1
PENGARUH STRUKTUR MODAL, UKURAN PERUSAHAAN DAN PROFABILITAS TERHADAP PERTUMBUHAN LABA (Studi Kasus Pada Perusahaan Sub Sektor Semen Periode 2016-
2020)
Nurafifah
1), Yuki Dwi Dharma
2)
Prodi Manajemen, Universitas Pelita Bangsa, Kabupaten Bekasi, Indonesia Email: [email protected]
1), [email protected]
2)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan menguji apakah pengaruh struktur modal, ukuran perusahaan dan profabilitas berpengaruh terhadap pertumbuhan laba (studi kasus empiris pada perusahaan sektor semen yang terdaftar di bursa efek indonesia) pada tahun 2016-2020.Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan semen yang terdaftar di bursa efek indonesia pada tahun 2016-2020. Pemilihan sampel dengan menggunakan purposive sampling, sampel yang digunakan sebanyak 5 perusahaan . Analisis data menggunakan beberapa analisis yaitu analisis uji asumsi klasik dan regresi linier berganda panel. Teknik pengumpulan data menggunakan asosiatif dengan pendekatan kuantitatif.Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur modal berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan laba, ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba dan profabilitas berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan laba. Secara simultan struktur modal, ukuran perusahaan dan profabilitas berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba.
Kata Kunci : Pertumbuhan Laba, Struktur Modal, Ukuran Perusahaan dan Profabilitas .
PENDAHULUAN
Era kepemimpinan Presiden Ir.H. Joko Widodo, pemerintah lebih memfokuskan pembangunan infrastruktur yang ada diindonesia untuk membantu masyarakat lebih efektif dan efisien dalam melakukan segala kegiatannya
(Kompas.com Sabtu, 20 oktober 2018).
Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol,
pelabuhan, bandara, dan lain sebagainya. Hal ini
ada sebagian perusahaan yang mengalami
kenaikan permintaan salah satunya perusahaan
semen, karena semen termasuk salah satu material
utama dalam pembangunan infrastruktur.
2 Widodo Santoso , Ketua ASI (Asosiasi semen indonesia ) menyebutkan sepanjang tahun 2019 konsumsi semen dalam negeri diproyeksikan masih tumbuh positif sekitar 3% sampai 4% ( sumber: Bisnis.com 23 Agustus 2019). Dilihat dari tabel dibawah ini :
Gambar 1.1 Kapasitass dan permintaan semen
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia
Dari tabel diatas kapasitas produksi semen Indonesia diperkirakan naik sebesar 19,5% tahun 2016, 12,7% ditahun 2017 , 3,1% ditahun 2018, 2,3% ditahun 2019 dan 0,7% ditahun 2020.
Sementara permintaan tidak mengalami kenaikan ditahun 2016 tetapi ditahun 2017 mengalami kenaikan permintaan sebsar 6,4%, ditahun 2018 naik 4,8%, ditahun 2019 naik 0,4% dan ditahun 2020 naik sebesar 3%. Permintaan yang naik akan berdampak baik di pertumbuhan pendapatan diberbagai perusahaan semen yang terdaftar di Bursa efek indonesia. Dilihat dari tabel dibawah ini:
Tabel 1 Pertumbuhan Pendapatan Sub Sektor Semen Tahun 2016-2020
Sumber : Bursa Efek Indonesia
Dilihat dari tabel diatas, secara umum pertumbuhan pendapatan Perusahaan semen terus bergerak naik dari tahun 2016 sampai 2019 kecuali perusahaan WSBP mengalami penurunan 7,09 persen ditahun 2019 dan perusahaan SMCB mengalami penurunan sebesar 0,74 persen ditahun 2017. Dan ditahun 2020 semua perusahaan sub sektor semen mengalami penurunan. Jadi data diatas menunjukan bahwa perusahaan semen ada yang mengalami kenaikan dan ada juga yang mengalami penurunan pendapatan pada periode 2016-2020. Naik turunnya pendapatan berdampak terhadap pertumbuhan laba perusahaan tersebut.
Laba merupakan tambahan kemampuan ekonomik (kemakmuran) yang ditandai dengan kenaikan modal dalam suatu periode keuangan yang berasal dari operasional produksi perusahaan, dalam arti luas bisa dikonsumsi atau ditarik oleh entitas atau pemilik modal tanpa mengurangi kemampuan ekonomik modal awal . Laba diperlukan perusahaan agar bisa mempertahankan kehidupan perusahaan. Oleh sebab itu, supaya perusahaan dapat terus eksis didalam perekonomian maka dibutuhkan perusahaan harus yang mampu membuat laba perusahaannya selalu bertumbuh .
Laba (earning) atau untung bersih (net income) menandakan profitabilitas perusahaan.
Laba mencerminkan pengembalian kepada pemegang ekuitas buat periode yg bersangkutan.
Laba adalah asumsi atas kenaikan atau penurunan ekuitas sebelum distribusi pada kontribusi dari pemegang ekuitas. Pertumbuhan laba adalah salah satu isu prediksi yg sangat penting bagi para pengguna laporan keuangan yang mendeskripsikan prospek hasil usaha dan keadaan keuangan perusahaan di masa yang akan tiba.
Pertumbuhan laba ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain : struktur modal, ukuran perusahaan, profabilitas dan masih banyak lainnya Kinerja Perusahaan yang baik dapat dilihat dari Kinerja keuangan yang baik dan digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu perusahaan, salah satunya dapat dilihat dari laba yang diperoleh Perusahaan. Laba yang maksimal dapat menjadi salah satu indikator perusahaan mencapai keberhasilan.
Ukuran perusahaan merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan laba, karena digunakan untuk mengukur besar kecilnya
62 75,9 62 66,3 69,6 69,9 72 94,3
108 111,5 114,2 115
0 20 40 60 80 100 120 140
2015 2016 2017 2018 2019 2020
permintaan kapasitas
Emiten Pendapatan
2016 2017 2018 2019 2020 SMGR 26,13
T
27,81 T
30,69 T
40,37 T
35,17 T INTP 15,36
T
14,37 T
15,19 T
15,94 T
14,98 T SMCB 9,45
T
9,38 T
10,38 T
11,06 T
10,10 T SMBR 1,52
T
1,56 T
2,00 T
2,00 T
1,72 T WSBP 4,71
T
7,10 T
8,00 T
7,47 T
2,21 T WTON 3,48
T
5,36 T
6,93 T
7,08 T
4,80
T
3 sebuah perusahaan serta dapat menggambarkan kondisi keuangan perusahaan dalam suatu periode.
Perusahaan dalam skala yang besar dapat diyakini mampu untuk memenuhi segala kewajibannya serta mampu memberikan tingkat pengembalian atas investasi para investor.
Struktur modal ( capital structur ) berkaitan dengan pembelanjaan jangka panjang suatu perusahaan yang diukur dengan perbandingan utang jangka panjang dengan modal sendiri.
Penelitian yang dilakukan ini mengacu pada penilitian terdahulu yang dilakukan oleh Florencia Nadia Nastiti dalam artikel yang berjudul Analisis Rasio Keuangan dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba pada perusahaan yang terdaftar dalam LQ45 periode 2018-2020 yang menyimpulkan bahwa struktur modal berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan laba. Hal ini didukung oleh Fitry febriana dkk menjelaskan bahwa Ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba .
Hasil penelitian Wendy Yohanas (2009) menyatakan Ukuran perusahaan tidak berpengaruh dengan pertumbuhaan laba.
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas maka penulis tertarik mengangkat tema dengan judul “ Pengaruh Struktur Modal, Ukuran Perusahaan dan Profabilitas Terhadap Pertumbuhan Laba Pada Perusahaan sub sektor semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020.
TINJAUAN PUSTAKA Struktur Modal
Made Sudana (2015: 164) menyatakan struktur modal (capital structure) berkaitan dengan pembelanjaan jangka panjang suatu perusahaan yang diukur dengan perbandingan utang jangka panjang dengan modal sendiri.
Mustafa (2017: 85), yang dimaksud struktur modal adalah sebagai berikut:“Struktur modal merupakan perimbangan antara jumlah utang jangka pendek yang bersifat permanen, utang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa.
Struktur modal adalah perbandingan modal asing atau jumlah utang dengan modal sendiri.
Kebijaksanaan struktur modal merupakan pemeliharaan antara risiko dan pengambilan yang diharapkan.
Bambang Riyanto (2011: 22), “ Struktur Modal adalah pembelanjaan permanen didalam
mencerminkan perimbangan antara hutang jangka panjang dan modal sendiri.
Komponen Struktur Modal
Menurut Bambang Riyanto (2011: 238) struktur modal suatu perusahaan secara umum terdiri atas modal asing dan modal sendiri, berikut penjelasan mengenai kedua komponen tersebut.
1. Modal Asing/ Utang Jangka Panjang (Long- term Debt)
Modal asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnya Sementara bekerja dalam perusahaan, dan bagi perusahaan tersebut merupakan utang, yang pada saatnya harus dibayar kembali. Mengenai modal asing atau hutang dapat dibagi dalam 3 (tiga) golongan yaitu:
a. Modal asing/utang jangka pendek (short- term debt) yaitu yang jangka waktunya pendek, yaitu kurang dari satu tahun.
b. Modal asing/ utang jangka menengah (intermediate-term debt) yaitu yang jangka waktunya antara 1 sampai 10 tahun.
c. Modal asing/utang jangka panjang (long- term debt) yaitu yang jangka waktunya lebih dari 10 tahun. Modal asing/utang jangka panjang adalah utang yang jangka waktunya yang umumnya lebih dari sepuluh tahun. utang jangka panjang ini pada umumnya digunakan untuk membelanjai perluasan perusahaan (ekspansi) atau modernisasi dari perusahaan, karena kebutuhan modal untuk keperluan tersebut meliputi jumlah yang besar. Adapun jenis utang jangka panjang adalah pinjaman obligasi dan pinjaman hipotik.
1) Pinjaman Obligasi
Pinjaman obligasi adalah pinjaman uang untuk jangka waktu yang panjang dimana debitur mengeluarkan surat pengakuan utang yang mempunyai nominal tertentu.
Pelunasan atau pembayaran kembali pinjaman obligasi dapat diambil dari penyusutan aktiva tetap yang dibelanjai dengan pinjaman obligasi tersebut dan dari keuntungan.
2) Pinjaman Hipotik
Pinjaman hipotik adalah pinjaman
jangka panjang di mana pemberi uang
(kreditur) diberi hak hipotik terhadap
4 suatu barang tidak bergerak, agar bila pihak debitur tidak memenuhi kewajibannya, barang itu dapat dijual dan dari hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk menutup tagihannya.
2. Modal Sendiri (Shareholder’s Equity) Modal sendiri adalah modal y5Eang berasal dari pemilik perusahaan dan yang tertanam dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu lamanya. Modal sendiri berasal dari sumber intern dan sumber ekstern. Sumber intern berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan.
Sedangkan sumber ekstern berasal dari modal yang berasal dari pemilik perusahaan.
Modal sendiri dalam suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) terdiri dari:
a. Modal Saham
Saham adalah tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu Perseroan Terbatas (PT), dimana modal saham terdiri dari:
1) Saham Biasa (Common Stock) Saham biasa adalah bentuk
komponen modal jangka panjang yang ditanamkan oleh investor, dimana pemilik saham ini, dengan memiliki saham ini berarti ia membeli prospek dan siap menanggung segala risiko sebesar dana yang ditanamkan.
2) Saham Preferen (Prefferend Stock) Saham preferen adalah bentuk
komponen jangka panjang yang kompensasinya (dividen) dibayarkan lebih dahulu (utama) sebelum membayar kompensasi saham biasa.
b. Laba Ditahan
Laba ditahan adalah sisa laba dari keuntungan yang dibayarkan sebagai dividen. Komponen modal sendiri ini merupakan modal dalam perusahaan yang dipertaruhkan untuk segala risiko, baik risio usaha maupun risiko kerugian- kerugian lainnya. Modal sendiri ini tidak memerlukan adanya jaminan atau keharusan untuk pembayaran kembali dalam setiap keadaan maupun tidak adanya kepastian tentang jangka waktu pembayaran kembali modal yang disetor.
Oleh karena itu, tiap-tiap perusahaan harus mempunyai sejumlah minimum
modal yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Modal sendiri yang bersifat permanen akan tertanam dalam perusahaan dan dapat diperhitungkan pada setiap saat untuk memelihara kelangsungan hidup serta melindungi perusahaan dari risiko kebangkrutan.
c. Cadangan
Cadangan merupakan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan selama beberapa waktu/tahun atau dari tahun berjalan yang disisihkan sebagai cadangan. Cadangan yang termasuk modal sendiri adalah cadangan ekspansi, cadangan modal kerja, cadangan selisih kurs, cadangan untuk menampung hal-hal atau kejadian yang tidak terduga.
Ukuran Perusahaan
Putu Ayu dan Gerianta (2018), mengemukakan bahwa ukuran perusahaan merupakan suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan diukur dengan total aktiva, jumlah penjualan, nilai saham dan sebagainya.
Susilo (2012:06) dalam I Gusti dan Desy (2015) mengemukakan bahwa semakin besar total aktiva, jumlah penjualan atau modal suatu perusahaan maka semakin besar pula ukuran suatu perusahaan.
Risma dan Regi (2017) menjelaskan bahwa
“Ukuran Perusahaan merupakan cerminan dari total aset yang dimiliki suatu perusahaan”.
Windi Novianty dan Wendy May (2018) menjelaskan bahwa “Ukuran Perusahaan dilihat dari bidang bisnis yang sedang dioperasikan.
Ukuran perusahaan dapat ditentukan berdasarkan total penjualan, total aset, tingkat penjualan rata- rata”.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Ukuran Perusahaan dapat dilihat dari banyaknya jumlah aset yang dimiliki perusahaan. Ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perolehan laba. Semakin besar suatu ukuran perusahaan, biasanya akan mempunyai kekuatan tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah bisnis serta kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba tinggi karena didukung oleh aset yang besar sehingga kendala perusahaan dapat teratasi.
Perusahaan yang memiliki total aktiva atau total
aset besar menunjukan bahwa perusahaan tersebut
5 telah mencapai tahap kedewasaan dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama.
Ukuran Perusahaan diukur dengan menggunakan Logaritma natural (Ln) dari total aktiva. Nilai total aktiva biasanya bernilai lebih besar dibandingkan dengan variabel keuangan lainnya, maka variabel total aktiva diperhalus menjadi Log Aktiva atau Ln Total Aktiva. Dengan menggunakan Logaritma natural (Ln) dari total aktiva dengan nilai ratusan milyar bahkan trilyun akan disederhanakan tanpa mengubah proporsi dari total aktiva yang sesungguhnya. Indikator untuk menghitung Ukuran Perusahaan menurut (Putu Ayu dan Gerianta, 2018), yaitu:
Size=Ln (Total Aktiva) Profabilitas
Profitabilitas menurut Harahap (2010) adalah menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya.
Phalipu (2005) dalam Khairoh (2011) profitabilitas merupakan ukuran keberhasilan perusahaan didalam memberikan margin laba bagi perusahaan. Meningkatnya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba akan mempengaruhi stabilitas kinerja perusahaan lainya seperti likuiditas, hingga struktur pendanaan, peningkatan kinerja profitabilitas akan memberikan nilai laba ditahan yang semakin besar sehingga dapat menolong kondisi likuiditas perusahaan
Menurut Sartono (2011:114), “Rasio Profitabilitas adalah rasio yang dapat mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba, baik dalam hubungan dengan penjualan, asset maupun modal sendiri. Menurut Abdul ( 2010: 25) Struktur Modal bisa diukur dengan Return On Assets (Tingkat Pengembalian Asset) yang merupakan rasio perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total aktiva. Return on asset sering juga disebut sebagai return on investment, karena retutn on assets ini melihat sejauh mana investasi yang telah ditanamkan mampu memberikan pengembalian keuntungan sesuai dengan yang diharapkan dan investasi tersebut sebenarnya sama dengan aset perusahaan yang dianamkan.
Semakin tinggi return on assets, maka semakin baik total aktiva yang dipergunakan untuk operasi perusahaan mampu memberikan laba bagi perusahaan sehingga kondisi ini efisien bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah return on assets maka semakin buruk total aktiva yang dipergunakan untuk operasi perusahaan tidak memberikan laba bagi perusahaan sehingga kondisi ini tidak efisien bagi perusahan. Rasio atau pedoman yang baik adalah > 5 %. Rumus untuk mencari Return On Assets adalah sebagai berikut:
ROA =
Laba
Menurut Harahap (2013) dalam Dwimulyani dan Shirley (2017), laba menurut akuntansi adalah perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan itu. Laba seringkali dijadikan ukuran untuk menilai keberhasilan kinerja perusahaan. Informasi laba sangat berguna dalam memberikan prediksi dan estimasi pertumbuhan laba, karena hal ini sangat berguna bagi manajemen dalam mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang telah mereka terapkan serta berguna bagi investor yang ingin menanamkan modalnya ke perusahaan tersebut.
Menurut Harahap (2013: 300) indikator yang digunakan dalam mengukur pertumbuhan laba yaitu menggunakan rasio laba bersih tahun sekarang (Yt) dikurangi laba bersih tahun sebelumnya (Yt-1) terhadap laba bersih tahun sebelumnya (Yt-1). Yang dirumuskan sebagai berikut:
∆Y=
Penelitian Terdahulu yang Relevan
Rahel Lumbantoruan, Sri Murni Agustin, Susanti dan Ike Rukmana Sari meneliti mengenai Pengaruh Profabilitas, Kinerja Keuangan, Ukuran perusahaan dan Solvabilitas terhadap Pertumbuhan Laba pada tahun 2021.
Menghasilkan kesimpulan bahwa secara parsial
variabel profitabilitas berpengaruh terhadap
pertumbuhan laba pada perusahaan perdagangan,
jasa dan investasi yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia periode 2017-2019. Secara parsial
variabel kinerja keuangan, ukuran perusahaan,
solvabilitas tidak memberikan pengaruh terhadap
pertumbuhan laba pada perusahaan perdagangan,
6 jasa dan investasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2019. Secara simultan variabel profitabilitas, kinerja keuangan, ukuran perusahaan dan solvabilitas tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhanlaba pada perusahaan perdagangan, jasa dan investasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017- 2019.
Natalia Dewi Prihatini, Loeky Rono Pradopo meneliti mengenai Analisi Pengaruh Rasio Profabilitas dan Solvabilitas terhadap Pertumbuhan Laba (studi kasus pada PT Telekomunikasi Indonesia TBK yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2017) pada tahun 20208700 (Printed). Menghasilkan kesimpulan bahwa rasio Profitabilitas berpengaruh secara signifikan terhadap Pertumbuhan Laba.
Rasio dan secara simultan profitabilitas dan solvabilitas secara simultan berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba.
Hartanti dalam meneliti mengenai Pengaruh Struktur Modal terhadap Pertumbuhan Laba pada tahyn 2016. Menyimpulan bahwa struktur modal yang dilihat dari rasio DER dan CAR secara silmutan tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba dan secara parsial menunjukan pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba.
Mita Febriana Puspasari, Y. Djoko Suseno dan Untung Sriwidodo meneliti mengenai Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Total Asset Turnover, Net Profit Margin dan Ukuran Perusahaan Terhadap Pertumbuhan Laba pada tahun 2017. Menyimpulkan bahwa Debt to equity ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap partumbuhan laba
Muh.Syafriansyah meneliti mengenai Pengaruh Profabilitas terhadap Pertumbuhan Laba pada tahun 2020 Menyimpulkan bahwa pengaruh profitabilitas terhadap pertumbuhan laba dengan ROA berpengaruh signifikan.
METEDOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah asosiatif dengan teknik analisis kuantitatif atau statistik. Penelitian menggunakan data keuangan triwulan di Bursa Efek Indonesia dari periode 2016 - 2020
H1 Ukuran Perusahaan H2 (X2) Heri (2016)
H3
Gambar 1. Model Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H1 : Struktur Modal (DER) (X1) berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan laba.
H2 : Ukuran perusahaan (Size) (X2) berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan laba.
H3 : Profabilitas(ROA) (X3) berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan laba.
Penelitian ini mengambil populasi Perusahaan sub sektor semen yang akan diteliti 5 tahun dengan data triwulan maret 2016 – desember 2020. Sebanyak 5 Sampel digunakan dalam penelitian ini. Untuk mendapatkan kriteria sampel yang sesuai dengan kebutuhan penelitian, maka peneliti menggunakan metode purposive sampling.
Sumber data penelitian ini berasal dari laporan keuangan triwulan Perusahaan Sub Sektor Semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020.
Data dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan software microsoft Excel 2010 alat statistik E-Views versi 9 serta dasar-dasar teori yang dipelajari dari letratur terdahulu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian ini kesesuaian model dengan menggunakan uji Chow. Uji Chow
dilakukan untuk menguji hipotesis nol bahwa menggunakan model common effect. Hasil uji chow disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel 3. Uji Chow
Test Summary
Chi-Sq.
Statistic
Chi-Sq.
d.f.
Prob.
Cross- section random
0.63766 1
3 0.8878
Struktur modal (X1) Bambang Riyanto (2011)
Pertumbuhan
Laba (Y)
I Nyoman
Kusuma
(2012)
7 Sumber: Hasil Olah Data Eviews 9
Hasil uji Chow diatas menunjukkan nilai probabilitas F (0,09476) lebih besar dari α=0,05 pada kedua model, sehingga H0(CEM) diterima dan H1 (FEM) ditolak, disimpulkan bahwa model common effect model lebih baik dari pada model fixed effect model.
Setelah dilakukan uji chow, maka selanjutnya melakukan pengujian yaitu uji hausman, untuk menguji hipotesis nol bahwa menggunakan model fixed effect.
Tabel 4. Uji Hausman Sumber: Hasil Olah Data Eviews 9
Menunjukkan bahwa nilai probabilitas sebesar 0,8878 lebih besar dari α=0.05 , artinya H0 (REM) diterma dan H1 (FEM) ditolak, Sehingga dapat disimpulkan bahwa model yang dipilih yaitu random effect model.
Setelah dilakukan uji chow dan uji hausman, maka selanjutnya dapat digunakan uji lagrange multiplier. Uji Lagrange Multiplier dilakukan untuk menentukan model yang tepat antara random effects model atau common effects model yang paling tepat digunakan dalam penelitian.
Tabel 4. Uji Lagrange Multiplier Sumber: Hasil Olah Data Eviews 9
Menunjukkan bahwa nilai Both Breusch- Pagan(0,0000) lebih kecil dari 0.05 artinya H0(CEM) ditolak dan H1(REM) diterima, Sehingga dapat disimpulkan bahwa model yang dipilih yaitu rondom effects models.
Setelah dilakukan uji chow, uji hausman dan uji lagrange multiplier maka dapat disimpulkan bahwa model yang paling tepat dalam penelitian ini adalah common effects models.
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel terdistribusi normaal atau tidak,bisa dilihat gambar dibawah ini:
0 4 8 12 16 20
-3 -2 -1 0 1 2 3
Series: Standardized Residuals Sample 2016Q1 2020Q4 Observations 100
Mean -7.99e-17 Median 0.052048 Maximum 3.487794 Minimum -2.973386 Std. Dev. 1.032593 Skewness 0.290375 Kurtosis 4.024132
Jarque-Bera 5.775485 Probability 0.055702
Gambar 2. Uji Normalitas Sumber: Hasil Olah Data Eviews 9
Hasil dari uji normalitas data menunjukan bahwa jarque-bera sebesar 5,775485 lebih besar dari 2 dan nilai propabilitas sebesar 0,055702 lebih besar dari 0,05 (5%) yang artinya penelitian menunjukan model regresi terdistribusi normal.
Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah adanya hubungan linear yang sempurna atau pasti antara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan model regresi. Jika koefisien korelasi antara masing- masing variabel bebas lebih besar dari 0.8, berarti terjadi multikolinearitas dalam model regresi.
Adapun hasil pengolahan data uji multikolinearitas sebagai berikut:
Uji Multikolinearitas
Sumber: Hasil Olah Data Eviews 9
Dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi ketiga variabel yaitu ukuran perusahaan, umur perusahaan dan debt to asset ratio berada di bawah 0.8 atau tidak variabel yang memiliki koefisien korelasi lebih dari 0.85. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah multikolinearitas pada model regresi data panel.
1.3.3 Uji Heterokesdasitas
Model regresi data panel yang baik adalah regresi yang tidak terjadi heterokedastisitas. Uji heterokedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji Gletser , dikatakan tidak terjadi heterokedastisitas dalam penelitian apabila nilai Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section
F 0.181222 (4,92) 0.9476 Cross-section
Chi-square 0.784833 4 0.9405
Cross-
section Time Both
Breusch- Pagan
2.026847 28.70510 30.73195 (0.1545) (0.0000) (0.0000)
Struktur Modal
Ukuran
Perusahaan Profabilitas
Struktur
Modal 1.000.000 0.262867 -0.452063 Ukuran
Perusahaan 0.262867 1.000.000 0.127324 Profabilitas
-
0.452063 0.127324 1.000.000
8 signifikansi > 0,05. Berikut hasil uji heterokesdastisitas.
Tabel 6. Uji Heteroskedasitas Sum
ber:
Hasil Olah Data Evie ws 9 Dari
tabel diatas daapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi atau probabilitas dari 3 variabel independen yaitu struktur modal sebesar 0,1819, ukuran perusahaan sebesar 0,1184 dan profabilitas sebesar 0,2877. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heterokesdasitas pada model regresi data panel, hal tersebut dikarenakan nilai probabilitas dari masing-masing variabel independen dalam penelitian ini lebih besar dari 0,05.
Uji Autokorelasi
Model regresi data panel yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi ( Nugraha, 2020 ) . Salah satu car untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi adalah dengan uji Durbin- Watson stat.
Tabel 7. Hasil Uji Autokorelasi
R-squared 0.080904
Adjusted R-squared 0.052183
S.E. of regression 0.649892
F-statistic 2.816.829
Prob(F-statistic) 0.043191
Mean dependent var 0.783856
S.D. dependent var 0.667542
Sum squared resid 4.054.646
Durbin-Watson stat 2.196.326
Sumber: Hasil Olah Data Eviews 9
Hasil uji autokorelasi meninjukan bahwa nilai Durbin –Watson stat (DW) sebesar 2.196.326.
Jumlah obsevasi 100 dengan variabel penelitian 3 dan tingkat signifikansi 0,05. Didapat dari tabel DW nilai dl sebesar 1,6131 dan du sebesar 1,7364 jadi dari persamaan dl < dw < 4-du artinya nilai Dw (2.196.326)lebih besar dari nilai dl (1,6131) dan nilai Dw lebih kecil dari nilai 4-du (2,2636),
dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi pada variabel dependen.
Uji Hipotesis
Uji hipotesis digunakan untuk membuktikan adanya pengaruh variabel independen Struktur Modal, Ukuran Perusahaan dan Profabilitas terhadap variabel dependen Pertumbuhan Laba, penelitian ini menggunakan uji regresi linier data panel. Uji regresi linier data panel digunakan untuk mengetahui pengaruh antara lebih dari satu variabel independen terhadap variabel dependen
Tabel 8. Hasil Uji Regresi dengan Rondom Effect Model
Sumber: Hasil Olah Data Eviews 9
Berdasarkan hasil analisis regresi diatas, maka diperoleh suatu persamaan regresi sebagai berikut:
Pertumbuhan Laba = 0,167629 + 0,00000455 (Struktur Modal) - 0,0022810 (Ukuran Perusahaan) + 0,0000117 (Profabilitas) + e Dari model tersebut dapat dijelaskan bahwa nilai konstanta pada persamaan memiliki nilai sebesar 0,167629. Jika variabel independen struktur modal (X1), ukuran perusahaan (X2) dan profabilitas (X3) dianggap konstan, maka besarnya variabel dependen pertumbuhan laba (Y) akan bernilai sebesar 0,167629.
Koefisien regresi struktur modal(X1) sebesar 0,00000455, artinya jika variabel struktur modal mengalami kenaikan satu satuan maka pertumbuhan laba(Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,00000445 poin.
Koefisien regresi ukuran perusahaan(X2) sebesar 0,0022810, artinya jika variabel ukuran perusahaan mengalami kenaikan satu satuan maka pertumbuhan laba(Y) akan mengalami penurunan sebesar 0,0022810 poin.
Koefisien regresi profabilitas(X2) sebesar 0,0000117, artinya jika variabel profabilitas mengalami kenaikan satu satuan maka pertumbuhan laba(Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,0000117 poin.
Variable Coefficient Std.
Error t-Statistic Prob.
C 1.198.137 0.309925 3.865.889 0.0002 Struktur
Modal 1.61E-06 1.20E-06 1.344.910 0.1819 Ukuran
Perusahaan -0.023173 0.014706
-
1.575.761 0.1184
Profabilitas -2.68E-06 2.50E-06
-
1.069.227 0.2877
Variable Coefficient
Std.
Error t-Statistic Prob.
C 0.167629 0.504206 0.332462 0.7403 Struktur
Modal 4.55E-06 1.98E-06 2.291.872 0.0241 Ukuran
Perusahaan -0.022810 0.023933
-
0.953083 0.3429 Profabilita 1.17E-05 4.15E-06 2.821.889 0.0058
9 Uji t
Tabel 9. Hasil Uji T
Berda
sarka n hasil uji t (uji parsia l) pada tabel 9 diatas selengkapnya akan dijelaskan sebagai berikut :
a. Pengujian Hipotesis (H1)
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel struktur modal(X1) memiliki nilai t 2,291 dinyatakan dengan tanda positif maka hubungannya positif dengan tingkat signifikan 0,0241 < 0,05 ( taraf signifikan 5% ).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel struktur modal berpengaruh positif terhadap pertumbuhan laba (Y), dengan demikian H1 diterima.
b. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan(X2) memiliki nilai t -0,953 dinyatakan dengan tanda negatif maka hubungannya negatif dengan tingkat signifikan 0,34429 > 0,05 ( taraf signifikan 5% ). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba (Y) , dengan demikian H2 ditolak.
c. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel profabilitas(X3) memiliki nilai t 2,821 dinyatakan dengan tanda positif maka hubungannya positif dengan tingkat signifikan 0,0058 < 0,05 ( taraf signifikan 5% ).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa profabilitas berpengaruh positif terhadap pertumbuhan laba (Y) , dengan demikian H3 diterima.
PEMBAHASAN
.Pengaruh Struktur Modal Terhadap Pertumbuhan Laba
Dari hasil pengolahan analisis data regresi data panel di atas dapat disimpulkan bahwa struktur modal yang diwakili oleh debt equity ratio berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Dengan kata lain hipotesis pertama (H1) yang menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan laba ditolak.. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil signifikansi
sebesar 0.0241< 0,05 yang menunjukan dalam penelitian ini berpengaruh positif.
Perusahaan dengan debt equity ratio yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan hutang dalam memenuhi aktivitas operasionalnya. Penggunaan hutang oleh perusahaan pada dasarnya mempunyai kelemahan.
Perusahaan yang menggunakan komposisi hutang terlalu tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan belum mampu membiayai asetnya dari hasil operasi perusahaan. Selain itu perusahaan juga memiliki risiko untuk diambil alih oleh kreditur ketika perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya. Dengan berbagai risiko yang ditimbulkan atas penggunaan hutang oleh perusahaan, berdampak pada meningkatnya tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh investor.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Linda Prihastiwi (2019) yang dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa struktur modal berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan laba.
Dan tidak sejalan dengan penelitian Hartati (2016) dan Qolifatun Chasanah (2017) yang dalam penelitiannya menemukan bahwa struktur modal berpengaruh negatif signifikan terhadap pertumbuhan laba.
Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Pertumbuhan Laba
Berdasarkan hasil analisis regresi data panel dalam penelitian ini ditemukan bahwa hipotesis kedua (H2) ditolak, yang disimpulkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Nilai signifikan sebesar 0.3429
> 0.05. Hal ini menunjukan bahwa ukuran perusahaan yang diukur dengan total asset tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Sehingga hipotesis yang telah dirumuskan sesuai dengan hasil penelitian.
Namun dari hasil penelitian dapat disimpulkan, bahwa baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil tidak mampu secara maksimal dalam menghasilkan laba setiap tahunnya sehinggga tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Selain itu, ukuran perusahaan tidak signifikan dengan pertumbuhan laba diduga karena pengelompokkan ukuran perusahaan yang didasarkan pada total asset perusahaan besar dan total asset pada perusahaan kecil seharusnya dilakukan secara terpisah.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Fitry Febriana (2017) dan Wendy Yohanas (2014)
Variablet- Statisti
c Prob. Keterangan Struktur
Modal
2.291.8
72 0.0241 Signifikan Ukuran
Perusahaan
- 0.9530
83 0.3429
Tidak signifikan
Profabilitas
2.821.8
89 0.0058 signifikan