MAKALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
DOSEN PENGAMPU AS’AD, S.Pd, S.Th.I
DISUSUN OLEH
Kelompok 4
Ulfah Lutfiyah 201621500197 Ajeng Tina Mulya 201621500241 Titik Junia Ningsih 201621500220 Dirham Muhammad 201621500252
Nida Nabilah 201621500256
Nida Yuhanida 201621500201
Saniah 201621500187
Anita Yuliana 201621500188
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang pembelajaran kooperatif.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang pembelajaran kooperatif dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 3 C. Tujuan 3
BAB II PEMBAHASAN 4
A. Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif 4
B. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif 8 C. Prinsip – Prinsip Pembelajaran Kooperatif 9 D. Prosedur Pembelajaran Kooperatif10
E. Model Model Pembelajaran Kooperatif 11
BAB III PENUTUP 25
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya, pendekatan teori konstriktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan di mana siswa harus secara individual menemukan dan mentransformasikan informasi yang kompleks, menemukan informasi dengan aturan yang ada, dan merevisinya bila perlu. (Soejadi dalam Teti Sobari, 2006: 15). Menurut Slavin (2007), pembelajaran kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Ini membolehkan pertukaran idea dan pemeriksaan idea sendiri dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme. Dengan demikian, pendidikan hendaknya mampu mengondisikan, dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas serta daya cipta (kreativitas), sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses pembelajaran. Dalam teori konstruktivisme ini lebih mengutamakan pada pembelajaran siswa yang dihadapkan pada masalah-masalah kompleks untuk dicari solusinya, selanjutnya menemukan bagian-bagian yang lebih sederhana atau keterampilan yang diharapkan. Model pembelajaran ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky. Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. (Ratna, 1988: 181)
Menurut pandangan Piaget dan Vygotsky mengemukakan adanya hakikat social dari sebuah proses belajar dan juga mengemukakan tentang penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggotanya yang beragam, sehingga terjadi perubahan konseptual. Piaget menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses aktif dan pengetahuan disusun di dalam pikiran siswa. Oleh Karena itu, belajar adalah tindakan kreatif di mana konsep dan kesan dibentuk dengan memikirkan objek dan peristiwa dan bereaksi pada objek dan peristiwa tersebut.
Di samping aktivitas dan kreativitas yang diharapkan dalam sebuah proses pembelajaran dituntut interaksi yang seimbang, interaksi yang dimaksudkan adalah adanya interaksi atau komunikasi antara guru dan siswa, siswa dan siswa, serta siswa dan guru. Diharapkan dalam proses belajar adalah komunikasi banyak arah, yang memungkinkan akan terjadinya aktivitas, kreativitas yang diharapkan.
Pandangan konstruktivisme Piaget dan Vygotsky dapat berjalan berdampingan dalam proses belajar konstruktivisme Piaget yang menekankan pada kegiatan internal individu terhadap objek yang dihadapi dan pengalaman yang dimiliki orang tersebut, sedangkan konstruktivisme Vygotsky menekankan pada interaksi social dan melakukan konstruksi pengetahuan dari lingkungan sosialnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan laar belakang di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud konsep dasar pembelajaran kooperatif? 2. Bagaimana karakteristik model pembelajaran kooperatif? 3. Apa saja prinsip – prinsip pembelajaran kooperatif? 4. Bagaimana prosedur pembelajaran kooperatif? 5. Apa saja model model pembelajaran kooperatif?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui konsep dasar pembelajaran kooperatif 2. Untuk mengetahui karakteristik model pembelajaran kooperatif 3. Untuk mengetahui prinsip – prinsip pembelajaran kooperatif 4. Untuk mengetahui prosedur pembelajaran kooperatif
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Pada hakikatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok, oleh karena itu banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam cooperative learning, karenanya mereka beranggapan telah biasa melakukan cooperative learning dalam bentuk belajar kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompokdikatakan cooperative learning, seperti dijelaskan Abdulhak (2001: 19-20) bahwa “pembelajaran cooperative dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama di antara leserta belajar itu sendiri.”
Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dan siswa, siswa dan siswa serta siswa dan guru (multi way trafic comunication).
Pembelajaran kooperatif adalaha strategi pembelajaran yang melibatkan partisispasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi.” (Nurulhayati, 2002: 25). Dalam sistem belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama bersama anggota lainnya. Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka dapat melakukannya seorang diri.
kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. (Sanjaya 2006: 239).
Menurut Tom V. Savage (1987:217) bahwa cooperative language adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Dalam sistem belajar kooperatif siswa belajar bekerja bersama anggota lainnya. (Nurulhayati, 2002: 25.
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran oleh rekan sebaya (peerteaching) lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru.
Cooperative learning adalah teknik pengelompokan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari 4-5 orang. Belajar cooperative adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja sama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut (Jhonson dalam Hasan, 1996).
Strategi pembelajaran kooperatif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa di dala kelompok-kelompok, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Terdapat empat hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni: (1) adanya peserta didik dalam kelompok ; (2) adanya aturan main; (3) adanya upaya belajar dalam kelompok; dan (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.
siswa; dan (3) perpaduan antara minat serta bakat siswa dan latar kemampuan siswa.
Nurulhayati, (2002: 25-28), mengemukakan lima unsur dasar model cooperative learning, yaitu: (1) ketergantungan yang positif; (2) pertanggung jawaban individual; (3) kemampuan bersosialisasi; (4) tatap muka; dan (5) evaluasi proses kelompok.
Ketergantungan yang positif adalah suatu bentuk kerja sama yang sangat erat kaitannya antara anggota kelompok. Kerja sama ini dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Siswa benar-benar mengerti bahwa kesuksesan kelompok tergantung pada kesuksesan anggotanya.
Maksud dari pertanggung jawaban individual adalah kelompok tergantung pada cara belajar perseorangan seluruh anggota kelompok. Pertanggung jawaban memfokuskan aktivitas kelompok dalam menjelaskan konsep pada satu orang dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok siap mengahadapi aktivitas lain di mana siswa harus menerima tanpa pertolongan anggota kelompok. Kemampuan bersosialisasi adalah sebuah kemampuan bekerja sama yang biasa digunakan dalam aktivitas kelompok. Kelompok tidak berfungsi secara efektif jika siswa tidak memiliki kemampuan bersosialisasi yang dibutuhkan.
Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberi siswa bentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Guru menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama lebih efektif .
Senada dengan penjelasan tersebut Siaahan (2005: 2) mengutarakan 5 unsur esensial yang ditekankan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: (a) saling ketergantungan yang positif; (b) interaksi berhadapan (face to face interaction); (c) tanggung jawab individu (individual responsibility); (d) keterampilan sosial (social skill); dan (e) terjadi proses dalam kelompok (group processing).
kooperatif merupakan bagian dari siswa untuk mencapai tujuan kelompok, siswa harus merasakna bahwa mereka akan mencapai tujuan maka siswa lain dalam kelompoknya memiliki kebersamaan, artinya tiap anggota kelompok bersikap kooperatif dengan sesama anggota kelompoknya.
Mengapa perlu pembelajran kooperatif (cooperative learning)? Dalam situasi belajar pun sering terlihat sifat individualis siswa. Siswa cenderung berkompetisi secara individual, bersikapter tertutup terhadap teman, kurang memberi perhatian padateman sekelas, bergaul hanya dengan orang tertentu, ingin menang sendiri, dan sebagainya. Jika keadaan ini dibiarkan tidak mustahil akan dihasilkan warga negara yang egois, inklusif, introver, kurang bergaul di masyarakat, acuh tak acuh dengan tetangga dan lingkungan, kurang menghargai orang lain, tidak mau menerima kelebihan atau kelemahan orang lain. Gejala seperti ini kiranya mulai terlihat pada masyarakat kita, sedikit-sedikit demonstrasi, main keroyokan, saling sikut dan mudah terprovokasi.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penilitian yang dilakukan oleh Slavin (1995) mengemukakan bahwa: (1) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain; dan (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa akan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Dengan alasan tersebut strategi pembelajaran kooperatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.
dalam rangka mencapai tujuan kelompok tersebut. Dalam pembelajaran kooperatif adanya upaya peningkatan prestasi belajar siswa (student achievement) dampak penyerta yaitu sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain.
Pembelajaran kooperatif akan efektif digunakan apabila: (1) guru menekankan pentingnya usaha berasama di samping usaha secara individual; (2) jika guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar; dan (3) jika guru ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri, jika guru menghendaki adanya pemerataan partisipasi aktif siswa, jika guru menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan. (Sanjaya 2006)
B. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan materi pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari cooperative learning.
Pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dalam beberapa prespektif, yaitu perspektif motivasi, perspektif sosial dan perspektif prkembangan kognitif.
Karakteristik atau ciri – ciri pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pembelajaran secara tim.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pemebelajaran.
2. Didasarkan pada manajemen kooperatif
Manajemen kooperatif mempunyai tiga fungsi yaitu : (a) fungsi manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan, (b) fungsi manajemen sebagai organisasi, (c) fungsi manajemen sebagai kontrol
3. Kemauan untuk bekerja sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.
4. Keterampilan bekerja sama
Kemampuan bekerja sama itu dipraktikan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
C. Prinsip – Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Johnson (Lie, 2008) ada lima unsur dasar dalam pembelajararan KOOPERATIF (cooperative learning), sebagai berikut:
Keberhasiln kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua angota dalam kelomok akan merasa saling ketergantungan.
2. Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilankelompok sangat tergantung dari masing-masing angota kelompoknya. Oleh karna itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
3. Interaksi tatap muka (face-to-face promotion interaction), yaitu memberikan kesempatanyang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.
4. Partisipasi dan komunikasi (participation communication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
5. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khususbagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan efektif.
D. Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Prosedur atau langkah – langkah pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu sebagai berikut :
1. Penjelasan Materi : tahap ini merupakan tahap penyampaian pokok – pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran.
2. Belajar Kelompok : tahap ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dlam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
4. Pengakuan Tim : penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah.
E. Model Model Pembelajaran Kooperatif
Ada beberapa variasi jenis model dalam pembelajaran kooperatif, walaupun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif ini tidak berubah. Jenis-jenis model tersebut, sebagai berikut:
1. Model Student Teams Achievment Division (STAD)
Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas Jhon Hopkin. Menurut Slavin, model STAD (Student Teams Achievment Division) merupakan variasi pembelajaran koperatif yang paling banyak diteliti. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris, teknik, dan banyak subjek lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
paling tepat untuk mengajarkan materi-materi pelajaran ilmu pasti, seperti perhitungan dan penerapan matematika, pengunaan bahasa dan mekanika, geografi dan keterampilan perpetaan, dan konsep-konsep sains lainnya.
Lebih jauh Slavin memaparkan bahwa: “Gagasan utama di belakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru. “ Jika siswa menginginkan kelompok mereka memperoleh hadiah, mereka harus membantu teman sekelompok mereka dalam mempelajari pelajaran. Mereka harus mendorong teman sekelompok mereka untuk melakukan yang terbaik, memperlihatkan norma-norma bahwa belajar itu penting, berharga, dan menyenangkan. Para siswa diberi waktu untuk bekerja sama setelah pelajaran diberikan oleh guru, tetapi tidak saling membantu ketika menjalani kuis, sehingga setiap siswa harus menguasai materi itu (tanggung jawab perseorangan).
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif model STAD; a. Penyampaian Tujuan dan Motivasi
Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar b. Pembagian Kelompok
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok tersdiri dari 4-5 siswa yang memprioritaskan heteroginitas (keragaman) kelas dalam presentasi akademik, gender/jenis kelamin, ras, dan etnik.
c. Presentasi dari Guru
Guru menyampaikan meteri pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media, dan demontrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalamkehidupan sehari-hari. Di jelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.
d. Kegiatan Belajar dalam Tim (kerja Tim)
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota betul-betul menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan, dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.
e. Kuis (Evaluasi)
kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya: 60, 75, 84, dan sterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.
f. Penghargaan Presentasi Tim
Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0-100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Menghitung Skor Individu
Menurut Slavin (Trianto, 2007:55), untuk menghitung perkembangan skor individu dihitung sebagaimana dapat dilihat pada tabel 10.2 sebagai berikut:
Tabel 10.2 Penghitungan Perkembangan Skor Individu No
4 Lebih dari 10 point di atas skor dasar 30 point 5 Pekerjaan sempurna (tanpa
memperhatikan skor dasar)
30 point
2. Menghitung Skor Kelompok
kelompok tersebut. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh skor kelompok sebagaimana dalam Tabel 10.3 sebagai berikut:
Tabel 10.3 Penghitungan Perkembangan Skor Kelompok No
.
Rata-rata Skor Kualifikasi
1 0 ≤N ≤5
-2 6 ≤ N≤15 Tim yang Baik (Good Team) 3 16 ≤ N≤20 Tim yang Baik Sekali (Great Team) 4 21 ≤ N ≤30 Tim yang Istimewa ( Super Team)
3. Pemberian Hadiah dan Pengakuan Skor Kelompok
Setelah masing-masing kelompok atau tim memperoleh predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan prestasinya (kriteria tertentu yang ditetapkan guru)
STAD merupakan suatu metode generik tentang pengaturan kelas dan bukan metode pengajaran komprehensif untuk subjek tertentu, guru menggunakan pelajaran dan materi mereka sendiri. Lembar tugas dan kuis disediakan bagi kebanyakan subjek sekolah untuk siswa, tetapi kebanyakan guru menggunakan materi mereka sendiri untuk menambah atau mengganti materi-materi ini.
2. Model Jigsaw
Model ini dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas.
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya, guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang membentuk kelompok lagi yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: (a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; dan (b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompok semulanya. Setelah itu, siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk enunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.
Langkah-langkah
a. Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang.
b. Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda. c. Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama
membentuk kelompok baru (kelompok ahli).
d. Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali kekelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang subbab yang mereka kuasai.
e. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. f. Pembahasan.
g. Penutup.
kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti diungkapkan oleh Lie (1999: 73), bahwa “pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.”
Dalam model kooperatif jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari dan dapat menyampaikan informasinya kepada kelompok lain.
Lie (1994) menyatakan bahwa jigsaw merupakan salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang fleksibel. Banyak riset telah dilakukan erkaitan dengan pembelajaran kooperatif dengan dasar jigsaw.Riset tersebut secara konsisten menunjukkann bahwa siswa yang terlbat di dalam pembelajaran model kooperatif model jigsaw ini memperoleh prestasi lebih baik, mempunyai sikap yang lebih baik dan lebih positif terhadap pembelajaran, di samping saling menghargai perbedaan dan pendapat orang lain.
Jhonson and Jhonson (dalam Teti Sobari 2006: 31) melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model jigsaw yang hasilnya menunjukkan bahwa inteaksi kooperatif memiliki berbagai pengaruh positif terhadap perkembangan anak. Pengaruh positif tersebut, yaitu:
a. Meningkatkan hasil belajar; b. Meningkatkan daya ingat;
c. Dapat digunakan untuk mencapai taraf penalaran tingkat tinggi; d. Mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (kesadaran individul); e. Meningkatkan hubungan antarmanusia yang heterogen;
h. Menigkatkan harga diri anak;
i. Meningkatkan perilaku penyesuaian sosial yang positif; dan j. Meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong.
Pembelajaran model jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Tetapi permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, setiap utusan dalam kelompok yang berbeda membahas materi yang sama, kita sebut sebagai tim ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. Selanjutny, hasil pembahasan itu dibawa ke kelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya.
Kegiatan yang dilakukan, sebagai berikut:
a. Melakukan membaca untuk menggali informasi. Siswa memperoleh topik-topik permasalahan untuk dibaca, sehingga mendapatkan informasi dari permasalahn tersebut;
b. Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok atau kita sebut dengan kelompok ahli untuk membicarakan topik permasalahan tersebut;
c. Laporan kelompok. Kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan hasil dan yang didapatkan dari diskusi tim ahli. d. Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang
dibicarakan tadi dan;
e. Perhitungan skor kelompok dan menetukan penghargaan kelompok;
Stephen, Sikes and Snapp (1978), mengemukakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif model jigsaw sebagai berikut:
d. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/subbab yang sama bertemu dalam kelompok baru ( kelompok ahli) untuk mendiskusikan subbab mereka;
e. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subbab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan saksama;
f. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi’ g. Guru memberi evaluasi; dan
h. Penutup.
3. Grup Investigatian (Investigasi Kelompok)
Strategi belajar kooperatif GI dikembangkan oleh Shiomo Sharan dan Yel Sharan di Universitas Tel Aviv, Israel. Secara umum, perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik kooperatif GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilakan laporan kelompok. Selajutnya, setiap kelompok mempresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling tukar informasi temuan mereka. (Burns et al.,t.th.).Menurut Slavian (1995a), strategi kooperatif GI sebernarnya dilandai oleh filosofi belajar John Dewey. Teknik kooperatif ini telah secara meluas digunakan dalam penelitian dan memperlihatkan kesuksesannya terutama untuk program –program pembelajaran dengan tugas-tugas spesifik.
4. Model Make a Match (Membuat Pasangan)
Metode make a match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan.
Penerapan metode ini dimulai dengan teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Langkah-langkah pembelajaran:
a. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban). b. Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau
soal dari kartu yang dipegang.
c. Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/kartu jawaban)
d. Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
e. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya. f. Kesimpulan.
5. Model TGT (Teams Games Tournaments)
Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).
mengambil sebuah kartu yang diberi angka tadi dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen harus memungkinkan semua siswa dari semua tingkat kemampuan (kepandaian) untuk menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Prinsipnya, soal sulit untuk anak pintar, dan soal yang lebih mudah untuk anak yang kurang pintar. Hal ini dimaksudkan agar semua anak mempenyai kemungkinan memberi skor bagi kelompoknya. Permainan yang dikemas dalam bentuk turname ini dpat berperan sebagai penilaian alternatif atau dapat pula sebagai review materi pembelajaran.
TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memilikikemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing-masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari angggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggung jawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru.
Menurut Slavin, pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari lima langkah tahapan yaitu: tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (games), pertandingan (tournament), dan perhargaan kelompok (team recognition). Berdasarkan apa yang diungkapan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe.
TGT memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok –kelompok kecil. b. Games tornament.
6. Model Struktural
Menurut pendapat Spance dan Miguel Kagan (shiomo Sharan 2009; 267) bahwa terdapat enam komponen utama di dalam pembelajaran kooperatif tipe pendekatan struktural. Keenam komponen itu. Sebagai berikut:
a. Struktur dan Konstruk yang Berkaitan
Premis dasar dari pendekatan struktural adalah bahwa ada hubungan kuat antara yang siswa lakukan dan yang siswa pelajari, yaitu interaksi di dalam kelas telah membri pengaruh besar pada perkembangan siswa pada sisi sosial , kognitif, dan akademisnya. Konstruksi dan pemerolehan pengetahuan, perkembangan bahsa dan kognisi, dan perkembangan keterampilan sosial merupakan fungsi dari situasi di mana siswa berinteraksi.
b. Prinsip-prinsip Dasar
Ada empat prinsip dasar yang penting untuk pendekatan struktural pemebalajaran kooperatif, yaitu: interaksi serentak, partisipasi sejajar, interdependensi positif, dan akuntabilitas perseorangan.
c. Pembentukan Kelompok dan Pembentukan Kelas
Kagan (Shiomo Sharan, 2009: 287) membedakan lima tujuan pembentukan kelompok dan memberikan struktur yang tepat untuk masing-masing. kelima tujuan pembentukan kelompok itu, sebagai berikut: (1) agar dikenal: (2) identitas kelompok: (3) dukungan timbale-balik; (4) memnilai perbedaan ; dan (5) mengembangkan sinergi.
d. Kelompok
Kelompok belajar kooperatif memiliki identitas kelompok yang kuat, yang iedalnya terdiri dari empat anggota yang berlangsung lama. Kagan (shiomo Sharan, 2009:288) membedakan empat tipe kelompok belaja tersebut, sebagai berikut:
2) Kelompok acak; 3) Kelompok minat, dan 4) Kelompok bahasa homogen a. Tata Kelola
Dalam kelas kooperatif ditekankan adanya interaksi siswa dengan siswi, dan karenanya manejemen melibatkan berbagai keterampilan berbeda. Beberapa dari perhatian manajemen diperkenalkan bersamaan dengan pengenalan kelompok, termasuk susunan tempat duduk, tingkat suara, pemberian arahan, distribusi dan penyimpanan materi kelompok, dan metode pembentukan sikap kelompok.
b. Keterampilan Sosial
The Structured Natural Approach untuk pemerolehan keterampilan sosial menggunakan empat alat, yakni:
1) Peran dan gerakan pembuka; 2) Pemodelan dan penguatan; 3) Struktural dan penstrukturan, dan 4) Refleksi dan waktu perencanaan.
Perbandingan karakteristik dari masing-masing model pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada Tabel 10,4 berikut ini:
Tabel 104 Perbandingan Karakteristik Model-Model Pembelajaran Kooperatif
kelompok dan kerja sama
kelompok dan kerja sama
kelompok kompleks
kelompok dan
keterampilan sosial
Struktur Tim Kelompok belajar heterogen dengan 4-5 orang anggota
Kerja kelompok dan kerja sama
Kelompok belajar dengan 5-6 anggota homogen
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antarsiswa.
Tujuan pembelajaran kooperatif setidak-tidaknya meliputi tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial
Strategi ini berlandaskan pada teori belajar Vygotsky (1978, 1986) yang menekankan pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung perkembangan kognitif. Selain itu, metode ini juga didukung oleh teori belajar information processing dan cognitive theory of learning. Dalam pelaksanaannya metode ini membantu siswa untuk lebih mudah memproses informasi yang diperoleh, karena proses encoding akan didukung dengan interaksi yang terjadi dalam Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran dengan metode Pembelajaran Kooperatif dilandasakan pada teori Cognitive karena menurut teori ini interaksi bisa mendukung pembelajaran