BAB II LANDASAN TEORI
4.1 Struktur Naratif Teks Serat Cemporet
4.1.3 Wujud atau Eksistensinya
4.1.3.1 Watak (character)
Peristiwa yang berupa tindakan dan kejadian yang dialami oleh tokoh-tokoh binatang di atas, secara tidak langsung menyaran pada watak yang dimiliki oleh setiap tokoh-tokoh binatang yang terdapat dalam Serat cemporet. Dapat ditemukan pada peristiwa banteng dan menco menolong Ki Buyut Cemporet dan istrinya yang tersesat di hutan. Tokoh banteng dan menco digambarkan seperti yang terdapat dalam pupuh IV bait ke 48-50 berikut ini.
Andika bangsaning manuk, teka lebdeng kramaniti, lawan punika andaka, atutut dipun pareki, wrin tata tetep tapsila, saweg punika amanggih. (pupuh IV, bait 48)
Bantheng anambungi wuwus, aksama andika Kyai, rehning amba sato wana, mboten saged tata linggih, mung angger nglengger kewala, pangraos sampun prayogi. (pupuh IV, bait 49)
Kyai buyut duk angrungu, kadi tan bisa mangsuli, saking dahat katambetan, sato bisa mardaweng ling, tan tumpangso tembungira, rumaket amamalat sih. (pupuh IV, bait 50)
Terjemahan bebasnya :
Anda termasuk bangsa burung, mengapa mahir berbahasa sempurna. Dan banteng ini, didekati juga jinak serta tahu tata karma dan sopan santun. Baru kali inilah saya bertemu.” (pupuh IV, bait 48)
Banteng menyahut, “Kyai, kuminta anda memaklumi. Karena saya ini binatang hutan yang tidak dapat duduk dengan baik, yang bisa aku lakukan hanya mendekam saja. Itupun sudah kuanggap baik.” (pupuh IV, bait 49)
Hampir-hampir Kyai Buyut tidak dapat menjawab ketika mendengar ucapan si banteng, karena benar-benar tidak menduga ada binatang
dapat bercakap-cakap dengan baik. Kata-katanya tidak tumpang-tindih, ramah lagi bersahabat. (pupuh IV, bait 50)
Peristiwa yang terdapat pada pupuh IV bait ke 48-50 di atas, menggambarkan watak burung menco dan banteng. Burung menco adalah binatang yang pandai berbahasa dengan baik, tahu tata krama dan sopan santun, dapat menempatkan diri dengan siapa dia berbicara. Meskipun Ki Buyut Cemporet adalah orang desa terlebih hanya rakyat jelata, tetapi burung menco menghormati dan sopan terhadapnya. Hal itu dilakukan karena Ki Buyut lebih tua darinya, dan sudah kewajiban yang muda untuk menghormati yang lebih tua.
Watak banteng tidak jauh berbeda dari adiknya, si burung menco. Menghormati orang yang lebih tua, tahu sopan santun dan tata krama. Dapat menempatkan diri dengan siapa dia berbicara. Menganggap Ki Buyut Cemporet orang yang lebih tua darinya, tanpa menilik latar belakang ki Buyut. Seorang tua renta yang pekerjaannya mencari kayu di hutan, dan hanya rakyat jelata.
Burung menco dan banteng mempunyai akhlak mulia, yang sulit rasanya bila dibandingkan dengan kekayaan yang berupa materi. Menunjukan watak manusia yang selalu merendahkan diri, tidak sombong, dan tidak angkuh, meskipun mereka berdua merupakan putra raja. Perhatikan pupuh IV, bait ke 53-54 berikut ini.
Muhung mangke nuhun dunung, sinten paduka kakalih, menco aris saurira, satuhunipun Kiyai, paksi wawanan kewala, lawan andaka puniki. (pupuh IV, bait 53)
Pan enggih sato satuhu, tan kalebet kulit daging, among panggih amimitran, sami sasabeng wanadri, sarawunganing rarasan, dhateng kula basa adhi. (pupuh IV, bait 54)
Terjemahan bebasnya :
Akan tetapi saya ingin bertanya, siapakah sebenarnya anak berdua?” menco menjawab lembut, “Kyai, sesungguhnya saya ini memang hanya burung hutan belaka. Banteng inipun (pupuh IV, bait 53)
Benar-benar binatang. Bukan sanak bukan saudara, akan tetapi sejak bertemu lalu bersahabat, sama-sama mengembara di dalam hutan. Untuk mempererat persaudaraan, ia memanggil adik kepada saya. (pupuh IV, bait 54)
Kutipan di atas, menggambarkan watak burung menco dan banteng yang selalu rendah hati dan tidak angkuh. Meskipun mereka berdua merupakan putra raja, tetapi tidak mau mengakuinya. Di samping itu, untuk menghilangkan syah-prasangka, agar tidak menimbulkan pertanyaan yang pada akhirnya Ki Buyut tahu jika mereka sedang dikutuk menjadi binatang hutan. Hal tersebut dilakukan bukan hendak untuk berbohong, tetapi sudah menjadi pesan dari ayahandanya, yaitu Prabu Sri Kala.
Watak mulia burung menco dan banteng untuk menolong manusia dapat terlihat dalam peristiwa pada pupuh V, bait ke 4-5 berikut ini.
Sang andaka lan sang menco paksi, kesah sakarongron, prapteng wana rembug andum gawe, bantheng tetep lumastareng kardi, tetulung kaswasih, atuduh marga yu. (pupuh V, bait 4)
Sang menco nedya anuhoni, met reh karahayon, kang tinuju mring praja Pagelen, sawusira sesewangan kapti, ngambara sang paksi, andaka kalaku. (pupuh V, bait 5)
Terjemahan bebasnya :
Suatu waktu banteng dan burung pergi berdua, masuk ke dalam hutan, kemudian bersepakat membagi tugas. Banteng tetap bertugas seperti biasanya, yakni memberi pertolongan kepada orang-orang yang mengalami kesulitan, terutama kepada orang-orang yang tersesat. (Pupuh V, bait 4)
Sedangkan si burung menco akan menunaikan tugas dengan cara-cara memberikan tuntunan ke arah keselamatan. Yang dituju ialah negeri Pagelen. Sesudah menentukan tujuan masing-masing, si burung terbang melayang, sedangkan banteng tetap berjalan. (pupuh V, bait 5)
Kutipan di atas, melukiskan kebaikan budi burung menco dan banteng untuk menolong manusia. Pembagian tugas antara menco dan banteng untuk menolong manusia yang sedang dilanda kesusahan. Banteng memberikan pertolongan kepada orang-orang yang mengalami kesulitan dan tersesat di hutan, sedangkan si menco pergi ke negeri pagelen untuk memberikan tuntunan ke arah keselamatan.
Banteng merupakan pribadi yang suka menolong orang lain yang sedang kesusahan. Perhatikan kutipan pupuh V bait 37-38 berikut ini.
Angandika kusumaning adi, teka bisa kang wong, lan manusa paran kamulane, dene sipate sato sireki, bantheng anauri, saking atutulung. (pupuh V, bait 37
Saben wonten janma kawlas asih, mbebekta rekaos, amba ingkang tulung nggawakake, tuwin lelampah bingung ing margi, kula anjalari, asuka pinulung. (pupuh V, bait 38)
Terjemahan bebasnya :
Sang Dewi bertanya, demikian, “Bagaimana engkau bisa bergaul dengan manusia, sedangkan engkau sendiri adalah binatang. Bagaimana asal mulanya?” Banteng menjawab, “dengan memberi pertolongan. (pupuh V, bait 37)
Setiap kali ada orang yang kesusahan, misalnya karena barang yang dibawanya terlalu berat, sayalah yang menolong membawakannya.
Demikian pula jika ada orang bingung dalam perjalanan, saya pun memberi pertolongan. (pupuh V, bait 38)
Banteng memiliki watak suka menolong sesama yang sedang kesulitan. Kutipan di atas, banteng menolong Dewi Suretna ketika tersesat di hutan. Pelariannya dari kerajaan jepara, karena tidak mau dipaksa menikah dengan putra raja pagelen. Membuat Dewi Suretna terlunta-lunta dan tersesat di hutan belantara. Kebaikan budi banteng yang suka menolong orang lain, membawa dewi Suretna keluar dari hutan, dan diajaknya ke desa Cengkarsari. Perhatikan kutipan pupuh V bait ke 39-40 berikut ini.
Balik paduka wanudya pundi, dahat nyalawados, munggweng wana tan wonten rowange, dene memela memelas asih, kados ngemu sedhih, paran dunungipun. (pupuh V, bait 39)
Tan katenta punapa pun patik, mila amamartos, bok manawi saged madhangake, asarana tulung sawatawis, sangdyah amangsuli, samedaneng wuwus. (pupuh V, bait 40)
Terjemahan bebasnya :
Sebaliknya, paduka ini wanita dari mana. Sungguh sangat asing berada dalam hutan tanpa teman, mengapa demikian menyedihkan, dan tampaknya juga sedang bersedih hati. Bagimana sebenarnya? (pupuh V, bait 39)
Bukan karena sembrono saya bertanya. Siapa tahu saya dapat membantu memberikan sarana pertolongan ala kadarnya.” Sang Dewi menjawab, akan tetapi berpura-pura ujarnya. (pupuh V, bait 40)
Kutipan pupuh di atas menggambarkan watak banteng yang suka menolong orang lain. Membantu Dewi Suretna yang tersesat sendiri di hutan belantara. Diajak ke tempat Ki Buyut Cemporet, yang kemudian menjadi tabir pembuka bertemu dengan jodohnya, Raden Pramana.
Burung menco memiliki watak tidak sombong dan selalu rendah hati. Meskipun ia pandai menggubah kata-kata dan didendangkan dengan suara merdunya, tetapi tidak membuatnya besar kepala atau menyombongkan diri. Kepandaiannya tidak lain digunakan untuk menghibur orang lain. Perhatikan kutipan pupuh V bait 75, dan pupuh VI bait 1-2 berikut ini.
Bok kang genah tembunging kakawin, enak kapyarseng wong, menco muwus dene daya-deye, yen widagda mardaweng kakawin, tembung kramaniti, dereng pati gambuh. (pupuh V, bait 75)
Makaten yektinipun, saking dahat wonten kang tinurut, mung babasan napak tilas nurun sungging, ing saenggen-enggen anggung, anggupita swaraning wong. (pupuh VI, bait 1)
Tinular kang apatut, kinarya met permuting tyas limut, lami-lami lumaksana sawatawis, laju anggegulang lagu, nanging tanggel maksih mogul. (pupuh VI, bait 2)
Terjemahan bebasnya :
Coba kata-kata kakawinnya yang baik, tentu akan enak didengar. “Tiba-tiba si menco menyela, katanya, “Akh, mengapa harus tergesa-gesa. Jika harus menggunakan kata-kata yang teratur seperti yang sudah mahir memperhalus kakawin, saya memang belum mampu. (pupuh V, bait 75)
Yang demikian itu sesungguhnya karena benar-benar ada yang ditiru, jadi ibaratnya hanya mengikuti saja atau meniru apa adanya apa yang diucapkan manusia di sembarang tempat. (pupuhVI, bait 1)
Tentu saja di ambil yang patut. Yaitu mengambil sesuatu yang dapat dijadikan penyuluh hati yang sedang lupa. Lama-kelamaan serba sedikit dapat melaksanakannya. Kemudian diteruskan dengan mempelajari lagu, akan tetapi serba tanggung dan masih setengah-setengah. (pupuhVI, bait 2)
Kepandaiannya dalam menggubah kata-kata indah dan menyanyikan dengan suara merdunya, tidak membuat burung menco sombong. Namun sebaliknya, ia selalu merendahkan diri seolah-olah tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Dengan suara merdunya, burung menco menghibur orang
lain yang sedang sedih hati. Kata-kata digubah sedemikian indah, sehingga tak jarang dari mereka yang mendengarkan terkagum-kagum.