• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Sampel Selama Penelitian

Selama pemberian jamu Galohgor kepada tikus percobaan, berat badannya ditimbang setiap dua hari sekali. Setelah 14 hari pengamatan atau setara dengan dua kali masa nifas pada manusia (80 hari), tidak tampak perubahan berat badan tikus yang bermakna (Tabel 4 dan Gambar 1). Namun secara deskriptif, tikus yang mendapat jamu dengan dosis yang lebih besar cenderung mengalami peningkatan berat badan yang lebih rendah.

Tabel 4. Berat badan rata-rata tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 8 hari Dosis (g/kgBB) BB (gram) hari ke 0 2 4 6 8 0 186,2 ± 2,17a 184,4 ± 4,16ab 184,6 ± 5,27a 188,2 ± 4,60a 190,4 ± 3,36a 0,74 184,2 ± 2,95a 188,8 ± 3,49b 190,2 ± 4,76a 190,8 ± 17,46a 193 ± 16,12 1,48 a 185 ± 2,92a 182,2 ± 4,15a 184,4 ± 6,69a 186,4 ± 8,17a 186,4 ± 8,17 2,22 a 183,2 ± 3,56a 185 ± 5,15ab 185,8 ±6,02a 187,8 ± 6,06a 187,8 ± 6,06a

Keterangan: huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata secara statistik menurut Duncan Multiple Range Test pada taraf uji 0,05.

Gambar 1. Berat badan rata-rata tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari 170 175 180 185 190 195 200 205 0 2 4 6 8 10 12 14 Be ra t ba da n ( gr am ) Hari pengamatan 0 0.74 1.48 2.22 Dosis (g/kgBB)

(2)

Perubahan berat badan yang tidak bermakna tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab. Kelemahan dalam penelitian ini adalah tidak tersedianya data tingkat konsumsi makanan hewan coba dan jumlah serta kandungan feses hewan coba. Sehingga sulit dijelaskan apakah peningkatan berat badan yang berbeda tersebut sebagai akibat dari tingkat konsumsi yang rendah, pemanfaatan zat gizi dalam tubuh yang berlebihan sebagai akibat dari meningkatnya metabolisme basal, atau karena sebab yang lain.

Efek Jamu Galohgor terhadap Fungsi Ginjal

Ginjal membuang toksikan dari tubuh dengan mekanisme yang serupa dengan mekanisme yang digunakan untuk membuang hasil akhir metabolisme faali, yaitu dengan filtrasi glomerulus, difusi tubuler, dan sekresi tubuler. Ginjal mempunyai volumen aliran darah yang tinggi, mengkonsentrasi toksikan pada filtrat, membawa toksikan melalui sel tubulus, dan mengaktifkan toksikan tertentu (Lu 1995).

Parameter fungsi ginjal dapat diamati dari análisis darah seperti kadar nitrogen urea darah (Blood Urea Nitrogen, BUN) dan kreatinin. Nitrogen urea darah diperoleh dari metabolisme protein normal dan diekskresi melalui urin. Biasanya ureum yang meningkat menunjukkan kerusakan glomerulus. Namun, kadar ureum juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya zat makanan dan hepatotoksisitas yang merupakan efek umum beberapa toksikan. Sedangkan kreatinin adalah suatu metabolit kreatin dan diekskresi seluruhnya dalam urin melalui filtrasi glomerulus. Dengan demikian, meningkatnya kadar kreatinin dalam darah merupakan indikasi rusaknya fungsi ginjal (Lu 1995).

Analisis kadar ureum serum tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari menunjukkan bahwa kadar ureum serum pada tikus meningkat secara nyata, diakibatkan oleh peningkatan dosis jamu yang diberikan (p<0,01), seperti ditunjukkan oleh Tabel 5 dan Gambar 2. Namun besarnya kadar ureum serum pada tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari dengan dosis hingga mencapai 2,22 gram/kgBB tersebut masih berada dalam nilai yang normal, yaitu berkisar antara 5,0 hingga 59,0 mg/dl (Mitruka and Rawnsley 1981, Loeb and Quimby 1989).

(3)

Tabel 5. Kadar rata-rata ureum serum, kreatinin serum, dan protein urin tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari

Dosis Jamu (gram/kgBB) Kadar rata-rata ureum (mg/dl) Kadar rata-rata kreatinin (mg/dl) Protein Urin 0 (kontrol) 19,00 ± 2,12a 0,64 ± 0,09a Negatif 0,74 25,20 ± 4,55b 0,76 ± 0,05b Negatif 1,48 32,40 ± 2,70c 0,84 ± 0,05bc Negatif 2,22 43,80 ± 6,30d 0,88 ± 0,04c Negatif

Keterangan: huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata secara statistik menurut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 0,05.

Analisis menggunakan regresi linier menghasilkan sebuah persamaan matematis berikut:

y = 11,232x + 17,506

dengan y adalah kadar ureum serum dan x adalah dosis jamu Galohgor Penghitungan secara matematis menunjukkan bahwa kadar ureum serum tertinggi yang masih berada dalam rentang normal dapat tercapai bila tikus diberikan jamu Galohgor dengan dosis 3,69 g/kgBB atau 9,98 kali lipat dari dosis yang umumnya dikonsumsi ibu menyusui. Pemberian jamu Galohgor dengan dosis yang lebih tinggi akan menyebabkan kadar ureum meningkat diatas normal.

Nitrogen urea darah diperoleh dari metabolisme protein normal dan diekskresi melalui urin. Biasanya ureum yang meningkat menunjukkan kerusakan glomerulus. Namun, kadar ureum juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya zat makanan dan hepatotoksisitas yang merupakan efek umum beberapa toksikan (Lu 1995)

(4)

Gambar 2. Kadar rata-rata ureum serum tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari

Hasil analisis kadar kreatinin serum tikus juga menunjukkan bahwa peningkatan dosis jamu Galohgor mengakibatkan peningkatan kadar kreatinin serum secara nyata (p<0,01) setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari (Tabel 5 dan Gambar 3). Kadar rata-rata kreatinin serum tikus tersebut juga masih berada dalam rentang normal yang berkisar antara 0,22 hingga 1,00 mg/dl (Darling and Morris 1991, Baker and Miller 1939). Kreatinin adalah suatu metabolit kreatin dan diekskresi seluruhnya dalam urin melalui filtrasi glomerulus. Dengan demikian, meningkatnya kadar kreatinin dalam darah merupakan indikasi rusaknya fungsi ginjal (Lu 1995).

Analisis menggunakan regresi linier menghasilkan suatu persamaan matematis, yaitu:

y = 0,103x + 0,668

dengan y adalah kadar kreatinin serum dan x adalah dosis jamu Galohgor Penghitungan secara matematis menunjukkan bahwa kadar kreatinin serum tertinggi yang masih berada dalam rentang normal dapat tercapai bila tikus diberikan jamu Galohgor dengan dosis 3,22 g/kgBB atau 8,71 kali lipat dari dosis yang umumnya dikonsumsi ibu menyusui. Pemberian jamu Galohgor dengan dosis yang lebih tinggi akan menyebabkan kadar kreatinin meningkat diatas normal. 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 0 0,74 1,48 2,22 Ka da r ur eum se rum (m g/ dl )

(5)

Pemberian jamu Galohgor hingga dosis 2,22 gram/kgBB pada tikus selama 14 hari tidak menyebabkan adanya kebocoran filtrasi glomerulus pada ginjal tikus, yang ditunjukkan dengan tidak didapatkannya protein dalam urin tikus (Tabel 5). Normalnya, protein tidak didapatkan di dalam urin. Sel endotel glomerulus yang normal membentuk sebuah sawar dengan pori-pori sebesar 100 nm yang mencegah partikel-partikel dengan ukuran yang lebih besar untuk keluar ke dalam urin. Membran basal glomerulus mampu mencegah protein molekul besar yang berukuran lebih dari 100 kDa untuk keluar melalui urin. Adanya protein dalam urin menunjukkan adanya kebocoran filtrasi glomerulus (Denker and Brenner 2001). Sama halnya dengan manusia, pada urin tikus yang normal juga tidak didapatkan protein. Adanya protein dalam urin tikus juga menunjukkan kebocoran dalam ginjal tikus (Mitruka and Rawnsley 1981, Loeb and Quimby 1989).

Gambar 3. Kadar rata-rata kreatinin serum tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari

Peningkatan kadar ureum dan kreatinin serum pada tikus selama pemberian jamu Galohgor dengan dosis bertingkat menunjukkan bahwa peningkatan dosis jamu Galohgor mempengaruhi fungsi ginjal tikus, walaupun pada dosis tertinggi yang diberikan fungsi ginjal tikus masih berada dalam rentang yang normal. Terdapat kemungkinan, bila dosis jamu Galohgor terus ditingkatkan,

0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 0 0,74 1,48 2,22 Ka da r k re at ini n s er um (m g/ dl )

(6)

maka akan terjadi perburukan fungsi ginjal dan kerusakan ginjal itu sendiri, mengingat tingginya kadar ureum dan kreatinin yang melebihi batas normal merupakan petanda adanya gangguan fungsi ginjal. Hal ini akan berlanjut dengan terjadinya kebocoran glomerulus, yang ditandai dengan didapatkannya protein dalam urin atau proteinuria. Protein yang memiliki berat molekul besar akan melewati membran basal glomerulus yang bocor, sehingga terekskresikan bersama dengan urin (Lu 1995, Brady and Brenner 2001, Denker and Brenner 2001).

Bahan herbal atau obat yang bersifat nefrotoksik dapat menyebabkan kerusakan pada nefron, unit terkecil dari ginjal. Nefrotoksin menyebabkan iskemia dan nekrosis fokal pada epitel tubulus, sehingga tubulus ginjal terlepas dari membrana basalis. Nekrosis paling parah terjadi pada tubulus proksimal, dan kemudian menyebabkan kerusakan ansa Henle. Kerusakan ginjal diawali oleh insufisiensi renal, dimana terjadi penurunan fungsi ginjal yang tampak dari pemeriksaan faal ginjal. Proses ini awalnya terjadi perlahan, dan dapat berlanjut menjadi kronis dan progresif. Sedangkan pemberian bahan herbal dosis tinggi dalam jangka pendek juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal akut yang berupa gagal ginjal akut. Kerusakan yang terjadi berupa nekrosis epitel tubulus, yang disebut sebagai nekrosis tubuler akut (Acute Tubular Necrosis, ATN) hingga fibrosis interstisial yang meluas dan disertai terlepasnya epitel tubulus. Namun fibrosis renal umumnya terjadi setelah pemakaian bahan herbal dalam jangka panjang (Brady and Brenner 2001, Keppel and Calissi 2002, Peña et al. 1996, Albright 2001, Martinez et al. 2002).

Keppel dan Calissi (2002) menyebutkan bahwa insufisiensi renal yang berkelanjutan akan menyebabkan End Stage Renal Disease (ESRD), atau penyakit ginjal tahap akhir. Penyebab utama ESRD adalah diabetes, yang diikuti oleh penyakit vaskuler. Umumnya, penderita insufisiensi renal telah mengkonsumsi berbagai obat untuk mengatasi penyakit yang mendasarinya, seperti diabetes. Obat yang dikonsumsi oleh penderita dapat bervariasi, baik obat-obatan yang berasal dari industri farmasi, ataupun obat-obat herbal yang dijual bebas di pasaran. Penderita insufisiensi renal didiagnosis melalui pemeriksaan penunjang, selain melalui penggalian riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan

(7)

penunjang utama yang digunakan adalah pemeriksaan kadar kreatinin serum dan bersihan kreatinin (creatinine clearance) yang mencerminkan fungsi ginjal penderita.

Insufisiensi renal yang terjadi karena konsumsi obat-obatan dan bahan herbal dapat terjadi secara cepat dan progresif, kemudian menyebabkan terjadinya gagal ginjal akut, seperti dinyatakan oleh Albright (2001). Nefritis intersitisial fibrotik adalah salah satu peyebab gagal ginjal akut dengan kerusakan intrarenal. Obat-obatan dan bahan herbal adalah penyebab utama nefritis interstisial fibrotik. Bahan herbal yang berasal dari Cina telah banyak terbukti menimbulkan gangguan ini, sehingga disebut sebagai sindroma nefropati akibat bahan herbal Cina. Sindroma ini ditandai dengan gagal ginjal progresif, ditemukannya banyak sedimen urin, pengerutan ukuran ginjal dengan proteinuria ringan, dan dihubungkan dengan adanya kejadian kanker uroepitelial.

Peña et al. (1996) dan Martinez et al. (2002) melakukan penelitian yang serupa terhadap bahan herbal yang berbeda dari Cina, dan melihat pengaruhnya terhadap fungsi ginjal. Keduanya menyimpulkan bahwa penggunaan bahan herbal dengan dosis rendah dalam jangka waktu yang lama menimbulkan akumulasi bahan herbal tersebut dalam ginjal. Pada gambaran histologis jaringan ginjal didapatkan fibrosis interstisial yang meluas dengan gambaran atrofi dan hilangnya integritas tubulus ginjal. Jangka waktu konsumsi bahan herbal yang semakin lama akan menimbulkan gangguan ginjal yang semakin berat, hingga dapat terjadi ESRD. Kajian epidemiologis juga menunjukkan adanya keterkaitan antara tingkat konsumsi bahan herbal dengan meningkatnya prevalensi gagal ginjal akut di beberapa negara di Eropa.

Tidak hanya bahan herbal dari Cina saja yang dapat menimbulkan gangguan fungsi ginjal. Dasgupta dan Bernard (2006) serta Mythilypriya et al. (2007) menyatakan bahwa beberapa jamu dari India yang berasal dari beberapa bahan herbal menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara progresif, pengerutan ukuran ginjal, serta perubahan histologis jaringan ginjal. Selain itu, bahan-bahan herbal tersebut juga berinteraksi dengan obat-obatan, sehingga memperberat kerusakan ginjal yang terjadi. Kemungkinan terjadinya karsinogenesis akibat bahan-bahan herbal juga diunkap oleh para peneliti tersebut.

(8)

Di Afrika, Tédong et al. (2007), Sheir (2001), dan Aniagu et al. (2005) menemukan bahwa jamu yang terdiri dari bebrapa bahan herbal menimbulkan gangguan fungsi ginjal pada hewan coba, bila diberikan dalam dosis tinggi dan waktu yang singkat, yaitu tidak lebih dari 30 hari. Pemberian bahan herbal dalam dosis rendah dan jangka waktu yang singkat tidak mengakibatkan gangguan anatomis dan fungsi ginjal yang bermakna. Gangguan ginjal yang timbul selanjutnya akan menyebabkan gangguan fungsi organ yang lain, seperti hati. Dalam beberapa penelitian tersebut juga diungkapkan adanya perubahan anatomis pada ginjal, yang ditunjukkan oleh hilangnya integritas tubulus ginjal.

Tidak jauh berbeda dengan penelitian-penelitian mengenai bahan herbal yang berasal dari Asia dan Afrika, Gabardi et al. (2007) dan Tagliati (2008) menguji bahan herbal yang sudah terdaftar di Amerika Serikat dan Brasil terkait pengaruhnya terhadap fungsi ginjal. Penggunaan bahan herbal terdaftar tersebut tidak memberikan efek negatif pada organ-organ tubuh bila digunakan pada rentang dosis yang tepat. Karena produk tersebut telah beredar luas dan dapat diperoleh tanpa menggunakan resep dokter, konsumen cenderung untuk tidak memperhatikan dosis dan aturan pakai bahan herbal. Konsumen menganggap bahwa bahan herbal cenderung lebih aman, sehingga dikonsumsi berlebihan. Hal ini justru merugikan konsumen, karena mendorong terjadinya disfungsi ginjal hingga gagal ginjal akut. Edukasi yang tepat pada masyarakat mengenai penggunaan bahan herbal mutlak diperlukan untuk menghindari terjadinya perburukan fungsi ginjal pada konsumen bahan herbal.

Bahan herbal dapat bersifat nefrotoksik oleh karena senyawa-senyawa yang dikandungnya, atau karena adanya senyawa lain yang berasal dari luar, misalnya adanya logam berat, pestisida, atau bahan kimia lainnya yang terdapat di tempat bahan herbal tersebut tumbuh. Selama ini bahan herbal yang banyak diteliti berasal dari Asia utamanya Cina, Afrika, dan Amerika Latin. Bahan-bahan tersebut diaplikasikan kepada manusia sebagai bahan tunggal dari satu jenis tanaman, atau bahan majemuk yang terdiri dari beberapa tanaman, misalnya jamu Galohgor. Pada bahan yang terdiri dari beberapa tanaman, dapat terjadi interaksi antar senyawa dari berbagai tanaman tersebut, dengan hasil akhir yang seringkali sulit diramalkan. Bahan-bahan tersebut dapat saling meniadakan efek toksiknya,

(9)

dan sebaliknya. Hasil metabolit akhir dari bahan herbal tersebut yang pada umumnya mempengaruhi fungsi ginjal, serta merusak struktur intrinsik ginjal secara anatomis. Edukasi pada masyarakat untuk menggunakan bahan herbal dengan dosis yang tepat menjadi mutlak diperlukan karenanya (Dasgupta and Bernard 2006, Mythilypriya et al. 2007, Tédong et al. 2007, Sheir 2001, Aniagu et al. 2005, Gabardi et al. 2007, Tagliati 2008)

Efek Jamu Galohgor terhadap Fungsi Hati

Hati terlibat dalam metabolisme zat makanan serta sebagian besar obat dan toksikan. Toksikan biasanya dapat mengalami detoksifikasi, tetapi banyak toksikan dapat dibioaktifkan dan menjadi lebih toksik. Beberapa enzim serum digunakan sebagai indikator kerusakan hati. Bila terjadi kerusakan hati, enzim ini dilepaskan ke dalam darah dari sitosol dan organel subsel, seperti mitokondria, lisosom, dan nukleus. Aspartat aminotransferase (SGPT) dan glutamat oksaloasetat transaminase (SGOT) meningkat nyata sekali pada keadaan nekrosis hati akut. Kerusakan hati dapat terjadi sebagai akibat dari paparan sejumlah bahan kimia atau obat-obatan, melalui inhalasi, ingesti, atau parenteral. (Lu 1995, Guyton 1999).

Analisis kadar enzim alanin aminotransferase (ALT) atau yang lebih banyak dikenal sebagai SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) pada tikus yang diberi perlakuan jamu Galohgor menunjukkan pahwa peningkatan kadar SGPT dipengaruhi secara nyata oleh peningkatan dosis jamu Galohgor (p<0,01), seperti tampak pada Tabel 6 dan Gambar 4. Kadar SGPT tersebut hampir mencapai ambang batas nilai normalnya pada tikus, yaitu antara 35,9 hingga 81,6 IU/l (Mitruka and Rawnsley 1981, Loeb and Quimby 1989). Enzim ini mengkatalisis reaksi pemindahan gugus amino antara L-alanin dan asam α -ketoglutarat menjadi piruvat dan glutamat. SGPT merupakan enzim yang spesifik pada hati. Peningkatan kadar enzim ini dalam darah dapat menunjukkan adanya kerusakan pada hati. Keadaan serupa juga terjadi pada peradangan hati (hepatitis) dengan berbagai sebab, seperti infeksi atau hepatitis yang terjadi akibat alkoholisme (Dienstag and Isselbacher 2001, Anuforo et al. 1978).

(10)

Tabel 6. Kadar rata-rata SGPT, SGOT, dan total protein serum tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari

Dosis Jamu (gram/kgBB) Kadar rata-rata SGPT (mg/dl) Kadar rata-rata SGOT (mg/dl)

Kadar rata-rata total protein serum (g/dl) 0 (kontrol) 56,60 ± 7,02a 39,20 ± 5,26a 9,08 ± 1,16a 0,74 61,40 ± 6,73ab 50,20 ± 1,92b 8,24 ± 0,16 1,48 b 65,00 ± 2,83bc 57,40 ± 2,07c 7,72 ± 0,22 2,22 b 71,60 ± 4,72c 71,80 ± 5,21d 5,88 ± 0,36c

Keterangan: huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata secara statistik menurut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 0,05.

Gambar 4. Kadar rata-rata SGPT tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari

Hasil analisis dengan menggunakan regresi linier menghasilkan sebuah persamaan, yaitu:

y = 7,512x + 54,729

dengan y adalah kadar SGPT dan x adalah dosis jamu Galohgor

Penghitungan secara matematis menunjukkan bahwa kadar SGPT tertinggi yang masih berada dalam rentang normal dapat tercapai bila tikus diberikan jamu Galohgor dengan dosis 3,58 g/kgBB atau 9,67 kali lipat dari dosis yang umumnya

0 10 20 30 40 50 60 70 80 0 0,74 1,48 2,22 Kad ar S GP T (IU /l )

(11)

dikonsumsi ibu menyusui. Pemberian jamu Galohgor dengan dosis yang lebih tinggi akan menyebabkan kadar SGPT meningkat diatas normal.

Kadar rata-rata enzim Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) atau aspartat transferase (AST) pada tikus yang diberi perlakuan jamu Galohgor juga meningkat secara nyata (p<0,01) sebagai akibat peningkatan dosis jamu Galohgor (Tabel 6 dan Gambar 5). Kadar SGOT normal pada tikus berkisar antara 35,7 hingga 168 IU/l (Mitruka and Rawnsley 1981, Loeb and Quimby 1989). Peningkatan kadar enzim ini tidak spesifik menunjukkan disfungsi hati, karena enzim tersebut juga didapatkan pada otot rangka, pankreas, dan beberapa organ lain. Namun peningkatannya yang disertai peningkatan kadar SGPT tanpa disertai kerusakan atau disfungsi organ lain mampu menunjukkan adanya kerusakan pada hati (Dienstag and Isselbacher 2001, Anuforo et al. 1978).

Gambar 5. Kadar rata-rata SGOT tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari

Analisis menggunakan regresi linier menghasilkan sebuah persamaan, yaitu:

y = 13,688x + 39,765

dengan y adalah kadar SGOT dan x adalah dosis jamu Galohgor

Penghitungan secara matematis menunjukkan bahwa kadar SGOT tertinggi yang masih berada dalam rentang normal dapat tercapai bila tikus diberikan jamu

0 10 20 30 40 50 60 70 80 0 0,74 1,48 2,22 Kad ar S GO T (IU /l )

(12)

Galohgor dengan dosis 9,37 g/kgBB atau 25,32 kali lipat dari dosis yang umumnya dikonsumsi ibu menyusui. Pemberian jamu Galohgor dengan dosis yang lebih tinggi akan menyebabkan kadar SGOT meningkat diatas normal.

Hati adalah organ utama yang diteliti dalam menentukan toksisitas suatu bahan, karena proses detoksifikasi terjadi di hati. Hepatitis adalah gangguan fungsi hati pertama dan utama yang terjadi akibat penggunaan bahan herbal, seperti dinyatakan oleh Shad dan Brann (1999), Laliberté dan Villeneuve (1996), serta Currie dan Clough (2003). Gangguan fungsi hati ditunjukkan dengan peningkatan kadar SGPT dan SGOT, sebuah pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan di negara berkembang. Bahan herbal yang diteliti berasal dari belahan dunia yang berbeda, yaitu dari Perancis, Amerika Utara, dan Kepulauan Pasifik. Hasil yang sama diperoleh dari berbagai penelitian tersebut, yaitu terjadinya hepatitis pada penderita yang mengkonsumsi bahan herbal dalam dosis yang tinggi dan jangka waktu yang lama. Gambaran histopatologis menunjukkan terjadinya nekrosis yang semakin meluas, seiring dengan semakin tingginya dosis dan semakin panjangnya jangka waktu konsumsi bahan herbal. Bahan herbal juga memiliki efek yang berbeda pada fungsi spesifik hati. Teucrium chamaedrys yang berasal dari Perancis selain menyebabkan hepatitis, juga menyebabkan gangguan metabolism kolesterol dan sistem bilier, sehingga gejala ikterus lebih jelas terlihat. Shad dan Brann (1999) yang meneliti beberapa bahan herbal di Amerika Utara menemukan bahwa sebagian besar bahan herbal yang diteliti selain menyebabkan hepatitis, juga mengganggu fungsi pembekuan darah.

De Smet et al. (1996) menemukan adanya kasus interaksi antara bahan herbal terdaftar dengan Levothyroxine dan Ibuprofen yang menginduksi terjadinya hepatitis. Gejala klinis utama yang tampak pada penderita adalah adanya ikterus, nausea, dan pruritus. Pemeriksaan fisik, laboratorium, dan penggalian riwayat terapi menunjukkan bahwa penderita menggunakan bahan herbal terdaftar tanpa sepengetahuan dokter yang merawatnya, yang menggunakan obat-obat tersebut. Edukasi pada penderita menjadi salah satu kunci untuk menghindari terjadinya kasus yang serupa.

Penggunaan bahan herbal yang sudah teruji sekalipun harus memperhatikan variasi individu yang mengkonsumsinya. Bahan yang sudah

(13)

terdaftar dan melalui uji toksisitas pada hewan coba dan telah diujikan secara klinis pada manusia juga memiliki batasan-batasan tertentu, seperti obat-obatan lainnya. Jus buah noni yang tidak toksik pada hewan coba, seperti diteliti oleh West et al. (2006a) juga terbukti aman dalam uji klinis pada manusia (West et al. 2006b).

Stadlbauer et al. (2005) menemukan adanya interaksi antara jus buah noni dengan Paracetamol, yang menginduksi terjadinya hepatitis dan gangguan sistem bilier pada seorang penderita. Pemeriksaan sitologi hati pada penderita tersebut menunjukkan adanya nekrosis hepatosit dan infiltrasi sel-sel radang pada ductus hepaticus. Penderita lain yang berusia lanjut juga mengalami perburukan disfungsi hati setelah konsumsi jus buah noni. Pemeriksaan sitologi hati pada penderita tersebut menunjukkan adanya nekrosis hepatosit pada area sentrilobular yang disertai adanya infiltrat sel-sel radang.

Kerusakan hati akibat bahan herbal umumnya ditandai dengan peningkatan enzim-enzim hati, seperti SGPT dan SGOT. Pada beberapa bahan herbal yang bersifat hepatotoksik berat, enzim-enzim lain juga meningkat kadarnya, seperti laktat dehidrogenase dan alkalin fosfatase. Sedangkan pada beberapa bahan herbal lainnya, kerusakan hati juga diikuti oleh gangguan sistem bilier dan metabolisme kolesterol. Pada pemberian bahan herbal dosis tinggi dalam jangka waktu yang singkat, dapat terjadi hepatitis akut, sedangkan pada penggunaannya dalam jangka panjang dapat mengakibatkan perlemakan hati hingga nekrosis hati yang meluas. Kerusakan hati tersebut dapat terjadi karena bahan-bahan herbal tersebut mengalami metabolisme dan detoksifikasi di hati. Sebagian bahan herbal menghasilkan metabolit antara yang bersifat hepatotoksik, sehingga menyebabkan kerusakan hati, baik akut maupun kronis (Shad and Brann 1999, Laliberté and Villeneuve 1996, de Smet et al. 1996, Currie and Clough 2003).

Kadar total protein serum pada tikus yang diberi perlakuan jamu Galohgor semakin menurun secara nyata (p<0,01) sebagai akibat dari peningkatan dosis jamu Galohgor (Tabel 7 dan Gambar 6). Seperti kadar SGPT dan SGOT, kadar protein serum pada tikus yang diberi perlakuan jamu Galohgor juga masih berada

(14)

dalam rentang nilai normalnya, yaitu 4,3 hingga 10,7 g/dl. Analisis dengan menggunakan regresi linier menghasilkan persamaan:

y = -1,308x + 9,146

dengan y adalah kadar total protein serum dan x adalah dosis jamu Galohgor

Penghitungan secara matematis menunjukkan bahwa kadar total protein serum terendah yang masih berada dalam rentang normal dapat tercapai bila tikus diberikan jamu Galohgor dengan dosis 3,70 g/kgBB atau 10 kali lipat dari dosis yang umumnya dikonsumsi ibu menyusui. Pemberian jamu Galohgor dengan dosis yang lebih tinggi akan menyebabkan kadar total protein serum turun dibawah normal.

Gambar 6. Kadar rata-rata total protein serum tikus setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari

Total protein serum merupakan gabungan dari seluruh protein sederhana dan kompleks yang beredar di dalam tubuh. Sebagian besar protein disintesa di hati, sehingga penurunan kadarnya menunjukkan adanya gangguan pada kemampuan sintesa protein oleh hati. Gangguan tersebut umumnya disebabkan oleh kerusakan hati. Selain itu, kerusakan ginjal menyebabkan lolosnya protein ke dalam urin, sehingga seolah-olah kadar protein serum menjadi berkurang.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 0,74 1,48 2,22 Ka da r t ot al pr ot ei n s er um (g /dl )

(15)

Kurang energi dan protein (KEP) dan penyakit-penyakit yang menyebabkan penurunan status gizi, seperti sindrom malabsorbsi juga menyebabkan rendahnya kadar total protein serum. Hati memiliki mekanisme kompensasi yang sangat baik. Hal ini ditunjukkan pada disfungsi hati akibat penggunaan bahan herbal, sintesa protein cenderung berada dalam rentang yang normal, walaupun kadarnya rendah dalam darah. Selain itu, hati juga memiliki kemampuan regenerasi yang baik, sehingga apabila penggunaan suatu bahan hepatotoksik dihentikan, maka hati akan melakukan regenerasi untuk mengganti sel-selnya yang rusak (Schreiber et al. 1971, Steinert 2009, Orhue et al. 2005, Karimi and Hayatghaibi 2006, Kandasamy et al. 2010, Antai et al. 2009).

Gambar

Tabel  4. Berat badan rata-rata tikus setelah pemberian jamu Galohgor  selama  8  hari  Dosis  (g/kgBB)  BB (gram) hari ke  0  2  4  6  8  0  186,2 ± 2,17 a 184,4 ± 4,16 ab 184,6 ± 5,27 a 188,2 ± 4,60 a 190,4 ± 3,36 a 0,74  184,2 ± 2,95 a 188,8 ± 3,49 b 19
Tabel 5. Kadar rata-rata  ureum  serum, kreatinin  serum, dan protein urin tikus  setelah pemberian jamu Galohgor selama 14 hari
Gambar 2.    Kadar rata-rata ureum serum tikus setelah pemberian jamu Galohgor  selama 14 hari
Gambar 3. Kadar rata-rata kreatinin serum tikus setelah pemberian jamu Galohgor  selama 14 hari
+4

Referensi

Dokumen terkait

SKS matakuliah Pilihan =

Solusinya adalah melibatkan perempuan dalam banyak bidang, sehingga meskipun terjadi ketimpangan gender, perempuan mampu mencari nafkah dan mengurus rumah tangga,

Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu. hingga terselesaikannya

Setelah menganalisa kegiatan- kegiatan apa saja yang akan dilakukan untuk menghasilkan sebuah sistem informasi dari perangkat lunak yang akan dibuat maka selanjutnya adalah

Inform consent dan kuesioner kepada subjek melakukan penelitian ke atas mahasiswa.. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan bisa menghambat masyarakat untuk mencintai dan menyenangi buku sebagai sumber informasi/ dan perlu diantisipasi/ antara

Setelah dilakukan pengujian, komposit menunjukkan peningkatan kekuatan tarik dengan kekuatan tarik maksimum terjadi pada komposit yang mengalami proses perlakuan panas ( curing)

Sahabat MQ/ Sebanyak 17 anggota Jamaah Tabligh berkewarganegaraan Filipina yang sedang melakukan khuruj perjalanan dakwah dari masjid ke masji ditahan di Markas Polda