• Tidak ada hasil yang ditemukan

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Kalimantan Barat pada bulan Maret 2012 sekitar 363.310 orang (8,17 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2011 yang berjumlah 376.120 orang (8,60 persen), berarti berkurang sekitar 380.110 orang atau mengalami penurunan 0,43 persen.

Selama periode Maret 2011 – Maret 2012 terjadi penurunan angka kemiskinan untuk daerah perkotaan sebesar 0,35 persen dan 0,48 persen untuk daerah perdesaan. Dari sisi jumlah penduduk miskin, di daerah perdesaan masih lebih banyak sebesar 282.920 orang dibanding di daerah perkotaan sebanyak 80.390 orang.

Garis kemiskinan pada Maret 2011 sebesar Rp. 206.850,- perkapita/bulan selanjutnya meningkat menjadi Rp. 226.175,- perkapita/bulan pada Maret tahun 2012. Apabila dipilah menurut jenisnya, peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan Maret 2012, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 79,08 persen dan selebihnya 20,92 persen adalah sumbangan Garis Kemiskinan Bukan Makanan.

Pada periode Maret 2011 - Maret 2012, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menunjukkan adanya penurunan yaitu dari 1,24 menjadi 1,05. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati dari garis kemiskinan. Adapun dari sisi Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami penurunan yaitu dari 0,28 menjadi 0,21.

No. 38/07/61/Th. XV, 2 Juli 2012

TINGKAT KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT MARET 2012

(2)

1. Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Kalimantan Barat Maret 2011- Maret 2012

Jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode Maret 2011 ke Maret 2012 menunjukkan kecenderungan menurun, Maret 2011 sebesar 8,60 persen menjadi 8,17 persen atau turun 0,43 poin. Pada periode Maret 2011 ke Maret 2012 jumlah penduduk miskin turun dari 380.110 orang menjadi 363.310 orang (Gambar.1). Hal ini berarti bahwa jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 16.800 orang.

Jika dilihat dari daerah perkotaan dan perdesaan, maka persentase penurunan jumlah penduduk miskin terjadi di daerah perkotaan dan perdesaan masing-masing yaitu sebesar 0,35 persen untuk daerah perkotaan dan 0,47 persen untuk daerah perdesaan. Namun dari sisi jumlah penduduk di perkotaan turun sebanyak 4.100 orang dan penduduk perdesaan turun sebanyak 12.700 orang.

Untuk menentukan jumlah penduduk miskin BPS menggunakan konsep ”kemampuan memenuhi kebutuhan dasar” jadi kemiskinan yang dimaksud adalah ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar makan dan non makanan (diukur dari sisi pengeluaran) yang di konversi dengan nilai uang yang disebut sebagai garis kemiskinan. Dengan demikian yang disebut penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah garis kemiskinan.

Garis kemiskinan pada Maret 2011 sebesar Rp.206.850 perkapita/bulan selanjutnya pada Maret 2012 meningkat menjadi Rp. 226.175 perkapita/bulan. Jika dibedakan berdasarkan

daerah perkotaan dan perdesaan, garis Kemiskinan perkotaan Maret 2011 sebesar Rp. 225.245,- naik menjadi Rp. 243.957 pada kondisi Maret 2012. Sementara di daerah

perdesaan sebesar Rp.198.886,- pada Maret 2011 naik menjadi Rp. 218.476 pada Maret 2012.

Tidak berbeda dengan kondisi Maret 2011, pada bulan Maret 2012 Garis Kemiskinan Makanan juga mempunyai peranan yang sangat dominan terhadap Garis Kemiskinan yaitu sebesar 79,08 dan selebihnya 20,92 persen adalah Garis Kemiskinan Bukan Makanan.

84.47 80.39 295,64 282,93 0 50 100 150 200 250 300 350 Maret'11 Maret'12 Jumlah

Gambar 1. Jumlah Penduduk Miskin

Menurut Kota/desa di Kalimantan Barat Maret 2011- Maret 2012

(000 orang)

(3)

Komoditi makanan yang berpengaruh terhadap kenaikan garis kemiskinan Maret 2012 antar lain beras, Gula pasir, telur, minyak goreng, mie instan, tahu dan tempe. Sedangkan komoditi non makanannya antara lain perumahan, sandang dan Angkutan.

Tabel 1.

Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Kalimantan Barat Maret 2011 – Maret 2012

Daerah/Tahun

Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln) Jumlah penduduk miskin (000 orang) Persentase penduduk miskin Makanan Bukan Makanan Total Perkotaan Maret 2011 168.709 56.536 225.245 84,47 6,33 Maret 2012 183.267 60.690 243.957 80,39 5,98 Perdesaan Maret 2011 160.275 38.611 198.886 295,64 9,59 Maret 2012 176.966 41510 218.476 282,92 9,11 Kota+Desa Maret 2011 162.823 44.027 206.850 380,11 8,60 Maret 2012 178.870 47.305 226.175 363,31 8,17

Sumber: Pengolahan Susenas Triwulanan 2012

2. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan

Persoalan kemiskinan bukan hanya menyangkut berapa jumlah dan persentase penduduk miskin tetapi ada dimensi lain yang harus juga menjadi perhatian yaitu tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Jadi kebijakan dalam penanganan masalah kemiskinan seharusnya tidak hanya memperkecil jumlah penduduk miskin, tetapi juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan itu sendiri.

Indek Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan

pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Sedangkan Indek Keparahan Kemiskinan merupakan ukuran ketimpangan penduduk miskin.

(4)

Pada periode Maret 2011 – Maret 2012, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menunjukkan

adanya penurunan yaitu dari 1,24 pada keadaan Maret 2011 menjadi 1,05 pada Maret 2012 (Tabel 2). Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung mendekati dari garis kemiskinan. Adapun dari sisi Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

menunjukkan adanya penurunan yaitu dari 0,28 pada Maret 2011 menjadi 0,21 pada Maret 2012. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk miskin relatif semakin kecil selama Maret 2011 sampai Maret 2012.

Tabel 2

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di

Kalimantan Barat Menurut Daerah, Maret 2011- Maret 2012

Tahun Perkotaan Perdesaan Kota + Desa

IndeksKedalamanKemiskinan (P1) Maret 2011 0,91 1,38 1,24 Maret 2012 0,63 1,23 1,05 IndeksKeparahanKemiskinan (P2) Maret 2011 0,21 0,32 0,28 Maret 2012 0,11 0,25 0,21

Apabila disimak menurut daerah untuk Maret 2011 berbanding lurus dibandingkan kondisi Maret 2012, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di

daerah perkotaan lebih rendah dibanding daerah perdesaan. Pada bulan Maret 2011, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan dan perdesaan masing-masing sebesar

0,91 dan 1,38 sedangkan keadaan Maret 2012 di daerah perkotaan dan perdesaan masing masing sebesar 0,63 dan 1,23. Demikian juga dengan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk

daerah perkotaa sebesar 0,21 pada Maret 2011 sedangkan di daerah perdesaan mencapai 0,32 pada Maret 2011. Pada Maret 2012 untuk perkotaan turun menjadi 0,11 dan untuk perdesaan juga turun menjadi 0,25.

(5)

Perbandingan Tingkat Kemiskinan Regional Kalimantan dan Nasional

Untuk Garis Kemiskinan Maret 2012, Kalimantan Barat masih terendah di regional Kalimantan yaitu sebesar Rp. 226.175,- dan tertinggi di Kalimantan Timur sebesar Rp. 347.577,-. Adapun dalam hal jumlah dan persentase penduduk miskin, Kalimantan Barat merupakan yang tertinggi yaitu sebesar 363,31 ribu orang (8,17 persen) sedangkan jumlah penduduk miskin yang terendah di Kalimantan Tengah sebesar 148,05 ribu orang dan persentase penduduk miskin terkecil di Kalimantan Selatan sebesar 5,06 persen.

Tabel 3

Perbandingan Beberapa Indikator Kemiskinan Untuk Regional Kalimantan dan Nasional Maret 2012

Provinsi Garis Kemisikinan (Rp/Kapita/Bln) Jumlah (000 orang) Persentase PendudukMiskin (P0) Kalimantan Barat 226.175 363,31 8,17 Kalimantan Tengah 269.940 148,05 6,5 Kalimantan Selatan 262.459 189,88 5,06 KalimantanTimur 347.577 253,34 6,68 NASIONAL 248.707 29.132,42 11,96

(6)

Penjelasan Teknis dan Sumber Data

Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk.

Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan.

Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).

Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan.

Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan tahun 2012 adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) Modul Konsumsi Triwulanan Tahun 2012.

(7)

Informasi lebih lanjut hubungi:

Duaksa Aritonang, SE, MM Kepala Bidang Statistik Sosial

Telepon: 0561-735345 E-mail : [email protected]

Website : http://kalbar.bps.go.id

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Gambar

Gambar 1. Jumlah Penduduk Miskin

Referensi

Dokumen terkait

 Pada September 2016, jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah perdesaan sebanyak 121,60 ribu orang (10,15 persen), lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang tinggal di

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin daerah perdesaan lebih jauh dari garis kemiskinan dibanding daerah perkotaan, dan

 Pada September 2015, jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah perdesaan sebanyak 27,61 ribu orang (9,67 persen), lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang tinggal di

 Selama periode September 2015 – Maret 2016, penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 0,89 ribu orang dan di daerah perdesaan turun sebanyak 0,70 ribu orang.. Pada

Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan bahwa kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari aspek ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan

Untuk  mengukur  kemiskinan,  BPS  menggunakan  konsep  kemampuan  memenuhi  kebutuhan  dasar  (basic  needs  approach).    Konsep  ini  tidak  hanya  digunakan 

Perubahan Garis Kemiskinan di Provinsi Kepulauan Riau, Maret 2012 – September 2012 Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan, karena

Variabel Denpendent  Kemiskinan Kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup penduduk yang mendapatkan pendapatan rendah dan jumlah penduduk yang garis kemiskinannya