• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 LANDASAN TEORI"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

3.1. Six Sigma

3.1.1. Sejarah dan Perkembangan Six Sigma

Pada awalnya, konsep Six sigma di dalam dunia industri diperkenalkan dan

dipergunakan pertama kali oleh salah satu perusahaan peralatan elektronik yang berbasis di Amerika Serikat, yaitu Motorola Incorporated pada tahun 1979. Pada saat itu

Motorola menghadapi kesulitan besar dan berada di dalam bahaya karena kemampuan bersaing yang dimiliki oleh perusahaan tertinggal cukup jauh dari para pesaingnya, terutama perusahaan-perusahaan Jepang yang dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik dengan harga yang lebih murah.

Setelah menyadari bahwa permasalahan utama pada perusahaan adalah buruknya kualitas produk-produk yang dihasilkan, maka Motorola melakukan penelitian dan pengembangan yang akhirnya membawa mereka pada metodologi Six sigma.

Sampai pada tahun 1993, kebanyakan proses yang ada di Motorola sudah mencapai tingkat hampir 6 sigma. Dan setelah empat tahun menerapkan Six sigma,

penghematan yang diterima perusahaan mencapai $ 2,2 juta. Untuk kesuksesannya menerapkan Six sigma, Motorola mendapatkan Malcom Baldrige National Award pada

(2)

Sekarang six sigma telah digunakan oleh beberapa perusahaan dunia seperti

General Electric, Dupont Chemical, dan lain-lain dan terbukti memberikan keberhasilan dalam peningkatan produktivitas, penurunan biaya kegagalan, penghematan biaya manufaktur, dan peningkatan tingkat pertumbuhan tahunan.

3.1.2. Pengertian Six sigma

Sigma adalah huruf ke-18 dari alphabet Yunani yang menggambarkan standar

deviasi atau variasi. Breakthrough Management Group (2004) juga mendefinisikan Six sigma sebagai suatu filosofi total manajemen dalam artikelnya “What Is Six sigma”.

Secara sederhana, Six sigma merupakan suatu pendekatan bagi pengambilan keputusan

dalam usaha peningkatan proses yang didesain untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya-biaya.

Pengertian mengenai Six sigma telah dicoba untuk disimpulkan oleh beberapa

pakar, yaitu sebagai berikut:

1. Six sigma Institute menjelaskan bahwa Six sigma berarti pengukuran kualitas untuk

mencapai kesempurnaan serta merupakan metodologi untuk mengeliminasi cacat di semua proses mulai dari manufaktur sampai transaksional dan dari produk sampai jasa.

2. Vincent Gaspersz (2002, p9) dalam bukunya “Pedoman Implementasi Program Six sigma“ mengutarakan bahwa Six sigma merupakan ukuran target kinerja industri

tentang bagaimana baiknya suatu proses transaksi produk antara pemasok (industri) dan pelanggan (pasar). Six sigma juga dapat dipandang sebagai pengendalian proses

(3)

industri berfokus pada pelanggan, melalui penekanan pada kemampuan proses (process capability).

3. Six sigma adalah suatu visi peningkatan kualitas menuju target 3,4 kegagalan per

sejuta kesempatan (Defect Per Million Opportunity – DPMO) untuk setiap transaksi

produk (barang atau jasa). Six sigma merupakan sebuah terobosan baru dalam bidang

manajemen kualitas berupa suatu metode atau teknik pengendalian dan peningkatan kualitas dramatik menuju tingkat kegagalan 0 (zero defect). Masalah kualitas dapat

didefinisikan sebagai kesenjangan atau gap antara kinerja kualitas aktual dan target

kinerja yang diharapkan. Oleh karena target kinerja dari six sigma adalah menuju

tingkat kegagalan 0 atau tingkat kepuasan 100% bagi pelanggan, maka masalah kualitas berkaitan dengan segala bentuk ketidakpuasan (terdapat kesenjangan antara kebutuhan aktual dari pelanggan dan tingkat kinerja produk dan pelayanan yang diberikan, atau merupakan kebutuhan aktual pelanggan yang tidak dapat dipenuhi melalui produk dan pelayanan yang diberikan oleh suatu proses). (Gaspersz, 2002, p236).

4. Six sigma adalah sebuah sistem yang komprehensif dan fleksibel untuk mencapai,

mempertahankan, dan memaksimalkan sukses bisnis. Six sigma secara unik

dikendalikan oleh pemahaman yang kuat terhadap kebutuhan pelanggan, pemakaian yang disiplin terhadap fakta, data, dan analisis statistik, dan perhatian yang cermat untuk mengelola, memperbaiki, dan menanamkan kembali proses bisnis. (Pande; Neuman; Cavanagh, 2002, pxi).

(4)

3.1.3. Six sigma dari Sudut Pandang Statistik

Secara statistik, Six sigma ditandai dengan nilai 3,4 DPMO yang berarti bahwa

pelanggan akan puas bila mereka menerima nilai sebagaimana yang mereka harapkan dan perusahaan boleh mengharapkan hanya akan ada 3,4 kegagalan dalam sejuta kesempatan (DPMO) atau mengharapkan bahwa 99,99966% dari apa yang diharapkan pelanggan ada di produk tersebut.

Nilai DPMO atas suatu sigma diperoleh dengan cara menggunakan perhitungan

distribusi normal. Misalnya untuk 3 sigma, dengan menggunakan tabel distribusi normal

akan didapatkan nilai 0,998650. Kemudian dilakukan perhitungan 1-0,998650 untuk mendapatkan nilai di atas spesifikasi, sehingga hasil yang didapat adalah 0,001350. Dengan nilai mean yang berada di tengah-tengah distribusi, maka dapat disimpulkan

pula bahwa jumlah kemungkinan kegagalan di bawah spesifikasi adalah sama dengan jumlah kemungkinan di atas spesifikasi. Sehingga, didapatkan jumlah kemungkinan kegagalan adalah 0,002700 atau 2700 per sejuta pada level 3 sigma.

Namun, konsep Six sigma yang dikembangkan oleh Motorola berbeda dengan

konsep distribusi normal yang tidak memberikan kelonggaran akan pergeseran. Sedangkan konsep Six sigma Motorola ini mengijinkan pergeseran 1,5 sigma dari nilai

target. Nilai pergeseran 1,5 sigma ini diperoleh dari hasil penelitian Motorola atas proses

dan sistem industri. Berdasarkan data-data historis selama bertahun-tahun yang dimiliki oleh Motorola, diperoleh bahwa proses yang terdapat pada perusahaan selalu mengalami pergeseran (drift) nilai tengah rataan (mean) sebesar 1,5σ setiap tahunnya seiring

berjalannya waktu. Pergeseran ini disebut sebagai Long Term Dynamic Mean Variation.

(5)

(terutama mass production) yang paling bagus sekalipun tidak akan 100% berada pada

satu titik nilai target, tapi akan ada pergeseran sebesar rata-rata 1,5 sigma dari nilai

tersebut.

Pada perhitungan distribusi normal biasa, nilai 3,4 DPMO hanya menghasilkan 4,5σ dan bukan 6σ seperti seharusnya. Jumlah kecacatan yang diperbolehkan dalam Six sigma menurut distribusi normal adalah 2 DPBO (Defect Per Billion Opportunities).

Sedangkan Dengan pergeseran nilai sesuai dengan konsep Motorola, untuk tingkat 6

sigma akan diperoleh nilai DPMO sebesar 3,4 per sejuta.

Nilai DPMO tersebut juga dapat diperoleh dengan menggunakan tabel konversi nilai sigma dengan 1,5 shift berikut yang bersumber dari buku “Pedoman Implementasi

Program Six sigma”.

Tabel 3.1 Perbandingan True Six sigma dengan Motorola’s Six sigma

True 6-Sigma Process

(Normal Distribution Centered)

Motorola's 6-Sigma Process

(Normal Distribution Shifted 1,5-Sigma)

Batas Spesifikasi (LSL – USL) Persentase yang memenuhi spesifikasi (LSL – USL) DPMO (kegagalan/cacat per sejuta kesempatan) Batas Spesifikasi (LSL – USL) Persentase yang memenuhi spesifikasi (LSL – USL) DPMO (kegagalan/cacat per sejuta kesempatan) 1-Sigma 2-Sigma 3-Sigma 4-Sigma 5-Sigma 6-Sigma 68,27% 95,45% 99,73% 99,9937% 99,999943% 99,9999998% 317.300 45.500 2.700 63 0,57 0,002 1-Sigma 2-Sigma 3-Sigma 4-Sigma 5-Sigma 6-Sigma 30,8538% 69,1462% 93,3193% 99,3790% 99,9767% 99,99966% 691.462 308.538 66.807 6.210 233 3,4 Sumber: Gasperz, 2002,p11

3.1.4. Tujuan Six sigma

Six sigma bertujuan untuk mencapai tingkat kualitas Six sigma (Six sigma Quality Level), yaitu 3,4 Defect Per Million Opportunities (DPMO) dan meningkatkan

(6)

dengan apa yang banyak dipercaya oleh beberapa perusahaan dan konsultan, tujuan daripada Six sigma bukanlah sekedar untuk mencapai tingkat kualitas enam sigma. Akan

tetapi Six sigma memiliki tujuan utama untuk meningkatkan perolehan keuntungan dan

daya saing perusahaan dengan menghilangkan variasi, cacat dan waste yang dapat

mengurangi kepercayaan pelanggan.

3.1.5. Strategi Penerapan Six sigma

The Six sigma Breakthtough Strategy atau strategi penerapan Six sigma

diciptakan oleh DR. Mikel Harry dan Richard Schroeder. Strategi ini merupakan metode sistematis yang menggunakan pengumpulan data dan analisis statistik untuk menentukan sumber-sumber variasi dan cara-cara untuk menghilangkannya.

Dalam penerapan Six sigma, terdapat 8 (delapan) tahap dasar, yaitu identifikasi

(identify), definisi (define), pengukuran (measure), analisis (analyze), perbaikan

(improve), kontrol (control), standar (standardize) dan integrasi (integrate). Inti dari

strategi ini adalah tahap Measure-Analyze-Improve-Control.

Namun, tahap definisi sering dimasukkan ke dalam inti strategi Six sigma,

sehingga tahapannya menjadi Define-Measure-Analyze-Improve-Control. Tahapan ini

dilakukan secara berulang dan membentuk siklus peningkatan kualitas Six sigma seperti

(7)

Gambar 3.1 Siklus DMAIC Sumber: www.apertis.com/e_SSix3.html

Fase-fase DMAIC :

ƒ Define : mengklarifikasi masalah, tujuan dan proses

Membuat pernyataan masalah sedapat mungkin spesifik dan berdasarkan fakta, fokuskan kepada apa yang dapat diamati dan disusun, bukan pada perkiraan atau asumsi-asumsi. Kemudian tentukan tujuan yang akan dicapai.

ƒ Measure : mendasarkan dan menyaring masalah

Memvalidasi atau menyaring masalah dan memulai meneliti akar masalah, memperhatikan Output yang dihasilkan dan melihat pengaruhnya terhadap

pengguna sistem, serta menemukan komponen yang paling signifikan pada masalah, sehingga analisa dan solusi akan ditargetkan dengan baik.

ƒ Analyze : analisa akar masalah

Melihat pada proses dan data untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab yang mungkin, menemukan penyebab yang diperkirakan dan berusaha memvalidasinya melalui analisis.

(8)

ƒ Improve : menghasilkan, memilih dan mengimplementasi solusi-solusi

Menemukan ide-ide yang mungkin akan membantu kita mengatasi akar masalah dan mencapai tujuan, menentukan ide mana yang menjadi solusi-solusi potensial, dan memilih solusi yang paling tepat dengan biaya dan gangguan yang paling sedikit. Pada akhirnya menguji solusi yang kita pilih untuk memastikan keefektifannya kemudian mengimplementasikannya secara permanen.

ƒ Control : memperbaiki kesalahan-kesalahan yang muncul setelah

pengimplementasian dan menetapkan standar untuk menjaga efektivitas kinerja serta melakukan review.

Jika ditinjau secara umum, siklus DMAIC ini sebenarnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari siklus PDCA yang disusun oleh William E. Deming. Perbandingan antara siklus DMAIC dan PDCA dapat dilihat pada Gambar 3.2 di bawah ini.

(9)

3.1.6. Critical To Quality (CTQ)

Output dari sebuah proses dapat berupa produk maupun jasa. Variabel Output

dapat berupa waktu delivery atau dimensi dari produk itu sendiri. Kunci penting dari Output (important key process Output) biasanya dikategorikan berdasarkan pengaruhnya

(area of impact), yaitu critical to quality, critical to cost, critical to delivery dan critical to process (Breyfogle, 1999, p240).

Critical To Quality (CTQ) adalah berbagai persyaratan yang dikehendaki oleh

pelanggan terhadap suatu produk atau jasa. Dalam buku “Pedoman Implementasi Program Six sigma”, Vincent Gaspersz (2002, p73) dijelaskan bahwa CTQ merupakan

karakteristik kualitas yang ditetapkan seyogyanya berhubungan langsung dengan kebutuhan spesifik pelanggan, yang diturunkan secara langsung dari persyaratan-persyaratan Output dan pelayanan. Kebutuhan spesifik pelanggan harus dapat

diterjemahkan secara tepat ke dalam karakteristik kualitas yang ditetapkan oleh manajemen organisasi.

3.1.7. Biaya Akibat Kualitas yang Buruk (Cost of Poor Quality)

Kualitas produk yang buruk akan mengakibatkan kerugian dalam suatu nilai tertentu baik bagi produsen maupun konsumen. Perusahaan yang memiliki proses pada tingkat 3 sigma akan kehilangan 25 – 40% dari total penjualan sebagai biaya kualitas

(cost of quality) mereka. Sedangkan untuk perusahaan dengan tingkat sigma mencapai 6 sigma hanya akan kehilangan 5% dari total penjualan mereka sebagai biaya kualitas.

Keterkaitan antara tingkat sigma, DPMO serta COPQ dapat dilihat pada Tabel 3.2

(10)

Tabel 3.2 Hubungan Tingkat Sigma, DPMO serta COPQ

Tingkat Pencapaian Sigma DPMO COPQ

1-sigma 691.462 (sangat tidak kompetitif) Tidak dapat dihitung

2-sigma 308.538 (rata-rata industri Indonesia) Tidak dapat dihitung

3-sigma 66.807 25-40% dari penjualan

4-sigma 6.210 (rata-rata industri USA) 15-25% dari penjualan

5-sigma 233 5-15% dari penjualan

6-sigma 3,4 (industri kelas dunia) < 1% dari penjualan

Setiap peningkatan atau pergeseran 1-sigma akan memberikan peningkatan keuntungan sekitar 10% dari penjualan Sumber: Gasperz, 2002, p3

Pandangan tradisional mengenai perbaikan kualitas menunjukkan bahwa perbaikan kualitas merupakan hal yang sama atau sesuai dengan hukum pendapatan yang berkurang (The law of diminishing return) di dalam perbandingan antara kecacatan

produk dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pengendalian atau perbaikan kualitas terhadap produk tersebut. Gambar 3.3 di bawah ini menggambarkan hubungan antara biaya dan tingkat cacat.

Gambar 3.3 Kesetimbangan antara Tingkat Cacat dengan Biaya Pengendalian Sumber: Mikel & Harry, 2000. p28

Namun DR. Mikel Harry dan Richard Schroeder mengutarakan bahwa pandangan modern mengenai perbaikan kualitas menunjukkan bahwa dapat terjadi

(11)

pergeseran pada titik kesetimbangan tadi seiring dengan berubahnya performansi perusahaan.

Gambar 3.4 Pergeseran Tingkat Kesetimbangan Akibat Perubahan Tingkat Sigma

Sumber: Mikel & Harry, 2000, p29

DR. Mikel Harry & Richard Schroeder (2000, p30) dalam bukunya “The Breakthrough Management Strategy Brainstorming The World’s Top Corporations

menggolongkan biaya kualitas ke dalam 4 kategori, yaitu : 1. Biaya pencegahan (preventive cost)

Biaya ini bersumber dari hal-hal sebagai berikut: - Perencanaan kualitas

- Perencanaan proses - Pengendalian proses

- Pelatihan dan program pengembangan lainnya 2. Biaya penilaian (appraisal cost)

Appraisal cost bersumber dari berbagai hal berikut:

- Inspeksi - Pengujian

(12)

- Audit kualitas

- Biaya awal (initial cost) dan biaya pemeliharaan perlengkapan pengujian

3. Biaya kesalahan internal (internal failure cost)

Biaya kesalahan internal bersumber dari hal-hal berikut: - Scrap akibat proses

- Pengerjaan ulang (rework) akibat proses

- Scrap dan rework yang diakibatkan oleh supplier

4. Biaya kesalahan eksternal (external failure cost)

Biaya ini berumber dari hal-hal berikut: - Biaya yang harus dikeluarkan konsumen - Biaya garansi produk

- Penyesuaian atau tindakan terhadap keluhan pelanggan (complaints adjustments)

- Material atau produk yang dikembalikan (returned goods) oleh konsumen

3.1.8. Pengukuran Kinerja Baseline

Six sigma adalah metode yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas. Parameter

yang dapat dijadikan dasar dalam pengukuran tingkat kinerja (Baseline kinerja) adalah

DPMO dan/atau tingkat kapabilitas proses. Dengan demikian, peningkatan kualitas akan dapat terukur melalui perbandingan nilai-nilai tersebut.

Defects Per Million Opportunities merupakan peluang terjadinya cacat untuk

satu karakteristik yang penting bagi kualitas pada satu produk di dalam satu juta kemungkinan.

(13)

3.2. Kualitas

3.2.1. Definisi Kualitas

Kualitas atau mutu merupakan faktor penting bagi konsumen dalam menentukan pilihannya terhadap suatu produk atau jasa tertentu. Dengan demikian, kualitas dari produk atau jasa akan mempengaruhi tingkat perkembangan dan kemajuan perusahaan.

Vincent Gaspersz mengutarakan bahwa kualitas memiliki definisi yang berbeda berdasarkan penerapannya di bidang kehidupan yang berbeda. Kualitas dalam bidang industri dapat didefinisikan secara konvensional dan secara strategik. Definisi konvensional dari kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk, seperti performansi (performance), keandalan (reliability), mudah dalam

penggunaan (ease of use), estetika (esthetics), dan sebagainya. Sedangkan definisi

strategik menyatakan bahwa kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan.

Secara umum, kualitas adalah pemenuhan kebutuhan dan harapan pelanggan atau bahkan dapat melebihi kebutuhan dan harapan dari pelanggan tersebut. Karakteristik kualitas yang dipedulikan oleh pelanggan bukan hanya penilaian terhadap seberapa baik suatu produk diproduksi, tapi juga menyangkut hal-hal seperti harga, jasa, syarat pembayaran, gaya, ketersediaan, frekuensi diperbarui dan ditingkatkan serta dukungan teknis (Pyzdek, 2002, p119). Hubungan antara kualitas dan kepuasan pelanggan berdasarkan deskripsi kualitas secara umum tersebut telah dikembangkan oleh Noritaki Kano dan dapat dilihat pada Gambar 3.5 berikut.

(14)

Gambar 3.5 Model Kano Sumber: Pyzek, 2002, p122

3.2.2. Kualitas menurut Para Pakar Kualitas

Beberapa pakar kualitas di antaranya William Deming, Joseph M. Juran, Armand V. Feigenbaum, Geinichi Taguchi, Philip Crosby mendefinisikan kualitas sebagai berikut:

1. Kualitas menurut Joseph M. Juran

Kualitas adalah pemenuhan kebutuhan, menurut Joseph M. Juran (Kolarik, 1999, p5). Ia juga berpendapat suatu produk dapat dikatakan berkualitas apabila produk tersebut memiliki kemampuan, seperti dapat diandalkan, memiliki pelayanan yang memadai untuk perbaikan, mudah dipelihara, tahan lama serta mudah digunakan untuk memuaskan konsumen pemakainya (Quality is customer satisfaction).

2. Kualitas menurut Philip Crosby

Philip Crosby mendefinisikan kualitas sebagai “conformance to requirements” yang

artinya kualitas adalah kesesuaian produk dengan kriterianya (Gyrna, 2001, p2). Ia juga menekankan bahwa satu-satunya standar kinerja kualitas adalah zero defect.

(15)

3. Kualitas menurut William Edwards Deming

Menurut William Deming, kualitas harus memiliki tujuan yang berdasarkan pada kebutuhan konsumen di masa sekarang maupun di masa depan (Kolarik, 1999, p5). 4. Kualitas menurut Armand V. Feigenbaum

Armand Feigenbaum mengemukakan pendapatnya mengenai definisi kualitas, yaitu bahwa kualitas adalah keseluruhan gabungan karakteristik produk dan jasa dari pemasaran, rekayasa teknik, manufaktur dan pemeliharaan yang membuat produk dan jasa yang digunakan tersebut memenuhi ekspektasi konsumen (Kolarik, 1999, p5).

5. Kualitas menurut Genichi Taguchi

Taguchi mendefinisikan kualitas dalam cara yang negatif, yaitu kerugian (dari variasi fungsi dan efek yang merusak) suatu produk kepada masyarakat setelah produk tersebut dikirimkan, selain dari kerugian yang disebabkan oleh fungsi intrinsik yang dimilikinya (Kolarik, 1999, p5).

6. Kualitas menurut Vincent Gaspersz

Vincent Gaspersz (1998, p1) dalam bukunya “Statistical Process Control: Manajemen Bisnis Total” menjelaskan kualitas sebagai segala sesuatu yang memuaskan pelanggan atau sesuai dengan persyaratan dan kebutuhan. Ia juga mendefinisikan kualitas sebagai konsistensi peningkatan dan penurunan variasi karakteristik produk agar dapat memenuhi spesifikasi dan kebutuhan guna meningkatkan kepuasan pelanggan internal maupun eksternal.

(16)

3.3. Tools

Six sigma

Dalam pelaksanaannya, proyek Six sigma memerlukan berbagai tools yang telah

dikenal sejak lama untuk mendukung proyek.

3.3.1. Diagram Pareto

Vilfredo Pareto, seorang ahli ekonomi dari Italia pada abad ke-19 mengemukakan aturan 80/20 yang kemudian sering disebut sebagai Prinsip Pareto. Prinsip ini menjelaskan bahwa 80% dari semua masalah disebabkan oleh 20% dari penyebabnya. Analisa Pareto bertujuan untuk mengurutkan dan memprioritaskan penyebab atau hasil secara sistematis serta hubungannya dengan performansi lalu sehingga dapat membantu analis untuk memvisualisasikan penyimpangan distribusi (Kolarik, 1999, p562).

Analisis pareto adalah proses dalam memperingkat peluang untuk menentukan peluang potensial mana yang harus dikejar lebih dahulu. Analisis pareto harus digunakan pada berbagai tahap dalam suatu program peningkatan kualitas untuk menentukan langkah mana yang diambil berikutnya.

Diagram pareto adalah grafik batang yang menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya kejadian. Masalah yang paling banyak terjadi ditunjukkan oleh grafik batang pertama yang tertinggi serta ditempatkan pada sisi paling kiri, dan seterusnya sampai masalah yang paling sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang terakhir yang terendah serta ditempatkan pada sisi paling kanan.

(17)

Pada dasarnya diagram pareto digunakan sebagai alat interpretasi untuk:

- Menentukan frekuensi relatif dan urutan pentingnya masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah yang ada.

- Memfokuskan perhatian pada isu-isu kritis dan penting melalui pembuatan rangking terhadap masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah itu dalam bentuk yang signifikan.

Gambar 3.6 Contoh Diagram Pareto Sumber: www.clarsandon.com/Border_PAR.htm

3.3.2. Diagram SIPOC (Supplier-Input-Process-Output-Customer)

SIPOC adalah alat yang paling banyak digunakan dan penting dalam manajemen dan peningkatan proses. SIPOC merupakan singkatan dari SupplierInputProcessOutputCustomer dan didefinisikan sebagai berikut:

1. Supplier adalah orang atau sekelompok orang yang memberikan material, informasi

kunci, atau sumber daya lain kepada proses. Supplier dapat juga merupakan proses

sebelum proses yang menjadi fokus.

(18)

3. Process merupakan sekumpulan langkah yang mentransformasi input sehingga

nilainya bertambah.

4. Output adalah produk, baik berupa barang atau jasa yang dihasilkan dari suatu

proses.

5. Customer adalah orang atau sekelompok orang atau sub-proses yang menerima Output.

Gambar 3.7 Diagram SIPOC

Sumber: www.sixsigma.de/sixsigma/6s_env.htm

3.3.3. Peta Kendali (Control Chart)

Peta kendali pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Walter Andrew Shewhart dari

Bell Telephone Laboratories, Amerika Serikat pada tahun 1924. Pembuatan peta kendali

dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan variasi tidak normal melalui pemisahan variasi yang disebabkan oleh penyebab khusus (special-causes variation) dan variasi

yang disebabkan oleh penyebab umum (common-causes variation).

Dengan peta kendali, manajemen memperoleh informasi mengenai hal-hal berikut:

1. Karakteristik operasi proses dari waktu ke waktu

(19)

3. Apakah variasi penyebab umum memenuhi spesifikasi 4. Kehadiran variasi penyebab khusus

Peta kendali dibuat berdasarkan pada tipe datanya. Dalam konteks pengendalian proses statistik, dikenal 2 (dua) jenis data, yaitu:

1. Data variabel (variables data); adalah data kuantitatif yang diukur untuk keperluan

analisis.

2. Data atribut (attributes data); merupakan data kualitatif yang dapat dihitung untuk

pencatatan dan analisis.

Berdasarkan kedua tipe data tersebut, peta kendali terbagi atas peta kendali untuk data variabel dan peta kendali untuk data atribut, yaitu:

1. Peta kendali untuk data variabel

- Peta kendali x dan R; menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi dalam

ukuran titik pusat (central tendency) atau rata-rata dari suatu proses serta dan

dalam ukuran variasi yang berkaitan dengan perubahan homogenitas produk yang dihasilkan melalui suatu proses.

- Peta kendali x dan MR; diterapkan pada proses produksi yang sangat lama dan

menggunakan 100% inspeksi. 2. Peta kendali untuk data atribut

- Peta kendali p; digunakan untuk mengukur proprosi ketidak sesuaian atau penyimpangan yang sering disebut sebagai cacat dari item produk yang dihasilkan dalam suatu proses.

(20)

- Peta kendali np; merupakan peta kendali yang hampir sama dengan peta kendali p, kecuali bahwa dalam peta kendali np tidak terjadi perubahan skala pengukuran.

- Peta kendali c; diterapkan pada kasus-kasus di mana toleransi atas kelemahan satu atau beberapa titik spesifik yang tidak memenuhi syarat namun tidak mempengaruhi fungsi dari item yang diperiksa.

- Peta kendali u; mengukur banyaknya ketidak sesuaian dalam periode pengamatan tertentu yang mungkin memiliki ukuran contoh atau sampel item yang diperiksa.

Gambar 3.8 Contoh Peta Kendali

Sumber: www.healthcare.isixsigma.com/control_chart/c_chart_control_chart.asp

3.3.4. Diagram Sebab-Akibat (Cause–Effect / Fishbone Diagram)

Diagram sebab akibat atau yang sering disebut sebagai diagram tulang ikan (fishbone diagram) atau diagram Ishikawa (Ishikawa’s diagram) diperkenalkan oleh

Prof. Kaoru Ishikawa dari Universitas Tokyo pada tahun 1953. Diagram sebab akibat ini merupakan diagram yang menunjukkan hubungan antara sebab dan akibat secara sistematis.

(21)

Kegunaan cause and effect (fishbone diagram adalah untuk menampilkan bentuk

gambar dari hal yang diidentifikasi dan mengorganisasi kemungkinan-kemungkinan akar masalah, atau faktor-faktor yang diperlukan untuk kesuksesan suatu aktivitas. Diagram ini adalah sebuah alat yang efektif untuk melihat kaitan antar elemen dalam mempelajari proses, sistuasi dan untuk perencanaan.

Diagram sebab akibat dapat dipergunakan untuk berbagai kebutuhan berikut: 1. Membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah

2. Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah 3. Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut

Dalam menggambar cause and effect (fishbone) diagram ada beberapa kategori

umum sumber penyebab berdasarkan prinsip 7M, yaitu :

1. Manpower (tenaga kerja); berkaitan dengan kekurangan dalam pengetahuan

(tidak terlatih, tidak berpengalaman), kekurangan dalam ketrampilan dasar yang berkaitan dengan mental dan fisik, kelelahan, stress, ketidakpedulian, dll.

2. Machines (mesin-mesin) dan peralatan : berkaitan dengan tidak ada sistem

perawatan preventif terhadap mesin-mesin produksi, termasuk fasilitas dan peralatan lain, tidak sesuai dengan spesifikasi tugas, tidak dikalibrasi, terlalu

complicated, terlalu panas, dll.

3. Methods (metode kerja): berkaitan dengan tidak ada prosedur dan metode kerja

yang benar, tidak jelas, tidak diketahui, tidak terstandarisasi, tidak cocok, dll. 4. Materials (bahan baku dan bahan penolong) : berkaitan dengan ketiadaan

spesifikasi kualitas dari bahan baku dan bahan penolong yang digunakan, ketidaksesuaian dengan spesifikasi kualitas bahan baku dan bahan penolong yang

(22)

ditetapkan, ketiadaan penanganan yang efektif terhadap bahan baku dan bahan penolong itu, dll.

5. Media : berkaitan dengan tempat dan waktu kerja yang tidak memperhatikan aspek-aspek kebersihan, kesehatan dan keselamatan kerja, dan lingkungan kerja yang kondusif, kekurangan dalam lampu penerangan, ventilasi yang buruk, kebisingan yang berlebihan,dll.

6. Motivation (motivasi) : berkaitan dengan ketiadaan sikap kerja yang benar dan

profesional (tidak kreatif, bersifat reaktif, tidak mampu bekerja sama dalam tim, dll), yang dalam hal ini disebabkan oleh sistem balas jasa, dan penghargaan yang tidak adil kepada tenaga kerja.

7. Money (keuangan) : berkaitan dengan ketiadaan dukungan finansial (keuangan)

yang mantap guna memperlancar proyek peningkatan kualitas six sigma yang

akan diterapkan.

Dalam membuat fishbone diagram ada 4 langkah

(http://erc.msh.org/quality/pstools/pscefdg) :

1. Gambarlah garis panah besar secara horizontal, dimana ujung panah menunjuk ke nama masalah yang akan diidentifikasi.

2. Gambarlah 4 atau lebih cabang pada panah utama, yang menunjukkan kategori utama dari sebab yang potensial.

3. sebab tersier dapat digambarkan dengan garis cabang pada garis kategori utama. 4. sebab-sebab tambahan dapat digambar dengan garis cabang pada sebab tersier.

(23)

Gambar 3.9 Contoh Diagram Fishbone

Sumber: www.cyberworksinc.com/amex/action/fish.htm

3.3.5. Histogram

Histogram memberikan gambaran mengenai sekumpulan data dengan menunjukkan perbandingan satu kelompok data dengan kelompok data lainnya berdasarkan kategori tertentu dalam suatu observasi. Tujuan dari histogram ini adalah untuk menyediakan gambaran secara grafis dari suatu fokus pengamatan dan dispersinya dalam suatu kelompok data yang sama.

3.3.6. Kapabilitas Proses

Hubungan antara variasi natural dari proses dan spesifikasi desain produk dihitung dengan pengukuran yang disebut kapabilitas proses. Vincent Gaspersz (1998, p30-31) dalam bukunya “Statistical Process Control: Manajemen Bisnis Total”

menjelaskan bahwa dalam mendiskusikan kapabilitas proses, pertimbangan akan 2 konsep berikut pun harus diperhatikan, yaitu:

1. Kapabilitas proses ditentukan oleh variasi yang bersumber dari variasi penyebab umum.

(24)

2. Pelanggan (internal atau external) biasanya lebih memperhatikan Output secara

keseluruhan dari proses dan bagaimana Output itu memenuhi kebutuhan mereka

tanpa mempedulikan variasi dari proses.

Kriteria yang digunakan untuk indeks kapabilitas proses (Cp) adalah: 1. Cp > 1,33; kapabilitas proses sangat baik

2. Cp = 1,00 – 1,33; kapabilitas proses baik namun perlu pengendalian ketat apabila Cp telah mendekati 1,00

3. Cp < 1,00; kapabilitas proses rendah, sehingga perlu ditingkatkan performansinya melalui perbaikan proses.

3.3.7. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

FMEA adalah suatu cara di mana suatu bagian atau suatu proses yang mungkin gagal memenuhi suatu spesifikasi, menciptakan cacat atau ketidak sesuaian dan dampaknya pada pelanggan bila mode kegagalan itu tidak dicegah atau dikoreksi (Brue, 2002, p130).

Definisi serta pengurutan atau pemberian ranking dari berbagai terminologi

dalam FMEA adalah sebagai berikut:

1. Akibat potensial adalah akibat yang dirasakan atau dialami oleh pengguna akhir. 2. Mode kegagalan potensial adalah kegagalan atau kecacatan dalam desain yang

(25)

3. Penyebab potensial dari kegagalan adalah kelemahan-kelemahan desain dan perubahan dalam variabel yang akan mempengaruhi proses dan menghasilkan kecacatan produk.

4. Occurance (O) adalah suatu perkiraan tentang probabilitas atau peluang bahwa

penyebab akan terjadi dan menghasilkan modus kegagalan yang menyebabkan akibat tertentu.

Tabel 3.3 Rating Occurrence

Rangking Kriteria Verbal ProbabilitasKegagalan

1 Tidak mungkin penyebab ini mengakibatkan kegagalan 1 dalam 1000000 2

3

Kegagalan akan jarang terjadi 1 dalam 20000

1 dalam 4000 4

5 6

Kegagalan agak mungkin terjadi 1 dalam 1000

1 dalam 400 1 dalam 80 7

8

Kegagalan adalah sangat mungkin terjadi 1 dalam 40

1 dalam 20 9

10

Hampir dapat dipastikan bahwa kegagalan akan terjadi 1 dalam 8 1 dalam 2

Catatan : probabilitas kegagalan berbeda beda tiap produk, oleh karena itu pembuatan rating disesuaikan dengan proses dan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan rekayasa (engineering judgement)

Sumber : Gasperz, 2002, p251

5. Severity (S) adalah suatu perkiraan subyektif atau estimasi tentang bagaimana

(26)

Tabel 3.4 Rating Severity

Rangking Kriteria Verbal

1 Neglible Severitymemperhatikan kecacatan atau kegagalan ini. , kita tidak perlu memikirkan akibat ini akan berdampak pada kinerja produk. Pengguna akhir tidak akan

2 3

Mild Severity, akibat yang ditimbulkan hanya bersifat ringan, pengguna akhir tidak merasakan perubahan kinerja.

4 5 6

Moderate Severity, pengguna akhir akan merasakan akibat penurunan kinerja atau penampilan namun masih berada dalam batas

toleransi.

7 8

High Severity, pengguna akhir akan merasakan akibat buruk yang tidak dapat diterima, berada di luar batas toleransi.

9 10

Potential Safety Problem, akibat yang ditimbulkan adalah sangat berbahaya dan bertentangan dengan hukum.

Catatan : Tingkat severity berbeda beda tiap produk, oleh karena itu pembuatan rating disesuaikan dengan proses dan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan rekayasa (engineering judgement)

Sumber: Gasperz, 2002, 250

6. Detectibility (D) adalah perkiraan subyektif tentang bagaimana efektivitas dan

metode pencegahan atau pendeteksian.

Tabel 3.5 Rating Detectability

Rangking Kriteria Verbal Tingkat Kejadian Penyebab

1 Metode pencegahan atau deteksi sangat efektif. Tidak ada kesempatan bahwa penyebab akan muncul lagi. 1 dalam 1000000

2 3

Kemungkinan bahwa penyebab itu terjadi adalah sangat rendah. 1 dalam 20000 1 dalam 4000

4 5 6

Kemungkinan penyebab bersifat moderat, Metode deteksi masih memungkinkan kadang kadang penyebab itu terjadi.

1 dalam 1000 1 dalam 400 1 dalam 80

7 8

Kemungkinan bahwa penyebab itu masih tinggi. Metode pencegahan atau deteksi

kurang efektif, karena penyebab masih berulang lagi 1 dalam 40

1 dalam 20

9 10

Kemungkinan bahwa penyebab itu terjadi sangat tinggi. Metode deteksi tidak

efektif. Penyebab akan selalu terjadi 1 dalam 8

1 dalam 2

Catatan : tingkat kejadian penyebab berbeda beda tiap produk, oleh karena itu pembuatan rating disesuaikan dengan proses dan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan rekayasa (engineering judgement)

(27)

7. Risk Priority Number (RPN) merupakan hasil perkalian antara rating severity, detectibility dan rating occurance.

3.4. Variasi

Penyebab utama terjadinya masalah kualitas menurut McNeese & Klein adalah variasi. Variasi terjadi di dalam proses, baik proses manufaktur maupun non-manufaktur. Variasi-variasi ini dapat terjadi disebabkan karena adanya variasi dalam elemen-elemen proses, yaitu manusia, mesin, metode, material serta lingkungan.

Gaspersz (1998, p28-29) menuliskan definisi bagi variasi dalam bukunya yang berjudul “Statistical Process Control: Manajemen Bisnis Total”, yaitu bahwa variasi

adalah ketidakseragaman dalam sistem produksi atau operasional sehingga menimbulkan perbedaan dalam kualitas pada Output (barang dan/atau jasa) yang

dihasilkan. Menurutnya pula, terdapat dua klasifikasi sumber atau penyebab timbulnya variasi, yaitu:

1. Variasi penyebab khusus (Special causes of variation)

Variasi penyebab khusus adalah kejadian-kejadian di luar sistem yang mempengaruhi variasi dalam sistem. Sumber dari penyebab khusus ini dapat berasal dari faktor-faktor seperti manusia, peralatan, material, lingkungan, metode kerja. Penyebab khusus ini mengambil pola-pola non-acak (non random patterns) sehingga

dapat diidentifikasi.

2. Variasi penyebab umum (Common causes of variation)

Variasi penyebab umum merupakan faktor-faktor di dalam sistem atau yang melekat pada proses yang menyebabkan timbulnya variasi dalam sistem serta hasil-hasilnya.

(28)

Variasi ini sering disebut sebagai penyebab acak (random causes) atau penyebab

sistem (system causes).

3.5. Sistem Informasi Manajemen (Management Information System)

3.5.1. Sistem

Sistem dapat diartikan sebagai suatu kelompok yang terdiri dari elemen-elemen terintegrasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Suatu sistem mempunyai berbagai elemen, namun tidak semua sistem mempunyai semua elemen tersebut. Sistem pada umumnya memiliki elemen-elemen, seperti input, transformasi (transformation element), Output, kontrol (control mechanism), feedback loop dan tujuan (objective element). Sistem yang memiliki 3 (tiga) elemen – control, feedback loop dan tujuan –

adalah sistem yang dapat melakukan kontrol terhadap kegiatannya sendiri dan disebut sebagai closed-loop system. Model dari sistem ini dideskripsikan pada Gambar 3.10

berikut.

Input Transformation Output Control Mechanism

Objectives

Gambar 3.10 Model Closed-Loop System

(29)

Di samping itu, sistem tanpa ketiga elemen tersebut disebut sebagai open-loop system. Elemen-elemen dalam sistem tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.11.

Input Transformation Output

Gambar 3.11 Model Open-Loop System

Sumber: Mcleod, 2001, p13

Berdasarkan hubungan sistem dengan lingkungannya, terdapat 2 jenis sistem. Sistem terbuka atau open system adalah sistem yang terhubung dengan lingkungannya

oleh karena aliran sumber daya antara sistem dan lingkungannya. Sedangkan sistem yang tidak terhubung dengan lingkungannya disebut dengan sistem tertutup atau closed system.

Berdasarkan bentuk sumber daya yang membentuk sistem, sistem terbagi menjadi 2 jenis, yaitu sistem fisik (physical ystem) dan sistem konsep (conceptual system). Sistem fisik adalah sistem yang terbentuk dari sumber daya fisik. Perusahaan

adalah salah satu contoh sistem fisik. Sedangkan sistem konsep adalah sistem yang menggunakan sumber daya konsep untuk menggambarkan sistem fisik. Sumber daya konsep terdiri dari informasi dan data.

3.5.2. Informasi

Sistem memerlukan sumber daya untuk menjalankan sistem itu sendiri. 5 (lima) sumber daya utama yang diperlukan oleh sistem adalah manusia (man), bahan

(30)

seperti manusia, bahan, mesin dan uang digambarkan sebagai sumber daya fisik (physical resource), karena tersedia secara fisik, dapat dirasakan dan dapat diukur. Lain

halnya dengan sumber daya informasi, karena itu informasi disebut sebagai sumber daya konsep (conceptual resource).

Informasi adalah data yang telah diproses dan telah mempunyai arti bagi pihak tertentu, misalnya manajer. Sedangkan data itu sendiri adalah berbagai fakta dan gambaran dari keadaan atau situasi yang belum mempunyai arti apa-apa bagi penggunanya. Proses transformasi dari data menjadi informasi dapat dilakukan dengan menggunakan information processor yang dapat berupa komputer, bukan komputer

maupun kombinasi dari kedua metode tersebut.

Sistem informasi yang diproses berdasarkan computer (Computer-Based Imformation System) atau yang lebih sering dikenal dengan singkatan CBIS mempunyai

5 subsistem atau aplikasi yang menggunakan komputer dalam information processes.

Kelima subsistem tersebut adalah:

1. AIS (Accounting Information System), yaitu sistem yang melakukan pemrosesan

terhadap data-data perusahaan.

2. MIS (Management Information System), yaitu sistem komputer yang

diimplementasikan bagi tujuan utama untuk menghasilkan informasi manajemen. 3. DSS (Decision Support System), yaitu sistem penghasil informasi yang bertujuan

memberikan dukungan bagi pemecahan masalah serta bagi pengambilan keputusan oleh manajer.

4. Virtual office, yaitu sistem pengaturan modern bagi pekerjaan di perusahaan yang

dapat dilakukan dengan mudah menggunakan otomatisasi kantor (office automation)

(31)

5. Knowledge-based system, yaitu sistem yang mencakup ragam sistem dengan tujuan

mengaplikasikan intelejensi buatan (artificial intelligence) untuk kepentingan

pengambilan keputusan.

Output yang dihasilkan oleh CBIS akan menjadi informasi bagi pengambilan

keputusan. Model CBIS ini dapat dilihat pada Gambar 3.12.

Accounting Information System Management Information System Decision Information System The Virtual Office Decisions Knowledge-based Systems Problem Solution Information Problem

Gambar 3.12 Model Computer Based Information System (CBIS)

Sumber: Mcleod, 2001, p18

3.5.3. Sistem Informasi Manajemen

Arti informasi manajemen adalah keseluruhan kegiatan pengumpulan data, penggunaan data secara efektif serta menghapus data pada saat yang tepat. Sedangkan sistem informasi manajemen dalam konteks sistem atau aplikasi memiliki arti sistem penghasil informasi yang memberikan dukungan bagi pihak manajer maupun dari

(32)

berbagai unit organisasi, baik yang berasal dari tingkat manajemen maupun area bisnis untuk kepentingan pengambilan keputusan terhadap pemecahan masalah perusahaan. Gambar 3.13 berikut memperlihatkan model sistem informasi manajemen.

Report Writing Software Mathematical Models Database Management Information System Organizational Problem Solvers Environment Environment

Gambar 3.13 Model Sistem Informasi Manajemen Sumber: Mcleod, 2001, 327

Sistem informasi manajemen bagi satu perusahaan mencakup area atau unit organisasi yang sangat luas. Oleh sebab itu, desain sistem informasi manajemen sering diimplementasikan secara tersendiri bagi manajer beserta kepentingannya di dalam area fungsionalnya (functional area) masing-masing. Marketing information system, manufacturing information system, human resources information system, marketing information sistem, financial information system adalah subsistem informasi manajemen

yang diaplikasikan bagi area fungsional di dalam perusahaan. Seluruh subsistem informasi ini terintegrasi dalam enterprise information system yang menggambarkan

(33)

seluruh proses komputer dalam perusahaan mulai dari pemrosesan data sampai persiapan informasi manajemen.

3.6. Daur Hidup Sistem (System Life Cycle)

Daur hidup sistem atau SLC merupakan aplikasi dari pendekatan terhadap konsep sistem untuk pengembangan subsistem atau sistem informasi kmputer. SLC sering disebut sebagai pendekatan waterfall (waterfall approach) dari pengembangan

sistem dan penggunaan sistem. Hal ini disebabkan tingkatan atau fase daur hidup sistem yang terdiri dari daur hidup pengembangan sistem (System Development Life Cycle) dan

penggunaan sistem (use phase).

Fase SDLC dengan metode pendekatan daur hidup waterfall yang biasa

digunakan disebutkan sebagai berikut: 1. Analisa awal (preliminary analysis)

2. Analisa (analyze)

3. Perancangan (design)

4. Pemrograman (programming)

5. Pengujian (testing)

6. Konversi sistem (conversion)

Gambar 3.14 berikut menampilkan daur hidup waterfall (waterfall life cycle) yang biasa

(34)

Preliminary Analysis Analysis Design Programming Testing Conversion

Gambar 3.14 Daur Hidup dengan Pendekatan Waterfall (Waterfall Life Cycle)

Dengan penambahan fase penggunaan (use), maka tahapan-tahapan dalam daur

hidup sistem telah lengkap. Tahapan ini akan terus berlanjut sampai saatnya untuk membuang atau merancang ulang sistem dengan melakukan kembali lingkaran daur hidup sistem dari awal.

3.7. Analisa dan Perancangan Berorientasi Obyek (Object Oriented

Analysis and Design)

Object Oriented Analysis and Design merupakan tahap awal dalam pembuatan software berbasis objek, Tujuan dari analisa dan desain ini adalah untuk

mengembangkan garis besar dari keseluruhan kebutuhan sistem dan sebagai landasan utuk implementasi sistem. Analisa lebih berfokus kepada konteks sistem, sedangkan desain lebih berfokus pada sisi teknis dari perancangan software itu sendiri.

Mathiassen(2000,p13).

Object oriented telah menjadi pendekatan yang dominan dalam kegiatan analisa

(35)

analysis) dapat diartikan sebagai kegiatan penelitian terhadap problem domain untuk

mendapatkan spesifikasi dari behavior yang dapat diamati secara eksternal, juga

mendapatkan pernyataan yang layak, konsisten dan lengkap terhadap apa yang dibutuhkan serta mendapatkan karakteristik fungsional dan operasional terkuantifir. OOAD merupakan kegiatan untuk mengambil behavior yang dapat diamati secara

eksternal dan menambahkan detail yang dibutuhkan bagi implementasi sistem komputer

actual, termasuk di dalamnya intraksi manusia, manajemen tugas serta detail manajemen

data.

Secara singkat, analisis adalah kegiatan melakukan investigasi dari permasalahan yang ada. Sedangkan perancangan atau desain adalah solusi logis (logical solution) dari

permasalahan yang ada agar sistem dapat memenuhi kebutuhan yang ada. Dengan demikian, OOAD dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mencari problem domain dan

solusi logisnya dari perspektif obyek.

Penggunaan metode object oriented ini mempunyai keunggulan dibandingkan

dengan metode lainnya dalam pengembangan sistem. Keunggulan tersebut adalah: 1. Menyatakan situasi yang nyata dalam konteks yang intuitif dan natural

2. Lebih mudah pada saat melakukan implementasi 3. Hemat dalam hal biaya perawatan sistem

Encapsulation, Inheritance dan Polymorphism merupakan konsep pemrograman

berbasis objek, dimana sebuah pemrograman berbasiskan objek harus memenuhi kriteria tersebut, pengertian dari masing – masing kriteria tersebut adalah :

Encapsulation dalam OOAD memiliki definisi bahwa sebuah objek harus memiliki kemampuan untuk menyembunyikan informasi penting dan tidak dapat diakses oleh

(36)

objek lain yang tidak memiliki akses dalam objek itu, hal ini dapat direalisasikan dalam bentuk penggunaan variabel Private, Public, dan Protected, dimana variabel Public dapat diakses oleh semua objek, sedangkan protected hanya dapat diakses oleh class turunan dari class tersebut. Dan variabel private hanya dapat diakses oleh fungsi dalam class itu sendiri.

Polymorphism merupakan kemampuan untuk mendefinisikan beberapa class dengan fungsi yang berbeda, namun memiliki nama metode dan properti yang identik dan dapat digunakan secara bergantian pada saat program dijalankan.

Inheritance merupakan kemampuan objek untuk menurunkan sifat, metode, atribut, dan variabel yang dimiliki oleh class dasarnya tanpa menggunakan banyak kode program, serta dapat ditambahkan metode , atribut, dan variabel baru.

Kemampuan diatas dibutuhkan untuk mendapatkan sebuah software yang fleksibel, karena dapat disesuaikan dengan kondisi kebutuhan, juga sangat dinamis dalam penggunaannya, karena dapat menggunakan ulang class yang telah dibuat sebelumnya.

Sistem secara konteks dalam OOAD dideskripsikan terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu problem domain dan application domain. Sistem secara nyata mempunyai

beberapa komponen di dalamnya. Arsitektur dari komponen sistem ini merefleksikan konteks dari sistem. Gambaran mengenai sistem konteks dapat dilihat pada Gambar 3.15 berikut, sedangkan arsitektur sistem ditampilkan pada Gambar 3.16.

(37)

Gambar 3.15 System Context

Sumber: Mathiassen, 2000, p7

Gambar 3.16 System Architecture

Sumber: Mathiassen, 2000, p10

Aktivitas dalam OOAD terdiri dari beberapa aktivitas yang menjadi aktivitas utama dan aktivitas tambahan. Aktivitas utama ini terdiri dari beberapa kegiatan, seperti

problem domain analysis, application domain analysis, architectural design dan component design. Keempat aktivitas ini merupakan aktivitas analisa dan perancangan

pada daur hidup dalam pengembangan sistem. Gambar 3.17 berikut akan menampilkan berbagai aktivitas tersebut serta hubungannya.

(38)

Gambar 3.17 Aktivitas-aktivitas dalam OOAD

3.7.1. Pemilihan sistem (system choice)

Awal dari suatu proyek pengembangan sistem informasi adalah pengumpulan ide yang berbeda-beda mengenai sistem yang diinginkan. Analisa awal ataupun daftar keputusan yang telah dibuat dapat menjadi awal yang baik.

System choice ini dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mendeskripsikan

sistem yang diinginkan. Untuk dapat memformulasikan sistem yang akan digunakan, perlu dilakukan pengamatan terhadap situasi yang terkait dengan sistem serta pemahaman orang-orang yang berhubungan dengan situasi tersebut. Pengamatan terhadap situasi ini pun perlu didukung dengan penciptaan dan evaluasi ide untuk desain sistem. Dengan demikian, pemilihan sistem akan menjadi maksimal setelah melakukan diskusi serta evaluasi terhadap alternatif-alternatif dari sistem yang lain.

(39)

Sistem yang telah disepakati akan didokumentasikan ke dalam bentuk narasi atau gambar. Bentuk narasi yang dimaksud disebut dengan system definition, sedangkan

gambar dikenal dengan sebutan Rich pictures.

Untuk memberikan dukungan bagi definisi sistem tersebut, pengujian dilakukan dengan menganalisa 6 elemen yang sering disingkat menjadi FACTOR. Keenam elemen

tersebut adalah functionality, application domain, conditions, technology, objects serta responsiliility. FACTOR dapat juga menjadi kriteria yang dapat memberikan penilaian

kepuasan dari system definition.

3.7.2. Problem Domain Analysis

Tujuan dari problem domain analysis ini adalah untuk mengidentifikasi dan

memodelkan problem domain. Aktivitas yang dilakukan dalam problem domain analysis

ini adalah aktivitas pendefinisian class, structure serta behavior.

Aktivitas class:

Aktivitas ini bertujuan untuk mencari elemen dari problem domain, yaitu objects, classes dan events yang terdapat dalam sistem. Object adalah suatu entitas yang

mempunyai identitas, state dan behavior. Class adalah deskripsi dari kumpulan object

yang mempunyai struktur, behavior pattern dan attribute yang sama, sedangkan event

adalah kejadian yang terjadi seketika yang melibatkan satu atau lebih object. Contoh dari object adalah satu orang mahasiwa, sedangkan class-nya adalah kumpulan dari

(40)

Aktivitas structure :

Aktivitas structure bertujuan untuk membuat model dengan didasarkan pada

hubungan struktural antara class dan object yang dipilih. Aktivitas ini dimulai dengan

berdasarkan pada event table. Setelah itu, struktur antara object dan class dapat

ditentukan dan hubungan struktur tersebut digambarkan dalam class diagram. Class diagram adalah diagram dari problem domain secara umum yang menggambarkan

seluruh hubungan struktural antara class dan object yang terdapat di dalam model sistem

yang telah ditetapkan.

Untuk menggambarkan hubungan antar object, terdapat 2 jenis hubungan

struktural yang dapat digunakan, yaitu aggregation dan association. Struktur object ini

mengekspesikan hubungan yang dinamis dan konkrit antara object yang ada. Hubungan

ini dapat berubah secara dinamis tanpa membuat perubahan pada class description. Aggregation adalah hubungan definitif dan fundamental object-superior yang terdiri dari

beberapa inferior-object. Association adalah hubungan atau relasi yang menyerupai

hubungan aggregation, namun hubungannya tidak tetap. Contoh dari kedua hubungan object ini ditampilkan pada Gambar 3.18 dan Gambar 3.19.

Gambar 3.18 Contoh Hubungan Aggregation

(41)

Gambar 3.19 Contoh Hubungan Association

Sumber: Mathiassen, 2000, p77

Hubungan antar class dapat digambarkan dalam 2 jenis hubungan, yaitu generalization dan cluster. Struktur class ini mengekspresikan hubungan konseptual

yang statis antar class yang tidak akan berubah-ubah. Generalization adalah suatu

hubungan antara 2 subclass atau lebih dengan satu atau lebih super class. Super class

atau general class ini merupakan deskripsi properties umum dari subclass atau specialized class. Cluster adalah sebuah kumpulan dari class yang saling berhubungan.

Contoh dari generalization dan cluster dapat dilihat pada Gambar 3.20 dan Gambar 3.21

berikut ini.

Gambar 3.20 Contoh Hubungan Generalization

(42)

Gambar 3.21 Contoh Hubungan Cluster

Sumber: Mathiassen, 2000. p75

Aktivitas behavior :

Aktivitas ini adalah aktivitas yang bertujuan mendefinisikan interaksi atau

dynamic properties antara object dan class serta behavior dari object dan class tersebut. Behavior perlu dibuat bagi semua class dan dapat dibuat dengan terlebih dulu membuat event trace yang akan menghasilkan behavioral pattern. Yang dimaksud dengan event trace adalah rangkaian atau urut-urutan event yang meliputi suatu object tertentu,

sedangkan behavioral pattern adalah deskripsi dari event trace yang mungkin untuk

seluruh object dalam sebuah class. Behavioral pattern ini ditampilkan dalam bentuk statechart diagram yang merupakan bentuk yang paling umum digunakan, regular expression atau state table. Contoh dari statechart diagram ditampilkan pada Gambar

(43)

Gambar 3.22 Contoh Statechart Diagram

Sumber: Mathiasssen. 2000, p90

Di dalam aktivitas ini, juga akan didefinisikan attribute bagi setiap class yang

ada. Class attribute dibuat dengan berdasarkan pada behavioral pattern yang telah

diidentifikasi sebelumnya pada aktivitas behavior pula.

3.7.3. Application Domain Analysis

Application domain analysis bertujuan untuk mendefinisikan fungsi dan interface dari sistem. Aktivitas yang akan dilakukan pada tahap analisa ini mencakup

definsi dari usage, functions dan interfaces.

Usage :

Dalam aktivitas analisa mengenai usage ini, hasill yang ingin didapatkan adalah

jawaban dari pertanyaan bagaimana sistem berinteraksi dengan orang dan sistem lain. Hasil dari usage adalah use case. Use case adalah suatu gambaran umum dari kebutuhan

sistem dari sudut pandang pengguna (user) dan menyediakan suatu dasar untuk

menentukan dan melakukan evaluasi basic function dan kebutuhan interface secara lebih

mendalam. Secara singkat, use case memberikan gambaran pola interaksi antara sistem

dan actor. Actor adalah abstraksi dari user atau sistem lain yang berinteraksi dengan

target sistem. Penggambaran hubungan antara actor dan use case dapat ditampilkan

dalam actor table maupun use case diagram yang lebih sering digunakan. Contoh dari use case diagram diperlihatkan pada Gambar 3.23 berikut ini.

(44)

Gambar 3.23 Contoh Use Case Diagram

Sumber: Mathiassen, 2000, p129

Functions :

Aktivitas functions bertujuan untuk mendefinisikan properties dari pemrosesan

informasi dari sistem (system information processing capabilities) untuk membantu actor. Hasil akhir dari aktivitas ini adalah daftar lengkap dari fungsi-fungsi dengan

spesifikasi dari fungsi-fungsi yang kompleks.

Sebuah fungsi atau function akan diaktifkan, dieksekusi dan pada akhirnya akan

menghasilkan sesuatu. Fungsi yang dieksekusi akan merubah state dari model component’s state atau menciptakan reaksi di application domain dan problem domain. Interfaces

Aktivitas interfaces mempunyai tujuan untuk mengidentifikasikan kebutuhan

akan interface dari sistem. Interface adalah suatu fasilitas yang membuat model dan function dapat berinteraksi dengan actor. Interface terdiri dari user interface dan system interface. Hasil dari aktivitas ini adalah perancangan screen atau form, navigation diagram dan deskripsi lainnya.

(45)

3.7.4. Architecture Design

Perancangan arsitektur dari sistem terdiri dari 2 bagian, yaitu arsitektur komponen dan arsitektur proses. Arsitektur komponen (component architecture) adalah

struktur sistem yang terdiri dari komponen yang saling berhubungan. Arsitektur proses (process architecture) adalah struktur sistem eksekusi yang terdiri dari proses yang

interdependen. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan adalah mendefinisikan criteria, components dan processes.

Criteria :

Yang dimaksud dengan criteria adalah property yang diinginkan dari suatu

arsitektur. Pada aktivitas ini, hasil yang diinginkan adalah criteria dan kondisi yang

tepat bagi suatu desain.

Kriteria umum bagi suatu desain meliputi usable, secure, efficient, correct, reliable, maintainable, testable, flezible, comprehensible, reusable, portable dan interoperable. Namun, kriteria utama bagi desain yang baik mencakup 3 kriteria, yaitu usable, flexible dan comprehensible. Selain itu pula, desain yang baik tidak mempunyai

kelemahan utama dan memiliki beberapa kriteria yang seimbang.

Components :

Komponen atau components adalah suatu kumpulan bagian-bagian program yang

mempunyai tugas yang telah ditentukan. Arsitektur komponen dapat dirancang berdasarkan beberapa pola, yaitu layered architecture, generic architecture atau client-Server architecture.

(46)

Komponen dari sistem terdiri dari 3 bagian, yaitu model, function dan user interface component. Komponen model mempunyai tugas untuk menampung objects

yang merupakan bentuk dari problem domain. Komponen function bertugas

menyediakan functionality dari model. Komponen user interface bertanggung jawab atas

interaksi di antara actor dan functionality.

Processes :

Process atau proses adalah sekumpulan operasi yang dieksekusi dalam urutan

yang terbatas dan terhubung. Jika terdapat proses yang banyak dengan sumber daya yang digunakan bersama, maka perlu koordinasi antara sumber daya tersebut, seperti

processors, program components atau external devices.

Hasil yang diharapkan dari aktivitas ini adalah deployment diagram dan solusi

dari mekanisasi koordinasi. Depleyment diagram adalah diagram yang menggambarkan processors, assigned components dan active objects. Contoh deployment diagram

diperlihatkan pada Gambar 3.24.

(47)

Mekanisasi koordinasi yang dimaksudkan mencakup hal-hal berikut:

1. Melakukan pengawasan akan kepastian akses tunggal terhadap sumber daya yang digunakan bersama.

2. Melakukan pengiriman tugas tersentralisasi untuk koordinasi semua proses yang bersamaan.

3. Melakukan pengawasan secara periodik terhadap perubahan state bagi proses awal

dalam situasi yang tepat

4. Melakukan sinkronisasi pertukaran data untuk mencegah penundaan yang tidak perlu terjadi dengan operasi read dan write.

3.7.5. Component Design

Tujuan dari aktivitas ini adalah untuk menentukan kebutuhan bagi implementasi dalam suatu kerangka arsitektur. Hasil yang diinginkan dari component design adalah

deskripsi dari komponen sistem. Aktivitas yang dilakukan dalam perancangan komponen ini adalah desain model component, function component dan connecting component.

Model Component :

Model component adalah bagian dari sistem yang mengimplementasikan model

dari problem domain. Tujuan dari aktivitas model component adalah mengirimkan data

saat ini dan data historic ke function, interface dan kepada user atau sistem lain.

Fokus utama dari perancangan model component adalah struktur. Dengan

(48)

yaitu revised class diagram dari hasil aktivitas analisa. Revisi dari class diagram

mencakup penambahan class baru, attributes dan structures untuk menggambarkan events.

Function Component :

Function component diartikan sebagai bagian dari sistem yang

mengimplementasikan kebutuhan fungsional. Aktivitas desain function component

bertujuan untuk menentukan kemampuan akses ke model bagi user interface dan sistem

komponen yang lain.

Hasil yang diharapkan dari aktivitas ini adalah sebuah class diagram dengan

operasi dan spesifikasi dari operasi yang kompleks. Spesifikasi bagi operasi yang kompleks dapat digambarkan dalam bentuk operation specification, sequence diagram

atau statechart diagram.

Connecting Component :

Aktivitas desain connecting component bertujuan untuk mengkoneksikan

komponen dari sistem. Hasil dari aktivitas ini adalah class diagram dengan

komponen-komponen yang termasuk di dalamnya.

Koneksi antar komponen yang baik disyaratkan sebagai berikut:

1. Memaksimalkan cohesion; di mana cohesion menggambarkan property positif

sebagai ukuran seberapa baik class atau komponen terikat bersama.

2. Meminimasi coupling; di mana coupling merupakan property negatif sebagai ukuran

(49)

3.7.6. Tahapan Pengembangan Software Berorientasi Objek

Dalam Perancangan Software berorientasi Objek, dilakukan beberapa tahapan

yang menggunakan metode Unified Software Deployment. Metode ini digunakan untuk

melakukan Anailsis dan Desain Software berorientasi objek secara cepat dan sederhana,

sedangkan untuk programming tidak termasuk dalam Desain ini. Tahapan-tahapan yang

dilakukan dapat dilihat pada Aktivitas-aktivitas dalam OOAD (Gambar 3.17).

Terdapat 4 kegiatan utama yang digunakan dalam menggunakan metode Unified SoftwareDeployment untuk OOAD (ObjectOrientedAnalysis and Design) yang dibahas

oleh Mathiassen (2000, p14) :

1. Problem Domain Analysis

Tahap ini adalah tahapan dimana sistem akan dirancang sesuai dengan kebutuhan informasi dari pengguna, tahapan ini menentukan hasil dari keseluruhan akivitas analisis dan perancangan. Tahapan dari Problem Domain Analysis ini adalah :

a) Menentukan Class yang ada dalam sistem dengan melakukan proses

identifikasi dari definisi sistem yang telah dikembangkan

b) Menganalisa dan mengembangkan struktur hubungan dari class-class yang ada

c) Menganalisa Behaviour dari class-class tersebut.untuk menentukan state chart setiap class yang termasuk dalam sistem ini.

Hasil laporan perancangan yang dihasilkan dari tahapan ini adalah :

a) System Definition : mendefinisikan seluruh sistem sebagai sebuah model

(50)

b) Class Diagram : untuk menggambarkan hubungan antara class-class

dalam sebuah sistem

c) State Diagram : untuk menggambarkan bagaimana state dari daur hidup class yang ada di dalam sistem ini.

Dapat dilihat dari tahap ini telah dapat dilihat model aplikasi secara keseluruhan bagaimana aplikasi tersebut akan terbentuk.

2. Application Domain Analysis

Tahapan ini berfokus pada bagaimana sistem akan digunakan oleh pengguna. Tahap ini dan tahap sebelumnya dapat dimulai secara bergantian, tergantung pada kondisi pengguna menurut Mathyassen(2000, p116) Terdapat 3 tahapan yang akan dilakukan dalam Aplication Domain Analysis, yaitu :

a) Menentukan Penggunaan (usage), yaitu menentukan Actor dan use case

yang terlibat dan interaksinya.

b) Menenetukan Fungi sistem untuk memproses informasi dan membuat daftar fungsi.

c) Menetukan Antarmuka pengguna dan sistem, untuk interaksi sesungguhnya dari pengguna dan sistem informasi yang dirancang.

Laporan yang akan dihasilkan dari tahapan ini adalah :

a) Use Case Diagram, yang menggambarkan interaksi pengguna sebagai

aktor dengan sistem informasi .

b) Function List, yaitu kemampuan yang harus dimiliki sistem sebagai

(51)

c) User Interface Navigation Diagram, yaitu diagram untuk

menggambarkan tampilan layar yang akan dirancang untuk memenuhi kebutuhan user.

3. Architectural Design

Dalam tahap ini, akan dirancang arsitektur hubungan antara Client dan server

yang memadai untuk sistem dapat berjalan dengan baik. Perancangan diisini akan menentukan bagaimana struktur sistem fisik akan dibuat dan bagaimana distribusi sistem informasi pada rancangan fisik tersebut. Laporan yang dihassilkan adalah Component Diagram dan Deployment Diagram.

4. Component Design

Ini merupakan tahap terakhir dalam Unified Software Deployment sebelum

melakukan programming. Dimana sistem akan dimodelkan secara lengkap dalam diagram yang disebut sebagai Component Diagram. Dari sini akan terlihat

bagaimana sistem bekerja dan interaksi yang terjadi antara sistem dan pengguna.

3.7.7. Keuntungan OOAD dibanding FOAD

OOAD memiliki keungulan dibanding FOAD (Function Oriented Analysis and Desig ) , yaitu dimana OOAD dapat memberikan gambaran yang jelas tentang konteks

dari sistem. Cara tradisional dengan menggunakan FOAD sangat sesuai untuk mengembangkan sistem yang awal, dimana tujuan dari pengembangan adalah untuk otomatisasi tugas – tugas pemrosesan informasi yang banyak menggunakan tenaga kerja

(52)

manusia. Sedangkan banyak sistem baru telah dikembangkan, yang memiliki fokus kepada pemecahan masalah, komunikasi, dan koordinasi. Fungsi dari sistem ini bukan saja untuk menangani data yang bersifat seragam, tapi juga untuk menyebarkan data yang spesifik ke seluruh organisasi, maka dibutuhkan OOAD yang berfokus secara seimbang antara sistem dan konteks dari sistem tersebut.

Keunggulan lain dari OOAD adalah kesinambungan antara Analisa, Desain, Antarmuka pengguna, dan Programming. Dimana dalam saat analisa, objek bisa saja

berbentuk kondisi sosial , ekonomi, dan kondisi organisasi, sedangkan dalam desain bisa berupa antarmuka sistem, fungsi, proses, dan komponen. Sehingga dalam desain,

developer menggunakan objek untuk menentukan kebutuhan sistem, dalam desain, developer menggunakna untuk mendeskripsikan sistem , dan saat programming, objek

digunakan untuk konsep struktur pemrograman.

3.7.8. Kaitan OOAD dan OOP

Karena pembuatan program berorientasi obyek memungkinkan penggunaan kembali objek-objek yang ada, maka dalam pengembangan software berbasis obyek

mengikuti suatu langkah-langkah iterative, yang dimulai dengan pencarian class yang

ada dalam library, yaitu class- class yang pernah di develop sebelumnya. Apabila

sebuah class tidak dapat ditemukan, maka seorang software engineer akan melakukan

OOA (Object Oriented Analysis) untuk menganalisa masalah, OOD (Object Oriented Design) untuk membuat desain class, lalu OOP (Object Oriented Programing) untuk

(53)

Testing untuk membuat class dan juga objek yang diturunkan dari class. Setelah objek

jadi, class tersebut disimpan dalam library untuk digunakan pada masa depan.

3.8. Perancangan

Basis

Data

Database merupkan kumpulan data dalam jumlah besar yang terdiri dari tabel –

tabel dengan susunan yang terstruktur. Database umumnya tidak berdiri sendiri dan

terhubung dengan software yang menggunakan database tersebut. Untuk mengatur

struktur penyimpanan data, keamanan, dan penggunaan data Database memiliki sebuah

software sendiri, yaitu Database Management System ( DBMS )

3.8.1. Normalisasi

Normalisasi adalah proses pembentukan untuk menentukan atribut mana yang harus dikelompokkan dalam satu relasi yang sama sehingga menjadi lebih terstruktur. Normalisasi dilakukan dalam beberapa tahap untuk memperoleh suatu bentuk normal, dimana bentuk normal atau normal form. Tahap-tahap normalisasi ini adalah sebagai berikut :

1. First normal form

First normal form (1NF) adalah keadaan dimana tidak terdapat perulangan dalam

suatu relasi. Jadi, pada tahap normalisasi yang pertama ini, semua perulangan harus dihilangkan.

Gambar

Tabel 3.1 Perbandingan True Six sigma dengan Motorola’s Six sigma
Gambar 3.1 Siklus DMAIC  Sumber: www.apertis.com/e_SSix3.html
Gambar 3.2 Perbandingan antara Siklus PDCA dan DMAIC
Gambar 3.3 Kesetimbangan antara Tingkat Cacat dengan Biaya Pengendalian  Sumber: Mikel &amp; Harry, 2000
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Importance Performance Analysis atau analisis tingkat kepentingan dan kinerja/kepuasan pelanggan merupakan metode analisis tingkat kepuasan konsumen terhadap suatu

Untuk menjaga agar pelanggan yang sudah rutin membeli produk atau menggunakan jasa kita tidak berpindah ke saingan lain , maka perusahaan harus melakukan pengukuran tingkat

FMEA adalah sebuah metodologi yang digunakan untuk menganalisa dan menemukan semua kegagalan-kegagalan yang potensial terjadi pada suatu sistem, menemukan efek-efek dari

a) Mengetahui kebutuhan dan keinginan pelanggan, 21 yaitu dengan cara melakukan penelitian untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan pelanggan. Mengetahui apa yang

Metode NRS adalah suatu alat ukur yang meminta pasien untuk menilai rasa nyerinya sesuai dengan tingkat intensitas nyerinya pada skala numeral dari 0 – 10 atau 0 – 100.. Skala

Kepuasan dan ketidakpuasan konsumen terhadap suatu produk mempengaruhi laku selanjutnya. Jika konsumen puas, ia akan menunjukkan kemungkinan yang lebih tinggi

Kegiatan penjualan terdiri dari variable pesan (sebagai penghasil serangkaian sikap tertentu mengenai perusahaan, produk, dan tingkat kepuasan yang dapat diharapkan oleh

Menurut Zeithaml dan Bitner (2003), terdapat bermacam-macam faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, antara lain: 1) Aspek barang dan jasa, kepuasan pelanggan