• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian IV HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Bagian IV HASIL PENELITIAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

30 Bagian IV HASIL PENELITIAN

I. Gambaran Umum Tempat Penelitian (Komisi PAR GMIT Imanuel Kefamnanu)

Komisi PAR (Pendidikan Anak dan Remaja) adalah salah satu komisi di GMIT Imanuel Kefamnanu. Dalam komisi tersebut dapat membantu anak-anak dalam belajar dan memahami apa itu gereja dan alkitab. Komisi ini terbentuk sejak (sesuai sumber) pada tahun 1949 karena melihat kebutuhan anak-anak dalam memahami apa itu Agama dan Alkitab.1

Komisi ini dibentuk dengan tujuan anak-anak dapat memahami apa itu kekristenan, tokoh-tokoh alkitab, dan memahami arti kasih yang bisa diterapkan dalam tindakan, baik di keluarga, sekolah maupun lingkungan luar. Hal itu bisa menjadi bekal bagi anak-anak dalam menghadapi kehidupan dengan kasih.2

Secara umum, GMIT Imanuel Kefamnanu memiliki 25 Rayon dari beberapa rayon atau rukun tersebut, anak-anak sekolah minggu dibagi dalam 6 Wilayah. satu wilayah terdiri dari 4-5 rayon dengan setiap wilayah memiliki satu guru sekolah minggu saja. Kegiatan komisi PAR sering disebut oleh kebanyakan jemaat adalah sekolah minggu.3

Kegiatan sekolah minggu dilaksanakan setiap hari minggu pukul 09.00 pagi, seusai ibadah utama pertama. Pada minggu pertama, kedua dan ketiga, ibadah sekolah minggu ini dilaksanakan di setiap wilayah sesuai dengan pembagiannya, dan lokasinya adalah pada rumah pengajar tersebut atau sesuai kesepakatan penatua dan diaken rayon tersebut. 4

Minggu pertama, kedua dan ketiga, ibadah sekolah minggu lebih disebut sebagai ibadah SM Wilayah karena masih pada wilayah masing-

1 Wawancara dengan Guru SM – 1 (25 Januari 2018)

2 Wawancara dengan Guru SM – 1 (25 Januari 2018)

3 Wawancara dengan UPP SM (25 Januari 2018)

4 Wawancara dengan Guru SM – 2 (26 Januari 2018)

(2)

31

masing sesuai dengan pembagiannya yakni 6 wilayah. Masing-masing wilayah dengan GSM yang sudah dibagikan. Dalam ibadah tersebut, anak-anak sangat aktif dalam bernyanyi dan mendengarkan cerita. Dan kehadiran anak-anak dalam ibadah SM wilayah ± 70 anak.5

Pada minggu keempat, adalah sekolah minggu gabungan yakni seluruh wilayah digabung dalam satu gedung yakni didalam Gereja GMIT Imanuel, namun terkadang ibadah SM gabungan diadakan di gedung sebra guna karena kehadiran anak-anak sangat banyak namun yang dijadwalkan mengajar hanya satu pengajar dan pengajar lainnya mengawas anak-anak yang masih kecil.6

Ibadah Sekolah minggu tersebut juga digabung dalam semua usia yakni Batita, Balita, masa kanak-kanak awal-akhir dan remaja. Semua usia digabung dalam proses pengajaran sekaligus. Hal ini juga yang terjadi dalam ibadah Sekolah Minggu Wilayah yakni semua usia digabung dalam 1 ruang belajar.7

Dalam komisi PAR secara keseluruhan terdapat 20 pengajar terdiri dari 8 Guru Sekolah Minggu dan 12 Majelis Rayon sebagai pendamping, tetapi sebagai hitungan 12 majelis tersebut masuk dalam hitungan pengajar namun dalam pelaksanaannya, mereka bertugas sebagai pengawas dan pengamat sehingga tugas mereka dalam ibadah tersebut adalah mengawas dan mengamati anak-anak PAR dan 8 guru tetap lebih kepada mempersiapkan diri untuk mengajar namun yang bertanggung jawab untuk mengajar hanya 1 guru saja karena sudah dijadwalkan.8

Anak-anak dalam ibadah sekolah minggu gabungan ± 200-250 anak. Anak-anak yang hadir terdiri dari semua umur, yakni Balita, Batita, masa kanak-kanak awal-akhir dan remaja dengan proses pengajaran yang sama dalam waktu yang sama.

II. Peran Gereja Bagi Komisi PAR (Pendidikan Anak dan Remaja)

5 Wawancara dengan Guru SM – 2 (26 Januari 2018)

6 Wawancara dengan Guru SM – 2 (26 Januari 2018)

7 Wawancara dengan Guru SM – 1 (25 Januari 2018)

8 Wawancara dengan Guru SM – 1 (25 Januari 2018)

(3)

32

Komisi PAR (Pendidikan Anak dan Remaja) adalah salah satu komisi dalam gereja yang dapat membantu anak dalam bertumbuh dan berkembang menjadi karakter yang memahami kasih sehingga spiritualitas anak dapat diwujudnyatakan melalui sikap dan tindakan serta mendapatkan bekal untuk berproses dalam menghadapi dunia diluar keluarga dan gereja.9

Komisi PAR adalah salah satu komisi yang disepakati oleh gereja untuk anak-anak dalam proses tumbuh kembang iman dan spiritualitas.

Secara umum, gereja berperan dalam hal iman dan spiritualitas, sehingga semua proses belajar mengajar anak dalam komisi ini juga perlu diperhatikan. Dalam hal ini adalah cara belajar, cara mengajar serta cara anak-anak dan Guru Sekolah minggu beraktivitas dalam proses ibadah tersebut.10

Peran gereja bagi Komisi PAR juga tersedia baik yakni dalam persediaan guru, ruangan dan pembagian jadwal bagi guru yang mengajar sehingga setiap minggu tidak ada sekolah minggu yang tidak melaksanakan ibadah sekolah minggu. Gereja sangat memperhatikan akomodasi bagi proses ibadah Komisi PAR.11

Namun ada hal yang kurang diperhatikan yakni dalam proses pengajaran dan pembagian jadwal membuat anak-anak segala usia baik itu anak usia Batita, Balita, masa kanak-kanak awal-akhir dan remaja berada dalam satu ruang belajar yang sama, proses pengajaran yang sama dan metode belajar yang samapenggabungan kelas tersebut dilakukan karena minimnya SDM (Guru Sekolah Minggu) sehingga hal ini menjadi kurang efektif.12

Oleh karena itu gereja sebaiknya melihat aktivitas yang dilaksanakan dalam Komisi PAR tesebut. Gereja sudah menerima anak- anak untuk beraktivitas bersama dengan membuat komisi PAR, maka gereja seharusnya bertanggungjawab dalam tumbuh kembang anak baik

9 Wawancara dengan UPP SM (25 Januari 2018)

10 Wawancara dengan UPP SM (25 Januari 2018)

11 Wawancara dengan Guru SM – 2 (26 Januari 2018)

12 Wawancara dengan Guru SM – 2 (26 Januari 2018)

(4)

33

secara fisik maupun secara psikolog. Dalam proses tumbuh kembang anak dalam pendidikan di dalam gereja bisa membuahkan hasil yang baik bagi keluarga, gereja dan masyarakat.13

Peran gereja dalam Komisi PAR saat ini adalah menyediakan akomodasi dan fasilitas bagi pengajar dan anak-anak dalam melaksanakan ibadah sekolah minggu yakni gedung gereja,, 8 pengajar tetap, 12 majelis pengawas dan pengamat bagi anak-anak dalam ibadah Sekolah Minggu gabungan, dan pembagian wilayah sehingga mempermudah pelaksanaan ibadah Sekolah Minggu wilayah.14

III. Pembahasan

Teori dan praktik Pendidikan Agama Kristen berkaitan erat dengan pengembangan kreativitas dan kompetensi para guru PAK. Untuk mengajarkan agama kristen terutama dalam lembaga sekolah dan jemaat (gereja) di era atau abad baru dewasa ini,dalam mendidik ada 3 lembaga yang melaksanakan PAK yakni keluarga, gereja dan sekolah.

Menurut Dien Sumiyatiningsih, dalam bukunya Secara etimologis, istilah pendidikan dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan dari bahasa Inggris yakni Education, yang sebenarnya dari bahasa Latin yaitu ducere yang berarti membimbing (to lead) dan di awali dengan kata e berarti keluar. Sehingga tugas keluarga, gereja dan sekolah dalam pendidikan adalah membimbing anak keluar dari suatu keadaan tertentu menuju ke keadaan yang lebih baik.

Dalam hal ini, peneliti akan membahas tugas dan peran gereja.

Gereja memiliki tugas penting karena menjadi salah satu lembaga yang dipercayai dapat melaksanakan PAK dengan baik bagi jemaat. Gereja GMIT Imanuel Kefamnanu menjadi tempat penelitian untuk meneliti efektifitas dalam melaksanakan PAK terkhususnya komisi PAR (Pendidikan Anak dan Remaja).

PAK adalah salah satu tugas dan tanggungjawab gereja bagi perkembangan dan pertumbuhan rohani jemaat. Dari sekian banyak tugas

13 Wawancara dengan UPP SM (25 Januari 2018)

14 Wawancara dengan UPP SM (25 Januari 2018)

(5)

34

dan tanggungjawab gereja, secara khusus, gereja harus menitikiberatkan PAK sebagai tugas penting gereja karena Tuhan telah memberikan amanat kepada gereja yakni supaya mengajar. Oleh karena itu, PAK harus dikerjakan selayaknya dan sewajarnya terhisap dalam tugas gereja yang sah, sehingga harus dilaksanakan bersama dan oleh seluruh anggota jemaat. Menurut Homroghausen dan I.H Enklaar, dalam bukunya menjelaskan bahwa PAK sebaiknya diterapkan kepada seluruh jemaat dan diserap secara baik oleh jemaat. Sehingga gereja perlu memperhatikan proses pelaksanaan PAK dalam segala usia bagi jemaat.

Berdasarkan data yang didapatkan, peneliti melihat bahwa dalam pelaksanaan komisi PAR atau sering disebut sebagai ibadah sekolah minggu sudah diperhatikan dengan baik yakni ruangan, guru dan jadwal sudah disiapkan oleh gereja bagi proses belajar mengajar komisi PAR setiap minggunya.

Misalnya pelayanan untuk anak-anak (sekolah minggu), untuk pendidikan kaum remaja dan pemuda, relatif lebih muda karena gereja menyadari adanya kekhasan berdasarkan teori-teori perkembangan sehingga minat dan kebutuhannyapun berbeda-beda. Disamping itu, masa remaja dan pemuda adalah masa perpindahan ke arah dewasa; suatu masa yang rawan dan perlu pelayanan tersendiri. Selanjutnya pendidikan kristiani untuk kaum dewasa yang merupakan pelayanan kategorial yang masih baru.

Namun dalam proses belajar mengajar anak, gereja perlu melihat pertumbuhan usia anak dan perkembangan psikologi. Secara psikologi, perkembangan dan pertumbuhan anak sudah berbeda baik dalam berpikir maupun dalam memahami apa yang disampaikan oleh orang lain.

Dalam proses belajar mengajar anak dalam Komisi PAR dianggap kurang efektif karena adanya penggabungan anak usia batita, balita, kanak-kanak awal-akhir dan remaja dalam satu ruang belajar. Menjadi kurang efektif karena pemahaman anak pada setiap usia, baik usia batita, balita, kanak-kanak awal-akhir sampai remaja sudah berbeda dari berbagai aspek yakni kognitif, afekti, dan tingkah laku.

(6)

35

Hal itu sesuai pandangan Dien Sumiyatiningsih, bahwa dalam perkembangan keadaan masa kini, pelayanan kategorial telah menjadi klasifikasi tersendiri karena setiap kategori ternyata memiliki signifikan maupun kebutuhan yang sangat khas berdasarkan usia mereka masing- masing.

Selayaknya menurut Christina dalam bukunya dan berdasarkan Psikologi perkembangan anak, ada terbagi dalam empat periode yakni periode bayi (0-2 tahun) Untuk periode ini perkembangan kognitif bayi ada pada tahap sensorimotorik. Dalam tahap ini, anak baru membentuk pemahaman tentang sekitarnya dengan mengkoordinasi pengalaman sensoriknya. Seperti mendengar dan melihat dengan tindakan fisik motorik. Pada tahap ini, anak usia dua tahun sudah mampu menghasilkan pola – pola sensorimotor yang kompleks dan menggunakan symbol- simbol primitif dan anak mulai memahami bahwa objek – objek terpisah dari dirinya dan bersifat permanen.

Periode kedua adalah Periode kanak-kanak awal (2-6 tahun). Anak pada usia ini mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam ketrampilan motorik, baik ketrampilan motorik kasar yang melibatkan otot-otot besar seperti berlari, melompat dan memanjat. Juga ketrampilan motorik halus sebagai hasil koordinasi otot-otot kecil dengan mata dan tangan seperti menggambar dan menggunting. Pada masa ini secara tidak langsung anak telah dilatih untuk menentukan kemampuan mereka baik melalui ketrampilan motorik kasar maupun lembut. Dalam perkembangan anak, perkembangan otak pada anak teruslah berjalan, meskipun tidak sepesat masa bayi, namun pada masa kanak-kanak awal otak terus bertumbuh.

Periode ketiga adalah periode kanak-kanak akhir (6-12 tahun).

Pada perkembangan ini, emosi dan sosial adalah proses berkembanganya kemampuan anak untuk menyesuaikan diri terhadap dunia sosial yang lebih luas, pada masa ini, anak menjadi lebih peka terhadap perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Mereka dapat lebih baik mengatur ekspresi emosionalnya dalam situasi sosial dan mereka dapat merspons tekanan emosional orang lain.

(7)

36

Periode terakhir adalah periode remaja. pada tahap ini, remaja diperhadapkan dengan suatu realita yang harus diterima yakni berpindah dari masa kanak-kanak ke masa yang penting dan melewati masa transisi dengan semua ingatan pada masa kanak-kanak namun harus beranjak ke masa yang bisa dikatakan masa dewasa awal.

Pada masa ini juga sering disebut sebagai masa yang tidak realistis. Pandangan subyektif cenderung mewarnai remaja. Mereka memandang diri sendiri dan orang lain berdasarkan keinginannya dan bukan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, apalagi dalam hal cita- cita. Selanjutnya, dia akan memandang diri sendiri, keluarga, teman- teman dan kehidupan pada umumnya secara realistik, sejalan dengan pengalaman pribadi dan sosial yang semakin meningkat serta kemampuan untuk berpikir rasional. Sisi positif dari masa ini adalah, dia tidak mudah kecewa seperti saat sebelumnya.

Berdasarkan teori psikologi perkembangan anak, masing-masing anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda baik dalam perkembangan kognitif, afektif, motorik, dan sosio-emosional. Pola dan cara pikir anak pada usianya berkembang sudah berbeda-beda sehingga dalam hal ini gereja perlu memperhatikan aktivitas dan proses belajar mengajar dalam komisi PAR sesuai dengan perkembangan usia anak, agar pengajaran setiap anak sebaiknya berbasis kategorial sehingga kebutuhan setiap anak memiliki cara pemahaman mereka sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka pada usia perkembangan mereka. Agar pemahaman yang mereka dapat sesuai dengan usia dan cara berpikir setiap anak.

Gereja perlu membagi Komisi PAR secara kategorial berdasarkan usia anak secagai contoh, kelas Batita dan Balita, anak usia kanak-kanak awal- akhir dan remaja sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih efektif.

Referensi

Dokumen terkait

Anak taman kanak-kanak adalah anak yang berada pada umur 4 – 6 tahun, masa anak-anak juga dikenal dengan masa usia dini atau usia taman kanak-kanak dan

Taman kanak-kanak merupakan jalur pendidikan formal yang menangani anak usia 4-6 tahun. Secara terminologi, usia anak 4-6 tahun disebut sebagai masa usia

Pembinaan kepada masyarakat tentunya mengikuti jadwal dari kegiatan-kegiatan masyarakat sebelumnya, seperti Bina Keluarga Balita dilakukan pada saat posyandu dimana

Kanak-kanak awal merupakan masa usia keemasan dimana perkembangan fisik, motorik, kognitif, soiso-emosional, moral, bahasa maupun segala kemampuananak sedang berkembang

Menurut psikologi, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia

Salah satu jenjang pendidikan yang awal bagi anak yaitu di Taman Kanak-kanak (TK). Taman Kanak-Kanak merupakan pendidikan awal bagi anak usia 4-6 tahun sebelum

(2007), berdasarkan karakteristiknya balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua, yaitu anak usia lebih dari 1-3 tahun yang dikenal dengan batita dan anak usia lebih dari

Efiseiensi waktu dalam penerapan metode yanbu’a juga sangat diperhatikan. 15 menit awal santri diajak untuk membaca klasikal dan tanya jawab. Lalu 30 menit santri