i
PENGEMBANGAN MODUL BERGAMBAR BERBANTUAN PETA KONSEP (CONCEPT MAPPING)
PADA MATA PELAJARAN FIQIH KELAS V DI MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SUNGAI TARAB
SKRIPSI
Ditulis sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana (s-1) Jurusan Pendidikan Agama Islam
VELZA KUMALA 14101131
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
BATUSANGKAR 2019
ii
iii
iv
v ABSTRAK
Velza Kumala, NIM 14 101 131, Judul Skripsi: “Pengembangan Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sungai Tarab”.
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Batusangkar, dengan jumlah 91 halaman.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana validitas dan praktikalitas pengembangan modul bergambar berbantuan peta konsep mata pelajaran fiqih di MIN. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul bergambar berbantuan peta konsep mata pelajaran fiqih di MIN yang valid dan praktis. Manfaat penelitian pengembangan modul bergambar berbantuan peta konsep mata pelajaran fiqih di MIN adalah sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program sarjana, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di IAIN Batusangkar, sebagai bekal pengetahuan dan pengalaman bagi penulis yang nantinya bisa diterapkan di sekolah, dan menambah wawasan tentang pengembangan modul pembelajaran fiqih bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping).
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pengembangan yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk modul pembelajaran fiqih bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping). Model pengembangan yang digunakan adalah model 4-D yaitu: define, design, develop, dan disseminate. Penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap develop. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket, observasi dan wawancara. Untuk instrument pengumpulan data digunakan lembar validasi, lembar angket respon siswa dan lembar observasi. Teknik analisa untuk validitas digunakan rumus Aiken V dan untuk analisa praktikalitas digunakan rumus statistik sederhana. Setelah itu ditentukan kualitas dari produk modul bergambar berbantuan peta konsep (Concept Mapping) mata pelajaran fiqih yang dikembangkan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) mata pelajaran fiqih yang telah dihasilkan bersifat sangat valid dengan menunjukkan nilai perhitungan koefisien indeks Aikensebesar 0,98melalui uji validitas dengan 3 orang validator.
Hasil uji praktikalitas melalui angket respon siswa dikategorikan sangat praktis dengan penilaiaan presentase sebesar 90,92%.
vi DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...i
ABSTRAK ...iii
DAFTAR ISI ...iv
DAFTAR TABEL ...vii
DAFTAR GAMBAR ...viii
DAFTAR LAMPIRAN ...ix
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 12
C. Batasan Masalah... 12
D. Rumusan Masalah ... 12
E. Tujuan Penelitian ... 13
F. Definisi Operasional... 13
G. Manfaat Penelitian ... 14
H. Asumsi dan Fokus Pengembangan... 15
I. Spesifikasi Produk ... 15
BAB II KAJIAN TEORI A. Landasan Teori ... 18
1. Modul ... 18
a. Pengertian Modul ... 18
b. Tujuan Modul ... 19
c. Fungsi Modul... 21
d. Karakteristik Modul... 21
e. Prinsip- prinsip Pengajaran Modul ... 22
f. Komponen- komponen Modul ... 23
g. Kelebihan dan Kekurangan Modul ... 25
h. Langkah- langkah Penyusunan Modul ... 27
2. Gambar ... 28
a. Pengertian gambar ... 28
b. Macam- macam gambar ... 29
c. Manfaat Gambar ... 30
vii
d. Kelebihan dan kekurangan gambar ... 30
e. Hal- hal di Perhatikan dalam Memilih Gambar ... 31
3. Peta Konsep (Concept Mapping) ... 32
a. Pengertian Peta Konsep ... 32
b. Macam-macam Peta Konsep ... 33
c. Langkah-langkah Peta Konsep ... 34
d. Peta Konsep Sebagai Alat Evaluasi ... 35
e. Kelebihan dan Kekurangan Peta Konsep (Concept Mapping) ... 36
4. Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) ... 37
a. Pengertian Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) ... 37
b. Tujuan Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping)...38
c. Fungsi Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping)...38
d. Karakteristik Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) ... 38
e. Unsur-unsur Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) ... 39
f. Kelebihan dan kekurangan Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping)... 40
5. Materi Ajar fiqih kelas V semester 2 ... 40
B. Kerangka Berfikir... 42
C. Penelitian yang Relevan ... 43
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 47
B. Desain dan Prosedur Pengembangan ... 47
C. Subjek Uji Coba ... 55
D. Teknik Pengumpulan Data ... 55
E. Instrumen Pengumpulan Data ... 56
F. Teknik Analisis Data ... 58
viii
G. Kualitas Produk Hasil Pengembangan ... 60
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengembangan ... 61
1. Hasil Tahap Define (Tahap Pendefenisian)... 61
2. Hasil Tahap Design (Tahap Perancangan) ... 70
3. Hasil Tahap Develop (Tahap Pengembangan) ... 77
B. Pembahasan ... 87
C. Kualitas Produk Hasil Pengembangan ... 90
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 91
B. Saran ... 92
DAFTAR KEPUSTAKAAN LAMPIRAN
ix
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Penelitian Relevan 43
3.1 Aspek-aspek Validasi Modul Bergambar Berbantuan
Peta Konsep (Concept Mapping) 52
3.2 Aspek-aspek Validasi RPP Modul Bergambar
Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) 53 3.3 Validasi Angket Respon Modul Bergambar Berbantuan
Peta Konsep (Concept Mapping)
53 3.4 Aspek Praktikalitas Modul Bergambar Berbantuan Peta
Konsep (Concept Mapping) 53
3.5 Kategori Validitas Berdasarkan Indeks Aiken V Modul
Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) 59 3.6 Kategori Lembar Angket Modul Bergambar Berbantuan
Peta Konsep (Concept Mapping) 61
4.1 Data Hasil Perhitungan Koefisien Aiken untuk Validasi Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping)
78
4.2 Data Hasil Perhitungan Koefisien Aiken untuk Validasi
RPP 84
4.3 Data Hasil Perhitungan Koefisien Aiken untuk Validasi
Angket Respon Siswa 85
4.4 Hasil Angket Praktikalitas Penggunaan Modul Fiqih
Bergambar Berbantuan Peta Konsep 87
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Kerangka Berfikir Pengembangan Modul Bergambar
Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) 43
3.1 Prosedur Penelitian 54
4.1 Cover modul 70
4.2 Daftar isi modul 71
4.3 Petunjuk Penggunaan Modul 72
4.4 Peta Konsep 73
4.5 KI, KD dan Indikator Pencapainnya 73
4.6 Lembar Kegiatan Siswa 75
4.7 Peta Konsep dalam Materi 75
4.8 Lembar Kerja Siswa 76
4.9 Lembar Evaluasi 77
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1 Silabus MI kelas V (2) 96
2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 106
3 Lembar Mohon Validasi Instrumen Penelitian 149
4 Nama-Nama Validator 152
5 Lembar Validasi Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) pada Mata Pelajaran Fiqih
153 6 Lembar Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 168 7 Lembar Validasi Angket Respon Siswa Menggunakan
Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) pada Mata Pelajaran Fiqih
177
8 Lembar Angket Respon Siswa dengan Menggunakan Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) pelaksanaan praktikalitas
186
9 Hasil Analisis Lembar Validasi Modul 190
10 Hasil Analisis Lembar Validasi RPP 194
11 Hasil Analisis Lembar Validasi Angket Respon Siswa 196
12 Hasil Analisis Angket Respon Siswa 197
13 Nama-Nama Siswa 199
14 Lembar Wawancara 200
15 Lembar Observasi 202
16 Dokumentasi 203
17 Surat Rekomendasi Penelitian 204
18 Surat Izin Melaksanakan Penelitian dari Kesbangpol 205 19 Surat Pernyataan Telah Melaksanakan Penelitian dari
Sekolah
206
20 Produk 207
Pendidikan merupakan suatu proses kegiatan yang memiliki sebuah tujuan. Jika dilihat dari pandangan Islam tujuan dari sebuah pendidikan adalah untuk membentuk insan kamil yang matinya dalam keadaan berserah diri kepada Allah (Nur, 1996: 43).Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S Ali Imran (4): 102
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar- benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(Q.S Ali Imran (4): 102)
Dari ayat diatas, dapat diketahui bahwa hendaknya manusia yang sempurna (insan kamil) dapat meninggal dalam keadaan bertakwa dan menyerahkan diri hanya kepada Allah. Ahmad Tafsir menjelaskan bahwasanya indikator insan kamil (manusia yang sempurna) adalah:
1. Jasmani yang sehat, kuat dan terampil.
2. Memiliki kecerdasan dan kepandaian seperti mampu menyelesaikan masalah dengan cepat, tepat dan ilmiah, mengembangkan sains dan filsafat.
3. Memiliki hati yang taqwa, yakni mampu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, mampu berhubungan dengan alam gaib(Fatah, 2008: 16).
Pendidikan Islam hendaknya diarahkan untuk mengembangkan seluruh aspek fitrah peserta didik yakni aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, keterampilan, bahasa dan semua aspek yang membawa kepada insan kamil.Jika dilihat dari sudut pandang perundang-undangan Indonesia, bahwasanya tujuan pendidikan adalah mengantarkan masyarakat Indonesia menuju perubahan tingkah laku baik secara kognitif, afektif, ataupun psikomotor. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang
1
2
terdapat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Indonesia No.20 tahun 2003 yakni “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratisserta bertanggung jawab” (Tim Redaksi Fokus Media, 2006: 8). Jadi, pada hakikatnya antara tujuan pendidikan menurut perundang-undangan Indonesia searah dengan tujuan pendidikan menurut Islam yakni membentuk manusia yang memiliki kecerdasan spiritual, intelektual, moral, serta sosial yang tinggi sehingga ia mampu menjalankan tugasnya dimuka bumi.
Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan jenjang paling dasar pada pendidikan formal, setara dengan Sekolah Dasar yang pengelolaannya dilakukan Kementrian Agama. Salah satu mata pelajaran keagamaan yang diajarkan adalah mata pelajaran fiqih. Fiqih secara umum merupakan salah satu mata pelajaran agama Islam yang mayoritas membahas tentang hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan antara manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan lingkungannya.
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 30 ayat 2 pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Hal ini merupakan dasar utama yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran. Pembelajaran fiqih di Madrasah Ibtidaiyah, bertujuan untuk :
1. Mengetahui dan memahami cara-cara pelaksanaan hukum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.
2. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dan baik, sebagai perwujudan dari ketaatan dalam menjalankan ajaran Agama Islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, dan makhluk lainnya maupun hubungan dengan lingkungannya.
UU. No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 20 pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Oleh karena itu, perlu didukung beraneka sumber belajar dan diciptakan suasana atau lingkungan belajar yang kaya dan merangsang bagi peserta didik agar terjadi kegiatan belajar berkualitas (Bambang, 2003: 2). Hal yang harus dikuasai guru adalah mampu menyediakan bahan pembelajaran yang dapat dipelajari sendiri oleh siswa. Artinya bahan tersebut harus mampu memberikan kesempatan pada siswa untuk mampu mengukur perilaku belajarnya tanpa harus campur tangan guru atau temannya. Hal ini meletakkan fungsi guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai perancang atau mengembangkan bahan pembelajaran. Sebagai seorang perancang atau pengembang bahan belajar guru harus mampu menyeleksi bahkan harus mampu mengembangkan sendiri seandainya material yang sesuai strategi terpilih belum ada. Hal ini disebabkan bahwa dalam kurikulum atau silabus, materi hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk materi pokok. Oleh karena itu, menjadi tugas guru dalam menjabarkan materi pokok sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap (Ali, 2011: 125-126).
Sistem pembelajaran terdiri dari beberapa komponen, yakninya:
siswa, tujuan, kondisi, sumber-sumber belajar dan hasil belajar. Sistem pembelajaran terdapatnya sumber-sumber belajar, sumber belajar berkaitan dengan segala sesuatu yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar. Meliputi lingkungan fisik seperti tempat belajar, bahan dan alat yang dapat digunakan, personal seperti guru, petugas perpustakaan dan ahli media, dan siapa saja yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung untuk keberhasilan dalam pengalaman belajar (Wina, 2011: 9-13).
4
Sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran salah satunya ialah bahan cetak. Bahan cetak adalah berbagai informasi sebagai materi pelajaran yang dapat disimpan dalam berbagai bentuk tercetak seperti buku, majalah, koran dan lain sebagainya.
Bahan cetak yang dapat dijadikan sebagai sumber pelajaran terdapat tiga jenis yaitunya:
1. Bahan-bahan yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar utama untuk setiap individu. Pada bentuk ini bahan-bahan pelajaran disusun sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar secara individual, misalnya bahan cetakan seperti modul atau pelajaran berprograma.
2. Bahan cetak yang disusun sebagai penunjang, dan dirancang bukan sebagai bahan pelajaran individual. Artinya, belajar melalui bahan cetakan ini masih memerlukan guru atau instruktur secara langsung.
Yang termasuk bahan jenis ini adalah buku paket, diktat, hand-out.
3. Bahan yang tidak dirancang khusus untuk pembelajaran, tetapi dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan siswa dalam mempelajari sesuatu (Wina, 2011: 147-149).
Bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru untuk perancangan dan implementasi pembelajaran (Ali, 2011: 128).
Berbagai macam sumber belajar yang dijelaskan tersebut dapat diketahui bahwa seorang guru harus memiliki kemampuan dalam membuat dan memanfaatkan media dan sumber belajar agar dapat menjadikan proses pelajaran menjadi lebih efektif dan menarik. Sehingga guru diharapkan untuk mampu mengembangkan bahan ajar seperti modul, LKS, handout dan sebagainya. Namun kenyataannya yang sering ditemui di sekolah.
Masih ada diantara guru yang tidak mengembangkan bahan ajar sebagai bahan tambahan materi bagi guru maupun siswa dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran bahan ajar yang digunakan
hanya buku paket yang sangat minim materi juga tanpa penjelasan yang lebih luas dan dalam. Dengan hanya terfokus pada satu buku paket, maka pembelajaran akan menjadi kurang menarik karena buku paket tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang beragam. Dan kenyataan lain yang sering juga ditemui pada mata pelajaran fiqih dikalangan siswa masih dianggap sulit. Penyebab pelajaran fiqih dikatakan sebagai pelajaran sulit karena pelajarannya memerlukan dalil yang mendukung dan mampu mempraktekkan hasil temuan belajarnya.
Oleh sebab itu, siswa tidak hanya dituntut untuk hafal konsep namun juga mampu mempraktekkan hasil temuan belajarnya. Selain pelajaran fiqih dikategorikan pelajaran yang sulit, siswa juga sulit memahami materi secara mandiri. Hal ini disebabkan karena kurangnya penggunaan bahan ajar seperti modul, LKS, hand out dan sebagainya. Oleh karena itu perlu adanya solusi dari hal tersebut.
Penulis melakukan wawancara dengan guru bidang studi Fiqih di Madrasah Ibtidaiyah Negri (MIN) Sungai Tarab, Sastra Deni R, S.Pd.I M.Pd.I hari Rabu tanggal 8 November 2017, peneliti mendapat informasi bahwa di Madrasah tersebut sudah menjalankan kurikulum 2013 namun, buku guru dan buku siswa dari pemerintah belum di dapatkan bagi guru dan siswa terkhususnya bidang study fiqih sehingga dalam pembelajaran guru hanya memakai satu buku paket yang ada untuk dijadikan pedoman dalam mengajar yaitu buku karangan Abdul Mutholib, Fiqih untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas V, (Jakarta: Arya Duta, 2008). Saat guru memberikan materi pelajaran, materi yang disampaikan tersebut hanya atas usaha sendiri dalam mencari bahan, disebabkan tidak adanya sumber yang bisa dijadikan sebagai panduan, baik berupa modul biasa.Ada beberapa siswa menggunakan buku paket yang tersedia di perpustakaan namun tidak semua siswa dapat memiliki disebabkan keterbatasan ketersediaan di perpustakaan sekolah hal ini menyebabkan siswa lebih banyak menggunakan LKS namun masih sangat minim materi, dan penjelasan yang kurang mendalam serta gambar dalam LKS tersebut
6
masih kurang.Siswa belum memiliki bahan ajar berupa modul.Jadi, di sekolah Madrasah tersebut belum ada terdapat modul dalam pembelajaran Fiqih.Dengan demikian masih perlu disempurnakan dan dikembangkan lagi bahan ajar yang dapat membantu guru dan siswa dalam proses pembelajaran secara mandiri serta divariasikan dengan berbagai media dan sumber pembelajaran yang dapat mengembangkan sikap, keterampilan dan pengetahuan.
Selanjutnya, setelah penulis mencoba melihat dan mempelajari buku paket yang dijadikan pegangan guru dalam pembelajaran fiqih, yaitu buku terbitan Arya Duta dengan judul fiqih untuk Madrasah Ibtidaiyah kelas V karangan Abdul Mutholib. Secara umum buku paket yang tersedia masih kurangnya penekanan terhadap materi. Penjabaran materi dalam buku paket masih kurang rinci dan kurang mendalam. Bahasa yang digunakan dalam buku tersebut masih kurang menarik untuk mengajak siswa belajar aktif secara mandiri dan dilihat dari segi gambar masih kurang. Dalam buku tersebut latihan-latihan yang dicantumkan masih kurang.Materi kurang didukung dengan gambar yang berkaitan dengan materi serta dapat memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Sehingga menyebabkan siswa terikat dengan penjelasan guru dan siswa kurang mengaplikasikan materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
Pada materi terutama urutan tata cara ibadah haji membutuhkan gambar karena dari materi tersebut dalam indikator pencapaian kompetensi adanya tata cara ibadah haji, sehingga membutuhkan gambar agar tidak menimbulkan keraguan dalam praktek dan memotivasi diri siswa untuk belajar tata cara ibadah haji agar tidak membosankan bagi siswa.
Hal ini berdampak pada pemahaman siswa dalam belajar yaitu proses pembelajaran guru hanya menerangkan dan siswa mencatatnya dalam buku catatan, siswa kesulitan dalam memahami materi dan menyimpulkan materi yang diajarkan oleh guru.
Siswa MIN terutama kelas V jika didalam bahan ajarnya ada gambar- gambar, maka dengan penggunaan media gambar penyampaian
materi pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih dicerna karena membantu peserta didik belajar dengan menggunakan indera penglihatan, disamping itu pembelajaran akan lebih meningkatkan daya tarik peserta didik. Hal ini berdasarkan manfaat praktis pengembangan media gambar dalam proses pembelajaran yaitu media gambar dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses serta hasil belajar, media gambar dapat memberikan pengalaman dan pengertian peserta didik menjadi lebih luas, lebih jelas dan tidak mudah dilupakan serta lebih konkret dalam ingatan dan asosiasi peserta didik(Abhanda, 2010: 87). Jadi siswa dalam belajar dapat menghilangkan kejenuhan, meningkatkan motivasi dalam mengikuti pembelajaran dan bahasa yang digunakan dalam buku tersebut dapat mengajak siswa belajar aktif secara mandiri serta adanya penekanan pada materi yang dipelajari untuk memudahkan siswa menyimpulkannya.
Menyikapi permasalahan yang ada di atas, diperlukan pengembangan bahan ajar yang menarik, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif, efisien dan tercapainya tujuan pembelajaran serta timbul dari dalam diri siswa rasa ingin tahu dan mampu memecahkan masalah-masalah yang ditemuinya dalam proses pembelajaran.Salah satu bahan ajar yang dapat dikembangkan adalah modul. Modul merupakan bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metode dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri (Ali, 2011: 149). Dan modul adalah suatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas.Dalam hal ini penulis tertarik untuk mendesain sebuah bahan ajar berbentuk modul.
Sebuah modul boleh menggunakan berbagai media, teknik, metode dan strategi tertentu. Hal ini bertujuan agar modul yang dihasilkan lebih menarik siswa untuk dipelajari dan dibacanya, tidak monoton dan membosankan E-journal: (Perima: 11). Modul yang penulis sarankan
8
adalah modul bergambar berbantuan peta konsep (Concept Mapping).
Dimana peserta didik bisa menemukan informasi secara mandiri tanpa bergantung pada guru yang selama ini bertugas sebagai penyampai informasi, yang mana sebelumnya siswa belajar banyak menggunakan waktu untuk mendengarkan dan mencatat materi yang diterangkan guru di depan kelas.
Pengembangan modul dirasa perlu dilakukan untuk membantu guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran, serta dengan menggunakan modul lebih menarik siswa dan termotivasi untuk belajar mandiri. Modul itu sendiri adalah sebuah bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik sesuai tingkat pengetahuan dan usia mereka, agar mereka dapat belajar sendiri (mandiri) dengan bantuan atau bimbingan yang minimal dari pendidik (Andi, 2012:
106).
Belajar menggunakan modul sangat banyak kelebihannya diantara lain: siswa bisa belajar sendiri secara aktif, adanya kompetisi sehat antar siswa, terdapat kejelasan tujuan yang harus dicapai siswa, adanya partisipasi aktif dari siswa, memiliki komponen-komponen yang memungkinkan siswa secara langsung dapat mengetahui apakah sudah dapat melangkah lebih jauh atau masih harus mempelajari yang belum dikuasainya, secara optimal penerapan prinsip belajar tuntas (Syarifuddin, 2010: 227). Selain itu dengan menggunakan modul siswa bisa untuk mengulang pelajaran dimana saja yang siswa inginkan baik dirumah maupun disekolah karena siswa memiliki bahan panduan sebagai pegangan, dalam modul terdapat lembar kegiatan dan lembar kerja siswa, dengan adanya lembar kegiatan dan lembar kerja siswa maka, kegiatan yang hendak dilakukan oleh siswa akan lebih terarah, setelah itu terdapatnya lembar evaluasi yang mana pada lembar ini akan menguji secara langsung materi yang telah dipelajari setelah itu juga terdapat lembar penilaian, dari lembar penilaian itu siswa akan mengetahui bagaimana hasil yang didapatnya, selain dari itu kebanyakan pada modul
yang ada memiliki variasi warna yang beragam serta gambar yang menarik sehingga siswa tidak bosan dalam belajar menggunakan modul, selain dari itu juga terdapat beragam strategi yang digunakan agar siswa saat belajar menggunakan modul terasa lebih menyenangkan, oleh karena itu dengan banyaknya kelebihan-kelebihan yang di dapat menggunakan modul saat pembelajaran maka pembelajaran akan terasa lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
Modul merupakan salah satu bentuk unit lengkap yang berdiri sendiri terdiri dari rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu peserta didik mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas. Gambar adalah barang tiruan (orang, binatang, tumbuhan, dan sebagainya) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas.
Modul bergambar adalah salah satu penyajian materi pembelajaran dengan memuat gambar pada setiap penjelasan materi dalam modul tersebut. Modul bergambar memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan ajar atau buku paket yang telah ada.
Kelebihan dari modul bergambar ini akan membuat penyajian suatu materi akan lebih mudah dipahami, modul bergambar ini akan memperjelas suatu objek yang akan dipahami, materi dalam modul akan dilengkapi dengan gambar dan disertai dengan penjelasan tentang gambar.
Sifat gambar konkrit, maksudnya gambar lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata. Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak semua benda/peristiwa dapat dibawa ke dalam kelas dan tidak selalu bisa anak-anak dibawa ke objek/peristiwa tersebut. Media gambar dapat mengatasi masalah tersebut.
Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Gambar dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman. Gambar harganya murah dan mudah didapat serta digunakan, tanpa memerlukan peralatan khusus (Arif, 2005: 45). Jadi,
10
dapat dipahami bahwa modul bergambar adalah salah satu bentuk penyajian materi ajar yang disertai dengan gambar, dengan adanya gambar akan membuat siswa lebih senang dan tertarik mempelajari modul, mudah memahami materi pembelajaran dan mampraktekkan, sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara efektif dan efesien.
Peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tungal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama. Peta konsep pada bagian ini bertujuan untuk membantu memahami macam-macam konsep yang ditanamkan di topik lebih besar yang diajarkan, membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut dipelajari atau dijabarkan (Trianto, 2009: 158).
Peta konsep juga bertujuan untuk mengingat kembali pokok-pokok topik atau sub-sub topik dari informasi yang telah dipelajari. Siswa dapat berfikir secara logis dan sistematis dari materi yang sudah dipelajari dalam bentuk peta konsep, karena peta konsep ini ada pada bagian kegiatan siswa dan evaluasi. Jadi, peta konsep ini dapat merangsang anak untuk berfikir secara logis dan sistematis sebelum topik dijabarkan dan melihat kepahaman siswa dalam berfikir sistematis terhadap materi yang ada dalam pembahasan terutama pada materi mengenai urutan tata cara pelaksanaannya.
Modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) merupakan sebuah bahan ajar yang dapat memupuk sikap dinamis dan aktif pada diri siswa, karena siswa dituntut untuk memecahkan masalah- masalah yang ditemuinya dalam proses pembelajaran, siswa juga dapat belajar mandiri tanpa terikat dengan waktu dan tempat serta meningkatkan motivasi siswa, karena setiap mengerjakan tugas pelajaran dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa terutama pada saat melaksanakan evaluasi. Dan pada saat mengerjakan evaluasi siswa dapat memaparkan topik-topik dalam materi terutama tata cara berqurban, pelaksanaan ibadah haji dan umrah mengurutkan dari awal pelaksanaannya sampai akhir dengan bantuan peta konsep. Siswa bisa memahami materi
yang disampaikan oleh guru karena siswa telah memiliki bahan ajar sebagai bahan acuan untuk belajar.
Modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) sangat penting bagi siswa karena dengan adanya modul bergambar berbantuan peta konsep ini dapat menambah wawasan dan semangat siswa dalam belajar dan juga dapat membantu siswa sebagai bahan pegangan untuk belajar mandiri. Dan siswa mampu untuk menemukan informasi serta menjadikan siswa untuk mampu berfikir logis dan sistematisdalam pembelajaran. Alasan penulis memilih pengembangan modul bergambar berbantuan peta konsep adalah karena materi fiqih ini ada penjelasan tata cara pelaksanaan dari setiap materi yang membutuhkan praktek atau demonstrasi dari tahap pelakaksanaanya. Namun, setelah penulis lihat kompetensi dasar dari pelajaran fiqih kelas V semester 2 untuk Madrasah Ibtidaiyah tentang memahami ketentuan kurban, memahami tata cara haji dan tata cara umrah dalam materi ini seharusnya siswa tidak hanya memahami konsep tetapi siswa mampu mendemonstrasikan tata cara pelaksanaannya dengan cara siswa memahami adanya bantuan gambar dan peta konsep serta siswa mampu memecahkan masalah-masalah dalam materi pembelajaran.
Berdasarkan hal di atas bahwa modul bergambar berbantuan peta konsep dapat membantu siswa belajar secara mandiri dan aktif serta mampu memecahkan masalah-masalah yang ditemuinya dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu penulis tertarik melakukan penelitian pengembangan yang dapat menghasilkan suatu produk modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping).Penulis merancang penelitian pengembangan ini dengan judul“Pengembangan Modul Bergambar Berbantuan Peta Konsep (Concept Mapping) Pada Mata Pelajaran Fiqih kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sungai Tarab”.
12
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkanlatarbelakangmasalah yang di paparkan di atas, penulis mengidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut:
1. Belum terdapatnya moduluntuk pembelajaran fiqih kelas V di MIN Sungai Tarab.
2. Belum terdapatnya buku guru dan buku siswa.
3. Dalam proses pembelajaran siswa lebih cenderung diarahkan kepada kemampuan menghafal konsep materi atau informasi tanpa adanya praktek dari hasil temuan belajarnya.
4. Buku paketrevisi lamayang menjadi pegangan guru dalam pembelajaran fiqih saat ini adalah buku terbitan Arya Duta dengan judul fiqih untuk Madrasah Ibtidaiyah kelas V karangan Abdul Mutholib, sehingga isi dalam buku tersebut sulit siswa memahami dan menyimpulkan materi yang diajarkan oleh guru.
5. Buku pegangan guru tersebut kurangnya penekanan terhadap materidan dilihat dari segi gambar masih kurangsehingga siswa kesulitan memahami materi dan melihat gambar yang membutuhkan praktek dalam pembelajaran.
C. Batasan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang penulis buat, penulis membatasi penelitian ini pada permasalahan “validitas dan praktikalitas dari pengembangan modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) pada mata pelajaran fiqih kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Negeri sungai tarab untuk materi semester 2.
D. RumusanMasalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana validitas dari pengembangan modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) pada mata pelajaran fiqih kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Negeri sungai tarab?
2. Bagaimana praktikalitas dari pengembangan modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) pada mata pelajaran fiqih kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Negeri sungai tarab?
E. TujuanPenelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui validitas dan praktikalitas modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) pada mata pelajaran fiqih kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sungai Tarab.
2. Memberikan inovasi penulis dalam menghasilkan suatu produk modulbergambar berbantuan peta konsep (concept mapping).
F. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami judul proposal skripsi, maka perlu rasanya menjelaskan beberapa istilah di bawah ini:
Modul merupakan salah satu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri dari atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas (Darwyan dkk, 2009: 225).
Gambar adalah barang tiruan (orang, binatang, tumbuhan, dan sebagainya) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas.
Peta konsep (concept mapping) adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama (Trianto, 2009: 158).
Fiqih secara umum merupakan salah satu mata pelajaran agama Islam yang mayoritas membahas tentang hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan antara manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan lingkungannya.Mata pelajaran fiqih dalam Kurikulum 2004 dimaksudkan sebagai bagian dari Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan hukum Islam yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (Way of life) melalui
14
kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman, pembiasaan dan keteladanan.
Jadi yang penulis maksud dari judul secara keseluruhan adalah menghasilkan sebuah modul bergambar berbantuan peta konsep (Concept Mapping) pada mata pelajaran fiqih kelas V dikhususkan untuk materi semester 2.
G. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian pengembangan modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) pada mata pelajaran fiqih kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sungai Tarab dapat dikemukakan menjadi manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis:
1. Manfaat teoritis
a. Menambah wawasan dan pemahaman tentang pengembangan modul bergambar berbantuan peta konsep (Concept Mapping) pada mata pelajaran fiqih kelas V.
b. Membantu mengatasi permasalahan yang terjadi di sekolah khususnya dalam proses pembelajaran PAI.
c. Sebagai sumbangan terhadap perkembangan keilmuan.
2. Manfaat praktis
Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan:
a. Bagi siswa, dapat dijadikan sebagai sumber belajar, tidak hanya ketika belajar terbimbing, namun juga ketika belajar mandiri.
Sehingga siswa dapat memahami materi yang diberikan dan dapat membantu pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.
b. Bagi guru, modul bergambar untuk mata pelajaran fiqih ini bisa dijadikan sebagai salah satu sumber belajar yang digunakan di ruang kelas untuk mengatasi masalah belajar yang terjadi di kelas, karena modul ini memberikan materi yang padat, mudah dipahami dan mempunyai tampilan yang menarik yang dapat menarik perhatian siswa untuk memperhatikan pelajaran.
c. Bagi sekolah, dapat digunakan sebagai acuan dalam menyediakan sumber pembelajaran, khususnya sumber pembelajaran Fiqih yang dapat meningkatkan kemampuan dan pencapaian tujuan pelajaran yang diharapkan.
d. Sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan S1 pada Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Batusangkar dan untuk mendapatkan gelar Sarjana, S.Pd.
H. Asumsi dan Fokus Pengembangan 1. Asumsi
a. Menggunakan modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping)aktifitas siswa akan lebih terarah dalam belajar.
b. Penggunaan modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) bisa memotivasi siswa belajar mandiri.
c. Siswa akan lebih tertarik belajar dengan menggunakan modul bergambar berbantuan peta konsep, sehingga materi dapat dipahami dengan baik dan tercapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien.
d. Penggunaan modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping)dapat membantu ingatan siswa secara sistematis dalam melaksanakan evaluasi.
2. Fokus pengembangan
Pengembangan modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) pada mata pelajaran fiqih kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Negeri sungai tarab untuk materi semester 2.
I. Spesifikasi Produk
Spesifikasi yaitu perincian, jadi spesifikasi produk penulis ialah rincian tentang produk yang penulis rancang. Modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) pada mata pelajaran fiqih kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Negeri sungai tarab yang penulis rancang memiliki spesifikasi sebagai berikut:
16
1. Cover modul, yang terdiri dari judul, tabel identitas siswa, nama penulis dan gambar-gambar yang berhubungan dengan materi.
2. Modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping) dirancang memuat materi ketentuan berqurban, tata cara ibadah haji dan tata cara umrah pada mata pelajaran Fiqih kelas V untuk Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sungai Tarab.
3. Modul didesain sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien.
4. Modul yang dirancang terdapat petunjuk untuk guru dalam penggunaan modul bergambar berbantuan peta konsep (concept mapping). Hal ini sesuai dengan pendapat Darwyan (2009: 229) bahwa komponen-komponen modul salah satunya terdapat lembar petunjuk guru.
5. Modul yang dirancang terdapat lembar kegiatan siswa, yaitu pada setiap materi pembelajaran dilengkapi dengan gambar-gambar terkait dengan materi tersebut, sehingga siswa tertarik dan termotivasi mempelajari modul. Hal ini sesuai dengan pendapat Darwyan (2009:
230) bahwa komponen-komponen modul salah satunya terdapat lembar kegiatan siswa.
6. Gambar yang disajikan dalam modul berbentuk gambar jadi yaitu gambar jadi dari segi bentuk kehidupan nyata dangambar kartun muslim sesuai kebutuhan materi seperti gambar hewan kurban dan haji berupa visualisasi dalam bentuk ilustrasi yang dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti internet, Koran, majalah dan media sosial lainnya yang didesain dengan berwarna dan beragam bentuk gambar.
Hal ini sesuai dengan pendapat Azhar (2000: 113) bahwa terdapat macam-macam gambar salah satunya gambar jadi, materi pelajaran yang memerlukan visualisasi dalam bentuk ilustrasi dapat diperoleh dari sumber yang ada.
7. Modul bergambar dilengkapi dengan penjelasan gambar atau narasi serta bacaan niat dan do’a yang dibutuhkan dalam penjelasan materi.
8. Modul pada setiap materi juga dibantu dengan peta konsep (concept mapping) untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap topik-topik agar lebih konkrit, meningkatkan rasa ingin tahu siswa dan siswa dapat berfikir secara sistematis terhadap materi.
9. Modul yang dirancang terdapat lembar kerja siswa
10. Modul yang dirancang terdapat lembaran tes, yaitualat evaluasi yang dipergunakan untuk mengukur tercapai tidaknya tujuan yang telah dirumuskan di dalam modul. Lembar evaluasi juga dibantu dengan peta konsep sehingga siswa dapat mengisi peta konsep yang kosong sesuai instruksi dari soal dan peta konsep telah dirancang terlebih dahulu oleh penulis. Hal ini bertujuan agar dari evaluasi ini siswa dapat membantu ingatan siswa secara sistematis terhadap materi terutama urutan tata cara berqurban, tata cara ibadah haji dan umrah yang baik dan benar.
11. Modul yang dirancang terdapat kunci lembaran evaluasi.
12. Modul yang dirancang didesain dengan warna-warna yang beragam.
13. Modul yang dirancang diketik dengan tulisan Comic Sans MS.
BAB II KAJIAN TEORI A. Landasan Teori
1. Modul
Kegiatan pengajaran ada beberapa hal yang akan mempengaruhi untuk tercapainya suatu tujuan pembelajaran baik dari segi strategi, metode, pengelolaan kelas, maupun bahan ajar. Guru dalam pembelajaran berupaya memberikan pelayanan secara individual kepada siswa serta memberikan pengalaman belajar yang harus dilakukan kepada siswa (Darwyan, 2009: 217). Hal ini membuat guru sulit melaksanakannya karena setiap siswa berbeda cara pemahaman dalam belajar. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya bahan ajar yang akan membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran (Ali, 2011: 128).
Jadi dapat dipahami bahwa bahan ajar akan membantu kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran dan guru dapat melihat kemampuan setiap siswa dari bahan ajar tersebut. Salah satu bahan ajar yang tepat digunakan untuk melakukan pengajaran secara individual adalah dengan menggunakan modul.
a. Pengertian Modul
Modul merupakan salah satu unit yang lengkap yang berdiri sendiri, terdiri dari rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu para siswa dalam mencapai sejumlah tujuan belajar yang telah dirumuskan secara spesifik dan operasional. Pengajaran modul adalah pengajaran yang sebagian atau seluruhnya didasarkan atas modul. Jadi modul merupakan salah satu alternatif jawaban yang
dianggap tepat oleh para ahli dalam menanggapi dan memecahkan masalah pendidikan dan pengajaran yang sangat kompleks dewasa ini (Basyiruddin, 2002: 63).
Secara terperinci Balitbang Dikbud mendefenisikan modul adalah suatu unit program belajar mengajar terkecil yang secara terinci menggariskan:
1) Tujuan-tujuan instruksional umum 2) Tujuan-tujuan instruksional khusus
3) Pokok-pokok materi yang akan dipelajari dan diajarkan
4) Kedudukan dan fungsi satuan dalam kesatuan program yang lebih luas
5) Peranan guru di dalam proses belajar mengajar 6) Alat dan sumber yang akan digunakan
7) Kegiatan belajar mengajar yang akan/harus dilakukan dan dihayati murid secara berurutan
8) Lembaran-lembaran kerja yang akan dilaksanakan selama berjalannya proses belajar nanti (Darwyan, 2009: 225).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat dipahami bahwa modul adalah sebuah rancangan kegiatan belajar yang dapat membantu guru terutama siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien serta siswa bisa belajar secara aktif dan mandiri karena modul berfungsi sebagai bahan ajar yang mandiri.
b. Tujuan Modul
S. Nasution dalam Basyiruddin Usman menyebutkan ada 4 tujuan pengajaran modul, yaitu:
1) Modul memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar menurut kecepatan masing-masing. Para ahli beranggapan bahwa siswa mempunyai kesanggupan yang berbeda-beda dalam mempelajari sesuatu dan berbeda-beda pula dalam penggunaan waktu belajarnya.
2) Modul memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut cara mereka masing-masing. Sebab siswa memiliki cara atau teknik
20
yang berbeda satu dengan lainnya dalam memecahkan masalah tertentu berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kebiasaannya sendiri-sendiri.
3) Pengajaran modul terdapat alternatif atau pilihan dari sejumlah topik bidang studi atau disiplin ilmu lainnya, bila siswa tidak mempunyai pola atau minat yang sama untuk yang sama.
4) Pengajaran modul memberikan kesempatan terhadap murid untuk mengenal kelebihan dan kekurangannya, memperbaiki kelemahan mereka melalui remedial, ulangan atau variasi dalam belajar. Sebab dalam pengajaran modul terdapat banyak evaluasi untuk mendiagnosa kelemahan siswa secepat mungkin untuk memperbaiki dan memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk mencapai suatu hasil yang setinggi-tingginya (Basyiruddin, 2002:
64).
Berdasarkan 4 tujuan diatas dapat disimpulkan bahwa pengajaran modul bertujuan agar siswa:
1) Dapat belajar sesuai dengan kesanggupan dan menurut lamanya waktu yang digunakan mereka masing- masing.
2) Dapat belajar sesuai dengan cara dan teknik siswa masing-masing.
3) Memberikan peluang yang luas untuk memperbaiki kesalahan dengan remedial dan banyaknya ulangan.
4) Siswa dapat belajar sesuai dengan topik yang diminati (Basyiruddin, 2002: 65).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat dipahami bahwa dengan adanya modul siswa bisa belajar mandiri dan aktif sesuai dengan cara belajarnya masing-masing. Modul berisi materi yang membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan siswa tidak sulit lagi mencari materi pelajaran serta siswa dapat belajar kapan dan dimana saja dengan adanya modul.
c. Fungsi Modul
Sistem pengajaran modul dikembangkan dan ditetapkan karena memiliki fungsi sebagai berikut:
1) Meningkatkan motivasi belajar siswa secara maksimal.
2) Meningkatkan kreatifitas guru dalam mempersiapkan alat, bahan serta sumber belajar yang akan digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
3) Mewujudkan sistem maju berkelanjutan secara tidak terbatas.
4) Meningkatkan konsentrasi belajar siswa (Darwyan, 2009: 226).
Dari fungsi modul tersebut dapat dipahami bahwa, kegiatan pembelajaran lebih menarik, termotivasi belajar dan siswa aktif dalam belajar serta siswa dapat belajar dengan mandiri tanpa bergantung kepada kehadiran guru. Dan guru terbantu dalam mempersiapkan bahan ajar untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien.
d. Karakteristik Modul
Modul memiliki karakteristik stand alone yaitu modul dikembangkan tidak tergantung pada media lain. Modul mesti bersahabat dengan user atau pemakaian dan membantu kemudahan pemakaian untuk direspon atau diakses. Karakteristik modul adalah:
1) Self instructional, mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain.
2) User friendly, modul hendaknya juga memenuhi kaidah bersahabat/akrab dengan pemakainya.
3) Self contained, seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi atau sub-kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh antara tujuan awal dan tujuan akhir modul harus dirumuskan secara jelas dan terukur.
4) Materi dikemas dalam unit-unit kecil dan tuntas, tersedia contoh- contoh, ilustrasi yang jelas.
5) Tersedia soal-soal latihan, tugas, dan sejenisnya.
6) Materinya up to date dan kontekstual.
22
7) Bahasa sederhana lugas komunikatif.
8) Terdapat rangkuman materi pembelajaran.
9) Tersedia instrumen penilaian yang memungkinkan peserta melakukan self assessment (Ali, 2011: 150).
e. Prinsip- prinsip Pengajaran Modul
Adapun yang menjadi prinsip-prinsip pembelajaran modul yaitu:
1) Prinsip fleksibilitas, yakni dapat disesuaikan dengan perbedaan siswa yang menyangkut dalam kecepatan belajar mereka, gaya belajar dan bahan pelajaran.
2) Prinsip balikan (feetback), yakni memberikan balikan segera sehingga siswa dapat mengetahui kesalahan dan memperbaiki kesalahannya dengan segera. Di samping itu siswa juga dapat mengetahui dengan segera terhadap hasil belajarnya.
3) Prinsip penguasaan tuntas (mastery learning), yakni siswa belajar secara tuntas dan mendapat kesempatan untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya tanpa membandingan dengan prestasi siswa lainnya, dengan pengertian pengajaran modul tidak menggunakan kurva normal dalam penilaiannya.
4) Prinsip remedial, artinya siswa diberi kesempatan untuk segera memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ditemukan mereka itu sendiri berdasarkan evaluasi secara kontinu. Siswa tidak perlu mengulangi seluruh bahan pelajaran tetapi hanya bagian-bagian yang dianggap/berkenaan dengan kesalahan saja.
5) Prinsip motivasi dan kerja sama, yakni pengajaran modul dapat membimbing siswa secara teratur dengan langkah-langkah tertentu dan dapat pula menimbulkan motivasi yang kuat untuk belajar dengan giat.
6) Prinsip pengayaan, yakni siswa dapat menyelesaikan dengan cepat belajarnya akan mendapat kesempatan untuk mendengarkan ceramah dari guru atau pelajaran tambahan sebagai pengayaaan. Di samping
itu, guru dapat memberi bantuan individual bagi siswa yang membutuhkannya (Basyiruddin, 2002: 65-66).
f. Komponen- komponen Modul
Komponen-komponen modul meliputi:
1) Lembar petunjuk guru untuk persiapannya, a) Umum berisi tentang
(1) Penjelasan fungsi modul serta kedudukannya dalam kesatuan program pengajaran. Silabus dan sistem penilaian serta rencana pelaksanaan pembelajaran.
(2) Kemampuan khusus/ indikator pembelajaran yang perlu dikuasai terlebihi dahulu sebagai prasyarat.
(3) Penjelasan singkat tentang istilah- istilah.
b) Khusus berisi tentang
(1) Topik yang dikembangkan dalam modul tersebut.
(2) Satuan/jenjang kelas yang bersangkutan.
(3) Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan modul tersebut.
(4) Tujuan pembelajaran.
(5) Pokok-pokok materi yang dibahas.
(6) Prosedur pengerjaan modul, pengalaman belajar siswa, pengembangan kecakapan hidup, serta latihan yang digunakan.
(7) Penilaian, prosedur dan alatnya.
2) Lembar kegiatan siswa Berisi tentang:
a) Petunjuk umum kepada siswa mengenai topik yang di bahas, pengarahan umum, dan waktu yang tersedia untuk mengerjakannya.
b) Kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran.
c) Materi standar/pokok dan uraian materi standar/pokok.
d) Alat-alat pelajaran yang dipergunakan.
24
e) Petunjuk khusus tentang langkah-langkah kegiatan belajar yang ditempuh oleh siswa secara terperinci dan berkelanjutan diselingi dengan pelaksanaan kegiatannya.
3) Lembar kerja siswa
Berisi tugas-tugas atau persoalan-persoalan yang harus dikerjakan dan diselesaikan setelah mempelajari kegiatan murid.
4) Kunci lembar kerja siswa
Berisi jawaban yang diharapkan tentang tugas-tugas yang dikerjakan oleh siswa pada waktu melaksanakan kegiatan belajar dengan mempergunakan lembaran kerja. Dengan kunci jawaban ini siswa dapat mengkoreksi sendiri apakah pekerjaannya telah dilaksanakan dengan baik.
5) Lembar soal
Berisi soal-soal untuk menilai keberhasilan siswa dalam mempelajari bahan yang disajikan dalam modul tersebut.
6) Lembar jawaban soal
Lembar jawaban yang disediakan secara khusus untuk menjawab soal-soal test dalam bentuk isian singkat/melengkapi, pilihan ganda atau uraian.
7) Kunci jawaban soal
Berisi jawaban yang benar untuk setiap soal yang ada dalam lembaran penilaian, digunakan sebagai alat koreksi sendiri terhadap pekerjaan yang telah dilakukan (Darwyan, 2009: 229-231).
Peranan guru dalam sistem penyajian dengan modul adalah sebagai sumber tambahan dan pembimbing. Tugas utama guru di dalam sistem modul adalah mengorganisasi dan mengatur proses belajar, antara lain:
1) Menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif.
2) Membantu peserta didik yang mengalami kesulitan di dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas.
3) Melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik.
Pembelajaran dengan sistem modul biasanya terfokus pada seperangkat kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sehingga mampu melakukan aktivitas-aktivitas untuk mencapai tujuan-tujuan belajar. Peserta didik diharapkan mengerjakan sendiri tugas-tugas dalam modul atau dalam kelompok kecil sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing (E. mulyasa, 2006: 235).
g. Kelebihan dan Kekurangan Modul
Modul sebagai salah satu sistem pengajaran memiliki kelebihan maupun kekurangan. Kelebihan sistem pengajaran modul, yaitu:
1) Memungkinkan siswa belajar sendiri secara aktif.
2) Memungkinkan perbedaan kecepatan belajar para siswa (sehingga ada kompetensi sehat antara siswa).
3) Terdapat kejelasan tujuan yang harus dicapai para siswa untuk setiap bahan pelajaran yang terkecil.
4) Menggunakan multimedia dan multimetode sesuai dengan kebutuhan kejelasan bahan dan perbedaan individu siswa.
5) Memungkinkan partisipasi aktif dari para siswa dalam seluruh proses belajar-mengajar.
6) Memiliki komponen-komponen yang memungkinkan siswa secara langsung dapat mengetahui apakah ia sudah dapat melangkah lebih jauh atau masih harus mempelajari hal yang belum dikuasainya.
7) Memungkinkan secara optimal penerapan prinsip belajar tuntas dan sistem administrasi kurikulum maju berkelanjutan.
Sedangkan kelemahan sistem pengajaran modul, yaitu:
1) Dibutuhkan keahlian tertentu untuk menyusun modul.
2) Sistem pengajaran modul memerlukan biaya yang cukup besar terutama untuk pengadaan modul sendiri, serta pencarian sumber belajar lainnya oleh siswa.
3) Tidak semua materi pokok/uraian materi pokok kurang efektif penggunaannya misalkan: masalah keimanan dan kaifiyah ibadah.
26
4) Apabila variasi kemampuan siswa dalam kelas terlalu banyak akan berakibat rumitnya penanganan administrasi terutama penentuan penjadwalan dan kelulusan (Darwyan, 2009: 235).
Keuntungan pengajaran modul bagi peserta didik antara lain:
1) Adanya umpan balik (feedback). Modul memberikan umpan balik yang banyak dan segera sehingga peserta didik dapat mengetahui hasil belajarnya.
2) Penguasaan tuntas (mastery). Setiap peserta didik mendapat kesempatan untuk mencapai ketuntasan belajar dan memperoleh angka tertinggi jika menguasai bahan pelajaran secara tuntas.
3) Tujuan belajar jelas. Modul disusun sedemikian rupa sehingga tujuannya jelas, spesifik, dan dapat dicapai oleh peserta didik.
4) Menimbulkan motivasi belajar.
5) Fleksibilitas belajar. Pembelajaran sistem modul dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta didik yang beragam, antara lain terkait dengan kecepatan belajar, cara belajar, dan materi pelajaran.
6) Memungkinkan kerja sama. Pembelajaran sistem modul mengurangi atau menghilangkan persaingan di kalangan peserta didik karena semua peserta didik dapat mencapai hasil tertinggi tanpa perlu bersaing.
7) Pengajaran remidial. Pembelajaran sistem secara sengaja memberi kesempatan untuk pelajaran remedial, yakni memperbaiki kelemahan, kesalahan atau kekurangan peserta didik yang dapat ditemukan sendiri oleh peserta didik berdasarkan evaluasi mandiri secara berkesinambungan.
Beberapa keuntungan pembelajaran sistem modul bagi guru adalah sebagai berikut:
1) Kepuasan. Modul disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan peserta didik belajar untuk menguasai bahan pelajaran menurut metode yang sesuai dengan peserta didik dengan karakteristik yang berbeda.
2) Bantuan individu. Pembelajaran sistem modul memberi kesempatan lebih besar dan waktu lebih banyak kepada guru/pengajar untuk memberikan bantuan dan perhatian individual kepada setiap peserta didik yang membutuhkannya, tanpa menganggu peserta lainnya.
3) Pengayaan lebih terbuka. Pengajar mendapat waktu yang lebih banyak untuk memberikan pelajaran tambahan sebagai pengayaan.
4) Kebebasan dari pertemuan rutin. Pembelajaran sistem modul membebaskan guru dari pertemuan rutin di kelas yang mencakup persiapan, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian.
5) Asas kebermanfaatan. Modul yang sama dapat digunakan oleh berbagai sekolah sehingga pihak yang memerlukan tidak perlu menyusunnya kembali.
6) Meningkatkan profesionalitas guru.
7) Tersedia evaluasi formatif yang terencana. Modul hanya meliputi bahan pelajaran yang terbatas dengan evaluasi yang terencana (Ridwan, 2014: 185- 187).
h. Langkah- langkah Penyusunan Modul
Langkah-langkah dalam penyusunan modul adalah:
1) Merumuskan tujuan secara jelas dan spesifik dalam bentuk mengamati kelakuan siswa.
2) Urutan tujuan-tujuan yang menentukan langkah-langkah diikuti dalam modul.
3) Teks diagnotik untuk mengukur pengetahuan dan kemampuan siswa serta latar belakang mereka sebagai prasarat untuk menempuh modul.
4) Menyusun alasan pentingnya modul ini bagi siswa.
5) Kegiatan belajar direncanakan untuk membantu dan membimbing siswa dalam mencapai kompetensi-kompetensi dan merumuskan dalam tujuan.
6) Menyusun post-tes untuk mengukur hasil belajar siswa.
28
7) Menyiapkan sumber-sumber berupa bacaan yang dibutuhkan siswa (Ahmad, 2010: 144).
Dengan melalui sistem modul, dalam proses belajar mengajar, maka diharapkan:
1) Tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisiensi.
2) Murid dapat mengikuti, menghayati dan melakukan kegiatan belajar sendiri, baik dibawah bimbingan atau tanpa bimbingan guru.
3) Murid dapat menilai dan mengetahui hasil belajarnya sendiri secara berkelanjutan.
4) Murid benar-benar menjadi teliti dalam kegiatan belajar dan mengajarnya.
5) Kemajuan siswa dapat diikuti dengan frekuensi yang lebih tinggi melalui evaluasi yang dilakukan pada setiap modul berakhir.
6) Modul disusun dengan berdasar kepada konsep matery learning, suatu konsep menekankan bahwa murid harus secara optimal menguasai bahan pelajaran yang disajikan (Tayar dan syaiful, 1997:
123- 124).
2. Gambar
a. Pengertian gambar
Gambar adalah media pemebelajaran yang sering digunakan.
Media ini merupakan bahasa yang umum, dapat dimengerti, dan dinikmati oleh semua orang dimana-mana. Gambar adalah tiruan barang (orang, binatang, tumbuhan dan sebagainya) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas (Cecep dan Bambang, 2013:
41).
Gambar sangat penting digunakan dalam usaha memperjelas pengertian pada peserta didik. Sehingga dengan menggunakan gambar peserta didik dapat lebih memperhatikan terhadap benda-benda atau hal-hal yang belum pernah dilihatnya yang berkaitan dengan pelajaran.
Gambar dapat membantu guru dalam mencapai tujuan instruksional, karena gambar termasuk media yang mudah dan murah
serta besar artinya untuk mempertinggi nilai pengajaran. Karena gambar, pengalaman dan pengertian peserta didik menjadi lebih luas, lebih jelas dan tidak mudah dilupakan, serta lebih konkret dalam ingatan dan asosiasi peserta didik (Abhanda, 2010: 87).
b. Macam- macam gambar
Ada beberapa macam gambar, diantaranya:
1) Gambar jadi
Materi pelajaran yang memerlukan visualisasi dalam bentuk ilustrasi yang dapat diperoleh dari sumber yang ada. Gambar- gambar dari majalah, booklet, brosur, selebaran, dan lain- lain mungkin dapat memenuhi kebutuhan kita. Dari berbagai sumber seperti tersebut di atas, diharapkan tersedia gambar yang sesuai dengan isi pelajaran. Kebutuhan terhadap gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran akan dapat terpenuhi. Hal penting yang harus selalu diperhatikan adalah hak cipta atas gambar yang akan digunakan.
2) Gambar garis
Gambar garis sangat sederhana, dapat menunjukkan aksi atau sikap dengan dampak yang cukup baik. Dengan gambar garis kita dapat menyampaikan cerita atau pesan-pesan penting. Disamping gambar garis dapat dibuat langsung pada papan tulis ketika berada di kelas, gambar juga dapat dipersiapkan lebih dahulu pada lembaran karton atau kertas yang sesuai.
Membuat gambar garis ciri utama objek, aksi, atau situasi yang ingin dilukiskan harus tetap ada. Aksi atau kegiatan yang sedang berlangsung dapat dilukiskan dengan baik dengan gambar garis.
Bentuk sesuatu objek yang sederhana dapat dilukiskan dengan gambar garis tanpa mengkhawatirkan penafsiran yang keliru dari siswa (Azhar, 2000: 113).
30
c. Manfaat Gambar
Adapun manfaat gambar dalam proses instruksional adalah penyampaian dan penjelasan mengenai informasi, pesan, ide dan sebagainya dengan tanpa banyak menggunakan bahasa- bahasa verbal, tetapi dapat lebih memberi kesan (Abhanda, 2010: 87). Pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual.
Simbol-simbol tersebut perlu dipahami dengan benar agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien. Selain itu, media grafis mempunyai tujuan untuk menarik perhatian, memperjelas materi, mengilustrasikan fakta atau informasi yang mungkin akan cepat jika diilustrasikan dengan gambar (Cecep dan Bambang, 2013: 41).
d. Kelebihan dan kekurangan gambar
Beberapa kelebihan media gambar, yaitu:
1) Sifatnya konkret, lebih realitas menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata.
2) Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak semua benda, objek atau peristiwa dapat dibawa ke kelas dan tidak selalu bisa anak-anak dibawa ke objek/peristiwa tersebut. Gambar atau foto dapat mengatasi hal tersebut.
3) Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan.
4) Gambar atau foto dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman.
5) Gambar atau foto harganya murah dan gampang didapat serta digunakan, tanpa memerlukan peralatan khusus.
Selain kelebihan-kelebihan tersebut, gambar mempunyai beberapa kelemahan, yaitu:
1) Gambar/foto hanya menekankan persepsi indera mata.
2) Gambar/foto benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran.
3) Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar (Arif, 2010: 29- 31).
e. Hal- hal di Perhatikan dalam Memilih Gambar
Dalam memilih gambar yang baik perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Keaslian gambar, gambar yang digunakan hendaklah menunjukkan keaslian atau situasi yang sederhana.
2) Kesederhanaan, terutama dalam menentukan warna akan menimbulkan kesan tertentu, mempunyai nilai estetis secara murni dan mengandung nilai praktis. Usahakan anak tertarik pada gambar yang dipergunakan.
3) Bentuk item, diusahakan agar anak memperoleh tanggapan yang tepat tentang objek-objek dalam gambar.
4) Gambar yang digunakan hendaklah menunjukkan hal yang sedang dibicarakan atau yang sedang dilakukan.
5) Harus diperhatikan nilai fotografinya. Biasanya anak-anak memusatkan perhatian pada sumber- sumber yang lebih menarik.
6) Segi artistik juga perlu diperhatikan. Penggunaannya harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.
7) Gambar harus cukup populer, dimana gambar tersebut telah cukup dikenal oleh anak-anak secara sebagian atau keseluruhannya. Hal ini membantu mereka untuk mendapatkan gambaran yang besar terhadap setiap objek yang ada pada gambar tersebut.
8) Gambar harus dinamis yaitu menunjukkan aktivitas tertentu.
9) Gambar harus membawa pesan (message) yang cocok untuk tujuan pengajaran yang sedang dibahas, bukan hanya segi bagusnya saja tetapi yang penting gambar tersebut membawa pesan tertentu (Asnawir dan Basyiruddin, 2002: 49).
32
3. Peta Konsep (Concept Mapping) a. Pengertian Peta Konsep
Penggunaan pengorganisasi awal (advance organizer) merupakan suatu alat pengajaran yang direkomendasikan oleh Ausubel untuk mengaitkan bahan-bahan pelajaran baru dengan pengetahuan awal.
Pengetahuan awal menurut Ausubel, adalah menggaris bawahi ide-ide utama dalam suatu situasi pembelajaran yang baru dan mengaitkan ide- ide baru tersebut dengan pengetahuan yang telah ada pada pelajar.
Adapun menurut Martin, yang dimaksud peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama.
Menurut Dahar mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:
1) Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan menggunakan peta konsep, siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.
2) Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi.
3) Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini bararti ada konsep yang lebih inklusif dari pada konsep- konsep yang lain.
4) Bila dua atau lebih konsep digambarkan dibawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.
Berdasarkan ciri tersebut di atas, maka sebaiknya peta konsep disusun secara hirarki, artinya konsep yang lebih inklusif diletakkan pada puncak peta, makin ke bawah konsep- konsep diurutkan menjadi konsep yang kurang inklusif (Trianto, 2009: 158-159).
b. Macam-macam Peta Konsep
Menurut Nur mengatakan, peta konsep ada empat macam, yaitu pohon jaringan (Network tree), rantai kejadian (Events chain), peta konsep siklus (Cycle concept map), dan peta konsep laba- laba (Spider concept map).
1) Pohon Jaringan (Network Tree)
Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata yang lain dituliskan pada garis-garis penghubung.
Garis-garis pada peta konsep menunjukkan hubungan antara ide-ide itu. Kata-kata yang ditulis pada garis memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftarlah konsep-konsep utama yang berkaitan dengan konsep itu. Periksalah dafar dan mulai menempatkan ide- ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus.
Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu. Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut:
a) Menunjukkan sebab akibat b) Suatu hirarki
c) Prosedur yang bercabang
d) Istilah- istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan.
2) Rantai Kejadian (Events Chain)
Nur mengemukakan bahwa peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memberikan suatu urutan kejadian, langkah- langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses.
Dalam membuat rantai kejadian, pertama-tama temukan suatu kejadian yang mengawali rantai itu. Kejadian ini disebut kejadian awal. Kemudian, temukan kejadian berikutnya dalam rantai itu dan lanjutkan sampai mencapai suatu hasil. Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut: