• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-15 MASA SIDANG IV TAHUN SIDANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-15 MASA SIDANG IV TAHUN SIDANG"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

Nomor : DPD.220/SP/15/2012

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH

SIDANG PARIPURNA KE-15

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA MASA SIDANG IV TAHUN SIDANG 2011-2012

I. KETERANGAN

1. Hari : Selasa

2. Tanggal : 19 Juni 2012

3. Waktu : 10.05 WIB – Selesai

4. Tempat : GEDUNG NUSANTARA V

5. Pimpinan Sidang : Pimpinan DPD

1. H. Irman Gusman, SE., MBA. (Ketua) 2. Dr. Laode Ida (Wakil Ketua)

3. GKR. Hemas (Wakil Ketua)

6. Sekretaris Sidang : 1. Sekretaris Jenderal DPD (DR. Ir. Siti Nurbaya Bakar, MSc.) 2. Wakil Sekretaris Jenderal DPD (Drs. Djamhur Hidayat) 7. Panitera : Kepala Biro Persidangan II (Dra. Sri Sumarwati Isf.)

8. Acara :

1. Laporan Pelaksanaan Tugas Alat Kelengkapan DPD RI. 2. Pengesahan Keputusan DPD RI.

9. Hadir : Orang

10. Tidak hadir : Orang

(2)

1. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ini gara-gara sepakbola di eropa, euro cup, jadi menyapa salamnya agak-agak lemah ini. Saya ulangi Bu ya, biar semangat sedikit.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua.

Om Swastyastu. Syalom.

Baiklah Bapak-Ibu para anggota dewan yang kami hormati. Sebagaimana undang-undang mengamanatkan kita, setiap memasuki sidang paripurna kita akan menyanyikan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya, yang mana telah siap tim paduan suara yang akan memandu kita untuk menyanyikan lagu ini. Kepada anggota dewan yang mulia dan seluruh hadirin yang hadir pada kesempatan ini, marilah kita bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan kita. Untuk itu saya persilakan berdiri.

2. PEMBICARA : PADUAN SUARA Hiduplah Indonesia raya…

Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru. Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku. Hiduplah negriku.

Bangsaku Rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya.

Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta.

(3)

Indonesia Raya. Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.

3. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Hadirin kami persilakan untuk duduk kembali.

Berdasarkan catatan daftar hadir yang disampaikan oleh sekretariat jenderal, sampai saat ini telah terdaftar, tercatat 78 orang yang hadir, dengan komposisi fisik 57 orang, tugas ada 9 orang, dan ijin 11 orang, dan sakit, dan tentu masih juga ada teman-teman yang hadir. Sesuai dengan Tatib kita yang mengatur mengenai sidang ini, dimana sidang ini akan dilaksanakan secara terbuka. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim Sidang Paripurna ke-15 Tahun Sidang 2011 - 2012 Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Agenda pokok Sidang Paripurna ke-15 Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, pada Masa Sidang IV Tahun Sidang 2011 - 2012.

Sidang dewan yang mulia,

Sesuai dengan jadwal acara, saya rasa semuanya telah memiliki. Sidang paripurna ini mempunyai dua agenda pokok, yaitu laporan perkembangan pelaksanaan tugas masing-masing alat-alat kelengkapan. Yang kedua, pengesahan putusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Inilah agenda kita pada pagi ini.

Dan pada pagi ini sidang yang mulia, di belakang kita para calon-calon anggota DPD RI, insya Allah masa mendatang hadir, para adek-adek dari jurusan ilmu politik dan administrasi negara dari fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universitas muhammadiyah Jakarta. Ini kampusnya Pak Fatwa dan Ibu Sekjen ini. Silakan berdiri adek-adek sekalian. Ini ada pak senatornya disini yang hadir dari DKI. Silakan untuk duduk kembali adek-adek sekalian.

Sidang dewan yang mulia,

Seperti kita ikuti bersama dalam beberapa minggu terakhir ini kembali kita merasakan terjadinya eskalasi kriminal atau kejahatan di tengah masyarakat kita. Dimana aksi tersebut mulai dari penodongan sampai kepada perampokan dan juga penembakan yang kembali marak, yang terjadi, yang mana ini menjadi ancaman bagi keamanan masyarakat. Aksi ini kembali memakan korban jiwa, bahkan tindakan kejahatan pun kerap pula dilakukan ditempat keramaian, bahkan dilakukan juga di siang hari. Tentu ini merupakan masalah serius yang perlu ditangani oleh aparat yang terkait, dan ini menjadi perhatian seluruh komponen masyarakat. Dan tentu juga menjadi perhatian kita di dewan ini.

Gangguan keamanan juga terjadi di wilayah timur Indonesia. Yang mana ini dikhawatirkan akan menciptakan suatu kondisi yang chaos, serta dapat mengancam daripada keutuhan bangsa Indonesia. Dalam dua pekan terakhir saudara-saudara kita di ujung timur Indonesia, yang di terror dengan berbagai penembakan oleh orang yang tidak dikenal, yang telah emmakan tujuh korban jiwa. Kejadian tersebut harus segera ditanggulangi oleh aparat, sehingga kecurigaan kepada beberapa pihak yang selama ini terjadi dapat terjawab. Tentu saja rentetan kejadian tersebut menjadi perhatian di dewan ini. Sebagai lembaga perwakilan daerah, dimana Dewan Perwakilan Daerah juga akan ikut mendorong upaya pengamanan oelh aparat agar terpenuhinya hak rakyat yaitu keamanan terhadap dirinya.

(4)

Peristiwa kekerasan berindikasi SARA juga muncul. Bagi Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia hal ini perlu disikapi sebagai kejadian yang akan mencoreng kehormatan terhadap kebhinekaan kita yang selama ini menjadi pegangan kehidupan berbangsa di Indonesia. Untuk itu Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia melalui alat kelengkapannya yaitu Komite I akan terus memantau dan berupaya untuk menjembatani potensi konflik tersebut agar tidak menyebar sebagai konflik SARA yang menjadi isu sensitif ditengah masyarakat kita yang berbhineka tunggal ika. Perhatian secara khusus oleh Komite I perlu diberikan kepada 2 provinsi yaitu di ujung timur Indonesia Papua dan juga iujung barat Aceh. Dan tentu juga memperhatikan pula perkembangan di berbagai daerah lainnya di Indonesia.

Dan kita tentu juga berbahagia, dimana di Provinsi Maluku baru saja diselesaikan sebuah acara yang berskala nasional MTQ. Yang saya menghadiri langsung atas nama semua kita, dan alhamdulillah berlangsung dengan baik dan lancar, saudara-saudara sekalian. Ini tentu tidak terlepas bagaimana masyarakat Indonesia yang ditunjukan oleh Provinsi Maluku tersebut terjadinya keharmonian baik antar suku maupun antar agama. Bahkan kafilah-kafilah dari Banten pun, disini ada senator kita dari Maluku. Yang dari Banten mana hari ini? Bahkan sebagian delegasinya menginap, diterima dengan lapang hati, lapang tangan oleh uskup yang ada di Kota Ambon. Inilah cerminan daripada kebhinekaan. Terima kasih Maluku.

Selain eskalasi aksi kejahatan, akhir-akhir ini kita juga mencermati mulai timbulnya kekhawatiran warga di berbagai daerah akibat ketidakpastian ketersediaan pasokan bahan bakar minyak atau yang kita kenal dengan BBM. Masyarakat kembali dikhawatirkan simpang siur harga BBM dan ketersediaan pasok BBM. Dimana kita tahu berbagai provinsi di Kalimantan menyampaikan petisinya, aspirasinya, adanya kekurangan bahan untuk menopang pertumbuhan ekonominya. Dimana dampak upaya pemerintah untuk membatasi penggunaan sesuai dengan RAPBN-P 2012 yang menimbulkan kelangkaan BBM di daerah dikarenakan masih belum ditemukannya formula yang tepat dalam menentukan besaran jumlah distribusi BBM ke daerah. Kekhawatiran lainpun muncul akibat volume BBM bersubsidi sebesar 40 kiloliter akan habis sebelum desember 2012. ini yang harus menjadi catatan kita semua di dewan ini. Yang mana hal ini tentu akan menyebabkan instabilitas ekonomi, terutama di daerah, karena bagaimanapun mereka sangat tergantung pada suplai BBM bersubsidi tersebut.

Untuk itu sidang dewan yang mulia ini tentu sudah menjadi juga tanggung jawab kita bersama, terutama untuk Komite II untuk memonitor, atau juga untuk mengawasi bagaimana dampak kebijakan tersebut tidak menjadi instabilitas di bidang ekonomi tersebut.

Kewaspadaan dalam penetapan kebijakan pemerintah secara nasional, serta kepekaan atas situasi dan kalkulasi daerah juga menjadi penting sebagai catatan pemerintah dari apa yang terjadi dalam akurasi BBM seperti yang saya sampaikan tadi di Kalimantan yang menimbulkan reaksi resmi dari pemerintah daerah sepulau Kalimantan. Untuk itu pemerintah perlu menarik pelajaran dalam mengembangkan kebijakan nasional yang berimplikasi pad daerah. Dan dalam hal ini pentingnya keberadaan daerah dalam konfigurasi pengambilan kebijakan nasional kembali terbukti sangat penting. Disinilah Bapak-Ibu sekalian peranan Dewan Perwakilan Daerah yang menjadi jembatan penghubung antara aspirasi daerah dan juga kebijakan yang dibuat pada tingkat pusat.

Sidang dewan yang mulia,

Atas berbagai yang terjadi di daerah yang memerlukan penanganan dan dorongan penyelesaian dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, serta dengan pertimbangan pentingnya lembaga Dewan Perwakilan Daerah ini yang memiliki ruang artikulasi yang tepat dan profesional menurut konstitusi. Maka melalui sidang paripurna DPD RI yang lalu pada tanggal 5 April 2012 DPD RI telah memutuskan untuk melakukan langkah-langkah judicial

(5)

review ke Mahkamah Konstitusi. Kita berikan kesempatan kepada Tim Litigasi untuk menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugasnya. Kepada Tim Litigasi kami persilakan untuk menyampaikan laporan perkembangannya. Kami persilakan.

4. PEMBICARA : ALIRMAN SORI, SH., M.Hum., MM. (TIM LITIGASI) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Om Swastyastu.

Yang saya hormati pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Yang saya hormati seluruh anggota senator republik Indonesia.

Yang saya hormati Ibu Sesjen, Wasesjen.

Yang saya hormati adek-adek mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sesuai dengan agenda sidang paripurna hari ini, ijinkan kami atas nama Tim Litigasi menyampaikan hasil kerja Tim Litigasi di hadapan sidang dewan yang terhormat ini berupa rencana permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD. Kemudian Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Bapak-Ibu sekalian yang kami hormati.

Tim Litigasi DPD RI dibentuk berdasarkan keputusan DPD RI nomor 22/pimpinan/III/2011-2012. Tim Litigasi sesuai dengan tugasnya adalah sebagai berikut :

1. Melakukan kajian atas undang-undang yang berkaitan dengan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesiauntuk menjadi rekomendasi materi permohonan uji materi maupun sengketa kewenangan antara lembaga negara.

2. Melakukan preparasi materi permohonan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia bersama tim penasehat hukum.

3. Melakukan rapat dan konsultasi dengan tenaga ahli, pakar dan berbagai pihak.

4. Mendampingi dan/atau mewakili pemberi kuasa pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia untuk menghadiri persidangan menyampaikan keterangan dan melakukan segala sesuatu tindakan yang diperlukan tanpa kecuali berkaitan dengan permohonan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap uji materi atau sengketa kewenangan antar lembaga negara.

5. Untuk dan atas nama pemberi kuasa menghadap di muka Mahkamah mengajukan permohonan-permohonan yang perlu menjalankan perbuatan-perbuatan atau memberikan keterangan-keterangan yang menurut hukum dijalankan atau diberikan oleh seseorang kuasa dalam menghadapi perkara. Mempertahankan kepentingan yang memberikan kuasa, meminta eksekusi, membahas segala perlawanan, mengadakan kompromi dengan persetujuan terlebih dahulu dari pemberi kuasa. Dan pada umumnya membuat segala sesuatu yang dianggap perlu oleh yang diberi kuasa. 6. Membentuk opini publik dan pembangunan dukungan kepada Dewan Perwakilan

Daerah Republik Indonesia berkaitan dengan uji materi maupun sengketa kewenangan antar lembaga negara.

7. Konsultasi dengan media massa, lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi di daerah.

8. Melakukan pemantauan atas seluruh proses uji materi maupun sengketa kewenangan antar lembaga negara baik di dalam maupun di luar persidangan.

9. Melakukan pengamatan dan sosiologi politik masyarakat.

(6)

Tugas Tim Litigasi di atas didasarkan kepada hasil tim pengkajian undang-undang yang telah disampaikan dalam sidang paripurna pada tanggal 5 April 2012 oleh pimpinan DPD.

Bapak-Ibu dan hadirin sekalian yang kami hormati.

Pada kesempatan awal ini ijinkan kami menyampaikan dan mengingatkan kembali, berkaitan dengan semangat kita bersama dalam rangka memperkuat lembaga Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Penguatan kelembagaan DPD dilakukan tahap demi tahap mulai dari konsultasi antar pimpinan DPR dan DPD, perubahan substansi dalam undang-undang, uji materi undang-undang, dan terakhir sebagai puncak perjuangan adalah melakukan amandemen ke-5. tahap tersebut telah dicetuskan sejak periode yang lalu.

Menyangkut hubungan DPR dengan DPD, memang harus kita petakan bersama-sama karena diperlukan sebuah momentum politik, momentum tersebut dalam arti bahwa sampai pada saat ini political will DPR kepada DPD belum juga jelas. Secara prinsip hal tersebut dikarenakan sikap fraksi-fraksi di DPR yang belum mendukung keberadaan DPD. Dari sistim keparlemenan memang harus ada political will yang harus berdasarkan mekanisme dan prosedur yang pasti dan baku. Apabila political will tersebut belum diperoleh, maka upaya yang harus dilakukan adalah merebutnya dan mendorong momentum tersebut agar dapat terlaksana. Sampai saat ini political will itu baru sebatas pelaksanaan sidang bersama.

Upaya untuk menyelenggarakan sidang bersama dilakukan dengan usaha yang keras. Kita ketahui bersama pimpinan DPD sampai membawa pakar dan meyurati Presiden untuk meyakinkan DPR. Kita sadar sebenarnya persoalannya adalah ketergantungan DPD kepada DPR. DPR dapat berdiri mandiri tanpa DPD, tetapi DPD tidak dapat berdiri sendiri tanpa DPR. Pertanyaannya, akan dibuat seperti apa DPD ini? Political will DPR ini sudah tentu menarik kita bicara dan diskusikan di dalam forum konsultasi antara pimpinan DPD dan pimpinan DPR. Namun hal tersebut belumlah cukup. Posisi strategis DPR membuat DPR dapat meninggalkan DPD meskipun sudah ada aturan yang jelas dalam undang-undang. Oleh karena itu kebekuan hubungan ini harus diterobos secara judicial melalui uji materi ke Mahkamah Konstitusi.

Hadirin yang kami hormati.

Sesuai dengan hasil tim pengkajian yang menginterpretasikan kedudukan ketentuan Pasal 22 D Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan Undang-Undang MD3 dan Undang-Undang-Undang-Undang P3, maka Tim Litigasi merumuskan bahwa ada beberapa pasal didalam Undang-Undang MD3 dan Undang-Undang P3 bertentangan dengan Pasal 22 d ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang memberikan kewenangan konstitusional kepada DPD untuk mengajukan rancangan undang-undang. Yaitu, pasal 102 ayat (1) huruf d dan huruf e , Undang-Undang MD3 pasal 48 ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang P3 telah mereduksi kewenangan legislasi DPD menjadi setara dengan kewenangan legislasi anggota komisi dan gabungan komisi DPR. Dua, pasal 147 ayat (3) dan (4) Undang-Undang MD3 telah mendistorsi rancangan undang-undang usul DPD menjadi rancangan undang-undang usul DPR. Dan yang ketiga, pasal 43 ayat (2) dan pasal 46 ayat (1) Undang-Undang P3 telah merendahkan kedudukan DPD menjadi lembaga yang subordinate dibawah DPR.

Sementara kedudukan Undang-Undang MD3 dan Undang-Undang P3 bertentangan dengan Pasal 22 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memberikan kewenangan konstitusional kepada DPD untuk ikut membahas rancangan undang-undang. Diantaranya pasal 148 ayat (7), pasal 150 ayat (5) Undang-Undang MD3, serta pasal 68 ayat (5) Undang-Undang P3 telah mereduksi kewenangan DPD. Dengan mengatur bahwa pembahasan rancangan undang-undang tetap dilaksanakan meskipun tanpa keterlibatan DPD. Dan yang kedua pasal 150 ayat (3) Undang-Undang MD3 dan pasal 68 ayat (3) Undang-Undang P3 telah mengkecualikan DPD dari pengajuan dan pembahasan

(7)

daftar inventarisasi masalah yang justru merupakan inti dari pembahasan sebuah undang-undang.

Permohonan tersebut diatas dikarenakan dalam mekanisme kerja DPR dan DPD mengalami kesulitan. PPUU dengan Baleg dalam pembahasan prolegnas, pembahasan RUU tentang Pemda, RUU tentang Desa, RUU tentang Pemilukada dan sebagainya.

5. PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (NTB) Interupsi pimpinan. B-69.

6. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Iya, kenapa Pak Farouk?

7. PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (NTB)

Forum yang terhormat. Saya hanya ingin mencoba mengingatkan saja apakah pernyataan-pernyataan seperti ini kita terbuka atau kita batasi dulu, supaya off the record dulu, jangan sampai kita belum apa-apa begitu selesai sudah ribut di media besok. Kalau bisa saya sarankan terserah, tapi paling tidak ada hal itu yang saya khawatirkan. Saya kembalikan kepada pimpinan dan forum bagaimana sebaiknya membicarakan masalah ini. Terima kasih. 8. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik, begini. Ini kan rangkaian dari rapat Panmus yang kemarin, yang disampaikan ini hanya progress report bagaimana langkah-langkah, tapi tidak masuk substansi sesungguhnya. Kemudian, yang diambil keputusannya kan soal mengenai pengacara. Jadi itu sebenarnya hasil rapat. Jadi mohon dipersingkat saja Pak, progressnnya saja maksudnya. Itu yang kemarin disepakati.

9. PEMBICARA : ALIRMAN SORI, SH., M.Hum., MM. (TIM LITIGASI)

Tinggal dua lembar, kalau tidak saya bacakan juga terputus kalimatnya. Jadi mohon ijin dan mohon maaf. Daripada saya turun, lebih baik saya bacakan, tinggal dua lembar saja. Dan saya minta ijin kepada kita semua Bapak-Ibu sekalian. Setuju tidak setuju harus dibacakan.

Saya lanjutkan. Permohonan tersebut diatas dikarenakan dalam mekanisme kerja DPR dan DPD mengalami kesulitan. PPUU dengan Baleg dalam pembahasan prolegnas, pembahasan tentang pemilukada, tentang desa, RUU tentang pemilukada, sebagaimana RUU yang disampaikan oleh DPD selama tujuh tahun kurang waktu lebih 30 RUU sama sekali tidak ditindaklanjuti oleh DPR. Oleh karena itu perlu affirmative action dengan melakukan judicial review.

Berdasarkan hal diatas permohonan DPD secara substansi sebenarnya adalah meminta penjelasan frame MK terhadap interpretasi dari Pasal 22 d Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal yang sama dilakukan pengujian Undang-Undang Nomor 39/2008 tentang Kementerian Negara, yaitu interpretasi MK terhadap ketentuan Pasal 17 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam melihat substansi pasal 10 dari Undang-Undang 39/2008. Oleh karena itu posisi judicial review sebenarnya tidak mendorong DPD dan DPR ataupun DPD dengan parpol untuk berhadap-hadapan secara langsung, tetapi justru dari interpretasi MK tersebut diharapkan

(8)

dapat mendorong maupun menjadi materi tambahan amandemen ke-5 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Juga menjadi prioritas DPD dalam rangka penguatan peran DPD dengan dasar pasal yang sama dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu Pasal 22 d, kenapa di interpretasikan berbeda-beda oleh 4 undang-undang yang berbeda, yaitu Susduk, dan Undang MD3, serta Undang-Undang Nomor 10/2004 dan Undang-Undang-Undang-Undang 12 Tahun 2011 tentang P3. Interpretasi tersebut dikarenakan memang ada yang salah dari ketentuan Pasal 22 d tersebut. Interpretasi MK terhadap Pasal 22 d nantinya juga akan menjadi dasar argumentasi DPD selanjutnya.

Sesuai dengan kesepakatan Panitia Musyawarah pada hari Senin tanggal 11 Juni 2012, maka untuk penentuan waktu permohonan maupun tindak lanjut dari permohonan disepakati untuk sesegera mungkin diajukan ke MK, dengan tetap sejalan dengan proses amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang sedang DPD perjuangkan. Hal ini dikarenakan melihat kondisi riil DPD sebagaimana kami sampaikan di atas dalam arti bahwa sampai saat ini kondisi kita tidak menguntungkan dalam rangka pembahasan dengan DPR. RUU dari DPD tidak pernah ditindaklanjuti oleh DPR. Pada pembahasan RUU, DPD tidak diikutsertakan secara maksimal dan masih banyak hal-hal yang harus disikapi bersama.

Hadirin yang saya hormati.

Terkait dengan tim lawyer, kami menggunakan tim lawyer sebagaimana rekomendasi dari tim pengkaji undang-undang. Disamping itu pilihan tim lawyer tersebut didasarkan kepada komitmen dan tim lawyer untuk membantu DPD secara maksimal, dan pro bono, gratis. Tim lawyer tersebut adalah Dr. Todung Mulai Lubis, Dr. Maqdir Ismail, Muspani, Alexander Lay. Iqbal Tawakal Pasaribu, kemudian Wakil Kamal, Aan Eko Widiarto, kemudian Robby Ferliansyah dan Najmu Laila.

Demikian laporan yang dapat kami sampaikan pada sidang yang terhormat ini. Atas perhatian pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia kami ucapkan terima kasih.

Wabilahitaufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi.

Salam sejahtera buat kita semua. Om Shanty Shanty Shanty Om.

10. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Sidang dewan yang mulia,

Kita baru saja mendengarkan progress report yang telah dilaksanakan oleh Tim Litigasi. Dan pada kita pada pagi ini, dimana Tim Litigasi memintakan persetujuan kepada kita untuk penunjukan daripada pengacara sesuai dengan pasal 48 ayat (7) Tatib DPD RI, bahwa dalam berurusan dengan pengadilan oleh pimpinan DPD yang mewakili lembaga DPD dapat dilakukan penunjukan tim pengacara yang akan mewakili dewan dalam berhukum acara yang penetapannya mendapat persetujuan sidang paripurna. Tim pengacara tadi telah disampaikan nama-nama anggotanya oleh Tim Litigasi. Dan sesuai dengan pandangan yang berkembang pada saat rapat Panmus kemarin, bahwasa adanya usulan yang berkembang untuk menambah beberapa nama, tetapi tentu saja faktor biaya akan menjadi pertimbangan. Sebab seperti tadi yang disampaikan oleh Tim Litigasi, bahwasa pengacara membantu DPD secara pro bono atau tidak dipungut bayaran, karena begitulah kondisi kita. Untuk itu bisakah kita menyepakati pengacara seperti mana yang tadi telah disampaikan sesuai dengan Tatib pasal 48 ayat (7) tersebut.

(9)

11. PEMBICARA : Dipl. Ing. H. BAMBANG SOEROSO (KETUA KELOMPOK DPD DI MPR)

Interruption. Bambang Soeroso B-27.

12. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Pak Bambang Soeroso, sebentar dulu, Pak. Pak Bambang baru Pak Fatwa. Sebentar ya. Pak, sini siapa lagi? Baik, silakan Pak Bambang.

13. PEMBICARA : Dipl. Ing. H. BAMBANG SOEROSO (KETUA KELOMPOK DPD DI MPR)

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi.

Salam sejahtera untuk kita semua. Om Swastyastu.

Yang kami muliakan pimpinan dan para sahabat-sahabat seperjuangan yang berbahagia.

Pak ketua, kita, saya kira yakin dan sangat percaya bahwa perjuangan yang dilakukan oleh kita semua adalah semata-mata bagaimana DPD itu kedepan bisa mewujudkan martabat dan harkatnya sebagai sebuah eksistensi lembaga perwakilan di republik ini. Disamping amandemen yang sedang kita perjuangkan sebagai salah satu wujud perjuangan kita semua untuk menuju kepada cita-cita kita, maka memang semua kehidupan kita untuk berjuang dalam rangka memajukan atau mewujudkan cita-cita tadi itu terwujud dengan juga diperjuangkannya sebuah judicial review tadi yang sudah kita laporkan. Oleh karena itu kami sangat sekali menghargai dan mengapresiasi atas hasil kerja para teman-teman yang ada di Tim Litigasi untuk mengajukan judicial review terhadap beberapa pasal dalam Undang-Undang MD3 dan P3 tadi. Namun, saya kira kita juga memahami bahwa semua lini perjuangan kita itu mesti disiasati dengan sebaik-baiknya. Artinya dengan mendengar, menyerap dan merasakan apa yang berkembang pada aspirasi diluar lingkaran kita itu. Karena bagaimanapun perjuangan kita adalah melibatkan semua stakeholder yang ada di republik ini.

Oleh karena itu Pak Ketua sebelum kita menyepakati tadi, memutuskan untuk mem pro-bonokan para prominen-prominen ahli kita dalam mendukung prosesi judicial review tadi, kita mengharapkan Pak, khususnya meskipun tadi tidak dilaporkan kapan tenggat waktunya judicial review ini akan disampaikan ke Mahkamah Konstitusi, Pak Ketua? Yang kami maksud disini adalah mengenai momentum. Kami tidak menafikan bahwa apa-apa yang sedang diperjuangkan dan dikaji secara mendalam dan sangat komprehensif tadi mengenai judicial review, kami tidak menafikan bahwa itu adalah sesuatu yang sangat baik. Namun yang kami inginkan adalah tolong berikan kesempatan bagi kawan-kawan yang sedang saat ini melakukan penetrasi dan pengumpulan tandatangan untuk mengamandemen sampai dengan Agustus. Bahkan kami sudah mempunyai sebuah ultimate rigid yang lebih dalam sebelum tanggal 16 Agustus itu untuk itu tetap dilaksanakan. Artinya tidak mendahului dimasukannya judicial review itu ke Mahkamah Konstitusi. Karena kami berkalkulasi Pak Ketua, apapun tadi makna daripada dimasukannya tafsiran pada judicial review itu psikologis akan berimplikasi kepada perjuangan yang sudah dilakukan panjang dan dalam ini oleh teman-teman khususnya di dalam rangka mengumpulkan tandatangan.

(10)

14. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Mohon waktunya Pak Bambang.

15. PEMBICARA : Dipl. Ing. H. BAMBANG SOEROSO (KETUA KELOMPOK DPD DI MPR)

Iya. Jadi sekali lagi kami hanya ingin, mohon mempertimbangkan, memasukan judicial review itu setelah Agustus sebelum kita mengumpulkan tandatangan itu. Terima kasih Ketua, terima kasih kawan-kawan.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

16. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik, saya rasa sudah dicatat Tim Litigasi. Silakan Pak Fatwa.

17. PEMBICARA : Drs. H. A. M. FATWA (DKI JAKARTA) Bismillahirrahmanirrahim.

Saudara Ketua, saudara wakil ketua dan para senator yang kami hormati.

Saya langsung masuk pada tadi permintaan pertimbangan mengenai soal pengacara. Saya ingin mengusulkan agar pengacara atau penasehat hukum itu ditambah dengan para bekas anggota Mahkamah Konstitusi, misalnya Laica Marzuki, wakil ketua. Dan saya kira ada beberapa yang lain sehingga situasi psikologis, materi dan cara-cara, bahkan, ya terutama materi saya pikir ada hal-hal yang perlu mereka pelajari, teliti, karena mungkin ada hal-hal yang tidak perlu dimasukan mengganggu materi yang sesungguhnya itu yang prinsip.

Kemudian saya juga ingin mengemukakan bahwa adanya materi bahwa fraksi-fraksi tidak mendukung keberadaan DPD RI. Saya kira ini tidak benar sama sekali, karena proses keberadaan DPD itu embrionya itu embrio suatu proses politik yang panjang, malah sebelum kemerdekaan tahun 1941 itu sudah ada embrio itu. Kemudian setelah pemberontakan PRRI Permesta, lalu ada suatu tim 11 di DPR diketuai oleh Wakil Ketua DPR H. Zainal Abidin Ahmad membentuk tim 11 namanya, yang lalu mengusulkan perlunya ada dewan daerah. Jadi embrio itu ada dari dulu.

Jadi kemudian ini hasil amandemen adanya DPD ini tidak ada yang mungkin bisa menolak. Tidak mungkin ada fraksi yang menolak keberadaan, karena mereka yang mendirikan ini. Fraksi-fraksi di DPR lah yang otomatis juga fraksi-fraksi di MPR itulah yang memutuskan keberadaan DPD ini. Jadi yang perlu kita perjuangkan itu memang eksistensi. Eksistensi kita ialah masalah yang selalu diperjuangkan masalah amandemen. Itu amandemen itu sesuatu keniscayaan, tetapi ini menyangkut masalah waktu dan momentum politik. Oleh karena itu, kebetulan sekarang ini ada isu-isu daerah marilah kita terjun di dalam menangani isu-isu daerah itu, bukan saja di Papua, tetapi isu Kalimantan itu penting. Dengan adanya upaya-upaya itu kita menyatu dan memperkuat akar kita di daerah, nah itu kelihatan itu akar kita, karena keberadaan DPD ini sebenarnya memang untuk perjuangan daerah. Jadi yang perlu kita utamakan ialah mengakarnya kita di daerah, jangan sampai ke bawah juga tidak berakar, ke atas juga kita tidak berpucuk, apalagi berbuah.

18. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Mohon waktunya, Pak.

(11)

19. PEMBICARA : Drs. H. A. M. FATWA (DKI JAKARTA)

Ya. Kemudian ada masalah pembahasan bersama. Ini sebenarnya menyangkut masalah pendekatan saja ini sebenarnya. Karena itu sudah disediakan di dalam undang-undang dan itu harus dilaksanakan. Jadi ini masalahnya pembahasan bersama. Saya ikut di dalam pansus ini. Jadi ada hal-hal yang tidak perlu tetapi di dalam pelaksanaan saja. Ini masalah hubungan keakraban antara dua lembaga, masalah pelaksanaan saja. Sebab banyak yang terlaksana pada periode yang lalu sekarang ini tidak terlaksana. Misalnya antara, ini memang harus didahului dengan pendekatan-pendekatan. Dan menurut saya baik secara usia kita baru 7 tahun disana sudah 16-17 tahun, ya memang kita yang harus, kita yang lebih berkepentingan kitalah yang harus datang.

Mengapa pada periode yang lalu sering terjadi konsultasi-konsultasi antara segitiga pimpinan DPD, pimpinan MPR, pimpinan DPR, dan berulangkali itu terjadi. Tapi sekarang saya mendengar bahwa sudah berkali-kali kita meminta tetapi pihak sana mengatakan tidak ada waktu. Istilah tidak ada waktu itu artinya sebenarnya malas menerima, tidak mungkin tidak ada waktu. Jadi saya kira ini masalah seni pendekatan dan seni kepemimpinan kita bersama.

Saya kira itu saja karena saya tidak bisa tentunya menangkap, karena hanya sepintas tadi. Tapi saya usulkan sebelum diajukan nanti terutama dengan para tim pengacara itu, sesudah ditambah disempurnakan, itulah yang harus meneliti mana yang perlu dikurangi atau disempurnakan. Terima kasih.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

20. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Terima kasih. Silakan Pak Adhariani

21. PEMBICARA: Ir. ADHARIANI, SH., MH. (KALSEL) Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.

Saya singkat saja ya, keputusan hari ini jangan terlalu dipolemikan. Maksud saya begini, Tim Litigasi, terus amandemen, ini kayak-nya ada yang tidak sepakat kalau boleh saya katakan hari ini. Maksud saya, hari ini janganlah kita mengambil keputusan dulu Pak, sebab kalau diambil keputusan saya kira malah tambah ribut hari ini. Maksud saya usul saya adalah Ketua termasuk pimpinan kelompok, pimpinan DPD terus Tim Litigasi itu duduk bersama dululah, karena ini menyangkut momen yang harus maju duluan ini siapa, begitu. Ketika Tim Litigasi mau maju nanti ada kelompok lagi protes lagi, begitu. Saya tidak mau mendengar hal-hal seperti itu. Justru itu mendingan kita lanjut hari ini kita lanjut paripurna ini. Untuk usul saya mungkin kita laksanakan, tapi dengan catatan Pak, dengan waktu singkat. Hari, 90 hari ini, ini perlu kita pikirkan betul, sehingga ini tepat, sehingga amandemen itu bisa juga berhasil, begitu loh. Jadi disatu sisi Litigasi juga berhasil, maju juga, tapi amandemen juga bisa kita laksanakan. Maksud saya ini harus kita akhiri hari ini, sebab nanti berpolemik lagi, saya tidak mau seperti itu. Barangkali itu Pak, terima kasih dari saya.

22. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Silakan Pak Bambang dulu, silakan Pak Bambang.

(12)

23. PEMBICARA: Ir. H. BAMBANG SUSILO, MM. (KALTIM)

Terima kasih Ketua dan para senator yang hadir di paripurna sangat mulia ini.

Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada senator dari DKI Pak Fatwa, Kalimantan disebut-sebut. Saya ucapkan terima kasih saya sebagai warga Kalimantan dan kaukus Kalimantan. Kedua, tadi saya simak apa yang dilaporkan oleh wakil dari Tim Litigasi, artinya Tim Litigasi ini bergerak bukan hanya 2 RUU itu, atau RUU Desa atau RUU Pilkada. Dimana merupakan domain Komite I, semua RUU yang disampaikan DPD RI, semua komite itu penting. Jadi jangan ada mengkultuskan Litigasi semata-mata hanya mengejar RUU Desa dan RUU Pilkada. Semua memang penting dan ada prioritas. Itu saja saya ingatkan.

Kedua, masalah biaya, semua tidak bayar katakanlah, ini lembaga, mungkin seorang Yusril saat ini sedang bagus dan banyak kemenangan tuntutan dia di MK, apakah ini sudah dilakukan lobi-lobi. Yusril saya yakin seorang negarawan yang baik. Kalau ini dilakukan lobi-lobi yang bagus saya pikir dia sama dengan lawyer yang lainlah itu. Sehingga gerakan kita ini demi perkuatan DPD RI sangat bagus Ketua. Itu saja masukan dari saya Ketua. Jadi Tim Litigasi ini bukan hanya mengejar RUU Desa dan Pilkada semua RUU di komite yang merupakan inisiasi DPD itu penting. Terima kasih Ketua.

24. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik Bu Juniwati dulu ya, baru nanti Pak Luther. Silakan Bu.

25. PEMBICARA: Dra. Hj. JUNIWATI T. MASJCHUN SOFWAN (JAMBI) Terima kasih pimpinan.

Teman-teman Senator yang saya sayangi, cintai.

Setelah mendengar dari beberapa teman-teman dan saya kira juga kita semua tidak ada perbedaan. Artinya semua memandang amandemen itu sangat-sangat dibutuhkan karena itu menyangkut konstitusi. Kemudian juga maju ke MK dalam rangka JR (judicial review) semua juga setuju. Yang tadi disampaikan adalah mungkin minta penambahan daripada, dan persetujuan dari pada lawyer yang akan menangani judicial review.

Kemudian yang kedua, yang mungkin ada perbedaan, adalah mengenai timing, momentum. Saya mendengar dari beberapa kawan ada yang mengatakan kita tunggu saja setelah Agustus dengan beberapa alasan yang tadi sudah disampaikan. Tetapi juga ada teman-teman yang memandang ini adalah sebuah peluang emas, apalagi dari Pak Bambang mengatakan bukan hanya RUU Desa, bukan hanya RUU Pemda, betul Pak, ada RUU Keuangan yang menurut hemat saya kalau kita senator tidak ikut membahas secara keseluruhan, bukan mengambil keputusan ya, kita tidak punya berhak, membahas mulai dari pendapat mini kemudian juga membahas DIM, kalau kita tidak ikut kita tidak tahu nantinya hasilnya seperti apa. Apakah selama ini RUU yang kita sudah buat yang kita sampaikan ke DPR itu mana? Mana yang betul-betul usulan dari kita itu yang digunakan.

Oleh karena itulah teman-teman saya berharap kita jangan terlalu egoisme sektoral, saya tuh dulu juga, saya ini anggota Kelompok, saya ini anak buah Pak Bambang, saya sayang dengan Pak Bambang. Saya nomor 1 teken waktu itu. Cuman ini momentum Bapak-bapak Ibu-ibu, sebagai Senator kita ini lembaga negara tidak usah merasa kita duluan, maaf Pak Fatwa, mereka duluan, kita adalah, pernah dikatakan juga kita adalah sebagai saudara muda. Ini tidak begini ketatanegaraan teman-teman. Kita punya wibawa yang sama. Bahkan dari DPR, teman-teman DPR meminta kepada kita melalui Pak Ketua yang Bapak katakan kemarin, Ketua DPR, mbok ya ini pengertian dari pada membahas ini kalau sudah clear kami

(13)

juga senang. Berarti mereka juga ingin tahu, jadi enak begitu tidak melanggar. Kalau sekarang kan mereka karena ada multitafsir khawatir melanggar kalau misalnya ikut dalam membahas DIM. Tetapi kalau MK Insya Allah menerima keputusan kita, semuanya jadi enak. Dan saya rasa psychological politic teman-teman sekalian, partai tidak akan marah sama kita, tidak. Kalau di partai itu yang ada adalah teman-teman sekalian, tidak ada teman abadi, tidak ada musuh abadi, kepentingan. Maaf ya, yang penting kepentingan. Nanti mereka punya kepentingan terhadap kita. Kitakan kan juga punya konstituen, maaf ini saya terpaksa berbicara demikian, 35 tahun saya di partai. Jadi saya harap peluang emas ini dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kita gunakan. Insya Allah kalau keluar kita enak ikut membahas, ya Undang-Undang Keuangan yang ada di Komite IV, terus Komite III saya kurang tahu undang-undang apa, Komite II, kalau di Komite I karena saya di Komite I ya mungkin itu harus ditambahkanlah sama kita nanti.

Oleh karena itulah jangan lagi polemik. Dan juga Pak Adhariani jangan kita justru ketemu lagi, ketemu lagi, kita sudah beberapa kali ketemu. Dan sudah di dalam sidang paripurna yang lalu itu sudah resmi Tim Litigasi dibentuk. Karena itulah pergunakan peluang ini. Kalau kita akan bersidang MPR itu butuh waktu minimal itu tiga bulan, untuk misalnya amandemen. Sampai sekarang belum ada persiapan apa-apa. Ini sudah akhir bulan Juni, tidak ada itu gaung-gaungnya itu akan bersidang MPR itu. Terima kasih, dari saya sekian saja.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

26. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik. Saya kembali dulu Pak Luther Kombong, nanti baru Pak Rahmat.

27. PEMBICARA: LUTHER KOMBONG (KALTIM) Terima kasih Ketua.

Saya singkat saja. Mungkin rencana teman-teman untuk maju ke judicial review ke MK ini perlu pemikiran matang-matang. Yang mana kita harus dulukan, apakah kita sabar menunggu Kelompok yang telah lama memperjuangkan amandemennya ini? Atau kita tidak usah menunggu Kelompok lalu kita maju ke MK. Yang kita khawatirkan adalah perjuangan teman-teman di Kelompok DPD di MPR itu terasa sia-sia. Padahal kalau saya dengar persentase dari pada teman-teman di Kelompok itu sangat menjanjikan, dimana sudah lebih daripada 50% partai politik menyetujui. Itu menurut Ketua Kelompok dan ketua-ketua sebelah sini, itu persentasenya kepada saya. Dan mereka janjikan dan lain adalah tanggal 16 Agustus. Apabila tanggal 16 Agustus itu tidak disetujui oleh teman-teman partai politik, tidak mencukupi, maka kami hand up. Bukan saya tidak setuju untuk maju ke MK, karena itu konstitusional dan hak kita. Cuman apakah tidak ada perasaan teman-teman sebelah kamar ini nantinya, bahwasanya "loh kok terlalu memburu kekuasaan?". Kita bukan memburu kekuasaan, ini kepentingan daerah sebetulnya, maju memperkuat DPD itu adalah bukan kebutuhan Luther Kombong atau Pak Ketua atau teman-teman DPD ini, tapi kepentingan kita mewakili daerah. Sehingga ini perlu dipikirkan betul-betul, karena menjadi beban bagi Pak Bambang cs yang sudah lama berjuang apabila ini tidak terkabulkan. Karena yang diberikan kepada kita adalah janji yang betul-betul, saya juga bisa percaya itu. Sehingga saya setuju JR ini, tetapi kapan momennya. Saya kira itu Ketua. Terima kasih.

28. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik Pak Rahmat Shah silakan, habis itu baru Bu Aida.

(14)

29. PEMBICARA: Dr. H. RAHMAT SHAH (SUMUT)

Terima kasih Bapak Ketua, teman-teman anggota DPD dan hadirin yang saya muliakan. Saya pikir kita mengulang-ngulang, ini sudah seperti lembaga ini kredibilitasnya seperti tidak jelas ini dengan teman-teman yang hadirnya sepotong-sepotong dalam suatu pertemuan atau rapat yang penting. Kita sudah bawa ini ke Panmus, sudah ke paripurna, balik lagi rapat-rapat, bahkan kebetulan saya yang menjembatani jumpanya Ketua Kelompok dengan Ketua DPD, kita rapat lagi tanggal 13 kalau saya tidak silap 2 kali. Kemarin Panmus, berdebat sekian jam diputuskan jalan judicial review segera mungkin karena mengingat beberapa rancangan undang-undang dari daerah yang kita wakili, baik itu Komite I, II, III dan IV. Kalau keputusan kita yang sudah baik, sudah jalan dan sudah berulang-ulang disampaikan kalahpun kita nilai plusnya tinggi bahwa kita telah dilecehkan dan dizholimi, apalagi menang. Dan kami yakin dari Tim Litigasi Insya Allah kita akan menang. Karena yang kita minta bukan mengecilkan partai ataupun dewan, tapi adalah tafsir kata dari turut membahas. Dengan kita baru mau bergerak saja ke JR ini kita sekarang sudah diturutkan membahas RUU dengan Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Hukum dan Ham dan sebagainya.

Jadi saya berprinsip hargailah rapat jangan karena bisik-bisik atau ada agenda yang tidak jelas kita merubah-rubah suatu keputusan kita sendiri, keputusan kita yang tertinggi paripurna. Saya betul-betul Ketua, saya mengharap apa yang sudah kita putuskan, karena tidak bisa pemikiran 1-2 orang untuk melemahkan pikiran sekian ratus orang, begitu. Jadi itu harapan kita, kita sudah lama dilecehkan, dikerdilkan, dapatnya susah tapi wewenangnya tidak ada, dan kita telah menghabiskan biaya yang demikian besar uang rakyat tapi hasilnya tidak bisa kita kawal hingga final. Jadi harapan kami Ketua, agar apa yang sudah diputuskan di Panmus juga sesuai rapat kita sebelumnya harus kita hormati dan hargai.

Demikian. terima kasih.

Wabilahitaufiq walhidayah Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 30. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Silakan Ibu Aida.

31. PEMBICARA : AIDA ZULAIKA NASUTION ISMETH, SE., MM. (KEPULAUAN RIAU)

Terima kasih pimpinan.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya ingin disini juga sedikit juga tapi Pak Fatwa tidak ada. Saya koreksi juga Pak Fatwa bahwa tidak mengakar. Kita semua terlampau mengakar, sangking mengakarnya mereka mengelu-elukan kita dan mereka mengharapkan kita dapat berbuat banyak untuk mereka. Tapi sampai saat ini kita tidak bisa berbuat banyak. Jadi bukannya kita tidak mengakar, mengakar sekali, mohon maaf.

Dan kemudian yang lain adalah Pak Rahmat Shah dan Bu Juni. Saya setuju sekali dengan apa yang disampaikan oleh Pak Rahmat dan Bu Juni, jangan kita kembali lagi. Dan terus terang mengenai amandemen kita jalan saja, dua-duanya jalan, usul saya, tetapi kalau kita tunggu momen ini akan hilang. Saya sudah dua periode, amandemen, amandemen, kalau kita tunggu Agustus, lewat Agustus tidak ada apa-apa, apa yang akan kita perbuat bagi daerah kita. Sementara mereka menangis dan mereka mengharapkan kita, kita bagaikan makan gaji buta tidak bisa berbuat banyak. Itu saja Pak Irman, tolong. Terima kasih.

(15)

32. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik, silakan Pak Tonny Tesar.

33. PEMBICARA : TONNY TESAR (PAPUA) Terima kasih Pimpinan.

Bapak-Ibu yang saya hormati.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita sekalian.

Om Swastyastu.

Iya, saya sama dengan Ibu Aida sudah 7 tahun merasakan gejolak hati yang cukup lama untuk adanya satu amandemen. Saya menyadari betul bahwa sahabat saya dan teman-teman di Kelompok, Pak Bambang yang saya sebut perjuangannya sangat luar biasa dan itu kita hargai memberikan apresiasi yang tinggi sekali. Yang ingin saya menyampaikan disini bahwa amandemen itu bukan untuk kepentingan DPD saja, tapi amandemen itu upaya untuk melakukan satu sistim, perbaikan sistim ketatanegaraan secara keseluruhan. Jadi kita tidak bisa kepentingan amandemen itu identik dengan kepentingan DPD saja, tidak. Kita bicara tentang membangun sistim nanti lebih bagus lagi bagaimana calon presiden perseorangan, pemilihan nasional dan lain sebagainya, itu kita bicarakan. Jadi kita tidak lagi hanya berpikir amandemen hanya kepentingan DPD semata-mata. Tapi kalau kita buat Litigasi memang itu kita bicara kepentingan kita DPD.

Dan saat ini bisa kita jalan-jalan dua-dua, lakukan saja Litigasi karena kita sudah putuskan di Paripurna dan di Panmus. Dan itu sudah setuju. Itu memang sungguh-sungguh hak kita sebagai wakil, sebagai anggota DPD untuk memperjuangkan karena itu diatur oleh Undang-Undang Dasar. Kita harus lakukan sekarang karena itu sudah diputuskan. Sedangkan amandemen tetap kita berjuang tetapi bukan hanya kepentingan kita, karena kalau toh kita tidak lakukan orang lain juga akan lakukan. Tapi itu perjuangan kita hormati terus, amandemen harus jalan terus, karena itu bukan kepentingan DPD semata. Litigasi juga jalan terus karena sudah diputuskan. Sya sendiri pribadi saya mau menerima itu walaupun saya merasa juga sebagai sahabat Mas Bambang dan teman-teman di Kelompok ini adalah sesuatu yang kurang pas, sengketa kewenangan katakanlah dalam tanda kutip, tapi ini keputusan paripurna jadi saya mendukung untuk Tim Litigasi lakukan judicial review. Terima kasih. 34. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik.

35. PEMBICARA : Dipl. Ing. H. BAMBANG SOEROSO (KETUA KELOMPOK DPD DI MPR)

Ketua, klarifikasi.

36. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Iya, sebentar dulu Pak Bambang, ini kasih kesempatan, biar nanti Tim Litigasi. Ada lagi tidak? Kalau tidak cukup ya. Baik silakan Tim Litigasi untuk merespon silakan. Tolong mohon pendek saja Pak Wayan.

(16)

37. PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, SH. (BALI)

Saya minta Pak Alirman dan Pak Jhon dulu, nanti saya melengkapi kalau ada yang masih tersisa.

38. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Silakan Pak Jhon Pieris, mana? Iya, Silakan Bang Jhon. Mohon singkat saja dengan Pak Alirman, nanti baru Pak Bambang sebentar, baru saya lihat bagaimana perkembangan.

39. PEMBICARA : Prof. Dr. JHON PIERIS, SH., MS. (MALUKU) Terima kasih Ketua.

Saya berada pada posisi yang sangat sulit sebagai Wakil Ketua Kelompok, Ketua Timjasus A materi perubahan. Kemudian wakil ketua, Wakil Koordinator Tim Litigasi. Oleh sebab itu perkenankan Pak Alirman menyampaikan. Dari saya terima kasih.

40. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Silakan Pak Alirman. Mohon singkat.

41. PEMBICARA : ALIRMAN SORI, SH., M.Hum., MM. (SUMBAR) Itulah akibat ada dua kaki.

Terima kasih pimpinan.

Saya tidak akan merespon kalau ada perbedaan pendapat itu. Saya berada di tengah-tengah itu saja. Ada beberapa pertanyaan misalnya, Bambang mana? Keluar. Bambang yang Kaltim. Itu Bambang Soeroso itu. Bambang Susilo, iya. Tadi kan mengatakan kok yang dibaca itu terkait dengan Komite I saja, itu kan contoh. Jadi tidak akan ada diskriminasi. Semuanya menjadi bahan kajian di Tim Litigasi ini baik yang Undang-Undang Komite I, II, III dan IV. Ini perlu di klarifikasi supaya tidak salah tafsir juga.

Kemudian yang kedua, menurut saya kalau bicara tentang golden momentum kapan amandemen dan JR ini harus dilakukan? Ini panjang perdebatannya, walaupun teman-teman sudah memberikan komentarnya bermacam-macam, Pak Ketua. Kami dari Tim Litigasi ini kan bekerja atas perintah dan keputusan paripurna, kami jalankan. Dan hari ini memang kita melaporkan hanya progress saja. Terkait dengan tim lawyer, ada yang disampaikan teman-teman tadi mestinya harus ditambah dan segala macam. Saya kira itu yang harus kita respon. Substansinya yang kita sampaikan di Tim Litigasi dan kita semua tahu hanya semata-mata meminta kepada Mahkamah Konstitusi untuk menafsirkan Pasal 22 D itu, tentang dapat bagaimana? Apakah ini opsional atau original. Kemudian tentang ikut membahas yang dimaksud itu seperti apa? Ada yang mengatakan ikut membahas diberi kewenangan tapi tidak selesai. Kita minta, daripada kita berdebat dengan abang kita yang senior disebelah, yang juga itu akan memperburuk hubungan DPD dengan DPR, lebih baik kita minta MK yang punya kewenangan untuk menafsirkan itu. Termasuk bagaimana pertimbangan yang dimaksud. Tentang APBN, tentang pajak segala macamnya itu. Itu saja intinya sebenarnya. Namun demikian karena ini adalah pemilik keputusan ini adalah kita semua, ya tentu kita harus menempatkan posisi kita pada posisi yang strategis, mana golden momentum diantara dua yang kita bicarakan sudah lama ini yang lebih tepat. Itu saja sebenarnya. Kami Tim Litigasi tidak akan mempertahankan apa yang kami kerjakan dengan artian, karena ini adalah

(17)

menjadi wilayah kita secara semuanya. Tim Litigasi hanya melaksanakan amanah dari Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih.

42. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik, terakhir Pak Wayan. Ada Pak Farouk ya.

43. PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, SH. (BALI) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera buat kita semua.

Om Swastyastu.

Saya ingin menggarisbawahi dulu dengan tambahan penjelasan tentang apa yang disampaikan Pak Alirman. Agak berat bagi kami menyampaikan reaksi ataupun jawaban terhadap teman-teman yang setiap orang punya hak suara ini di paripurna. Berat luar biasa. Jika kami bertahan seolah-olah kami yang punya kepentingan tim ini cari panggung, dapat panggung. Jika kami tidak menjelaskan pekerjaan kami yang diartikan bertahan, kami ini kan diberikan SK, kami hanya menjalankan SK, SK ini dibuat pimpinan berdasakan utusan paripurna. Lalu setelah SK kami jalankan tim ini bekerja bagus sekali, sekalipun tidak semua anggota timnya rajin. Ada sedikit sekali anggota tim yang tidak pernah hadir, sedikit sekali. Tapi mereka tidak pernah melakukan penentangan atas keputusan-keputusan itu. Maka lancarkan ketika kami melaporkan hasil-hasil kerja ini kepada pimpinan.

Ketika ada masalah kalau boleh saya buka, masalah ini kan berawal ketika pimpinan belum membuat tanda tangan tiga-tiganya untuk mengajukan konsep kita, permohonan kita ke judicial review. Itu saja inti persoalannya sebenarnya. Dari sana berkembang pertemuan-pertemuan, intern pertemuan pimpinan ada kemajuan, kami harus mengakui itu. Pertemuan antara Kelompok dan tim kami juga layani. Dan terakhir kami mendapat informasi jika Panmus ini sudah dilakukan tinggal hanya satu poin yaitu minta persetujuan tentang pengacara. Setelah itu tanda tangan pimpinan akan selesai. Begitu informasinya yang saya dengar.

Oleh karena sekarang berkembang ada momen lagi di forum paripurna maka agenda utama kita itu menjadi dua. Satu momen, kedua memutuskan pengacara. Kalau memutuskan pengacara kami tunduk pada paripurna. Saya ulangi, kalau soal pengacara kami tidak boleh melawan paripurna, biarpun ada tim kajian yang merekomendasikan pengacara setelah dibahas, tetap paripurna yang menentukan siapa pengacara yang akan kami pakai. Tapi kalau soal momentum sekali lagi kita punya dua cara mengatasi kelemahan kita, satu amandemen, kedua judicial review. Amandemen sepenuhnya tergantung DPR, sepenuhnya tergantung DPR bukan kita. Teman-teman menyebut 7 tahun. Tentu akan perbedaan persepsi karena memang Mas Bambang tidak menyebut 50% harapan itu indikatornya apa. Kalau ini saja dibuka seperti kami membuka pasal-pasal yang diajukan, clear ada 7 pasal menyangkut 5 substansi dan 12 ayat, kami ajukan ini. Setelah kami ajukan ini hampir semua, kecuali beberapa orang yang ingin memberi catatan, layak. Sebab apa? Pasal-pasal yang kami ajukan adalah menghambat keikutsertaan kami membahas. Yang konkrit tadi sudah disampaikan. Masa kalau kami boleh dilewati begitu saja dalam ikut membahas menurut pasal 150 ayat (3). Kalau kami mengajukan RUU kalau DPR setuju, diganti bajunya menjadi RUU DPR. Masa ini kami diamkan. Kami sengaja mencari pasal yang tidak terlalu banyak dan ini ada hasilnya. Sebenarnya kalau Mas Bambang bisa menunjukan indikator 50% itu ada harapan, ini sesuatu luar biasa setelah mimpi-mimpi 7 tahun sekarang ada harapan baru, begitu. Saya percaya saya pribadi Mas Bambang. Tapi pengalaman saya juga duduk di tim itu dari dulu partai-partai itu belum ada rapat sama sekali, belum ada pembahasan intern. Sementara saya

(18)

membawa buku Tatib MPR, kalau kita mengacu pada bulan Agustus sudah tidak mungkin bulan Agustus ini ada Sidang MPR. Mari kita baca ketentuan pasal 92, itu digabung dengan pasal 94 apa yang disampaikan Pak Adhariani, 30 hari sebelumnya sidang itu upaya-upaya ini harus dilakukan. Termasuk penandatanganan. Jadi kalau disebut Agustus sebagai sidang atau maksudnya lain saya tidak tahu. Kalau yang dimaksud itu sidang bulan Agustus dipastikan tidak mungkin karena itu tidak memenuhi syarat Tatib MPR. Pasti sudah lewat kita. Sekali lagi jika pun ini lewat Agustus apa salahnya jika Mas Bambang bisa meyakinkan kita semua untuk apa kalau menurut bahasa teman-teman bicara secara judicial review yang ecek-ecek ini, karena yang paling penting ini kan amandemen. Tapi kalau amandemennya belum ada indikator, teman-teman yang dekat dengan partai-partai itu bisikan kepada kami tidak ada rapat-rapat, tentu ini Mas Bambang perlu punya kewajiban menjelaskan ini karena bicara momentum. Kalau penjelasannya mirip dengan yang kami jelaskan ini dan harapannya jangan kan 50%, 49% saja ada harapan amendemen. Jangan-jangan ini redup ini Pak, judicial review ini redup. Karena judicial review hanya beberapa poin saja dari hak-hak kita akan diakomodir dalam permohonan. Tapi kalau amandemen luar biasa. Tapi sekali lagi kalau sampai 50% ini tidak jelas indikatornya, bulan Agustus sudah tidak mungkin berdasarkan Tatib, lalu kalau gagal amandemen, mohon maaf, Mas Bambang dan saya ini dalam posisi berada di tubir jurang, Mas Bambang, kita harus saling mengingatkan ini. Kalau saya ajukan judicial review sebelum Agustus..

44. PEMBICARA : Dipl. Ing. H. BAMBANG SOEROSO (KETUA KELOMPOK DPD DI MPR)

Mohon maaf, saya perlu mengkonteks apa yang.

45. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Sebentar, sebentar.

46. PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, SH. (BALI)

Bisa jadi, belum tentu, kalau sampai gagal Mas Bambang bisa jadi sasaran. Belum tentu. Tapi kalau saya akan merasakan kalau judicial review ini gagal saya akan jadi cercaan, dapat cercaan. Karena itu memang tidak mudah melakukan ini, tidak mudah. Tapi

47. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Mohon waktunya.

48. PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, SH. (BALI)

Kalau forum ini nanti bisa meyakinkan bahwa judicial itu tidak perlu karena amandemen sudah dekat untuk apa kita bicara judicial review. Diadakan saja judicial review itu, begitu.

Para hadirin yang saya hormati, karena kami sudah mengerjakan dengan baik sekaligus menjawab statement Pak Farouk, ... (tidak jelas) Pak Farouk, apa perlu paripurna ini membuat laporan dari Tim Litigasi? Saya berdiskusi dengan beberapa pihak tadi pagi. Makanya saya tidak mau membacakan itu karena saya merasa tidak perlu itu dilaporkan, satu karena kurang taktis, karena ini akan menyebar sebentar lagi, DPR tahu, siapa saja tahu, sama dengan pikiran Pak Farouk. Yang kedua, kami kan sudah melaporkan kepada pimpinan

(19)

yang memberi SK dan sudah menyampaikan ke Panmus. Karena itu kami merasakan kok tidak perlu lagi. Tinggal sekarang memutuskan pengacara saja. Kedua momentum. Untuk momentum kesimpulannya alangkah tak enaknya kalau momentum judicial review hilang seperti yang dibilang Ibu Aida, semangat-semangat beberapa teman jujur diakui sekalipun itu sebagai contoh, karena sedang ada pembahasan RUU tertentu dan ingin mengejar itu, harus diakui. Sekalipun judicial review tidak untuk komite tertentu. Semangatnya sedang ada. Kalau ini lewat momentum ini bisa kendor, lalu judicial review tidak diajukan. Kalau sampai amandemen juga tidak berhasil kita kehilangan dua-duanya. Saya berpikir kita harus mendapatkan dua-duanya, karena judicial review sama sekali dalam pikiran kita tidak melemahkan amandemen. Bahkan kalau judicial review diajukan dari tafsir pasal 22 d kita memperoleh peluang, argumen-argumen amandemen itu menjadi kuat.

Yang terakhir, saya tidak menunjukan ini kepada paripurna, ini tanggung jawab moral, tanggung jawab politik. Jika pimpinan tidak keberatan ijinkan saya mengundurkan diri sebagai Ketua Tim Litigasi untuk menghargai kerja-kerja Tim Litigasi yang sudah bagus, tapi pembahasan kita berputar-putar, bertele-tele, sehingga ada kewajiban moral orang seperti saya harus berani tampil mengatakan saya tidak layak menurut pribadi saya menjadi ketua tim karena berputar-putarnya masalah, begitu. Ini penting. Dan ijinkan saya mengundurkan diri supaya lain kali tidak ada ketua tim atau anggota tim seperti ini diperlakukan semena-mena oleh forum yang sangat terhormat ini. Terima kasih.

49. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik, Pak Wayan. Silakan Pak Farouk. Sebentar dulu ya. Kasih kesempatan dulu. Silakan Pak Farouk.

50. PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (NTB) Bismillahirrahmanirrahim.

Ini musti diluruskan. Jadi ada perbedaan persepsi para pembicara seolah-olah yang sedang berkonflik itu antara DPR dengan DPD. Saya lihat bukan. Yang sedang berkonflik ini internal DPD. Konfliknya apa? Bukan konflik soal Litigasi. Semua pasti setuju 100% Litigasi go ahead, juga bukan soal amandemen, bukan soal lawyer. Yang jadi persoalan kapan ini didaftar ke MK? Kalau berbicara kapan tidak ada keputusan politik. Kalau kita ini sebuah peperangan maka ini adalah art, adalah seni mengambil keputusan yang tepat kapan kita melakukan penyerangan. Dalam hal ini, jadi kalau tadi ada yang mengatakan oh ini gerakan paralel, juga tidak, tidak bisa paralel. Kecuali nanti kita dengarkan dari Kelompok apa resiko yang akan mungkin dialami oleh Kelompok jika ini maju pada waktu sebelum Agustus. Ini ditunjukan. Kalau memang alasannya rasional, masuk akal, bagus jadi bahan pertimbangan. Tapi sebenarnya dua tim ini bisa berjalan bersama dual triangle. Jadi segitiga terbalik dua. Yang sekarang, yang gede sisinya bawah ini adalah Kelompok. Kelompok ini terus akan semakin mengecil. Sebaliknya Tim Litigasi semua ke kecil nanti akan membesar. Jadi peranan itu akan beralih kalau di dalam liter kodal akan beralih kepemimpinannya untuk memenangkan pertempuran. Nah, dalam kaitan ini saya untuk mempersingkat waktu, saya mengusulkan begini, forum ini tidak bisa belum pernah memutuskan. Tidak perlu ini Pak Wayan, pokoknya Litigasi tetap jalan sudah diputuskan itu tidak ada, Pak anu pun oke Litigasi jalan terus. Tinggal sekarang kapan? Nah untuk menentukan kapan ini tidak perlu kita dibahas di sini, serahkan 3 pimpinan, Tim Litigasi, Kelompok. Cari waktu yang tepat, oke bismillahirrahmanirrahim maju kesana. Ya sudah, itu saja, tidak usah kita bicarakan diini. Setuju tidak?

(20)

51. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik. Silakan Mas Supartono.

52. PEMBICARA : Ir. SUPARTONO (JAWA TIMUR) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih pimpinan dan seluruh senator.

Saya pikir tidak ada perbedaan, ini hanya strategi. Satu. Tadi sudah ditawarkan oleh Ketua Kelompok DPD di MPR bahwa dia menyampaikan 16 Agustus sebagai batas akhir. Nah, tinggal teman-teman di Litigasi atau menurut pandangan teman-teman bahwa tanggal 16 Agustus itu terlalu lama atau tidak? Cuma itu saja sebenarnya. Batasnya 16 Agustus. Ini tidak, bukan teman-teman bukan tidak setuju dengan Litigasi, bukan tidak setuju dengan amandemen, tapi kita persoalan momen. Tadi, kita tadi sudah panjang lebar berdebat, sebenarnya sudah ada, ada kaitannya di patok oleh Pak Bambang 16 Agustus. Nah, kita tinggal, nanti siapa yang berkepentingan disini, walaupun sudah berkepentingan, tapi beberapa bisa melihat ini, momen ini, bahwa tanggal 16 Agustus. Itu, terlalu panjang apa tidak untuk kita melakukan judicial review. Persoalan cuma disini sebenarnya. Kalau kita tadi diskusi panjang lebar itu akan, tinggal alasannya Pak Bambang 16 Agustus, tinggal Litigasi, 16 Agustus ini terlalu panjang. Ini begini ini kan persoalan-persoalan, ini masalah bagaimana kita melihat momen, kita menempatkan strategi itu dengan pas. Terima kasih. 53. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik saya rasa cukup ya. Saya serahkan ke Pak Laode lalu Pak Bambang terakhir ya. Silakan.

54. PEMBICARA : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Poin kuncinya Pak Bambang nanti.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang.

Salam sejahtera untuk kita semua. Om Swastyastu.

Saya kira ini, saya setuju dengan Pak Farouk, kita sedang tidak berdebat antar lembaga, tetapi antara kita sebetulnya. Dan kita jangan beranggapan bahwa kita sedang akan bertengkar terus seperti ini, karena kita menjalani tugas sesuai dengan mekanisme dan prosedur atau administrasi kelembagaan yang ada. Pak Bambang Ketua Kelompok, ketua kita sebetulnya, hanya mereka adalah Pak Bambang mencoba mengelolanya di dalam kepemimpinan Kelompok. Pak Wayan ditugaskan oleh paripurna, juga Pak Bambang sebetulnya oleh paripurna. Jadi dua-duanya tidak ada yang perlu diperdebatkan sebetulnya. Cuma kalau istilah momentum tadi ini juga perlu dikoreksi juga sebetulnya. Begini, kalau kita pakai manajemen waktu untuk kemudian kita ajukan, kita ajukan, oh kita tahan dulu, maka memang benar kata Pak Wayan, perlu ada skenario dulu bagaimana skenarionya sehingga sampai pada tanggal 16 Agustus itu. Kalau skenarionya pas maka kemudian kita yakin oke kita jalan, sampai kita tunggu sampai tanggal 16. Persoalanya, ini juga nanti berbahaya secara psikopolitik bagi kita semua ketika nanti tanggal 16 Agustus tidak jadi tandatangan pendukung amandemen, maka kemudian kita ajukan, lalu resikonya apa kita? Oh ini katanya, ini karena kalah tidak bisa di amandemen maka dia maju di MK judicial review. Jadi bahan perguncingan yang mungkin saja tidak mengenakan lagi bagi kita. Itu

(21)

juga perlu kita timbang. Jadi menurut saya memang judicial review itu meskipun bisa sedikit mengganggu secara politik sebagian teman-teman partai politik di DPR, tetapi sebetulnya wilayahnya sangat berbeda, karena kita ingin memastikan keraguan kita selama ini, yang ternyata keraguan sepertinya bahwa tafsir kita terhadap konstitusi yang terkait dengan tugas kita ternyata tidak dimaksimalkan, dilakukan oleh, karena pembatasan oleh undang-undang yang dibuat oleh DPR, akhirnya daerah yang kita wakili rugi. Kan begitu sebetulnya. Atau kita juga merasa dilecehkan atau tidak berharga atau tidak dihargai. Nah itu kan sebetulnya, kita merasakan itu. Ternyata tafsir teman-teman ahli mendukung bahwa ternyata kita memang dalam posisi yang dirugikan. Oleh karena itu istilah saya yang saya pernah lontarkan dan ini dikritik sebetulnya di dalam Panmus, saya bilang kita sekedar meminta fatwa MK itu seperti apa, tentang posisi kita dalam konstitusi. Apakah kita sudah benar sesuai dengan undang-undang itu ataukah memang perlu ada penguatan lagi oleh akan ditegaskan oleh MK pada saat itu. Sedangkan amandemen adalah tugas besar kita di bangsa ini untuk mencoba menata kelembagan ketatanegaraan kita sehingga pas, sehingga efektif nanti penyelenggaraan negara ini setelah amandemen. Kan dua hal. Tapi lagi-lagi ini kan untuk mencoba memastikan bahwa ketika kita mengajukan judicial review tidak akan ada yang tersinggung. Itu saya kira tadi senior kita Bu Juniwati sudah menyatakan memang itu barangkali soal itu saja, soal kepentingan saja di politik ini, mungkin tidak akan dimusuhi secara abadi kita kalau kita mengajukan sekarang di MK.

Tapi bahwa, sekali lagi, ini menurut saya terlalu banyak hal yang harus diabaikan ketika kita tetap menterlantarkan diri kita dalam posisi kita yang dikengkang oleh undang-undang sekarang ini. Oleh karena itu secepat-cepatnya kita perlu memperoleh fatwa atau keputusan dari MK. Teman-teman disana jangan langsung merasa bahwa kita akan gagal kelak di amandemen. Kan perjuangan kita bersama amandemen itu dari dulu sampai sekarang. Kita tidak tahu apakah tahun ini bisa terjadi atau tidak. Kita jangan spekulasi. Tapi bahwa kalau judicial review seperti yang dikatakan oleh Ketua tadi, mudah-mudahan jangan mundur Pak Wayan, saya sendiri sebetulnya bertarung untuk Pak Wayan tidak mundur jadi Ketua Tim Litigas. Jadi sebetulnya bahwa Tim Litigasi telah bekerja mengajukan judicial review. Pasti tiga minggu yang akan datang itu sudah ketahuan hasilnya. Saya kira itu. Dan kita prediksi bahwa hasilnya itu, apalagi ditambah dengan orang-orang penting dari Jimly Asshiddiqie barangkali, Yusril Ihza Mahendra, Pak Laica Marzuki dan sebagainya. Mungkin saja akan tetap menambah keyakinan kita bahwa sebetulnya tafsir yang kita buat dan ditopang oleh para ahli ini itu akan membawa manfaat bagi kita dengan meyakini, berusaha mengupayakan bahwa MK akan menyetujui usulan kita.

Saya kira itu saja. Saya kira menurut saya ini tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh. Dan menurut saya hari ini kita ambil keputusan bahwa putuskan nama-nama pengacaranya, kompromi waktunya, nanti kita selesaikan setelah di, apakah nanti kita, ya pertemu kecil saja. Dan setelah ada pertemuan itu tidak boleh ada pembicaraan lain lagi karena kita kompak di dalam. Kita tidak boleh ricuh kedalam sebetulnya karena itu akan menimbulkan peluang untuk diacak-acak terus oleh orang lain untuk dilecehkan. Terima kasih.

Wabilahitaufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang.

Salam sejahtera untuk kita semua. Om Shanty Shanty Shanty Om..

55. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik, terakhir Pak Bambang ya, nanti saya simpulkan. Silakan Pak Bambang Soeroso.

(22)

56. PEMBICARA : Dipl. Ing. H. BAMBANG SOEROSO (KETUA KELOMPOK DPD DI MPR)

Begini loh kawan-kawan yang saya muliakan. Yang pertama, dengan segala hormat, yang bekerja keras pada perjalanan dari kemarin-kemarin itu sampai sekarang itu adalah Bapak-bapak semua. Saya ini hanya sekedar men-ceo-kan, memenajemeni pengelolaan perjuangan tadi. Sehingga oleh karenanya jangan Bambang Soeroso diperhadapkan sama seorang Wayan Sudirta. Beliau itu adalah sahabat dan sekaligus saudara saya. Jadi, Pak Wayan dengan segala hormat yang pertama saya tidak menyetujui bahwa Bapak punya semangat yang akhirnya patah dengan mengundurkan diri. Jadi Bapak harus lebih tegar lagi untuk terus memimpin Litigasi itu untuk supaya ini bisa masuk barang itu.

Yang kedua, teman-teman. Kami sungguh-sungguh tidak ingin memperhadapkan persoalan muatan atau materi daripada materi amandemen, sekalipun maupun materi judicial review. Karena kami juga sudah memahami dalam seri dua kali sidang pleno khusus pimpinan Kelompok DPD di MPR telah memahami. Jadi persoalannya adalah seperti kata Pak Farouk tadi bukan persoalan di masalah materi.

Nah, kemudian berikutnya adalah tadi pertanyaan Pak Wayan ketika, 1600 jam menjelang 16 Agustus yang sudah kita jadikan ultimate target terhadap, ini juga perlu kami luruskan. Memasukan, saya ulangi, memasukan usul perubahan konstitusi kita dengan dukungan pengusul yang sudah memadai itu kita harapkan bisa sebelum tanggal 16 Agustus. Jadi jangan salah persepsi, kawan-kawan masih salah persepsi bahwa sidang paripurna MPR-nya itu, itu akan berlangsung pada bulan Agustus. Bukan Pak Irman. Jadi yang kami maksud adalah memasukan, mendeliver apa yang perjuangan Bapak-Ibu yang sudah mendapatkan dukungan usul yang memadai itu ke MPR, ke pimpinan MPR. Kemudian pimpinan MPR akan menindaklanjuti dalam waktu 30 hari akan melakukan agenda-agenda besarnya kedepan melalui sebuah proses politik. Dimana nanti disitu akan dibentuk Badan Pekerja MPR yang terdiri juga dari Bapak-bapak komponennya itu untuk melakukan kajian yang lebih mendalam lagi sambil menyiapkan rantus dan rantapnya terhadap usul perubahan itu, Bapak dan Ibu. Sehingga nanti pada akhirnya, nanti kalau kita sepakat di MPR oke lu Badan Pekerja, lu lakukan ini dalam waktu 6 bulan. Nah setelah 6 bulan Badan Pekerja akan melaporkan kepada sidang paripurna untuk diambil keputusannya. Jadi kalau 6 bulan setelah Agustus tambah 30 hari berarti kira-kira pada bulan Mei atau Juni tahun 2013 kita akan memutuskan perjuangan usul perubahan ini.

Pak Ketua, sekali lagi ingin saya tambahkan, bahwa Pak Wayan, kami bekerja dan kita semua bekerja ini dengan alas sebuah optimisme dan semangat yang luar biasa. Artinya bukan kami mendahului daripada Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan mengkehendaki perjalanan perjuangan ini sukses atau tidak. Tapi dari aroma chemistry dan kebatinan kita semuanya kita sungguh sangat mempunyai optimisme yang tinggi, Pak Wayan. Dan ini tercermin dari laporan tertulis yang kami sudah sampaikan kepada Bapak-Ibu sekalian. Rangkaian perjalanan pada etape kita melakukan penetrasi dengan pimpinan-pimpinan partai politik dan anggota fraksi parpol di MPR itu telah sekian lama dan sekian banyak kita lakukan. Yang ujungnya adalah, almost, saya ulangi, hampir kita semua bersepakat bahwa hanya 3 isu saja dari 10 isu strategis yang akan kita bopong bersama untuk kita ajukan, kita normakan kepada norma-norma pasal perubahannya itu dan pada saatnya sebelum Agustus itu akan kita tandatangani bersama.

Kemudian perkembangan yang terkini yang kami lakukan dengan Partai Golkar, Pak Ketua, ini juga sekalian laporan, karena kemarin kami tidak bisa langsung laporkan hal ini. Golkar yang jelas sudah sepakat dan itu sudah ditandatangani, 3 kesepahaman kita terhadap common platform-nya. Dan itu akan segera minggu depan akan kita normakan kedalam usul pasal perubahan dan akan dikembalikan kepada DPP dan fraksinya untuk di teken. Itu beliau

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan berat molekul dan pola fragmentasi dari pendekatan WILEY229.LIB, maka diduga senyawa puncak 14 identik dengan germakron yang strukturnya dapat dilihat

Oleh karena rimpang temu putih berpotensi sebagai obat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan kanker, dan memiliki kandungan utama minyak atsiri, maka perlu

Penelitian pemberian sel punca CD34 + darah tepi manusia secara subkutan pada kulit tikus jantan wistar yang dipajan sinar ultraviolet B dengan pengamatan jumlah

Bagi guru: dapat dijadikan sebagai bahan kajian literatur untuk melakukan penelitian mengenai nilai APTI pada Ficus lyrata Warb dan tembesi Samanea saman (Jacq) Merr

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-Exclusive

Metode analisis potensi kecelakaan yang digunakan adalah tool FTA dengan pendekatan top down yang dimulai dari top level event yang telah dianalisis berdasarkan

Dengan metode Formal Safety Assessment (FSA) akan didapatkan suatu analisa yang akurat dan mendalam mengenai risiko yang akan terjadi, biaya dalam pengendalian risiko

Disetiap proses pekerjaan konstruksi pada Proyek Pembangunan Jalan Lingkar Nagreg V Bandung dapat menimbulkan berbagai macam risiko baik dari metode pelaksanaan, alat, material