BAB II LANDASAN TEORI
4.2 Peran Tokoh Binatang dalam Serat Cemporet pada Dunia
4.2.1 Burung Menco
Salah satu tokoh binatang yang terdapat dalam Serat Cemporet yaitu burung menco. Burung menco merupakan wujud deformasi dari Raden Prawasata, putra bungsu Raja Sri Kala dari kerajaan Prambanan. Raden Prawasata memiliki kegemaran menembangkan kidung kakawin, sehingga waktunya dihabiskan untuk bernyanyi. Tidak heran lagi jika Ia dapat merangkai kata-kata sedemikian indah dan didendangkan dengan suara merdunya.
Burung menco yang sering disebut juga burung beo, merupakan sebangsa atau jenis burung yang pandai menirukan suara-suara yang didengarnya. Kebanyakan dari burung beo, tak jarang juga dapat meniru kata-kata yang sering diucapkan oleh manusia. Kepandaian yang dimilikinya merupakan pembeda jika dibandingkan dengan burung lainnya, sebagai ciri khas yang dimilikinya.
Dikisahkan, ketika Raja Sri Kala hendak menghibur diri pergi berburu ke hutan bersama barisan pemburu, dan hanya memperoleh sedikit hewan buruan. Dengan perasaan kecewa Sri Baginda pulang. Setibanya di kota secara kebetulan melihat keadaan yang tidak mengenakan. Melihat Raden Arya
Prawasakala sedang menebang habis dahan-dahan beringin, sehingga menutupi jalan. Pada waktu yang bersamaan mendengar suara Raden Prawasata yang sedang mendendangkan lagu dengan suara merdunya.
Kekecewaan Sri Baginda lengkaplah sudah. Berburu hanya mendapat sedikit hewan buruan, melihat Arya Prawasakala menebang pohon beringin sampai habis, sehingga menutupi jalan yang akan dilewatinya. Di tambah suara si bungsu yang sedang bernyanyi. Kekesalan Sri Baginda yang bertumpuk-tumpuk membuatnya keterlepasan di dalam berkata. Putra yang tua seperti banteng lepas di padang, yang sok pemberani dan tidak sabaran. Putra yang muda sok pintar, pekerjaannya hanya berdendang seperti burung beo.
Ucapan Sri Baginda, tidak terduga menjadi kenyataan. Raden Arya Prawasakala berubah wujud menjadi banteng (dibahas pada sub bagian selanjutnya) dan Raden Prawasata berubah wujud menjadi seekor burung beo. Meskipun keduanya berubah wujud menjadi binatang, tetapi masih bisa berkata-kata layaknya manusia biasa. Dengan kejadian itu, Sri Baginda menyesal dan sangat sedih, melihat keadaan ke dua anaknya yang berwujud binatang. Perasaan bersalah karena menyumpahi ke dua putranya yang berakibat menjadi kenyataan.
Peran tokoh burung Menco pada dunia pendidikan dapat diketahui melalui percakapan, tingkah laku, pikiran dan perasaan yang dialaminya pada peristiwa yang dikisahkan. Lihat kutipan pupuh VI, bait ke 17-18 berikut ini.
Pawongan siji matur, wonten menco saged angingidung, lukitaning kakawin putus patitis, teteh kadi janma tuhu, kang rumuhun anyalemong. (pupuh VI bait 17)
Sareng kang kantun wau, urut-runtut ukaraning kidung, dodongengan rinumpakeng sekar kawi, asasmita karya pemut, limiting tyas kamituhon. (pupuh VI bait 18)
Terjemahan bebasnya :
Seorang pelayan menjawab demikian, “Ada seekor menco dapat berkidung. Kakawin yang dibawakannya lengkap dan tepat. Ucapannya jelas, fasih seperti manusia betul-betul. Akan tetapi mula-mula tidak karuan ucapannya. (pupuh VI bait 17)
Kemudian yang belakangan kalimat kidungnya teratur dan berurutan, berupa dongeng yang digubah dengan kata-kata kawi, memberi acuan berupa peringatan kepada hati yang khilaf karena menurut hal-hal yang tidak benar.” (pupuh VI bait 18)
Kehadiran burung menco pada kutipan di atas, mengemban peran sebagai tokoh cerita yang mengajarkan manusia untuk menjalankan kehidupan dengan baik. Tidak terlalu menuruti nafsu yang akhirnya akan menyesal dikemudian hari. Kehati-hatian dan dipikir masak-masak sebelum melangkah, agar mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
Selain berperan sebagai tokoh yang memberikan tuntunan kehidupan, burung menco juga memiliki sifat rendah hati yang melekat pada peran yang diceritakan. Lihat kutipan pupuh VI bait ke 23-24 sebagai berikut.
Sang kulila lan matur, inggih amba kang wau ngingidung, nanging dereng lebda widagdeng kakawin, namung tembung maksih widhung, aben manis kirang manggon. (pupuh VI bait 23)
Nanging tyas kumacelu, sumerepa sawatawis lowung, kinarya wit sisinaon murweng kawi, myang mardapa mardi lagu, sampun ngantos kabesturon. (pupuh VI bait 24)
Terjemahan bebasnya :
Si burung menjawab lembut, ujarnya, “Benar, sayalah yang tadi berkidung, namun sesungguhnya belun mahir atau ahli dalam hal kakawin, dan hanya sekedar merangkai kata, itupun masih kaku. Dalam mempertautkan kata-kata yang baik, sering kali masih kurang tepat. (pupuh VI bait 23)
Meskipun demikian memberanikan diri dengan pengetahuan yang sedikit. Lumayan untuk bekal mempelajari kata-kata kawi, dan untuk mengembangkan kemampuan bernyanyi, agar supaya tidak bodoh. (pupuh VI bait 24)
Pada kutipan di atas, menggambarkan kedirian menco memerankan tokoh cerita yang memiliki sifat rendah hati. Kepandaiaanya menggubah dan mendendangkan tembang kakawin tidak membuatnya sombong. Di samping itu, memberikan pesan bahwa meskipun ilmu pengetahuan yang dimilikinya hanya sedikit, tetapi dapat dimanfaatkan. Untuk menghibur sekaligus memberikan teladan kepada orang lain.
Burung menco juga berperan sebagai tokoh yang memiliki sifat yang tidak pernah ingkar bila sudah berjanji. Perhatikan kutipan pupuh IX bait ke 28 berikut.
Dipun sabil ing panggalih, sampun lalu kalayatan, emutha dhateng pun sinom, tebih-tebih limampahan, nedya reksa-rumeksa, condhong cundhuking sarembug, wekasan karya duhkita. (pupuh IX bait 28)
Terjemahan bebasnya :
Sabarkanlah hati sang Dewi, dan jangan terlanjur lupa diri. Ingatlah kepada sinom, yang telah jauh datang memenuhi janji, dengan niat saling menjaga dan membina persesuaian dan kesepakatan pendapat, akan tetapi pada akhirnya hanya membuat kesedihan (pupuh IX bait 28)
Peran tokoh menco menjadi tokoh yang berpegang teguh pada janji, dari kutipan di atas, menggambarkan burung menco (sinom) yang telah menepati janjinya untuk menemui Rara Kumenyar. Selain itu, menco juga berperan sebagai tokoh yang memiliki sopan santun dan tata karma. Perhatikan kutipan pupuh IV, bait ke 48 berikut ini.
Andika bangsaning manuk, teka lebdeng kramaniti, lawan punika andaka, atutut dipun pereki, wrin tata tetep tapsila, saweg punika amanggih. (pupuh IV bait 48)
Terjemahan bebasnya :
Anda termasuk bangsa burung, mengapa mahir berbahasa sempurna. Dan banteng ini, didekati juga jinak dan tahu akan tata krama dan sopan santun. (pupuh IV bait 48)
Kutipan di atas menggambarkan peran menco sebagai tokoh yang memiliki tata krama dan sopan santun di hadapan orang lain, terlebih orang yang lebih tua umurnya.