• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian dan pengembangan (Research and Development) merupakan jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini. Penelitian pengembangan bertujuan untuk meneliti dan mengembangkan suatu produk atau desain tertentu (Borg and Gall, 1983). Produk yang dikembangkan dalam penelitian pengembangan dapat berupa produk pada obyek material maupun proses seperti prosedur pelaksanaan pembelajaran, prosedur pemberian assessment yang efektif maupun prosedur pemberian reward dan punishment yang efektif (Borg and Gall, 1983). Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan dapat berupa produk yang sama sekali baru ditemukan, produk hasil penggabungan produk yang ada maupun produk hasil modifikasi dari suatu produk yang telah ada.

Produk yang dikembangkan pada penelitian ini adalah model pembelajaran Science Technology Ecocultural Society (STEcS) yang terdiri dari: buku model penerapan Science Technology Ecocultural Society (STEcS); Bahan ajar yang sesuai dengan model STEcS; perangkat pembelajaran yang terdiri dari: LKS, RPP dan RPS; Video sebagai contoh pembelajaran yang menggunakan model STEcS serta publikasi ilmiah.

Penelitian dan pengembangan menurut Borg & Gall (1983) terdiri dari 10 langkah: 1.

Research information collecting/Pengumpulan informasi. Pengumpulan informasi ini merupakan langkah yang terdiri dari tinjauan literatur, observasi dan wawancara, serta penelitian pendahuluan untuk menganalisis permasalahan di lapangan dan analisis kebutuhan. 2. Planning/Merencanakan.

Pada tahapan ini dilakukan perencanaan model yang dikembangkan dengan cara mengkaji model- model yang sesuai dengan karakteristik materi. 3. Mengembangkan bentuk awal produk. Pada tahap ini mempersiapkan materi pembelajaran dan perangkat pembelajaran termasuk alat evaluasi.

4. Uji lapangan terbatas. Tahap uji lapangan awal dilakukan pada 1 sampai 3 kelas/sekolah, menggunakan 6-12 subyek pengambilan data uji lapangan dilakukan dengan wawancara, data observasi dan kuisioner. 5. Revisi Produk utama. Tahapan ini dilakukan revisi sesuai dengan tahapan uji lapangan utama. 6. Uji lapangan Utama/Skala Luas. Pada tahapan ini dilakukan dengan

commit to user

(2)

30 sampai 100 subyek. 7. Revisi produk operational. Revisi produk ini sesuai dengan saran pada uji lapangan utama. 8. Uji lapangan operational. Pada tahapan ini dilakukan pada subjek sebanyak 40-100 subyek. 9. Revisi Produk akahir. Tahapan revisi produk akhir ini dilakukan sesuai dengan saran dari uji lapangan operation. 10. Diseminasi dan implementasi. Tahapan ini dilakukan laporan dan publikasi baik melalui jurnal, prosiding konferensi internasional, buku maupun sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

B. Prosedur Pengembangan

Prosedur penelitian dan pengembangan model mengacu pada Borg and Gall (1983).

Tahapan penelitian dan pengembangan tersebut dikelompokkan dalam 4 kelompok tahapan utama yaitu: 1) Studi pendahuluan yang terdiri dari penelitian awal, analisis kebutuhan, dan kajian literatur. 2) Tahap pengembangan produk. 3) Pengujian produk model. 4) Desiminasi dan implementasi (Budiyono, 2017). Bagan alur penelitian disajikan pada Gambar 3.1

(3)

Gambar 3. 1 Bagan Alur Penelitian Pengembangan PENGUJIAN MODEL

STUDI PENDAHULUAN

PENGEMBANGAN PRODUK

DESIMINASI DAN IMPLEMENTASI

Penelitian awal Analisis Kebutuhan

Studi Literatur Perencanaan

Prototipe

Uji coba Perorangan Uji coba skala Terbatas

Uji coba skala luas

Uji model STEcS

Diseminasi & Implentasi

Revisi

Revisi

Direvisi

Direvisi

Revisi

Direvisi Revisi

Direvisi

Tidak Ya

Tidak

Tidak

Ya

commit to user

(4)

Penjelasan singkat mengenai Gambar 3.1 Bagan alur proses penelitian pengembangan adalah sebagai berikut:

1. Penelitian Pendahuluan

Penelitian pendahuluan bertujuan mengkaji informasi permasalahan yang ada di lapangan.

Penelitian pendahuluan terdiri dari 3 tahapan yaitu penelitian awal dengan pengambilan data awal di lapangan, analisis kebutuhan, dan studi literatur. Penelitian awal telah dilakukan dalam rangka menggali penerapan model PBL dan STM yang dilakukan pada pembelajaran di kelas, dengan mengkaji kelebihan dan kekurangan dari masing-masing model. Penelitian awal juga telah dilakukan dalam rangka menggali kemampuan berpikir kritis tentang lingkungan pada mahasiswa calon guru sekolah dasar yang dilakukan di UNS, UNESA dan UNIKA St. Paulus. Penelitian kualitatif juga telah dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk analisis kebutuhan serta penelitian deskriptif kuantitatif melalui tes untuk penelitian awal keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan (Eco Critical Thinking Skills).

Wawancara telah dilakukan terhadap mahasiswa PGSD, Dosen pengampu mata kuliah, Guru Sekolah Dasar dan tokoh–tokoh masyarakat yang mengetahui tentang budaya dalam kaitannya dengan kelestarian alam. Data yang diperlukan berupa data mengenai pola pembelajaran pendidikan lingkungan hidup, khususnya materi pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah yang dilakukan selama ini; kemampuan berpikir kritis terhadap lingkungan pada mahasiswa;

persepsi mahasiswa terhadap literasi lingkungan hidup serta kebiasaan pola budaya yang ada di masyarakat yang berkaitan dengan kelestarian alam.

Validasi instrumen dilakukan oleh pakar evaluasi pembelajaran (expert judgment) dan validasi dengan Rasch model. Hasil analisis instrumen dengan menggunakan Rasch Model menunjukkan bahwa ada kesesuaian butir soal pada instrumen atau item fit dalam batas layak digunakan.

Pada penelitian pendahuluan juga dilakukan diskusi terarah, hal ini bertujuan untuk mendapatkan masukan. Diskusi terarah dilakukan pada dosen pengguna, khususnya pengampu mata kuliah konsep dasar sains dan mahasiswa PGSD. Subyek penelitian yaitu mahasiswa PGSD yang memperoleh mata kuliah konsep dasar IPA atau mata kuliah Manusia dan Lingkungan.

Luaran yang diperoleh dari studi pendahuluan adalah profil awal pola pembelajaran tentang pencemaran dan pengelolaan sampah, profil persepsi mahasiswa calon guru sekolah dasar terhadap

(5)

kepedulian lingkungan, kemampuan berpikir kritis tentang lingkungan pada mahasiswa calon guru sekolah dasar.

Studi literatur ini telah dilakukan untuk mengkaji literatur yang berkaitan dengan materi dan permasalahan pembelajarannya. Kajian literatur dilakukan dengan mengulas penelitian terdahulu yang relevan, mengkaji literatur mengenai model yang telah dilakukan dalam pembelajaran IPA yang sesuai dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan. Model yang dikaji adalah model konstruktivistik yaitu model Science Technology Society (STS), model Problem Based Learning serta mengkaji literatur tentang kesadaran lingkungan dan keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan hidup.

2. Pengembangan Produk

a. Perencanaan Pengembangan Produk

Pada perencanaan pengembangan produk telah dilakukan dengan menentukan: 1) tujuan pengembangan produk yaitu mengembangkan model pembelajaran yang meningkatkan Eco Critical Thinking Skills, 2) pengguna produk yaitu calon guru sekolah dasar, 3) jadwal kegiatan, tempat dan prosedur uji coba, implementasi dan desiminasi produk, 4) merencanakan tim yang terlibat dan peran masing-masing serta menghubungi para pakar yang dapat mendukung pengembangan produk.

b. Menyusun Prototype Produk. Prototype produk yang telah dikembangkan mempunyai spesifikasi sebagai model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis pada lingkungan, model pembelajaran yang konstruktivistik yang melibatkan keaktifan siswa serta pengalaman siswa dalam mengkaji dan memecahkan masalah yang ada di sekitarnya. Kegiatan penyusunan prototype meliputi: 1) rancangan model pembelajaran STEcS, 2) menyusun perangkat pembelajaran, 3) mengulas draf model yang dilakukan dengan diskusi terarah dengan calon guru, calon pengamat (observer), dan beberapa dosen dalam rumpun IPA. Prototipe yang sudah dirancang divalidasi oleh pakar dan dosen pengguna, dengan melakukan revisi dari hasil masukan para pakar. Selain model yang dikembangkan, juga mengembangkan materi. Materi yang dikembangkan berupa pencemaran lingkungan, sub tema pengelolaan sampah organik, pengelolaan minyak jelantah menjadi lilin air serta merancang pembuatan poster dan desain tempat sampah. Pengembangan materi dengan menggunakan tahapan

commit to user

(6)

pengembangan 4D Thiagarajan, yaitu Define, Design, Develop and Desimination.

Produk materi yang akan dihasilkan melalui tahap:

1) Define. Pada tahap ini dilakukan kajian-kajian literatur dalam menyusun produk materi tentang pengelolaan sampah. Literatur yang digunakan berupa tex book, peraturan daerah, jurnal serta sumber primer yang mendukung pengumpulan bahan informasi. 2) Design. Pada tahap design merupakan tahap perancangan bahan materi.

Pada tahap desain ini juga dilakukan validasi dari ahli mengenai isi, bahasa dan validasi kepraktisan. 3) Develop. Pada tahap pengembangan, materi yang sudah disusun diujicobakan pada skala kecil, kemudian direvisi dan hingga diujicobakan pada skala yang luas. Pada tahap ini juga dilakukan penyusunan perangkat pembelajaran dan penyusunan assessment for learning. Pada tahap ini rencana produk dan assessmen dilakukan validasi oleh ahli hingga terbentuk prototype model pembelajaran.

c. Uji coba dan Revisi Produk

Menurut Borg and Gall (1983), uji coba yang dilakukan dalam penelitian pengembangan ini terdiri dari Preliminary Field testing (uji coba terbatas), main field testing (uji coba skala utama/luas) dan operational field testing (uji coba keefektifan model). Pada tiap-tiap uji coba dilakukan revisi pada produk. Uji coba terbatas dilakukan dalam satu kelas dengan melibatkan pihak-pihak yang terbatas saja. Uji coba skala luas dilakukan pada 3 universitas yang terdapat program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yaitu Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Katholik Indonesia Flores, dan Universitas Negeri Surabaya. Tujuan utama dari uji coba produk adalah untuk mengetahui apakah produk yang dikembangkan sudah memenuhi spesifikasi produk dan telah berjalan efektif seperti yang didefinisikan di awal pengembangan. Pada tahapan pengembangan produk, maka hal-hal yang diperhatikan adalah kelayakan, kepraktisan, keterlaksanaan dan keefektifan dari model.

Uji kepraktisan didasarkan pada mudahnya model digunakan oleh pengguna sehingga pengguna menjadi tertarik dan nyaman dalam menggunakan model, kepraktisan sarana dan prasarana serta biaya yang diperlukan untuk mendukung keberjalanan produk (Budiyono, 2017). Uji kepraktisan dilakukan dengan menggunakan angket dan observasi. Kepraktisan juga didasarkan pada pengamatan keterlaksanaan, dilakukan dengan bantuan observer untuk melakukan pengamatan

(7)

keterlaksanaan model, yang terdiri dari keterlaksanaan sintak, prinsip reaksi, sistem sosial, ketersediaan sarana prasarana serta dampak instruksional dan pengiring. Model dikatakan praktis apabila responden menyatakan nyaman, tertarik, dan sintak-sintak model serta komponen model dapat dilaksanakan pada proses pembelajaran.

Keefektifan model didasarkan pada ketercapaian tujuan pengembangan model.

Hal ini terkait dengan spesifikasi model pembelajaran. Untuk menguji keefektifan dilakukan dengan menguji beda rerata pada kelas eksperimen dan kontrol, dengan mengukur kemampuan tiap person (person ability) menggunakan teknik analisis Rasch model. Apabila nilai post test lebih rendah menandakan bahwa produk model belum efektif (Budiyono, 2017). Keefektifan model dilihat dari effect size yang dicapai. Effect size memberikan informasi nilai perbedaan antar varian ataupun antar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kategori yang digunakan dalam effect size dengan menggunakan kategori Cohen’s d. Oleh karena itu untuk melakukan tes baik pretest maupun posttest, instrumen yang digunakan dilakukan validasi instrumen yaitu validasi isi dan validasi konstruk (analisis kesesuaian butir soal) dengan menggunakan Rash model dan Lisrel.

3. Tahap pengujian model (Operational Field Testing)

Pengujian model atau Operational Field Testing sering disebut dengan uji kelayakan model (fully ready for use) (Borg and Gall.1983) atau uji keampuahan model (Budiyono. 2017), merupakan uji model yang mengikuti tahapan eksperimen, dengan adanya kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas yang diberi perlakuan dengan penerapan model STEcS dan kelas kontrol adalah kelas dengan penerapan model yang biasa dilakukan di dalam kelas tersebut.

Pengujian keampuhan model dilakukan untuk mendapatkan data secara empiris mengenai model STEcS dibandingkan model yang ada. Kegiatan pengujian keampuhan model STEcS mengikuti tahapan-tahapan penelitian eksperimental yang membandingkan antara model STEcS dengan model yang ada. Pada tahapan pengujian model ditentukan kelompok eksperimen yaitu kelompok yang mendapat perlakuan model STEcS dengan kelompok pembanding yang menerapkan model yang sudah ada.

commit to user

(8)

Tahap pengujian keampuhan model yang telah dilakukan juga dilakukan revisi final sebagai penyempurnaan produk sebelum dilakukan desiminasi dan implementasi.

4. Tahap Diseminasi dan Implementasi

Tahap terakhir dari penelitian pengembangan adalah publikasi hasil pengembangan pada forum-forum ilmiah. Tujuan dari diseminasi ini untuk menunjukkan bahwa model yang dikembangkan dapat layak dipakai dalam keadaan yang riil dan dapat diproduksi dalam jumlah yang besar untuk diimplementasikan.

C. Waktu dan Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 4 semester mulai semester ganjil 2018/2019, semester genap 2018/2019, semester ganjil 2019/2020, semester genap 2019/2020. Penelitian dilakukan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Katholik Indonesia (UNIKA) Ruteng- Flores, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Surabaya. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada klasifikasi kota menurut kementerian PUPR yaitu Surabaya sebagai kota metropolitan, Surakarta sebagai kota besar, Ruteng-Flores sebagai kota kecil wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Selain berdasarkan demografi, juga didasarkan pada kondisi lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Tahun 2019 yaitu Surabaya sebagai kota terbersih (adipura kencana), Surakarta kota bersih (adipura) dan Ruteng- Flores sebagai kota belum pernah mendapat penghargaan. Setelah penentuan wilayah, maka penentuan universitas dilakukan secara random pada universitas yang memiliki prodi PGSD.

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratified claster random sampling. Pemilihan prodi PGSD karena prodi tersebut yang mempersiapkan para calon untuk guru-guru sekolah dasar, yang diharapkan akan menjadi guru-guru sekolah dasar yang mampu menfasilitasi dalam pembentukan kepedulian lingkungan pada siswa sekolah dasar. Universita yang memiliki prodi PGSD, yang dijadikan populasi terdiri dari 9 universitas yaitu Universitas Slamet Riyadi, Universitas Sebelas Maret dan Universitas Muhamadiyah Surakarta (wilayah Surakarta).

Universita PGRI Adi Buana Surabaya, Universitas WR. Supratman Surabaya dan Universita Negeri Surabaya (Wilayah Surabaya). Universitas Citra Bakti Bajawa, Universitas Flores, Universitas Katholik St. Paulus (Wilayah Flores). Masing-masing Wilayah diambil sampel secara

(9)

acak 1 prodi PGSD untuk menjadi sampel dalam kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian terdapat pada Tabel 3.1

Tabel 3. 1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian No

.

Jenis Kegiatan Semester ke-

1 2 3 4

1. Analisis kebutuhan dan penelitian awal

√ √ √ √ 2. Menentukan rencana

pengembangan model dan diskusi dengan pakar

√ √

3. Menyusun konseptual dan hipotetical sintaks model STEcS

√ √

4. Menyusun instrumen penelitian

√ √

5. Validasi model STEcS √

6. Uji coba model STEcS √ √ √

7. Revisi Model STEcS hasil uji coba

√ 8. Uji kelayakan, kepraktisan

dan efektifitas model STEcS

√ √ √ √

9. Menganalisis data penelitian √ √

10. Menyusun laporan penelitian

√ 11. Finalisasi pedoman

penerapan model STEcS

12. Seminar hasil penelitian √

13. Publikasi artikel ke jurnal √ √ √

14. Desiminasi hasil penelitian √

Keterangan: √ (kegiatan dilakukan) (jangka waktu 2 bulan)

commit to user

(10)

D. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen penelitian

1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik yaitu:

a. Dokumentasi

Teknik dokumentasi telah dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan data mahasiswa bahwa jumlah mahasiswa rata-rata tiap kelas berjumlah 30 hingga 40 mahasiswa per kelas. Mahasiswa PGSD secara gender didominasi oleh jenis kelamin perempuan.

Data dokumentasi yang dikumpulkan berupa silabus, RPS, gambar dan video pengelolaan sampah yang ada di sekolah dasar dan perguruan tinggi, gambar dan video proses pembelajaran yang dilakukan dalam pembelajaran, serta data pendukung lainnya yang diperlukan.

b. Observasi

Teknik pengamatan ini dilakukan mulai dari awal penelitian, mengamati sarana dan prasarana tempat pembuangan sampah di sekolah dasar maupun di lingkungan perguruan tinggi, perilaku mahasiswa dalam pengelolaan sampah di lingkungan kampus, pengamatan proses pembelajaran pendidikan lingkungan hidup, pengamatan proses pembelajaran IPA tentang kepedulian lingkungan hidup di sekolah dasar, dan pengamatan pelaksanaan model pembelajaran STEcS yang diterapkan pada calon guru sekolah dasar. Pengamatan proses pembelajaran STEcS dilakukan oleh observer.

c. Wawancara

Wawancara dilakukan pada mahasiswa calon guru sekolah dasar, untuk mengkaji mengenai persepsi mahasiswa PGSD tentang pengelolaan sampah dan metode pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas. Wawancara juga dilakukan pada guru sekolah dasar, untuk

(11)

mengkaji strategi pembelajaran pada materi kepedulian terhadap alam serta persepsi guru sekolah dasar tentang pentingnya materi kepedulian terhadap lingkungan hidup. Wawancara yang dilakukan pada siswa sekolah dasar untuk mengkaji tentang pola pembelajaran yang dilakukan di kelas maupun di luar kelas pada materi pelestarian sumber daya alam, khususnya pengelolaan sampah. Wawancara dilakukan dengan tokoh budaya sebagai sumber informasi (informan) yang memahami tentang budaya yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan yaitu Rm Isri, Pater Marsel dan Opa Don Tat.

Teknik wawancara dilakukan dengan teknik wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, yang telah dilakukan pada guru sekolah dasar, calon guru sekolah dasar dan dosen pengampu mata kuliah rumpun IPA di PGSD dan beberapa tokoh masyarakat yang memahami tentang budaya dalam kaitannya dengan pelestarian lingkungan.

d. Tes

Data melalui tes dilakukan pada pretest dan posttest sesuai dengan indikator yang telah ditentukan. Tes dilakukan untuk mengetahui efektifitas model atau keampuhan model STEcS dibandingkan model yang dilakukan dalam pembelajaran sebagai eksperimen dan kontrol, serta untuk mengetahui kontribusi model terhadap hasil belajar dan critical thinking Skills.

e. Angket

Data angket dilakukan untuk penelitian survei, dalam rangka mengetahui persepsi calon guru sekolah dasar terhadap kepedulian lingkungan khususnya pengelolaan sampah; survei tehadap pelaksanaan pembelajaran dengan model STEcS mengenai kedisiplinan, kerjasama, komunikasi serta angket evaluasi terhadap proses pembelajaran dan angket komitmen dari mahasiswa terhadap aplikasi peduli lingkungan.

2. Instrumen Penelitian

Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang terdiri dari:

commit to user

(12)

a. Lembar Validitas Model Pembelajaran

Lembar validasi yang digunakan berupa lembar validasi perangkat pembelajaran untuk mengetahui validasi model pembelajaran yang diterapkan. Lembar validasi dilakukan oleh expert judgment untuk melakukan telaah dan menilai model pembelajaran yang dikembangkan. Validasi konstruk dilakukan untuk mengetahui dukungan teoritik maupun secara empirik serta keterkaitan konsistensi pada semua komponen atau dimensi dalam suatu model pembelajaran.

b. Lembar Validitas Perangkat Pembelajaran

Lembar validitas yang digunakan untuk mengetahui validitas pada masing-masing perangkat pembelajaran yang digunakan dalam model pembelajaran STEcS. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui validasi perangkat pembelajaran terdiri dari validasi RPP, Lembar validasi modul pembelajaran, lembar validasi instrumen penilaian critical thinking skills.

c. Lembar Validasi Bahasa

Lembar validasi bahasa digunakan untuk validasi tata bahasa dan ejaan dalam buku panduan model, bahan ajar siswa dan guru. Validasi Bahasa dilakukan oleh pakar atau expert judgment bidang Bahasa Indonesia.

d. Lembar Validasi Materi

Lembar validasi materi digunakan untuk menvalidasi konten dari materi pada bahan ajar siswa dan guru, validasi materi dilakukan oleh expert judgment dengan memberikan saran dan masukan dalam materi bahan ajar.

e. Lembar Validasi Desain Grafis

Lembar validasi desain grafis untuk menvalidasi desain pada keseluruah panduan model, bahan ajar siswa dan bahan ajar untuk guru. Desain yang divalidasi antara lain kesesuaian dan keserasian gambar sampul (cover), gambar dan keutuhannya. Validator desain grafis dilakukan oleh pakar/expert judgment dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV).

(13)

f. Lembar Observasi Keterlaksanaan dan Kepraktisan Model Pembelajaran

Keterlaksanaan model pembelajaran dilakukan pengamatan dengan menggunakan lembar pengamatan keterlaksanaan RPP oleh observer sebanyak tiga orang.

Pengamatan menggunakan panduan lembar pengamatan yang berupa pertanyaan- pertanyaan pilihan dalam bentuk chek list. Pengamatan dilakukan pada aktivitas guru dan aktivitas peserta didik pada setiap fase pembelajaran STEcS. Lembar pengamatan keterlaksanaan model pembelajaran juga dilengkapi dengan lembar catatan kendala- kendala yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran.

g. Lembar kuisioner kepedulian lingkungan hidup, kuesioner afektif dan keterampilan, kuesioner evaluasi proses pembelajaran

h. Instrumen tes Eco Critical Thinking Skills

E. Teknik Analisis Instrumen

1. Pembuktian Validitas

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis Rasch model. Analisis Rasch model merupakan analisis psikometri yang dikembangkan untuk meningkatkan ketelitian peneliti dalam mengkonstruk instrumen, memantau kualitas instrumen serta mengukur kinerja dari responden (Boone, 2016). Rasch model merupakan analisis statistik modern yang dapat menjadi solusi dalam menyelesaikan permasalahan statistik klasik dan mulai digunakan dibidang pendidikan (Wright & Stone, 1979; Waugh, 2012; Fortus et al., 2019). Kualitas instrumen ditentukan oleh dua hal pokok yaitu validitas dan reliabilitas, untuk dapat memberikan informasi yang dipercaya pada suatu penelitian (Sumintono & Widhiarso, 2015).

Validitas merupakan pernyataan yang menyatakan bahwa instrumen memenuhi standar akurat dan valid yang didasarkan pada bukti-bukti. Pernyataan akurat atau valid suatu instrumen pada analisis Rasch didasarkan pada:

a. Kesesuaian soal (item fit)

Data yang diperoleh dari analisis berupa tingkat kesesuaian butir soal (item fit). Kriteria yang digunakan untuk memeriksa kesesuaian butir soal adalah sebagai berikut: commit to user

(14)

Nilai outfit mean square (MNSQ) yang diterima 0,5 ˂ MNSQ < 1,5 Nilai outfit Z-standar (ZSTD) yang diterima -2,0 < ZSTD < 2,0

Nilai Point measure correlation (Pr Mean Corr) diterima 0,4< Pt MC <0,85

Outfit mean square menunjukkan tingkat konsistensi jawaban dan kesulitan butir soal, Z- standar mendiskripsikan butir yang outlier yaitu yang terlalu sulit maupun terlalu mudah, sedangkan Point measure correlation menunjukkan butir yang tidak dipahami atau membingungkan.

Instrumen berupa politomi dalam bentuk angket dan uraian, yang dianalisis dengan menggunakan Rasch Model. Dalam permodelan Rasch, ide dasar dari pengukuran berdasarkan pada teori respon butir/ Item Respon Theory (IRT). Hasil analisis instrumen yang telah dilakukan menunjukkan seluruh item yang digunakan mempunyai nilai MNSQ yang diteriman yaitu antara 0,5 sampai 1,5. Nilai ZSTD pada range yang diterima yaitu antara -2,0 hingga 2,0. Instrumen yang dipergunakan disesuaikan dengan tahapan yang dilakukan dalam penelitian.

b. Unidimensionality

Unidimensionality menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Unidimensionality ditunjukkan dengan nilai raw variance explained. Batas minimal raw variance yang terlihat adalah 20%. Sedangkan batas raw variance unexplained lebih kecil dari 15% (Sumintono & Widhiarso, 2015).

Validitas instrumen yang dipergunakan disesuaikan dengan tahapan yang dilakukan dalam penelitian sebagai berikut:

1) Validitas isi (content validity) suatu instrumen menunjukkan sejauh mana butir-butir dalam instrumen itu mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur dan sejauh mana butir-butir itu mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur. Validitas isi dibuktikan melalui ahli (expert judgement) yang menilai relevansi tiap butir instrumen. Validasi isi oleh ahli terdiri dari 5 validator ahli dan 4 dosen pengguna, yang terdiri dari validator bahasa oleh pakar bahasa dari prodi Bahasa Indonesia, validator instrumen oleh pakar evaluasi belajar, validator materi oleh pakar pendidikan sains dan pengguna model, validator model oleh pakar pendidikan sains, validator desain dan grafis oleh pakar dari prodi desain komunikasi visual. Pada validator bahasa dan desain grafis, selain dari pakar sesuai keahliannya

(15)

juga dilengkapi oleh validator dari pendidikan sains. Instrumen validasi diadopsi dari BSNP dan hasil validasi dari masing-masing pakar kemudian dihitung indeks kesepakatan ahli dengan mengunakan indeks aiken.

Indeks validitas butir yang diusulkan Aiken menurut Heri (2015) dirumuskan sebagai berikut:

v = ∑s

n(C − 1)

keterangan:

V = indeks kesepakatan rater

S = skor yang ditetapkan setiap rater dikurangi skor terendah dalam kategori yang dipakai (S = r – lo), r = skor kategori pilihan rater dan lo = skor terendah dalam kategori penyekoran

C = banyaknya kategori yang dipilih rater n= banyak rater

2) Validitas konstruk (consctruct validity) yaitu validitas yang menunjukkan sejauhmana diperoleh bukti-bukti empirik instrumen mengungkap suatu kemampuan atau konstruk teoritis tertentu yang hendak diukurnya, yang sudah didefinisikan serta didukung oleh data lapangan. Validitas konstruk memberikan penjelasan mengenai seberapa baik pengukuran telah sesuai dengan berbagai konteks teori. Validitas konstruk dibuktikan dengan analisis konfirmatori/Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan menggunakan software lisrel yang diperkuat dengan menggunakan Rasch model software Winsteps dengan mengukur item fit mean square, Z-Standar, Pt-Measure Correlation; unidimensionality; sebaran soal/separation.

2. Pembuktian Reliabilitas

Suatu instrumen disebut reliabel jika instrumen tersebut dapat memberikan informasi yang sama setelah berkali-kali digunakan untuk melakukan penggukuran, atau memberikan informasi yang tidak jauh berbeda dengan hasil yang sama. Apabila instrument tersebut digunakan untuk menggukur pada orang berbeda pada kemampuan yang sama atau dapat untuk mengukur orang yang sama dalam waktu yang berbeda.

commit to user

(16)

Pengukuran reliabilitas instrumen dilakukan dengan pengukuran statistik pada Rasch Model. Reliabilitas pada Rasch didasarkan pada fungsi informasi separasi. Fungsi separasi merupakan tingkat sebaran butir soal yang mampu mengukur kemampuan responden dari yang rendah hingga kemampuan tinggi. Instrumen yang dapat dipakai untuk melakukan pengukuran apabila hasil pengukuran mempunyai indeks reliabilitas sebesar atau lebih besar dari 0,70. Fungsi separasi dalam pengukuran reliabilitas terdiri dari reliabilitas item dan reliabilitas person.

Reliabilitas person dalam penelitian ini menunjukkan konsistensi siswa dalam menjawab, pada penelitian ini menunjukkan reliabilitas item 0,91 dan reliabilitas person 0,82. Hal ini menunjukkan bahwa reliabilitas pada butir soal dan konsitensi siswa tergolong tinggi.

F. Teknik Analisis Data 1. Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran

Teknik analisis untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model STEcS dilakukan dengan menggunakan deskriptif kuantitatif dan kualitatif.

Pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan panduan penilaian sebagai berikut (4: Sangat baik; 3: Baik; 2: Tidak baik dan 1: Sangat tidak baik). Hasil penilaian dari para pengamat dilakukan rerata dengan kriteria penilaian yang diadaptasi dari Ratumanan &

Laurens (2011) sebagai berikut:

3,25 < x ≤ 4.00 Sangat baik 2,75 < x ≤ 3,25 Baik

1,75 < x ≤ 2,75 Tidak baik

1,00 ≤ x ≤ 1,75 Sangat Tidak Baik

2. Analisis Uji Coba terbatas dan Uji Coba Skala Luas

Analisis yang digunakan untuk menganalisis data keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan, digunakan analisis statistik yaitu: hasil analisis uji coba terbatas dan uji coba skala luas. Data hasil uji coba terbatas dan skala luas dilakukan analisis statistik deskriptif yang terdiri dari rata-rata, prosentase dan uji normalized gain score untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis. Penghitungan gain score (N-Gain) didasarkan pada formula yang telah digunakan oleh Hake (1998)

(17)

Gain Score = 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑜𝑠𝑡 𝑇𝑒𝑠𝑡−𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑟𝑒 𝑇𝑒𝑠 100−𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑟𝑒 𝑇𝑒𝑠𝑡

Kriteria Peningkatan keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan, digunakan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3.2

Tabel 3. 2 Kriteria Peningkatan Critical Thinking Skills

Gain Score (G) Kriteria

0,7 < (G) Tinggi 0,3 < (G) ≤ 0,7 Sedang

(G) ≤ 0,3 Rendah

3. Analisis Kelayakan Model

Kelayakan model didasarkan pada hasil angket validasi oleh expert judgment. Kriteria kelayakan suatu model menurut Sudjana (2005) digunakan kategori sebagai berikut:

Tabel 3. 3 Kriteria Kelayakan Model

Presentase kesepakatan Rater Kriteria Validasi Keterangan 90< x ≤ 100 sangat layak tidak perlu direvisi

75< x ≤ 90 Layak tidak perlu direvisi 65< x ≤ 75 cukup layak Direvisi

55< x ≤ 65 kurang layak Direvisi 0≤ x ≤ 55 tidak layak direvisi

Analisis kelayakan model juga diperoleh dari data angket respon mahasiswa, dosen pengguna dan hasil observasi terhadap model yang dikembangkan berupa data kualitatif (komentar dan saran) dan data kuantitatif (nilai dari kuisioner penilaian model). Analisis respon siswa dan dosen berbentuk checklist dengan skor dari masing-masing kriteria (Riduwan, 2008) yaitu:

Tabel 3. 4 Skala Linkert untuk Penilaian Nilai Skala Penilaian

5 Sangat baik

4 Baik

3 Cukup baik

commit to user

(18)

2 1

Kurang baik Tidak baik

Hasil analisis digunakan untuk mengetahui kepraktisan model yang dikembangkan dengan interpretasi skor pada Tabel 3.5

Tabel 3. 5 Kategori Kepraktisan Model

Presentase Skor Kategori kepraktisan model 0 ≤ Ps < 21 Tidak baik

21 ≤ Ps < 41 Kurang baik 41 ≤ Ps < 61 Cukup baik 61 ≤ Ps < 81 Baik 81 ≤ Ps ≤ 100 Sangat baik

Berdasarkan kriteria pada Tabel 3.5 model penelitian pengembangan ini memenuhi kriteria kualitas kepraktisan apabila hasil presentase ≥ 61% berdasarkan pada ketertarikan, kenyamanan dan keterlaksanaan model dalam pembelajaran, sehingga model praktis digunakan dalam pembelajaran.

4. Uji Efektifitas Model

Keefektifan pada dasarnya mempertanyakan mengenai produk yang dikembangkan telah memenuhi tujuannya atau belum. Keefektifan model STEcS dilakukan dengan melakukan pengujian setiap sintak dan membandingkan keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan (Eco Critical Thinking Skills) antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.

a) Uji efektifitas dianalisis effect size yang merupakan magnitude atau jarak untuk mengetahui seberapa besar perbedaan rerata antara model yang diujikan dengan model yang sudah digunakan. Semakin besar perbedaan reratanya maka semakin tinggi effect size nya. Effect size merupakan pengukuran penelitian dalam analisis statistik(Borg & Gall, 2003). Rumus effect size yang digunakan dalam penelitian ini adalah retata kelompok eksperimen dikurangi dengan retata kelompok kontrol kemudian hasilnya dibagi dengan standar deviasi. Hal ini dapat dirumuskan sebagai beriku:

(19)

d = 𝑋̅𝑒− 𝑋̅𝑘

𝑆𝑒+𝑆𝑘 2

keterangan

𝑋̅𝑒= rata-rata eksperimen 𝑋̅𝑘=rata-rata kontrol 𝑑 = effect size

Jika se = sk = s, maka rumus di atas menjadi

d = 𝑋̅𝑒− 𝑋̅𝑘 𝑠

Interpretasi effect size menurut Cohen’s d disajikan pada Tabel 3.6 adalah sebagai berikut:

Tabel 3. 6 Interpretasi Effect Size menurut Cohen’s d Ukuran effect size Interpretasi

d ≤ 0,2 Kecil

0,2 < d ≤0,5 Sedang

0,5 < d ≤0,8 Besar

0,8 < d Sangat Besar

Indikator keefektifan model apabila effect size menunjukkan nilai d di atas 0,8.

b) Analisis statistik dilakukan dengan mengkaji kemampuan perindividu dalam penelitian (Borg & Gall, 2003). Analisis kemampuan person dalam penelitian ini dengan mengukur person measure dengan menggunakan Rasch model yang diaplikasikan dalam penelitian pendidikan (Sumintono & Widhiarso, 2015). Hasil kemampuan person dalam penelitian disajikan dalam scalogram dan Wright map dengan menggunakan winstep.

c) Uji Signifikansi

Uji signifikansi dengan menguji efektifitas dan uji perbedaan rerata kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan menggunakan uji beda rerata. Uji beda rerata dianalisis dengan bantuan

commit to user

(20)

SPSS 20. Analisis uji signifikan dengan menggunakan uji mann-whitney dengan taraf signifikan 0,05 apabila nilai p lebih kecil dari 0,05 maka disimpulkan terdapat perbedaan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

Gambar

Gambar 3. 1 Bagan Alur Penelitian Pengembangan PENGUJIAN MODEL STUDI PENDAHULUAN PENGEMBANGAN PRODUK DESIMINASI DAN IMPLEMENTASI Penelitian awal Analisis Kebutuhan Studi Literatur Perencanaan Prototipe
Tabel 3. 1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian  No
Tabel 3. 2 Kriteria Peningkatan Critical Thinking Skills
Tabel 3. 5 Kategori Kepraktisan Model
+2

Referensi

Dokumen terkait

tanaman sawi (Brassica juncea L.) pada panen kedua menunjukkan bahwa kombinasi residu mulsa jerami, pupuk kandang dan NPK dapat memberikan respon yang baik terhadap

Pertumbuhan ekonomi AS pada triwulan III 2016 mencapai 2.9% SAAR, utamanya didorong peningkatan pertumbuhan ekspor dan investasi yang lebih besar dari penurunan pertumbuhan

Ini adalah mungkin disebabkan pemakaian ini hanya dikhaskan kepada golongan istana dan tertentu sahaja, tidak seperti Baju Kurung lain yang dipakai oleh

Giliran dalam penyajian makanan atau disebut dengan Courses pada masa sekarang dikenal dengan Menu Moderen atau Modern Menu yang terdiri dari 4 giliran makan atau courses

Kami melihat BBNI sudah berada di puncak setelah BBNI menembus dua Resistance kami yang berasal dari Target Price Double Bottom yang terbentuk pada Feb’12.. Kami belum melihat

Penelitian tentang produksi polihdroksialkanoat (PHA) sudah lama dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Teknologi Bioproses Departemen Teknik Kimia ITB, namun cara yang

 Pada kolom output format -&gt; pilih format output yang diinginkan -&gt; misalnya mp3, dan apabila ingin melakukan sedikit konfigurasi untuk format ini klik Config -&gt;

Penelitian pragmatik kali ini, data yang digunakan adalah data tertulis pada papan pengumuman dan informasi berupa tuturan tertulis yang mengandung tindak tutur