Hakikat Manusia Dan Daya-daya Ruhani

51 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Hakikat Manusia dan Daya-daya

Hakikat Manusia dan Daya-daya

Ruhani

Ruhani

Niken Uswatun Alimah Niken Uswatun Alimah

(11160163000012) (11160163000012) Akhmad Mukhsin Alatas Akhmad Mukhsin Alatas

(11160163000021) (11160163000021) Pendidik

(2)
(3)

Menganalisis Hakikat Manusia

Menganalisis Hakikat Manusia

(4)

Menganalisis Hakikat Manusia

Menganalisis Hakikat Manusia

M

Meennuurrutut babahhaasasa aarrttiinnyyaa kkeebebennaarraann atatauau sseesusuaattuu y yaanngg sseebbeennaarr--bbeennaarrnnyyaa aattaauu aassaall sseeggaallaa s seessuuaattuu.. DaDappaatt jjuuggaa didikkaattaakkaann hahakkiikkaatt iittuu a addaallaahh iinnttii ddaarrii sseeggaallaa sseessuuaattuu aattaauu yyaanngg me

(5)

Menganalisis

Menganalisis

Hakikat Manusia

Hakikat Manusia

M Maannuussiiaa aaddaallaahh mmaakkhhlluukk ppaalliinngg sseemmppuurrnnaa yyaanngg p peerrnnaahh ddiicciippttaakkaann oolleehh AAllllaahh SSWWTT.. K Keesseemmppuurrnnaaaann yyaanngg ddiimmiilliikkii mmaannuussiiaa m meerruuppaakkaann ssuuaattuu kkoonnsseekkuueennssii fufunnggssii ddaann t tuuggaass mmeerreekkaa sseebbaaggaaii kkhhaalliiffaahh ddii mmuukkaa bbuummii ini. ini.

Peng

(6)

Menganalisis

Menganalisis

Hakikat Manusia

Hakikat Manusia

Dalam

al-Dalam al-QurQur’’an istilah manusia an istilah manusia ditemukan 3ditemukan 3 k

kosa kata yang berbeda dengan osa kata yang berbeda dengan maknamakna

manusia, akan tetapi memilki substansi yang manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu

berbeda yaitu katkataa basyarbasyar, , insaninsan dandan an-nasan-nas..

Peng

(7)

Menganalisis

Hakikat Manusia

Al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan sosial. Manusia sebagai basyar, diartikan sebagai makhluk sosial yang tidak biasa hidup tanpa bantuan orang lain dan atau makhluk lain.

(8)

Pengertian Manusia

Manusia adalah makhluk sosial dan sekaligus

makhluk ekonomi.

Manusia adalah makhluk sosial untuk

menyempurnakan jiwa manusia demi kebaikan hidupnya, karena manusia tidak hidup dengan baik tanpa ada orang lain.

(9)

Menganalisis

Hakikat Manusia

Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk

bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik di darat, di laut, maupun di udara.

Manusia di beri akal dan hati sehingga dapat

memahami ilmu yang diturunkan Allah.

Eksistensi dan

Martabat Manusia

(10)

Eksistensi dan

Martabat Manusia

Menyembah kepada penciptanya yaitu Allah.

Penyembahan berarti ketundukan manusia dalam hukum Allah dalam menjalankan kehidupan di muka bumi, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan tuhan maupun manusia dengan manusia.

Tujuan Penciptaan Manusia

(11)

Eksistensi dan

Martabat Manusia

Status dasar manusia sebagai khalifah.

Khalifah diartikan sebagai penerus ajaran Allah maka peran yang dilakukan adalah penerus pelaku ajaran Allah dan sekaligus menjadi pelopor membudayakan ajaran Allah.

Peran : • Belajar

• Mengajarkan ilmu • Membudayakan ilmu

Fungsi dan Peran Manusia

(12)

Tanggung Jawab

Manusia

Ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan manusia kepada Allah

(13)

Tanggung Jawab

Manusia

Tugas hidup yang di muka bumi ini adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pegolahan dan pemeliharaan alam.

(14)

Menganalisis

Hakikat Manusia

Pertama, orang yang dikuasai oleh hawa nafsu dan bahkan menjadikannya Tuhan

sesembahannya.

Derajat & Tingkatan

Manusia

(15)

Menganalisis

Hakikat Manusia

Kedua, orang yang selalu berkompetisi dengan hawa nafsunya.

Derajat & Tingkatan

Manusia

(16)

Menganalisis

Hakikat Manusia

Ketiga, golongan yang berhasil mengendalikan hawa nafsu dan mengalahkannya dalam

kondisi apapun.

Derajat & Tingkatan

Manusia

(17)

Menganalisis

Hakikat Manusia

Empat kiat melepaskan belenggu nafsu dan untuk meraih kebahagiaan hakiki :

yaitu mengenal diri, mengenal Pencipta, mengenal hakekat dunia dan mengenal

hakekat akherat. Dalam proses mengenali diri, Imam al-Ghazali memberikan bahan

introspeksi harian (muhasabah).

Derajat & Tingkatan

Manusia

(18)

Menganalisis

Hakikat Manusia

Imam al-Ghazali menjelaskan adanya empat potensi dalam diri manusia: sifat binatang ternak, sifat binatang buas, sifat setan dan sifat malaikat.

Derajat & Tingkatan

Manusia

(19)

Menganalisis

Hakikat Manusia

Kebahagiaan hakiki adalah hakekat spiritual yang kekal, keyakinan pada hal-hal mutlak

tentang hakikat alam, identitas diri dan tujuan hidup. Kesemuanya itu berawal dari ilmu dan bermuara pada mahabbatullah (cinta kepada Allah).

Derajat & Tingkatan

Manusia

(20)

Menganalisis Hakikat Ruh Menurut

Al-

Qur’an, Hadits dan

Sufi

(21)

Menganalisis Hakikat Ruh Menurut

Al-Qur’an, Hadits dan Sufi

Makna pertama : sebuah jenis (benda) yang sangat halus yang semayam (sumbernya berasal dari) dalam rongga hati jasmani. Kemudian ruh itu bertebaran ke seluruh tubuh melalui urat-urat yang bercabang-cabang.

(22)

Menganalisis Hakikat Ruh Menurut

Al-Qur’an, Hadits dan Sufi

Mengalirnya ruh diseluruh tubuh itu, menimbulkan cahaya kehidupan, menumbuhkan perasaan, melahirkan pendengaran, penglihatan dan penciuman.

(23)

Menganalisis Hakikat Ruh Menurut

Al-Qur’an, Hadits dan Sufi

Makna kedua : al-Lathifah yang berpotensi untuk mengenal dan untuk mengetahui

(24)

Menganalisis Hakikat Ruh Menurut

Al-Qur’an, Hadits dan Sufi

Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruhilahi, sedangkan manusia tidak diberi pengetahuan mengenai ruh itu sendiri.

(25)

Menganalisis Hakikat Ruh Menurut

Al-Qur’an, Hadits dan Sufi

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan

(26)
(27)

Menganalisis Daya-daya Ruhani

Abu al-Husayn an-Nuri

mengatakan, “Tasawuf bukan sekumpulan

ritual dan pengetahuan, tetapi akhlak.”

(28)

Menganalisis Daya-daya Ruhani

Murta’isy berkata: “ Tasawuf

adalah akhlak yang baik.”. Akhlak yang baik memiliki tiga bentuk:

Pertama, akhlak kepada Allah , dengan

melaksanakan segala perintah-Nya.

Kedua, akhlak kepada manusia

Ketiga, akhlak kepada diri sendiri

(29)

Menganalisis Daya-daya Ruhani

Zu an-Nun al-Misri berkata:

“Sufi adalah orang yang ketika berbicara

bahasanya adalah realitas ihwalnya, yakni dia tidak mengatakan apa yang tidak sebenarnya, dan ketika dia diam

perbuatannyan

menjelaskan ihwalnya,

dan ihwalnya mengatakan bahwa dia telah

memutuskan semua ikatan-ikatan duniawi.”

(30)

Daya-daya Ruhani

Secara bahasa dalam kamus al-Munjid, nafs (jama’nya nufus dan anfus) berarti ruh (roh)

dan ‘ain (diri sendiri). Sedangkan dalam kamus al-Munawir disebutkan bahwa kata nafs

(jamaknya anfus dan nufus) itu berarti roh dan  jiwa, juga berarti al-jasad (badan, tubuh),

al-sahsh (orang), al-sahsh alinsan (diri orang), al-dzat atau al’ain (diri sendiri).

(31)

3 tingkatan perkembangan jiwa

 jiwa ketuhanan

mulai untuk menyadari kesalahan dan dosanya

hanya memenuhi naluri rendahnya

(32)

Daya-daya Ruhani

An-Nafs menunjuk kepada 2 hal : hawa nafsu dan hakikat dari manusia itu sendiri (diri

manusia).

(33)

Daya-daya Ruhani

a. Hawa Nafsu

Nafsu yang mengarah kepada sifat-sifat tercela pada manusia. Yang akan menyesatkan dan menjauh dari Allah.

(34)

Daya-daya Ruhani

a. Hawa Nafsu

Hadits riwayat Al Baihaqi dari Ibnu Abbas :

"Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada diantara kedua lambungmu".

(35)

Daya-daya Ruhani

b. Diri Manusia

Diri manusia ini apabila tenang, jauh dari

goncangan disebabkan pengaruh hawa nafsu dan syahwat, dinamakan Nafsu Muthmainnah.

(36)

Daya-daya Ruhani

b. Diri Manusia Allah berfirman:

"Hai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah),

kembalilah kepada Tuhanmu, merasa senang (kepada Tuhan) dan (Tuhan) merasa senang kepadanya". (QS Al Fajr : 27-28).

(37)

Daya-daya Ruhani

Kata al-aql di dalam kamus kontemporer Arab-Indonesia merupakan sinonim bagi kata hija yang berarti pikiran, otak dan alasan.

Sedangkan di dalam kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia juga berarti daya yang dapat

menangkap, mempersepsi, memahami.

Al-Aql

(38)

Daya-daya Ruhani

Menurut Imam Al-Ghazali, kata al-aql memiliki empat hakikat, yaitu :

a. Pertama, sesuatu yang siap menerima pengetahuan teoretis dan mengatur kepandaian berpikir yang tersembunyi b. Kedua, pengetahuan yang ada pada diri

manusia sejak usia anak

(39)

Daya-daya Ruhani

Menurut Imam Al-Ghazali, kata al-aql memiliki empat hakikat, yaitu :

c. Ketiga, pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman/empirik

d. Keempat, kekuatan gharizah (insting) untuk mengetahui konsekuensi berbagai masalah dan menahan keinginan untuk mendapatkan kelezatan sesaat

(40)

Daya-daya Ruhani

“Hati adalah rumah Allah, maka bersihkanlah ia dari yang selain Dia agar saban malam sang Rahman dapat bersemayam di istana-Nya.”

-Ibrahim Haqqi

Al-Qalb

(41)

Daya-daya Ruhani

Hati meiliki dua sisi berbeda; yang pertama selalu memandang ke arah Alam arwah, sementara yang kedua selalu memandang alam fisik.

(42)

Daya-daya Ruhani

Jika tubuh tunduk pada perintah ruh yang tercakup dalam perintah-perintah syariat tauhid, maka hati mengalirkan limpahan anugerah yang ia dapat dari alam arwah kepada tubuh dan jasad, sehingga

memberikan embusan angin ketenangan dan ketentraman.

(43)

Daya-daya Ruhani

Hati juga mampu melakukan peng-idrak -an.

Idrak adalah memahami dan

mempersepsikan. Misalnya perasaan sedih dan gembira. Yang berfikir dan merenungkan itu adalah kekuatan batin yang disebut

al-qalb.

(44)

Daya-daya Ruhani

Hati merupakan sebuah lathifah (entitas

lembut) yang sangat sulit disembuhkan jika terluka, meski yang jauh lebih sulit adalah menghidupkannya jika ia sudah mati.

Itulah sebabnya Al-Qur’an berpesan kepada kita dengan sebuah doa ‘wahai tuhan kami,

 janganlah engkau jadikan hati kami condong  pada kesesatan sesudah engkau beri petunjuk

kepada kami,’ (QS Ali Imran 3: 8)

(45)

2 jenis hati

Jasmaniyah

Ruhaniyyah

Jenis

(46)

Daya-daya Ruhani

Kata ruh diartikan dengan roh, nyawa, jiwa,

sukma, intisari, perasaan atau esensi. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata ruh

diartikan dengan: Sesuatu yang hidup yang tidak berbadan jasmani, namun berakal budi dan berperasaan; jiwa atau badan halus atau semangat.

(47)

2 Hal Mengenai Ruh

Nyawa Yang halus dari manusia

Ruh

(48)

Yang Halus dari Manusia

1) Ruhul Amin

2) Ruhul Awwal

(49)

Daya-daya Ruhani

As Sirr dimaknai sebagai sebagai rahasia (lawan keterusterangan), pembicaraan dalam hati. Hans Wehr mengungkapkan kemungkinan makna sirr adalah: secret, mind, heart, dan soul.

(50)

Daya-daya Ruhani

Rahasia adalah sebuah hakekat yang

tersembunyi, ia tersembunyi dari cercapan panca indera, namun ada dalam eksistensi. Sirr dengan demikian adalah sesuatu yang

tersembunyi dalam diri manusia, seperti pikiran, perasaan dan jiwa.

Sirr merupakan aspek jiwa yang paling dalam, ia adalah pikiran, perasaan bawah sadar yang

dimiliki manusia.

(51)

Daya-daya Ruhani

Kata Imam Ghazali, ”nurrun latifatun

robbaniyyun”, inilah ruh yang mana akal itu

menerima, hati itu memahami, ruh itu menyaksikan perkara yang maknawi dan sirrun itu menyimpan rahasia.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :