(Kasus : Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)
SKRIPSI
OLEH :
WIRA SURYA CENDIKIA SITEPU 160304123
AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
ii
iv
WIRA SURYA CENDIKIA SITEPU (160304123/AGRIBISNIS), dengan judul Analisis Pendapatan dan Risiko Usahatani Tomat (Solanum lycopersicum L.) (Kasus : Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)”. Penelitian ini dibimbing oleh Ibu Dr. Ir. Salmiah, MS sebagai ketua komisi pembimbing dan Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS sebagai anggota komisi pembimbing.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat pendapatan yang diterima oleh petani tomat dan untuk menganalisis bagaimana risiko produksi, risiko harga, dan risiko pendapatan usahatani petani tomat di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Penentuan daerah dilakukan secara purposive sampling. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah metode simple random sampling yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin dan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 40 petani tomat. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis usahatani, penerimaan, pendapatan, kelayakan usahatani dan analisis risiko. Dimana ukuran risiko yang digunakan meliputi variance, standard deviation, coefficient variation dan batas bawah nilai tertinggi.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani tomat di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo lebih kecil dari rata rata pendapatan bersih sebulan petani di Provinsi Sumatera Utara yakni sebesar Rp 1.175.100, dimana rata-rata pendapatan petani tomat per musim tanam adalah sebesar Rp 4.393.362 atau sebesar Rp 732.227 per bulan dan nilai R/C Ratio per petani pada usahatani tomat adalah 1,14 yang menunjukkan bahwa usahatani tersebut layak untuk diusahakan. Usahatani tomat mempunyai risiko pendapatan dengan nilai koefisien variasi (CV) sebesar 0,87, risiko produksi dengan nilai koefisien variasi (CV) sebesar 0,12 dan risiko harga dengan nilai koefisien variasi (CV) sebesar 0,05.
Kata Kunci: Pendapatan, Risiko Produksi dan Harga, Risiko Pendapatan
vi
WIRA SURYA CENDIKIA SITEPU (160304123/AGRIBUSINESS), with thesis title is “Analysis of Tomato (Solanum lycopersicum L.) Farming Income and Risk (Case: Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo)”.
Supervised by Ibu Dr. Ir. Salmiah, MS as the Chairperson of the supervisory commission and Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS as the Member of the supervisory commission.
The purpose of this study was to analyze the level of income received by tomato farmers and to analyze how the risk of production, price risk, and risk of farming income of tomato farmers are in Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Determination of the area done by purposive sampling. The method used in sampling is the simple random sampling, namely taking members of the sample from the population randomly without paying attention to the strata in the population. The number of samples determined by the Slovin formula and the number of samples used was 40 tomato farmers. The data analysis methods used are farm analysis, revenue, income, farm feasibility and risk analysis. Where the risk measure used includes variance, standard deviation, coefficient variation and lower limit of the highest value.
The results showed that the income of tomato farmers in Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo was smaller than the average monthly net income of farmers in North Sumatra Province, which is equal to IDR 1,175,100, where the average income of tomato farmers per planting season is IDR 4,393,362 or IDR 732,227 per month and the R/C Ratio value per farmer in tomato farming is 1.14 which indicates that the farming is feasible to be cultivated . Tomato farming has an income risk with a coefficient of variation (CV) of 0.87, a production risk with a coefficient of variation (CV) of 0.12 and a price risk with a coefficient of variation (CV) of 0.05.
Keywords: Income, Production and Price Risk, Income Risk
WIRA SURYA CENDIKIA SITEPU lahir di Medan, 04 November 1998, merupakan anak satu satunya dari Bapak Agustinus Sitepu dan Ibu Alm. Dra Roskymawati Br Bangun.
Pendidikan Formal yang ditempuh penulis adalah sebagai berikut :
1. Tahun 2004 masuk Sekolah Dasar di SD Santo Thomas 5 Medan dan tamat pada tahun 2010.
2. Tahun 2010 masuk Sekolah Menengah Pertama di SMP Santo Thomas 1 Medan dan tamat pada tahun 2013.
3. Tahun 2013 masuk Sekolah Menengah Atas di SMA Santo Thomas 1 Medan dan tamat pada tahun 2016.
4. Tahun 2016 diterima melalui UMBPTN di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Kegiatan yang pernah diikuti selama duduk di bangku kuliah adalah sebagai berikut :
1. Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Lau Lugur, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara pada bulan Juli – Agustus 2019, 2. Ketua Koordinator Publikasi dan Dokumetasi Perayaan Natal Program Studi
Agribisnis Tahun 2019 Universitas Sumatera Utara.
3. Panitia Konsumsi Pengabdian Masyarakat Desa Mardinding, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo dan Agrifest 4.0 IMASEP FP USU.
4. Anggota Ikatan Mahasiswa Karo (IMKA) Mbuah Page FP dan Kehutanan, Universitas Sumatera Utara 2016-2020.
viii Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana pertanian di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan judul “ANALISIS PENDAPATAN DAN RISIKO USAHATANI TOMAT (Solanum lycopersicum L.) (Kasus : Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo).”
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Dr. Ir. Salmiah, MS selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, serta saran dan selalu memberikan banyak nasehat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta mengajarkan pentingnya saling menghargai dalam berbagai hal sekecil apapun sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
3. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec selaku Ketua Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dan Bapak Ir. M. Jufri, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara yang telah memfasilitasi penyelenggaraan perkuliahan serta kegiatan administrasi dan organisasi di kampus.
x
Universitas Sumatera Utara yang telah turut berperan dalam penyelesaian studi penulis.
5. Seluruh instansi dan responden yang terkait dengan penelitian penulis dan Bapak Meridin Munthe selaku tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat di Desa Pangambatan yang telah membantu dalam melaksanakan penelitian.
6. Kedua orang tua tercinta Ayahanda A.Sitepu dan Ibunda Alm. R.Bangun yang telah memberikan banyak perhatian, kasih sayang, motivasi serta dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini pada waktu yang tepat.
7. Teman - teman Angkatan 2016 Pertanian dan SEP yang tidak dapat penulis sebut namanya satu per satu yang telah mendukung penulis sepenuhnya dalam mengerjakan studi ini.
8. Teman-teman selama menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara terkhusus Melani, Gio, Anita, Yuyun, Yuliana, dan Rinaldi Gultom yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun untuk penyempurnaan skripsi ini. Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Desember 2020
Wira Surya Cendikia Sitepu
RIWAYAT HIDUP ... v
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 14
1.1 Latar Belakang... 14
1.2 Identifikasi Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Kegunaan Penulisan ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Budidaya Tanaman Tomat ... 7
2.2 Landasan Teori ... 9
2.2.1 Teori Usahatani ... 9
2.2.2 Teori Risiko ... 12
2.3 Penelitian Terdahulu ... 15
2.4 Kerangka Pemikiran ... 20
2.5 Hipotesis Penelitian ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 23
3.2 Metode Penentuan Sampel ... 24
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 25
3.4 Metode Analisis Data ... 25
3.5 Defenisi dan Batasan Operasional ... 30
3.5.1 Defenisi ... 30
3.5.2 Batasan Operasional ... 32
BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN ... 33
4.1 Deskripsi Wilayah ... 33
4.1.1 Letak Geografis Desa Pangambatan ... 33
x
4.1.2 Tata Guna Lahan Desa Pangambatan ... 33
4.2 Keadaan Penduduk ... 34
4.2.1 Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 34
4.2.2 Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur ... 35
4.2.3 Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan ... 35
4.2.4 Distribusi Penduduk Menurut Pekerjaan ... 36
4.1.4 Sarana dan Prasarana ... 37
4.2 Karakteristik Petani Sampel ... 38
4.2.1 Umur Petani ... 38
4.2.2 Tingkat Pendidikan ... 39
4.2.3 Jumlah Tanggungan Keluarga ... 39
4.2.4 Pengalaman Berusahatani ... 40
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 41
5.1 Pendapatan Petani Tomat Di Desa Pangambatan ... 41
5.2 Tingkat Risiko Usahatani Tomat di Desa Pangambatan ... 44
5.2.1 Risko Produksi Usahatani Tomat di Desa Pangambatan ... 45
5.2.2 Risiko Harga Usahatani Tomat di Desa Pangambatan ... 46
5.2.3 Risiko Pendapatan Usahatani Tomat di Desa Pangambatan ... 48
5.3 Strategi Penanggulangan Risiko Usahatani Tomat di Desa Pangambatan .. 50
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 52
6.1 Kesimpulan ... 52
6.2 Saran ... 52 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
No Judul Hal
1 Jumlah Produksi Tanaman Tomat di Sumatera Utara Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2018 - 2019
3 2 Jumlah Produksi Tanaman Tomat di Sumatera Utara
Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2018 - 2019
23 3 Penggunaan Lahan di Desa Pangambatan Tahun 2020 34 4 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa
Pangambatan Tahun 2020
34 5 Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Desa
Pangambatan Tahun 2020
35 6 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa
Pangambatan Tahun 2020
35 7 Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan di Desa
Pangambatan Tahun 2020
36 8 Sarana dan Prasarana di Desa Pangambatan Tahun 2020 38 9 Distribusi Sampel Menurut Kelompok Umur Tahun 2020 38 10 Distribusi Sampel Menurut Tingkat Pendidikan di Desa
Pangambatan Tahun 2020
39 11 Distribusi Sampel Menurut Jumlah Tanggungan Keluarga
di Desa Pangambatan Tahun 2020
39 12 Distribusi Sampel Menurut Lama Berusahatani di Desa
Pangambatan Tahun 2020
40 13 Rata – Rata Total Biaya Produksi Usahatani Tomat per Ha
per Musim Tanam di Desa Pangambatan
41 14 Rata – rata Biaya Produksi, Penerimaan dan Pendapatan
Usahatani Tomat per Luas Lahan Petani dan per Ha per Musim Tanam dan per Bulan (Rp)
43
15 Analisis R/C Usahatani Tomat per Petani per Musim Tanam di Desa Pangambatan
44 16 Risiko Produksi Usahatani Tomat per Ha di Desa
Pangambatan
45 17 Risiko Harga Usahatani Tomat per Ha per Musim Tanam
di Desa Pangambatan
47 18 Risiko Pendapatan Usahatani Tomat per Ha per Musim
Tanam di Desa Pangambatan
48 19 Risiko Produksi, Risiko Harga dan Risiko Pendapatan
Usahatani per Ha per Musim Tanam di Desa Pangambatan
50
xii
DAFTAR GAMBAR
No Judul Hal
1 Harga Tomat Tingkat Produsen di Kabupaten Karo Per
Kg Tahun 2018 4
2 Skema Kerangka Pemikiran 21
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul
1 Karakteristik Petani Sampel Tomat
2 Biaya Penggunaan Bibit Tomat per Musim Tanam
3 Biaya Penggunaan Pupuk Usahatani Tomat per Musim Tanam 4 Biaya Penggunaan Pestisida Usahatani Tomat per Musim Tanam 5 Biaya Penggunaan Mulsa Usahatani Tomat per Musim Tanam 6 Biaya Penggunaan Tali Usahatani Tomat per Musim Tanam 7 Biaya Penggunaan Bambu Usahatani Tomat per Musim Tanam 8 Curahan dan Biaya Tenga Kerja Usahatani Tomat per Musim
Tanam
9 Biaya Sewa dan Pajak Lahan Usahatani Tomat 10 Penggunaan Alat Usahatani Tomat per Musim Tanam 11 Biaya Penyusutan Alat Usahatani Tomat per Musim Tanam 12 Total Biaya Penyusutan Alat Usahatani Tomat
13 Jumlah Produksi dan Harga Usahatani Tomat per Musim Tanam 14 Total Penerimaan Usahatani Tomat per Musim Tanam
15 Biaya Tidak Tetap Usahatani Tomat per Musim Tanam 16 Biaya Tetap Usahatani Tomat per Musim Tanam 17 Total Biaya Usahatani Tomat per Musim Tanam 18 Total Pendapatan Usahatani Tomat per Musim Tanam 19 Risiko Produksi Usahatani Tomat per Ha per Musim Tanam 20 Risiko Harga Usahatani Tomat per Ha per Musim Tanam 21 Risiko Pendapatan Usahatani Tomat per Ha per Musim Tanam 22 Foto Lahan Tomat
23 Foto Tomat saat Panen
24 Foto Wawancara dengan Petani Tomat
25 Foto Bersama Kepala Desa dan Sekretaris Desa Pangambatan 26 Foto Gapura Selamat Datang di Desa Pangambatan
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang penting bagi perekonomian Indonesia yang harus di kembangkan. Pengembangan sektor pertanian dapat dilakukan melalui memperdayaan perekonomian rakyat melalui pendekatan agribisnis yang akan menciptakan pertanian yang maju, efisien, dan tangguh.
Pengembangan sektor pertanian yang dilakukan mencakup berbagai subsektor, antara lain subsektor tanaman holtikultura, pangan, perikanan, perternakan, perkebunan, dan kehutanan (Nyoto, 2016).
Hortikultura atau tanaman sayuran adalah komoditi pertanian yang memiliki harga yang cukup tinggi di pasaran. Nawangsih, dkk (2001) mengemukakan bahwa kegiatan pertanian khususnya dibidang hortikultura (tanaman bunga, buah dan sayur) banyak menarik perhatian berbagai kalangan khususnya petani.
Kegiatan ini dapat dijadikan mata pencaharian yang menghasilkan keuntungan.
Komoditi hortikultura terutama sayur seperti kol, kentang, cabai, tomat, dan wortel, sejak lama telah dibudidayakan oleh petani karena produk ini dibutuhkan hampir setiap lapisan masyarakat sebagai menu hidangan sehari-hari.
Peningkatan produksi hortikultura ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, bahan baku industri, peningkatan ekspor dan subsitusi impor. Dengan adanya pengembangan hortikultura dapat dikatakan bahwa tanaman sayur-sayuran memiliki prospek yang cerah sebab permintaan akan produk pertanian ini cukup tinggi. Hal ini dikarenakan sayuran sudah menjadi bagian dari menu sehari-hari
masyarakat Indonesia sehingga tidak mengherankan jika produk pertanian ini selalu tersedia di pasaran.
Bagian lain yang harus diperhatikan selain kegiatan produksi adalah risiko dari usahatani yang dijalankan. Salah satu kunci yang menjadi kesuksesan usahatani adalah dapat melihat risiko potensial dan mengembangkan rencana darurat apabila risiko tersebut terjadi. Dalam berbagai kegiatan usaha di bidang pertanian sering terjadi situasi ekstrim, yaitu kejadian yang mengandung risiko (risk events) dan kejadian yang tidak pasti (uncertainty events).
Kendala usahatani hortikultura dibeberapa negara berkembang adalah rendahnya nilai pendapatan petani, keterbatasan pengetahuan petani, keterbatasan lahan yang dimiliki petani, dan posisi tawar pada pihak petani yang kurang kuat. Hal tersebut menyebabkan rendahnya nilai keuntungan yang diperoleh petani (Ashari, 1995). Risiko produksi pertanian lebih besar dibandingkan risiko non pertanian, karena pertanian sangat dipengaruhi oleh alam seperti cuaca, hama penyakit, suhu, kekeringan, dan banjir. Besar kecilnya risiko yang dihadapi oleh petani akan berdampak pada tingkat produksi dan pendapatan yang diperoleh petani. Sedangkan risiko harga dipengaruhi oleh banyaknya produksi yang dihasilkan pada musim tanam tertentu. Apabila produksi yang dihasilkan banyak atau terjadi panen raya, maka harga jual menurun. Adanya risiko tersebut berdampak pada tingkat pendapatan petani. Dan itu juga akan mempengaruhi keputusan petani dalam melakukan usahatani berikutnya.
Tomat merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia.
Sehingga dari tahun ke tahun Indonesia selalu berusaha untuk meningkatkan
produksi tomat dengan cara perluasan wilayah budidaya tomat. Namun Indonesia masih mengimpor tomat baik dalam bentuk buah segar maupun dalam bentuk olahan yang berasal dari berbagai negara (Simamora, 2009).
Provinsi Sumatera Utara memiliki potensi alam yang sangat baik untuk mengusahakan komoditi sayur- sayuran. Kabupaten Karo yang merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Utara adalah daerah terbesar yang memproduksi sayur-sayuran terutama tomat. Hal ini dikarenakan iklim, suhu dan kondisi lahannya yang sangat mendukung. Berikut merupakan Tabel Jumlah Produksi Tanaman Tomat di Sumatera Utara Menurut Kabupaten/Kota ditahun 2018-2019 : Tabel 1.1 Jumlah Produksi Tanaman Tomat di Sumatera Utara Menurut
Kabupaten/Kota Tahun 2018 - 2019
Kabupaten/Kota Jumlah Produksi Tomat (Kw)
2018 2019
Mandailing Natal 20.719 12.502
Tapanuli Selatan 14.516 22.039
Tapanuli Utara 5.691 17.224
Toba 2.978 3.194
Simalungun 206.168 175.316
Dairi 13.650 38.888
Karo 717.280 816.932
Deli Serdang 50 1.647
Langkat 7.467 6.600
Humbang Hasundutan 40.882 78.499
Pakpak Bharat - 210
Samosir 310 12
Batu Bara - 200
Padang Lawas Utara 1.356 247
Padang Lawas 2.261 3.415
Labuhan Batu Selatan 845 440
Kota Medan 236 -
Kota Binjai 225 369
Kota Padang Sidimpuan 1.862 8.096
Sumber: Badan Pusat Statisik, 2020
Tabel 1.1 menjelaskan bahwa, Kabupaten Karo merupakan kabupaten yang memiliki jumlah produksitomat tertinggi di Provinsi Sumatera Utara yaitu
sebanyak 717.280 kw di tahun 2018 dan meningkat menjadi 816.932 kw di tahun 2019. Sedangkan produksi tomat terendah terdapat di Kabupaten Samosir yaitu sebanyak 12 kw di tahun 2019.
Harga tomat di tingkat produsen setiap bulannya berfluktuasi. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut :
Sumber: Statistik Harga Produsen Di Kabupaten Karo, 2019
Gambar 1.1 Harga Tomat Tingkat Produsen di Kabupaten Karo Per Kg Tahun 2018
Gambar 1.1 menjelaskan bahwa harga tertinggi pada tingkat produsen di tahun 2018 adalah pada bulan Desember yaitu sebesar Rp 8.400 per kg, dan harga terendah di tingkat produsen adalah pada bulan Mei yaitu sebesar Rp 2.000 per kg. Harga rata-rata pada tahun 2018 adalah sebesar Rp 4.629 per kg. Harga yang berfluktuasi ini menjadi salah satu masalah pada produsen komoditi tomat.
Salah satu permasalahan yang dihadapi petani tomat di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo adalah ketidakpastian terhadap harga setiap bulannya. Risiko akan ketidakpastian harga serta risiko-risiko produksi lainnya tidak mempengaruhi petani dalam mengusahatanikan komoditi tomat, hal ini
3.200 3.000 2.700 2.000
4.250 6.500
5.500 3.500 3.900
6.000 6.600 8.400
4.629
0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000
Fluktuasi Harga Tomat Tahun 2018
Harga Tomat Per Bulan
terlihat oleh data produksi tomat setiap tahunnya mengalami peningkatan di daerah tersebut. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tentang usahatani tomat tersebut karena ingin menganalisis pendapatan petani tomat serta ingin melihat apakah tomat memang rentan terhadap risko serta mengukur tingkat risiko yang dihadapi petani dalam mengusahatanikan komoditi tomat di daerah penelitian.
1.2 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana analisis pendapatan petani dan kelayakan usahatani tomat (Solanum lycopersicum L.) daerah penelitian?
2. Bagaimana risiko usahatani tomat (Solanum lycopersicum L.) di daerah penelitian?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis pendapatan petani dan mendeskripsikan kelayakan usahatani tomat (Solanum lycopersicum L.) di daerah penelitian.
2. Untuk menganalisis risiko usahatani tomat (Solanum lycopersicum L.) di daerah penelitian.
1.4 Kegunaan Penulisan
Kegunaan penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai masukan bagi petani dalam mengembangkan usahatani dan sebagai informasi berhubungan dengan pendapatan, produksi, risiko dan kelayakan pada usahatani tomat.
2. Sebagai masukan bagi pemerintah dan pihak lain dalam upaya mencari pendekatan dan startegi terbaik dalam melakukan upaya untuk meningkatkan pendapatan petani tomat di daerah penelitian.
3. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi peneliti lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Budidaya Tanaman Tomat
Tomat (Solanum lycopersicum L.) berasal dari daerah Peru dan Ekuador, kemudian menyebar keseluruh Amerika, terutama ke wilayah yang beriklim tropis. Bangsa Eropa dan Asia mengenal tanaman tomat pada tahun 1523. Namun pada waktu itu tanaman tomat dianggap sebagai tanaman yang beracun dan hanya ditanam sebagai tanaman hias dan obat kanker. Tanaman tomat termasuk tanaman semusim yang berumur pendek artinya umur tanaman hanya satu kali berproduksi dan setelah itu mati (Cahyono, 1998).
Tanaman tomat bisa tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, tergantung dari varietasnya. Namun budidaya tomat di dataran tinggi biasanya lebih produktif dibanding dataran rendah. Sosok tanaman tomat berupa semak yang bersifat annual atau tahunan tergantung pada varietasnya, buah tomat sangat beragam baik bentuk, warna maupun ukurannya. Keindahan bentuk dan warnanya membuat tomat sering dimanfaatkan pula sebagai bahan dekorasi. Selain itu, karena rasanya yang segar menyebabkan tomat sering pula dimakan langsung sebagai buah (Widayati, 1999).
Tomat merupakan tanaman daerah tropis. Berarti tanaman tomat membutuhkan banyak sinar matahari agar pertumbuhannya baik. Daya tumbuhnya cukup mengesankan. Bilamana masih menyimpan zat-zat makanan dan cukup air, serta lingkungan yang memenuhi persyaratan bagi pertumbuhannya, tomat dapat tumbuh terus hingga mencapai ketinggian 13 meter dalam waktu 1 tahun,
berbunga dan berbuah terus (Rismunandar, 2001).
Buah tomat termasuk komoditas multiguna, dikatakan multiguna karena selain berfungsi sebagai sayuran maupun dikonsumsi buah segar, buah tomat juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar kosmetik serta obat-obatan berbagai macam penyakit. Kandungan kimia buah tomat mempunyai khasiat dan manfaat sangat besar bagi kesehatan manusia. Tomat banyak mengandung vitamin A, C, serta mineral Mg dan P. Selain itu, tomat juga mengandung mineral Ca dan Fe, meskipun dalam jumlah tidak banyak. Dalam 100 g tomat terdapat 20-23 kalori (Widayati, 1999).
Buah tomat sebagai sumber vitamin sangat baik untuk mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit, seperti sariawan karena kekurangan vitamin C, xeropthalmia pada mata akibat kekurangan vitamin A, beri-beri, radang syaraf, lemahnya otot-otot, dermatitis, bibir menjadi merah dan radang lidah akibat kekurangan vitamin B. Sebagai sumber mineral, buah tomat dapat bermanfaat untuk pembentukan tulang dan gigi (zat kapur dan fosfor), sedangkan zat besi (Fe) yang terkandung didalam buah tomat dapat berfungsi untuk pembentukan sel darah merah atau hemoglobin. Buah tomat juga mengandung serat yang berfungsi memperlancar proses pencernaan makanan didalam perut dan membantu memudahkan buang kotoran. Selain itu, tomat mengandung zat potassium yang sangat bermanfaat untuk menurunkan gejala tekanan darah tinggi.
(Firmanto, 2011).
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Teori Usahatani
Suratiyah (2006) berpendapat bahwa, ilmu usaha tani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani menentukan, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi dengan efektif dan efisien sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan yang maksimal mungkin.
Shinta (2011) berpendapat bahwa, usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana menggunakan sumberdaya secara efisien dan efektif pada suatu usaha pertanian agar diperoleh hasil maksimal. Sumber daya itu adalah lahan, tenaga kerja, modal dan manajemen.Setiap petani dalam pengelolaan usahataninya mempunyai tujuan yang berbeda beda. Ada tujuannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang disebut usahatani subsisten, dan ada juga yang bertujuan mencari keuntungan disebut usahatani komersial.
Usahatani yang dilakukan petani umumnya mempunyai dua tujuan usahatani, yaitu mendapatkan pendapatan usahatani yang maksimal atau untuk keamanan dengan cara meminimalkan risiko, termasuk keinginan untuk memiliki persediaan pangan yang cukup untuk konsumsi rumah tangga dan selebihnya untuk dijual (Soedjana, 2007).
Biaya usahatani dibedakan menjadi: biaya tetap (fixed cost), yaitu biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun output yang diperoleh banyak atau sedikit. Selain itu, biaya tetap dapat pula dikatakan biaya yang tidak dipengaruhi oleh besarnya produksi komoditas pertanian. Contohnya adalah pajak, sewa tanah dan penyusutan alat pertanian. Biaya tidak tetap (variable cost),
yaitu biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Biaya variabel merupakan biaya operasional dalam suatu usahatani. Contohnya biaya untuk sarana produksi pertanian, seperti biaya tenaga kerja, pupuk, obat-obatan, dan sebagainya (Soekartawi, 1998).
Penerimaan usahatani adalah hasil penjualan dari sejumlah produksi tertentu yang diterima atas penyerahan sejumlah barang pada pihak lain (Soekartawi, 1995).
Soedarsono (1992), menyatakan bahwa jumlah penerimaan total didefinisikan sebagai penerimaan dan penjualan barang tertentu dikalikan dengan harga jual per satuan. Setelah petani menjual hasil produksinya, maka petani akan menerima sejumlah uang.
Penerimaan dirumuskan dengan (Soekartawi, 1995):
TR = P.Q
Dimana:
TR = Total Revenue (penerimaan total) P = Price (harga)
Q = Quantity (jumlah produksi)
Pendapatan merupakan jumlah seluruh uang yang akan diterima oleh seorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu. Pendapatan terdiri dari upah atau penerimaan tenaga kerja.Pendapatan dan kekayaan seperti sewa, bunga serta pembayaran transfer atau penerimaan dari tunjangan sosial (Samuelson, 2003).
Pendapatan bersih adalah selisih pendapatan total tunai dengan total pengeluaran tunai. Pendapatan bersih suatu usaha dinyatakan dalam bentuk jumlah rupiah.
Tujuan petani dalam berusahatani pada masyarakat yang telah memasuki sistem pasar adalah untuk memperoleh pendapatan yang sebesar-besarnya (Simanjuntak, 2004).
Kadariah (1983) menyatakan bahwa, pendapatan adalah hasil berupa uang atau hasil material lainnya yang berasal dan pemakaian kekayaan atau dan jasa-jasa manusia yang bebas.Pendapatan umumnya adalah peneriman-penerimaan individu perusahaan. Ada dua jenis pendapatan, yaitu:
1. Pendapatan kotor (gross income) adalah penerimaan seseorang atau suatu badan usaha selama periode tertentu sebelum dikurangi dengan pengeluaran pengeluaran usaha.
2. Pendapatan bersih (net income) adalah sisa penghasilan dan laba setelah dikurangi semua biaya, pengeluaran dan penyisihan untuk depresiasi serta kerugian-kerugian yang bisa timbul.
Soedarsono (1992) menyatakan, pendapatan yang diterima petani dari hasil produksi adalah total penerimaan dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:
I = TR – TC
Dimana:
I = Income (pendapatan)
TR = Total Revenue (penerimaan total) TC = Total Cost (biaya total)
Analisis kelayakan mempunyai arti penting bagi perkembangan dunia usaha.
Gagalnya usahatani dan bisnis rumah tangga pertanian merupakan bagian dari tidak diterapkannya studi kelayakan dengan benar. Secara teoritis, jika setiap usahatani didahului analisis kelayakan yang benar, resiko kegagalan dan kerugian dapat dikendalikan dan diminimalkan sekecil mungkin (Subagyo, 2007).
Untuk menganalisa kelayakan usahatani yang dijalankan oleh petani tomat dapat dilihat melalui kriteria R/C Ratio.
Revenue Cost Ratio (R/C Ratio)
R/C Ratio adalah perbandingan antara penerimaan penjualan dengan total biaya yang dikeluarkan selama proses produksi hingga menghasilkan produk (Soekartawi, 2000).
Dimana :
TR = Total Penerimaan (Rp) TC = Total Biaya (Rp) 2.2.2 Teori Risiko
Kegiatan - kegiatan usaha di bidang pertanian sering terjadi situasi ekstrim, yaitu kejadian yang mengandung risiko (risk events) dan kejadian yang tidak pasti (uncertainty events). Risiko produksi pertanian lebih besar dibandingkan risiko non pertanian, karena pertanian sangat dipengaruhi oleh alam seperti cuaca, hama penyakit, suhu, kekeringan, dan banjir. Risiko produksi yang paling banyak menimbulkan kerugian bagi petani adalah adanya serangan hama dan penyebab
𝐑/𝐂 𝑹𝒂𝒕𝒊𝒐 =𝐓𝐑 𝐓𝐂
penyakit yang tidak dapat diprediksikan sebelumnya. Serangan hama dan penyebab penyakit ini dapat muncul karena dipicu oleh perubahan cuaca, banyaknya gulma, dan akibat pengelolaan perilaku tanaman yang tidak optimum.
Darmawi (1994) menjelaskan bahwa, manajemen risiko merupakan usaha untuk mengetahui, menganilisis, serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi. Risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadi akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan atau tidak terduga. Dengan kata lain kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian. Ketidakpastian itu merupakan kondisi yang menyebabkan terjadinya risiko.
Tingginya risiko produksi akan berpengaruh terhadap pendapatan petani. Selain alam, risiko dapat ditimbulkan oleh kegiatan pemasaran. Risiko harga disebabkan karena harga pasar tidak dapat dikuasai petani. Fluktuasi harga lebih sering terjadi pada hasil-hasil pertanian. Widodo (2006) berpendapat bahwa, risiko dapat bersumber pada siklus bisnis, fluktuasi musiman, inflasi, iklim, hama penyakit, nilai tukar rupiah, dan teknologi.
Kemunculan risiko pada pertanian dapat pula disebabkan oleh adanya faktor internal maupun eksternal. Faktor-faktor eksternal dari sektor pertanian berpengaruh lebih besar dibandingkan dengan faktor-faktor internal. Contoh, anomali perubahan iklim yang terjadi dewasa ini, berimplikasi langsung terhadap aktivitas usahatani di Indonesia. Perubahan iklim yang semakin tidak dapat dikira oleh para petani, menyebabkan sering terjadinya kejadian-kejadian buruk yang
merugikan petani seperti tidak optimalnya atau rusaknya jaringanirigasi, jalan usahatani, dan prasarana pertanian lainnya (Ramadhan, 2013).
Pengukuran risiko dilakukan untuk mengukur pengaruh sumber-sumber risiko terhadap suatu kegiatan bisnis melalui penggunaan suatu alat analisis tertentu.
Salah satu alat analisis yang digunakan dalam pengukuran risiko adalah koefisien variasi (coefficient variation), ragam (variance) dan simpangan baku (standard deviation). Ketiga ukuran tersebut berkaitan satu sama lain, jika nilai ketiga indikator tersebut semakin kecil maka risiko yang dihadapi kecil.
Besarnya keuntungan yang diharapkan menggambarkan jumlah rata-rata keuntungan yang diperoleh petani, sedangkan simpangan baku merupakan besarnya fluktuasi keuntungan yang mungkin diperoleh atau merupakan risiko yang ditanggung petani. Selain itu penentuan batas bawah sangat penting dalam pengambilan keputusan petani untuk mengetahui jumlah hasil terbawah di bawah tingkat hasil yang diharapkan. Batas bawah keuntungan menunjukkan nilai nominal keuntungan terendah yang mungkin diterima oleh petani.
1. Variance
Pengukuran varian dari return merupakan penjumlahan selisih kuadrat dari return dengan expected return dikalikan dengan peluang dari setiap kejadian. Dari nilai variance dapat menunjukkan bahwa semakin kecil nilai variance maka semakin
kecil penyimpangannya sehingga semakin kecil risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usaha tersebut.
2. Standard Deviation
Standard deviation dapat diukur dari akar kuadrat dari nilai variance. Risiko
dalam penelitian ini berarti besarnya fluktuasi keuntungan, sehingga semakin kecil standard deviation maka semakin rendah risiko yang dihadapi dalam kegiatan usaha.
3. Coefficient Variation
Koefisien variasi diukur dari rasio standar deviasi dengan return yang diharapkan atau ekspektasi return. Semakin kecil nilai koefisien variasi maka semakin rendah risiko yang dihadapi.
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini menjadi acuan dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Berikut merupakan penelitian terdahulu terkait dengan penelitian yang dilakukan penulis. Penelitian Ronal Sinaga (2011) tentang “Analisis Usahatani Bawang Merah Di Kelurahan Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan Kabupaten Simalungun “ menyimpulkan bahwa, Produktivitas bawang merah di daerah penelitian masih tergolong rendah. Analisis secara parsial menunjukkan bahwa faktor produksi pupuk organik, pestisida tepung dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah, sedangkan luas lahan, bibit, pupuk kimia dan pestisida cair tidak berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah di daerah penelitian. Analisis secara serempak menunjukkan bahwa seluruh faktor produksi berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah di daerah penelitian. Rata-rata penerimaan dari usahatani bawang merah di daerah penelitian sebesar Rp.24.700.000,-/petani atau Rp 86.627.930,-/Ha, dengan rata-
rata biaya produksi sebesar Rp 9.191.267,-/petani atau Rp 33.241.659,-/Ha.
Ratarata pendapatan usahatani bawang merah sebesar Rp.15.508.733,-/petani atau Rp.53.386.271,-/Ha. Usahatani bawang merah layak diusahakan, karenatelah melampaui BEP (Break Even Point) volume produksi. Harga bawang merah di daerah penelitian lebih besar dari BEP (Break Event Point). R/C Ratio bawang merah di daerah penelitian sebesar 2,60 lebih besar dari 1 sebagai kriteria layak.
Usahatani bawang merah di daerah penelitian memberikan kontribusi 64,06%
terhadap total pendapatan keluarga.
Penelitian Rio Saputra (2017) tentang “Analisis Risiko Usahatani Padi Di Daerah Perbukitan Di Desa Kragilan Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo”
menyimpulkan bahwa , macam-macam risiko yang dihadapi petani padi di sekitar daerah perbukitan adalah bencana alam (seperti longsor dan kekeringan), perubahan cuaca dan iklim (seperti lebih lamanya musim kemarau daripada musim hujan), gangguan OPT (serangan hama wereng), kesulitan pengolahan lahan karena tidak bisa dilalui oleh traktor, mencari pinjaman modal yang sulit.
analisis risiko menunjukkan risiko produksi, biaya dan pendapatan risikonya rendah. Petani mempunyai persepsi buruk terhadap risiko karena menganggap risiko merupakan suatu kejadian yang sangat mengganggu jalannya usahatani padi, walaupun masih ada sebagian risiko bisa dicegah dan diatasi. Cara yang dipilih oleh petani dalam mengendalikan risiko ialah sebelum melakukan usahatani padi petani atau mengalami risiko, petani terlebih dahulu membuat perencanaan bersama kelompok tani dan penyuluh pertanian, pada saat masa produksi apabila terserang hama dan penyakit petani lebih banyak memilih untuk membasmi hama dengan menggunkan pestisida yang lebih cepat dan terbukti,
walaupun petani sudah mengetahui dampaknya dan setelah mengalami risiko, petani tetap melakukan/menyelesaikan usahataninya walaupun produksi padi tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Penelitian Dina Tobing (2009) tentang “Analisis Kelayakan Usahatani Wortel di Desa Sukadame Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo Sumatera Utara”
menyimpulkan bahwa, 1) sarana produksi (lahan, benih, garam, pupuk, dan tenaga kerja) pada usahatani wortel di daerah penelitian cukup tersedia. 2) Penggunaan sarana produksi, secara parsial luas lahan, benih, garam, NPK, dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap total prodksi wortel. Sedangkan amopos dan ikan tidak berpengaruh nyata terhadap total produksi wortel. Secara serentak semua sarana produksi berpengaruh nyata terhadap total produksi. R2 sebesar 0,986 berarti produksi wortel dipengaruhi oleh sarana produksi sebesar 98,6%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain. Pendapatan usahatani wortel di daerah penelitian lebih tinggi dibanding dengan upah buruh harian lepas.
Usahatani wortel layak dikembangkan karena produksi wortel di daerah penelitian telah melampaui masing-masing titik impas (BEP) volume produksi, harga wortel di daerah penelitian telah melampaui titik impas (BEP) harga produksi, nilai R/C pada usahatani wortel didaerah penelitian sebesar 2,28. Dimana R/C ≥ 1 maka usahatani layak untuk dijlankan. Penggunaan sarana produksi seperti garam, amopos, NPK, ikan dan tenaga kerja pada usahatani wortel didaerah penelitian belum dan tidak efisien.
Penelitian Dorma Sinaga (2017) tentang “Estimasi Pendapatan dan Resiko Usahatani Cabai Merah (Capsicumannum L.) di Desa Pabuluan I Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi” menyimpulkan bahwa, perkembangan produksi
cabai merah di Kecamatan Parbuluan selama 5 tahun mengalami peningkatan dan pendapatan petani cabai merah di Desa Parbuluan I per petani lebih kecil dari UMK Kabupaten Dairi. Secara parsial variabel luas lahan berpengaruh nyata terhadap pendapatan sedangkan variabel umur, tingkat pendidikan, lama berusahatani dan jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan. Usahatani cabai merah mempunyai risiko pendapatan dengan nilai KV sebesar 0,20, risiko produksi dengan nilai KV sebesar 0,14 dan risiko pendapatan dengan nilai KV sebesar 0,04. Estimasi pendapatan petani cabai merah di Desa Parbuluan 1 pada tahun 2020 adalah sebesar Rp 63.195.128 per Ha per musim tanam, jika kondisi harga dan jumlah produksinya tetap seperti 3 tahun sebelumnya.
Penelitian Elisa Sitepu (2017) tentang “Analisis Resiko Produksi, Harga dan Pendapatan pada Usahatani Labu Siam (Sechium edule) dan Kubis (Brassica oleracea) di Desa Bulanjahe Kecamatan Barusjahe Kabupaten Karo”
menyimpulkan bahwa, pada petani labu siam diperoleh rata-rata biaya total yang dikeluarkan per ha per tahun, rata-rata total penerimaan per ha per tahun dan rata- rata pendapatan per ha per tahun lebih kecil dibandingkan yang diperoleh oleh petani kubis. Nilai KV untuk usahatani labu siam diperoleh risiko produksi, risiko harga dan risiko pendapatan masing-masing sebesar 0,03;0,04 dan 0,09 risiko harga sebesar 0,04 dan risiko pendapatan sebesar 0,09, sedangkan nilai pada usahatani kubis diperoleh risiko produksi, risiko harga dan risiko pendapatan masing-masing sebesar 0,10;0,07 dan 0,18. Dari hasil yang diperoleh dapat diartikan bahwa usahatani kubis lebih berisiko daripada usahatani labu siam.
Penelitian Wina Gultom (2017) tentang “Analisis Risiko Usahatani Bunga Kol dan Buncis di Desa Cinta Rakyat Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo”
menyimpulkan bahwa, pada petani bunga kol diperoleh rata – rata biaya total , rata-rata total penerimaan dan rata-rata pendapatan per ha lebih kecil dibandingkan yang diperoleh oleh petani buncis. Dari segi nilai koefisien variasi (KV), untuk bunga kol diperoleh risiko produksi sebesar 0.07, risiko harga sebesar 0,26 dan risiko pendapatan sebesar 0,40, sedangkan nilai koefisien variasi (KV) buncis diperoleh risiko produksi sebesar 0.15, risiko harga sebesar 0,14 dan risiko pendapatan sebesar 0,37. Dari hasil yang diperoleh dapat diartikan bahwa produksi usahatani buncis lebih berisiko daripada produksi usahatani bunga kol sedangkan segi harga dan pendapatan, bunga kol lebih berisiko dibandingkan buncis.
Penelitian Agatha Siregar (2016) tentang “Analisis Kelayakan dan Resiko Usahatani Bawang Prei dibandingkan Sayuran Lainnya di Desa Merdeka Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo” menyimpulkan bahwa, pendapatan bahwa rata-rata/Ha usahatani terbesar adalah pendapatan rata-rata usahatani bawang prei;
usahatani bawang prei, usahatani wortel dan usahatani kentang layak untuk diusahakan; dan usahatani yang memiliki risiko produksi, risiko harga dan risiko pendapatan tertinggi adalah usahatan wortel.
Penelitian Fauzi Satya (2017) tentang “Dampak Erupsi Gunung Sinabung terhadap Pendapatan dan Pemasaran Komoditi Tomat dan Cabai Merah di Desa Batu Karang Kecamatan Payung Kabupaten Karo” menyimpulkan bahwa, terdapat perbedaan yang nyata terhadap perbandingan jumlah dan biaya input
produksi, pendapatan dan marjin saluran pemasaran usahatani tomat serta cabai merah antara sebelum dan sesudah erupsi Gunung Sinabung.
Penelitian Ayu Hartati (2017) tentang “Analisis Risiko dan Pendapatan Usahatani Sayuran di Kelompok Tani Karya Maju, Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan” menyimpulkan bahwa, pendapatan rata-rata per hektar usahatani kacang panjang adalah sebesar Rp 833.047.900, sedangkan pendapatan rata-rata per hektar usahatani bayam sebesar Rp 198.535.555,56 serta pendapatan rata-rata usahatani sawi ialah sebesar Rp 158.187.072,92. Sedangkan dari ketiga usahatani yang memiliki nilai risiko produksi tertinggi adalah usahatani sawi, sedangkan risiko harga dan risiko pendapatan tertinggi adalah usahatani bayam.
2.4 Kerangka Pemikiran
Penulis menyusun suatu kerangka pemikiran bahwa tidak berbeda dengan produk pertanian lainnya, tomat juga memiliki risiko dan ketidakpastian. Fluktuasi produktivitas merupakan indikasi risiko produksi, dimana risiko yang terjadi ini berkaitan dengan kegiatan produksi yang dilakukan para petani tomat dan hal ini dapat meyebabkan fluktuasi pada tingkat pendapatan petani.
Risiko harga juga menjadi hal yang pasti terjadi di dalam usahatani tomat ditambah situasi alam yang tidak menentu membuat risiko produksi tidak dapat dihindari. Risiko yang dihadapi meliputi risiko harga, produksi, dan pendapatan dan penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar peluang terjadinya kerugian dari tiga aspek tersebut serta melihat apakah usahatani ini layak untuk dijalankan atau tidak.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disusun suatu kerangka pemikiran yang disajikan pada gambar 2.1 berikut:
Keterangan
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran Produksi Tomat
Penerimaan
Pendapatan
Risiko Usahatani
Risiko Produksi Risiko Harga Risiko Pendapatan
: Menyatakan adanya pengaruh
Harga Jual
Biaya Produksi
: Menyatakan adanya hubungan Usahatani Tomat
Layak
Tidak Layak
2.5 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan petani tomat digolongkan tinggi dan usahatani tomat di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo dikatakan layak untuk diusahakan.
2. Tingkat risiko usahatani tomat di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek Kabupaten Karo cukup tinggi.
23
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian ditentukan dengan cara sengaja (purposive) yaitu di desa Pangambatan, Kecamataan Merek, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.
Kecamatan Merek merupakan merupakan produksi terbesar tanaman holtikultura, salah satunya adalah tanaman tomat. Luas panen, produksi, dan rata-rata produksi tanaman tomat di Kabupaten Karo tahun 2018 terdapat pada Tabel 1.1
Tabel 3.1 Luas Panen, Produksi, dan Rata-rata Produksi Tomat Menurut Kecamatan Tahun 2018
Kecamatan Merek Kabupaten Karo dipilih sebagai lokasi penelitian berdasarkan pertimbangan bahwa dari data diketahui bahwa Kecamatan Merek memiliki jumlah luas panen yang paling luas dan jumlah produksi yang terbesar kedua setelah Kecamatan Naman Teran.
Kecamatan Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Rata-Rata Produksi (Ton/Ha)
Mardinding - - -
Laubaleng - - -
Tigabinanga 1 216 216
Juhar 29 3.080 106,2
Munte 34 3.140 92,3
Kutabuluh - - -
Payung 87 7.258 83,4
Tiganderket 156 38.179 244,7
Simpang Empat 377 89.730 238
Naman Teran 329 106.673 324,2
Merdeka 144 42.921 298
Kabanjahe 276 97.600 353,6
Berastagi 142 27.568 194,1
Tigapanah 296 74.750 252,5
Dolat Rakyat 265 67.240 253,7
Merek 735 103.835 141,27
Barusjahe 207 55.090 266,1
Karo (2018) 3.078 717.280 233
Sumber: BPS, Badan Pusat Statistik Pertanian Hortikultura, 2019
Desa lokasi penelitian ditentukan berdasarkan hasil pra survey, bahwa Desa Pangambatan Kecamatan Merek Kabupaten Karo merupakan salah satu sentra produksi tomat.
3.2 Metode Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah petani tomat di Desa Pangambatan. Jumlah petani yang mengusahakan tanaman tomat di Desa Pangambatan sebanyak 370 KK. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah dengan metode Simple Random Sampling. Metode Simple Random Sampling adalah pengambilan
anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono,2017).
Penentuan jumlah sampel di Desa Pangambatan dilakukan secara acak. Untuk menentukan jumlah petani yang akan dijadikan sampel dihitung menggunakan rumus Slovin (Supranto, 2000), dimana jumlah populasi telah diketahui dengan pasti, sehingga:
Dimana :
n = Jumlah Sampel N = Jumlah Populasi
e = Presentase kelonggaran ketelitian kesalahan pengambilan sampel yang masih bisa ditolerir, e = 0,15
Dalam rumus Slovin ada ketentuan sebagai berikut : Nilai e = 0,1 (10%) untuk populasi dalam jumlah besar.
n = N
1 + Ne2
Nilai e = 0,2 (20%) untuk populasi dalam jumlah kecil.
Jadi rentang sampel yang dapat diambil dari teknik Slovin adalah antara 10–20 % dari populasi penelitian.
370 1 + 370 (0,15)2 39,67 atau 40 petani
Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 petani tomat yang ada di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan langsung dari objeknya. Dalam penelitian ini, data primer diperoleh dari data hasil wawancara langsung antara peneliti dan responden dengan menggunakan daftar kuisioner yang dibuat terlebih dahulu.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk jadi dan telah diolah oleh pihak lain, yang biasanya dalam bentuk publikasi. Data sekunder dalam penelitian diperoleh dari instansi dinas yang terkait yaitu Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo, Badan Penyuluh Pertanian Kecamatan Merek, jurnal, literature, serta internet yang sesuai dengan kebutuhan yang terkait.
3.4 Metode Analisis Data
Untuk membuktikan hipotesis 1, analisis pendapatan petani tomat di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo digolongkan tinggi dan untuk n =
n =
mendeskripsikan kelayakan usahatani tomat dapat dianalisis dengan menggunakan metode analisis usahatani yaitu menganalisis biaya produksi, penerimaan dan pendapatan usahatani tomat. Gilarso (2003) menyatakan, biaya total merupakan penjumlahan dari seluruh biaya yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap yang dikeluarkan untuk menghasilkan output. Biaya produksi usahatani tomat dihitung dengan rumus berikut ini :
TC = FC + VC
Keterangan :
TC = Total Cost (Rp) FC = Fix Cost (Rp) VC = Variabel Cost (Rp)
Suratiyah (2009) berpendapat, pendapatan kotor atau penerimaan ialah seluruh pendapatan yang diperoleh dari usahatani selama satu periode diperhitungkan dari hasil penjualan atau penaksiran kembali yang diukur dalam satuan rupiah (Rp).
Pendapatan kotor atau penerimaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
TR = Y . Py
Keterangan :
TR = Pendapatan kotor/penerimaan usahatani tomat (Rp) Y = Jumlah produksi tomat (kg)
Py = Harga produksi tomat (Rp / kg)
Soekartawi (1999) berpendapat, pendapatan dapat dihitung dengan mengurangi nilai output total (penerimaan) dengan nilai input (biaya). Pendapatan suatu usahatani dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Pd = TR – TC Keterangan :
Pd = Pendapatan Bersih Usahatani (Rp) TR = Total Penerimaan (Rp)
TC = Total Biaya (Rp)
Revenue Cost Ratio (R/C Ratio)
Dimana :
TR = Total Penerimaan (Rp) TC = Total Biaya (Rp)
Kriteria efisiensi berdasarkan R/C Ratio adalah : R/C Ratio > 1 usahatani dikatakan layak
R/C Ratio < 1 usahatani dikatakan tidak layak (Soekartawi, 2000)
Untuk membuktikan hipotesis 2, mengetahui risiko produksi, risiko harga dan risiko pendapatan dari tanaman tomat digunakan analisis risiko. Risiko dapat diukur dengan menentukan kerapatan distribusi probabilitas. Salah satu ukurannya adalah dengan menggunakan standar deviasi. Semakin kecil deviasi standar, semakin rapat distribusi probabilitas dan dengan demikian semakin rendah risikonya.
𝐑/𝐂 𝑹𝒂𝒕𝒊𝒐 = 𝐓𝐑 𝐓𝐂
1. Risiko
Hernanto (1993) menyataakan, untuk mengukur risiko secara statistik, dipakai ukuran ragam (variance) atau simpangan baku (standard deviation). Ragam dapat dihitung dengan rumus:
V2= Keterangan :
V2 = ragam (variance)
Q = hasil produksi (kg/ha), harga (Rp/kg), pendapatan (Rp/kg)
Q1 =hasil produksi rata-rata (kg/ha), harga rata-rata (Rp/kg), pendapatan rata- rata usahatani tomat (Rp/kg).
n = jumlah sampel
Simpangan baku (standard deviation) dapat dihitung dengan rumus:
V = √ V2
Semakin tinggi nilai ragam (V2) dan simpangan baku (V) , maka semakin tinggi pula tingkat risiko.
2. Koefisien Variasi (KV)
Hernanto (1993) menyatakan, koefisien variasi merupakan perbandingan dari risiko yang harus ditanggung dengan besarnya produksi.
KV =
Keterangan :
KV = koefisien variasi
∑ (Q – Q1)2 n -1
V Q1
V = simpangan baku
Q1 = hasil produksi rata – rata (kg/ha), harga rata – rata (Rp/kg), pendapatan rata – rata tomat (Rp/kg)
Kriteria yang dipakai adalah jika KV < 1 maka usahatani yang dianalisis memiliki risiko yang rendah dan jika KV ≥ 1 maka usahatani yang dianalisis memiliki risiko yang tinggi.
3. Batas Bawah Hasil Tertinggi (L)
Batas bawah hasil tertinggi merupakan nilai hasil dari segi produksi, harga dan pendapatan yang paling rendah yang mungkin diterima. Apabila nilainya kurang dari nol, maka kemungkinan besar akan mengalami kerugian. Batas bawah hasil tertinggi dapat dihitung dengan rumus :
Keterangan :
L = batas bawah hasil tertinggi
Q1 = hasil produksi rata – rata (kg/ha), harga rata – rata (Rp/kg), pendapatan rata – rata tomat (Rp/kg)
V = simpangan baku
3.5 Defenisi dan Batasan Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penelitian ini, maka dibuat defenisi dan batasan operasional sebagai berikut :
L = Q1 – 2V
3.5.1 Defenisi
Defenisi operasional merupakan defenisi yang diberikan kepada variabel penelitian dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan atau memberikan operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut.
Defenisi operasional dari variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Usahatani tomat adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam pembudidayaan tanaman tomat dari penyediaan input dengan tujuan untuk memperoleh output dan keuntungan.
2. Petani sampel adalah petani yang sedang mengusahatanikan tomat.
3. Produksi tomat adalah banyaknya hasil dari usahatani tomat yang diambil berdasarkan luas yang dipanen.
4. Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan petani untuk usahatani tomat selama proses produksi berlangsung seperti bibit, pupuk, herbisida, pestisida,biaya tenaga kerja, dan sebagainya dinyatakan dalamrupiah (Rp).
5. TC (total cost) adalah seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dalam tomat atau jumlah biaya tetap dan biaya tidaktetap usahatani per musim tanam dinyatakan dalam rupiah (Rp).
6. FC (fixed cost) atau biaya tetap adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit dandinyatakan dalam rupiah (Rp).
7. VC (variable cost) atau biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh dan dinyatakan dalam rupiah (Rp).
8. Risiko usahatani adalah suatu kejadian yang memungkinkan terjadinya peristiwa merugi dan adanya peluang kejadian dalam usahatani tersebut sudah diketahui oleh petani.
9. Penerimaan usahatani tomat adalah jumlah produksi tomat dikali dengan harga jual tomat tersebut yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).
10. Harga tomat adalah harga komoditi tomat yang sudah ditambahkan dengan biaya transportasi dalam pendistribusiannya (pasar). Satuan dalam variabel ini adalah Rp/kg.
11. Risiko harga tomat adalah suatu kondisi harga tomat yang tidak pasti dengan peluang kejadian tertentu yang menimbulkan konsekuensi yang tidak menguntungkan atau mengalami kerugian pada petani tomat.
12. Pendapatan usahatani tomat adalah semua hasil dari penerimaan dikurangi dengan total biaya pada usahatani tomat.
13. Kelayakan usahatani tomat adalah ukuran keberhasilan secara finansial yang dihitug dengan membandingkan antar penerimaan dan total biaya produksi.
14. Risiko produksi adalah suatu kejadian dimana petani atau petambak tidak dapat menentukan jumlah pasti output yang dapat diHasilkan dalam satu kali proses produksi pada saat awal perencanaan.
15. Varian (ragam) adalah ukuran satuan usaha dari suatu usaha yang menggambarkan penyimpangan yang terjadi.
16. Simpangan baku adalah ukuran satuan risiko terkecil yang yang terjadi usahatani.
17. Koefisien variasi adalah perbandingan risiko yang harus ditanggung petani dengan jumlah.
18. Batas bawah (L) adalah selisih antara rata-rata keuntungan dengan dua kali simpangan baku untuk mengetahui perbedaan risiko.
3.5.2 Batasan Operasional
Adapun batasan operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian dilakukan di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.
2. Sampel penelitian adalah petani yang membudidayakan tomat selama kurun waktu penelitian.
3. Waktu penelitian dilaksanakan pada tahun 2020.
4.1 Deskripsi Wilayah
4.1.1 Letak Geografis Desa Pangambatan
Kecamatan Merek terletak diatas permukaan laut yaitu 920 – 1.620 m di atas permukaan laut dengan temperatur suhu udara 220C - 290C. Luas wilayah Kecamatan Merek yaitu 125,51 km2.
Desa Pangambatan Kecamatan Merek Kabupaten Karo merupakan salah satu desa dengan luas wilayah ± 2.000 Ha. Desa Pangambatan memilihi topografi berbukit, berudara sejuk dengan suhu berkisar 260C – 300C dan kecepatan angin yaitu 20 km/Jam. Jarak dari Desa ke Ibukota Kecamatan sekitar 6 km dan Ibukota Kabupaten sekitar 32 km. Desa Pangambatan terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Huta Sanggar, Dusun Baringin, Dusun Aek Hotang.
Adapun Desa Pangambatan berada pada batas-batas berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Merek dan Desa Garingging
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situnggaling dan Bukit Sipiso-piso 3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tongging dan Desa Sikodon-kodon 4. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Nagalingga, Desa Pancur Batu, Desa Partibi Lama, dan Desa Partibi Tembe.
4.1.2 Tata Guna Lahan Desa Pangambatan
Desa Pangambatan mempunyai luas ± 2.000 Ha. Penggunaan tanah di Desa Pangambatan meliputi tanah sawah, tanah kering, bangunan dan lainnya. Adapun jenis penggunaan lahan Desa Pangambatan diperlihatkan pada tabel berikut :
Tabel 4.1 Penggunaan Lahan di Desa Pangambatan Tahun 2019
No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
1 Pemukiman 96 4,8
2 Pertanian 1.106 55,3
3 Lahan Hutan 89 4,5
4 Lain - lain 709 35,5
Jumlah 2.000 100
Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020
Tabel 4.1 dapat menjelaskan bahwa penggunaan lahan untuk pemupikan seluas 96 Ha (4,8%), lahan pertanian seluas 1.106 Ha (55,3%), lahan hutan seluas 89 Ha (4,5%), dan lahan lain-lain seluas 709 Ha (35,5%). Jenis penggunaan lahan yang paling besar adalah untuk lahan pertanian dengan luas 1.106 Ha, yang salah satunya digunakan untuk pertanaman tomat.
4.2 Keadaan Penduduk
Desa Pangambatan memiliki jumlah penduduk yang berbeda – beda digolongkan berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, tingkat pendidikan dan pekerjaan.
Jumlah penduduk Desa Pangambatan pada tahun 2020 diketahui sebanyak 2.724 jiwa atau 677 KK.
4.2.1 Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Adapun distribusi penduduk menurut jenis kelamin di Desa Pangambatan diuraikan seperti yang tertera pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Pangambatan Tahun 2019
No. Laki – Laki (Jiwa) Perempuan (Jiwa) Jumlah (Jiwa)
1 1.341 1.383 2.724
Jumlah 1.341 1.383 2.724
Persentase(%) 100 49,23 50,77
Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020
Tabel 4.2 dapat menjelaskan bahwa jumlah penduduk Desa Pangambatan berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki – laki lebih sedikit daripada
jumlah penduduk perempuan. Jumlah penduduk perempuan yaitu 2.724 jiwa (50,77%) sedangkan jumlah penduduk laki – laki sebanyak 1.341 jiwa (49,23%).
4.2.2 Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur
Distribusi penduduk menurut kelompok umur di Desa Pangambatan diuraikan seperti yang tertera pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur di Desa Pangambatan Tahun 2019
Kelompok Umur (Tahun)
Jumlah Penduduk
(Jiwa) Persentase (%)
0 – 15 1.269 46,59
16 – 55 1.286 47,21
> 55 169 6,2
Jumlah 2.724 100
Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020
Tabel 4.3 dapat menjelaskan bahwa jumlah penduduk terbesar di Desa Pangambatan adalah penduduk pada kelompok umur 16 – 55 tahun yaitu 1.286 jiwa dengan persentase 47,21 %. Dan jumlah penduduk terkecil adalah penduduk pada kelompok umur >55 tahun yaitu hanya 169 jiwa dengan persentase 6,2%.
4.2.3 Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan di Desa Pangambatan diuraikan seperti yang tertera pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Pangambatan Tahun 2019
Tingkat Pendidikan Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)
Belum Sekolah 388 13,74
Tidak Tamat SD 317 11,23
SD 414 14,66
SLTP/SMP 889 31,48
SLTA/SMA 761 26,95
Diploma/Sarjana 55 1,95
Jumlah 2.724 100
Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020
Tabel 4.4 dapat menjelaskan bahwa jumlah penduduk terbesar di Desa Pangambatan menurut tingkat pendidikan adalah penduduk di tingkat SLTP/SMP yaitu 889 jiwa dengan persentase 31,48%. Jumlah penduduk terbesar kedua adalah pada tingkat pendidikan SLTA/SMA yaitu 761 jiwa dengan persentase 26,95%. Jumlah penduduk terbesar ketiga adalah pada tingkat pendidikan SD yaitu 317 jiwa dengan persentase 14,66%. Jumlah penduduk terbesar keempat adalah penduduk yang Belum Sekolah yaitu 388 jiwa dengan persentase 13,74%.
Jumlah penduduk terbesar kelima adalah pada tingkat pendidikan Belum Tamat SD yaitu 317 jiwa dengan pesentase 11,23%. Dan jumlah penduduk terkecil menurut tingkat pendidikan adalah penduduk yang mempunyai tingkat pendidikan Diploma/Sarjana yaitu 55 jiwa dengan persentase 1,95%.
4.2.4 Distribusi Penduduk Menurut Pekerjaan
Distribusi penduduk menurut pekerjaan di Desa Pangambatan diuraikan seperti yang tertera pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan di Desa Pangambatan Tahun 2019
Pekerjaan Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)
Belum / Tidak Bekerja 834 30,62
Buruh Tani 147 5,4
Petani 1484 54,48
Peternak 10 0,37
Pedagang 52 1,91
Penjahit 2 0,07
PNS 18 0,66
Pensiunan 12 0,44
TNI/POLRI 1 0,04
Perangkat Desa 9 0,33
Pengrajin 1 0,04
Industri Kecil 1 0,04
Buruh Industri 64 2,35
Lain – lain 89 3,27
Jumlah 2.724 100
Sumber: Kantor Kepala Desa Pangambatan, 2020
Tabel 4.5 dapat menjelaskan bahwa jumlah penduduk di Desa Pangambatan dominan mempuyai pekerjaan sebagai Petani yaitu 1.534 jiwa dengan persentase 54,48%. Selain itu, penduduk Desa Pangambatan bermata pencaharian sebagai Buruh sebanyak 147 jiwa dengan persentase 5,4%, Peternak berjumlah 10 jiwa dengan persentase 0,37%, Pedagang berjumlah 52 dengan persentase 1,91%, Penjahit berjumlah 2 jiwa dengan persentase 0,07%, Pensiunan berjumlah 12 jiwa dengan persentase 0,44%, TNI/POLRI berjumlah 1 jiwa dengan persentase 0,04%, Perangkat Desa berjumlah 9 jiwa dengan persentase 0,33%, Pengrajin sebanyak 1 jiwa dengan persentase 0,04%, Industri Kecil berjumlah 1 jiwa dengan persentase 0,04%, Buruh Industri berjumlah 64 jiwa dengan persentase 2,35%, Belum/Tidak Bekerja berjumlah 856 jiwa dengan persentase 30,62%, dan Lain- lain berjumlah 89 jiwa dengan persentase 3,27%.
4.1.4 Sarana dan Prasarana
Ketersediaan sarana dan prasarana di Desa Pangambatan menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat di Desa Pangambatan.
Sarana dan prasarana yang baik akan mendukung akan kelancaran perekonomian desa, dan kemajuan desa, hal ini berkaitan dengan akses pemasaran akan hasil- hasil pertanian dan akses informasi.
Pada masa penelitian ini berlangsung telah ada sarana transportasi yang menghubungkan Desa Pangambatan dengan beberapa daerah seperti angkutan pedesaan yakni SUKA SARI, SUKA MULIA, sepeda motor, becak serta kendaraan pribadi. Angkutan pedesaan ini menghubungkan Desa Pangambatan dengan Kabanjahe. Terdapat sarana dan prasarana ekonomi, pendidikan, kesehatan, peribadahan, dan sosial yang mendukung perkembangan sumber daya