• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Uji Materil Mengenai Batas Usia Anak Dalam Proses Penanganan Anak Pelaku Tindak Pidana (Kajian Terhadap Putusan: Nomor 1 Puu-Viii 2010)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Implikasi Uji Materil Mengenai Batas Usia Anak Dalam Proses Penanganan Anak Pelaku Tindak Pidana (Kajian Terhadap Putusan: Nomor 1 Puu-Viii 2010)"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

UNDANG-UNDANG NO 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DIKAITKAN DENGAN PRINSIP PERLINDUNGAN

TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA

A.Perlindungan Anak Dalam Berbagai Instrumen Hukum Internasional Dan Hukum Nasional

Anak adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa sebagai titipan yang

diberikan kepada orang tua, selain itu anak merupakan generasi penerus bangsa,

yang akan bertanggung jawab atas eksistensi bangsa ini di masa yang akan

datang. Tidaklah mengherankan jika ada ungkapan yang menyatakan jika hendak

menghancurkan suatu bangsa maka hancurlah generasi mudanya. Sebagai negara

yang bijak maka selayaknya hal tersebut dijadikan sebuah peringatan kepada

bangsa ini, agar senangtiasa menjaga generasi mudanya dari segala kemungkinan

buruk yang mungkin terjadi. Pembinaan terhadap generasi muda haruslah selalu

dilaksanakan dengan sebaik-baiknya demi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan

perkembangan fisik dan mental serta perkembangan sosialnya. Kondisi yang

paling memungkinkan guna pencapaian hasil yang optimal atas cita-cita tersebut

adalah terciptanya kondisi sosial yang kondusif, dan merupakan tanggung jawab

negara dalam menciptakan kondisi semacam itu. Kondisi sosial yang kondusif

selalu di tandandai dengan perkembangan perekonomian yang merata di seluruh

masyarakat yang ada, dan hal itu sudah tentu harus didukung dengan sebuah

sistem hukum yang baik dalam mengawal pembangunan ekonomi yang baik.

Realitas sosial menunjukkan bahwa kondisi kondusif tersebut belum dapat

(2)

nampaknya mengalami anomie kondisi di mana sosial kehilangan nilai dan dan

patokan-patokan hidup. Pemenuhan ekonomi yang menjadi barometer kesuksesan

hidup menyebabkan banyaknya peyimpangan-peyimpangan yang dilakukan oleh

masyarakat dalam mencapainya, tidak terkecuali juga dilakukan oleh anak yang

merupakan generasi muda bangsa ini.

Keadaan seperti itu maka nampaknya penanganan secra hukum terhadap

anak harus pula memperhatikan sifat-sifat khas anak. Penanganan terhadap

prilaku menyimpang anak merupakan perhatian dunia. Adalah UNICEF badan

dunia yang dibentuk oleh PBB yang diperuntukkan untuk menangani anak.

UNICEF telah melakuka riset di seluruh dunia guna menemukan bagaimana

menangani prilaku menyimpang anak secara universal atau paling tidak

menentukan patron yang tepat dalam pembentukan hukum perlindungan bagi

anak-anak di seluruh dunia. Namum demekian out put hukum perlindungan anak

pada akhirnya digantungkan kepada kebijakan negara. Indonesia sendiri

mengeluarkan UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dan UU

No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Aturam perundang-undangan

tersebut merupakan bagian dari hukum pidana perlindungan anak. Dua regulasi

tersebut memiliki peran masing-masing dalam upaya memberikan perlindungan

terhadap anak. Pada UU No. 3/1997 berfungsi melindungi anak yang melakukan

tindak pidana, dalam hal ini anak adalah pelaku tindak pidana tertentu,

sedanmgkan UU No. 23/2002 berfungsi melindungi anak dalam konteks anak

yang menjadi korban kejahatan. Dengan kedua regulasi tersebut diharapkan dapat

(3)

Untuk membahas perlindungan terhadap anak secara lebih jelas lagi, maka disini

penulis akan memaparkan secara khusus mengenai perlindungan terhadap anak

baik secara hukum internasional, maupun perlindungan terhadap anak secara

huku m nasional.30

Konvensi Hak Anak menjadi dokumen HAM yang spesifik mengenai hak

anak, terlengkap dan telah diratifikasi oleh paling banyak negara peserta (state

parties). Sebelum lahir Konvensi Hak Anak, masyarakat internasional telah

memiliki dokumen hak anak yang merupakan bahan pertimbangan dilahirkannya

Konvensi Hak Anak.

1. Instrumen Hukum Internasional

Melihat situasi buruk atas anak, menyadarkan masyarakat internasional

membangun sebuah bangunan dunia yang lebih baik bagi anak (a better place for

children). Secara global UNICEF mengembangkan dan mengkampanyekan tesis

pembangunan yang pro anak, di mana sudah tiba saatnya bagi bangsa dan negara

di dunia meletakkan kebbutuhan dan hak anak dalam pusat strategi pembangunan.

Untuk menjamin tegaknya hak-hak anak, pada tahun 1989 PBB menyetujui

Konvensi Hak Anak (KHA-UN’s Conventionn on the Rights of the child) yang

menegakan jaminan hak-hak anak untuk hidup, hak untuk berkembang, hak atas

perlindungan dan hak partisipasi anak.

31

30

http://justital.Worpress.com/2010/10/17/sinkronisasi-hukum-nasional-terhadap standar-internasional-perlindungan-anak/ Diakses tanggal 2 Mei 2012. Jam. 15.00

31

(4)

Perlindungan hukum terhadap anak dapat diartikan sebagai upaya

perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak

(fundamental rights and freedoms of children), serta berbagai kepentingan yang

berhubungan dengan kesejahteraan anak. Dengan demikian, masalah perlindu

ngan hukum bagi anak mencakup ruang lingkup yang sangat luas. Perhatian

kepada anak dalam masyarakat internasional memang sedikit dan dapat dilihat

dari ditetapkannya sejumlah instrumen internasional yang berkenaan dengan anak.

Beberapa diantaranya yang eksplisit menyebut anak dapat dijumpai dalam :

1. 1924 Geneva Declaration of the Rights of the child

2. 1959 UN General Assembly Declaration on Civil and Rights of the Child

3. 1966 Internasional Convenant on Civil and Rights of the Child

4. 1966 Internasional Convenant on Economic, Sosial & Cultural Rights

5. 1989 UN Convenant on the Rights of the Child32

Menurut Arif Gosita, usaha-usaha perlindungan anak ini sebenarnya

merupakan suatu tindakan hukum yang mempunyai akibat hukum, oleh karena itu

perlu adanya jaminan hukum bagi kegiatan perlindungan anak tersebut. Kepastian

hukumnya perlu diusahakan demi kelangsungan kegiatan perlindungan anak dan

mencegah penyelewengan yang membawa akibat negatif yang tidak diinginkan

dalam pelaksanaan kegiatan perlindungan anak.33

Berbagai dokumen/instrumen Internasional dalam upaya memberikan

perlindungan terhadap anak sudah sepantasnya mendapat perhatian semua negara

termasuk juga negara Indonesia dan diimplementasikan kedalam berbagai bentuk

32

Nandang Sambas. Op. Cit, hlm. 76

33

(5)

kebijakan perundang-undangan dan kebijakan sosial lainya. Mengabaikan

masalah perlindunhan anak berarti tidak akan memantapkan pembangunan

nasional. Maka ini berarti bahwa perlindungan anak harus diusahakan dalam

berbagai cara apabila kita ingin mengusahakan pembangunan nasional yang

memuaskan.

Berikut diuraikan prinsip-prinsip perlindungan atas hak anak yang

berkonflik dengan hukum dalam berbagai dokumen/instrumen hukum

internasional:

1. Berdasarkan Peraturan-Peraturan Minimum Standar PBB Mengenai

Administrasi Peradilan Bagi Anak (The Beijing Rules) secara umum, bahwa

remaja adalah seorang anak muda yang menurut sistem hukum masing-masing,

dapat diperlukan atas suatu pelanggaran hukum dengan cara yang berbeda dari

perlakuan terhadap orang dewasa. Mengacu pada peraturan di atas, terlihat bahwa,

penentuan umur bagi seorang anak/remaja ditentukan berdasarkan sistem hukum

masing-masing negara. Ini berarti, batas usia anak/remaja untuk masing-masing

negara berbeda. “Beijing Rules” hanya memberikan rambu-rambu agar penentuan

batas usia anak, jangan ditetapkan dalam usia yang terlalu rendah. Hal ini, akan

berkaitan dengan masalah emosional, mental dan intelektual. Artinya, “Beijing

Rules” menganggap, bahwa pada usia yang terlalu rendah, seseorang belum dapat

dikatakan dewasa secara emosional, dewasa secara mental dan dewasa secara

(6)

pidana.34

a. Pelaksanaan peradilan pidana terhadap anak harus efektif, adil, dan bersifat

manusiawi tanpa adanya perbedaan diskriminasi;

Untuk lebih jelasnya Peraturan-peraturan minimum standar PBB

mengenai administrasi peradilan anak (The Beijing Rules) adalah sebagai berikut:

b. Penentuan batas usia pertanggungjawaban pelaku anak berkisar tujuh tahun

hingga delapan belas tahun atau lebih tua;

c. Pelaku anak memiliki hak praduga tak bersalah, hak diberitahu akan

tuntutannya, hak untuk tetap diam, hak didampingi pengacara, hak kehairan

orangtua atau wali, hak untuk menghadapi dan memeriksa sidang

saksi-saksi dan hak untuk naik banding ke tingkat berikutnya serta perlindungan

privasi;

d. Pemberitahuan penangkapan anak pelaku tindak pidana secepatnya kepada

orangtua atau walinya;

e. Pada saat penangkapan pelaku anak harus terhindar dari tindakan kekerasan

fisik, bahasa kasar, atau terpengaruh oleh lingkungan;

f. Anak pelaku tindak pidana diupayakan untuk dilakukan pengalihan dari

proses formal ke informal oleh pihak yang berwenang yang berkompeten;

g. Penahanan sebelum pemutusan pengadilan dilakukan sebagai pilihan

terakhir dan dalam waktu yang singkat;

h. Pelaku yang berada di bawah penahanan sebelum pengadilan, mempunyai

hak dan mendapat jaminan pemenuhan hak;

34

(7)

i. Pelaku yang ditahan sebelum putusan pengadilan dipisahan dari orang

dewasa;

j. Selama proses pengadilan, pelaku mempunyai hak untuk diwakili oleh

seorang penasehat hukum atau untuk memohon bantuan hukum dengan

biaya bebas;

k. Orangtua atau wali pelaku anak berhak ikut serta dalam proses peradilan

dan berwenang untuk menghadiri persidangan demi kepentingan pelaku;

l. Hakim dalam memutuskan perkara anak pelaku tindak pidana harus

memperhatikan laporan penelitian dari lembaga sosial;

m.Hukuman hanya dijalankan sebagai upaya terakhir dan penjara terhadap

anak harus dihindarkan dari bentuk penderitaan fisik;

n. Hukuman mati tidak dapat dikenakan pada setiap kejahatan apapun yang

dilakukan oleh anak;

o. Anak pelaku tindak pidana tidak boleh menjadi subyek hukuman badan dan

mengupayakan tindakan alternatif sebagai hukuman;

p. Pihak yang berwenang secara hukum memiliki kekuasaan untuk mengakhiri

proses peradilan pada setiap saat;

q. Pelaku anak sedapat mungkin dihindarkan dari penhanan kecuali terhadap

perlindungan secara maksimal terhadap pelaku;

r. Upaya menghindarkan penempatan anak pada Lembaga Pemasyarakatan,

(8)

s. Pelaku mendapatkan bantua seperti; penginapan, pendidikan, atau latihan

keterampilan, pekerjaan atau bantuan lain yang bersifat membantu dan

praktis dengan tujuan mempermudah proses rehabilitasi;

t. Anak pelaku tindak pidana ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan

terpisah dengan orang dewasa dan ditahan pada lembaga terpisah;

u. Pelanggar hukum wanita muda ditempatkan pada Lembaga Pemasyarakatan

terpisah dan patut mendapat perhatian khusus terhadap keperluan dan

masalah pribadinya;

v. Demi kepentingan dan kesejahteraan remaja yang ditahan di Lembaga

Pemasyarakatan, orangtua atau wali memiliki hak akses untuk

mengetahuinya;

w.Adanya penggalangan sukarelawan dan pelayanan masyarakat dalam

pembinaan anak pelaku tindak pidana;

x. Pembebasan bersyarat terhadap anak pelaku tindak pidana oleh Lembaga

Pemasyarakatan sedini mungkin dan adnya pengawasan dan bantuan

terhadap pelaku yang diberi pembebasan bersyarat.

2. Berdasarkan Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on teh Right of the Child)

Perserikatan Banga-Bangsa 1989:

Melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang telah mengesahkan Konvensi

Hak Anak (UN,s Convention on the Rights of the Child) pada 20 November 1989,

yang hingga kini telah mengikat 191 (seratus sembilan puluh satu) negara peserta

(state parties), maka upaya promosi, penyebaran penegakan hak-hak anak

(9)

Konvensi Hak Anak. Hak-hak Anak yang dimaktub dalam Konvensi Hak Anak,

merupakan sebuah instrumen internasional yang secara hukum mengikat

negara-negara peratifikasi untuk mengimplementasikan Konvensi Hak Anak yang terdiri

atas 54 (lima puluh empat) pasal itu.35

a. Seorang anak tidak akan dikenai penyiksaan atau pidana dan tindakan

lainnya yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat;

Adapun perlindungan terhadap Anak

adalah sebagi berikut:

b. Pidana mati maupun pidana penjara seumur hidup tanpa kemungkin

memperoleh pelepasan/pembebasan (“without possibility of release”) tidak

akan dikenakan kepada anak yang berusia di bawah 18 tahun;

c. Tidak seorang anak pun dapat dirampas kemerdekaannya secara melawan

hukum atau sewenang-wenang;

d. Penagkapan, penahanan dan pidana penjara hanya akan digunakan sebagai

tindakan dalam upaya terakhir dan untuk jangka waktu yang sangat

singkat/pendek;

e. Setiap anak yang dirampas kemerdekaanya akan diperlakukan secara

manusiawi dan dengan menghormati martabatnya sebagai manusia;

f. Anak yang diraampas kemerdekaanya akan dipisah dari orang dewasa dan

berhak melakukan hubungan/kontak dengan keluargaya;

g. Setiap anak yang dirampas kemerdekaannya berhak memperoleh bantuan

hukum, berhak melawan/menentang dasar hukum perampasan kemerdekaan

atas dirinya di muka pengadilan atau pejabat lain yang berwenang dan tidak

35

(10)

memihak, serta berhak untuk mendapat keputusan yang cepat/tepat atas

tindakan terhadap dirinya itu;

h. Tiap anak yang dituduh, dituntut atau dinyatakan telah melanggar hukum

pidana berhak diperlukan dengan cara-cara:

1. Yang sesuai dengan kemajuan pemahaman anak tentang harkat dan

martabatnya;

2. Yang meperkuat penghargaan/penghormatan anak ada hak-hak asasi dan

kebebasan orang lain;

3. Mempertimbangkan usia anak dan keinginan untuk

memajukan/mengembangkan pengintegrasian kembali anak serta

mengembangkan harapan anak akan perannya yang konstruktif di

masyarakat.

i. Tidak seorang anak pun dapat dituduh, dituntut atau dinyatakan melanggar

hukum pidana berdasarkan perbuatan (atau “tidak berbuat sesuatu”) yang

tidak dilarang oleh hukum nasional maupun internasional pada saat

perbuatan itu dilakukan;

j. Tiap anak yang dituduh atau dituntut telah melanggar hukum pidana,

sekurang-kurangnya memperoleh jaminan-jaminan (hak-hak):

1. Untuk dianggap tidak bersalah sampai terbukti kesalahannya menurut

hukum;

2. Untuk diberitahu tuduhan-tuduhan atas dirinya secara cepat dan

langsung (“promptly dan directly”) atau melalui orang tua, wali atau

(11)

3. Untuk perkaranya diputus/diadili tanpa penundaan (tidak berlarut-larut)

oleh badan/kekuasaan yang berwenang, mandiri dan tidak memihak;

4. Untuk tidak dipaksa memberikan kesaksian atau pengakuan bersalah;

5. Apabila dinyatakan telah melanggar hukum pidana, keputusan dan

tindakan yang dikenakan kepadanya berhak ditinjau kembali oleh

badan/kekuasaan yang lebih tinggi menurut hukum yang berlaku;

6. Apabila anak tidak memahami bahasa yang digunakan, ia berhak

memperoleh bantuan penterjemah secara cuma-cuma (gratis);

7. Kerahasian pribadinya dihormati/dihargai secara penuh pada semua

tingkatan pemeriksaan.

8. Negara harus berusaha membentuk hukum, prosedur, pejabat yang

berwenang dan lembaga-lembaga yang secara khusus

diperuntukkan/diterapkan kepada anak yang dituduh, dituntut atau

dinyatakan telah melanggar hukum pidana, khususnya:

1. Menetapkan batas usia minimal anak yang dipandang tidak mampu

melakukan pelanggaran hukum pidana;

2. Apabila perlu diambil/ditempuh tindakan-tindakan terhadap anak

tanpa melalui proses peradilan, harus ditetapkan bahwa hak-hak

asasi dan jaminan-jaminan hukum bagi anak harus sepenuhnya

dihormati.

i. Bermacam-macam putusan terhadap anak (a.1. perintah/tindakan untuk

melakukan perawatan/pembinaan, bimbingan, pengawasan,

(12)

harus dapat menjamin bahwa anak diperlakukan dengan cara-cara yang

sesuai dengan kesejahteraanya dan seimbang dengan keadaan lingkungan

mereka serta pelanggaran yang dilakukan.

Setelah dilakukannya ratifikasi atas Konvensi Hak-Hak Anak oleh

Pemerintah Indonesia dengan mengeluarkan Keppres Nomor 6 Tahun 1990, maka

secara hukum menimbulkan kewajiban kepada Indonesia (negara peserta) untuk

mengimplementasikan hak-hak anak tersebut dengan menyerapnya ke dalam

hukum nasioanal.

Dalam hal Undang-Undang Pengadilan Anak, dapat dikemukakan

merupakan perwujudan dan penampungan dari kaidah hukum Konvensi Hak

Anak mengenai peradilan khusus untuk anak-anak yang berkonflik dengan hukum

(children in conflict with law).36

Berangkat dari pembatasan di atas, maka lingkup perlindungan hukum

bagi anak-anak mencakup: (1) Perlindungan terhadap kebebasan anak; (2)

2. Instrumen Hukum Nasional

Perlindungan hukum bagi anak dapat diartikan sebagai upaya

perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak

(fundamental right and freedom of children) serta berbagai kepentingan yang

berhubungan dengan kesejaheraan anak. Jadi masalah perlindungan hukum bagi

anak mencakup lingkup yang sangat luas.

36

(13)

Perlindungan terhadap hak asasi anak; dan (3) Perlindungan hukum terhadap

semua kepentingan anak yang berkaitan dengan kesejahteraan.37

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 34

tentang “Fakir Miskin dan Anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”.

Prinsip-prinsip perlindungan terhadap anak dalam sistem peradilan pidana

anak diatur oleh peraturan perundang-undangan secara nasional. Perlindungan

terhadap anak ini berhadapan dengan hukum diatur dalam perundang-undangan

Republik Indonesia yaitu:

38

2. Undang-Undang RI No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak,

menentukan :39

a. Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asyhan dan bimbingan

berdasarkan kasih sayang, baik dalam keluarganya maupun di dalam

asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar mendapatkan

perlindungan dari lingkungan hidup yang membahayakan atau

menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar

b. Untuk kesejahteraan anak dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.

3. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 tahun 1997 Tentang Pengadilan

Anak:40

a. Hak untuk diperiksa dalam suasana kekeluargaan pada Sidang Anak (Pasal

6);

b. Hak untuk diadili secara khusus berbeda dengan orang dewasa (Pasal 7);

37

Wuluyadi, Op. Cit., hlm. 1

38

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34

39

Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak

40

(14)

c. Hak untuk diperiksa dalam sidang tertutup untuk umum (Pasal 8 ayat (1));

d. Hak untuk dipisahkan dari tempat tahanan orang dewasa, dan selama masa

tahanan kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial anak harus tetap dipenuhi

(Pasal 45);

e. Hak untuk dikeluarkan dari tahanan demi hukum apabila jangka waktu

penahanan telah habis (Pasal 46 ayat (5), Pasal 47 ayat (4), Pasal 48 ayat

(4), Pasal 49 ayat (4), Pasal 50 ayat (5));

f. Hak untuk mendapatkan bantuan hukum dari seorang atau lebih Penasehat

Hukum sejak ditangkap atau ditahan dan pada setiap tingkat pemeriksaan

(Pasal 51 ayat (1));

g. Hak untuk berhubungan langsung dengan Penasehat Hukum dengan diawasi

tanpa didengar oleh pejabat yang berwenang pada saat ditangkap atau

ditahan (Pasal 51 ayat (3));

h. Hak untuk didampingi oleh orang tua, wali, atau orang tua asuh, penasehat

hukum dan Pembimbing Kemasyarakatan selama proses pemeriksaan (Pasal

57 ayat (2));

i. Hak untuk menjalani pidana atau di didik di Lembaga Pemasyarakatan

Anak yang harus terpisah dari orang dewasa, serta memperoleh pendidikan

dan latihan sesuai bakat dan kemampuannya (Pasal 60).

4. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan

Anak:

a. Hak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau

(15)

b. Hak memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum (Pasal 16 ayat (2));

c. Penangkapan, penahanan atau tindak pidana penjara sesuai dengan hukum

yag berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir (Passal 16

ayat (3));

d. Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk mendapat perlakuan

secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa,

memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya dalam setiap tahapan

upaya hukum, membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan

anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum

(Pasal 17 ayat (1)).

5. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun1999 Tentang Hak Asasi

Manusia:41

a. Hak perlindungan hukum (Pasal 58 ayat (1));

b. Hak untuk tidak dijadikan sasaran penganiayan, penyiksaan, atau

penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi dimana hukuman mati atau

hukuman seumur hidup tidak dapat dijatuhkan kepada anak (Pasal 66 ayat

(1),(2));

c. Hak untuk dirampas kemerdekaanya secara melawan hukum (Pasal 66 ayat

(3));

d. Hak penagkapan, penahanan, atau pidana penjara hanya sebagai upaya

terakhir (Pasal 66 ayat (4));

41

(16)

e. Hak perlakuan yang manusiawi bagi anak yang dirampas kemerdekaanya

dan dipisahkan dari orang dewasa (Pasal 66 ayat (5));

f. Hak bantuan hukum dan bantuan lainnya secra efektif bagi anak yang

dirampas kebebasaanya (Pasal 66));

g. Hak membela diri dan memperoleh keadilan bagi anak yang dirampas

kebebasannya di depan pengadilan yang objektif, tidak memihak dan sidang

tertutup untuk umum.

6. Berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP):

Dalam masalah menyangkut hak-hak anak yang menjadi

tersangka/terdakwa atau anak yang berkonflik dengan hukum, ketentuan KUHAP

masi tetap diperlukan karena Undang-Undang Pengadilaan Anak sendiri tidak ada

mencabut hak-hak tersangka/terdakwa didalam KUHAP, namun justru ketentuan

yang terdapat dalam KUHAP tersebut dapat melengkapi apa yang diatur dalam

Undang-Undang Pengadilan Anak.42

a. Hak untuk segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya

dapat diajukan kepada Penuntut Umum (Pasal 50 ayat (1));

Hak-hak tersebut diatur dalam BAB VI Pasal 50 sampai Pasal 68, kecuali

Pasal 64 karena pasal tersebut menentukan hak terdakwa untuk diadili dalam

persidangan yang terbuka untuk umum. Hal ini bertentangan dengan prinsip

persidangan anak yang harus dilakukan secara tertutup.

Adapun hak-hak tersangka/terdakwa anak atau yang berkonflik dengan

hukum menurut KUHAP dapat diperinci sebagai berikut:

42

(17)

b. Hak agar perkaranya segera diajukan ke pengadilan oleh Penuntut

Umum (Pasal 50 ayat (2));

c. Hak untuk segera diadili oleh pengadilan (Pasal 50 ayat (3));

d. Hak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti

olehnya tentang apa yang disangkakakan kepadnya pada waktu

pemeriksaan dimulai dan tentang apa yang didakwakan kepadanya

(Pasal 51);

e. Hak untuk memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau

hakim (Pasal 52) ;

f. Hak untuk setiap waktu mendapat bantuan juru bahasa dalam

pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan (Pasal 53 ayat (1));

g. Hak mendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih Penasehat

Hukum selama dalam waktu pada setiap tingkat pemeriksaan (Pasal 54);

h. Hak memilih sendiri Penasehat Hukumnya (Pasal 55);

i. Dalam hal tersangka/terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak

pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima

belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang

diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai

Penasehat Hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua

tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk Penasehat

Hukum bagi mereka yang memberikan bantuannya dengan cuma-cuma

(Pasal 56 ayat (1),(2));

(18)

k. Tersangka atau terdakwa yang berkebangsaan asing yang dikenakan

penahanan berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan

negaranya (Pasal 57 ayat (2));

l. Tersangka atau terdakwa yang ditahan berhak menghubungi dan

menerima kunjungan dokter pribadinya untuk kepentingan kesehatan

baik yang ada hubungannya dengan proses perkara maupun tidak (Pasal

58);

m. Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak

diberitahukan tentang penahanan atas dirinya, kepada keluarganya atau

orang lain yang serumah dengan tersangka atau terdakwa ataupun orang

lain yang bantuaanya dibutuhkan oleh tersangka atau terdakwa untuk

mendapat bantuan hukum atau jaminan bagi penaggulangan (Pasal 59);

n. Hak menghubungi dan menerima kunjungan dari pihak yang

mempunyai hubungan kekeluargaan atau lainnya dengan tersangka atau

terdakwa guna mendapat jaminan bagi penangguhan penahanan ataupun

untuk usaha mendapatkan bantuan hukum (Pasal 60);

o. Hak secara langsung atau dengan perantaraan penasehat hukumnya

menghubungi atau menerima kunjungan sanak keluarganya dalam hal

yang tidak ada hubungannya dengan perkara (Pasal 61);

p. Hak untuk mengirim surat kepada penasehat hukumnya, dan menerima

surat dari penasehat hukumnya dan sanak keluarganya (Pasal 62 ayat

(19)

q. Hak menghubungi dan menerima kunjungan dari rohaniawan (Pasal

63);

r. Hak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi atau seseorang yang

memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang

menguntungkan bagi dirinya (Pasal 65);

s. Hak untuk tidak dibebani kewajiban pembuktian (Pasal 6)

t. Hak untuk meminta banding terhadap putusan pengadilan tingkat

pertama (Pasal 67);

u. Hak untuk menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi (Pasal 68).

Apabila disinkronisasikan hukum nasional dan standar internasional

terhadap perlindungan terhadap anak dimana Negara dalam melakukan upaya

perlindungan anak yang standarnya diakui secara internasioanl dapat melakukan

ratifikasi terhadap konvensi-konvensi internasional tersebut, dengan

menyesuaikan pada kondisi sosial yang ada di suatu negara tentunya. Indonesia

sendiri telah mengeluarkan dua undang-undang No. 3 Tahun 1997 tentang

Pengadilan Anak dan undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak.

Melihat substansinya dan jika dikaitkan dengan standar internasional

perlindungan anak, maka sebagaian besar hal-hal yang diatur di dalam

konvensi-konvensi tersebut di atur dalam kedua regulasi tersebut. Walaupun demikian

masih ada beberapa hal yang sebenarnya sangat urgen yang belum diatur dalam

regulasi indonesia, hal tersebut adalah upaya pencegahan kenakalan anak.

(20)

pidana atau antisipasi mulai sejak dini (Preventif). Langkah pencegahan

kriminalitas yang dilakukan oleh anak haruslah bertitik tolak dari penyebab

terjadinya kriminalitas tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

langkah pencegahan tersebut adalah:43

1 Menciptkan kondisi lingkungan masyarakat yang kondusif;

Adalah tanggung jawab suatu pemerintah dalam upaya menciptakan

lingkungan masyarakat yang kondusif, menciptakan masyarakat yang kondusif

tidak akan terlepas dari pembangunan ekonomi pun akan dapat berjalan dengan

baik jika dikawal oleh sistem hukum yang benar-benar baik.

Sementara dalam mencegah terjadinya Anomie, maka negara perlu

mengakomodir kultur dalam masyarakat menjadi sebuah hukum yang mesti

dipertahankan dalam rangka menjaga norma-norma tersebut tetap utuh.

Organisasi masyarakat juga sudah selayaknya menghentikan pengotak-kotakan

masyarakat, khususnya dalam memberikan kesan buruk terhadap sebuah

komunitas tertentu.

2 Menciptakan lingkungan keluarga dan rumah tangga yag harmonis;

Keluarga merupakan pilar utama dalam memonitor perkembangan anak,

keluarga harus menjaga kedisiplinan anak namun pula haru dengan mengubah

cara pendekatan otoriter menjadi pendekatan yang persuasif kekeluargaan.

Namun demikian hal tersebut baru akan dapat tercapai apabila terjadi di

lingkungan keluarga yang harmonis.

3 Memberikan pendidikan moralitas, etika dan agama bagi anak.

43

(21)

Pendidikan moralitas, etika dan agama selayaknya didapatkan oleh anak sejak

di linkungan keluarganya sebagai lingkungan yang paling bertanggung jawab

atas perkembangan etika anak. Selain pendidikan moral, etika dan agama

harusnya mendapatkan porsi lebih institusi pendidikan formal, sebagai harapan

agar pembelajaran atas etika betul-betul menjadi perhatian anak, jadi tidak

semata-mata hanya menjadi pelajaran sampingan yang disepelekan oleh anak.

B.Perlindungan Anak Pelaku Tindak Pidana Dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak.

1. Tahap Pemeriksaan Penyidikan dan Penyelidikan

Pada hakekatnya ketentuan KUHAP tentang penyidikan didefenisikan

bahwa Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut

cara yang diatur dalam Undang-Undang ini (KUHAP) untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana

yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.44

44

Pasal 1 butir 2 KUHAP

Tindakan itu dapat meliputi

pemanggilan dan pemeriksaan saksi-saksi, penyitaan alat-alat bukti,

pengeledahan, pemanggilan, dan pemeriksaan tersangka, melakukan

penangkapan, melakukan penahanan, dan lain sebagainya. Sementara penyidik

sesuai dengan Pasal 1 angka 1 KUHAP, adalah Pejabat Polisi RI atau Pejabat

Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang

untuk melakukan penyidikan. Penyidikan yang dilakukan oleh pejabat kepolisian

(22)

peristiwa yang terjadi merupakan peristiwa pidana, dengan penyidikan juga

ditujukan untuk menemukan pelakunya. Setelah adanya penyidikan tahapan

selanjutnya dilakukan penyelididkan. Penyelidikan kasus pidana dilakukan oleh

kepolisian sesuai dengan KUHAP dan Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang

Pengadilan Anak. Polisi dalam melakukan penyelidikan terhadap anak pelaku

tindak pidana harus memperhatikan berbagai ketentuan mengenai upaya

penanganan anak mulai dari penangkapan sampai proses penempatan.45

Sebelum melakukan penyelidikan tentu harus diketahui terlebih dahulu

apakah telah terjadi suatu tindak pidana. Jalur untuk mengetahuinya adalah

melalui pengaduan,46 laporan,47 atau tertangkap tangan.48

Secara umum berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun

1997 bahwa penyidikan terhadap pelaku tindak pidana anak hanya dapat

dilakukan apabila pelaku tindak pidana telah berusia 8 (delapan) tahun tetapi Berdasarkan Pasal 1 butir 5 KUHAP penyelidikan adalah serangkaian

tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga

sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan

menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang..

45

Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Pengembangan Konsep Diversi dan

Restorative Justice. Bandung: Refika Aditama, 2009. Hlm. 85.

46

Pengaduan adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang untuk menindak menurut hukum seorang yang telah melakukan tindak pidana adauan yang merugikannya. Pasal 1 butir 25 KUHAP

47

Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seorang karena hak atau kewajiban berdasarkan Undang-Undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana. Pidana 1 butir 24 KUHAP

48

(23)

belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun, terhadap anak dibawah umur

delapan tahun yang melakukan tindak pidana akan mendapat pembinaan dan

dikembalikan pada orang tua/wali.

Penyidikan terhadap anak dalam hal anak nakal dilakukan oleh Penyidik

Anak, yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kepolisian RI atau

Pejabat yang ditunjuk olehnya. Dengan demikian Penyidikan Umum tidak dapat

melakukan penyidikan atas Perkara Anak Nakal, kecuali dalam hal tertentu,

seperti belum ada Penyidik Anak di tempat tersebut. Penyidikan terhadap anak

nakal berlangsung dalam suasana kekeluargaan, dan untuk itu penyidik wajib

meminta pertimbangan atau saran dari Pembimbing Kemasyarakatan sesuai

dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 1997. Diperiksa dalam suasana

kekeluargaan, berarti pada waktu memeriksa tersangka anak, penyidik tidak

memakai pakaian seragam/dinas, dan melakukan pendekatan secara efektif, aktif,

dan simpatik.

Suasana kekeluargaan itu juga berarti tidak ada pemaksaan, intimidasi atau

sejenisnya selama penyidikan. Salah satu jaminan terlaksananya suasana

kekeluargaan ketika penyidikan dilakukan, adalah hadirnya Penasehat Hukum,

disamping itu, karena yang disidik adalah anak, maka juga sebenarnya sangat

penting kehadiran orang tua/wali/orang tua asuhnya, agar tidak timbul ketakutan

atau trauma pada diri si anak. Apabila dipandang perlu, penyidik juga dapat

meminta pertimbangan atau saran dari ahli pendidikan, ahli kesehatan jiwa, ahli

agama, atau petugas kemasyarakatan lainnya. Sementara untuk kepentingan si

(24)

Tindakan yang dapat dilakukan penyidik oleh seorang penyidik adalah

penangkapan, penahanan, mengadakan pemeriksaan di tempat kejadian,

melaksanakan penggeledahan, pemeriksaan tersangka dan interogasi, membuat

Berita Acara Pemeriksaan (BAP), penyitaan, penyimpanan perkara dan

melimpahkan perkara.49

a. Penangkapan

Berikut penjelasan prosedur yang dilakukan untuk anak pelaku tindak

pidana :

Penangkapan adalah suatu tindakan Penyidik berupa pengekangan

sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti

guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta

menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang.50

1. Syarat Formal :

Adapun syarat-syarat untuk

melakukan penangkapan adalah sebagai berikut:

a. Dilakukan oleh Penyidik POLRI atau oleh penyelidik atas perintah

penyidik;

b. Dilengkapi dengan Surat Perintah Penangkapan dari penyidik;

c. Menyerahkan Surat Perintah Penangkapan kepada tersangka dan

tembusannya kepada keluarganya.

Surat Perintah Penangkapan itu sendiri harus memenuhi formalitas, yakni

diberi tanggal, nomor surat, dan tanda tangan serta capinstasi yang menugaskan

penangkapan itu. Kemudian juga memuat identitas dari pejabat yang

49

Paramita dan Tamba BIT, perlindungan hak anak dalam proses peradilan pidana pada

tahap penyidikan, Jurnal Hukum no 1 Januari 2003, hlm.29.

50

(25)

memerintahkan penangkapan itu. Surat Perintah Penangkapan itu juga memuat

identitas dari orang yang diperintahkan untuk ditangkap, sangkaan tindak pidana

yang dilakukannya dan tempat di mana ia akan dibawa untuk diperiksa. Uraian

tentang tindak pidana yang disangkakan dilakukan itu harus dibuat secara ringkas,

tegas, dan jelas. Akan tetapi dalam hal tertangkap tangan, maka penangkapan

dapat dilakukan oleh setiap orang tanpa membutuhkan surat perintah

penangkapan. Untuk itu secepatnya tersangka harus diserahkan kepada penyidik

terdekat.

b. Syarat Materil:

1) Ada bukti permulaan yang cukup (Pasal 17 KUHAP)

Bukti permulaan ini harus mengacu pada ketentuan Pasal 184 KUHAP,

yaitu berupa keterangan saksi, Keterangan Ahli, Surat, Petunjuk atau

Keterangan Terdakwa. Sementara hal-hal yang secara umum sudah

diketahui tidak perlu dibuktikan lagi.

2) Penagkapan paling lama untuk satu kali 24 jam.

Penangkapan hanya bisa dilakukan untuk paling lama satu kali 24 jam,

oleh karena itu apabila tenggang waktu itu sudah terlewati maka

penangkapan itu berubah menjadi penahanan.

Agar tenggang waktu itu dapat ditaati, maka sesuai ketentuan Pasal 122

KUHAP dalam waktu satu kali 24 jam sejak ditangkap, tersangka wajib diperiksa

oleh penyidik untuk menentukan apakah ada alasan untuk melakukan penahanan

(26)

Penangkapan yang tidak memenuhi syarat formil maupun syarat materil

adalah tidak sah dan karenanya dapat diajukan ke praperadilan untuk menyatakan

ketidaksahannya dan sekaligus memintakan ganti kerugian atas penangkapan

itu51

semata-mata harus memperhatikan ketentuan pasal 16, .

Wewenang penagkapan dan penahanan terhadap anak menurut ketentuan

pasal 43 UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak menentukan bahwa

kegiatan yang berhubungan dengan penangkapan dan penahanan mengikut i

ketentuan Hukum Acara Pidana, (UU No. 8/1981 tentang KUHAP). Wewenang

penagkapan, harus memperhatikan asas hukum pidana, yaitu asas praduga tak

bersalah, untuk dihormati dan dijunjung tinggi sesuai dengan harkat dan martabat

anak sebagai kelompok yang tidak mampu atau belum mengetahui tentang

masalah hukum yang terjadi pada diri anak tersebut. Persoalan hukum yang

timbul dari proses penagkapan yang dilakukan Kepolisian sebagai penyidik dan

Kejasaan sebagai Penuntut Umum dalam penggunaan upaya paksa dilakukan dan

52

17,53 18,54 dan 19

KUHAP55

51

Darwan Prints. Hukum Anak Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1997. Hlm. 39.

52

(1).Untuk kepentingan penyelidikan, penyelidik atas perintah penyidik berwenang melakukan penagkapan

(2). Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dan penyidik pembantu berwenang melakukan penangkapan

53

Perintah penangkapan dilakukan terhadap seorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup

54

(1) Pelaksanaan tugas penangkapan dilakukan oleh petugas kepolisian negra Republik Indonesia dengan memperlihatkan surat tugas serta memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan yang menvantumkan identitas tersangka dan meyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipesangkakan serta tempat ia diperiksa

(2)dalam hal tertangkap tangan penangkapan dilakukan tanpa surat perintah, dengan ketentuan bahwa penagkapan harus segera menyerahkan tertangkap beserta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu yang terdekat.

(27)

(1) Wewenang penagkapan

a. Untuk dapat menagkap seorang yang diduga telah melakukan tindak

pidana dipersyaratkan harus ada bukti permulaan (pendahuluan) yang

cukup untuk menduga orang tersebut sebagai pelaku kejahatan.

b. Jangka waktu hanya terbatas satu hari.

(2) Perintah penagkapan

a. Perintah penagkapan dilakukan terhadap seorang yang diduga melakukan

tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup.

b. Jangka waktunya terbatas satu hari.

Bentuk dasar penahanan KUHAP yang demikian ini, diperuntukan bagi

semua subjek hukum yang dipandang telah mampu untuk

mempertanggungjawabkan perbuatan hukum. Persoalan baru akan muncul, yaitu

bentuk penangkapan terhadap seorang anak atau seorang yang belum dewasa. Jika

perilaku penagkapan dilakukan pada seorang anak maka akan timbul hak-hak

anak yang dilindungi oleh hukum sebagai akibat dari belum dewasa, akan menjadi

faktor pertimbangan yang prinsip bagi seorang penyidik dan penuntut umum

sebagai upaya untuk membatasi tindakan upaya paksa. Ditentukan sebagi faktor

pertimbanagan dikarenakan, pernyataan hukum telah melindungi status anak atau

orang yang belum dewasa sebagai unsur ex-officio dari penyidik dan penuntut

umum. Ketentuan pasal 5 UU No. 3 Tahun 1997 menentukan sebagai berikut.

55

(1)penangkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, dapat dilakukan untuk paling lama satu hari

(28)

(1) Dalam hal anak belum mencapai umur 8 (delapan) tahun melakukan atau

diduga melakukan tindak pidana, maka terhadap anak tersebut dapat

dilakukan pemeriksaan oleh penyidik.

(2) Apabila menurut hasil pemeriksaan, penyidik berpendapat bahwa anak

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) masih dapat dibina oleh orang tua,

wali, atau orng tua asuhnya penyidik menyerahkan kembali anak tersebut

kepada orang tua, wali atau orang tua asuhnya.

(3) Apabila menurut hasil pemeriksaan, penyidik berpendapat bahwa anak

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat dibina lagi oleh orang

tua, wali, atau orang tua asuhnya, penyidik menyerahkan anak tersebut

kepada Departemen Sosial setelah mendengar pertimbangan dari

Pembimbing Kemasyarakatan.56

b. Penahanan

Pada dasarnya semua orang yang menjadi tersangka dapat dilakukan

penahanan untuk kepentingan pemeriksaan, dengan maksud agar tersangka tidak

melarikan diri, menghilangkan barang bukti atau mengulangi lagi perbuatannya.

Dan penahanannya dapat dilakukan apabila perbuatan tersangka diancam pidana

penjara lima tahun ke atas.

Meskipun yang melakukan penahanan harus memperhatikan kepentingan

yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan anak baik fisik, mental

56

(29)

maupun sosial anak. Selain itu juga mempertimbangkan kepentingan

masyarakat misalnya dengan ditahannya tersangka anak akan membuat

masyarakat.57

Penahanan terhadap anak yang melakukan tindak pidana, juga berkenaan

dengan batas waktu penahanan, ketentuan KUHAP telah merumuskan batas

waktu penahanan yang sangat efektif untuk masa penahanan dalam pemeriksaan,

penyidik, yaitu 20 hari dan diperpanjang lagi 20 hari. Hal ini berarti penahanan Penahanan terhadap tersangka yang digolongkan oleh KUHAP dengan

Tahanan Rumah Negara, Tahanan Rumah (Keluarga), dan Tahanan Kota

mendapat dispensasi dari ketentuan-ketentuan yang dirumuskan oleh pasal 44

Undang-Undang No. 3/1997 tentang Pengadilan Anak, yaitu penahanan anak

yang melakukan tindak pidana harus diletakkan di tempat khusus di lingkungan

Rumah Tahanan Negara, atau Cabang Rutan dan diperbolehkan di tempat tertentu

yang disediakan untuk itu. Perbedaan status tahanan anak yang melakukan tindak

pidana dengan orang dewasa yang melakukan tindak pidana, dapat juga pada

skala waktu penahanan anak di rumah tahanan pada waktu pemeriksaan.

Penahanan terhadap seorang anak ditentukan dalam batas waktu 20 hari dengan

massa perpanjangan penahanan 10 hari; dalam jangka waktu 30 hari penyidik

sudah harus melimpahkan perkara anak tersebut ke Penuntut Umum. Berbagai

persoalan yang dihadapi hukum tentang masalah penahanan pada umumnya,

memberikan arti kepada petugas penegak hukum untuk merumuskan secara

transparan tentang masalah-masalah penahanan anak.

57

(30)

anak yang ditentukan oleh UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, hanya

mengemukakan agar demi kepentingan hak-hak asasi anak dan perkermbangan

pendidikan anak maka pemeriksaan perkara tindak pidana anak ditetapkan untuk

secepatnya dan diprioritaskan terlebih dahulu dari pemeriksaan lain dengan batas

waktu penahanan paling lama 30 hari 1 bulan. Ini berarti bahwa sidang

pemeriksaan kasus tindak pidana anak masuk menjadi klasifikasi perkara SUMIR.

Dalam batas penalaran KUHAP tidak dapat menolak status untuk lebih

diutamakan pemeriksaan anak, baik dari anak nakal, anak terlantar, dan lain-lain,

terutama yang selalu menimbulkan masalah, yaitu anak-anak yang terkategori

sebagai berikut:

(a) anak nakal;

(b) anak terlantar;

(c) anak yang menjelang usia dewasa (pancaroba);

(d) gerombolan anak-anak nakal.

Anak yang melakukan tindak pidana dan perbuatan yang dilarang oleh

hukum, harus ditafsirkan sebagai ketidakmampuan akal (pikiran), fisik (badan)

atau moral dan mentalitas yang ada pada diri anak yang ditentukan oleh nilai

kodrat. Penahanan penyidik harus lebih mengklasifikasikan kedudukan anak yang

terlibat tindak pidana. Bukan ditetapkan pada anak nakal yang tidak melakukan

tindak pidana. Untuk itu, diperlukan penafsiran untuk mengkelompokkan

(31)

Kenyataan dimaksud untuk menghindari kesalahan penagkapan dan atau

penahanan terhadap hak-hak anak.58

a. Penuntutan Umum Anak 2. Tahap Pemeriksaan Penuntutan

Tahapan setelah penyidikan yaitu tahapan penuntutan, yang dijalankan

oleh penuntut umum. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana memuat

wewenang penuntut umum untuk menerima dan memeriksa berkas perkara

penyidikan dari penyidik atau penyidik pembantu. Setelah menerima dan

memeriksa berkas perkara, penuntut berkewajiban mengadakan prapenuntutan

apabila ada kekurangan pada penyidikan oleh pihak penyidik, dengan memberi

petunjuk dan arahan apa saja yang mesti mendapat penyempurnaan berkas

penyidikan dari penyidik. Apabila diperlukan untuk proses penyidikan penuntut

dapat melakukan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan

lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh

penyidik.59

Pengertian tentang penuntutan dijelaskan dalam KUHAP pasal 1 butir 7

sebagai berikut: “Penuntutan adalah menuntut seorang terdakwa di muka hakim

pidana dengan jalan menyerahkan perkara seorang terdakwa dengan berkas

perkaranya kepada hakim, dengan permohonan, supaya hakim memeriksa dan

kemudian memutuskan perkara pidana itu terhadap terdakwa”.60

58

Maulana Hassan Wadong. Op.Cit. hlm. 67

59

Marlina. Op.Cit. hlm. 103

60

(32)

Penuntut umum deberi wewenang untuk menahan (penahanan lanjutan)

guna kepentingan penuntutan paling lama 10 hari (Pasal 46 ayat (2)

Undang-undang Pengadilan Anak). Dalam menahan tersangka di tingkat penuntutan,

penuntut umum anak wajib mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh bahwa

penahanan tersebut dilakukan kepentingan anak dan kepentingan masyarakat. Dan

pertimbangan tersebut harus dinyatakan secara tegas dalam surat perintah

penahanan (Pasal 45 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Pengadilan Anak)

Apabila dalam masa penahanan tersebut (10 hari) penuntut umum belum

dapat menyelesaikan tugasnya, maka atas permintaan penuntut umum penahanan

dapat doperpanjang oleh Ketua Pengadilan Negeri yang berwenang untuk paling

lama 15 hari. Dengan total waktu 25 hari penuntut umum harus dapat

melimpahkan berkas perkara anak kepada pengadilan negeri. Jika waktu tersebut

terlampaui dan berkas perkara juga belum dilimpahkan oleh penuntut umum

akibatnya tersangka harus dikeluarkan dari tahanan demi hukum.

Penuntutan dikaitkan dengan prapenuntutan terlihat adanya hubungan

yang erat antara Jaksa Penuntut Umum dengan pihak Penyidik dalam penanganan

kasus pidana. Jaksa Penuntut Umum berwenang mengembalikan berkas perkara

kepada penyidik dengan tujuan penyempurnaan penyidikan yang disebut dengan

prapenuntutan. Tugas penyidik selesai apabila berkas perkara dinyatakan sudah

lengkap (telah diterbitkan P-21), berakhirlah masa prapenuntutan beralih menjadi

penuntutan.

Berkas yang diterima dari penyidik telah sempurna selanjutnya penuntut

(33)

membuat suarat dakwaan yang harus dipedomani oleh penuntut umum adalah

Pasal 143 KUHAP terutama ayat (2) dan ayat (3)-nya. Bahwa surat dakwaan

harus memenuhi syarat formil dan syarat materil. Yang dimaksud dengan syarat

formil adalah:61

a. Diberi tanggal dan ditandatangani.

b. Memuat mengenai identitas terdakwa secara lengkap, seperti:

1) Nama lengkap;

2) Tempat lahir;

3) Umur atau tanggal lahir;

4) Jenis kelamin;

5) Kebangsaan;

6) Tempat tinggal

7) Agama dan pekerjaan terdakwa

Kemudian mengenai syarat materil surat dakwaan adalah sebagaimana

ditentukan dalam Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHP, bahwa dalam surat dakwaan

penuntut umum memuat:62

a. Cermat

b. Cermat berarti, bahwa surat dakwaan itu dipersiapkan sesuai dengan

Undang-Undang yang berlaku bagi terdakwa, tidak terdapat kekurangan atau

kekeliruan, misalnya:63

1) Apakah ada pengaduan dalam hal delik aduan?

2) Apakah penerapan hukum/ketentuan pidananya sudah tepat;

61

Pasal 143 ayat (2) huruf a KUHAP

62

Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP

63

(34)

3) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan? Perhatikan ketentuan

Pasal 44, 48, 49, 50 dan 51 KUHAP.

4) Apakah belum daluwarsa?

5) Apakah tidak nebis un idem ?

Dalam hal ini perlu juga diperhatikan, apakah terjadi pelanggaran

Hukum Acara Pidana (KUHAP) ketika memperoses pembuatan Berita

Acara Pemeriksaan atau tidak? Apakah tersangka/terdakwa ketika

disidik didampingi oleh penasehat hukum atau tidak? Ini terutama

sekali dalam hal-hal yang diwajibkan oleh Pasal 56 KUHAP.

c. Jelas

Jelas berarti, bahwa surat dakwaan harus mampu merumuskan semua

unsur-unsur delik yang didakwakan dan uraian perbuatan materil yang dilakukan oleh

terdakwa.

d. Lengkap

Lengkap berarti, bahwa surat dakwaan harus mencakup semua unsur-unsur

yang ditentukan KUHAP, seperti:

1) Locus delicti (tempat kejadian tindak pidana), dan

2) Tempus delicti (waktu terjadinya tindak pidana).

Apabila tidak memenuhi syarat tersebut maka surat dakwaan itu akan

batal demi hukum sesuai dengan Pasal 143 ayat (3) KUHAP yaitu “surat dakwaan

(35)

batal demi hukum”. Setelah itu surat dakwaan tersebut harus ditanda tangani oleh

penuntut umum.64

Penuntut umum anak yang diberi tugas untuk melakukan penuntutan

terhadap perkara anak nakal, selanjutnya melimpahkan berkas perkara ke

pengadilan negeri disertai dengan surat dakwaan. Pelimpahan berkas perkara

pidana dilakukan penuntut umum dengan Surat Pelimpahan Perkara dengan

permintaan agar pengadilan negeri segera mengadili perkara tersebut. Dalam

pelimpahan itu penuntut umum juga menyerahkan barang bukti ke pengadilan.

Setelah perkara dilimpahkan penuntut umum menunggu penetapan hakim tentang

hari sidang perkara tersebut yang segera akan dikirim oleh pengadilan.

Surat dakwaan yang sudah dilimpahkan ke pengadilan, dapat dirubah oleh

penuntut umum sebelum pengadilan menetapkan hari sidang. Perubahan itu

dimaksud untuk menyempurnakan surat dakwaan maupun untuk tidak

melanjutkan penuntutannya. Perubahan surat dakwaan yang diperbolehkan

KUHAP hanya satu saja.

65

Tindakan untuk memberikan perlindungan terhadap anak sebagai

terdakwa, dilakukan oleh jaksa berdasarkan pertimbangan yang ditetapkan oleh

hukum, yaitu surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 tahun 1959 tentang

bagaimana meperlakukan sistem peradilan pidana anak yang sebenarnya. Dalam

hal jaksa melakukan tugas penuntutan yang sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat

(7), Pasal 14, Pasal 110 ayat (3), Pasal 138 KUHAP sebagai pedoman pelakanaan

penuntutan dan prapenuntutan; juga harus memperhatikan ketentuan-ketentun

64

Pasal 143 ayat (3) KUHAP

65

(36)

penuntutan yang diatur dalam surat edaran Mahkamah Agung, No. 3 Tahun 1959;

khususnya yang mengatur tentang sikap jaksa dan cara jaksa dalam melakukan

tugas penuntutan terhadap seorang anak yang menjadi terdakwa. Dalam

tugas-tugas, Penuntut Umum diwajibkan untuk mengikuti anjuran yang ditentukan

sebagai berikut:66

1. J

aksa dalam melaksanakan tugas pemeriksaan, pembacaan dakwaaan dalam

persidangan tidak diperbolehkan menggunakan toga atau pakaian-pakaian

dinas masing-masing.

2. K

ejaksaan harus menunjuk seorang jaksa khusus sebagai Penuntut Umum untuk

perkara anak.

3. S

urat dakwaan harus dibuat sesederhana mungkin, agar tidak menyulitkan anak

untuk memahami dan mengikuti tujuan persidangan.

b. Penghentian Penuntutan

Dalam sidang anak, ada kemungkinan penyimpangan perkara. Terdapat

dua alasan penyimpangan perkara, yaitu: penyimpangan perkara berdasarkan asas

oportunitas karena alasan demi kepentingan umum; dan penyimpangan perkara

karena alasan demi kepentingan hukum. Terhadap proses penyimpangan perkara

yang ditutup demi hukum, tidak sama dengan perkara yang ditutup demi

kepentingan umum, karena :

66

(37)

1) “demi hukum” tidak sama pentingnya “demi kepentingan umum” sebab

hukum juga mengatur kepentingan individual selain kepentingan umu;

2) Perkara yang ditutup “demi hukum” tidak dideponir secara defenitif, tetapi

msih dapat dituntut bilamana ada alasan baru, sedangkan perkara yang ditutup

defenitive demi kepentingan umum, tidak boleh dituntut kembali walaupun

cukup alat buktinya.67

Terdapat tiga alasan tidak melakukan penuntutan, yaitu :

1. Demi kepentingan Negara

Katagori kepentinagan Negara, dapat terjadi apabila dari suatu perkara akan

memperoleh tekanan yang tidak seimbang, sehingga kecurigaan masyarakat

dalam keadaan tersebut menyebabkan kerugian besar Negara, maka terhadap

perkara tersebut tidak dilakukan penuntutan.

2. Demi kepentingan masyarakat

Kategori-kategori kepentingan masyarakat, dilakukan atas

pemikiran-pemikiran yang telah atau sedang berubah dalam masyarakat, umpamanya

pendapat-pendapat yang dapat berubah atau sedang berubah tentang pantas

atau tidaknya dihukum beberapa perbuatan delik susila. Seperti diketahui

bahwa landasan berlakunya hukum, adalah kenyataan-kenyataan yang hidup

dalam masyarakat. Hukum yang berlaku itu berorientasi pada

kenyataan-kenyataan sehari-hari masyarakat, semua kaidah hukum bersenyawa dengan

peristiwa hukum dengan peristiwa hukum dan selalu menyelaraskan tatanan

hidup dengan lingkungan sekitarnya.

67

(38)

3. Demi kepentingan pelaku/tersangka

Kategori kepentingan tersangka/pelaku tidak menghendaki penuntutan karena

menyangkut persoalan-persoalan yang merupakan perkara kecil, atau jika

melakukan tindak pidana telah membayar kerugian, dan dalam keadaan ini

masyarakat tidak mempunyaicukup kepentingan dengan penuntutan atau

penghukuman. Bagi pelaku sendiri, kepentingan-kepentingan pribadinya lebih

diutamakan dibandingkan dengan kemungkinan hasil proses pidana demi

kepentingan umum tidak akan bermanfaat. Keuntungan yang diperoleh dari

penuntutan adalah tidak seimbang dngan kerugian-kerugian yang timbul

terhadap terdakwa dan masyarakat.

c. Hak-hak Anak Dalam Proses Penuntutan

Hak-hak anak dalam proses penuntutan, meliputi sebagai berikut:

1. Menetapkan masa tahanan terhadap anak, Cuma pada sudut urgensi

pemeriksaan;

2. Membuat dakwaan yang dimengerti anak;

3. Secepatnya melimpahkan perkara ke pengadilan negeri;

4. Melaksanakan penetapan Hakim dengan jiwa dan semangat pembinaan atau

mengadakan rehabilitasi.

Hak-hak anak pada saat pemeriksaan di kejaksaan sebagai berikut:

1. Hak untuk mendapat keringanan dari masa/waktu penahanan kejakaan;

2. Hak untuk mengganti status penahanan dari penahanan RUTAN (Rumah

(39)

3. Hak untuk mendapat perlindungan dari ancaman, penganiayaan, pemerasan

dari pihak yang beracara;

4. Hak untuk mendapat fasilitas dalam rangka waktu pemeriksaan dan

penuntutan;

5. Hak untuk didampingi oleh penasehat hukum.

d. Pelimpahan Perkara ke Pengadilan

Apabila Penuntut Umum sudah selesai mempelajari berkas perkara hasil

penyidikan, dan Penuntut Umum berpendapat bahwa tindak pidana yang

disangkakan dapat dituntut, maka Penuntut Umum dalam waktu secepatnya

membuat surat dakwaan, yang merupakan dasar adanya suatu perkara pidana

dan dasar Hakim melakukan pemeriksaan. Setelah surat dakwaan dibuat,

berkas perkara dilimpahkan ke Pengadilan dengan membuat surat pelimpahan

perkara. Dalam surat pelimpahan perkara, dilampirkan surat dakwaan, berkas

perkara dan surat permintaan agar Pengadilan Negeri yang bersangkutan segera

mengadilinya. Fotokopi surat pelimpahan perkara tersebut, disampaikan

kepada tersangka atau kuasanya dan kepada Penyidik.

3. Tahap Pemeriksaan Persidangan

Pada dasarnya, Hakim yang memeriksa, memutus dan menyelesaikan

perkara anak nakal di peradilan tingkat pertama/pengadilan negeri disebut Hakim

Anak.68

68

Pasal 1 butir 7 Undang-Undang No. 3 Tahun 1997

Hakim Anak ini ditetapkan dengan Surat Keputusan Ketua Mahkamah

(40)

Pengadilan Tinggi.69 Hakim memeriksa dan memutus perkara anak dalam tingkat

pertama sebagai hakim tunggal. Adapun syarat-syarat untuk dapat diangkat

sebagai Hakim Anak adalah :70

a. Telah berpengalaman sebagai Hakim di Pengadilan dalam lingkup

Peradilan Umum; dan

b. Mempunyai minat, perhatian, dedikasi, dan memahami masalah anak.

Adapun acara peradilan anak nakal, adalah sebagai berikut :

a. Laporan pembimbing kemasyarakatan.71

b. Pembukaan Sidang Anak.

Hakim membuka sidang dan menyatakan sidang tertutup untuk umum.

Terdakwa lalu dipanggil masuk ke ruangan sidang bersama orang tua,

wali, orang tua asuh, penasihat hukum, dan pembimbing kemasyarakatan.

Selama dalam persidangan terdakwa didampingi oleh : orang tua, wali,

orang tua asuh, penasehat hukum dan pembimbing kemasyarakatan.

Menurut kebiasaan hakimlalu memeriksa identitas terdakwa, dan setelah

itu hakim mempersilahkan jaksa penuntut umum membackan surat

dakwaannya. Sesudahnya kalau ada kepada terdakwa atau penasihat

hukumnya diberi kesempatan mengajukan tangkisan atau eksepsi atas

dakwaan jaksa penuntut umum.72

69

Pasal 9 Undang-Undang No. 3 Tahun 1997

70

Pasal 10 Undang-Undang No. 3 Tahun 1997

71

Sebelum sidang dibuka, Hakim memerintahkan agar Pembimbing Kemasyarakatan menyampaikan laporan hasil penelitian Kemasyarakatan mengenai anak yang bersangkutan. Laporan sebagaimana dimaksud adalah berisi:

a. Data individu anak, keluarga, pendidikan dan kehidupan sosial anak, dan

b. Kesimpulan atau pendapat dari Pembimbing Kemasyarakatan. Pasal 56 Undang-Undang No. 3 Tahun 1997

72

(41)

c. Pemeriksaan Saksi

Pada waktu pemeriksaan saksi, hakim dapat memerinthkan agar terdakwa

anak dibawa ke luar sidang. Sementara orang tua, wali, orang tua asyh,

penasehat hukum dan pembimbing kemasyarakatan tetap hadir di ruang

sidang. Maksud dari tindakan ini, adalah agar terdakwa anak tidak

terpengaruh kejiwaanya apabila mendengar keterangan saksi yang

mungkin sifatnya memberatkan. Selesai pemeriksaan saksi-saksi menurut

kebiasaan dalam KUHAP acara dilanjutkan dengan mendengar keterangan

terdakwa anak itu sendiri.73

d. Mengemukakan hal-hal yang bermanfaat bagi anak.

Sebelum mengucapkan putusannya, hakim memberi kesempatan kepada:

1) Orang tua;

2) Wali; atau

3) Orang tua asuh

Untuk mengemukakan segala hal yang bermanfaat bagi anak. Selesai acara

ini jaksa penuntut umum menyampaikan tuntutan hukum atas diri

terdakwa anak. Selanjutnya penasehat hukum terdakwa anak

menyampaikan pula pledoi (pembelaan) atas terdakwa anak tersebut.74

e. Putusan

Memberi putusannya hakim wajib mempertimbangkan laporan penelitian

kemasyarakatan dari pembimbing kemasyarakatan, dan putusan harus

diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. Putusan yang tidak

73

Pasal 58 Undang-Undang No. 3 Tahun 1997

74

(42)

diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum, adalah batal demi

hukum. Putusan hakim dalam Sidang Pengadilan Anak dapat berupa

menjatuhkan pidana atau tindakan kepada terdakwa anak nakal. Pidana itu

berupa75

1) Pidana Penjara; :

2) Pidana Kurungan;

3) Pidana Denda; atau

4) Pidana Pengawasan.

Di samping pidana pokok, juga dapat dihukum dengan pidana tambahan

berupa:

1) Perampasan barang tertentu; dan/atau

2) Pembayaran ganti kerugian.

Sedangkan tindakan yang dijatuhkan kepada anak nakal, dapat berupa76

a.Mengembalikan anak kepada:

:

1) Orang tua;

2) Wali; atau

3) Orang tua asuh.

b. Menyerahkan anak kepada negara (anak negara untuk mengikuti

pendidikan, pembinaan dan latihan kerja;) atau

c. Menyerahkan anak nakal kepada Departemen Sosial, atau organisasi sosial

kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, pembinaan, dan

latihan kerja.

75

Pasal 23 Undang-Undang No. 3 Tahun 1997

76

(43)

Tindakan dalam hal ini disertai dengan teguran dan syarat tambahan yang

ditetapkan oleh hakim. Teguran dapat dilakukan secara langsung oleh hakim

atau tidak langsung oleh orang tua/wali/orang tua asuh (OTA). Teguran itu

berupa peringatan kepada anak untuk tidak melakukan tindak pidana lagi.77

Hakim yang menangani perkara pidana anak sedapat mungkin mengambil

tindakan yang tidak memisahkan anak dari orangtuanya, atas pertimbangan

bahwa rumah yang jelek lebih baik dari Lembaga Pemasyarakatan Anak

yang baik (a bad is better than a good institution/prison). Hakim yang

siyogianya benar-benar teliti dan mengetahui segala latar belakang anak

sebelum sidang dilakukan. Dalam mengambil putusan, hakim harus

benar-benar memperhatikan kedewasaan emosional, mental, dan intelektual anak.

Dihindarkan putusan hakim yang yang mengakibatkan penderitaan batin

seumur hidup atau dendam pad anak, atas kesadaran bahwa putusan hakim

bermotif perlindungan.

f. Dasar Pertimbangan Keputusan Hakim

78

a. Keadaan psikologis anak pada saat melakukan tindak pidana anak

Bila tidak ada pilihan lain kecuali menjatuhkan pidana terhadap anak, patut

diperhatikan pidana yang tepat. Untuk memperhatikan hal tersebut, patut

dikemukakan sifat kejahatan yang dilakukan; perkembangan jiwa anak;

tempat menjalankan hukuman. Berdasarkan penelitian normatif, diketahui

bahwa yang menjadi dasar pertimbangan bagi Hakim dalam menjatuhkan

putusan, antar lain :

77

Darwan Prints, Op. Cit., hlm. 56

78

(44)

Hakim harus mengetahui latar belakang dan faktor-faktor penyebab anak

melakukan tindak pidana. Misalnya, anak melakukan tindak pidana

tersebut karena ingin membela diri, anak dalam keadaan emosi, karena

faktor lingkungan atau pergaulan dan faktor-faktor yang demikian

menjadi pertimbangan bagi hakim untuk menjatuhkan hukuman pidana

anak.

b. Keadaan psikologis anak setelah pidana

Hakim harus memikirkan dampak atau akibat yang ditimbulkan terhadap

anak setelah dipidana. Pemidanaan anak bukan hanya bertujuan untuk

memidana, melainkan untuk menyadarkan anak, agar tidak melakukan

tindak pidana yang sama atau tindak pidana yang lainnya setelah

menjalani pidana. Perkembangan jiwa anak setelah menjalani pidana,

menjadi perhatian Hakim dalam menjatuhkan pidana, bila tidak demikian

halnya maka dikhawatirkan perkembangan jiwa anak bukan menjadi

semakin baik namun sebaliknya, anak akan menjadi lebih buruk.

c. Keadaan psikologis Hakim dalam menjatuhkan pidana

Hakim harus mempertimbangkan berat ringannya kenakalan yang

dilakukan anak. Jika kenakalan dilakukan anak menurut pertimbangan

Hakim sudah keterlaluan atau dapat membahayakan masyarakat, maka

dapat menjatuhkan pidana. Atas pertimbangan kepentingan anak, hakim

dapat memutuskan agar anak diserahkan ke Departemen Sosial atau

Organisasi Sosial Kemasyarakatan untuk dididik dan dilatih serta dibina.

(45)

tidak membahayakan, maka Hakim dapat mengembalikannya kepada

orangtua, wali atau orangtua asuhnya untuk lebih dipertahankan atau

diawasi dan dibina kembali.79

1) Perbuatan terlalu berlebihan dan bahkan menyamai kejahatan yang

dilakukan orang dewasa;

Secara singkat dapat dikatakan bahwa dasar pertimbangan Hakim

menjatuhkan pidana terhadap anak, adalah latar belakang kehidupan anak

yang meliputi keadaan anak baik fisik, psikis, sosial maupun ekonominya,

keadaan rumah tangga orangtua atau walinya, keterangan mengenai anak

sekolah atau tidak, hubungan atau pergaulan anak dengan lingkungannya,

yang dapat diperoleh Hakim dari Petugas Pemasyarakatan. Pertimbangan

dijatuhkannya pidana, adalah dengan harapan selama berada di Lembaga

Pemasyarakatan Anak, anak yang bersangkutan mendapat bimbingan dan

pendidikan dari Pembimbing Kemasyarakatan. Dalam menjatuhkan pidana

terhadap anak nakal, hakim memperhatikan hal-hal yang dapat

memberatkan dan hal-hal yang dapat meringankan.

Hal-hal yang memberatkan seperti :

2) Anak pernah dihukum;

3) Usianya sudah mendekati dewasa;

4) Anak cukup berbahaya.

Hal-hal yang meringankan yaitu :

1) Si terdakwa mengakui terus terang perbuatanya;

79

(46)

2) Terdakwa menyesali perbuatanya;

3) Terdakwa belum pernah dihukum;

4) Terdakwa masih muda dan masih banyak baginya kesempatan untuk

memperbaiki kesalahannya;

5) Bila tindakannya dilatarbelakangi pengaruh yang kuat dari keadaan

lingkungannya, keluarga berantakan, anak dilatarbelakangi atau

kurang diperhatikan orangtuanya.80

C. Kelemahan Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 Dikaitkan dengan Perlindungan Terhadap Anak.

Anak sebagai bagian dari generasi muda merupakan penerus cita-cita

perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Dalam

rangka mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan mampu

memimpin serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa dalam wadah Negara

Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang

Dasar 1945, diperlukan pembinaan secara terus menerus demi kelangsungan

hidup, pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial serta

perlindungan dari segala kemungkinan yang akan membahayakan mereka dan

bangsa di masa depan.

Seorang delikuen sangat membutuhkan adanya perlindungan hukum.

Masalah perlindungan hukum bagi anak merupakan salah satu cara melindungi

tunas bangsa di masa depan. Perlindungan hukum terhadap anak yang

80

(47)

menyangkut semua aturan hukum yang berlaku. Perlindungan ini perlu karena

anak merupakan bagian masyarakat yang mempunyai keterbatasan secara fisik

dan mentalnya. Oleh karena itu, anak memerlukan perlindungan dan perawatan

secara khusus.81

Berbagai hal upaya pembinaan perlindungan tersebut, dihadapkan pada

permasalahan dan tantangan dalam masyarakat kadang-kadang dijumpai

penyimpangan perilaku di kalangan anak,bahkan lebih dari itu terdapat anak yang

melakukan perbuatan melanggar hukum, tanpa mengenal status sosial dan

ekonomi. Karena keadaan diri yang tidak memadai tersebut, maka baik sengaja

maupun tidak sengaja sering juga anak melakukan tindakan atau perilaku yang

dapat merugikan dirinya dan atau masyarakat. Penyimpangan tingkah laku atau

perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh anak, disebabkan oleh berbagai

faktor, antara lain adanya dampak negatif dari perkembangan pembangunan yang

cepat, arus globalisasi di bidang komunikasi dan informasi, kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi serta perubahan gaya dan cara hidup sebagian orang

tua telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat

yang berpengaruh terhadap nilai dan prilaku anak. Oleh karena itu, dalam

menghadapi masalah Anak Nakal, orang tua dan masyarakat sekelilingnya

seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap pembinaan, pendidikan, dan

pengembangan prilaku anak tersebut. Hubungan antara orang tua dengan anaknya

merupakan suatu hubungan yang hakiki, baik hubungan psikologis maupun

mental spiritualnya. Mengingat ciri dan sifat anak yang khas tersebut, maka dalam

81

(48)

menjatuhkan pidana atau tindakan terhadap Anak Nakal diusahakan agar anak

dimaksud jangan dipisahkan dari orang tuanya. Apabila karena hubungan antara

orang tua dan anak kurang baik, atau karena sifat perbuatannya sangat merugikan

masyarakat sehingga perlu memisahkan anak dari orang tuanya hendaklah tetap

dipertimbangkan bahwa pemisahan tersebut semata-mata demi pertumbuhan dan

perkembangan anak secara sehat dan wajar.

Demi pertumbuhan dan mental perkembangan anak, perlu ditentukan

pembedaan perlakuan didalam hukum acara dan ancaman pidananya. Dalam hal

ini atauran pengecualian dari ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 8

Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, yang lama pelaksanaan penahanannya

ditentukan sesuai dengan kepentingan anak dan pembedaan ancaman pidana bagi

anak yang ditentukan oleh Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang penjatuhan

Pidananya ditentukan 1/2 (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana yang

dilakukan oleh orang dewasa, sedangkan penjatuhan pidana mati dan pidana

penjara seumur hidup tidak diberlakukan terhadap anak.

Perlindungan anak adalah suatu usaha yang mengadakan situasi dan

kondisi yang memungkinkan pelaksanaan hak dan kewajiban anak secara

manusiawi positif. Ini berarti dilindunginya anak untuk memperoleh dan

mempertahankannya haknya untuk hidup, mempunyai kelangsungan hidup,

bertumbuh kembang dan perlindungan dalam pelaksanaan hak dan kewajiban

sendiri atau bersama aparat pelindungnya.82

82

Referensi

Dokumen terkait

Polisi, jaksa dan hakim dalam pelaksanaan penanganan perkara tindak pidana kesusilaan khususnya tindak pidana pencabulan dan tindak pidana persetubuhan dengan pelaku dan

”Dalam rangka membantu kelancaran penyelesaian kasus pelanggaran/ tindak pidana yang terjadi di laut atau wilayah perairan yurisdiksi Negara RI yang tertangkap tangan oleh

(3) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, belum mencapai umur 12 dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang diancam pidana

menangkap tersangka. Bagi kelompok ini oleh hukum dibebankan kepada mereka kewajiban untuk menangkap pelaku tindak pidana dalam keadaan tertangkap tangan. Atau

ditentukan dalam Pasal 1 ayat (1) UU Pengadilan Anak yang menyatakan “Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 tahun tetapi belum mencapai umur 18

Tertangkap tangan adalah tertangkapnya seseorsang pada waktu sedang melakukan tindak pidana atau dengan segera sesudah beberapa saat tindak pidana itu dilakukan atau sesaat

Dalam menentukan pidana atau tindakan yang dapat dijatuhkan kepada anak, hakim memperhatikan berat ringannya tindak pidana atau kenakalan yang dilakukan oleh anak

Setiap orang yang merencanakan atau melakukan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku sebagaimana