BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Buah kelapa termasuk salah satu jenis tumbuhan yang cukup banyak ditemukan khususnya di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Jumlah buah kelapa yang di hasilkan Kota Samarinda pada tahun 2013 adalah 228 ton/tahun (Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, 2014). Salah satu bagian dari buah kelapa adalah serabut kelapa, dengan bobot serabut kelapa dalam setiap buah kelapa adalah 35% (Wildan, 2010), maka dapat diperkirakan jumlah serabut kelapa yang dihasilkan oleh Kota Samarinda pada tahun 2013 sekitar 218 kg/hari.
Berdasarkan data di atas, serabut kelapa yang jumlahnya cukup banyak hanya dimanfaatkan secara tradisional, contohnya, sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan, sebagai pengganti kayu bakar atau bahkan hanya menjadi limbah yang dibuang begitu saja. Limbah serabut kelapa merupakan bahan organik, jika ditumpuk akan mudah untuk terdegradasi dengan tanah dan mengalami pembusukan, sehingga menimbulkan bau tidak sedap di udara.
bioetanol yang diproses menggunakan metode fermentasi dengan bantuan jamur saccharomyses cerevisiae (ragi tape).
Bioetanol merupakan salah satu sumber energi alternatif pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM), sehingga dapat digunakan sebagai solusi untuk mengatasi krisis bahan bakar fosil khususnya di Indonesia. Penggunaan etanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan BBM yaitu, memiliki kandungan oksigen yang tinggi (35%) sehingga apabila dibakar akan menghasilkan buangan yang bersih dan lebih ramah lingkungan karena emisi gas karbon monoksida yang dihasilkan lebih rendah 19.25% dibandingkan dengan BBM sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon monoksida di atmosfer (Muryanto, 2012).
1.2 Rumusan Masalah
glukosa sebesar 17.4%, serta waktu fermentasi selama 7 hari dan didapatkan hasil terbaik berupa kadar etanol sebesar 0.01289%. Dalam penelitian Zely, variabel-variabel yang divariasikan yaitu, konsentrasi ragi tape dan waktu fermentasi. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan kondisi operasi optimum yaitu, ragi tape sebesar 15%, dengan waktu fermentasi selama 7 hari dan didapatkan hasil terbaik berupa kadar etanol sebesar 7.87%.
Penelitian yang dilakukan oleh Anggorowati dan Dewi masih memiliki kelemahan yaitu, kadar etanol yang sangat kecil dibandingkan kadar etanol yang didapatkan dalam penelitian Zely. Akan tetapi, kadar etanol dalam penelitian yang dilakukan oleh zely juga masih kecil dari kadar etanol yang sesuai standar.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dari kedua peneliti tersebut, maka dapat dilakukan perbaikan. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara memperbesar jumlah glukosa yang akan difermentasikan. Upaya yang akan dilakukan untuk memperbesar jumlah glukosa adalah dengan proses alkaline pretreatment. Alkaline pretreatment adalah proses penghilangan kandungan lignin
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi NaOH pada proses delignifikasi terhadap kadar etanol yang dihasilkan. Sasaran akhir dari penelitian ini adalah mendapatkan % kadar etanol yang lebih tinggi dari peneliti sebelumnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Serabut Kelapa
Biomassa berselulosa merupakan sumber daya alam yang berlimpah dan murah serta memiliki potensi untuk produksi komersial industri etanol atau butanol (Prahandana, dkk., 2007). Salah satu biomassa berselulosa adalah serabut kelapa (coco fiber) (Prahandana, dkk., 2007). Kandungan selulosa yang terdapat pada serabut kelapa ini dapat dimanfaatkan untuk memproduksi glukosa melalui proses hidrolisis, baik secara kimia maupun enzimatis (Fan et al., 1987).
Serabut kelapa merupakan bahan berserat dengan ketebalan sekitar 5 cm yang terdiri atas kulit ari, serat, dan sekam. Diantara ketiga komponen penyusun serabut kelapa ini penggunaan serat adalah yang paling banyak dan telah berkembang (Suhardiyono, 1988). Secara tradisional serabut kelapa hanya dimanfaatkan untuk bahan pembuat sapu, keset, tali dan alat-alat rumah tangga lain (Raharjo, 1999).
2.2Alkaline Pretreatment
dan lignin yang berfungsi sebagai pelindung selulosa (Fan et al., 1987).
Masalah tersebut dapat diatasi dengan pemberian perlakuan pendahuluan terhadap bahan yang akan dihidrolisis. Salah satu metode perlakuan pendahuluan secara kimia adalah perlakuan delignifikasi menggunakan NaOH. Delignfikasi dilakukan dengan larutan NaOH, karena larutan ini dapat menyerang dan merusak struktur lignin, bagian kristalin dan amorf, memisahkan sebagian lignin dan hemiselulosa serta menyebabkan penggembungan struktur selulosa (Sun and Cheng, 2002 in Cheng, 2009).
2.3 Jamur Tricoderma reesei dan Aspergillus niger
Jamur merupakan salah satu tumbuhan tingkat rendah yang tidak berklorofil, namun memiliki potensi bisnis cukup besar (Abdurrahman, 2006). Terdapat beberapa jamur yang aman dimakan manusia, contoh jamur yang biasa di makan yaitu, jamur tricoderma reesei dan jamur aspergilus niger (Kuhad and Singh, 2013) .
selulosa, zat pati, lignin, gum dan senyawa-senyawa organik yang mudah larut seperti protein dan gula (Tkacz and Lange, 2004).
Trichoderma reesei merupakan jamur berfilamen yang dapat
menghasilkan endoglukanase dan eksoglukanase sampai 80% tetapi β-glukosidasenya lebih rendah sehingga produk utama hidrolisisnya bukan glukosa melainkan selobiosa (Juhasz, et al., 2003).
Aspergillus niger adalah satu spesies yang paling umum dan mudah
diidentifikasi dari genus aspergillus. Aspergillus niger dapat tumbuh dengan cepat, dapat tumbuh pada suhu 35ºC-37ºC (optimum), 6ºC-8ºC (minimum), 45ºC-47ºC (maksimum) dan memerlukan oksigen yang cukup (Juhasz, et al., 2003).
Aspergillus niger memiliki bulu dasar berwarna putih atau kuning dengan
lapisan konidiospora tebal berwarna coklat gelap sampai hitam. Aspergillus niger merupakan salah satu jamur berfilamen yang dapat memproduksi enzim selulase. Enzim selulase diperoleh dari campuran enzim endoglukanase, eksoglukanase, dan β-glukosidase. Aspergillus niger menghasilkan β-glukosidase tinggi akan tetapi endo-β-1, 4- glukanase dan ekso-β-1,4 glukanasenya rendah (Juhasz, et al.,2003).
Ragi umunya digunakan dalam industri makanan dan minuman seperti roti, tempe, bir, dll. Mikroorganisme yang digunakan dalam ragi umumnya terdiri dari berbagai bakteri dan fungi (khamir dan kapang) (Mishra et al, 2003).
Khamir merupakan salah satu kelompok mikroorganisme yang banyak diteliti berkaitan dengan kemampuannya memfermentasikan gula, tetapi hanya satu spesies yang dikenal dapat mengkonversi gula menjadi etanol yang sangat tinggi yaitu saccaromyces cereviceae (Juhasz, et al.,2003). Jenis ini menghasilkan enzim zimase dan invertase. Fungsi enzim invertase adalah untuk memecah sukrosa ataupun polisakarida (pati) yang belum terhidrolisis untuk diubah menjadi monosakarida (glukosa). Sedangkan enzim zimase selanjutnya mengubah monosakarida menjadi etanol dengan proses fermentasi (Gandjar, dkk., 2006).
Saccharomyces cerevisiae berkembang biak dengan membelah diri
melalui “buildding cell”. Mikroorganisme ini dapat berkembang biak dengan baik di dalam gula sederhana seperti glukosa (Wilkinso and Schut, 1998). Reproduksinya dapat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan serta jumlah nutrisi yang tersedia bagi pertumbuhan sel serta mampu menggunakan sistem aerob maupun anaerob untuk memperoleh energi dari pemecahan glukosa (Juhasz, et al.,2003).
2.5 Sakarifikasi dan Fermentasi Simultan
adalah dapat dilakukan dengan menggunakan enzim yang sering disebut dengan enzymatic hydrolysis yaitu hidrolisis dengan menggunakan enzim jenis selulase atau jenis yang lain (Isci, 2008).
Hidrolisis enzimatik sering disebut sebagai proses sakarifikasi. Pada tahap sakarifikasi, selulosa diubah menjadi selobiosa dan selanjutnya menjadi gula-gula seperti glukosa. Kelebihan metode ini ialah waktu proses lebih pendek, dapat meningkatkan rendemen produk, mengurangi kebutuhan enzim serta meningkatkan kecepatan hidrolisis dengan konversi gula sehingga dapat mengurangi biaya produksi (Kamatam, 2007) .
Kecepatan hidrolisis dengan konversi gula dipengaruhi oleh enzim yang memiliki kemampuan mengaktifkan senyawa lain secara spesifik dan dapat meningkatkan kecepatan reaksi kimia (Fan et al, 1987).
Enzim yang digunakan untuk menghidrolisis selulosa dari serabut kelapa yaitu enzim selulase. Enzim selulase diperoleh dari campuran enzim endoglukanase, eksoglukanase dan β glukosidase. Selulase dapat dihasilkan oleh jamur, bakteri maupun tumbuhan. Jamur berfilamen seperti Trichoderma dan Aspergilus adalah penghasil enzim selulase (Zabel and Morell, 1992 dalam
Gandjar, dkk., 2006)
ini dilakukan dalam satu wadah yang sama dan kontinu. Sakarifikasi bertujuan memecah polisakarida menjadi monosakarida sehingga dapat langsung difermentasi oleh yeast (Kamatam, 2007).
Fermentasi akan merubah satu molekul glukosa menjadi etanol dan karbondioksida (Fessende, 1990 in Manahan, 1990). Keadaan lingkungan untuk fermentasi oleh saccharomyces cerevisiae adalah 25-300 oC dengan pH 4-5. Bahan-bahan yang mengandung monosakarida bisa langsung difermentasikan, akan tetapi disakarida, polisakarida harus disakarifikasikan terlebih dahulu menjadi komponen yang lebih sederhana. Oleh karena itu agar proses fermentasi berjalan optimal maka bahan-bahan harus mengalami perlakuan pendahuluan sebelum ke proses fermentasi (Fessende, 1990 in Manahan, 1990).
2.6 Substrat atau Medium
Substrat merupakan sumber nutrient utama bagi jamur. Nutrisi dan produk fermentasi juga perlu dikendalikan, sebab jika berlebih nutrisi dan produk metabolit hasil fermentasi tersebut dapat menyebabkan inhibisi dan represi. Pengendalian diperlukan karena pertumbuhan biomassa dalam suatu medium (substrat) fermentasi dipengaruhi banyak faktor baik ekstraselular maupun faktor intraselular. Faktor intraselular meliputi struktur, mekanisme, metabolisme, dan genetika. Sedangkan faktor ekstraselular meliputi kondisi lingkungan seperti pH, suhu, tekanan (Gandjar, dkk., 2006).
untuk pertumbuhan ragi, sedangkan larutan kedua adalah substrat yang umumnya berupa latutan glukosa dalam air. Nutrisi yang diperlukan dalam medium petumbuhan ragi antara lain unsur N, S, O, H, Mg, K, Ca (Bailey and Ollis, 1986 in Doran, 2013 )
Glukosa merupakan substrat utama, maka pertumbuhan biomassa sel saccharomycess cereviceae merupakan fungsi dari konsentrasi glukosa. Glukosa
disebut juga reducing sugar sehingga pemanfaatannya oleh saccharomycess cereviceae dilakukan dengan mengoksidasi glukosa yaitu dengan cara pemutusan
ikatan rangkap pada gugus karbonil glukosa. Hasil perombakan glukosa oleh sel adalah berupa CO2 dan H2O. Selain glukosa, ke dalam medium fermentasi juga ditambahkan zat-zat lain yang berfungsi sebagai sumber makronutrien dan mikronutrien serta growth factor (Flores et al., 2000 dalam Gandjar, dkk., 2006) 2.7 Bioetanol
Etanol merupakan kependekan dari etil-alkohol (C2H5OH), bentuknya berupa cairan tak berwarna dan mempunyai bau khas yang menusuk hidung, mudah menguap, larut dalam air dan eter serta mudah terbakar. Kebutuhan akan etanol semakin bertambah seiring dengan menipisnya persediaan bahan bakar minyak bumi (Prihandana, dkk., 2007).
Bioenergi berupa bioetanol, merupakan energi alternatif untuk menyelesaikan masalah ketersediaan bahan bakar yang yang saat ini masih tergantung pada bahan bakar minyak (BBM). Pengembangan bioetanol sebagai pengganti BBM memiliki beberapa keuntungan yaitu penggunaan bioetanol sebagai campuran premium (gasohol) menghasilkan emisi gas buangan yang lebih ramah lingkungan karena kandungan oksigennya dapat meningkatkan efisien pembakaran. Bioetanol juga mampu menaikan bilangan oktan dan mampu mengurangi penggunaan aditif bertimbel yang berbahaya terhadap lingkungan hidup (Prihandana, dkk., 2007)
2.8 DESTILASI
Destilasi adalah suatu proses penguapan dan pengembunan kembali, yang dimaksudkan untuk memisahkan campuran dua atau lebih zat cair ke dalam fraksi – fraksinya berdasarkan perbedaan titik didih. Pada umumnya, pemisahan hasil fermentasi glukosa/dektrosa menggunakan sistem uap-cairan, dan terdiri dari komponen – komponen tertentu yang mudah tercampur. Umumnya destilasi berlangsung pada tekanan atmosfer, contoh dalam hal ini adalah sistem alkohol-air, yang memiliki titik didih sebesar 78,60C pada tekanan 1 atm (Tjokroadikoesoemo, 1986).
Uap yang terbentuk dalam kolom dialirkan ke kondensor, setelah dingin akan mengkondensasi dan hasilnya terpisah dari residunya yang tertinggal dalam kolom. Uap hasil yang keluar dari pemanas selalu berada dalam keseimbangan dengan zat cair yang terdapat didalam pemanas, tetapi karena uap itu lebih kaya akan komponen yang lebih mudah menguap, komposisi uap maupun zat cair tersebut tidaklah konstan (Purwono, 2005).
2.9Gas Chromatography (GC)
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, di mana komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan di antara dua fase, salah satu fase tersebut adalah suatu lapisan stasioner dengan permukaan yang luas, yang lainnya sebagai fluida yang mengalir lembut di sepanjang landasan stasioner (Underwood, dkk., 1996)
Pada umumnya senyawa-senyawa organik seperti etanol dianalisis menggunakan metode Kromatografi, termasuk metode Kromatografi Gas ( Gas Chromatography / GC ). Prinsip dasar kromatografi adalah pemisahan senyawa
Kromatografi Gas dapat digunakan untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif. Pada analisis kualitatif, dilakukan penambahan sampel pada suatu komponen yang diselidiki pada keadaan murni, dimana terjadinya penambahan tinggi/area peak yang menunjukkan hasil positif adanya senyawa tersebut dalam sampel. Pada analisis kuantitatif didasarkan pada perbandingan baik tinggi maupun area puncak dengan suatu larutan standar. Pada kondisi tertentu kedua parameter ini merupakan fungsi terhadap konsentrasi (Skoog et al., 1986). Untuk menganalisa gas kromatografi secara kuantitatif terdapat beberapa metode, yaitu:
Analisa berdasarkan Tinggi Puncak
Tinggi dari sebuah peak dari suatu kromatorgram merupkan jarak tegak lurus antara puncak peak terhadap garis hubung peak.
Analisa berdasarkan Area Puncak
Luas puncak tidak bergantung pada temperatur kolom, laju alir eluent, dan laju injeksi sampel. Oleh karena itu, analisa berdasarkan luas puncak ini lebih baik digunakan sebagai parameter analisa dibandingkan analisa berdasarkan tinggi puncak.
kadar etanol=luas arealarutan cuplikan luas arealarutan baku x100
Analisa dengan Kurva Kalibrasi dengan Standard
plot sebagai fungsi konsentrasi. Dimana kurva kalibrasi ini memiliki hubungan yaitu sumbu x merupakan konsentrasi sedangkan sumbu y adalah tinggi puncak (peak) sehingga akan terdapat persamaan garis Y = bX + a, dimana slope = b.
Metode Internal Standard
Dalam prosedur ini, kuanititas yang ditentukan dalam sebuah standard internal terbagi menjadi dua, yaitu untuk standard dan sampel. Parameter dari metode ini adalah rasio luas (tinggi) puncak analit dengan luas (tinggi) dari puncak standard internal (Skoog et al, 1986).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dimulai pada bulan September 2016 sampai Februari 2017. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Samarinda. Pengambilan sampel bahan baku yang berupa serabut kelapa akan dilakukan di Samarinda, Kalimantan Timur. Analisa kadar etanol dengan menggunakan GC (ASTM D-5501) dilakukan di Laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Samarinda.
3.2 Rancangan Penelitian
A. Variabel berubah
Konsentrasi NaOH = 1% , 1.5%, 2%, 2.5% dan 3% B. Variabel tetap
Massa serabut kelapa = 200 gram
Volume air tambahan = 1000 ml
Suhu delignifikasi = 100 oC
Waktu delignifikasi = 90 menit
Konsentrasi HCl = 1 M
Trichoderma reesei = 10 %
Aspergilus niger = 5 %
pH sarifikasi dan fermentasi = 5
Sacchromyces cerevisiae = 15 %
waktu fermentasi = 8 hari
C. Variabel respon
Analisa kadar etanol dengan menggunakan metode ASTM D-5501 3.3 Alat dan Bahan
A. Peralatan Penelitian a) Sheker
b) Blender c) Hotplate
g) Pengaduk h) Gelas ukur i) Neraca analitik j) Pisau
k) Vacum filter
l) Oven
m) Seperangkat alat destilasi n) Pipet tetes
o) Labu ukur p) Kaca arloji B. Bahan-bahan Penelitian
a) Serabut kelapa b) Thricoderma reesei c) Aspergilus ninger d) Aquadest
e) Sacchromyces cerevisiae
f) NaOH 1% , 1.5%, 2%, 2.5% dan 3%
Penimbangan ampas 1:4 dari bobot awal
Sterilisasi alat (perebusan alat) selama 15 menit
Penimbangan 200 gram serabut kelapa
Penyimpanan ampas serabut
3. Selanjutnya mengeringkan serabut kelapa untuk mengurangi kadar air dengan bantuan sinar matahari selama 1 hari
5. Sterilisasi alat dengan merebus alat-alat yang akan digunakan dalam percobaan selama kurang lebih 15 menit. Kemudian, menempatkan alat dalam plastik yang sudah disterilkan
6. Menimbang serabut kelapa sebanyak 200 gram
7. Memasukan serabut kelapa ke dalam erlenmeyer yang telah didisi air sebanyak 1000 mL
8. Menambahkan masing-masing larutan dengan variasi NaOH 1%, 1.5%, 2%, 2.5% dan 3% ke dalam enlemeyer sampai terendam disertai pemanasan pada suhu 100 oC dan pengadukan 150 rpm selama 90 menit
9. Selanjutnya menyaring dan mencuci ampas serabut kelapa dengan menggunakan aquadest
10. Kemudian mengeringkan ampas ke dalam oven sampai berat ampas konstan.
hh) B.2 Produksi Etanol dengan Sakarifikasi dan Fermentasi Simultan 1. Menimbang serabut kelapa yang telah didelignifikasi dengan
perbandingan 1:4 dari bobot awalnya
2. Memasukan serabut kelapa yang telah ditimbang ke dalam gelas kimia 500 mL (wadah SSF)
3. Lalu menambahkan aquadest sebanyak 150 mL ke dalam wadah SSF dan mengaduknya hingga rata.
4. Selanjutnya menambahkan sebanyak 10% Tricoderma reesei, 5% Aspergilus niger dan saccharomyces cereviseae 15%.
5. Setelah itu mengaduk sampel dengan kecepatan 160 rpm dan diukur pH awal 5 dengan menambahkan HCl atau NaOH
ii) B.3 Analisa kadar etanol dengan menggunakan GC
1. Menyaring hasil dari fermentasi dengan menggunakan vacum filter 2. Mendestilasi filtrat yang didapat sampai seluruh cairan menguap dan
yang tersisa hanyalah residu padat
3. Menganalisa hasil filtrat dengan menggunakan Gas Chromatography (ASTM D-5501)
4. Menghitung kadar etanol berdasarkan luas area pada kromatogram jj) kadar etanol=luas arealarutan cuplikan
luas arealarutan baku x100 kk)
ll)
mm)
nn)
oo)
pp)
qq) DAFTAR RUJUKAN
rr) Abdurahman, D. (2008). Biologi Kelompok Pertanian dan Kesehatan. Bandung: Grafindo Media Pratama.
ss) Anggorowati, D.A., Dewi, B.K. (2013, September). Pembuatan Bioetanol dari Limbah Sabut Kelapa Dengan Metode Hidrolisis Asam dan Fermentasi dengan Menggunakan Ragi Tape. Jurnal Teknik Industri Inovatif, Vol.3, NO. 2, 9-13. April 2, 2015. http://industri.itn.ac.id/asset/download/2014-11-29-07-08-53_3%20No%202.pdf
uu) Day, R.A., JR., Underwood,A.L. (1996). Analisa Kimia Kuantitatif (Edisi ke-5) (Iis Sopyan, Penerjemah). Jakarta: Erlangga
vv) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (2014). Komoditi Kelapa Dalam Provinsi Kalimantan Timur. 16 April 2015. http://disbun.kaltimprov.go.id /statis-34-komoditi-kelapa-dalam.html
ww) Doran, P.M. (2013). Bioprocess Engineering Principles (2nd ed). United State of America: Elsevier Ltd. https://books.google.co.id/books? id=wZSylDhgEXMC&printsec=frontcover&dq=Bioprocess+Engineering+Pri nciples
xx) Fan, L.T., Gharpuray, M.M., & Lee, Y.H. (1987). Biotechnology Monographs Cellulose Hydrolysis. Berlin Heidelberg New York:
Springer-Verlag. https://books.google.co.id/books?
id=MmHwCAAAQBAJ&pg=PA70&dq=kinetic+hydrolysis
yy) Gandjar, I., Sjamsuridzal, W., & Oetari ,A. (2006, November). Mikologi Dasar dan Terapan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
zz) Isci, A. (2008). Cellulosic Ethanol Production Via Aqueous Ammonia Soaking Pretreatment and Simultaneous Saccharification and Fermentation. Doctor of Philosophy. Juni 3, 2015. https://books.google.co.id/books? id=7dIl6KNpf08C&printsec=frontcover
aaa)Juhasz, T., K. Kozma, Z., Szengyel, K., & Reczey (2003). Production of β-Glucosidase in Mixed Culture of Aspergillus niger BKMF 1305 and
eee) Lens, P. (2005). Biofuels for Fuel Cells, Renewable Energy from Biomass Fermentation. London: IWA Publishing. https://books.google.co.id/books? id=AVpSmSb5ecMC&printsec=frontcover&dq=Biofuels+for+Fuel+Cells fff) Manahan, S.E. (1990). Hazardous Waste Chemistry, Toxicology, and
Treatment. United State of America: Lewis Publisehrs.
ggg) Mishra, A., Clark, J.H., Kraus, G.A., Seidl, P.A., Stankiewicz,A., & Kou, Y. (2003). Green Materials for Sustainable Water Remediation and Alginat Untuk Produksi Bioetanol dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak. Tesis. April 2, 2015. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20301522-T30615-Muryanto.pdf
iii) Pandey, A. (2006). Enzyme Technology.New York: Asiatech Publishers https://books.google.co.id/books?
id=x13NiCGHMt8C&printsec=frontcover&dq=Enzyme+Technology
jjj) Prahandana, R., Noerwijari, K., Adinurani, P.G., Setyaningsih, D., Setiadi, S., & Hendroko, R. (2007, Agustus). Bioetanol Ubi Kayu Bahan Bakar Masa Depan. Jakarta Selatan: PT Agromedia Pustaka
kkk)Purwono, S. (2005). Pengantar Operasi Stage Seimbang. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
lll) Raharjo, A. (1999). Prospek Bisnis Limbah Kelapa. Yogyakarta: Kanisius. mmm) Skoog, D.A., West, D.M., Holler, F.J., & Crouch, S.R. (1986).
rrr) Tkacz, J.S., & Lange. L. (2004). Advances in Fungal Biotechnology for Industry, Agriculture, and Medicine. New York: Plenum Publishers. https://books.google.co.id/books?
id=8iilRWC06fAC&printsec=frontcover&dq=fungi
sss) Wildan, A. (2010). Studi Proses Pemutihan Serat Kelapa Sebagai Reinforced Fiber. Tesis. April 30, 2015. http://repository.unib.ac.id/8615/2/IV,V,LAMP,I-14-fek-FK.pdf
ttt)
uuu) Wilkinson, M.H.F., Schut, F. (1998). Digital Image Analysis of Microbes. New York: John Wiley & Sons Ltd.
vvv) https://books.google.co.id/books?
id=8JJwuU13YPAC&printsec=frontcover&dq=Digital+Image+Analysis+of+ Microbes
www) Yang, S.T.. El-Ensashy, E., & Thongchul, N. (2013).Bioprocessing Technologies in Biorefinery for Sustainable Production of Fuels, Chemicals, and Polymers. New Jersey: Wiley. https://books.google.co.id/books? id=WabhWXsxQRwC&pg=PA1983&dq=Bioprocessing+Technologies