• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENCAHAYAAN DALAM RUANG TERTUTUP MENGGUNAKAN SOLAR ILLUMINATION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENCAHAYAAN DALAM RUANG TERTUTUP MENGGUNAKAN SOLAR ILLUMINATION"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENCAHAYAAN DALAM RUANG TERTUTUP

MENGGUNAKAN SOLAR ILLUMINATION

Isa Albanna; Suyatno, M.Si; Gatut Yudoyono, Drs., MT

Jurusan Fisika

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111

Email:

[email protected]

;

[email protected]

;

[email protected]

Abstrak

Telah dilakukan penelitian tentang perancangan pencahayaan alami dalam ruang tertutup dengan menggunakan solar illumination. Dalam solar illumination terdapat dua sistem, yaitu sistem optika geometri untuk pemanduan cahaya dan sistem solar tracker untuk optimalisasi pelacakan arah sumber cahaya. Mekanisme pemanduan cahaya adalah dengan mengumpulkan cahaya menjadi berkas titik oleh panel solar concentrator yang kemudian dipandu menggunakan fiber optik untuk didistribusikan ke ruangan. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data bahwa efisiensi sistem solar illumination adalah 12.00 % , sehingga dapat memberikan wacana tentang pemanfaatan energi matahari tidak terbatas hanya pada tinjauan termal dan listrik (solar cell). Energi matahari dapat dimanfaatkan dalam bidang pencahayaan yang sehat dan hemat energi pada ruang tertutup.

Kata kunci: cahaya, efisiensi, energi, solar illumination, solar tracker Abstract

A research on the design of natural lighting in indoor space using solar illumination. In solar illumination, integrated there are two systems, ie geometric optics system for guiding light and solar tracker system for optimizing the tracking light source direction. Mechanisms of guiding light is to collect by the beam of light into the solar concentrator panels, then light will guided using optical fiber to be distributed to the room. Based on this research, data showed that the efficiency of solar illumination system is 12.00%, so it can give a discourse on the utilization of solar energy is not limited to thermal and electric (solar cell). Solar energy can be utilized in the lighting a healthy and energy efficient in indoor space.

Keywords: Light, illumination, efficiency, energy, Solar Illumination, solar tracker

1. PENDAHULUAN

Ketersediaan energi di indonesia belum mampu mencukupi tingkat konsusmsi oleh masyarakat yang relatif besar, sehingga perlu dilakukan pencarian sumber energi baru dan melakukan efisiensi energi.[1] Salah satu langkah efisiensi energi adalah pengunaan genteng kaca untuk pencahayaan saat siang hari. Genteng kaca memiliki kekuranga, yaitu cahaya yang masuk pada genteng kaca tidak dapat dipandu hingga ke ruang yang jauh. Untuk menyempurnakan teknologi genteng kaca, muncul adanya gagasan tentang perancangan pencahayaan alami dengan sumber cahaya matahari. Gagasan ini merupakan wujud pengembangan dibidang fisika bangunan untuk penghematan energi dalam gedung.

Pada penelitian tugas akhir ini perancangan sistem pencahayan alami terangkai dalam Solar Illumination. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat bentuk perancangan solar

illumination yang didalamnya menimplementasikan dua

sistem, yaitu sistem solar tracker dan sistem instrumentasi optik (solar concentrator dan panel transmisi cahaya). Diharapkan dengan adanya perancangan pencahayaan alami mengunakan Solar Illumination dapat tercipta sistem

pencahayaan yang sehat dan hemat energi pada ruang tertutup.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Energi matahari mempunyai peranan penting dalam kehidupan dan pemenuhan energi berkelanjutan. Pemanfaatan energi surya dewasa ini sudah berkembang di berbagai bidang, seperti pada pemanfaatan energi listrik sel surya, pemanas kompor matahari, dan dalam bidang pencahayaan (iluminasi).[1]

Pemanfaatan energi matahari untuk pencahayaan merupakan langkah yang tepat untuk menciptakan pencahayaan ruang yang sehat danhemat energi. Matahari memancarkan beberapa spektrum radiasi, diantaranya adalah spektrum cahaya tampak (λ=380-770nm), spektrum Far Infra Red (FIR), dan beberapa spektrum lainya.[2]

2.1. Arsitektur Pencahayaan Alami

Pencahayaan alami merupakan kebutuhan yang penting dalam sebuah bangunan. Pencahayaan alami mampu memberikan efisiensi energi dalam gedung. Pengembangan bentuk arsitektur pencahayaan alami sudah dikembangkan sejak zaman manusia primitif, hingga berkembang sampai

(2)

sekarang. Hasil riset yang memadukan estetika arsitektur, efisiensi energi, dan pencahayaan (iluminasi) melahirkan beberapa inovasi baru, diantaranya adalah solar tube, jendela, dan piped sunlight .[3]

Gambar 1. Panel Solar Tube.

2.2. Dasar Pencahayaan

Luminansi adalah besaran yang ekivalen dengan satuan daya yaitu watt. Secara sepesifik luminansi merupakan ukuran kuat penerangan yang mampu dikeluarkan oleh sumber cahaya. 1 lm/m2 setara dengan 1 lux.[4]

Kuat penerangan adalah jumlah kuantitatif fluks cahaya yang menimpa atau sampai pada permukaan bidang. Besar kuat penerangan dapat dihitung dengan persamaan (2.1) 2

... (2.1)

I

E

d

=

Keterangan :

E = Kuat penerangan pada permukaan kerja (Lumen/m2) I = intensitas cahaya (Lumen)

d = jarak sumber cahaya ke permukaan kerja (m)

Kuat penerangan pada tiap titik dipengaruhi oleh jarak sumber ke bidang kerja. Hal tersebut dijelaskan dalam hukum

Inverse square, yang meyatakan bahwa kuat penerangan

berbanding terbalik dengan jarak sumber ke bidang kerja.[4]

a) b)

Gambar 2. a) Inverse square, b) Cosine Law

Berkas cahaya yang jatuh tidak selalu memiliki arah tegak lurus dengan bidang seperti pada Gambar 2 (b), sehingga untuk menghitung besar kuat penerangan pada bidang yang tersinari berlaku hukum kosinus yaitu

cos( )

E

θ

=

E

θ

... (2.2) E = Kuat penerangan pada permukaan kerja

θ

= Sudut antra sinar datang dengan garis normal bidang

2.3. Optika Geometri

Optika geometri adalah cabang ilmu pengetahuan tentang optik yang mempelajari sifat-sifat perambatan cahaya, seperti pemantulan dan pembiasan. Cahaya merupakan spektrum elektromagnetik. Jika cahaya tersebut mengenai medium, cahaya akan dipantulkan. Pada hukum Snellius (pemantulan) berlaku sudut datang (

θ

datang) sama dengan sudut pantul (

θ

pantul) dan terletak dalam satu bidang.

Gambar 3. Bentuk pemantulan cahaya.

Pada Gambar 3, merupakan bentuk pemantulan dalam cermin datar. Kondisi tersebut akanberbeda jika bentuk cermin adalah sferis (cekung atau cembung), berkas cahaya pada cerminsferis akan cenderung menuju atau menjauhi titik pusat. Seperti ilustrasi pada Gambar 4. [5]

Gambar 4. Bentuk pemantulan cahaya pada cermin cembung.

Prinsip optika gemetri juga berlaku pada pemanduan cahaya dala fiber optik. Fiber optik merukapakan serabut kaca yang terdir dari inti (core) dan cladding. Cahaya merambat dalam fiber optik melaui core dengan metode pemantulan.[6] 2.4. Sistem Elektronika dan Kontrol

Kontrol merupakan proses yang membutuhkan adanya sensor, unit kontrol, dan aktuator. Sensor berfungsi untuk mendeteksi sinyal-sinyal yang berasal dari perubahan besaran fisis. Nilai yang telah dibaca sensor nantinya akan diolah dalam unit kontrol untuk ditransmisikan menuju aktuator.[7]

2.5. Solar Tracker

Solar tracker atau lazim disebut penjejak matahari

merupakan unit divisi robot yang digunakan untuk mengikuti arah jejak matahari.[8]

Gambar 5. Morfologi Solar Tracker.

3. METODOLOGI PERANCANGAN

Secara umum bentuk alur metodologi perancangan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah seperti pada Gambar 6, yaitu gambar bagan skematik kerja.

(3)

Perancangan yang telah dilakukan dalam penelitian tugas akhir ini adalah perancangan sistem solar ilumination. Sistem ini terdiri dari elektronika (solar tracker ) dan sistem instrumentasi optik (solar concentrator dan panel transmisi).

Solar tracker yang telah dirancang memiliki kemampuan

untuk mengikuti arah berkas sumber cahaya agar cahaya yang mengenai solar concentrator dapat optimum. Pada Gambar 7 (a) merupakan morfologi solar tracker yang telah dirancang dalam penelitian ini. Sensor yang digunakan untuk proses kontrol dalam solar tracker adalah sensor LDR. Pemasangan sensor LDR seperti pada Gambar 7(b). Proses kontrol gerakan dalam proses tracking dibantu dengan mikrokontrol AVR.

(a) (b)

Gambar 7. a) Solar Tracker, b) Peletakan sensor LDR Sistem instrumentasi optik yang telah dirancang terdiri dari bentuk panel solar concentrator dan panel transmisi cahaya berupa fiber optik (jenis bundle). panel solar

concentrator merupakan panel berbentuk cermin cekung

dengan fokus tertentu. Pada Gambar 8 merupakan bentuk panel solar concentrator dan panel transmisi fiber optik.

Gambar 8. panel solar concentrator dan transmisi fiber optik. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini pembahasan difokuskan dalam beberapa point utama, yaitu seperti pada Gambar 9.

Gambar 9. Point fokus bahasan

4.1. Solar Illumination Untuk Pencahayan Ruang Tertutup

Solar illumination merupakan sistem yang

digunakan untuk pencahayaan ruang tertutup. Tinjauan ruang tertutup dalam penelitian tugas akhir ini adalah ruang yang tidak dimungkinkan cahaya matahari bisa masuk secara langsung. Prinsip kerja secara umum dari solar illumination ini adalah berkas cahaya dari luar dikumpulkan dan ditransmisikan mengunakan media tertentu dengan teknik pemanduan cahaya hingga sampai ruang yang diinginkan.

Dalam penelitian ini kegunaan solar tracker adalah untuk mengatur keterarahan sudut panel solar concentrator dan menjaga agar panel tersebut tetap menghadap tegak lurus dengan sumber cahaya. Berkas cahaya sejajar yang mengenai solar concentrator akan dikumpulkan pada titik fokus. Hasil penfokusan cahaya tersebut nantinya akan ditransmisikan mengunakan fiber optik hingga ke dalam ruangan.

Gambar 10. Ilustrasi berkas cahaya pada solar illumination.

4.2. Kalibrasi Sensor LDR

Pada penelitian tugas akhir ini, solar tracker dikontrol mengunakan sensor cahaya (LDR). Sebelum digunakan untuk membaca kuat penerangan, LDR perlu dikalibrasi terlebih dahulu dengan mengunakan lux meter standart (LX-1108). Hal tersebut dilakukan karena sifat pada setiap LDR tidak sama. Proses kalibrasi yang dilakukan adalah dengan mencari fungsi alih untuk mengubah dari tegangan ke dalam satuan lux. Pada Gambar 11, merupakan fungsi alih yang didapat dari hasil kalibrasi.

Gambar 11. Grafik hasil kalibrasi sensor LDR.

Dari Gambar 11. terlihat bahwa hasil karakterisasi sensor LDR menggunakan luxmeter LX-1108 menunjukkan persamaan polinomial orde empat :

Titik-3

Titik-1

Titik-2

Fiber Optik

(4)

y = 25.84x4 +13.96 x3 -25.15x2 + 181.1x +1.120 Keterangan :

y = Iluminasi

x = keluaran nilai tegangan

4.3. Mekanisme dan Algoritma Solar Tracking

Solar tracker merupakan bentuk spesifikasi dari jenis

robot penjejak (tracker robot).yaitu robot yang mampu melacak atau mengikuti lintasan (path). Bentuk spesifikasi robot tracker yang digunakan untuk mengikuti gerakan matahari disebut solar tracker. Pada penelitian ini proses kontrol dari solar tracker mengunakan sensor LDR, mikrokontrol, dan aktuator berupa motor stepper. Dalam alogritma solar tracker, nilai hasil pengindraan sensor LDR dipakai sebagai referensi arah gerakan motor untuk mengikuti intensitas cahaya yang paling terang seperti pada gambar 9.

Gambar 9. Gerakan solar tracker .

Hasil pengujian solar tracker dapat digambarkan pada Gambar 10. Pada grafik tersebut terlihat solar tracker yang dirancang masih memiliki error.

Gambar 10. Grafik akurasi solar tracker .

4.4. Efisiensi Sistem Instrumentasi Optik

Sistem instrumentasi optik dalam solar illumination merupakan sistem yang memegang peran penting dalam pentransmisian cahaya. Pada sistem tersebut terdiri dari solar

concentrator dan fiber optik sebagai media transmisi cahaya.

Perhitungan efisiensi sistem instrumentasi optik dalam solar

illumination dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

• Mengukur gain pada solar concentrator.

• Mengukur efisiensi transmisi cahaya pada solar

illumination.

Pengukuran gain dilakukan dengan cara membandingkan nilai kuat penerangan pada titik 2 dan titik 1 pada Gambar 10, secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :

_

_

2

... (1)

_

_

1

Kuat

penerangan titik

Gain

Kuat

penerangan titik

=

Tabel 1. Gain Solar Concentrator Pengukuran Kuat Penerangan (Lux)

ke- Titik 1 Titik 2 Gain 1 188.59 786.45 4.17 2 185.86 786.45 4.23 3 196.99 808.16 4.10 4 199.85 797.24 3.99 5 196.99 775.81 3.94 6 191.36 754.94 3.95 7 188.59 765.31 4.06 8 185.86 775.81 4.17 9 194.16 786.45 4.05 10 196.99 786.45 3.99 Average Gain 4.07

Dari hasil pengukuran kuat penerangan pada setiap titik terebut, didapat gain sekitar 4 kali dari sumber cahaya asal.

Pengukuran Efisiensi pada solar illumination dilakukan dengan cara pengukuran kuat penerangan pad titik 1 dan titik 3. Hasil pengukuran tersebut nantinya akan digunakanuntuk perhitungan efisiensi cahaya yang mampu ditransmisikan oleh sistem tersebut. Perhitungan efisiensi mengunakan persamaan di bawah ini (persamaan 2).

_ _

% _ 1 *100%

_

cahaya masuk cahaya keluar efisiensi cahaya masuk ⎛ − ⎞ = − ⎝ ⎠ .. (2) Dari hasil pengukuran didapat data sebagai berikut: Tabel 2. Data Efisiensi Transmisi Cahaya

Sudut (derajat)

(Kuat penerangan sumber cahaya di titik-1 = 251.5 lux ) Transmisi cahaya pada pengujian ke-

I Efisiensi II Efisiensi III Efisiensi IV Efisiensi V Efisiensi Lampu (lux) (%) (lux) (%) (lux) (%) (lux) (%) (lux) (%)

0 25.7 11.9 25.7 11.9 25.6 11.9 26.5 12.3 27.3 12.7 10 25.4 11.8 25.5 11.8 27.6 12.8 27.5 12.8 27.1 12.6 20 23.0 10.7 25.4 11.8 25.6 11.9 25.6 11.9 25.3 11.7 30 25.6 11.9 25.6 11.9 27.5 12.8 27.6 12.8 26.3 12.2 40 28.3 13.1 25.7 11.9 25.0 11.6 26.7 12.4 26.4 12.3 50 27.4 12.7 27.7 12.9 24.0 11.1 27.3 12.7 27.8 12.9 60 25.3 11.7 28.5 13.2 28.1 13.0 27.5 12.8 28.0 13.0 70 24.6 11.4 25.6 11.9 29.2 13.5 26.5 12.3 26.0 12.1 80 25.2 11.7 26.6 12.3 27.1 12.6 25.5 11.8 27.1 12.6 90 26.7 12.4 25.0 11.6 29.0 13.5 25.6 11.9 28.0 13.0 100 28.9 13.4 27.3 12.7 25.3 11.7 27.0 12.5 26.8 12.4 110 26.5 12.3 28.1 13.0 26.2 12.2 28.3 13.1 27.8 12.9 120 27.3 12.7 27.4 12.7 27.3 12.7 29.1 13.5 25.3 11.7 130 29.5 13.7 26.5 12.3 28.4 13.2 27.3 12.7 26.7 12.4 140 22.4 10.4 27.5 12.8 27.1 12.6 26.5 12.3 26.0 12.1 150 27.2 12.6 25.4 11.8 28.0 13.0 28.7 13.3 27.2 12.6 160 25.2 11.7 25.6 11.9 26.0 12.1 27.1 12.6 25.3 11.7 170 24.3 11.3 26.3 12.2 26.3 12.2 27.3 12.7 27.5 12.8 180 25.4 11.8 27.5 12.8 25.1 11.6 26.3 12.2 26.3 12.2 Rata-Rata efisiensi 12.1 12.3 12.4 12.6 12.4

Dari hasil perhitungan didapat rata-rata efisiensi adalah sekitar 12 %.

(5)

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa

1. Untuk membantu meghadirkan pencahayaan alami pada ruang tertutup dapat mengunakan teknologi solar

illumination yang merupakan gabungan dari sistem solar tracker dan sistem instrumentasi optik (solar concentrator dan panel transmisi cahaya).

2. Kemampuan solar tracking dalam mengikuti arah berkas sumber cahaya akan berkontribusi pada optimalisasi jumlah berkas cahaya yang diterima oleh panel solar concentrator.

3. Cahaya yang terfokus mampu ditransmisikan ke dalam ruang gelap mengunakan fiber optik.

4. Panel solar concentrator mampu mengumpulkan dan menguatkan berkas cahaya pada titik fokus hingga 4 kali dari kuat penerangan cahaya asal.

5. Teknologi solar illumination yang telah dirancang memiliki efisiensi sekitar 12.00 % yang terukur dari perbandingan cahaya yang masuk dan keluar dari sistem.

6. DAFTAR PUSTAKA

[1]. Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia. 2006. “ INDONESIA 2005 - 2025

BUKU PUTIH Penelitian Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi” .

Jakarta

[2]. Yahya. Harun. 1999. Rancangan pada Cahaya

dan Desain dalam Warna.

http://www.harunyahya.com/indo/index.php

[3]. Phillip, Derek. 2000.”Lighting Modern Building”. Architectural Press. Oxford.

[4]. Ryer, Alex. 1998. “Light Measurement Handbook”. International Light Inc.

[5]. Halliday, Resnick .1993. “Fundamentals of

Physics ”, John Wiley & Sons, Inc.Halliday.

[6] . _____,2005. Fiber Optik

http://www.Wikipedia.com./fiberoptic

[7]. Eko putro, Agfianto. 2003. “Belajar

Mikrokontroler”. Yogyakarta : Penerbit Gava

Media.

[8]. Budiharto, Widodo. 2008. “10 proyek robot

Spektakuler”. Jakarta : Elex Media Komputindo

Gambar

Gambar 1. Panel Solar Tube.
Gambar 7. a) Solar Tracker, b) Peletakan sensor LDR  Sistem instrumentasi optik yang telah dirancang  terdiri dari bentuk panel solar concentrator dan panel  transmisi cahaya berupa fiber optik (jenis bundle)
Gambar 9. Gerakan solar tracker .

Referensi

Dokumen terkait

Konfigurasi ini merupakan tahap untuk proses commissioning yang dilakukan untuk mengirimkan parameter-parameter yang terdapat pada terminal station ke base station

Total skor kesukaan terhadap kecap dari Mutiara 2 sedikit lebih rendah daripada Mutiara 3, namun unggul dari aspek kadar protein biji dan kecap yang dihasilkan,

Untuk itu, perlu dibuat alat penggorengan vakum (vacuum frying) agar buah-buahan dapat dimanfaatkan menjadi produk yang mempunyai nilai jual tinggi dan masa simpan yang lebih

Hal tersebut dikarenakan model pembelajaran sinektik lebih menekankan terhadap pengembang- an kreativitas siswa, dan pembelajaran tari yang diberikan kepada siswa yakni meng-

Permasalahan utama sebagaimana disebutkan pada bagian 1 penelitian ini adalah keterbatasan sumber pembiayaan operasi dan pemeliharaan (OP) jalan di Kota Semarang, yang

Salah satu upaya untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas sapi potong adalah dengan menggunakan bibit sapi potong yang berkualitas, karena hal ini merupakan salah

antara bullying di tempat kerja dengan kesejahteraan psikologis pekerja.

Warna minyak kelapa yang dihasilkan dari perlakuan penambahan enzim bromelin baik sebelum dan setelah pemurnian pada penelitian ini lebih kuning dibandingkan dengan warna