BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.
Sudah lama kita ketahui bahwa tujuan umum dari sebuah usaha didirikan adalah untuk mencari keuntungan atau laba, laba sendiri merupakan hasil yang diperoleh perusahaan selama periode tertentu yang berasal dari penjualan atas produk yang dijual ke pasar oleh perusahaan, laba yang dihasilkan perusahaan diperoleh dari pendapatan selama periode tertentu dikurangi biaya-biaya yang melekat didalamnya, biaya-biaya tersebut dapat berupa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead, biaya umum dan biaya lain-lain. Laba suatu perusahaan merupakan gambaran perusahaan mengenai kinerja yang dicapai dari proses transaksi umum yang dilakukan perusahaan selama periode tertentu, dan laba dapat dijadikan suatu indikator bagi para pemangku kepentingan untuk menilai sejauh mana kinerja manajemen dalam mengelola suatu perusahaan.
Dalam mencapai laba perusahaan tidak akan lepas dari yang namanya biaya, karena biaya merupakan suatu pengorbanan perusahaan dalam mendapatkan laba perusahaan. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan tentu mempunyai suatu tujuan dan tujuan itu tidak lain adalah untuk mendapatkan laba. Biaya yang dikeluarkan pun dapat dinilai dan diukur, penilaian biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dilihat dari beberapa segi, salah satunya efesiensi biaya yang dikeluarkan, manfaat, serta dampak dari biaya yang dikeluarkan.
Dalam menjalankan produksi barang atau jasa, perusahaan terkadang tidak memperhatikan mengenai dampak dari aktifitas kegiatan atau produksi perusahaan, sehingga menimbulkan efek yang negatif terhadap lingkungan sekitarnya, sebagai contoh perusahaan yang tidak memperhatikan lingkungan sekitar dan hanya memikirkan laba semata adalah sebagai berikut; pembuatan kertas yang menggunakan bahan bakunya dari pohon-pohon, dimana pohon- pohon tersebut didapat dari penebangan hutan yang tidak terkendali sehingga hutan menjadi gundul, pembuangan limbah tekstil ke sungai yang tidak terkendali
sehingga sungai menjadi tercemar, pembuangan asap pabrik dari proses pembakaran dapat menyebabkan polusi udara, dan sebagainya.
Dari masalah tersebut, haruslah dilaksanakan suatu tindakan agar kerusakan lingkungan tersebut dapat segera ditanggulangi, salah satu tindakan yang dapat diambil adalah dengan melakukan tanggung jawab sosial perusahaan atau lebih dikenal saat ini dengan Corporate Social Responsibility (CSR), istilah ini mengacu pada tanggung jawab sektor bisnis dalam kaitannya dengan semua pihak yang terlibat, mempengaruhi dan terkena dampak dari sebuah kegiatan bisnis.
Meski tujuan utama perusahaan adalah menghasilkan keuntungan, laba, atau profit, sebuah perusahaan tidak dapat lepas dari masyarakat, hal ini disebabkan karena beberapa hal yaitu; pertama, pendiri dan pemilik sebuah perusahaan adalah individu-individu anggota masyarakat. Kedua, tujuan menghasilkan keuntungan tidak mungkin tercapai tanpa adanya masyarakat yang menjadi pasar dari produksinya. Karena sebuah kegiatan bisnis tidak dapat lepas dari masyarakat, kegiatan bisnis sudah pasti membawa dampak bagi masyarakat dan elemen-elemen yang ada didalamnya serta lingkungan tempat hidup di masyarakat.
Pelaksanaan CSR tidak hanya dibahas mengenai kerusakan yang ditimbulkan perusahaan terhadap sumber daya alam, CSR juga membahas mengenai jumlah besar kecilnya gaji karyawan, sumbangan pendidikan, pemberian kredit usaha kecil menengah, dan lain-lain. Jadi pelaksanaan CSR banyak aspek yang dapat dilakukan perusahaan mengenai tanggung jawab sosial perusahaan.
Penerapaan CSR sebenarnya bersifat voluntary (suka rela) namun sekarang CSR memiliki “payung” hukum yaitu UU No.40 tahun 2007 tentang perseroan, sebenarnya hal ini masih merupakan perdebatan di kalangan pengusaha di Indonesia terhadap UU No.47 tahun 2007 mengenai tanggung jawab sosial perusahaan , karena CSR di bentuk di negara berkembang dan negara maju yang timbul dari kesadaran dunia usaha terhadap lingkungan sekitarnya oleh karena itu sifatnya harusnya suka rela bukan paksaan.
Mengundang-undangkan CSR merupakah hal yang tidak lazim karena pada awalnya CSR merupakan suatu tindakan suka rela dan sifatnya hampir seperti “sumbangan”, akan tetapi, perkembangan global saat ini menuntut CSR menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari. Suka atau tidak, CSR harus dikerjakan sebagai bentuk tangungjawab kepada stakeholders.
Dalam menerapkan CSR pastinya perusahaan membutuhkan dana serta biaya untuk merealisasikannya, jumlah biaya yang dikeluarkan untuk program CSR tergantung dari besar kecilnya program yang akan dilaksanakan, semakin besar program yang akan dilaksanakan tentunya akan semakin besar juga jumlah biaya yang akan dikeluarkan, dan begitu pula sebaliknya, hal ini juga akan berpengaruh terhadap laba yang akan diperoleh perusahaan karena hal ini akan mengurangi pendapatan dari suatu perusahaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika dan Eropa tanggapan masyarakat terhadap perusahaan yang melakukan CSR dan tidak melakukan CSR hampir serupa, mereka lebih menaruh perhatian dan respect terhadap perusahaan yang melakukan CSR dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan CSR, hal ini dapat terjadi dikarenakan masyarakat Amerika dan Eropa telah memiliki kesadaran akan lingkungan tempat mereka tinggal. Oleh sebab itu, hal ini berpengaruh terhadap image (citra) suatu perusahaan, karena citra suatu perusahaan akan berdampak positif terhadap produk yang mereka jual dipasaran, dan produk yang terjual tentu akan mempengaruhi laba perusahaan. Karena CSR merupakan persoalan yang cukup hangat di Indonesia maka penulis tertarik dalam meneliti pengaruh CSR di Indonesia.
Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam menciptakan laba diperlukan dua unsur, yaitu pendapatan dan laba, dan telah dibahas pula sebelumnya bahwa untuk merealisasikan program CSR dibutuhkan dana atau biaya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah biaya CSR itu dapat mempengaruhi laba perusahaan atau tidak, karena seperti yang kita ketahui CSR sendiri di Amerika dan Eropa dapat mempengaruhi citra suatu perusahaan yang tentunya akan mempengaruhi produk yang mereka jual, lalu bagaimana CSR di Indonesia?.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian yang hasilnya dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul :
“PENGARUH BIAYA CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP TINGKAT LABA PERUSAHAAN”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh biaya Corporate Social Responsibility terhadap Tingkat Laba Perusahaan.
2. Bagaimana hubungan antara Corporate Social Responsibility dengan Tingkat Laba Perusahaan.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis dan menjelaskan pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Tingkat Laba Perusahaan. Sedangkan
tujuan yang ingin dicapai adalah untuk :
1. Mengetahui bagaimana pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Tingkat Laba Perusahaan.
2. Mengetahui hubungan antara Corporate Social Responsibility terhadap Tingkat Laba Perusahaan.
1.4 Kegunaan Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan akan diperoleh informasi yang akurat dan relevan yang dapat digunakan oleh :
1. Penulis, hasil penelitian ini akan memberikan wawasan pengetahuan tentang masalah yang diteliti sehingga dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas kesesuaian antara fakta dengan dasar teori yang ada.
2. Perusahaan, sebagai bahan masukan (feedback) dalam melakukan corporate social responsibility yang diharapkan dapat meningkatkan laba perusahaan.
3. Peneliti lain, sebagai bahan referensi khususnya untuk penulisan karya ilmiah dengan topik yang sama.
1.5 Kerangka Pemikiran
Laba merupakan gambaran kinerja perusahaan dari aktivitas operasional perusahaan pada periode tertentu, dan merupakan gambaran dan cerminan kinerja dari suatu perusahaan, laba tercipta dari pendapatan dikurangi biaya-biaya yang melekat didalamnya. Salah satu biaya yang dapat timbul dari aktivitas perusahaan adalah biaya tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), biaya ini timbul dikarenakan kesadaran sektor bisnis atau perusahaan untuk peduli terhadap lingkungan di sekitarnya, CSR merupakan tanggung jawab sektor bisnis dalam kaitannya dengan semua pihak yang terlibat, mempengaruhi, dan terkena dampak dari sebuah kegiatan bisnis. Sifat dari CSR sendiri sebenarnya voluntary namun penerapan CSR akan memberikan dampak dampak positif berupa citra yang bagus terhadap perusahaan oleh masyarakat. CSR juga terkadang dapat dijadikan media publikasi meskipun tujuannya bukan kesana, akan tetapi hal itu merupakan suatu konsekuensi dari penerapan CSR. Yang menjadi masalah adalah ketika dana yang dibutuhkan dalam menjalankan CSR ini cukup besar, karena semakin biaya yang dikeluarkan besar tentunya akan mempengaruhi laba yang akan diperoleh, hal ini tentu saja dapat merugikan perusahaan. Oleh karena itu perlu pertimbangan lebih, dalam mengambil keputusan mengenai program CSR yang akan dilaksanakan.
Berbagai definisi biaya, Corporate Social Responsibility, dan Laba perusahaan dikemukakan oleh para ahli atau pihak – pihak lain yang terkait dengan perkembangan akuntansi adalah sebagai berikut:
Menurut Supriyono (2000:185) biaya adalah :
“ Pengorbanan ekonomis yang dibuat untuk memperoleh barang atau jasa”.
Pengertian biaya menurut Harnanto dan Zulkifli (2003:14) adalah:
“ Sesuatu yang berkonotasi sebagai pengurang yang harus dikorbankan untuk memperoleh tujuan akhir yaitu mendatangkan laba. Jadi menurut beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan kas atau nilai ekuivalen kas yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk
mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan guna untuk memberikan suatu manfaat yaitu peningkatan laba di masa mendatang”.
Menurut Hansen dan Mowen (2004:40):
“ Biaya didefinisikan sebagai kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat saat ini atau di masa yang akan datang bagi organisasi”.
Pengertian CSR sendiri menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) (2003:1) adalah :
“ Keterpanggilan dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut, berikut komuniti-komuniti setempat (lokal) dan masyarakat secara keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan”.
Savio Wermasubun (2008:1) mengatakan bahwa:
” Istilah corporate responsibility mengacu pada tangung jawab sektor bisnis dalam kaitannya dengan semua pihak yang terlibat, mempengaruhi dan terkena dampak dari sebuah kegiatan bisnis. Meski tujuan utamanya adalah menghasilkan keuntungan, sebuah perusahaan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat”.
Feby Indirani (2008:1) mengatakan bahwa:
” CSR adalah pilihan yang dilandasi kesadaran dari perusahaan. Dalam berbisnis, ia tak hanya memiliki kewajiban kepada shareholders (pemegang saham). Ia juga harus memenuhi harapan para stakeholders (pemangku kepentingan) ”.
Internasional Finance Corporation (2008: 28) menyebutkan bahwa :
”Corporate social responsibility is the commitment of businesses to contribute to sustainable economic development by working with employees, their families, the local community and society at large to improve their lives in ways that are good for business and for delopment”.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2007:46.2) menjelaskan mengenai pengertian laba sebagai berikut :
” Laba akuntansi adalah laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak”.
Dari pengetian dan definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa biaya adalah pengorbanan ekonomis setara dengan kas atau ekuivalen yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan guna untuk memberikan suatu manfaat yaitu peningkatan laba di masa mendatang dengan tujuan untuk memperoleh laba. Corporate Social Responsibility merupakan keterpanggilan dunia bisnis untuk turut berkonstribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan berupa tangung jawab sosial dalam kaitannya dengan semua pihak yang terlibat, mempengaruhi dan terkena dampak dari sebuah kegiatan bisnis. Sedangkan laba merupakan pendapatan dikurangi beban-beban yang melekat didalamnya.
Sudah lama kita ketahui bahwa biaya merupakan pengurang dari suatu laba perusahaan, sehingga perusahaan seringkali menekan biaya operasional perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi, namun dalam prakteknya tidak semua biaya merupakan hal yang negatif, sebagai contoh biaya pemasaran, biaya ini dikeluarkan untuk tujuan mempromosikan barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan ke konsumen atau masyarakat, dari sana diharapkan produk berupa barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan dapat diterima dan disambut baik oleh konsumen sehingga dapat meningkatkan pendapatan perusahaan.
Dan bagaimana dengan CSR, sudah dijelaskan sebelumnya bahwa CSR merupakan suatu konstribusi dari dunia bisnis untuk turut memperhatikan lingkungan sekitar yang terkena dampak dari kegiatan bisnis perusahaan, CSR dikembangkan di negara maju yang timbul dari kesadaran unit bisnis dalam menjaga kelanjutan ekonomi dalam bentuk tanggung jawab sosial, CSR pada mulanya merupakan suatu voluntary (suka rela),oleh sebab itu sifatnya tidak wajib dan bisa dianggap suatu sumbangan, namun dalam era global sekarang, CSR mau tidak mau harus dilakukan oleh perusahaan karena perusahaan merupakan bagian dari masyarakat dan oleh sebab itu perusahaan harus bertanggung jawab terhadap masyarakat yang terkena dampak dari kegiatan bisnis perusahaan.
Penerapan CSR yang dilakukan perusahaan seharusnya dilakukan bukan bertujuan untuk marketing maupun public relation akan tetapi harus dilakukan benar-benar hanya untuk tanggung jawab sosial terhadap lingkungan di dalam maupun di luar perusahaan yang terkena dampak dari kegiatan bisnis perusahaan, dan apabila citra perusahaan meningkat dari aktivitas CSR tersebut, hal itu hanyalah konsekuensi dari apa yang telah dilakukan perusahaan. Namun dalam praktiknya hal itu dapat terjadi kebalikannya, maksudnya adalah, CSR yang merupakan suatu tanggung jawab sosial dapat digunakan perusahaan sebagai alat promosi suatu perusahaan.
Dana yang dikeluarkan untuk CSR bergantung kepada besar kecilnya program yang akan dilaksanakan, semakin besar program tersebut semakin besar pula dana yang akan dikeluarkan begitu pula sebaliknya. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kondisi laporan keuangan perusahaan khususnya pada pos laporan laba rugi, akan tetapi apabila ditinjau lebih dalam, mengacu pada penelitian terhadap negara berkembang, perusahaan yang melakukan CSR tentu akan mendapat respect yang lebih, ketimbang perusahaan yang tidak melakukan CSR, hal ini dapat timbul dikarenakan tingkat kedewasaan dari konsumen atau masyarakat yang peduli akan lingkungan mereka.
Semakin besar dana yang dikeluarkan untuk CSR tentu akan semakin besar pula program CSR yang akan dilakukan, semakin besar program CSR, maka semakin luas pula jangkauan masyarakat yang merasakan program CSR tersebut, sehingga luas jangkauan masyarakat akan mempengaruhi citra perusahaan di mata konsumen dan masyarakat. Peningkatan citra inilah yang diharapkan perusahaan dapat mendukung kegiatan operasional mereka dan membantu mencapai tujuan si perusahaan yaitu, memperoleh laba atau pendapatan.
Dalam membuat skripsi ini penulis mengacu pada penelitian sebelumnya dengan judul ” PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP CORPORATE IMAGE PT BANK NEGARA INDONESIA, TBK”.
Yang membedakan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah :
1. Mengetahui bagaimana Corporate Social Responsibility dan corporate image PT Bank Negara Indonesia,Tbk.
2. Seberapa besar pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap corporate image PT Bank Negara Indonesia,Tbk Dalam penelitian ini, penulis lebih memfokuskan penelitian terhadap pengaruh biaya CSR terhadap peningkatan laba perusahaan.
Penerapan CSR yang dilakukan perusahaan tentu akan sangat berguna, tidak hanya bagi masyarakat yang terkena dampak dari aktivitas bisnis perusahaan, akan tetapi perusahaan sendiri tentu akan mendapat keuntungan secara tidak lansung. Dan yang perlu menjadi pertimbangan adalah, dalam menentukan program CSR yang akan dilakukan beserta biaya yang termasuk di dalamnya, apakah program tersebut dapat terlaksana dengan baik atau sebaliknya, malah dapat mengganggu dan berpengaruh negatif terhadap kondisi laporan keuangan. Oleh sebab itu, kebijakan ini haruslah dibicarakan pada level top management, karena cakupan dan materi CSR cukuplah luas. Berdasarkan uraian
diatas, dalam penelitian penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut :
“ Biaya Corporate Social Responsibility mempengaruhi Tingkat Laba Perusahaan”.
1.6 Metode Penelitian.
Teknik penelitian yang dilakukan bersifat studi survey dengan menggunakan data sekunder dari sumber primer yaitu berupa laporan tahunan perusahaan yang mengikuti ISRA (Indonesia Sustanaibility Report Award) yang sudah terdaftar di Bursa efek Indonesia, sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode asosiatif. Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2003:11). Data yang diperoleh selama penelitian akan diolah dan diproses lebih lanjut dengan dasar teori – teori yang telah dipelajari, data yang akan dipakai adalah laporan tahunan perusahaan, suistainability report atau Corporate Social Responsibility Report.
Untuk keperluan pengujian , diperlukan serangkaian langkah yang akan dimulai dari : Operasional variabel, rancangan pengujian hipotesa dan metode pengunpulan data.
1.6.1 Operasional Variabel.
Sesuai judul skripsi yang dipilih , yaitu “ pengaruh biaya corporate social responsibility terhadap tingkat laba perusahaan”, maka terdapat dua variabel :
1. Biaya Corporate Social Responsibility sebagai variabel independen.
2. Tingkat Laba sebagai variabel dependen.
1.6.2 Rancangan Pengujian Hipotesis.
Hipotesis dalam penelitian ini akan dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi . Analisis tersebut akan menggunakan 3 (Tiga) ukuran dasar, yaitu :
1. Analisis Regresi yang akan digunakan untuk mengetahui ada atau tidak pengaruh Biaya CSR terhadap tingkat laba perusahaan.
2. Standar Error Estimate, yang akan digunakan untuk mengetahui simpangan baku dari variabel dependen terhadap garis regresinya.
3. Analisis Korelasi yang digunakan untuk mengetahui kuat atau lemahnya hubungan antara kedua variabel diatas.
1.6.3 Metode Pengumpulan Data.
Untuk memperoleh hasil penelitian yang diharapkan, maka dibutuhkan data dan informasi yang akan mendukung penelitian ini. Dalam usaha memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan, penulis menggunakan metode pengumpulan data :
1. Penelitian lapangan (Field Research)
Yaitu peneltian yang dilakukan dengan maksud untuk mengumpulkan data sekunder, yang akan digunakan untuk menjawab masalah penelitian.
Untuk memperoleh data sekunder yang dibutuhkan, penulis melakukan beberapa kegiatan, antara lain :
a. Listing Bursa Efek Indonesia
Mengambil data berupa laporan keuangan perusahaan yang terdapat dalam Bursa Efek Indonesia.
b. Observasi
Yaitu penelitian langsung ke objek penelitian untuk melihat serta mencatat kegiatan – kegiatan yang berkaitan dengan masalah penelitian.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Reasearch)
Pada tahap ini penulis berusaha untuk memperoleh berbagai informasi dan pengetahuan yang dapat dijadikan pegangan penelitian, yaitu dengan cara membaca berbagai literatur yang mempunyai keterkaitan dengan masalah penelitian.
1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian.
Penulis melakukan penelitian di BEI dan Perpustakaan Widyatama.
Sedangkan waktu penelitian yang digunakan untuk melakukan penelitian ini dimulai pada bulan september 2008 sampai dengan selesai.