REFRAT REFRAT
KEPANITERAAN
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR KLINIK SENIOR (KKS)(KKS) DEPAR
DEPARTEMEN STEMEN SMF ILMU PENMF ILMU PENYYAKIT DALAKIT DALAMAM RUMAH SAKIT / INSTANSI PENDIDIKAN JEJARING RUMAH SAKIT / INSTANSI PENDIDIKAN JEJARING
RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG
MYELODISPLASIA SYNDROME MYELODISPLASIA SYNDROME OLEH : OLEH : Muhammad Ramadhan S!K"d Muhammad Ramadhan S!K"d PEMBIMBING : PEMBIMBING : d#! Ju$%"n& Ka#'&a S%!PD d#! Ju$%"n& Ka#'&a S%!PD
BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIERSITAS MALAHAYATI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIERSITAS MALAHAYATI
RS PERTAMINA BINTANG AMIN RS PERTAMINA BINTANG AMIN
BANDAR LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
*+,-Ka'a P"n.an'a#
Ka'a P"n.an'a#
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk men
menyusyusun un tugtugas as refreferat erat yanyang g berberjudjudul ul myemyelodlodispisplasilasia a synsyndrodrome. me. PenPenyusyusunun men
menghagharaprapkan kan sarasaran n dan dan krikritik tik yanyang g memmembanbangun gun dardari i berberbagbagai ai pihpihak ak agaagar r dikesempatan yang akan datang penulis dapat membuatnya lebih baik lagi.
dikesempatan yang akan datang penulis dapat membuatnya lebih baik lagi. Pad
Pada a keskesempempatan atan ini ini penpenuliulis s menmengucgucapkapkan an teriterima ma kasikasih h kepkepada ada drdr. . ususpenpenii !artika" Sp.P#
!artika" Sp.P# serta berbagai pihak yang telah membantu penyelesain presentasiserta berbagai pihak yang telah membantu penyelesain presentasi kasus ini.
kasus ini.
Semoga tugas ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Semoga tugas ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
$andar
$andar %ampung" %ampung" &ei &ei '(1)'(1)
Penulis
Penulis
' '
DAFTAR ISI
!ata Pengantar... ' #aftar *si...+ BAB I Pendahuluan..., BAB II #efinisi ...) tiologi...) Prealensi.../ Patofisiologi...0 ejala !linis... ..2 #iagnosis...2 !lasifikasi...1, Tatalaksana...10 Prognosis...'+ BAB III !esimpulan...', #aftar Pustaka...'3BAB I
PENDAHULUAN
Sindrom myelodisplasia 4&#S5 adalah gangguan sumsum tulang" ditandai dengan hematopoesis yang tidak efektif" berbagai tingkat sitopenia serta peningkatan risiko leukemia akut 4Steensma" '((+5. &#S me6akili spektrum gangguan neoplastik sel induk klonal yang ditandai oleh kegagalan sumsum tulang dengan sitopeni" dan persentase leukemia berkisar dari kurang dari 37 sampai 127 dan terjadi pada populasi lanjut usia. !ejadian &#S dalam data yang baru-baru ini diterbitkan oleh Sureillance" pidemiology" and nd 8esults 4S85 meningkat dari kurang dari 3 per 1((.((( pasien di ba6ah usia )( menjadi +)"' per 1((.((( pada pasien lebih dari 0( tahun. #engan rata-rata usia diagnosis /) tahun. Secara umum" pria dan kulit putih memiliki insiden yang lebih tinggi dari penyakit ini 48ami" '((25.
Seperti halnya penyakit kanker pada umumnya" penyebab &#S yang pasti belum diketahui. Studi epidemiologi menunjukkan &#S dihubungkan dengan paparan bahan kimia seperti ben9en" halogenated hydrocarbon" hydrogen peroksida serta paparan radiasi. $eberapa hal dapat mendasari patologi fenotip dan biologi pada penyakit ini" termasuk kelainan kromosom dan genetik" perubahan epigenetic serta dearrangements sitokin dan sistem imun 4pling-$urnette" '((25. :nkogenesis pada &#S bersifat multistep dimana proses akumulasi perubahan genetik yang pada akhirnya menuju suatu neoplasma ganas setelah sebelumnya mele6ati fase pre maligna. Pada fase a6al" sel induk normal dan abnormal sama-sama berfungsi" tetapi pada fase selanjutnya klon ganas lebih dominan. ;iri dari penyakit ini pada usia dini adalah apoptosis yang dipercepat pada sel induk hematopoietik disertai dengan peningkatan kompensasi dalam proliferasi 4Steensma" '((+5. .
Setelah diagnosis dibuat" hematologi < onkologi medis mencoba untuk mengklasifikasikan pasien ke kategori untuk memprediksi prognosis dan memutuskan strategi pengobatan yang akan dilakukan. Tujuan pengobatan pada
kelompok risiko rendah 4kelompok dengan prognosis yang lebih baik5 adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi kebutuhan untuk transfusi" yang dapat dicapai melalui pilihan yang berbeda" termasuk faktor pertumbuhan erythropoietic, lenalidomide" dan agen hypomethylating . Pada kelompok risiko tinggi 4kelompok dengan prognosis buruk5" tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan memperlambat perkembangan penyakit. Pilihan pengobatan bagi kelompok ini termasuk transplantasi stem cell alogenik pada pasien yang memenuhi kriteria dan penggunaan agen hypomethylating 48ami" '((25. &eskipun tersedia berbagai pengobatan alternatif yang dapat dilakukan" sebagian besar pasien meninggal karena komplikasi dari penyakit atau transformasi menjadi leukemia myeloid akut 4A&%5.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A! DEFINISI
Sindrom myelodisplasia atau myelodisplasia syndrome 4&#S5 adalah kelainan neoplastik hemopoetik klonal yang disebabkan oleh transformasi ganas sel induk myeloid sehingga menimbulkan gangguan maturasi dan diferensiasi seri myeloid" eritriod atau megakariosit" yang ditandai dengan hematopesis inefektif" sitopenia pada darah tepi dan sebagian akan mengalami transformasi menjadi leukemia myeloid akut 48ami" '((25.
B! ETIOLOGI
tiologi &#S tidak diketahui secara pasti" namun dapat terjadi karena bertambahnya usia" perubahan genetik yang di6ariskan atau disebabkan oleh paparan 9at berbahaya. =aktor risiko meliputi pemaparan terhadap pelarut ben9ena atau bahan lainnya" halogenated hydrocarbon" tembakau dan asap rokok serta penurunan sistem imun. !emoterapi dan radiasi yang berhubungan dengan terapi juga dapat terkait dengan &#S 4Steensma" '((/5.
,! P"nuaan
Sebagaimana disebutkan di atas" penuaan tampaknya menjadi faktor risiko terpenting dalam perkembangan &#S karena risiko terjadinya mutasi meningkat sebanding dengan usia.
*! K&m&a
Paparan tingkat tinggi dari beberapa bahan kimia lingkungan" terutama produk ben9ena dan minyak bumi" terkait dengan perkembangan &#S.
! R00
Paparan bahan kimia dalam asap tembakau < rokok dapat meningkatkan risiko perkembangan &#S.
1! S&'0'0$& "m0'"#a%&
Pasien yang sebelumnya mengalami pengobatan kanker atau kondisi lain dengan kemoterapi" akan meningkatkan risiko untuk terjadinya
&#S sekunder atau terkait pengobatan. *ni me6akili kurang dari 1( persen dari semua kasus &#S. Sekunder &#S dikaitkan dengan
mutasi yang berbeda yang terjadi pada &#S spontan dan memiliki prognosis yang lebih buruk. Waktu antara paparan obat dan terjadinya
&#S dapat '-+ tahun hingga lebih dari 1( tahun. 2! Rad&a$&
Terapi radiasi sebelumnya" atau paparan radiasi lingkungan tingkat tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko &#S. #alam beberapa kasus mungkin tidak terlihat sampai ,( tahun setelah paparan.
-! K"3a&nan Ba4aan
$eberapa kelainan ba6aan seperti sindrom $loom" Down Syndrome" anemia =anconi dan neurofibromatosis memiliki risiko lebih untuk terjadinya mutasi yang menyebabkan kanker atau &#S 4%eukaemia =ondation" '((25
5! PREALENSI
Perkiraan terbaru dari American Cancer Society 4'((25" &#S di Amerika Serikat berkisar 1'.((( kasus baru setiap tahun. umlah kasus baru nampaknya akan meningkat karena peningkatan usia rata-rata populasi. Sekitar 0(7 sampai 2(7 dari semua pasien dengan &#S umumnya lebih dari )( tahun.
Sedangkan insidens &#S dalam data yang baru-baru ini diterbitkan oleh Surveillance, Epidemiology, and End Results 4S85 meningkat dari kurang dari 3 per 1((.((( pasien di ba6ah usia )( menjadi +)"' per 1((.((( pada pasien lebih dari 0( tahun. #engan rata-rata usia diagnosis /) tahun. Secara
umum" pria dan kulit putih memiliki insiden yang lebih tinggi dari penyakit ini 48ami" '((25.
D! PATOFISIOLOGI
Penyebab &#S masih belum dikehui dengan pasti" dan sulit dipisahkan dari penyebab leukemia dan penyakit mieloproliferatif lainnya. #iajukan sebuah hipotesis bah6a pengaruh factor lingkungan" kelainan genetic dan interaksi sel menimbulkan mutasi pada tingkat selinduk sehingga
menimbulkan ketidakseimbangan proses proliferasi dan diferensiasi. >ariasi perubahan prose situ akan menyebabkan transformasi ke arah leukemia akut"
&#S atau penyakit myeloproliferatif 4&P#5 4?6e" '((/5.
Pada &#S terjasi ketidakserasian antara proliferasi dengan diferensiasi" dimana daya proliferadi masih cukup tetapi terjadi gangguan diferensiasi atau maturasi sehingga terjasi hemopoesis inefektif" dengan kematian premature sel 4eritroid" myeloid" megakariosit5 dalam sumsum tulang sebelum sempat dilepaskan ke darah tepi. @al ini berakibat terjadinya sumsum tulang hiperseluler" tetapi terjadi sitopenia pada darah tepi 4?6e" '((/5..
$agan 1. =aktor-faktor yang berkontribusi terhadap terja dinya &#A 4?6e" '((/5.
E! GEJALA KLINIS
ejala &#S sering tidak jelas dan spesifik" dan diagnosis sering dibuat selama pemeriksaan untuk anemia" trombositopenia" atau neutropenia pada pemeriksaan darah rutin. ika tampak tanda-tanda dan gejala" biasanya
tergantung pada jenis sel yang terpengaruh.
!etika eritrosit terpengaruh 4situasi yang paling umum5" pasien datang dengan tanda-tanda anemia" termasuk pucat" konjungtia anemis" takikardi" hipotensi" kelelahan" sakit kepala" dan intoleransi latihan" atau dengan tanda dan gejala memburuknya kondisi atau penyakit yang mendasari seperti angina pectoris" gagal jantung" atau emfisema.
!etika trombosit yang terpengaruh" kurang dari '(7 dari pasien datang
dengan gejala trombositopenia terisolasi sebagai perdarahan kecil 4misalnya" perdarahan mukosa" petechie" mudah memar" epistaksis5 atau perdarahan besar 4misalnya" perdarahan gastrointestinal" perdarahan intrakranial5.
!etika neutrofil yang terpengaruh" terjadi neutropenia terisolasi misalnya infeksi bakteri yang sering terjadi pada sistem organ yang berbeda. *nfeksi merupakan keluhan utama dari 1(7 kasus dan penyebab kematian dari '17 kasus.
Splenomegali dan limfadenopati jarang terjadi pada &#S. ika terdeteksi" maka harus curiga terhadap adanya neoplasma myeloproliferatif atau limfoproliferatif 4$ar9i" '(1(5.
F! DIAGNOSIS
%angkah diagnosis &#S adalah sebagai berikut
1. #iagnosis &#S sangat dicurigai apabila dijumpai gejala klinik yang sesuai" terutama pada orang tua" yang disertai sitopenia 4anemia" leukopenia" trombositopenia5 persisten atau monositosis yang tidak dapat diterangkan.
'. !emudian dilakukan pemeriksaan teliti terhadap apusan darah tepi dan sumsum tulang untuk mencari tanda-tanda displastik. Abnormalitas morfologi pada penderita &#S dapat dilihat pada Tabel 1.
Ta6"3 ,. Abnormalitas &orfologi pada Penderita &#S 4%ist" '((25 J"n&$ $"3 A%u$ da#ah '"%& Sum$um 'u3an. ritroid :alomakrosit liptosit Akantosit Stomatosit Teardrops Normoblas Basophilic stippling Howel!olly bodies ritropoiesis megaloblastoid "uclear budding Ringed sideroblast #nternuclear bridging !arioreksis $ragmen nuclei >akuolisasi sitoplasma &ultinuklearitas
&ieloid Anomali Pseudo-Pelger- @uet @ipogranulasi "uclear stic%s @ipersegmentasi Ringshaped nuclei Auer rods #efektif granulasi
@ambatan maturasi pada tingkat mielosit
Peningkatan bentuk monositoid
%okasi abnormal prekursor imatur
&egakariosit &iant platelet
Trombosit hipogranuler< Agranuler
&ikromegakariosit @ipogranulasi
Nukleus kecil multipel
+. ika dijumpai tanda displastik pada satu alau lebih jenis sel" penyebab dysplasia di luar &#S harus disingkirkan 4dengan anamnesis" pemeriksaan klinik" laboratorium atau pemeriksaan lain5. Penyebab dysplasia diluar &#S antara lain defisiensi itamin $1'" defisiensi folat" infeksi irus seperti @*>" pemakaian antibiotika tertentu" agen kemoterapi" etanol" ben9ene" atau timah hitam. Apabila penyebab- penyebab ini telah dapat disingkirkan" diagnosis &#A sudah dapat
ditetapkan.
,. %angkah selanjutnya adalah melakukan klasifikasi berdasarkan =A$ atau W@:.
3. ika fasilitas tersedia" pemeriksaan sitogenetik dikerjakan untuk menilai prognosis. Pemeriksaan sitokimia" imunofenotiping" imunokimia" pemeriksaan onkogen dan kultur jaringan dapat membantu dignosis" tetapi secara rutin tidak selalu diperlukan.
Sebenarnya untuk diagnosis S#& perlu dibantu dengan pemeriksaan pembiakan sel-sel sumsum tulang dan pemeriksaan sitogenetik. Sitogenetik
sumsum tulang dapat memberikan informasi prognosis dan adanya abnormalitas kromosom yang merupakan kunci untuk membedakan &#S
primer dan sekunder. !romosom abnormal sumsum tulang ditemukan pada +( B 3( 7 pasien &#S de novo. $erbagai kelainan sitogenetik pada &#S termasuk delesi" trisomi" monosomi dan anomali struktur.
Ba.an *. Panduan #iagnosis &#S 4Peter %" '( 115
Ba.an . Algoritma #iagnosis &#S menurut kriteria W@: 4$arbara" '((,5 @as there been eCposure to cytotoCic
drugs or irradiation D
Are there 3-127 blast cells in the blood or 1(-127 blast cell in the bone
marro6 or Auer rods D
Are there no more than 37 blast cells in the blood and 3-27 in the bone
marror D
*s there an isolates 3E- D
*s there multiliniage dysplasia D
N O N O N O N O N O 8A or 8A8S YE S YE S YE S YE S YE S
Therapy 8elated &#S
8A$-**
8A$-*
8;&# or 8;&#-8S 3E - syndrome
F! KLASIFIKASI
=A$ membuat klasifikasi khusus untuk &#S yang diterima secara luas sampai saat ini. =A$ membagi &#S menjadi 3 kategori berdasarkan jumlah blast dalam darah tepid an sumsum tulang" jumlah monosit dalam darah tepi"
serta jumlah ringed sideroblast dalam sumsum tulang. 1. Re'ractory Anemia 48A5
Pada 8A dijumpai sitopenia" paling sedikit pada satu turunan sel 4cell lineage5" pada umumnya pada seri eritroid. Sumsum tulang hiperseluler atau normoseluler dengan perubahan displastik terutama pada sistem eritroid" system granulosit dan megakariosit mengalami perubahan displastik dalam derajad yang lebih ringan. Blast dalam darah tepi F 1 7 dan dalam sumsum tulang F 37. '. Re'ractory Anemia with Ringed Sideroblast 48A8S5
Pada 8A8S dijumpai sitopenia 4hampir selalu disertai anemi5" perubahan displastik" jumlah blast seperti dapa 8A. Ring sideroblast dijumpai G 137 dari sel eritroid berinti dalam sumsum
tulang.
+. Re'ractory Anemia with E(cessive Blast 48A$5
Pada 8A$ dijumpai sitopenia dari dua atau lebih turunan sel pada darah tepi. Perubahan displastik pada ketiga lineage dalam sumsum tulang lebih nyata. $last darah tepi F 37" dan dalam sumsum tulang antara 3-'( 7.
,. RAEB in Trans'ormation to )eu%emia 48A$t5
Pada 8A$t gambaran hematologi sama dengan 8A$" tetapi blast darah tepi G 37 atau blast dalam sumsum tulang '1-+(7 atau
adanya auer rod pada sel blast.
3. Chronic *yelo*onocytic )eu%emia 4;&&%5
Pada ;&&% dijumpai monositosis pada darah tepi 4monosit G 1.1(2 per liter5. #alam darah tepi F 37" sedangkan dalam sumsum tulang sampai dengan '(7 4$running et al" '((15.
Ta6"3 *. Kelainan Darah Tepi dan Sumsum Tulang pada MDS Menurut Klasifikasi FAB (Brain, !!"#
enis &#S #arah Tepi Sumsum Tulang
Re'ractory Anemia 48A5 Anemia F17 blasts
monocytes F 1.1(2 <l
F 37 blast
F 137 ring sideroblast of erythroblast
Re'ractory Anemia with Ringed Sideroblast 48A8S5 Anemia F17 blasts monocytes F 1.1(2 <l F 37 blast G 137 ring sideroblast of erythroblast
Re'ractory Anemia with E(cess Blast
Anemia G17 blasts
monocytes F 1.1(2 <l
H 37 blast
Re'ractory Anemia with E(cessive Blast in Trans'ormation to )eu%emia 48A$-t5 Anemia G37 blasts H '(7 blast Chronic *yelo*onocytic )eu%emia 4;&&%5 &onocytes F 1.1(2 <l ranulocytes often increased F37 blasts $last up to '(7 Promonocytes often increased
Pada tahun '((1 W@: membuat klasifikasi yang lebih detail yang memunyai hubungan yang lebih baik dengan prognosis. Penggolongan yang diusulkan W@: untuk &#S adalah
+ Re'ractory Anemia 48A5
- Re'ractory Anemia with Ringed Sideroblast 48A8S5
. Re'ractory Cytopenia with *ultilineage Dysplasia /RC*D0 1 Re'ractory Anemia with E(cessive Blast -1 48A$-15
2 Re'ractory Anemia with E(cessive Blast -' 48A$-'5 3 *yelodiaplasiasyndrome unclassi'ied
Ta6"3 . !elainan #arah Tepi dan Sumsum Tulang pada &#S &enurut !lasifikasi W@: '((1 (Brunning et al, !!$#
enis &#S #arah Tepi Sumsum Tulang
Re'ractory Anemia 48A5 Anemia
No or rare blast
rythroid dysplasia only F 37 blast
F 37 ring sideroblast Re'ractory Anemia with
Ringed Sideroblast 48A8S5
Anemia No blast
H 37 ring sideroblast rythroid dysplasia only F 37 blast Re'ractory Cytopenia with *ultilineage Dysplasia /RC*D0 ;ytopenias 4bicyto- penia<pancytopenia5
No or rare blast No Auer rods
#ysplasia in G 1(7 of the cell in t6o or more myeloid cell lines
H 37 ring sideroblast F 37 blast
No Auer rods Re'ractory Anemia with
E(cessive Blast -1 48A$-15
;ytopenias F37 blasts No Auer rods
F 1.1(2 monocytes
?nliniage or multilineage dysplasia
3-27 blast No Auer rods Re'ractory Anemia with
E(cessive Blast -' 48A$-'5 ;ytopenias 3-127 blast Auer rods I ?nliniage or multilineage dysplasia 1(-127 blast Auer rods I *yelodiaplasiasyndrome unclassi'ied 4&#S-?5 ;ytopenias
No or rare blast No Auer rods
?nlineage dysplasia one lyeloid cell line
F 37 blast No Auer rods *DS associated with
del25 syndrome
Anemia
?sually normal or increased platelet F37 blast Normal to increased megakaryocytes 6ith hypolobulated nuclei F37 blast
*solated del43E5 cyto-genetic abnormality
No Auer rods
Ta6"3 2. !elainan #arah Tepi dan Sumsum Tulang pada &#S &enurut !lasifikasi W@: '((0 4Peter %" '(115.
P"#6"daan K3a$&7&a$& MDS M"nu#u' FAB dan 8HO
Sebetulnya tidak terdapat perbedaan yang bermakna berdasarkan klasifikasi =A$ dan W@:" tetapi klasifikasi W@: dimodifikasi untuk menajamkan prognosis" yaitu
1. W@: memasukkan re'ractory cytopenia sebagai salah satu kategori &#S karena pada kenyataannya ada kasus-kasus &#S tanpa disertai anemia sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi =A$
'. =A$ memakai istilah 8A$ dan 8A$-t" sedangkan W@: menggunakan istilah 8A$-1 dan 8A$-' dengan titik pemilah jumlah blast yang sedikit berbeda
+. W@: memasukkan satu kategori baru *DS associated with del/250, di klinik dikenal sebagai 25syndrome yang mempunyai prognosis yang sangat baik.
&#S seharusnya dibedakan dengan myeloproli'erative disorder yang lain dan beberapa ariasi dari S#& sekunder termasuk defisiensi nutrisi" proses infeksi" efek obat dan to(ic e(posures 4@offbrand" '((35.
G! TATA LAKSANA
$eberapa regimen terapi telah digunakan pada pasien S#&" tetapi sebagian besar tidak efektif di dalam merubah perjalanan penyakitnya. !arena itu pengobatan pasien S#& tergantung dari usia" berat ringannya penyakit dan progresiitas penyakitnya. $erbagai macam regimen terapi telah dan sedang dicobakan pada penderita &#S namun sampai saat ini transplantasi sumsum tulang masil merupakan satu-satunya terapi yang memberikan kepastian hingga terapi simtomatik masih memegang peranan yang penting bagi pasien &#S.
T#an$%3an'a$& Sum$um Tu3an. (B0n" Ma##04 T#an$%3a'a'&0n)
;angkok sumsum tulang alogenik merupakan pengobatan utama pada S#& terutama dengan usia F +( tahun" dan merupakan terapi kuratif" tetapi masih merupakan pilihan F 37 dari pasien. Pada pasien &#S dengan prognosis jelek" transplantasi sumsum tulang merupakan satu-satunya pilihan yang memberikan harapan. Transplantasi stem sel autologus akhir-akhir ini mulai mendapatkan perhatian mengingat pada beberapa kasus &#S dapat dijumpai hemopoesis poliklonal yang normal setelah kemoterapi. Satu studi mendapatkan angka disease 'ree survival G +(7 setelah ' tahun pasca transplantasi stem sel autologus 4Asharianti" '((/5.
K"m0'"#a%&
Pilihan kemoterapi pada &#S berariasi dari kemoterapi intensif sampai terapi sitostatika dosis rendah. Penggunaan kemoterapi pada &#S biasanya diberikan pada tipe 8A$" 8A$-t dan ;&&%. Sejak tahun 12)0 pengobatan A8A-; dosis rendah yang diberikan pada pasien S#& dapat memberikan response rate antara 3( B /3 7 dan respons ini tetap bertahan ' B 1, bulan setelah pengobatan. #osis A8A-; yang direkomendasikan adalah '( mg<m'<hari secara drip atau 1( mg<m'<hari secara subkutan setiap 1' jam selama '1 hari. !omplikasi akibat terapi ditemukan sangat tinggi 1+-+(7 pada beberapa studi yang berbeda" bahkan pada studi lainnya surial didapatkan lebih pendek dibandingkan penderita yang tidak mendapatkan terapi 4Asharianti" '((/5.
GM95SF a'au G95SF
Sitokin dan hematopoietic growth 'actor /H&$0 memainkan peranan penting sebagai bagian dari terapi simtomatik menderita &#S" baik &-;S= atau -;S=. Pada pasien &#S yang mengalami pansitopeni dapat diberikan &-;S= atau -;S= untuk merangsang diferensiasi dari hematopoetic progenitor cells. &-;S= diberikan dengan dosis +(B3(( mcg<m'<hari atau -;S= 3(B1)(( mcg<m'<hari 4("1B("+ mcg<kg$$<hari<subkutan5 selama /B1, hari. Studi multisenter membuktikan bah6a pemberian &-;S= dapat meningkatkan granulosit dan tidak terbukti dapat meningkatkan kadar hemoglobin dan trombosit. Terapi dengan eritropoetin dapat meningkatkan hemetokrit '37 penderita sehingga kebutuhan akan transfusi menjadi jauh berkurang 4Asharianti" '((/5.
La&n93a&n
Piridoksin" androgen" dana9ol" asam retinoat dapat digunakan untuk pengobatan pasien S#&. Piridoksin dosis '(( mg<hari selama '
bulan kadang-kadang dapat memberikan respon pada tipe 8A$ 6alaupun sangat kecil. #ana9ol )(( mg<hari<oral dapat memberikan response rate '1 B ++ 7 setelah + minggu pengobatan 4Asharianti" '((/5. S'#a'".& T"#a%&
@offbrand 4'((35 mengkategorikan &#S menjadi dua kelompok" terdiri atas
1. )ow Ris% *DS " yaitu penderita dengan blast F37 dalam sumsum tulang. )ow Ris% *DS dapat dikelola secata konseratif" dengan transfusi sel darah merah atau trombosit dan pemberian antibiotika bila terjadi infeksi. #apat juga diberikan eritropoetin atau growth 'actor seperti -;S= untuk mengatasi leukopenia. Pemberian obat
imunosupresif" seperti siklosporin dan AT dapat dipertimbangkan '. High Ris% *DS " yaitu penderita dengan blast sumsum tulang 37 atau
lebih. ?ntuk High Ris% *DS dapat dipertimbangkan pemberian kemoterapi" baik tunggal maupun intensif disamping terapi suportif. Pada penderita kurang dari 3( tahun" stem cell transplantation merupakan satu-satunya pengobatan yang sangat memberikan kemungkinan kesembuhan. ?ntuk High Ris% *DS dengan umur tua 4)3 tahun5 dianjurkan hanya pemberian terapi suportif karena manfaat kemoterapi tidak sebanding dengan efek sampingnya.
Ba.an 1. Algoritma Penatalaksanaan &#S 48ami" '(115
T"#a%& Su%0#'&7 %ada MDS (P"'"# L *+,,)!
H! PROGNOSIS
&#S adalah kumpulan beberapa sindrom dengang sifat biologis yang berbeda-beda sehingga prognosis &#S sangat berarias i. $anyak faktor yang berperan dalam prognosis &#S" antara lain klasifikasi" umur" jenis kelamin" kadar jemoglobin" jumlah netrofil" jumlah trombosit" jumlah monosit" adanya sel muda 4blast5 dalam sirkulasi" perubahan displastik dari sumsum tulang" persentase sel blast dalam sumsum tulang" sitogenetik dan kultur dari
sumsum tulang 4*t9ykson" '(115.
Sistem scoring menurut *nternational Prognostic Scoring System menggunakan analisis multiariat dengan mengkombinasikan subklasifikasi dari sitogenetik" presentase sel blast sumsum tulang dan sitopenia sehingga model ini memunginkan penilaian prognosis lebih baik dibandingkan dengan beberapa sistem terdahulu 4*t9ykson" '(115.
Ta6"3 -! Survival and AML Evolution Score Value (I';$0n *+,,)
Prognosis ariabel ( ("3 1.( 1.3 '.(
!riteria penilaian
&arro6 blast 475 F 3 3-1( - 11-'( '1-+( !aryotype ood *ntermediate Poor
;ytopenias (-1 '-+
8isk ;ategory ;ombined Score
%o6 (
*nt-1 ("3-1"(
*nt-' 1"3-'"(
BAB III KESIMPULAN
&yelodisplasia sindrom adalah suatu kelainan sumsum tulang yang berakibat pada ketidakefektifan hematopoesis" yang mana menimbulkan sitopenia serta cenderung berisiko pada akut leukimia. angguan ini diketahui dapat terjadi oleh sebab bertambahnya usia" perubahan genetik yang di6ariskan atau disebabkan oleh paparan 9at berbahaya. ejala yang dapat ditimbulkan adalah berkaitan dengan kejadian sitopenia seperti anemia" bercak-bercak petechie atau perdarahan dari akibat rendahnya platelet serta infeksi. Sehingga pasien dengan kecurigaan gejala sindrom myelodisplasia ini perlu melakukan pemeriksaan darah tepi serta sitogenik. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah dengan pencangkokan sumsum tulang untuk usia di ba6ah +( tahun" kemudian kemoterapi" serta pemberian &-;S= atau -;S= untuk perangsangan hematopoetic progenitor
cells.
DAFTAR PUSTAKA
American ;ancer Society. '((2. &yelodisplastic Syndrome :erie6. #iunduh dari 666.cancer.org 4' September '(115.
Asharianti A. '((/. Sindrom Dismielopoeti% #alam Sudoyo AW" Setiyohadi $" Al6i *" Simadibrata &* 4eds5. $uku Ajar *lmu Penyakit #alam. ilid 1. disi ,. akarta Pusat Penerbitan #epartemen *lmu Penyakit #alam =akultas !edokteran ?niersitas *ndonesia" @al /1(-'.
Attilio : and &agdalena $. '((2. &yelodiaplasiaSyndromes. Am ;lin Patho 1+''2(-+(3
$arbara $. '((,. The W@: ;lassification of the &yelodiaplasia Syndromes. Cperimental :ncology 4')5 1))-2.
$ar9i A and Sekkeres &A. '(1(. &yelodiaplasiasyndromes A practical approach to diagnosis and treatment. ;leeland ;linical ournal of &edicines // 415+/-,,.
$rain $. '((+. %eukaemia #iagnosis. +rd edition. :Cford $lack6ell Publishing. P 11/.
$running 8#" $ennet &" =landrin " et al. '((1. &yelodiaplasiasyndromes. *A8; Press )+-/.
pling-$urnette P! and %ist A=. '((2. Adancements in the molecular pathogen-esis of myelodiaplasiasyndrome. ;urr :pin @ematol 41)5/(-/).
@offbrand A>. '((1. Sindrom &yelodisplasia. #alam &oss P and Pettit 4eds5. At a lance @ematologi. disi '. akarta rlangga. @al /2-01.
@offbrand A>. '((3. &yelodisplasia Sindrom. #alam Pettit and &oss P 4eds5. !apita Selekta @ematologi. disi ,. akarta ;. @al 1+2-,1.
*t9ykson 8" Ades % and =enauC P. '(11. $iology and Prognostic =actors of &yelodysplastic Syndrome. American Society of ;linical :ncology '31-3. %eukaemia =oundation. '((2. ?nderstanding &yelodisplastic Syndrome 4&#S5
A guide for patiens and families. #iunduh dari 666.leukaemia.org.au 4 '2 Agustus '(115
%ist A= and #oll #;. '((2. The &yelodiaplasiaSyndromes. *n %ee 8" =oerster " %ukens " Parakeas =" reer P" 8odgers & 4eds5. WintrobeJs ;linical @ematology" tenth ed. >ol '. Philadelphia %ippincott Williams and Wilkins. Pp '+'( B ++.
Peter %" yal A" ohn & et al. '(11. &yelodiaplasiaSyndromes ;linical Practice uidelines in :ncology. ournal of the National ;omprehensie ;ancer Net6ork 425 1 +(-3).
8ami S! and Alan =. '(11. &anagement of &yelodiaplasiaSyndromes Starting a Ne6 #ecade. American Society of ;linical :ncology ')'-0.
8ami S! and ohn &$. '((2. What *s KW@:L D &yelodiaplasiaSyndrome ;lassification and Prognosis. American Society of ;linical :ncology,1+-2. Steensma #P. '((/. The spectrum of molecular aberrations in
myelodiaplasiasyndromes in the shado6 of acute myeloid leukemia. @aematologica 42'5/'+-/'/.
Steensma #P and Tefferi A. '((+. The myelodiaplasiasyndrome4s5 a perspectie and reie6 highlighting current controersies. %euk 8es 4'/523B1'(.
?6e P" &ichelle & and erhard . '((/. The pathogenesis of myelodiaplasiasyndromes 4&#S5. ;ancer Treatment 8eie6s 4++5 S3+B S30.