• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUNJUNGAN KERJA KOMISI VIII DPR RI KE PROVINSI SUMATERA UTARA RESES MASA PERSIDANGAN I TAHUN JUM AT- SELASA TANGGAL 9 S.D.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KUNJUNGAN KERJA KOMISI VIII DPR RI KE PROVINSI SUMATERA UTARA RESES MASA PERSIDANGAN I TAHUN JUM AT- SELASA TANGGAL 9 S.D."

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

KUNJUNGAN KERJA KOMISI VIII DPR RI KE PROVINSI SUMATERA UTARA

RESES MASA PERSIDANGAN I TAHUN 2020-2021 JUM’AT- SELASA TANGGAL 9 S.D. 13 OKTOBER 2020

KOMISI VIII DPR RI 2020

(2)

DAFTAR NAMA

KUNKER RESES KOMISI VIII DPR RI KE PROVINSI SUMATERA UTARA RESES MASA PERSIDANGAN I TAHUN SIDANG 2020-2021

TANGGAL 9 S.D. 13 OKTOBER 2020

NOMOR

N A M A JABATAN FRAKSI DAPIL URUT ANGG

1. 003 H. MARWAN DASOPANG

Wkl.

Ketua/

Ketua Tim

PKB SUMUT II

2. 172 SELLY ANDRIANY GANTINA, A.Md

Anggota PDIP JABAR VIII

3. 211 UMAR BASHOR Anggota PDIP JATIM IV

4. 225 MOCHAMAD HASBI ASYIDIKI

JAYABAYA Anggota

PDIP BANTEN I

5. 236 H. RACHMAT HIDAYAT, SH Anggota PDIP NTB II

6. 280 MOHAMMAD SALEH, SE Anggota P G BENGKULU

7. 323 MUHAMMAD ALI RIDHA Anggota P G JATIM XI

8. 062 M. HUSNI, SE Anggota GERNDRA SUMUT I

9. 092 H. JEFRY ROMDONNY, SE,

S.Sos, M.SI, MM. Anggota GERNDRA JABAR IX

10. 351 Dra. HJ. DELMERIA Anggota NASDEM SUMUT II

11. 377 ACH. FADIL MUZAKKI SYAH,

S.Pd.I. Anggota NASDEM JATIM III

12. 034 Dra. HJ. ANISAH SYAKUR Anggota PKB JATIM II 13. 413 H. ISKAN QOLBA LUBIS, MA Anggota PKS SUMUT II

14. 529 Drs. H. ACHMAD, M.Si Anggota P D RIAU I

15. 552 WASTAM Anggota P D JATENG VII

16. 483 H. MHD. ASLI CHAIDIR, SH Anggota PAN SUMBAR I 17. - ACHMAD SOFIAN BACHTIAR, SEKRETARIAT KOMISI VIII

(3)

SH

18. - HERU PRIBADI, S.A.P. SEKRETARIAT KOMISI VIII

19. MARDIYANA SEKRETARIAT KOMISI VIII

20. - ADI WICAKSONO, SE. ME. AK.

CA.

TENAGA AHLI KOMISI VIII

21. PUNTHO PRANOWO

WIENAHYU

PTT-BAGIAN PEMBERITAAN

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Umum

Dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi DPR RI, sesuai ketentuan Peraturan Tata Tertib DPR RI, maka Komisi VIII DPR RI dalam Reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2020-2021 telah membentuk 3 (tiga) Tim Kunjungan Kerja, yaitu : Tim Kunjungan Kerja ke Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Banten, dan Provinsi Kalimantan Timur.

B. Dasar Kunjungan Kerja

Pelaksanaan kunjungan kerja Reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2020-2021 ini didasarkan atas:

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 20, 20A, 21 dan 23 tentang tugas DPR-RI di bidang Legislasi, Anggaran dan Pengawasan.

2. Undang undang Nomor 17 tahun 2014 tentang MD3 sebagaimana telah diubah terakhit dengan Undang undang Nomor 13 Tahun 2019 tentang perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 17 tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

3. Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia nomor 1 tahun 2014 tentang tata Tertib

4. Keputusan Rapat Internal Komisi VIII DPR RI

B. Maksud dan Tujuan 1. Maksud

a. Melakukan komunikasi intensif antara DPR RI khususnya Komisi VIII DPR RI dengan Pemerintah Daerah dan dengan pelaksanaan pembangunan di bidang Agama, Pendidikan Keagamaan, Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Penanggulangan Bencana, Pengelolaan Zakat, Pengelolaan Wakaf dan Pengelolaan Keuangan Haji serta dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan atau stakeholder yang berkaitan dengan keseluruhan bidang tersebut.

b. Melaksanakan fungsi Pengawasan atas Pelaksanaan Undang-Undang termasuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

c. Menggali dan menyerap aspirasi daerah dari unsur Pemerintah Daerah maupun masyarakat.

(5)

2. Tujuan

Untuk mengumpulkan dan mendapatkan bahan-bahan masukan berupa data dan kondisi faktual tentang pelaksanaan program pembangunan secara umum di daerah, dan khususnya pembangunan di bidang Agama, Pendidikan Keagamaan, sosial, penanggulangan Bencana, Pengelolaan keuangan haji, Pengelolaan Zakat dan Wakaf, pemberdayaan perempuan serta perlindungan anak.

D. Waktu Pelaksanaan

Kunjungan Kerja ini berlangsung dari Jum’at-Selasa 9 S.D 13 Oktober 2020

(6)

BAB II

PENANGGULANGAN PANDEMI COVID 19

A. PENDIDIKAN KEAGAMAAN

Dimasa pandemi covid 19 Pemerintah telah mengeluarkan panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021 dan tahun akademik 2020/2021 di masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang ditanda tangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia

Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah dari rumah akibat pandemi Covid-19 pada satuan pendidikan di lingkungan Kementerian Agama menjadi pilihan untuk tetap menjaga siswa terpapar Covid 19 dan juga karena menjadi pilihan terbaik bagi siswa untuk tetap mendapatkan pendidikan dan pembelajaran serta mendapatkan ilmu pengetahuan dan agama. Keputusan tidak membuka madrasah atau sekolah saat ini sangatlah tepat namun penting untuk memberikan fasilitas proses belajar mengajar dan kemampuan siswa untuk dapat mengikuti proses belajar melalui daring atau internet.

Dikarenakan pembelajaran jarak jauh masih menjadi pilihan dalam penyelenggaraan proses belajar dan mengajar, Kementerian Agama harus dapat memastikan proses belajar dan mengajar jarak jauh tetap berlangsung sesuai dengan standar mutu yang berlaku selama pandemi virus corona (Covid-19).

Beberapa kendala yang timbul dalam pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diantaranya kesulitan guru dalam mengelola PJJ dan masih terfokus dalam penuntasan kurikulum. Sementara itu, tidak semua orang tua mampu mendampingi anak-anak belajar di rumah dengan optimal karena harus bekerja ataupun kemampuan sebagai pendamping belajar anak. Tidak semua orang tua siswa memiliki kemampuan untuk sarana daring seperti kuota internet, laptop dan handphone. Para peserta didik juga mengalami kesulitan berkonsentrasi belajar dari rumah serta meningkatnya rasa jenuh yang berpotensi menimbulkan gangguan pada kesehatan jiwa. Selain itu, waktu pembelajaran berkurang sehingga guru tidak mungkin memenuhi beban jam mengajar, guru kesulitan komunikasi dengan orang tua sebagai mitra di rumah, kesulitan orang tua dalam memahami pelajaran dan memotivasi anak saat mendampingi belajar di rumah dan siswa mengeluhkan beratnya penugasan soal dari guru.

Kelangsungan belajar mengajar yang tidak dilakukan di madrasah berpotensi menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan. Siswa di rumah dapat berpotensi putus sekolah karena harus bekerja membantu ekonomi keluarga. Banyak orang tua

(7)

yang tidak bisa melihat peranan madrasah dalam proses belajar mengajar apabila proses pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka. Perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi berbeda. Studi menemukan bahwa pembelajaran di kelas menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik saat dibandingkan dengan pembelajaran jarak jauh. Kekerasan yang tidak terdeteksi siswa di rumah oleh guru akibat pembelajaran jarak jauh karena tanpa sekolah, banyak anak yang terjebak dalam kekerasan di rumah.

Pesantren telah memiliki pengaturan tersendiri melalui Undang-Undang nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang menjadi landasan hukum bagi Pesantren dalam melaksanakan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat dengan tetap menjamin kekhasan dan kemandiriannya, sekaligus landasan hukum bagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk memberikan afirmasi, rekognisi, dan fasilitasi terhadap Pesantren. Demikian halnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan sebagai landasan hukum bagi penyelenggaraan Pendidikan Keagamaan Islam.

Pandemi Covid-19 telah menimbulkan dampak pada seluruh sektor kehidupan, termasuk Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Islam, pemerintah harus hadir melalui program yang nyata untuk memberikan dukungan dan “stimulan” guna meringankan beban Pesantren dan Pendidikan Keagamaan agar siswa tetap mendapatkan pembelajaran, pendidikan dan mendapatkan ilmu melalui skema Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Islam di masa pandemi Covid-19.

Pesantren telah melakukan proses pembelajaran dengan melakukan penanganan sesuai protokol Covid-19 terhadap seluruh aktifitasnya. Namun diketahui ada beberapa pondok pesantren, santri maupun tenaga pendidik terpapar oleh Covid-19. Terhadap kondisi ini Kementerian Agama diharapkan mensosialisasikan penerapan protokol kesehatan yang disebarluaskan, menetapkan aturan khusus tentang prasyarat utama kepada pondok pesantren yang ingin membuka dan menggelar pembelajaran selama masa pandemi virus corona. Prasyarat tersebut yaitu: pesantren wajib membentuk gugus tugas percepatan penanganan Covid-19; pesantren wajib memiliki fasilitas yang memenuhi protokol kesehatan; pesantren dinyatakan aman Covid-19 dengan bukti surat keterangan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 atau pemerintah daerah setempat; dan pimpinan, pengelola, pendidik, dan peserta didik dalam kondisi sehat. Kondisi sehat ini dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari fasilitas pelayanan kesehatan setempat. Seperti diketahui bahwa di dalam pondok pesantren terdapat

(8)

sejumlah satuan pendidikan, seperti Pendidikan Diniyah Formal (PDF), Muadalah, Ma’had Aly, Pendidikan Kesetaraan pada Pesantren Salafiyah, Madrasah atau Sekolah, Perguruan Tinggi, dan Kajian Kitab Kuning (non formal).

Adapun dalam penanganan terhadap kluster Pondok Pesantren yang terpapar Covid 19 hendaknya Kementerian Agama memberikan dukungan dengan melakukan sinergi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTTP) Covid-19 yang berwenang di pemerintah setempat serta melakukan sejumlah upaya, antara lain menyiapkan tempat isolasi, menurunkan tim kesehatan, disinfeksi, dan trauma healing, hingga mendirikan dapur umum untuk mencukupi kebutuhan para santri selama menjalani masa karantina 14 hari. Upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid- 19 maka seluruh aktivitas pondok pesantren dapat dihentikan sementara, pondok pesantren melakukan karantina massal, serta seluruh akses ke pondok pesantren ditutup, tidak boleh ada yang keluar masuk.

Saat ini Kementerian Agama telah meluncurkan program bantuan operasional bagi pesantren, madrasah diniyah takmiliah dan Taman Pendidikan Al Qur’an serta bantuan program daring bagi pesantren. Diharapkan bantuan tersebut dapat ditingkatkan jumlah penerima lembaganya, nilai nominal bantuan, dan pengawasannya.

B. PENGELOLAAN ZAKAT DAN WAKAF INDONESIA

(9)

Undang-undang nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat menyebutkan bahwa: Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam. Pertimbangan untuk anggota Baznas yang berasal dari unsur masyarakat telah disetujui oleh DPR RI pada tanggal 5 oktober 2020 yaitu Noor Achmad, Muhammad Nadratuzzaman Hosen, Mokhamad Mahdum, Zainulbahar Noor, Saidah Sakwan, Rizaludin Kurniawan, Nur Chamdani, Achmad Sudrajat.

Diharapkan dengan terpilihnya 8 orang anggota Baznas dari unsur masyarakat dan 3 dari unsur pemerintah untuk segera dilantik dan dapat bekerja memenuhi target penerimaan dan pengelolaan zakat Indonesia.

Berbagai penelitian telah dilakukan terkait potensi penghimpunan zakat di Indonesia. Diantara penelitian tersebut dilakukan oleh Firdaus, Beik, Irawan dan Juanda (2012) yang menyebutkan bahwa potensi zakat di Indonesia adalah sekitar 217 triliun rupiah yang dihitung dari berbagai sumber, di antaranya dari penghasilan dan perusahaan. Besar potensi ini setara dengan 3,4% PDB Indonesia pada tahun 2010.

Disamping itu, potensi penghimpunan zakat dapat mencapai 3,4% dari total PDB apabila zakat ditetapkan sebagai pengurang pajak (Sudibyo, 2018). Adapun besaran potensi dimaksud pada tahun 2017 yaitu sebesar 462 triliun Rupiah. Nilai potensi ini lebih tinggi dibandingkan dengan potensi zakat saat ini dimana regulasi yang berlaku adalah zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak.

Beberapa yang membuat Baznas belum optimal diantaranya sebagai lembaga negara yang mengurusi pengelolaan zakat di masyarakat kemandirian dan kemampuan kelembagaan. Sistem informasi teknologi pengelolaan zakat, tata kelola yang baik, manajemen yang modern menjamin transparansi dan akuntabilitas.

Sinergi antara Baznas dengan para pemangku kepentingan dalam pengembangan pengelolaan zakat.

Sesuai dengan fatwa MUI No 23 Tahun 2020 tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infaq, Sedekah untuk Penanggulangan Covid 19 dan dampaknya, zakat dapat digunakan untuk menghadapi resesi ekonomi di tengah pandemi Covid 19. Fatwa itu menegaskan perluasan delapan golongan mustahik yang berhak menerima zakat.

Dalam situasi terdampak Covid 19, setiap orang yang termasuk fakir, miskin, gharim, maupun fi sabilillah berhak menjadi mustahik. Karena itu dana zakat dapat digunakan untuk pembelian alat perlindungan diri, disinfektan, maupun membiayai relawan kesehatan dikarenakan alat-alat tersebut dapat digolongkan sebagai sarana fi sabilillah melawan dampak pandemi Covid 19.

(10)

Untuk meningkatkan penghimpunan dana ZIS maupun wakaf dari masyarakat, lembaga-lembaga filantropi Islam harus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menolong sesama atau melakukan kedermawanan. Di samping itu, mereka juga perlu melakukan sosialisasi program-program penghimpunan dana ZIS dan wakaf serta program-program pemberdayaan masyarakat.

C. REHABILITASI SOSIAL

Pelaksanaan pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, telah menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang semakin membaik dan usia harapan hidup makin meningkat, sehingga jumlah lanjut usia semakin bertambah. Walaupun banyak diantara lanjut usia yang masih produktif dan mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, namun karena faktor usianya akan banyak menghadapi keterbatasan sehingga memerlukan bantuan peningkatan kesejahteraan sosialnya. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia pada hakikatnya merupakan pelestarian nilai-nilai keagamaan dan budaya bangsa. Untuk meningkatkan kesejahteraan bagi lanjut usia selama ini masih terbatas pada upaya pemberian sebagaimana dimaksud tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo, permasalahan lanjut usia, untuk itu saat ini Komisi VIII DPR RI sedang dibahas usulan Rancangan Undang-Undang revisi atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraaan Lanjut Usia.

Meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia merupakan salah satu

“sinyal” bahwa pembangunan di negeri ini telah membuahkan hasil yang patut

(11)

dibanggakan, namun demikian di sisi lain hal ini membawa konsekuensi yang tidak sederhana, karena menyebabkan dibutuhkan suatu program pembangunan kelanjut usiaan yang mampu mengayomi kehidupan para lansia Indonesia. Berdasarkan data statistik jumlah lanjut usia tahun 2015 terdapat 21,8 juta jiwa lansia dan terus meningkat pada tahun 2016 menjadi 22,6 juta jiwa, dan sampai akhir 2018 nanti jumlah penduduk lansia diprediksi mencapai 24 juta jiwa. Diperkirakan tahun 2020 diperkirakan Indonesia akan memiliki lansia sebesar 11,3 persen dari jumlah penduduk. Isu penambahan jumlah lansia di atas menjadi isu strategis yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh, jangan sampai penambahan penduduk lansia ini menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah. Selanjutnya menjadi kewajiban bersama untuk menjaga para lansia tetap hidup sehat, bahagia dan sejahtera, tangguh, mandiri, berkualitas dan produktif secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan.

Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia yang dimaksud kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial baik material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketenteraman lahir batin yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga, serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak dan kewajiban asasi manusia sesuai dengan Pancasila. Lanjut usia adalah seseorang yang telah berusia 60 tahun keatas.

Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia diarahkan agar lanjut usia tetap dapat diberdayakan sehingga berperan dalam kegiatan pembangunan dengan memperhatikan fungsi, kearifan, pengetahuan, keahlian, keterampilan, pengalaman, usia, dan kondisi fisiknya, serta terselenggaranya pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial lanjut usia.

Upaya peningkatan kesejahteraan sosial bertujuan untuk memperpanjang usia harapan hidup dan masa produktif, terwujudnya kemandirian dan kesejahteraannya, terpeliharanya sistem nilai budaya dan kekerabatan bangsa Indonesia serta lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa

(12)

T

ujuan umum dalam pelayanan rehabilitasi sosial adalah meningkatkan kemampuan inidvidu, keluarga dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, melaksanakan tugas dan peranan sosial, serta mengatasi masalah dalam kehidupannya.

(13)

BAB IV

HASIL KUNJUNGAN KERJA

Kunjungan kerja Komisi VIII DPR RI dalam bidang Agama dilakukan dengan mengunjungi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, bertempat di Aula Utama pertemuan yang dihadiri oleh Kepala Kanwil Kementerian Agama dan jajarannya, sekretaris MUI Provinsi Sumatera Utara, Ketua FKUB Provinsi Sumatera Utara, Baznas Provinsi Sumatera Utara dan Badan Wakaf Indonesia Provinsi Sumatera Utara.

Dalam pertemuan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera menyampaikan program kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara dalam penanggulangan Pandemi Covid 19 pada pesantren dan pendidikan keagamaan telah menempuh berbagai upaya untuk memutus rantai penularan Covid 19 di lingkungan pendidikan pesantren salah satunya dengan menerapkan Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 01/KB/2020. No.516/2020, No.HK.03.01/Menkes/363/2020 dan No.440-822 serta SKB No.03/KB/2020, No.612/2020, No.HK.01.08/Menkes/502/2020, No.119/4536/SJ/2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid 19. Sosialisasi terhadap panduan penyelenggaraan pembelajaran telah dilakukan dengan menggunakan media online ke lembaga pendidikan Islam se-Sumatera Utara.

Pengawasan terhadap pelaksanaan pembelajaran jarak jauh dan terhadap lembaga pendidikan Islam yang melakukan pembelajaran tatap muka seperti pesantren dilaksanakan melalui online dan terstruktur yang dilakukan Kemenag Kabupaten/Kota.. Laporan terhadap hasil pengawasan tersebut juga meliputi sejauh mana efektivitas pembelajaran yang sudah dilaksanakan.

Dalam hal anggaran di pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam sangat minim, hal ini dapat terlihat dengan tidak adanya guru Pondok Pesantren Salafiyah yang disertifikasi, tidak adanya DIPA bantuan insentif guru, bantuan rehab dan ruang kelas baru pada pondok pesantren dan pendidikan keagamaan Islam, pos kesehatan pondok pesantren, peringatan Hari Santri Nasional,, bantuan kewirausahaan pada pondok pesantren, anggaran pembinaan terhadap pondok pesantren yang minim, MDTA dan LPQ.

Dalam program bantuan operasional pesantren di wilayah Sunatera Utara pada tahun 2020 mendapatkan LPTQ/TPQ sebanyak 658 lembaga dengan masing-masing penerima mendapatkan bantuan Rp 10 juta, Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) sebanyak 429 lembaga dengan masing-penerima mendapatkan Rp 10 juta, Batuan pembelajaran daring bagi pesantren sebanyak 89 lembaga dengan masing-masing mendapatkan Rp 15

(14)

juta, bantuan operasional pesantren tahap II sebanyak 90 lembaga dengan masing-masing mendapatkan variasi Rp 25 juta, Rp 40 juta dan Rp 50 juta.

Menurut data Education Management Information System (EMIS) tahun 2020 lembaga pendidikan keagamaan di Sumatera Utara sebanyak 5.680 terdiri dari Pondok Pesantren 195, Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah 41, Pondok Pesantren Mu’adalah 1, Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) 2.575, dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) 2.868 dengan total jumlah santri sebanyak 416.223.

Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan keluhan terkait dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), bahwa peran penting yang diemban oleh FKUB tidak didukung oleh payung hukum setingkat undang-undang, anggaran yang minim, saranan dan prasarana serta dukungan sumber daya manusia yang cukup. Untuk itu ketua FKUB Sumatera Utara Dr. H Maratua Simanjutak meminta perlu segera diatur melalui undang- undang. Dalam usulannya FKUB Sumatera Utara meminta penambahan anggaran sesuai dengan kinerja yang ditargetkan, sehingga setiap program dan operasional FKUB dapat optimal. Pemerintah harus terus meningkatkan fungsi dan peran FKUB agar mampu menciptakan kerukunan di masyarakat. Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota tidak mengalokasikan anggaran bagi FKUB, untuk itu perlu dikeluarkan kebijakan agar Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota mengalokasikan anggaran bagi FKUB.

Selanjutnya Tim Kunker Komisi VIII DPR RI melanjutkan kunjungan lapangan ke Panti Sosial Lanjut Usia di Binjai. Peninjauan ke Unit Pelaksana Teknis Lanjut Usia (UPT LU) Binjai atau eks Panti Sosial Tresna Werdha Abdi di Jalan Perintis Kemerdekaan Binjai untuk melihat bagaimana kebijakan terhadap penanganan orang lanjut usia berjalan dengan baik. Hal ini sejalan dengan berlangsungnya revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Tim Kunker Komisi VIII melihat bahwa perlu ada kebijakan yang memperkuat panti lanjut usia dengan melibatkan berbagai pihak dari Kementerian dan Lembaga serta Pemerintah Daerah. Banyak sarana dan prasarana yang perlu ditingkatkan serta kesejahteraan tenaga pendamping di Panti. Kunjungan tersebut didampingi oleh Kepala UPT Lanjut Usia Binjai Herly Puji Mentari Latuperissa, Kadinsos Provinsi Sumatera Utara Bapak Rajali, serta Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kemensos RI, Andi Hanindito. Perlu diberikan anggaran yang berkesinambungan serta bantuan program peralatan dan pelatihan sehingga para lanjut usia mampu ditangani lebih baik.

Kunjungan selanjutnya Tim Kunker Komisi VIII DPR RI mengunjungi Pondok Pesantren Modern Darul Ihsan yang beralamat di Desa Selemak, Kecamatan Hamparanperak, Kabupaten Deliserdang, didampingi oleh Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Sumut Syahrul Wirda dan jajaranya untuk mengingatkan bahwa pondok pesantren menjadi

(15)

tumpuan untuk Pendidikan di masa Pandemi dikarenakan sekolah dan madrasah lain melakukan sistem daring agar tidak terjadi kehilangan generasi di masa depan. Untuk itu Pemerintah harus maksimal untuk hadir melindungi dan mendukung pondok pesantren agar terjaga dari pandemi Covid 19. Pemerintah harus memberikan dukungan protokol Covid 19 dan suplemen bagi santri di seluruh pondok pesantren. Pemerintah harus menganggarkan kebutuhan protokol Covid 19 bagi pesantren seperti vitamin, hand sanitizer, disinfektan, masker dan lain sebagainya.

BAB V REKOMENDASI

Tim Kunjungan Kerja Komisi VIII DPR RI ke Provinsi Sumatera Utara pada reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2020-2021 memberikan rekomendasi :

1. Kepada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara untuk menjalin komunikasi dan koordinasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten/Kota se- Sumatera Utara untuk bersama-sama meningkatkan peran FKUB dan mendukung anggaran untuk operasional dan program.

2. Meminta kepada Kementerian Agama untuk meningkatkan pengawasan pelaksanan pendidikan di Pondok Pesantren agar para santri dapat menerima pendidikan dan terjaga dari Pandemi Covid 19. Jika ada santri yang terkena Covid 19 Kementeria Agama segera memberikan dukungan penanganan yang baik terhadap pondok pesantren agar tidak menimbulkan klaster yang berdampak lebih besar.

3. Meminta Kepada Kementerian Agama untuk melakukan pengawasan yang lebih baik dari proses pembelajaran jarak jauh agar siswa mampu mendapatkan pendidikan yang optimal.

4. Meminta kepada Kementerian Sosial untuk memiliki anggaran dan program yang berkesinambungan dalam meningkatkan peran Panti Lanjut Usia dalam menjalankan fungsinya.

(16)

BAB V PENUTUP

Demikianlah laporan kunjungan kerja Komisi VIII DPR RI pada reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2020-2021 disusun sebagai bahan pada rapat-rapat dengan mitra terkait untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan atas aspirasi, masalah dan rekomendasi yang ditemukan dan disampaikan pada waktu kunjungan kerja.

(17)

LAPORAN FOTO

(18)

Referensi

Dokumen terkait

Komisi V DPR RI mendorong Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan untuk bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur maupun Pemerintah Kabupaten Kutai

Ace Hasan Sadzily menyampaikan terima kasih atas sambutan dan penerimaan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara beserta jajarannya dan berharap Komisi VIII DPR RI dapat

1) Komisi V DPR RI mendukung pembangunan infrastruktur dan transportasi pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan, Kementerian Desa

Komisi V DPR RI mendukung Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR untuk memprioritas kegiatan penurunan luasan kawasan kumuh perkotaan Jambi, berupa perbaikan kualitas

Pada malam hari tim kunjungan kerja komisi VIII DPR RI melanjutkan pertemuan dengan badan penanganan bencanan daerah (BPBD), satu hal bahwa di Kalimantan Timur sering

Kesiapan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara diantaranya adalah Menyusun Program Kerja dalam Sentra Gakumdu untuk merumuskan pola, arah dan persamaan persepsi dalam

pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Agama secara baik sesuai tuntutan reformasi birokrasi. Hal ini disebabkan Moratorium pembangunan Kantor Kementerian Agama

Kunjungan Kerja Komisi V DPR RI pada Reses Masa Persidangan III Tahun Sidang 2020- 2021 dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 15-19 Februari 2021, yang dipimpin