• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

28 A. Gambaran Umum RS

1. Gambaran Institusi

a. Sejarah Singkat Rumah Sakit

RSJD dr. Amino Gondohutomo Semarang pertama kali berdiri pada

tahun 1848 di Jl. Sompok Semarang, sebagai tempat penampungan

bagi pasien psikotik akut (Doorgangshuizen). Tahun 1912

Doorgangshuizen Sompok dipindah ke gedung Kleedingmagzijin,

sebuah gedung tua yang dibangun kurang lebih pada tahun 1878 di Jl.

Cendrawasih, Tawang dengan nama Doorgangshuizen Tawang.

Kemudian pada tanggal 21 Januari 1928 Doorgangshuizen Tawang

berubah status menjadi Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang

(Kranzinningenggestichten). Menerima perawatan pasien-pasien

psikotik mulai tanggal 2 Februari 1928. Tanggal tersebut kemudian

ditetapkan sebagai hari jadi Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang.

Pada tanggal 4 Oktober 1986 seluruh kegiatan Rumah Sakit Jiwa

Pusat Semarang dipindahkan ke gedung baru di Jl. Brigjend Sudiarto

No. 347 Semarang. Tanggal 9 Februari 2001 Rumah Sakit Jiwa Pusat

Semarang berubah nama menjadi Rumah Sakit Jiwa Pusat dr. Amino

Gondohutomo Semarang. dr. Amino Gondohutomo adalah nama

psikiater pertama di Indonesia kelahiran Surakarta, Jawa Tengah.

Tanggal 1 Januari 2002 Rumah Sakit Jiwa Pusat dr. Amino

(2)

Daerah dr. Amino Gondohutomo Semarang Provinsi Jawa Tengah

sesuai dengan SK Gubernur No. 440/09/2002, Pebruari 2002.

Sebagai Rumah Sakit Jiwa Daerah milik Pemerintah Provinsi Jawa

Tengah, yang telah mendapatkan status penuh sebagai Rumah Sakit

BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) maka RSJD dr. Amino

Gondohutomo Semarang berupaya secara terus menerus untuk

meningkatkan kualitas pelayanan dan meningkatkan kemandirian

Rumah Sakit dalam pengelolaan keuangan. Dengan status ini maka

inovasi dan kreatifitas seluruh jajaran direksi dan manajemen dituntut

untuk dapat makin mengembangkan keanekaragaman pelayanan

(diversifikasi).

2. Deskripsi Lingkungan

Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Amino Gondohutomo Semarang terletak

di Jalan Brigjend. Sudiarto No. 347 Semarang, Kelurahan Pedurungan,

Kecamatan Pedurungan. Bangunan fisik berdiri diatas tanah seluas ±

60.000 m2. Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Amino Gondohutomo Semarang

memiliki wilayah kerja yang luas yaitu sepanjang jalur pantura Jawa

Tengah.

3. Visi, Misi dan Motto

Visi

(3)

Misi

1) Melaksanakan dan mengembangkan pelayanan kesehatan jiwa

paripurna.

2) Meningkatkan sarana, prasarana dan teknologi pelayanan.

3) Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia.

4) Meningkatkan peran serta masyarakat di bidang kesehatan jiwa.

Motto

APIK : Aman, Profesional, Inovatif, Kebersamaan

4. Ruang Lingkup dan Pelayanan yang Dihasilkan

a. Instalasi Rawat Jalan

1) Jiwa dewasa (DPJP Psikiater)

2) Klinik tumbuh kembang anak dan remaja ( Tim Pelayanan Terpadu,

DPJP Psikiater)

3) Mental Organik (Tim Pelayanan Terpadu)

4) Napza / IPWL (Tim Pelayanan Terpadu)

5) Psikoterapi (DPJP Psikiater)

6) Forensik Psikiatri (DPJP Psikiater)

7) Saraf (DPJP Spesialis Saraf)

8) Umum (DPJP Dokter Umum)

9) Gigi (DPJP Dokter Gigi)

10) Psikologi (Penanggungjawab Pelayanan Psikologi)

Melayani pemeriksaan dan pengukuran :

1) IQ ( kecerdasan )

(4)

3) Kemampuan khusus/bakat

4) Jurusan pendidikan

5) Seleksi pekerjaan

6) Pegembangan SDM

7) Psikometri (DPJP Psikiater)

8) Pelayanan day care (Pelayanan Terpadu)

9) Surat keterangan sehat fisik (DPJP Dokter Umum)

10) Surat Keterangan bebas narkoba (DPJP Psikiater)

11) Surat keterangan sehat jiwa (DPJP Psikiater)

Pelayanan lain :

1) Pelayanan kesehatan jiwa masyarakat

2) Pelayanan hotline service

3) Electro Convulsive Therapy

4) Pelayanan Rehabilitasi Medik

5) Pelayanan Rehabilitasi Mental

6) Klinik/Konsultasi Gizi

b. Instalasi Gawat Darurat Jiwa dan Umum 24 jam

Pelayanan one day care

c. Instalasi Rawat Inap

1) Pelayanan Intensif psikiatri (UPIP / Unit Pelayanan Intensif Psikiatri)

2) Pelayanan rawat inap anak dan remaja

3) Pelayanan rawat inap psikogeriatri

4) Pelayanan rawat inap gangguan jiwa dengan fisik/saraf

5) Pelayanan rawat inap forensik psikiatri

(5)

1) Brainmapping

2) Elektro Encefalografi (EEG)

3) Epilepsy Monitoring

4) Electro Kardiografi (EKG)

5) Densitometry

6) Neurokognitif

7) Stress analyzer

8) Personality Test Menthal Capacity

B. Gambaran Unit Rekam Medis (URM) 1. Visi, Misi URM

a. Visi URM

Memberikan layanan yang santun sebagai perwujudan pelayanan

kepada masyarakat dengan data siap saji yang lengkap dan akurat

untuk mendukung visi rumah sakit

b. Misi URM

1) Mengetahui indikator pelayanan Rumah Sakit melalui Rekam Medis.

2) Mengembangkan mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit melalui

pengelolaan Rekam Medis.

3) Mengelola Rekam Medis sedemikian rupa berdasarkan alur dan

prosedur yang berlaku.

2. Struktur Organisasi Rekam Medis RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang.

Susunan dan tanggung jawab staf Bidang Rekam Medis:

(6)

b. TPPRI dan TPPGD : Y. Aji Rahardjanto

Ika Yulianti, A.Md

Eko Agus H, A.Md PK

Dian Ayu, A.Md PK

c. TPPRJ : Ulfa Amalia S.KM

Ari astuti, A.Md Pk

d. Asembling : Khusnul Khotimah, A.Md Pk

Andrias Dimas, A.Md Pk

Ermi Nurjana, A.Md. Pk

Bambang S

e. Koding : Wahyu Indah L, A.Md. Pk

Afip Maschuri, A.Md. Pk

Sandy Arfendy, A.Md. Pk (RI BPJS)

Swatiara Karnita, A.Md. Pk (RJ BPJS)

f. Indexing : Wahyu Indah L, A.Md. Pk

Afip Maschuri, A.Md. Pk

g. Analising Reporting : Megawati Ningtyas, Amd. Pk

Yoga Yudha, Amd. Pk

h. Filling : Achmad Subagio, A.Md. Pk

Widodo

(7)

3. Tugas Pokok dan Fungsi Unit Rekam Medis

a. Kepala Instalasi Rekam Medis

Kepala Instalasi Rekam Medis berpendidikan formal D3 Rekam

Medis dan memiliki tugas pokok sebagai berikut :

1) Memimpin

a) Melakukan bimbingan kepada stafnya

b) Memberikan pengarahan tugas kepada staf bawahannya

2) Perencanaan

a) Menyusun rencana kebutuhan tugas staf di instalasi Rekam Medis

b) Merencanakan pengembangan sistem rekam medis sesuai

standar

3) Pengawasan

a) Memantau pelaksanaan tugas staf di Instalasi Rekam Medis

b) Memantau/ monitoring pelaksaan Rekam Medis

4) Wewenang

a) Menilai dan mengawasi pelaksanaan tugas stafnya

b) Memberikan pertimbangan kepada atasan tentang stafnya yang

berkaitan dengan :

1) Mengusulkan mutasi pegawai pada atasan langsung ( Kasi

pelayanan rawat jalan )

2) Memberikan Cuti staf Rekam Medis

3) Memberikan Sanksi

c) Berkoordinasi dengan unit terkait dalam rangka pengumpulan /

(8)

d) Membubuhkan paraf atas konsep laporan rekam medis

5) Tanggung Jawab

a) Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas di instalasi Rekam

Medis

b) Melakukan penilaian DP3 dan menegakkan disiplin staf

bawahannya

c) Menjamin keabsahan/ kebenaran kutipan dokumen Rekam

Medis

d) Kelengkapan dan ketepatan pelaporan Instalasi Rekam Medis

e) Menjaga kebersihan lingkungan setempat

b. Petugas Pendaftaran Pasien Rawat Jalan

Petugas pendaftaran pasien rawat jalan terdiri dari 2 orang dengan

jenjang pendidikan S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Rekam Medis,

memiliki tugas pokok dan fungsi antara lain :

1) Melaksanakan kelancaran pelayanan pendaftaran rawat jalan.

2) Memantau dan melaksanakan penggunaan nomor rekam medis

dari komputer / sistem billing agar tidak terjadi satu pasien

memperoleh lebih dari satu nomor RM.

3) Melayani pendaftaran bagi pasien yang akan berobat.

4) Menginput data identitas pasien dangan benar kedalam komputer .

5) Ketepatan identitas pasien di pendaftaran rawat jalan baik pada

komputer maupun DRM

6) Mencetak lembar RM.1 dan resume rawat jalan.

7) Mendistribusikan DRM ke unit terkait sesuai hasil skrining.

(9)

9) Mencetak kunjungan rawat jalan selesai pelayanan setiap hari.

10) Menerima pengembalian DRM rawat jalan dari unit terkait / poli.

11) Mengoreksi dokumen yang kembali dengan print out data

kunjungan.

12) Menyerahkan DRM ke bagian koding.

13) Membuat laporan SPM penyedia dan dokumen rawat jalan setiap

awal bulan.

14) Melaksanakan tugas lain yang diberikan yang diberikan oleh

atasanya.

15) Mendukung pelaksanaan akreditasi.

c. Petugas Pendaftaran Pasien Rawat Inap dan Gawat Darurat

Petugas pendaftaran pasien GD dan RI terdiri dari 5 orang dengan

2 orang berpendidikan SLTA dan 3 orang berpendidikan formal D3

Rekam Medis, pada pendaftaran gawat darurat dan rawat inap

dilakukan 3 shift. Tugas pokok dan fungsi TPPRI, yaitu :

a. Menerima pasien berdasarkan admission note yang dibuat dokter

baik dari pelayanan rawat jalan maupun gawat darurat.

b. Menyiapkan DRM baru maupun lama dan form rawat inap lainya,

untuk diisi oleh dokter jaga dan perawat sesuai pelayanan yang

diberikan.

c. Melengkapi data sosial pada formulir – formulir RM rawat inap. d. Mencetak stiker label yang berisi identitas pasien.

e. Mendistribusikan DRM rawat inap kepada perawat IGD untuk dikirim

kebangsal pasien dirawat.

(10)

Sedangkan tugas pokok dan fungsi TPPGD, yaitu :

1) Menerima pendaftaran pasien yang akan berobat di IGD.

2) Melakukan input data pendaftaran (registrasi) pada sistem billing.

3) Mencetak RMI 1, RMI 3, RMI 4, stiker label dan KIB untuk pasien

baru.

4) Menyusun DRM pasien baru dan menyatukan DRM pasien lama.

5) DRM diserahkan ke petugas IGD.

6) Mengarahkan keluarga pasien duduk di ruang tunggu untuk

menunggu panggilan berikutnya guna diwawancara / meminta

keterangan perihal kondisi pasien sebelum dibawa ke IGD.

7) Pasien dengan keadaan gawat dan darurat akan dirujuk untuk rawat

inap, tetapi apabila keadaan masih stabil dan terkendali cukup dirujuk

rawat jalan.

8) Untuk pasien yang dirujuk rawat inap, petugas akan menginput data

pasien ke dalam sistem billing dan dicetakkan form RI.

9) DRM RI yang sudah lengkap diserahkan ke bangsal sesuai dengan

bangsal pasien.

d. Petugas Assembling

Petugas Assembling di RSJD dr Amino Gondohutomo Semarang

berpendidikan formal D3 Rekam Medis, memiliki pokok sebagai berikut:

1) Menerima pengembalian dokumen dari URJ, IGD dan URI dengan

menuliskan tanggal pengembalian.

2) Memisahkan DRM dari bangsal berdasarkan rawat jalan dan rawat

(11)

3) Merakit DRM rawat inap sesuai dengan urutan nomor formulir yang

ditetapkan.

4) Menganalisa kuantitatif DRM rawat inap kemudian menandai

formulir dengan melingkari kolom S (S-Bar), E (ECT Premed-Non

Premed), B (Asessment Bunuh diri), F (Fiksasi).

5) Mengendalikan DRM dengan menuliskan ketidaklengkapan DRM

memakai KK dan diletakkan sesuai dengan bangsal, lalu DRM akan

diberikan menurut bangsal dengan waktu 2x24 jam.

6) Menginput ke komputer DRM rawat inap /IGD untuk menghasilkan

laporan tentang pengembalian DRM dan kelengkapan DRM.

7) Mengendalikan catatan penggunaan nomor RM dari billing sistem

RS agar tidak terjadi penggandaan no RM ada pasien.

8) Formulir RM yang diabadikan seperti formulir resume rawat inap, IC

tindakan medis, IC tindakan anestesi, formulir ECT Premedikasi,

formulir ECT Non premedikasi, formulir laporan ECT Premedikasi

dan Non Premedikasi, formulir transfusi darah discanner oleh

petugas assembling.

9) Memilah DRM berdasarkan cara pembayaran yaitu umum, BPJS,

Jamkesda.

10) Mengirimkan DRM ke bagian koding.

e. Petugas Koding / Indeksing

Petugas Koding / Indeksing di RSJD dr. Amino Gondohutomo

Semarang berpendidikan formal D3 Rekam Medis, memiliki tugas pokok

(12)

1) Menerima DRM dari petugas asembling.

2) Membaca diagnosis yang ditulis oleh dokter dan menetapkan

diagnosa menggunakan ICD-10 dengan melihat perjalanan

penyakit.

3) Membaca prosedur / tindakan yang diberikan oleh dokter ke pasien

dan menetapkan kode tindakan menggunakan ICD-9 dengan

melihat lembar hasil prosedur / tindakan.

4) Menginput diagnosa kedalam billing system.

5) Mencatat hasil pelayanan ke dalam formulir indeks penyakit,

prosedur / tindakan medis, indeks sebab kematian dan indeks

dokter.

6) Menyimpan indeks tersebut sesuai dengan ketentuan menyimpan

indeks.

7) Membuat laporan penyakit (morbiditas) dan laporan kematian

(mortalitas) berdasarkan indeks penyakit, indeks tindakan medis,

indeks mortalitas.

8) Melaksanakan kelancaran coding entri data BPJS.

9) Menerima DRM yang masuk BPJS dari assembling baik pasien

baru / pasien lama dari poliklinik maupun IGD.

10) Melakukan crosscheck antara DRM pasien BPJS yang akan dientry

dengan kunjungan pasien rawat jalan dan data pasien pulang bagi

rawat inap.

(13)

f. Petugas Analising / Reporting

Petugas Analising / Reporting di RSJD dr. Amino Gondohutomo

Semarang berpendidikan formal D3 Rekam Medis, memiliki tugas pokok

sebagai berikut :

1) Mengambil sensus ke bangsal setiap hari.

2) Mendistribusikan sensus informasi paien pada unit terkait.

3) Merekap SHRI ke rekapitulasi harian ( RP 1 ) setiap bulanan.

4) Mengolah data RP 1 sebagai bahan penyusunan laporan RL.

5) Mengolah data sensus harian unit pelayanan klinis lainnya untuk

penyuusunan kegiatan rawat jalan, gawat darurat, kesehatan gigi,

radiologi, pengujian kesehatan, rujukan, rehabilitasi medik,

pelayanan kesehatan jiwa, sebagai bahan penyusunan pembuatan

laporan kegiatan rumah sakit setiap bulan.

6) Menyerahkan laporan kegiatan rumah sakit yang sudah di tanda

tangani oleh Ka. Instalasi rekam medis Bidang pelayanan , dan Unit

terkait.

7) Mengkalkulasi data rekam medis dari laporan-laporan tersebut

untuk dianalisis statistiknya

8) Membuat laporan-laporan khusus untuk keperluan manajemen

rumah sakit

9) Mengolah data rekam medis untuk analisis statistik rumah sakit

10) Membuat laporan RL 1 - 5 kemudian mengirim RL tersebut ke

Depkes dengan Sistem online.

(14)

Petugas Filing di RSJD dr. Amino Gondohutomo Semarang

berpendidikan formal D3 Rekam Medis, dan dibantu staf lulusan SLTA

yang telah mengikuti Pelatihan memiliki tugas pokok sebagai berikut :

1) Menyimpan DRM dengan metode tertentu sesuai dengan kebijakan

penyimpanan DRM.

2) Mengambil kembali ( retrieve ) DRM untuk ber berbagi keperluan

dengan memberikan tracer, sebagai keterangan bahwa DRM

sedang dipinjam.

3) Prosedur pengambilan DRM dengan menempelkan stiker label

pada tracer yang tercetak melalui billing system, yang terhubung

dengan pendaftaran rawat jalan dan gawat darurat.

4) Membuat JRA (jadwal retensi arsip).

5) Menyusun (meretensi) DRM sesuai dengan ketentuan yang

ditetapkan.

6) Memisahkan penyimpanan DRM in-aktif dari DRM aktif.

7) Membantu dalam penilaian nilai guna rekam medis.

8) Menyimpan DRM yang dilestarikan ( diabadikan ).

9) Membantu dalam pelaksanaan pemusnahan formulir rekam medis.

10) Mengisi buku ekspedisi bukti penerimaan dan peminjaman DRM

(15)

C. Hasil Penelitian

1. Kebijakan Pengelolaan DRM Inaktif

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di

RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang diketahui bahwa, Rumah Sakit

sudah memiliki kebijakan pengelolaan DRM yang berbunyi sebagai berikut:

a) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/PER/III/2008, tentang

rekam medis / medical record.

b) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1171/Menkes/PER/VI/2011,

tentang Sistem Informasi Rumah Sakit.

c) SK Dirjen. Yanmed. No : YM.00.03.2.2.1296 tahun 1996, tentang

Pedoman Penyelenggaraan Dan Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit

Revisi II tahun 2006

d) Surat Edaran Direktur Pelayanan Medik Spesialis Nomor

YM.00.02.2.2.837 tanggal 01 Juni 2001 tentang Perihal Bentuk SPO

e) SK Direktur RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang tentang

Penyimpanan, Retensi dan Pemusnahan Dokumen Rekam Medis.

Hasil observasi adalah rumah sakit sudah mempunyai kebijakan

pengelolaan DRM inaktif. Akan tetapi kebijakan itu masih menjadi 1 di

SPO retensi. Dan salah satu petugas ada yang tidak tahu tentang isi

(16)

Tabel 4.1

Hasil Wawancara

No Pertanyaan Petugas

A B C

1 Apakah rumah sakit

sudah ada kebijakan?

Sudah Sudah Sudah

2 Apakah anda mengetahui kebijakan tersebut ? Ya , kebijakan itu berisi udang-undang yang mengatur tentang pengelolaan DRM inaktif Ya, saya mengeta hui kebijaka n tersebut Tidak

Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas filling ada satu

petugas yang tidak mengetahui isi kebijakan pengelolaan DRM inaktif.

Sudah ada kebijakan tetapi belum menyatakan kewajiban petugas filing

tentang pengelolaan DRM Inaktif sehingga pelaksanaannya kurang

efektif karena masih banyak dokumen rekam medis yang belum masuk

(17)

2. SPO Pengelolaan DRM Inaktif .

Berdasarkan hasil observasi di RSJD Dr. Amino Gondohutomo

Semarang belum mempunyai SPO pengelolaan DRM inaktif sehingga

dalam pelaksanaan pengelolaan DRM inaktif masih menggunakan acuan

SPO retensi. Tabel 4.2 Hasil Wawancara No Pertanyaan Petugas A B C 1 Apakah sudah ada SPO pengelolaan DRM inaktif ?

Belum ada tetapi

untuk saat ini

pengelolaan DRM

inaktif masih

menggunakan

acuan SPO retensi.

Belum

ada.

Belum

ada.

Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas filling di RSJD Dr.

Amino Godohutomo Semarang belum mempunyai SPO kusus untuk

pengelolaan DRM inaktif .

3. Pelaksanaan Pengambilan DRM inaktif

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, untuk pengambilan

DRM inaktif dilakukan Di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang

(18)

a. Mencetak tracer dari bagian pendaftaran.

b. Mencari DRM sesuai yang tertera di tracer menggunakan no akhir dan

tahun kunjungan .

c. jika dokumen sudah ditemukan maka tracer di selipkan dan dokumen

diambil.

d. Mendistribusikan sesuai poli tujuan pasien.

Ada 3 petugas yang berada di ruang filing ketika ditanya tentang

pelaksanaan pengambilan DRM inaktif semua petugas mengetahuinya.

Sistem penjajaran yang digunakan di ruang inaktif petugaspun

memahaminya dan petugas juga mengatakan jika sistem penjajaran yang

digunakan di ruang inaktif juga membantu dalam pencarian DRM ketika di

dalam rak.

Berdasarkan teori untuk pengambilan DRM inaktif dokumen

rekam medis dapat dilakukan dengan cara berikut :

a. Mencetak tracer dari bagian pendaftaran.

b. Mencari DRM sesuai yang tertera di tracer berdasarkan diagnosis

penyakit .

c. jika dokumen sudah ditemukan maka tracer di selipkan dan dokumen

diambil.

d. Mendistribusikan sesuai poli tujuan pasien

1) Pengambilan DRM Efektif

DRM inaktif yang mudah dilacak/pencarian ≤ 1 menit. Hasil observasi di RSJD Dr. Amino Gondohutomo yang sudah efektif

(19)

yang sudah efektif dalam pengambilannya di dalam rak dari trecer

di cetak hingga DRM di distribusikan ada 5 DRM yang efektif

sebesar 20%.

Hasil wawancara dengan petugas faktor yang menyebabkan

lamanya pengambilan DRM karena banyaknya dokumen yang

berada di lantai sehingga mengganggu petugas saat pengambilan

DRM.

2) Pengambilan DRM Tidak Efektif

DRM inaktif yang tidak mudah dilacak/pencarian > 1 menit. Hasil

observasi di RSJD Dr. Amino Gondohutomo yang tidak efektif

pengambilannya > 1 menit. Dari 25 DRM skizofrenia paranoid DRM

yang belum efektif dalam pengambilannya di dalam rak dari trecer

di cetak hingga DRM di distribusikan ada 20 DRM yang belum

efektif sebesar 80%.

Hasil wawancara dengan petugas faktor yang menyebabkan

lamanya pengambilan DRM yaitu :

a. Banyaknya dokumen yang berada di lantai.

b. Sulinya membuka rak karena terhalangi oleh karung yang

(20)

c. Dokumen yang diikat oleh tali rafia membuat waktu

pengambilan DRM lebih lama karena petugas harus membuka

Gambar

Tabel 4.1  Hasil Wawancara

Referensi

Dokumen terkait

Akibat dokumen rekam medis (DRM) rawat inap tidak lengkap pada tanggal pengisian pada lembar resume medis akan mengakibatkan petugas rekam medis sulit mencocokkan dengan

Menyediakan pelayanan yang berkaitan dengan pengobatan penyakit kusta yang lengkap, baik dalam rawat inap maupun rawat jalan... Disamping produk jasa layanan tersebut,

Di bagian filing rawat jalan RSUD Sunan Kalijaga Demak sudah memiliki tracer sebagai petunjuk keberadaan dokumen rekam medis pasien rawat jalan. Tracer tersebut berisi nomor

1) Petugas yang melakukan pengambilan rekam medis pasien rawat adalah petugas rekam medis bagian penyimpanan. 2) Petugas penyimpanan mengambilkan berkas rekam medis pasien rawat

Berdasarkan hasil dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa petugas tidak melakukan analisa kuantitatif dan kualitatif dalam pengendalian ketidaklengkapan DRM rawat inap ,

TUBAN 1 Master 2 Transaksi 3 Laporan 2.1 Transaksi Administrasi Rawat Jalan 1.1 Master Pasien 1.2 Master Dokter 3.1 Laporan Kunjungan Pasien Rawat Jalan 3.5 Laporan Pendapatan

Dari 88 orang yang menjawab memilih berobat kembali di Sub Bagian Rawat Jalan Rumah Sakit Haji Jakarta, ada sebanyak 56 orang (64%) memilih Rumah Sakit Haji Jakarta pada

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari database rekam medik data kunjungan pasien jiwa rawat inap Rumah Sakit Jiwa Grhasia