• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbankan Syariah. Akuntansi Ijarah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perbankan Syariah. Akuntansi Ijarah"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

Ekonomi Dan Bisnis Akuntansi

13

Reskino, SE.,MSi., AK., CA Afrizon, SE.,MSi., AK., CA

Abstract

Kompetensi

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset

dalam waktu tertentu dengan

pembayaran sewa (ujrah) tanpa

diikuti dengan pemindahan

kepemilikan aset itu sendiri. Sewa yang dimaksud adalah sewa operasi (operating lease)

Mahasiswa dapat memahami

bagaimana transaksi Ijarah

MODUL PERKULIAHAN

Perbankan Syariah

Akuntansi Ijarah

(2)

Modul 13

1. Definisi

Ijarah merupakan salah satu bentuk transaksi ekonomi yang sangat melekat dalam kehidupan manusia .

Sebelum memahami semakin dalam tentang ijarah , mula – mula kita harus mengerti terlebih dahulu pengertian ijarah . Berikut pengertuian dari beberapa pendapat tentang ijarah :

Secara bahasa , ijarah berasal dari bahasa arab yang memiliki makna imbalan atau upah, sewa , jasa .

Secara istilah, ijarah adalah transaksi pemindahan hak guna atau manfaat atas suatu barang atau jasa melalui sewa / upah dalam waktu tertentu ,tanpa adanya pemindah hak atas barang tersebut .

Menurut Imam syafi’i ijarah adalah transaksaksi tertentu terhadap suatu manfaat yang dituju, bersifat mubah dengan imbalan tertentu.

Menurut imam hanafi, ijarah yaitu akad atas kemanfaatan tertentu dengan pengganti (upah).

Menurut jumhur ulama fiqh, ijarah yaitu menjual suatu manfaat yang boleh disewakan serta hanya manfaatnya bukan bendanya yang disewakan .

Prinsip ijarah sama halnya dengan prinsip jual beli, yang membedakan hanya objeknya Dalam jual beli objeknya adalah barang. Namun dalam ijarah objeknya adalah barang maupun jasa .

Aset Ijarah adalah aset baik berwujud maupun tidak berwujud, yang atas manfaatnya disewakan

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri. Sewa yang dimaksud adalah sewa operasi (operating lease)

(3)

Ijarah muntahiyah bittamlik adalah ijarah dengan wa’d perpindahan kepemilikan aset yang di ijarah kan pada saat tertentu

Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar (arms length transaction)

Objek ijarah adalah manfaat penggunaan aset berwujud atau tidak berwujud

Sewa operasi adalah sewa yang tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset

Umur manfaat adalah suatu periode dimana aset diharapkan akan digunakan atau jumlah produksi/unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari aset

Wa’d adalah janji dari satu pihak kepada pihak lain untuk melaksanakan sesuatu

Landasan hukum : 1. QS. Al-Zukhruf: 32

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan di dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

2. QS. Al-Qashash: 26-27

“Salah seorang dari dua orang wanita itu berkata; Ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. Berkata ia (Nabi Syuaib); Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari dua orang anakku ini atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun, dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka hal itu adalah kebajikan darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan kamu, dan insya Allah kamu akan mendapatkan aku termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang baik”

3. Hadits Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Majah:

“Berikanlah upah kepada orang yang kamu pakai tenaganya sebelum keringatnya kering.” Hal-hal yang harus diperhatikan dalam berakad ijaroh:

a. Para pihak yang menyelenggarakan akad haruslah berbuat atas kemauan sendiri dengan penuh kesukarelaan.

(4)

b. Di dalam melakukan akad tidak boleh ada unsur penipuan.

c. Sesuatu yang diakadkan haruslah sesuatu yang sesuai dengan realitas, bukan sesuatu yang tidak berwujud.

d. Manfaat dari sesuatu yang menjadi objek transaksi ijaroh harus berupa sesuatu yang mubah, bukan sesuatu yang haram.

e. Pemberian upah atau imbalan dalam ijaroh haruslah berupa sesuatu yang bernilai, baik berupa uang ataupun jasa.

Macam – macam Ijarah

Berdasarkan pada objek yang digunakan, ijarah dibagai menjadi 2 macam yaitu:

Ijarah dengan objek barang .

ijarah dengan objek barang yaitu jenis ijarah yang menggunakan barang sebagai objek

ijarah . contoh sewa gedung , mobil , kendaraan .dan lain sebagainya .

Ijarah dengan objek jasa .

Ijarah dengan objek jasa yaitu jeis ijarah yang menggunakan jasa sebagai objek ijarah

/mengambil manfaat dari tenaga seseorang . Contoh ijarah objek jasa yaitu jasa pengetikan , guru , dokter , jasa konsultan dan semua yang berbentuk tenaga manusia .

Ketentuan – ketentuan ijarah

Ketentuan – ketentuan ijarah meliputi :

A. Rukun ijarah

Rukun – rukun ijarah meliputi :

1. Adanya orang yang menyewakan dan yang menyewa suatu barah atau sering d sebut dengan Mu’ajjir dan musta’jir .

2. Adanya akad antar keduanya disebut dengan ‘aqad. 3. Adanya ijab qabul atau disebut dengan shighat . 4. Adanya upah ( ujrah ).

5. Adanya manfaat baik untuk yang menyewakan atau yang menyew ( manfa’ah )

B. Syarat – syarat ijarah :

1. Orang yang bertransaksi sudah dewasa baik yang menyewa ataupun yang menyewakan .

2. Berakal sehat .

(5)

4. Barang yang disewakan harus jelas .

5. Pekerjaan yang dikerjakan harus jelas ketentuannya . 6. Objek ijarah merupakan hal yang halal oleh syariat islam .

7. Barang yang digunakan adalah barang yang menjadi hak sepenuhnya oleh mu’jar atau memiliki izin dari pemiliknya .

C. Syarat syah terjadinya ijarah adalah :

a. Tidak adanya unsur paksaan baik pihak yang menyewakan atau yang menyewa .( ke dua – duanya ridha ) FirmaAllah swt menjelaskan yang artinya

b. Bermanfaat secara jelas .

c. Barangnya yang dijadikan objek merupakan hak milik pribadi atau menjadi hak sendiri setelah diizinkan oleh pemiliknya .

Syarat objek barang yang dijadikan ijarah :

objek yang disewakan merupakan hak milik atau dalam kuasaan yang menyewakan . Manfaat objek ijarah harus terlihat jelas .

Manfaat objek ijarah dapat ditaksir nilainya secara rinci . Tidak melanggar syariat islam .

Spesifikasi objek ijarah harus lengkap baik kelayakan , jangka waktu penggunaan dan bukan merupakan barang yang rusak .

Syarat ujrah atau upah yang diberikan adalah :

a. Berupa harta tetap yang dapat diketahui .

b. Tidak sejenis dengan barang manfaat dari ijarah .Contohnya : upah seseorang yang menjaga rumah seseorang namun dibayar dengan tinggal di rumah tersebut , hal ini salah yang benar yaitu membayar orang suruhan tersebut dengan sebuah gaji .

D. Hak dan kewajiban mu’ajjirr dan musta’jir Hak dan kewajiban mu’jar ( pemberi sewa )

1 Hak mu’ajjir , yaitu :

→ Memperoleh hasil sewa dari yang menyewa .

→ Membatalkan akad dan menarik objek sewa, dengan sebab – sebab tertentu seperti tidak dapat membayar sesuai dengan kesepakatan .

2. Kewajiban mu’ajjir , yaitu :

→ Menyediakan objek sewa.

(6)

→ Menjamin keamanan objek sewa dan menjamin berfungsi dengan baik .

Hak dan kewajiban musta’jir

1 Hak musta’jir , yaitu :

→ Mendapatkan objek ijarah dalam keadaan berfungsi dengan baik , tidak cacat dan tidak rusak .

→ Menggunakan objek ijarah sesuai dengan perjanjian yang telah di sepakati . 2. Kewajiban musta’jir , yaitu :

→ Membayar sewa sesuai dengan kesepakatan . → Menjaga objek ijarah dengan baik .

→ Mengembalikan obek apabila tidak mampu untuk membayar seperti yang sudah disepakati .

→ Tidak menyewakan kembali obje yang disewa.

Karakteristik

Perpindahan kepemilikan suatu aset yang diijarahkan dari pemilik kepada penyewa, dalam ijarah muntahiyah bittamlik, dilakukan jika akad ijarah telah berakhir atau diakhiri dan aset ijarah telah diserahkan kepada penyewa dengan membuat akad terpisah secara: 1. Hibah

2. penjualan sebelum akhir masa akad 3. penjualan pada akhir masa akad 4. penjualan secara bertahap

Berakhirnya Akad Ijarah a) objek hilang atau musnah,

b) tenggang waktu yang disepakati dalam akad ijarah telah berakhir, c) menurut ulama Hanafiyah, wafatnya seorang yang berakad. d) kedua pihak sepakat untuk membatalkan akad dengan iqolah.

e) menurut ulama Hanafiyah, apabila ada uzur dari salah satu pihak seperti rumah yang disewakan disita Negara karena terkait utang yang banyak, maka akad ijarah batal. Akan tetapi, menurut jumhur ulama uzur yang boleh membatalkan akad ijarah hanyalah apabila obyeknya cacat atau manfaat yang dituju dalam akad itu hilang, seperti kebakaran dan dilanda banjir.

Tanggung jawab kerusakan

(7)

mobil,maka tanggung jawab penyewa terhadap obyek sewa bersifat amanah,yaitu dia tidak dituntut tanggungjawab atas kerusakan barang yang berada dalam kuasanya kecuali kerusakan tersebut terjadi atas kecerobohan dalam menjaganya.apabila ia menggunakan obyek akad ijarah tersebut sesuai dengan syarat-syarat yang disepakati dalam akad dan tidak bertentangan dengan kebiasaan dalam penggunaannya maka tanggung jawab tetappada pemilik barang sewaan.

Demikian juga pada ijarah terhadap jasa manusia, khususnya yang bersifat khusus(al-khas), para ulama fiqih sepakat bahwa apabila obyek yang dikerjakan rusak ditangannya,bukan karena kelalaian atau kesengajaannya, maka menurut kesepakatan pakar fiqih,ia wajib membayar ganti rugi. Sedangkan ijarah yang berupa pekerjaan atau jasa manusia yang bersifat umum (musytarik), maka apabila pekerjaan yang dilakukan menimbulkan kerugian para ulama sepakat bahwa pekerja harus bertanggung jawab bila kerugian tersebut timbul dari kecerobohan dan kelalaiannya.

Dalam Hukum Islam ada dua jenis ijarah, yaitu:

1. Ijarah yang berhubungan dengan sewa jasa, yaitu mempekerjakan jasa seseorang dengan upah sebagai imbalan jasa yang disewa. Pihak yang mempekerjakan disebut mustajir, pihak pekerja disebut ajir dan upah yang dibayarkan disebut ujrah.

2. Ijarah yang berhubungan dengan sewa aset atau properti, yaitu memindahkan hak untuk memakai dari aset atau properti tertentu kepada orang lain dengan imbalan biaya sewa. Bentuk ijarah ini mirip dengan leasing (sewa) pada bisnis konvensional. Pihak yang menyewa (lessee) disebut mustajir, pihak yang menyewakan (lessor) disebut mu’jir/muajir dan biaya sewa disebut ujrah.

Ijarah bentuk pertama banyak diterapkan dalam pelayanan jasa perbankan syari’ah, sementara ijarah bentuk kedua biasa dipakai sebagai bentuk investasi atau pembiayaan di perbankan syari’ah.

Ijarah Muntahia Bi al-Tamlik

Al-Ba’i wa al-ijarah muntahia bi al-tamlik merupakan rangkaian dua buah akad, yakni akad al-ba’i dan akad al-ijarah muntahia bi al-tamlik. Al-ba’i merupakan akad jual beli, sedangkan al-ijarah muntahia bi al-tamlik merupakan kombinasi sewa menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah di akhir masa sewa.

Ijarah muntahia bi al-tamlik adalah transaksi sewa dengan perjanjian untuk menjual atau menghibahkan objek sewa di akhir periode sehingga transaksi ini diakhiri dengan kepemilikan objek sewa.Dalam ijarah muntahia bi al-tamlik, pemindahan hak milik barang

(8)

terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut ini :

a. Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada

akhir masa sewa.

b. Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang yang disewaakan

tersebut pada akhir masa sewa.

Adapun bentuk alih kepemilikan ijarah muntahia bi al-tamlik antara lain :

a. Hibah di akhir periode, yaitu ketika pada akhir periode sewa aset dihibahkan kepada penyewa.

b. Harga yang berlaku pada akhir periode, yaitu ketika pada akhir periode sewa aset dibeli oleh penyewa dengan harga yang berlaku pada saat itu.

c. Harga ekuivalent dalam periode sewa, yaitu ketika membeli aset dalam periode sewa sebelum kontrak sewa berakhir dengan harga ekuivalen.

d. Bertahap selama periode sewa, yaitu ketika alih kepemilikan dilakukan bertahap dengan pembayaran cicilan selama periode sewa.

2. Pengakuan dan Pengukuran -Pemilik (Mu’jir)-

Objek ijarah pada saat objek ijarah diperoleh sebesar biaya perolehan

Biaya perolehan objek ijarah yang berupa aset tetap mengacu ke PSAK 16 dan aset tidak terwujud mengacu ke PSAK 19

Objek ijarah disusutkan atau diamortisasi, jika berupa aset yang dapat disusutkan atau diamortisasi, sesuai dengan kebijakan penyusutan atau amortisasi untuk aset sejenis selama umur manfaatnya (umur ekonomis)

Kebijakan penyusutan atau amortisasi yang dipilih harus mencerminkan pola konsumsi yang diharapkan dari manfaat ekonomi di masa depan dari objek ijarah. Umur ekonomis dapat berbeda dengan umur teknis. Misalnya, mobil yang dapat dipakai selama 10 tahun di ijarah kan dengan akad ijarah muntahiyah bittamlik selama 5 tahun. Dengan demikian, umur ekonomisnya adalah 5 tahun.

Pengaturan penyusutan objek ijarah yang berupa aset tetap sesuai dengan PSAK 16: Aset tetap dan amortisasi aset tidak berwujud sesuai dengan PSAK 19: Aset Takberwujud

(9)

Piutang pendapatan sewa diukur sebesar nilai yang dapat direalisasikan pada akhir periode pelaporan

Pendapatan sewa selama masa akad diakui pada saat manfaat atas aset telah diserahkan kepada penyewa

Penjualan secara bertahap dalam ijarah muntahiyah bittamlik melalui , biaya perbaikan objek ijarah yang dimaksud dalam paragraf diatas ditanggung pemilik maupun penyewa sebanding dengan bagian kepemilikan masing-masing atas objek ijarah

Biaya perbaikan objek ijarah merupakan tanggungan pemilik. Perbaikan tersebut dapat dilakukan oleh pemilik secara langsung atau dilakukan oleh penyewa atas persetujuan pemilik.

Pengakuan biaya perbaikan objek ijarah adalah sebagai berikut: 1. biaya perbaikan tidak rutin objek ijarah pada saat terjadinya; dan

2. jika penyewa melakukan perbaikan rutin objek ijarah dengan persetujuan pemilik, maka biaya tersebut dibebankan kepada pemlik dan diakui sebagai beban pada saat terjadinya Perpindahan kepemilikan objek ijarah dari pemilik kepada penyewa dalam ijarah muntahiyah bittamlik dengan cara:

1. hibah

2. penjualan sebelum berakhirnya masa akad

3. penjualan setelah selesai masa akad

4. penjualan secara bertahap, maka:

*selisih antara harga jual dan jumlah tercatat sebagian objek ijarah yang telah dijual diakui sebagai keuntungan atau kerugian (penjelasan no.1,2,3)

*bagian objek ijarah yang tidak dibeli penyewa diakui sebagai aset tidak lancar atau aset lancar sesuai dengan tujuan penggunaan aset tersebut (penjelasan no.3)

-Penyewa (Musta’jir)-

Beban sewa diakui selama masa akad pada saat manfaat atas aset telah diterima Utang sewa diukur sebesar jumlah yang harus dibayar atas manfaat yang telah dterima Biaya pemeliharaan objek ijarah yang disepakati dalam akad menjadi tanggungan penyewa diakui sebagai beban pada saat terjadinya

Biaya pemeliharaan objek ijarah, dalam ijarah muntahiyah bittamlik melalui penjualan objek ijarah secara bertahap, akan meningkat sejalan dengan peningkatan kepemilikan objek ijarah

(10)

Perpindahan kepemilikan objek ijarah dari pemilik kepada penyewa dalam ijarah muntahiyah bittamlik dengan cara:

1. hibah, maka penyewa mengakui aset dan keuntungan sebesar nilai wajar objek ijarah yang diterima

2. pembelian sebelum masa akad berakhir 3. pembelian setelah masa akad berakhir

4. pembelian secara bertahap, maka penyewa mengakui aset sebesar nilai wajar

*maka penyewa mengakui aset sebesar nilai wajar atau pembayaran tunai yang disepakati (penjelasan no.2,3)

Jual dan Ijarah

Transaksi jual dan ijarah harus merupakan transaksi yang terpisah dan tidak saling bergantung (ta’alluq) sehingga harga jual harus dilakuakan pada nilai wajar

Entitas menjual objek ijarah kepada lain dan kemudian menyewanya kembali, maka entitas tersebut mengakui kuntungan atau kerugian pada periode terjadinya penjualan dalam laporan laba rugi dan menerapkan perlakuan akuntansi penyewa

Keuntungan atau kerugian yang timbul dari transaksi jual dan ijarah tidak dapat diakui sebagai pengurang atau penambah beban ijarah

Ijarah Lanjut

Entitas menyewakan lebih lanjut kepada pihak lain atas aset sebelumnya disewa dari pemilik, maka entitas tersebut menerapkan perlakuan akuntansi pemilik dana akuntansi

penyewa dalam penyataan ini.

Entitas menyewa objek ijarah (sewa) untuk disewa-lanjutkan, maka entitas mengakui sebagai beban ijarah (sewa) tangguhan untuk pembayaran ijarah jangka panjang dan sebagai ijarah (sewa) untuk sewa jangka pendek.

Akuntansi penyewa diterapkan untuk transaksi antara entitas (sebagai penyewa) dengan pemilik dan perlakuan akuntansi pemilik diterapkan untuk transaksi antara entitas (sebagai pemilik) dengan pihak penyewa-lanjut.

3. Penyajian

Pendapatan ijarah disajikan secara neto setelah dikurangi beban terkait, misalnya beban penyusutan, beban pemeliharaan dan perbaikan, dan sebagainya

(11)

-Pemilik-

Nilai perolehan dan akumulasi penyusutan atau amortisasi untuk setiap kelompok aset ijarah Keberadaan transaksi jual dan ijarah (jika ada)

Penjelasan umum isi akad yang signifikan yang meliputi tetapi tidak terbatas pada:

1. pembatasan-pembatasan, misalnya ijarah-lanjut

2. agunan yang digunakan (jika ada)

3. keberdaan wa’d pengalihan kepemilikan dan mekanisme yang digunakan (jika ada

wa’d pengalihan kepemilikan) -Penyewa-

Agunan yang digunakan (jika ada)

Keberadaan transaksi jual dan ijarah dan keuntungan atau kerugian yang diakui (jika ada transaksi jual dan ijarah)

Penjelasan umum isi akad yang signifikan yang meliputi tetapi tidak terbatas pada:

1. total pembayaran

2. pembatasan-pembatasan, misalnya ijarah lanjut

3. keberadaan wa’d pemilik untuk pengalihan kepemilikan dan mekanisme yang

digunakan (jika ada wa’d pemilik untuk pengalihan kepemilikan)

(12)

Rujukan

Antonio, Muhammad SyaFi’i. Bank Syariah: dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press, 2001.

Dewi, Gemala. Aspek-Aspek Hukum dalam Perbankan & Perasuransian Syariah di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2004. www.bi.go.id

Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 05/DSN-MUI/IV/2000. http//www.wirausaha.com. Pembiayaan Salam Untuk Petani dan Pedagang.htm

Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) 2003 Bag. III Piutang Salam. Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) 2003 Bag. IV Hutang Salam. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) NO. 103 Akuntansi Salam Ed PSAK 103

(Revisi 2006)

Sri Nurhayati, Wasilah. Akuntansi Syariah Di Indonesia, Salemba Empat,,2009.

Suwiknyo, Dwi. Analisis laporan Keuangan Perbankan Syariah. Yoyakarta: Pustaka Pelajar,2010.

Yaya, Rizal, Aji Erlangga M Dan Ahim Abdurahim. Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Pebankan, Salemba Empat, 2014

Referensi

Dokumen terkait

Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, realisasi di seluruh Pemerintah Daerah se Kalimantan Timur baru mencapai Rp70,58 miliar atau sebesar 30,77 persen dari target. Sebagian

BSDE merupakan salah satu perusahaan pengembang properti terbesar di Indonesia, dengan proyek andalan: kota mandiri BSD City.. BSDE adalah salah satu anak usaha dari Sinar

bahwa dalam rangka mewujudkan transformasi perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat berbasis teknologi, informasi dan komunikasi yang berkesinambungan, diperlukan

Pengumpulan data untuk pembuatan parameter-parameter yang didapatkan dari kawasan permukiman dan non- permukiman, jarak terhadap jalan, jarak terhadap sungai hingga kepadatan

Slogan dakwah yang dipersembahkan oleh ISMA “Melayu Sepakat Islam Berdaulat” juga menampakkan bahawa pendekatan ISMA dalam melihat isu politik di Malaysia adalah kesatuan

Dalam penelitian faktor-faktor yang di duga dapat mempengaruhi keuntungan usahatani padi sawah organik adalah luas lahan, biaya benih, biaya pupuk, biaya obat-obatan, dan

Hasil belajar matematika siswa diambil dari tes akhir yang dilakukan pada kedua keelas, untuk mengetahui hasil belajar di kelas yang menggunakan model PBL dan kelas yang

Based on the experiment results, it can be concluded that the optimum parameters for the detec- tion of simple closed curve is a minimum area of 2 pixels, while the optimum