PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN PASIEN (PATIENT SAFETY) DI RUANG RAWAT INAP RUMAH
SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN TAHUN 2018
SKRIPSI
Oleh
REBECCA IVANA ANGGITA PASARIBU NIM : 141000075
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN PASIEN (PATIENT SAFETY) DI RUANG RAWAT INAP RUMAH
SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN TAHUN 2018
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
REBECCA IVANA ANGGITA PASARIBU NIM : 141000075
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERITAS SUMATERA UTARA
Pernyataan Keaslian Skripsi
Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul
„PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN PASIEN (PATIENT SAFETY) DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN TAHUN 2018‟ beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, Oktober 2018
Rebecca Ivana Anggita Pasaribu
Telah diuji dan dipertahankan Pada tanggal : 09 Oktober 2018
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes
Anggota : 1. Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp, M.Kp
2. Putri Citra Cinta Asyura Nasution, S.K.M, M.P.H
Abstrak
Keselamatan pasien di rumah sakit dibutuhkan dalam semua unit pelayanan kesehatan di rumah sakit yang diharapkan dapat meminimalisir kesalahan medis (medical error) baik dalam penanganan pada pasien di unit gawat darurat, rawat inap maupun poliklinik. Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan memiliki angka pencapaian sasaran keselamatan pasien antara 50-80%. Data ini membuktikan bahwa pencapaian sasaran keselamatan pasien belum mencapai target yang ditetapkan yaitu 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas dan lebih mendalam tentang pelaksanaan Program Keselamatan Pasien di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data adalah wawancara
mendalam dan observasi. Analisa data dengan metode Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan program keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth belum berjalan dengan maksimal. Hal ini dilihat dari kurangnya kepatuhan dan kesadaran perawat dalam melakukan pengecekan gelang pasien, perawat yang masih lupa memberikan stempel readback, masih banyak petugas medis dan non-medis yang kurang patuh dalam menjaga kebersihan tangan pada saat sebelum dan sesudah memberikan tindakan kepada pasien, belum dijalankannya metode asesmen resiko terhadap pasien rawat inap, perawat tidak rutin diberikan pengarahan atau sosialisasi, serta masih ada sarana yang belum tersedia. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan kepada Tim Panitia Mutu dan Keselamatan Pasien untuk lebih meningkatkan kinerja tenaga kesehatan melalui memberikan sosialisasi secara rutin, kepada kepala perawat pelaksana diharapkan agar melaksanakan tugas sesuai tahapan SOP dan mengikuti pelatihan dan sosialisasi serta rutin melakukan pemeriksaan kondisi pasien
(khususnya yang beresiko untuk jatuh).
Kata kunci : Pelaksanaan Program, Keselamatan Pasien, Ruang Rawat Inap
Abstract
Patient safety in hospitals are needed in all health care units in hospitals is expected to minimize medical errors (medical errors) are good in handling patients in the emergency unit, inpatient or hospital. Santa Elisabeth Hospital Medan have patient safety goals achievement numbers between 50-80%. These data prove that the achievement of patient safety goals have yet to achieve targets set that is 100%. This research aims to know clearly and more about the patient safety Program implementation in the Inpatient Santa Elisabeth Hospital medan terrain. This research is qualitative research with the method of data collection is in-depth interviews and observations. Analysis of the data was using Miles and Huberman. The results of researched showed the implementation of patient safety program in the Inpatient Santa Elisabeth Hospital Medan hasn't run maximumly.
It is seen from the lack of compliance and awareness within the nurse checked the patient's wristband, a nurse still forgot to give a readback stamp, there are still many medical officer and medical non-the less obedient in maintaining the cleanliness of the hand at the time of before and after giving the action to the patient, not to run the risk assessment methods against inpatients, nurses are not routinely briefed or socialization, and there's still a means that is not yet
available. Based on the research results, is expected to a team of quality and patient safety Committee to further improve the performance of health workers through providing socialization on a regular basis, to the head nurse is expected that implementers implement tasks appropriate stages of SOPS and follow the training and socialization as well as routine checks the condition of the patient (in particular those at risk to fall).
Keywords : Tackling of Program, Patient Safety, Inpatient Room
Kata Pengantar
Segala puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan skripsi ini dengan judul “Pelaksanaan Program Keselamatan Pasien (patient safety) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2018”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyusun skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan, dorongan, dan bimbingan dari beberapa pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan terhadap yang terhormat :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
3. Dr. Drs. Zulfendri, M. Kes. selaku Kepala Departemen AKK sekaligus selaku dosen pembimbing yang telah banyak membimbing penulis selama penulisan skripsi ini serta staf pengajar bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM USU
4. Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp, M.Kp. selaku dosen penguji I (satu) dan Puteri Citra Cinta Asyura Nasution S. KM, M.PH. selaku dosen
penguji II (dua) yang telah memberikan masukan dan kritikan untuk kesempurnaan skripsi saya
5. Seluruh Dosen dan Staf di FKM USU yang telah banyak membantu dan memberikan bekal ilmu selama penulis mengikuti pendidikan 6. Dr. Maria Christina, MARS, selaku Direktur Rumah Sakit Santa
Elisabeth Medan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian dan memberikan informasi data untuk kelancaran skripsi ini
7. Kedua orang tua, Harry Jonggi Pasaribu dan Ruth Chairy Dwi Yanti (+) yang terkasih dan tersayang, dimana telah memberikan dukungan doa yang luar biasa sejak lahir hingga sekarang. Sungguh bersyukur dan terberkati mendapat dukungan dari kalian. Tuhan memberkati.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan pengetahuan yang berarti bagi semua pihak dan untuk kemajuan ilmu Kesehatan Masyarakat.
Terima Kasih.
Medan, Oktober 2018 Penulis
Rebecca Ivana Anggita Pasaribu
Daftar Isi
Halaman
Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi i
Halaman Pengesahan ii
Halaman Penetapan Tim Penguji Skripsi iii
Abstrak iv
Abstract v
Kata Pengantar vi
Daftar Isi viii
Daftar Tabel xi
Daftar Gambar xii
Daftar Lampiran xiii
Daftar Istilah xiv
Riwayat Hidup xv
Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 9
Tujuan Penelitian 10
Manfaat Penelitian 10
Tinjauan Pustaka 12
Keselamatan Pasien 12
Standar Keselamatan Pasien 13
Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien 18
Sasaran Keselamatan Pasien 23
Rumah Sakit 37
Definisi Rumah Sakit 37
Tugas dan Fungsi Rumah Sakit 39
Asas dan Tujuan Rumah Sakit 40
Rumah Sakit Umum Kelas B 43
Aspek Pelayanan Rumah Sakit Umum Kelas B 43
Aspek Ketenagaan Rumah Sakit Umum Kelas B 45
Aspek Sarana, Prasarana, dan Organisasi Rumah Sakit Umum Kelas B 47
Kerangka Pikir 50
Metode Penelitian 51
Jenis Penelitian 51
Lokasi dan Waktu Penelitian 51
Informan Penelitian 52
Definisi Konsep 53
Metode Pengumpulan Data 54
Metode Pengukuran 54
Metode Analisis Data 55
Hasil dan Pembahasan 58
Rumah Sakit Santa Elisabeth 58
Profil Rumah Sakit Santa Elisabeth 58
Sejarah Rumah Sakit Santa Elisabeth 59
Visi dan Misi 60
Struktur Organisasi 61
Tenaga Kesehatan Rumah Sakit Santa Elisabeth 62
Karakteristik Informan 63
Program Keselamatan Pasien di Ruang Rawat Inap 64
Identifikasi Pasien Dalam Program Keselamatan Pasien 65
Pelaksanaan Komunikasi Dalam Program Keselamatan Pasien 74
Hand Hygiene Dalam Program Keselamatan Pasien 82
Pengurangan Resiko Pasien Jatuh Program Keselamatan Pasien 90
Kesimpulan dan Saran 100
Kesimpulan 100
Saran 102
Daftar Pustaka 104 Daftar Lampiran
Daftar Tabel
No Judul Halaman
1 Contoh Tahap Hasil Reduksi Data 56 2 Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit Santa Elisabeth 62 3 Karakteristik Informan 63
Daftar Gambar
No Judul Halaman
1 Kerangka Pikir 50 2 Struktur Organisasi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan 61
Daftar Lampiran
No Judul Halaman
1 Pedoman Wawancara Mendalam 108
2 Standar SKP 117
3 Surat Permohonan Izin Penilitian 122
4 Surat Tanda Selesai Penelitian 123
Daftar Istilah KTD Kejadian Tidak Diharapkan KNC Kejadian Nyaris Cidera KPC Kejadian Potensi Cidera
PPI Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi HIV Human Immunodeficiency Virus
HBV Hepatitis B Virus HCV Hepatitis C Virus
WHO World Health Organization
SBAR Situation Background Assesment Recommendation TKPRS Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit
SPO Standar Prosedur Operasional
Riwayat Hidup
Penulis bernama Rebecca Ivana Anggita Pasaribu berumur 22 tahun, dilahirkan di Medan pada tanggal 16 Juli 1996. Penulis beragama Kristen
Protestan, anak tunggal dari pasangan Bapak Harry Jonggi Pasaribu dan Ibu Ruth Chairy Dwiyanti (+).
Pendidikan formal dimulai di TK Perwari Tri Sula tahun 2001. Pendidikan sekolah dasar di SD Swasta Methodist 1 Medan tahun 2002-2008, sekolah
menengah pertama di SMP Swasta Kristen Immanuel Medan tahun 2008-2011, sekolah menengah atas di SMA Swasta Kristen Immanuel Medan tahun 2011- 2014, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Medan, Oktober 2018
Rebecca Ivana Anggita Pasaribu
Pendahuluan Latar Belakang
Keselamatan pasien (patient safety) didefinisikan sebagai layanan yang bertujuan untuk tidak menciderai dan merugikan pasien ataupun sebagai suatu sistem yang dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman (Depkes RI, 2006). Keselamatan pasien (patient safety) merupakan acuan bagi seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia untuk melaksanakan kegiatannya sehingga hal tersebut dapat dijadikan standar guna meningkatkan mutu pelayanan. Salah satu dari standar keselamatan pasien yang ada adalah hak pasien dalam menerima asuhan yang aman (Permenkes RI, 2011).
Keselamatan pasien di rumah sakit sangat dibutuhkan dalam semua unit pelayanan kesehatan di rumah sakit yang diharapkan dapat
meminimalisir kesalahan medis (medical error) baik dalam penanganan pada pasien di unit gawat darurat, unit rawat inap maupun unit poliklinik (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), 2008).
Sistem pelayanan untuk membuat pasien lebih aman yang
dimaksud dalam program keselamatan pasien adalah dengan diadakannya asesmen resiko pada pasien, melakukan identifikasi pasien dan
pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko yang ada pada pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjut serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cidera.
Insiden cidera juga dapat disebabkan oleh beberapa aspek;
misalnya karena adanya kesalahan dalam pemberian obat, kegagalan dalam membangun komunikasi yang efektif dengan pasien, infeksi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan, kesalahan dalam tindakan operasi, kesalahan dalam penentuan lokasi dan pasien yang dioperasi. (Permenkes, 2011)
Perhatian terhadap keselamatan pasien sekarang ini sudah menjadi begitu penting dalam pemberian pelayanan kesehatan di rumah sakit, hal ini terlihat dengan sudah diaturnya keselamatan pasien dalam beberapa pasal pada ketentuan Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit yang diantaranya dalam Pasal 3 huruf (b) yang menyatakan bahwa pengaturan penyelenggaraan rumah sakit bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit.
Selain itu juga terdapat dalam Pasal 13 ayat (3) yang menyatakan bahwa setiap tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan rumah sakit, standar prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien, dan dalam Pasal 43 ayat (1) menyatakan bahwa rumah sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien.
Keselamatan pasien saat ini telah menjadi isu yang
diperbincangkan di berbagai negara. Isu ini berkembang karena masih
banyaknya KTD dan KNC yang masih sering terjadi di rumah sakit.
Penelitian yang dilakukan oleh IOM (Institute of Medicine) pada tahun 1999 yang dilakukan di Washington DC, dilaporkan bahwa sebanyak 44.000 sampai dengan 98.000 orang meninggal setiap tahunnya di rumah sakit karena kesalahan medis (Institute of Medicine, 2001).
Pada tahun 2000 Institute of Medicine di Amerika Serikat menerbitkan laporan “TO ERR IS HUMAN”, Building a Safer Health System. Laporan itu mengemukakan penelitian di rumah sakit di Utah dan
Colorado serta New York. Di Utah dan Colorado ditemukan KTD (Adverse Event) sebesar 2,9%, dimana 6,6% diantaranya meninggal.
(Institute of Medicine, 2000).
Di Indonesia data tentang KTD dan KNC masih sulit didapatkan (KKP-RS, 2008). Laporan insiden keselamatan pasien berdasarkan provinsi pada tahun 2007, ditemukan provinsi DKI Jakarta menempati urutan tertinggi yaitu 37,9% di antara delapan provinsi lainnya, yaitu Jawa Tengah 15,9 %, D.I. Yogyakarta 18,8%, Jawa Timur 11,7%, Sumatera Selatan 6,9%, Jawa Barat 2,8%, Bali 1,4%, Aceh 10,7% dan Sulawesi Selatan 0,7% (KKP-RS, 2008). Menurut Utarini (2011), keselamatan pasien telah menjadi perhatian serius. Dari penelitiannya terhadap pasien rawat inap di 15 rumah sakit dengan 4500 rekam medik menunjukkan angka KTD yang sangat bervariasi, yaitu 8,0% hingga 98,2% untuk diagnostic error dan 4,1% hingga 91,6% untuk medication error.
Laporan insiden keselamatan pasien di Indonesia berdasarkan Provinsi menemukan bahwa dari 145 insiden yang dilaporkan sebanyak 55 kasus insiden (37,9%) terjadi di wilayah DKI Jakarta. Sedangkan
berdasarkan jenisnya dari 145 insiden yang dilaporkan tersebut didapatkan KNC sebanyak 69 kasus (47,6%), KTD sebanyak 67 kasus (46,2%), dan lain-lain sebanyak 9 kasus (6,2%) (Sutanto, 2014)
Sebuah rumah sakit di kota Medan melaporkan kejadian
insidennya pada tahun 2007 sebanyak 12 kasus, tahun 2008 sebanyak 1 kasus, tahun 2009 sebanyak 17 kasus, tahun 2010 sebanyak 19 kasus, tahun 2011 sebanyak 9 kasus, dan tahun 2012 sebanyak 11 kasus. Total semua insiden yang dilaporkan sebanyak 69 kasus. Dari laporan tersebut terdapat 41 kasus (59,4%) adalah KTD, 26 kasus (37,7%) adalah KNC dan 2 kasus (2,9%) adalah KPC
Dalam Permenkes No. 11 Tahun 2017 Tentang Keselamatan Pasien pasal 5 ayat (5) disebutkan bahwa setiap rumah sakit wajib mengupayakan tercapainya Sasaran Keselamatan Pasien. Sasaran Keselamatan Pasien meliputi tercapainya hal-hal sebagai berikut :
1) Mengidentifikasi pasien dengan benar;
2) Meningkatkan komunikasi yang efektif;
3) Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai;
4) Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar;
5) Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan; dan
6) Mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh.
Identifikasi pasien adalah tindakan yang dilakukan pada saat sebelum melakukan tindakan keperawatan atau prosedur lain, pemberian obat, transfusi atau produk darah, pengambilan darah dan pengambilan spesimen lain untuk diuji secara klinis. Langkah dalam melakukan identifikasi pasien awal yaitu dengan menanyakan tanggal lahir, nama pasien, nomor rekam medis dan memeriksa gelang identifikasi yang kemudian disesuaikan dengan data pasien yang sudah tercatat di rekam medis. Nomor kamar atau tempat tidur tidak dapat digunakan untuk melakukan identifikasi pasien. (Guesti, 2016)
Komunikasi yang efektif merupakan sasaran kunci terpenting untuk mencapai keselamatan pasien di rumah sakit. Sebagian besar penyebab terjadinya kejadian sentinel pada pasien terjadi karena
ketidakakuratan informasi yang disebabkan oleh komunikasi yang tidak dilakukan secara efektif.
Menurut penelitian Iswati (2013) dan penelitian Saragih (2014), rumah sakit merupakan tempat yang beresiko tinggi akan terjadinya infeksi nosokomial atau infeksi baru yang didapatkan selama perawatan berlangsung, sehingga menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan sangatlah penting perannya dalam menurunkan 20%-40% resiko kejadian infeksi nosokomial dan memaksimalkan pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit.
Menurut penelitian Angelita Lombogia dkk (2016), disebutkan bahwa insiden pelanggaran dalam pelaksanaan keselamatan pasien sebagian besar dilakukan oleh perawat karena perawat adalah petugas kesehatan dengan jumlah yang paling mendominasi di instansi rumah sakit, dan perawat juga adalah petugas kesehatan yang paling sering melakukan tindakan serta berinteraksi langsung dengan pasien khususnya pasien ruang rawat inap.
Berdasarkan hasil penelitian Angelia dkk (2012) di RSUD Dr. Sam Ratulangi Tondano, ketersediaan sarana dan prasarana sangat penting perannya dalam memaksimalkan pelaksanaan program keselamatan pasien. Namun, sasaran keselamatan pasien masih banyak yang belum tercapai dengan maksimal karena masih minimnya ketersediaan sarana dan prasana.
Berdasarkan penelitian Totok dkk (2012) di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSIA) PKU Muhammadiyah Kotagede Yogyakarta,
pencapaian sasaran keselamatan pasien rumah sakit belum tercapai dengan sempurna karena kebijakan yang berlaku namun belum lengkap dan sesuai standar, serta ketidaksediaan sarana dan prasarana yang memadai.
Berdasarkan penelitian Muhammad Faisal dkk (2014) di RSU Bhakti Asih Kota Tangerang, pelaksanaan sistem keselamatan pasien masih banyak yang belum dapat terlaksana 100% karena kurangnya dukungan kebijakan dalam pelaksanaan dan penyediaan fasilitas yang masih tergolong minim.
Berdasarkan survei pendahuluan penulis yang dilakukan di Rumah Sakit Santa Elisabeth, ditemukan bahwa masih kurangnya ketersediaan hand sanitizer ataupun sabun cuci tangan di lorong ruang rawat inap dan
belum tersedianya wastafel yang dapat diakses oleh petugas maupun pengunjung. Perawat ataupun dokter juga sangat jarang bahkan nyaris tidak pernah terlihat mencuci tangan dengan hand sanitizer sebelum ataupun sesudah memberikan tindakan kepada pasien. Berdasarkan standar Permenkes No. 27 tentang PPI di Fasilitas Pelayanan Kesehatan,
seharusnya di setiap ruang rawat tersedia fasilitas hand sanitizer / ABHR (Alcohol Based Hand Rub).
Pada pasien hanya diberikan gelang identitas yang berisikan nama, tanggal lahir, jenis kelamin dan nomor rekam medik saja. Pemberian warna gelang juga tidak sesuai jenis kelamin. Berdasarkan standar
identifikasi pasien yang berlaku, seharusnya gelang berwarna merah muda (pink) diberikan untuk pasien perempuan dan gelang berwarna biru
diberikan untuk pasien laki-laki. Kemudian pada saat pemasangan gelang, perawat tidak memberikan informasi rinci sesuai dengan prosedur
identifikasi pasien.
Selain itu, seharusnya diberikan gelang berwarna merah untuk pasien yang memiliki alergi tinggi pada obat tertentu, gelang berwarna abu-abu untuk pasien yang sedang menjalani kemoterapi, dan gelang berwarna kuning untuk pasien beresiko jatuh dan memiliki pengawasan ekstra (Permenkes, 2017). Hal ini disebabkan tidak disediakannya gelang
identifikasi pasien sesuai dengan jenis yang sudah ditetapkan dan belum lengkapnya kebijakan yang berlaku tentang identifikasi pasien di rumah sakit.
Dokter memberitahukan terlebih dahulu setiap tindakan yang akan dilakukan kepada pasien baik secara langsung maupun melalui perawat.
Setelah menerima perintah ataupun hasil pemeriksaan baik secara lisan ataupun melalui telepon dari dokter, beberapa perawat jarang membacakan kembali secara lengkap apa diagnosa dan bagaimana tindakan lanjutan yang akan diberikan serta bagaimana dampak atau efek samping yang akan ditimbulkan dari tindakan tersebut, melainkan hanya membaca sepenggal saja sehingga terkadang pasien kurang paham dengan informasi yang disampaikan. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pelatihan perawat dalam memberikan informasi secara efektif kepada pasien.
Selain hasil pengamatan dan wawancara, berdasarkan data laporan Panitia Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) Rumah Sakit Santa
Elisabeth dinyatakan bahwa 4 dari 6 sasaran keselamatan pasien masih belum tercapai dengan maksimal (<100%). Sasaran kepatuhan identifikasi pasien secara benar, komunikasi efektif dengan prosedur SBAR,
kepatuhan petugas dalam menjaga kebersihan tangan, dan kepatuhan identifikasi pasien yang beresiko jatuh pencapaiannya masih berada dibawah 100%.
Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara, dan data yang diperoleh ditemukan bahwa pelaksanaan keselamatan pasien di ruang
rawat inap belum memenuhi standar pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit sehingga mendorong peneliti untuk meneliti tentang
“Pelaksanaan Program Keselamatan Pasien (patient safety) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2018”
Rumusan Masalah
1. Bagaimana pelaksanaan identifikasi pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan ?
2. Bagaimana implementasi komunikasi antara dokter dan perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan ?
3. Bagaimana implementasi hand hygiene petugas kesehatan untuk pengurangan resiko infeksi di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan ?
4. Bagaimana implementasi pengurangan resiko pasien jatuh di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan ?
5. Bagaimana kecukupan fasilitas sarana dan prasarana yang disediakan Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan yang berkaitan dengan pelaksanaan identifikasi pasien, hand hygiene, dan pengurangan resiko pasien jatuh di ruang rawat inap ?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan program keselamatan pasien (patient safety) di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2018 yang meliputi :
1. Untuk mengidentifikasi pelaksanaan identifikasi pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan
2. Untuk mengidentifikasi implementasi komunikasi antara dokter dan perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan 3. Untuk mengidentifikasi implementasi hand hygiene petugas kesehatan
untuk pengurangan resiko infeksi di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan
4. Untuk mengidentifikasi implementasi pengurangan resiko pasien jatuh di ruang rawat inap Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan
5. Untuk mengidentifikasi kecukupan fasilitas sarana dan prasarana yang disediakan Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan yang berkaitan dengan pelaksanaan identifikasi pasien, hand hygiene, dan pengurangan resiko pasien jatuh di ruang rawat inap
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai masukan dan pertimbangan bagi pihak rumah sakit agar program keselamatan pasien rumah sakit khususnya ruang rawat inap
dapat berjalan dengan baik dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan.
2. Sebagai sumber informasi dalam memperkaya studi mengenai penyelenggaraan program keselamatan pasien di ruang rawat inap.
3. Sebagai tambahan wawasan bagi peneliti tentang pelaksanaan program keselamatan pasien di ruang rawat inap.
Tinjauan Pustaka Keselamatan Pasien
Keselamatan (safety) sekarang ini telah menjadi isu global, hal ini termasuk juga untuk rumah sakit. Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety) di rumah sakit yaitu : keselamatan pasien (patient safety), keselamatan pekerja atau petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan (green productivity) yang berdampak terhadap
pencemaran lingkungan dan keselamatan “bisnis” rumah sakit yang terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit.
Kelima aspek keselamatan tersebut sangat penting perannya untuk dilaksanakan di setiap rumah sakit. Karena semua kegiatan dan program dapat berjalan dan dilaksanakan dengan baik apabila didukung dengan adanya pasien.
Karena itu keselamatan pasien adalah prioritas utama yang harus dilaksanakan karena hal ini terkait dengan isu mutu dan citra rumah sakit itu sendiri.
Adapun tujuan dari dilaksanakannya keselamatan pasien di rumah sakit yaitu menurut Depkes RI tahun 2011 adalah agar terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit, meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat, menurunnya angka KTD di rumah sakit, terlaksananya program–
program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan KTD di rumah sakit itu sendiri.
Standar Keselamatan Pasien. Karena begitu pentingnya keselamatan pasien dirumah sakit sekarang ini, maka dibuatlah standar keselamatan pasien dirumah sakit. Standar keselamatan pasien dirumah sakit ini akan menjadi acuan atas setiap pelayanan yang akan diberikan oleh petugas kepada pasien. Menurut Depkes RI, (2011) ada tujuh standar keselamatan pasien yaitu:
1. Hak pasien
Pasien dan keluarga pasien mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil pelayanan yang telah diterimanya, termasuk resiko kemungkinan terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan. Hal ini disebabkan karena tujuan utamanya yang ganda, yaitu preventif kuratif, promotif dan rehabilitatif. Hubungan antara dokter dan pasien pada
dasarnya bertumpu pada hak menentukan nasib sendiri dan hak informasi.
Dokter berkewajiban untuk memberikan informasi dan penjelasan secara rinci kepada pasien serta keluarga pasien tentang rencana dan hasil pelayanan, serta rencana pengobatan sehingga pasien mengerti dengan benar bagaimana progress pengobatan yang sedang ia jalani. Pasien berhak untuk tau informasi lengkap tentang ada atau tidaknya
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi yang berkaitan dengan Kejadian Tidak Diharapkan.
2. Mendidik pasien dan keluarga
Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarga pasien tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam keselamatan pasien.
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien yang merupakan mitra dalam proses pelayanan. Karena itu, di rumah sakit harus ada sistem dan mekanisme untuk mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan keluarga dapat :
a. memberikan informasi yang benar, jelas lengkap dan jujur.
b. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga.
c. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti.
d. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.
e. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah sakit.
f. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan. Kriterianya yaitu :
a. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit.
b. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan
sehingga pada seluruh tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat berjalan baik dan lancar.
c. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi untuk memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan keperawatan pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya.
d. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan efektif.
4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
Rumah sakit harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif Kejadian Tidak
Diharapkan, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien. Kriterianya yaitu :
a. Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan yang baik, mengacu pada visi, misi, dan tujuan rumah sakit,
kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai degan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit.
b. Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja yang antara lain terkait dengan : pelaporan insiden, akreditasi, manajemen risiko, utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.
c. Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensi terkait semua kejadian tidak diharapkan, dan secara proaktif melakukan evaluasi satu proses kasus risiko tinggi.
d. Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis unuk menentukan perubahan sistem yang diperlukan agar kinerja dan keselamatan pasien terjamin.
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien a. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program
keselamatan pasien
b. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan pasien dan program meminimalkan insiden, yang mencakup jenis-jenis Kejadian yang memerlukan perhatianmmulai dari
“Kejadian Nyaris Cedera” sampai dengan “Kejadian Tidak Diharapkan”
c. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan pasien
d. Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko
pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.
e. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang Analsis Akar Masalah (RCA) “Kejadian Nyaris Cedera” dan “Kejadian Sentinel” pada saat program
keselamatan pasien mulai dilaksanakan.
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas. Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin pelayanan pasien.
Setiap rumah sakit harus memiliki program pendidikan, pelatihan dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien sesuai dengan tugasnya masing-masing. Setiap rumah sakit harus
mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden. Setiap rumah sakit harus menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan inter- disiplin
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien
Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat. Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien. Tersedia mekanisme dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada.
Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Rumah sakit harus merancang proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif insiden, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien. Proses perancangan tersebut harus mengacu pada visi, misi dan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang sehat dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien (Permenkes No.11 Tahun 2017).
Dalam rangka menerapkan Standar Keselamatan Pasien, rumah sakit melaksanakan 7 (tujuh) langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit yang terdiri dari (Permenkes No. 11 Tahun 2017) :
1. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien;
2. Memimpin dan mendukung staf;
3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko;
4. Mengembangkan sistem pelaporan;
5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien;
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien;
7. Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien WHO Collaborating Centre for Patient Safety pada tahun 2007 resmi menerbitkan “Nine Life Saving Patient Safety Solutions” (Sembilan Solusi Keselamatan Pasien Rumah Sakit). Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) mendorong rumah sakit di Indonesia untuk menerapkan “Sembilan Solusi Keselamatan Pasien Rumah Sakit”, langsung atau bertahap, sesuai dengan kemampuan dan kondisi rumah sakit masing-masing yaitu :
a. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip
Nama obat rupa dan ucapan mirip (NORUM) yang membingungkan staf pelaksana adalah salah satu penyebab yang paling sering dalam kesalahan obat (medication error) dan ini merupakan suatu keprihatinan di seluruh dunia. Dengan puluhan ribu obat yang ada saat ini di pasar, maka sangat signifikan potensi terjadinya kesalahan akibat bingung terhadap nama merek atau generik serta kemasan. Solusi NORUM ditekankan pada penggunaan protokol untuk pengurangan risiko dan memastikan terbacanya resep, label, atau penggunaan perintah yang dicetak lebih dulu, maupun pembuatan resep secara elektronik.
b. Pastikan identifikasi pasien
Kegagalan yang meluas dan terus menerus untuk mengidentifikasi pasien secara benar sering mengarah kepada kesalahan pengobatan, transfusi maupun pemeriksaan; pelaksanaan prosedur yang keliru orang; penyerahan bayi kepada bukan keluarganya. Rekomendasi ditekankan pada metode untuk verifikasi terhadap identitas pasien, termasuk keterlibatan pasien dalam proses ini;
standardisasi dalam metode identifikasi di semua rumah sakit dalam suatu sistem layanan kesehatan; dan partisipasi pasien dalam konfirmasi ini; serta penggunaan protokol untuk membedakan identifikasi pasien dengan nama yang sama.
c. Komunikasi secara benar saat serah terima / pengoperan pasien Kesenjangan dalam komunikasi saat serah terima/ pengoperan pasien antara unit-unit pelayanan dan di dalam serta antar tim pelayanan, bisa
mengakibatkan terputusnya kesinambungan layanan, pengobatan yang tidak tepat dan potensial dapat mengakibatkan cedera terhadap pasien. Rekomendasi
ditujukan untuk memperbaiki pola serah terima pasien termasuk penggunaan protokol untuk mengkomunikasikan informasi yang bersifat kritis, memberikan kesempatan bagi para praktisi untuk bertanya dan menyampaikan
pertanyaanpertanyaan pada saat serah terima dan melibatkan para pasien serta keluarga dalam proses serah terima.
d. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
Penyimpangan pada hal ini seharusnya sepenuhnya dapat dicegah. Kasus- kasus dengan pelaksanaan prosedur yang keliru atau pembedahan sisi tubuh yang
salah sebagian besar adalah akibat dan miskomunikasi dan tidak adanya informasi atau informasinya tidak benar. Faktor yang paling banyak kontribusinya terhadap kesalahan-kesalahan macam ini adalah tidak ada atau kurangnya proses pra-bedah yang distandardisasi. Rekomendasinya adalah untuk mencegah jenis-jenis
kekeliruan yang tergantung pada pelaksanaan proses verifikasi prapembedahan, pemberian tanda pada sisi yang akan dibedah oleh petugas yang akan
melaksanakan prosedur dan adanya tim yang terlibat dalam prosedur “time out”
sesaat sebelum memulai prosedur untuk mengkonfirmasikan identitas pasien, prosedur dan sisi yang akan dibedah.
e. Kendalikan cairan elektrolit pekat (concentrated)
Semua obat-obatan, vaksin dan media kontras memiliki profil risiko cairan elektrolit pekat yang digunakan untuk injeksi khususnya adalah berbahaya.
Rekomendasinya adalah membuat standardisasi dari dosis, unit ukuran, istilah dan pencegahan atas campur aduk / bingung tentang cairan elektrolit pekat yang spesifik.
f. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan
Kesalahan medikasi terjadi paling sering pada saat transisi / pengalihan.
Rekonsiliasi (penuntasan perbedaan) medikasi adalah suatu proses yang didesain untuk mencegah salah obat (medication errors) pada titik-titik transisi pasien.
Rekomendasinya adalah menciptakan suatu daftar yang paling lengkap dan akurat dan seluruh medikasi yang sedang diterima pasien juga disebut sebagai “home medication list”.
g. Hindari salah kateter dan salah sambung slang (tube)
Slang, kateter dan spuit (syringe) yang digunakan harus didesain sedemikian rupa agar mencegah kemungkinan terjadinya KTD yang bisa menyebabkan cedera atas pasien melalui penyambungan spuit dan slang yang salah, serta memberikan medikasi atau cairan melalui jalur yang keliru.
Rekomendasinya adalah menganjurkan perlunya perhatian atas medikasi secara detail / rinci bila sedang mengenjakan pemberian medikasi serta pemberian makan (misalnya slang yang benar).
h. Gunakan alat injeksi sekali pakai
Salah satu keprihatinan global terbesar adalah penyebaran dan HIV, HBV, dan HCV yang diakibatkan oleh pakai ulang (reuse) dari jarum suntik.
Rekomendasinya adalah penlunya melarang pakai ulang jarum di fasilitas layanan kesehatan, pelatihan periodik para petugas di lembaga-lembaga layanan kesehatan khususnya tentang prinsip-prinsip pengendalian infeksi, edukasi terhadap pasien dan keluarga mereka mengenai penularan infeksi melalui darah dan praktek jarum sekali pakai yang aman.
i. Tingkatkan kebersihan tangan (hand hygiene) untuk pencegahan infeksi nosokomial
Diperkirakan bahwa pada setiap saat lebih dari 1,4 juta orang di seluruh dunia menderita infeksi yang diperoleh di rumah sakit-rumah sakit. Kebersihan tangan yang efektif adalah ukuran preventif yang pimer untuk menghindarkan masalah ini. Rekomendasinya adalah mendorong implementasi penggunaan cairan
“alcohol-based hand-rubs” tersedia pada titik-titik pelayan tersedianya sumber air pada semua kran, pendidikan staf mengenai teknik kebarsihan tangan yang benar mengingatkan penggunaan tangan bersih di tempat kerja dan pengukuran
kepatuhan penerapan kebersihan tangan melalui pemantauan / observasi dan teknik-teknik yang lain.
Sasaran Keselamatan Pasien. Selain dari standar keselamatan, ada lagi yang menjadi poin penting dalam pelaksanaan keselamatan pasien yaitu sasaran keselamatan pasien atau Patient Safety Goals. Sasaran keselamatan pasien merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah sakit yang diakreditasi oleh komisi akreditasi rumah sakit. Penyusunan sasaran ini mengacu kepada Nine Life- Saving Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety (2007) yang digunakan
juga oleh komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit PERSI (KKPRSI), dan Joint Commission International (JCI). Menurut Joint Commission International (2013)
, sasaran keselamatan pasien terdiri dari :
1. Identifikasi pasien dengan benar
Identifikasi pasien adalah suatu proses pemberian tanda pengenal atau pembeda yang mencakup nomor rekam medis dan identitas pasien dengan tujuan untuk membedakan antara pasien satu dengan pasien yang lainnya,sehingga mempermudah petugas kesehatan dalam proses pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien yang datang berobat, serta untuk mencegah kesalahan dan
kekeliruan dalam proses pemberian pelayanan, pengobatan, tindakan atau prosedur
Dalam mengidentifikasi pasien terdapat beberapa elemen penting dalam penilaian antara lain:
a) Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan nomer kamar atau lokasi pasien
b) Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah c) Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis
d) Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan atau prosedur
e) Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada semua situasi dan lokasi.
Prosedur identifikasi pasien meliputi : 1. Penulisan nomor rekam medis
2. Penulisan identitas pasien yang disesuaikan dengan KTP / SIM / KK / Paspor yang berlaku
3. Penulisan identitas pasien meliputi : a) Nama Lengkap
b) Tempat / Tanggal Lahir c) Jenis Kelamin
d) Alamat Lengkap e) Agama
f) Pekerjaan
g) Nama Suami / Istri h) Nama Ibu / Ayah i) Penanggung Jawab j) Tanggal Registrasi
4. Jika ada perubahan data identitas pasien pada kunjungan berikutnya maka identitas pertama harus dirubah dengan identitas yang baru (up to date)
5. Identifikasi pada gelang pasien, meliputi : a) Pencantuman nomor rekam medis
b) Pencantuman nama lengkap
c) Pencantuman tanggal lahir
d) Warna gelang disesuaikan dengan kondisi pasien; warna biru untuk
pasien laki-laki, warna pink untuk pasien perempuan, warna merah untuk pasien alergi, warna kuning untuk pasien resiko jatuh, dan warna ungu untuk pasien yang tidak boleh diresusitasi.
e) Setiap dilakukan pemasangan gelang, petugas harus menjelaskan manfaat gelang pasien dan bahaya jika menolak, melepas, dan menutupi gelang.
f) Sebelum pemberian pelayanan kepada pasien, petugas harus
mengidentifikasi pasien terlebih dahulu, meliputi : sebelum pemberian obat, darah atau produk darah, mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis serta pemberian tindakan, petugas harus
menganamnesa identitas pasien dan mengecek gelang pasien secara teliti dan terperinci.
2. Meningkatkan komunikasi yang efektif
Komunikasi efektif adalah sasaran kunci utama dari sasaran keselamatan pasien karena komunikasi adalah penyebab yang paling sering menimbulkan masalah keselamatan pasien (patient safety).
Komunikasi yang efektif yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami oleh penerima dapat membantu mengurangi kesalahan dalam pemberian pelayanan dan juga dapat membantu meningkatkan
keberhasilan pelaksanaan program keselamatan pasien. Maka dalam pelaksanaan komunikasi efektif harus dibangun aspek kejelasan, ketepatan, sesuai dengan konteks baik bahasa dan informasi, alur yang sistematis, dan budaya.
Komunikasi yang tidak efektif akan menimbulkan risiko kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien. Sebagai contoh akibat komunikasi yang tidak efektid yaitu terjadinya kesalahan dalam pemberian obat ke pasien, kesalahan melakukan prosedur tindakan perawatan.
Mencegah terjadinya risiko kesalahan pemberian asuhan keperawatan maka perawat harus melaksanakan sasaran keselamatan pasien komunikasi efektif di Instalasi Rawat Inap. Komunikasi efektif dapat dilakukan antar teman sejawat (dokter dengan dokter/ perawat dengan perawat) dan antar profesi (perawat dengan dokter).
Rumah sakit perlu menyusun kebijakan dan atau prosedur untuk mengatur pemberian perintah / pesan secara lisan dan lewat
telepon. Kebijakan dan atau prosedur itu harus memuat:
1) Perintah lengkap, lisan dan lewat telepon, atau hasil tes dicatat si penerima.
2) Perintah lengkap, lisan dan lewat telepon, atau hasil tes dibaca- ulang si penerima.
3) Perintah dan hasil tes dikonfirmasikan oleh individu si pemberi perintah atau hasil tes.
4) Pelaksanaan yang konsisten dari verifikasi tepat-tidaknya komunikasi lisan dan lewat telepon.
5) Alternatif yang diperbolehkan bila proses membaca-ulang tidak selalu dimungkinkan, misalnya di ruang operasi dan dalam situasi darurat di bagian gawat darurat atau unit perawatan intensif.
Komunikasi yang efektif dalam lingkungan perawatan kesehatan membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan empati. Hal ini mencakup mengetahui kapan harus berbicara, apa yang harus dikatakan dan
bagaimana mengatakannya serta memiliki kepercayaan diri dan
kemampuan untuk memeriksa bahwa pesan telah diterima dengan benar.
Meskipun digunakan setiap hari dalam situasi klinis, keterampilan komunikasi perlu dipelajari, dipraktekkan dan disempurnakan oleh semua perawat sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan jelas, singkat dan
tepat dalam lingkungan yang serba cepat dan menegangkan. Untuk itu diperlukan pendekatan sistematik untuk memperbaiki komunikasi tersebut salah satunya dengan cara komunikasi teknik SBAR (Rina, 2012).
Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di rumah sakit adalah komunikasi SBAR (Situation, Background, Assessment,
Recommendation), metode komunikasi ini digunakan pada saat perawat
melakukan serah terima ke pasien. Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan untuk petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien.
SBAR adalah metode terstruktur untuk mengkomunikasikan informasi penting yang membutuhkan perhatian segera dan tindakan berkontribusi terhadap eskalasi yang efektif dan meningkatkan keselamatan pasien. SBAR juga dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda.
Melibatkan semua anggota tim kesehatan untuk memberikan masukan ke dalam situasi pasien termasuk memberikan rekomendasi.
SBAR memberikan kesempatan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya. Adapun keuntungan dari penggunaan metode SBAR adalah:
a) Kekuatan perawat berkomunikasi secara efektif.
b) Dokter percaya pada analisa perawat karena menunjukkan perawat paham akan kondisi pasien.
c) Memperbaiki komunikasi sama dengan memperbaiki keamanan pasien.
Metode SBAR sama dengan SOAP yaitu Situation, Background, Assessment,Recommendation. Komunikasi efektif SBAR dapat diterapkan
oleh semua tenaga kesehatan, diharapkan semua tenaga kesehatan maka dokumentasi tidak terpecah sendiri-sendiri. Diharapkan dokumentasi catatan perkembangan pasien terintegrasi dengan baik. Sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui perkembangan pasien.
3. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, yang terjadi kurang lebih 48 jam setelah masuk rumah sakit, 3 hari setelah pulang dari rumah sakit, sampai dengan 30 hari setelah operasi, ketika pasien dirawat untuk penyakit non infeksi.
Infeksi ini tidak hanya terjadi kepada pasien, tetapi dapat juga terjadi pada semua tenaga kesehatan yang bekerja didalamnya serta
pengunjung rumah sakit (WHO, 2002). Infeksi nosokomial disebabkan oleh patogen yang mudah menyebar ke seluruh tubuh, terutama pada pasien rumah sakit yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah , sehingga tidak mampu untuk melawan infeksi tersebut
. Dalam beberapa kasus, pasien mengalami infeksi karena kondisi atau fasilitas kesehatan di rumah sakit yang buruk, dan atau karena staf
rumah sakit tidak mengikuti prosedur yang tepat seperti cuci tangan yang baik dan benar (WHO,2009).
Kebersihan tangan (hand hygiene) merupakan tindakan
membersihkan tangan dengan sabun dan air (handwash) atau handrub berbasis alkohol yang bertujuan mengurangi atau mencegah
berkembangnya mikroorganisme ditangan (WHO, 2009). Tindakan ini merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi (Zulpahiyana, 2013). Hand hygiene dilakukan untuk menghilangkan kotoran bahan organik dan membunuh mikroorganisme yang terkontaminasi di tangan yang diperoleh karena kontak dengan pasien terinfeksi/kolonisasi dan kontak dengan permukaan lingkungan.
Menurut Susianti (2008) dalam Zulpahiyana (2013), tujuan dilakukannya hand hygiene yaitu;
1) Menekan atau mengurangi jumlah dan pertumbuhan bakteri pada tangan
2) Menurunkan jumlah kuman yang tumbuh dibawah sarung tangan 3) Mengurangi risiko transmisi mikroorganisme ke perawat dan
pasien serta kontaminasi silang kepada pasien lain, anggota keluarga, dan tenaga kesehatan lain
4) Memberikan perasaan segar dan bersih. .
Himpunan Perawat Pengendali Infeksi Indonesia (HPPI) tahun 2010 menyatakan bahwa waktu melakukan cuci tangan, adalah bila tangan kotor,
saat tiba dan sebelum meninggalkan rumah sakit, sebelum dan sesudah melakukan tindakan, sebelum, saat, dan sesudah kontak dengan pasien, lingkungan pasien, sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, serta sesudah ke kamar mandi. Indikator mencuci tangan digunakan dan harus dilakukan untuk antisipasi terjadinya perpindahan kuman melalui tangan (Depkes RI, 2008), yaitu :
1) Sebelum melakukan tindakan, misalnya saat akan memeriksa (kontak langsung dengan klien), saat akan memakai sarung tangan bersih maupun steril, saat akan melakukan injeksi dan pemasangan infus.
2) Setelah melakukan tindakan, misalnya setelah memeriksa pasien, setelah memegang alat bekas pakai dan bahan yang terkontaminasi, setelah menyentuh selaput mukosa.
WHO memperkenalkan konsep five moments hand hygiene sebagai evidence-based untuk mencegah penyebaran infeksi nosokomial yang harus
dilaksanakan sesuai dengan seluruh indikasi yang telah ditetapkan tanpa memperhatikan apakah petugas kesehatan menggunakan sarung tangan atau tidak.
Dua dari lima momen untuk kebersihan tangan terjadi sebelum kontak. Indikasi “sebelum” momen ditujukan untuk mencegah resiko
penularan mikroba untuk pasien. Tiga momen lainnya terjadi setelah kontak,
hal ini ditujukan untuk mencegah risiko transimisi mikroba ke petugas kesehatan, perawat, dan lingkungan pasien.
WHO (2009) menetapkan indikasi five moments hand hygiene yang dimaksud meliputi :
1. Sebelum menyentuh pasien
Hand hygiene yang dilakukan sebelum menyentuh pasien yang
bertujuan untuk melindungi pasien dengan melawan mikroorganisme, dan di beberapa kasus melawan infeksi dari luar, oleh kuman berbahaya yang berada di tangan.
2. Sebelum melakukan prosedur bersih / aseptik (membersihkan luka) Hand hygiene yang dilakukan sebelum melakukan prosedur bersih
/ aseptik bertujuan untuk melindungi pasien dengan melawan infeksi kuman berbahaya, termasuk kuman yang berada di dalam tubuh pasien.
3. Setelah kontak dengan cairan tubuh pasien
Hand hygiene yang dilakukan setelah kontak dengan cairan tubuh
pasien bertujuan untuk melindungi petugas kesehatan dari infeksi oleh kuman berbahaya dari tubuh pasien dan mencegah penyebaran kuman di lingkungan perawatan pasien.
4. Setelah menyentuh pasien
Hand hygiene dilakukan setelah menyentuh pasien bertujuan
untuk melindungi petugas kesehatan dari kuman yang berada di tubuh pasien dan melindungi lingkungan perawatan pasien dari penyebaran kuman.
5. Setelah menyentuh peralatan di sekitar pasien
Hand hygiene yang dilakukan setelah menyentuh peralatan di
sekitar pasien bertujuan untuk melindungi petugas kesehatan dari kuman yang berada di tubuh pasien yang kemungkinan juga berada di
permukaan/benda-benda di sekitar pasien dan untuk melindungi lingkungan perawatan dari penyebaran kuman.
4. Pengurangan resiko pasien cidera karena jatuh
Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak
terbaring/terduduk dilantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Darmojo, 2004).
Jatuh merupakan suatu kejadian yang menyebabkan subjek (pasien) yang dalam keadaan sadar menjadi berada di permukaan tanah tanpa
disengaja. Tidak termasuk jatuh akibat pukulan keras, kehilangan kesadaran, atau kejang. Kejadian jatuh tersebut adalah dari penyebab spesifik yang jenis
dan konsekuensinya berbeda dari mereka yang dalam keadaan sadar mengalami jatuh (Stanley, 2006)
Jatuh merupakan pengalaman pasien yang tidak direncanakan untuk terjadinya jatuh, suatu kejadian yang tidak disengaja pada seseorang pada saat istirahat yang dapat dilihat/dirasakan atau kejadian jatuh yang tidak dapat dilihat karena suatu kondisi adanya penyakit seperti stroke, pingsan, dan lainnya.
Adapun faktor-faktor resiko penyebab resiko jatuh adalah :
1. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah variabel-variabel yang menentukan
mengapa seseorang dapat jatuh pada waktu tertentu dan orang lain dalam kondisi yang sama mungkin tidak jatuh (Stanley, 2006). Faktor intrinsik tersebut antara lain adalah :
a) Gangguan muskoskeletal ( misalnya : gangguan berjalan) b) kelemahan ekstremitas bawah
c) kekakuan sendi
d) kehilangan kesadaran secara tiba-tiba yang disebabkan oleh
berkurangnya aliran darah ke otak dengan gejala lemah, penglihatan gelap, keringat dingin, pucat dan pusing
2. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik merupakan faktor dari luar (lingkungan sekitarnya) diantaranya cahaya ruangan yang kurang terang, lantai yang licin, tersandung benda-benda Faktor-faktor ekstrinsik tersebut antara lain :
a) Cahaya ruangan yang kurang terang b) Lantai yang licin
c) Tempat berpegangan tidak kuat, tidak stabil atau tergeletak di bawah
d) Tempat tidur atau WC yang rendah atau jongkok e) Obat-obatan yang diminum dan alat-alat bantu berjalan
Perawat penanggung jawab pelayanan yang bertugas akan
mengidentifikasi dan menerapkan “Prosedur Pencegahan Jatuh” berdasarkan pada :
1) Kategori risiko jatuh (rendah, sedang, tinggi) 2) Kebutuhan dan keterbatasan per-pasien
3) Riwayat jatuh sebelumnya dan penggunaan alat pengaman (safety devices)
4) Asesmen klinis harian
Intervensi pencegahan jatuh :
1. Tindakan pencegahan umum (untuk semua kategori) : a) Lakukan orientasi kamar inap kepada pasien
b) Posisikan tempat tidur serendah mungkin, roda terkunci, kedua
c) Ruangan rapi
d) Benda-benda pribadi berada dalam jangkauan (telepon genggam, tombol panggilan, air minum,kacamata)
e) Pencahayaan yang adekuat (disesuaikan dengan kebutuhan pasien)
f) Alat bantu berada dalam jangkauan (tongkat, alat penopang) g) Optimalisasi penggunaan kacamata dan alat bantu dengar
(pastikan bersih dan berfungsi) h) Pantau efek obat-obatan
i) Anjuran ke kamar mandi secara rutin
j) Sediakan dukungan emosional dan psikologis
k) Beri edukasi mengenai pencegahan jatuh pada pasien dan keluarga
2. Kategori risiko tinggi : lakukan tindakan pencegahan umum dan hal- hal berikut ini.
a) Beri tulisan di dekat tempat tidur pasien “pencegahan jatuh”
b) Beri penanda berupa gelang berwarna kuning yang dipakaikan di pergelangan tangan pasien
c) Sandal anti licin
d) Tawarkan bantuan ke kamar mandi/penggunaan pispot setiap 2 jam (saat pasien bangun) dan secara periodik (saat malam hari) e) Kunjungi dan amati pasien setiap 2 jam oleh petugas medis f) Nilai kebutuhan akan:
Fisioterapi dan terapi okupasi
Alarm tempat tidur
Tempat tidur rendah (khusus)
Usahakan lokasi kamar tidur berdekatan dengan pos perawat
(nurse station) 3. Edukasi pasien/keluarga
Pasien dan keluarga harus diinformasikan mengenai faktor resiko jatuh dan setuju untuk mengikuti strategi pencegahan jatuh yang telah ditetapkan. Pasien dan keluarga harus diberikan edukasi mengenai faktor risiko jatuh di lingkungan rumah sakit dan melanjutkan keikutsertaannya sepanjang keperawatan pasien
1. Informasikan pasien dan keluarga dalam semua aktivitas sebelum memulai penggunaan alat bantu
2. Ajari pasien untuk menggunakan pegangan dinding
3. Informasikan pasien mengenai dosis dan frekuensi konsumsi obat- obatan, efek samping, serta interaksinya dengan makanan/obat- obatan lain.
4. Dokumentasikan semua kegiatan pencegahan risiko jatuh pada catatan keperawatan
Rumah Sakit
Definisi Rumah Sakit. Menurut Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif serta
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat bagi yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut.
Pelayanan kesehatan promotif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yanglebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan. Pelayanan kesehatan preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit.
Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin. Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.
Menurut Undang-Undang Kesehatan No 36 tahun 2009 yang dimaksud dengan upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.
Pelayanan yang diberikan rumah sakit dapat dibagi atas dua golongan, yaitu pelayanan utama dan pelayanan pendukung. Pelayanan utama terdiri atas pelayanan medis, pelayanan keperawatan, dan pelayanan kefarmasian. Pelayanan pendukung meliputi pelayanan laboraturium, pelayanan gizi dan makanan, rekam medis, bank darah, sentra sterilsasi, pemeriksaan sinar-X, dan layanan sosial.
Pelayanan utama di rumah sakit tidak mampu dilaksanakan sesuai fungsinya tanpa pelayanan pendukung tersebut.
Tugas dan Fungsi Rumah Sakit. Pasal 4 Undang Undang No 44 tahun 2009 Tentang Rumah Sakit memuat bahwa Rumah Sakit mempunyai tugas untuk memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Untuk
menjalankan tugas sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 4, Rumah Sakit mempunyai fungsi:
a) Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
b) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
c) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan, dan
d) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
Pengaturan tugas dan fungsi Rumah Sakit yang terkait dengan banyaknya persyaratan yang harus dipenui dalam pendirian Rumah Sakit merupakan salah satu bentuk pengawasan preventif terhadap Rumah Sakit. Di samping itu penetapan sanksi yang sangat berat merupakan bentuk pengawasan represifnya.
Pengaturan tersebut sebenarnya dilatarbelakangi oleh aspek pelayanan kesehatan sebagai suatu hal yang menyangkut hajat hidup sangat penting bagi masyarakat.
Pengaturan tentang peran dan fungsi Rumah Sakit sebelumnya meliputi hal-hal berikut ini:
1. Menyediakan dan menyelenggarakan : b) Pelayanan medik
c) Pelayanan penunjang medik d) Pelayanan perawat
e) Pelayanan rehabilitas
f) Pencegahan dan peningkatan kesehatan
2. Sebagai tempat pendidikan dan atau latihan tenaga medik atau tenaga paramedik
3. Sebagai tempat penelitian dan pengembangan lmu dan teknologi bidang kesehatan.
Asas dan Tujuan Rumah Sakit. Dalam pasal 2 Undang Undang No 44 tahun 2009 disebutkan “Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan,
persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial”.
Tujuan penyelenggaraan Rumah Sakit tidak dapat dijauhkan dari ketentuan bahwa masyarakat berhak atas kesehatan sebagaimana dirumuskan dalam berbagai ketentuan undang-undang, salah satunya dalam undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Sementara itu pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tinginya, diantaranya dengan menyediakan fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan, dan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan adalah Rumah Sakit.
Adapun tujuan penyelenggaraan Rumah Sakit adalah seperti dirumuskan dalam pasal 3 Undang-Undang Kesehatan, dimana disebutkan bahwa:
“Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.”
Dalam pasal 3 Undang Undang No 44 tahun 2009 penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan:
1. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
2. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit.
3. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit, dan
4. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit, dan Rumah Sakit.
Klasifikasi Rumah Sakit. Jenis rumah sakit dapat dilihat dari jenis pelayanan dan pengelolaannya. Berdasarkan jenis pelayanan, rumah sakit terbagi atas Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus. Yang dimaksud dengan Rumah Sakit Umum adalah pelayanan kesehatan yang disediakan mencakup semua bidang dan jenis penyakit, sedangkan Rumah Sakit Khusus hanya menyediakan pelayanan kesehatan pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.
Berdasarkan pengelolaannya, rumah sakit dibagi menjadi Rumah Sakit Publik dan Rumah Sakit Privat. Rumah Sakit Publik dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah daerah, badan hukum yang bersifat nirlaba, sedangkan Rumah Sakit Privat dikelola oleh badan hukum yang bersifat profit, yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan, klasifikasi rumah sakit dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Klasifikasi Rumah Sakit Umum a. Rumah Sakit Umum kelas A
b. Rumah Sakit Umum Kelas B c. Rumah Sakit Umum Kelas C d. Rumah Sakit Umum kelas D;
2. Klasifikasi Rumah Sakit Khusus a. Rumah Sakit Khusus kelas A b. Rumah Sakit Khusus kelas B c. Rumah Sakit Khusus kelas C
RS Santa Elisabeth Medan merupakan rumah sakit umum kelas B
Rumah Sakit Umum Kelas B. Rumah sakit kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis luas dan subspesialis terbatas. Rumah sakit kelas B didirikan di setiap ibukota provinsi (provincial hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari rumah sakit kabupaten. Rumah sakit pendidikan yang tidak termasuk kelas A juga diklasifikasikan sebagai rumah sakit kelas B.
Aspek pelayanan rumah sakit umum kelas B. Pelayanan yang diberikan
oleh Rumah Sakit Umum Kelas B paling sedikit meliputi : a. Pelayanan Medik
1. Pelayanan gawat darurat harus diselenggarakan 24 (dua puluh empat) jam sehari secara terus menerus
2. Pelayanan medik spesialis dasar meliputi pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, dan obstetri dan ginekologi.
3. Pelayanan medik spesialis penunjang pelayanan anestesiologi, radiologi, patologi klinik, patologi anatomi, dan rehabilitasi medik.
4. Pelayanan medik spesialis lain paling sedikit berjumlah 8 (delapan) pelayanan dari 13 (tiga belas) pelayanan yang meliputi pelayanan mata, telinga hidung tenggorokan, syaraf, jantung dan pembuluh darah, kulit dan kelamin, kedokteran jiwa, paru, orthopedi, urologi, bedah syaraf, bedah plastik, dan kedokteran forensik.
5. Pelayanan medik subspesialis paling sedikit berjumlah 2 (dua) pelayanan subspesialias dari 4 (empat) subspesialis dasar yang meliputi pelayanan subspesialis di bidang spesialis bedah meliputi penyakit dalam, kesehatan anak, dan obstetri dan ginekologi.
6. Pelayanan medik spesialis gigi dan mulut, paling sedikit berjumlah 3 (tiga) pelayanan yang meliputi pelayanan bedah mulut,
konservasi/endodonsi, dan orthodonti.
b. Pelayanan Kefarmasian
Meliputi pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, serta pelayanan farmasi klinik.
c. Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan
Meliputi asuhan keperawatan dan asuhan kebidanan d. Pelayanan penunjang klinik
Meliputi pelayanan bank darah, perawatan intensif untuk semua golongan umur dan jenis penyakit, gizi, sterilisasi instrumen dan rekam medik