• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

4 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Nurhandono dan Firmansyah (2017) yang berjudul “Lindung Nilai, Financial Leverage, Manajemen Laba dan Agresivitas Pajak” dengan menggunakan metode regresi linier berganda mendapatkan hasil bahwa lindung nilai tidak memiliki pengaruh terhadap agresivitas pajak. Hal tersebut terjadi karena terdapat perbedaan sampel.

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini hanya perusahaan yang mempublikasikan mengenai transaksi lindung nilai di laporan keuangannya dan tentunya sudah memenuhi kriteria PSAK 55 (Revisi 2015).

Penelitian yang dilakukan oleh Nurhandono dan Firmansyah (2017) tersebut hasilnya berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani et al. (2020) mengenai pengaruh lindung nilai terhadap agresivitas pajak. Dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa pengguna financial derivatives berpengaruh positif terhadap agresifitas pajak.

Penelitian Utami et al. (2020) mengenai pengaruh transfer pricing, thin capitalization, dan tax haven utilization terhadap agresivitas pajak menyatakan bahwa thin capitalization berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Dalam penelitian tersebut menggunakan metode analisis regresi data panel dengan 16 sampel. Sampel yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2015-2018.

Penelitian mengenai thin capitalization juga pernah dilakukan oleh Darma (2019) dengan judul penelitian yaitu “Pengaruh Related Party Transaction dan Thin Capitalization Terhadap Strategi Penghindaran Pajak”. Dalam penelitian tersebut menggunakan metode analisis regresi liner berganda. Hasil dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa thin capitalization berpengaruh terhadap strategi untuk penghindaran pajak.

(2)

B. Tinjauan Pustaka 1. Teori Agency

Teori keagenan (agency theory) yang dijelaskan oleh Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa korelasi antara manajemen (agent) dengan pemegang saham (principal) dalam mlaksanakan tugasnya yaitu melakukan penyerahan kewenangan kepada agen dalam proses pengambilan keputusan. Agency theory dalam agresifitas yaitu manajemen berkeinginan untuk merekayasa jumlah laba yang bertujuan untuk mengurangi beban pajak perusahaan. Tindakan tersebut terjadi karena terdapat perbedaan informasi antara manajemen (agent) dan akuntan dengan pemakai financial statement (principal).

Ketika perusahaan menginginkan untuk melakukan tindakan berupa meminimkan laba, maka manajer akan berusaha agar perusahaan tetap berdiri dan beroperasi. Oleh karena itu manajer akan melakukan praktik Tax Agressiveness. Namun, tindakan tersebut tidak sesuai dengan keinginan investor yang tidak ingin melakukan tindakan agresifitas pajak karena hal tersebut dapat menyeret perusahaan dalam permasalahan hukum yang nantinya akan berakibat pada kelangsungan usaha serta dapat merusak reputasi perusahaan.

2. Teori Stakeholder

Roberts (1992) menjelaskan nahwa stakeholder merupakan pihak yang memiliki kepentingan tertentu pada perusahaan. Pada teori ini menerangkan bahwa kegiatan bisnis pada perusahaan tidak hanya untuk kepentingan pribadi saja, namun juga untuk kepentingan pihak-pihak tertentu (stakeholder). Terdapat dua konsep pada teori stakeholder menurut (Freeman, 1984). Dua konsep tersebut yaitu: 1) konsep kebijakan dan rencana bisnis, dan 2) konsep pertanggungjawaban sosial dan manajemen pemangku kepentingan.

(3)

Keterkaitan teori stakeholder dengan penghindaran pajak yaitu dalam perusahaan dengan laba yang besar akan tetap memanfaatkan fasilitas perpajakan yang disediakan oleh pemerintah agar mendapatkan pengurangan pajak. Hal tersebut akan bermanfaat bagi perusahaan dan pemegang saham, dikarenakan pembagian deviden akan semakin besar dan tentunya hal tersebut akan dapat menarik investor.

Teori stakeholder ini muncul karena untuk menguatkan konsep bahwa perusahaan harus menjaga hubungannya dengan stakeholder, karena stakeholder berperan penting dalam pendanaan operasional perusahaan.

Jadi perusuhaan tidak hanya menjaga hubungan dengan pemegang saham saja, namun juga harus menjaga hubungan baik dengan stakeholder dan pemangku kepentingan lainnya.

3. Tax Agressiveness

Agresivitas pajak merupakan bentuk aktivitas yang bertujuan untuk memanipulasi besarnya taxable income (Ramadhani et al., 2020). Bentuk pemanipulasian tersebut yaitu dengan cara melakukan tax planning agar dapat meminimkan jumlah pajak yang akan dibayarkan perusahaan.

Agresivitas pajak dapat dilakukan dengan menggunakan transaksi lindung nilai (hedging) dan memperbesar utang untuk modalnya (thin capitalization).

Agresivitas pajak dapat diproksikan dengan pendekatan Tax Shelter, yaitu suatu bentuk tempat penampungan pajak yang memiliki mekanisme untuk perlindungan pajak dengan tujuan agar dapat mengambil keuntungan dari nilai waktu uang dan juga menciptakan beban bunga sebagai pengurang penghasilan kena pajaknya (Aronmwan dan Okafor, 2019). Alasan dalam penggunnaan tax shelter sebagai proksi dari agresivitas pajak dalam penelitian ini yaitu lebih banyak indikator pengukuran yang digunakan, yaitu total BTD, leverage (DAR), ukuran perusahaan (SIZE), profitabilitas (ROA), multinational corporation (MNC), dan RD (Sundari dan Apriliana, 2017). Selain itu tax shelter juga

(4)

mampu memberikan bukti yang kuat mengenai kelemahan pengukuran tax aggressiveness dengan menggunakan proksi ETR, dimana pada proksi tersebut membagi total beban pajak dengan laba akuntansi sebelum pajak.

Dimana nantinya penelitian hanya akan berfokus pada perusahaan yang memiliki keuntungan saja, karena dalam laba akuntansi sebelum pajak memungkinkan nilainya negatif (rugi), sehingga untuk tujuan analisis hasilnya juga akan negatif. Apabila laba sebelum pajak rugi, maka hal tersebut akan dibuang secara acak (Aronmwan dan Okafor, 2019). Adapun rumus tax shelter yaitu:

P.(Shelter) = -4.30 + (6.63*Total BTD) + (-1.72*LEV) + (0.66*SIZE) + (2.26*ROA + (1.56*MNC) + (1.56*RD)

Keterangan:

P.(Shelter) :Memprediksi adannya kemungkinan aktivitas berlindung Total BTD :Pendapatan sebelum pajak – estimasi pendapatan kena pajak LEV :Hutang jangka Panjang yang diukur dengan total asset SIZE :Log dari total asset

ROA :Pendapatan sebelum pajak : total asset

MNC :Variabel dikotomis 1 jika pendapatan luar negeri sebelum pajak > 0 dan 0 jika sebaliknya

RD :Total biaya penelitian dan pengembangan yang diukur dengan total asset pada awal tahun

4. Hedging

Hedging atau lindung nilai yaitu suatu tindakan untuk mengambil suatu posisi untuk memperoleh suatu arus kas, asset, maupun kontrak yang akan berfluktuasi dan mengoffsetnya dengan naik turunnya nilai dari posisi yang telah ada, bentuk tindakan dari hedging ini biasanya berupa suatu perjanjian antara suatu pihak dengan pihak lainnya (Subramanyam dan Wild, 2010). Maulianti et al. (2019) mengartikan bahwa hedging adalah keputusan yang diambil oleh manajemen untuk melindungi perusahaan terhadap pergerakan nilai tukar.

Hedging yang telah diterapkan dalam perusahaan ditujukan untuk mencegah kerugian yang dapat disebabkan oleh perubahan tingkat suku bunga, nilai tukar dan juga perubahan harga pada komoditas utama (Ramadhani et al., 2020).

(5)

Menurut Leon dan Sonny (2007) hedging melindungi perusahaan dari risiko kurs atas:

a. Kewajiban dalam membayar valuta asing di waktu mendatang b. Penerimaan dari piutang valuta asing di waktu mendatang c. Pinjaman dalam valuta asing

d. Deposit atau investasi dalam valuta asing

Terdapat 2 metode dalam melakukan lindung nilai yaitu (Turner, 2011):

a. Natural Hedging

Lindung nilai yang alami adalah perusahaan mengurangi perbedaan antara penerimaan dan pengeluaran dalam maat uang asing dengan transaksi yang terikat dalam mata uang tersebut (Turner, 2011). Sedangkan menurut Horne dan Wachowicz (2007) lindung nilai alami terjadi dari hasil operasi normal perusahaan. Misalnya pendapatan dalam bentuk mata uang asing yang kemudian digunakan membayar komitmen dalam mata uang yang sama.

b. Financial Hedging

Turner (2011) menjelaskan bahwa financial hedging adalah aktivitas membeli instrumen lindung nilai dengan mata uang asing yang terdapat di bank. 4 macam instrumen lindung nilai menurut Pasal 3 Ayat 1 Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 16/21/PBI/2014 yaitu yaitu kontrak forward, currency, options, dan currency swaps.

Terdapat beberapa proksi yang dapat digunakan untuk mengukur hedging, yaitu Fair Value of Derivatives Instrumet (FVDER), National Value (HED), Foreign Currency Hedge (FXHEDGExt), dan Likuiditas Valuta Asing (LVA). Namun dari beberapa proksi tersebut, penelitian ini menggunakan dummy untuk pengukurannya.

Agresivitas pajak dengan menggunakan transaksi lindung nilai menurut OECD, 2013 dapat menimbulkan tantangan besar mengenai

(6)

tingkat kepatuhan wajib pajaknya. Pertama, kesulitan dalam menentukan nilai wajar dari transaski lindung nilai pada perusahaan, apakah perusahaan tersebut sengaja melakukan hedging untuk menghindari pajak atau hanya karena melakukan kesalahan dalam pengelolaan resikonya. Kedua, skema hedging memerlukan analisis yang mendalam karena dalam hedging ini melibatkan transaksi yang rumit. Di Indonesia, transaksi lindung nilai pernah diatur dalam PP Nomor 17 Tahun 2009, namun peraturan tersebut dihapus oleh PP Nomor 31 Tahun 2011. Setelah itu hingga saati ini masih tidak ada lagi peraturan yang mengatur secara spesifik mengenai transaksi lindung nilai. Hal tersebut dapat menimbulkan adanya disparate tax treatment yang semakin besar. Disparate tax treatment dapat dimanfaatkan oleh perusahaan dalam melakukan agresivitas pajaknya.

Hal tersebut juga dijelaskan Stiglitz 1986 dalam Maulianti et al.

(2019) yang menyatakan bahwa agresvitas pajak dapat terjadi karena perbedaan karakteristik instrument keuangan sehingga menimbulkan perlakuan perpajakan yang berbeda-beda (disparate tax treatment).

Penelitian yang dilakukan oleh Graham dan Smith 1999 dalam (Nurhandono dan Firmansyah, 2017) mengungkapkan bahwa perusahaan dengan fungsi pajak yang convex, maka volatilitas pendapatan pajak dan utang pajak dapat dikurangi dengan hedging.

5. Thin Capitalization

Thin capitalization merupakan bentuk permodalan yang didapatkan dari hutang. Sistem dari thin capitalization ini adalah untuk memaksimalkan jumlah hutang dan menimalkan modal, sehingga beban bunga dari hutang tersebut dapat meningkat dan penghasilan kena pajak dapat berkurang. Istilah thin capitalization adalah suatu istilah yang dipergunakan dalam perampingan modal dengan cara memperbesar utang yang berbasis bunga, sehingga modal yang dimiliki perusahaan akan lebih kecil (Khomsatun dan Martani, 2015).

(7)

Thin capitalization dapat diukur dengan menggunakan proksi MAD ratio (Maximum Allowable Debt) (Taylor dan Richardson, 2012).

Persamaan MAD ratio digambarkan sebagai berikut:

𝑀𝐴𝐷 =Average Interest Bearing Debt SHDA

Keterangan:

Average Interest Bearing Debt : Total utang dengan bunga (IBL) atau rata-rata utang

SHDA (Safe Harbor Debt Amount) : (Rata-rata total asset – non IBL) x % hutang maksimal

Thin capitalization diduga juga dapat mempengaruhi agresivitas pajak. Praktik thin capitalization menjadi suatu permasalahan dalam perpajakan karena terdapat perbedaan antara perlakuan investasi modal dengan investasi utang. Hal tersebut akan menimbulkan insentif pajak.

Perlakuan dalam investasi modal yaitu pengembalian modal yang berbentuk deviden. Dimana deviden tersebut akan dikenakan pajak, sedangkan dalam investasi utang akan menimbulkan beban bunga. Beban bunga atas utang tersebut tidak dikenakan pajak karena tergolong dalam deductible expenses. Perturan tersebut telah dijelaskan dalam pasal 6 ayat (1) huruf a UU Nomor 36 Tahun 2008 mengenai Pajak Penghasilan (PPh). Dengan adanya perbedaan perlakuan tersebut, maka perusahaan dapat memanfaatkan celah dalam melakukan strategi penghindaran pajaknya.

Perusahaan multinasional pada umumnya membutuhkan rekan atau afiliasi yang dapat dimanfaatkan sebagai upaya dalam pembiayaan hutangnya, terutama pada negara-negara dengan tarif pajak yang tinggi supaya dapat memperoleh pengurangan yang lebih besar dalam dasar pengenaan pajaknya (Prastiwi dan Ratnasari, 2019). Perusahaan multinasional memanfaatkan tarif yang tinggi tersebut untuk membesarkan beban bunga nya agar beban pajaknya menjadi lebih kecil.

(8)

C. Perumusan Hipotesis

1. Pengaruh hedging terhadap tax aggressiveness

Menurut Sholahudin, 2011:58 dalam Maulianti et al. (2019) hedging yaitu aktivitas atau tindakan yang dilakukan untuk menutup transaksi jual beli komoditas, sekuritas, atau valas sejenis yang bertujuan untuk menghindari kerugian akibat dari perubahan harga. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD,2013) dalam Maulianti et al. (2019) menjelaskan bahwa hubungan antara agresivitas pajak dengan hedging adalah dengan menggunkaan disparate tax treatment, yaitu perbedaan perlakuan anatara aspek laporan keuangan dengan peraturan perpajakan. Pada aspek laporan keuangan, risiko yang diakibatkan oleh pendapatan/kerugian dari transaksi lindung nilai akan diakui sebagai unrealized gain/loss. Sedangkan dalam aspek perpajakan biaya atas risiko tersebut termasuk dalam non deductible expense. Dalam hal ini perusahaan akan menunda realisasi laba dan mempercepat realisasi rugi dari transaksi hedging (Devi dan Efendi, 2018). Hal tersebut tentunya dimaksudkan untuk mengurangi beban pajak.

Ramadhani et al. (2020) dalam penelitiannya mengenai pengaruh hedging terhadap agresivitas pajak menunjukkan hasil bahwa hedging tidak berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Hal tersebut berbeda dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Lee (2017) yang menyatakan bahwa hedging berpengaruh terhadap agresivitas pajak.

Berdasarkan keterangan tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis yang pertama sebagai berikut:

H1: Hedging berpengaruh terhadap Tax Aggressiveness 2. Pengaruh thin capitalization terhadap tax aggressiveness

Perusahaan akan memanfaatkan penggunaan utang sebagai sumber pendanaan untuk keberlangsungan usahanya. Hal tersebut dilakukan dalam rangka meminimalisir beban pajak yang akan dibayarkan. Karena dalam

(9)

peraturan perpajakan memperbolehkan beban bunga dari hutang untuk dikurangkan dalam perhitungan laba fiskal, baik beban bunga yang sudah dibayarkan maupun yang masih dalam bentuk hutang. Sedangkan jika perusahaan melakukan investasi dalam pendanaan usahanya, maka perusahaan akan memperoleh deviden. Dalam peraturan perpajakan deviden tidak dapat dikurangkan dalam perhitungan laba fiskal. Dalam hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan dengan tingkat thin capitalization yang lebih tinggi akan terindikasi melakukan penghindaran pajak.

Penelitian yang dilakukan oleh Utami et al. (2020) mengenai pengaruh thin capitalization terhadap agresivitas pajak mengemukakan bahwa thin capitalization tidak berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Hal tersebut tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Setiawan dan Agustina (2018) mengenai pengaruh thin capitalization terhadap penghindaran pajak.

Dalam penelitian tersebut mengemukakan bahwa thin capitalization memiliki pengaruh terhadap penghindaran pajak.

Berdasarkan keterangan tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis yang kedua sebagai berikut:

H2: Thin Capitalization berpengaruh terhadap tax aggressiveness C. Kerangka Pemikiran Penelitian

Terdapat keterkaitan antara tax aggressiveness dengan hedging dan thin capitalization. Tingginya nilai hedging akan mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut melakukan agresivitas pajak dengan cara memanfaatkan transaksi lindung nilai. Apabila suatu perusahaan memiliki jumlah utang yang lebih banyak dari batas ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, maka hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut melakukan agresivitas pajak dengan cara memanfaatkan beban bunga yang dihasilkan oleh utang tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan tax shelter score dalam pengukurannya. Berdasarkan keterkaitan antara hubungan setiap variabel,

(10)

maka kerangka pemikiran mengenai pengaruh hedging dan thin capitalization terhadap tax shelter score dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Hedging

Thin Capitalization

Tax Aggressiveness H1

H2

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Hedging Thin Capitalization  Tax  Aggressiveness H1  H2

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Karanganyar Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Daerah Karanganyar (Lembaran

Berdasarkan penelitian yang bersifat deskriptif untuk mengetahui gambaran kandungan zat gizi pada beras hitam kultivar Toraja Sulawesi Selatan, didapatkan hasil

Makalah ini bertujuan untuk mengkaji proses koreksi terrain dan contoh penerapannya pada citra Landsat TM; Kemudian artikel tentang “Perbandingan Teknik Orthorektifikasi Citra

• Dapat terdiri dari satu ruang utama (ruang tidur) dan ruang lain (ruang penunjang) di dalam dan/atau diluar ruang utama. • Dilengkapi dengan sistem penghawaan dan pencahayaan

Serat kayu dengan nilai Muhlstep yang tinggi berarti serat tersebut memiliki dinding yang tebal dan lumen yang sempit sehingga luas area kontak antar serat menjadi kecil [5]..

Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata Yunani, yaitu semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai suatu yang berdasar

Apakah yang menjadi kendala dalam pelaksanaan program TUK Teknisi Otomotif di SMK Negeri 2 Salatiga bagi peserta TUK?. Apakah

ini menunjukkan bahwa genus Acinetobacter mampu menghasilkan enzim amilase dan enzim katalase, serta memanfaatkan karbohidrat sukrosa dan sitrat sebagai