• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lahirnya Otonomi Daerah memberikan warna baru bagi kepemerintahan Indonesia. Hal ini diperkuat dengan adanya Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang telah direvisi dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 dan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah yang tidak sesuai dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan dan tuntunan penyelenggaraan pemerintah daerah. Sejalan dengan itu, UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah juga mengalami perubahan dengan diberlakukannya UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Daerah dan Pemerintah Pusat (Maria Karolina Mogi, 2020)

Secara umum otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus diri sendiri, urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang- undangan. Pelaksanaan otonomi daerah diharapkan dapat mendorong peningkatan partisipasi dan kreativitas masyarakat serta mendorong pemerataan pembangunan daerah dengan memanfaatkan sumber daya dan potensi yang tersedia.

Kedua peraturan perundang-undangan ini memberikan perubahan dalam pengelolaan keuangan daerah sehingga terjadi reformasi dalam manajemen keuangan daerah kearah yang lebih baik. Pengelolaan Keuangan Daerah wajib dilakukan dengan secara transparan sesuai dengan ketentuan yang mengatur tentang pengelolaan keuangan daerah. Tidak hanya merubah sistem pengelolaan keuangan daerah, kedua peraturan perundang-undangan ini juga merubah pertanggungjawaban pemerintah daerah dari pertanggungjawaban vertikal (kepada pemerintah pusat) menjadi pertanggungjawaban horizontal (kepada publik melalui DPRD). Selain itu kedua peraturan perundang-undang tersebut mewajibkan pemerintah untuk

(2)

melakukan pertanggungjawaban dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain anggaran, pengendalian akuntansi, sistem pelaporan serta bertanggung jawab secara efektif, efisien dan transparan untuk menghasilkan kinerja keuangan yang baik dan dapat diterima oleh masyarakat (Maria Karolina Mogi, 2020)

Efisiensi sangat penting untuk mengukur dan membandingkan pengeluaran yang dihasilkan serta hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sebenarnya (Siti Mardhiyah Ulfa, 2018). Efisiensi adalah pencapaian pengeluaran maksimum dibawah masukan tertentu atau menggunakan masukan terendah untuk mencapai pengeluaran tertentu.

Tingkat efisiensi inilah yang akan menentukan kinerja keuangan dalam suatu perusahaan itu sendiri. Ketika anggaran belanja langsung mengalami efisien, maka dapat dipastikan bahwa kinerja keuangan dalam perusahaan itu adalah baik.

Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin adalah salah satu unit lembaga pemerintah yang siap menjawab kebutuhan tenaga kerja di Banjarmasin. Lembaga ini mempunyai tugas pokok dalam membantu menyelenggarakan tugas dan kewajiban berdasarkan penyusunan komponen perangkat lembaga daerah Kota Banjarmasin. Dalam melaksanakan tugasnya, Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin membutuhkan anggaran. Anggaran tersebut bersumber dari APBD.

Anggaran belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayaran kembali oleh daerah yang dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan pemerintah daerah yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan (Maria Karolina Mogi, 2020).

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010, anggaran merupakan pedoman tindakan yang akan dilaksanakan pemerintah meliputi rencana pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan yang diukur dalam

(3)

satuan rupiah yang disusun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis untuk satu periode. Anggaran merupakan rencana yang disiapkan secara kuantitatif dalam unit moneter. Jangka waktu anggaran biasanya satu tahun.

Dari anggaran tersebut, diketuhui apa yang dilakukan manajemen, prioritas, target dan bagaimana memenuhi target tersebut. Laporan realisasi anggaran disajikan sedemikian rupa sehingga menonjolkan berbagai unsur pendapatan belanja, transfer, surplus atau defisit, dan pembiayaan yang diperlukan untuk menyajikan yang wajar laporan realisasi anggaran, realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus atau defisit.

Laporan realisasi anggaran penghasilan dan belanja daerah didalamnya menyajikan belanja langsung dan belanja tidak langsung. Anggaran belanja langsung merupakan kegiatan belanja daerah yang berkaitan langsung dengan penerapan program dan aktivitas pemerintah daerah. Jenis belanja ini terbagi atas belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal. Sedangkan anggaran belanja tidak langsung merupakan kegiatan belanja daerah yang dianggarkan dan tidak terkait langsung dengan pelaksanaan rencana dan kegiatan. Belanja tersebut terbagi menjadi belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan dan belanja tak terduga. Pada penelitian ini jenis belanja langsung yang diteliti karena berdampak langsung bagi publik (Maria Karolina Mogi, 2020).

Berikut ini dikemukakan gambaran mengenai anggaran dan realisasi anggaran pada Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin, Tahun Anggaran 2016-2020.

Tabel 1.1

Anggaran dan Realisasi Belanja Langsung Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja

Kota Banjarmasin Tahun 2016-2020

Tahun

Anggaran Belanja Langsung

(Rp)

Realisasi Anggaran Belanja Langsung

(Rp)

2016 3.203.490.000 2.958.257.748

2017 7.337.248.000 6.637.245.694

2018 8.079.198.000 7.230.623.624

(4)

2019 9.695.003.000 -

2020 15,932,644,582 14.119.007.867

Sumber: Laporan Realisasi Anggaran Belanja Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin

Dalam tabel 1.1 terlihat bahwa realisasi anggaran Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin mengalami kenaikan di tiap tahunnya. Pada tahun 2016 realisasi belanja sebesar Rp2.958.257.748,00 selanjutnya di tahun 2017 realisasi belanja yaitu Rp6.637.245.694,00 pada tahun 2018 realisasi anggaran yaitu Rp7.230.623.624,00 sedangkan pada tahun 2019 tidak terealisasikan dan tahun 2020 realisasi anggaran belanja sebesar Rp14.119.007.867,00 yang semuanya tidak sesuai dengan anggaran belanja yang tersedia. Data menunjukan terjadi peningkatan penyerapan anggaran setiap tahunnya, namun pada tahun 2019, realisasi anggaran belanja langsung tidak terlaksana.

Rendahnya penyerapan anggaran mengindikasikan kinerja pemerintah belum efisien dalam merealisasikan anggaran, sehingga beberapa program kerjanya tidak bisa didanai. Selain itu, Tjahjo Kumolo selaku Menteri Dalam Negeri juga menyatakan bahwa mayoritas pemerintah daerah masih lebih banyak menggunakan anggarannya untuk menggaji pegawai ketimbang membelanjakannya untuk proyek pembangunan, sehingga menunjukkan kinerja yang tidak efisien (Kontan, 2016) dalam Gerung, Kalangi dan Pusung (2020). Rendahnya daya serap anggaran setiap tahun menjadi masalah rutin setiap tahunnya. Penyelenggaraan pemerintah daerah tidak lepas dari adanya penggunaan dan pemanfaatan anggaran serta pendapatan daerah. Dan setiap tahun juga selalu saja pemerintah daerah mempersiapkan perencanaan anggaran atau yang sering disebut dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Karena anggaran pemerintah terkait dengan penentuan jumlah alokasi dana untuk setiap program dan aktivitas yang meggunakan dana milik masyarakat. Di samping itu, juga belum memberikan informasi akuntabilitas penggunaan anggaran dari aspek efisiensi penggunaan anggaran terutama untuk belanja langsung yang merupakan porsi penggunaan anggaran untuk pelayanan publik.

(5)

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Efisiensi Anggaran Belanja Langsung Terhadap Kinerja Keuangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin”

B. Permasalahan

Penelitian yang dilakukan di Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin bertujuan untuk mengetahui “Bagaimana Pengaruh Tingkat Efisien Anggaran Belanja Langsung Terhadap Kinerja Keuangan pada Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin”

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh tingkat efisiensi anggaran belanja langsung terhadap kinerja keuangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin tahun 2016 sampai dengan tahun 2020?”

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dibuat dengan tujuan Mengetahui pengaruh tingkat efisiensi anggaran belanja langsung terhadap kinerja keuangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin tahun 2016 sampai dengan tahun 2020.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini berguna untuk:

1. Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran terkait kinerja keuangan yang dilihat dari tingkat efisiensi anggaran belanja langsung untuk dijadikan acuan dalam membuat target anggaran di tahun selanjutnya.

(6)

Penelitian ini dapat meningkatkan wawasan peneliti tentang hubungan antara tingkat efisiensi anggaran belanja langsung dengan kinerja keuangan khususnya pada Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin.

3. Politeknik Negeri Banjarmasin

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang anggaran belanja langsung dan berfungsi sebagai sumber informasi untuk penelitian selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan sebagai pengembangan ilmu pengetahuan tentang lembaga keuangan Syariah perbankan khususnya terkait

4.80 Dalam rangka pemberdayaan dan percepatan pengembangan usaha koperasi khususnya sektor riil, Pemerintah Propinsi Sumatera Barat melalui Dinas Koperasi, UMKM telah

Permukiman dan Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja, Dinas

Demikian Laporan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKj-IP) Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Surabaya Tahun 2020 ini disusun, tentunya kritik dan saran tetap

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu Dinas Kesehatan Kota Padang dalam perbaikan pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas tenaga kesehatan dalam

Maksud dari penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD) Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

a. Seksi Kelembagaan dan Fasilitasi Pembiayaan; b. Seksi Bina Usaha Koperasi. Kepala Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah, mempunyai tugas pokok merumuskan kebijakan

Kepala seksi pengembangan pembinaan kelembagaan dan SDM Koperasi dan Usaha Mikro mempunyai tugas malaksanakan penyusunan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan pada