Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Pusat PMI
Periode 2009 -2014
Daftar Isi
Pengantar Ketua Umum PMI ... i
Daftar Isi ... ii
Pendahuluan ... 1
Kinerja Pengurus Pusat 2009 - 2014 ... 3
A. Pencapaian Program Prioritas ... 3
1. Peningkatan Pelayanan Donor Darah Sukarela ... 3
2. Memperkuat Pelayanan dalam Penanggulangan Bencana ... 7
3. Meningkatkan Tindakan Preventive dalam Pelayanan PMI dan Pelayanan Sosial Kemanusiaan lainnya ... 10
B. Pencapaian Program Secara Umum ... 12
1. Peningkatan Fungsi Organisasi PMI di Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota ... 12
a. Penguatan Kelembagaan ... 12
b. Peningkatan Fungsi, Kualitas dan Kuantitas SDM ... 20
c. Peningkatan Kapasitas PMI di semua Tingkatan dalam Mengelola Infrastruktur Material Dasar untuk Mendukung Kegiatan Operasional dan Pelayanan ... 31
2. Peningkatan Ketahanan Masyarakat terhadap Risiko dan Dampak Bencana serta Penyakit ... 34
a. Peningkatan Kapasitas dan Kualitas Pelayanan Bencana PMI ... 34
b. Peningkatan Upaya Pengurangan Risiko Berbasis Masyarakat ... 38
c. Pemulihan Hubungan Keluarga ... 39
d. Peningkatan Mutu dan Jangkauan Pelayanan Sosial kepada Masyarakat . 41 e. Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit (RS) PMI Bogor... 41
3. Peningkatan Kemandirian PMI ... 45
a. Peningkatan Kemitraan Strategis melalui Upaya Kehumasan dan PSD ... 45
b. Penggalangan Dana ... 48
c. Pengembangan Unit Usaha ... 48
d. Peningkatan Kepercayaan Mitra dan Masyarakat ... 48
4. Peningkatan Peran Serta PMI di Tingkat Internasional ... 51
Penutup ... 53
Lampiran ... 53
1. Daftar Nota Kesepahaman (Mou) Dan Perjanjian Kerjasama (PKS) Palang Merah Indonesia Tahun 2010 – 2014 ... 45
2. Daftar Kerjasama Pmi Dengan Mitra Gerakan Palang Merah Dan Bulan Sabit Merah Internasional Tahun 2010 - 2014 ... 45
3. Daftar Donatur Palang Merah Indonesia ... 45
4. Grafik ... 45
5. Foto ... 45
6. Tabel ... 45
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1 : Prosentase Perbandingan Donor Darah Sukarela (DDS) dan Donor Darah pengganti (DDP) tahun 2009 – 2014
Grafik 2: Prosentase Pelaksanaan Musyawarah Propinsi sesuai Masa Bakti Tahun 2010-2014 Grafik 3: Jumlah kegiatan Musyawarah Kabupaten/Kota Tahun 2010 – 2014
Grafik 4: Pelatihan Kepalangmerahan dan Pertolongan Pertama bagi Jurnalis Grafik 5: Data Relawan dalam Tahun
Grafik 6: Jumlah Pelaksanaan Pelatihan PMI Pusat dan Pelatihan di PMI Provinsi Grafik 7: Jumlah Staf PMI Pusat memperoleh Pelatihan
Grafik 8: Jenis Diklat yang diselenggarakan PMI Pusat
Grafik 9: Penugasan Pelatih PMI Provinsi dan PMI Pusat dalam Pelatihan Grafik 10: Jumlah Pos Pertolongan Pertama
Grafik 11: Jenis Kegiatan Pengurangan Risiko Bencana di 18 PMI Provinsi Grafik 12: Aktifitas RFL 2009 – 2014
Grafik 13: Jumlah Ambulans PMI
Grafik 14: Peningkatan Pendidikan Karyawan RS PMI Bogor Tahun 2009-2014 Grafik 15: Rekapitulasi Kunjungan Poliklinik Reguler Tahun 2009 – 2014 Grafik 16: Pelayanan Poliklinik Afiat Tahun 2009 – 2014*
Grafik 17: Tingkat Hunian Rata-Rata per-tahun, tahun 2009 – 2014*
Grafik 18: Durasi dan Jumlah Kerjasama antara PMI dengan Mitra Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional
Grafik 19: Perbandingan Kerjasama PMI dengan Mitra Gerakan - PMI dengan Perusahaan Grafik 20: Jumlah Donatur yang memberikan dukungan kepada PMI Tahun 2010-Oktober
2014
Grafik 21: Jumlah Like Fanpage Palang Merah Indonesia (2009-2014) Grafik 22: Jumlah Followers @palangmerah (Januari-Oktober 2014) Grafik 23 : Jumlah Berita Mengenai PMI di Media Massa
Grafik 24: Tema Berita Mengenai PMI di Media Massa, Tahun 2010 – 2014
DAFTAR FOTO:
Foto 1: Gerai Donor Darah
Foto 2: Pengambilan Darah di Mobil Unit Donor Darah Foto 3: Mobil Unit Donor Darah
Foto 4: Penyematan Satyalencana Kebaktian Sosial oleh Presiden RI Foto 5: Distribusi Air Bersih
Foto 6: Distribusi Bantuan di Myanmar
Foto 7: Evakuasi menggunakan Transportasi Udara Foto 8: Relawan PMI Peduli Lingkungan
Foto 9: PMI membantu Generasi Sekolah Foto 10: Kampanye Road Safety
Foto 11: Berbagai Media Kampanye
Foto 12: Pelantikan Pengurus PMI Provinsi Jawa Barat Foto 13: Advokasi di DPR untuk RUU Kepalangmerahan Foto 14: Gerakan Relawan PMI
Foto 15: Mengenali Risiko di Lingkungan Belajar Foto 16: Cinta Lingkungan sejak Dini
Foto 17: Keterampilan Tim Satgana melalui Pelatihan Foto 18: Sekolah Sehat Indonesia
Foto 19: Aksi Relawan PMI
Foto 20: Bentuk Perhatian merupakan Salah Satu Motivasi bagi Relawan Foto 21: Prestasi Internasional Generasi Muda PMI
Foto 22: Kegiatan di Perkemahan Temu Karya Nasional Foto 23: Bersama Youth Red Cross Negara lain
Foto 24: Penghargaan Masa Bakti Foto 25: Armada PMI
Foto 26: Gudang Regional di Banjarbaru Foto 27: Aplikasi PMI
Foto 28: Gedung F Foto 29: Ruang ICU
Foto 30: Penghargaan dari BPJS
Foto 31: Bentuk Kepercayaan Perusahaan BUMN kepada PMI
Foto 32: Donasi sebagai Bentuk Kepercayaan Masyarakat kepada PMI Foto 33: Bantuan Uang untuk Kegiatan PMI
Foto 34: Pusat Air dan Sanitasi PMI menjadi Tuan Rumah RDRT Watsan Training
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Data Kejadian Bencana yang dilaporkan Tahun 2010 – 2014 Tabel 2 : Penyelenggaraan Mukernas PMI Tahun 2010 – 2014
Tabel 3: Pengeluaran Barang Bantuan Standard Tahun 2010-2014 Tabel 4: Jumlah Masyarakat Penerima Manfaat Program
Tabel 5: Kegiatan KPPBM di Masyarakat
Tabel 6: Perkembangan Jumlah Perjanjian Kerjasama PMI dengan Pemerintah dan Swasta Tabel 7: Tabel Pengunjung Laman PMI tahun 2012 – 2014
Tabel 8: Publikasi Berita Tentang PMI di Media Massa tahun 2010 – 2014 Tabel 9: Partisipasi PMI di Tingkat Internasional Tahun 2010 -2014
I. Pendahuluan
Laporan ini merupakan rangkuman upaya-upaya yang dilakukan dalam kurun waktu 2009 – 2014 untuk mencapai PMI yang profesional, tanggap dan dicintai masyarakat.
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk memberikan pertanggung jawaban dari berbagai aktifitas yang telah dilaksanakan. Tantangan dan kompleksitas yang dihadapi dalam mengemban misi kemanusiaan semakin berat. Oleh karena itu PMI telah menetapkan beberapa program prioritas yang bertujuan untuk memberikan bantuan dan layanan kemanusiaan secara cepat dan tepat kepada yang membutuhkan.
Program prioritas tersebut adalah :
1. Peningkatan pelayanan donor darah sukarela 2. Memperkuat pelayanan penanggulangan bencana
3. Meningkatkan tindakan preventif dalam pelayanan PMI dan pelayanan sosial kemanusiaan lainnya.
Program prioritas telah memberikan fokus utama peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan yang dilakukan oleh PMI. Pada bidang pelayanan donor darah sukarela terjadi peningkatan jumlah donor darah sukarela sehingga prosentase kebutuhan donor pengganti pada tahun 2014 hanya 10%. Hal ini tercapai karena berbagai inovasi dan perbaikan yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan UDD PMI dan sekaligus tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjadi donor sukarela. Inovasi seperti pembukaan gerai donor di pusat perbelanjaan, bus donor darah, dan pengembangan aplikasi mobile telah mendukung pencapaian tersebut.
Pada bidang penanggulangan bencana, kebijakan 6 jam sampai telah menjadi kerangka utama dalam melakukan aktifitas kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan yang dilaksanakan PMI. Lebih dari 8 juta orang dalam 875 operasi bencana telah mendapatkan bantuan dari PMI dalam bentuk bantuan berupa barang maupun bantuan non barang. PMI juga berperan lebih aktif dalam upaya penanganan bencana di tingkat internasional seperti banjir Bangkok, topan Bopha, konflik di Myanmar, tsunami Jepang dan topan Haiyan di Philipina.
Gerakan peduli kebersihan lingkungan, promosi pemberian kacamata, operasi katarak gratis, dan promosi keselamatan jalan raya merupakan aktifitas-aktifitas yang dilaksanakan sebagai penerjemahan program prioritas yang ketiga. PMI tidak hanya fokus pada pelayanan yang berkaitan dengan kebencanaan akan tetapi lebih jauh kepedulian pada isu kemanusiaan diluar kebencanaan.
Selain program prioritas tersebut PMI juga tetap melaksanakan program reguler yang bertujuan baik untuk meningkatkan kapasitas organisasi maupun pelayanan PMI.
Penyusunan dan penentuan program-program reguler tersebut dilaksanakan dengan mekanisme rapat-rapat bidang dan musyawarah kerja nasional. Penguatan kapasitas organisasi, relawan, alat-alat utama penanggulangan bencana dan kesehatan dilaksanakan secara simultan dengan pelaksanaan program prioritas.
tercapai. Penguatan kapasitas diawali dengan penataan aturan dasar organisasi, seperti Peraturan Organisasi (PO), Petunjuk Pelaksanaan, Petunjuk Teknis dan beberapa SOP teknis dalam mendukung kegiatan pelayanan PMI telah disusun. Selain itu juga dilaksanakan program pendampingan di beberapa Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk meningkatkan fungsi organisasi.
Penguatan kapasitas organisasi lainnya dilaksanakan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana atau keadaan darurat lainnya. Desentralisasi dan regionalisasi sumber daya tanggap darurat dengan pembangunan 6 pusat penanggulangan bencana wilayah. Alat-alat utama penanganan bencana dilengkapi untuk mencapai tujuan 6 jam sampai di lokasi bencana. Penguatan armada seperti tangki air, haglun, dan helikopter juga mendukung kecepatan PMI dalam menjangkau wilayah terdampak bencana.
Dalam periode 2009-2014 telah dilaksanakan inisiasi untuk melaksanakan integrasi program kesiapsiagaan dan pengurangan risiko antara penanggulangan bencana dan kesehatan. Berbagai aktifitas untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sebagai first responder maupun sukarelawan PMI yang terampil dan terlatih dilaksanakan secara intensif dan ekstensif.
II. Kinerja Pengurus Pusat 2009 - 2014
A. PENCAPAIAN PROGRAM PRORITAS
1. PENINGKATAN PELAYANAN DONOR DARAH SUKARELA
Penyediaan darah yang sehat dan berkualitas pada dasarnya merupakan tanggungjawab pemerintah. PMI sebagai satu-satunya organisasi kepalangmerahan mendapatkan tugas untuk turut serta membantu pemerintah dalah hal penyediaan darah yang aman berkualitas, mudah diakses dan sesuai kebutuhan masyarakat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 tentang Transfusi Darah yang telah diperbaharui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pelayanan Darah.
Dalam hal pelayanan darah PMI menfokuskan kegiatannya pada : a. Peningkatan Kualitas Unit Donor Darah PMI
1) Peningkatan Manajemen UDD
Unit Donor Darah (UDD) PMI sampai dengan saat ini berjumlah 211 yang tersebar di 210 Kabupaten/kota dari 33 Propinsi di Indonesia, dan hal ini sudah dapat memenuhi 80 persen kebutuhan darah secara nasional di ± 520 Kabupaten/Kota yang ada saat ini. Peningkatan sistem layanan dan manajemen terus dilakukan antara lain :
• Penerbitan statuta UDD PMI sebagai acuan pengelolaan UDD PMI di semua tingkatan.
• Melakukan standarisasi pelayanan darah dan melaksanakan manajemen kualitas UDD PMI.
• Membantuk tim nasional pengelolaan darah PMI yang menetapkan kebijakan dan pengawasan pengelolaan darah PMI.
• Penggolongan Tipe UDD PMI untuk memudahkan pembinaan UDD di daerah. Saat ini tercatat dari 211 UDD PMI, 12 UDD sudah termasuk dalam UDD Tipe A.
• Pembinaan secara berkala kepada UDD Propinsi/Kabupaten/Kota.
• Pengembangan sistem pelaporan, monitoring dan evaluasi dengan menggembangkan Sistem Informasi Manajemen Unit Donor Darah atau lebih dikenal dengan SIMUDDA. Pengembangan sistem ini dalam rangka meningkatkan komuninasi dan pelaporan dari daerah ke Pusat.
2) Peningkatan Sarana dan Prasarana UDD
• Pembenahan sarana dan prasarana laboratorium UDD PMI secara bertahap dalam rangka standarisasi pelayanan darah yang dilakukan oleh UDD PMI.
• Pendirian Gedung Diklat UDD Pusat PMI sebagai sarana sentralisasi pembinaan dan peningkatan SDM PMI di bidang pelayanan darah.
3) Peningkatan SDM PMI di bidang pelayanan darah
• Secara rutin melaksanakan pelatihan kepada petugas teknis dibidang pelayanan darah.
• Pengurusan peningkatan penyelenggaraan D1 Pendidikan Teknologi Transfusi Darah (PTTD) menjadi D3 yang diharapkan tersebut dapat dimulai pada tahun 2015 yang akan datang.
b. Peningkatan Pengerahan dan Pelestarian Donor Darah Sukarela
Dalam kurun waktu 2009 -2014 peningkatan pendonor darah sukarela terus dilakukan. Guna memenuhi kebutuhan masyarakat UDD PMI terus berusaha menekan angka Donor Darah Pengganti dan meningkatkan angka Donor Darah Sukarela.
Grafik 1 :
Prosentase Perbandingan Donor Darah Sukarela (DDS) dan Donor Darah pengganti (DDP) tahun 2009 – 2014
Dari grafik di atas terlihat bahwa dalam kurun lima tahun terakhir terjadi peningkatan prosentase donor darah sukarela tiap tahunnya yang artinya meningkatnya kesadaran masyarakat menjadi donor darah sukarela dan diharapkan dapat menurunkan keluhan masyarakat atas ketersediaan darah di UDD PMI. Pada tahun 2014 hanya 10 persen kebutuhan darah yang harus dipenuhi dari keluarga pasien sebagai donor darah pengganti,
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
2010 2011 2012 2013 2014
85 87 88 89 90
15 13 12 11 10
DONOR DARAH SUKARELA DONOR DARAH PENGGANTI
selebihnya sudah dapat dipenuhi oleh UDD PMI dengan persediaan yang ada dari para pendonor darah sukarela.
Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam rangka peningkatan pengerahan dan pelestarian donor darah sukarela antara lain :
1) Gerai Donor Darah di Mall, Kampus dan tempat strategis lainnya
Dalam rangka peningkatan penyadaran
masyarakat terhadap pentingnya mendonorkan darahnya sekaligus menjadikan donor darah sebagai gaya hidup di
masyarakat, PMI bekerjasama dengan beberapa Mall, Perguruan Tinggi dan
tempat-tempat strategis lainnya.
Sampai dengan akhir tahun 2014 tercatat sebanyak 8 (delapan) Gerai Donor Darah PMI yang tersebar di Mall dan kampus antara lain sebagai berikut :
1. Mall Senayan City, Jakarta
2. Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta 3. Universitas Tri Sakti, Jakarta
4. Mall Metropolitan Bekasi, Jawa Barat 5. Plasa Tunjungan 2, Surabaya
6. Cambridge City Square, Medan 7. Mall Ratu Indah Makassar
8. Universitas Hasanuddin, Makassar
9. Mall Olympic Garden, Malang Jawa Timur
Gerai donor darah ini diharapkan dapat mempermudah akses masyarakat yang ingin mendonorkan darahnya tanpa harus repot- repot datang ke UDD PMI.
2) Penyediaan Mobil Unit Donor Darah
Dalam rangka meningkatkan
ketersediaan darah dari Donor Darah Sukarela, PMI pro aktif melakukan kegiatan Mobil Unit Donor Darah dengan mendatangi
Foto 1: Gerai Donor Darah
Program penyediaan sebanyak 111 Bus Donor Darah yang didistribusi ke seluruh indonesia diharapkan dapat menambah pasokan darah yang disediakan PMI.
3) Penghargaan terhadap Pendonor Darah Sukarela
Sebagai wujud penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para
”pahlawan kemanusiaan” yaitu para pendonor darah sukarela, PMI secara rutin memberikan piagam penghargaan berupa
penghargaan kepada donor 10 kali, 25 kali, 50 kali, 75 kali dan 100 kali.
Sampai dengan Tahun 2014 telah dilakukan pemberian penghargaan kepada para Pendonor Darah Sukarela, yaitu :
• Donor 10 kali : 17.766 orang
• Donor 25 kali : 6.416 orang
• Donor 50 kali : 4.500 orang
• Donor 75 kali : 5.007 orang
• Donor 100 kali : 4.756 orang
Bagi para pendonor darah sukarela yang sudah menyumbangkan darahnya 100 kali atau lebih secara rutin diberikan penghargaan dan dilakukan penganugerahan Satyalancana Kebaktian Sosial yang diberikan oleh Pemerintah RI yang disematkan langsung oleh Presiden RI.
4) Kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam penyediaan darah dan sosialisasi penyadaran masyarakat akan pentingnya donor darah di berbagai media elektronik, media cetak maupun dengan penyediaan media KIE.
Foto 3: Mobil Unit Donor Darah
Foto 4: Penyematan Satyalancana Kebaktian Sosial oleh Presiden RI
Strategi 6-Jam Sampai :
• Melaksanakan koordinasi dan komunikasi, baik secara vertikal (antar tingkatan PMI) dan horizontal (antar lembaga terkait kebencanaan).
• Mobilisasi relawan (Satgana) untuk melaksanakan tindakan awal darurat bencana (SAR/Evakuasi, Pelayanan Dapur Umum, Pelayanan Penampungan, Distribusi kebutuhan darurat).
Foto 5: Distribusi Air Bersih
2. MEMPERKUAT PELAYANAN DALAM PENANGGULANGAN BENCANA a. Tanggap Darurat Bencana.
Dilaksanakan untuk mendukung kegiatan operasi
tanggap darurat bencana di daerah dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar korban bencana pada masa darurat. Dengan motto
“cepat, tanggap dan terkoordinasi”, PMI Pusat telah menetapkan strategi
tanggap darurat “6 jam sampai” yang berarti “PMI mampu melaksanakan tindakan awal darurat bencana pada 6-
jam per kesempatan pertama.
Selama kurun waktu 2010 s.d 2014 dilaporkan 875 kejadian bencana.
Mayoritas kejadian adalah bencana yang berkaitan dengan hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan angin puting beliung.
Tabel 1 : Data Kejadian Bencana yang dilaporkan Tahun 2010 - 2014
Jenis Bencana Jumlah Kejadian
Dilaporkan
Gempa Bumi 105
Banjir 218
Longsor 87
Kebakaran 166
Angin Puting Beliung 87
Gunung Api 32
Kekeringan 18
Lain-lain 162
Pelayanan kedaruratan yang diberikan PMI telah menjangkau 1.708.565 orang penerima manfaat dalam bentuk barang. Sementara penerima manfaat dalam bentuk bukan barang mencapai 6.299.115 orang dalam
Dalam operasi bencana Relawan PMI merupakan ujung tombak pelayanan di lapangan. Sejumah relawan telah dimobilisasi dalam berbagai bencana yaitu sebanyak :
- 1.321 orang Relawan dalam operasi meletusnya Gunung Merapi di Jogjakarta.
- 104 orang Relawan dalam operasi bencana banjir di Wasior, Papua Barat
- 266 orang Relawan dalam operasi bencana gempa dan tsumani di Mentawai, Sumatera Barat
- 400 relawan dari PMI DKI Jakarta, Jawa Barat (Kab. Bogor), Banten dalam operasi evakuasi korban pesawat sukhoi.
- 150 orang Relawan spesialisasi PMI Provinsi DKI Jakarta (Evakuasi, PP, Watsan, Dapur Umum, Logistik, Kesehatan dan lainnya) melakukan respon Banjir Jakarta,
- 250 orang Relawan spesialisasi PMI Provinsi Jawa Barat (Evakuasi, Dapur Umum, Logistik, petugas posko dan lainnya) melakukan respon pada saat bencana banjir dan tanah longsor di area Jawa Barat.
- 415 orang Relawan spesialisasi PMI Provinsi Jawa Tengah (Evakuasi, Dapur Umum, Posko, Kesehatan, Logistik, Assessment, Watsan) melakukan respon pada saat bencana Banjir.
- 25 orang Relawan Spesialisasi PMI Provinsi Sumatera Utara (Evakuasi, PSP, Haglun, Logistik, Assesment, watsan dan lainnya) melakukan respon bencana Gunung Meletus Sinabung.
- 261 orang Relawan spesialisasi PMI Provinsi Sulawesi Utara (Evakuasi, Sanitasi, Watsan, Logistik, Assesment dan lainnya) melakukan respon bencana Banjir Bandang di Manado.
- 475 orang Relawan Spesialisasi PMI Provinsi Jawa Timur (Haglun, evakuasi dan lainnya) disiagakan dalam pemantauan dan peningkatan kesiapsiagaan Gunung Kelud di Jawa Timur.
b. Partisipasi Bencana Internasional
Palang Merah Indonesia tidak hanya memberikan bantuan pada korban bencana di Indonesia. Sebagai bentuk kepedulian dan partisipasi dalam meringankan beban penderitaan sesama manusia akibat bencana, PMI memberikan bantuan dalam beberapa bencana di tingkat internasional sebagai berikut:
1) Tahun 2011 memobilisasi 3 personil RFL (Restoring Family Links) pada bencana Tsunami Jepang, 2 personil RDRT (Regional Disaster Response Team) untuk bencana banjir di Laos. 3 personil RDRT di Myanmar pada bencana topan nargis dan 2 personil untuk bencana banjir di Pakistan.
Selain itu pada tahun yang sama PMI mengirimkan bantuan dana untuk korban bencana banjir di Thailand dan Typhoon Washi di Filiphina.
2) Tahun 2012 PMI memobilisasi 14 relawan dan barang bantuan yang terdiri dari 50.000 sarung, 2.000 jerigen, 1 ton beras, 1 unit ambulance, 2.000 kelambu dan sarana watsan untuk korban kerusuhan sosial di Myanmar. Bekerja sama dengan Pemerintah Republik Indonesia, PMI juga menyalurkan bantuan kepada korban typhoon Bopha di
Filiphina berupa 2000 ton beras, 2.000 selimut, 2.500 terpal dan obat-obatan.
3) Tahun 2013 PMI berperan serta dalam penanganan bencana topan Haiyan di Filiphina. Sebanyak 30 orang personil Relawan dengan spesialisasi Medis, Watsan dan Relief ditugaskan di wilayah Abuyog dan Tabon-tabon. Pelayanan kesehatan, distribusi air, promosi kesehatan dan distribusi logistik dilaksanakan selama 40 hari.
Foto 6: Distribusi Bantuan di Myanmar
Foto 7: Evakuasi menggunakan Transportasi Udara
Foto 8: Relawan PMI Peduli Lingkungan
Foto 9: PMI membantu Generasi Sekolah
3. MENINGKATKAN TINDAKAN PREVENTIVE DALAM PELAYANAN PMI DAN PELAYANAN SOSIAL KEMANUSIAAN LAINNYA
Di samping meningkatkan kecepatan PMI dalam respon bencana, PMI juga terus meningkatkan program-program yang bersifat pencegahan atau preventive serta beberapa upaya pelayanan sosial lainnya antara lain : a. Gerakan Peduli Kebersihan Lingkungan
Gerakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah
terjadinya bencana banjir, tanah longsor dan lainnya terus ditingkatkan.
Dengan di awali program “Sejuta Sekop dan Pacul“, Relawan PMI terus berpartisipasi aktif dalam gerakan peduli kebersihan lingkungan.
b. Bantuan Operasi Katarak
PMI menyalurkan bantuan/donasi masyarakat untuk membiayai operasi katarak kepada kelompok kurang mampu. Pada tahun 2011- 2014, tercatat 620 orang telah memperoleh manfaat pelayanan operasi katarak yang diinisiasi oleh PMI dibeberapa PMI Provinsi. Operasi katarak yang didukung oleh ICRC sebanyak 409 orang dan 27 orang operasi mata lainnya.
c. Program Kacamata untuk Rakyat.
PMI bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk
mendanai penyediaan kacamata optik terutama kepada anak sekolah dan guru dari keluarga kurang mampu.
Sepanjang tahun 2011 – 2013, PMI telah menyalurkan kacamata optik kepada 10.111 penerima manfaat di 32 PMI Kab/Kota dan 4 PMI Provinsi.
Foto 10: Kampanye Road Safety
d. Promosi Keselamatan di Jalan Raya
Dilaksanakan dalam rangka mendukung kampanye “Road Safety” yang dicanangkan oleh Kepolisian, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kesehatan dan didukung oleh IFRC untuk mengurangi angka kematian akibat kecelakaan jalan raya.
Program ini dimulai pada tahun 2011 di DKI Jakarta dengan melibatkan 250 relawan dilanjutkan tahun 2012 bekerjasama dengan KEMENKES mengadakan pelatihan pelatih Pertolongan Pertama (PP) dengan partisipasi dari 11 relawan PMI. Kegiatan lainnya adalah pelatihan PP kepada 40 awak bus/truk antar kota dan Transjakarta, taksi Bandara dan Angkutan Barang Bahan Berbahaya (B3), dilaksanakan oleh PMI Kota Jakarta Timur, dan 20 awak kendaraan umum antar kota/provinsi di Aceh.
Dua tahun terakhir, PMI tergabung dalam Global Road Safety Partnership (GRSP) dan secara rutin terlibat dalam pemberian materi PP pada pemilihan Awak Kendaraan Umum Teladan Tingkat Nasional sejak 2011 dan mencetak KIE sebanyak 74.860 KIE keselamatan jalan raya untuk didistribusikan ke 8 PMI Provinsi dan diperkirakan menjangkau sekitar 374.300 penerima manfaat langsung maupun tidak langsung dari kampanye
keselamatan jalan raya. Foto 11: Berbagai Media Kampanye
Foto 12: Pelantikan Pengurus PMI Provinsi Jawa Barat
B. PENCAPAIAN PROGRAM SECARA UMUM
1. PENINGKATAN FUNGSI ORGANISASI PMI DI PUSAT, PROPINSI, KABUPATEN/KOTA
a. Penguatan Kelembagaan
1) Implementasi Pedoman dan Aturan Organisasi sebagai Penjabaran Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
• Pelaksanaan Musyawarah dan Musyawarah Kerja
Salah satu indikator berjalannya mekanisme organisasi pada tiap tingkatan adalah dilaksanakannya kegiatan musyawarah dan musyawarah kerja.
Di tingkat Nasional pelaksanaan kegiatan Musyawarah Nasional dilaksanakan tiap lima tahun dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dilaksanakan rutin tiap tahun secara bergilir di beberapa propinsi yaitu:
Tabel 2: Penyelenggaraan Mukernas PMI Tahun 2010 – 2014
PMI Pusat secara rutin melakukan pembinaan dan monitoring terhadap pelaksanaan Musyawarah dan Musyawarah Kerja di tingkat Daerah
(Propinsi/Kabupaten/
Kota) dengan menghadiri seluruh Musyawarah PMI Propinsi, Pelantikan Pengurus PMI Propinsi dan beberapa kegiatan musyawarah kerja provinsi.
No. Tahun Tempat Kegiatan
1. 2010 Bandung, Jawa Barat 2. 2011 Surakarta, Jawa Tengah 3. 2012 Pekanbaru, Riau
4. 2013 Jogjakarta, DIY
5. 2014 DKI Jakarta
Pembinaan dan monitoring terhadap pelaksanaan Musyawarah Kabupaten/Kota dan Musyawarah Kerja Kabupaten/Kota dilakukan oleh Pengurus PMI Propinsi.
Grafik 2:
Prosentase Pelaksanaan Musyawarah Propinsi sesuai Masa Bakti Tahun 2010 -2014
Data di atas menunjukkan pelaksanaan pada tahun 2010 dan 2013 seluruh PMI Provinsi yang harus melaksanakan kegiatan Musyawarah Propinsi dapat melaksanakan sesuai jadwal berakhirnya masa bakti Kepengurusan.
Sedang pada tahun 2011 hanya 69 persen, tahun 2012 hanya 67 persen dan 2014 sebanyak 80 persen yang dapat melaksanakan kegiatan Musyawarah Provinsi sesuai jadwal berakhirnya masa baktinya.
Grafik 3:
Jumlah kegiatan Musyawarah Kabupaten/Kota Tahun 2010 – 2014
100% 69%
67%
100%
80%
2010 2011 2012 2013 2014
0 20 40 60 80 100 120
2010 2011 2012 2013 2014
51
95 68
59 33
2
25 18 16
17
53
120 86
75
50 Jumlah PMI Kab/Kota yang
harus Melaksanakan Muskab/Muskot
Jumlah PMI Kab/Kota yang melaksanakan
Muskab/Muskot tidak sesuai masa bakti
Jumlah PMI Kab/Kota yang Melaksanakan
Muskab/Muskot sesuai masa bakti
Pada tiap tahunnya masih terdapat PMI Kabupaten/Kota yang tidak melaksanakan kegiatan Muskab/Muskot sesuai masa bakti kepengurusannya.
- Tahun 2010, dari 53 PMI Kabupaten/Kota yang seharusnya melaksanakan Muskab/Muskot terdapat 2 PMI belum menyelenggarakan.
- Tahun 2011, dari 120 PMI Kab./Kota yang seharusnya melaksanakan Muskab/Muskot terdapat 25 PMI belum menyelenggarakan.
- Tahun 2012, dari 86 PMI Kab./Kota yang seharusnya melaksanakan Muskab/Muskot terdapat 18 PMI belum menyelenggarakan.
- Tahun 2013, dari 75 PMI Kab./Kota yang seharusnya melaksanakan Muskab/Muskot terdapat 16 PMI belum menyelenggarakan.
- Tahun 2014, dari 50 PMI Kab./Kota yang seharusnya melaksanakan Muskab/Muskot terdapat 17 PMI belum menyelenggarakan.
Keterlambatan penyelenggaraan Musyawarah Provinsi dan Musyawarah Kabupaten/Kota sebagian besar disebabkan oleh keterbatasan dukungan pendanaan untuk penyelenggaraan kegiatan di samping masalah administrasi dan teknis di daerah.
• Pengukuhan Kabupaten/Kota baru
Seiring dengan pemekaran beberapa wilayah provinsi di Indonesia, Selama masa bakti kepengurusan Pengurus Pusat periode 2009 – 2014 terdapat pembentukan PMI Kabupaten/Kota baru sebanyak 61 Kab./Kota dan 16 di antaranya sudah dilakukan pengukuhan dan 45 belum dikukuhkan oleh PMI Pusat karena belum dilengkapinya persyaratan administratif dan permasalahan internal kabupaten/kota namun secara operasional, pelayanan PMI sudah berfungsi.
• Penyusunan Aturan Dasar Organisasi
Pada tahun pertama kepengurusan, Pengurus Pusat Periode 2009- 2014 melakukan pembuatan aturan dasar organisasi sebagai turunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perhimpunan PMI yaitu berupa 11 Peraturan Organisasi (PO), 12 Petunjuk Pelaksanaan dan 26 Petunjuk Teknis dan beberapa SOP teknis dalam mendukung kegiatan pelayanan PMI.
• Pelaksanaan Rapat Kerja Bidang
Rapat kerja bidang dilaksanakan secara rutin setiap tahun untuk menyusun program sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan anggaran pendapatan belanja PMI yang ditetapkan dalam Musyawarah Kerja Nasional.
• Persiapan Musyawarah Nasional
Rapat koordinasi persiapan Musyawarah Nasional dilaksanakan di Palembang, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Ambon dan dilanjutkan dengan rapat finalisasi bahan Munas PMI tahun 2014 di Jakarta.
2) Peningkatan Kapasitas Organisasi menuju Perhimpunan Nasional yang berfungsi baik.
PMI Pusat secara berkala telah melakukan penilaian kapasitas organisasi baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Untuk memudahkan evaluasi, penilaian difokuskan pada implementasi dari Rencana Strategis (Renstra) PMI tahun 2009 – 2010 sebagai panduan dalam penyelenggaraan program PMI, sehingga terdapat Indikator Performa Kunci (Key Performance Indicator – KPI) terdiri atas :
- 18 indikator untuk tingkat Pusat.
- 16 indikator untuk tingkat Provinsi.
- 24 indikator untuk tingkat Kab./Kota.
Melalui dokumen Hasil Penilaian PMI Kab./Kota dan Provinsi yang Berfungsi Baik di tahun 2012 di antaranya menunjukkan masih terdapat 32% atau 147 PMI Kab./Kota berkategori “lemah” atau kurang berfungsi dengan baik dari 459 PMI Kab./Kota. Elemen kriteria penilaian meliputi area fondasi, kapasitas dan kinerja organisasi.
Berkaitan dengan hal tersebut PMI Pusat telah mensosialisasikan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Perencanaan dan Pelaporan pada berbagai kegiatan di 17 PMI Provinsi dan 74 PMI Kota/Kabupaten).
Lebih dari 50% dari PMI Provinsi tersebut telah menyusun perencanaan berdasarkan rencana strategis/rencana operasi dan panduan perencanaan.
Guna memperluas pengetahuan dan keterampilan mempersiapkan perencanaan, merancang dan melaksanakan monitoring dan evaluasi serta pembuatan pelaporan program. Dilaksanakan pelatihan bagi Kepala Markas di daerah : Sulawesi Selatan, Gorontalo, Maluku Utara, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.
3) Penguatan Manajemen Markas
• Markas Pusat PMI
Markas sebagai sarana pendukung operasional dan pelaksana kebijakan pengurus PMI dalam tiap tingkatan memiliki peran penting dalam pengembangan organisasi PMI secara keseluruhan.
Beberapa hal yang sudah dilakukan di tingkat Pusat dalam rangka meningkatkan kapasitas dan fungsi Markas Pusat PMI antara lain :
- Pembenahan struktur divisi/biro/unit di lingkungan Markas Pusat sesuai kebutuhan.
- Perbaikan manajemen administrasi sekretariat.
- Perbaikan manajemen administrasi keuangan.
- Perbaikan sistem penggajian dan manajemen administrasi kepegawaian.
- Perbaikan manajemen pengelolaan aset.
- Pengembangan sistem pengendalian logistik.
• Pembinaan Markas PMI Provinsi/Kabupaten/Kota
Dalam rangka penguatan Markas PMI di tingkat provinsi dan Kabupaten/Kota, PMI Pusat melaksanakan rapat teknis dengan markas daerah dan penerapan pola pembinaan dengan sistem pendampingan.
Program pendampingan melalui penempatan pendamping yang memenuhi kriteria untuk membantu markas PMI Propinsi/Kab/Kota yang didampingi sesuai kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi.
Penempatan pendamping di provinsi/kabupaten/kota untuk jangka waktu tertentu dinilai lebih efektif untuk melakukan intervensi terhadap penguatan markas di daerah.
Sebagai tahap awal telah dilakukan “pilot” program pendampingan sebagai berikut :
- PMI Provinsi Aceh dan 6 PMI Kabupaten/Kotanya.
- PMI Provinsi Nusa Tenggara Timur dan 5 PMI Kabupaten/Kotanya.
- PMI Provinsi Sulawesi Selatan dan 5 PMI Kabupaten/Kotanya.
- PMI Provinsi Papua Barat dan 3 PMI Kabupaten/Kotanya.
Penekanan utama dalam program penguatan Markas PMI adalah di manajemen administrasi, manajemen relawan, penguatan kemandirian dan penguatan posko PMI untuk meningkatkan kecepatan pelayanan PMI di masyarakat.
4) Diseminasi Nilai-nilai Kepalangmerahan di Internal dan Eksternal Diseminasi nilai-nilai Kepalangmerahan merupakan tugas dari tiap perhimpunan nasional sebagai anggota gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.
Secara internal PMI, kegiatan diseminasi dilaksanakan melalui beberapa kegiatan antara lain :
• Orientasi kepalangmerahan bagi Pengurus, Staf dan Relawan.
• Melaksanakan pelatihan diseminator.
• Pelatihan penyegaran diseminator.
Kegiatan diseminasi nilai-nilai Kepangmerahan juga dilakukan kepada kalangan di luar PMI yaitu antara lain kepada :
• Pelajar/siswa dengan melibatkan anggota PMR di sekolah untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah.
• Kelompok akademisi, mitra PMI, Tentara Nasional Indonesia (TNI), anggota kepolisian Republik Indonesia (Polri).
• Kelompok potensial untuk melakukan diseminasi yaitu kalangan jurnalis cetak dan elektronik.
Grafik 4: Pelatihan Kepalangmerahan dan Pertolongan Pertama bagi Jurnalis
Selama kurun waktu 2011-2014, kegiatan diseminasi melalui pengenalan keterampilan pertolongan pertama kepada jurnalistik telah dilaksanakan selama 4 kali. Jurnalis sebagai perpanjangan tangan PMI guna menyampaikan berita dan aktifitas PMI kepada masyarakat dibekali ketrampilan pertolongan pertama dasar sekaligus pengenalan terhadap nilai-nilai Kepalangmerahan.
0 5 10 15 20 25
Banjarmasin Jakarta Bandung Jakarta
25 22 20
25
2011 2013 2014
5) Advokasi terbitnya Undang-undang Lambang/Kepalangmerahan PMI berkomitmen dalam memperjuangkan Undang-Undang Lambang untuk mempertegas keberadaan PMI di semua tingkatan sebagai badan hukum yang menjalankan pekerjaan Perhimpunan Nasional Palang Merah atau Bulan Sabit Merah, dimana PMI sebagai satu-satunya organisasi di Indonesia yang ditunjuk untuk menjalankan pekerjaan Perhimpunan Nasional Palang Merah atau Bulan Sabit Merah menurut Konvensi-Konvensi Jenewa tahun 1949.
Dalam memperjuangkan Undang-Undang ini, sebelumnya dimulai sejak tahun 1998, namun pada Rapat Panja di DPR tanggal 26 Juni 2009 disebabkan karena ada perbedaan pendapat di DPR mengenai konsep perbaikan Rancangan Undang-Undang dimana meminta agar BSMI juga dimasukkan dalam UU bersama PMI, sehingga Pembahasan RUU tentang Lambang Palang Merah tidak dapat diteruskan di tingkat panja dan akan disampaikan kepada forum Raker antara Menteri Hukum dan HAM dan Komisi III (tingkat PANSUS).
Melanjutkan tugas kepengurusan sebelumnya pada tahun 2010 sesuai rekomendasi hasil Mukernas bahwa PMI ikut memfasilitasi penyelesaian Rancangan Undang Undang Lambang Palang Merah dan masuk dalam Prolegnas DPR, namun tidak ada pembahasan dan tertunda sampai dengan 1 (satu) tahun, baru pada tahun 2012 masuk kembali dalam daftar Prolegnas dan menjadi agenda pembahasan dengan diawali tim Setjen DPR melakukan koordinasi dengan PMI.
Adapun hasil pembahasan terkait Undang-Undang Lambang Palang Merah, sebagai berikut:
Tahun 2012
• Penggantian nomenklatur Undang-Undang Lambang Palang Merah menjadi Undang-Undang Kepalangmerahan
• Rapat Baleg DPR RI tanggal 17 Oktober memutuskan persetujuan RUU Kepalangmerahan menjadi usul inisiatif DPR.
• Penyampaian RUU Kepalangmerahan dari DPR kepada Presiden RI pada 31 Oktober untuk menunjuk menteri yang mewakili dan bersama-sama DPR membahas RUU Kepalangmerahan.
Foto 13: Advokasi di DPR untuk RUU Kepalangmerahan
• Ampres No. 85/Pres/11/2012 menunjuk Menkumham, Menhan, Menlu, Menkeu dan Menkes untuk mewakili Presiden di DPR membahas RUU Kepalangmerahan.
• PMI dilibatkan bersama kementerian terkait untuk membahas bersama-sama DIM pemerintah atas RUU Kepalangmerahan yang disusun DPR.
• Dalam Penyusunan Regulasi lambang oleh PMI, telah dilakukan pendampingan terhadap Pokja DPR RI selama di Aceh, Sulawesi Tengah, Bali, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Maluku Utara.
• Pada 19 Juni 2012 mengadakan Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Ketua Umum BSMI, Kemenlu, Kemenhan dan Kemenkes.
Tahun 2013
• PMI dilibatkan bersama kementerian terkait untuk membahas bersama-sama DIM pemerintah atas RUU Kepalangmerahan yang disusun DPR.
• Rapat-rapat PANJA (Panitia Kerja) dan konsiyering dengan Pemerintah antara lain Kementerian Hukum dan HAM.
• Pembentukan PANSUS (Panitia Khusus) tanggal 4 April 2013, untuk membahas Rancangan Undang-Undang.
• Tanggal 3 Desember 2013, 400 perwakilan relawan bersama Pengurus Bidang Relawan PMI Pusat bertemu dengan Ketua DPR-RI untuk mendesak percepatan pengesahan RUU Kepalangmerahan.
• Pengurus Pusat PMI
bertemu dengan Perwakilan fraksi-fraksi untuk
membahas tentang RUU Kepalangmerahan.
Dari pembahasan yang sangat
intens dalam dua tahun berakhir pembahasan RUU Kepalangmerahan kembali terkendala pembahasannya karena Pansus yang telah dibentuk tidak pernah melakukan sidang pembahasan disebabkan pemahaman
“satu negara satu lambang” belum mendapatkan kesepakatan. Selain itu anggota DPR disibukkan dengan persiapan Pemilu 2014.
Foto 14: Gerakan Relawan PMI
b. Peningkatan Fungsi Kualitas dan Kuantitas SDM PMI
1) Pembinaan Palang Merah Remaja (PMR) dan Relawan PMI Relawan PMI sebagai
ujung tombak pelayanan PMI di masyarakat memiliki nilai yang sangat penting dan strategis bagi kemajuan organisasi. Sebagai organisasi sosial yang berbasis pada kekuatan
relawan, maka kedudukan relawan
perlu menjadi perhatian khusus dan dilakukan
pembinaan secara berkesinambungan.
Hal- hal yang telah dilakukan dalam rangka pembinaan Relawan dan PMR adalah antara lain :
Pengembangan Pola Rekruitmen
• Sosialisasi Juklak dan Juknis perekrutan Relawan.
• Pelatihan Pembina PMR oleh PMI Kabupaten/Kota.
• Terbentuknya guru Pembina dan Fasilitator di sekolah di 33 Propinsi, di 466 Kabupaten/Kota sebanyak 13.980 orang.
• Sosialisasi Petunjuk teknis tentang pembentukan forum relawan (Forel) dan Forum PMR se-Indonesia (Forpis) dan telah terbentuk Forel dan Forpis di 27 Propinsi, 203 Kab/Kota.
• Melaksanakan studi analisa pembinaan PMR di 10 provinsi di Indonesia (Aceh, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Jawa Timur, Maluku, Bali, Jawa Barat dan Sulawesi Tengah).
• Pendataan SDM di bidang pengembangan PMR dan relawan; sampai dengan saat ini tercatat 1.257 orang Pembina PMR dari 7.596 unit, Pelatih KSR sebanyak 2.776 dan Pelatih KSR Nasional 164 orang.
Foto 15: Mengenali Potensi Risiko di Lingkungan
Grafik 5: Data Relawan dalam Tahun
Sesuai gambar grafik di atas mengenai Data Relawan PMI dalam tahun, menunjukan terjadi penurunan jumlah relawan secara bertahap; baik di Tingkat PMR, KSR, maupun TSR. Penurunan yang siginifikan dari jumlah PMR, seperti pada tahun 2010 ada 809.121 orang dan sampai dengan tahun 2013 hanya ada 379.801 orang. Pada tahun 2013 dan tercatat bahwa dari 228.700 orang relawan yang aktif, hal ini dikarenakan :
• Tidak meratanya relawan yang terdata dikarenakan pelaporan yang belum optimal,
• Relawan yang dimiliki secara umum adalah usia muda sehingga lebih mengedapankan masa depannnya, menjadikan tidak lagi bergabung di PMI secara resmi, meski masih ada komitmen bergabung di PMI ketika diperlukan. Hal ini terjadi seperti peminatan bergabung menjadi relawan PMI dari jenjang PMR ke KSR.
• Masih adanya kesukaran dalam menginput data melalui SIM (Sistem Informasi Manajemen) sebagai sarana dalam memantau data relawan.
• Belum adanya pendataan yang konsisten dan rutin.
• Adanya kebijakan di Kemendikbud dalam mewajibkan salah satu kegiatan ekstra kurikuler selain dari PMR.
Pengembangan Kapasitas
Peningkatan kapasitas PMR dan Relawan PMI terus dilakukan secara terus menerus di setiap tingkatan, antara lain dengan berbagai kegiatan :
0 250,000 500,000 750,000 1,000,000
2010 2011 2012 2013
809,121 566,385 493,144 379,801
30,647 27,582 32,568 62,642
27,807 22,245 19,294 20,363
PMR (Mula, Madia, Wira) KSR TSR
Foto 18: Sekolah Sehat Indonesia
• Pelatihan Tanggap Darurat untuk Tim Satgana Khusus bekerjasama dengan Kopassus sebanyak 100 orang.
• Pelatihan tanggap darurat untuk Tim Satgana Khusus bekerjasama dengan Korps Marinir.
• Pelaksanaan Program Pembinaan Karakter Remaja (YBAC) pada Mei 2011-2013, di Provinsi Jawa Timur (Kab. Nganjuk dan Kota Malang) dan Jawa Tengah (Kota Semarang dan Kota Solo), terbentuk di 12 Sekolah dan 450 orang PMR telah menjalankan program dan menerima manfaat. Sebagai langkah exit strategy PMI Kab./Kota di kedua Provinsi secara mandiri bersama sekolah melanjutkan program YABC di sekolah lainnya.
• Lokakarya Program Exploring Human Law di 3 Provinsi (Riau, Banten, Maluku) diikuti oleh Pembinaan dan Fasilitator PMR sebanyak 20 orang.
• Telah ditetapkan 5 Modul Hukum Perikemanusiaan Internasional.
• Telah dilaksanakan Pelatihan SAR Air (Water Resque) oleh TSR Perguruan tinggi Universitas Mahasaraswati dengan melibatkan 100 orang TSR dari seluruh Bali.
• Mengembangkan Program Relawan Mitra Perusahaan (Program Corporate Volunteer) di 2 Provinsi (Bali, DKI Jakarta).
• Sosialisasi program Corporate volunteer yang
dihadiri oleh 13 Perusahaan.
• Mengikutsertakan dalam berbagai program bakti sosial dan gerakan kebersihan sosial.
• Mengikutsertakan anggota PMR pada “Sekolah Sehat Indonesia “ (SEHATI) bekerjasama dengan Frisian Flag Indonesia dan Hypermart di 6 Provinsi (Jawa Barat, DKI Jakarta, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Timur), 13 Kab./Kota dan 50 sekolah.
Foto 16: Cinta Lingkungan sejak Dini
Foto 17: Keterampilan Tim Satgana melalui Pelatihan
• Mengikutsertakan anggota PMR “Sekolah Sehat “ di 2 sekolah di Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah.
Mobilisasi/Penugasan Relawan
Memfasilitasi penugasan relawan dengan spesialisasi keterampilan pelayanan tertentu untuk mendukung operasi kemanusiaan dan program-program pelayanan PMI baik dalam dan luar negeri.
Pengakuan dan Penghargaan kepada Relawan
• Asuransi Relawan
Mengingat risiko yang dihadapi relawan dalam penugasan yang cukup besar. Sejak tahun 2010 secara rutin PMI memberikan asuransi kepada relawan yang bertugas melalui Global Insurance IFRC. Asuransi juga diberikan kepada relawan yang bertugas dalam operasi bencana seperti di Wasior dan Aceh Tengah.
• Penghargaan kepada Relawan
Foto 19: Aksi Relawan PMI
Foto 20: Bentuk Perhatian merupakan Salah Satu Motivasi bagi Relawan
Foto 21: Prestasi Internasional Generasi Muda PMI
Sebagai bentuk apresiasi kepada relawan, maka secara rutin dilakukan kegiatan debriefing dan pemberian piagam penghargaan kepada Relawan yang sudah selesai melaksanakan tugasnya.
Penghargaan juga diberikan kepada relawan atas jasa-jasanya dalam bidang kemanusiaan, seperti;
- Almarhum Bapak Zurith, pencipta lagu “ Mars PMI”.
- Bapak Sambas Amintadipura, Tokoh Relawan Palang Merah baik Nasional maupun Internasional.
- Memberikan santunan kepada Relawan PMI Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Saudara Tutur yang telah gugur dalam mengemban tugas kemanusiaan saat bencana Gunung Merapi.
Penghargaan dan apresiasi secara juga diberikan oleh Relawan PMI terbukti dengan diberikannya penghargaan Youth Award dari IFRC di Jenewa, Swiss.
Fasilitasi Partisipasi Relawan dalam Event Kepemudaan dan Relawan Nasional dan Internasional
• Event Nasional
- Terlaksananya “Jumbara Nasional VII 2011” pada tanggal 4 -10 2011 di Bumi Perkemahan Limboto Gorontalo diikuti oleh 2.500 anggota PMR dari 32 PMI Provinsi dan 35 orang peserta manca Negara dari 12 negara sahabat.
Foto 22: Kegiatan di Perkemahan Temu Karya Nasional
- Terlaksananya “Temu Karya Nasional V 2013 Relawan Palang Merah Indonesia” pada
tanggal 24 - 30 Juni 2013, di
Bendungan Selorejo, Kabupaten Malang, Jawa
Timur. Diikuti perwakilan relawan dari 33 Provinsi, dengan jumlah peserta sebanyak 2.388 orang dan 52 orang peserta dari 14 negara sahabat.
- Telah dilaksanakannya
“Temu Bhakti KSR perguruan
Tinggi Nasional 2013” , di Universitas Negeri Bengkulu di Bengkulu. Diikuti oleh 500 peserta dari 95 Perguruan Tinggi Negeri/Swasta di Indonesia.
- Telah dilaksanakan “Gladian Relawan Nasional V KSR PMI Perguruan Tinggi” pada tanggal 18-24 November di Aceh Utara dihadiri 30 Perguruan Tinggi Swasta/Negeri dari seluruh Indonesia, sejumlah 99 orang peserta.
- Telah dilaksanakan “Volunteer Week Competition III” pada tanggal 27 - 29 Desember 2013 di Solo dihadiri 110 orang dari PMI Provinsi DKI Jakarta, PMI Provinsi Jawa Barat, PMI Provinsi Jawa Tengah dan PMI DIY.
- Keterlibatan 2 Relawan PMI Provinsi DKI Jakarta sebagai wakil Relawan PMI bersama dengan perwakilan Relawan dari seluruh Indonesia dalam “Sail Komodo 2013” pada tanggal 1 Maret 2013 - 1 Mei 2013.
• Event Internasional
- Forum International Global Youth Conference II bulan November di Sydney dengan mengirimkan 1 orang Koordinator FORPIS dari PMI Provinsi Sulawesi Selatan didampingi Ketua Pengurus Bidang Relawan PMI Pusat.
- Commemoration of the origins of the movement Solferino, Juni 2013, dengan mengirimkan 1 orang PMR dari PMI Provinsi Kalimantan Barat
- Summer Youth Camp di Singapura, bulan Mei 2013 dengan mengirimkan Relawan dari KSR PMI Kota Batam, Ketua Pengurus Bidang Relawan dan 1 orang staf.
- Partisipasi PMI dalam Red Cross youth challenge 2013 di Singapura, dihadiri oleh Ketua Pengurus Bidang, staf dan relawan PMI Kepulauan Riau sejumlah 5 orang.
- Youth Timor Leste Camp dihadiri oleh 2 orang Relawan.
- Youth Camp Putra Jaya dihadiri oleh 6 orang Relawan.
- Partisipasi PMI dalam Internasional Youth Meeting di Austria, Swiss, Yordania, Hongkong dan Kamboja.
2) Pembinaan Pegawai PMI
Beberapa upaya yang telah dilakukan di bidang kepegawaian untuk mendorong agar mekanisme organisasi dapat terlaksana secara efektif dan efisien antara lain adalah menerbitkan Peraturan Organisasi, juklak/juknis di Bidang Kepegawaian yang disesuaikan dengan ketentuan Perundang-Undangan.
Pengembangan manajemen kepegawaian antara lain berupa:
- Penerbitan Peraturan Kepegawaian yang telah dilegalisasi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans Prov.
DKI Jakarta Nomor 6830 tahun 2014).
- Penataan dan penyempurnaan data base Pegawai.
- Mengembangkan sistem Payroll.
- Mengembangkan SIM Kepegawaian.
- Pemberian penghargaan kepada karyawan yang sudah bekerja dengan masa bakti 10 tahun, 20 Tahun dan 30 Tahun dan kepada karyawan yang memasuki masa purna tugas.
3) Pendidikan dan Pelatihan
Sumber Daya Manusia (SDM) PMI yang terdiri atas Pengurus, Staf dan Relawan memperoleh peningkatan kapasitas salah satunya melalui kegiatan orientasi dan pelatihan. Aturan pelatihan/Diklat telah ada dan diatur dalam Buku Pedoman Pelatihan PMI dan kemudian dilengkapi dengan Peraturan Organisasi (PO) mengenai Sumber Daya Manusia dan Juklak/Juknis bidang diklat. Jenis pelatihan yang ada di
Foto 24: Penghargaan Masa Bakti
organisasi PMI dapat dibedakan menjadi: Orientasi, Diklat PMR, Diklat KSR, Diklat TSR, Diklat Jabatan dan Pelatihan Pelatih.
Berdasarkan grafik di bawah, pencatatan dan pengelolaan Diklat dibagi menjadi Pelatihan yang diselenggarakan PMI Pusat dan pelatihan PMI Provinsi yang difasilitasi oleh PMI Pusat. Fasilitasi dapat berupa penugasan pelatih, konsultasi persiapan pelatihan dan pelaksanaan pelatihan.
Grafik 6: Jumlah Pelaksanaan Pelatihan PMI Pusat dan Pelatihan di PMI Provinsi
Grafik pada tahun 2012 frekuensi Diklat paling tinggi. Hal yang mempengaruhi adalah implementasi dari program-program PMI Pusat yang dilaksanakan di daerah program (PMI Provinsi) dalam kegiatan peningkatan kapasitas SDM. Jenis diklat pada tahun 2014 lebih kepada Diklat yang diberikan kepada staf PMI Pusat. Bentuk kegiatan in house training atau pelatihan internal dengan nara sumber dari staf PMI Pusat. Peningkatan tersebut dapat dilihat dalam grafik jumlah staf PMI Pusat yang mengikuti
pelatihan di bawah ini.
0 17
67 30
13
17
7
19 12
8
0 20 40 60 80
2010 2011 2012 2013 2014
Pelatihan PMI Provinsi Pelatihan PMI Pusat
43 45 13
103
-40 10 60 110
150 3045 6075 10590
2011 2012 2013 2014
Grafik 7: Jumlah Staf PMI Pusat memperoleh Pelatihan
Rata-rata prosentase penyelenggaraan jenis diklat PMI Pusat periode 2010 – 2014:
- Diklat penyegaran sebesar 10 %.
- Diklat spesialisasi sebesar 56 %.
- Pelatihan pelatih 18 %.
- Diklat penyegaran 16%.
Proporsi diklat spesialisasi paling besar dilaksanakan, selanjutnya proporsi jenis diklat manajemen/jabatan menjadi perhatian untuk diperbanyak untuk membekali staf PMI dengan kompetensi yang dibutuhkan organisasi.
Grafik 8: Jenis Diklat yang diselenggarakan PMI Pusat
Salah satu bentuk pembinaan terhadap pelatih PMI, penugasan pelatih oleh PMI Pusat dilakukan dengan mengacu pada database di PMI Pusat yang dilaksanakan oleh SDM Pelatih PMI dari PMI Pusat dan PMI Provinsi. Staf PMI pusat bertugas melatih sebagai salah satu tugas membina PMI di daerah secara teknis Pelayanan maupun manajerial.
4
0 2 2
0 7
5
11 5 5
6
3 1
2
0
0 1
5 3 1
0%
20%
40%
60%
80%
100%
2010 2011 2012 2013 2014
Diklat penyegaran Pelatihan pelatih Diklat spesialisasi Diklat
manajemen/jabatan
Grafik 9: Penugasan Pelatih PMI Provinsi dan PMI Pusat dalam Pelatihan
Kompetensi pelatih PMI telah diakui oleh banyak instansi, lembaga dan organisasi lainnya. Pendataan tim pelatih PMI di seluruh Indonesia telah dilaksanakan secara bertahap. Penjenjangan pelatih dari tingkatan asisten pelatih – pelatih – pelatih utama, mekanisme penjenjangan dimulai tahun ini melalui penjenjangan pelatih utama dari PMI Pusat. Sertifikasi kompetensi kepada tim pelatih PMI juga telah dilaksanakan bersama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP):
- 29 pelatih PMI berkompetensi sebagai Instruktur Muda.
- 7 pelatih PMI berkompetensi sebagai Instruktur Utama.
- 3 pelatih PMI berkompetensi sebagai Asesor.
Pembuatan alat monitoring dan evaluasi bidang Diklat telah dimulai diimplementasikan dengan tujuan mengetahui efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan Diklat di semua tingkatan.
Selain itu dilakukan penyempurnaan modul dan kurikulum pelatihan berdasar kebutuhan organisasi dan peningkatan pelayanan guna mengefektifkan kegiatan Diklat dalam menciptakan SDM yang berkualitas. Pemutakhiran kurikulum bidang pelatihan logistik, manajemen posko, pemetaan, pertolongan pertama, perawatan keluarga, modul dan bahan bacaan Program Psikososial, air; sanitasi dan promosi kesehatan, perawatan kedaruratan dan sesi dukungan kelompok.
Memperbaharui kurikulum AHI (Avian Human Influence), adaptasi modul 8 KPPBM “Pola Hidup Sehat & Pencegahan Penyakit Tidak Menular, Panduan dan Toolkit Pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB)
67
114
48 28
40
59
40
18
2011 2012 2013 2014
Pelatih PMI Provinsi Pelatih PMI Pusat
Foto 25: Armada PMI
pengembangan sumber daya dan team leader dalam tanggap darurat bencana.
c. Peningkatan Kapasitas PMI di semua Tingkatan dalam Mengelola
Infrastruktur Material Dasar untuk Mendukung Kegiatan Operasional dan Pelayanan
Dalam rangka mendukung pelayanan PMI di masyarakat telah dilakukan beberapa penguatan infrastruktur dan sarana prasarana di PMI antara lain:
1). Gedung Markas PMI
Keberadaan dan status gedung Markas PMI di tiap tingkatan masih menjadi hal yang harus mendapatkan perhatian khusus, karena masih terdapat kepengurusan PMI yang belum memiliki fasilitas markas yang representatif.
2). Armada pendukung pelayanan
Selama 5 (lima) tahun terakhir terus dilakukan peningkatan dalam penyediaan armada pendukung pelayanan PMI antara lain berupa :
• 60 Unit armada tangki air sebagai salah satu pendukung Pusat Pelayanan Bencana Wilayah yang tersebar di beberapa Daerah melakukan operasi penyaluran air bersih di beberapa Daerah yang membutuhkan.
Foto 26: Gudang Regional di Banjarbaru
• 1 Unit kendaraan pengolah air
• 7 unit Helicopter
• 12 unit kendaraan huglund
• 26 Unit kendaraan angkutan barang berupa 2 unit kendaraan bak terbuka L200 dan 24 truk angkutan barang yang tersebar di beberapa daerah rawan bencana.
2). Gudang Regional PMI sebagai bagian dari Pusat Bantuan Bencana Wilayah
Dalam mendukung pelayanan PMI di masyarakat dan rangka perintisan Pusat Pelayanan Bencana Wilayah, PMI Pusat mengelola 6 (enam) Gudang Regional PMI yaitu :
a) Wilayah Jawa Bagian Timur di Gresik, Jawa Timur b) Wilayah Jawa Bagian Barat di Serang, Banten c) Wilayah Sumatera di Padang, Sumatera Barat d) Wilayah Sulawesi di Makassar, Sulawesi Selatan
e) Wilayah Jawa Bagian Tengah di Semarang, Jawa Tengah f) Wilayah Kalimantan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Pembinaan terhadap pengelolaan gudang PMI di Daerah terus dilakukan secara efektif agar gudang di daerah dapat menopang gudang regional.
3). Posko PMI
Peranan dan Posko PMI sebagai perangkat markas yang berfungsi sebagai pusat pengolahan data dan informasi pendukung pelayanan PMI semakin dirasakan kebutuhannya bukan hanya pada saat tanggap dadurat bencana mapun pada saat normal.
Penguatan dan pembenahan infrastuktur Posko PMI di setiap tingkatan terus dilakukan antara lain :
• Posko PMI Pusat
Pembenahan manajemen posko pusat agar dapat beroperasi selama 24 jam dan dilengkapi dengan sarana dan prasana untuk
• Melakukan pembinaan Posko di beberapa daerah kerjasama dukungan mitra gerakan seperti memfasilitasi:
- Posko PMI Provinsi dan 2 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah - Posko PMI Provinsi dan 6 Kab/Kota di Bengkulu
- Posko PMI Provinsi Sumatera Barat - Posko PMI Provinsi Jambi
- Posko PMI Provinsi dan 5 Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Timur
- Posko PMI Provinsi dan 5 Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan
- Posko PMI Provinsi dan 3 Kab/Kota di Papua Barat 4) Peralatan Radio dan IT Telecom
• Penambahan dan perbaikan perangkat radio komunikasi.
• Pengurusan frekuensi khusus untuk radio komunikasi PMI.
• Distribusi perangkat radio Codan.
• Penempatan Perangkat IT BOX di posko/gudang regional 5) Peralatan Watsan
• Pusat Air dan Sanitasi di Jatinangor Jawa Barat yang dilengkapi dengan peralatan laboratorium air dan sanitasi dan peralatan pengolahan air bersih.
• Menempatkan peralatan Pengolahan Air di Gudang Regional PMI wilayah Sulawesi dan Gudang Regional PMI wilayah Sumatera.
6) Peralatan Pendukung lainnya
• Kelengkapan standard Satgana baik perorangan maupun tim.
• Perahu karet
• Peralatan evakuasi
• Peralatan dapur umum
• Rumah sakit lapangan
2. Peningkatan Ketahanan Masyarakat terhadap Risiko dan Dampak Bencana serta Penyakit
a. Peningkatan Kapasitas dan kualitas Pelayanan Bencana PMI 1) Peningkatan Kapasitas Respon Bencana
Peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan bencana PMI tentu tidak dapat dilepaskan dari upaya peningkatan profesionalisme sumber daya manusia PMI. Pelatihan tanggap darurat yang dilaksanakan di Pusdikpassus Batujajar yang diikuti oleh 100 orang peserta dari seluruh Indonesia menjadi awal upaya peningkatan profesionalisme tersebut. Berbagai kegiatan berupa pelatihan,
lokakarya, pertemuan dan forum lainnya dilaksanakan untuk mencapai PMI yang profesional dan dicintai masyarakat. Tercatat PMI memiliki 613 personil yang terlatih dalam bidang penanggulangan bencana dan 947 personil terlatih bidang kesehatan yang relevan dengan tanggap darurat bencana.
Pelatihan manajemen tanggap darurat telah melatih sebanyak 1.470 personil di tingkat kabupaten/kota.
Salah satu bentuk upaya kesiapsiagaan untuk meningkatkan kualitas pelayanan tanggap darurat PMI adalah dengan penyusunan rencana kontinjensi. Sampai dengan kuartal pertama tahun 2014 tercatat sebanyak 29 Provinsi yang telah memiliki rencana kontinjensi, sedang yang lainnya dalam proses penyusunan.
2) Peningkatan Kapasitas dan Kualitas Pelayanan Kesehatan
Penandatanganan nota kesepahaman antara PMI dengan Kementerian Kesehatan dan PMI dengan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan langkah maju dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan PMI. Selain itu PMI menjadikan pelatihan pertolongan pertama sebagai salah satu aktifitas penggalangan dana PMI.
Fokus peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan adalah untuk kesehatan darurat, kesehatan masyarakat dan pelayanan sosial.
Selain itu untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayan kesehatan telah dilaksanakan pelatihan-pelatihan serta pengembangan modul-modul pendukung.
Pendirian Pos Pertolongan Pertama.
PMI Pusat juga berupaya untuk meningkatkan keberadaan Pos-pos PP yang ada di PMI Kab/Kota. Berikut disamping jumlah Pos PP selama mudik lebaran, natal dan tahun baru yang dilaporkan kepada PMI Pusat selama 2010-2014.
Terjadi peningkatan pos PP pada tahun 2014, karena adanya kerjasama dengan beberapa pihak
untuk beberapa PMI Provinsi di daerah Jawa, Bali dan Sumatera.
Grafik 10: Jumlah Pos Pertolongan Pertama
Pelayanan Air dan Sanitasi
Pusat air dan sanitasi di Jatinangor memiliki kelengkapan pengolah air, laboratorium dan perlengkapan sanitasi. Selain itu ditempatkan masing- masing 2 unit peralatan pengolah air di Padang dan Makassar.
PMI memiliki peralatan air dan sanitasi terlengkap di Asia Pasifik oleh karena itu dipilih menjadi pusat pelatihan RDRT air dan sanitasi. Sejak tahun 2011 sampai 2014 dilaksanakan pelatihan RDRT air dan sanitasi di Pusat Air dan Sanitasi PMI di Jatinangor.
Pelayanan Kesehatan Darurat
• Melakukan pelayanan kesehatan darurat saat tanggap darurat bencana di berbagai wilayah Indonesia berupa produksi dan distribusi air bersih sebanyak 36.621.000 liter air.
• Dukungan Psychological Support Programme (PSP) di berbagai bencana baik dalam negeri maupun luar negeri.
• Pengiriman tenaga Medical Action Team (MAT) di perbatasan RI- Malaysia di Kalimantan Barat kerjasama PMI dan Kopassus.
• Membentuk tim MAT di beberapa daerah yang masing-masing terdiri dari 10 orang medis, paramedik dan relawan.
• Menugaskan 10 relawan spesialis air dan sanitasi tergabung dalam misi kemanusiaan di Filipina, 2 tim medis dan 2 orang ahli air dan sanitasi melaksanakan misi kemanusiaan di Myanmar.
3) Penguatan Logistik Bencana
Dalam rangka memperkuat kesiapsiagaan logistik bencana, PMI Pusat telah melakukan beberapa upaya antara lain :
• Melakukan pengisian stok barang bantuan dengan kerjasama mitra gerakan.
• Melakukan penyediaan logistik bencana dengan kerjasama PT Carefour-Transretail Indonesia.
Telah menyalurkan berbagai kebutuhan logistik/material sebanyak 131 jenis/item barang sebanyak 1.620.926 unit ke 131 titik logistik/
lokasi.
Tabel 3: Pengeluaran Barang Bantuan Standard Tahun 2010-2014 No Item Barang Jumlah
1 Baby Kit 4.947
2 Family Kit 17.386
3 Hiegene Kit 47.819 4 Kantong Mayat 3.446
5 Kelambu 3.000
6 Masker 784.850
7 Sarung 71.800
8 Selimut 33.551
9 Tarpolin 19.436
10 Tikar 8.963
4) Peningkatan Teknologi di Bidang Pelayanan PMI
Dalam melaksanakan tugasnya PMI terus mengikuti perkembangan teknologi untuk mendukung efektifitas dan pelayanan PMI.
Terkait kebutuhan internal dalam bidang penguatan markas telah dikembangan berbagai sistem berbasis teknologi untuk mempermudah pencatatan dan pelaporan internal.
PMI juga memperkuat kapasitas dalam interkoneksi dan komunikasi, seperti:
• Pengembangan dan Pengembangan Jaringan Radio PMI Pusat - Provinsi maupun pengembangan Jaringan Radio lokal (PMI Provinsi ke Kabupatennya).
• Penambahan dan Peningkatan Perangkat Radio Komunikasi di PMI Pusat.
• Pengurusan/Penyediaan frekuensi Nasional (HF) dan Lokal untuk mendukung Jaringan Radio Komunikasi PMI.
• Distribusi perangkat radio Codan ke 33 PMI Provinsi.
• Penempatan Perangkat IT BOX di beberapa titik strategis seperti di Markas Pusat dan Gudang Regional.
Selain itu dalam rangka mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan PMI, dikembangan beberapa program teknologi informasi yang dapat diakses langsung oleh masyarakat, seperti:
• Aplikasi Mobile Rapid Assessment (MRA)
Sebagai bentuk inisiatif komunikasi penerima manfaat (beneficiary communication) pada awal tahun 2014 PMI telah menciptakan aplikasi berbasis android untuk pelaporan
digunakan oleh masyarakat untuk melaporkan setiap kejadian bencana langsung dari lapangan. Aplikasi ini dapat diunduh secara gratis di google play.
• Siaga Bencana
Aplikasi ini sebagai bagian dari layanan PMI untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana.
Aplikasi ini membantu menyiapkan masyarakat pada sebelum, saat dan sesudah bencana termasuk juga bagaimana menyiapkan diri/keluarga menghadapi bencana. Aplikasi ini tersedia gratis dan dapat diunduh melalui Google Play (untuk Android) dan AppStore (untuk Ipad/Iphone).
• Pertolongan Pertama
Aplikasi ini sebagai bagian dari layanan PMI untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap kondisi darurat khususnya dalam bidang kesehatan. Aplikasi ini berisi tentang panduan pertolongan pertama yang terdiri dari fitur pelajari, darurat dan lainnya. Aplikasi ini tersedia gratis dan dapat diunduh melalui Google Play (untuk Android) dan AppStore (untuk Ipad/Iphone).
• Pengembangan Sistem Informasi Donor Darah Terpadu
Secara umum aplikasi ini dibuat untuk memudahkan masyarakat menjadi pendonor termasuk mendapatkan informasi tentang stok darah, jadwal maupun kemudahan untuk penyebaran lokasi donor darah.
- BloodBook
BloodBook merupakan aplikasi berbasis Facebook yang bertujuan untuk memudahkan berbagi informasi mengenai kebutuhan darah melalui media sosial.
Diakses melalui : http://bloodbook.pmi.or.id - Ayo Donor Darah
Ayo Donor darah adalah laman yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang donor darah, lokasi donor darah, stok darah dan informasi relevan lainnya. Ayo donor ini dapat diakses melalui http://ayodonor.pmi.or.id
b. Peningkatan Upaya Pengurangan Risiko Berbasis Masyarakat
Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana merupakan upaya integratif dengan peningkatan kapasitas dan kualitas
PMI. Hal itu sesuai dengan tujuan untuk menuju ketahanan masyarakat menghadapi bencana, melalui beberapa program peningkatan upaya risiko berbasis masyarakat dengan gambaran yang mendapatkan intervensi sebagai berikut:
Tabel 4: Jumlah Masyarakat Penerima Manfaat Program
Provinsi Kab/Kota Desa Populasi
18 49 162 274.212
Jenis kegiatan upaya pengurangan risiko bencana adalah sebagai berikut:
Grafik 11: Jenis Kegiatan Pengurangan Risiko Bencana di 18 PMI Provinsi
Berbagai upaya pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat yang dilaksanakan oleh PMI sejalan dengan kebijakan di tingkat nasional maupun global.
c. Pemulihan Hubungan Keluarga
Secara konsisten PMI Pusat melaksanakan pelayanan kegiatan pemulihan hubungan keluarga. Kegiatan yang merupakan salah satu mandat khas yang dimiliki oleh Palang Merah. Isu-isu migrant semakin berkembang dan kebutuhan pelayanan RFL bagi kelompok rentan ini menunjukkan kecenderungan yang meningkat. PMI mendapatkan Red Cross Message sebanyak 189 baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
29%
10% 27%
34% VCA
Pemetaan RR Plan Mitigasi SSB