• Tidak ada hasil yang ditemukan

Banteng

Dalam dokumen serat cemporet (Halaman 82-87)

BAB II LANDASAN TEORI

4.2 Peran Tokoh Binatang dalam Serat Cemporet pada Dunia

4.2.2 Banteng

Tokoh banteng merupakan wujud deformasi dari Raden Arya Prawasakala. Putra ketiga Prabu Sri Kala, kakak dari Raden Prawasata (burung menco). Raden Arya Prawasakala bernasib sama seperti adiknya, berubah wujud menjadi seekor binatang. Perbuatannya yang sekehendak hati menebang pohon beringin sampai habis sehingga menutup jalan yang akan dilewati sang ayah. Membuat ayahnya marah dan tak terkendalikan perkataaannya.

Menyumpahi anaknya seperti seekor Banteng, yang memiliki sifat tak sabar dan berbuat sesuka hati.

Ucapan Prabu Sri Kala berbuah kenyataan yang pahit, yang harus di jalani oleh anaknya. Menjadi seekor banteng, tetapi masih bisa berkata seperti manusia. Kejadian berubahnya Raden Arya Prawasakala bersamaan dengan adiknya yang berubah menjadi burung menco. Ketika Prabu Sri Kala hendak pulang dari berburu di hutan, dan hanya mendapatkan hasil yang sedikit. Membuat sang Prabu kesal ditambah jalan yang akan dilaluinya terhalang dengan dahan pohon beringin.

Peran tokoh banteng pada dunia pendidikan dapat diungkap melalui watak dan latar. Berupa tingkah laku, percakapan, pikiran, perasaan yang dialami pada setiap peristiwa yang diembannya. Peran banteng sebagai tokoh yang suka menolong orang lain, lihat pupuh VIII bait ke 17 berikut.

Andaka kang anyangkul, mbektakaken ing sapurugipun, salaminya makaten ing reh pakarti, nganthos kathah mitranipun, para juragan kumroyok. (pupuh XIII bait 17)

Terjemahan bebasnya :

Dalam keadaan seperti itu, bantenglah yang menolong mambawakan sampai kemanapun juga. Demikianlah selalu pekerjaannya, sehingga banyak sahabatnya. Tak terhitung banyaknya para saudagar, (pupuh XIII, bait 17)

Kutipan di atas menunjukan peran banteng yang suka menolong orang lain yang sedang kesusahan. Lihat kutipan pupuh XIII bait 18-19 berikut ini.

Sing kang sampun sarju, rumaos yen kapotangan tuhu, sedya males amingsungsung sawatawis, nanging kewran patranipun, denira mrih kapanujon. (pupuh XIII bait 18)

Andaka duk angrungu, cara janma wangsulaning wuwus, yen pituwas kang sayekti tanpa kardi, angger tansah awas emut, amet mitra lair batos. (pupuh XIII bait 19)

Terjemahan bebasnya :

Dan barang siapa sudah kenal baik, benar-benar merasa berhutang budi, lalu ingin memberi hadiah ala kadarnya, akan tetapi bingung tentang caranya yang sekiranya sesuai. ((pupuh XIII, bait 18)

Banteng yang mendengar ujar orang-orang yang ditolongnya lalu menjawab, bahwa balas jasa itu sebenarnya tidak ada manfaatnya. Yang penting ialah, asal tetap ingat, dan tak lupa mengakui sebagai teman baik lahir maupun batin. (pupuh XIII, bait 19)

Kutipan di atas, menggambarkan Banteng berperan sebagai tokoh yang suka menolong orang lain tanpa pamrih. Dilakukan dengan iklas untuk berbuat kebaikan, sehingga banyak dari orang yang pernah ditolongnya merasa berhutang budi. Tujuan banteng hanya ingin menebus dosa-dosanya agar terbebas dari kutukan, dan menambah persaudaraan.

Meskipun banteng hanya seekor binatang, tetapi memiliki tata krama dan sopan santun. Perhatikan kutipan pupuh IV, bait ke 49-50 berikut.

Bantheng anambungi wuwus, aksama andika Kyai, rehning amba sato wana, mboten saged tata linggih, mung angger nglengger kewala, pangraos sampun prayogi. (pupuh IV, bait 49)

Kyai buyut duk angrungu, kadi tan bisa mangsuli, saking dahat katambetan, sato bisa mardaweng ling, tan tumpangso tembungira, rumaket amamalat sih. (pupuh IV, bait 50)

Terjemahan bebasnya :

Banteng menyahut, “Kyai, kuminta anda memaklumi. Karena saya ini binatang hutan yang tidak dapat duduk dengan baik, yang bisa aku

lakukan hanya mendekam saja. Itupun sudah kuanggap baik.” (pupuh IV, bait 49)

Hampir-hampir Kyai Buyut tidak dapat menjawab ketika mendengar ucapan si banteng, karena benar-benar tidak menduga ada binatang dapat bercakap-cakap dengan baik. Kata-katanya tidak tumpang-tindih, ramah lagi bersahabat. (pupuh IV, bait 50)

Peran banteng digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sopan santun dan tata krama. Tutur kata dan tingkah lakunya menghormati orang yang lebih tua umurnya. Tidak melihat latar belakang lawan bicaranya. Ki Buyut Cemporet adalah rakyat jelata, yang pekerjaannya mencari kayu di hutan, sedangkan banteng masih keturunan raja. Namun demikian, banteng tetap menghormatinya.

Banteng juga berperan sebagai tokoh yang mudah putus asa. Perhatikan pupuh XX bait ke 8 berikut ini.

Mangke ulun kadyaparan, yen tan ruwat warna janmi, saking pitulung paduka, baya milalu ngemasi, ngandika narpasiwi, pan sarya amijilken luh, he yayi den narima, papancening jawatadi, temenana pamintana pangaksama. (pupuh XX bait 8)

Terjemahan bebasnya :

“Sekarang bagaimana saya ini jika tidak dapat kembali berujud atas pertolongan paduka. Mungkin saya akan bunuh diri,” demikian ujar banteng. Raja putra menjawab dengan air mata bercucuran, “Adikku, terimalah ketentuan dewata, dan mohonlah ampun dengan sungguh-sungguh. (pupuh XX bait 8)

Pada kutipan di atas, banteng berperan sebagai tokoh yang memiliki sifat mudah putus asa. Sewaktu melihat adiknya sudah menjadi manusia lagi, tetapi si banteng masih tetap pada ujudnya sebagai binatang hutan. Sehingga membuat banteng berputus asa, hendak bunuh dari. Selain itu, banteng juga

memiliki sifat kasih sayang terhadap saudaranya. Perhatikan kutipan pupuh XXIII, bait ke 15-16 berikut.

Heh andaka paran wadi, durung tutug aturira, teka marawayan luhe, sajatine sira sapa, dene ta sato wana, teka awidagdeng wuwus, kaya tataning manusa. (pupuh XXIII bait 15)

Andaka umatur aris, ulun nguni darbe kadang, kados makaten warnine, pramila amba kengetan, awit ing sapunika, kawarti elos ing dalu, tan kantenan lenging prenah. (pupuh XXIII bait 16)

Terjemahan bebasnya :

“Hai banteng. Apa sebabnya, kata-katamu belum selesai tiba-tiba air matamu bercucuran. Siapakah sebenarnya engkau ini? Engkau binatang hutan, akan tetapi dapat bercakap-cakap seperti manusia. (pupuh XXIII bait 15)

Banteng menjawab dengan suara perlahan, “Dulu saya mempunyai saudara, yang rupanya seperti itu. Mengapa saya teringat kepadanya, karena sekarang ini ada berita bahwasanya mereka pergi dengan diam-diam di waktu malam, hilang tak tentu rimbanya.” (pupuh XXIII bait 16)

Tokoh banteng mengemban peran sebagai tokoh yang memiliki kasih sayang terhadap saudaranya. Sewaktu melihat ke dua putri yang akan dijodohkan dengan putra raja Pagelen. Banteng menangis teringat akan ke dua saudara perempuannya. Sebenarnya ke dua putri tersebut memang kakak perempuannya, tetapi banteng tidak menyapanya karena sedang mengemban tugas untuk melamar ke dua putri tersebut, sebagai calon pengantin ke dua putra raja Pagelen.

Dalam dokumen serat cemporet (Halaman 82-87)