8
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Industri Kecil
2.1.1 Definisi Industri Kecil
Secara sederhana dalam kamus besar ekonomi (Winarno dan Ismaya, 2007) dijelaskan bahwa definisi industri adalah kegiatan ekonomi dengan memproses atau mengolah bahan-bahan atau barang dengan menggunakan sarana dan peralatan, seperti mesin, untuk menghasilkan barang (jadi) atau jasa.
Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Purwakarta (2014) perusahaan atau usaha industri adalah suatu unit (kesatuan) usaha yang melakukan kegiatan ekonomi, bertujuan menghasilkan barang atau jasa, terletak pada suatu bangunan atau lokasi tertentu, dan mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi dan struktur biaya serta ada seorang atau lebih yang bertanggung jawab atas usaha tersebut.
Industri Kecil adalah perusahaan industri yang tenaga kerjanya antara 5-19 orang.
Industri Mikro adalah perusahaan industri yang tenaga kerjanya antara 1-4 orang.
Penggolongan perusahaan industri pengolahan ini semata-mata hanya didasarkan kepada banyaknya tenaga kerja yang bekerja, tanpa memperhatikan apakah perusahaan itu menggunakan mesin tenaga atau tidak, serta tanpa memperhatikan besarnya modal perusahaan itu.
Pada UU No.9/1995 Pasal 5 ayat 1 tentang usaha kecil telah dirumuskan persyaratan atau kriteria adalah:
9
Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan usaha.
Memiliki usaha tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar rupiah).
Milik warga negara Indonesia.
Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, atau berafilasi secara langsung dengan usaha menengah atau usaha besar.
Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum termasuk koperasi.
Dalam ketentuan selanjutnya (ayat 2) disebutkan bahwa nilai nominal pada kriteria 1 dan 2 dapat diubah sesuai perkembangan perekonomian yang diatur dengan peraturan pemerintah. Pada dasarnya semua pembatasan yang ada berusaha untuk memberikan batasan kelompok usaha atau perusahaan yang dikategorikan sebagai industri kecil dibandingkan dengan industri besar.
2.1.2 Penggolongan Industri Kecil
Kementerian Perindustrian, Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (2006) membuat penggolongan industri kecil berdasarkan bahan baku dan kegunaanya sebagai berikut:
Industri kecil bahan pangan. Industri kecil sandang dan kulit.
Industri kecil kimia dan bahan bangunan. Industri kecil logam dan elektronik. Industri kecil kerajinan dan umum.
Industri kecil menurut arah pemasarannya dapat dibedakan menjadi:
Pemasaran mengarah kepada industri lain dan suatu hubungan subkontrak. Pemasaran mengarah kepada pedagang, perantara, atau pengecer.
10
Pemasaran mengarah langsung pada konsumen.
o Industri kerajinan, yang memproduksi benda-benda seni.
o Industri pedesaan, yang melayani kebutuhan masyarakat dalam jumlah kecil dan terbatas.
Penggolongan berdasarkan arah pemasaran digunakan oleh pemerintah sebagai dasar penentuan cara pembinaan serta prioritas penanganan.
Terdapat pula penggolongan industri kecil berdasarkan karakterisitk komoditi yaitu:
Komoditas industri kecil sulit maju, dengan ciri-ciri:
o Pasar terbatas karena banyak pihak mengerjakan komoditas sejenis.
o Struktur ongkos produksi perunit cenderung tinggi apabila produk dibuat dalam jumlah kecil.
Contoh: industri kecil bordir dan kulit.
Komoditas industri kecil bisa maju terbatas, dengan ciri-ciri: o Pasar terbatas karena terbatasnya permintaan.
o Struktur ongkos produksi perunit relatif tetap meskipun jumlah produksi besar.
Contoh: industri kecil keramik dan elektronik.
Komoditas industri kecil maju tidak terbatas, dengan ciri-ciri: o Pasar tidak terbatas.
o Struktur ongkos perunit relatif tetap meskipun volume produksi besar.
11
Menurut Kementerian Perindustrian, Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (2006) pada dasarnya terdapat delapan kelompok industri kecil dengan komposisi sebagai berikut:
Tiga kelompok sangat dipengaruhi oleh faktor yang memaksakan adanya penyebaran usaha scara geografis.
Tiga kelompok sangat dipengaruhi oleh adanya proses khusus dalam produksi, yang menyebabkan turunnya skala ekonomis sehingga dapat cocok bagi industri kecil.
Dua kelompok sangat dipengaruhi oleh kecilnya pasar atau kerna differensiasi pasar.
Kedelapan kelompok tersebut adalah: Dipengaruhi oleh lokasi:
o Usaha yang mengolah bahan baku yang tersebar, dilakukan proses mengurangi berat, memperkecil ukuran, sehingga produk akan dapat dikirimkan ketempat jauh dengan ongkos lebih murah daripada ongkos mengangkut bahan baku, jadi pabrik didirikan dekat dengan lokasi bahan baku.
o Produk yang dihasilkan hanya mempunyai pasar lokal terbatas serta ongkos adopsi atau angkut produk yang relatif tinggi, ongkos pemindahan produknya lebih tinggi daripada ongkos pemindahan bahan baku, sehingga lokasi terbaik adalah dekat dengan pasar. o Usaha jasa, yang harus melayani permintaan bervariasi karena
setiap pesanan bersifat individual, dan sebaiknya berlokasi dekat dengan konsumen.
Dipengaruhi oleh proses:
o Proses manufaktur yang bisa dipisah, menurut adanya spesifikasi tinggi yang merupakan ciri khas usaha presisi, di mana keahlian untuk menghasilkan presisi yang tinggi didapatkan dari proses operasi yang repetitif. Lokasi perusahaan sebaiknya dekat dengan
12
konsumen agar memudahkan komunikasi terutama untuk pesanan-pesanan khusus.
o Usaha craft atau usaha presisi, yang mengerjakan pekerjaan dengan tangan, memanfaatkan spesialisasi karyawan dengan kelompok berukuran kecil yang terdiri dari atas operator atau pengrajin dengan keterampilan tinggi. Lokasi terbaik adalah di pusat-pusat distribusi besar tanpa harus mendekati sumber bahan baku dan konsumen, namun jika produknya mempunyai nilai relatif rendah, sebaiknya lokasinya dekat dengan konsumen.
o Assembling sederhana, proses pencampuran dan proses finishing, dengan operasi fisik relatif sederhana sehingga pabrik bisa berukuran kecil karena langkah-langkah prosesnya tidak rumit dan jumlahnya tidak banyak.
Dipengaruhi oleh pasar:
o Produk yang beragam, yang masing-masing mempunyai skala ekonomis rendah, biasanya dibuat dalam jumlah besar tetapi tidak dalam waktu yang lama, karena adanya keragaman produk yang selalu berubah.
o Usaha yang melayani pasar berukuran kecil, yang ditandai dengan kecilnya permintaan untuk setiap jenis produk.
2.1.3 Struktur Industri Kecil di Indonesia
Berdasarkan eksistensi dinamis, industri kecil Indonesia dapat dibagi kedalam tiga kelompok, yakni industri lokal, industri sentra, dan indsutri mandiri (Kementerian Perindustrian, Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah, 2006).
Industri lokal adalah kelompok jenis industri yang menggantungkan kelangsungan hidup pada pasar setempat yang terbatas, serta relatif tersebar dari segi lokasinya. Skala usaha umumnya sangat kecil dan mencerminkan pola usaha umumnya bersifat subsistem. Target pemasaran yang sangat terbatas menyebabkan hanya digunakannya sarana
13
transportasi sederhana. Pada kelompok ini jasa pedagang perantara kurang menonjol.
Industri sentra adalah kelompok jenis industri kecil berskala kecil, tetapi membentuk pengelompokan atau kawasan industri yang terdiri atas kumpulan unit usaha yang menghasilkan barang sejenis. Pasarnya lebih luas dari kategori pertama, sehingga peranan pedagang perantara cukup menonjol.
Industri mandiri adalah kelompok jenis industri yang masih mempunyai sifat-sifat industri kecil, namun telah berkemampuan mengadaptasi teknologi produksi yang cukup canggih. Pemasaran kelompok ini relatif telah tidak bergantung pada peranan pedagang perantara. Skala unit usaha relatif telah tidak bergantung kepada peranan pedagang perantara. Skala unit usaha relatif kecil dan tingkat sofistikasi penggunaan sistem manajemen boleh dikatakan masih cukupan. Kelompok ini tidak sepenuhnya dapat disebutkan sebagai bagian industri kecil, karena kemampuan yang terlalu tinggi dalam mengakomodasi beragam aspek modernitas. Sesungguhnya, hanya atas dasar skala penyerapan tenaga kerja saja kelompok ini dimasukkan dalam bagian dari subsektor industri kecil. Industri ini mencerminkan spesifikasi dari industri kecil dan sedang. Berdasarkan uraian di atas tentang pembahasan struktur industri kecil di Indonesia, faktor utama yang berperan dalam struktur industri kecil menengah adalah kondisi lingkungan termasuk iklim usaha, struktur industri, dan pengusaha, serta pengrajin. Dalam sistem industri terdapat dua struktur yang mempunyai kutub-kutub berlawanan. Struktur-struktur tersebut adalah struktur yang didukung oleh sistem yang cenderung memanfaatkan potensi industri kecil bagi kepentingan masing-masing (disebut sebagai struktur eksploitatif). Di atas semua sistem yang ada, ada sistem lain yang paling berwenang mengatur sistem-sistem tersebut, yaitu kelembagaan negara. Sistem kelembagaan negara disebut sebagai struktur sosial politik.
14
Untuk menangani industri kecil, pemerintah menurunkan kebijakan-kebijakan dan memberikan dukungan bagi pembinaan dan pengembangan industri kecil, baik secara langsung melalui undang-undang maupun aparat pelaksana baik aparat swasta maupun aparat pemerintah sebagai sistem penunjang. Keadaan ini menciptakan suatu struktur yang menunjang tujuan pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan industri kecil. Keadaan yang tercipta ini menghasilkan struktur eksploitatif. Berbagai kebijakan dan batasan dari sistem sosio politik diadakan untuk menghambat eksistensi struktur tersebut. Hal ini juga berlaku bagi kebijakan pemerintah atau lembaga negara lainnya yang menyuburkan kegiatan eksploitasi industri kecil.
2.1.4 Faktor-faktor Kelemahan Industri Kecil
Masih banyaknya kegagalan yang terjadi pada industri kecil tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh industri kecil itu sendiri. Beberapa tanggapan mengenai kelemahan-kelemahan industri kecil didefinisikan oleh:
Kementerian Perindustrian, Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (2006)
1) Industri kecil tidak dilengkapi dengan kemampuan manajemen, sehingga keseluruhan dari usahanya “asal bisa jalan”.
2) Industri kecil sering mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan baku. 3) Industri kecil mempunyai masalah keterbatasan dana.
4) Industri kecil tidak dapat memasarkan hasil produksinya secara optimal. Pengetahuan pemasaran industri kecil banyak yang masih bersifat tradisional.
Tohar (2009)
1) Sumber modal yang terbatas dari pemilik. 2) Terlalu banyak biaya yang dikeluarkan.
3) Pembagian kerja ridak proporsional dan karyawan sering bekerja diluar prosedur kesepakatan kerja.
15
4) Tidak mengetahui secara tepat berapa kebutuhan modal kerja karena tidak adanya perencanaan kas.
5) Persediaan barang kurang banyak sehingga beberapa barang kurang laku. 6) Sering terjadi miss management dan tidak ada kepedulian pengelola
terhadap prinsip-prinsip manajerial.
2.2 Konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke)
Konsep 5S menurut Osada (2004) adalah sebagai berikut:
2.2.1 Definisi 5S Menurut Takashi Osada
Sebagaimana setiap kata memiliki arti yang luas, demikian pula dengan aktivitas 5S yang bahkan kadang-kadang memiliki arti yang kurang jelas. Secara umum tidak ada penjabaran definisi yang baku mengenai tiap tahap dalam 5S, yang ada adalah prinsip-prinsip dalam tiap tahap 5S. Prinsip-prinsip tersebut mengacu kepada aktivitas yang dilakukan dan sikap mental yang diperlukan dalam melaksanakan setiap tahapan 5S. Penjabaran 5S dan 5R sebagai padanannya adalah sebagai berikut (Osada, 2004):
1. Seiri (Ringkas)
Umumnya istilah ini berarti mengatur segala sesuatu, memilah sesuai dengan aturan atau prinsip-prinsip yang spesifik. Sesuai dengan terminologi 5S, Seiri berarti membedakan atau memisahkan antara yang diperlukan dan yang tidak diperlukan, mengambil keputusan yang tegas, dan menerapkan manajemen stratifikasi untuk membuang hal-hal yang tidak diperlukan. Pada tahap ini, titik beratnya adalah manajemen stratifikasi dan mencari faktor-faktor penyebab sebelum hal-hal yang tidak diperlukan tersebut menjadi sebuah masalah.
Dalam manajemen stratifikasi, hal pertama yang dilakukan adalah menggunakan diagram pareto, kemudian melakukan stratifikasi terhadap hasil metode pareto sebagai dasar penentuan prioritas pemecahan masalah.
16
Selanjutnya adalah mengatasi faktor-faktor penyebab. Merupakan hal yang sangat penting untuk melakukan pembersihan sampah-samapah apapun bentuknya, sehingga dengan demikian akan diketahui mengapa suatu hal menjadi buruk dan dapat menemukan akar dari penyebab masalah. Dengan demikian, kita akan dapat menangani penyebabnya, dan ini merupakan hal yang sangat penting. Dari pengertian Seiri di atas, maka dapat digambarkan proses Seiri sebagai berikut :
Pembersihan Besar-Besaran
Membuang segala sesuatu yang tidak diperlukan
Menangani barang cacat, suku cadang dan produk
yang rusak
Manajemen Stratifikasi
MengatasiPenyebab-Penyebab
Gambar 2.1. Proses dalam Seiri
Sumber: Osada (2004) 2. Seiton (Rapi)
Umumnya, dalam penerapan 5S, Seiton berarti menyimpan barang-barang di tempat yang tepat atau dalam tata letak yang benar sehingga dapat dipergunakan dalam keadaan mendadak. Pada tahap ini, titik beratnya adalah pada manajemen fungsional dan mengeliminasi aktivitas mencari. Jika segala sesuatu disimpan pada tempatnya sehingga menjaga mutu dan keamanan, maka akan tercipta tempat kerja yang rapi.
Prinsip penataan berlaku di seluruh lapisan masyarakat dan disegala aspek kehidupan. Semua penataan ini memerlukan keterampilan. Segala sesuatunya dirancang untuk memudahkan dalam mengambil barang saat dibutuhkan tanpa adanya kegiatan mencari.
Untuk merancang suatu tata letak fungsional, langkah awal dilakukan dengan menentukan seberapa sering menggunakan suatu barang atau material:
17
a. Barang-barang yang tidak dipergunakan: singkirkan.
b. Barang-barang yang tidak digunakan tetap jika ingin digunakan dalam keadaan tertentu: simpan sebagai barang-barang untuk keadaan yang tidak terduga.
c. Barang-barang yang hanya dipergunakan sewaktu-waktu saja: simpan sejauh mungkin.
d. Barang-barang yang kadang-kadang dipergunakan: simpan di tempat kerja. e. Barang-barang yang sering dipergunakan: simpan di tempat kerja atau
disimpan oleh pegawai yang bersangkutan.
Karena penataan dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, maka perlu dilakukan studi waktu, penyempurnaan, dan penerapan selama perbaikan dilakukan. Kunci untuk melkukan hal ini adalah dengan mempertanyakan 5W 1H (What, When, Where, Why, Who, dan How) untuk setiap item.
3. Seiso (Resik)
Secara umum Seiso berarti melakukan pembersihan sehingga segala sesuatunya bersih. Pada terminologi 5S, Seiso berarti menyingkirkan sampah, kotoran, dan lain-lain sehingga segala sesuatunya bersih. Membersihkan merupakan salah satu bentuk pemeriksaan. Titik beratnya adalah membersihkan sebagai pemeriksaan dan menciptakan tempat kerja yang sempurna.
Sangat penting untuk mengetahui dengan tepat tempat melakukan pemeriksaan, terutama pada mesin-mesin dan fasilitas yang harus bebas kotoran. Semangat “Membersihkan adalah Memeriksa”, yaitu membersihkan lebih dari sekedar membuat tempat dan fasililtas bersih, melainkan juga memberikan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan. Meskipun tempat kerja tidak kotor, tetap saja harus diperiksa.
Mencapai keadaan tanpa kotoran dengan pertimbangan bahwa aktivitas membersihkan memberikan dampak terhadap downtime, kualitas, keselamatan, moral dan aspek operasional lainnya. 5S berusaha mencapai keadaan tanpa
18
kotoran dan mengeliminasi kerusakan-kerusakan dan kesalahan-kesalahan kecil pada titik-titik kunci pemeriksaan.
4. Seiketsu (Rawat)
Pada terminologi 5S, standarisasi berarti perawatan ringkas, kerapian, dan kebersihan secara terus menerus. Hal tersebut meliputi kebesihan personil dan kebersihan lingkungan. Titik beratnya adalah manajemen visual dan standarisasi 5S. Inovasi dan manajemen visual dilakukan untuk mencapai dan memelihara kondisi terstandarisasi sehingga tindakan dapat diambil dengan cepat. Manajemen visual menjadi salah satu alat yang merupakan penerapan kaizen yang efektif. Dewasa ini digunakan untuk produksi, kualitas, keselamatan, dan lain-lain.
Manajemen warna, atau disebut juga manajemen kode-warna digunakan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih kondusif. Sebagai contoh adalah pengguna baju berwarna putih oleh karyawan sebagai indikator seberapa cepat baju itu kotor. Semakin cepat kotor berarti perlu diambil tindakan untuk menciptakan lingkungan kerja yang bersih. Demikian halnya dengan petunjuk-petunjuk atau instruksi kerja harus dapat disampaikan secara visual kepada seluruh pegawai dengan baik, dalam arti baik secara visual dan dipersepsikan secara benar.
5. Shitsuke (Rajin)
Secara umum Shitsuke berarti pelatihan yang diberikan dan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan walaupun sulit. Pada terminologi 5S, Shitsuke berarti memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan sebagaimana seharusnya dikerjakan. Titik beratnya adalah melakukan pekerjaan sebagaimana seharusnya dilakukan. Titik beratnya adalah lingkungan kerja dengan kebiasaan dan disiplin yang baik. Sengan mendidik dan melatih manusia, kebiasaan buruk dihilangkan, kebiasaan baik ditumbuhkan. Manusia akan terlatih dalam membuat dan mematuhi aturan. Disiplin adalah 5S yang pertama. Disiplin merupakan hal yang yang seringkali sulit diterapkan oleh orang-orang muda karena adanya anggapan suatu paksaan untuk mengubah kebiasaan dan perilakunya. Namun, disiplin
19
menjadi dasar dan syarat minimum bagi berfungsinya suatu peran, baik masyarakat dan lingkungan kerja. Demikian juga dalam 5S, disiplin tidak mungkin untuk diletakan pada bagian terakhir, apalagi dihilangkan.
Disiplin dapat mengubah bentuk perilaku. Disiplin merupakan proses pengulangan dan praktek. Banyak kecelakaan di tempat kerja terjadi karena pegawai lupa atau sengaja mengabaikan prosedur kerja dan keselamatan. Disiplin dimulai dari hal-hal yang sederhana dan secara bertahap menjadi suatu kebiasaan yang baik dalam melakukan pekerjaan sehungga pekerjaan dapat dilakukan dengan baik dan aman.
2.2.2 Definisi 5S Menurut Masaaki Imai
Menurut Imai (1997) menyampaikan konsepnya tentang Kaizen 5S sebagai berikut:
1. Seiri
Merupakan suatu seni membuang, „Thea art of throwing things away”. Seiri merupakan kegiatan memilah mana yang kita perlukan, yang sering kita perlukan, dan yang sebenarnya tidak kita perlukan. Hal ini muncul seiring dengan adanya budaya menyimpan barang, penyimpanan barang-barang ini termasuk pula barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Kerugian-kerugian yang mungkin muncul akibat penumpukan barang yang sebenarnya tidak diperlukan antara lain:
a. Waktu pencarian suatu barang menjadi semakin lama.
b. Memungkinkan untuk menjadi sumber penyebab kecelakaan kerja. c. Perasaan jenuh karena ruangan yang terlalu padat.
Seiri adalah seni “membuang”. Membuang bukan saja barang-barang yang sudah ada, tetapi juga membuang benda-benda yang akan ada. Maksudnya, berusaha lebih selektif untuk memilih barang-barang yang disimpan saat ini dan akan disimpan (dalam artian sempit: akan dibeli) nantinya.
20 2. Seiton
Seiton berarti penataan dan penyimpanan. “How many of what should be put where”. Sebagian orang merasa bahwa penataan merupakan suatu hal yang mudah, dan memang seharusnya demikian. Tapi sejauh mana penataan yang baik telah kita jalankan masih merupakan pertanyaan. Suatu penataan yang baik adalah penataan yang mengacu pada efisiensi, kualitas, dan keselamatan:
a. Efisiensi
Cara penyimpanan barang harus hemat (tempat, baiaya, dan mudah dalam hal pengambilan (storage) dan pengembalian (retrieval)).
b. Keselamatan
Cara penyimpanan dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah timbulnya cedera, seperti sakit punggung, dan tergelincir.
c. Kualitas
Seiton harus dilakukan dengan memperhatikan kualitas. Barang-barang yang disimpan harus selalu berada dalam kondisi siap: tidak berkarat, kusam, dimakan rayap, dsb.
3. Seiso
Seiso berarti pembersihan. Dengan pembersihan kita sekaligus “memeriksa”. Cleaning is inspection. Kegiatan membersihkan dipercaya sebagai pembawa semangat dan gairah baru bagi manusia. Ada 3 mekanisme di mana kegiatan ini akan memberikan hasil “mengejutkan” di tempat kerja:
a. Macro Level
Membersihkan segala sesuatu yang kotor dan membereskan sebab-sebab munculnya kotoran tersebut. Dilakukan bersama-sama dan dalam skala besar-besaran.
21 b. Individual Level
Membersihkan tempat kerja yang lebih spesifik sesuai tempat kerja masing-masing. Misalnya operator bubut membersihkan mesin bubut yang menjadi tanggung jawabnya. Bersifat personal dan dilakukan sebagai bagian pekerjaan sehari-hari.
c. Micro Level
Operator mulai melakukan kegiatan “membersihkan”nya dengan lebih teliti sampai ke komponen-komponen yang lebih spesifik dari mesinnya. Setelah melakukan pembersihan secara lebih mendetail, pekerja mulai berpikir tentang cara mempertahankan kebersihan. Ia mulai menyelidiki sumber-sumber debu, kontaminan, geram, dan mencari cara untuk mengeliminasinya.
Dari 3 tahap ini, tempat kerja akan berubah menjadi lebih menyenangkan dan itu adalah hasil kerjanya sendiri. Kebanggaan akan tempat kerjanya pun akan bertambah. Pekerja yang bangga atas pekerjaannya adalah aset perusahaan yang tak ternilai.
4. Seiketsu
Seiketsu berarti pemantapan. Membakukan dan mempertahankan hasil 3S sebelumnya. Membakukan berarti berusaha menciptakan suatu mekanisme di mana ketidakberesan-ketidakberesan baru yang akan mengancam kondisi 3S sebelumnya dapat diidentifikasi sengan segera.
5. Shitsuke
Shitsuke berarti pembiasaan. Semua kegiatan 4S di atas tidak akan mungkin bertahan lama, bahkan mungkin tidak akan terlaksana, tanpa membuat semua orang yang melakukannya berulang-ulang, secara benar dan mempertahankan 3S yang pertama, maka shitsuke memastikan bahwa semua orang selalu menggunakan “alat” tersebut dengan benar.
22
2.3 Biaya Produksi
Menurut Mulyadi (2014) mendefinisikan biaya sebagai berikut: Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. 4 unsur pokok dalam definisi biaya tersebut diatas:
1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi. 2. Diukur dalam satuan uang.
3. Yang telah terjadi atau secara potensial akan terjadi. 4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.
Biaya dalam hubungannya dengan produk dapat dikelompokan menjadi biaya produksi dan biaya non produksi.
1. Biaya Produksi
Biaya produksi adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Biaya produksi ini disebut juga dengan biaya produk yaitu biaya-biaya yang dapat dihubungkan dengan suatu produk di mana biaya ini merupakan bagian dari persediaan.
a) Biaya Bahan Baku Langsung
Bahan baku langsung adalah bahan baku yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari produk selesai dan dapat ditelusuri langsung kepada produk selesai. Contoh dari bahan baku langsung adalah kayu dalam pembuatan mebel, kain dalam pembuatan pakaian, karet dalam pembuatan ban, tepung dalam pembuatan kue, minyak mentah dalam pembuatan bensin, kulit dalam pembuatan sepatu, dan lain-lain.
b) Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang digunakan dalam merubah atau mengkonversi bahan baku menjadi produk selesai dan dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai. Contoh dari tenaga kerja langsung adalah upah tukang serut dan potong kayu dalam pembuatan mebel, tukang jahit, bordir, pembuatan pola dalam pembuatan pakaian, operator mesin jika menggunakan mesin, dan lain-lain.
23 c) Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik adalah biaya selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung, tetapi membantu dalam mengubah bahan menjadi produk selesai. Biaya ini tidak dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai. Biaya overhead dapat dikelompokkan menjadi elemen:
1) Bahan Tidak Langsung (Bahan Pembantu atau Penolong)
Bahan tidak langsung adalah bahan yang digunakan dalam penyelesaian produk tetapi pemakaiannya relatif lebih kecil dan biaya ini tidak dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai. Contohnya amplas, pola kertas, oli dan minyak pelumas, paku, sekrup, mur, dan lain-lain.
2) Tenaga Kerja Tidak Langsung
Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang membantu dalam pengolahan produk selesai tetapi tidak dapat ditelusuri langsung kepada produk selesai. Contohnya gaji satpam pabrik, gaji pengawas pabrik, pekerja bagian pemeliharaan, penyimpanan dokumen pabrik, gaji operator telepon pabrik, pegawai pabrik, pegawai bagian gudang pabrik, pegawai yang menangani barang, dan lain-lain.
3) Biaya Tidak Langsung Lainnya
Biaya tidak langsung lain adalah biaya selain bahan tidak langsung dan tenaga kerja tidak langsung yang membantu dalam pengolahan produk selesai, tetapi tidak dapat ditelusuri langsung kepada produk selesai. Contohnya pajak bumi dan bangunan pabrik, listrik pabrik, air dan telepon pabrik, sewa pabrik, asuransi pabrik, penyusutan pabrik, peralatan pabrik, pemeliharaan mesin dan pabrik, gaji akuntan pabrik, reparasi mesin dan peralatan pabrik, dan lain-lain.
2. Biaya Non Produksi
Biaya non produksi adalah biaya yang tidak berhubungan dengan proses produksi. Biaya non produksi ini disebut dengan biaya komersial atau biaya operasi. Biaya
24
komersial atau operasi ini juga digolongkan sebagai biaya periode yaitu biayabiaya yang dapat dihubungkan dengan interval waktu. Biaya ini dapat dikelompokan menjadi elemen:
Beban Pemasaran
Beban pemasaran atau biaya penjualan adalah biaya yang dikeluarkan apabila produk selesai dan siap dipasarkan ke tangan konsumen. Contohnya beban iklan, promosi, komisi penjualan, pengiriman barang, sampel barang gratis, biaya telepon, biaya alat tulis, gaji bagian penjualan, biaya penjualan, dan lain-lain.
Beban Administrasi
Beban administrasi adalah biaya yang dikeluarkan dalam hubungan dengan kegiatan penentu kebijakan, pengarahan, pengawasan kegiatan perusahaan secara keseluruhan agar dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Contohnya gaji administrasi kantor, sewa kantor, penyusutan kantor, biaya piutang tak tertagih, biaya alat-alat tulis, biaya urusan kantor, dan lain-lain.
Beban Keuangan
Beban keuangan adalah biaya-biaya yang muncul dalam melaksanakan fungsi keuangan. Contohnya beban bunga.
2.4 Definisi Peta Kerja
Peta kerja (Peta Proses-process chart) merupaka alat komunikasi yang sistematis dan logis guna menganalisa proses kerja dari tahap awal sampai akhir (Wignjosoebroto, 2008). Peta-peta kerja merupakan salah satu alat yang sistematis dan jelas untuk berkomunikasi secara luas dan melalui peta-peta kerja ini bisa mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki suatu metoda kerja. Contoh informasi-informasi yang diperlukan antara lain jumlah benda kerja yang harus dibuat, waktu operasi mesin, kapasitas mesin, bahan-bahan khusus yang harus disediakan, alat-alat khusus yang harus disediakan, dan sebagainya Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas.
25
Melalui peta kerja ini, maka dapat dilihat semua langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja dari mulai masuk ke pabrik (dalam bentuk bahan baku), kemudian menggambarkan semua langkah yang dialaminya, seperti transportasi, operasi mesin, pemeriksaan, dan perakitan, sampai akhirnya menjadi produk jadi, baik produk lengkap atau bagian dari suatu produk lengkap.
2.4.1 Lambang-Lambang yang Digunakan
Peta-peta kerja yang digunakan pada saat ini ialah peta-peta kerja dikembangkan oleh Gilberth. Untuk membuat peta kerja, Gilberth mengusulkan 40 buah lambang yang dapat digunakan, yang kemudian disederhanakan menjadi 4 buah lambang. Pada tahun 1947, American Siciety of Mechanical Engineers (ASME) membuat standar lambang-lambang peta kerja sebanyak 5 lambang. Lambang yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Operasi
Suatu kegiatan operasi terjadi apabila benda kerja mengalami perubahan sifat baik fisik maupun kimiawi, mengambil informasi maupun memberikan informasi pada suatu keadaan juga termasuk operasi. Contoh pekerjaannya menyerut, memotong, memahat, merakit dan lain sebagainya. Lambang ini juga digunakan untuk menyatakan aktivitas administrasi, misalnya aktivitas perencanaan dan perhitungan.
b. Pemeriksaan
Suatu kegiatan pemeriksaan terjadi apabila benda kerja atau peralatan mengalami pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas. Contoh pekerjaannya mengukur dimensi benda, memeriksa warna benda, membaca alat ukur tekanan uap pada suatu mesin dan sebagainya.
c. Transportasi
Suatu kegiatan transportasi terjadi apabila benda kerja, pekerja atau perlengkapan mengalami perpindahan tempat yang bukan merupakan bagian dari suatu operasi. Contoh pekerjaannya yaitu memindahkan bahan, memindahkan benda kerja dari satu mesin ke mesin lainnya, dan lain-lain.
26
Proses menunggu terjadi apabila benda kerja, pekerja atau perlengkapan tidak mengalami kegiatan apa-apa selain menunggu. Contoh pekerjaannya yaitu benda kerja menunggu untuk diproses, bahan menunggu untuk diangkut, dan sebagainya.
e. Penyimpanan
Proses menyimpan terjadi apabila benda kerja disimpan untuk jangka waktu yang cukup lama. Contoh pekerjaannya yaitu bahan baku disimpan dalam gudang, barang jadi disimpan di gudang, dan sebagainya.
2.4.2 Macam-Macam Peta Kerja
Berdasarkan kegiatannya, peta kerja dibagi dalam dua bagian. Adapun bagian-bagian peta kerja berdasarkan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Peta-peta kerja kegiatan kerja keseluruhan. 2. Peta-peta kerja kegiatan kerja setempat.
Suatu kegiatan disebut kegiatan kerja keseluruhan apabila kegiatan tersebut melibatkan sebagian besar atau semua fasilitas yang diperlukan untuk membuat produk yang bersangkutan. Sedangkan suatu kegiatan disebut kegiatan kerja setempat apabila kegiatan tersebut terjadi dalam suatu stasiun kerja biasanya hanya melibatkan orang dan fasilitas dalam jumlah terbatas. Contoh peta-peta kerja yang termasuk kedalabm dua kelompok besar diatas, antara lain:
1. Peta-peta kerja kegiatan kerja keseluruhan: a. Peta Proses Operasi
b. Peta Aliran Proses
c. Peta Proses Kelompok Kerja d. Diagram Aliran
2. Peta-peta kerja kegiatan kerja setempat: a. Peta Pekerja dan Mesin
b. Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan
Keenam macam peta kerja diatas merupakan peta-peta yng paling banyak digunakan dalam perancangan kerja dan ergonomi.
27
Penelitian kerja dan analisa metoda kerja pada dasarnya akan memusatkan perhatiannya pada bagaimana (how) suatu macam pekerjaan akan diselesaikan. Dengan mengaplikasikan prinsip how dan teknik pengaturan cara kerja yang optimal dalam sistem kerja tersebut, maka akan diperoleh alternatif metoda pelaksanaan kerja yang dianggap memberikan hasil yang paling efektif dan efisien. Suatu pekerjaan akan dikatakan diselesaikan secara efisien apabila waktu penyelesaiannya berlangsung paling singkat. Perlunya diterapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik pengukuran kerja (work measurement atau time study) untuk mengitung waktu baku (standard time) penyelesaian pekerjaan guna memilih alternatif metode kerja terbaik. Pengukuran waktu kerja ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk menetapkan suatu pekerjaan. Secara singkat pengukuran kerja adalah metode penetapan keseimbangan antara jalur manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan. Waktu baku ini sangat diperlukan terutama sekali untuk (Wignjosoebroto, 2008).
1) Man power point (perencanaan kebutuhan tenaga kerja).
2) Estimasi biaya-biaya untuk mencapai upah karyawan atau pekerja. 3) Penjadwalan produksi dan penganggaran.
4) Perencanaan sistem pemberian bonus dan intensif bagi karyawan atau pekerja yang berprestasi.
5) Indikasi keluaran (output) yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja. Pengukuran waktu (time study) adalah suatu usaha untuk menentukan lama kerja yang dibutuhkan seorang operator (terlatih dan “qualified”) dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang spesifik pada tingkat kecepatan kerja yang normal dalam lingkungan kerja yang terbaik saat itu. Teknik pengukuran waktu kerja terbagi atas dua macam, yaitu secara langsung dan secara tak langsung. Teknik pengukuran kerja secara langsung terdiri dari pengukuran jam henti (stopwatch time study) dan sampling pekerjaan (work sampling). Teknik pengukuran kerja secara tak langsung terdiri dari data waktu baku (standard data) dan data waktu gerakan (predetermined time system).
28
Pengukuran waktu kerja dengan jam henti (stopwatch time study) diperkenalkan pertama kali oleh Frederickk W. Taylor sekitar abad 19 yang lalu. Metode ini terutama sekali baik diaplikasikan untuk pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulang-ulang (repetitive). Dari hasil pengukuran maka akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaikan satu siklus pekerjaan, yang mana waktu ini akan dipergunakan sebagai standar penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan yang sama seperti itu (Wignjosoebroto, 2008).
Dalam pengukuran waktu, hal penting yang harus diketahui dan ditetapkan adalah untuk apa hasil pengukuran dilakukan, beberapa tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran tersebut. Hasil dari pengukuran waktu adalah yang waktu baku diberikan kepada pekerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Waktu baku merupakan waktu kerja yang diperoleh dari kondisi kerja yang baik.
Adapun beberapa alat yang perlu disiapkan untuk pengukuran ini antara lain: 1. Stopwatch.
2. Lembar pengamatan. 3. Alat tulis.