• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LAPORAN KASUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III LAPORAN KASUS"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien

Pasien berinisial Tn. JP berusia 29 tahun. Pasien berjenis kelamin laki-laki, beragama Islam, dan bertempat tinggal di Baki Sukoharjo. Pasien memiliki sisi dominan kanan. Status pasien belum menikah. Pasien

merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Pendidikan terakhir pasien adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), pasien sebelumnya bekerja sebagai tukang bangunan.

Berdasarkan rekam medis di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta, pasien memiliki diagnosis pada aksis I yaitu F20.3 yaitu Skizofrenia Tak Terinci, pada aksis II yaitu BAD (belum ada diagnosis), aksis III yaitu TAD (tidak ada diagnosis), aksis IV masalah psikososial, dan aksis V yaitu GAF 70-61 yaitu beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik.

B. Data Subjektif

Data subjektif yang dilakukan meliputi initial assessment, observasi klinis, screening test, dan model treatment:

1. Initial Assessment

Berdasarkan hasil interview yang dilakukan pada hari Jumat, 22 Januari 2021 diperoleh data bahwa pasien dengan inisial Tn. JP

(2)

dibawa ke RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta oleh tetangganya.

Menurut pasien alasan ia dibawa ke RSJD dr. Arif Zainudin adalah karena mengamuk. Pasien mengeluh bahwa dirinya saat ini tidak bisa tidur karena stres dan ingin segera pulang ke rumah. Pasien merasa jenuh, tersiksa dan bosan saat di RSJ. Pasien berobat ke RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta merupakan pengobatan yang kedua sejak tahun 2020. Pasien berharap agar dirinya bisa sembuh dan bisa kembali ke rumah.

2. Observasi Klinis

Berdasarkan observasi klinis yang dilakukan pada hari Jumat, 22 Januari 2021 diperoleh data bahwa pasien berpenampilan cukup rapi, bersih dan sehat. Pakaian yang digunakan pasien terlihat bersih dan tidak terbalik. Wajah, gigi dan kuku pasien terlihat bersih, nafas pasien juga tidak bau, namun rambut pasien terlihat berantakan dan kumal. Pasien memiliki tato di tangan kiri dan pungungnya. Komunikasi pasien cukup baik dan jelas, kualitas bicara pasien “nyambung” dan sesuai dengan topik yang dibahas dengan suara yang dapat menyesuaikan situasi dan kondisi. Perilaku keseharian pasien cukup kooperatif dan baik. Sikap pasien pada terapis sopan dan baik, namun pasien terlihat gugup, gelisah dan malu saat bersama terapis. Pasien mampu menjawab dan mengikuti instruksi dari terapis, namun atensi pasien mudah terdistraksi dan belum mampu mempertahankan konsentrasinya. Pasien suka

(3)

menyendiri, tiduran di kasur dan sering melamun ketika di bangsal.

Pasien belum memiliki inisiatif untuk menyapa terapis terlebih dahulu. Pasien belum mampu membuat kontak mata saat bicara dengan terapis.

3. Screening Test

Berdasarkan hasil screening test yang dilakukan pada hari Jumat, 22 Januari 2021, diketahui bahwa pasien memiliki hubungan yang kurang baik dengan tetangganya. Gejala gangguan jiwa pasien pertama kali muncul sejak tahun 2020. Pasien dirawat di RSJD dr.

Arif Zainudin Surakarta merupakan pengobatan yang ke 2. Menurut pasien, alasan ia dibawa ke RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta karena mengamuk, pasien merasa tetangganya iri dengan apa yang pasien punya. Berdasarkan struktur keluarga pasien, tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan jiwa.. Hubungan pasien dengan keluarga baik. Pasien merokok sebanyak satu bungkus per hari, pasien sering mabuk-mabukan, dan tidak mengonsumsi narkotika. Di dalam masyarakat pasien tidak aktif mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan rumahnya. Pasien juga kurang bersosialisasi di lingkungan rumahnya. Menurut pasien ia jarang bergaul karena pasien merasa malu dan minder dengan kondisinya yang mengalami gangguan jiwa. Kegiatan pasien setelah pulang bekerja adalah tiduran dan nonton TV di rumah. Riwayat pendidikan

(4)

terakhir pasien adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Sebelum sakit pasien bekerja sebagai tukang bangunan.

Secara umum penampilan pasien bersih, rapi dan sehat.

Pasien memiliki tipe tubuh mesomorph. Cara bicara pasien cukup baik dan jelas, kualitas bicara pasien “nyambung” dan sesuai dengan topik yang dibahas, kecepatan bicara pasien standar, kekerasan dan intonasi suara pasien sedang. Sikap pasien pada terapis cukup kooperatif, sopan dan baik. Pasien kesulitan menjawab pada komponen comprehension dan pengulangan. Pasien mampu menjawab dan mengikuti instruksi dari terapis. Pasien memiliki level insight 2 dimana pasien memiliki sedikit kesadaran akan gangguan jiwa dan kebutuhan akan bantuan namun menyangkal pada saat yang bersamaan. Atensi pasien mudah terdistraksi dan pasien juga belum mampu mempertahankan konsentrasinya.

Kemampuan Activity Daily Living (ADL) pasien mampu mandiri dan tidak mengalami masalah.

4. Model Treatment

Kerangka acuan yang digunakan pada kasus ini adalah kerangka acuan kognitif perilaku yang merupakan aplikasi strategi dan metode regulasi diri untuk mengubah cara berpikir dan berperilaku (Meichenbaum, 1997). Karena kerangka acuan ini dapat digunakan untuk mengubah cara berfikir pasien agar menjadi lebih positif terhadap diri dan lingkungannya.

(5)

C. Data Objektif

Pemeriksaan yang telah dilakukan pada pasien menggunakan instrumen atau blangko pemeriksaan terstandar yaitu pemeriksaan Mini Mental State Examination (MMSE), Interest Checklist, Beck Depression Inventory (BDI), Comprehensive Occupational Therapy Scale (COTE), dan Social Interaction Anxiety Scale (SIAS).

1. Mini Mental State Examination (MMSE)

Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan instrumen Mini Mental State Examination (MMSE) yang dilakukan pada hari Senin, 22 Januari 2021 pasien mendapat nilai total 24 yang berarti pasien tidak memiliki gangguan kognitif.

2. Interest Checklist

Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan instrumen Interest Checklist yang dilakukan pada hari Senin, 22 Januari 2021 didapatkan hasil bahwa pasien memiliki kesenangan pada aktivitas menari, olahraga, melihat TV dan mendengarkan musik.

3. Beck Depression Inventory (BDI)

Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan instrumen Beck Depression Inventory (BDI) yang dilakukan pada hari Senin, 22 Januari 2021 pasien mendapat nilai total 33 yang berarti pasien memiliki gangguan depresi berat.

(6)

4. Comprehensive Occupational Therapy Evaluation Scale (COTE) Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan instrumen Comprehensive Occupational Therapy Scale (COTE) yang dilakukan pada hari Senin, 22 Januari 2021 pasien memperoleh total skor 13. Pada komponen perilaku umum pasien memperoleh total skor 3. Pasien memiliki masalah pada sub kenampakan/penampilan mendapat skor 1, pada sub perilaku tidak produktif mendapat skor 1, dan pada sub perilaku bertanggung jawab mendapat skor 1.

Pada komponen interpersonal pasien memperoleh total skor 6. Pasien memiliki masalah pada sub kerjasama mendapat skor 1, pada sub tindakan asertif mendapat skor 1, pada sub bersosialisasi mendapat skor 3, dan pada sub respon negatif dari yang lain mendapat skor 1.

Pada komponen perilaku melaksanakan tugas memperoleh skor 4. Pasien memiliki masalah pada sub konsentrasi, problem solving, ketertarikan dalam menyelesaikan aktivitas dan membuat keputusan yang pada masing-masing sub komponen mendapat skor 1.

5. Social Interaction Anxiety Scale (SIAS)

Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan instrument Social Interaction Anxiety Scale (SIAS) yang dilakukan pada hari Senin, 22 Januari 2021 pasien mendapat total nilai 47 yang berarti bahwa pasien memiliki gangguan interaksi sosial sedang.

(7)

D. Pengkajian Data

1. Rangkuman Data Subjektif dan Objektif

Berdasarkan data subjektif dan objektif diperoleh data bahwa pasien berpenampilan cukup bersih, rapi dan sehat. Cara bicara pasien cukup baik dan jelas, kualitas bicara pasien

“nyambung” dan sesuai dengan topik yang dibahas, kecepatan bicara pasien standar, kekerasan dan intonasi suara pasien sedang.

Pasien suka menyendiri, tiduran di kasur, sering melamun ketika di bangsal dan enggan berinteraksi dengan orang lain. Pasien belum berinisiatif untuk menyapa terapis. Pasien terlihat gugup, gelisah dan malu saat bersama terapis. Saat di rumah kegiatan pasien setelah bekerja hanya menonton tv dan tiduran saja. Pasien tidak aktif mengikuti kegiatan di lingkungan rumahnya. Pasien juga kurang bersosialisasi di lingkungan rumahnya. Pasien belum mampu membuat kontak mata saat bicara dengan terapis. Kemampuan Activity Daily Living (ADL) pasien mampu mandiri. Perilaku keseharian pasien cukup kooperatif dan baik. Pasien memiliki level insight 2 dimana pasien memiliki sedikit kesadaran akan gangguan jiwa dan kebutuhan akan bantuan namun menyangkal pada saat yang bersamaan. Atensi pasien mudah terdistraksi dan pasien juga belum mampu mempertahankan konsentrasinya. Berdasarkan pemeriksaan Mini Mental State Examination pasien tidak memiliki gangguan kognitif. Berdasarkan pemeriksaan Beck Depression Inventory

(8)

pasien mengalami depresi berat. Berdasarkan pemeriksaan Interest Checklist pasien mampu mengungkapkan ketertarikannya pada menari, olahraga, melihat TV dan mendengarkan musik.

Berdasarkan pemeriksaan Comprehensive Occupational Therapy Scale (COTE) diketahui bahwa pasien mengalami gangguan interpersonal pada kemampuan bersosialisasi.

2. Aset

Berdasarkan data subjektif dan objektif maka diperoleh aset yang dimiliki pasien yaitu pasien berpenampilan cukup bersih, rapi dan sehat. Cara bicara pasien cukup baik dan jelas, kualitas bicara pasien “nyambung” dan sesuai dengan topik yang dibahas.

Kemampuan Activity Daily Living (ADL) pasien mampu mandiri.

Perilaku keseharian pasien cukup kooperatif dan baik. Sikap pasien pada terapis sopan dan baik. Berdasarkan pemeriksaan dengan Mini Mental State Examination pasien tidak memiliki gangguan kognitif.

Berdasarkan pemeriksaan dengan Interest Checklist pasien mampu mengungkapkan ketertarikannya pada aktivitas menari, olahraga, melihat TV dan mendengarkan musik.

3. Limitasi

Berdasarkan data subjektif dan objektif maka diperoleh limitasi yang dimiliki pasien yaitu Pasien suka menyendiri, tiduran di kasur, sering melamun ketika di bangsal dan enggan berinteraksi dengan orang lain. Pasien tidak aktif mengikuti kegiatan di

(9)

lingkungan rumahnya. Pasien juga kurang bersosialisasi di lingkungan rumahnya. Pasien terlihat gugup, gelisah dan malu saat bersama terapis. Pasien belum mampu membuat kontak mata saat bicara dengan terapis. Atensi pasien mudah terdistraksi dan pasien juga belum mampu mempertahankan konsentrasinya. Berdasarkan pemeriksaan dengan Becks Depression Inventory pasien mengalami depresi berat. Berdasarkan pemeriksaan dengan Comprehensive Occupational Therapy Evaluation pasien mengalami gangguan interpersonal pada kemampuan bersosialisasi. berdasarkan pemeriksaan dengan Social Interaction Anxiety Scale pasien memiliki gangguan interaksi sosial sedang.

4. Prioritas masalah

Prioritas masalah yang diambil adalah perilaku pasien yang suka menyendiri dan enggan berinteraksi dengan orang lain.

5. Diagnosis OT

Berdasarkan prioritas masalah maka diagnosis OT yang diambil adalah social participation, karena pasien enggan berinteraksi dengan orang lain dan lebih suka menyendiri.

E. Perencanaan Terapi

1. Tujuan Jangka Panjang (Long Term Goal)

Pasien mau dan mampu berinteraksi melalui aktivitas bermain badminton secara mandiri dalam 8 kali sesi terapi.

(10)

2. Tujuan Jangka Pendek (Short Term Goal)

a. STG 1 : Pasien mau dan mampu berinteraksi dengan terapis melalui aktivitas bermain badminton secara mandiri dalam 2 kali sesi terapi.

b. STG 2 : Pasien mau dan mampu berinteraksi dengan pasien yang lain melalui aktivitas bermain badminton secara mandiri dalam 3 kali sesi.

c. STG 3 : Pasien mau dan mampu berinteraksi secara aktif saat diskusi kelompok membahas aktivitas bermain badminton secara mandiri dalam 3 kali sesi terapi.

3. Strategi/Teknik

Strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan jangka panjang maupun jangka pendek yaitu dengan listening for must, modelling and physical guidance, homework dan reinforcement.

4. Frekuensi

Pelaksanaan terapi dilakukan 2-3 kali dalam seminggu selama 8 kali sesi terapi.

5. Durasi

Terapi dilakukan dengan durasi 30-45 menit dalam satu kali sesi terapi.

6. Media Terapi

Media terapi yang digunakan adalah raket, shuttlecock, dan lapangan.

(11)

7. Home Program

Home Program yang diberikan kepada pasien adalah mengedukasi, memberi semangat serta arahan agar pasien mampu membaur dan berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain, diharapkan kepada pasien juga dapat menciptakan aktivitas yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan interaksi sosial pasien. Terapis juga memberikan pasien homework dengan meminta pasien untuk berkenalan dengan pasien lain saat berada di unit rehabilitasi.

F. Pelaksanaan Terapi

Jenis terapi yang diberikan kepada pasien adalah terapi individu dan terapi kelompok yang terdiri dari 8 kali sesi terapi. Kegiatan terapi yang dilakukan terdiri dari pendahuluan, orientasi, pemanasan, aktivitas inti, evaluasi dan penutup:

1. Pendahuluan

Pembukaan berisi ucapan salam, menyapa pasien, mengajak pasien berdoa sebelum melakukan kegiatan terapi, penjelasan outline kegiatan terapi, perkenalan terapis dengan pasien, dan penjelasan mengenai aturan-aturan yang harus ditaati saat proses terapi berlangsung. Terapis juga mengajak pasien untuk mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak sesuai dengan protokol kesehatan.

(12)

2. Orientasi

Terapis menanyakan kabar, suasana hati pasien, menanyakan hari, tanggal, bulan dan tahun berapa sekarang, keberadaan pasien saat ini. Orientasi ini dilakukan agar pasien mengetahui kondisinya pada saat itu dan melatih kemampuan orientasi waktu dan tempat pasien.

3. Pemanasan

Tahapan selanjutnya pemanasan. Pemanasan bertujuan untuk memperoleh atensi, meningkatkan semangat pasien, meningkatkan daya tarik pasien dan menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan bagi pasien agar mampu mengikuti kegiatan terapi sampai selesai. Sesi pemanasan diisi dengan perkenalan pasien, games, dan senam ringan. Terapis menjelaskan aktivitas apa saja yang akan dilakukan dan tujuan dari aktivitas tersebut.

4. Aktivitas Inti

Pada sesi ini menggunakan strategi listening for must, modelling and physical guidance, dan reinforcement. Dengan strategi listening for must terapis dapat memunculkan motivasi dari dalam diri pasien agar pasien mau dan mampu berinteraksi dengan orang lain. Strategi modelling and physical guidance dilakukan untuk memberikan contoh cara memulai dan mempertahankan komunikasi serta memberi bimbingan fisik agar pasien dapat

(13)

bekerjasama dan berdiskusi dengan teman. Strategi reinforcement bertujuan sebagai reward yang digunakan untuk meningkatkan minat pasien untuk melakukan aktivitas, reinforcement yang diberikan dapat berupa pujian ataupun makanan.

5. Evaluasi

Kegiatan evaluasi berupa mereview kegiatan terapi yang telah dilakukan, bertujuan untuk mengajak pasien mereview kegiatan terapi dari awal sampai akhir, terapis menanyakan perasaan pasien setelah melakukan kegiatan terapi serta mengajak pasien pasien membereskan alat-alat terapi yang telah digunakan.

6. Penutup

Terapis mengajak pasien berdoa, terapis memberikan ucapan terimakasih dan mengajak pasien mencuci tangan dan membereskan peralatan yang telah dipakai.

1. Short Term Goal 1

Kegiatan terapi dilaksanakan pada tanggal 23 dan 25 Januari 2021, dengan durasi 30-45 menit dan waktu istirahat sekitar 15 menit. Tujuan pelaksanaan terapi ini adalah pasien mau dan mampu berinteraksi dengan terapis melalui aktivitas badminton secara mandiri. Adapun tahapan kegiatan pelaksanaan terapi sebagai berikut:

(14)

a. Pendahuluan

Sebelum kegiatan terapi dilakukan pasien diminta mencuci tangan menggunakan sabun/memakai handsanitazier, memakai masker dan menjaga jarak sesuai dengan protokol kesehatan. Pendahuluan berisi menyapa pasien, mengucapkan salam, menanyakan kabar dan mengajak pasien untuk berdoa sebelum memulai kegiatan terapi, penjelasan outline kegiatan, tujuan, perkenalan, membacakan peraturan yang harus ditaati selama kegiatan terapi berlangsung. Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan interaksi pasien degan terapis.

b. Orientasi

Terapis menanyakan suasana hati pasien saat ini dan kegiatan yang dilakukan pasien dibangsal sebelum datang ke unit rehabilitasi. Terapis juga menanyakan hari, tanggal, bulan, tahun berapa sekarang dan keberadaan pasien saat ini. Pasien mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh terapis.

c. Pemanasan

Pemanasan dilakukan dengan senam yang dilakukan selama 15 menit. Pasien mampu mengikuti gerakan senam dengan baik dan benar.

(15)

d. Aktivitas inti

Kegiatan terapi diawali dengan menerapkan strategi listening for must yaitu dengan mengedukasi dan mengajak pasien berdiskusi mengenai manfaat dan pentingnya melakukan interaksi sosial dengan orang lain. Selanjutnya terapis mencontohkan bagaimana cara menegur/menyapa, memperkenalkan diri dan memulai pembicaraan dengan orang lain, disini terapis menggunakan strategi modelling and physical guidance. Respon pasien, pasien mampu memperkenalkan diri dengan baik, meskipun sedikit kurang percaya diri, pasien juga mau menyapa dan menanyakan kabar terapis. Terapis juga menjelaskan kegiatan yang dapat meningkatkan interaksi sosial pasien, salah satunya bermain badminton.

Kegiatan selanjutnya terapis meminta pasien untuk membantu menyiapkan alat yang digunakan untuk bermain badminton. Terapis juga meminta pasien untuk membuat garis tengah di lapangan sebagai pengganti net. Terapis memberikan pasien kesempatan untuk memilih sisi kanan atau kiri. Selama permainan berlangsung terapis memberikan semangat pada pasien, terapis juga memberikan pukulan yang lambat dan cepat agar pasien mau memulai interaksi dengan terapis. Respon pasien,

(16)

pasien mampu meminta terapis untuk melakukan pukulan yang santai dan pelan.

e. Evaluasi

Aktivitas ini menggunakan strategi reinforcement yaitu terapis memberikan pujian dan makanan ringan karena pasien mampu mengikuti kegiatan terapi dari awal sampai selesai. Terapis menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti kegiatan terapi. Terapis juga menanyakan kembali kegiatan apa yang telah dilakukan hari ini dengan berdiskusi bersama pasien. Respon pasien, pasien merasa senang karena ia bisa melakukan hobinya di RSJ. Pasien dapat memberikan pendapat dan sarannya dalam aktivitas bermain badminton, pasien mampu menyarankan terapis untuk memberikan pukulan yang nyaman saat bermain badminton agar permainan bisa bertahan lebih lama.

Terapis juga menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada sesi terapi selanjutnya. Hasil yang didapatkan pasien sudah mulai berdiskusi dan berinteraksi dengan terapis.

f. Penutup

Kegiatan ditutup dengan berdoa bersama pasien, mengucapkan salam. Sebelum pasien kembali ke bangsal terapis mengajak pasien untuk mencuci tangan menggunakan sabun.

(17)

2. Short Term Goal 2

Kegiatan terapi dilaksanakan pada tanggal 26 dan 27 Januari 2021 dengan durasi 30-45 menit dan waktu istirahat sekitar 15 menit. Tujuan pelaksanaan terapi ini adalah pasien mau dan mampu berinteraksi dengan pasien lain melalui aktivitas badminton secara mandiri. Kegiatan terapi hari ini dilakukan secara berkelompok. Adapun tahapan kegiatan pelaksanaan terapi sebagai berikut:

a. Pendahuluan

Sebelum kegiatan terapi dilakukan pasien diminta mencuci tangan menggunakan sabun/memakai handsanitazier, memakai masker dan menjaga jarak sesuai dengan protokol kesehatan. Pendahuluan berisi menyapa pasien, mengucapkan salam, menanyakan kabar dan mengajak pasien untuk berdoa sebelum memulai kegiatan terapi, penjelasan outline kegiatan, tujuan, perkenalan, membacakan peraturan yang harus ditaati selama kegiatan terapi berlangsung. Pada sesi terapi kali ini, pasien sudah mulai berinisiatif untuk menyapa terapis terlebih dahulu.

Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan interaksi pasien dengan terapis dan pasien lainnya.

(18)

b. Orientasi

Terapis menanyakan suasana hati pasien saat ini dan kegiatan yang dilakukan pasien dibangsal sebelum datang ke unit rehabilitasi dan menanyakan hari, tanggal, bulan, tahun berapa sekarang dan keberadaan pasien saat ini.

Terapis juga menanyakan kegiatan yang telah dilakukan di sesi terapi sebelumnya. Pasien mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh terapis.

c. Pemanasan

Terapis mengajak pasien berkenalan dengan pasien lain dan senam bersama agar pasien bersemangat. Pasien sudah terlihat nyaman dan senang karena bertemu dengan pasien yang mempunyai tato. Pasien mampu menanyakan arti tato yang dimiliki temannya tersebut.

d. Aktivitas inti

Pada sesi ini terapis menjelaskan terlebih dahulu kegiatan yang akan dilakukan hari ini. Terapis meminta pasien untuk membantu menyiapkan alat untuk bermain badminton. Pasien memiliki inisiatif untuk membuat garis tengah sebagai pengganti net. Terapis meminta pasien bermain badminton dengan sesama pasien. Terapis membagi tim untuk bermain badminton, yaitu tim terapis yang terdiri dari dua orang terapis dan tim pasien yang

(19)

terdiri dari dua orang pasien. Dengan dibentuknya 2 tim terapis dan pasien, bertujuan agar pasien mampu berinteraksi dan berdiskusi dengan sesama pasien yang menjadi timnya untuk saling bekerjasama dan menyusun strategi. Strategi yang digunakan terapis dalam STG ini adalah listening for must yaitu memunculkan motivasi dari dalam diri pasien agar pasien mau berinteraksi dengan sesama pasien.

Kegiatan selanjutnya, diadakan perlombaan antara tim terapis dan tim pasien. Perlombaan dilakukan selama 2 kali sesi. Respon pasien, pasien mampu mengarahkan dan mengkoordinasi temannya untuk menjalankan strategi agar bisa menang. Pasien mampu mengawali pembicaraan dengan pasien temanya sesama pasien.

e. Evaluasi

Terapis menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti kegiatan terapi dan kegiatan yang telah dilakukan hari ini. Respon pasien terlihat senang dan pasien menjawab senang melakukan kegiatan terapi bersama terapis dan pasien lainnya. Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada sesi terapi selanjutnya. Aktivitas ini menggunakan strategi reinforcement yaitu terapis

(20)

memberikan pujian dan makanan ringan karena pasien mampu mengikuti kegiatan terapi dari awal sampai selesai.

f. Penutup

Kegiatan ditutup dengan berdoa bersama pasien, mengucapkan salam. Sebelum pasien kembali ke bangsal terapis mengajak pasien untuk mencuci tangan menggunakan sabun.

3. Pelaksanaan Short Term Goal 3

Kegiatan terapi dilaksanakan pada tanggal 28 dan 29 Januari 2021 dengan durasi 30-45 menit dan waktu istirahat sekitar 15 menit. Tujuan pelaksanaan terapi ini adalah Pasien mau dan mampu berinteraksi secara aktif melalui aktivitas bermain badminton.

Kegiatan terapi hari ini dilakukan secara berkelompok. Adapun tahapan kegiatan pelaksanaan terapi sebagai berikut:

a. Pendahuluan

Sebelum kegiatan terapi dilakukan pasien diminta mencuci tangan menggunakan sabun/memakai handsanitazier, memakai masker dan menjaga jarak sesuai dengan protokol kesehatan. Pendahuluan berisi menyapa pasien, mengucapkan salam, menanyakan kabar dan mengajak pasien untuk berdoa sebelum memulai kegiatan terapi, penjelasan outline kegiatan, tujuan, perkenalan, membacakan peraturan yang harus ditaati selama kegiatan

(21)

terapi berlangsung. Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan interaksi pasien dengan terapis dan pasien lainnya.

b. Orientasi

Terapis menanyakan suasana hati pasien saat ini dan kegiatan yang dilakukan pasien dibangsal sebelum datang ke unit rehabilitasi dan menanyakan hari, tanggal, bulan, tahun berapa sekarang dan keberadaan pasien saat ini.

Terapis juga menanyakan kegiatan yang telah dilakukan di sesi terapi sebelumnya.

c. Pemanasan

Terapis mengajak pasien berkenalan dengan pasien lain dan senam bersama agar pasien bersemangat. Pasien sudah terlihat nyaman dan senang karena bertemu dengan pasien lainnya.

d. Aktivitas inti

Terapis menjelaskan kegiatan terapi yang akan dilakukan hari ini yaitu pasien berdiskusi aktif dengan pasien lain. Terapis mencontohkan kepada pasien bagaimana cara memimpin jalannya diskusi. Terapis menggunakan strategi modelling and physical guidance.

Pasien diminta untuk memimpin jalannya diskusi, mulai dari pembukaan sampai penutup, pasien juga diminta untuk

(22)

melakukan seperti yang dicontohkan terapis yaitu pasien menjelaskan tentang manfaat permainan badminton untuk kesehatan jasmani dan rohani. Pasien yang lain diminta untuk mendengarkan dan memberi pertanyaan. Pasien (Tn.

JP) diminta untuk menjawab pertanyaan yang diajukan temannya, sebelum menjawab pertanyaan pasien diminta untuk menanyakan nama, bangsal dan alamat dari pasien yang bertanya. Strategi yang digunakan adalah listening for must yaitu memunculkan motivasi dari dalam diri pasien dengan memberikan pasien tanggung jawab sebagai pemimpin diskusi yang mengharuskan pasien untuk lebih berinteraksi secara aktif.

4. Evaluasi

Terapis menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti kegiatan terapi dan kegiatan yang telah dilakukan hari ini. Respon pasien senang melakukan kegiatan terapi bersama terapis dan pasien lainnya. Pasien juga merasa senang karena merasa ada teman yang diajak berdiskusi.

Aktivitas ini menggunakan strategi reinforcement yaitu terapis memberikan pujian dan makanan ringan karena pasien mampu mengikuti kegiatan terapi dari awal sampai selesai. Terapis juga memberikan pasien homework dengan

(23)

meminta pasien untuk berkenalan dengan pasien lain saat berada di unit rehabilitasi.

5. Penutup

Kegiatan ditutup dengan berdoa bersama pasien, mengucapkan salam. Sebelum pasien kembali ke bangsal terapis mengajak pasien untuk mencuci tangan menggunakan sabun.

A. Reevaluasi

1. Data Subjektif

Reevaluasi dilakukan selama proses terapi berlangsung.

Pelaksanaan terapi dilakukan secara individu dan kelompok.

Pelaksanaan terapi dilakukan sebanyak 6 kali sesi terapi yang awalnya direncanakan 8 kali sesi terapi. Hal tersebut dikarenakan pasien sudah mampu mencapai tujuan terapi yang diharapkan selama 6 kali sesi terapi dan masa rawat pasien yang sudah mau habis. Pelaksanaan terapi dilakukan di unit rehabilitasi RSJD dr. arif Zainudin Surakarta.

Reevaluasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang dialami pasien setelah melakukan terapi.

Berdasarkan observasi yang dilakukan selama sesi terapi berlangsung diperoleh hasil bahwa pasien sudah mampu berinteraksi sosial dengan terapis dan temannya. Pasien juga sudah mampu mengawali pembicaraan, menyapa, berbaur dan mengobrol dengan terapis dan temannya. Pasien juga sudah berinisiatif untuk menyapa

(24)

orang lain. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 29 Januari 2021, pasien tidak mempunyai keluhan tentang kondisinya.

Pasien juga merasa senang bisa melakukan aktivitas bermain badminton bersama terapis dan teman-temannya, namun pasien ingin pulang agar bisa kembali bekerja.

2. Reevaluasi Data Objektif

Dalam reevaluasi data objektif ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan pasien berdasarkan blangko pemeriksaan terstandar.

Pemeriksaan terstandar yang digunakan pada reevaluasi ini adalah Beck Depression Inventory (BDI), Comprehensive Occupational Therapy Examination (COTE) dan Social Interaction Anxiety Scale (SIAS).

Berdasarkan pemeriksaan Beck Depression Inventory (BDI) yang dilakukan pada tanggal 29 Januari 2021, pasien mendapat total nilai 17 yang berarti pasien mengalami depresi ringan.

Berdasarkan pemeriksaan Comprehensive Occupational Therapy Examination (COTE) yang dilakukan pada tanggal 29 Januari 2021, hasil pemeriksaan dilakukan dengan cara observasi selama pelaksanaan terapi. Observasi meliputi perilaku umum, interpersonal dan perilaku melaksankan tugas. Skala COTE untuk kondisi normal 0, sedangkan initial yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2021 diperoleh total skor 13. Pemeriksaan pada tanggal 27 Januari 2021 diperoleh skor 8 dan pemeriksaan pada tanggal 29 Januari 2021

(25)

diperoleh skor 3. Jadi kesimpulan dari pemeriksaan COTE dari initial sampai pemeriksaan yang ke 3 setelah dilakukan reevaluasi pasien mengalami peningkatan. Pada pemeriksaan interpersonal pada sub kemampuan bersosialisasi juga ada peningkatan dari nilai 3 diawal terapi menjadi 1 setelah dilakukan terapi.

Berdasarkan pemeriksaan Social Interaction Anxiety Scale (SIAS) yang dilakukan pada tanggal 29 Januari 2021, pasien mendapat total nilai 34 yang berarti pasien memiliki gangguan interaksi sosial minimal.

3. Hasil/Pencapaian Program Terapi

Berikut ini merupakan daftar pencapaian hasil terapi yang telah dilakukan pada pasien:

Tabel 3.1 Hasil Program Terapi

No Kondisi sebelum terapi Kondisi sesudah terapi 1. Pasien suka menyendiri

dan enggan melakukan kegiatan yang ada di bangsal.

Pasien sudah mulai berbaur dengan terapis dan teman- temannya. Pasien juga sudah mau mengikuti kegiatan yang ada di bangsal maupun di rehabilitasi.

2. Pasien jarang berinteraksi dengan orang lain.

Pasien sudah mulai berinteraksi dengan terapis dan temannya meskipun pasien merasa canggung dan sering menanyakan hal yang sama.

3. Pasien belum memiliki inisiatif untuk menyapa orang lain.

Pasien sudah mau menyapa dan memberikan salam dengan temannya.

4. Berdasarkan pemeriksaan dengan menggunakan instrumen BDI pasien mendapat total nilai 33

Berdasarkan pemeriksaan dengan menggunakan instrumen BDI pasien mendapat total nilai 17 yang

(26)

yang berarti pasien mengalami depresi berat.

berarti pasien mengalami depresi sedang.

5. Berdasarkan pemeriksaan dengan menggunakan instrumen COTE pasien mendapat total nilai 13.

Berdasarkan pemeriksaan dengan menggunakan instrumen COTE pasien mendapat total nilai 3.

6. Berdasarkan pemeriksaan dengan menggunakan instrumen SIAS pasien mendapat total skor 47 yang berarti pasien mengalami gangguan interaksi sosial sedang.

Berdasarkan pemeriksaan dengan menggunakan instrumen SIAS pasien mendapat total skor 34 yang berarti pasien mengalami gangguan interaksi sosial minimal.

Berdasarkan proses terapi yang telah dilakukan pada STG 1,2 dan 3 pasien mampu mencapainya.

4. Follow Up

Berdasarkan keseluruhan proses terapi berjalan dengan lancar dan dapat meningkatkan kemampuan pasien dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Terapis memberikan edukasi, arahan dan motivasi agar pasien mau untuk memulai pembicaraan dan berkomunikasi dengan orang lain. dan diharapkan pasien juga rajin untuk minum obat.

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi prasarana perhubungan dan sarana angkutan umum yang ada sesuai dengan laporan tahunan data pengembangan pembangunan di Provinsi Bengkulu 2014, disimpulkan bahwa

Jika tidak ada casing , jari-jari lubang bor ( rw ) dapat diperoleh dari hasil pengukuran caliper log atau diperkirakan dari diameter bit yang digunakan.. − Harga

Setelah selesai, barang-barang yang dibeli ibu ditata dengan rapi oleh tukang becak itu.. Mereka pulang dengan becak itu

Variasi lain dari suatu konsep pertanggungjawaban pidana tanpa kesalahan atau liability without fault adalah enterprise liability yang pada intinya atau pokoknya menunjukkan

Perancangan proses dalam penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan data dan mempelajarinya untuk disusun menjadi struktur data yang teratur

mendukung usaha sapi perah. Program tersebut diperoleh dari Pemerintah Pusat, provinsi dan kabupaten melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu dan

Carpal tunnel syndrome merupakan neuropati tekanan terhadap nervus medianus terowongan karpal di pergelangan tangan dengan kejadian yang paling sering, bersifat

Hasil belajar ranah kognitif pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi siswa yang menerapkan model pembelajaran ARIAS lebih baik dari pada hasil