BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Anak tunagrahita merupakan salah satu jenis anak berkesulitan yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan atau mengalami penyimpangan dari normal. Anak tunagrahita ringan memiliki tingkat kecerdasan 50/55 sampai 70/75,pada umumnya anak tunagrahita ringan masih dapat bekerja dimasyarakat bebas, keadaan fisiknya tidak terlalu berbeda dengan anak normal, dapat membina dirinya dengan baik. Mereka dapat bekerja pada bidang pekerjaan yang tidak banyak memerlukan pemikiran. Kondisi otot dan persendiannya tampak normal, akan tetapi terdapat keterlambatan kematangan motorik, posturnya kelihatan tidak tegas, sehingga sikapnya tidak dinamis. Mereka tidak dapat mengatur tenaganya, sehingga cenderung bergerak tidak terarah atau asal-asalan. Hal ini disebabkan kurang matangnya berpikir. Melihat kondisi anak tunagrahita ringan di atas, bila anak dimasukkan ke sekolah umum maka prestasi belajarnya sangat rendah, untuk itu sebaiknya anak tersebut dimasukkan ke Sekolah Luar Biasa bagian C (bagian tunagrahita ringan). Adanya pendidikan yang baik yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan mereka, menjadikan kemampuan dan kondisi mereka dapat ditingkatkan dan mereka dapat bekerja dalam lapangan pekerjaan yang sederhana.
Anak tunagrahita ringan sebagaimana anak-anak pada umumnya, yaitu sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individu
mereka membutuhkan pelayanan pendidikan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal serta menuntut terpenuhinya kebutuhan dalam mempertahankan kehidupannya. Usaha agar dapat memenuhi kebutuhannya, seorang individu harus memiliki keterampilan tertentu yang dapat dipakai sebagai sumber penghasilan supaya mereka tidak terlalu menggantungkan kehidupannya pada orang lain. Selain itu sebagai makhluk sosial dia memerlukan adanya interaksi dengan sesamanya atau berhubungan dengan lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat, serta sosial budaya supaya mereka tidak terlalu menggantungkan kehidupannya pada orang lain.
Pendidikan merupakan tempat mengembangkan aspek penting dan terpadu, yaitu aspek logika, estetika, dan etika. Aspek logika adalah perkembangan daya nalar dan pikiran. Aspek estetika adalah pengembangan dunia seni dan keindahan. Aspek etika adalah berkaitan dengan tingkah laku, kesopanan dan agama. Potensi anak tunagrahita ringan dibidang keterampilan beraneka ragam. Berdasarkan hasil observasi dilapangan banyak dijumpai anak tunagrahita ringan memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda dalam keterampilan tangan, yaitu diantaranya keterampilan pertukangan, keterampilan menjahit, keterampilan menyulam/membordir, keterampilan keramik, keterampilan merajut, dan keterampilan mencetak konblok. Bimbingan keterampilan merupakan suatu usaha pemberian bantuan kepada individu untuk mengembangkan dirinya berupa keterampilan untuk mempersiapkan diri agar dapat bekerja besuk dikemudian hari, artinya seorang tamatan Sekolah Luar Biasa C (bagian tunagrahita ringan)
berbekal keterampilan yang diperoleh dan dikembangkan selama belajar disekolah, kiranya sudah membekali anak didik sebagai sarana mencari nafkah sendiri dalam menjalankan kehidupannya, yang menjadi permasalahan dalam melaksanakan pembelajaran keterampilan adalah sulitnya menemukan potensi secara pasti yang dimiliki masing-masing anak tuna grahita ringan, karena setiap anak tunagrahia ringan memiliki potensi keterampilan yang berbeda-beda.
Pembelajaran keterampilan mencetak konblok bagi anak tunagrahita ringan di Sekolah Luar Biasa C harus memperhatikan karakteristik anak antara lain yaitu miskin perbendaharaan bahasa, kurang kreatif, kurang inisiatif, kurang mampu memusatkan perhatian, cepat lupa, memerlukan tempo belajar yang lama,
kurang mampu mengikuti petunjuk dan miskin pengalaman. Selain
memperhatikan karakteristik yang merupakan faktor internal, tersedianya fasilitas yang memadai dalam bimbingan keterampilan juga menunjang keberhasilan anak. Karakteristik yang dimiliki setiap anak tunagrahita ringan berbeda, sehingga dalam pemberian pembelajaran mencetak konblokpun bobot materinya juga berbeda-beda pula. Hal ini berpengaruh pada kemampuan yang dimiliki anak didik dalam keterampilan mencetak konblok. Kecerdasan anak sangat terbatas, maka dalam kegiatan pemberian keterampilan mencetak konblok. kecerdasan setiap anak didik perlu dilayani secara perorangan (individu), sehingga mereka memperoleh perhatian sepenuhnya dan setiap kesalahan segera dapat diketahui dan diperbaiki.
Keberhasilan pembelajaran keterampilan mencetak konblok di Sekolah Luar Biasa C PGRI Minggir dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal.
Faktor Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak, baik fisik maupun psikis. Faktor internal ini meliputi keadaan kesehatan anak, keadaan kejiwaan anak, dan lain sebagainya.
Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak, yaitu antara lain faktor keluarga, lingkungan sekolah serta lingkungan masyarakat dimana anak tinggal. Dalam lingkungan keluarga, adanya perhatian keluarga dalam memberikan dukungan tanggung jawab pada anak maka,anak akan lebih cepat menguasai keterampilan mencetak konblok daripada anak tunagrahita ringan yang tidak mendapat pendidikan keterampilan dirumah. Lingkungan sekolah juga dapat berpengaruh terhadap penguasaan keterampilan mencetak konblok pada anak tunagrahita ringan. Lingkungan sekolah ini meliputi, kualitas pelajaran didalam kelas, setiap teman-teman disekolahnya, fasilitasnya yang tersedia dalam pembelajaran keterampilan mencetak konblok dan sebagainya. Lingkungan masyarakat yang meliputi penerimaan hasil karya anak tunagrahita ringan dan penerimaan tenaga kerja lulusan Sekolah Luar Biasa C dan sebagainya dapat menunjang keberhasilan keterampilan mencetak konblok bagi anak tunagrahita ringan.
Penguasaan keterampilan mencetak konblok bagi anak tunagrahita ringan membutuhkan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan anak normal
mengingat anak tunagrahita abstraksinya terbatas, maka dalam bidang keterampilan ini yang penting bukan aspek pengetahuan melainkan aspek keterampilan dan sikap. Untuk mengetahui gambaran seberapa besar kemampuan anak dalam keterampilan mencetak konblok bagi anak tunagrahita ringan di Sekolah Luar Biasa PGRI Minggir, maka hal-hal tersebut perlu diteliti agar dapat diketahui secara jelas tentang pelaksanaan pembelajaran keterampilan mencetak konblok bagi anak tunagrahita ringan di Sekolah Luar Biasa C PGRI Minggir Sleman, disamping itu dengan adanya keterampilan mencetak konblok diharapkan anak nantinya mendapat bekal vokasional yang memiliki prospektif yang baik dan dapat memenuhi tuntutan konsumen.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka timbul berbagai masalah yang dapat di identifikasikan sebagai berikut :
1. Anak tunagrahita ringan mengalami kekurangan dalam koordinasi motorik, serta kurang mampu mengikuti petunjuk, miskin pengalaman, sehingga pembelajaran menjadi lamban dan hasilnya kurang rapi. Dimungkinkan dengan adanya pendidikan yang baik yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan mereka, menjadikan kemampuan dan kondisi mereka dapat ditingkatkan.
2. Anak tunagrahita ringan lulusan sekolah luar biasa banyak yang belum memiliki keterampilan tertentu yang dapat dipakai sebagai sumber penghasilan supaya mereka tidak terlalu menggantungkan kehidupannya pada orang lain. Anak tunagrahita ringan belum memiliki keterampilan tertentu yang dapat
dipakai sebagai sumber penghasilan supaya mereka tidak terlalu menggantungkan kehidupannya pada orang lain.
3. Anak tunagrahita ringan memiliki potensi yang berbeda-beda sehingga kesulitan dalam menentukan potensi secara pasti yang dimiliki masing-masing anak tuna grahita ringan.
4. Anak tunagrahita ringan miskin perbendaharaan bahasa, kurang kreatif, kurang inisiatif, kurang mampu memusatkan perhatian, cepat lupa, memerlukan tempo belajar yang lama, kurang mampu mengikuti petunjuk dan miskin pengalaman. 5. Tingkat kecerdasan anak tunagrahita yang sangat terbatas dan tidak sama serta
membutuhkan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan anak normal, diduga pembelajaran keterampilan mencetak konblok bagi anak tunagrahita ringan belum dapat terlaksana secara optimal, sehingga perlu penelitian.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan untuk mengarahkan penelitian serta memperjelas ruang lingkup masalah,maka penelitian ini dibatasi pada “Pelaksanaan Pembelajaran Keterampilan Mencetak Konblok” pada anak tunagrahita ringan kelas XI SMALB di Sekolah Luar Biasa PGRI Minggir, yang diduga belum optimal dengan adanya indikasi bahwa hasil konblok kurang rapi, mudah pecah, dan banyak yang retak.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah peneliti kemukakan di atas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran keterampilan mencetak konblok bagi anak tunagrahita ringan di Sekolah Luar Biasa PGRI Minggir, Sleman ? 2. Kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami oleh guru dan kesulitan-kesulitan
yang dihadapi siswa dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan mencetak konblok?
3. Usaha apa saja yang telah dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mendiskripsikan proses pembelajaran keterampilan mencetak konblok
bagi anak tunagrahita ringan Kelas XI SMALB di Sekolah Luar Biasa C PGRI Minggir.
2. Untuk mendeskripsikan kesulitan yang dihadapi siswa dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan mencetak konblok bagi anak tunagrahita ringan Kelas XI SMALB di Sekolah Luar Biasa PGRI Minggir.
3. Untuk mendeskripsikan usaha-usaha yang dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran keterampilan mencetak konblok bagi anak tunagrahita ringan Kelas XI SMALB di Sekolah Luar Biasa PGRI Minggir.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah : 1. Praktis
Hasil penelitian ini dapat digunakan kepala sekolah sebagai dasar pembuatan kebijakan dalam pelaksanaan pembelajaran keterampilan mencetak konblok. 2. Teoritis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang pengembangan motorik kasar.
3. Bagi Orang Tua
Hasil penelitian ini dapat berguna dalam membangkitkan kesadaran orang tua agar ikut bertanggung jawab terhadap peningkatan keterampilan, sehingga anak mandiri di masa depan.
G. Batasan Istilah
1. Pembelajaran keterampilan mencetak konblok adalah pemberian kemampuan pada anak didik berupa kecakapan membuat konblok sesuai dengan motif cetakan dengan menggunakan bahan campuran pasir dan semen.
2. Anak tunagrahita ringan adalah anak yang memiliki IQ 50/55-70/75 yang masih memiliki potensi bekerja yang dapat dikembangkan melalui program pendidikan khusus.