MAKALAH
EVOLUSI KULTURAL MANUSIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Geografi Budaya di Universitas Negeri Yogyakarta
Dosen Pengampu :
Drs. Nurhadi, M.Si
Penulis
Disusun oleh :
Aisyah Nurul Lathifah 15405241014 Hadana Ulufanuri 15405241021 Eva Susilo Wati 15405241028 Muhammad Luthfiansyah 15405244019
JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis limpahkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul Evolusi Kulturall Manusia dengan baik.
Untuk menyelesaikan makalah ini penulis mendapatkan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada :
1. Bapak Drs. Nurhadi, M.Si selaku dosen pengampu.
2. Teman-teman Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan baik dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan wawasan penulis. Oleh sebab itu penulis berharap kepada berbagai pihak untuk memberikan saran dan kritik yang membangun demi perbaikan makalah ini kedepannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.
Terimakasih.
Yogyakarta, 22 Maret 2017
Penulis
HALAMAN COVER... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang... 4
B. Rumusan Masalah... 5
C. Tujuan... 5
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Evolusi Kultural Manusia... 6
B. Perkembangan Kebudayaan Masyarakat Pra Sejarah Indonesia... 9
C. Nilai-Nilai Peninggalan Budaya Masa Pra Sejarah di Indonesia... 16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan... 19
B. Saran... 19
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata budaya berasal dari Bahasa Sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Kata kebudayaan dalam Bahasa Inggris diterjemahkan dengan istilah culture dan dalam Bahasa Belanda disebut cultuur. Kedua bahasa ini berasal dari Bahasa Latin colere berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan tanah(bertani). Dengan demikian cultuur berarti sebagai segala hal daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya rasa dan cipta masyarakat.
Kebudayaan manusia muncul dan berkembang bersamaan dengan mulainya beberapa populasi hominida purba membuat peralatan dari batu untuk keperluan membunuh binatang guna mengambil dagingnya.
melindungi kebutuhan para warga masyarakat yang paling cocok dengan kebutuhan kebutuhan warga masyarakat.
Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih dalam tentang pengertian evolusi kultural manusia, perkembangan kebudayaan masyarakat pra sejarah Indonesia, serta nilai-nilai peninggalan budaya masa pra sejarah, maka penulis membuat sebuah makalah dengan judul Evolusi Kultural Manusia.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud evolusi kultural umat manusia ?
2. Bagaimana perkembangan kebudayaan masyarakat prasejarah di Indonesia ?
3. Bagaimana nilai-nilai peninggalan budaya masa pra sejarah Indonesia ?
C. Tujuan
1. Mengetahui maksud atau pengertian dari evolusi kultural manusia.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Evolusi Kultural Manusia
fittest (daya tahan dari jenis atau individu yang memiliki ciri-ciri paling cocok dengan lingkungannya), sebagaimana tertuang dalam karyanya Principles of Sociology (1896).
Evolusi manusia adalah tema sentral yang menyatukan antropologi, dan mereka mencoba memakai pendekatan ‘empat bidang’ (antropologi budaya, antropologi fisik, arkeologi, dan linguistik) yang saling dihubungkan. Namun jika menggunakan pendekatan 4 budang tersebut Arkeologi makin jauh dari teori kebudayaan dan sosial, pengaruh-pengaruh sosio-biologi mendorong sejumlah antropologi fisik untuk mengangkat kembali aneka penjelasan biologis mengenai perilaku budaya. Akan tetapi secara umum antropologi kebudayaan di Amerika Utara dan antropologi sosial serta etnologi di Eropa, bisa dipandang sebagai bagian terpisah dari disiplin-disiplin antropologi lainnya. Antropologi kebudayaan lebih dipengaruhi oleh perkembangan studi-studi bahasa daripada biologi, dan antropologi sosial lebih dipengaruhi oleh teori sosial dan historiografi (Kuper, 2000: 30 dalam Anonim).
1. Kultural atau kebudayaan
tahun-tahun terakhir adalah dipersempitnya ”kebudayaan” sehingga konsep ini mencakup lebih sedikit tetapi menggambarkan lebih banyak” (1984: 73). Selanjutnya Keesing mengidentifikasi empat pendekatan terakhir terhadap masalah kebudayaan. Pendekatan pertama, yang memandang kebudayaan sebagai sistem adaptif dari keyakinan perilaku yang fungsi primernya adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan sosialnya. Pendekatan ini dikaitkan dengan ekologi budaya dan materialisme kebudayaan, serta bisa ditemukan dalam kajian atropolog Julian Steward (1955), Leslie White (1949; 1959), dan Marvin Harris (1968; 1979). Pendekatan kedua, yang memandang bahwa kebudayaan sebagai sistem kognitif yang tersusun dari apapun yang diketahui dalam berpikir menurut cara tertentu, yang dapat diterima bagi warga kekebudayaannya. Pendekatan tersebut memiliki banyak nama dan diasosiasikan dengan; etnosains, antropologi kognitif, atau etnografi baru. Para tokoh kelompok ini adalah Harold Conklin (1955), Ward Goodenough (1956; 1964), dan Charles O.Frake (1964, 1963; 1969). Pendekatan ketiga, yang memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol yang dimiliki bersama yang memiliki analogi dengan struktur pemikiran manusia. Tokoh-tokoh antropolognya adalah kelompok strukturalisme yang dikonsepsikan oleh Claude Levi-Strauss (1963; 1969). Sedangkan pendekatan keempat, adalah yang memandang kebudayaan sebagai sistem simbol yang terdiri atas simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diidentifikasi, dan bersifat publik. Pendekatan tersebut tokoh antropolognya adalah Cifford Geertz (1973; 1983) dan David Schneider (1968).
2. Evolusi kebudayaan menurut Lewis H. Morgan (1818-1881)
a. Zaman Liar Tua; merupakan zaman sejak adanya manusia sampai menemukan api, kemudian manusia menemukan kepandaian meramu, mencari akar-akar tumbuhtumbuhan liar.
b. Zaman Liar Madya; merupakan zaman di mana manusia menemukan senjata busur-panah; pada zaman ini pula manusia mulai mengubah mata pencahariannya dari meramu menjadi pencari ikan di sungai-sungai sebagai pemburu.
c. Zaman Liar Muda; pada zaman ini manusia dari persenjataan busur-panah sampai mendapatkan barang-barang tembikar, namun masih berburu kehidupannya.
d. Zaman Barbar Tua; pada zaman ini sejak pandai membuat tembikar sampai mulai beternak maupun bercocok tanam.
e. Zaman Barbar Madya; yaitu zaman sejak manusia beternak dan bercocok tanam sampai kepandaian membuat benda-benda/alat-alat dari logam.
f. Zaman barbar Muda; yaitu zaman sejak manusia memiliki kepandaian membuat alat-alat dari logam sampai mengenal tulisan. g. Zaman Peradaban Purba, menghasilkan beberapa peradaban klasik
zaman batu dan logam.
h. Zaman Peradaban masa kini; sejak zaman peradaban tua/klasik sampai sekarang...
B. Perkembangan Kebudayaan Masyarakat Pra Sejarah Indonesia 1. Kebudayaan Zaman Batu
Zaman batu berdasarkan hasil temuan alat – alatnya dan dari cara pengerjaannya, maka zaman batu tersebut terbagi menjadi tiga yaitu:
a. Zaman Palaeolithikum (Batu Tua)
Sudrajad (2012) menyatakan bahwa zaman palaeolithikum atau zaman batu tua merupakan zaman dimana peralatan manusia prasejarah dibuat dari batu yang cara pengerjaannya masih sangat kasar. Zaman ini berlangsung pada zaman pleistosen yang berlangsung kira-kira 600.000 tahun lamanya.
Zaman palaeolithikum (batu tua) disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana.
Yusliani dan Mansyur (2015) menyatakan bahwa hasil kebudayaan Palaeolithikum banyak ditemukan di daerah Pacitan (Jawa Timur) dan Ngandong (Jawa Timur). Untuk itu para Arkeolog sepakat untuk membedakan temuan benda-benda pra-sejarah di kedua tempat tersebut yaitu sebagai kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.
Gambar 1. Alat Pacitan Dari Berbagai Sisi
Gambar tersebut merupakan peninggalan zaman Palaeolithikum yang ditemukan pertama kali oleh Von Koenigswald tahun 1935 di Pacitan dan diberi nama dengan kapak genggam, karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengan cara menggenggam.
Kapak genggam terkenal juga dengan sebutan kapak perimbas, atau dalam ilmu pra-sejarah disebut dengan chopper artinya alat penetak. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanya sebagai tempat menggenggam. Pada awal penemuannya semua kapak genggam ditemukan di permukaan bumi, sehingga tidak dapat diketahui secara pasti berasal dari lapisan mana.
Daerah penemuan kapak perimbas/kapak genggam selain di Punung (Pacitan) Jawa Timur juga ditemukan di daerah-daerah lain yaitu seperti Jampang Kulon, Parigi (Jawa Timur), Tambang Sawah, Lahat, dan Kalianda (Sumatera), Awangbangkal (Kalimantan), Cabenge (Sulawesi), Sembiran dan Terunyan (Bali).
b. Kebudayaan Mesolithikum
Zaman mesolithikum atau zaman batu tengah merupakan zaman peralihan dari zaman palaeolithikum menuju ke zaman neolithikum. Pada zaman ini kehidupan manusia praaksara belum banyak mengalami perubahan. Alat-alat yang dihasilkan masih terlihat kasar meskipun telah ada upaya untuk memperhalus dan mengasahnya agar kelihatan lebih indah. Dari berbagai alat yang ditemukan, dapat dianalisis bahwa kebudayaan zaman mesolithikum dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: pebble culture, bone culture dan flake culture (Sudrajad, 2012).
Pebble culture terutama ditemukan dari suatu corak peninggalan istimewa yaitu kjokkenmoddinger. Kjokkenmoddinger adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah jadi Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah sampah dapur. Dalam kenyataan Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian 7 meter dan sudah membatu/menjadi fosil. Kjokkenmoddinger ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera yakni antara Langsa dan Medan. Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap (Callenfels dalam Yusliani dkk, 2015).
sehingga menimbulkan bukit kerang. Di dalam bukit kerang tersebut ditemukan pebble atau sejenis kapak genggam khas Sumatera.
Gambar 1 Pebble/ Kapak Sumatera
Bentuk pebble seperti gambar dapat dikatakan sudah agak sempurna dan buatannya agak halus. Bahan untuk membuat kapak tersebut berasal dari batu kali yang dipecah-pecah. Selain pebble yang ditemukan dalam Kjokkenmoddinger juga ditemukan sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan Hache Courte atau kapak pendek. Kapak ini cara penggunaannya dengan menggenggam (Suhartono, Didik: 2000).
Lingkungan kedua dari kebudayaan zaman mesolithikum adalah Abris Sous Roche yaitu gua yang dipakai sebagai tempat tinggal. Gua ini sebenarnya hanyalah sebuah ceruk di dalam batu karang yang cukup untuk memberikan perlindungan dari panas dan hujan. Di dasar gua tersebut ditemukan banyak peninggalan terutama yang terbanyak dari zaman mesolithikum (Soekmono, 1973: 41). Alat-alat yang ditemukan antara lain: mata panah, flake, batu penggilingan, dan lain – lain (Anwasari: 1995).
Manusia praaksara juga mulai mengenal kesenian. Di dalam sebuah gua di Maros (Sulawesi Selatan) ditemukan tapak tangan berwarna merah dan gambar babi hutan yang oleh para ahli diyakini sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat prasejarah. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan mesolithikum dapat dikategorikan dalam dua unit budaya yaitu kebudayaan bercocok tanam. Di samping bercocok tanam manusia praaksara juga mulai beternak sapi dan kuda yang diambil dagingnya untuk dikonsumsi.
Manusia praaksara juga telah hidup dengan menetap (sedenter). Mereka membangun rumah-rumah dalam kelompok-kelompok yang mendiami suatu wilayah tertentu. Peralatan yang digunakan juga telah diasah dengan halus sehingga kelihatannya lebih indah. Kebudayaan mereka juga telah mengalami kemajuan yang ditunjukkan dengan kemampuan mereka menghasilkan gerabah dan tenunan. Pola hidup menetap yang mereka jalani menghasilkan kebudayaan yang lebih maju, karena mereka mempunyai waktu luang untuk memikirkan kehidupannya.
2. Kebudayaan Zaman Logam
perunggu dan besi untuk membuat alat – alat yang diperlukan. Dengan adanya migrasi bangsa Deutro Melayu atau Melayu muda ke Indonesia mengenal logam perunggu dan besi secara bersamaan, maka kebudayaan logam yang dikenal di Indonesia. Dongson, nama kota kuno di Tonkin yang menjadi pusat kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Karena itu kebudayaan perunggu di Indonesia disebut dengan kebudayaan Dongson (Nurhadi dan Sudarsono, 2017).
3. Kebudayaan Megalithikum
Sudrajad (2012) menyatakan bahwa zaman megalithikum atau zaman batu besar adalah suatu kebudayaan yang berkaitan dengan kehidupan religius manusia praaksara. Zaman megalithikum sejalan dengan zaman neolithikum karenanya lebih tepat bila disebut dengan kebudayaan megalithikum. Zaman megalithikum terbagi dalam dua fase pencapaian. Fase pertama terkait dengan alat-alat upacara, sedangkan fase kedua terkait dengan upacara penguburan. Kebudayaan megalithikum menghasilkan alat-alat antara lain:
a. Menhir yaitu tugu batu yang dibuat dengan tujuan untuk
menghormati roh nenek moyang.
b. Dolmen yaitu meja batu dimana kakinya berupa tugu batu (menhir).
c. Kubur batu yaitu bangunan yang disusun dari lempengan batu besar yang membentuk kotak persegi panjang dan berfungsi sebagai peti jenazah.
d. Sarkofagus yaitu batu besar yang dibuat menyerupai mangkuk atau
bulat dua tangkup yang berbentuk seperti peti jenazah. Sarkofagus sering disimpan diatas tanah olehkarena itu sarkofagus seringkali diukir, dihias dan dibuat dengan teliti. Beberapa dibuat untuk dapat berdiri sendiri, sebagai bagian dari sebuah makam atau beberapa makam sementara beberapa yang lain dimaksudkan untuk disimpan di ruang bawah tanah. Banyak ditemukan di Bali.
e. Waruga adalah peti kubur yang berbentuk kubus atau bulat. Waruga
seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.
f. Punden berundak yaitu sebuah bangunan yang digunakan untuk
sesaji yang merupakan bentuk dasar dari bangunan candi. Punden berundak bukan merupakan “bangunan” tetapi merupakan pengubahan bentang – lahan atau undak – undakan yang memotong lereng bukit, seperti tangga raksasa. Bahan utamanya tanah bahan pembantunya batu; menghadap ke anak tangga tegak, lorong melapisi jalan setapak, tangga, dan monolit tegak.
C. Nilai-Nilai Peninggalan Budaya Masa Pra Sejarah di Indonesia
dalam segala perbuatan karena nilai itu mengandung kekuatan yang mendorong manusia meyakini untuk berbuat dan bertindak.
Sedangkan yang dimaksud dengan nilai penggalan budaya adalah penggalan budaya yang diyakini baik, benar dan berguna bagi masyarakat. Untuk itu bila masyarakat atau bangsa Indonesia masa kini meyakini kebenaran nilai-nilai peninggalan budaya masa prasejarah, maka akan dapat menumbuhkan kesadaran untuk ikut berperan serta dalam upaya pemeliharaan warisan budaya bangsa.
Dari penjelasan di atas, tentu Anda ingin tahu lebih jauh tentang nilai apa yang dapat diwariskan dari peninggalan budaya masa prasejarah ini. Untuk itu simaklah uaraian materi tentang nilai-nilai peninggalan budaya masa prasejarah ini yang terdiri dari:
a. Nilai Religius/Keagamaan
Nilai ini mencerminkan adanya kepercayaan terhadap sesuatu yang berkuasa atas mereka, dalam hal ini mereka berusaha membatasi perilakunya. Dari uraian tersebut, sikap yang perlu diwariskan adalah sikap penghormatan kepada yang lain, mengatur perilaku agar tidak semaunya dan penghormatan serta pemujaan sebagai dasar keagamaan. b. Nilai Gotong Royong
Masyarakat prasejarah hidup secara berkelompok, bekerja untuk kepentingan kelompok bersama, membangun rumah juga dilakukan secara bersama-sama. Hal ini dapat dibuktikan dari adanya bangunan-bangunan megalith yang dapat dipastikan secara gotong royong/bersama-sama. Dengan demikian patutlah ditiru bahwa hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama hendaklah dilakukan secara bersama-sama (gotong royong) dengan prinsip berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Evolusi manusia adalah tema sentral yang menyatukan antropologi, dan mereka mencoba memakai pendekatan ‘empat bidang’ (antropologi budaya, antropologi fisik, arkeologi, dan linguistik) yang saling dihubungkan. Kebudayaan material masyarakat pra sejarah di Indonesia antara lain kebudayaan zaman batu yang terdiri dari zaman palaeolithikum (batu tua), kebudayaan mesolithikum, kebudayaan neolithikum. Selanjutnya adalah
kebudayaan zaman logam dan kebudayaan megalithikum, dimana kebudayaan megalithikum menghasilkan menhir, dolmen, kubur batu, sarkofagus, waruga, dan
punden. Nilai adalah sesuatu yang dipandang baik, benar atau berharga bagi seseorang. Sedangkan nilai penggalan budaya adalah penggalan budaya yang diyakini baik, benar dan berguna bagi masyarakat. Nilai-nilai peninggalan budaya masa prasejarah ini yang terdiri dari: nilai religius/keagamaan, nilai gotong royong, nilai musyawarah, nilai keadilan.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Antropologi. Diakses pada hari Minggu, 19 Maret 2017 di www.baehaqiarif.files.wordpress.com
Anwarsari. 1995. Sejarah Nasional Indonesia I. Malang: IKIP Malang.
Didik Suhartono. 2000. “Kajian Site Catchment Analysis Pada Penghunian Gua di Kawasan Tuban”, Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Soekmono. 1978. Sejarah Kebudayaan Indonesia I. Jakarta: Yayasan Kanisius. Sudrajad. 2012. Prasejarah Indonesia. Yogyakarta: UNY.