• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sopan Santun atau Tata Krama

Dalam dokumen serat cemporet (Halaman 101-107)

BAB II LANDASAN TEORI

4.3 Nilai-nilai Pendidikan melalui Peran Tokoh Binatang dalam

4.3.2 Nilai Pendidikan Etika

4.3.2.2 Sopan Santun atau Tata Krama

Sikap sopan santun atau tata krama berhubungan dengan tindakan dan tingkah laku seseorang yang dapat menempatkan diri dihadapan orang lain. Lihat kutipan pupuh IV bait 48-49 berikut ini.

Andika bangsaning manuk, teka lebdeng kramaniti, lawan punika andaka, atutut dipun pareki, wrin tata tetep tapsila, saweg punika amanggih. (pupuh IV, bait 48)

Bantheng anambungi wuwus, aksama andika Kyai, rehning amba sato wana, mboten saged tata linggih, mung angger nglengger kewala, pangraos sampun prayogi. (pupuh IV, bait 49)

Terjemahan bebasnya :

Anda termasuk bangsa burung, mengapa mahir berbahasa sempurna. Dan banteng ini, didekati juga jinak serta tahu tata karma dan sopan santun. Baru kali inilah saya bertemu.” (pupuh IV, bait 48)

Banteng menyahut, “Kyai, kuminta anda memaklumi. Karena saya ini binatang hutan yang tidak dapat duduk dengan baik, yang bisa aku lakukan hanya mendekam saja. Itu pun sudah ku anggap baik.” (pupuh IV, bait 49)

Kutipan di atas menggambarkan banteng yang memiliki sikap dan tingkah laku sopan dihadapan orang lain. Meskipun hanya seekor banteng tetapi tahu tentang sopan santun dan tata krama. Memberikan pesan bahwa hendaknya manusia dapat menempatkan diri sesuai tata krama dan sopan santun. Sikap Sopan santun juga dijadikan sebagai tolak ukur penilaian baik buruknya seseorang di masyarakat.

4.3.3 Nilai Pendidikan Sosial

Manusia merupakan makhluk sosial, yang dalam hidup dan kehidupannya membutuhkan manusia lain. Manusia memiliki rasa ketergantungan terhadap sesama. Untuk itu, manusia perlu hidup berkelompok atau bermasyarakat. Nilai pendidikan sosial dijadikan konsep bagi setiap prilaku manusia sebagai anggota masyarakat.

Melalui peran tokoh binatang yang terdapat dalam Serat Cemporet, nilai pendidikan sosial meliputi empat aspek, yaitu tolong menolong, kasih sayang, kesetiaan, dan kesetiakawanan, sebagai berikut.

4.3.3.1 Tolong Menolong

Manusia adalah makhluk sosial, hidup bermasyarakat memerlukan keberadaan manusia lain. Oleh sebab itu, manusia hendaknya saling tolong menolong, Bantu membantu, saling mau memberi dan menerima. Perhatikan kutipan pupuh XVIII, bait ke 17-18 berikut ini.

Andaka kang anyangkul, mbektakaken ing sapurugipun, salaminya makaten ing reh pakarti, nganthos kathah mitranipun, para juragan kumroyok. (pupuh XIII bait 17)

Sing kang sampun sarju, rumaos yen kapotangan tuhu, sedya males amingsungsung sawatawis, nanging kewran patranipun, denira mrih kapanujon. (pupuh XIII bait 18)

Terjemahan bebasnya :

Dalam keadaan seperti itu, bantenglah yang menolong mambawakan sampai kemanapun juga. Demikianlah selalu pekerjaannya, sehingga banyak sahabatnya. Tak terhitung banyaknya para saudagar, (pupuh XIII, bait 17)

Dan barang siapa sudah kenal baik, benar-benar merasa berhutang budi, lalu ingin memberi hadiah ala kadarnya, akan tetapi bingung tentang caranya yang sekiranya sesuai. ((pupuh XIII, bait 18)

Kutipan di atas menggambarkan sikap banteng yang suka menolong orang lain. Memberikan pesan bahwa tolong menolong hendaknya diniatkan dengan iklas, tidak mengharap imbalan. Berawal dari tolong menolong akan mendatangkan rejeki, berupa teman yang banyak. Perhatikan kutipan pupuh V, bait ke 38-39 berikut.

Angandika kusumaning adi, teka bisa kang wong, lan manusa paran kamulane, dene sipate sato sireki, bantheng anauri, saking atutulung. (pupuh V, bait 37

Saben wonten janma kawlas asih, mbebekta rekaos, amba ingkang tulung nggawakake, tuwin lelampah bingung ing margi, kula anjalari, asuka pinulung. (pupuh V, bait 38)

Balik paduka wanudya pundi, dahat nyalawados, munggweng wana tan wonten rowange, dene memela memelas asih, kados ngemu sedhih, paran dunungipun. (pupuh V, bait 39)

Terjemahan bebasnya :

Sang Dewi bertanya, demikian, “Bagaimana engkau bisa bergaul dengan manusia, sedangkan engkau sendiri adalah binatang. Bagaimana asal mulanya?” Banteng menjawab, “dengan memberi pertolongan. (pupuh V, bait 37)

Setiap kali ada orang yang kesusahan, misalnya karena barang yang dibawanya terlalu berat, sayalah yang menolong membawakannya. Demikian pula jika ada orang bingung dalam perjalanan, saya pun memberi pertolongan. (pupuh V, bait 38)

Sebaliknya, paduka ini wanita dari mana. Sungguh sangat asing berada dalam hutan tanpa teman, mengapa demikian menyedihkan, dan tampaknya juga sedang bersedih hati. Bagimana sebenarnya? (pupuh V, bait 39)

Kutipan di atas menggambarkan Banteng yang suka menolong orang yang sedang kesusahan, membuat banteng mempunyai teman yang banyak.

Memberi pesan bahwa dalam hidup hendaknya berpedoman dengan keutamaan budi, yaitu memiliki sikap tolong menolong terhadap sesama. 4.3.3.2 Kasih Sayang

Sikap kasih sayang yang berupa cinta kasih seorang adik terhadap kakaknya diperlihatkan dalam pupuh XXIII, bait 15-16 berikut ini.

Heh andaka paran wadi, durung tutug aturira, teka marawayan luhe, sajatine sira sapa, dene ta sato wana, teka awidagdeng wuwus, kaya tataning manusa. (pupuh XXIII bait 15)

Andaka umatur aris, ulun nguni darbe kadang, kados makaten warnine, pramila amba kengetan, awit ing sapunika, kawarti elos ing dalu, tan kantenan lenging prenah. (pupuh XXIII bait 16)

Terjemahan bebasnya :

“Hai banteng. Apa sebabnya, kata-katamu belum selesai tiba-tiba air matamu bercucuran. Siapakah sebenarnya engkau ini? Engkau binatang hutan, akan tetapi dapat bercakap-cakap seperti manusia. (pupuh XXIII bait 15)

Banteng menjawab dengan suara perlahan, “Dulu saya mempunyai saudara, yang rupanya seperti itu. Mengapa saya teringat kepadanya, karena sekarang ini ada berita bahwasanya mereka pergi dengan diam-diam di waktu malam, hilang tak tentu rimbanya.” (pupuh XXIII bait 16)

Kutipan di atas menggambarkan tentang kasih sayang seorang adik terhadap kakak kandungnya. Diperlihatkan ketika banteng sedang menunaikan tugas untuk melamar dua putri yang hendak dinikahkan dengan ke dua putra raja dari Pagelen. Setelah bertemu kedua putri yang sebenarnya adalah kakak kandungnya sendiri, banteng mencucurkan air mata teringat akan saudara kandungnya yang telah lama tidak bertemu. Namun banteng yang sedang menjalankan amanah dari gustinya, dan waktunya juga tidak

tepat untuk melepaskan rindu, banteng tidak langsung bertatap muka dengan ke dua saudaranya, tetapi langsung pergi menyelesaikan tugasnya.

4.3.3.3 Kesetiaan

Kesetiaan dapat diartikan sebagai sikap patuh dan setia terhadap atasan atau junjungannya. Diperlihatkan dalam pupuh VIII, bait ke 66 berikut ini.

Dumugining byar raina, menco kinen wangsul nuli, maring dhukuh Cengkarsari, amawa sarana wadi, minangka angyakteni, wasiat paringing ibu, nenggih warna kalpika, sinung sosotya dumeling, panengrannya supe Manik Adiwarna. (pupuh VIII bait 66)

Terjemahan bebasnya :

Setelah hari pagi datang kembali, si menco segera diperintahkan supaya kembali ke Cengkarsasari, membawa sebuah sarana rahasia, yang akan dipakai sebagai sarana pembuktian. Sebuah wasiat pemberian ibunya berbentuk cincin dengan permata yang bercahaya-cahaya, bernama cincin Manik Adiwarna, itulah yang dijadikan sarana. (pupuh VIII bait 66)

Kutipan di atas menunjukan kesetiaan menco terhadap junjungannya. Mempersatukan Raden Pramana dengan dambaan hatinya, Rara Kumenyar. Sebenarnya keduanya sudah dijodohkan, tetapi mereka menolak dengan alasan tertentu. Atas kehendak Tuhan yang mempertemukan mereka dengan perantara burung menco. Kesetiaan menco terhadap junjungannya, sebagai telangkai cinta mempertemukan Raden Pramana dengan Rara Kumenyar, yang telah ditakdirkan berjodoh oleh Tuhan.

Sikap kesetiaan juga diperlihatkan banteng, sewaktu melamar kedua putri untuk dinikahkan dengan kedua putra raja Pagelen. Lihat kutipan pupuh XXIII, bait ke 12-13 berikut.

Paran dennya marek ngarsi, andaka matur sajarwa, lamun nyuwun sakangrongron, Dewi Mulat ngandika, saking pakoning sapa, andaka alon umatur, karsaning Dewi Sriwulan. (pupuh XXIII bait 12)

Pan nedya jinatukrami, lawan gusti narpatmaja, tembung ngebun-ebun sore, dereng dugi aturira, andaka duk umulat, ing warnanira sang ayu, rajaputri sekaliyan. (pupuh XXIII bait 13)

Terjemahan bebasnya :

“Apa gerangan keperluan datang menghadap?” Banteng menjawab, bahwa ia hendak minta kedua putri. Dewi Mulat bertanya lagi, “Siapa yang menyuruhmu?” Banteng menjawab, atas perintah Dewi Sriwulan, (pupuh XXIII bait 12)

Karena hendak dijodohkan dengan gusti, rajaputra, jadi maksud kedatangannya adalah hendak melamar. Belum selesai berkata-kata banteng melihat kedua putri. (pupuh XXIII bait 13)

Kutipan di atas, menunjukan sikap kesetiaan banteng terhadap gusti junjungannya. Perintah dari Dewi Sriwulan untuk melamar kedua putri yang diasuh oleh Dewi Mulat, untuk dinikahkan dengan ke dua putra raja Pagelen. Banteng akan berujud seperti semula, bila kedua putri raja Prambanan dan kedua putra raja Pagelen telah menikah. Sikap kesetiaan banteng menjalankan perintah yang diberikan oleh Dewi Sriwulan, membuat banteng diberi petunjuk tentang kesembuhannya keujud semula oleh Tuhan.

Dalam dokumen serat cemporet (Halaman 101-107)