REPUBLIK INDONESIA
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
SURAT PENCATATAN
CIPTAAN
Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:
Nomor dan tanggal permohonan : EC00201853046, 7 November 2018 Pencipta
Nama : I Ketut Ngurah Sulibra, I Nyoman Duana Sutika,
Alamat : Jalan Ken Arok Gg. III/ No 12 Denpasar Utara, Denpasar, Bali, 80115
Kewarganegaraan : Indonesia
Pemegang Hak Cipta
Nama : I Ketut Ngurah Sulibra, I Nyoman Duana Sutika ,
Alamat : Jalan Ken Arok Gg. III/ No 12 Denpasar Utara, Denpasar, Bali, 80115
Kewarganegaraan : Indonesia
Jenis Ciptaan : Laporan Penelitian
Judul Ciptaan : Struktur Tematik Satua-Satua Bali Analisis Fungsi Dan Nilai Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama
kali di wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia
: 31 Oktober 2018, di Denpasar
Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya.
Nomor pencatatan : 000123715
adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.
Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
a.n. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUAL
Dr. Freddy Harris, S.H., LL.M., ACCS.
NIP. 196611181994031001
LAMPIRAN PENCIPTA
No Nama Alamat
1 I Ketut Ngurah Sulibra Jalan Ken Arok Gg. III/ No 12 Denpasar Utara 2 I Nyoman Duana Sutika Perum Umasari Permai VI No 2 Kuta Utara.
LAMPIRAN PEMEGANG
No Nama Alamat
1 I Ketut Ngurah Sulibra Jalan Ken Arok Gg. III/ No 12 Denpasar Utara 2 I Nyoman Duana Sutika Perum Umasari Permai VI No 2 Kuta Utara.
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)
1
LAPORAN AKHIR
PENELITIAN UNGGULAN PROGRAM STUDI
STRUKTUR TEMATIK SATUA-SATUA BALI:
ANALISIS FUNGSI DAN NILAI
Oleh:
Drs. I Ketut Ngurah Sulibra, M. Hum.
Drs. I Nyoman Duana Sutika, M.Si.
PROGRAM STUDI SASTRA BALI FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS UDAYANA
OKTOBER 2018
2 DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL...
DAFTAR ISI……… 2
RINGKASAN……….. 3
BAB I PENDAHULUAN……… 4
1.1 Latar Belakang……… 4
1.2 Masalah……… 5
1.3 Tujuan Khusus Penelitian……… 5
1.4 Urgensi Penelitian……… 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……… 7
2.1 Kajian Pustaka………. 7
2.2 Konsep……… 8
2.3 Teori……… 9
BAB III METODE PENELITIAN……… 11
3.1 Metode dan Teknik Penyediaan Data………. 11
3.2 Metode dan Teknik Analisis Data………11
3.3 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis………. 11
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……….. 12
4.1 Hasil……….………. 12
4.2 Pembahasan………..……… 13
4.2.1 Struktur Tema ……… 13
4.2.2 Nilai dan Fungsi ………. 38
BAB V SIMPULAN DAN SARAN……….. 41
5.1 Simpulan ……… 41
5.2 Saran ……….. 41
DAFTAR PUSTAKA……… 42
LAMPIRAN-LAMPIRAN………. 42
Lampiran 1 Foto-Foto Kegiatan………. 43
2 Informan……… 46
3 RINGKASAN
Satua merupakan salah satu jenis sastra lisan Bali. Karena sifatnya lisan, maka satua diturunkan dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Aktivitas menuturkan satua beberapa puluh tahun yang lalu digunakan untuk menidurkan anak sekaligus sebagai media pendidikan anak di usia dini. Satua dalam berbagai jenis dan judulnya diyakini memiliki nilai- nilai luhur sebagai budaya asli masyarakat Bali. Berbagai macam hal dapat ditanamkan dalam satua seperti pendidikan moral ataupun etika. Seiring perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih serta pola kehidupan sosial mayarakat yang cenderung berubah mengarah ke pola kehidupan pragmatis dan ekonomis, aktivitas masatua / mendongeng mulai ditinggalkan.
Saat ini anak-anak lebih mengenal dan asyik bermain video game dibandingkan dengan mengenal tokoh-tokoh dalam satua. Keadaan seperti ini tentu mengabaikan esistensi satua sebagai media pengenalan budi pekerti sebagai khazanah kebudayaan kebudayaan Nusantara yang adiluhung yang perlu ditanamkan sejak awal. Bahkah belakangan ini dunia pendidikan dihebohkan dengan kekerasan murid kepada gurunya.
Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk merestorasi salah satu kearifan lokal Bali yang perlu diketahui dan diperkuat sebagai usaha membentengi Bali dari anasir-anasir luar yang dapat merugikan kita semua. Pendidikan karakter hendaknya ditanamkan sejak usia dini sehingga nantinya menjadi generasi penerus yang tangguh, kokoh, berkepribadian, serta memiliki idealisme tinggi pada loyalitas kebudayaan Bali. Untuk itu, secara metodologis akan digunakan teori struktural dan teori antropologi sastra. Dalam metode pengumpulan data digunakan metode simak dengan teknik catat, klasifikasi dan terjemahan. Analisis data dilakukan dengan metode hermeneutik interpretatif dibantu dengan teknik deskriptif analitis. Penyajian hasil analisis dilakukan dengan metode formal-informal dengan teknik deduktif-induktif atau sebaliknya.
Adapun urgensi penelitian ini adalah merestorasi kearifan lokal dan disebarkan melalui forum seminar dan publikasi jurnal nasional sehingga lebih mudah untuk mengaksesnya.
Kata Kunci: lisan, nilai, fungsi, pendidikan
4
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Satua merupakan salah satu cerita prosa lisan masyarakat Bali. Menurut Bagus (1979: 13) mengatakan bahwa satua dikategorikan sebagai sastra gantian. Sastra gantian atau pagantian adalah istilah untuk menyebutkan ragam sastra lisan bali. Kata ganti atau pagantian menunjukkan bahwa sastra lisan ini selalu berubah-ubah (maganti-ganti) sesuai keinginan pencerita. Hal ini disebabkan satua sifatnya yang lisan. Oleh karena lisan, maka penuturan satua dilakukan melalui proses penceritaan (masatua) dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi berikutnya. Umumnya satua Bali bersifat anonim dan telah berkembang sejak dahulu sebelum adanya tulisan.
Gaya penceritaan satua menurut Bagus adalah pertama, pencerita memastikan bahwa yang mendengarkan siap untuk mendengarkan. Adapun kata-kata permulaan yang lazim digunakan adalah: ‘ada kone tutur-tuturan satua atau ada kone orah-orahan satua’. Selanjutnya diucapkan judul satuanya, misal I Siap Badeng. Setelah itu, biasanya setiap kalimat akan dijawab oleh si anak dengan kata ‘maan’ yang artinya ‘selanjutnya’, demikian seterusnya sampai cerita selesai. Biasanya penutup satua menggunakan ungkapan “guak maling kuud, satua bawak suba suud” ayau dengan ungkapan lain “guak maling taluh, satua bawak buin aluh”. Biasanya pencerita tahu si anak sudah tidur sebelum waktunya (cerita selesai), yakni ketika si anak tidak lagi mengatakan “maan” di sela-sela cerita itu.
Selanjutnya Bagus (1990: 4) mengklasifikasi satua Bali ke dalam dongeng-dongeng jenaka (satua banyol), dongeng panji (satua panji) dan dongeng biasa (kisah hidup seseorang), dan lainnya. Selain itu, ada juga satua Tantri yang sangat populer di masyarakat Bali. Cerita Tantri merupakan cerita berbingkai yang menampilkan binatang sebagai tokoh utama dan cerita ini sambung-menyambung dari satu cerita ke cerita berikutnya.
Tradisi masatua merupakan salah satu usaha dalam pendidikan budi pekerti, agama, etika, kesetiaan, kemanusiaan, dan lain-lain. Dahulu masatua dilakukan oleh orang tua, nenek, kakek untuk menidurkan anakpada waktu malam. Selain untuk mengisi waktu luang, satua juga memberikan hiburan di tengah kehidupan yang masih tradisional. Lewat tokoh dan dialog- dialognya, diselipkan berbagai hal kehidupan dan ini sangat penting bagi anak sebagai langkah awal pendidikan karakter (Suastika, 2011: 1). Belakangan ini tradisi lisan masatua
5
dikembangkan melalui radio, televisi, lomba-lomba antarsekolah, tingkat kabupaten/kota atau pun provinsi. Ada beberapa judul satua yang populer dimasyarakat, di antaranya I Tuwung Kuning, I Bawang teken I Kesuna, I Nyoman Jater, Dempu Awang, Pan Balang Tamak, I Ubuh, I Belog, dan lain-lainnya.
1.2 Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut.
1) Tema apa sajakah yang terdapat dalam teks satua Bali?
2) Fungsi-fungsi apa sajakah yang dapat terkandung dalam teks satua-satua Bali dan nilai- nilai apa sajakah yang terkandung dalam teks satua-satua Bali?
1.3 Tujuan
Berdasarkan masalah-masalah tersebut di atas, maka dapat dirumuskan tujuan khusus dari penelitian ini.
1) Untuk mendeskripsikan struktur tematik teks satua-satua Bali sehingga dapat dibedakan tipe ceritanya.
2) Untuk mendeskripsikan fungsi-fungsi yang terkandung dalam teks satua-satua Bali.
3) Untuk mendeskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam satua-satua Bali yang sehingga dapat dijadikan acuan keteladanan.
Selain itu, tujuan umum dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Untuk meningkatkan hasil-hasil penelitian di tingkat prodi 2) Meningkatkan jumlah publikasi
3) Meningkatkan mutu dan kompetensi dosen di lingkungan prodi.
1.4 Urgensi Penelitian
Bali sebagai destinasi utama internasional di satu memiliki tantangan tersendiri. Bali sangat mengutamakan pendapatan melalui industri pariwisata yang berlandaskan budaya dan agama.
Keeksotisan dan keunikan budaya Bali serta kehidupan sosial masyarakatnya yang komunal menjadikan Bali pantas dijuluki sebagai last paradise. Di sisi lain, (masyarakat) Bali mau tidak
6
mau, suka tidak suka, berada di arus globalisasi yang semakin kuat. Di tengah himpitan kedua sisi ini membuat (masyarakat) Bali sedikit demi sedikit mengalami perubahan sikap hidup. Tidak hanya di kota-kota bahkan sampai ke pelosok desa, perubahan gaya hidup mulai tampak yang cenderung mengarah pragmatisme dan hedonisme. Cara hidup ala Barat (Eropa) yang individualistik mulai ditiru, konsep “manyama braya” mulai menipis, lebih-lebih bagi yang ekonominya mapan segala diukur dengan uang, time is money. Jika keadaan ini dibiarkan terus berlanjut, maka dapat dipastikan Bali dulu, kini, dan yang akan datang tidak akan sama lagi.
Budaya Bali akan hilang untuk selama-lamanya, kearifan-kearifan lokal akan sirna dan hanya dapat ditemukan di literatur. Dalam konteks ini diperlukan usaha-usaha pelestarian, pembinaan, dan pengembangan budaya Bali yang berkelanjutan. Bali harus bisa membentengi dirinya sendiri. Untuk itu, pemahaman-pemahaman tentang kearifan lokal Bali perlu ditanamkan sejak usia dini, anak-anak, maupun remaja. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan memahami nilai-nilai yang ada dalam satua-satua Bali sebagaimana yang diamanatkan dalam road map penelitian Fakultas Ilmu Budaya Unud. Sebagaimana telah diungkapkan di atas bahwa satua-satua Bali adalah cermin masyarakat Bali itu sendiri.
7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka
Beberapa tulisan yang relevan berkaitan dengan aksara akan dideskripsikan sebagai berikut ini.
(1) Sulibra dan Erawati (2014) dalam “Satu Masalah, Tiga Dimensi: Kisah Persaudaraan Ikan Gabus dalam Satua Ni Diah Tantri”. Dalam tulisan itu digunakan teori fungsional sastra yang lebih menitikberatkan pada fungsi sosial sastra dalam kaitannya dengan aspek kehidupan sosial budaya masyarakat. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa dalam satua tersebut ditemukan tokoh-tokoh yang berbeda pandangan dalam memahami satu persoalan atau kesulitan dan keputusan harus tetap diambil. Adapun fungsi yang ditonjolkan adalah fungsi etis, yakni menghargai perbedaan tanpa memandang usia.
(2) Septiyarti, (2015) dalam “Kearifan Lokal Sastra Lisan Papua: Relevansinya terhadap Pendidikan Karakter”. Teori yang digunakan dalam tulisan itu teori Antroplogi Budaya dan teori kearifan Lokal. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa sastra lisan Papua ditemukan nilai-nilai kearifan lokal seperti mematuhi larangan, menjaga lingkungan alam sekitar, tidak melanggar larangan, gotong-royong atau kerja sama, sabar dan hati-hati.
Sastra lisan Papua dalam rangka pembentukan karakter meliputi literer estetis, etis dan moral, humanitis, religius profetis.
(3) Sudiana dan Sudirgayasa (2015) dalam “Integrasi Kearifan Lokal Bali dalam Buku Ajar Sekolah Dasar”. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa pengintegrasian kearifan lokal Bali perlu dilakukan dalam penyusunan buku ajar khususnya IPA dengan mengambil contoh-contoh secara langsung.
(4) Sulibra, dkk. (2017) dalam “Revitalization of Local Wisdom in Balinese Short Story: an Anthropological Study”. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa kearifan lokal dalam cerpen-cerpen berbahasa Bali seperti pengetahuan (widya) merupakan hal penting dalam kehidupan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan serta dapat meningkatkan kualitas hidup manusia, narkoba dan sejenisnya sangat berbahaya bahkan dapat menghilangkan nyawa;
untuk itu diperlukan pengendalian diri yang dilandasi oleh kecerdasan akal, kesetiaan terhadap janji wajib dipertahankan sebagai wujud pertanggungjawan integritas atas mahligai pernikahan, tidak mengutamakan hawa nafsu.
8 2.2 Konsep
(1) Struktur
Anton L. Becker (dalam Sukada, 1987: 45) mengatakan bahwa makna sebuah teks adalah hubungannya dengan konteksnya. Strukturalisme merupakan langkah awal untuk analisis berikutnya. Hanya sesudah strukturalismelah kita bisa melangkah keluar dari dunia teks ke dunia alamiah atau dunia sosial budaya yang merupakan konteks yang lebih luas. Pengertian struktur bagi Saleh Saad (dalam Atmaja, 2016) adalah pelaksanaan tema dan amanat. Oleh karena itu, menurut Atmaja seorang strukturalis akan mempertimbangkan cerita sebagai sistem; sebuah narasi terdiri dari atas bagian-bagian yang berhubungan secara logis dan ini merupakan persoalan pengaturan karakter fungsional yang saling berhubungan satu sala lain dalam pengaturan tema.
Menurut Kuntowijoyo (2000: 16) bahwa lahirnya sebuah cerita berasal dari tiga sumber, yaitu (1) strukturalisasi pengalaman, baik pribadi, orang lain, maupun kolektif; (2) strukturalisasi imajinasi; (3) strukturalisasi nilai.
(2) Fungsi
Fungsi sastra dalam konteks ini dikaitkan dengan studi estetika karena satua adalah seni sastra lisan. Oleh karena itu, dialektika Horace, yakni dulce et utile bahwa fungsi sastra haruslah indah dan berguna (Wellek dan Warren, 1990: 25). Sastra selain memberikan kenikmatan rohani, sastra juga harus mengajarkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.
Kesenangan yang diperoleh dari sastra bukanlah kesenangan fisik, melainkan kesenangan yang lebih tinggi, yakni kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Teeuw (1984: 73) sepakat dengan Jakobson yang sangat menekankan fungsi puitika bahasa, yakni pesan yang akan disampaikan. Oleh sebab itu, fungsi puitik menjadi dominan dalam sastra dan menunjukkan adanya relevansi dari segi kemasyarakatan.
(3) Nilai
Wellek dan Warren (1990: 317) menegaskan bahwa nilai hendaknya dipandang sebagai sesuatu yang sudah melekat pada hakikat dan fungsi karya sastra sehingga penilaiannya tidak didasarkan pada kriteria luar. Koentjaraningrat (1978: 32) menyatakan bahwa nilai adalah suatu hal yang berisikan ide-ide, yang mengkonsepsikan hal-hal yang penting, berguna dalam kehidupan masyarakat. Selanjut, Yudibrata (dalam Atmaja, 1988: 18)
9
nilai adalah aspek tingkat kebajikan atau kebaikan dan kegunaan yang dimiliki sesuatu dan dalam hal karya sastra nilai-nilai itu dianggap saling berhubungan secara harmonis.
Oleh sebab itu, sebuah karya sastra haruslah dipandang dari sudut kebermafaatannya bagi masyarakat.
2.3 Teori
Dalam penelitian ini digunakan teori struktural dan teori sastra antropologis. Prinsip dasar analisis struktural adalah whollenes, keseluruhan karena karya sastra hanya dapat diungkap melalui bagian-bagian dari keseluruhan. Atau dapat dikatakan bahwa urutan cerita atau sekuen memiliki hubungan satu dengan yang lainnya atau hubungan antarsistem yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Setiap bagian harus diberi titik perhatian yang sama sesuai konteks cerita dan ditempatkan secara keseluruhan dalam sistem kode dan konvensi sastra budaya masyarakat bersangkutan. Damono (1979: 39) memandang bahwa pendekatan strukturalisme mencakup segala bidang yang menyangkut fenomena sosial kemanusiaan yang berkaitan dengan ilmu sosial murni (antropologi, politik, ekonomi, psikologi) serta dengan ilmu-ilmu humaniora (sastra, sejarah, linguistik).
Teori sastra antropologis merupakan kajian relatif baru dalam karya sastra. Pada awl kemunculannya dipelopori oleh oleh Claude Levi-Strauss tahun 1963. Walaupun demikian, teori ini sangat mungkin diterapkan dalam berbagai ranah karya sastra (Sudewa, 2012: 65).Teori ini berasumsi bahwa karya sastra bukan sekadar refleksi semata, bukan semata-mata memantulkan kenyataan, melainkan merefraksikan, membelokannya sehingga berhasil mengevokasi keberagaman budaya secara lebih bermakna. Dalam hubungan ini akan terjadi proses timbal balik, keseimbangan yang dinamis antara kekuatan aspek sastra dengan antroplogi. Bahkan, dalam analisis yang baik seolah-olah tidak bisa dikenali lagi apakah yang dibicarakan termasuk sastra atau antropologi. Oleh karena itu, ada lima hal yangperlu diperhatikan sebagaiberikut. (1) Antropologi sastra berfungsi untuk melengkapi analisis ekstrinsik; (2) antropologi sastra berfungsi untuk mengantisipasi, mewadahi kecenderungan-kecendurungan baru hasil-hasil karya sastra, di dalamnya banyak dikemukakan kearifan-kearifan lokal; (3) antropologi sastra sangat dibutuhkan dengan keberadaan bangsa Indonesia yang beraneka ragam adat kebiasaan yang sebagian besar dikemukakan secaraestetis dalam bentuk karya sastra; (4) antropologi sastra
10
sangat tepat bagi tradisi dan sastra lisan; (5) antropologi sastra dengan sendirinya megantisipasi kecenderungan kontemporer, yaitu perkembangan multidisiplin
11
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Metode Pengumpulan Data
Filosofi penelitian ini didasari oleh fenomenologis, yakni observasi fenomena-fenomena sosial masyarakat yang tercermin dalam karya sastra. Oleh karena itu, akan digunakan pendekatan kualitatif yang diartikan sebagai bukan penghitungan “angka” (Moleong, 1986: 2).
Secara metodologis, ada tiga tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini. Tahapan pertama pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan dengan mencari naskah-naskah satua Bali di berbagai pusat toko buku, perpustakaan, atau pun milik pribadi. Selain itu juga digunakan metode simak karena berkaitan dengan penggunaan bahasa teks. Penyadapan penggunaan bahasa terjadi karena teks satua berbahasa Bali yang bersifat naratif (Mahsun, 2005:
90-93). Metode ini juga dilengkapi dengan teknik klasifikasi, catat, dan terjemahan. Setelah diklasifikasi, sampel akan diukur dari kualitas cerita berdasarkan seperti seringnya dibicarakan dalam seminar/pertemuan ilmiah/penelitian atau sebagai objek penelitian.
3.2 Metode Analisis Data
Metode analisis data dilakukan dengan metode hermeneutik dan kualitatif. Metode hermeneutik dilakukan untuk menafsirkan atau menginterpretasikan teks satua yang telah disimak. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi kearifan-kearifan lokal teks satua sedangkan metode kualitatif digunakan karena bukan angka-angka atau perhitungan matematis.
Metode-metode ini dibantu dengan tekni deskriptif analitik, yakni mendeskripsikan data-data yang diperoleh secara rinci dan jelas (Ratna, 2011: 49).
3.3 Metode Penyajian Hasil Analisis
Hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal. Metode formal dengan menggunakan lambang-lambang tertentu sedangkan metode informal dengan menggunakan rangkaian kata-kata biasa. Metode ini dibantu dengan teknik berpikir deduktif dan induktif atau sebaliknya (Mahsun, 2005: 116).
12
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil
Satua (dongeng) Bali merupakan cerita pendek kolektif masyarakat Bali yang bersifat lisan. Peristiwa yang ada dalam cerita dianggap tidak benar-benar terjadi. Dananjaya (1994: 83) yang mengutip pendapat Stith Thompson membagi dongeng ke dalam empat klasifikasi mayor, yakni (1) dongeng binatang, (2) dongeng biasa, (3) lelucon dan anekdot, dan (4) dongeng berumus. Dongeng juga merupakan salah satu jenis folklor. Tiga jenis dongeng yang pertama (kecuali yang nomor empat) umum ada di Bali. Namun demikian, yang paling populer dan paling sering didongengkan adalah yang isinya dibungkus lelucon sebagai sarana hiburan, walaupun banyak juga yang berisikan atau melukiskan kebenaran, ajaran moral, atau bahkan sindiran.
Berdasarakan hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa satua-satua Bali jumlahnya tidak dapat ditentukan dengan pasti. Tidak hanya variannya yang sangat banyak, jenis atau judulnya pun yang sangat banyak. Salah satu contoh dapat dibandingkan antara satua Pan Bangsing teken I Belog. Dalam naskah no IVb/4071 dimulai dengan kalimat “Ada orah- orahan satua. Madan Pan Bangsing ajak I Belog. Anak mula ia makekantenan makekasihan Bapa Bangsing ajak I Belog. Nah sakewala I Belog anak tiwas matektekan. Ah ngandon ngelah apa-apa. Pan Bangsing ia anak sugih pesan, liu ngelah…..dst”. Berikut disajikan kutipan teks dari naskah no 1946 (naskah yang juga dikutip oleh Bagus, 1968). “Ada tuturan satua anak makekasihan ajaka dadua, madan Nang Bangsing teken I Belog. Kacrita I Belog anak ia sajaan buka adanne belog pesan tur tutut. Sedek dina anu lantas ajakina I Belog masang bubu teken Nang Bangsing. Nyak kone I Belog. Glising satua matakon I Belog teken Nang Bangsing. “Beli, beli, apa anggon baren bubu?...dst.
Dari perbandingan kutipan teks satua masing-masing enam kalimat di atas dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan teks, yakni dalam teks 4071 sudah digambarkan adanya perbedaan sosial ekonomi bahwa I Belog sosok miskin sedangkan Pan Bangsing orang kaya.
Tidak demikian halnya dalam naskah 1946 tidak ada deskripsi sosial ekonomi miskin-kaya di antara keduanya (Pan Bangsing dengan I Belog). Walaupun demikian, setelah ditelusuri lebih jauh, isi teks kedua naskah itu tidak tidak jauh berbeda. I Belog dalam kedua naskah akhirnya yang berhasil mendapatkan kebahagiaan.
13
Demikian juga halnya dengan satua I Bawang teken I Kesuna. Dalam naskah yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Buleleng (2011) berbeda dengan yang diterbitkan oleh Bagus (1968). Dalam naskah Pemkab Buleleng (2011) sebagai berikut.
“Ada tuuturan satua anak makurenan, ngelah kone pianak luh-luh duang diri. Pianakne ane kelihan madan Ni Bawang, ane cerikan madan Ni Kesuna. Akuren ngoyong kone di desa. Sawai- wai geginane tuah maburuh ka uma….dst”. Dalam naskah Bagus (1968) sebagai berikut. “Ada tuturan satua, Men Bawang ngelah kone pianak tetelu pada luh-luh. Ane paling keliha madan I Bawang, ne Nengahan madan I Kesuna, ne paling cerika madan I Cekuh….dst”. Kalau diperhatikan jelas sekali perbedaannya, di dalam teks Pemkab Buleleng (2011) I Bawang dan I Kesuna adalah dua bersaudara perempuan sedangkan dalam teks Bagus (1968) I Bawang dan Kesuna adalah tiga bersaudara perempuan. Walaupun demikian, kedua naskah/teks itu pada akhir cerita menunjukkan isi yang mirip.
Berdasarkan perbandingan dua judul satua di atas menunjukkan bahwa teks satua (lisan) tidaklah sama persis, di sana-sini menunjukkan perbedaan sebagai varian satua. Namun demikian esensinya tetap sama, ending atau akhir cerita tidaklah berbeda. Hal yang demikian ini tidaklah aneh dalam tradisi lisan justru hal seperti inilah yang sesungguhnya menunjukkan salah satu ciri lisan, yakni adanya pola-pola stereotipe. Teks lisan selalu berubah-ubah antara yang satu dengan lainnya. Hal sejenis juga terjadi dalam satua-satua fabel Bali yang tokoh-tokohnya binatang. Beberapa judul satua fabel dapat disebutkan seperti Satua I Kancil,I Lutung teken I Kekua, Katuturan I Empas, dan lain sebagainya. Kolaborasi tokoh manusia dengan binatang juga terdapat dalam satua-satua Bali seperti satua I Ketimun Mas, Men Tiwas teken Men Sugih, dan lain-lain.
4.2 Pembahasan 4.2.1 Struktur Tema
Salah satu satua Bali yang paling menonjol di masyarakat adalah tipe satua I Belog (Si Pandir) . Bagus (1971) membagi satua I Belog ke dalam dua tipologis, yakni (1) satua I Belog yang memang betul-betul karena bodoh, dan (2) satua I Belog karena cerdik (pura-pura bodoh) dengan tipu muslihatnya. Berikut disajikan contoh teks (1) satua I Belog (Si Pandir) dan (2).
14 I BELOG (1)
“Ada tuturan satua madan I Blog. I Belog ngalih anak luh, majinjin tekén méménné.
“Mémé, kénkén abet ngalih anak luh? Masaut méménné: “Kema anggurin abaang base buah!”
keto méménné. Ba kénto ngalih I Blog puhun basé, puhun buah abaña ñadang anaké luh. Ba kénto tepukiña anake luh di kayehan, pantegnga aji puhu base puhun buah kanti mati. Disubane abaña mulih kumahñené janga di dulun pedemané, dampingiña jantra tekén mincid ditu.
Gradag-grudug bikule nempuh jantra ngalih mincid. Ba kénto morahan ia tekén méméñené, “ Mémé, somahkuné bisa ñait ba”. Delokiña tekén méméñené somahñené, tekejut mémén I belogé ngajinang somah I beloge ba mati. “Blog, somah cai mati ba né, brak ba, kema ba kutang na!
Ambul asing brek ya mati. Ba kénto, kutanga somahñené tekén I Belog. Kadénña asing brek mati, binjepanenñené méménñené ngentut masih brek pesan. “Jani meme brek, meme jani mati”. Kutanga méménñene tekén I Blog. Bin jepanenñené ia lautné ngentut masih brek kahing, kutanga ibaña I Blog di batan pohe, medem ia ditu. Ulungan pohe makecit ka bungutñené. “E, poh, yen aku idup amah ku ko!” kénto I Blog ngomong. Teka reraman I Bloge. “ Cai nguda medem dini Blog? “Aku mati man”. “Ngawag-ngawag cai mati kéngkén sih, kema mulih!”.
Mulih lautné I Blog. Ba kénto, ba men satuané. (Sumber: Alih aksara Satua I Blog, Tigawasa 1 Koleksi Gedong Kirtya, naskah asli IIIb/4071).
Terjemahan (Bahasa Indonesia)
I BELOG (SI PANDIR) (1)
‘Ada sebuah cerita namanya I Belog (Si Pandir). I Belog akan mencari seorang istri, bertanya kepada ibunya: “Bu, bagaimana caranya mencari istri?” Lalu ibunya menjawab: “Ke sana dekati, bawakan sirih dan pinang!, demikian ibunya menjawannya. Setelah itu, berangkatlah I Belog mencari pohon pinang dan pohon sirih, pohon pinang itu dibawanya untuk mencegat perempuan yang dimaksud. Setelah itu dia melihat seorang perempuan di pemandian, lalu dipukullah perempuan itu dengan pohon pinang dan sirih itu sampai mati. Setelah perempuan itu meninggal, mayatnya lalu segera dibawa pulang. Setelah sampai di rumah, mayat perempuan itu lalu ditaruh di hulu tempat tidurnya, di sampingya diisi jantra (semacam alat yang bisa berputar) dan beras. (Oleh karena itu) segera dicari oleh tikus sehingga suaranya bising tikus itu mengelilingi jantra tersebut. Selanjutnya I Belog berkata kepada ibunya: “Bu, istriku sudah bisa menjarit”. Lalu dilihatlah istrinya oleh ibunya I Belog, terkejut ibunya setelah melihat istrinya I Belog sudah meninggal. “Hai, Belog, istrimu sudah mati, sudah membusuk, sana buang (kubur) segera, ya!. Segala sesuatu yang sudah busuk pasti sudah mati”. Setelah itu lalu istrinya dikubur oleh I Belog. Menurut pikirannya, segala sesuatu yang busuk pastilah mati, tidak lama kemudian
15
ibunya kentut dan baunya sangat busuk. “Bu, sekarang ibu baunya busuk, sekarang ibu mati”.
Segera ibunya dikubur oleh I Belog. Tidak lama setelah itu, I Belog kentut baunya juga sangat busuk, segera dia membuang dirinya di bawah pohon mangga, tidurlah dia di sana. Ketika buah mangga itu jatuh menimpa mulutnya dia berkata: “Hai kamu mangga, kalau aku mati sudah pasti aku akan makan kamu”, demikian dia berkata. Setelah itu, datanglah ayahnya dan berkata:
“Belog, kenapa kamu tidur di sini? Lalu jawabnya: “Ayah, saya sudah mati” “Sembarangan kamu bicara, mati bagaimana (maksudmu), sana pulang! Lalu pulanglah I Belog. Demikianlah cerita ini berakhir.
Satua I Belog (l) di atas jika disimak dengan baik adalah tipe satua I Belog yang memang benar-benar bodoh. Karena kebodohanya itu menyebabkan sesuatu dapat terjadi secara fatal. Apa yang diucapkan orang ditelan mentah-mentah tanpa melalui proses berpikir. Hanya karena perkataan ibunya bahwa bila menghirup bau busuk adalah mati maka semua yang berbau busuk dianggap sudah mati. Demikianlah peristiwanya, ketika ibunya kentut yang sangat bau maka dengan segera ibunya dibuang atau mati. Demikian pula dengan peristiwa dirinya ketika kentutnya bau segera menganggap dirinya telah mati. Dalam satua ini tokoh utama I Belog tidaklah sampai mati, sedikit berbeda dengan satua I Belog (2) berikut ini.
I BELOG (2)
“Ada tuturan satua madan I Belog, éménña bapaña lacur pesan-pesané, tara payu ñakan ya. Gagaéñané nanggap upah nebuk. Bapaña nanggap upah nampad. Kénto dangan baña ngalih amah, I belog malali dang ya.
Jani sedek dina anu, I Belog omongina kénang bapané, kéné ubaca nuturin, :”Belog, kénkén si ko tara pesan inget kénang gaé, apa bakal amah cai, bapa kéné lacur pesan, cai melah dangan. Da anaké kéto, awak lacur bikas lacur agén, da beña malali dang!”. Kénto bapané ngurahin I Belog. I Belog mendep dang ya.
Nah kacrita jani I Belog, uba tuturiña kénang bapané, keneh-kenah ya. Papineh anak belog tara amul apa. Uba ya makeneh, kéné urahanga keneh I Belogé. “Jani bakal ngalih gaé ba,bakal ngalih udang apa ka lebahé. Uba kénto, was lahuca I Belog ngalih udang tara ngaba apa, ngaba ibaña dang.
Kacrita teked ya di lebahé, ngalih udang aji ngogoin dang ya. Kacrita maan ya udang, ngomong udangé ané bakatanga totoña, kéné omongané: “Belog, da ja ko ngamatiang aku, yén ko tara ngamatiang aku,pidanan aku ingetanga olasmuné!”. Kénto orahanga udangé ngomong kénang I Belog. Uba kénto lébanga udangé kénang I Belog. Mulih man ya. Teked ya dumah murahan ya kénang bapané. “Bapa, nira was ngalih udang ba tuni, liu ba nira maan udang,
16
kuwala bin ba lébin nira”. Kénto omong I Belogé murahan kénang bapané. Uba ya murahan kénto kénang bapanné, galak urahanga bapa, : To kénkén té cai Belog, tara nawang apa, ba ko, ko was ngalih udang, uba maan udang lébangmu, aduh,uba mara yak o belog pesan, melah mati dang ko”. Kéntoanga I Belog kénang bapané. Mendep dang I Belog.
Kacrita bin maniné, bin I Belog was ngalih udang. Neked ya di lebahé, ngalih-ngalihin man udang. Maan lantas bé julit gedé pesané, uba bakatanga bé julité kénang I Belog, ngomong lahuta bé julite kénang I Belog, : “Belog, da ja ko ngamatiang aku. Yén ko ñak ngalébang aku, pidanan aku ingetanga olasmuné”. Kénto omong bé julité kén I Belog. Uba kénto lébiña bé julité kénang I Belog. Uba I Belog ngalébang bé julite, mulih man ya. Neked ya dumah, bin ya murahan kénang bapané, ngorahang ibaña maan bé julit, kuwala bin lébiña.Uba kénto bin ba I Belog galakiña kénang bapaña, ngendepang dang ba I Belog galakiña kénang bapaña.
Kacrita bin maniné, bin man ya was ngalih udang. Kacrita neked ya di lebahé ngenot- ngenotang ya udang di tibuané. Ada nipi ditu di sampan tibuané gedé pesané, kadéna bé julit nipiné to kénang I Belog. Maan udang lébanga, maan bé julit lébanga masih, ada nipi gedé jemaka, sampe mati ya ngemasin belogné.
Jani kacrita bapan I Belogé, uba sanja tara teka I belog, aliha I Belog ka tukadé ara tepukinña, bin aliha ngatebaang tepukina ada laad dangan, getih ada tepukinña, berurusan pada tepukiña totoña, tutuga berurusané, tepukiña ada nipi gedé pesané, bin gedé pesan basangné. Dadi keneh-keneh ba bapan I Beloge. Nipiné ténéña musti ngamah panakkuné. Kénto keneh bapan I Belogé. Uba kénto, ngalih man ya bangsing agéña negul nipiné totoña, uba mategul lipiné totoña, sanja gati ba mulih man ya.
Kacrita bin mani semenganné, ngalih man ya timpal ajakina ngamatiang lipiné totoña.
Maku man bapan I Belogé ajaka patpat, ngaba tumbak ya maku. Uba neked ya ditu,tumbakiña lantas nipiné totoña, mati lahuca lipiné totoña. Uba mati lipiné, tudaga basang nipiné, bakatanga I Belog di basang nipiné, ba mati ba bakatanga, tekaning maan ya soca di basang nipiné totoña. Uba kénto, abaña man mulih bangkén I Belogé. Uba neked dumah,liu peda pisaga-pisagaña nelokin maku. Uba kénto, kutanga man I Belog. Uba makutang I Belog, keneh- keneh bapan I Belogé, mapan ya man soca di basang nipiné, melah agén apa socané totoña tara ba tawanga, balih-balihina socané totoña. Tedun lantas mémén I Belogé. Dadi katedunané totoña, tara baanga meme bapané sedih, socané totoña silurné, dadi éméña bapaña ara baanga sedih, socane totoña tundéna ngidepang ya. Socané totoña manik totoña, melah agén nulungin anak ngalih anak luh. Kénto orahanga kénang priyatan I Belogé.
Yén ada anak ngalih totoña suha ñepuh maniké. Yén né to suha nginem kenéng anaké ngalih mesuh nulung anak sakit, yéhé to suha maang. Yén anak ngalih mesuh nulungin makarep, suha ngemem aji lengis totoña, suha maang anaké. Kénto urahina kinang periyatan I Belogé, urahanga bapané bakal payu ba jani. Uba kénto man ya tedun.
Kacrita jani uba urahiña kénto kinang periyatan I Belogé, ada jenenga solas dina nakeloné, ulih ento tara pegat-pegatan anak ngalih ubad maku, ada ngalih ubad anak sakit, ada mesuh nulungin ngalih karepan. Apa ulih totoña ngancan payu ba bapan I Belogé. Ba kénto, makelo-kelo sugih lahuca mémé bapan I Belogé.
17
Jani bin kacrita I Belog, uba makelo ya mati inget bapaña, mampan ya ba sugih ulihan I Belog ngranayang, makiré man ya kal ngabénang I Belog. Abéña lahuca I Belog, ngupah gong, ngupah angklung ya, upahanga periyatan I Beloge. Nah uba ngabén, ñugih-ñugihang dang bapan I Belogé. Uba kénto, ba man satuan I Belogé.(Sumber: koleksi Gedong Kirtya IIIb/3958)
Terjemahan dalam bahasa Indonesia
SI PANDIR (2)
“Ada cerita I Belog (Si Pandir) namanya, ayah ibunya sangat miskin, sama sekali tidak mempunyai makanan. Pekerjaannya hanyalah buruh menumbuk padi. Ayahnya buruh kebun mencabut rumput. Demikianlah mereka mencari pekerjaan sedangkan I Belog kerjaannya hanya bermain-main”
Suatu hari, I Belog disuruh oleh orang ayahnya, begini katanya: “Hai Belog, bagaimana sih kamu sama sekali tidak hirau dengan pekerjaan, nanti apa yang kamu makan? Ayah sangat miskin, kamu tenang-tenang saja. Janganlah begitu, orang miskin berperilakulah sebagaimana mestinya, kamu jangan hanya bermain-main saja!”
Diceritakan sekarang I Belog, setelah dinasihati oleh ayahnya, berpikirlah dia. Pikiran orang bodoh tidaklah seberapa. Setelah dia berpikir, begini pikirnya: “Sekarang waktunya untuk bekerja, akan mencari udang ke sungai”. Setelah itu berangkatlah I Belog mencari udang tanpa membawa peralatan, hanya tangan kosong.
Diceritakan setelah sampai di sungai, mencari udang hanya dengan tangan kosong.
Diceritakan dia dapat seekor udang, berkatalah udang yang dia dapatkan itu, begini katannya:
“Hai Belog, janganlah aku dibunuh, jika kamu tidak membunuh aku, suatu hari kelak aku akan membalas kebaikan hatimu! Demikian perkataan si udang kepada I Belog. Selanjutnya dilepaskanlah kembali udang itu, kemudian pulang. Sampai di rumah dia melapor kepada ayahnya, “Ayah, aku tadi mencari udang, banyak sekali aku dapat udang, tetapi aku lepaskan kembali”. Demikian kata I Belog kepada ayahnya, marahlah ayahnya, :”Aduh, bagaimanakah sih kamu Belog, tidak tahu apa-apa, kamu mencari udang dan sudah dapat kok kamu lepaskan kembali, dasar kamu bodoh sekali, lebih baik kamu mati saja”. Demikian I Belog dikata-katai oleh ayahnya. I Belog hanya terdiam.
Diceritakan keesokan harinya, I Belog kembali ke sungai mencari udang, setelah sampai di sungai, lalu mencari-cari udang. Dia dapat seekor ikan sidat yang besar, setelah ikan sidat itu ditangkap oleh I Belog, berkatalah ikan sidat itu kepada I Belog, “Hai Belog, jangan kamu membunuh aku. Jika kamu mau melepaskan aku kembali, kelak aku akan membalas kebaikan hatimu!. Demikian kata ikan sidat kepada I Belog. Setelah itu dilepaslah kembali ikan sidat itu.
Setelah meleaskan ikan sidat itu, I Belog lalu pulang. Sesampainya di rumah, I Belog kembali melapor kepada ayahnya mengatakan bahwa dirinya mendapat seekor ikan sidat tetapi kembali dilepaskan. Oleh sebab itu I Belog kembali dimarahi oleh ayahnya, I Belog tidak menyahut dimarahi oleh ayahnya.
Diceritakan keesokan harinya kembali I Belog pergi ke sungai mencari udang. Setelah sampai di sungai, dia mencari-cari udang di sebuah lubuk. Ada seekor ular besar di lubuk itu,
18
dikiranya ular itu ikan sidat oleh I Belog. Mendapat udang dilepas, dapat ikan sidat dilepas kembali, ada seekor ular besar ditangkapnya, menyabung nyawa sampai mati karena kebodohannya.
Sekarang diceritakan ayahnya I Belog, sampai sore belum juga kembali, dicarilah I Belog sampai ke sungai tetapi tidak ketemu, lalu dicari sampai ke hilir hanya ada jejak, ada darah dilihatnya, dilihatnya ada jejak dan itu diikutinya terus jejak itu, dilihatlah seekor ular besar dan perutnya sangat besar. Jadi berpikir-pikirlah ayah I Belog. “Pastilah ular ini yang memangsa anakku”. Demikian pikiran ayahnya I Belog. Setelah itu, dia mencari akar kayu untuk mengikat ular itu, setelah ular itu diikat lalu dia pulang, sore baru sampai di rumah.
Diceritakan besok paginya, lalu dia mencari teman untuk bersama-sama membunuh ular itu. Dapatlah empat orang ayahnya I Belog sambil membawa tombak. Setelah sampai di tujuan, ular itu ditombaknya sampai mati. Setelah ular itu mati, perut ular itu segera dirobek dan ditemukanlah I Belog di dalam perut ular itu dalam keadaan sudah mati dan ditemukan juga sebuah permata. Setelah itu mayat I Belog dibawa pulang dan warga pada berdatangan.
Selanjutnya I Belog dikubur itu kemudian ayahnya I Belog berpikir-pikir tentang permata yang didapatkan di dalam perut ular itu, diperhatikannya secara saksama. Kemudian kesurupanlah ibunya I Belog dan diisyaratkan ibu bapaknya tidak boleh bersedih, permata itulah sebagai gantinya. Permata itu berkhasiat untuk menolong orang terutama untuk mencarri istri. Demikian yang dikatakan oleh leluhurnya.
Jika ada orang yang membutuhkan cucilah permata itu kemudian suruh meminumnya.
Demikian juga bisa digunakan untuk menolong orang sakit, air cucian itu disuruh minum. Jika untuk menolong orang jatuh, suruh rendam dengan minyak. Demikian isyarat yang diberikan oleh roh leluhurnya I Belog, dikataannya akan segera kaya mendadak. Demikianlah isyarat/wangsit itu.
Sekarang diceritakan sudah sebelas hari setelah kedatangan roh leluhurnya I Belog, orang tiada henti-hentinya minta berobat, ada yang minta obat untuk orang sakit dan lain-lain. Berkat pengobatan itulah ayahnya I Belog semakin lama semakin kaya.
Sekarang kembali diceritakan, sudah sekian lama dengan kematian I Belog barulah ayahnya sadar, oleh karena sekarang sudah menjadi orang kaya dan itu atas berkah anaknya (I Belog), ayahnya berkeinginan untuk membuat upacara pengabenan. Lalu dibuatkanlah I Belog upacara pengabenan, menyewa pertunjukan gong, angklung untuk persembahan arwahnya I Belog. Setelah upacara ngaben, konon ayahnya I Belog semakin kaya. Demikianlag cerita I Belog.
Dongeng I Belog (2) di atas sedikit berbeda dengan (l). Dalam satua I Belog (2) juga karena kebodohannya akhirnya menemui kegagalan. I Belog sangat percaya dengan omongan orang lain yang akhirnya merugikan dirinya sendiri, bahkan pada akhir cerita menemui ajalnya karena dimangsa ular besar. Bagi orang tuanya, sebodoh apa pun anaknya dia tetaplah anaknya
19
yang harus disayangi. Oleh karena itu, kehilangannya I Belog terus ditelusuri sampai akhirnya ditemukan dalam perut ular. Kematian I Belog dan kecintaan ayahnya pada anaknya itu tidaklah sia-sia, bahkan sebaliknya yakni membawa kebahagiaan. Kematian I Belog diupacarai secara baik, diberikan penghormatan terkahir sebagaimana layaknya. Beberapa judul satua tipe ini seringkali dengan judul I Belog, namun ada juga yang tidak memakai I Belog seperti satua Nang Bangsing teken I Belog, satua Pan Belog, Nyoman Jater, Men Muntig.
I CELEMPUNG(3)
Wénten tuturan satua, mawasta ICelempung. Jadma kalintang lacur punika, maroban ipun sareng kakalih, kurenan ipuné. Sapunika mangkin, kacrita mangkin i kliang banjar nuduk patus, ipun jagi ngabén. Réh asapunika, dados karauhan arahan punika I Celempung. Arah- arahan punika “nah beli Celempung, beli apanga tedun dinané buin mani di banjar, réh banjaré ngantiang nuduk patus”.
Dinané bénjangné raris tedun banjaré sami rauhing I Celempung. Deriki raris matakén i kliang banjar. “nah cai Celempung, réh beli jani makiré ngabén, cai apanga pesu patus duang tali pis bolong, apanga cai ngaba buin telun pipisé ento. Yen tuara cai ngaba pipis dinané ento, cai bakal matundung uli désane dini, tur kasuudang mabanjar”. Inggih sasampuné asapunika baosané, éling I Celempung ring déwekné lacur. Kobet raris ipun, raris mamana-manah. Antuk kalacurané I Celempung, dados mabaos-baosan mangkin sareng kurenané. “nah Men Bongkéngé, kénkén abéte jani makenehan, wiréh banjaré nuduk patus néné buin telun. Yén banya mabudi nyilih, tusing kagugu. Budi mamaling tuara bani.”. méweh sampun manahne, nénten ja wénten sané nyidayang ngamedalang jinah, medal raris ipun akal “béh ngudiang ja kéto”. Sapunika mabaos ring kurenanné. “ngelah sé kuluk aukud, ento bakal gadéang tekén i kliang banjar”. Raris rauh sampun dinané jagi ipun naur djinah ring banjar. Pinah tengai durung ipun rauh, pinah sué ipun sampun i kliang banjar ngantos.
Kacrita I Celempung polih mangkuhan wantah satus bidang jinah bolong. Punika raris kaakalang jinahé sané satus, kakemkem dados ring bungutné, tur nganté asu raris, kadandan ka bakta ka banjar. Sarauhe ring banjar, raris katakénin antuk i kliang banjar “nah cai Celempung, to kénkén dadi cai mara tedun, pinah suba makelo nyama-nyamané nganti, cai dogén paling sidori teka”. Raris masaut I Celempung “béh, napi beli, tiang maangkuhan
20
mawinan sué, santukan bas lacur tiangé. Nyelang jinah ten ja polih”. Wawu asapunika masaut raris i kliang “o, to cai jani dadi kosing ngaba pipis tedun caine”. “inggih, nénten tiang makta pipis”. Sapunika I Celempung. “cendetne beli malu ngugunin awak tiangé”. “ento beli tundén cai mesuang pipis, apa gegaén caoné?”. Sapunika i kliang. “niki té kuluk tiangé anak midep ngamedalang pipis. Sangkal bani tiang maang beli ngisi kuluk tiangé, wiréh beli anak sugih, mabe-bean sai-sai, dadi begeh pesu pipisé uli di bungutné, yéning beli sai-sai ngmaang ja nasi misi bé”. Masaur raris i kliang “nah tegarang cai nundén ia apanga mesuanag pipis uli bungutné”. “kéné beli”. Sapunika I Celempung, “reh kuluk tiangé uli bau tedun sing ja nyadég, mangkin abedik ipun midep ngamedalang jinah. Ten ja lebihan tekén satus bolong pesu”. “nah, api kéto, yén suba macihna dogén, beli nyak ngugonin cai duang tali pipis”. Asapunika i kliang banjar. Sampun asapunika, mangkin raris ikliang banjar ngaukin, ping kalih ngaturin gusti- gustiné apanga nampekin I Celempung. Sasampuné sami paek, raris sedota jit asuné antuk I Celempung, bek raris bungutné I Celempung madaging jinah, raris kautahang antuk I Celempung. Sasampuné kapanggih antuk i kliang banjar, raris kendel ipun, tur nyak ipun ngugu punika aji kalih tali jinah. Sampun sapunika kabecik-becikang asuné I Celempung ngubuhin, sarahina wéhin nasi madaging ulam makéh-makéh.
Kacrita mangkin sampun malih kalih rahina jagi ngabén i kliang banjar, raris mapajar ipun ring I Celempung “nah Celempung, buin mani inetang cai ngaba timpas ka banjar réh lakar ngébat”. Bénjang semengan semengan wusan maolah-olahan raris kategakang sami.
Bénjangné malih tedun jagi nyuryakang wadah.
Kacrita gelising puput sampun karyané i kliang banjar ngabén. Réh ipun madué utang makéh, mamanah ipun jagi naur utang. Éling ipun ring kulukné I Celempung sane ngamedalag jinah. “ngudiang ja kéweh, jakanang malu kuluké, apang liunan mesuang pipis.”. asapunika manah ipune. Raris kajakanang tur kawéhin daar asuné punika. Mangkin tedunanga panyamaané sami, réh ipun polih ngadé kuluk midep ngamedalang jinah, mangda sami uning.
“nah cai nyama braya makejang, jani pabalih apang cai nawang kuluk ané mautama, ané nyidaang mesuang pipis”. Dados akéh rauh panyamaané jagi nonton punika. Sasampuné sami tragia jagi mabalih, raris sahasa punika i kliang banjar nyanggem jit kulukné I Celempung, tur kakerasang raris nyedot jit kulukné, jantos lengkék basang kuluké kuing-kuing, malih kabangetang antuk i kliang banjar nyedot, raris bek bungut ipuné madaging bacin asuné. Raris kasuak antuk antuk timpal ipuné, irika raris jengah, réh kasuak antuk timpal ipuné, sahasa raris
21
antuk renget manah ipuné, kapantigang raris asuné punika jantos mati. Sasampuné padem asu punika, mangkin ka jumahné I Celempung raris ipun i kliang banjar malungguhang. “nah, cai Celempung, ulihang pipis beliné, réh cai nguluk-nguluk, ngorahang kuluk cainé pesu pipis.
Mara sedot beli bek bungut beliné misi tai”. Reh I Celempung uning ring asuné padem, raris ipun masaur “nah yén asapunika, nunas mangkin kuluk tiangé, tiang jagi nyedot mangda medal jinah, tiang ngulihang jinah beliné”. “Bah kadung suba matiang beli kuluk cainé”. Sapunika kelihané. “reh beli ngamatiang kuluk tiangé, pipis beliné ten ulihang tiang, sira mangkin tagihin tiang pipis, raris matiang beli”. “nah, réh cai tusing nyak ngulihang pipis beliné, anggon pang melah-melah”. Sapunika i kliang. “nah, api beli apang melah-melah masih ngamatiang kuluk tiangé”. (sumber: Satua-Satua sane Banjol ring Kasusastran Bali, l97l).
Terjemahan dalam bahasa Indonesia
I CELEMPUNG(3)
Ada sebuah cerita, namanya I Celempung. Orangnya sangat miskin, dalam keluarga yang hanya dua orang bersama dengan istrinya. Demikian keadaannya, sekarang diceritakan tetua banjar untuk memungut iuran untuk upacara ngaben. Oleh sebab itu, sampailah berita itu kepada I Celempung. Adapun pengumuman itu begini: “Kakanda Celempung, kakanda besok harus pergi ke balai banjar, oleh karena setiap anggota banjar membayar iuran!”.
Keesokan harinya lalu warga banjar pada berdatangan termasuk I Celempung. Kemudian tetua banjar itu berkata: “Hai Celempung, olah karena sekarang saya akan melaksanakan upcara ngaben,kamu harus membayar iuran uang kepeng sebanyak dua ribu. Jika kamu tidak membawa uang, kamu akan diusir dari desa inidan diberhentikan dari anggota banjar!” Setelah mendengar pengumuman itu, menyadari dirinya I Celempung akan kemiskinannya. Pikirannya menjadi kalut lalu berpikir-pikir.
Menyadari kemiskinannya, I Celempung berdiskuai dengan istrinya. “Hai Men Bongkeng, sekarang bagaimana caranya. Oleh karena tiga hari lagi semua anggota banjar sekarang membayar iuran. Kalau kita minjam, kita tidak dipercaya. Kalau mencuri juga tidak berani”. Kacaulah pikirannya I Celempung, tidak akan mampu membayar uang, lalu keluar akanya: “Wah kok begitu”. Demikian dia berkata kepada istrinya. ”Kita hanya punya seekor anjing, itu yang akan digaikan kepada tetua banjar”. Selanjutnya tibalah saatnya untuk membayar iuran itu. Sampai tengah hari dia (I Celempung) belum juga datang, sudah lama tetua
22
banjar itu menunggu. Diceritakan usaha I Celempung hanya dapat seratus uang kepeng. Lalu uang seratus kepeng itu diakalinya, ditaruh di dalam mulutnya, sedangkan anjingnya diikat dibawa ke balai banjar. Sesampainya dibalai banjar, lalu ditanyai oleh tetua banjar. “Hai Celempung, mengapa baru datang, sudah lama sekali kita menunggumu, hanya kamu saja yang datang paling akhir?” Lalu I Celempung menjawab, “ Wah kakanda, saya berusaha minjam sana-sini sehingga telat oleh karena kemiskinan saya. Tidak dapat mijam uang” Mendengar jawaban itu lalu tetua banjar berkata, “O, sekarang kamu ke sini tidak membawa uang”. “Ya betul saya tidak membawa uang. Pendek kata, kakanda harus percaya kepada saya”. Demikian kata I Celempung. “Kakanda suruh kamu membayarinya, apa saja kerjaannmu?”. Demikian kata tetua banjar. “Anjing saya ini dapat mengeluarkan uang. Itulah sebabnya saya berani menjaminkan anjing saya ini, karena kakanda orang kaya, setiap hari makan daging,sehingga bisa banyak mengeluarkan uang jika setiap hari kakanda memberi dia makan dengan daging”.
Tetua banjar lalu menjawab: “Ya, sekarang kamu coba suruh dia mengeluarkan uang dari mulutnya”. “Begini caranya kakanda”. Demikian kata I Celempung, “Oleh karena anjing saya dari tiga hari lalu belum makan, pastilah sedikit dia bisa mengeluarkan uang”. “Tidak akan lebih dari seratus kepeng”. “Ya, walaupun demikian, jika sudah ada buktinya, kakanda percaya dan berani membayar dua ribu kepeng”. Demikian kata tetua banjar. Setelah itu, tetua banjar memanggil semua anggota banjar supaya mendekat pada I Celempung. Sesudah semuanya mendekat, lalu disedotlah pantat anjingnya itu oleh I Celempung, mulut I Celempung penuh dengan uang kemudian dimuntahkan. Setelah dilihat oleh tetua banjar, senanglah hatinya dan mau member jaminan sebanyak dua ribu kepeng. Setelah itu, anjing I Celempung dipelihara dengan baik, setiap hari diberi nasi berisi daging yang banyak.
Diceritakan dua hari kemudian saatnya upacara pengabenan tetua banjar, lalu berkata kepada I Celempung, “Hai Celempung, ingatlah besok kamu harus membawa pisau ke balai banjar karena akan ada pesta”. Esok harinya pagi-pagi setelah selesai masak semuanya makan- makan. Besok juga harus datang untuk menggotong usungan.
Singkat cerita sudah selesai upacara pengabenan tetua banjar. Oleh karena mempunyai banyak utang, dia hendak membayar semua utang-utangnya. Lalu ingatlah dia dengan anjingnya I Celempung yang bisa mengeluarkan uang. “Kok susah-susah amat, masak dulu untuk makanan anjing, agar banyak mengeluarkan uang”. Lalu dibuatkan makanan dan diberikan makan anjing
23
itu. Sekarang semua keluarganya diberitahu bahwa dia mempunyai anjing yang dapat mengeluarkan uang, agar semuanya tahu. “Hai sanak saudaraku semuanya,sekarang lihat agar diketahui seekor anjing yang luar biasa, yang dapat mengeluarkan uang”. Sehingga banyaklah sanak saudaranya berdatangan untuk melihat anjing itu. Setelah semuanya siap, segera tetua banjar itu menempelkan mulutnya di pantat anjingnya I Celempung, disedotnya dengan kuat pantat anjing itu, sampai mengkerut perut anjing itu dan berbunyi, sekali lagi disedotnya lebih kuat sehingga mulut tetua banjar itu penuh dengan kotoran anjing. Lalu diteriaki oleh hadirin semuanya, sangat malu oleh karena diteriaki oleh saudara semuanya, oleh karena marahnya sampai ke ubun-ubun, anjing itu lalu dibanting sampai mati. Setelah anjing itu mati, sekarang tetua adat itu pergi ke rumah I Celempung lalu tetua adat itu berkata: “Hai Celempung, kembalikan uangku, karena kamu menipu, mengatakan anjingmu dapat mengeluarkan uang”.
Ketika saya sedot pantat anjing itu mulutku penuh dengan kotoran”. Oleh karena I Celempung tahu anjingnya telah mati, lalu dia manawab: “Baiklah jika demikian, kembalikan anjing saya, akan saya sedot pantatnya untuk mengeluarkan uangnya, akan saya kembalikan uangmu!”.
Demikian kata I Celempung kepada tetua banjar itu.
“Oleh karena kakak telah membunuh anjing saya, uangmu tidak saya kembalikan, sekarang siapa yang akan mintai uang, (anjingnya) terlanjur kakak bunuh”. “Baiklah, karena kamu tidak mau mengembalikan uangku, gunakan uang itu dengan baik”. Demikian kata tetua banjar itu.
“Baiklah, walaupun demikian, kakak juga harus baik-baik telah membunuh anjing saya”.
Satua I Celempung (3) di atas juga bertemakan belog atau bodoh/pandir. Namun, tidak demikian bodohnya dengan satua (l) dan (2). Dalam Belog (3) karakter bodoh I Celempung bukanlah bodoh sebanarnya. I Celempung sebanarnya adalah tokoh cerdik namun pura-pura bodoh, atau membodohi orang lain. Beberapa contoh satua mirip ini seperti Pan Balang Tamak, I Belog Mantu, Pan Angklung Gadang, Balu Kawanan dan Balu Kanginan. Model kecerdikan seperti satua (3) ini dilakukan dengan tipu muslihat bahkan menjurus licik demi keuntungan diri- sendiri. Alasan yang diajukan bermacam-macam, mulai dari ketidakmampuan ekonomi, kekurangan fisik, atau yang lainnya. Khusus untuk satua (3) di atas alasannya karena kekurangmampuan ekonomi.
24
NANG PENDOR (4)
Ada tururan satua madan Nang Pendor. Nang Pendor anak mula lengit pesan. Nang Pendor tuara taen nyak ngudiang-ngudiang. Geginane tuah nagih madaar dogen. Nang Pendor sai-sai ngulgul Men Pendor magarapan. Nang Pendor morahan teken Men Pendor. “Memene enggalang ja ngalesung apang enggal lebeng nasine”. Masaut lantas men pendor. “Suba”
Tuturang jani, mara Men Pendor mulang lu telung kelesungan, Nang Pendor buin matakon. “Suba lebeng nasine memene?” “Dong mara icang ngalesung masi nakonang nasi lebeng. Yen suba ngendihang api di paon mara mada anak nyakan”. “Beh, ne anak mulang lu kaden anak nyakan” “magedi ja malu ...magedi ...., ngentuk-ngentukin dogen di lesunge”
Gelisang satua, ceritayang jani nuju rahinan. Rahinan galungan. Nang Pendor matakon teken Men Pendor.”Memene, suba ngae jaja? “Beh, sing kodag ban perahne Nang Pendor.
Suba nasi buin jaja”. “Beneh, icang anak dot pesan teken jaja”. “Pragat ngorahang dewek enduk-enduk. Enduk-enduk sakewala kuat pesan madaar”. “Kaling ke tuara dadi madaar, meh icang gelem” “Yen kene solah caine, sing kodag baan icang ngayahin cai’. “Yen sing kodag, kema ja nyai magedi uli dini”
“Nah jani suba icang lakar magedi”
“Da nyai liunan munyi, kema nyai magedi.... magedi”
Dadi gedeg pesan basangne Men Pendor. Baan Nang Pendor tuara nyak ngudiang- ngudiang. Pragat ngitungang madaar. Sabilang nuju rahinan, Men Pendor buung-buungan mabanten. Mara nguskus apem saget apeme telahanga. Ngae jaja malu-malu suba telah daar.
Apa buin yen ngae tape.
“Sing kodag baan icang ngayahin cai. Jani lakar magedi”
“Nah, kema magedi.... magedi”
Men Pendor lantas mempen prabot-prabotne. Apa ja, dadaaran ane nu masisa, tape, apem, jaja, makejang pempena wadahina bodag. Nang Pendor pules malingkuh sambilanga makeneh-keneh. Ditu lantas Nang Pendor ngeka daya sambilanga ngamikmik.
“Peh, ne nguda makejang abana. Jaja, tumpeng, ketipat... paling melah jani pempen dogen suba awake di bodage, masi awak bawak”
Ditu lantas Nang Pendor malingkuh di tengah bodage, tur ia tekepina. Makire magedi Men Pendor mageluran, ngaukin Nang Pendor
25
“suba pules cai Nang Pendor? Nang Pendor tuara masaut-masaut. “Rasain iban caine jani Nang Pendor. Amone baatne lakar angsohang ngaba pang magedi dogen uli dini” . Keto munyinne Men Pendor. Nang Pendor suba malingkuh di tengah bodage ane suuna teken Men Pendor ento.
Awanan bes liu baana naar tape, neked di jalan di tengah alase, Nang Pendor lantas ngenceh di tengah bodage.
“Bah, ne madun tapene jenenga kaantos masem” keto kenehne Men Pendor. Bodage ento nu masi suuna sambilanga ngamikmik
“Mi... ne nguda pait-pait pakeh madun tapene?. Masaut lantas Nang Pendor uli di tengah bodage ento.
“Icang ngenceh”
“Wih cicing cai” lantas entunganga bodage ane suuna teken Men Pendor ento.
“Aduh.... adi entungang nyai icang”
“Ih, beler cai, dadi ditu cai mamelud?”
Gelisang satua, saget makesiab ajaka dadua baan ningehang munyin endeh. Ditu lantas ada raksasa teka. Men Pendor masambatan saha kisi-kisi teken Nang Pendor.
‘Wih Nang Pendor, apa ento? Di tengah alase ene. Yen orahang jelema, to nguda munyine buka keto? Nang Pendor mai enggalang menek ka punyan kayune”. Makadadua lantas menek ka punyan kayune
“Mendep, endepang deweke. Apang tusing iraga amaha” keto munyine Men Pendor.
“Raksasane ento lantas ngrujak di batan punyan kayune ento. Ngrujak manas. Abian manas raksasane ento linggah pesan.
“Aeng dote teken rujak. Paling melah bareng ja jani kema ngrujak”. Keto munyine Nang Pendor. Paling bedik ada seket bungkul raksasane ento ngempug manas. Bon basan rujak raksasane ento malipukan, jaen pesan.
“Men Pendor, idihang ja bedik” keto munyine Nang Pendor
“Mendep ja ...mendep. apa idih. Orahang mendep, dong ja endepangan dewekne”
“Aduh...., idihang ja abedik dogen”
“Pih, cicinge nenenan, sing dadi orahin mendep”
Nang Pendor lantas tuludanga teken Men Pendor. Rujak raksasane ento lantas tepena teken Nang Pendor. Rujak raksasane ento sambrag, mauyag. Baan tengkejutne, raksasane ento
26
niwang tur lantasan mati. Nang Pendor bangun negtegang bayu sambilanga ngusap-ngusapin matane ane kena basan rujak.
“Aduh ngaap matane. Tundun lih” disubane ilang ngaap matane, nang pendor lantas ngaukin Men Pendor
“Men Pendor dong mai tuuang deweke. Mai ja ajaka ngrujak”
“Apa rujak? Rujak ane sambeh ento? Amah ento padidi” kanggoang pilih-pilihin ane nu misi basa”
“Ento raksasane nguda nyelepeteg?”
“Bahsaja. Mati jenenga”
“Tuara takut jenenga cicinge nenenan?
“Ah... to nguda anak mati takutin?
Suba keto Men Pendor tuun uli punyan kayune. Cunguh teken matan raksasane ento culik-culika. Raksasane ento sajaan mati.
“Beh, Nang Pendor.... Nang Pendor”
“Apa?”
“Lan ja alihin-alihin kasugihan raksasane ento”
“Dija lakar alihin?”
“Di goane ento celepin”
“Sing nu panakne nyen? Nyen kene aengne?”
“Sing. Ia anak padidiana”
“Men pendor lantas macelep di goan raksasane ento. Dong dewa ratu abaatan suun kone ia maan emas-emasan.
“Jani.... Nang Pendor jalan ja mulih. Sakereng-kereng suba jani ngamah. Sua ada jani anggon.
To ne emas-emasan sesocan, kamben-kambenan sepala liunne”
“Kenkenang jani ngaba?”
“Bodage wadahin”
“Lad tai. Lad enceh pejunina teken Nang Pendor”
“Nah umbah...umbah.”
Nah critayang jani Men Pendor teken Nang Pendor mulih uli di alase. Sasubane neked jumah, pisagane makejang pada angob, mapan anak lad tiwas dadi sugih. Ditu lantas pisagane pada matakon.
27
“Ne nguda Nang Pendor seh-seh sumeleh? Masaut lantas Nang Pendor
“Icang ngajak Men Pendor maan ngamatiang raksasa”
“Pi.. bani ngamatiang raksasa?
“Sajaan, aji ngelubang awak icang maan ngamatiang raksasa di tengah alase”
“Bah, yan keto baang ja icang ngidih kamben abesik”
“Ah, tusing baang. Nang kema tegarang memene idihin”
Nah gelisin carita, critaang Nang Pendor teken Men Pendor suba sugih jani tur suba ngelah pianak aukud madan I Pendor.
Nah amonto malu, satua Nang Pendor ane bawak suba pragat.
(Sumber: Cerita Rakyat Daerah Bali Desa Bulian dan Desa Selat, Dinas Kebudayaan Provinsi Ddati I Bali tahun l988, l55-59)
Terjemahan dalam bahasa Indonesia
NANG PENDOR (4)
Ada sebuah cerita Nang Pendor namanya. Nang Pendor orangnya pemalas, tidak mau bekerja. Kerjaannya setiap hari hanya makan saja. Nang Pendor setiap hari hanya mengganggu istrinya yang sedang bekerja. Nang Pendor berkata kepada istrinya, Men Pendor. “Istriku, segeralah menumbuk (padi) biar cepat bisa ditanak!”. Istrinya menjawab: “Sudah”.
Sekarang diceritakan Men Pendor, istrinya, kali pukulan alu baru tiga kali, Nang Pendor kembali berkata, “Sudah matang nasinya, istriku?” “Wah, baru saja menumbuk sudah bertanya apakah nasi sudah matang. Kalau sudah menyalakan api barulah namanya menanak” “Wah, ini suara menumbuk dikira sudah masak” “Pergi sana … pergi…mengganggu saja orang bekerja!”
Singkat cerita, dikisahkan sekarang hari raya, Galungan. Nang Pendor bertanya kepada istrinya.
“Istriku, sudah buat jajan?” “Wah, keterlaluan perilakumu suamiku. Nasi sudah, sekarang jajan”. “Betul, aku ingin sekali makan jajan”. “Katamu selalu bilang tidak kuat, mandor kawat kerja kendor makan kuat”. “Kalau tidak makan pasti saya sakit” “ Jika begini perangaimu, saya tidak kuat melayanimu”. “Kalau tidak suka, sana kamu pergi dari sini”
“ya, baiklah saya akan pergi dari sini”
“Jangan banyak omong, sana kamu pergi…pergi…”
28
Jadi, marahlah Men Pendor, istrinya. Oleh karena Nang Pendor, suaminya, tidak mau bekerja. Kerjanya hanya makan. Setiap hari raya, Men Pendor sampai harus tidak menghaturkan sesajen. Mengukus apem baru matang sudah habis dimakannya. Membuat jajan duluan sudah dihabiskannya. Apalagi kalau membuat tape.
“Aku tidak tahan melayani kamu. Sekarang aku akan pergi”
“Ya, sana pergi…pergi….”
Men Pendor lalu memasukkan perabotan yang akan dibawanya. Apa sajalah, makanan yang masih tersisa, tape, apem, jajan, semuanya dimasukkan ke dalam bakul besar. Nang Pendor tidur membungkuk sambil berpikir-pikir. Kemudian muncul muslihatnya sambil berkata dalam hati. “Aduh, kok semua dibawanya. Jajan, tumpeng, ketupat….sekarang lebih baik aku masuk saja ke dalam bakul ini, toh juga aku pendek”.
Di sana lalu Nang Pendor tidur membungkuk di dalam bakul, dan ditutupi. Menjelang pergi, Men Pendor berkata memanggil Nang Pendor.
“Nang Pendor, kamu sudah tidur? Nang Pendor tidak menjawab. “Rasakan kamu sekarang.
Walaupun berat, akan aku usahakan membawanya biar bisa pergi dari sini”. Demikian kata Men Pendor. Nang Pendor sudah tidur di dalam bakul besar yang dijunjung oleh Men Pendor.
Karena terlalu banyak makan tape setelah sampai di tengah hutan Nang Pendor kemudian kencing di dalam bakul itu.
“Wah, rupanya ini gula tape yang keluar sampai ada asamnya” Demikian pikirnya Men Pendor.
Bakul besar itu masih dijunjungnya sambil bergumam.
“Lo, kok rasanya pahit campur asam tapenya? Lalu Nang Pendor berkata dari dalam bakul itu.
“Saya kencing”
“wah, dasar anjing kamu” lalu bakul itu dilemparkannya oleh Men Pendor
“Aduh, kok aku kamu lemparkan?
“Wah, kamu bangsat, kenapa kamu tidur di situ?
Singkat cerita, kedua kaget mendengar suara bising. Dilihatnya ada dua raksasa mendekatinya. Men Pendor berkata-kata sambil berbisik-bisik kepada Nang Pendor.
“Aduh, Nang Pendor apa itu? Di dalam hutan seperti ini. Jika dibilang orang bukan, kenapa suaranya besar begitu? Nang Pendor, ayo segera naik ke pohon”. Keduanya lalu naik ke atas pohon.
“Diamlah, diam. Agar kita tidak dimakannya” Demikian kata Men Pendor
29
Raksasa itu lalu makan rujak di bawah pohon itu, makan rujak nenas. Kebun nenas milik raksasa itu luas sekali.
“Aduh, aku ingin sekali makan rujak. Lebih baik aku ke sana ikut makan rujak”. Demikian kata Nang Pendor. Sedikitnya ada lima puluh biji raksasa itu makan nenas. Bau bumbu rujak raksasa itu enak sekali menggoda hati.
“Istriku Men Pendor, tolong minta rujak sedikit saja!”
“Diamlah..diam, apa yang mau diminta. Disuruh diam, diamlah!”
“Aduh, mintakan sedikit saja!”
“Aduh, dasar anjing, disuruh diam tidak mau!”.
Nang Pendor lalu didorong oleh istrinya, Men Pendor. Nang Pendor jatuh menimpa rujak raksasa itu membuat rujak raksasa itu berantakan. Oleh karena terkejut, raksasa itu pingsan kemudian mati. Nang Pendor kemudian berdiri sambil mengumpulkan tenaganya seraya mengusap-ngusap matanya yang terkena bumbu rujak.
“Aduh, mataku perih, punggungku juga keseleo”. Setelah perih matanya hilang lalu memanggil Men Pendor.
“Istriku, Men Pendor, turun ke sini. Sini makan rujak!”
“Apa? Rujak yang berantakan itu? Makan sendiri” “Boleh dipilih yang bagus-bagus”
“Para raksasa itu kenapa pingsan?”
“Wah benar, sepertinya sudah mati”
“Rupanya tidak orang ini (Nang Pendor)”
“Ah, mengapa orang mati ditakukan?”
Setelah itu Men Pendor turun dari atas pohon. Hidung dan mata raksasa itu diperiksanya.
Para raksasa itu sudah mati.
“Wah, suamiku Nang Pendor”
“Apa?”
“Ayo kita cari kekayaan para raksasa itu!”
“Dicari dimana?”
“Cari di dalam gua itu”
“Siapa tahu masih ada anaknya? Begini menakutkan wajahnya”
“Tidak. Ia hanya sendirian”