1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kota Yogyakarta dengan luas 32,50 km2 berpenduduk 522.847 jiwa dan 28,9 persennya (151.308 jiwa) merupakan perempuan usia subur (15-44 tahun) (Badan Pusat Statistik and ORC Macro, 2008). Predikat sebagai kota wisata dan pendidikan, menjadikan kota Yogyakarta memiliki variasi kependudukan yang sangat luas baik dari sosial ekonomi, budaya serta karakteristik penduduk lainnya.
Variasi demogratif yang tinggi inilah yang menyebabkan betapa kompleksnya masalah kesehatan yang mungkin muncul. Kota Yogyakarta memiliki profil kesehatan yang relatif lebih baik daripada kabupaten yang lain, persentase penduduk tidak bersekolah yang kecil, pendapatan per kapita yang cukup, dan cakupan kesehatan yang baik.
Jumlah wanita usia subur dan produktif yang cukup besar membawa beberapa potensi masalah kesehatan yang lain pula. Profil kesehatan Propinsi DI Yogyakarta tahun 2007 menunjukkan angka pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif propinsi adalah 29,60 persen sedangkan ASI eksklusif untuk Kota Yogyakarta sebesar 40,29 persen. Angka untuk Kota Yogyakarta ini lebih rendah dari proporsi ASI eksklusif secara nasional untuk pemberian 4 bulan sebesar 55 persen, dan lebih tinggi untuk ASI eksklusif 6 bulan yaitu sebesar 39,5 persen (Badan Pusat Statistik and ORC Macro, 2003). Hasil SDKI 2007 ternyata menunjukkan penurunan menjadi 32,4 persen untuk proporsi pemberian ASI eksklusif. Hal ini menunjukkan semua data yang ada masih lebih rendah dibandingkan target yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan sebesar 80 persen.
Prevalensi ASI eksklusif yang rendah dipengaruhi oleh banyak faktor baik internal atau faktor eksternal ibu. Faktor internal meliputi kesehatan fisik dan mental, keinginan menyusui dan pengalaman menyusui sebelumnya. Faktor eksternal dapat berupa faktor sosioekonomi, kondisi rumah tangga, dukungan pasangan atau keluarga serta dukungan dari staf rumah sakit serta metode
2 persalinan yang dilakukan (Hurst, 2007). Satu yang merupakan penyebab paling kuat adalah metode persalinan melalui bedah sesar. Bedah sesar merupakan faktor resiko yang menurunkan inisiasi ASI (Pérez-Escamilla et al., 1996). Bedah sesar juga memiliki hubungan negatif dengan breast milk transfered (BMT) pada usia 0 sampai dengan 6 hari pasca operasi (Evans et al., 2003). Pada gilirannya akan berdampak pada prevalensi ASI eksklusif 3 dan 6 bulan yang lebih rendah dibanding persalinan vaginal (Scott et al., 2006).
Jumlah bedah sesar di Kota Yogyakarta nampaknya mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, baik elektif maupun emergensi. Di rumah sakit HLMC Kota Yogyakarta, jumlah bedah sesar in-patient tahun 2006 sebanyak 86 kasus, sedangkan tahun 2007 mengalami peningkatan 2 kali lipat menjadi 164 kasus.
Kasus operasi dalam program One Day Surgery (ODS) yang merupakan rujukan dari bidan dengan kasus emergensi menunjukkan tren yang tinggi, yaitu 458 kasus pada tahun 2006 dan sebanyak 626 kasus pada tahun 2007.
Banyak penelitian dilakukan untuk menggali determinan ASI eksklusif dan yang secara khusus mempelajari pengaruh bedah sesar terhadap produksi susu. Peranan yang tampaknya cukup kritis untuk keberlangsungan menyusui adalah proses menyusui pada satu minggu pertama paska kelahiran meliputi inisiasi menyusui dan onset laktasi (OL) (Dewey et al., 2003). Kegagalan pengeluaran kolostrum dari payudara sejak dini berhubungan dengan prognosis yang buruk untuk keberhasilan laktasi (Neville and Morton, 2001). Sedangkan OL yang tertunda berkaitan dengan resiko yang lebih besar untuk penghentian ASI eksklusif sebelum 6 bulan (Hruschka et al., 2003).
Proses menyusui pada minggu pertama pasca persalinan sangat berhubungan dengan mekanisme fisik dan hormonal dari ibu. Inisiasi menyusu dan praktek laktasi pada 24 jam pertama akan menjamin terjadinya refleks let down yang akan memicu terjadinya produksi ASI yang masif untuk mencapai OL
pada laktogenesis fase II yang normalnya dicapai secara dramatis pada dua sampai tiga hari pasca melahirkan (Dewey et al., 2003).
Penelitian yang sama di Indonesia masih tetap perlu dilakukan. De Amici et al. (2001) menyatakan bahwa ras/etnis merupakan prediktor independen untuk
3 terjadinya laktogenesis cepat. Angka bedah sesar yang semakin meningkat dan data Badan Pusat Statistik and ORC Macro (2003) menunjukkan hanya 4 persen yang disusui setelah 1 jam pertama kehidupan dan 27 persen disusui dalam hari pertama kehidupan memperlihatkan bahwa pelayanan laktasi di Indonesia belum optimal. Hal ini diperburuk pula dengan peningkatan penggunaan susu formula sebagai pengganti ASI pada minggu pertama pasca persalinan (Sinusas and Gagliardi, 2001). Daerah Jawa Tengah, lebih dari 50 persen bayi di pedesaan dan 58-76 persen di daerah miskin kota menerima cairan selain ASI dalam 7 hari hidup pertamanya. Mayoritas dari bayi-bayi tersebut menerima susu formula terutama di daerah miskin kota (Helen Keller Worldwide, 2002).
Peneliti akan melakukan penelitian pada ibu yang melahirkan dengan berbagai metode. Tidak dilakukannya pengamatan khusus hanya pada bedah sesar disebabkan oleh rendahnya variasi inisiasi menyusu dini yang dilakukan paska operasi. Hasil yang diharapkan muncul dari penelitian ini adalah terbuktinya keterlambatan OL selama 6 hari pertama pasca persalinan bedah sesar.
Data yang ada nantinya akan digunakan untuk mengevaluasi perlunya intervensi pada pasca persalinan, misalnya inisiasi menyusu dini diterapkan secara rutin pada pasien bedah sesar serta perlu tidaknya pemberian suplemen non ASI yang sering digunakan pasca persalinan. Manakah dari faktor-faktor penyebab yang nantinya muncul akan masih dapat dimodifikasi untuk semakin meningkatkan kemampuan ibu memberikan ASI secara eksklusif dan kemampuan tenaga medis untuk memberikan advokasi yang baik tentang ASI pasca bedah sesar.
Mengingat semakin menurunnya ASI eksklusif baik tingkat nasional maupun lokal, dan pengaruh jenis persalinan terhadap OL akan berdampak pada keberhasilan ASI eksklusif. OL merupakan ukuran kondisi dimana ibu mendapatkan persepsi bahwa ASI nya sudah keluar, yang pada payudara ditandai dengan mengerasnya konsistensi/breast hardness (Jawa: ‘mentheng-mentheng’), rasa penuh atau berat (fullness/heaviness), dan dapat disertai merembesnya cairan kolostrum atau ASI (Hruschka et al., 2003). Adapun masalah yang akan diteliti
4 adalah apakah bedah sesar di Yogyakarta akan berpengaruh terhadap terlambatnya onset laktasi?
B. Perumusan Masalah
Catatan mengenai pemberian ASI eksklusif pada bayi di tingkat daerah masih rendah. Hingga saat ini di Indonesia, juga masih belum banyak data yang mengungkapkan praktek pemberian nutrisi pada 1 minggu pertama setelah kelahiran: frekuensi menyusui ASI dan susu formula yang mungkin diberikan, onset laktasi, dan pengelompokan masing-masing indikator keberhasilan menyusui tersebut berdasarkan jenis persalinan yang telah dilakukan (Suharyono et al., 1992). Faktor-faktor tersebut didukung juga dengan semakin tingginya
frekuensi bedah sesar sebagai pertolongan persalinan yang diduga akan mempengaruhi pelayanan laktasi.
Oleh karena itu akan diteliti apakah bedah sesar akan mempengaruhi keterlambatan onset laktasi pada ibu menyusui.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum
Tercapainya perbaikan pelayanan laktasi.
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya onset laktasi pada pasien pasca bedah sesar dan pasca persalinan vaginal.
b. Diketahuinya perbandingan onset laktasi pada pasien pasca bedah sesar dengan pasien pasca persalinan vaginal.
c. Diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian onset laktasi setelah persalinan.
D. Manfaat Penelitian
Bagi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta khususnya pengelola program kesehatan ibu dan anak, hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
5 perencanaan kegiatan khususnya mengenai intervensi pada ibu pasca persalinan untuk perbaikan laktasi.
Bagi masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai praktek pemberian makanan yang tepat bagi bayi yaitu ASI eksklusif, khususnya bagi ibu yang mengalami bedah sesar, sehingga berbagai hambatan yang ada pasca operasi dapat dikurangi dan mengoptimalkan pemberian ASI secara eksklusif.
Bagi peneliti, penelitian ini dapat menambah keterampilan dalam mengangkat suatu permasalahan dan melakukan penelitian, serta menyusunnya menjadi sebuah laporan ilmiah.
E. Keaslian Penelitian
Beberapa penelitian sebelumnya yang serupa dengan penelitian ini adalah:
1. Chapman and Pérez-Escamilla (2000) melakukan validasi khusus pada kelompok pasien pasca bedah sesar terhadap persepsi ibu sebagai petanda OL dibandingkan dengan volume breast milk transferred (BMT) dan menentukan determinan dari OL yang tertunda berdasarkan dua pengukuran tersebut.
Hasilnya persepsi ibu merupakan indikator yang sahih sebagai petanda OL dengan sensitifitas sebesar 71,4 persen dan spesifisitas 79,4 persen. Sedangkan determinan untuk terjadinya OL yang tertunda (defined by maternal perception) adalah inisiasi ASI lebih dari 105 menit dan bedah sesar yang
tidak direncanakan. Dalam tinjauannya, peneliti diatas memasukkan ras/
ethnicity sebagai salah satu faktor yang dianalisis karena dalam penelitian sebelumnya dikatakan bahwa ras non-African American adalah faktor resiko untuk terjadinya OL yang tertunda. Hal ini juga didukung dengan penelitian De Amici (2001) yang memperlihatkan bahwa ras/ etnis merupakan prediktor independen untuk terjadinya laktogenesis yang lebih awal. Adanya perbedaan ras pada penelitian inilah yang merupakan faktor penyebab dilakukannya studi di Indonesia khususnya Jawa.
2. Pérez-Escamilla et al. (1996) meneliti tentang ”Association between cesarean delivery and breast-feeding outcome among Mexican women”, yang
6 menunjukkan hasil bahwa bedah sesar merupakan faktor resiko untuk kegagalan inisiasi menyusui dini dan durasi menyusui yang pendek.
Perbedaan dengan penelitian ini pada variabel luar, variabel dependen dan jenis analisis statistik yang akan dilakukan.
3. Evans et al. (2003) dengan judul studi: “Effect of cesarean section on breast milk transfer to the normal term newborn over the first week of life”, yang
memperlihatkan hasil yaitu volume BMT pada 6 hari pasca bedah sesar sedikit jumlahnya bila dibandingkan dengan vaginal. Hasil penelitian ini digunakan oleh peneliti sebagai rujukan untuk memperoleh nilai rata-rata (mean) waktu kejadian OL pada pasien pasca bedah sesar yang memperoleh inisiasi menyusui sebagai proxy untuk menentukan persepsi ibu terhadap OL/
Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada variabel dependen dan analisis statistik yang dilakukan.
4. Hruschka et al. (2003) mengamati “Delayed onset of lactation and risk of ending full breast-feeding early in Rural Guatemala”. Hasil yang ada
menunjukkan bahwa OL yang tertunda (>3 hari pp.) berhubungan dengan resiko yang besar untuk berhentinya ASI eksklusif sebelum 6 bulan. Usulan dalam penelitian ini digunakan oleh peneliti untuk menentukan waktu kejadian menggunakan jam (bukan dengan hari atau proporsi) untuk menghilangkan bias misklasifikasi yang mungkin terjadi. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada variabel luar, variabel dependen dan analisis statistik yang digunakan.