• Tidak ada hasil yang ditemukan

serat cemporet

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "serat cemporet"

Copied!
153
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SERAT CEMPORET

KARYA R. NG. RANGGAWARSITA

S K R I P S I

Disusun dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata 1 untuk memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nama : Rudianto

Nim : 2102403002

Program Studi : Pend. Bahasa & Sastra Jawa Jurusan : Bahasa & Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

panitia ujian skripsi pada :

Semarang, Agustus 2007

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Drs. Sukadaryanto, M.Hum Drs. Agus Yuwono, M.Si NIP 131764057 NIP 132049997

(3)

Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang pada : Hari : Kamis

Tanggal : 23 Agustus 2007

Panitia Ujian Skripsi

Ketua Sekretaris

Prof. Dr. Rustono, M. Hum Drs. Widodo

Nip. 131281222 Nip. 132084944

Penguji I, Penguji II, Penguji III,

Drs. Bambang Indiatmoko, M. Si Drs. Agus Yuwono, M. Si Drs. Sukadaryanto, M. Hum

NIP. 131678181 NIP. 132049997 NIP. 131764057

(4)

Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs. Sukadaryanto, M. Hum, Pembimbing II: Drs. Agus Yuwono, M. Si.

Kata Kunci: Peran Tokoh Binatang, dan Nilai-nilai Pendidikan melalui Peran Tokoh Binatang dalam Serat Cemporet.

Karya sastra Serat Cemporet menghadirkan binatang sebagai bagian dari tokoh cerita. Namun bukan berarti bahwa Serat Cemporet adalah cerita binatang atau yang sering disebut fabel pada umumnya. Kemunculan tokoh binatang yang diceritakan sebagai wujud deformasi atau penjelmaan dari tokoh manusia. Terdapat empat tokoh binatang, yaitu burung menco, banteng, anjing, kera, dan anjing. Dari ke empat tokoh binatang tersebut, memainkan peran yang berbeda satu sama lainnya. Tokoh merupakan pelaku yang mengemban peristiwa yang dikisahkan, yang kemudian dapat ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan perbuatan.

Melalui tokoh-tokoh binatang, karya sastra akan lebih menarik dan menyenangkan untuk di baca. Sehingga tujuan karya sastra yang dapat memberikan manfaat berupa penyampaian gagasan, pandangan hidup, tanggapan atas kehidupan sekitar dan sebagainya dapat tersampaikan kepada pembaca. Baik secara tersirat maupun tersurat, dari kedirian atau sisi kehidupan tokoh dapat diambil nilai-nilai kehidupan yang menyaran pada penanaman budi pekerti dan moral pada pembaca.

Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang dimunculkan dalam penulisan skripsi ini adalah 1) Bagaimana peran tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet pada dunia pendidikan? 2) Nilai-nilai pendidikan apa saja yang terdapat dalam Serat Cemporet melalui peran tokoh binatang? Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan peran tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet pada dunia pendidikan dan nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam Serat Cemporet melalui peran tokoh binatang. Manfaat penelitian ini bagi pembaca yaitu memberikan gambaran tentang peran tokoh binatang dalam Serat Cemporet pada dunia pendidikan dan memberikan informasi yang berhubungan dengan nilai-nilai pendidikan dalam Serat Cemporet melalui peran tokoh binatang.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturalisme naratif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan objektif, yang menitik beratkan pada teks sastra sebagai objek penelitian. Teori struktural naratif digunakan untuk mengetahui jalinan peristiwa dan hubungan sebab akibat yang terkandung di dalamnya. Langkah awal dalam penelitian ini adalah mencari insiden-insiden yang terdapat dalam cerita, yang menyaran pada tokoh binatang. Sehingga dapat diketahui peristiwa yang berupa tindakan dan kejadian yang diemban oleh tokoh binatang, dan wujud atau

(5)

Hasil dari penelitian ini mengungkap peran tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet pada dunia pendidikan, menyaran kedudukan dan fungsinya sebagai tokoh pembawa ajaran budi pekerti luhur. Serta mengungkap nilai-nilai pendidikan melalui peran tokoh binatang. Dalam penelitian ini, ditemukan nilai-nilai pendidikan yang berupa nilai-nilai pendidikan religius yang terdiri dari percaya akan takdir, ungkapan rasa syukur, dan sikap kepasrahan; nilai pendidikan etika yang terdiri dari tutur kata, dan sopan santun atau tata krama; nilai pendidikan sosial yang terdiri dari tolong menolong, kasih sayang, kesetiaan, dan kesetiakawanan; nilai pendidikan moral yang terdiri dari sikap sabar, menepati janji, rela berkorban, rendah hati, dan tidak mudah putus asa.

Berdasarkan temuan tersebut, saran yang diberikan yaitu pembaca diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai pendidikan melalui peran tokoh binatang yang terdapat dalam Serat Cemporet dalam kehidupan sehari-hari. Teks Serat Cemporet, dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif bahan ajar dalam pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah.

(6)

hasil karya saya sendiri bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Agustus 2007

Rudianto

(7)

Barang siapa tidak pernah merasakan pahitnya mencari ilmu

(walau sesaat) maka ia akan terjerumus dalam

kebodohan yang hina selama hayat.

(Imam Syafi’i)

Belajarlah, karena tiada seorang pun yang dilahirkan

dengan membawa ilmu. Dan jelas tak sama

orang yang berilmu dengan orang yang bodoh.

(Imam Syafi’i)

Siapa takut menghadapi kesulitan akan tetap dalam

kesulitan, siapa mundur menghadapi rintangan,

tidak akan pernah sampai pada tujuan.

(H.N. Casaon)

PERSEMBAHAN

1. Ayah dan Ibu dengan limpahan doa dan kasih sayang, terimakasih sudah memberikan kepercayaan untuk saya sekaligus memfasilitasi, sehingga skripsi ini tuntas saya selesaikan.

2. Kakak dan adikku, yang selalu hadir dan menjernihkan kembali kebuntuan pikiran-pikiran saya ketika menulis skripsi.

3. Almamaterku

(8)

skripsi yang berjudul ”NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SERAT CEMPORET KARYA R. NG. RANGGAWARSITA.”

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Pembimbing I, bapak Drs. Sukadaryanto, M.Hum, dan Pembimbing II, bapak Drs. Agus Yuwono, M.Si, yang telah memberikan bimbingan, dan arahan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

2. Rektor Universitas Negeri Semarang selaku pimpinan Universitas Negeri Semarang.

3. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, yang telah memberi izin dalam pembuatan skripsi ini.

4. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah memberi kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Ayah dan ibu yang senantiasa mendoakan serta memberikan dorongan baik secara moral maupun spiritual dan segala yang tak ternilai.

6. Kakak dan adekku yang telah memberikan waktu, perhatian dan semua yang tak terlupakan sehingga penulis ingin segera menyelesaikan skripsi ini.

7. Sahabatku Fery, Yoga, Erfi, Esti, Erna, Fitri yang tak henti-hentinya memberikan solusi dan semangat kepada penulis.

8. Rekan-rekan satu ”perjuangan”, PBSJ angkatan 2003 dengan segala kenangan manisnya. Ayo Semangat...!!!!

(9)

semangat agar cepat diselesaikannya skripsi ini.

Doa dan harapan yang selalu penulis panjatkan kepada Allah Swt, semoga amal dan kebaikan saudara mendapat imbalan dari-Nya. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Semarang, Agustus 2007 Penulis

(10)

PERSETUJUAN BIMBINGAN... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

SARI ... iv

PERNYATAAN... vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN... vii

KATA PENGANTAR... viii

DAFTAR ISI... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Permasalahan ... 9 1.3 Tujuan Penelitian ... 9 1.4 Manfaat Penelitian ... 10

BAB II LANDASAN TEORI ... 11

2.1 Naratologi... 11

2.1.1 Strukturalisme Naratif... 12

2.1.2 Insiden ... 15

2.2 Tokoh dan Penokohan... 18

2.2.1 Pengertian Tokoh ... 19

2.2.2 Pengertian Penokohan... 20

2.3 Hubungan Karya Sastra dengan Pendidikan ... 21

2.3.1 Pengertian Nilai... 23

2.3.2 Pengertian Pendidikan... 25

2.3.3 Jenis Nilai-nilai Pendidikan ... 26

(11)

BAB IV PERAN TOKOH BINATANG, DAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN MELALUI PERAN TOKOH BINATANG

DALAM SERAT CEMPORET ... 36

4.1 Struktur Naratif Teks Serat Cemporet... 36

4.1.1 Insiden-insiden dalam Serat Cemporet ... 37

4.1.2 Peristiwa (event) dalam Serat Cemporet... 41

4.1.2.1 Tindakan (action) ... 41

4.1.2.2 Kejadian (happening)... 46

4.1.3 Wujud atau Eksistensinya ... 50

4.1.3.1 Watak (character) ... 51

4.1.3.2 Latar (setting) ... 57

4.2 Peran Tokoh Binatang dalam Serat Cemporet pada Dunia Pendidikan... 63

4.2.1 Burung Menco... 66

4.2.2 Banteng ... 70

4.2.3 Kera ... 75

4.2.4 Anjing... 78

4.3 Nilai-nilai Pendidikan melalui Peran Tokoh Binatang dalam Serat Cemporet ... 81

4.3.1 Nilai Pendidikan Religius ... 82

4.3.1.1 Percaya akan Takdir... 82

4.3.1.2 Memanjatkan Rasa Syukur ... 84

4.3.1.3 Sikap Pasrah ... 85

4.3.2 Nilai Pendidikan Etika ... 87

4.3.2.1 Tutur Kata ... 87

4.3.2.2 Sopan Santun atau Tata Krama ... 89

(12)

4.3.3.4 Kesetiakawanan ... 95

4.3.4 Nilai Pendidikan Moral ... 96

4.3.4.1 Sikap Sabar ... 97

4.3.4.2 Menepati Janji ... 98

4.3.4.3 Rela Berkorban... 99

4.3.4.4 Rendah Hati... 101

4.3.4.5 Tidak Mudah Putus Asa ... 102

BAB V PENUTUP... 104 5.1 Simpulan... 104 5.2 Saran... 106 DAFTAR PUSTAKA ... 107 LAMPIRAN... 109

A. Sinopsis Serat Cemporet ... 109

B. Urutan Sekuen Serat Cemporet... 129

(13)

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan aspek penting untuk menghasilkan generasi yang lebih baik, manusia sebagai makhluk individu yang berkepribadian utuh memiliki wawasan budaya yang luas dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai yang hidup dan berkembang di suatu masyarakat, menggambarkan pendidikan dalam suatu yang sangat luas, menyangkut kehidupan seluruh umat manusia yang digambarkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai suatu kehidupan yang lebih baik (Munib, 2005: 29-30).

Kehadiran karya sastra di tengah-tengah masyarakat, diharapkan dapat memberikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi masyarakat. Sastra diciptakan bukan hanya sekedar sebagai suatu keindahan, melainkan juga dimaksudkan untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Di samping nilai estetik, dalam karya sastra juga terdapat nilai etik atau moral. Moral dalam cerita menurut Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2005: 321), biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca.

Karya sastra merupakan karya yang diciptakan hanya berupa hasil rekaan dari pengarang. Meskipun demikian, tetap ada kaitannya dengan realitas dalam dunia nyata. Pengarang hidup di tengah-tengah masyarakat, bahannya (inspirasi)

(14)

dari sebuah karya sastra diambil dari dunia nyata. Jadi, karya sastra merupakan pandangan pengarang tentang keseluruhan kehidupan. Oleh sebab itu, kebenaran dalam karya sastra merupakan kebenaran menurut idealnya pengarang.

Sastra sebagai hasil dari budaya menjadi salah satu kebutuhan masyarakat, yaitu sebagai sarana untuk berekspresi, menghibur dan sekaligus mendidik masyarakat. Dengan demikian, sastra memiliki tujuan menyampaikan kebaikan dan kebenaran. Mengajarkan manusia untuk selalu berfikir positif dan bertindak agar tidak keliru dalam menjalani kehidupannya. Berisi tentang nasehat dan peraturan, larangan dan anjuran, kebenaran yang harus ditiru, serta kejahatan atau keburukan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan.

Dalam kesusastraan jawa, R. Ng. Ranggawarsita merupakan salah satu pengarang yang sangat produktif di jamannya. Beliau merupakan pujangga besar yang pernah hidup di pulau jawa. Pujangga agung Kraton Surakarta yang sekaligus juga pujangga rakyat. Masa hidup Ki Pujangga antara tahun jawa 1728 sampai dengan 1802 atau tahun masehi 1802 sampai dengan 1873.

Karyanya sangat berguna bagi perkembangan sastra jawa. Salah satu karyanya adalah Serat Cemporet, yang isinya menceritakan perjalanan Raden Mas Permana yang ditakdirkan menikah dengan Rara Kumenyar, anak angkat Ki Buyut Cemporet. Di samping bernilai estetik, juga memberikan pandangan-pandangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat. Serat Cemporet dihadirkan bukan hanya sebagai karya sastra yang menghibur, tetapi juga dapat diambil nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya.

(15)

Nilai-nilai pendidikan yang bermanfaat berisi ajaran yang bernilai tinggi yang mendidik dan berguna bagi pembacanya, dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman hidup dalam berfikir dan bertindak. Ajaran-ajaran tersebut, salah satunya dapat diperoleh dengan mengungkap nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Serat Cemporet.

Adapun bentuk teks sastra tersebut, berupa tembang macapat dengan rincian sebagai berikut. Pupuh I Dhandhanggula 54 bait, pupuh II sinom 41 bait, pupuh III Asmaradana 51 bait, pupuh IV Kinanthi 73 bait, pupuh V Mijil 75 bait, pupuh VI Gambuh 47 bait, pupuh VII Dhandhanggula 90 bait, pupuh VIII Sinom 69 bait, pupuh IX Asmaradana 71 bait, pupuh X Kinanthi 63 bait, pupuh XI Dhandhanggula 45 bait, pupuh XII Maskumambang 67 bait, pupuh XIII Gambuh 56 bait, pupuh XIV Mijil 52, pupuh XV Asmaradana 32 bait, pupuh XVI Sinom 35 bait, pupuh XVII Pangkur 40 bait, pupuh XVIII Pucung 48 bait, pupuh XIX Asmaradana 56 bait, pupuh XX Sinom 37 bait, pupuh XXI Durma 36 bait, pupuh XXII Dhandhanggula 34 bait, pupuh XXIII Asmaradana 43 bait, pupuh XXIV Durma 31 bait, pupuh XXV Kinanthi 59 bait, pupuh XXVI Sinom 54 bait, pupuh XXVII Dhandhanggula 40 bait, pupuh XXVIII Sinom 38 bait, pupuh XXIX Pucung 53 bait, pupuh XXX Durma 30 bait, pupuh XXXI Asmaradana 57 bait, pupuh XXXII Sinom 34 bait.

Secara garis besar, Serat Cemporet merupakan karya sastra yang menyenangkan dan sekaligus berguna. Dianggap berguna karena pengalaman jiwa yang dibeberkan secara kongkrit dalam setiap ceritanya, dan dikatakan

(16)

menyenangkan karena cara pembeberannya. Oleh sebab itu, jika sebuah karya sastra menunjukan sifat-sifat menyenangkan dan berguna, maka karya sastra itu dapat dianggap sebagai karya sastra yang bernilai (Noor, 2005: 14).

Dalam hal ini penulis menjadikan Serat Cemporet sebagai objek penelitian, karena dalam karya sastra tersebut, banyak mengandung nilai-nilai pendidikan yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang. Dengan kata lain, nilai- nilai pendidikan yang di dalamnya merupakan nasehat dan anjuran yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan nyata. Khususnya bagi para generasi muda yang sedang mengalami masa peralihan ke arah kedewasaan.

Serat Cemporet karya R. Ng. Ranggawarsita merupakan karya sastra lama yang diterbitkan oleh Albert Rusche, di Surakarta pada tahun 1896. Selanjutnya pada tahun 1987 dialih aksara dan alih bahasakan oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto. Serat Cemporet ditulis dalam bentuk metrum macapat, dengan kecermatan susunan kalimat, dan tidak sedikit terdapat purwakanti, serta kehalusan bahasanya. Ditinjau dari nama pengarang, bukan merupakan sesuatu yang aneh karena pengarang lahir dan hidup di lingkungan keraton, dengan gelar kebangsawanan seperti: R.M (Raden Mas), R.Ng (Raden Ngabehi), dan lain-lain.

Selain itu, pengarang dengan kreatifitas dan imajinasinya, menulis cerita tersebut tampak kongkrit. Meskipun hanya sebuah karya yang bersifat fiktif (rekaan), tetapi dikemas seolah-olah ada dan pernah terjadi. Pembaca dapat menemukan sebuah realitas kehidupan dengan segala peristiwa itu benar-benar

(17)

ada dan pernah terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya keyakinan itu, pembaca (peminat sastra) akan memilih dan menelaah nilai-nilai yang terkandung di dalam karya fiksi tersebut.

Dalam Serat Cemporet, pengarang menghadirkan tokoh-tokoh, baik dari kalangan manusia, binatang, maupun dari golongan dewa-dewa serta siluman berpadu dalam sebuah cerita yang padat kisahnya. Pengarang juga menghadirkan tokoh-tokoh binatang yang bukan sembarang binatang, melainkan wujud deformasi dari manusia.

Tokoh merupakan unsur yang terpenting dalam sebuah cerita fiksi. Sifat dan tingkah laku tokoh memegang peranan penting, karena dari kedua unsur tersebut akan memberikan pengalaman berharga yang mungkin tidak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Penampilan kehidupan dan jati diri para pelaku cerita dalam perjalan hidupnya, dapat juga dipakai sebagai pedoman pembaca dalam kehidupan bermasyarakat.

Tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet, bagi para pembaca mempunyai fungsi didaktis, yaitu sebagai tokoh pembawa ajaran budi pekerti luhur. Maupun sebagai tokoh yang kehadiran dan tingkah lakunya menyadarkan kemungkinan etika yaitu pantas atau tidak pantas untuk ditiru di kehidupan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat. Berisikan pesan yang sarat dengan ajaran dan nasehat untuk dapat ditafsirkan dan dipetik oleh pembaca (peminat sastra).

(18)

Lahirnya tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet sebagai wujud jelmaan dari tokoh manusia. Disebabkan karena seorang tokoh dalam cerita tersebut salah langkah dalam menjalankan hidupnya, sehingga dewa marah dan mengutuknya. Untuk menebus dosanya, dikutuklah menjadi seekor binatang. Hal tersebut dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya supaya tidak terulang lagi dikemudian hari.

Tokoh-tokoh binatang tersebut, merupakan bentuk fantasi atau sering disebut dengan khayalan dari pengarang. Melahirkan sebuah karya sastra yang penuh dengan simbolisme, yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan yang diambil oleh pengarang dari pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan. Pengarang membeberkan cerita demi cerita dengan memperhitungkan kaidah etik dan estetik karya sastra. Untuk mencapai itu, akibat yang muncul dalam Serat Cemporet adalah upaya pengelabuhan, berupa simbolisme (pelambangan), kondensasi (pemadatan), substitusi (penggantian), dan simptom-simptom tertentu yang berulang-ulang menampakan gejala dalam wacana (Rader dalam Noor, 2005: 98).

Dalam Serat Cemporet simbolisasi (pelambangan) terungkap melalui alur, tokoh, latar, dan penceritaan. Burung menco merupakan salah satu tokoh binatang yang ada dalam Serat Cemporet. Selain burung menco, terdapat tokoh binatang lainnya, seperti; anjing, kera, dan banteng.

Pada umumnya sebuah karya sastra banyak dijumpai peristiwa-peristiwa dan permasalahan yang sama atau hampir sama dengan kehidupan masyarakat.

(19)

Tentunya tidak jauh dengan waktu dan tempat di mana pengarang tinggal. Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial disekitarnya, sehingga kebenaran dalam karya sastra ialah kebenaran yang dianggap ideal oleh pengarangnya, kebenaran yang lebih tinggi sehingga sudah sepantasnya berlaku (Noor, 2005: 12).

Pernyataan di atas dapat diartikan bahwa sastra merupakan pandangan dunia pengarang terhadap lingkungan disekitarnya. Meskipun pandangan tersebut bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung. Namun, merupakan suatu gagasan, aspirasi, dan perasaan yang dapat mempersatukan kelompok sosial masyarakat. Eksistensi sastra yang sarat dengan nilai sosial itu, menjadikannya tidak bersifat pasif terhadap gejala-gejala sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa sastra mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi. Apabila pembaca sendiri tidak melupakan atau tetap memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra tersebut.

Demikian juga, dalam Serat Cemporet karya R. Ng. Ranggawarsita. Pengarang ingin menyampaikan peristiwa dan permasalahannya lewat cerita demi cerita. Daya imajinasi dan kreatifitasnya, merefleksikan kehidupan nyata disetiap cerita yang ditulisnya. Meskipun tidak sedikit cerita yang ditulis penuh dengan simbolisme. Pengarang tidak membeberkan sesuatu yang menjadi kunci permasalahan secara langsung, tetapi dituturkan melalui tanda yang dapat berupa ikon, indeks, atau simbol. Dikemas menjadi sebuah karya sastra yang menyenangkan dan berguna bagi pembacanya.

(20)

Pesan yang tersirat maupun tersurat tersebut, salah satunya terdapat nilai-nilai pendidikan yang bernilai-nilai tinggi yang berguna bagi pembacanya. Untuk masyarakat pada umumnya dan bagi pelajar khususnya. Oleh karena itu, perlu diungkap isi atau pesan apa dibalik karya sastra tersebut. Untuk memperoleh kejelasan secara pasti apa sebenarnya yang ingin diceritakan atau isi pesan apa yang ingin disampaikan. Untuk mengetahui karya sastra ini layak atau tidak layak dibaca oleh masyarakat khususnya pelajar, perlu diteliti nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya terlebih dahulu.

Setelah membaca Serat Cemporet, secara keseluruhan dan berulang-ulang akan ditemukan aspek-aspek kehidupan seperti; nilai sosial, moral, pendidikan dan lain sebagainya. Pembaca diajak oleh pengarang untuk menikmati permasalahan di setiap peristiwa dalam cerita yang dituturkan secara detil dalam Serat Cemporet tersebut. Bukan saja sebagai penghibur, tetapi dapat ditelaah dan dipetik nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya.

Sehubungan dengan itu, penulis menjadikan Serat Cemporet sebagai objek penelitian. Membedah makna yang terkandung di dalamnya yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan, melalui peran tokoh-tokoh binatang yang terdapat dalam Serat Cemporet yang akan dikaji. Di dalamnya terdapat pesan berupa petunjuk dan nasehat yang bernilai tinggi, yang disampaikan baik secara tersirat maupun tersurat.

(21)

1.2 Permasalahan

Dalam Serat Cemporet karya Ki Pujangga Ranggawarsita, kisah-kisah yang tertulis penuh dengan simbolisme. Sebagian dari kisah-kisah simbolisme itu bukan untuk dipercaya apa yang tersurat, tetapi untuk dicerna apa yang tersirat. Pengarang tidak sekedar ingin menyampaikan sebuah cerita demi cerita saja, untuk menghibur. Melainkan ada sesuatu yang ingin disampaikan melalui cerita fiksi tersebut, berupa pesan, amanat, anjuran atau nasehat bagi pembaca.

Setelah membaca secara keseluruhan dan berulang-ulang, diperoleh suatu pesan yang ditujukan kepada pembaca. Di dalamnya terdapat tentang nilai-nilai kebenaran yang berhubungan dengan masalah hidup dan kehidupan, yang ditampilkan lewat sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya. Berdasarkan latar belakang di atas, masalah-masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu: 1) Bagaimanakah peran tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet pada dunia

pendidikan ?

2) Nilai-nilai pendidikan apa saja yang terdapat dalam Serat Cemporet karya R. Ng. Ranggawarsita melalui peran tokoh-tokoh binatang ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan paparan latar belakang dan permasalahan di atas yang akan dikaji, tujuan dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut.

1) Mengungkap peran tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet pada dunia pendidikan.

(22)

2) Mengungkap nilai-nilai pendidikan melalui peran tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet karya R. Ng. Ranggawarsita.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat secara teoritis maupun manfaat secara praktis.

Manfaat secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu kebahasaan dan kesusastraan.

Manfaat secara praktis, dengan mengetahui isi, latar belakang, pesan, ide, ilmu, maksud, dan tujuan penelitian Serat Cemporet, diharapkan menjadi dorongan dan minat baca. Meningkatkan ilmu dan menambah wawasan serta cakrawala baru bagi para pembacanya. Bagi generasi sekarang dan generasi penerus di masa yang akan datang. Supaya dapat dijadikan motivasi dalam melaksanakan pendidikan nasional. Hasil penelitian ini, diharapkan juga dapat digunakan sebagai bahan ajar oleh guru. Mendidik siswanya untuk selalu berfikir positif dan membekali siswa untuk memiliki wawasan yang luas tentang budayanya.

(23)

2.1 Naratologi

Istilah naratologi pada awalnya digunakan di Perancis, yang sering di sebut naratologi strukturalis. Naratologi (narratology) mengambil masalah pembicaraan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan wacana naratif, bagaimana menyiasati peristiwa-peristiwa cerita ke dalam sebuah bentuk yang terorganisasikan yang bernama plot (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2005: 113).

Naratologi merupakan ilmu yang mengkaji tentang masalah yang berhubungan dengan seluk-beluk (struktur) karya sastra yang berdasarkan pada struktur naratif karya sastra. Tingkat analisis naratif dari ahli logika menyatakan bahwa struktur naratif terdiri atas struktur sintagmatik yang berhubungan dengan alur, dan paradigmatik yang berhubungan dengan karakter dan tema (Sukadaryanto dalam Darmayanti, 2006: 8).

Menurut Fokkema (1998: 77-90) naratologi merupakan ilmu yang secara khusus menelaah tentang masalah-masalah naratif, yang berorientasi pada teks sastra. Hubungannya dengan perjalanan para tokoh dan tindakannya dalam peristiwa yang diceritakan. Mengidenfikasikan suatu tindakan tokoh, yang tidak mungkin lepas dari tempatnya dalam perjalanan narasi. Fungsi-fungsi para tokoh berperan sebagai unsur-unsur yang stabil dan konstan dalam cerita pada sebuah teks naratif (Propp dalam Fokkema, 1998: 79).

(24)

Pengkajian naratologi menyaran pada peristiwa yang ditampilkan dalam karya sastra. Mencari kejelasan peristiwa demi peristiwa yang dikisahkan, berdasarkan hubungan kausalitas. Kegiatan tersebut berkaitan dengan pemplotan atau pengaluran. Kegiatan pemplotan meliputi kegiatan memilih peristiwa yang akan diceritakan dan kegiatan menata (mengolah dan menyiasati) peristiwa-peristiwa itu ke dalam struktur linear karya fiksi (Nurgiyantoro, 2005: 113).

Chamamah-Suratno (dalam Darmayanti, 2006: 8) memberikan batasan yang lebih lengkap melalui naratologi sebagai ilmu yang mempelajari pengaluran atau penempatan peristiwa-peristiwa penokohan, tipologi atau penempatan spasial peristiwa dan masalah-masalah penuturan dan tuturan dalam sebuah teks naratif.

Berdasarkan dari beberapa kutipan di atas, dapat dikatakan bahwa naratologi adalah ilmu yang membicarakan tentang masalah seluk-beluk struktur naratif di dalam sebuah karya sastra.

2.1.1 Strukturalisme Naratif

Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang dikaitkan dengan persepsi dan deskripsi struktur (Hawk dalam Pradopo, 2002: 54). Karya sastra pada hakikatnya tersusun dari jalinan unsur di dalam keseluruhan struktur. Unsur-unsur tersebut sebagai pembangun sebuah karya sastra, sehingga menghasilkan makna menyeluruh. Mendasarkan bahwa karya sastra

(25)

bersifat otonom, yang memiliki makna yang hanya dapat diperoleh dari karya sastra itu sendiri.

Naratif merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu (Keraf, 2003: 135-136). Karya naratif bersifat imajinatif atau rekaan. Jadi, karya naratif mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa yang bersifat imajiner. Namun, tidak sedikit mengandung kebenaran yang menyaran pada masalah hidup dan kehidupan manusia.

Dalam analisis terhadap pemahaman suatu karya naratif, dapat dilakukan dengan kajian strukturalisme, yang menekankan pada deskripsi struktural. Struktur merupakan keseluruhan relasi antara berbagai unsur sebuah teks (Noor, 2005: 78). Menurut kaum strukturalisme, karya naratif adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagi unsur pembangunnya. Struktur karya naratif dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2005: 36).

Menurut kaum strukturalis, menganggap bahwa setiap narasi mempunyai dua aspek. Membagi unsur teks ke dalam aspek cerita dan aspek wacana. Aspek cerita merupakan peristiwa yang berupa aksi dan kejadian, sedangkan aspek wacana berupa bentuk yang ingin diungkapkan (Chatman dalam Nurgiyantoro, 2005: 27).

(26)

Cerita terdiri dari peristiwa dan wujud keberadaannya atau eksistensinya. Peristiwa berupa tindakan aksi dan kejadian, sedangkan eksistensinya terdiri dari tokoh (characters) dan latar (setting). Menurut Chatman (dalam Nurgiyantoro, 2005: 27) wacana merupakan media atau sarana untuk mengungkapkan gagasan cerita.

Sehubungan dengan apa yang dikemukakan di atas, oleh Chatman (dalam Nurgiyantoro, 2005: 28) secara ringkas disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut. Tindakan Action peristiwa Event Kejadian Bentuk Happening Tokoh Cerita Wujud Character Eksistent Teks Naratif Substansi Latar Setting Wacana

Bertumpu dari uraian di atas, untuk membatasi analisis struktur pada skripsi ini, pembahasan hanya pada peran tokoh-tokoh binatang pada dunia pendidikan, dan nilai-nilai pendidikan melalui peran tokoh binatang yang terdapat dalam Serat Cemporet. Dapat disimpulkan bahwa penciptaan

(27)

unsur-unsur tokoh, dan nilai-nilai pendidikan merupakan bagian dari teks, di luar linguistik. Di samping itu, penelitian juga tidak dapat dilepaskan dari sistem tanda dan penanda. Sehingga dapat diperoleh kejelasan tentang peran tokoh binatang pada dunia pendidikan, dan nilai-nilai pendidikan melalui peran tokoh binatang yang terdapat dalam Serat Cemporet.

2.1.2 Insiden

Dalam literatur bahasa inggris istilah action (aksi, tindakan) dan event (peristiwa atau kejadian) sering diartikan sama, meskipun keduanya menyaran pada dua hal yang berbeda. Action merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh tokoh, misalnya memukul, memarahi, dan sebagainya. Cakupan event lebih luas daripada action. Event menyaran pada sesuatu yang dilakukan dan dialami tokoh di luar aktivitas, misalnya peristiwa alam, seperti gempa bumi, banjir, gunung meletus dan lain-lain. Untuk menyederhanakan, Nurgiyantoro (2005: 117) masalah action dan event dirangkum menjadi satu istilah, yaitu peristiwa atau kejadian.

Berkaitan dengan peristiwa atau kejadian Sukada (dalam Darmayanti 2006: 12) menggunakan istilah insiden untuk menyebut event. Insiden adalah peristiwa atau kejadian yang terkandung dalam cerita, baik besar maupun kecil (Sukada dalam Darmayanti, 2006: 12). Secara garis besar, insiden merupakan unsur pembangun atau pembentuk struktur cerita. Dalam landasan teori ini, menggunakan istilah insiden dan peristiwa yang artinya dianggap sama.

(28)

Menurut Luxemburg (1992: 150) mengartikan peristiwa sebagai peralihan dari keadaan yang satu kepada keadaan yang lain. Bertumpu dari pengertian itu, dapat dibedakan kalimat-kalimat tertentu yang menampilkan peristiwa dengan yang tidak menampilkan peristiwa.

Mengingat peristiwa yang ditampilkan dalam karya naratif tidak sedikit, tidak semua peristiwa berfungsi sebagai pendukung cerita. Oleh sebab itu, perlu analisis untuk menyeleksi dan menentukan peristiwa, Luxemburg (dalam Nurgiyantoro, 2005: 118-119) membagi peristiwa menjadi tiga jenis, yaitu:

1) Peristiwa Fungsional

Peristiwa fungsional adalah peristiwa-peristiwa yang menentukan dan atau mempengaruhi perkembangan plot. Urut-urutan peristiwa fungsional merupakan inti cerita sebuah karya fiksi yang bersangkutan. Kehadiran peristiwa-peristiwa itu dalam kaitannya dengan logika cerita merupakan suatu keharusan. Namun, penentuan apakah sebuah peristiwa bersifat fungsional atau bukan baru dapat dilakukan setelah gambaran cerita dan plot secara keseluruhan diketahui. Di samping itu, kadar kefungsionalnya peristiwa fungsional itu sendiri sering tidak sama.

2) Peristiwa Kaitan

Peristiwa kaitan adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa penting (peristiwa fungsional) dalam pengurutan penyajian cerita. Peristiwa kaitan kurang mempengaruhi

(29)

pengembangan cerita, dapat dipandang sebagai peristiwa selingan. Selain itu, peristiwa kaitan juga akan memperlengkap cerita, menyambung logika cerita, memperkuat adegan dan peristiwa fungsional, dan dapat memberikan kesan ketelitian terhadap berbagai adegan yang dikisahkan.

3) Peristiwa Acuan

Peristiwa acuan adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh dan atau berhubungan dengan perkembangan plot, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain, misalnya berhubungan dengan masalah perwatakan atau suasana yang melingkupi batin seorang tokoh. Peristiwa acuan menceritakan suasana alam dan batin seorang tokoh, sewaktu mengalami kejadian tertentu yang penting. Peristiwa acuan sering memberikan berbagai informasi yang penting artinya bagi pembaca dan sekaligus memberikan wawasan cerita secara lebih luas.

Berdasarkan uraian di atas, insiden dapat dikatakan sebagai peristiwa atau kejadian yang berupa tingkah laku atau tindakan dari tokoh yang menyebabkan peralihan dari keadaan yang satu kepada keadaan yang lain. Insiden oleh Sukada (dalam Darmayanti, 2006: 13) dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1) Insiden pokok yang mengandung ide-ide pokok cerita yang menjuruskan kesimpulan cerita adanya plot.

(30)

2) Insiden sampingan yaitu insiden yang menyimpang dari sebab-akibat yang logis, yang mengandung ide-ide sampingan dan karena itu tidak menjurus atau tidak menunjang adanya plot.

Chatman (dalam Nurgiyantoro, 2005: 120) membedakan peristiwa menjadi dua, yaitu kernel (kernels) dan satelit (satelits). Kernel adalah peristiwa utama yang menentukan perkembangan plot (cerita). Dalam karya naratif, kernel tidak dapat di hilangkan karena akan merusak logika cerita. Kernel merupakan momen naratif yang menaikkan inti naratif pada arah seperti yang dimaksudkan oleh peristiwa (Nurgiyantoro, 2005: 121).

Satelit adalah peristiwa pelengkap yang diperlukan untuk menunjukan eksistensi kernel sebagai peristiwa utama. Satelit dapat saja dihilangkan tanpa harus merusak logika cerita, walau penghilangan unsur peristiwa itu tentu saja akan mengurangi kadar keindahan karya naratif karya yang bersangkutan (Chatman dalam Nurgiyantoro, 2005: 121).

2.2 Tokoh dan Penokohan

Dalam sebuah karya naratif terdapat unsur-unsur pembangun cerita, salah satunya adalah tokoh dan penokohan. Unsur pembangun tersebut, tidak kalah penting dengan unsur pembangun lainnya di dalam sebuah karya naratif. Kehadirannya mengemban, mengalami, dan melaksanakan sesuatu dalam setiap peristiwa yang diceritakan. Perjalanan kehidupan tokoh dapat juga dijadikan

(31)

cermin pribadi manusia dalam kehidupan nyata. Adapun pengertian tokoh dan penokohan menurut beberapa ahli sastra, sebagai berikut.

2.2.1 Pengertian Tokoh

Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita (Aminuddin, 2002: 79). Tokoh atau pelaku pada umumnya berupa manusia, tetapi tidak sedikit dalam cerita fiktif, tokoh berupa binatang, dewa-dewa atau makhluk gaib lainnya.

Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005: 165), mengemukakan tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Berdasarkan kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa menyebutkan tokoh cerita tidak dapat dipisahkan dengan watak yang dimilikinya.

Penyebutan nama tokoh tertentu menyaran pada perwatakan yang dimilikinya. Meskipun tokoh dan watak merupakan sesuatu yang berbeda, tetapi satu sama lainnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tokoh dalam cerita seperti halnya manusia dalam kehidupan sehari-hari, selalu memiliki watak-watak tertentu (Aminuddin, 2002: 80).

Ditinjau dari berkembang atau tidaknya perwatakan, tokoh terdiri atas tokoh statis dan tokoh berkembang. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang

(32)

secara esensial tidak mengalami perubahan dan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan dan perubahan peristiwa dan plot yang dikisahkan (Alten dan Lewis dalam Nurgiyantoro, 2005: 188)

Berdasarkan pengertian tokoh dan jenis-jenisnya yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa tokoh-tokoh dalam karya sastra yang memiliki sifat dan tingkah laku baik dapat dijadikan teladan. Sebaliknya tokoh-tokoh yang memiliki sifat dan tingkah laku kurang baik, dijadikan sebagai suatu pengalaman dan pelajaran hidup. Dapat diartikan, bahwa tokoh-tokoh dalam karya sastra merupakan cermin manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

2.2.2 Pengertian Penokohan

Istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh dan perwatakan. Penokohan mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2005: 166). Penokohan sering juga disebut karakter, meskipun keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Selanjutnya, penokohan dan karakterisasi sering juga disamakan artinya dengan perwatakan menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2005:

(33)

165). Penokohan merupakan bagian atau unsur yang memiliki peran besar dalam membangun sebuah totalitas karya naratif.

Menurut Suharianto (2005: 20) penokohan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita; baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa: pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat-istiadatnya, dan sebagainya.

Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2005: 167). Demikian juga dalam Serat Cemporet, pengarang menghadirkan tokoh-tokoh binatang sebagai media untuk menyampaikan pesan, amanat, moral, yang ingin disampaikan kepada pembaca.

2.3 Hubungan Karya Sastra dengan Pendidikan

Pada umumnya karya sastra yang berhasil selalu mengandung nilai-nilai luhur, yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Karya sastra merupakan salah satu media dalam pelaksanaan pendidikan. Meskipun hanya sebuah kreasi manusia, karya sastra mampu memaparkan realitas dalam kehidupan sehari-hari, yang dapat dijadikan cermin dalam kehidupan bermasyarakat. Karya sastra fiksi tidak lebih merupakan pengejawantahan usaha sastrawan dalam rangka mengabadikan nilai-nilai yang menurut keyakinannya bermanfaat bagi penikmat karya sastra itu (Suharianto, 1982: 17-19). Dapat diartikan bahwa di dalam karya

(34)

sastra terdapat nilai-nilai pendidikan yang layak untuk diambil dan diterapkan dalam kehidupan nyata.

Menurut Baribin (1985: 79) dari karya sastra dapat ditemukan buah pikiran atau renungan dari penulis dan sanggup menyadari nilai-nilai yang lebih halus berarti telah dapat mengapresiasi atau menangkap nilai yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Berdasarkan kutipan tersebut, pembaca (peminat sastra) bukan hanya sekadar membaca teks sastra saja, tetapi seyogyanya dapat menangkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai yang ditawarkan penulis lewat karya sastra yang disuguhkan, yang tentunya dapat ditafsirkan setelah selesai membaca.

Mengenai tujuan karya sastra yang dapat memberikan manfaat, Suharianto (1982: 19) menyatakan, pengarang melalui karyanya bermaksud menyampaikan gagasan, pandangan hidup, tanggapan atas kehidupan sekitar dan sebagainya dengan cara yang diusahakan menarik atau menyenangkan, di samping itu pengarang bermaksud pula menyampaikan nilai-nilai yang menurut keyakinannya bermanfaat bagi para penikmat karyanya.

Karya sastra diciptakan bukan sekadar tujuan estetik saja, tetapi ada maksud lain yang ingin di sampaikan pengarang. Pandangan dan pengalaman pengarang tentang hidup dan kehidupan yang dituangkan melalui media karya sastra. Disampaikan kepada pembaca tentang nilai-nilai kehidupan, baik secara tersirat maupun tersurat. Suharianto (1982: 18) mengemukakan, kaitannya fungsi karya sastra dengan masyarakat, yaitu sastra bukan semata-mata untuk

(35)

memberikan hiburan kepada penikmatnya, melainkan juga memberikan sesuatu yang memang dibutuhkan manusia pada umumnya, yakni nilai-nilai yang anggun dan sering terlepas dari pengamatan sehari-hari.

Dalam membaca sebuah teks sastra, unsur utama yang harus diperhatikan yaitu memahami makna yang terkandung dalam bacaan sastra. Untuk memahami makna tersebut, bagi aliran fenomenologi pembaca harus mampu memahami realitas tersurat yang digambarkan pengarang serta mampu mengasosiasi dan mengabstraksikannya (Aminuddin, 2002: 51). Bertumpu pemahaman makna tersebut, maka akan diperoleh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Karya sastra “Serat Cemporet” merupakan cerita naratif yang bersifat rekaan atau fiktif. Meskipun bersifat fiktif, tetapi di dalamnya terdapat piwulang atau nilai-nilai pendidikan, yang berisi ajaran tentang norma kelakuan individu dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai pendidikan yang pada dasarnya menuntun individu supaya melakukan kebaikan, menjalankan suatu perbuatan atau tindakan yang bertanggungjawab, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

2.3.1 Pengertian Nilai

Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (KBBI, 1995: 690). Nilai dapat dijadikan ukuran oleh seseorang atau suatu masyarakat untuk menetapkan apa yang benar atau baik untuk

(36)

dilakukan dan apa yang jelek atau buruk untuk ditinggalkan dan sebagainya. Menurut Daroeso (1989: 20) nilai adalah suatu penghargaan atau kualitas terhadap sesuatu atau hal yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang, karena sesuatu hal itu menyenangkan, memuaskan, menguntungkan atau merupakan suatu sistem keyakinan. Oleh sebab itu nilai bersifat normatif, merupakan keharusan untuk diwujudkan dalam tingkah laku manusia.

Dapat diartikan bahwa nilai adalah sesuatu yang merupakan ukuran masyarakat untuk menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu hal yang dianggap baik dan benar. Nilai yang di junjung tinggi ini dijadikan norma untuk menentukan ciri-ciri manusia yang ingin dicapai dalam praktik pendidikan. Nilai dapat diperoleh secara normatif bersumber dari norma masyarakat, norma filsafat, dan pandangan hidup, bahkan juga dari keyakinan keagamaan yang dianut oleh seseorang (Munib, 2004: 34).

Perubahan kondisi sosial-ekonomi sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Membawa perubahan dalam cara berpikir, cara menilai, cara menghargai hidup dan kenyataan. Tentunya perlu suatu nilai untuk menjadi pegangan hidup seseorang. Menurut Hurlocks (dalam Soeparwoto, 2004: 100) mengemukakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok sosial untuk membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkannya, atau sebagai sesuatu yang ingin dicapai.

Bertumpu dari uraian di atas, dapat diselaraskan bahwa nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia, masyarakat, atau bangsa yang

(37)

dijadikan norma atau kriteria dalam hidup dan kehidupan. Nilai merupakan tolak ukur yang diyakini kebenarannya, mengenai sesuatu yang dibutuhkan sebagai tujuan yang hendak dicapai.

2.3.2 Pengertian Pendidikan

Nilai merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Pengertian pendidikan menurut Dewantoro (dalam Munib, 2006: 32) adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak. Pendidikan merupakan sebuah proses panjang dalam pembentukan manusia seutuhnya. Memberikan kemampuan kepada seseorang (peserta didik) untuk dapat hidup secara mandiri. Peserta didik menjadi objek utama di dalam proses pendidikan.

Dalam UUSPN No.2 Tahun 1989 menyatakan, bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau pelatihan bagi peranannya di masa yang datang (Munib, 2006: 33). Jadi, pendidikan dapat diartikan sebagai perbuatan atau cara pembentukan sikap seseorang untuk dapat hidup dan berkembang menjadi dewasa. Menghasilkan manusia yang lebih baik, yang berkepribadian dan berbudaya.

Dictionary of Education (dalam Munib, 2006: 33) menyatakan, bahwa pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat ia hidup,

(38)

proses sosial yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah pembentukan individu menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, mampu memahami dan melaksanakan norma-norma atau nilai-nilai dalam hidup dan kehidupannya. Membimbing generasi muda untuk

menjadi suatu generasi yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, yang dimaksud dengan nilai pendidikan adalah sesuatu yang

menjadi ukuran untuk dicapai melalui pelaksanaan pendidikan. Ukuran tersebut bersifat normatif, tidak hanya di dapat dari praktik pendidikan. Namun bersumber dari norma masyarakat, norma filsafat, norma agama dan pandangan hidup seseorang.

2.3.3 Jenis Nilai-nilai Pendidikan

Nilai pendidikan memiliki kedudukan sebagai tolak ukur seberapa berharganya kehidupan bagi manusia. Menghargai pentingnya arti kehidupan, mengingat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak terlepas dengan manusia lain. Dapat diartikan dalam kehidupan masyarakat, bahwa nilai pendidikan dapat membentuk kemaslahatan dan kesejahteraan manusia sebagai anggota masyarakat. Hadikusuma (1999: 25) membagi nilai-nilai pendidikan itu atas

(39)

pendidikan keindahan, pendidikan kesusilaan, pendidikan sosial, pendidikan politik, pendidikan ekonomi, pendidikan agama dan pendidikan ketrampilan.

Nilai-nilai pendidikan di atas terkandung juga di dalam sebuah karya sastra. Mengingat karya sastra mengemukakan persoalan hidup dan kehidupan manusia, yang di dalamnya menyangkut nilai-nilai pendidikan. Tarigan (1985: 194) menyebutkan nilai-nilai dalam suatu karya sastra dapat berupa:

1) Nilai hedonik, yaitu apabila suatu karya sastra dapat memberikan kesenangan secara langsung kepada kita.

2) Nilai artistik, yaitu memanifestasikan ketrampilan seseorang.

3) Nilai kultural, mengandung hubungan bila suatu karya sastra yang mendalam dengan suatu masyarakat atau suatu peradaban dan kebudayaan. 4) Nilai etis, moral, dan religius, yaitu bila dari suatu karya sastra terpancar

ajaran-ajaran yang ada sangkut pautnya dengan etika, moral, dan agama. 5) Nilai praktis, yaitu karya-karya yang mengandung hal-hal praktis yang

dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas mengenai nilai-nilai pendidikan, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan merupakan konsep yang dijadikan panutan hidup manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan. Nilai-nilai pendidikan tersebut, terdiri dari:

1) Nilai Pendidikan Religius

Istilah religi sering disamakan artinya dengan pengertian agama. Namun, pengertian religi cakupannya lebih luas jika dibandingkan dengan

(40)

pengertian agama. Pengertian religi menyangkut adanya kekuatan lain di luar diri manusia yang sifatnya supra natural, yang secara umum disebut Tuhan (Munib, 2006: 17). Agama lebih menyangkut hubungan individu dengan Tuhannya. Dapat dikatakan bahwa agama adalah wujud dari kesadaran dan pengakuan manusia akan adanya kekuatan lain di luar dirinya.

Nilai pendidikan religi berhubungan dengan kesadaran akan Tuhan, menciptakan manusia menjadi individu yang bertaqwa kepada Tuhannya. Kesadaran tersebut direalisasikan dengan taat dan patuh menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, seperti yang diajarkan dalam agama yang dipeluknya. Setiap agama pada hakikatnya sama, yaitu mengajarkan umatnya untuk bertauhid kepada Tuhan pencipta alam beserta isinya.

2) Nilai Pendidikan Etika

Etika adalah keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya (Suseno, 2001: 6). Etika merupakan konvensi masyarakat yang menyaran pada sikap dan tindakan seseorang, menyangkut pantas atau kurang pantas, benar atau kurang benar, tentang sikap atau tindakan individu yang bersangkutan. Mewujudkan kehidupan manusia yang selaras dengan tata karma dan adat-istiadat dalam kehidupan bermasyarakat.

(41)

Menurut Soegito (2006: 87) etika adalah sebuah ilmu, yaitu sebagai salah satu cabang ilmu filsafat yang mengajarkan bagaimana hidup secara arif atau bijaksana, memberi ajaran tentang bagaimana seseorang harus berperilaku dalam kehidupannya secara bermoral. Etika menyaran pada tanggungjawab dan kewajiban seseorang sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk religius. Etika menjadi konsep manusia untuk bertindak dan bertingkah laku terhadap sesama, menuju terciptanya kebahagiaan hidup.

3) Nilai Pendidikan Sosial

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin terlepas dari manusia lain. Sosial adalah sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat (KBBI, 1994: 958). Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan kehadiran manusia lain. Dapat diartikan bahwa manusia memiliki sifat ketergantungan atau membutuhkan hubungan dengan sesama di dalam lingkup yang disebut masyarakat. Untuk itu, manusia perlu hidup berkelompok atau bermasyarakat untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Nilai pendidikan sosial bersumber dari adanya kenyataan bahwa manusia tidak akan mampu hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain. Manusia memiliki sifat saling ketergantungan antara manusia yang satu dengan lainnya. Jadi, manusia dituntut untuk mampu hidup berkelompok, memenuhi segala kebutuhannya yang tak lain membutuhkan bantuan manusia lain.

(42)

4) Nilai Pendidikan Moral

Dalam bahasa Arab, moral yang berarti budi pekerti sama dengan pengertian akhlak, sedangkan dalam konsep Indonesia moral berarti kesusilaan (Soegito, 2006: 73). Moral merupakan suatu nilai yang dijadikan acuan untuk mengatur tingkah laku dan perbuatan manusia dalam kehidupan di masyarakat. Selain itu, juga dapat digunakan untuk membedakan antara tindakan atau tingkah laku manusia yang baik dan yang buruk di dalam hubungannya antara manusia satu dengan lainnya.

Menurut Soeparwoto (2004: 99) moral merupakan serangkaian nilai-nilai yang di dalamnya memuat kaidah, norma, tata cara kehidupan, adat-istiadat, dan pranata sebagai standar baik-buruknya perilaku individu atau kelompok yang dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial, budaya, dan religi dari individu atau kelompok masyarakat.

Nilai pendidikan moral menyaran pada petunjuk tentang bagaimana seseorang melangkah dalam hidup. Untuk itu, moralitas adalah sebuah “pranata” seperti halnya agama, politik, bahasa dan sebagainya yang sudah ada sejak dahulu kala dan diwariskan secara turun-temurun (Soegito, 2006: 87). Moral merupakan standar baik-buruk yang ditentukan bagi individu oleh nilai-nilai sosial budaya dimana individu sebagai anggotanya (Rogers dalam Soeparwoto, 2004: 99)

Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai kebenaran,

(43)

dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2005: 321). Pengarang mempunyai tujuan menyampaikan suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, lewat cerita yang bersangkutan, yang dapat diambil dan ditafsirkan oleh pembaca. Saran tersebut, berupa petunjuk tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti sikap dan tingkah laku yang ditampilkan lewat tokoh cerita.

Melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan, yang diamanatkan (Nurgiyantoro, 2005:321). Kehadiran karya sastra bukan hanya bertujuan untuk hiburan belaka. Melainkan menawarkan pesan moral yang menyangkut masalah hidup dan kehidupan.

(44)

3.1 Pendekatan Penelitian

Pendekatan merupakan suatu upaya penghampiran dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis (Ratna, 2004: 35). Dalam skripsi ini, teks sastra menjadi objek penelitian, maka pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, yaitu pendekatan yang menitik beratkan pada karya sastra atau teks sastra sebagai sebuah struktur.

Pendekatan objektif berhubungan erat dengan teori struktur naratif, yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya sastra yang bersangkutan. Pendekatan objektif memandang karya sastra sebagai dunia otonom yang memiliki keunikannya sendiri, yang membedakan karya yang satu dengan yang lain.

Analisis dengan pendekatan objektif dalam karya sastra, dalam hal ini Serat Cemporet sebagai objek utamanya, dilakukan dengan mengidenfikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik karya sastra yang bersangkutan. Untuk menemukan peran tokoh-tokoh binatang, dan nilai-nilai pendidikan melalui peran tokoh binatang dalam Serat Cemporet, terlebih dahulu mengetahui jalinan peristiwa dan hubungan sebab-akibat yang ada

(45)

di dalamnya. Hal tersebut dapat diungkap dengan pendekatan objektif, dengan menggunakan teori struktural naratif.

Penggunaan teori struktural naratif merupakan salah satu cara untuk membongkar karya sastra lewat struktur cerita, sehingga dapat mengetahui suatu maksud tertentu dari suatu peristiwa yang dideskripsikan. Jadi, dapat diartikan bahwa peran tokoh-tokoh binatang, nilai dan wujudnya dalam Serat Cemporet dapat diketahui lewat peristiwa-peristiwa yang ada dalam cerita.

3.2 Sasaran Penelitian

Sasaran dalam penelitian ini adalah mengungkap nilai-nilai pendidikan dan peran tokoh-tokoh binatang pada dunia pendidikan, yang terdapat dalam Serat Cemporet karya R. Ng. Ranggawarsita.

Data pada penelitian ini yaitu piwulang atau ajaran yang dapat diungkap melalui peran tokoh binatang dan peristiwa dalam Serat Cemporet, yang digunakan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan dan peran tokoh-tokoh binatang pada dunia pendidikan yang terdapat dalam karya sastra tersebut.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks Serat Cemporet karya R. Ng. Ranggawarsita yang sudah dialih aksara dan dialih bahasakan oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto. Diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1987, setebal 415 halaman. Bagian pertama menggunakan bahasa Indonesia dan bagian kedua menggunakan bahasa Jawa. Karya sastra Serat Cemporet tersebut merupakan cetakan ke enam.

(46)

3.3 Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu mengkaji teks sastra Serat Cemporet dengan menitik beratkan pada jalinan peristiwa dan hubungan sebab-akibat yang berupa tindakan tokoh, yang ada di dalamnya. Sehingga membentuk sebuah totalitas kemaknaan terpadu, yang membuat karya sastra lebih bermanfaat bagi kehidupan. Dalam hal ini, lebih mengutamakan pendalaman tentang struktur teks sastra.

Sebelum dilakukan analisis mengenai nilai-nilai pendidikan dan peran tokoh binatang pada dunia pendidikan, terlebih dahulu dibuat insiden-insiden yang menunjukan peristiwa dan tindakan tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis obyek kajian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Membaca teks Serat Cemporet secara cermat dan teliti supaya dapat memahami keseluruhan isi karya sastra tersebut.

2) Menentukan tokoh-tokoh, yang dalam hal ini adalah tokoh binatang yang menjadi obyek penelitian.

3) Menentukan insiden-insiden dalam cerita yang akan menjadi obyek kajian penelitian yang berupa tindakan yang dilakukan tokoh-tokoh binatang.

4) Mencari dan mencatat peristiwa dan wujud dalam Serat Cemporet. 5) Mendeskripsikan peran tokoh-tokoh binatang pada dunia pendidikan.

(47)

6) Menganalisis nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Serat Cemporet melalui peristiwa yang diperkuat dengan kalimat-kalimat yang mengandung nilai-nilai pendidikan.

(48)

DALAM SERAT CEMPORET

4.1 Struktur Naratif Teks Serat Cemporet

Kajian yang akan di analisis pada bab empat ini adalah peran tokoh binatang pada dunia pendidikan, dan nilai-nilai pendidikan melalui peran tokoh binatang dalam Serat Cemporet. Peran tokoh binatang pada dunia pendidikan dapat terlihat dari watak dan latar. Nilai-nilai pendidikan dapat diungkap lewat peristiwa, yang berupa tindakan dan kejadian yang dialami tokoh-tokoh binatang.

Cerita naratif yang menyajikan tokoh binatang atau sering disebut fabel, cenderung disukai anak usia sekolah. Terlebih cerita tentang tokoh binatang yang terdapat dalam Serat Cemporet. Tokoh binatang yang bukan sembarang binatang, melainkan wujud deformasi atau penjelmaan dari tokoh manusia. Dimana pembaca diajak menikmati dunia maya yang penuh dengan imajinatif. Setiap pembaca memiliki tokoh idola yang berbeda-beda, yang patut ditiru dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh yang memiliki sifat dan tingkah laku baik, dijadikan sebagai teladan. Begitupun sebaliknya, tokoh yang memiliki sifat dan tingkah laku kurang baik, dijadikan sebagai suatu pengalaman dan pelajaran hidup.

(49)

Melalui teori struktur naratif dengan menggunakan pendekatan objektif, dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk membongkar teks sastra Serat Cemporet. Membedah teks sastra yang memiliki kualitas moral tinggi. Selain itu, melalui peran tokoh binatang, terdapat juga amanat yang dapat dijadikan nasehat atau petuah bagi para pembacanya. Watak dan tindakan tokoh-tokoh binatang seperti halnya pribadi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Cermin pribadi manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

Langkah awal dalam mengungkap peran tokoh binatang pada dunia pendidikan, dan nilai-nilai pendidikan melalui peran tokoh binatang yang terdapat dalam Serat Cemporet, perlu terlebih dahulu mengetahui struktur naratif yang ada di dalamnya. Terdiri dari insiden, peristiwa, dan wujud keberadaannya atau eksistensinya. Peristiwa terdapat dua unsur, yaitu tindakan dan kejadian. Begitu juga di dalam wujud eksistensinya terdapat dua unsur, yaitu berisi watak dan latar. Dibahas satu persatu secara urut, sebagai berikut.

4.1.1 Insiden-insiden dalam Serat Cemporet

Insiden-insiden yang ada dalam Serat Cemporet, digunakan untuk mengetahui tindakan dan kejadian yang dialami oleh tokoh-tokoh cerita. Berikut ini akan disajikan insiden-insiden yang ada dalam Serat Cemporet, berkenaan dengan tindakan dan kejadian yang dialami oleh tokoh-tokoh binatang.

(50)

Penyusunan insiden yang terdapat dalam Serat Cemporet, dipilih yang berhubungan atau yang dialami oleh tokoh-tokoh binatang. Penyajian insiden dimulai dari pupuh I sampai pupuh XXXII, sebagai berikut.

1. Banteng

1.1 Banteng pergi ke hutan meninggalkan istana kerajaan.

1.1.1 Banteng menghadang di tengah jalan, membuat Ki Buyut ketakutan. 1.1.2 Banteng mendekam, Ki Buyut jadi tidak takut.

1.1.3 Banteng menolong Ki Buyut yang sedang tersesat di hutan. 1.1.3.1 Banteng merendahkan tubuhnya supaya ditunggangi. 1.1.3.2 Banteng berjalan dibelakang mengikuti terbangnya menco. 1.2 Banteng tiba di rumah Ki Buyut Cemporet, di desa Cengkarsari.

1.2.1 Banteng membantu mengolah tanah pertanian.

1.3 Banteng masuk kembali ke dalam hutan, membagi tugas dengan burung menco.

1.3.1Banteng tetap bertugas memberikan pertolongan kepada orang lain. 1.3.1.1 Banteng menolong Dewi Suretna yang sedang tersesat di hutan. 1.3.1.2 Banteng mengajak Dewi Suretna ke rumah Buyut Cemporet.

1.3.1.3 Banteng merendahkan tubuh, Dewi Suretna naik di atas punggungnya.

1.4 Banteng mohon diri kembali ke hutan meneruskan tugasnya untuk menolong orang lain.

1.4.1 Banteng bertemu dengan menco di hutan.

1.4.2 Banteng diajak menco menghadap Raden Pramana

1.5 Banteng dan menco serta Raden Pramana meneruskan perjalanan ke desa Cengkarsari.

1.6 Banteng dan rombongan telah sampai di desa Cengkarsari, tempat kediaman Buyut Cemporet.

1.6.1 Banteng mendapat tugas menghadap pengantin mempersembahan pakaian kebesaran.

1.7 Banteng menghadap Rajaputra, setelah melihat adiknya berubah ujud seperti semula, yaitu menjadi Raden Prawasata.

1.7.1 Banteng mengharap belas kasih supaya menjadi manusia kembali. 1.7.2 Banteng kecewa bepergiaannya ke hutan telah meninggalkan

keberuntungan.

1.7.3 Banteng hendak bunuh diri, jika Raden Pramana tidak mau membantu mengembalikan ujudnya sebagai manusia.

1.7.4 Banteng mendapat perintah supaya memasang akar mimang di perempatan-perempatan jalan besar.

1.8 Banteng diperintahkan pergi ke kahyangan bersama kedua kakak kandung Raden Pramana yang cebol dan ujil.

(51)

1.8.1 Banteng menghadap Dewi Mulat hendak melamar kedua putri. 1.8.2 Banteng bertemu dengan Raden Margana yang sedang mencari

kedua putri.

1.8.3 Banteng dan Raden Margana berperang memperebutkan kedua putri.

1.8.4 Banteng membunuh Raden Margana dalam peperangan.

1.9 Banteng berada di perkebunan yang indah dalam keadaan sangat sedih. 1.9.1 Banteng berada di bawah pohon beringin.

1.9.2 Banteng mendapat petunjuk akan penyembuhannya untuk menjadi manusia lagi.

1.9.3 Banteng menumbangkan pohon beringin.

1.9.4 Banteng mengambil Cupu Permata di tempat tancapan akar tunjang. 1.9.5 Banteng mengoleskan minyak Cupu Permata di seluruh tubuhnya. 1.9.6 Banteng merasa mengantuk, antara tertidur dan terjaga.

1.9.7 Banteng kembali keujudnya seperti dulu, yaitu Raden Prawasakala. 2. Burung Menco

2.1 Menco pergi ke hutan meninggalkan istana kerajaan. 2.1.1 Menco berkidung hinggap di dahan nagasari. 2.1.2 Suara Menco di dengar Ki Buyut Cemporet. 2.1.3 Menco didekati Ki Buyut.

2.1.3 Menco menunjukan jalan kepada Ki Buyut yang tersesat di hutan. 2.1.4 Menco tiba di rumah Ki Buyut, di desa Cengkarsari.

2.1.5 Menco membantu Ki Buyut menanam umbi-umbian.

2.2 Menco kembali pergi ke hutan, membagi tugas dengan banteng. 2.3 Menco sampai di negeri Pagelen dan hinggap di pohon angsoka.

2.3.1 Menco melihat banyak wanita di taman.

2.3.2 Menco berdendang dengan suara yang lembut dan merdu. 2.3.3 Menco bertemu dengan putra raja Pagelen.

2.3.4 Menco menjadi piaraan kesayangan putra raja. 2.4 Menco meninggalkan taman bunga di Pagelen.

2.5 Menco pergi ke Cengkarsari menjenguk orang tua angkatnya. 2.5.1 Menco melihat wanita cantik di sendang.

2.5.2 Menco menyanyikan sebuah lagu tembang gede. 2.5.3 Menco mengejutkan Dewi Suretna / Rara kumenyar.

2.5.4 Menco memperkenalkan diri sebagai binatang kesayangan Raden Pramana.

2.5 Menco mohon ijin kembali ke negeri Pagelen, menghadap rajaputra. 2.5.1 Menco terbang mengepak-ngepakkan sayapnya di angkasa. 2.5.2 Menco berhenti di hutan hinggap di pohon seraya berkidung 2.5.3 Menco mendapat dua teman baru sesama burung menco. 2.5.4 Menco mengajak kedua temannya ke negeri Pagelen. 2.6 Menco menghadap Raden Pramana.

(52)

2.6.1 Menco menceritakan kecantikan Rara Kumenyar di desa Cengkarsari.

2.6.2 Menco memperkenalkan ke dua teman barunya sesama burung untuk sama-sama mengabdi kepada Raden Pramana.

2.7 Menco sedih teman barunya si sumping meninggal saat menjalankan tugas.

2.8 Menco dan cunduk serta Raden Pramana melarikan diri dari kerajaan. 2.9 Menco diperintah raden Pramana mencari banteng di hutan.

2.9.1 Menco bertemu banteng dan diajak menghadap gusti junjungannya. 2.9.1 Menco dan banteng menghadap Raden Pramana.

2.10Menco bersama rombongan melanjutkan perjalanan ke desa Cengkarsari.

2.10.1 Menco mengabarkan kepada Ki Buyut perihal kedatangan Raden Pramana.

2.11 Menco dan rombongan sampai desa cengkarsari.

2.11.1 menco mendapat tugas menghadap sang pengantin mempersembahkan pakaian kebesaran.

2.12 Menco melihat gustinya sedang berperang dengan Raden Jaka Sudana. 2.12.1 Menco hendak menangkap panah dari Raden Jaka Sudana.

2.12.2 Menco jamang dan cunduk mati tertembus panah.

2.12.3 Menco jamang mayatnya lenyap berubah ujudnya menjadi semula. 3. Anjing

3.1 Anjing terlunta-lunta di hutan mencari ibu tirinya, yaitu Rara jonggrang. 3.2 Anjing sampai di desa Sokakarwi.

3.2.1 Anjing bersembunyi di pagar milik penduduk.

3.2.2 Anjing mendengar sayembara dari Rara Nawangsih, yang dikira suara ibu tirinya.

3.2.3 Anjing membawa teropong milik Rara nawangsih dengan mulutnya. 3.2.4 Anjing menyerahkan teropong kepada Rara Nawangsih.

3.2.5 Anjing menikah dengan Rara Nawangsih karena telah memenangkan sayembara.

3.2.6 Anjing berubah menjadi manusia di waktu malam hari.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa insiden adalah peristiwa atau kejadian yang berisi tindakan atau aktivitas tokoh cerita, yang menyebabkan peralihan dari keadaan yang satu ke keadaan yang lain. Insiden-insiden yang dialami oleh tokoh-tokoh binatang di atas, merupakan bagian dari deretan peristiwa yang dikisahkan dalam Serat Cemporet.

(53)

Berikut ini akan dilanjutkan pembahasan mengenai peristiwa dan wujud atau eksistensinya, berkenaan dengan tokoh-tokoh binatang yang terdapat dalam Serat Cemporet.

4.1.2 Peristiwa (event) dalam Serat Cemporet

Peristiwa (event) dalam sebuah karya naratif berfungsi sebagai pendukung jalannya cerita. Tokoh adalah pelaku yang mengemban setiap peristiwa yang dikisahkan. Lakuan, gerak, atau aktivitas tokoh yang dalam sebuah cerita naratif berupa deskripsi, dapat dilihat lewat peristiwa yang diceritakan. Dapat dikatakan bahwa cerita naratif memaparkan tentang deretan peristiwa.

Secara garis besar peristiwa terbagi menjadi dua unsur, yaitu tindakan dan kejadian. Kedua unsur tersebut, artinya sering dianggap sama atau hampir sama. Namun dalam penulisan skripsi ini, ke dua unsur tersebut diartikan sebagai sesuatu hal yang berbeda. Pembahasan dilanjutkan mengenai kejadian dan tindakan yang dialami oleh tokoh binatang dalam teks sastra Serat Cemporet, sebagai berikut.

4.1.2.1 Tindakan (action)

Peristiwa yang berkaitan dengan masalah tolong-menolong yang terdapat dalam Serat Cemporet, terlihat pada peristiwa burung menco dan banteng ketika menolong Ki Cemporet dan istrinya yang tersesat di hutan. Terdapat dalam pupuh ke IV (kinanthi) bait ke 56-57, sebagai berikut.

(54)

Dene sangkaning pakantuk, wewah tembung sawatawis, amung asring dana karya, awrat entheng den lampahi, tedah marga wong kasasar, atutulung suker sakit (pupuh IV, bait 56).

Duk miyarsa Kyai Buyut, anggarjita muwus aris, angger lamun makatena, kaleresan ing samangkin, ulun lawan nyai somah, samya nandhang kawlas asih. (pupuh IV, bait 57)

Terjemahan bebasnya :

Caranya memperoleh dan mendapat tambahan beberapa patah kata, ialah karena seringnya memberikan bantuan. Berat dan ringan kami lakukan atau menunjukan jalan kepada mereka yang tersesat tak tahu jalan serta menolong orang yang mengalami kesulitan atau sakit. (pupuh IV, bait 56)

Mendengar penjelasan itu Kyai Buyut berpikir, lalu ujarnya lembut, “Nak jika demikian sungguh kebetulan. Saya dan istri saya ini sedang tertimpa kesusahan. (pupuh IV, bait 57)

Pada ke dua bait di atas, merupakan deretan peristiwa yang berupa tindakan yang dilakukan oleh burung menco dan banteng ketika menolong Ki Buyut Cemporet dan istrinya ketika tersesat di hutan.

Masalah tolong-menolong juga terdapat pada pupuh V (mijil) bait ke 4-5, sebagai berikut.

Sang andaka lan sang menco paksi, kesah sakarongron, prapteng wana rembug andum gawe, bantheng tetep lumastareng kardi, tetulung kaswasih, atuduh marga yu. (pupuh V, bait 4)

Sang menco nedya anuhoni, met reh karahayon, kang tinuju mring praja Pagelen, sawusira sesewangan kapti, ngambara sang paksi, andaka kalaku. (pupuh V, bait 5)

Terjemahan bebasnya :

Suatu waktu banteng dan burung pergi berdua, masuk ke dalam hutan, kemudian bersepakat membagi tugas. Banteng tetap bertugas seperti biasanya, yakni memberi pertolongan kepada orang-orang yang mengalami kesulitan, terutama kepada orang-orang yang tersesat. (Pupuh V, bait 4)

(55)

Sedangkan si burung menco akan menunaikan tugas dengan cara-cara memberikan tuntunan ke arah keselamatan. Yang dituju ialah negeri Pagelen. Sesudah menentukan tujuan masing-masing, si burung terbang melayang, sedangkan banteng tetap berjalan. (pupuh V, bait 5)

Dua bait di atas, menceritakan peristiwa burung menco dan banteng akan tekadnya untuk menolong sesama, dengan membagi tugas. Tindakan tersebut dilakukannya dengan ikhlas untuk berbuat kebaikan. Selain itu, untuk menebus dosa-dosa di masa lalu. Supaya Tuhan mengampuni dan merubah wujudnya seperti semula.

Masalah tolong-menolong terdapat juga pada pupuh V bait 38, sebagai berikut.

Saben wonten janma kawlas asih, mbebekta rekaos, amba ingkang tulung nggawakake, tuwin lelampah bingung ing margi, kula anjalari, asuka pinulung. (pupuh V, bait 38)

Terjemahan bebasnya :

Setiap kali ada orang yang kesusahan, misalnya karena barang yang dibawanya terlalu berat, sayalah yang menolong membawakannya. Demikian pula jika ada orang bingung dalam perjalanan, saya pun memberi pertolongan. (pupuh V, bait 38)

Pada pupuh V bait ke 38 di atas, menggambarkan peristiwa banteng melakukan tindakan menolong sesama yang sedang kesusahan. Banteng menolong dengan membawakan barang-barang yang berat. Di samping itu, memberikan pertolongan kepada orang lain yang tersesat di hutan belantara, dengan cara menunjukan jalan.

Masalah tolong menolong juga diperlihatkan dalam pupuh V, bait ke 47 berukut ini.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang bemakna antara pengetahuan serat dan konsumsi serat dengan kejadian obesitas pada remaja di SMP Budi Mulia Dua Yogyakarta.. Kata kunci

Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang bemakna antara pengetahuan serat dan konsumsi serat dengan kejadian obesitas pada remaja di SMP Budi Mulia Dua Yogyakarta.. Kata kunci

Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Pembimbing Utama Drs. Hadi Setyo Subiyono, M.Kes, Pembimbing Pendamping Dr. Setya Rahayu, M.S. Kata kunci : Hasil

2005/2006. Skipsi Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan, UNNES, Pembimbing I : Tri Tunggal Setiawan, S.Pd. M.Kes, Pembimbing II : Drs. Kata Kunci

Hasil penelitian (1) struktur karya sastra dalam Serat Prabangkara yang terdiri dari empat srtuktur inti yang berhubungan dengan psikologi sastra yaitu tema,

Studi Bimbingan dan Konseling di Universitas Muria Kudus, Dosen Pembimbing I Dra. Kons., Dosen Pembimbing II Drs. Kata Kunci: Akhlak Mulia: Layanan Bimbingan

Akibat penyerapan air, kekuatan tarik komposit epoksi bambu petung menurun karena sifat serat dan antarmuka serat matriks telah terdegradasi.. Kata kunci: Biokomposit, Epoksi,

Hasil pengujian menunjukkan bahwa proses perendaman dalam larutan NaOH dengan konsentrasi dan waktu yang tepat, mampu meningkatkan nilai kekuatan tarik serat bundung.. Kata Kunci