BAB II LANDASAN TEORI
2.3 Hubungan Karya Sastra dengan Pendidikan
2.3.3 Jenis Nilai-nilai Pendidikan
Nilai pendidikan memiliki kedudukan sebagai tolak ukur seberapa berharganya kehidupan bagi manusia. Menghargai pentingnya arti kehidupan, mengingat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak terlepas dengan manusia lain. Dapat diartikan dalam kehidupan masyarakat, bahwa nilai pendidikan dapat membentuk kemaslahatan dan kesejahteraan manusia sebagai anggota masyarakat. Hadikusuma (1999: 25) membagi nilai-nilai pendidikan itu atas
pendidikan keindahan, pendidikan kesusilaan, pendidikan sosial, pendidikan politik, pendidikan ekonomi, pendidikan agama dan pendidikan ketrampilan.
Nilai-nilai pendidikan di atas terkandung juga di dalam sebuah karya sastra. Mengingat karya sastra mengemukakan persoalan hidup dan kehidupan manusia, yang di dalamnya menyangkut nilai-nilai pendidikan. Tarigan (1985: 194) menyebutkan nilai-nilai dalam suatu karya sastra dapat berupa:
1) Nilai hedonik, yaitu apabila suatu karya sastra dapat memberikan kesenangan secara langsung kepada kita.
2) Nilai artistik, yaitu memanifestasikan ketrampilan seseorang.
3) Nilai kultural, mengandung hubungan bila suatu karya sastra yang mendalam dengan suatu masyarakat atau suatu peradaban dan kebudayaan. 4) Nilai etis, moral, dan religius, yaitu bila dari suatu karya sastra terpancar
ajaran-ajaran yang ada sangkut pautnya dengan etika, moral, dan agama. 5) Nilai praktis, yaitu karya-karya yang mengandung hal-hal praktis yang
dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas mengenai nilai-nilai pendidikan, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan merupakan konsep yang dijadikan panutan hidup manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan. Nilai-nilai pendidikan tersebut, terdiri dari:
1) Nilai Pendidikan Religius
Istilah religi sering disamakan artinya dengan pengertian agama. Namun, pengertian religi cakupannya lebih luas jika dibandingkan dengan
pengertian agama. Pengertian religi menyangkut adanya kekuatan lain di luar diri manusia yang sifatnya supra natural, yang secara umum disebut Tuhan (Munib, 2006: 17). Agama lebih menyangkut hubungan individu dengan Tuhannya. Dapat dikatakan bahwa agama adalah wujud dari kesadaran dan pengakuan manusia akan adanya kekuatan lain di luar dirinya.
Nilai pendidikan religi berhubungan dengan kesadaran akan Tuhan, menciptakan manusia menjadi individu yang bertaqwa kepada Tuhannya. Kesadaran tersebut direalisasikan dengan taat dan patuh menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, seperti yang diajarkan dalam agama yang dipeluknya. Setiap agama pada hakikatnya sama, yaitu mengajarkan umatnya untuk bertauhid kepada Tuhan pencipta alam beserta isinya.
2) Nilai Pendidikan Etika
Etika adalah keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya (Suseno, 2001: 6). Etika merupakan konvensi masyarakat yang menyaran pada sikap dan tindakan seseorang, menyangkut pantas atau kurang pantas, benar atau kurang benar, tentang sikap atau tindakan individu yang bersangkutan. Mewujudkan kehidupan manusia yang selaras dengan tata karma dan adat-istiadat dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Soegito (2006: 87) etika adalah sebuah ilmu, yaitu sebagai salah satu cabang ilmu filsafat yang mengajarkan bagaimana hidup secara arif atau bijaksana, memberi ajaran tentang bagaimana seseorang harus berperilaku dalam kehidupannya secara bermoral. Etika menyaran pada tanggungjawab dan kewajiban seseorang sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk religius. Etika menjadi konsep manusia untuk bertindak dan bertingkah laku terhadap sesama, menuju terciptanya kebahagiaan hidup.
3) Nilai Pendidikan Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin terlepas dari manusia lain. Sosial adalah sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat (KBBI, 1994: 958). Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan kehadiran manusia lain. Dapat diartikan bahwa manusia memiliki sifat ketergantungan atau membutuhkan hubungan dengan sesama di dalam lingkup yang disebut masyarakat. Untuk itu, manusia perlu hidup berkelompok atau bermasyarakat untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Nilai pendidikan sosial bersumber dari adanya kenyataan bahwa manusia tidak akan mampu hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain. Manusia memiliki sifat saling ketergantungan antara manusia yang satu dengan lainnya. Jadi, manusia dituntut untuk mampu hidup berkelompok, memenuhi segala kebutuhannya yang tak lain membutuhkan bantuan manusia lain.
4) Nilai Pendidikan Moral
Dalam bahasa Arab, moral yang berarti budi pekerti sama dengan pengertian akhlak, sedangkan dalam konsep Indonesia moral berarti kesusilaan (Soegito, 2006: 73). Moral merupakan suatu nilai yang dijadikan acuan untuk mengatur tingkah laku dan perbuatan manusia dalam kehidupan di masyarakat. Selain itu, juga dapat digunakan untuk membedakan antara tindakan atau tingkah laku manusia yang baik dan yang buruk di dalam hubungannya antara manusia satu dengan lainnya.
Menurut Soeparwoto (2004: 99) moral merupakan serangkaian nilai-nilai yang di dalamnya memuat kaidah, norma, tata cara kehidupan, adat-istiadat, dan pranata sebagai standar baik-buruknya perilaku individu atau kelompok yang dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial, budaya, dan religi dari individu atau kelompok masyarakat.
Nilai pendidikan moral menyaran pada petunjuk tentang bagaimana seseorang melangkah dalam hidup. Untuk itu, moralitas adalah sebuah “pranata” seperti halnya agama, politik, bahasa dan sebagainya yang sudah ada sejak dahulu kala dan diwariskan secara turun-temurun (Soegito, 2006: 87). Moral merupakan standar baik-buruk yang ditentukan bagi individu oleh nilai-nilai sosial budaya dimana individu sebagai anggotanya (Rogers dalam Soeparwoto, 2004: 99)
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai kebenaran,
dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2005: 321). Pengarang mempunyai tujuan menyampaikan suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, lewat cerita yang bersangkutan, yang dapat diambil dan ditafsirkan oleh pembaca. Saran tersebut, berupa petunjuk tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti sikap dan tingkah laku yang ditampilkan lewat tokoh cerita.
Melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan, yang diamanatkan (Nurgiyantoro, 2005:321). Kehadiran karya sastra bukan hanya bertujuan untuk hiburan belaka. Melainkan menawarkan pesan moral yang menyangkut masalah hidup dan kehidupan.
3.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan merupakan suatu upaya penghampiran dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis (Ratna, 2004: 35). Dalam skripsi ini, teks sastra menjadi objek penelitian, maka pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, yaitu pendekatan yang menitik beratkan pada karya sastra atau teks sastra sebagai sebuah struktur.
Pendekatan objektif berhubungan erat dengan teori struktur naratif, yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya sastra yang bersangkutan. Pendekatan objektif memandang karya sastra sebagai dunia otonom yang memiliki keunikannya sendiri, yang membedakan karya yang satu dengan yang lain.
Analisis dengan pendekatan objektif dalam karya sastra, dalam hal ini Serat Cemporet sebagai objek utamanya, dilakukan dengan mengidenfikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik karya sastra yang bersangkutan. Untuk menemukan peran tokoh-tokoh binatang, dan nilai-nilai pendidikan melalui peran tokoh binatang dalam Serat Cemporet, terlebih dahulu mengetahui jalinan peristiwa dan hubungan sebab-akibat yang ada
di dalamnya. Hal tersebut dapat diungkap dengan pendekatan objektif, dengan menggunakan teori struktural naratif.
Penggunaan teori struktural naratif merupakan salah satu cara untuk membongkar karya sastra lewat struktur cerita, sehingga dapat mengetahui suatu maksud tertentu dari suatu peristiwa yang dideskripsikan. Jadi, dapat diartikan bahwa peran tokoh-tokoh binatang, nilai dan wujudnya dalam Serat Cemporet dapat diketahui lewat peristiwa-peristiwa yang ada dalam cerita.
3.2 Sasaran Penelitian
Sasaran dalam penelitian ini adalah mengungkap nilai-nilai pendidikan dan peran tokoh-tokoh binatang pada dunia pendidikan, yang terdapat dalam Serat Cemporet karya R. Ng. Ranggawarsita.
Data pada penelitian ini yaitu piwulang atau ajaran yang dapat diungkap melalui peran tokoh binatang dan peristiwa dalam Serat Cemporet, yang digunakan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan dan peran tokoh-tokoh binatang pada dunia pendidikan yang terdapat dalam karya sastra tersebut.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks Serat Cemporet karya R. Ng. Ranggawarsita yang sudah dialih aksara dan dialih bahasakan oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto. Diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1987, setebal 415 halaman. Bagian pertama menggunakan bahasa Indonesia dan bagian kedua menggunakan bahasa Jawa. Karya sastra Serat Cemporet tersebut merupakan cetakan ke enam.
3.3 Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu mengkaji teks sastra Serat Cemporet dengan menitik beratkan pada jalinan peristiwa dan hubungan sebab-akibat yang berupa tindakan tokoh, yang ada di dalamnya. Sehingga membentuk sebuah totalitas kemaknaan terpadu, yang membuat karya sastra lebih bermanfaat bagi kehidupan. Dalam hal ini, lebih mengutamakan pendalaman tentang struktur teks sastra.
Sebelum dilakukan analisis mengenai nilai-nilai pendidikan dan peran tokoh binatang pada dunia pendidikan, terlebih dahulu dibuat insiden-insiden yang menunjukan peristiwa dan tindakan tokoh-tokoh binatang dalam Serat Cemporet.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis obyek kajian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Membaca teks Serat Cemporet secara cermat dan teliti supaya dapat memahami keseluruhan isi karya sastra tersebut.
2) Menentukan tokoh-tokoh, yang dalam hal ini adalah tokoh binatang yang menjadi obyek penelitian.
3) Menentukan insiden-insiden dalam cerita yang akan menjadi obyek kajian penelitian yang berupa tindakan yang dilakukan tokoh-tokoh binatang.
4) Mencari dan mencatat peristiwa dan wujud dalam Serat Cemporet. 5) Mendeskripsikan peran tokoh-tokoh binatang pada dunia pendidikan.
6) Menganalisis nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Serat Cemporet melalui peristiwa yang diperkuat dengan kalimat-kalimat yang mengandung nilai-nilai pendidikan.
DALAM SERAT CEMPORET