• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Landasan Teori 2.1.1. Kewirausahaan

Sebelum membahas lebih jauh tentang kewirausahaan, pada bagian pertama akan disampaikan pengertian kewirausahaan menurut beberapa ahli.

Pengertian tentang kewirausahaan salah satunya disampaikan oleh Izedonmi and Okafor yang mengatakan bahwa

“Entrepreneurship is a process of identification of a business opportunity in one’s immediate environment, combining together resources and establishing an enterprise for the production and distribution of product(s) or service that emanated from such process”

(Sondari, 2009, p.3).

Pengertian di atas dapat diartikan bahwa kewirausahaan merupakan proses identifikasi kesempatan di dalam sebuah lingkungan, dengan cara mengkombinasikan antara sumber daya dan mendirikan sebuah perusahaan untuk melakukan produksi dan distribusi atas produk ataupun jasa.

Hisrich, Peters, dan Sheperd mendefinisikan “kewirausahaan sebagai proses penciptaan sesuatu yang baru pada nilai menggunakan waktu dan upaya yang diperlukan, menanggung risiko keuangan, fisik, serta risiko sosial yang mengiringi, menerima imbalan moneter yang dihasilkan, sertra kepuasan dan kebebasan pribadi” (Kemendiknas, 2010, p.10). Day, John, Reynald, Pane, Lancaster, Geoff menyatakan kewirausahaan pada hakikatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemampuan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif sehingga “Inti dari kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different thing)” (Hadiyati, 2009, p.184).

Dari beberapa penjelasan yang telah disebutkan dapat diketahui bahwa, kewirausahaan mempunyai lingkup yang cukup luas dan dinamis sifatnya.

Adapun yang menjadi titik berat dari definisi kewirausahaan yang telah disebutkan di atas, ialah adanya proses dan sesuatu yang baru sebagai hasil kreatifitas yang disertai dengan risiko tertentu.

(2)

2.1.2. Organisasi Bisnis

Organisasi bisnis merupakan sebuah organisasi yang yang melakukan aktivitas ekonomi dan bertujuan untuk menghasilkan keuntungan (profit).

Orientasi dari sebuah orgisasi bisnis tentunya adalah keuntungan. Secara umum, bentuk organisasi bisnis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu organisasi bisnis perseorangan dan organisasi bisnis persekutuan. Pada sub bab ini akan dibahas tentang bentuk kedua organisasi bisnis tersebut sebagai berikut (Bowo, 2008, pp.3-8):

1. Badan Usaha Perseorangan

Salah satu bentuk organisasi bisnis adalah badan usaha perseorangan yang kepemilikan dan pengelolaannya ditangani oleh satu orang. Jenis badan usaha ini memiliki karakteristik seperti modal yang kecil, jumlah tenaga kerja yang sedikit, terbatas keanekaragaman produk dan jasa yang dihasilkan, dan penggunaan teknologi yang masih sederhana. Umumnya badan usaha ini merupakan sektor usaha mandiri yang mempekerjakan sedikit tenaga kerja dari lingkungan yang terdekat.

Kelebihan dari badan usaha perseorangan adalah:

a. Mudah mendirikan dan membubarkannya. Untuk mendirikan perusahaan ini tidak perlu mengurus perijinan yang rumit, dan untuk membubarkan atau mengganti dengan jenis usaha lain dapat dilakukan dengan mudah sesuai keinginan pemilik.

b. Kebanggaan dan kepuasan atas kepemilikan serta dapat memimpin perusahaan sendiri. Kendali perusahaan ada ditangan sendiri karena dipimpin dan dikelola sendiri secara keseluruhan, sehingga maju mundurnya perusahaan sangat tergantung oleh satu orang pemimpin.

c. Keuntungan yang diperoleh adalah milik sendiri. Jika mampu mampu menghasilkan keuntungan yang besar maka keuntungan itu akan menjadi hak pemilik sepenuhnya tanpa membagi-bagikan dengan pihak lain.

d. Tidak dikenakan pajak berganda. Apabila keuntungan usaha melebihi PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) maka diwajibkan membayar pajak penghasilan. Pada badan usaha ini tidak ada pajak usaha, tetapi pungutan dan berbagai retribusi.

(3)

Sementara itu kekurangan organisasi bisnis perseorangan adalah :

a. Tanggung jawab yang tidak terbatas atas risiko kerugian. Dalam badan usaha ini pemilik harus siap menanggung segala kemungkinan jika perusahaan mengalami kerugian. Kewajiban dan utang perusahaan harus dipenuhi bagaimanapun caranya termasuk penggunaan harta pribadi.

b. Keterbatasan sumber dana. Modal yang disediakan sangat terbatas karena jumlahnya tergantung dari kemampuan pemilik. Kesulitan dana ini merupakan satu faktor yang menyebabkan terbatasnya pertumbuhan badan usaha perseorangan. Keterbatasan itu akan dapat diatasi jika bentuk usaha berupa partnership atau korporasi.

c. Kesulitan dalam pengelolaan. Pemilik harus mengelola seluruh aktivitas usaha yang meliputi pembelian, produksi, pemasaran, keuangan, administrasi, dan sebagainya. Kemampuan dan ketrampilan satu orang tertentu sangat terbatas untuk mengelola usaha dengan baik. Keterbatasan ketrampilan pemilik mungkin akan mendorong mereka untuk mencari rekan atau menubah badan usaha ini menjadi korporasi.

d. Kesulitan dalam membagi waktu. Seorang pemilik bisnis harus mengelola bisnisnya, melatih tenaga kerja, melakukan transaksi, melakukan pembukuan dan pengaturan keuangan, membeli bahan baku dan melakukan proses produksi, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat pribadi maupun bisnis. Ini berarti pemilik harus bekerja keras dalam sehari yang menyebabkan kelelahan fisik sehingga pekerjaan tidak dapat dilakukan dengan optimal.

e. Benefit yang kecil. Jika seseorang mengelola usaha sendiri maka ia akan kehilangan keuntungan lain yang mungkin didapat dengan bekerja diperusahaan lain. Orang tersebut tentu tidak akan dapat asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, uang cuti, dan lain sebagainya yang semua itu akan didapat jika ia bekerja untuk orang lain.

f. Pertumbuhan terbatas. Jika pemilik kemudian tidak memiliki kapasitas yang memadai lagi maka bisnis kemungkinan akan macet dan tentu akan memperlambat kemungkinan ekspansi usaha.

(4)

g. Tenggang waktu usaha yang terbatas. Jika pemilik meninggal atau pensiun maka bisnis akan macet atau mati kecuali jika dijual pada pihak lain yang kemudian akan meneruskan usaha tersebut.

2. Persekutuan (Partnership)

Persekutuan adalah bentuk legal suatu bisnis yang dimiliki dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bisnis. Pembentukan persekutuan ini bisa berdasarkan kontrak tertulis atau kesepakatan yang legal. Untuk membentuk persekutuan yang baik, perli kesepakatan untuk menyamakan visi dan tujuan pembentukan unit bisnis. Karena itu pengusaha perseorangan hendaknya memilih partner yang dapat memenuhi komitmen bersama.

Kelebihan persekutuan adalah:

a. Kemudahan dalam pembentukan. Ketika terjadi kesepakatan tentang profit, tanggung jawab, keuangan dan berbagai prosedur, maka partnership dapat segera beroperasi.

b. Penyatuan pengetahuan dan ketrampilan. Partnership terdiri atas dua orang atau lebih yang masing-masing memiliki kelebihan baik dalam pengetahuan dan ketrampilan. Ini merupakan asset berharga yang dapat menunjang keefektifan operasi perusahaan dibanding jika perusahaan itu hanya dijalankan oleh satu orang saja.

c. Sumberdaya lebih besar. Pembentukan persekutuan memungkinkan terkumpulnya sumberdaya yang lebih besar. Modal dari masing-masing anggota dikumpulkan menjadi satu untuk menambah skala usaha atau meningkatakan kemampuan financial.

d. Kemampuan untuk menarik dan mempertahankan karyawan

e. Keuntungan dari sisi pajak. Semua jenis pemasukan dijadikan sebagai pendapatan pribadi tanpa dikenai pajak.

Sementara itu kekurangan persekutuan adalah :

a. Tanggung jawab tidak terbatas. Setiap partner umum (general partner) memiliki tanggung jawab yang tidak terbatas atas semua konsekuensi diopersikannya usaha. Utang usaha harus dibayar, bahkan jika tidak dapat dicukupi dengan kekayaan perusahaan, harta pribadi harus digunakan.

(5)

b. Tenggang waktu operasi yang terbatas. Jika ada perubahan dalam partnership maka secara formal bisnis ini harus dihentikan. Misalnya jika salah seorang anggota meninggal atau cacat, atau jika salah satu mengundurkan diri.

c. Perselisihan diantara partner. Selain uang banyak faktor lain yang dapat memicu konflik antar partner, misalnya siapa yang bertanggung jawab memegang keuangan dan siapa yang mengawasi karyawan.

d. Ada halangan untuk membubarkan. Jika telah ada komitmen untuk berpartner, maka tidak mudah untuk membubarkannya.

2.1.3. Profil Pengusaha

Profil didefinisikan sebagai “a set of characteristics or qualities that identify a type or category of person or thing: a profile of a typical allergy sufferer” (dictionary.com, 2010, par.3) yang dapat diartikan bahwa profil adalah satu set karakteristik ataupun kualitas yang menunjukkan tipe atau kategori dari seseorang atau barang. Dalam penelitian ini akan dilihat profil pengusaha UKM, dimana profil pengusaha akan dilihat dari aspek demografi.

Dalam aspek karakteristik demografi terdapat tujuh faktor penting yang berpengaruh terhadap kewirausahaan yaitu jenis kelamin, umur, status perkawinan, latar belakang pendidikan, latar belakang budaya, pengalaman kerja dan lingkungan keluarga. Pembahasan tentang tujuh faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jenis Kelamin

Kebanyakan wirausaha didominasi oleh kaum laki-laki. Penelitian membuktikan bahwa perempuan cenderung kurang menyukai untuk membuka usaha baru dibandingkan kaum laki-laki. Penelitian juga menemukan adanya perbedaan yang signifikan dalam hal kesuksesan usaha dan kesuksesan dalam berwirausaha antara perempuan dan laki-laki (Indarti dan Rostiana, 2008). Di Amerika Serikat, wanita memulai usaha pada usia yang lebih tua dibandingkan dengan pria dan bentuk ragam usaha yang dijalankan oleh pria lebih beragam dari jenis usaha yang dijalankan oleh wanita (Alma, 2010).

(6)

2. Umur

Hasil penelitian yang dilakukan di India menunjukkan bahwa hampir sebagian besar wirausaha yang sukses adalah mereka yang berusia relatif muda. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang lain yang menunjukkan bahwa seseorang berusia 25-44 tahun adalah usia-usia paling aktif untuk berwirausaha di negara-negara barat (Indarti dan Rostiana, 2008). Usia seorang pengusaha mencerminkan pengalamannya. Pengalaman pengusaha merupakan salah satu unsur yang terbaik dan terpenting dalam kesuksesan berwirausaha.

Kebanyakan pengusaha berusia antara usia 22 sampai 55 tahun. Memulai usaha diluar dari ini tidak masalah, namun kurangnya pengalaman dan terlambatnya melangkah akan menjadi penghambat. (Alma, 2010).

3. Status perkawinan

Status perkawinan merupakan salah satu aspek demografi yang penting terkait dengan motivasi dan kemampuan menjalankan usaha. Seorang yang sudah berkeluarga akan mempunyai mempunyai motivasi yang kuat untuk menjalankan sebuah usaha, karena kebutuhannya juga terus mengalami peningkatan. Sebagaimana disampaikan oleh Indarti dan Rostiana (2008) bahwa kebutuhan yang ada pada diri seseorang akan mendorongnya untuk bekerja dengan lebih baik.

4. Latar belakang pendidikan

Latar belakang pendidikan seseorang terutama yang terkait dengan bidang usaha, seperti bisnis dan manajemen atau ekonomi dipercaya akan mempengaruhi keinginan dan minatnya untuk memulai usaha baru di masa mendatang. Sebuah studi dari India membuktikan bahwa latar belakang pendidikan menjadi salah satu penentu penting intensi kewirausahaan dan kesuksesan usaha yang dijalankan (Indarti dan Rostiana, 2008). Pendidikan juga penting bagi wirausaha, terutama dalam menjaga kontinuitas usahanya dan untuk mengatasi segala masalah yang dihadapi diperlukan tingkat pendidikan yang memadai (Alma, 2010).

5. Latar Belakang Budaya

Setiap budaya mempunyai nilai-nilai dasar yang selalu diajarkan kepada para anggotanya yang berbeda satu dengan yang lain. Nilai-nilai yang diajarkan

(7)

oleh budaya ini akan mempunyai keterkaitan dengan watak seorang wirausaha, sehingga dapat dilihat bahwa beberapa daerah tertentu di Indonesia dengan budaya tertentu mempunyai jumlah wirausaha yang lebih banyak dibandingkan dengan daerah yang lain (Alma, 2010).

6. Pengalaman kerja

Selain pendidikan formal, yang harus dimiliki individu adalah pengalaman kerja. Pengalaman kerja menunjukan suatu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sudah memiliki pengalaman kerja pasti akan lebih mudah untuk dapat memahami suatu pekerjaan yang serupa daripada orang yang belum memiliki pengalaman. Seseorang yang memiliki pengalaman bekerja mempunyai intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah bekerja sebelumnya (Indarti dan Rostiana, 2008).

Pengalaman kerja penting bagi seorang wirausaha sebagai bekal untuk menjalankan usahanya. Banyak wirausaha yang semula bekerja pada satu perusahaan atau instansi selama beberapa tahun, sehingga dirinya memiliki skills dan pengetahuan seluk beluk pekerjaan yang dilakukannya. Selama bekerja, bakatnya yang terpendam kurang tersalurkan, sehingga dirinya memutuskan untuk memulai usaha sendiri dan menjadi seorang wirausaha (Alma, 2010).

7. Lingkungan keluarga

Lingkungan mempunyai pengaruh terhadap minat dan kemampuan seorang dalam berwirausaha (Alma, 2010). Seorang pengusaha biasanya memulai usahanya dari melihat orang tua, saudara, keluarga, teman-teman, pasangan, ataupun pengusaha yang sukses yang diidolakannya. Lingkungan, khususnya keluarga memberikan pengaruh terhadap terciptanya seorang wirausaha dimana seringkali terlihat bahwa ada pengaruh dari orang tua yang bekerja sendiri cenderung anaknya juga menjadi seorang pengusaha (Alma, 2010).

(8)

2.1.4. Kinerja Usaha 2.1.4.1.1. Pengertian Kinerja

Menurut Wibowo “kinerja berasal dari pengertian performance” (Taman, 2009, p.3). Adapun pengertian performance sebagai hasil kerja atau prestasi kerja.

Namun, sebenarnya kinerja mempunyai makna luas, tidak hanya hasil kerja, tetapi bagaimana proses pekerjaan berlangsung. Adapun pendapat lain yang dikemukakan oleh Armstrong dan Baron (Taman, 2009. p.3), ”kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi”.

Pengertian yang lain tentang kinerja dikemukakan oleh Ardiana, et.all (2010, p.45) yang mengatakan bahwa ”kinerja atau performasi adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi”. Apabila kinerja individu baik, maka kemungkinan besar kinerja perusahaan atau organisasi akan baik.

2.1.4.2. Metode Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja sebuah perusahaan juga dapat dilihat dari pencapaian pada empat bidang fungsional utama perusahaan, yaitu bidang keuangan, sumber daya manusia, produksi, operasi serta pemasaran. Pembahasan tentang empat bidang utama perusahaan adalah sebagai berikut (Umar, 2005, pp. 8-45):

1. Aspek Keuangan

Fungsi manajemen keuangan harus mampu menentukan arah penggunaan dana baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Strategi ini umumnya berkisar pada tiga hal, yaitu bagaimana perusahaan memperoleh modal, alokasi kapital, dan manajemen modal kerja termasuk dalam hal pembagian keuntungan. Tujuan evaluasi kinerja keuangan adalah untuk mengetahui apakah realisasi investasi telah sesuai dengan yang diharapkan. Analisisnya dapat ditinjau dari laba dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan, ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan proyek untuk membayar utang, dan menilai apakah proyek akan dapat berkembang terus.

(9)

2. Aspek Operasional

Manajemen operasional memiliki dua komponen, yaitu adanya sarana prasarana yang memadai dan cara menyediakan sarana dan prasarana tersebut.

Dari dua komponen di atas, hal-hal pokok dalam manajemen operasional dapat dijabarkan menjadi beberapa bidang, yaitu inventariasi, prosedur pembelian barang, pengendalian mutu, biaya produksi, produktivitas kerja, jadwal produksi, tenaga kerja, penggunaan fasilitas, dan maintenance peralatan.

Beberapa hal yang yang perlu dievaluasi untuk mengetahui kinerja operasional perusahaan, dalam kasus ini adalah perusahaan manufaktur antara lain adalah:

a. Kualitas produk

b. Kinerja teknologi yang dipakai c. Kapasitas produksi

d. Persediaan bahan baku dan barang jadi 3. Aspek SDM

Kegiatan manajemen sumber daya manusia berkisar pada pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan sumber daya manusia. Agar ketiga pokok kegiatan tersebut berjalan dengan lancar perlu disiapkan sistem yang handal.

Tahap pengadaan mencakup hal-hal perencanaan SDM, rekruitmen, seleksi dan orientasi. Tahap penggunaan perlu memperhatikan kesesuaian antara kemampuan SDM dan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Juga perlu diperhatikan hal-hal mengenai kesempatan memperoleh pelatihan dan pendidikan, supervisi, penilaian kinerja, imbalan serta jaminan dan perlindungan dan kesehatan kerja. Terakhir tujuan pemeliharaan sumber daya manusia adalah bagaimana agar karyawan merasa puas bekerja. Beberapa hal penting dari SDM yang perlu untuk dievaluasi untuk mengetahui kinerja antara lain mengenai: produktivitas kerja, motivasi kerja, kepuasan kerja, pelatihan dan pengembangan, serta kepemimpinan.

4. Strategi Manajemen Pemasaran

Manajemen ini adalah implementasi dari atas strategi bauran pemasaran perusahaan yang meliputi 4 P (Product, Price, Place dan Promotion). Selain itu, manajemen pemasaran hendaknya juga melakukan analisis terhadap segmentasi, target, dan posisi, selain situasi persaingan. Evaluasi dalam aspek

(10)

pemasaran terkait dengan kinerja pemasaran diarahkan untuk mendapatkan informasi mengenai fakta tertentu dibandingkan dengan target atau rencana yang telah ditetapkan sebelumnya, misalnya mengenai:

a. Segmentasi, target dan posisi produk di pasar b. Strategi bersaing yang diterapkan

c. Kegiatan pemasaran melalui bauran pemasaran d. Nilai penjualan

e. Market-share yang dikuasai perusahaan

2.2. Keterkaitan Profil Pengusaha Dengan Kinerja Perusahaan

Profil pengusaha merupakan salah satu aspek yang mempunyai keterkaitan dengan kinerja sebuah perusahaan. Indarti dan Rostiana (2008) mengatakan bahwa profil pengusaha yang meliputi faktor demografis, faktor kepribadian dan faktor lingkungan merupakan faktor-faktor yang mempunyai hubungan dengan kesuksesan menjalankan sebuah bisnis, dimana kesuksesan dalam menjalankan bisnis biasa dilihat dari kinerjanya.

Profil pengusaha yang dilihat dari aspek psikologis berpengaruh terhadap seorang pengusaha dalam memanfaatkan peluang yang ada, yang ada pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kesuksesan usaha. Aspek psikologis ini meliputi kepribadian, motivasi, evaluasi diri dan sifat-sifat kognitif (Helmi dan Megasari, 2007).

2.3. UMKM

Di Indonesia terdapat sejumlah Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses perumusan kebijakan pengembangan UMKM maupun proses implementasi kebijakan pengembangan UMKM tersebut. Lembaga tersebut adalah Menegkop

& UMKM, Menkeu, BAPPENAS, dan Deperindag. Masing-masing lembaga tersebut menetapkan terminologi UMKM sesuai dengan sudut pandang dan indikator yang ditetapkannya sesuai dengan bidang kerja masing-masing.

Menurut UU No 20 Tahun 2008, kriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah:

(11)

1. Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:

a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

2. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:

a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

3. Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:

a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

Beberapa aspek yang sangat menentukan prospek perkembangan UMKM adalah kemampuan UMKM itu sendiri untuk mendiagnosis kekuatan yang kemudian dioptimalkan dan kelemahan yang kemudian harus diminimalisir dalam menjawab tantangan internal maupun eksternal. Aspek-aspek yang menjadi kekuatan dan kelemahan tersebut adalah (Rosyadi, 2005, p.29) adalah:

1. Faktor Manusia

Dari aspek manusia, kekuatan UMKM adalah: a) motivasi yang kuat untuk mempertahankan usahanya, serta b) supply tenaga kerja yang melimpah dengan upah yang murah. Sedangkan kelemahannya adalah: a) kualitas SDM rendah baik dilihat dari tingkat pendidikan formal maupun ditinjau dari kemampuan untuk melihat peluang bisnis, b) tingkat produktivitas rendah, c)

(12)

etos kerja dan disiplin rendah, d) penggunaan tenaga kerja cenderung eksploitatif dengan tujuan untuk mengejar target, e) sering mengadalkan anggota keluarga sebagai pekerja tidak dibayar.

2. Faktor Ekonomis (Bisnis)

Kekuatan UMKM apabila dilihat dari faktor ekonomis (bisnis) adalah: a) mengandalkan sumber keuangan informal yang mudah diperoleh, b) mengandalkan bahan-bahan baku lokal (tergantung pada jenis produk yang dibuat), c) melayani segmen pasar bawah yang tinggi permintaan (proporsi dan populasi paling besar). Sedangkan kelemahan UMKM dari faktor ekonomi (bisnis) adalah: a) nilai tambah yang diperoleh rendah, dan akumulasinya sulit terjadi, dan b) manajemen keuangan buruk.

Beberapa keunggulan UMKM dibandingkan usaha besar adalah (Rosyadi, 2005, p.32):

1. UMKM biasanya memenuhi permintaan (aggregate demand) yang terjadi di wilayah regionalnya sehingga UMKM menyebar di seluruh pelosok dengan ragam bidang usaha.

2. Mempunyai keleluasaan atau kebebasan untuk masuk atau keluar dari pasar mengingat modal sebagian besar terserap pada modal kerja dan sangat kecil yang dimasukkan dalam aktiva tetap sehingga yang dipertaruhkan juga kecil. Dampak dari hal ini adalah kemudahan untuk meng up to date produknya sehingga mempunyai derajat imunitas yang tinggi terhadap gejolak perekonomian internasional.

3. Sebagian besar UMKM adalah padat karya (labour intensive) mengingat teknologi yang digunakan UMKM relatif sederhana. Persentase distribusi nilai tambah sangat besar sehingga distribusi pendapatan dapat lebih tercapai. Hubungan erat antara pemilik dengan karyawan menyebakan sulitnya terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Keadaan ini menunjukkan betapa usaha kecil memiliki fungsi sosial ekonomi.

(13)

2.2. Kerangka Berpikir

Bagan kerangka berpikir penelitian ini dapat dilihat dalam Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Bagan Kerangka Berpikir Sumber: Data sekunder diolah

Gambar 2.1 menunjukkan bagan kerangka berpikir dalam penelitian. Gambar tersebut menunjukkan bahwa keberadaan profil pengusaha memiliki keterkaitan dengan kinerja bisnis. Profil pengusaha dapat dilihat dari jenis kelamin, umur, status perkawinan, latar belakang pendidikan, latar belakang budaya, pengalaman kerja dan lingkungan kerja, sementara itu kinerja bisnis dapat dilihat dari aspek produksi, aspek keuangan dan aspek pemasaran.

Profil pengusaha

1. Jenis kelamin 2. Umur

3. Status perkawinan

4. Latar belakang pendidikan 5. Latar belakang budaya 6. Pengalaman kerja 7. Lingkungan keluarga

Kinerja bisnis

1. Operasional 2. Keuangan 3. Pemasaran 4. SDM UMKM

Referensi

Dokumen terkait

Pendapat tersebut menjelaskan bahwa media digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran karena media memiliki kemampuan untuk memperlihatkan konsep materi

Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali

Para konsumen yang ingin memperoleh doorprize di akhir acara, tentu akan berusaha mendapatkan kupon undian doorprize sebanyak mungkin dengan cara berbelanja sebanyak

External failure cost merupakan biaya yang terjadi setelah pengiriman produk ke konsumen atau pengguna yang mengalami ketidaksesuaian atau kecacatan seperti biaya terhadap

Fungsi utama lainnya dari sistem informasi akuntansi dalam siklus penggajian adalah menyediakan pengendalian yang memadai agar dapat terpenuhinya tujuan-tujuan

Pada proses ini perusahaan memberikan penilaian yang lebih rinci mengenai peluang sukses produk baru, mengidentifikasi penyesuaian-penyesuaian akhir yang dibutuhkan untuk produk,

Posisi kerja yang cocok untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan area kerja sebatas jangkauan tangan, tidak membutuhkan gaya yang besar dalam bekerja dan

Simons (1995) bahwa sistem pengendalian manajemen berupa boundary system sangat berdampak dalam meningkatkan kinerja perusahaan seperti mendorong karyawan dalam