BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mafia (Mafioso)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian mafia adalah perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan (kriminal). Mafia pertama kali dikenal dengan sebutan Cosa Nostra. Ini adalah persaudaraan pidana yang muncul pada pertengahan abad ke-19 di Sisilia. Mafia juga dikenal sebagai organisasi yang terstruktur dan memiliki kode etik. Ini dikenal sebagai "keluarga", "asosiasi", "klan" atau "cosca", klaim kedaulatan atas wilayah di mana ia beroperasi.
Mafia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis sindikat kejahatan terorganisir yang utamanya melakukan tindak kriminal pemerasan, penggunaan intimidasi dengan kekerasan untuk memanipulasi kegiatan ekonomi lokal, terutama perdagangan gelap.
rakyat Vicaria), yang menceritakan tentang kehidupan pada gang penjahat di penjara Palermo.
Sekalipun tidak jelas siapa yang mendirikannya, namun pendirian organisasi ini mula-mula berdasarkan ikatan persaudaraan diantara sesama warga keturunan pulau Sisilia. Dalam perjalanan sejarah, kelompok yang semula kecil menjadi besar dan membutuhkan dukungan keuangan yang lebih banyak sehingga misi pendirian organisasi mulai bergeser menjadi mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan tidak mengindahkan tata aturan masyarakat yang lain.
Yang mengherankan para anggotanya merasa tidak melakukan tindakan kriminal sebab di mata mereka, apa yang dilakukannya adalah sekedar memberikan proteksi atau perlindungan terhadap kelompok lain yang mengalami tekanan atau pemerasan. Sehingga pelaku merasa bangga dan terhormat dapat “menolong” seseorang dari kesusahan. Sejak itulah kata Mafiusu berubah arti menjadi orang atau organisasi “terhormat.”
kejam terhadap musuh-musuhnya yang kelak akan merepotkan pemerintah Amerika, Al Capone.
Mafia mulai berkembang di Amerika Serikat pada abad ke-20 melalui jalur imigrasi. Puncaknya terjadi sampai pertengahan abad ke-20. Dimana, berbuntut penyelidikan yang dilakukan FBI di tahun 1970-an dan 1980-an. Ini sempat mengurangi pengaruh mereka di Amerika Serikat. Meski demikian, mafia dan rekam jejaknya menjadi budaya populer di Amreika Serikat. Bahkan, sudah banyak fim yang menceritakan tentang mafia. Istilah “Mafia” telah melebar hingga merujuk pada kelompok besar yang melakukan kejahatan terorganisir. Pelebaran istilah ini sampai hingga ke beberapa negara seperti, Mafia Rusia, Yakuza di Jepang, dan Triad di China.
Tak hanya dalam skala negara, mafia pun sudah menjamur hingga ke akar rumput. Sebagian masyarakat membuat kelompok-kelompok tak resmi dan mewarisi sifat – sifat mafia. Bahkan kelompok-kelompok ini bisa mengatur sebuah komunitas. Pada kasus pedagang buku bekas di Lapangan Merdeka juga mengadopsi sistem mafia di dalamnya. Betapa tidak, beberapa diantara pedagang membangun usaha penggandaan buku untuk meraup keuntungan. Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian latar belakang, pedagang yang awalnya hanya menjual buku bekas, sudah menyimpang dari sebutan sebagai penjual buku bekas. Hamir keseluruhan mereka menjual buku baru mulai dari kelas yang original hingga ke kelas KW hasil gandaan para mafia buku.
keuntungan. Hanya beberapa orang saja yang bisa menggandakan buku dengan modal cukup besar yang dibutuhkan. Bisnis ini juga terbilang tertutup, hanya diketahui oleh kelompok pedagang buku. Mafia Buku yang ada di pedagang cukup menentukan nasib mereka. Pasalnya, mereka membutuhkan pasokan buku dari distributor buku yang biasa disebut “toke”.
2.2 Negara Gagal (Failed State)
Secara filosofis istilah negara gagal memiliki banyak makna. Beberapa pendapat mengenai definisi negara gagal, antara lain pendapat dari Ulrich Schnechener yang menyebutkan negara gagal adalah negara yang tidak mampu dalam menjalankan atau memberikan tiga fungsi dasar negara, yaitu: keamanan, kesejahteraan, dan legitimasi atau penegakan hukum (Schnechener,2006). Senada dengan Ulrich Schnechener, Robert I. Rotbergmendefinisikan negara gagal adalah negara yang tidak dapat lagi menjalankan fungsi-fungsi dasarnya (pendidikan, keamanan dan pemerintahan) yang biasanya dikarenakan kekerasan, kemiskinan yang ekstrim, dan vakumnya kekuasaan. Sedangkan Noam Chomsky menuturkan negara gagal adalah negara yang tidak mampu melindungi warga negaranya dari tindak kekerasan, tidak terjaminnya hak warga negara, lemahnya institusi demokrasi dan lembaga penegak hukum serta maraknya penyalahgunaan kekerasan.
pemerintahannya terhadap rakyatnya. International Committee of the Red Cross melihat negara gagal merupakan negara dimana secara institusi dan hukum serta ketertiban, baik keseluruhan maupun sebagian, runtuh (collapsed) dibawah tekanan, terintegrasi atau pun berada ditengah-tengah konflik kekerasan (Thurer : 1999).
Failed states dapat diakibatkan oleh beberapa fenomena antara lain karena
runtuhnya pemerintahan yang ada. Negara yang dalam keadaan seperti ini dapat dilihat dari struktur-struktur serta aparatur negara yang antara lain seperti polisi, kehakiman, tentara dan badan-badan lain yang bertugas untuk menegakkan hukum dan menjaga ketertiban sudah tidak ada atau tidak dapat beroperasi seperti seharusnya.
Meski masih terjadi perdebatan di antara para ahli tentang definisi negara gagal (failed states), namun menurut Noam Chomsky (2006) dalam Failed States: The Abuse of Power and the Assault on Democracy, setidaknya ada dua karakter utama atau dua kategori yang membuat negara tertentu dapat disebut sebagai negara gagal. Pertama, negara yang tidak memiliki kemauan atau kemampuan melindungi warga negara dari berbagai bentuk kekerasan, dan bahkan kehancuran. Negara tersebut tidak dapat menjamin hakhak warga negaranya, baik di tanah air sendiri maupun di luar negeri, dan tidak pula mampu menegakkan serta mempertahankan berfungsinya institusiinstitusi demokrasi.
Negaranegara seperti ini tidak harus lemah dalam menegakkan institusi demokrasi, bahkan boleh jadi sangat kuat secara militer, dan karena itu sering bersikap agresif, sewenangwenang, tiranik atau totalitarian. Menurut Chomsky, negaranegara seperti ini semestinyalah juga termasuk ke dalam kategori negara gagal, setidaknya menurut norma dan ukuran hukum internasional moderen dewasa ini.
Afghanistan dan Irak nampaknya sedang berjalan menuju negara gagal, karena keduanya seakan tak berdaya mencegah terjadinya kekerasan dan penghancuran anak manusia serta peradabannya di tengah kehadiran pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Tapi, sebelum kehadiran AS dan sekutunya pun, di kedua negara ini memang telah sering terjadi tragedi pemusnahan nyawa manusia. Ironisnya, para aktor penyulut tragedi tersebut justru para pemimpin mereka sendiri – sesama sebangsa dan senegara.
Outlaw states, menurut filsuf politik dan moral terkemuka AS di abad
ke20, John Rawls, adalah negaranegara yang menolak mematuhi law of peoples yang mencakup juga komitmen untuk mengikuti perjanjian dan kesepakatan internasional. Outlaw states juga adalah negara yang dalam praktiknya menolak semua pihak berada dalam posisi yang setara, di samping juga menolak prinsip penggunaan kekuatan selain untuk membela diri dan menghormati hakhak asasi manusia (HAM).
Negara gagal adalah dan tanggung jawab dasar suatu pemerintahan umum tentang definisi negara gagal. Definisi negara gagal menurut berikut:
• Kehilangan kontrol atas wilayahnya sendiri, atau
• Tergerusnya kewenangan yang sah dalam pembuatan keputusan bersama
• Tidak mampu menyediakan layanan publik
• Tidak mampu berinteraksi dengan negara lain sebagai anggota pe
yang meluas, adanya pengungsi atau perpindahan penduduk tak terkendali, dan memburuknya ekonomi secara tajam. Seberapa besarnya kendali pemerintah yang dibutuhkan agar tidak dicap sebagai negara gagal masih beragam di kalangan peneliti. Selain itu, penetapan negara "gagal" masih dianggap kontroversial dan jika dibuat secara sengaja, akan ada konsekuensi
Dari beberapa definisi ini dapat dilihat bahwa sebuah negara dapat dikatakan gagal berdasarkan tiga variabel, yaitu kedaulatannya (sovereignty) dimana negara tersebut kehilangan atau tidak lagi memiliki kedaulatan atas negaranya, berdasarkan tingkat kemakmurannya atau pembangunan ekonominya (development) dimana negara tersebut memiliki tingkat pembangunan atau pertumbuhan yang relatif sangat rendah atau bahkan tidak berkembang atau tumbuh sama sekali, dan juga berdasarkan keamanannya (security) dimana negara tersebut sudah tidak mampu lagi memberikan keamanan kepada warga negaranya.
Jadi secara ideal berdasarkan teori failed states bahwa negara yang tidak memiliki kedaulatan, tingkat pertumbuhannya sangat rendah atau tidak memiliki pertumbuhan ekonomi, dan negara tersebut tidak aman atau tidak dapat memberikan keamanan kepada warga negaranya maka negara tersebut dapat dikategorikan sebagai negara yang gagal (not-sovereign state + under-development + unsecure = failed states). Hal tersebut juga merupakan
2.3 Ekonomi Bawah Tanah (Underground Economy)
Dalam negara berkembang aktifitas ekonomi dikelompokkan dalam 2 kelompok, Recorded Economy dan Unrecorded Hidden Economy. Dari judul penelitian diatas kasus yang akan jadi pusat kajian termasuk dalam Unrecorded Hidden Economy atau biasa sering kita dengar dengan istilah Ekonomi bawah
tanah atau Underground Economy.
Untuk memahami Underground Ekonomi Ada beberapa definisi yang berbeda, tergantung dari objek dan pendekatan yang dilakukan terhadap aktivitas ekonominya. Philip Smith (1994), memberikan definisi yang sangat luas mengenai underground economy ini yaitu produksi barang dan jasa (market based production), baik yang legal maupun ilegal, yang lolos dari pendeteksian dalam
penghitungan PDB resmi. Definisi ini menggambarkan bahwa underground economy tidak hanya berupa aktivitas ekonomi yang ilegal saja, akan tetapi
termasuk juga aktivitas yang dinyatakan legal dari transaksi-transaksi dan pendapatan namun tidak tercatat atau dilaporkan dalam statistik.
membantu. Menurut Feige (1990), terdapat empat golongan underground economy yaitu :
1. Illegal Economy, yaitu aktivitas ekonomi yang tidak sah yang terkandung dalam pendapatan yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi yang melanggar undang-undang atau bertentangan dengan peraturan hukum. Kegiatankegiatan seperti : memperjualbelikan barang-barang hasil curian, pambajakan, dan penyelundupan merupakan tindakan kriminal yang melanggar undangundang. Demikian juga kegiatan perjudian, transaksi-transaksi obat bius dan narkotika merupakan tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum yang ada.
2. The Unreported economy, yaitu pendapatan yang tidak dilaporkan kepada khususnya otoritas pajak, tentunya dengan maksud untuk menghindari tanggung jawab untuk membayar pajak.
3. The Unrecorded Economy, yaitu pendapatan yang seharusnya tercatat dalam statistik pemerintah namun tidak tercatat. Akibatnya terjadi perbedaan antara jumlah pendapatan atau pengeluaran yang tercatat dalam sistem akuntansi dengan nilai pendapatan dan pengeluaran yang sesungguhnya.
Melihat penggolongan di atas, dapat dilihat bahwa cakupan underground economy begitu luas sehingga sangatlah tidak mudah untuk mengukurnya.Aktifitas Underground Economy mucul karena kepentingan untuk memakmurkan segelintar orang maupun kepentingan politik kelompok adalah motivasi yang tak bisa dinafikkan. Dalam Underground Economy masyarakat kelas bawah juga ikut ambil bagian didalamnya. Ini dilakukan karena tidak adanya pekerjaan formal yang mereka dapatkan. Bukan hal yang aneh apabila pemberantasan Underground Economy terkesan sia-sia. Upaya pemberantasan biasanya akan muncul perlawanan dari para masyarakat lapis bawah untuk menjaga aktifitas yang tergolong ilegal.
Beban pungutan di daerah menjadi persoalan yang banyak dikemukakan berbagai pelaku usaha berkaitan dengan pelaksanaan desentralisasi dimana pemerintah daerah berusaha memacu penerimaan daerahnya dengan menerapkan pajak dan pungutan. Pengelolaan pemerintah yang buruk, korupsi yang merajalela juga menjadi faktor maraknya praktek Underground Economy.
Ekonomi bawah tanah adalah aktivitas ekonomi yang tak tercatat dalam pembukuan ekonomi resmi yang direpresentasikan oleh Produk Domestik Bruto. Ada beberapa criteria yang menyebabkan aktivitas-aktivitas ini tidak tercatat secara resmi, salah satunya adalah karena aktivitas ini memang tersembunyi atau memang disembunyikan, yang berbentuk aktivitas illegal seperti perjudian, prostitusi, human trafficking, tindak korupsi dan penyelundupan barang.
Menurut Edgar L. Feige. dalam bukunya yang berjudul "Defining and Estimating Underground and Informal Economies: The New Institutional
Economics Approach. World Development, 1990, terdapat empat golongan
underground economy yaitu :
1. The Illegal Economy, yaitu aktivitas ekonomi yang tidak sah yang terkandung dalam pendapatan yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi yang melanggar undang-undang atau bertentangan dengan peraturan hukum. Kegiatankegiatan seperti : memperjualbelikan barang-barang hasil curian, pambajakan, dan penyelundupan merupakan tindakan kriminal yang melanggar undangundang. Demikian juga kegiatan perjudian, transaksi-transaksi obat bius dan narkotika merupakan tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum yang ada.
2. The Unreported economy, yaitu pendapatan yang tidak dilaporkan kepada khususnya otoritas pajak, tentunya dengan maksud untuk menghindari tanggung jawab untuk membayar pajak.
perbedaan antara jumlah pendapatan atau pengeluaran yang tercatat dalam sistem akuntansi dengan nilai pendapatan dan pengeluaran yang sesungguhnya.
4. The Informal Economy, yaitu pendapatan yang diperoleh para pelaku atau agen ekonomi secara informal. Para pelaku ekonomi yang berada dalam sektor ini kemungkinan tidak memiliki izin secara resmi dari pihak yang berwenang, perjanjian kerja, atau kredit keuangan.
Melihat penggolongan di atas, dapat dilihat bahwa cakupan underground economy begitu luas sehingga sangatlah tidak mudah untuk mengukurnya. Upaya untuk mengukur besarnya underground economy telah dilakukan oleh banyak peneliti dengan berbagai metode. Namun sampai dengan saat ini, belum ada kesepakatan secara international best practice, metode yang paling tepat untuk mengukurnya.
Tabel 2.1
Klasifikasi Aktivitas Underground Economy
Transaksi Moneter Transaksi Non-moneter
. Aktivitas Ilegal • Perdagangan barang hasil pencurian
• Industri dan Penjualan obat-obatan terlarang
2. Aktivitas Legal • Pengelakan Pajak
• Pendapatan yang tidak dilaporkan
• Upah, gaji, dan asset dari pekerjaan yang tidak dilaporkan dari barang dan jasa yang legal
• Pembayaran di bawah faktur
• Penghindaran Pajak
• Diskon untuk karyawan
• Tunjangan
• Pengelakan Pajak
• Barter barang dan jasa
• Penghindaran Pajak
2.4 Teori Jaringan
Analisis dari teori jaringan adalah bahwa teori ini menjauhkan sosiolog dari studi tentang kelompok dan kategori sosial dan mengarahkannya untuk mempelajari ikatan di kalangan dan antar aktor yang tak terikat secara kuat dan tak sepenuhnya memenuhi persyaratan kelompok, (wellman, 2004:383). Ciri khas dari teori jaringan adalah pemusatan perhatiannya pada struktur mikro dan makro. Artinya, aktor mungkin saja individu, kelompok , perusahaan dan masyarakat, (Ritzer, 2008:383). Granoveter melukiskan hubungan di tingkatan mikro itu seperti tindakan yang melekat dalam hubungan pribadi konkret dan dalam struktur jaringan hubungan tersebut.
Dalam teori jaringan yang lebih integratif Ronald Burt mencoba membangun sebuah pendekatan integratif meski merupakan bentuk lain saja dari determinisme struktural. Burt memulai dengan mengungkap pemisahan di dalam teori tindakan atomistis dan normatif. Orientasi atomistis berasumsi bahwa tindakan alternatif dapat dinilai secara bebas oleh aktor tersendiri sehingga penilaian dapat dibuat tanpa merujuk kepada aktor lain. Sedangkan perspektif normatif ditetapkan oleh aktor tersendiri didalam sistem yang salaing mensosialisasikan diri satu sama lain (Ritzer, 2008:385). Untuk pengadaan buku pedagang buku membangun jaringan untuk mengembangkan usahanya.
didapatkan dari penerbit dan toke. Pedagang juga membangun jaringan ke toko buku yang akan melakukan cuci gudang dan menjual barangnya dengan harga grosir. Biasanya ada agen yang mengepul buku untuk dijual ke pedagang. Pembelian ini dilakukan secara besar-besaran. Jadi jaringan ini juga merupakan hal yang penting bagi keberlangsungan komunitas pedagang buku.
Jaringan sosial dalam ekonomi menurut Granovetter dan Swedberg adalah suatu rangkaian hubungan yang teratur atau hubungan sosial yang sama antara individu-individu atau kelompok-kelompok. Jaringan sosial adalah sebagai suatu pengelompokan yang terdiri atas sejumlah orang, paling sedikit terdiri atas tiga orang yang masing-masing mempunyai identitas tersendiri dan masing-masing dihubungkan antara satu dengan yang lainnya melalui hubungan-hubungan sosial yang ada, sehingga melalui hubungan sosial tersebut mereka dapat dikelompokkan sebagai suatu kesatuan sosial.
Secara sederhana, jaringan sosial sebenarnya merupakan salah satu bentuk strategi dan tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok maupun masyarakat dalam menghadapi lingkungan pekerjaannya yang tidak menentu atau diliputi oleh berbagai keterbatasan- keterbatasan yang dimiliki.Oleh karena itu, konteks jaringan sosial pada suatu komunitas masyarakat dapat dibedakan atas tiga bentuk, yaitu jaringan vertikal (hirarkis), jaringan horizontal (pertemanan), dan jaringan diagonal (kakak-adik).
2. Hubungan diagonal adalah hubungan dua pihak di mana salah satu pihak memiliki dominasi sedikit lebih tinggi dibanding pihak lainnya.
3. Hubungan horizontal adalah hubungan dua pihak di mana masing-masing pihak menempatkan diri secara sejajar satu sama lainnya. Namun pada kenyataannya dalam suatu komunitas, termasuk komunitas masyarakat pesisir (nelayan maupun pembudidaya), ke tiga bentuk jaringan ini saling tumpang tindih dan bervariasi, serta bentuk yang satu tidak dapat secara tegas dipisahkan dari bentuk lainnya.
Suparlan (1982: 36-39) mengatakan ada beberapa hal yang merupakan ciri-ciri utama dari jaringan sosial, yaitu:
1. Titik-titik, merupakan titik-titik yang dihubungkan satu dengan lainnya oleh satu atau sejumlah garis yang dapat merupakan perwujudan dari orang, peranan, posisi, status, kelompok, tetangga, organisasi, masyarakat, negara dan sebagainya.
2. Garis-garis, merupakan penghubung atau pengikat antara titik-titik yang ada dalam suatu jaringan sosial yang dapat berbentuk pertemuan, kekerabatan, pertukaran, hubungan superordinat-subordinat, hubungan antarorganisasi, persekutuan militer dan sebagainya.
sama lainnya dihubungkan oleh garis-garis yang mewujudkan segitiga yang dinamakan triadic balance(keseimbangan segitiga); sedangkan contoh dari jaringan tingkat makro ditandai oleh sifatnya yang menekankan pda hubungan antara sistem atau organisasi, atau bahkan antarnegara.
4. Konteks (ruang). Setiap jaringan dapat dilihat sebagai terwujud dalam suatu ruang yang secara empiris dapat dibuktikan (yaitu secara fisik), maupun dalam ruang yang didefenisikan secara sosial, ataupun dalam keduanya. Misalnya, jaringan transportasi selalu terletak dalam suatu ruangan fisik, sedangkan jaringan perseorangan yang terwujud dari hubungan-hubungan sosial tidak resmi yang ada dalam suatu organisasi adalah suatu contoh dari suatu jaringan yang terwujud dalam satu ruang sosial. Jaringan komunikasi dapat digambarkan sebagai sebuah peta baik secara fisik, yaitu geografis maupun menurut ruang sosialnya, yaitu yang menyangkut status dan kelas sosial.
5. Aspek-aspek temporer. Untuk maksud-maksud sesuatu analisa tertentu, sebuah jaringan sosial dapat dilihat baik secara sinkronik maupun secara diakronik, yaitu baik sebagai gejala yang statis maupun dinamis.
antarpelaku di dalamnya disengaja atau diatur oleh kekuasaan. Tipe jaringan ini muncul bila pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditargetkan membutuhkan tindakan kolektif dan konfigurasi saling keterhubungan antarpelaku yang biasanya bersifat permanen. Hubungan-hubungan kekuasaan ini biasanya ditujukan pada penciptaan kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Unit-unit sosialnya adalah artifisial yang direncanakan atau distrukturkan secara sengaja oleh kekuasaan. Jaringan sosial tipe ini harus mempunyai pusat kekuasaan yang secara terus menerus mengkaji ulang kinerja (performance) unit-unit sosialnya, dan mempolakan kembali strukturnya untuk kepentingan efisiensi. Dalam hal ini kontrol informal tidak memadai, masalahnya jaringan ini lebih kompleks dibanding dengan jaringan sosial yang terbentuk secara alamiah. Dengan demikian jaringan sosial tipe ini tidak dapat menyandarkan diri pada kesadaran para angotanya untuk memenuhi kewajiban anggotanya secara sukarela, tanpa insentif.
Kedua, jaringan kepentingan (interest), merupakan jaringan
spesifik seperti itu atau tujuan-tujuan tersebut selalu berulang, maka struktur yang terbentuk relatif stabil dan permanen.
Ketiga, jaringan perasaan (sentiment), merupakan jaringan yang terbentuk
atas dasar hubungan sosial bermuatan perasaan, dan hubungan-hubungan sosial itu sendiri menjadi tujuan dan tindakan sosial. Struktur yang dibentuk oleh hubungan-hubungan perasaan ini cenderung mantap dan permanen. Hubungan-hubungan sosial yang terbentuk biasanya cenderung menjadi hubungan dekat dan kontinyu. Di antara para pelaku cenderung menyukai atau tidak menyukai pelaku-pelaku lain dalam jaringan. Oleh karena itu muncul adanya saling kontrol secara emosional yang relatif kuat antarpelaku (Agusyanto, 1997: 26-28).
Dalam kenyataan di lapangan, sebuah jaringan sosial tidak hanya dibentuk oleh satu jenis jaringan sosial di atas. Namun, terjadi tumpang tindih antara tiga jenis bentuk hubungan sosial tersebut. Sebuah jaringan sosial dianggap sebagai jaringan kepentingan jika hubungan-hubungan yang terbentuk dalam jaringan sosial tersebut lebih dominan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan atau kepentingan-kepentingan tertentu. Dua jenis jaringan sosial yang lain, yaitu jaringan kekuasan dan jaringan perasaan tetap ada tetapi tidak dominan.Terdapat empat prinsip utama yang mendasar untuk diketahui, antara lain:
itu seperti aturan main yang dapat berpengaruh pada penyelenggarann jaringan itu sendiri.
2. The Strength of Weak Ties. Inti prinsip ini adalah bahwa ikatan yang lemah tidka selalu berimplikasi negatif terhadap jaringan sosial, justru sebaliknya dapat berimplikasi positif. Dalam hal ini ikatan yang lemah tersebut dapat menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun jaringan sosial.
3. The importance of “Structural Holes”. Prinsip ini tidak terlepas dari pendapat Burt tentang “Ikatan lemah”. Ia berpendapat bahwa inti penting dari sebuah ikatan tidak terletak pada kualitas ikatan yang tercipta dalam sebuah kelompok. Akan tetapi lebih pada cara yang dilakukan untuk membangun jaringan. Hal ini karena dengan membangun jaringan seorang individu secara tidak langsung terikat. Selain itu, ia juga menekankan pada keuntungan strategi yang dapat membuat individu terikat dengan berbagai jaringan yang berbeda-beda. Implikasinya adalah arus informasi dapat mengalir dari satu jaringan dengan jaringan lainnya.
2.4.1 Jaringan Sosial
Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa dalam bentuk yang formal maupun bentuk informal. Hubungan sosial adalah gambaran atau cerminan dari kerjasama dan koordinasi antar warga yang didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprosikal timbal balik (Damsar, 2002:157).
Dalam melihat aktivitas sekelompok individu itu menjadi suatu aksi sosial maka disitulah teori jaringan sosial berperan dalam sistem sosial. Hampir keseluruhan dari masalah sosiologi adalah masalah agregasi, yaitu bagaimana aktivitas sekelompok individu dapat menimbulkan efek sosial yang dapat diamati. Hal inilah yang Membuat sosiologi sangat sulit untuk memahami dan mengerti suatu fenomena secara mendalam. Teori jaringan sosial berangkat dari pengkajian atas variasi bagaimana perilaku individu berkumpul (aggregate) menjadi perilaku kolektif.
Di sisi lain, pendekatan yang berorientasi proses di dasarkan penyelidikan atas jaringan social sebagai bentuk tindakan atau cara pengaturan yang dapat menggerakkan pemikiran ke dalam bagaimana ikatan – ikatan ini di ciptakan , bagaiman mempertahankan, serta konsekwensi nya. Ada beberapa dalam melakukan penelitian jaringan social dalam pasar yakni :
a. Jaringan informal dari akses dan kesempatan
permintaan, lemah dan kuatnya ikatan dari suatu jaringan social menentukan perolehan pekerjaan. Disini jaringan social memudahkan mobilisasi sumber daya.Mempertahankan seseorang untuk memegang suatu jabatan atau membangun usaha bisnis, membutuhkan sutu kemampuan untuk menggerakkan sumber daya dalam bentuk informasi dan financial.
b. Jaringan formal pengaruh dan kekuasaan
Bagian ini menggunakan pendekatan analitis untuk menjelaskan kekuasaan actor –aktor ekonomi.Pemikiran ini mempercayaai bahwa “kekuasaan melekat secara situasional, ia bersifat dinamis dan tidak stabil secara potensial”.Kekuasaan iti sendiri artinya otoritas formal, pengaruh informal, dan dominasi.Sumber kekuasaan bersumber pada legitimasi, informasi, kekuatan.kekuasaan berada pada posisi structural.Dalam memahami jaringan social dalam kekuasaan dapat di dekati dalam tiga perspektif yaitu: pertukaan social, ketergantungan sumber daya, kelas social.
c. Organisasi sebagai jaringan social dari perjajian
d. Jaringan sosial dari produksi
Pada jaringan social ini memandang pentingnya suatu kepercayaan. Misalnya dalam suatu proses monitoring kegiatan produksi maka akan lebih mudah dan alami serta efektif apabila di lakukan dengan teman sejawat di banding dengan atasan. Dimana dalam monitoring ini berfungsi untuk menjalin hubungan antar bagian–bagian actor produksi, sehingga apabila monitoring ini di lakukan secara efektif akan berdampak pada peningkatan produksi.
2.5 Definisi Konsep
• Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.
• Jaringan sosial : adalah sebuah pola koneksi dalam hubungan sosial individu, kelompok dan berbagai bentuk kolektif lain. Hubungan ini dapat berupa hubungan interpersonal atau bisa juga bersifat ekonomi, politik atau hubungan sosial lainnya.
• Pedagang buku : orang yang melakukan perdagangan, memperjualbelikan barang yang tidak diproduksi sendiri, untuk memperoleh suatu keuntungan.
• Mafia : perkumpulan rahasia yg bergerak di bidang kejahatan (kriminal). Contohnya : tindakan plagiat yang melanggar hak cipta.
• Toke : Orang yang memiliki modal besar untuk menggandakan buku yang kemudian didistribusikan ke pedagang kecil, dan belum tentu merupakan pedagang buku.
• Agen Buku : Orang yang tidak memiliki kios namun bekerja menjualkan buku yang ada di kios pedagang.