemukakan antara lain; melalui lesi

(33)

kulit, mata, darah ibu, air ketuban yang tertelan oleh bayi pada saat persalinan dan kontak dengan lendir serviko-vaginal. Pao, et al.

(1991), memeiksa DNA-VHB yang terdapat pada servikovaginal dan mendapatkan hasil positif pada 12,1% ibu hamil. Penularan melalui tertelannya air ketuban kecil kemungkinannya, karena memerlukan jumlah VHB 50 kali lebih banyak dari VHB yang masuk aliran darah atau suntikan (Krugman dan Giles, 1970).

Faktor utama yang mempengaruhi besarnya frekuensi penularan

perinatal VHB adalah status HBeAg dan anti-HBe ibu (Lee, et

al. 1978; Stevens, et al., 1979), disamping faktor rasial atau etnik

(Ghendon, 1987). Faktor etnik nampaknya berpengaruh pada

penularan VHB yang dilihat dari berbedanya frekuensi penularan

VHB perinatal ibu yang juga dengan HBeAg positif. Sebagai

contoh di Taiwan prevalensi HBeAg positif adalah 40-50% dari

HBsAg positif dan ini akan menyebabkan 90% bayi menularkan

infeksi VHB perinatal , tetapi di Senegel hanya 15% dari ibu

dengan HBsAg positif juga dengan HBeAg positif sehingga

penularan perinatal terjadinya hanya sebesar 18,75%. Sebagian

besar ibu yang HBeAg positif menularkan infeksi VHB kepada

bayi yang dilahirkannya, sedangkan ibu yang anti-HBe positif tidak

menularkannya. Belakangan ini dilaporkan bahwa ibu yang anti-

HBe positif juga dapat menularkan VHB vertikal kepada bayinya

tetapi infeksi pada bayi tersebut bersifat sementara dan tidak

pernah menimbulkan status pengidap pada anaknya. Keadaan

ini dapat terjadi bila ibu mengidap infeksi VHB akut dengan

mutasi pada daerah pre-core dimana walaupun VHB masih ada fase

replikatif tetapi HBsAg negatif, anti-HBc positif. Pada keadaan ini

(34)

HBV dan Penularannya 21

eliminasi VHB pada bayi sangat efektif dan VHB pada umumnya dapat menjadi negatif. Karena proses eleminasi VHB yang sangat hebat maka terjadi hepatitis fulminan pada umur beberapa bulan.

Penularan VHB perinatal sangat penting artinya karena sebagian besar dari anak yang terkena penularan perinatal akan mengidap infeksi yang menetap. Mitsuda, et al. (1989) menduga bahwa ada bayi yang secara genetik mempunyai respon yang rendah terhadap vaksin hepatitis, sehingga mudah mengalami penularan VHB.

Penularan Post-natal VHB

Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg dan HBeAg positif, juga

bisa mendapatkan penularan VHB post-natal. Penularan ini tidak

begitu penting artinya karena VHB yang masuk ke tubuh bayi

secara per-oral baru dapt menimbulkan infeksi VHB jika masuk

bersama air susu ibu dalam jumlah besar (Krugman dan Giles.,

1970; Gilbert, 1981). Diduga penularan terjadi melalui air susu ibu

yang terkontaminasi darah ibu yang mengandung VHB krena luka

lecet pada putting susu. Keadaan inilah yang diduga menyebabkan

mengapa 72% dari air susu ibu dengan HBsAg positif (Wong et

al., 1984). Lin et al., (1993) pada penelitiannya mendapatkan

bahwa DNA-VHB terdapat pada air susu dari ibu dengan HBsAg

positif. Ada korelasi antara titer DNA-VHB dengan titer HBsAg

ibu. Karena itu ditekankan pentingnya vaksinasi HB segera setelah

lahir terutama pada daerah endemik VHB

(35)
(36)

Virus Hepatitis B 23

Partikel Virus Hepatitis B

Virus Hepatitis B (VHB) merupakan virus hepatitis pertama pada manusia yang protein dan genomenya dapat diidentifi kasi (Gerlich, 1993), dan tergolong keluarga Hepadnaviridae yaitu suatu virus yang hepatotropik dengan genome DNA (Howard, et al., 1991).

VHB hanya bisa hidup pada manusia, chimpanzee dan beberapa jenis primate lainnya, tetapi sampai sekarang belum bisa dilakukan pembiakan (Robinson, 1991).

VHB disebut partikel Dane sesuai nama penemu virus tersebut.

Partikel Dane mempunyai penampang 42-47 nm dan terdiri dari core dan selubung (envelope) yang disebut Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg). Produksi HBsAg lebih banyak dari produksi core dan dalam darah pengidap infeksi VHB, tampak dua macam HBsAg yaitu yang berbentuk bulat (spheric) dengan penampang 17 – 25 nm dan HBsAg berbentuk tubuler (fi lament) dengan penampang 20 nm (Dane et al., 1970). Pada darah pengidap

.

Virus Hepatitis B

(37)

infeksi VHB yang mengalami viremia terdapat sekitar 10

8

virion,

10

10-11

HBsAG tubuler dan 10

13

HBsAg bulat (Robinson, 1991;

Gerlich, 1993).

Pada fase replikatif di dalam darah ditemukan partikel Dane, partikel HBsAg bulat dan tubuler, sedangkan pada fase non- replikatif, misalnya pada waktu DNA-VHB sudah berintegrasi dengan DNA sel hati, yang ditemukan dalam darah hanyalah partikel HBsAg bulat dan tubuler tanpa partikel Dane.

Komposisi Antigenik VHB

Dikenal tiga komponen antigenik utama VHB yaitu ; HBsAG, HBeAg , HBcAg.

HBsAg

HBsAg merupakan komponen antigenik VHB, tetapi tidak

infeksius dan tersusun atas protein, karbohidrat dan dua lapis lipid

(Vyas dan Blum, 1984; Robinson, 1985). Selubung (envelope)

protein tersusun atas tiga macam protein dimana masing-masing

protein dapat merangsang terjadinya antibodi spesifi k. Karena itu

dikenal tiga macam antigen pada HBsAG yaitu antigen S, antigen

pre-S2 dan antigen pre-S1 yang masing-masing terdapat pada mayor

atau small protein, middle protein dan large protein (Neurath, et la.,

1986). Pemurnian HBsAg menunjukkan bahwa HBsAg ada yang

berbentuk bulat, mengandung protein S dan sedikit protein pre-S,

sedangkan HBsAg yang berbentuk fi lament sebagian besar terdiri

dari S protein. Virion mengandung semua polipeptida HBsAg

(38)

Virus Hepatitis B 25

dalam jumlah yang hampir sama. Setelah terjadinya infeksi VHB, maka penderita akan membentuk antibodi yaitu anti-pre S1, anti- pre S2 dan anti-S. Ini menunjukkan bahwa semua antigen HBsAg diekpresikan pada permulaan infeksi.

1. Antigen S

Antigen S merupakan major protein dengan panjang 226 asam amino. Antibodi yang terbentuk terhadap antigen S akan mencegah infeksi VHB. Untuk menghindari respon imun tubuh host, ada kemungkinan VHB mengadakan mutasi sehingga host tidak bisa mengenal antigen VHB dengan akibat terjadinya infeksi menetap VHB. Mutasi selain terjadinya pada regio C juga bisa terjadi pada gene S dan umumnya terjadi pada daerah yang menyandi determinan antigenik “a”. Keadaan ini menyebabkan VHB tidak dikenal oleh sistem imun tubuh host meskipun sudah mempunyai antibodi terhadap antigen S dengan akibat terjadinya infeksi VHB.

2. Antigen pre-S2

Antigen pre-S2 mudah rusak pada pembuatan vaksin plasma,

karena enzim protease yang dipergunakan pada proses

pembuatannya sangat mempengaruhi stabilitasnya enzim

tersebut (Neurath, et al., 1986). Pada pasien dengan viremia

berat, antigen pre-S2 merupakan 5-15% dari seluruh HBsAg,

sedangkan pada pasien yang tidak mengalami viremia jumlah

antigen pre-S2 sedikit. Karena itu diduga antigen pre-2

berperan penting pada viremia (Gerlich et al., 1986). Sedangkan

protein pre-S2 merupakan epitop yang imunodominan dan

meningkatkan imunogenitas HbsAG (Wong, et al., 1984;

(39)

Neurath, 1984< 1986). Di samping itu peptide dengan rangkaian asam amino terminal yang merupakan 50% dari pre-S2 dapat merangsang terbentuknya imunitas protektif (Itoh, et al. 1986; Neurath, et al., 1986). Mulyanto (1992) melaporkan bahwa banyaknya antigen pre S2 dipengaruhi oleh subtipe HBsAG, sehingga mempengaruhi perbedaan imunisitas HBsAg. Dilaporkan bahwa subtipe adr pada donor pengidap HBsAg di Jakarta dan Surabaya mengandung lebih banyak antigen pre-S2 dibandingkan subtipe adw dan ayw.

3. Antigen pre-S1

Antigen pre-S1 terletak pada bagian luar dari HBsAg. Jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan major dan middle protein, yaitu hanya 1% daris eluruh proteinHbsAg baik pada keadaan viremia atau tidak. Antigen pre-S1 diduga menjadi sasaran respon imun tubuh untuk mengeliminasi VHB. Regio S dan pre-S2 pada subtipe panjangnya konstan. Sedangkan region pre-S1 bervariasi. Variasi dari region pre-S1 mungkin sebagai usaha dari VHB menghindari respon imun host (Gerlich, et al., 1986) Pre-S1 diduga berperan mengatur keseimbangan sintesa partikel HbsAg bulat. HBsAg tubuler dan HBsAg selubung virion. Disamping itu diduga mempunyai reseptor yang merupakan tempat menempelnya VHB pada permukaan sel hati.

4. Subtipe HBsAg

HBsAg mempunyai paling sedikit 5 determinan antigenik

yaitu group spesifi k determinan “a” yang dimiliki oleh semua

HBsAg dan duapasang subtipe spesifi k determinan yaitu “d”,

(40)

Virus Hepatitis B 27

“y” dan “w”, “y”, yang satu dengan yang lainnya berdiri sendiri (Le Bouvier, et al., 1972; Bancroft, 1972). Dengan demikian, terdapat empat subtipe utama yaitu adw, adr, ayw dan ayr.

Subtipe ini adalah virus spesifi k dan tetap sama bila VHB ditularkan kepada individu lainnya dan dapat dipakai sebagai petunjuk (marker) penting dari penyebaran infeksi VHB pada populasi dan individu (Robinson, 1991). Semua subtipe HBsAg dapat memicu proteksi silang setelah imunisasi dengan timbulnya antibodi terhadap group spesifi k determinan “a”

(anti-HBs/a-HBS).

HBcAg

HBcAg adalah nukleokapsid protein, tidak terdapat dalam bentuk bebas pada serum pasien sebab core dibungkus oleh HBsAG, HBcAg akan segera dinetralisasi oleh anti-HBc (Decker, 1993).

Antibodi terhadap HBcAg akan muncul setelah HBsAg muncul, tetapi sebelum meningkatnya ALT dan tetap positif dalam serum selama pasien masih sakit dan setelah mengalami penyembuhan (Hoofnagle, et al., 1973). Karena itu maka anti-HBc dapat dipakai sebagai petunjuk epidemiologik adanya infeksi VHB (Decker, 1993). Pada infeksi akut VHB akan muncul IgM antibodi terhadap VHB dan secara bersamaan juga muncul IgG dalam dosis rendah yang akan meningkat setelah terjadi kesembuhan (Decker, 1993).

Sejak tahun 1986 bank darah di USA menambahkan pemeriksaan

anti-HBc dan ALT untuk skrining donor dan cara ini sangat

menurunkan kemungkinan infeksi VHB melalui transfusi darah

(Decker, 1993).

(41)

HBeAg

Merupakan protein dimana urutan asam aminonya mirip HBcAg.

Pada infeksi VHB kronik titer HBcAg secara parallel menunjukkan titer DNA-VHB (Decker, 1993). Positifnya HBeAg lebih dari 3 bulan menunjukkan infeksi VHB menjadi kronik. Sebaliknya anti-HBe menunjukkan kearah kesembuhan dan akan menghilang dalam beberapa bulan atau tahun. Fungsi spesifi k dari HBeAg atau hubungannya dengan patogenesa penyakit hati belum jelas.

Okada, et al. (1976) dan Beasley (1977) menyatakan HBeAg berkaitan dengan kemungkinan lebih besar terjadinya penularan VHB vertikal di mana dikatakan perinatal infeksi lebih besar kemungkinan terjadi pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBe Ag positif.

HBeAg diduga merangsang imunotoleransi terhadap VHB

sendiri. HBeAg menghambat pengeluaran interferon. Kurangnya

interferon dapat dilihat pada pengidap kronik VHB, dimana

kurangnya interferon akan disertai dengan kurangnya ekspresi

molekul MHC dan tidak adanya sel T pada permukaan sel hati

(Gerlich dan Heermann, 1991). Adanya mutasi pada region

pre-core dari region C pada ORF dari VHB akan menyebabkan

kesukaran mengartikan hasil pemeriksaan HBeAg dan anti-HBe

(Decker, 1993) yang menyebabkan sukarnya sistem imun tuuh

host untuk mengeliminasi VHB, karena adanya toleransi sistem

imun dengan akibat terjadinya infeksi kronik VHB atau hepatitis

fulminan.

(42)

Petanda Serologik VHB 29

Ada beberapa macam pemeriksaan petanda serologik VHB. Setiap pemeriksaan mempunyai makna dan manfaat tersendiri, sehingga pemahaman mengenai pemeriksaan ini perlu untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari pemeriksaan tersebut. Untuk dapat memahami petanda serologik VHB diperlukan pengetahuan dasar mengenai partikel VHB disamping pengetahuan tentang perjalanan infeksi VHB.

Pemeriksaan petanda serologik VHB umumnya dipergunakan untuk mengetahui hal sebagai berikut (Gunawan, et.al., 1991) : 1. Apakah seorang individu pernah terinfeksi oleh VHB ? 2. Apakah saat ini sedang mengidap infeksi ?

3. Fase dari infeksi tersebut (replikatif atau non-replikatif ) serta kemungkinan penularan kepada orang lain.

4. Adanya kekebalan terhadap infeksi VHB.

Petanda Serologik VHB

(43)

Tabel 4. Petanda serologik VHB dan interpretasinya pada infeksi VHB.

Petanda serologik

Infeksi VHB akut Infeksi VHB kronik

IgM anti-HBc Positif tinggi Rendah atau negatif

IgG anti-HBc Positif Positif

HBeAg/anti-HBe Positif dan Serokonversi menjadi negatif

HBeAg tetap positif atau anti-HBe positif

DNA-VHB Positif Kemudian negatif Positif tinggi/rendah dan persisten

Anti-HBs Muncul pada masa penyem-

buhan Umumnya negatif

Beberapa petanda serologik VHB.

HBsAg

HBsAg terdapat dalam tiga bentuk yaitu HBsAg yang terdapat

pada virion utuh (partikel Dane) dan yang terdapat dalam bentuk

yaitu partikel bulat dengan penampang 22nm dan partikel tubuler

(Dane, et al., 1970). Karena itu HBsAg yang positif tidak selalu

merupakan petunjuk adanya partikel VHB utuh. Positifnya HBsAg

dalam darah seorang individu menunjukkan individu tersebut

menderita infeksi VHB. Pada proses penyembuhan HBsAg

menjadi negatif dan kalau sampai 6 bulan setelah terjadinya infeksi

HBsAg tetap positif, keadaan ini menunjukkan telah terjadinya

infeksi VHB kronik. Metode yang paling peka dan spesifi k

(44)

Petanda Serologik VHB 31

untuk deteksi HBsAg adalah RIA (Radio Immuno Assay) diikuti oleh ELISA (Enzyme Linked Sorbent Assay) dan kemudian RPHA (Reserved Passive Hemaglutination Assay). Untuk pemeriksaan semi kuantitatif yang paling praktis adalah RPHA (WHO, 1977) karena tidak diperlukan pengenceran serum secara seri. Tingginya titer HBsAG yang diperiksa dengan RPHA dapat dihubungkan dengan kemungkinan positifnya HBeAg yang diperiksa dengan RPHA dapat dihubungkan dengan kemungkinan positifnya HBeAg (Soewignjo, 1988; Surya, et al., 1993).

Anti-HBs

Anti-HBs merupakan suatu antibodi protektif yang timbul setelah kesembuhan infeksi VHB atau setelah dilakukan vaksinasi. Setelah fase penyembuhan dari infeksi VHB, anti-HBs dan anti-HBc positif, sedangkan setelah vaksinasi yang positif hanya anti-HBs (Dienstag dan Isselbacher, 1994

a

). Menurut Deinhardt danGust (1982), jarak antara hilangnya HBsAg sampai munculnya anti-HBs berkisar antara beberapa bulan sampai satu tahun. Pemeriksaan anti-HBs bisa dikerjakan dengan ELISA, RIA atau dengan PHA (Passive Hemaglutination Assay) dikutip dari Gunawan, et al., 1991.

Antibodi terhadap pre-S1 dan pre-S2

Antibodi terhadap pre-S1 dan anti pre-S2 merupakan antibodi

yang muncul pada awal infeksi VHB (Decker, 1993). Antibodi

terhadap pre-S berhubungan dengan netralisasi virus sehingga

positifnya pada penderita hepatitis akut merupakan petunjuk

bahwa tidak akan terjadi hepatitis kronik.

(45)

Anti-HBc

HBcAg tidak terdapat dalam darah, yang ada dalam darah adalah antibodi terhadap HBc atau anti-HBc. Setelah terjadi infeksi VHB, Anti–HBc akan muncul setelah munculnya HBsAg, sebelum timbul gejala klinik atau kenaikan harga ALT. Yang mula-mula timbil adalah IgM anti-HBc dan kemudian IgG anti-HBc. IgM anti-HBc dapat tetap positif dalam titer tinggi selama 6 bulan sampai 1 tahun. Setelah gejala penyakit, sedangkan IgG anti-HBc terdapat seumur hidup. Di beberapa Negara anti-HBc dipakai sebagai test pengganti pada skrining donor yang mempunyai risiko tinggi tertular hepatitis non A – non B (NANBH), AIDS (Decker, 1993). Metode pemeriksaaan yang sering dipakai ialah dengan RIA, ELISA atau HAI (Haemagglutination Inhibition).

HBeAg

HBeAg didapatkan di dalam nukleokapsid VHB dan mempunyai

struktur yang hampir sama dengan HBcAg, hanya HBeAg dapat

larut dalam air sehingga dapat larut dalam air sehingga dapat

dideteksi dalam darah. Secara tidak langsung HBeAg menunjukkan

adanya replikasi VHB serta tingkat infektifi tas yang tinggi. Serum

yang HBeAg positif biasanya menunjukkan titer HBsAg yang

tinggi dan adanya DNA-VHB. Pada fase penyembuhan HBeAg

menjadi negatif dan muncul anti-HBe. Kalau HBeAg tetap positif

lebih dari 12 minggu setelah terjadi infeksi maka infeksi VHB akan

menjadi kronik (Decker, 1993). Pemeriksaan dilakukan dengan

metode ELISA , RIA atau RPHA.

(46)

Petanda Serologik VHB 33

Anti-HBe

Pada fase non-replikatif di dalam darah tidak didapatkan partikel Dane, karena itu HBeAg negatif. Dalam keadaan itu umumnya anti-HBe akan menjadi positif, dengan demikian anti-HBe yang positif ini menunjukkan bahwa penderita tidak infeksius lagi.

Pemeriksaan HBeAG dan anti-HBe sering dipakai untuk menilai replika VHB. HBeAg positif menunjukkan bahwa VHB sedang dalam fase replika, sedangkan kalau anti-HBe positif menunjukkan VHB dalam fase non-replikatif. Pemeriksaan dilakukan dengan metode yang sama dengan pemeriksaan HBeAG yaitu dengan ELISA, RIA atau RPHA (Decker, 1993).

DNA-VHB

Pada hepatitis B akut, DNA-VHB hanya positif dalam darah selama beberapa hari saja. Hilangnya DNA-VHB pada fase akut menunjukkan bahwa fase penyembuhan sedang berlangsung.

Pemeriksaan DNA-VHB dipakai untuk memastikan apakah masih ada replika VHB atau tidak, karena dapat menentukan adanya VHB meskipun dalam jumlah yang kecil. Metode pemeriksaan yang dipakai ialah Hibridisasi Molekuler dengan kepekaan 0,1 pg/

ml yang setara dengan 3 kali 10.000 geno VHB, sedangkan dengan

metode yang lebih peka ialah dengan Polymerase Chain Reaction

(PCR), dapat mendeteksi DNA-VHB 0,00001 pg DNA-VHB

atau tiga genom DNA-VHB (Kaneko, 1989). Pada penelitian ini

dilakukan pemeriksaan DNA-VHB dengan Hibridisasi Molekuler

dengan amplifi kasi (PCR) dan tanpa amplifi kasi (metode Digen).

(47)

Imunologi Infeksi VHB

Dampak yang ditimbulkan oleh infeksi VHB, baik klinik maupun kerusakan sel hati tergantung dari respon imun tubuh hast terhadap VHB melalui respon imun humoral dan respon imun seluler.

Pada dasarnya tahapan respon imun hast untuk mengeliminasi VHB adalah ; masuknya VHB ke dalam tubuh hast, munculnya peptida VHB pada permukaan sel hati bersama dengan Major Histocompatability Complex kelas I(MHC I), kemudian terjadinya lsis sel hati yang mengandung VHB oleh sel T sitotoksik sehingga VHB mati (Eddleston, 1991). Apakah akan terjadi infeksi VHB akut dan berakhir dengan berhasilnya hast mengeliminasi VHB sehingga terjadi kesembuhan atau infeksi berjalan secara subklinik dan hast akan menjadi pengidap VHB kronik, oleh Th omas (1991) disimpulkan sebagai berikut :

1. Pada hepatitis akut ; pada awal infeksi VHB, akan muncul alfa

interferon di dalam darah yang menimbulkan panas badan dan

malaise pada pasien (Pignatelli. Et al., 1987), meningkatnya

aktifi tas sel NK (Natural Killer) dalam beberapa minggu pertama

dari infeksi akut, disertai dengan munculnya sel T-helper (Th

atau CD4 limfosit) yang desensitisasi khususnya terhadap

epitop yang mengandung HBc peptide.Antibodi yang pertama

muncul adalah anti-pre S1 dan anti pre-S2, yang diduga untuk

mengontrol infeksi, tetapi tidak mengontrol penyebaran

VHB ke dalam sel hati, sampai sel hati yang mengalami

infeksi dihancurkan oleh sel T sitotoksik (Tc). Interferon juga

merangsang munculnya MHC I pada permukaan sel hati,

tetapi tidak pada sel hati yang tidak mengandung VHB. Sel

(48)

Petanda Serologik VHB 35

Tc akan beraksi dengan mengadakan penempelan dengan MHC I yang memunculkan HBc peptide pada permikaannya, sehingga terjadi lisis sel hati dan eliminasi VHB.

2. Pada hepatitis kronik; proses seperti di atas tidak berjalan semestinya, yang disebabkan karena terjadinya kerusakan atau kegagalan pada beberapa hal, antara lain (Hollinger, 1991):

a. Gagalnya sensitisasi dan fungsi sel Tc dan sel NK. Keadaan ini bisa disebabkan karena kemampuan adaptasi dari VHB, di mana menimbulkan toleransi respon imun hast terhadap VHB.

b. Kegagalan produksi interferon (INF); kegagalan limfosit memproduksi alfa-IFN akhirnya akan berakibat hilangnya kemampuan sel Tc untuk mengeliminasi VHB dan berakibat terjadinya pengidap kronik VHB. Berkurangnya produksi IFN ini diduga sebagai dampak terjadinya infeksi.

c. Kegagalan sel hati memberikan respon terhadap IFN;

kemampuan sel hati yang mengalami infeksi untuk

memberikan respon terhadap IFN dalam dosis fi siologik

menurun, tetapi tidak dalam dosis lebih besar (kalau

diberikan IFN dengan dosis lebih besar dari luar). Keadaan

ini diduga karena gene dari virus mempunyai kemampuan

untuk meningkatkan dan menurunkan kemampuan sel

yang terinfeksi memberikan respon terhadap IFN. Regio

yang bertanggung jawab pada keadaan ini ialah region

pada DNA-VHB yang menyandi pembentukan protein

untuk mengadakan suatu ikatan.

(49)

d. Kegagalan menetralisasi virus; hast tidak mampu membentuk antibodi untuk menetralisasi VHB karena sel limfosit B dihancurkan oleh CD4 dan CD8 yang mengadakan replikasi pada sel limfosit (Barnaba, et al., 1990).

Jika VHB masuk ke dalam tubuh hast maka VHB akan ditangkap oleh macrophage, kemudian peptidanya dimunculkan di permukaan macrophage bersama dengan MHC II dan sebagian partikel VHB akan masuk ke dalam sel hati, kemudian mengadakan replika. Bersamaan dengan itu alfa interferon akan muncul dan merangsang munculnya MHC I pada permukaan sel hati (Fowler, et al., 1994) dan peptide VHB dimunculkan pada MHC I yang kemudian akan dikenal oleh sel T sitotoksik (Tc).

Vento, et al., (1987) pada penelitiannya secara serial pada pasien dengan hepatitis B akut menemukan bahwa respon imun pertama yang terjadi terhadap VHB adalah terhadap antigen pre-S2, yang terjadi 30 hari sebelum terjadinya kerusakan sel hati, kemudian respon imun terhadap HBcAg 10 hari kemudian dan respon imun yang paling kuat adalah terhadap antigen S yang terjadi 10 hari sebelum terjadinya nekrosis sel hati.

Respon Imun terhadap VHB

Secara umum jika virus masuk ke dalam tubuh, maka sistem

kekebalan tubuh alamiah akan bekerja; sel lekosit akan

menghasilkan alfa interferon yang akan mengaktifkan sel NK dan

macrophage atau Antigen Processing Cell atau Antigen PresentingCell

(APC). APC akan menangkap virus, kemudian memproses dan

(50)

Petanda Serologik VHB 37

memunculkan fragmen proteinnya bersama dengan MHC kelas II, kemudian berikatan dan mengaktifkan T-helper cell (Th ) dengan mengeluarkan IL.1 Sel Th yang telah diaktifkan (Th 2) akan mengaktifkan sel B dengan batuan BCGF (B Cell Growth Factor) dan BCDF (B Cell Diff erentiation Factor) di mana sel B ini akan merangsang sel plasma untuk membentuk antibodi terhadap virus.

Sel Th 1 akan mengeluarkan IL 2 untuk merangsang pembentukan sel T sitotoksik (Tc) yang akan berikan dengan MHC I dan menyebabkan lisis sel yang mengandung virus (Goodman, 1991).

Pada infeksi VHB peptide yang dimunculkan sebagai epitop pada MHC II ialah peptide pre-S1, pre-S2, S dan HBc (Ferrari, et al., 1991), sedangkan pada MHC I adalah peptide HBc dan HBe.

Jadi lisis sel hati akan terjadi karena sel Tc menempel sel hati pada MHC I yang memunculkan peptide HBc dan HBe (Pignatelli, et al., 1987).

Mengenai teori menempelnya VH sebelum masuk ke dalam

sel hati ada beberapa pendapat, antara lain ; pre-S2 mengdakan

penempelan pertama pada sel hati dengan bantuan penghubung

polymerized albumin atau PHSA (Machida, et al., 1984 dan

Eddleston, 1988) sedangkan Neurath, et al. (1986), pada

penelitiannya dengan sel Hep G2 menyatakan penempelan VHB

pada sel hati terjadi pada pre-S1. Pontisso, et al., (1990) menyatakan

bahwa pre-S1 menempel pada sel hati melalui reseptor IgA pada

permukaan sel hati. Setelah VHB masuk ke dalam sel hati maka

HBcAg dan HBeAg akan muncul pada permukaan sel hati bersama

dengan MHC I. Epitop ini akan dikenal oleh sel Tc dan terjadilah

lisis sel hati.Respon imun seluler yang menyebabkan terjadinya lisis

(51)

sel hati pada infeksi akut VHB, merupakan keadaan penting untuk menunjukkan adanya proses penyembuhan.

Imunitas Seluler

Pada dasarnya respon imun seluler mencakup interaksi antara;

peptide antigen, molekul HLA dan sel T reseptor (Fowler, et al., 1994). Pada infeksi akut yang berperan adalah sistem imun seluler dengan menganali sel hati yang terinfeksi VHB dan menghancurkannya, sedangkan sistem imun humoral berfungsi untuk menimbulkan proteksi terhadap reinfeksi. Terhadap perbedaan sistem imun tubuh bayi dan orang dewasa dalam memberikan respon terhadap infeksi VHB, yang dapat dilihat pada terjadinya kemungkinan pengidap VHB kronik. Infeksi VHB pada bayi akan menimbulkan infeksi VHB kronik sekitar 90%, sedangkan pada orang dewasa hanya sekitar 5-10% (Milich, 1991).

Seperti sudah diterangkan pasa respon imun terhadap VHB,

pada infeksi VHB akut sel hati yang mengandung VHB akan

dihancurkan oleh sel Tc dan terjadi eliminasi VHB yang disertai

dengan penyembuhan. Efek sitotoksik akan diperbesar dengan

kemampauan sitolitik makrofage yang terdapat di dalam sel hati

dan telah diaktifasi karena dikeluarkannya IFN oleh sel Tc (Tower,

et al., 1994). Dikatakan juga bahwa sel Tc berperan penting pada

respon imun selular untuk mengeliminasi VHB sehingga terjadi

kesembuhan. Jika sel Tc tidak bisa berperan dengan baik maka akan

terjadi hepatitis B kronik. (Milich, et al., 1993), mendapatkan hasil

pada penelitiannya dengan tikus (gambar 1), bahwa toleransi sel Tc

terhadap VHB akan menyebabkan terjadinya infeksi VHB kronik.

(52)

Petanda Serologik VHB 39

Dikatakan bahwa dalam keadaan normal partikel VHB tidak menembus plasenta, tetapi HBeAg dapat masuk ke peredaran darah bayi, kemudian mempengaruhi Th ymus bayi, sehingga sel Th yang terbentuk toleran terhadap HBeAg dan HBcAg. Karena HBeAg dan HBcAg dapat menimbulkan reaksi silang pada sel T, maka sel T yang spesifi k terhadap HBeAGg dan HBcAg tidak berfungsi baik dalam membentuk antibodi terhadap HBsAg. Demikian juga sel T tersebut akan berkurang kemampaunnya dalam mengiliminasi VHB. Pada penelitian pada Murine yang disuntik sekali dengan HBeAg akan menyebabkan toleransi sampai sekitar 12 minggu dan kalau ingin memperpanjang toleransi maka tolerogen harus terus dipertahankan.

Hilangnya tolerogen akan menyebabkan Bone Marrow (BM) – derived stem cells akan migrasi ke Th ymus dan membangkitkan Th ymosit yang spesifi k untuk HBeAg dan HBcAg dikeluarkan dari Th ymus, Pada murine tahapan proses pembaharuan ini memerlukan waktu sekitar 3 bulan. Pada bayi, keadaan yang sama mungkin terjadi dimana di dalam kandungan terpapar dengan tolerogen tetapi setelah lahir tidak terinfeksi dengan VHB.

Makin lama tenggang waktu antara paparan tolerogen dengan

infeksi VHB makin besar kesempatan untuk memperbaharui sel

T spesifi k terhadap HBeAg dan HBcAg. Chang, et al., (1996)

pada penelitiannya mendapatkan hubungan antara titer anti–HBc

pada ibu dengan HBeAg positif dengan bayi yang dilahirkannya

dalam hal terjadinya penularan vertikal VHB. Dikatakan makin

rendah titer anti-HBc ibu makin besar kemungkinan bayi yang

dilahirkannya utnuk tertular VHB secara vertikal.

(53)

Infeksi VHB kronik terjadi karena VHB memanfaatkan kerusakan pada sistem pertahanan tubuh atau menetralisasikan komponen penting dari interferon dan sistem imun pasien (Jacyna dan Th omas, 1993). Pada masa prodromal dari infeksi akut VHB, terjadi viremia tetapi dalam waktu tertentu tidak terjadi kerusakan sel hati (Lok, et al., 1988) di samping itu adanya pengidap VHB dengan derajat replika tinggi tanpa kerusakan sel hati (Chu, et al., 1985) menimbulkan dugaan bahwa VHB sendiri bukan sitopatik.

Analisa pada proses keradangan akut VHB menunjukkan adanya sel NK dan sel T sitotoksik (Eggink, et al., 1982), dan sel NK terjadi dari pre-sel NK dengan adanya rangsangan interferon.

Meningkatnya aktifi tas sel NK pada darah penderita infeksi VHB akut, kemungkinan karena rangsangan alfa–IFN yang ditunjukkan pada serum chimpanzee pada fase prodromal dari infeksi akut VHB (Pignatelli et al., 1986, dan adanya alfa-IFN pada permulaan viremia menerangkan terjadinya panas badan dan malaise pada pasien yang dilaporkan 2-3 minggu sebelum terjadinya kencing seperti teh, kotran pucat dan ikterus. Peptida VHB yang dimunculkan pada MHCI menjadikan sel hati yang mengandung VHB menjadi target bagi antibodi dan sel T sitotoksik sehingga terjadi lisis (Pignatelli, et al., 1987).

Penelitian pada pasien dengan infeksi VHB kronik

menunjukkan pentingnya peran HbcAg dan HBeAg sebagai

antigen target penting untuk terjadinya sitotoksitas (Eddleston, et

al., 1982; Pignatelli, et al., a987). Sel hepar yang tidak terinfeksi

VHB mengekspresikan sedikit MHC I (Th omas, et al., 1982),

tetapi hanya pada awal infeksi VHB akut. Setelah produksi alfa-IFN

(54)

Petanda Serologik VHB 41

meningkat, ekspresi MHC I pada permukaan sel hati meningkat disertai dengan meningkatnya kadar transaminase. Kato, et al., (1982) dan Abb, et al., (1985) mendapatkan adanya gangguan produksi alfa-IFN pada pengidap kronik VHB dan Ikeda, et al., (1986) kemudian menyatakan bahwa pengidap kronik VHB disebabkan karena adanya primary defect pada IFN.

Interferon juga mengaktifasi beberapa enzim intra seluler seperti 2,5 Oligoadenylate Synthetase (2,5 OAS), endo nuclease yang menghambat sintesa protein virus dengan merusak mRNA atau menghambat translasi. Perubahan yang disebabkan oleh interferon ini di duga menghasilkan keadaan antiviral pada sel hati yang tidak terinfeksi dan mencegah terjadinya infeksi selama terjadinya lisis sel hati yang mengalami infeksi VHB.

Gambar 1. Kemungkinan toleransi sel T terhadap HBeAg in-utero (dikutip dari Milich, et al., 1993).

(55)

Respon Imun terhadap Vaksin Hepatitis B

Vaksin hepatitis B (vaksin HB) yang ada sekarang ini mengandung HBsAg yang dimurnikan dari plasma pengidap infeksi VHB atau didapatkan dari rekombinan pada ragi. Respon imun yang terjadi terhadap antigen HBsAg tergantung dari aktifi tas kerja sama dari tiga sistem imun yaitu ; makrofag, sel Th dan sel limfosir B atau sel B (Hilleman, 1990). Setelah vaksin disuntikkan maka antigen HBsAg akan ditelan oleh makrofag dan antigen ini akan dipecah kemudian dimunculkan di permukaan makrofag bersama dengan MHC II reseptor. Makrofag akan berikatan dengan sel Th melalui reseptor MHC II tadi dan mengeluarkan IL I, untuk mengaktifasi sel Th . Sel Th yang telah diaktifasi mengeluarkan IL 2 dan berikatan dengan sel B. Dengan rangsangan IL 2 dan sel Th maka sel B akan berdiferensiasi menjadi plasma sel dan membentuk antibodi terhadap HBsAg yaitu anti-HBs yang akan berikatan langsung dengan VHB jika terjadi infeksi VHB, dan sel B juga akan membentuk memory B cell yang akan segera membentuk anti HBs jika terjadi infeksi VHB lagi. Terjadinya kesembuhan setelah infeksi VHB ditentukan oleh hasil kerja dari IFN dan sistem imun pasien.

Pada pasien yang tidak membentuk anttibodi setelah diberikan vaksin atau non-responder, diduga terjadi karena terdapat masalah pada cekungan atau groove dari MHC II di tempat di mana dimunculkan peptide dari HBsAg, tetapi anti-HBs masih tetap dapat terbentuk jika terdapat peptide HBcAg yang dumunculkan pada MHC II. Keadaan ini dibuktikan juga oleh Milich, et al.

(1985) pada penelitiannya yang dapat menunjukkan bahwa sel Th

(56)

Petanda Serologik VHB 43

yang mengenali peptide dari protein virus dapat merangsang sel B

yang mengenali peptide dari protein virus pada epitop lainnya yang

mengatasi masalah non-responsivenes terhadap epitope ini. Pada

penelitiannya yang lain, di dapatkan tikus yang tidak memberikan

respon terhadap HBsAg, setelah disuntik HBcAg, kemudian

terbentuk anti-Hbs (Milich, et al., 1986). Keadaaan ini menarik

karena memberikan pemikiran untuk membuat vaksin yang juga

mengandung HBcAg untuk meningkatkan imunogenitas dari

vaksin (Milich, et al. 1990).

(57)
(58)

Manifestasi Klinis Infeksi VHB 45

Jika partikel VHB masuk ke tubuh host (pasien) maka akan menimbulkan tiga kemungkinan yaitu ; tubuh pasien akan mengeleminasi VHB sehingga tidak terjadi infeksi VHB, mengalami infeksi VHB akut di mana sebagian kecil bisa menjadi hepatitis fulminan dan sebagian lagi mengalami infeksi VHB kronik. Keadaan di atas tergantung dari faktor individu atau host, faktor VHB terutama jumlah VHB yang menginfeksi dan cara penularan.

Infeksi VHB Akut

Masa tunas VHB berkisar antara 6 minggu sampai 6 bulan dan masa akut infeksi VHB umumnya berlangsung 1-3 bulan. Gejala klinik bervariasi mulai dari infeksi VHB akut tanpa ikterus, dengan ikterus dan hepatitis fulminan yang umumnya berakhir dengan kematian. Perjalanan penyakit infeksi VHB akut dapat dibagi menjadi ;fase prodromal, fase ikterik dan fase penyembuhan.

Manifestasi Klinis

Infeksi VHB

Referensi

Dokumen terkait

Bila hanya dijumpai HBsAg tanpa adanya HBeAG pemberian imunisasi pada bayinya cukup dengan pemberian vaksin Hepatitis B 0,5 ml; sedang bila dijumpai keduanya maka pemberian

adalah imunoterapi.Sel hepatosit terinfeksi VHB mungkin juga menjadi target terapi dengan pendekatan imunoterapi yaitu baik dengan meningkatkan respon imun

Sehingga, dibandingkan dengan kadar DNA-VHB, kadar HBsAg memberikan informasi berbeda tetapi juga sebagai tambahan data yang mungkin membantu kita untuk lebih

6 Saat ini Isilah infeksi virus hepaiis B (VHB) tersamar merupakan keadaan persistensi genom VHB di hai dan pada beberapa kasus juga di serum pada pasien dengan HBsAg negaif..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemeriksaan Nucleic Acid Test (NAT) dalam mendeteksi DNA VHB pada darah donor dengan Hepatitis B Occult

Sehingga, dibandingkan dengan kadar DNA-VHB, kadar HBsAg memberikan informasi berbeda tetapi juga sebagai tambahan data yang mungkin membantu kita untuk lebih

Vaksinasi hepatitis B dalam program imunisasi universal pada kohort masa bayi dapat menurunkan prevalensi HBsAg sampai dengan 96% pada penelitian di Cina. Begitu pula

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemeriksaan Nucleic Acid Test (NAT) dalam mendeteksi DNA VHB pada darah donor dengan Hepatitis B Occult (HBO).. Pemeriksaan