• Tidak ada hasil yang ditemukan

RAEHANA BUDIYANTI NIM.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RAEHANA BUDIYANTI NIM."

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

RAEHANA BUDIYANTI NIM. 10536 4126 11

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2015

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

(QS. Muhammad : 17)

Satu-satunya keberuntungan yang dimiliki Oleh orang-orang yang hebat dilahirkan dengan Kemampuan dan ketepatan hati

Untuk mengalahkan ketidakberuntungan

Kupersembahkan karya yang sangat sederhana ini Sebagai tanda baktiku kepada

Ayahanda Abdul Rasyid dan Ibunda Zaenab tercinta

Yang selalu berdoa demi kesuksesan anaknya serta bingkisan sayang buat adikku Muh. Zulkahfi Rasyid dan Raethur Rahma Zakinah

Serta orang-orang yang selalu menyayangiku.

Dan untuk semua keluarga, sahabat dan teman-teman seperjuanganku

Yang telah memberikan dukungan, arahan dan motivasi

Kepada penulis agar tetap tegar dan terus berusaha.

RAEHANA BUDIYANTI

(7)

(gampang, asyik dan menyenangkan) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 4 Sungguminasa. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Darwing Paduppai dan Pembimbing II Nasrun

Jenis penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran matematika melalui strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan) pada siswa kelas VIIIF SMP Negeri 4 Sungguminasa Tahun Pelajaran 2015/2016. Penelitian ini mengacu pada kriteria pembelajaran yaitu tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal, peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran melalui strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan). Desain penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-Posttest Design, yaitu sebuah eksperimen yang dilaksanakan tanpa adanya kelompok pembanding (kontrol).

Subjek penelitian dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIIIF SMP Negeri 4 Sungguminasa sebanyak 47 orang sebagai kelas untuk diterapkan strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes hasil belajar untuk mengukur hasil belajar setelah mengikuti pembelajaran dengan strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan), lembar observasi aktivitas siswa untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sesuai dengan RPP dengan strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) skor rata-rata tes hasil belajar matematika siswa melalui strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan) adalah 85,40 dengan standar deviasi 9,26. Dari hasil tersebut diperoleh bahwa 45 siswa (96%) telah mencapai ketuntasan individu dan ini berarti bahwa ketuntasan secara klasikal telah tercapai. (2) Terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan) dimana nilai rata-rata gain ternormalisasi yaitu 0,76 dan umumnya berada pada kategori tinggi.

(3) Rata-rata persentase frekuensi aktivitas siswa untuk setiap indikator mencapai kriteria yaitu 80,72%. (3) Kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika melalui strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan) mencapai skala penilaian 3,60 dan berada pada sangat aktif. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIIIF SMP Negeri 4 Sungguminasa.

(8)

Alhamdulillah, puji dan syukur hanya milik Allah SWT, yang telah memberi kekuatan dan kesehatan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan judul “Pengaruh Penggunaan Strategi Pembelajaran GASING (Gampang, asyik dan menyenangkan) pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa”. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi tercinta, Muhammad SAW yang telah menyinari dunia ini dengan cahaya Islam. Teriring harapan semoga kita termasuk umat beliau yang akan mendapatkan syafa’at di hari kemudian. Amin.

Penulis menyadari bahwa sejak penyusunan proposal sampai skripsi ini rampung, banyak hambatan, rintangan dan halangan, namun berkat bantuan, motivasi dan doa dari berbagai pihak semua ini dapat teratasi dengan baik. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap dengan selesainya skripsi ini, bukanlah akhir dari sebuah karya, melainkan awal dari semuanya, awal dari sebuah perjuangan hidup.

Teristimewa dan terutama sekali penulis sampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada kedua orang tuaku tercinta Ayahanda Abd. Rasyid dan Ibunda Zaenab serta saudara-saudaraku, atas segala pengorbanan, pengertian, kepercayaan, dan segala doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.Kiranya Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua.

Selanjutnya ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada:

1. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar semoga dengan kepimpinan bapak senantiasa diridhai oleh Allah SWT.

(9)

3. Drs. Baharullah, M.Pd. dan Mukhlis, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Drs. H. Darwing Paduppai, M.Pd, dan Nasrun S.Pd., M.Pd, sebagai Pembimbing I dan II, dengan segala kerendahan hatinya telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini 5. Dr. Ilham Minggi, M.Si., dan Dr. Awi Dassa, M.Si., sebagai validator yang telah

meluangkan waktunya untuk memeriksa dan memberikan saran terhadap perbaikan instrumen penelitian.

6. Ma’rup, S.Pd., M.Pd, Penasehat Akademik atas bimbingan dan nasihat yang sangat berharga selama penulis menuntut ilmu di Universitas Muhammadiyah Makassar.

7. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen di Unismuh Makassar yang telah memberikan banyak ilmu dan berbagi pengalaman selama penulis menuntut ilmu di Program Studi Pendidikan Matematika.

8. Drs. H. Abd. Rahman, Kepala SMP Negeri 4 Sungguminasa dan Ayahanda Drs. Abd.

Rasyid, Guru Bidang Studi Matematika Kelas VIII yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut. Serta tak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada adik-adikku tercinta siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa.

9. Kepada sahabat-sahabatku yang setia selalu untuk saling berbagi canda-tawa, semangat, motivasi, sharing dll.

10. Teman seperjuangan seluruh angkatan 2011 terkhusus Kelas E yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas kerja sama dan kekompakan yang diberikan selama menjalani perkuliahan, bersama-sama berjuang keras dan penuh semangat dalam menjalani studi dalam suka dan duka. Kebersamaan ini akan menjadi sebuah kenangan yang indah dan tidak akan bisa terlupakan sampai akhir hayat.

(10)

Terlalu banyak orang yang berjasa dan mempunyai andil kepada penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar, sehingga tidak akan termuat bila dicantumkan namanya satu persatu, kepada mereka semua tanpa terkecuali penulis ucapkan terima kasih yang teramat dalam dan penghargaan yang setinggi- tingginya.Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dengan pahala yang melimpah dan tak terbatas. Aamiin.

Makassar, November 2015

Penulis

(11)

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka ... 7

1. Pengertian Strategi ... 7

2. Pengertian Pembelajaran ... 7

3. Pengertian Strategi Pembelajaran ... 8

4. Tahapan Strategi Pembelajaran ... 10

5. Gasing ... 12

(12)

8. Materi Ajar ... 23

B. Kerangka Pikir ... 29

C. Hipotesis Penelitian ... 31

BAB III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 32

B. Desain Penelitian ... 32

C. Variabel dan Treatment ... 33

D. Populasi dan Sampel ... 33

E. Prosedur Penelitian ... 35

F. Instrumen Penelitian ... 36

G. Teknik Pengumpulan Data ... 37

H. Teknik Analisis Data ... 38

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian ... 42

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 57

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 63

B. Saran ... 64 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN – LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(13)

Tabel 3.1 Skema Rancangan Penelitian ... 32

Tabel 3.2 Kategorisasi Standar Hasil Belajar ... 39

Tabel 3.3 Kategorisasi Standar Ketuntasan Hasil Belajar ... 39

Tabel 3.4 Kriteria Tingkat Gain Ternormalisasi ... 40

Tabel 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIF SMPN 4 Sungguminasa ... 44

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa kelas VIIIF SMPN 4 Sungguminasa ... 44

Tabel 4.3 Deskriptif Ketuntasan Hasil Belajar Matematika di Kelas VIIIF SMPN 4 Sungguminasa ... 45

Tabel 4.4 Statistik Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIF SMPN 4 Sungguminasa ... 46

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa kelas VIIIF SMPN 4 Sungguminasa ... 47

Tabel 4.6 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa kelas VIIIF SMPN 4 Sungguminasa ... 48

Tabel 4.7 Deskripsi Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa kelas VIIIF SMPN 4 Sungguminasa ... 49

Tabel 4.8 Aktivitas Siswa kelas VIIIF SMPN 4 Sungguminasa ... 50

Tabel 4.9 Aktivitas Guru SMPN 4 Sungguminasa ... 53

(14)

A.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) A.2 Lembar kerja Siswa

LAMPIRAN B B.1 Kisi-kisi

B.2 Tes hasil Belajar

B.3 Alternatif Jawaban THB LAMPIRAN C

C.1 Daftar Hadir Siswa C.2 Daftar Kelompok Belajar C.3 Jadwal Pelaksanaan Penelitian LAMPIRAN D

D.1 Daftar nilai pretest, posttest dan gain D.2 Hasil analisis pretest dan posttest

D.3 Hasil analisis pretest, posttest dan gain melalui progran SPSS D.4 Analisis Aktivitas Siswa

D.5 Analisis Kemampuan guru LAMPIRAN E

E.1 Lembar Aktivitas Siswa

E.2 Lembar Observasi Kemampuan Guru LAMPIRAN F

F.1 Dokumentasi

F.2 Persuratan dan Validasi

(15)

seharusnya rumus bisa menjadi alat bantu dalam mempercepat perhitungan, bukan malah mempersulit siswa. Dengan kondisi semacam ini, tentu ketika pendidik masuk ke dalam kelas siswa sudah tidak bersemangat, bahkan sudah merasa tidak bisa menguasai materi matematika.

Sedangkan Sardiman (2010:19) Adanya hal semacam ini, maka agar memperoleh hasil belajar yang maksimal dan optimal, proses belajar mengajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja serta terorganisir dengan baik. Selain itu, dalam proses pembelajaran harus dibuat dengan mudah dan sekaligus menyenangkan agar siswa tidak tertekan secara psikologis, tidak merasa bosan terhadap suasana di kelas, dan tertarik dengan materi yang diajarkan oleh pendidik. Dengan demikian, seorang pendidik harus mempunyai strategi dan metode pembelajaran yang menarik dalam menyampaikan materi pelajaran.

Pembelajaran dilaksanakan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, dan penuh motivasi sehingga materi pembelajaran menjadi lebih mudah untuk diterima oleh siswa.

Salah satu upaya yang digunakan sebagai solusi untuk mengubah anggapan siswa mengenai pelajaran matematika dan agar siswa tidak merasa bosan dalam pembelajaran yaitu dengan menggunakan strategi pembelajaran GASING yang ditemukan dan dikembangkan oleh Yohanes Surya, seorang matematikawan Indonesia yang aktif dalam berbagai penelitian dan pelatihan matematika dan fisika.

Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Surya (2012:6227) terhadap anak-anak yang tidak dapat berhitung sama sekali dari berbagai daerah di Papua,

(16)

ditemukan bahwa pembelajaran GASING sangat efektif dan berpengaruh meningkatkan hasil belajar. Paper yang berjudul “Mathematics Education In Rural Indonesia” yang disajikan pada 12th International Congress on Mathematical Education, Seoul, Korea, 8-15 Juli 2012 mengungkap bahwa anak- anak tersebut menuntaskan matematika sekolah dasar hanya dalam waktu enam bulan kemudian disiapkan untuk berbagai ajang Olimpiade Internasional bidang matematika dan sains. Bahkan anak-anak tersebut meraih 4 medali emas, 5 medali perak, dan 3 medali perunggu dalam Asian Mathematics and Sciense Olympiad for Primary School (ASMOPS) serta menerima 7 penghargaan (setingkat perunggu) dalam International Robotics Olympiad. Dikutip dari situs belajar Admin (2013) GASING adalah singkatan dari gampang, asyik, dan menyenangkan. Jadi, pembelajaran matematika GASING membuat matematika dapat dipahami oleh siswa dengan gampang, asyik, dan menyenangkan.

Dalam strategi pembelajaran GASING, siswa tidak diajarkan materi matematika yang dominan dengan menghafal rumus seperti yang ada pada buku, namun siswa diajarkan untuk menggunakan logika dan hitungan yang bermodalkan kemampuan dasar hitung siswa, yaitu: tambah, kali, kurang, dan bagi dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Pembelajarannya dilaksanakan secara fleksibel. Bisa dimulai dengan menghubungkan materi matematika yang akan dipelajari dengan apa yang ada di dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa lebih tertarik dan merasa bahwa matematika mempunyai kegunaan dalam kehidupan. Rumus yang ada pada materi pelajaran tidak diberikan begitu saja tetapi terlebih dahulu diberikan pemahaman dengan logika sesederhana mungkin

(17)

sehingga memungkinkan bagi siswa dapat mengerjakan soal-soal terlepas dari rumus yang ada. Dengan kata lain, pembelajaran GASING menjembatani matematika yang dulunya merupakan suatu hal yang sulit bahkan menyeramkan, menjadi menyenangkan.

Dengan demikian diharapkan siswa akan senang, dan merasa bahwa pelajaran matematika pada itu gampang, asyik, dan menyenangkan untuk dipelajari. Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengangkat judul: “Pengaruh Penggunaan Strategi Pembelajaran GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa sebelum penerapan strategi pembelajaran GASING ?

2. Bagaimana hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa setelah penerapan strategi pembelajaran GASING ?

3. Apakah terjadi peningkatan hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa setelah penerapan strategi pembelajaran GASING ?

(18)

4. Apakah kriteria ketuntasan minimum (KKM) dapat terpenuhi setelah diajar dengan pembelajaran GASING ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa sebelum penerapan strategi pembelajaran GASING.

2. Untuk mengetahui hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa setelah penerapan strategi pembelajaran GASING.

3. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa setelah penerapan strategi pembelajaran GASING.

4. Untuk mengetahui kriteria ketuntasan minimum (KKM) dapat terpenuhi setelah diajar dengan pembelajaran GASING.

D. Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini diantaranya adalah:

1. Sebagai bahan informasi kepada guru matematika dan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran matematika.

(19)

2. Menambah wawasan bagi guru matematika yang berhubungan dengan model pembelajaran.

3. Bagi penulis, penelitian ini menjadi media dalam usaha melatih diri menyatakan atau menyusun buah pikiran secara tertulis dan sistematis, sekaligus mengaplikasikan ilmu yang diperoleh.

(20)

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. KAJIAN PUSTAKA 1. Strategi

(Yamin, 2012:1) Istilah strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategia, strategi merupakan suatu perencanaan yang panjang untuk berhasil dalam mencapai suatu keuntungan.Menurut Sanjaya (2012:126) strategi digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain, strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu (Wena, 2012:2).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi merupakan sejumlah rencana yang diatur sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu dalam konteks bahasan ini adalah pembelajaran.

2. Pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya membelajarkan peserta didik untuk belajar.

Kegiatan pembelajaran akan melibatkan peserta didik mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien (Riyanto, 2012:131). Pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu siswa agar dapat menerima pengetahuan yang diberikan dan membantu memudahkan pecapaian tujuan pembelajaran.

Menurut Aunurrahman (2012:34), pembelajaran berupaya mengubah masukan berupa siswa yang belum terdidik menjadi siswa yang terdidik, siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan. Pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan

7

(21)

peserta didik, dimana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya (Trianto, 2009: 17).

Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah interaksi antara guru dan siswa untuk mengubah siswa yang belum terdidik menjadi siswa yang terdidik, siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.

3. Strategi Pembelajaran

Maka, Menurut Martiyono (2012:83) strategi pembelajaran adalah pola rencana dan pelaksanaan suatu pengajaran dengan maksud agar tujuan pengajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Adapun pandangan beberapa ahli mengenai strategi pembelajaran. Barbara B. Seels dan Rita C. Richey menyebutkan strategi pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam suatu pelajaran. Reiguluth mengatakan strategi pembelajaran sebagai metode-metode memanipulasi unsur-unsur atau bahan pengetahuan. Kindvatter, dkk mengemukakan bahwa suatu strategi pembelajaran merupakan kombinasi dari metode yang dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Burden dan Bird mengemukakan strategi pembelajaran adalah metode untuk menyampaikan informasi yang bertujuan untuk membantu pebelajar mencapai tujuan belajar.

Moore mengemukakan bahwa strategi pembelajaran merupakan keseluruhan perencanaan mengatur pelajaran tertentu yang memuatkan metode dan urutan langkah-langkah yang diikuti untuk melaksanakan kegiatan belajar (Yamin, 2013:3-4).

Menurut Roestiyah (2012:1) di dalam proses belajar-mengajar, pendidik

(22)

harus memiliki strategi, agar peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengarah pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar (pembelajaran).Perlu diketahui bahwa antara strategi dan metode adalah berbeda. Strategi lebih bersifat tidak langsung (indirect) sedangkan metode bersifat langsung (direct). Tetapi metode adalah bagian dari strategi itu sendiri.

Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan.

Strategi menunjuk pada suatu perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi (Yaumi, 2013:205-206). Dengan kata lain, menurut Sanjaya (2012:127), strategi adalah a plan of operation achieving something; sedangkan metode adalah a way in achieving something.

Penggunaan strategi dalam kegiatan pembelajaran sangat perlu untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.

Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan terarah sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sulit tercapai secara optimal, dengan kata lain pembelajaran tidak dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

Dengan memahami beberapa pengertian di atas dan penjelasannya maka dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah siasat pendidik dalam mengefektifkan, mengefisienkan, serta mengoptimalisasi fungsi dan interaksi antara peserta didik dengan komponen pembelajaran dalam suatu kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pengajaran.

4. Tahapan Strategi Pembelajaran

(23)

Ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan pendidik dalam melaksanakan strategi pembelajaran, diantaranya ada tahapan-tahapan pembelajaran. Ada 3 tahapan dalam strategi pembelajaran.

Tahap pendahuluan (Pra-Instruksional) adalah kegiatan persiapan pendidik sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Pada kegiatan ini pendidik diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi pelajaran yang disampaikan.

Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik dan menyenangkan akan dapat memotivasi belajar peserta didik yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran tahap pendahuluan yang dapat dilakukan pendidik, antara lain:

a. Memeriksa kehadiran peserta didik.

b. Pre-test (menyenangkan materi sebelumnya).

c. Apersepsi (mengulas kembali secara singkat materi sebelumnya).

Tahapan penyampaian informasi atau pengajaran (Instruksional) adalah langkah-langkah yang dilakukan saat pembelajaran berlangsung. Penyampaian informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan yang paling penting dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan ini, pendidik juga harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Dengan demikian, informasi yang disampaikan dapat diserap oleh peserta didik dengan baik.

Dalam hal ini, antara lain:

a. Menjelaskan tujuan pengajaran pada peserta didik.

b. Menuliskan pokok-pokok materi yang akan dibahas.

c. Membahas pokok-pokok materi yang telah ditulis.

d. Menggunakan alat peraga.

(24)

e. Menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi.

Tahap penilaian dan tindak lanjut (evaluasi) adalah penilaian atas hasil belajar peserta didik setelah mengikuti pembelajaran dan tindak lanjutnya.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pendidik, antara lain:

a. Mengajukan pertanyaan pada peserta didik tentang materi yang telah dibahas.

b. Mengulas kembali materi yang belum dikuasai peserta didik.

c. Memberi tugas atau pekerjaan rumah pada peserta didik.

d. Menginformasikan pokok materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya (Riyanto, 2012:132).

Tahapan-tahapan tersebut memiliki hubungan yang erat dengan penggunaan strategi pembelajaran. Oleh karena itu, setiap penggunaan strategi pembelajaran harus merupakan rangkaian yang utuh dengan tahapan-tahapan pengajaran.

Adapun tahapan pengajaran seperti pada gambar berikut:

Gambar 2.1: Skema Tahapan Strategi Pembelajaran

1 2 3

Tahap pra Tahap Tahap Evaluasi

instruksional instruksional & Tindak Lanjut

5. GASING

GASING merupakan akronim dari gampang, asyik dan menyenangkan.

Matematika GASING adalah suatu metode pembelajaran matematika yang diciptakan dan dikembangkan pada tahun 1996 oleh Yohanes Surya, agar matematika dapat dipelajari dan diajarkan secara gampang, asyik dan

(25)

menyenangkan. Strategi pembelajaran GASING merupakan terobosan reformasi dalam pembelajaran matematika. Strategi pembelajaran GASING mengajarkan bagaimana berfikir seperti seorang matematikawan dalam menyelesaikan soal-soal matematika dengan pendekatan logika dan hampir tanpa rumus, karena strategi pembelajaran GASING ini menggunakan metode logika biasa berdasarkan konsep dasar matematika dan kemampuan hitung dasar matematika yang meliputi tambah, kurang, bagi, dan kali, peserta didik dapat mengerjakan soal dengan cepat dan benar. Jadi, strategi pembelajaran GASING melatih bagaimana mengungkapkan atau memecahkan berbagai persoalan matematika dengan logika kata-kata, sementara rumus bisa menyesuaikan setelahnya. Strategi pembelajaran GASING dikembangkan dan diprakarsai oleh Yohanes Surya, ilmuan fisika dan matematika yang lahir di Jakarta, 6 November 1963 dan saat ini menjabat sebagai ketua TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia), pendidik besar di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dan juga sebagai rektor UMN (Universitas Multimedia Nusantara). Menurut Yohanes Surya, jika peserta didik diharuskan menghafal rumus untuk belajar matematika justru akan membuat peserta didik semakin membenci pelajaran matematika. Oleh karena itu idealnya harus dimulai dari mengerti konsep, membangun logika, setelah itu baru menuangkannya dalam bentuk rumus. Dengan adanya pembelajaran GASING peserta didik diharapkan lebih menyukai pelajaran matematika dan tidak lagi menganggap bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit, membosankan dan hanya bisa dikuasai oleh orang-orang yang memiliki IQ tinggi.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Yohanes Surya, untuk membuat matematika itu gampang, asyik dan menyenangkan (GASING) beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

(26)

a. Hindari matematika yang sulit, kalau perlu cari alternatif solusi yang menggunakan matematika lebih sederhana.

b. Manfaatkan pengertian konsep matematika yang benar dan lebih menekankan pada logika dibandingkan dengan menggunakan rumus- rumus turunan.

c. Gunakan angka-angka yang mudah dan bulat seperti1, 2 atau10 ketika sedang mengajarkan konsep melalui berbagai contoh soal. Hindari angka-angka koma atau pecahan agar konsentrasi peserta didik tidak disimpangkan dari solusi matematika.

d. Perbanyak dialog langsung dengan peserta didik terutama tentang konsep-konsep matematika yang baru diajarkan. Meminta peserta didik mengeluarkan pendapatnya untuk menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan konsep yang diberikan.

e. Perbanyak eksperimen dan demonstrasi matematika sehingga setiap peserta didik menikmati asyiknya matematika dan peserta didik bisa merasakan bahwa matematika itu sungguh menyenangkan.

Dalam pelaksanaan strategi pembelajaran GASING dapat dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:

a. Tahap Pertama: Dialog Sederhana

Dialog merupakan bentuk komunikasi dua arah, dalam hal ini yang terlibat adalah pendidik dan peserta didik. Menurut teori belajar connectionism atau bond hypothesis yang dikemukakan oleh Thorndike, belajar adalah pembentukan atau penguatan hubungan antara S (stimulus)

(27)

dan R (respon) sehingga antara S dan R terjadi suatu hubungan (bond) yang bertambah erat bila sering dilatih. Berkat latihan hubungan antara S dan R harus memberikan ”satisfaction” atau kepuasan. Rasa kepuasan merupakan reinforcement atau penguat. Tentang hubungan S dan R, Thorndike menemukan bermacam-macam hukum atau laws. Beberapa di antaranya adalah Law of effect, Law of exercise atau law of use and law of disuse (hukum latihan atau hukum penggunaan dan penidakgunaan), Law of multiple response (hukum respon berganda), Law of assimilation atau law of analogy (hukum asimilasi atau hukum analogi).

Dari keempat hukum di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara S (stimulus) dan R (respon) sangat berperan penting dan saling berkaitan dalam proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.

b. Tahap kedua: Berimajinasi atau berfantasi.

Sebenarnya imajinasi atau fantasi dalam proses pendidikan penting untuk dimiliki peserta didik, tapi aspek ini banyak diabaikan oleh pendidik dalam kegiatan belajar mengajar. Imajinasi penting karena dengan imajinasi peserta didik akan bisa melahirkan suatu konsep, kreativitas, inovasi dan perilaku yang aktual dalam kehidupannya. Dengan kata lain, imajinasi lebih utama daripada pengetahuan.

c. Tahap ketiga: Menyajikan contoh-contoh soal secara relevan.

Latihan atau training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Cara ini dapat juga digunakan

(28)

untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan peserta didik dengan tujuan untuk memperkuat penguasaan matematika peserta didik. Dalam latihan ini, peserta didik hanya berlatih dengan menggunakan logika matematika yang sederhana yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

d. Tahap keempat: Menyajikan materi secara mendalam.

Dengan memberikan makna mendalam terhadap setiap materi matematika, diharapkan peserta didik mengetahui fenomena-fenomena apa saja yang dialami oleh setiap objek dalam butir soal.

e. Tahap kelima: Memberikan variasi soal.

Tugas atau resitasi, merupakan suatu cara menyajikan bahan pelajaran di mana pendidik memberikan tugas tertentu berupa variasi soal agar peserta didik melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggungjawabkan. Tugas yang diberikan oleh pendidik dapat memperdalam bahan pelajaran, dan dapat pula mengecek bahan yang telah dipelajari. Tugas dapat merangsang peserta didik untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok.

Kelima tahapan yang dilakukan dalam strategi pembelajaran GASING ini selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.2 : Tahapan Strategi Pembelajaran GASING

Tahap-Tahap Aktivitas Pendidik

Tahap 1

Dialog sederhana

Pendidik memulai pembelajaran dengan berdialog secara sederhana dengan peserta didik seputar materi yang akan dipelajari. Dari dialog ini diharapkan peserta didik dapat memberikan pendapatnya, sehingga timbul hubungan yang erat antara S dan R

(29)

Tahap 2

Berimajinasi/berfantasi

Pendidik membantu peserta didik untuk berimajinasi mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari.

Tahap 3

Menyajikan contoh- contoh soal secara relevan

Pendidik memberikan latihan berupa soal-soal sederhana yang hanya menggunakan formulasi matematika berupa perjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Hal ini bertujuan untuk memperkuat penguasaan matematika peserta didik.

Tahap 4

Menyajikan materi secara mendalam

Pendidik memberikan makna fisis setelah peserta didik dirasa mampu mengerjakan semua soal-soal sederhana tadi.

Tahap 5

Memberikan variasi soal

Pendidik kembali memberikan soal namun yang lebih bervariasi, soal tersebut dapat berupa soal cerita.

Sumber : (Tasnim, 2014:21) 6. Hasil Belajar

Sejak Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologis belajar memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Sedangkan menurut Hilgard dan Bower sebagaimana yang dikutip oleh Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, belajar memiliki arti: 1) to gain knowledge, comprehension, or mastery of trough experience or study, 2) to fix in the mind or memory, memorize, 3) to acquire trough experience, 4) to become informed of to find out. Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu (Baharuddin dan Esa, 2010:13).

Secara terminologis belajar menurut Cronbach dalam buku karangannya Baharudin dan Esa Nur Wahyuni (2010:13), didefinisikan sebagai “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience” yaitu perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Menurut UNESCO, belajar adalah

(30)

menuntut setiap satuan pendidikan untuk dapat mengembangkan empat pilar pendidikan baik untuk sekarang dan masa depan, yaitu: 1) Learning to know (belajar untuk mengetahui), 2) Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu), 3) Learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan 4) Learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

Dari uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses usaha yang dilakukan manusia untuk mencapai berbagai kompetensi, keterampilan dan sikap. Pengertian tersebut, menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku (kognitif, efektif dan psikomotorik). Perubahan yang dimaksud di sini adalah adanya perubahan yang mengarahkan peserta didik untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, semakin sering belajar dilakukan, makin baik perubahan yang didapatkan.

Hasil belajar berasal dari dua kata yaitu “hasil” dan “belajar”. Hasil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan dan sebagainya) oleh usaha. Sedangkan belajar adalah proses berpikir, terjadi secara internal dalam diri seseorang untuk memahami atau mendalami suatu kemampuan atau kompetensi atau keahlian tertentu baik yang kasat mata maupun yang abstrak, Maka hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.

Menurut Benyamin Bloom, secara garis besar hasil belajar dapat dilihat dari 3 ranah, yaitu:

a. Ranah Kognitif, yaitu berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni menghafal (remember), memahami (understand), mengaplikasikan (apply), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate),

(31)

dan membuat (create).

b. Ranah Afektif, yaitu berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni receiving, responding, valuing, organization, characterization by evalue or calue complex.

c. Ranah Psikomotorik, yaitu berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek, yakni gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan dan ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, gerakan ekspresif dan interpretative (Sudjana, 2009:22-23).

Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa definisi tentang belajar antara lain dapat diartikan sebagai berikut; Menurut Slameto (2010:2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang barn secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri sebagai interaksi dengan lingkungannya.

Belajar merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh setiap orang.

Pengetahuan, keterampilan, kegemaran, dan sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi, dan berkembang disebabkan oleh belajar. Karena itu, belajar ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang akibat dari proses belajar diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, hasil belajar, sikap, tingkah laku, keterampilan kecakapan dan kemampuan serta perubahan aspek kualitas yang terjadi pada diri individu (Syaiful dan Aswan, 2006:39).

Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak semua perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Adapun ciri perubahan tingkah laku

(32)

dalam pengertian belajar adalah:

a. Perubahan terjadi secara sadar.

b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional.

c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.

d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.

e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.

f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku (Slameto, 2010:2).

7. Matematika

Definisi atau pengertian dari matematika itu sangat beragam. Beberapa definisi atau ungkapan pengertian matematika hanya dikemukakan terutama berfokus pada tinjauan pembuat definisi itu.

Hal sedemikian ini dikemukakan dengan maksud agar pembaca dapat menangkap dengan mudah keseluruhan pandangan para ahli matematika. Karena begitu banyaknya, sehingga muncul beraneka ragam definisi atau pengertian tentang matematika. Dengan kata lain tidak terdapat satu definisi tentang matematika yang tunggal dan disepakati oleh semua tokoh atau pakar matematika.

Di bawah ini disajikan beberapa definisi atau pengertian tentang matematika, diantaranya:

a. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik.

b. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.

c. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logis dan berhubungan dengan bilangan.

d. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.

(33)

e. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat (Soedjadi, 2000:11).

Matematika sering dideskripsikan dengan cara yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang mana yang dipakai. Berikut ini beberapa deskripsi matematika yang sering dipergunakan:

a. Matematika sebagai struktur yang terorganisir

Agak berbeda dengan ilmu dan pengetahuan yang lain, matematika merupakan suatu bangunan yang terstruktur, ia terdiri dari beberapa komponen yang antara lain meliputi aksioma/postulat, pengertian pangkal/primitif dan dalil/teorema (termasuk di dalamnya tema (teorema pengantar/kecil) dan corollary sifat).

b. Matematika sebagai pola pikir deduktif

Matematika merupakan pengetahuan yang berpola pikir deduktif, artinya suatu teori atau pernyataan dalam matematika diterima kebenarannya bila dibuktikan secara deduktif (umum).

c. Matematika sebagai cara belajar (the way of thinking)

Matematika dapat pula dipandang sebagai cara belajar, paling tidak karena beberapa hal seperti matematika memuat cara pembuktian yang sahih (valid), rumus-rumus atau aturan yang umum, atau sifat penalaran matematika yang sistematis.

d. Matematika sebagai bahasa artifisial

Simbol merupakan ciri paling menonjol dalam matematika. Bahasa matematika adalah bahasa simbol yang bersifat artifisial, yang baik memiliki arti bila dikenakan pada suatu konteks.

e. Matematika sebagai seni yang kreatif

(34)

Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan ide-ide dan pola-pola yang kreatif dan menakjubkan, maka matematika sering pula disebut sebagai seni, khususnya merupakan seni berpikir yang kreatif.

Dalam pembelajaran matematika, semua pandangan tersebut di atas harus digunakan secara proporsional. Tidak boleh hanya menekankan pada keberadaan simbol belaka tanpa memperhatikan struktur yang terkait, juga tidak boleh mementingkan penalaran saja tanpa penguasaan rumus atau aturan/prosedur matematika yang memadai, tidak pula mementingkan sifat deduktif dengan mengabaikan contoh atau pendekatan induktif dalam pembelajaran (Sumardyono, 2004:28-29).

Kata Matematika yang dalam bahasa Inggris Mathematic, berasal dari bahasa Yunani Mathematike yang berarti “relating to learning”. Perkataan itu mempunyai akar kata Mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science). Perkataan Mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (Suherman, 2003:16).

Berdasarkan berbagai pendapat tentang definisi dan deskripsi matematika di atas, benar-benar menunjukkan begitu luasnya objek kajian dalam matematika.

Matematika selalu memiliki hubungan dengan disiplin ilmu yang lain untuk pengembangan keilmuan. Bagi guru, dengan memahami hakekat definisi dan deskripsi matematika sebagaimana tersebut di atas tentunya memiliki kontribusi yang besar untuk menyelenggarakan proses pembelajaran matematika secara lebih bermakna.

8. Materi Ajar

a. Teorema Pythagoras

(35)

Pythagoras menyatakan bahwa : “Untuk setiap segitiga siku-siku berlaku kuadrat panjang sisi miring (Hipotenusa) sama dengan jumlah kuadrat panjang sisi siku-sikunya.”

Jika c adalah panjang sisi miring/hipotenusa segitiga, a dan b adalah panjang sisi siku-siku. Berdasarkan teorema Pythagoras di atas maka diperoleh hubungan:

c2 = a2 + b2

Dalil pythagoras di atas dapat diturunkan menjadi:

a2 = c2 – b2 b2 = c2 – a2

Catatan : Dalam menentukan persamaan Pythagoras yang perlu diperhatikan adalah siapa yang berkedudukan sebagai hipotenusa/sisi miring.

1) Ilustrasi

Dalam segitiga siku-siku di C Berlaku rumus:

b a BC2 = AC2 + AB2 Atau

c a2 = b2 + c2 Menghitung Panjang sisi segitiga siku-siku

1. Pada suatu segitiga ABC siku-siku di titik A. panjang AB= 4 cm dan AC= 3 cm. Hitunglah panjang BC!

Jawab:

BC2 = AC2 + AB2

BC2 = 32 + 42 3 cm ?

A B

C

A B

C

(36)

BC2 = 9 + 16 BC2 = 25

BC = 5 cm 4 cm

2. Panjang sisi siku-siku dalam segitiga siku-siku adalah 4x cm dan 3x cm. Jika panjang sisi hipotenusanya 20 cm. Tentukan nilai x.

Jawab:

AC2 = AB2 + BC2 202 = (4x)2 + (3x)2 400 = 16x2 + 9x2 400 = 25x2 16 = x2 4 = x

b. Menentukan Jenis Segitiga jika Diketahui Panjang Sisinya dan Triple Pythagoras

1) Kebalikan Dalil Pythagoras

Dalil pythagoras menyatakan bahwa dalam segitiga ABC, jika sudut A siku-siku maka berlaku a2 = b2 + c2.

Dalam ABC, apabila a adalah sisi dihadapan sudut A, b adalah sisi dihadapan sudut B, c adalah sisi dihadapan sudut C, maka berlaku kebalikan Teorema Pythagoras, yaitu:

Jika a2 = b2 + c2 maka ABC siku-siku di A.

Jika b2 = a2 +c2 maka ABC siku-siku di B.

Jika c2 = a2 + b2 maka ABC siku-siku di C.

B C

A

20 cm

(37)

Dengan menggunakan prinsip kebalikan dalil Pythagoras, kita dapat menentukan apakah suatu segitiga merupakan segitiga lancip atau tumpul.

a) Jika a2 = b2 + c2 maka ABC adalah segitiga siku-siku.

b) Jika a2 > b2 + c2 maka ABC adalah segitiga tumpul.

c) Jika a2 < b2 + c2 maka ABC adalah segitiga lancip.

Contoh Soal

Tentukan jenis segitiga yang memiliki panjang sisi 5 cm, 7 cm dan 8 cm ?

Jawab:

Dik : sisi terpanjang adalah 8 cm, maka a = 8cm, b = 7cm dan c = 5 cm a2 = 82 = 64

b2 + c2 = 72 + 52 b2 + c2 = 49 + 25 b2 + c2 = 74

karena a2 < b2 + c2, maka segitiga tersebut adalah segitiga lancip

2) Triple Pythagoras

Yaitu pasangan tiga bilangan bulat positif yang memenuhi kesamaan “kuadrat bilangan terbesar sama dengan jumlah kuadrat kedua bilangan yang lain.”

Contoh :

(38)

1. 3, 4 dan 5 adalah triple Pythagoras sebab, 52 = 42 + 32

2. 5, 12, dan 13 adalah triple Pythagoras sebab, 132 = 122 + 52

3. 3, 6, dan 9 adalah bukan triple Pythagoras sebab, 92 ≠ 62 + 32

Contoh Soal

1. Segi tiga ABC siku-siku di titik A ,diketahui panjang AB = 3 cm dan AC = 4 cm, hitunglah panjang BC.

Penyelesaian:

BC2 = AB2 + AC2

= 32 + 42

= 9 + 16

= 25 BC = √25

= 5

Jadi panjang BC = 5 cm

A B

C

(39)

2. Segitiga ABC siku-siku di titik A, diketahui panjang sisi AC miring BC = 10 cm, dan AB = 6 cm, hitunglah panjang sisi

Penyelesaian:

BC2 = AB2 + AC2 102 = 62 + AC2

100 = 36 + AC2

AC2 = 100 - 36 = 64 AC = √64 = 8

Jadi panjang sisi AC = 8 cm

3. Tentukan jenis segitiga yang memiliki panjang sisinya : 8cm, 7cm dan 12 cm. Jawab: dik : sisi terpanjang adalah 12 cm, maka a= 12 cm, b = 7cm dan c = 8 cm

a2 = 122 = 144 b2 + c2 = 72 + 82 b2 + c2 = 49 + 64 b2 + c2 = 113

karena a2 > b2 + c2, maka segitiga tersebut adalah segitiga tumpul

c. Penerapan phytagoras dalam kehidupan sehari-hari 1) Penerapan dalam menyelesaikan soal

A B

C

(40)

Banyak soal baik dalam matematika dan fisika yang untuk menyelesaikannya perlu menggunakan rumus Pythagoras.

Contoh soal

Tentukan diagonal ruang dari balok dengan panjang 3 cm, lebar 4 cm, dan tinggi 5 cm. Untuk menentukan panjang diagonal ruang balok tersebut mau tidak mau kita harus menggunakan Pythagoras.

Penyelesaian

Diagonal bidang = √(32 + 42) =√25 = 5 cm Diagonal ruang = √(52 + 52) = √250 = 5√10 cm 2) Penerapan dalam praktek nyata

Penerapan teorema Pythagoras dilakukan di banyak bidang terutama bidang arsitektur. Arsitek menggunakannya untuk mengukur kemiringan bangunan, misalnya kemiringan sebuah tanggul agar mampu menahan tekanan air. Ini juga sangat membantu dalam menentukan biaya pembuatan bangunan.

Seorang tukang kayu pun untuk membuat segitiga penguat pilar kayu menggunakan teorema Pythagoras

B. KERANGKA PIKIR

Secara umum hasil belajar matematika siswa dan penguasaan siswa terhadap konsep-konsep matematika masih berada pada tataran yang rendah.

Hal ini juga terjadi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa Kabupaten Gowa, dimana hasil belajar siswa masih banyak yang tidak

(41)

memenuhi KKM yang sudah ditetapkan di sekolah tersebut. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika dan penguasaan siswa terhadap konsep dasar matematika, guru diharapkan mampu berkreasi dengan menetapkan strategi pembelajaran matematika yang cocok. Strategi pembelajaran yang dipilih haruslah sesuai dengan materi yang akan diajarkan serta dapat mengoptimalkan suasana belajar.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Tasnim (2014:55) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan) efektif pada pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII MTS Negeri Model Makassar khususnya pada pokok bahasan Teorema Phytagoras. Berdasarkan penelitian yang juga dilakukan sebelumnya oleh Kolnel (2014:45) dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VII SMP PGRI 35 Serpong.

Serta penelitian yang dilakukan oleh Faizah (2012:59) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan) efektif pada pembelajaran matematika kelas X MAN 1 Purwodadi. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan) efektif.

Strategi pembelajaran GASING, siswa tidak diajarkan materi matematika yang dominan dengan menghafal rumus seperti yang ada pada buku, namun siswa diajarkan untuk menggunakan logika dan hitungan yang

(42)

bermodalkan kemampuan dasar hitung siswa, yaitu: tambah, kali, kurang, dan bagi dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Pembelajarannya dilaksanakan secara fleksibel. Bisa dimulai dengan menghubungkan materi matematika yang akan dipelajari dengan apa yang ada di dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa lebih tertarik dan merasa bahwa matematika mempunyai kegunaan dalam kehidupan. Rumus yang ada pada materi pelajaran tidak diberikan begitu saja tetapi terlebih dahulu diberikan pemahaman dengan logika sesederhana mungkin sehingga memungkinkan bagi siswa dapat mengerjakan soal-soal terlepas dari rumus yang ada.

Dengan kata lain, pembelajaran GASING menjembatani matematika yang dulunya merupakan suatu hal yang sulit bahkan menyeramkan, menjadi menyenangkan.

C. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan kerangka teoritik di atas maka hipotesis penelitian ini adalah: “Hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa Kabupaten Gowa”. Untuk mencermati ada tidaknya pengaruh tersebut, maka akan dilakukan pengujian terhadap peningkatan hasil belajar dan pengujian terhadap ketuntasan hasil belajar matematika setelah penggunaan strategi pembelajaran GASING.

Untuk keperluan pengujian statistiknya, kedua hal tersebut dirumuskan sebagai berikut:

1. 0,30 melawan 0,30 Keterangan:

(43)

= Parameter peningkatan hasil belajar matematika 2. 70 melawan 70

Keterangan:

=Parameter hasil belajar matematika siswa setelah penggunaan strategi pembelajaran gasing.

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Lokasi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian pra eksperimen yang hanya memperhatikan satu variabel yaitu variabel hasil belajar matematis serta keaktifan siswa yang diperoleh dari pembelajaran sebelum dan setelah menerapkan strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan).

Penelitian ini rencananya akan dilaksanakan di SMP Negeri 4 Sungguminasa untuk mata pelajaran matematika kelas VIII.

B. Desain penelitian

Adapun desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest – posttest desain, yaitu eksperimen yang dilaksanakan pada satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding. Di dalam desain ini observasi dilakukan dua kali yaitu sebelum eksperimen (O1) di sebut pretest, dan perlakuan (treatment) sesudah eksperimen (O2) disebut posttest.

Desain ini di gambarkan sebagai (Sugiyono, 2010 : 111) berikut:

Tabel 3.1 Bagan Rancangan Penelitian

Pretest Perlakuan Posttest

01 X 02

32

(45)

Keterangan:

01 : Tes awal yang diberikan pada kelas eksperimen di awal penelitian.

X : Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen, yaitu strategi pembelajaran GASING.

02 : Tes akhir yang diberikan pada kelas eksperimen di akhir penelitian.

C. Variabel dan Treatment

Hasil belajar matematika siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai yang diperoleh sebelum dan setelah mendapatkan pengajaran materi dengan menerapkan strategi pembelajaran gasing.

Strategi pembelajaran gasing yang dimaksud adalah strategi pembelajaran yang mengajarkan bagaimana berfikir seperti seorang matematikawan dalam menyelesaikan soal-soal matematika dengan pendekatan logika dan hampir tanpa rumus, karena strategi pembelajaran gasing ini menggunakan logika biasa berdasarkan konsep dasar matematika dan kemampuan hitung dasar matematika yang meliputi tambah, kurang, bagi, dan kali, peserta didik dapat mengerjakan soal dengan cepat dan benar.

D. Populasi Dan Sampel

1. Populasi adalah sekumpulan orang, hewan, tumbuhan atau benda yang mempunyai karakteristik tertentu yang akan diteliti. Populasi akan menjadi wilayah generalisasi kesimpulan hasil penelitian (Sugiyono, 2011:9). Sehingga populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa.

(46)

2. Sampel adalah cuplikan atau bagian dari populasi. Peneliti boleh mengambil sebagian populasi saja untuk diteliti meskipun kesimpulan hasil peneliti akan berlaku untuk semua populasi (Sugiyono, 2011:10).

Teknik pengumpulan sampel yang digunakan adalah Pada penelitian ini, teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling.

Adapun langkah-langkahnya yaitu:

a. Membuat kerangka sampling yang berisi 13 kelas sebagai unit sampling (kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa Kabupaten Gowa Kelas VIII terdiri dari 13 kelas yaiitu VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF, VIIIG, VIIIH, VIIII, VIIIJ, VIIIK, VIIIL, VIIIM. b. Memilih satu kelas secara random dari kerangka sampling yang

terbentuk. Pemilihan secara random dilakukan karena kelas VIII memiliki kelas homogen (tidak ada pengklasifikasian antara siswa yang kecerdasannya tinggi dengan siswa yang kecerdasannya rendah).

c. Kelas yang dipilih akan dijadikan sebagai kelas penelitian untuk diterapkan strategi pembelajaran GASING.

d. Siswa yang terlibat dari kelas tersebut merupakan sampel yang akan diselidiki dalam penelitian ini.

(47)

E. Prosedur Penelitian

Adapun tahap- tahap prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tahap persiapan

Tahap ini merupakan suatu tahap persiapan untuk melaksanakan suatu perlakuan, pada tiap langkah – langkah yang di lakukan peneliti adalah sebagai berikut:

a. Meminta izin kepada kepala sekolah SMP Negeri 4 Sungguminasa untuk mengadakan penelitian.

b. Menelaah kurikulum dan materi matematika SMP sederajat.

c. Menyusun perangkat pembelajaran seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dan LKS.

2. Tahap Pelaksanaan

Peneliti mengumpulkan data dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Melakukan observasi untuk melihat proses kegiatan belajar mengajar di sekolah untuk mengetahui keadaan belajar peserta didik.

b. Memberikan tes awal (pre-test) sebelum penggunaan strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan).

c. Memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran matematika dengan menerapkan strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan).

d. Data mengenai perubahan sikap peserta didik, dikumpulkan melalui pengamatan pada saat kegiatan pembelajaran.

(48)

3. Tahap Pemberian Tes Akhir

Memberikan tes akhir untuk mengetahui hasil belajar peserta didik setelah penerapan strategi pembelajaran GASING (gampang, asyik dan menyenangkan).

4. Tahap Analisis Data

Setelah data tersebut terkumpul maka langkah selanjutnya yaitu mengolah data tersebut untuk mengatahui hasil dari penelitian.

5. Tahap Pembuatan Kesimpulan

Setelah tahap analisis data maka tahap selanjutnya yaitu pembuatan kesimpulan tentang hasil penelitian.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah.

Adapun instrumen penelitian yang akan digunakan peneliti dari berbagai pertimbangan di atas adalah sebagai berikut:

1. Tes hasil belajar

Tes hasil belajar matematika merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sungguminasa terhadap mata pelajaran matematika.

Gambar

Gambar 2.1: Skema Tahapan Strategi Pembelajaran
Tabel 2.2 : Tahapan Strategi Pembelajaran GASING
Tabel 3.2 Kategorisasi Standar  Hasil Belajar Siswa  Tabel 3.2 Kategori Standar Hasil Belajar Siswa
Tabel  4.1. Statistik Hasil Belajar Matematika  Siswa yang Diajar dengan  Menggunakan  Strategi  Pembelajaran  GASING  (gampang,  asyik  dan  menyenangkan)  sebelum  diberikan  perlakuan  (Pretest)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu syarat dari objek jual beli menurut Fatwa DSN MUI Nomor 110 Tahun 2017 mengenai Akad Jual Beli seperti yang telah disebutkan di atas ialah benda atau objek

Sebab kematian korban ini dikarenakan luka tembak masuk jarak jauh dari arah depan pada daerah dada sebelah kiri yang mengenai jantung serta menyebabkan terjadinya perdarahan

Menganalisis hubungan pengetahuan, sikap phbs guru UKS, ketersediaan fasilitas, ketersediaan dana PHBS, dukungan petugas kesehatan, dukungan kepala sekolah dan peraturan

Myös dementialääk- keiden käyttö on yleisintä van- huksilla [4] ja on yleistynyt nopeasti: sekä dementialääkkei- den kulutus että niistä lääkekor- vauksia saaneiden määrä

belum mendapatkan pesaing serta bahan baku yang mudah didapat akan sangat besar potensi perkembangan dari usaha vas limbah. Usaha ini akan membuka peluang yang lebih

2) Pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima dikurangi semua biaya yang telah dikeluarkan. 3) Produsen adalah petani sampel yang mengusahakan lahan dengan

Atur nilai tegangan input dari sine generator dan/atau nilai gain pada power amplifier sehingga nilai tingkat tekanan bunyi yang terbaca pada SLM kelas 1 sesuai

KEPALA DESA SEKERTARIS DESA.. BIDANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DESA 2.3. Sub Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 2.3.04. ROKHMAN. KEPALA DESA SEKERTARIS DESA.. BIDANG