• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDUSTRI ASURANSI INDONESIA DAN POSISI BUMN ASURANSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INDUSTRI ASURANSI INDONESIA DAN POSISI BUMN ASURANSI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

INDUSTRI ASURANSI INDONESIA

DAN POSISI BUMN ASURANSI

Biro Riset LM FEUI

Pemerintah telah menaikkan jumlah modal perusahaan asuransi melalui lalu menerbitkan PP No 39/2008 tentang Perubahan Kedua Atas PP No 73/1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian pada bulan Mei 2008. Dalam ketentuan baru ini, perusahaan asuransi jiwa dan umum wajib memenuhi ketentuan modal minimum sebesar Rp 40 miliar pada 2008, kemudian ditingkatkan menjadi Rp 100 miliar pada 2010. Perusahaan asuransi yang baru didirikan setelah PP tersebut keluar akan langsung dikenai kewajiban menyetorkan modal minimum sebesar Rp 100 miliar. Hal serupa juga berlaku bagi perusahaan reasuransi yang diwajibkan memiliki modal sebesar Rp 100 miliar pada akhir Desember 2008 dan Rp 200 miliar pada 2010.

Dalam kajian Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) yang dipublikasikan 12 Juni 2008, terdapat 26 dari 88 perusahaan asuransi umum yang memiliki modal sendiri kurang dari Rp 40 miliar per Desember 2007. Bahkan ada perusahaan yang ekuitasnya negatif. Sementara itu, dari 43 perusahaan asuransi jiwa yang diteliti, 11 di antaranya masih memiliki modal kurang dari Rp 40 miliar. Dari 11 perusahaan tersebut, sembilan perusahaan memiliki tingkat modal sendiri di bawah Rp 6 miliar.

Lembaga Riset Media Asuransi juga mengumumkan peringkat perusahaan asuransi terbaik tahun 2008 yang merupakan hasil kajian atas 135 perusahaan berdasarkan laporan kinerja keuangan tahun 2007 yang telah dipublikasikan. Menurut LRMA, kajian peringkat perusahaan asuransi dilakukan untuk membandingkan kinerja perusahaan asuransi yang ada sebagai referensi bagi para pemegang polis asuransi, calon pemegang dan pemegang saham perusahaan asuransi. Sedangkan bagi perusahaan asuransi diharapkan bisa meningkatkan kinerjanya menjadi lebih baik.

1 Untuk tahun 2008, perusahaan asuransi yang ikut serta dalam penilaian LRMA terdiri dari 43 perusahaan asuransi jiwa, 88 perusahaan asuransi umum dan 4 perusahaan reasuransi. Sedangkan penetapan peringkat dibagi dalam empat kategori yakni

(2)

perusahaan asuransi dengan modal diatas Rp 250 miliar, Rp 100 miliar hingga Rp 250 miliar, Rp 50 miliar hingga Rp 100 miliar dan kurang dari Rp 50 miliar. Lalu dari masing-masing kelompok dipilih tiga perusahaan, sehingga dari sembilan kategori yang ada terdapat 27 perusahaan asuransi yang masuk dalam peringkat perusahaan asuransi terbaik.

Tabel 1

Peringkat Asuransi di Indonesia Tahun 2008

Modal diatas Rp 250 miliar Modal Rp 100 miliar - Rp 250 miliar Modal Rp 50 miliar - Rp 100 miliar Modal kurang dari 50 miliar PT Asuransi Jiwa Sinarmas PT Asuransi Mega Life PT Bumi Asih Jaya PT Multicor Life Indonesia PT AIA Indonesia PT AXA Mandiri Mandiri Financial Service PT BNI Life Insurance PT Asuransi Nusantara PT Allianz Life Indonesia PT Asuransi Jiwa CIGNA PT Asuransi Takaful Keluarga PT Heksa Eka Life Insurance PT Asuransi Adira Dinamika PT Asuransi Jaya Proteksi PT Asuransi Umum Mega PT Asuransi Asoka Mas PT Asuransi Central Asia PT Asuransi Reliance Indonesia PT Asuransi Takaful Umum PT Asuransi Indrapura PT Asuransi Sinar Mas PT Asuransi Bangun Askrida PT Asuransi Mitra Maparya PT Asuransi Dharma Wangsa Asuransi Jiwa: Asuransi Umum:

Reasuransi: PT Reasuransi Internasional Indonesia PT Maskapai Reasuransi Indonesia PT Tugu Reasuransi Indonesia

Sumber: Data diolah LMFEUI

2 Secara umum, bagi industri asuransi, nilai asset sebesar Rp 600 milyar termasuk dalam kategori perusahaan asuransi kerugian kecil, sementara asset sebesar Rp 600 milyar – Rp 1200 milyar termasuk kategori menengah, dan kategori besar memiliki asset di atas Rp 1200 milyar. Namun untuk kategorisasi asuransi BUMN, berlaku klasifikasi tersendiri di mana perusahaan asuransi termasuk kecil jika memiliki asset sampai Rp

(3)

4500 milyar, sementara kategori sedang memiliki asset Rp 4500 milyar – Rp 9000 milyar dan kategori besar ialah yang memiliki asset diatas Rp 9000 milyar.

Dari segi ekuitas, pada asuransi umum/kerugian, perusahaan dikategorikan kecil jika memiliki ekuitas Rp 450 milyar, sementara kategori sedang jika memiliki ekuitas Rp 450 milyar – Rp 900 milyar, dan kategori besar jika memiliki ekuitas diatas Rp 900 milyar.

Grafik 1

Perkembangan Industri Asuransi

0 5000 10000 15000 20000 25000 Prem i (R p. Milya r) 0 5000 10000 15000 20000 25000 Kla im ( R p . Mily ar)

Premi Asuransi Kerugian & Reasuransi 13857.6 14482.9 16695 16079 16628

Premi Asuransi Jiwa 11436.4 13911.2 18562.7 22294 27498.3

Premi Asuransi Sosial & Jamsostek 1796.7 1877.2 2083.9 2379.8 2653.3

Premi Asuransi PNS & ABRI 3090.6 3866.5 4061.7 4606 5642.1

Klaim Asuransi Kerugian & Reasuransi 6030.9 5286.5 5218.3 7707.4 7819.8

Klaim Asuransi Jiwa 5464 6482.6 8743.9 11217 24380.5

Klaim Asuransi Sosial & Jamsostek 824.8 936.8 1137.4 1320.5 1444.9

Klaim Asuransi PNS & ABRI 3985.5 4729.5 4774.7 5444.8 3947.6

2002 2003 2004 2005 2006

Sumber: Data diolah LMFEUI dari Indonesian Insurance 2006, Bapepam-LK

Dari segi premi bruto, perusahaan asuransi umum/kerugian yang menghasilkan premi bruto hingga Rp 600 milyar termasuk dalam kategori perusahaan kecil, sementara premi bruto sebesar Rp 600 milyar – Rp 1200 milyar termasuk kategori sedang, dan perolehan premi bruto diatas Rp 1200 milyar dikategorikan sebagai perusahaan besar.

3 Sementara industri asuransi kerugian di Indonesia didominasi oleh bisnis asuransi harta benda (property) dan asuransi kendaraan bermotor. Sementara bisnis lain cenderung memiliki volume (omzet) yang lebih kecil dibandingkan kedua bidang bisnis tersebut.

(4)

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik 2 berikut ini yang diolah dari buku Indonesian Insurance 2006 terbitan Bapepam-LK.

Grafik 2

Industri Asuransi Kerugian 2006

0 1000 2000 3000 4000 5000 Pre mi A surans i Har ta B end a Klaim Asu rans i Har ta B enda Pre mi A sura nsi K enda raan Klai m As uran si Ke ndar aan Pre mi A surans i Ang kuta n Lau t Klaim As urans i Ang kuta n La ut Premi Asur ans i Ran gka Kapal Klai m A sura nsi Rang ka K apal Pre mi A sura nsi A ngku tan U dar a Klai m A suran si A ngk utan U dara Premi Asur ansi Ener gi D arat Klai m As urans i Ene rgi Da rat Pre mi A sura nsi E ner gi L epas Pan tai Klai m A sura nsi E nerg i Lep as P anta i Prem i As uran si E ngine ering Kla im A sura nsi E ngine ering Premi As urans i Tang gung Guga t Klai m A sura nsi T angg ung G uga t Pre mi A suran si K ece laka an & Kese hatan Klai m A sura nsi K ece laka an & Kes ehat an Pre mi A suran si K redi t & Su rety Klai m As uran si K red it & Sur ety Premi As urans i Ker ugian Lai n Klai m A surans i Ker ugian Lain Rp . Mi ly a r

Sumber: Data diolah LMFEUI dari Indonesian Insurance 2006, Bapepam-LK

Pada pemetaan besarnya asset dibandingkan dengan premi bruto berikut ini terlihat bahwa secara nominal berdasarkan kategori asset, ASEI (BUMN) merupakan perusahaan asuransi dengan kategori asset kecil, walaupun sepanjang periode 2006 – 2007 perusahaan itu berhasil meningkatkan perolehan premi bruto maupun laba (sebelum pph), ASEI masih belum mampu beranjak ke kategori yang lebih tinggi. Sementara di kategori asset menengah, di antara Askrindo, Jasindo1 dan Asuransi Sinar Mas, hanya Sinar Mas yang menunjukkan peningkatan perolehan pendapatan premi bruto maupun laba (sebelum pph) yang besar sepanjang periode 2006 – 2007. Jasindo justru

4

1

(5)

menunjukkan penurunan perolehan pendapatan premi bruto maupun laba (sebelum pph) walaupun begitu Jasindo masih belum turun kategorinya dari perusahaan kelas menengah. Sementara itu Askrindo sebagai sesama kategori asset menengah pada periode 2006 – 2007 berhasil meningkat ke kategori besar mengingat adanya tambahan penyertaan dari pemerintah, sementara walaupun perolehan pendapatan premi bruto Askrindo meningkat, tetapi peningkatan itu relatif kecil. Bahkan perolehan laba (sebelum pph) Askrindo menurun pada periode tersebut.

Gambar 1

Pemetaan Perusahaan Asuransi Berdasarkan Asset

Asuransi Astra 2007 Jasindo 2007 Jasindo 2006 ASEI 2007 ASEI 2006 Panin 2007 Panin 2006 Asuransi Astra 2006 Sinar Mas 2007 Sinar Mas 2006 Askrindo 2006 Wahana Tata 2006

Jasa Raharja Putra 2006

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000 0 2000000 4000000 6000000 8000000 Asset (Rp. juta) Pre m i Brut o (R p. jut a )

Sementara perusahaan asuransi dengan kategori asset besar seperti Asuransi Astra (dahulu Astra Buana) dan Panin Insurance pada periode 2006 – 2007 berhasil meningkatkan perolehan premi bruto maupun laba (sebelum pph) walaupun pertumbuhan laba kedua perusahaan itu terhitung tidak tinggi (dibandingkan Asuransi Sinar Mas), tetapi pertumbuhan perolehan premi bruto Panin Insurance cukup besar untuk mendongkrak basis assetnya lebih tinggi dari sebelumnya.

5

(6)

Pada pemetaan besarnya ekuitas dibandingkan dengan premi bruto berikut ini terlihat bahwa secara nominal berdasarkan kategori ekuitas, Asuransi Sinar Mas yang merupakan perusahaan asuransi dengan kategori ekuitas terkecil diantara sampel, sepanjang periode 2006 – 2007 berhasil meningkatkan perolehan premi bruto maupun laba (sebelum pph) sangat signifikan sehingga menaikkan kategori kelasnya sejajar dengan ekuitas yang dimiliki Jasindo, Asuransi Astra dan ASEI.

Gambar 2

Pemetaan Perusahaan Asuransi Berdasarkan Ekuitas

Jasindo 2007 Asuransi Astra 2007 Jasindo 2006 ASEI 2007 ASEI 2006 Panin 2006 Asuransi Astra 2006 Sinar Mas 2006 Askrindo 2006 Wahana Tata 2006

Jasa Raharja Putra 2006

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000 0 800000 1600000 2400000 3200000 Ekuitas (Rp. juta) Prem i Br u to (R p. ju ta )

Sumber: Data diolah LMFEUI dari Indonesian Insurance 2006, Bapepam-LK

6 Sementara itu membandingkan kinerja ASEI dan Jasindo berdasarkan pemetaan ini ditemukan bahwa ASEI lebih baik karena berhasil menunjukkan peningkatan perolehan pendapatan premi bruto maupun laba (sebelum pph) sepanjang periode 2006 – 2007 walaupun secara ekuitas tidaklah meningkat pesat. Jasindo justru menunjukkan penurunan perolehan pendapatan premi bruto maupun laba (sebelum pph) walaupun secara jumlah ekuitas mengalami peningkatan. Sementara itu Askrindo merupakan

(7)

satu-7 satunya pemain yang mengalami peningkatan ekuitas sangat pesat mengingat adanya tambahan penyertaan dari pemerintah, perolehan pendapatan premi bruto Askrindo memang meningkat, tetapi peningkatan itu relatif kecil. Bahkan perolehan laba (sebelum pph) Askrindo menurun pada periode tersebut.

Perusahaan asuransi dengan kategori ekuitas yang sesungguhnya setara Asuransi Sinar Mas, Jasindo dan Askrindo (sebelum adanya penambahan penyertaan) yaitu Asuransi Astra (dahulu Astra Buana) menunjukkan kinerja yang terbaik mengingat besarnya laba (sebelum pph) yang mampu dihasilkan perusahaan tersebut relatif tinggi dibanding basis ekuitas yang dimilikinya. Sementara Panin Insurance pada periode 2006 – 2007 berhasil meningkatkan perolehan premi bruto maupun laba (sebelum pph) walaupun pertumbuhan laba perusahaan itu terhitung tidak tinggi (dibandingkan Asuransi Sinar Mas), tetapi sesuai untuk level ekuitas yang dimilikinya (walaupun tidak pula sebaik Asuransi Astra).

Menurut data hasil olahan LMFEUI, data laba industri asuransi umum meningkat 24,23 persen dari Rp 1,58 triliun pada Desember 2006 menjadi Rp 1,96 triliun pada Desember 2007. Sedangkan laba industri asuransi jiwa tumbuh 20,85 persen dari Rp 2,34 triliun pada Desember 2006 menjadi Rp 2,83 triliun pada Desember 2007.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

ditolak dan Ha diterima, yaitu Rata-rata hasil belajar Ilmu Bahan Bangunan antara siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran kontekstual lebih tinggi dari

Sementara pada kelompok lainnya terjadi penurunan indeks yaitu pada kelompok bahan makanan turun -0,28 persen; kelompok sandang turun sebesar -0,04 persen;

3. Earning per share merupakan variabel yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap return saham disbanding dengan variabel current ratio dan return on investment

Maju Makmur Jayapura, dapat dikatakan produktivitas kerja karyawan dalam beberapa bulan terakhir cenderung tidak konsisten bahkan sangat menurun, hal ini terlepas

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci dan informan tambahan pandangan remaja terhadap dirinya sendiri setelah orang tuanya bercerai adalah pada umumnya

Parasetamol bersifat hepatotoksik jika digunakan jangka panjang dan pemberiaan dosis tunggal 10-15 gram atau pemberian dosis 200-250 mg/kgBB 15 , karena dapat membentuk senyawa

Kemajuan teknologi informasi yang sudah membuat dunia jadi lebih cepat dan karena dukungan teknologi komputer yang sudah terbukti jika cara kerja yang panjang