PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI FPB
DAN KPK MELALUI STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING
(SFAE) DI KELAS VI SD NEGERI 2 SUKORAME KECAMATAN
GANDUSARI KABUPATEN TRENGGALEK SEMESTER I
TAHUN 2013/2014
Oleh: Suwito
SDN 2 Sukorame, Gandusari, Trenggalek
Abstrak. Kemampuan kepala sekolah dalam supervisor sekolah dapat dilakukan melalui pembinaan profesionalisme guru dalam rangka meningkatkan kinerja dan kualitas pembelajaran. Metode pembelajaran yang modern tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi tersebut diharapkan mampu mendorong siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Guru sebagai pelaksana pendidikan terdepan, harus mampu merencanakan suatu strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik, untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa melalui kegiatan belajar mengajar di kelas. Model Pembelajaran Student facilitator and explaining (SFAE) merupakan model pembelajaran dimana siswa/peserta didik belajar mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide/gagasan atau pendapatnya sendiri. Dari konsep pendekatan student facilitator and explaining tersebut di atas, peneliti akan mencoba melakukan suatu usaha penelitian tindakan (Action Research) dalam meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas VI Semester I tahun 2013/2014 SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek melalui pendekatan student facilitator and explaining.
Tujuan penelitian ini diharapkan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: (1) Kolaborasi peneliti selaku kepala sekolah dengan guru kelas VI dalam menerapkan model belajar student facilitator and explaining sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika materi FPB dan KPK siswa Kelas VI Semester I tahun 2013/2014 SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek dalam kegiatan belajar mengajar, (2) Pencapaian prestasi belajar siswa Kelas VI dalam pembelajaran matematika setelah diterapkannya model belajar student facilitator and explaining. Lokasi penelitian tindakan ini adalah SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek. Sedangkan Obyek dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut adalah faktor perbedaan kemampuan belajar antara siswa, dan kondisi lingkungan lokasi penelitian. Objek penelitian ini adalah siswa Kelas VI Semester I SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek tahun 2013/2014 yang berjumlah 17 siswa. Hal ini dapat dilihat dari perolehan prestasi belajar siswa pada awal siklus diperoleh rata-rata rata-rata hasil belajar siswa pada sebelum siklus hanya sebesar 62.94, pada siklus I sebesar 71.76 dan pada siklus II sebesar 87.06. Ketuntasan sebelum siklus 41.18%, siklus I 70.59% dan ketuntasan pada siklus II sebesar 100%.
Kata Kunci: Student facilitator and explaining, Matematika, Kelas VI
Pendidikan merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa pendidikan yang memadai suatu bangsa akan mengalami ketertinggalan bahkan kemerosotan pada segala bidang. Oleh sebab itu tujuan pendidikan nasional mengacu pada pembentukan pribadi yang
dewasa dan berkualitas, bermutu, berilmu pengetahuan serta bertakwa, dengan mengu-payakan pendidikan dan pengelolaannya de-ngan baik, benar, teratur, terarah dan ber-kesinambungan.
Dunia pendidikan merupakan satu sis-tem, maka dalam mewujudkan tujuan Pendi-dikan Nasional tersebut tidak terlepas dari keterkaitan dengan sistem-sistem kehidupan lainnya. Kehidupan pemerintah, kehidupan bangsa, dan kehidupan keluarga. Apabila kehidupan-kehidupan ini tidak berjalan seperti mana yang diharapkan maka tujuan Pendidikan Nasional juga akan terimbas pula. Sekolah juga merupakan kehidupan sebuah sistem, yang di dalamnya terdapat komponen-komponen yang saling ketergan-tungan, seperti guru, guru, kurikulum, bahan ajar, siswa dan fasilitas, apabila komponen sebuah sistem tersebut terganggu atau tidak berjalan seperti mana yang diharapkan maka dapat dikatakan kehidupan lembaga tersebut akan terganggu pula.
Sebagai pimpinan di sekolah, Kepala Sekolah juga dituntut untuk memiliki mana-gerial skill, kemampuan sebagai supervisor, dan kemampuan dalam pembinaan kuriku-lum sekolah. Dengan banyaknya tugas serta tuntutan kemampuan seorang guru, maka untuk menjadi seorang guru harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang meliputi syarat formal (jenjang pendidikan dan ijazah), pengalaman kerja dan kepribadian.
Berdasarkan Permendiknas No 13 Ta-hun 2007 mengenai standar kompetensi bagi guru, ada lima aspek kompetensi yang harus ada dalam diri seorang guru yakni: kom-petensi kepribadian yang menyangkut inte-gritas dan kejujuran; kompetensi sosial yang mencakup hubungan antar manusia dan hubungan baik dengan sesama, kompetensi manajerial yang terkait kemampuan guru mengelola sekolah dan sumber daya yang ada di sekolah. Pengembangan (development) merupakan proses yang dibuat untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia
yang diperlukan untuk memecahkan ber-bagai macam persoalan dalam pencapaian tu-juan lembaga, yang dititikberatkan pada self realization atau self development. Menurut Castetter (1996) strategic planning for human resources, recruitment, selection, in-duction, development personel, performance, appraisal, employment justice and conti-nuity, information technology, compensati-on, and bargaining.
Oleh karena itu dalam merencanakan pengembangan personil tidaklah mudah, ada beberapa prosedur yang harus ditempuh dan harus dipertimbangkan. Begitu eratnya ren-cana strategis dengan pengembangan tenaga kependidikan khususnya pendidikan dan pelatihan guru sehingga Castetter (1996: 232) menyebutkan “personel development is
preminet among those process designed by the system to attract, retain, and improve the quality and quantity of staff member needed to solve its problems to achieve its goal”. Kemampuan kepala sekolah dalam supervisor sekolah dapat dilakukan melalui pembinaan profesionalisme guru dalam rang-ka meningrang-katrang-kan kinerja dan kualitas pembelajaran. Metode pembelajaran yang modern tidak mengharuskan siswa meng-hafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi tersebut diharapkan mampu mendorong sis-wa untuk meng-konstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Guru sebagai pelak-sana pendidikan terdepan, harus mampu me-rencanakan suatu strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik, untuk mengembangkan potensi yang ada pa-da diri siswa melalui kegiatan belajar me-ngajar di kelas. Potensi tersebut dapat di-kembangkan oleh siswa apabila di dalam diri siswa terdapat minat untuk mengetahui sesuatu.
Berdasarkan fenomena tersebut, pene-liti akan melakukan suatu kegiatan penepene-litian tindakan (action research) dalam upaya meningkatkan kinerja guru sebagai upaya meningkatkan minat belajar siswa dalam ke-giatan belajar mengajar di kelas, agar diper-oleh peningkatan prestasi belajar dari ma-sing-masing individu siswa yang belajar. Upaya yang dilakukan adalah dengan im-plementasi pendekatan student facilitator and explaining. Model Pembelajaran Student facilitator and explaining (SFAE) meru-pakan model pembelajaran dimana siswa/ peserta didik belajar mempresentasikan ide/ pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide/ gagasan atau pendapatnya sendiri. Dari konsep pendekatan student facilitator and ex-plaining tersebut di atas, peneliti akan mencoba melakukan suatu usaha penelitian tindakan (Action Research) dalam me-ningkatkan prestasi belajar siswa Kelas VI Semester I tahun 2013/2014 SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek melalui pendekatan student facilitator and explaining.
Melalui penelitian tindakan tersebut diharapkan Kepala sekolah bersama guru dapat melakukan upaya meningkatkan pres-tasi belajar siswa melalui strategi pembela-jaran yaitu pendekatan student facilitator and explaining. Penelitian ini diberi judul
“Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Materi FPB dan KPK Melalui Student facilitator and explaining (SFAE) Di Kelas VI SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek Semester I Tahun 2013/2014”.
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan dan jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian tindakan. Menurut Waseso (1994) penelitian tindakan merupakan proses daur ulang, mulai tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan dan pemantauan, refleksi yang mungkin diikuti dengan perencanaan ulang.
Penelitian tindakan bertujuan mengem-bangkan ketrampilan-ketrampilan baru atau cara pendekatan baru untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia faktual (Zuriah, 2003).
Carr dan Kemmis (1986), mengatakan bahwa penelitian tindakan adalah suatu ben-tuk penelaahan inquiry melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendi-dikan tertentu dalam situasi sosial, untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran serta keabsahan.
Setting/Subyek dan Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti dalam kegiatan pe-nelitian ini lebih tepat bila dimaksudkan da-lam kegiatan active participation. Sebab neliti dalam penelitian ini tergolong pada pe-nelitian tindakan. Zuriah (2003) mengatakan bahwa orang yang akan melakukan pene-litian tindakan haruslah terlibat dalarn proses penelitian dari awal. Untuk itu peneliti harus melakukan pengamatan berperan serta dalam penelitian ini.
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian tindakan ini adalah SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandu-sari Kabupaten Trenggalek. Sedangkan Ob-yek dalam penelitian ini ditentukan berdasar-kan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut adalah faktor perbe-daan kemampuan belajar antara siswa, dan kondisi lingkungan lokasi penelitian. Objek
penelitian ini adalah siswa Kelas VI Semes-ter I SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gan-dusari Kabupaten Trenggalek tahun 2013/2014 yang berjumlah 17 siswa.
Metode Pengumpulan Data/Sumber Data
Sumber data yang dimaksudkan adalah manusia dan non manusia. Sumber data manusia dalam penelitian tindakan ini adalah guru Kelas VI Semester I SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek.
Sedangkan sumber data non manusia berupa dokumentasi hasil pengamatan dan catatan observasi peneliti, hasil evaluasi be-lajar, dan dokumen lain yang relevan dengan ruang lingkup penelitian.
Metode/Prosedur Pengumpulan Data
Penggunaan prosedur pengumpulan data yang tepat dapat diperoleh data yang objektif dalam kegiatan penelitian. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan ini diantaranya: (1) Observasi, (2) wawancara, dan (3) dokumentasi.
1. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamat-an dpengamat-an pencatatpengamat-an secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (Zuriah, 2003). Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa.
Ada dua jenis observasi yang dilaku-kan, diantaranya: (a) Observasi langsung, yaitu observasi yang dilakukan dimana ob-server berada bersama objek yang diselidiki, dan (b) Observasi tidak langsung, yaitu ob-servasi atau pengamatan yang dilakukan ti-dak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diteliti. Dengan menggunakan teknik ini, melakukan catatan terhadap basil
observasi dengan menggunakan daftar cek (chek list).
2. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu prosedur terpenting untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, sebab ba-nyak informasi yang diperoleh peneliti me-lalui wawancara.
Menurut Arifin (1998) yang dimaksud dengan wawancara adalah suatu percakapan yang bertujuan memperoleh konstruksi yang terjadi sekarang tentang orang, kejadian, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, pe-ngakuan, kerisauan dan sebagainya.
Wawancara dilakukan peneliti untuk memperoleh data sesuai dengan kenyataan pada saat peneliti melakukan wawancara. Wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada siswa Kelas VI Semester I SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek tahun 2013/2014. Wawancara dalam penelitian ini mengguna-kan jenis wawancara mendalam yang tidak terstruktur. Sebab dalam wawacara tidak terstruktur akan diperoleh informasi seba-nyak-banyaknya yang rahasia, dan sensitif sifatnya sekalipun serta memungkinkan se-kali dicatat semua respons afektif informan yang tampak selama wawancara
3. Dokumentasi
Menurut Zuriah (2003) teknik ini ada-lah cara mengumpulkan data melalui pening-galan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil atau hukum-hukum lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Guba & Lincoln (1981) mengatakan bahwa dokumen dan record dapat digunakan untuk keperluan penelitian karena: (1) Me-rupakan sumber yang stabil, kaya dan men-dorong, (2) Berguna sebagai bukti untuk
suatu pengujian, (3) Sifatnya alamiah sesuai dengan konteks, (4) Hasil pengkajian akan membuka kesempatan untuk lebih memper-luas pengetahuan yang diselidiki.
Metode Analisis Data
Analisis data merupakan proses men-cari dan mengatur secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain yang telah dihimpun oleh peneliti. Pekerjaan analisis meliputi kegiatan mengerjakan data, manata, membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, men-sintesiskannya, mencari pola, menemukan apa yang penting dan apa yang akan peneliti laporkan (Bogdan dan Biklen, 1982).
Miles dan Hubermen (1984) mengata-kan analisis data perlu dilakumengata-kan secara terus menerus selama penelitian berlangsung. Selanjutnya Nasution (1988) mengatakan bahwa analisis data adalah proses menyusun, mengkategorikan data, mencari pola atau tema dengan maksud untuk memahami maknanya.
Moleong (1995:103) mengemukakan bahwa “analisis data adalah proses peng-or-ganisasian dan pengurutan data ke dalam po-la, kategori dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema seperti yang disarankan oleh data”. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif.
Dengan maksud bahwa penelitian des-kriptif dirancang untuk memperoleh infor-masi tentang status gejala pada saat pene-litian dilakukan. Setelah data hasil penepene-litian terkumpul maka, selanjutnya data tersebut disusun secara sistematis. Dengan cara dior-ganisir, kemudian dikerjakan yang akhirnya data tersebut diungkap permasalahan yang penting sesuai dengan topik yang sesuai dengan permasalahan.
Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data dimaksud-kan untuk membuat hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti lebih valid dan reli-abel. Pengecekan keabsahan data ini dilaku-kan peneliti dalam penelitian ini adalah de-ngan cara mencek ulang atau cross cek dari hasil data penelitian yang dihasilkan dengan uji ulang ke lapangan atau lokasi penelitian dengan cara memperpanjang waktu obser-vasi yang mendalam.
Keabsahan data dapat diungkapkan de-ngan, (1) data apa yang masih perlu dicari, (2) pertanyaan apa yang harus dijawab, (3) metode apa yang harus diadakan untuk mencari informasi baru, dan (4) kesalahan apa yang harus diperbaiki. Keabsahan data merupakan konsep penting dalam membuk-tikan kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) suatu hasil penelitian. Dalam penelitian tindakan ini, untuk mengecek ke-absahan data yang diperoleh maka, ada bebe-rapa langkah yang dilakukan oleh peneliti. Diantaranya: (a) Perpanjang siklus kegiatan penelitian, (b) Ketekunan Pengamatan dan (c) Triangulasi.
Tahap-tahap Penelitian dan Cara Pe-ngambilan kesimpulan
Tindakan penelitian yang diren-cana-kan dalam penelitian tindadiren-cana-kan ini adalah sebagai berikut: (1) Menetapkan indikator desain pendekatan student facilitator and explaining yang digunakan dalam proses belajar mengajar. (2) Menyusun strategi pe-nyampaian dan pengelolaan pembelajaran dengan pendekatan student facilitator and explaining yang meliputi: merancang dan menyusun bahan ajar, merancang satuan pelajaran yang digunakan dalam kegiatan proses belajar mengajar. (3) Menyusun meto-de dan alat perekam data yang terdiri atas
catatan lapangan, pedoman observasi, pedoman analisis, dan catatan harian. (4) Menyusun perencanaan teknik pengolahan data didasarkan pada model analisis data penelitian kualitatif.
Berkaitan dengan tindakan penelitian, maka diperlukan suatu langkah-langkah penelitian, agar dalam pelaksanaan penelitian dapat terprogram dengan baik. Menurut Zuriah (2003) mengatakan bahwa penelitian tindakan direncanakan melalui beberapa ta-hap perencanaan, diantarannya: (1) refleksi awal, (2) peneliti merumuskan permasalahan secara operasional, (3) peneliti merumuskan hipotesis tindakan, dan (4) menetapkan dan merumuskan rancangan tindakan.
Tahap 1 Refleksi. Merupakan fase re-fleksi awal yang berarti melakukan rere-fleksi terhadap situasi yang sebenarnya, setelah merumuskan tema penelitian.
Tahap 2 Perencanaan. Merupakan fase perencanaan yang dilakukan setelah melaku-kan fase pertama, perlu mereview analisis awal yang harus dilakukan, tentang pende-katan student facilitator and explaining da-lam kegiatan belajar mengajar pada siswa Kelas VI Semester I SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trengga-lek. Dalam tahap ini diharapkan (a) dapat menterjemahkan gambaran yang jelas ten-tang pendekatan student facilitator and explaining dalam proses belajar mengajar, dan alasan pemilihan tema tersebut, (b) draf kerja tindakan tiap individu dan kelompok, (c) gambaran tentang pihak yang terlibat, (d) garis besar rencana program kerja (time schedulle), (e) memonitor perubahan saat penelitian berlangsung dan (1) gambaran awal tentang efisiensi data yang terkumpul.
“Tahap ini memastikan bahwa siswa Kelas VI Semester I SD Negeri 2 Sukorame Keca-matan Gandusari Kabupaten Trenggalek
dijadikan sebagai obyek penelitian dengan pertimbangan karakteristik yang dimiliki kelas ini sesuai dengan permasalahan yang akan di bahas oleh peneliti.
Tahap 3 Tindakan Observasi. Tahap ini merupakan tahap penjabaran rencana ke dalam tindakan dan mengamati jalannya tindakan. Menurut Nasution (1988) yang di-maksud dengan observasi adalah dasar se-mua ilmu pengetahuan selama di lapangan, peneliti berusaha berinteraksi dengan subjek secara aktif, sebab observasi adalah kegiatan selektif dari suatu proses aktif. Dimaksudkan untuk mengetahui keadaan obyek penelitian sebelum peneliti melakukan penelitian sesuai dengan kenyataan yang ada.
Tahap 4. Refleksi Akhir. Tahap ini ter-diri dari: (a) menganalisis, (b) melakukan sintesis, (c) memberikan makna, (d) eks-planasi, dan (e) membuat simpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Siklus I
Dengan pembelajaran student facilita-tor and explaining diharapkan motivasi belajar siswa dalam mata Pelajaran Mate-matika dapat mengalami peningkatan yang berarti, sebab dalam proses belajar dengan pendekatan ini siswa lebih aktif dan selalu melakukan kegiatan belajar sesuai dengan kemampuan siswa selaku pelajar. Melihat hasil siklus I banyak mengalami peningkatan dibandingkan dengan nilai pra siklus.
Setiap siswa memiliki berbagai kebu-tuhan, meliputi kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial. Kebutuhan menimbulkan dorong-an untuk berbuat. Perbuatdorong-an-perbuatdorong-an ydorong-ang dilakukan, termasuk perbuatan belajar dan bekerja, dimaksudkan untuk memuaskan kebutuhan tertentu dan untuk mencapai tujuan tertentu pula. Setiap saat kebutuhan dapat berubah dan bertambah.
Atas dasar pernyataan tersebut diatas, maka aktivitas siswa dalam belajar perlu ditingkatkan dengan suatu strategi/ pende-katan pembelajaran yang dapat mening-katkan aktivitas siswa. Pendekatan student facilitator and explaining salah satu pen-dekatan yang ditawarkan peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini.
Tabel 1 Rekapitulasi Aktivitas Siswa Siklus I
No Aktivitas Belajar Siswa P1 P2 Nilai ∑ 1 Sikap siswa saat guru
melakukan apersepsi 2 3 5 2 Kerjasama siswa dalam
kelompok 1 2 3
3 Tanggung jawab siswa dalam kelompok
1 2 3 4 Keberanian siswa dalam
mengemukakan pendapat atau pertanyaan
1 2 3 5 Komunikasi siswa dalam
kelompok 1 2 3
6 Kemampuan siswa menghubungkan materi dengan kegiatan sehari-hari
1 2 3 7 Ketepatan dan kecepatan
siswa dalam menjawab persoalan yang diberikan oleh guru
2 2 4
8 Komunikasi siswa dengan guru 2 2 4 9 Komunikasi siswa dengan
teman sebaya 2 2 4
10 Kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan
1 2 3
Jumlah 35
%Rata-rata 43.75
Dari data tersebut menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar masih terpengaruh oleh strategi konvensional dalam artian komuni-kasi satu arah yang disampaikan oleh guru pada kegiatan belajar mengajar sebelumnya. Dari 17 responden, diperoleh persentase
keaktifan 43,75%. Dari hasil persentase ter-sebut menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar mulai me-nunjukkan aktivitas yang berarti.
Berdasarkan hasil pada siklus I, renca-na perbaikan tindakan yang dilakukan pada siklus berikutnya adalah sebagai berikut
“Guru lebih memotivasi siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran”.
Guru memotivasi siswa khususnya sis-wa dengan kemampuan sedang dan rendah untuk lebih aktif dalam kegiatan diskusi. Selanjutnya untuk membuktikan keefektifan Pendekatan student facilitator and explain-ing dalam kegiatan belajar mengajar dalam upaya peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa Kelas VI Semester I SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek, akan dijabarkan lebih lanjut pada kegiatan siklus II.
Siklus 2
Hasil siklus 1 belum mampu mencapai ketuntasan minimal yaitu 85.00% sehingga perlu dilakukan siklus II. Peneliti sudah memperbaiki semua aspek yang kurang pada siklus I.
Hasil nilai siklus II mengalami pening-katan yang signifikan, ini dibuktikan dengan nilai rata-rata siswa adalah 87.06 dengan ketuntasan belajar sebesar 100%. Dengan hasil ini maka tidak perlu diadakan siklus lanjutan, karena sudah berhasil mencapai lebih dari standar. Hal ini tidak terlepas dari upaya peneliti dalam memaksimalkan proses pembelajaran pada siklus II.
Tabel 2 Rekapitulasi observasi aktivitas siswa siklus II
No Aktivitas Belajar Siswa
Nilai ∑ P 1 P 2 1 Sikap siswa saat guru
melakukan apersepsi 3 4 7 2 Kerjasama siswa dalam
kelompok 3 4 7
3 Tanggung jawab siswa dalam
0 20 40 60 80 100 41.18 70.59 100 62.94 70.59 87.06 KETUNTASAN RATA-RATA No Aktivitas Belajar Siswa
Nilai ∑ P
1 P2 4 Keberanian siswa dalam
mengemukakan pendapat atau pertanyaan
2 3 5 5 Komunikasi siswa dalam
kelompok 2 3 5
6 Kemampuan siswa menghubungkan materi
dengan kegiatan sehari-hari 3 3 6 7 Ketepatan dan kecepatan
siswa dalam menjawab persoalan yang diberikan oleh guru
3 3 6 8 Komunikasi siswa dengan
guru 3 3 6
9 Komunikasi siswa dengan
teman sebaya 2 3 5
10 Kemampuan siswa dalam
menarik kesimpulan 2 3 5
Jumlah 58
%Rata-rata 72.50 Sedangkan keaktifan siswa dalam pem-belajaran matematika adalah 72,50%. Dari hasil persentase tersebut menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar mulai menunjukkan aktivitas yang berarti.
Interpretasi Siklus I dan Siklus II
Berkaitan dengan usaha meningkatkan prestasi belajar, belajar akan lebih mudah dan dapat dirasakan bila belajar tersebut menge-tahui hasil yang diperoleh. Kalau belajar berarti perubahan yang terjadi pada individu, maka perubahan-perubahan itu harus dapat diamati dan dinilai. Hasil dari pengamatan dan penilaian inilah umumnya diwujudkan dalam bentuk prestasi belajar.
Hasil yang diperoleh oleh siswa Kelas VI Semester I SD Negeri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Kabupaten Trengga-lek menunjukkan peningkatan lebih baik. Hal ini ditujukan dari hasil observasi peneliti dalam serangkaian kegiatan penelitian
tindakan, khususnya kegiatan belajar meng-ajar di kelas. Hasil kegiatan yang diperoleh meliputi, peningkatan aktivitas, motivasi dan prestasi belajar. Untuk prestasi belajar di-tunjukkan pada hasil evaluasi pada siklus II, diperoleh sebagai berikut: Dari 17 siswa Kelas VI Semester I tahun 2013/2014 SD Ne-geri 2 Sukorame Kecamatan Gandusari Ka-bupaten Trenggalek tersebut diketahui, rata-rata hasil belajar siswa pada sebelum siklus hanya sebesar 62.94, pada siklus I sebesar 71.76 dan pada siklus II sebesar 87.06. Ke-tuntasan sebelum siklus 41.18%, siklus I 70.59% dan ketuntasan pada siklus II sebesar 100%. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan telah terbukti secara meyakinkan.
Gambar 2 Perkembangan Prestasi belajar Siswa
PENUTUP Kesimpulan
Dalam kolaborasi penelitian ini, pene-liti secara terbuka melakukan dialog dan dis-kusi dengan guru kelas VI. Rencana pem-belajaran dan lembar kerja siswa dirancang secara konstruktif. Dalam pembelajaran stu-dent facilitator and explaining, setiap materi pelajaran yang baru, harus dikaitkan dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan yang ada sebelumnya. Kelas dibagi dalam bebe-rapa kelompok yang heterogen. Adanya
pemberian reward berupa penambahan poin dan pemberian permen mampu memotivasi aktivitas belajar siswa. Melalui kegiatan diskusi kelompok dan presentasi siswa dilatih untuk mempunyai tanggung jawab kepada kelompok dan dirinya sendiri.
Dengan diterapkannya pendekatan
student facilitator and explaining pada pembelajaran matematika mampu mening-katkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari perolehan prestasi belajar siswa pada awal siklus diperoleh rata-rata rata-rata hasil belajar siswa pada sebelum siklus hanya sebesar 62.94, pada siklus I sebesar 71.76 dan pada siklus II sebesar 87.06. Ketuntasan sebelum siklus 41.18%, siklus I 70.59% dan ketuntasan pada siklus II sebesar 100%.
Saran
Guru hendaknya mempertimbangkan
pemberian materi pembelajaran dengan me-ngenalkan kepada siswa dengan mengguna-kan berbagai macam strategi. Salah satu stra-tegi pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan student facilitator and explaining. Penerapan pendekatan student facilitator and explaining dalam kegiatan belajar mengajar di kelas perlu ditingkatkan, dengan harapan siswa dapat terpacu minat dalam belajar. Pendekatan ini perlu diulang-ulang dengan memberikan materi yang sederhana menuju ke materi yang lebih variatif. Minat belajar siswa dapat dimun-culkan dengan berbagai macam teknik dan metode yang disampaikan oleh guru. Pen-dekatan student facilitator and explaining
merupakan salah satu cara yang dapat dita-warkan oleh peneliti. Dengan harapan bila minat belajar siswa meningkat dimung-kinkan prestasi belajar yang diperoleh siswa juga akan meningkat pula.
DAFTAR RUJUKAN
Arifin, Anwar. 1998. Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Raja. Grafindo Persada.
Bogdan, R.C. dan Biklen, S. K. 1982.
Qualitative Research for Education:
An Introduction to Theory and Metho-ds. Boston: Allyn and Bacon, Inc. Cactetter, W.B. 1996. The Human Resource
Function in Educational Administrati-on. Edisi ke 6. New Jersey: Prentice Hall.
Carr, W. & Kemmis, S. 1986. Becoming critical: education, knowledge and ac-tion research. Brighton, Sussex: Fal-mer Press.
Guba, Egon G. & Lincoln, Yvonna S. 1981.
Effective Evaluation. San Fransisco: Jossey-Bass Publishers.
Moleong, L.J. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Miles, M.B. & Hubermen, A.M. 1984.
Analisis Data Qualitatif. Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi. Uni-versitas Indonesia, Jakarta.
Nasution, S. 1988. Metode Penelilian Na-turalistik Kualitatif. Bandung: Penerbit Tarsito.
Waseso, I. 1994. Wawasan dan konsep dasar Penelitian Tindakan Pendidikan (Materi II). Makalah disajikan pada lokakarya pelatihan tindakan di IKIP Malang. Jakarta: UP3SD Depdikbud. Zuriah, N. 2003. Penelitian Tidakuri dalam
Bidang Pendidikan dan Sosial. Edisi Pertama. Malang: Bayu Media Pub-lishing.