KABUPATEN SUKABUMI
MARIA FRANSISCA SARAGIH
PROGRAM KEAHLIAN MANAJEMEN AGRIBISNIS PROGRAN DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2014
dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan oleh penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir laporan ini.
Bogor, Juni 2014
RINGKASAN
MARIA FRANSISCA SARAGIH, Kajian Pengembangan Bisnis Pengolahan Susu Sapi menjadi Kerupuk Susu di Koperasi Unit Desa Makmur Kabupaten Sukabumi. Dibimbing oleh Arif Karyadi Uswand.
Susu merupakan salah satu produk peternakan yang dikonsumsi oleh manusia sebagai sumber protein, mineral dan vitamin. Permasalahan pada susu segar saat ini yaitu sangat mudah rusak, susu segar biasanya terkontaminasi oleh bakteri yang mampu berkembang cepat sekali sehingga susu menjadi rusak atau tidak layak konsumsi. Untuk memperpanjang daya guna, daya tahan simpan serta meningkatkan nilai ekonomi, diperlukan teknik penanganan dan pengolahan susu.
KUD Makmur merupakan salah satu koperasi yang bergerak di bidang sapi perah. KUD Makmur ini memiliki pemasukan utama yang berasal dari unit bisnis sapi perah ini. Unit bisnis sapi perah ini memanfaatkan susu yang berasal dari anggota koperasi yang merupakan peternak sapi. Susu sapi yang ada dikoperasi dikirim ke IPS (Industri Pengolah Susu). IPS memiliki standart khusus terhadap susu yang dikirimkan. Susu yang dikirim oleh KUD terkadang ditolak oleh IPS karena tidak memenuhi standart yang di tetapkan. Penolakan ini mengakibatkan susu KUD menjadi dibuang karena tidak ada penagangan lebih lanjut untuk memanfaatkan susu.
Peningkatan permintaan terhadap produk sejenis kerupuk dan adanya bahan baku yang tidak memenuhi standart IPS dapat menjadi peluang bagi koperasi untuk menambah pendapatan perusahaan dengan membuka unit bisnis pengolahan yaitu kerupuk susu. Susu yang ditolak dapat diolah menjadi kerupuk susu supaya susu yang ditolak tidak dibuang. Perencanaan bisnis yang direncanakan pada KUD makmur ini dapat menghasilkan 119 kg kerupuk susu (793 kemasan). Bahan baku susu ini diperoleh dengan memanfaatkan susu sapi yang ditolak oleh IPS. Jika penolakan tidak terjadi, KUD dapat memperoleh susu dari Koperasi bhakti. Produk olahan kerupuk susu dapat dijadikan sebagai ciri khas oleh-oleh kota Sukabumi.
Target penjualan kerupuk susu ini kepada para wisatawan yang berkunjung ke Sukabumi. Produk kerupuk susu ini akan dipasarkan di pusat oleh-oleh yang ada di sukabumi. Wisatawan yang berkunjung ke sukabumi dapat menjadikan produk kerupuk susu ini sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke daerah asal mereka. Pusat tempat oleh-oleh yang menjadi tempat pemasaran produk kerupuk susu ini yaitu moci kaswari, moci kenari dan tempat oleh-oleh Enak.
Rencana pengolahan susu sapi menjadi kerupuk susu pada KUD Makmur layak untuk dijalankan atau dikembangkan karena memenuhi kriteria investasi dari analisis cashflow dengan NPV sebesar Rp 145.272.526 , IRR 68%, Net B/C 2.4 , dan Payback Period selama 2 tahun 5 bulan.
KAJIAN PENGEMBANGAN BISNIS
PENGOLAHAN SUSU SAPI MENJADI KERUPUK SUSU DI KOPERASI UNIT DESA MAKMUR - KABUPATEN SUKABUMI
MARIA FRANSISCA SARAGIH
Laporan Tugas Akhir
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya pada
Program Diploma Keahlian Manajemen Agribisnis
PROGRAM KEAHLIAN MANAJEMEN AGRIBISNIS PROGRAN DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Tugas Akhir : Pengolahan Susu Sapi menjadi Kerupuk Susu di Koperasi Unit Desa Makmur Kabupaten Sukabumi
Nama : Maria Fransisca Saragih
NIM : J3J111010
Disetujui oleh
Arif Karyadi Uswandi, SP Pembimbing
Diketahui oleh
Dr Ir Bagus Priyo Purwanto, Magr Ir Sutara Hendrakusumaatmaja, MSc
Direktur Koordinator Program Keahlian
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam kegiatan praktik kerja lapangan selama tiga bulan sejak tanggal 17 Februari 2014 sampai 14 Mei 2014 di KUD Makmur ini adalah Rencana Pengolahan Susu Sapi menjadi Kerupuk Susu di KUD Makmur kabupaten Simalungun.
Terimakasih penulis ucapkan kepada Orangtua penulis yang sudah memberi saran dalam penyususnan Tugas Akhir, kepada Bapak Arif Karyadi Uswandi SP, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan, dan arahan, kepada Bapak H. Risdianto Hermawan selaku Manajer KUD Makmur dan pembimbing lapangan yang telah menerima kehadiran penulis selama Praktik Kerja Lapang dengan baik. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pengurus, karyawan, dan anggota KUD Makmur atas bimbingan, arahan, ilmu dan informasi yang telah diberikan. Terima kasih rekan-rekan Manajemen Agribisnis angkatan 48 atas kerjasama dan dukungannya selama ini.
Penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Bogor, Mei 2014
Maria Fransisca Saragih J3J211244
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR...x
DAFTAR TABEL...x
DAFTAR LAMPIRAN...xi
I PENDAHULUAN...1
1.1. Latar belakang...1
1.2. Tujuan...2
1.2.1. Merumuskan Ide Pengembangan Bisnis...2
1.2.2. Mengkaji Kelayakan Pengembangan Unit Bisnis...2
METODE KAJIAN...3
2.1. Ruang Lingkup...3
2.2. Lokasi dan Waktu...3
2.3. Data dan Sumber Data...3
2.4. Pengumpulan Data...5
2.5. Metode Analisis...5
2.5.1. Aspek Pasar dan Pemasaran...5
2.5.2. Aspek Teknis dan Teknologi...6
2.5.3. Aspek Organisasi dan Manajemen...7
2.5.4. Aspek Finansial...7
BAB III KERAGAAN PERUSAHAAN...11
3.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan...11
3.2. Aspek Organisasi dan Manajemen Perusahaan...12
3.3. Aspek Sumberdaya Perusahaan...17
BAB IV KAJIAN PENGEMBANGAN BISNIS...21
4.1. Rumusan Ide Pengembangan Bisnis...21
Adapun peluang yang dimiliki oleh KUD Makmur berdasarkan gambar 2 untuk menunjang pengembangan kerupuk susu yaitu belum terdapat unit bisnis pengolahan turunan susu khususnya kerupuk susu. Kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi, teknologi yang ada untuk pembuatan kerupuk susu serta adanya pasar yang potensial menjadi alasan pendukung akan diadakannya unit bisnis kerupuk susu ini di wilayah salabintana sukabumi. Untuk menciptakan peluang pasar baru, harus diperhatikan adanya peluang pasar untuk kerupuk susu. Potensi pasar yang akan dituju diprioritaskan untuk sentral oleh-oleh makanan disekitar kawasan wisata salabintana. ...23
4.2. Deskripsi Unit Bisnis...24
4.2.2. Deskripsi Proses Produksi...25
4.2.3. Deskripsi Pelanggan...31
4.2.4. Deskripsi Pemasaran...31
4.3.1. Perencanaan Pasar dan Pemasaran...32
Strategi pemasaran yang akan dilakukan oleh KUD Makmur dalam memasarkan produk kerupuk susu ini meliputi Segmentation, Targetting, dan Positioning serta strategi pemasaran (4P) yang menetapkan strategi produk (product), strategi harga (price), strategi tempat (place), dan streategi promosi (promotion). Berikut adalah deskripsi strategi pemasaran yang akan dilakukan oleh KUD Makmur:...33
HPP=Total Biaya OperasionalTotal Produksi ...35
¿Rp273.803 .27538064=Rp7200 per - kemasan...35
4.3.2. Perencanaan Teknis dan Teknologi...36
Tingkat kegagalan lima persen...37
= total produksi kerupuk – ( total produksi x presentase tingkat kegagalan)...37
= 125 – ( 125 x 5% )...37
= 199 kg kerupuk susu/ minggu...37
Produksi 199 kg ini menghasilkan 793 kemasan per produksi. Perolehan 793 kemasan ini didapat dari jumlah produksi dibagi 150 gr...37
= total produksi (gr) / Kapasitas per kemasan produk...37
= (119*1000) gr / 150 gr...37
= 793 kemasan...37
Jadi, KUD Makmur hanya dapat mendistribusikan produk kerupuk susu sebanyak 793 kemasan kerupuk susu SEGER/ produksi. Produk yang akan didistribusikan ke tiga toko oleh-oleh dapat dilihat persentasenya pada Tabel 8...38
Sumber: Survei...38
4.3.3. Perencanaan Organisasi dan Manajemen...40
Struktur organisasi di atas dapat dijelaskan mengenai pembagian tugas dari setiap jabatan. Uraian masing-masing jabatan adalah sebagai berikut :...40
a. Kepala Bagian...40
Kepala bagian bertugas pada proses perencanaan baik perencanaan produksi hingga pemasaran, bertanggung jawab pada seluruh kegiatan yang berlangsung pada unit bisnis kerupuk susu dengan melakukan pengawasan dan kontrol terhadap kinerja setiap karyawannya. Membuat layanan administrasi keuangan serta administrasi lainnya dan dapat mengelola berkas-berkas kegiatan perusahaan serta mendata semua transaksi yang terjadi, memelihara dan mengawasi persediaan bahan mentah. Kepala bagian juga bertugas untuk mengawasi pemasaran. Pada struktur organisasi ini tidak terdapat divisi pemasaran, ini karena yang melakukan pemasaran (mengantar produk ke tempat oleh-oleh) adalah supir yang disewa sepaket dengan mobil oleh unit bisnis kerupuk susu. Penjadwalan pengiriman produk diatur oleh kepala bagian. Kepala bagian kerupuk susu adalah seorang yang memiliki keterampilan dalam mengelola suatu usaha, cakap dalam melakukan koordinasi dan komunikasi dengan karyawan, memiliki tanggung jawab yang tinggi dan berjiwa kepemimpinan...40
susu menjadi kerupuk susu dari tahap pembuatan adonan sampai dengan
pengemasan kerupuk susu, dan dalam hal pemeliharaan peralatan yang digunakan selama proses produksi kerupuk susu. Tenaga kerja yang berada pada bagian produksi memiliki keterampilan dalam memasak, bertanggung jawab terhadap bidang dan pekerjaannya, memiliki manajemen waktu yang baik sehingga produksi tepat waktu. Sistem penggajian untuk tenaga kerja bagian produksi adalah sistem
bulanan...41
4.3.4. Perencanaan Aspek Sosial...41
4.3.5. Perencanaan Penanganan Limbah...42
4.3.6. Perencanaan Finansial...42
3.4. Tahapan pengembangan Bisnis...8
Nama...8
Kegiatan...8
Kegiatan mendahului...8
Waktu (Hari)...8
A...8
Observasi Pasar...8
-...8
25...8
B...8
Penentuan lokasi Usaha...8
A...8
5...8
C...8
Perencanaaan bahan baku...8
B...8
10...8
D...8
Perencanaan Keuangan...8
C...8
15...8
E...8
Perencanaan Produksi...8
D...8
25...8
F...8
Perencanaan Pasar dan Pemasaran...8
24...8
G...8
Penentuan Tenaga Kerja...8
F...8
5...8
H...8
Perekrutan Tenaga Kerja...8
G...8
1...8
I...8
Pelatihan Tenaga Kerja...8
H...8
7...8
J...8
Pelaksanaa Proses Produksi...8
I...8
1...8
K...9
Pelaksanaan Penjualan...9
J...9
1...9
L...9
Evaluasi Kegiatan...9
K...9
1...9
Jumlah Hari Pelaksanaan...9
120...9
Pemasaran sangat penting dilakukan agar produk yang dihasilkan mendapat keuntungan dengan menjualnya. Sebelum dilakukan pemasaran perlu dilakukannya promosi. Kegiatan promosi yang akan dilakukan KUD untuk unit bisnis pengolahan kerupuk susu adalah dengan membagikan stiker promosi dan mempromosikan produk menggunakan website. Sedangkan kegiatan penjualan kerupuk meliputi tahapan produksi hingga pendistribusian produk ke pedangan perantara. Dalam satu minggu satu kali produksi yang dilakukan dalam 2 hari kegiatan produksi...10
BAB V SIMPULAN DAN SARAN...11
5.1. Simpulan...11
5.2. Saran...11
DAFTAR PUSTAKA...11
LAMPIRAN...12
DAFTAR GAMBAR 1 Struktur Organisasi Di KUD Makmur...13
2 Rumusan Ide Pengembangan Bisnis...23
3 Alur produksi susu gumpalan...25
4 Alur Produksi Kerupuk Susu...27
5 Market Share Industri Makanan Sejenis Kerupuk...33
6 Stiker Kemasan...35
7 Saluran pemasaran tingkat nol...36
8 Stiker Promosi...36
9 Layout Produksi Kerupuk Susu...39
10 Struktur Organisasi Kerupuk susu...40
11 Tahap Pengembangan Bisnis...9
DAFTAR TABEL 1 Jenis dan Sumber data penyususnan Kajian Pengembangan Bisnis...4
2 Jumlah Produksi Susu KUD Makmur...12
3 Komposisi Nutrisi Tepung Tapioka...30
4 Industri Makanan Sejenis Kerupuk yang ada di Sukabumi...32
5 Pendistribusian kerupuk susu...38
6 Jadwal Kegiatan Produksi per Minggu...38
7 Jam Kerja Proses Produksi Kerupuk Susu Seger...38
8 Kebutuhan tenaga kerja dan gaji bulanan unit bisnis kerupuk susu...41
9 Angsuran dan Bunga Pinjaman...43
10 Rincian biaya investasi pengolahan kerupuk susu di KUD Makmur...1
11 Rincian biaya penyusutan dan nilai sisa kerupuk susu di KUD Makmur...2
12 Rincian biaya tetap pengolahan kerupuk susu di KUD Makmur...3
13 Rincian biaya variabel kerupuk susu pada KUD Makmur...4
14 Aliran Kas Masuk (Inflow) Produksi Kurupuk Susu (Rp)...5
16 Analisis Kelayakan Finansial pada Unit Bisnis Kerupuk Susu pada KUD Makmur...6 17 Hasil perhitungan analisis switching value dengan adanya penurunan penjualan ...7 18 Hasil perhitungan analisis sensitivitas (kenaikan harga susu sapi sebesar 15 %) ...8 19 Tahap Pengembangan Bisnis...8
DAFTAR LAMPIRAN
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Susu merupakan salah satu produk peternakan yang dikonsumsi oleh manusia sebagai sumber protein, mineral dan vitamin. Menurut standarisasi Nasional Indonesia (SNI) 01-3141-1998, susu segar adalah cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dengan pemerahan yang benar. Tidak mengalami penambahan dan pengurangan suatu komponen apapun dan tidak mengalami proses pemanasan (Standarisasi Nasional Indonesia, 1998).
Permasalahan pada susu segar saat ini yaitu sangat mudah rusak, susu segar biasanya terkontaminasi oleh bakteri yang mampu berkembang cepat sekali sehingga susu menjadi rusak atau tidak layak konsumsi. Untuk memperpanjang daya guna, daya tahan simpan serta meningkatkan nilai ekonomi, diperlukan teknik penanganan dan pengolahan susu misalnya mengolahnya dalam berbagai bentuk, dengan olahan yang cukup beragam mulai dari susu pasteurisasi, yougurt, keju dan lain-lain. Selain itu dapat sebagai bahan campuran berbagai olahan masakan, salah satunya adalah olahan kerupuk khususnya kerupuk susu.
KUD Makmur merupakan salah satu koperasi yang bergerak di bidang sapi perah. KUD Makmur ini memiliki pemasukan utama yang berasal dari unit bisnis sapi perah ini. Susu sapi yang ada dikoperasi dikirim ke IPS (Industri Pengolah Susu). IPS memiliki standart terhadap susu yang dikirimkan. Standart ini terkadang tidak dapat dipenuhi oleh KUD Makmur yang menyebabkan susu KUD Makmur ditolak. Penolakan susu ini membuat susu KUD menjadi rusak karena tidak ada pananganan lebih lanjut, dan akhirnya susu nya dibuang. Pembuangan susu ini membuat penurunan pendapatan bagi KUD. Untuk mempertahankan pendapatan KUD maka diperlukannya penanganan dan pengolahan yang cepat dan tepat agar susu yang dimiliki tidak rusak. Pengolahan susu menjadi kerupuk menjadi salah satu solusi penanganan dan pengolahan susu. Kerupuk memang banyak digemari orang sebagai makanan ringan dan sebagai lauk pauk makanan karena rasanya yang gurih, enak dan lezat.
1.2 Tujuan
Penulisan laporan Kajian Pengembangan Bisnis Pengolahan Susu Sapi menjadi Kerupuk Susu di Koperasi Unit Desa Makmur kabupaten Sukabumi bertujuan untuk :
1. Merumuskan ide pengembangan bisnis.
2. Mengkaji kelayakan usaha berdasarkan aspek non finansial dan aspek finansial.
1.2.1 Merumuskan Ide Pengembangan Bisnis
Kajian Pengembangan Bisnis (KPB) ini membahas lebih lanjut mengenai Rencana Pengolahan Susu Sapi menjadi Kerupuk Susu di Koperasi Unit Desa Makmur. KUD Makmur menghasilkan susu murni sebanyak rata-rata 500 liter setiap harinya. Susu segar yang dihasilkan oleh KUD di simpan di dalam cooling milik KUD dan setiap tiga hari susu milik KUD Makmur ditambah susu dari Green Global sebanyak 1000 liter dikirim ke IPS (Industri Pengolah Susu). Susu dapat dikembangkan menjadi berbagai produk. Wilayah KUD yang berada di daerah wisata menjadi peluang untuk mengolah susu menjadi produk yang dapat dijadikan makanan khas sukabumi.
Dengan adanya peluang tersebut, perlu diadakan pengadaan unit bisnis baru yang dapat menambah pemasukan bagi KUD tersebut. Unit bisnis yang dilaksanakan yaitu pengolahan susu sapi menjadi kerupuk susu di KUD Makmur.
1.2.2 Mengkaji Kelayakan Pengembangan Unit Bisnis.
Berdasarkan perumusan ide pengembangan bisnis, maka dapat ditentukan bahwa Kajian Pengembangan Bisnis peningkatan pendapatan KUD Makmur melalui rencana pengolahan susu sapi menjadi kerupuk susu akan mengkaji hal-hal sebagai berikut :
1. Mengkaji kelayakan pengolahan susu sapi menjadi kerupuk susu, baik secara teknis, manajemen, maupun pasar dan pemasaran.
2 METODE KAJIAN
2.1 Ruang Lingkup
Ruang lingkup laporan kajian Pengembangan bisnis di KUD Makmur terdiri dari kajian tentang aspek internal koperasi dan faktor eksternal koperasi. Kajian aspek internal koperasi terdiri dari aspek manajemen, aspek keuangan, aspek produksi, aspek sumber daya manusia, dan aspek pemasaran. Faktor eksternal koperasi terdiri dari lingkungan makro dan lingkungan mikro. Lingkungan mikro meliputi faktor ekonomi, faktor sosial budaya, faktor politik dan kebijakan pemerintah, dan faktor ekologi. Sedangkan lingkungan mikro terdiri dari analisis pesaing, pemasok, pelanggan, dan intensitas persaingan.
Berdasarkarkan hasil analisis internal koperasi, akan diketahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki koperasi. Sedangkan dari hasil analisis eksternal akan diketahui peluang koperasi yang bermanfaat untuk kemajuan koperasi, dan akan diketahui ancaman yang menghambat kemajuan koperasi. Dari hasil analisis internal dan eksternal akan diperoleh alternatif strategi. Penetapan alternatif strategi dapat menggunakan dengan alat pengambilan keputusan strategi yaitu SWOT.
2.2 Lokasi dan Waktu
Kajian Pengembangan Bisnis (KPB) ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Praktik Kerja Lapang di KUD Makmur yang berlokasi di Jl. Salabintana Wetan KM 7 Rt 04/13 Desa Sudajaya Girang, Kabupaten Sukabumi. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa Jawa Barat merupakan sentra produksi susu sapi yang potensial di wilayah Indonesia khususnya untuk memenuhi permintaan pasar akan produk olahan susu dalam negeri.
Kegiatan PKL ini dilaksanakan pada tanggal 14 Februari sampai dengan tanggal 14 Mei 2014.Waktu tersebut digunakan untuk memperoleh data dan keterangan dari Koperasi Unit Desa Makmur.
2.3. Data dan Sumber Data
rantai pemasaran, struktur organisasi, sistem manajemen, sistem pencatatan keuangan, kegiatan unit bisnis, sumberdaya koperasi, sistem pengepulan susu, sistem pembayaran gaji, pesaing koperasi, pemasok, dan pelanggan.
Data sekunder adalah data yang dari sumber yang sudah ada. Contoh data sekunder, misalnya catatan atau dokumentasi Koperasi berupa laporan pengiriman dan penyetoran susu, laporan keuangan, laporan RAT. Selain itu data dapat diperoleh dari searching di internet, studi literatur, dinas peternakan, dinas koperasi dan dinas perindustrian
Pengumpulan data dalam penulisan laporan kajian pengembangan bisnis di KUD Makmur menggunakan metode wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan dengan pengurus, pengawas, manajer, karyawan, dan anggota KUD Makmur. Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden, namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan untuk mengamati proses kerja di KUD Makmur. Jenis dan sumber data pada penyusunan Kajian Pengembangan Bisnis dapat dilihat pada Table 1.
Tabel 1 Jenis dan Sumber data penyusunan Kajian Pengembangan Bisnis Jenis
Data Sumber Data Teknik PengumpulanData Rincian Data
2.4. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui Praktik Kerja Lapangan pada Koperasi Unit Desa Makmur selama tiga bulan. Data yang dikumpulkan yaitu berupa data sekunder dan data primer yaitu aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan tekologi, aspek lingkungan, aspek manajemen, aspek sosial dan aspek finansial. Pengumpulan data-data tersebut dilakukan untuk menganalisis kelayakan rencana bisnis, layak atau tidak layak bisnis tersebut untuk dijalankan atau dikembangkan oleh perusahaan.
2.5. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penulisan Kajian Pengembangan Bisnis ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan data secara kualitatif dengan menggunakan metode penguraian deskriptif mengenai beberapa aspek yaitu aspek pasar dan pemasaran, aspek teknik dan teknologi, aspek organisasi dan manajemen, serta aspek sosial dan lingkungan. Sedangkan data kuantitatif yang diperoleh digunakan untuk megetahui kelayakan finansial dari pengolahan susu sapi menjadi kerupuk susu pada Koperasi Unit Desa Makmur. Analisis kelayakan usaha digunakan perusahaan sebagai alat analisis keuangan perusahaan, analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan pengembangan usaha yang akan dijalankan pada KUD makmur.
Studi kelayakan bisnis digunakan sebagai analisis berdasarkan kriteria investasi. Beberapa kriteria investasi tersebut diantaranya adalah Net Present Value (NPV), analisis Internal of Return (IRR), analisis Net Benefit Cost of Ratio (Net B/C), analisis Payback Period (PP), Proyeksi Laba/Rugi, serta dengan mengguankan analisis Switching Value. Berdasarkan dari data-data yang terkumpul baik dari internal ataupun eksternal perusahaan kemudian dilakukan pembahasan–pembahasan dari setiap analisis yang dipergunakan.
2.5.1 Aspek Pasar dan Pemasaran
Pasar secara sederhana dapat diartikan sebagai tempat bertemunya antara penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Pengertian ini mengandung arti pasar memiliki tempat atau lokasi tertentu sehingga memungkinkan pembeli dan penjual bertemu1. Pemasaran sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan serta inginkan melalui penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan
barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan. Aspek pasar merupakan salah satu aspek penting dalam menjalankan kegiatan usaha. Tanpa adanya kepastian pasar, maka akan meyulitkan perusahaan dalam memperkirakan besar kecilnya jumlah produk yang akan dihasilkan. Aspek pasar juga sangat berguna bagi usaha yang baru saja dijalankan perencanaan unit usaha baru dan peningkatan usaha. Setelah proses analisis terhadap pasar, langkah selanjutnya adalah menentukan segmen pasar, target pasar dan strategi pemasaran. Pemasaran merupakan bagian penting dalam dunia bisnis. Kegiatan pemasaran meliputi kemampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan pelanggan, sistem pembayaran barang, harga produk, saluran pemasaran, ikatan kerjasama, promosi dan lain sebagainya. Hal yang penting dalam pemasaran adalah bagaimana cara mempertahankan kualitas serta kontinuitas agar permintaan produk tetap terjaga bahkan dapat meningkat. Perencanaan strategi pasar yaitu meliputi segmentasi pasar, penempatan pasar, dan penempatan produk dilakukan oleh suatu perusahaan agar sasaran pasar tepat. Segmentation atau segmentasi pasar merupakan upaya mengelompokkan konsumen yang
mempunyai tanggapan yang relatif sama terhadap stimulus pemasaran. Targeting
yang dimaksud dalam strategi ini adalah memilih sasaran yang lebih jelas dan terarah (terukur, dapat dicapai, realistik, dan dibatasi waktu). Positioning yaitu posisi produk atau jasa jika dikaitkan dengan pasar. Bauran pemasaran (marketing mix) adalah serangkaian dari variabel pemasaran yang dapat dikuasai oleh perusahaan dan digunakan untuk mencapai tujuan dalam pasar sasaran.
Bauran pemasaran terdiri dari 4P yaitu Product, Price, Place, dan Promotion. Product (produk) merupakan segala sesuatu yang berupa barang dan jasa yang ditawarkan kepada masyarakat untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi guna memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan terhadap konsumen. Di dalam strategi bauran pemasaran, produk merupakan unsur yang paling penting, karena dapat mempengaruhi strategi pemasaran lainnya. Tujuan utama dari produk adalah untuk dapat mencapai sasaran pasar yang dituju dengan meningkatkan kemampuan bersaing atau mengatasi persaingan. Price (harga) merupakan sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hak milik produk. Oleh karena menghasilkan penerimaan penjualan,
maka harga mempengaruhi tingkat penjualan, tingkat keuntungan, serta market
share yang dapat dicapai oleh perusahaan. Place (saluran distribusi) yaitu saluran pemasaran atau saluran distribusi terdiri dari seperangkat lembaga yang melakukan semua kegiatan (fungsi) yang digunakan untuk menyalurkan produk
dan status kepemilikan dari produsen ke konsumen. Promotion (promosi yaitu
berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran dengan tujuan untuk mengubah sikap dan tingkah laku pembeli yang tadinya tidak mengenal menjadi mengenal sehingga menjadi membeli dan tetap mengingat produk yang ditawarkan.
2.5.1 Aspek Teknis dan Teknologi
tersebut selesai dibangun. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi termasuk biaya eksploitasinya (Uswandi et al. 2012). Pada aspek teknis dan teknologi akan mengungkapkan kebutuhan apa saja yang diperlukan dan bagaimana secara teknis proses produksi akan dilaksanakan, kapasitas produksi, jenis teknologi yang dipakai dan perlengkapan peralatan untuk proses produksi.
Aspek teknis merupakan berbagai aspek yang berkaitan dengan pembangunan unit usaha secara teknis. Tujuan aspek teknis dan teknologi adalah untuk meyakini apakah secara teknis dan pilihan teknologi pada rencana bisnis dapat dilaksanakan secara layak atau tidak layak, baik pada saat pembangunan proyek atau operasional secara rutin.
2.5.2 Aspek Organisasi dan Manajemen
Aspek organisasi dan manajemen mempelajari tentang manajemen dalam masa pembangunan bisnis dan manajemen dalam masa operasi. Apabila bentuk dan sistem pengelolaan telah dapat ditentukan secara teknis dan berdasarkan pada kegiatan usaha, maka selanjutnya dapat disusun bentuk struktur organisasi yang cocok dan sesuai untuk menjalankan kegiatan tersebut. Tujuan aspek manajeman adalah untuk mengetahui apakah pembangunan dan implementasi bisnis dapat direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan, sehingga rencana bisnis dapat dinyatakan layak atau sebaliknya.
Ditinjau dari segi proses, pengorganisasian merupakan usaha untuk menyusun tiga komponen pokok, yaitu personalia, fungsi dan faktor–faktor fisik, sehingga dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Untuk keperluan studi kelayakan bisnis yang perlu dianalisis adalah bagaimana fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan diterapkan secara benar. Karena apabila salah satu fungsi tidak dapat dijalankan dengan baik, maka jangan diharapkan tujuan perusahaan dapat tercapai. Masing-masing fungsi ini harus dilaksanakan secara berkesinambungan, karena kaitan antara satu fungsi dengan fungsi lainnya sangat erat.
2.5.3 Aspek Finansial
Analisis finansial terdiri dari analisis penerimaan dan analisis aliran kas (cashflow) dengan menggunakan kriteria investasi. Ada banyak kriteria investasi yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat investasi, dimana kriteria tersebut dapat membantu untuk melihat apakah investasi tersebut menguntungkan atau tidak. Kriteria investasi yang digunakan tersebut adalah NPV (Net Present Value), Net B/C (Net Benefit Cost), IRR (Internal Rate of Return), dan PP (Payback Period).
Analisis Penerimaan. Penerimaan usaha unit bisnis kerupuk susu berasal dari hasil penjualan kerupuk susu tersebut. Total penerimaan dapat
Net Present Value (NPV). NPV merupakan selisih antara present value manfaat dengan present value biaya atau dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus pendapatan yang ditimbulkan dari investasi pada tingkat diskonto tertentu. NPV tersebut menunjukan manfaat bersih yang diterima dari proyek atau usaha tersebut selama umur proyek dengan tingkat diskonto tertentu. Untuk menghitung NPV diperlukan tingkat suku bunga yang relevan. Menghitung NPV dapat menggunakan rumus :
NPV=
∑
Keterangan : Bt = Manfaat (benefit) pada tahun t
Ct = Biaya (cost) pada tahun t
n = Umur Proyek
t = Tahun Kegiatan Bisnis (t= 0,1,2,3,……n), awal tahun bisa tahun 0 atau tahun 1 tergantung karakter bisnisnya.
I = Tingakat Discount Rate (%) 1
(1+i)=Discount Factor pada tahunt
Net Benefit Cost (Net B/C). Net B/C adalah rasio antara manfaat bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yang bernilai negatif. Dengan kata lain, manfaat bersih yang menguntungkan bisnis yang dihasilkan terhadap setiap satu satuan kerugian dari bisnis tersebut. Net B/C dilakukan untuk melihat berapa besar manfaat bersih yang dapat diterima proyek untuk setiap satu rupiah yang dikeluarkan. Rumus yang digunakan adalah :
Kriteria penilaian adalah jika Net B/C >1 maka usaha tersebut dikatakan layak untuk dilaksanakan, dan jika Net B/C<1 maka usaha tersebut dikatakan tidak layak.
Indikator–indikator yang digunakan dalam perhitungan IRR yaitu jika IRR > tingkat discount rate yang berlaku maka proyek layak untuk dilaksanakan, sedangkan jika IRR < tingkat discount rate yang berlaku, maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Hasil perhitungan IRR tersebut kemudian dibandingkan dengan tingkat bunga bank yang berlaku, jika IRR hasil perhitungan lebih besar dari bunga bank yang berlaku maka proyek tersebut layak untuk diusahakan.
Payback Period (PP). Payback Period menunjukkan berapa lama (dalam beberapa tahun) suatu investasi akan bisa kembali dan menunjukkan perbandingan antara initial investment dengan aliran kas tahunan. Bisnis
yang payback period-nya singkat atau cepat pengembaliannya termasuk
kemungkinan besar akan dipilih. Masalah utama dari metoda ini adalah sulitnya menentukan periode payback maksimum yang diisyaratkan, untuk dipergunakan sebagai angka pembanding. Jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan-penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investasi tersebut juga untuk mengukur kecepatan
kembalinya dana investasi. Payback Period dapat dihitung menggunakan
rumus :
Investasi = Jumlah investasi yang belum terbayarkan PVn (+) = PV positif tahun ke n setelah pv tahun (-)
Indikator–indikator yang digunakan dalam perhitungan payback period yaitu semakin cepat kemampuan proyek mampu mengembalikan biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam investasi proyek maka proyek semakin baik (satuan waktu). Perhitungan payback period belum memperhatikan time value of money.
Analisis Sensitivitas. Analisis Sensitivitas merupakan salah satu perlakuan terhadap ketidakpastian. Analisis Sensitivitas dilakukan dengan cara mengubah besarnya variabel-variabel yang penting, masing-masing dapat terpisah atau beberapa dalam kombinasi dengan suatu persentase tertentu yang sudah diketahui atau diprediksi. Kemudian dinilai seberapa besar sensitivitas perubahan variabel-variebel tersebut bedampak pada hasil kelayakan (NPV, IRR, B/C)
komponen outflow (peningkatan harga input/peningkatan biaya produksi) yang masih dapat ditoleransi agar bisnis masih tetap layak. Analisis switcing value ini bertujuan untuk mengetahui sampai titik berapa peningkatan maupun penurunan suatu komponen dapat mengakibatkan perubahan dalam kriteria investasi yaitu dari layak menjadi tidak layak. Pada anilisis ini dicari berapa persen nilai pengganti pada komponen manfaat dan biaya yang masih memenuhi kriteria minimum kelayakan investasi. Keuntungan normal terjadi apabila NPV sama dengan nol.
Analisis Laba Rugi. Analisis laba rugi digunakan nuntuk menentukan besarnya pajak usaha/bisnis yang ada pada perkiraan cashflow. Pajak usaha/bisnis diperoleh dari perhitungan laba bersih pada proyeksi laba rugi. Komponen dalam laba rugi yaitu penerimaan yang nantinya akan dikurangi dengan biaya opersioanl dan biaya penyusutan yang akan menghasilkan laba bersih didalam cashflow. Analisis laba rugi ini dilakukan dengan meendaftar pendapatan yang dihasilkan oleh perusahaan selama satu tahun dan biaya yang dilkeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut, sehingga dapat diketahui laba yang diperoleh perusahaan dalam jangka waktu satu tahun. Pada prinsipnya, perhitungan laba rugi memperlihatkan alur kas masuk dan aliran kas keluar. Adapun komponen perhitungan laba rugi meliputi pendapatan dan pengeluaran atau biaya baik itu dalam golongan biaya variable ataupun golongan biaya tetap.
3
KERAGAAN PERUSAHAAN
3.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
Koperasi Unit Desa (KUD) Makmur merupakan usaha bisnis yang bergerak di bidang peternakan sapi perah dan usaha listrik di Salabintana, Kabupaten Sukabumi. Usaha sapi perah dan pembayaran listrik belum ada pada saat awal KUD Makmur berdiri. Awalnya KUD Makmur mempunyai tiga unit usaha yakni pengadaan pangan (beras), Sarana Produksi Pertanian dan Simpan Pinjam. Pembentukan KUD Makmur pada tanggal 28 Pebruari 1973 yang ditandatangani oleh lima wakil anggota dan telah terdaftar di Kantor Wilyah Departemen Koperasi Propinsi Jawa Barat.
Gagasan dari ibu-ibu PKK tersebut ditolak oleh pemerintah karena telah berdiri KUD Makmur di sekitar lokasi tersebut. Perkumpulan arisan ibu-ibu PKK akhirnya memutuskan untuk bergabung menjadi anggota KUD Makmur. Bergabungnya ibu-ibu PKK membuat usaha bisnis KUD Makmur mulai bangkit lagi dengan dibentuk kepengurusan dan manajemen yang baru. Kepengurusan yang baru berhasil menambah unit usaha KUD Mamur yakni dengan adanya unit usaha sapi pada tahun 1979 dengan pemberian 100 ekor sapi jenis FH dan modal kerja sebesar Rp 80.000.000 melalui BANPRES untuk dikreditkan kepada anggota KUD Makmur. Perkembangan KUD Makmur terus meningkat hingga tahun 2000, namun memasuki tahun 2009 satu per satu unit usaha KUD terhenti hingga kini hanya menyisahkan unit usaha sapi perah dan unit usaha pelayanan listrik.
Pada tahun 2013 KUD Makmur mengalami penurunan. Banyak anggota koperasi yang memutuskan untuk keluar dari koperasi, hal tersebut berdampak terhadap produksi susu yang dihasilkan. Produksi susu mengalami penurunan, sehingga berdampak terhadap penerimaan yang diperoleh KUD Makmur.
Banyak faktor yang mempengaruhi anggota keluar dari koperasi, diantaranya karena adanya kebijakan baru yang di tetapkan oleh pemerintahan kabupaten Sukabumi tentang pengaturan ulang tata letak ruang di Sukabumi. Salabintana yang awalnya merupakan wilayah peternakan sapi, berubah menjadi kawasan wisata.
Faktor lain yang mempengaruhi banyak anggota yang keluar yaitu adanya kolektor susu sapi di kawasan salabintana. Banyak peternak yang lebih memilih menjual susu ke kolektor dari pada ke koperasi. Kolektor menawarkan harga yang lebih tinggi di bandingkan harga yang ditetapkan koperasi, sehingga banyak peternak yang memutuskan untuk keluar dari koperasi. Harga beli susu yang ditawarkan oleh kolektor kepada peternak sebesar Rp. 5.000, sedangkan harga beli susu KUD Makmur Rp. 3.300.
Tabel 2 Jumlah Produksi Susu KUD Makmur
Tahun Jumlah susu (liter)
2011 1.102.528
2012 861.531
2013 535.202
Tabel 2 menunjukkan bahwa produksi susu dari tahun 2011 sampai tahun 2013 mengalami penurunan. Produksi susu yang menurun berdampak terhadap penerimaan yang diterima koperasi juga mengalami penurunan.
3.2. Aspek Organisasi dan Manajemen Perusahaan
Rapat Anggota
PENGURUS
Unit Bisnis : PELAYANAN LISTRIK MANAJER
Unit Bisnis SAPI PERAH
Anggota
telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.
Aspek organisasi dan sistem manajemen koperasi sudah diatur pada Anggaran Dasar koperasi. Struktur organisasi pada koperasi harus sesuai dengan landasan yang telah ditentukan oleh pemerintah, adapun landasan pembuatan struktur organisasai sebagai berikut:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
2. Anggaran Dana dan Anggaran Rumah Tangga Koperasi. 3. Keputusan Rapat
Organisaisi koperasi yang telah terbentuk memerlukan pelaksanaan manajemen koperasi diantaranya mengenai Bagan Struktur Organisasi yang relevan, perangkat dan fungsi organisasi koperasi.Bagan Struktur Organisasi Koperasi menggambarkan susunan, isi dan luas cakupan organisasi koperasi, serta menjelaskan posisi dari pada fungsi beserta tugas maupun kewajiban setiap fungsi, hubungan kerja dan tanggung jawab yang jelas. Struktur organisasi di KUD Makmur dapat dilihat pada Gambar 1
3.2.1 RAT
Sistem pengorganisasian pada koperasi di tetapkan ketika RAT, sehingga terbentuklah pengurus dan pengawas. Pengawas dan pengurus Koperasi dipilih dari dan oleh anggota dalam Rapat Anggota. Pengurus akan mengangkat pihak yang berkompeten di bidang manajemen di unit usaha yang dijalankan menjadi manajer unit usaha
Anggota memiliki kekuasaan tertinggi dalam koperasi, yang tercermin dalam forum Rapat Anggota, sering kali secara teknis disebut RAT (Rapat Anggota Tahunan). Fungsi Rapat Anggota adalah :
1. Menetapkan Anggaran Dasar/ART.
2. Menetapkan Kebijaksanaan Umum di bidang organisasi, manajemen dan usaha koperasi.
3. Menyelenggarakan pemilihan, pengangkatan, pemberhentian, pengurus dan atau pengawas.
4. Menetapkan Rencana Kerja, Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi serta pengesahan Laporan Keuangan.
5. Mengesahkan Laporan Pertanggung-jawaban Pengurus dan Pengawas dalam melaksanakan tugasnya.
6. Menentukan pembagian Sisa Hasil Usaha.
7. Menetapkan keputusan penggabungan, peleburan, dana pembubaran Koperasi.
3.2.2 Pengurus
Pengurus koperasi dipilih dari dan oleh anggota dalam Rapat Anggota. Pemilihan pengurus dilaksanakan secara demokratis dan tata cara pemilihannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART). Susunan pengurus di KUD Makmur terdiri dari Ketua, seketaris, dan bendara. Ketua pengurus di KUD makmur adalah Bapak H. Unang Sudarma, SH, bapak Devi sebagai seketaris, dan Ibu Ida Masadah sebagai bendahara. Pengurus memperoleh wewenang dan kekuasaan dari hasil keputusan RAT Pengurus berkewajiban melaksanakan seluruh keputusan RAT guna memberikan manfaat kepada anggota koperasi. Pengurus merumuskan berbagai kebijaksanaan yang harus dilakukan pengelola (Tim Manajemen) dan menjalankan tugas-tugasnya.
3.2.3 Manajer
memberikan pelayanan usaha kepada anggota, membuat studi kelayakan usaha koperasi, dan membuat laporan perkembangan usaha koperasi. Hasil yang telah dikerjakan oleh manajer dilaporkan kepada pengurus untuk di pertanggung jawabkan di RAT. Manajer KUD Makmur yaitu Bapak H. Risdianto Hermawan 3.2.4 Unit Bisnis
KUD Makmur memiliki dua unit bisnis, yaitu unit bisnis pembayaran listrik dan unit bisnis sapi perah. Unit bisnis merupakan wadah koperasi untuk memberikan pelayanan kepada para anggota. Koperasi memberikan pelayanan untuk kemudahan para anggotanya, terutama di bidang peternakan sapi perah.
3.2.4.1 Unit Bisnis Pembayaran Listrik
Unit Pelayanan Listrik KUD Makmur melayani 7000 nomor rekening listrik yang ada di desa Sudajaya Girang. KUD Makmur bekerjasama dengan PT.Raharja dalam pelayanan listrik ini. Setiap satu nomor rekening yang dilayani KUD Makmur mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1000. Pelayanan listrik di KUD Makmur menggunakan sistem on line, selain pembayaran listrik KUD Makmur juga melayani penjualan pulsa handphone, pulsa token listrik, pembayaran tagihan air PDAM, pembayaran tv berbayar, dan pengiriman uang melalui western union.
3.2.4.2 Unit Bisnis Sapi Perah
a. Pengepulan Susu
Kegiatan pengepulan susu merupakan kegiatan mengumpulkan susu dari peternak ke KUD Makmur. Pengepulan dilakukan dua kali sehari yakni pagi dari pukul 07.30-10.30 dan sore hari dari pukul 16.00-17.30. Total ada 40 peternak yang mengumpulkan susu sapi hasil perahan ke KUD Makmur. Pada saat mengumpulkan susu, peternak ada yang mengantarkan langsung ke KUD Makmur dan ada juga yang dijemput oleh karyawan KUD Makmur dengan menggunakan mobil pick up.
Karyawan yang melakukan proses pengepulan susu ada lima orang. Tiga
orang bertugas mengumpulkan susu menggunakan mobil pick up dan dua orang
menunggu di KUD Makmur. Pengambilan susu menggunakan mobil pick up dilakukan untuk peternak yang berada di lokasi yang cukup jauh dan volume susu cukup banyak, yakni di daerah Ledeng dan Goal Para. Peternak lainnya yang lokasi tidak jauh dari KUD Makmur maka akan membawa sendiri susu hasil perahan ke KUD Makmur dan akan dilayani oleh dua orang yakni Bapak Budi dan Bapak Aep.
pengepulan hingga siap didistribusikan ke IPS bisa menghabiskan waktu hinga 2-3 hari. Hal ini sangat memprihatinkan di KUD Makmur karena baiknya susu dikirim dalam waktu 1 hari proses pengepulan, tapi karena jumlah peternak yang semakin berkurang dan berimbas kepada produksi susu yang menurun maka pendistibusian menjadi lama.
b. Pengetesan
Susu yang telah terkumpul dari peternak sebelum diukur volumenya maka akan dilakukan pengetesan terlebih dahulu. Pengetesan dilakukan untuk memastikan semua susu yang dikumpulkan di KUD Makmur memiliki kualitas yang layak untuk dijual ke IPS. KUD Makmur melakukan pengetesan susu menggunakan alat lactoscan. Alat ini akan mengetes kadar lemak (fat), kepadatan (solid), protein, berat jenis, serta kadar air yang terkandung di dalam susu. Namun dalam prakteknya kadar yang dilihat hanya total dari lemak dan kepadatan atau disebut TS.
Kadar TS dikatakan layak jika angkanya minimal 10 dan maksimal 13. Angka dibawah 10 dan diatas 13 maka dicurigai susu tersebut tidak murni dan akan langsung ditolak oleh KUD Makmur. Selain itu KUD Makmur juga mengetes susu yang masih layak konsumsi atau tidak dengan menggunakan alat yang disebut Gun. Alat tersebut diisi dengan alkohol lalu susu juga dimasukkan ke alat tersebut, jika susu yang keluar di kaca yang terdapat di alat tersebut tidak menempel di kaca maka susu masih layak konsumsi.
c. Pendinginan
Pendinginan adalah proses penurunan suhu susu sapi segar bertujuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri agar susu dapat bertahan lama. Susu yang telah terkumpul dan telah lulus uji dengan lactoscan maka akan langsung dimasukkan ke alat pendingin (cooling unit). Umumnya susu yang telah didinginkan dapat bertahan hingga lebih dari tiga hari dengan suhu 4oC. Susu yang telah terkumpul dari peternak dan telah memenuhi standar kualitas akan
langsung dimasukkan ke alat pendingin (cooling unit). KUD Makmur dalam
melakukan pendinginan mempunyai 2 alat pendingin dengan kapasitas masing-masing 5000 liter.
d. Distribusi
e. Pemeriksaan Kesehatan
Salah satu kendala yang menghambat peningkatan produksi susu yang masih sering dijumpai di peternakan adalah penyakit, yang akan menimbulkan kerugian ekonomis yang tidak sedikit yaitu yang secara tidak langsung akan menurunkan produksi dan kualitas susu. Oleh karena itu, tindakan yang paling tepat adalah pencegahan penyakit dan penanggulangan secara dini. Kesehatan sapi ditinjau langsung oleh pemilik sapi. KUD makmur juga turut memfasilitasi pemeriksaan sapi yang sakit dengan membawa dokter hewan dari Dinas Peternakan. Penanganan sapi yang dilakukan antara lain pemberian obat cacing dan vitamin setiap 1 bulan sekali. Berdasarkan informasi dari Dinas Peternakan Sukabumi, ada beberapa penyakit yang biasa dijumpai pada sapi perah, diantaranya :
1. Diare pada Pedet (Calf Scours)
Merupakan gangguan pencernaan makanan yang ditandai dengan pengeluaran kotoran yang jumlah dan frekuensinya melebihi batas normal serta konsistensinya cair, kotoran keluar dari hewan tanpa mengalami kesulitan, karena pada diare terdapat peningkatan perisaltik usus dan tidak adanya hambatan saluran pencernaan.
2. Radang Paru-Paru (Pneumonia)
Penyakit radang paru-paru bisa menyebabkan kematian pada anak sapi berumur 3-8 minggu. Faktor-faktor pengelolaan peternakan dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap terjadinya radang paru-paru pada suatu peternakan.
3. Mastitis
Merupakan radang kelenjar susu atau radang ambing yang ditandai dengan perubahan fisik dan susunan air susu. Perubahan fisik maupun susunan air susu tersebut meliputi warna, bau, rasa dan konsistensi. dalam alat kelamin betina. Sistem perkawinan yang dilakukan oleh kelompok ini ialah sistem perkawinan buatan yang sering dikenal dengan Inseminasi Buatan (IB). Melalui IB, sapi menunjukkan gejala-gejala birahi dan mencocokkan data yang ada dalam satu siklus. Manfaat dari IB yaitu seekor jantan dapat melayani 5000-10.000 ekor sapi betina per tahun dan memperoleh keuntungan lain yaitu keturunan lebih baik dari induknya.
berlangsung 6-36 jam dengan rata-rata 18 jam untuk sapi betina dewasa dan 15 jam untuk sapi dara. Tanda-tanda birahi yang umum pada sapi perah ialah :
1. Pada umumnya sapi betina yang birahi akan menaiki sapi betina lainnya. 2. Sapi gelisah dan berjalan kesana kemari.
3. Keluar cairan yang kental, jernih dan berkaca-kaca keluar dari alat kelaminnya.
4. Kemaluannya berwarna merah, bengkak dan hangat.
Program inseminasi dianggap berhasil apabila jumlah inseminasi untuk setiap kebuntingan yang terjadi kurang dari dua (maksimal dua kali inseminasi untuk setiap kebuntingan atau Service (S) per Conception (C) atau S/C=1,5.
Sapi perah dara yang sudah siap dikawinkan setelah mencapai umur 15-18 bulan dengan berat rata-rata 300 kg. Sedangkan untuk sapi laktasi dikawinkan kembali dua bulan setelah melahirkan. Pada KUD Makmur, sistem perkawinan IB dilakukan oleh seorang dokter hewan yang didatangkan dari dinas peternakan Kabupaten Sukabumi2.
3.2.5 Anggota
Anggota koperasi adalah pemilik dan sekaligus pengguna jasa dalam koperasi. Keangotaan pada koperasi tidak dapat dipindah tangankan kepada oranglain, kecuali diteruskan oleh ahli warisnya apabila meninggal dunia. Sekarang ini jumlah Anggota dalam Koperasi Makmur yang aktif adalah 40 orang. Pada tahun 2011 jumlah anggota KUD Makmur berjumlah 2.168 orang dengan jumlah anggota yang aktif 112 orang dan jumlah anggota yang dilayani 2.056 orang yang tersebar di 5 desa di kecamatan Sukabumi. Pada tahun 2012-2013 banyak anggota yang memutuskan keluar dari KUD Makmur.
3.3. Aspek Sumberdaya Perusahaan 3.3.1 Karyawan
Karyawan dalam koperasi merupakan tanggungjawab pihak manajer. Manajer yang menentukan jumlah karyawan yang akan direkrut di koperasi. Kriteria perekrutan dan pemberian gaji juga ditentukan oleh manajer, yang terlah disetujui oleh pengurus koperasi.
Manajer memiliki wewenang kepada para karyawan. Semua kegiatan karyawan dibuat, diatur, dan dievaluasi oleh manajer. Karyawan akan membantu manajer dalam menjalankan unit bisnis pada koperasi. KUD Makmur memiiki 4 orang karyawan tetap. Karyawan tersebut di bagi menjadi dua tim, yaitu tim lapangan dan tim cooling. Tim lapangan di bagi menjadi dua, yaitu Bapak Yusuf bertugas mengambil susu di lapangan dan Bapak Agus bertugas mengirim susu ke pabrik (IPS). Sedangkan untuk tim cooling yaitu Bapak Budi dan Bapak Aep
bertugas menerima susu di koperasi, melakukan pencacatanan transaksi, melakukan uji kualitas susu, serta melakukan kontrol cooling.
3.3.2 Pemilikan Peralatan
Koperasi memiliki peralatan yang digunakan untuk mendukung berjalannya unit usaha yang ada dikoperasi. Unit usaha memiliki peralatan yang berbeda-beda.
1. Peralatan diunit Usaha susu
Usaha susu yang ada dikoperasi ini memiliki kegiatan menngumpulkan susu dari setiap anggota koperasi yang merupakan peternak sapi. Unit usaha ini menerima susu 2 kali dalam sehari yaitu sore hari. Peralatan yang dimiliki oleh unit usaha ini adalah:
2. Peralatan diunit Usaha Pembayaran listrik
Unit usaha pembayaran listrik memiliki ruangan dan peralatan yang berbeda dengan unitusaha susu. Peralatan yan dimiliki yaitu :
a) Komputer
3. Peralatan yang ada di kantor koperasi
ini dapat meningkatkan kekompakan para anggota dan karyawan. Koperasi juga menyediakan dispenser agar karyawan dapat minum.
3.3.3 Aspek Permodalan
Permodalah merupakan salah satu aspek penting dalam menjalankan koperasi untuk mendukung jalannya kegiatan seperti peningkatan volume produksi, penambahan alat dat mesin penunjang produksi, serta perkembangan usaha.
Modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, cadangan, hibah, dan donasi. Sedangkan modal pinjaman KUD Makmur berasal dari anggota, koperasi sekunder, dan bank.
Setiap anggota harus menyimpan atas namanya pada koperasi, simpanan pokok sebesar Rp. 2.500. uang simpanan pokok harus dibayar sekaligus, akan tetapi pengurus dapat mengijinkan anggota untuk membayar dalam waktu selamanya dengan dua kali angsuran. Anggota juga harus menyimpan pada koperasi berupa simpanan wajib dan simpanan lainnya yang besarnya telah ditetapkan dalam Rapat Anggota.
Uang simpanan pokok dan simpanan wajib tidak dapat diminta kembali oleh anggota selama masih menjadi anggota koperasi. Namun uang simpanan dalam bentuk atau jenis lainnya selain simpanan pokok dan simpanan wajib dapat diminta kembali oleh anggota selama masih menjadi anggota. Sesuai dengan persyaratandan tata caranya yang diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART)
3.3 Unit Bisnis
3.4.1 Pengadaan Bahan Baku/Input dan Peralatan
Bahan baku utama di koperasi adalah susu sapi. Susu sapi berasal dari setoran para anggota koperasi. Susu yang disetor kemudian di simpan di cooling. Sedangkan peralatan yang ada di koperasi rata-rata berasal dari bantuan pemerintah.
3.4.2 Teknis dan Teknologi Produksi
Kegiatan produksi di unit bisnis susu sapi KUD makmur yaitu meliputi kegiatan pengepulan susu, test kualitas susu, dan kontrol cooling. Susu yang disetor di KUD Makmur di simpan pada cooling. KUD makmur memiliki dua cooling, cooling dengan kapasitas 5 ton dan cooling dengan kapasitas 2,5 ton.
padat non fat (SNF), laktosa, tambahan air, suhu, titik beku, pH, zat padat, konduktivitas, dan densitas dari sampel susu.
Urutan Standart operasional sprosedur untuk kegiatan pengepulan susu yang telah ditentukan oleh pihak manajemen adalah sebagai berikut:
1. Karyawan menggunakan pakaian yang bersih dan menggunakan sepatu boats.
2. Membersihkan ruangan cooling, laboratorium, dan mesin lactoscan 3. Cek kondisi susu yang ada di cooling dan uji kualitas susu
menggunakan lactoscan. Kemudian catat hasilnya.
4. Sebelum menerima susu dari peternak, uji kualitas susu menggunakan lactoscan. Jika hasilnya memenuhi standart koperasi, susu ditakar untuk mengetahui volumenya. Kemudian masukkan susu ke dalam cooling. Untuk susu yang tidak sesuai standart maka susu tersebut dikembalikan ke peternak.
5. Lakukan kegiatan pencatatan.
3.4.3 Pemasaran
Unit bisnis sapi perah yang dipasarkan oleh KUD Makmur adalah susu sapi hasil dari peternak. Setelah susu dikepul oleh pihak koperasi, susu tersebut di kirim ke pabrik (IPS).
a. Product
Product yang dipasaran di KUD Makmur adalah susu sapi. Kualitas susu sapi yang akan dipasarkan harus memiliki kualitas yang baik, sesuai dengan standart yang diberikan oleh pabrik. Uji kualitas susu di koperasi menggunakan lactoscan, untuk mengetahui kadar lemak, protein padat non fat (SNF), laktosa, tambahan air, suhu, titik beku, pH, zat padat, konduktivitas, dan densitas susu. Kualitas TS susu harus lebih dari 10%, pH yang terkandung pada susu harus normal, serta dalam susu tidak boleh ada kandungan antibiotik. KUD Makmur sering mengalami penolakan dalam pemasokan susu di pabrik, karena kualitas susu KUD Makmur di bawah standart yang ditetapkan oleh pabrik.
Brand name dari produk susu ini atas nama koperasi, yaitu susu KUD Makmur. Pengiriman susu menggunakan mobil tangki dengan kapasitas 5 ton. Kegiatan pengiriman dilakukan apabila susu yang terdapat di cooling sudah mencapai volume lebih dari 3 ton. Dalam satu minggu koperasi dapat melakukan pengiriman susu sebanyak 2- 3 kali. Rantai pemasaran susu sapi di KUD Makmur berawal dari petani, dikepul oleh pihak koperasi, dan di setor ke pabrik (IPS) oleh koperasi.
b. Price
Harga jual susu ditentukan oleh pihak pabrik. Penentuan Harga susu berdasarkan kualitas susu. Jika kualitas susu baik maka harga susu tinggi. Rata-rata harga jual susu Rp. 4.000/ liter. Pembayaran susu di pabrik dilakukan dengan mentransfer ke rekening koperasi sekunder (GKSI). Pihak GKSI yang akan mentransfer ke KUD Makmur.
Konsumen dari produk susu koperasi adalah pabrik. Koperasi sebagai pemasok bahan baku pada pabrik. Lokasi pabrik cukup jauh dri koperasi, sehingga dibutuhkan media pengantar. Media pengantar susu ke pabrik menggunakan mobil tangki khusus susu, dengan media tersebut kualitas susu selama dalam perjalanan tidak akan menurun. Sistem pengiriman susu yaitu pihak koperasi yang melakukan pengiriman, sehingga biaya transportasi ditanggung oleh pihak koperasi.
d. Promotion
Kegiatan promosi di KUD Makmur dilakukan oleh pihak koperasi sekunder (GKSI). KUD Makmur merupakan koperasi primer yang menjadi anggota di koperasi sekunder (GKSI). GKSI yang bertanggung jawab untuk mengurus pemasaran KUD Makmur, baik dalam pengurusan kontrak kerjasama maupun masalah administrasi dalam hal pemasaran susu. Biaya promosi ataupun biaya administrasi kontrak kerjasama dengan pabrik ditanggung oleh pihak GKSI. KUD Makmur mengirim susu ke beberapa pabrik, yaitu pabrik Garudafood, Indolacto, Isam( industri susu alami), dan Danone. Danone adalah pabrik bagian dari isam, hanya saja Danone memproduksi produk yang berbeda.
4
KAJIAN PENGEMBANGAN BISNIS
4.1. Rumusan Ide Pengembangan Bisnis
Hasil Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa KUD Makmur memiliki unit bisnis yang utama yaitu bisnis Sapi perah. Kegiatan dalam unit bisnis ini mengumpulkan susu sapi dari peternak dan mendistribuskannya ke Industri Pengolah Susu (IPS). Kegiatan pendistribusian susu ini tidak selalu diterima IPS, terkadang IPS melakukan penolakan susu dan susu yang ditolak dibuang oleh KUD Makmur. Berdasarkan hal tersebut, hasil analisis faktor lingkungan internal dan eksternal yang telah dilakukan menghasilkan alternatif strategi W-O. Alternatif strategi ini merupakan strategi yang dilakukan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal3.
Kelemahan internal yang terdapat di KUD Makmur yaitu susu yang disetor ke IPS (Industri Pengolah Susu) terkadang ditolak oleh IPS tersebut. Penolakan ini membuat susu yang memiliki sifat mudah rusak menjadi rusak dan dibuang oleh koperasi. Pembuangan susu yang rusak ini membuat KUD Makmur mengalami penurunan pendapatan. Jika dilihat dari wilayah KUD Makmur ini, KUD ini merupakan wilayah yang sering dikunjungi oleh para wisatawan. Wilayah KUD ini merupakan salah satu peluang yang dapat digunakan untuk memperbaiki kelemahan dengan menggunakan peluang yang ada. Strategi W-O
tersebut merupakan alternatif strategi yang paling memungkinkan dijalankan dalam mengatasi permasalahan di KUD Makmur ialah mendirikan unit bisnis baru kerupuk susu. Pengembangan kerupuk susu ini dilakukan untuk memanfaatkan susu segar yang berjumlah rata-rata 500 liter per hari. Susu yang ada di KUD Makmur jika mengalami penolakan, susunya dapat diolah menjadi kerupuk susu sehingga koperasi tidak harus membuang susu akibat susu rusak. Pengolahan Susu menjadi kerupuk susu ini diharapkan menambah keuntungan KUD Makmur. Rumusan de pengembangan bisnis kerupuk susu ini dapat dilihat pada Gambar 2.
gambar 2 Rumusan Ide Pengembangan Bisnis PERMASALAHAN :
Produk susu segar yang bersifat tidak tahan lama.
Kualitas susu yang tidak memenuhi standar IPS sehingga sering ditolak. Terjadinya pembuangan susu akibat susu yang rusak.
Kekuatan :
Tersedianya lahan yang tidak dipergunakan.
Peluang
Tersedianya Tenga Kerja di masyarakat Kawasan Salabintana merupakan kawasan wisata
Identifikasi Faktor Lingkungan
Pengolahan Susu Sapi Sebagai Bahan Baku Utama Kerupuk Susu
Layak Tidak Layak
Melakukan Perbaikan Pelaksanaan Pengembangan Bisnis Pengolahan Kerupuk
Susu
4.2 Deskripsi Unit Bisnis
Pengolahan kerupuk susu merupakan pengembangan unit bisnis usaha baru yang menangani secara khusus pembuatan kerupuk susu. Tujuan didirikannya unit bisnis ini adalah untuk mengatasi pembuangan susu yang disebabkan susu rusak dan tidak layak konsumsi. Unit bisnis ini juga dapat meningkatkan pendapatan koperasi karena nilai jual yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai jual susu segar. Susu yang diolah menjadi kerupuk memiliki daya tahan yang lebih lama dibandingkan dengan susu segar biasa.
Unit bisnis yang akan dibahas dalam Kajian Pengembangan Bisnis ini adalah pengolahan susu sapi menjadi kerupuk susu. Aspek-aspek yang akan dijabarkan dalam deskripsi unit bisnis diantaranya adalah produk yang dihasilkan, proses produksi, pelanggan dan pemasaran kerupuk susu.
4.2.1 Deskripsi Produk
Produk adalah pemahaman subjektif dari produsen yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar atau dapat didefenisiskan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen melalui hasil produknya meliputi konsep produk total berupa barang, kemasan, merek, label, layanan, dan jaminan (Arthur Arif, 2005).
Kerupuk merupakan produk makanan kering yang dibuat dari tepung tapioka atau sagu dengan penambahan bahan makanan dan bahan tambahan lain yang diizinkan, serta disiapkan dengan cara di goreng atau dipanggang sebelum disajikan. Kerupuk biasanya dikonsumsi bukan sebagai makanan utama melainkan sebagai makanan selingan ataupun sebagai lauk-pauk yang umumnya dikonsumsi dalam jumlah sedikit.
Kerupuk susu ini dibuat dari gumpalan susu yang dicampur dan diaduk dengan tepung tapioka, lalu dikukus kemudian dipotong-potong dan dijemur untuk menghasilkan kerupuk dengan rasa gurih. Setelah mengalami penjemuran dilakukan penggorengan lalu pengemasan.
Pengemasan memegang peranan penting dalam pengawetan bahan pangan, karena pengemasan berfungsi untuk mencengah pencemaran. Pengemasan berfungsi untuk mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi dari pencemaran dan gangguan fisik, memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan, dan pendistribusian serta berfungsi sebagai daya tarik bagi konsumen4. Kemasan yang digunakan yaitu plastic PP ukuran setengah liter dengan tebal 0,8 cm dan ditutup dengan menggunakan vacum sealer. Setiap kemasan produk kerupuk susu memiliki berat 150 gr.
Sesuai dengan spesifikasi keamanan pangan dan standar kualitas yang ditetapkan. Produk kerupuk susu pada kemasannya terdapat label halal MUI. Usaha kerupuk susu ini juga menyedikan layanan konsumen sebagai respon KUD terhadap keluhan konsumen pada produk kerupuk susu. Produk kerupuk susu ini
memiliki nomor telepon yang dapat dihubungin bila ada keluhan dapat melalui telepon dan sms di nomor 08991415711. Layanan konsumen dijadikan sebagai salah satu fasilitas KUD kepada konsumen untuk dapat mendengarkan keinginan konsumen.Usaha ini memiliki komitmen yang baik terhadap kualitas produk sehingga keluhan konsumen terhadap produk kerupuk susu dapat disampaikan melalui layanan telepon dan kemudian akan ditindaklanjuti jika keluhan konsumen sangat penting bagi peningkatan kualitas produk. Produk yang dapat dihasilkan 793 kemasan sekali produksi karena kapasitas mesin yang digunakan hanya mampu memproduksi 60 kg perjam. Produk kerupuk susu ini juga mencantumkan tanggal kadaluarsa pada kemasannya. Pencantuman tanggal ini bertujuan untuk menjamin produk ini layak dikonsumsi sebelum tanggal yang dicantumkan.
4.2.2 Deskripsi Proses Produksi
Proses Produksi adalah kegiatan mengolah barang atau bahan mentah menjadi barang jadi. Dengan adanya proses produksi akan membuat produk memiliki nilai guna lebih dari sebelumnya. Proses Produksi yang sesuai dengan prosedur akan menghasilkan produk yang berkualitas dengan memperhatikan tempat proses produksi yang bersih dan bebas kuman.
Berdasarkan proses produksi dikenal adanya 3 jenis proses yaitu proses produksi yang terputus-putus (intermiten), Kontinu, dan kombinasi. Sistem yang kontinu akan lebih mampu menekan risiko kerugian akibat fluktuasi harga dan efektivitas tenaga kerja yang lebih baik dibandingkan dengan sistem terputus5. Kegiatan proses produksi kerupuk susu menggunakan pola produksi kontinu.
Proses produksi merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam membuat suatu produk. Bahan baku yang diperlukan dalam pengembangan bisnis ini adalah bahan baku pokok dan bahan baku tambahan. Bahan baku pokok nya yaitu susu murni. Bahan baku tambahannya yaitu tepung tapioka, air, bumbu-bumbu, bahan pengembang serta bahan penunjang lainnya. Proses Produksi yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 3.
Susu Murni Di Beri Cuka
Pendinginan
Susu padatan (susu gumpalan) Penyaringan
gambar 3 Alur Produksi Susu Gumpalan
Bahan Baku Utama “ susu yang menggumpal ”
Pencetakan
Pengemasan
Bawang merah dan bawang putih (10%)
Kerupuk susu
Diblender hingga halus Di aduk (pencampuran)
Adonan Kerupuk susu
Bumbu halus
Kerupuk susu kering Tepung tapioka
Kuning Telur
Pengeringan Pendinginan Pengkukusan (± 1 jam)
Penggorengan Pengirisan
Kerupuk susu siap konsumsi
Minyak Penggorengan Minyak Goreng
Susu Murni
Garam + Gula
Gambar 4 menunjukkan proses produksi kerupuk susu hingga menjadi kerupuk susu yang siap untuk dikonsumsi. Adonan kerupuk susu ini dihasilkan
dari pencampuran susu gumpalan, kuning telur, tepung tapioka, susu murni, bumbu halusan, gula dan garam. Pencampuran dilakukan dengan menggunakan mixer agar semua campuran tercampur merata. Adonan selanjutnya di cetak membentuk bulatan panjang dengan cetakan untuk dikukus. Hasil adonan dikukus kira-kira kurang lebih 30 menit sampai matang sampai adonan berubah warna. Setelah matang diangkat dan didinginkan dengan bantuan lemari pendingin selama 1 jam. Adonan yang telah dingin selanjutnya diiris tipis-tipis dengan menggunakan sugu (serutan) untuk memudahkan pengirisan, adonan dicelupkan terlebih dahulu kedalam air dingin agar tidak retak ketika diiris. Pisau yang digunakan untuk pengirisan perlu diolesi dengan minyak goreng sebelum dipakai. Irisan-irisan yang telah diperoleh tersebut disusun diatas loyang oven. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven karena melihat keadaan cuaca di salabintana sukabumi yang lembab dan dingin. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan bantuan sinar matahari selama lebih kurang 1 hari. Irisan dikeringkan dalam oven sampai kadar airnya kurang lebih mencapai 12 %. Irisan yang telah kering memiliki ciri-ciri seperti mudah patah, kering, bobot ringan. Kerupuk susu kering yang telah dihasilkan selanjutnya digoreng. Penggorengan ini dilakukan dengan menggunakan minyak yang belum pernah digunakan untuk menghasilkan kerupuk yang gurih. Kerupuk susu yang telah digoreng ditiriskan agar kandungan minyak dapat berkurang, selanjutnya kerupuk susu dikemas dan menjadi kerupuk susu siap konsumsi.
1. Alur Proses Produksi.
Proses pembuatan kerupuk susu ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, setiap orang memiliki metode masing-masing dalam melakukannya. Pembuatan produk susu ini memiliki beberapa tahapan yang dilewati secara umum yaitu proses pembuatan adonan, pencetakan, pengukusan, pengeringan, penggorengan dan pengemasan.
a. Pembuatan Adonan
Tahap pembuatan adonan ini adalah tahap pertama yang penting dalam pembuatan kerupuk mentah. Pembuatan adonan ini terlebih dahulu melakukan pemecahan susu dengan menggunakan cuka agar menghasilkan padatan susu. Susu satu liter dapat menghasilkan padatan 7,5 % dari jumlah susu yang dipecahkan. KUD Makmur menggunakan bahan baku susu sebanyak 750 liter setiap satu kali produksi. Perbandingan kedua bahan utama susu yang telah digumpalkan dengan tepung tapioka adalah 1:1. Setelah adonan terbentuk, dicetak dengan menggunakan cetakan dan kemudian dikukus.
b. Pencetakan
Pencetakan adalah proses membentuk suatu adonan agar dengan mudah untuk melakukan proses produksi sesuai dengan kebutuhan. Pencetakan kerupuk susu ini menggunakan cetakan kecil berbentuk tabung panjang. Pencetakan ini bertujuan agar dengan mudah untuk melakukan pengirisan.
c. Pengukusan
(Noviani, 2011). Adonan kerupuk susu yang dikukus dikatakan cukup matang bila adonan tidak melekat pada lidi atau pisau yang ditusukkan pada adonan.
Proses pengukusan dapat menyebabkan perubahan jaringan bahan pangan sehingga air terikat dan komponen-komponen larut air akan diuapkan dari jaringan tersebut. Hal ini akan menyebabkan kadar air awal pada adonan sebelum dikeringkan menjadi rendah. Pengukusan kerupuk susu ini dilakukan selama kurang lebih 30 menit dengan menggunakan kukusan 2 unit. Setelah dikukus, adonan di diamkan selama 1 jam. Pendiaman ini bertujuan agar adonan tidak dalam kondisi panas ketika diiris dan adonan dapat lebih padat.
d. Pengirisan
Proses pengirisan ini bertujuan untuk mendapatkan ukuran kerupuk susu. Pengirisan ini dilakukan dengan menggunakan alat pengiris atau sugu. Sebelum melakukan pengirisan terlebih dahulu pisau diolesin oleh minyak goreng agar mempermudah proses pengirisan.
e. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan sebagian besar air melalui penggunaan energi panas. Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan artifical dryer (alat pengering) atau dengan sun Drying (penjemuran) yaitu pengeringan dengan menggunakan sinar matahari.
Pengeringan dengan mengunakan artifical dryer memiliki keuntungan dari pada sun drying. Keuntungannya yaitu dapat mengatur suhu dan aliran udara, sehingga waktu pengeringan dapat ditentukan dengan tepat dan kebersihannya dapat diawasi. Kerupuk susu dalam melakukan pengeringan menggunakan metode artifical dryer (alat pengering), penggunaan alat ini dikarenakan lokasi KUD yang berada disukabumi memiliki cuaca yang lembab dan berudara dingin. Cuaca ini tidak memungkinkan melakukan penjemuran dengan menggunakan sinar matahari karena akan menggunakan waktu yang lama.
f. Penggorengan
Menggoreng adalah suatu proses untuk memasak bahan pangan dengan
menggunakan lemak atau minyak pangan. Secara komersial bahan pangan yang
digoreng dengan menggunakan sistem deep frying. Pada proses penggorengan
dengan menggunakan deep frying, bahan pangan yang digoreng terendam dalam
minyak.( Noviani, 2011).
Minyak goreng selain berfungsi sebagai medium penghantar panas, dan menambah rasa gurih. Kecukupan suhu dan waktu penggorengan berbeda untuk setiap bahan, kondisi dan perlakuan (Noviani, 2011). Kerupuk yang telah dikeringakan digoreng agar mendapatkan kegurihan dan dapat dikonsumsi.
Penggorengan kerupuk susu ini menyisahkan minyak sebesar 70 % dari minyak yang dipakai, karena 30 % minyak terserap oleh kerupuk tersebut.
g. Pengemasan