4
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. Uraian Umum
Pembangunan di suatu daerah tertentu mempengaruhi lalu lintas di sekitarnya.
Analisis dampak lalu lintas digunakan untuk menghitung apakah infrastruktur transportasi di wilayah dampak pembangunan bisa melayani lalu lintas yang ada apabila ditambah dengan lalu lintas akibat pembangunan, jika infrastruktur tersebut tidak mampu mendukung lalu lintas, maka perlu dilakukan kajian tentang bagaimana mengatur lalu lintas atau pengelolaan infrastruktur.
Analisis dampak lalu lintas adalah analisis pengaruh pengembangan tata guna lahan terhadap sirkulasi lalu lintas di sekitarnya yang diakibatkan oleh bangkitan lalu lintas baru dan lalu lintas yang beralih serta dari kendaraan yang masuk atau keluar dari wilayah tersebut. (Tamin, 2000)
Berdasarkan penelitian Clark (1994), sebuah pusat kegiatan akan menimbulkan dampak terhadap lalu lintas, yaitu keselamatan lalu lintas, kelancaran arus lalu lintas dan kenyamanan pejalan kaki. Penerima dampak lalu lintas tersebut adalah:
1. Pengguna jalan 2. Penduduk setempat 3. Fasilitas umum
4. Kegiatan perekonomian 5. Pengelola angkutan umum 6. Pemerintah daerah
2.2. Fenomena Dampak Lalu Lintas
Pembangunan dan pengembangan sebuah infrastruktur dapat menyebabkan bangkitan lalu lintas yang cukup besar mengakibatkan fenomena dampak lalu lintas Akibat pembangunan terhadap lalu lintas terjadi saat fase pasca konstruksi atau pada fase beroperasinya bangunan. Fase tersebut pengunjung dapat membebani ruas-ruas jalan sehingga akan terjadi bangkitan lalu lintas.
Semua ruang kegiatan dapat “membangkitkan” dan “menarik” pergerakan yang besarnya bervariasi sesuai dengan fungsi lahan. Apabila terdapat pembangunan
5 kawasan baru seperti pusat perbelanjaan dan superblock dalam skala besar sangat memungkinkan dapat memberikan dampak langsung terhadap sistem jaringan jalan di sekitarnya karena bertambahnya bangkitan dan tarikan lalu lintas akibat adanya kegiatan baru di dalam dan di lingkungan sekitarnya.
Secara pokok analisissdampak lalu lintas adalah elemen dari proses perencanaan, evaluasi rancang dan bangun serta pemberian izin yang tidak terpisahkan. Oleh sebab itu dibutuhkan peraturan dasar yang mengharuskan dilakukan analisis dampak lalu lintas sebelum dimulainya pembangunan termasuk didalamnya melakukan pendekatan manajemen lalu lintas yang dibuat agar bisa mengatasi akibat perjalanan baru yang akan dibangkitkan.
Apabila terjadi pembangunan pada lahan baru yang akan berhubungan langsung dengan lalu lintas, terdapat lima elemen yang menimbulkan dampak yaitu:
1. Elemen Bangkitan dan Tarikan Perjalanan, yang diakibatkan dari faktor kelas alokasi, lokasi bangkitan dan intensitas
2. Elemen Kinerja Jaringan Jalan, yang terdiri atas kinerja ruas dan persimpangan
3. Elemen Akses, yang berkaitan dengan jalan menuju tempat tersebut.
4. Elemen Ruang Parkir
5. Elemen Lingkungan, yang secara khusus berkaitan dengan polusi serta tingkat kebisingan.
Menurut The Institution of Highways and Transportation (1994) beberapa hal yang mempengaruhi besar kecilnya dampak kegiatan terhadap lalu lintas antara lain :
1. Bangkitan dan tarikan perjalanan
2. Tingkat ketertarikan pada pusat kegiatan 3. Kelancaran lalu lintas jaringan jalan 4. Prasarana jalan pada sekitar pusat kegiatan 5. Jenis tarikan perjalanan
6. Persaingan dari beberapa pusat kegiatan dengan lokasi yang berdekatan.
Pada dasarnya, pembangunan Lampung City Superblock ini akan mengubah pergerakan perjalanan yang ada dan membawa dampak lalu lintas pada daerah sekitarnya sehingga diperlukan analisis untuk meminimumkan dampak yang akan
6 terjadi.
2.3. Sasaran Analisis Dampak Lalu Lintas Sasaran analisis dampak lalu lintas ditujukan pada:
1. Evaluasi dampak lalu lintas yang diakibatkan dari pembangunan terhadap jaringan jalan disekitarnya;
2. Upaya sinkronisasi kebijakan pemerintah agar dapat mengurangi konflik, kemacetan serta hambatan lalu lintas dengan cara perencanaan peningkatan sarana jalan dan simpang di sekitar pembangunan;
3. Penyusunan usulan penambahan prasarana yang diperlukan untuk mengurangi dampak oleh adanya pembangunan baru tersebut serta penyediaan alternatif solusi dari dampak pembangunan baru yang dapat meminimumkan kemacetan lalu lintas termasuk mempertahankan tingkat pelayanannprasarana jaringan jalan;
4. Penataan rekomendasi pengaturan jalan internal, titik akses ke dan dari lahan yang dibangun, kebutuhan ruang parkir.
Menurut The Institution of Highways and Transportation (1994) pendekatan teknis dalam melakukan andalalin diantaranya:
a. Kondisi lalu lintas existing b. Rencana pembangunan c. Proyeksi pemilihan moda d. Analisis penyebaran perjalanan
e. Identifikasi rute pembebanan perjalanan
f. Identifikasi pertumbuhan lalu lintas dan tahun pembebanan g. AMDAL
h. Sistem pengaturan parkir i. Angkutan umum
j. Pejalan kaki, penyandang cacat dan pesepeda.
2.4. Jenis Infrastruktur Wajib Andalalin
Menurut PM No.75 Tahun 2015, semua rencana berupa pembangunan atau pengembangan pusat kegiatan, infrastruktur, pemukiman penduduk yang akan menimbulkan gangguan keselamatan serta kelancaran lalu lintas wajib dilakukan analisis dampak lalu lintas. Berikut adalah jenis infrastruktur yang termasuk wajib
7 andalalin.
Tabel 2.1. Jenis Infrastruktur Wajib Andalalin
Peruntukan Lahan Ukuran Minimal Kawasan Wajib Andalalin
Permukiman 50 Unit
Apartemen 50 Unit
Perkantoran 1000 m2 Luas Lantai Bangunan Pusat Perbelanjaan 500 m2 Luas Lantai Bangunan
Hotel / Motel / Penginapan 50 Kamar
Rumah Sakit 50 Tempat Tidur
Klinik Bersama 10 Ruang Praktek Dokter
Sekolah / Universitas 500 Siswa
Tempat Kursus Bangunan Dengan Kapasitaas 50 Siswa Per Waktu
Industri / Pergudangan 2500 m2 Luas Lantai Bangunan
Restoran 100 Tempat Duduk
Tempat Pertemuan / Tempat Hiburan /
Pusat Olahraga Kapasitas 100 Tamu / 100 Tempat Duduk Terminal / Pool kendaraan / Gedung
Parkir Wajib
Pelabuhan / Bandara Wajib
SPBU 4 Selang Pompa
Bengkel Kendaraan 2000 m2 Luas Lantai Bangunan
Tempat Pencucian Mobil Wajib
Sumber : Permenhub RI Nomor PM 75 Tahun 2015
Berdasarkan kriteria diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembangunan Lampung City Superblock wajib dilakukan andalalin.
2.5. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang menjadi acuan dalam melakukan penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut.
8 Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
2.6. Analisis Dampak Lalu Lintas
Setelah disimpulkan bahwa pembangunan atau pengembangan pusat kegiatan dan infrastruktur wajib untuk dilakukan andalalin maka menurut PM No.75 Tahun 2015, pembangun atau pengembang berkewajiban untuk melakukan andalalin yang memuat beberapa poin yaitu :
1. Perencanaanndannmetodologi analisis dampak lalu lintas, meliputi:
a. Penjelasan tentang rencana pembangunan;
b. Wilayah kajian berdasar rencana pembangunan;
c. Prediksi moda transportasi yang digunakan seperti bangkitan dan tarikan lalu lintas, pemilihan moda, distribusi perjalanan dan kebutuhan parkir;
d. Penetapan tahun dasar acuan analisis;
No. Peneliti Tahun Judul Penelitian Masalah Tujuan Kesimpulan
2 Fikri Maulana Rijal 2017
ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT PEMBANGUNAN APARTEMEN GUNAWANGSA
TIDAR SURABAYA
Bagaimana melakukan analisis peramalan lalu lintas
dengan pembangunan kawasan
Apartement Gunawangsa Tidar ?
Mampu menganalisa peramalan lalu lintas dengan
pembangunan kawasan Apartement
Gunawangsa Tidar.
Pada kondisi dengan adanya pengembangan tentunya
kinerja simpang semakin menurun karena adanya penambahan volume lalu lintas dari bangkitan dan tarikan,
simpang bersinyal Jl. Arjuno – Jl. Tidar dengan LOS F pada
tahun 2024,
kemudian simpang Jl. Patua – Jl. T.G.Pelajar – Jl. Tidar dengan LOS F pada tahun 2024,
simpang Jl. T.Sayuran – Jl. Tidar dengan LOS F pada tahun 2024, simpang Jl. Pacuan
Kuda –
Jl. Tidar dengan LOS F pada tahun 2024.
Sedangkan untuk ruas jalan dengan hasil terburuk
yaitu Jl. Pacuan Kuda dengan LOS F pada tahun 2024.
3
Abdul Rahman Machsus Machsus
Amalia Firdaus Mawardi Rachmad Basuki
2018
Analisis Dampak Lalu Lintas
Akibat Pembangunan
Apartemen Puncak Dharmahusada
Surabaya
Perubahan tata guna lahan akan menarik dan
membangkitkan lalu lintas baik kecil
atupun besar yang kemudian membebani sistem jalan
di kota. Pembebanan perjalanan yang melebihi kapasitas
sistem jalan mengakibatkan kemacetan di sistem
jalan kota
Mengetahui kondisi lalu lintas disekitar kawasan pada kondisi
eksisting (2018), 2 tahun masa pembangunan (2020),
dan 5 tahun pasca beroperasi (2025) baik dengan pengembangan kawasan
maupun tanpa pengembangan kawasan.
Kondisi simpang bersinyal pada kondisi eksisting yang
terbilang buruk dengan tingkat pelayanan (LOS) F
pada seluruh periode puncak. Dapat dipastikan untuk 2 tahun dan 5 tahun kedepan tingkat
pelayanan akan semakin memburuk karena adanya
penambahan volume kendaraan akibat bangkitan, tarikan, maupun
pertumbuhan kendaraan yang naik setiap tahun Kondisi arus lalu lintas sekitar Apartemen Puncak Kertajaya
sebagian sudah mendekati titik jenuh bahkan ada yang
sudah melampaui, khususnya pada periode prediksi tahun 2013 dan 2018.
Partumbuhan volume kendaraan yang tinggi tidak sebanding
dengan besarnya kapasitas jalan maupun persimpangan yang ada.
Apartemen Puncak Kertajaya memiliki jumlah penghuni yang
sangat besar, maka akan menciptakan
beban lalu lintas yang besar pula, sehingga harus dilakukan andalalin.
Akhmad Yusuf Zuhdy Rachmat Basuki M. Singgih Purwanto
1 2013
Analisis Dampak Lalu Lintas Akibat
Pembangunan Apartemen Puncak
Kertajaya
Mengantisipasi dampak- dampak yang diprediksikan akan ditimbulkan oleh
suatu kawasan pengembangan Apartemen Puncak
Kertajaya terhadap lalu lintas
di sekitarnya
9 e. Pengumpulan data lalu lintas;
f. Intensitas serta karakteristik tata guna lahan pada kondisi existing dan juga pada kondisi mendatang;
g. Metodologi penyusunan dokumen hasil analisis dampak lalu lintas.
2. Analisis kondisi lalu lintas dan angkutan jalan saat ini, meliputi :
a. Kondisi prasarana jalan yang terdiri atas geometrik jalan, potongan melintang jalan, data perkerasan jalan, status dan kelas jalan, serta perlengkapan prasarana jalan;
b. Kondisi lalu lintas existing yang terdiri atas data volume lalu lintas, volume gerakan dan tundaan belok, panjang antrian, kecepatan rata-rata, durasi perjalanan;
c. Kondisi angkutan jalan yang terdiri atas jaringan trayek, jenis kendaraan, waktu tunggu dan load factor.
3. Analisis bangkitan dan tarikan lalu lintas dan angkutan jalan akibat pembangunan menggunakan trip rate factor sesuai standar nasional;
4. Analisis distribusi perjalanan;
5. Analisis pemilihan moda;
6. Analisis pembebanan perjalanan;
7. Simulasi kinerja lalu lintas meliputi simulasi kinerja lalu lintas sebelum, pada saat pembangunan, setelah pembangunan dan dalam jangka waktu 5 tahun 8. Rekomendasi implementasi penanganan dampak,
9. Gambaran lokasi yang akan dibangun atau dikembangkan, meliputi:
a. Peta lokasi yang berisi jenis bangunan yang merupakan pembangunan atau pengembangan;
b. Kondisi fisik sarana lalu lintas dan angkutan jalan pada sekitar lokasi;
c. Kondisi sosial dan ekonomi pada lokasi rencana pembangunan; dan
d. Kondisi pelayanan angkutan jalan lalu lintas yang terdapat dilokasi rencana pembangunan atau pengembangan.
2.7. Cakupan Analisis yang Dilakukan
Cakupan analisis yang dilakukan pada penelitian ini berupa:
1. Analisis kondisi lalu lintas saat ini;
2. Analisis bangkitan dan tarikan lalu lintas;
10 3. Analisis distribusi dan pembebanan perjalanan;
4. Analisis kinerja dan penanganan lalu lintas;
Dalam penelitian ini analisis yang dipakai hanya sebagian dikarenakan keterbatasan waktu dan sumber daya dalam melakukan penelitian.
2.8. Ruas Jalan Perkotaan
Ruas jalan perkotaan ialah segmen jalan dekat pusat perkotaan yang memiliki lebih dari seratus ribu penduduk dan berkembang pada hampir seluruh ruas secara permanen serta menerus. Namun, jalan di daerah perkotaan dengan kurang dari seratus ribu penduduk juga dapat digolongkan dalam kelompok ini jika mempunyai ruas yang berkembang secara permanen. Ruas jalan perkotaan menurut PKJI terdiri atas beberapa variabel berikut:
1. Kecepatan Arus Bebas
Kecepatan arus bebas adalah kecepatan pada arus nol, yaitu kecepatan kendaraan bermotor tanpa pengaruh dari kendaraan lain di jalan;
2. Kapasitas
Arus maksimum yang melewati suatu titik yang dapat dipertahankan persatuan waktu dalam kondisi tertentu disebut kapasitas. Untuk jalan dua lajur dua arah, kapasitas ditentukan untuk arus dua arah tetapi untuk jalan dengan banyak lajur, arus dipisahkan per arah;
3. Derajat Kejenuhan
Derajat kejenuhan adalah rasio arus terhadap kapasitas, digunakan sebagai faktor utama penentuan tingkat kinerja simpang dan segmen jalan.
4. Volume Lalu Lintas
Menurut PKJI 2014, volume lalu lintas merupakan banyaknya kendaraan yang melewati suatu titik ruas jalan dalam satuan waktu. Volume lalu lintas yang dipakai sebagai dasar analisis kinerja ruas jalan dan persimpangan yaitu volume lalu lintas pada jam paling sibuk dalam satu hari. Demi keperluan analisis, jenis kendaraan yang di survei dapat dikelompokkan atas:
a. Kendaraan berat terdiri dari truk besar bersumbu dua atau lebih, truk gandeng dan bus besar;
b. Kendaraan ringan terdiri dari minibus (termasuk angkutan kota), sedan, mobil pick-up, mikrobus dan truk berukuran kecil;
11 c. Kendaraan sedang terdiri atas bus dan truk berukuran sedang;
d. Kendaraan tak bermotor terdiri atas becak, kereta dorong dan sepeda;
e. Sepeda motor terdiri atas kendaraan bermotor roda dua serta roda tiga.
Hasil survei kendaraan tersebut kemudian dikonversi dalam Nilai Ekivalen Kendaraan Ringan, untuk menyetarakan tingkat penggunaan ruang pada keseluruhan jenis kendaraan. Nilai konversi masing-masing jenis kendaraan menurut rekomendasi PKJI 2014 adalah:
Tabel 2.3. Nilai Ekivalen Mobil (𝒆𝒌𝒓) untuk Ruas
Tipe Jalan Arus lalu lintas per lajur (kend/jam)
ekr
KB SM
2/1, dan 4/2 T < 1050 1,3 0,40
≥ 1050 1,2 0,25
3/1, dan 6/2 D < 1100 1,3 0,40
≥ 1100 1,2 0,25
Sumber : PKJI 2014
Tabel 2.4. Nilai Ekivalen Kendaraan Ringan (𝒆𝒌𝒓) untuk Simpang
Jenis Kendaraan
ekr
𝑸𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍 ≥ 1000 skr/jam 𝑸𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍 < 1000 skr/jam
KR 1,0 1,0
KS 1,8 1,3
SM 0,2 0,5
Sumber : PKJI 2014
2.9. Bangkitan dan Tarikan
Bangkitan dan tarikan perjalanan merupakan tahap permodelan dengan memprediksi jumlah pergerakan yang berasal dari suatu lokasi dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tempat (Tamin, 2000). Hasil tahapan ini berupa bangkitan perjalanan dan tarikan perjalanan pada zona kajian. Asumsi yang digunakan dalam memperkirakan bangkitan perjalanan adalah adanya kesamaan tipikal bangunan yang akan disurvei kemudian dilakukan analisis menggunakan regresi linier. Bangkitan lalu lintas ini terdiri atas :
1. Menuju suatu lokasi (Trip Production) 2. Meninggalkan suatu lokasi (Trip Attraction)
Metode analisis dalam tahap bangkitan perjalanan tergantung pada basis perjalanan dan pendekatan analisis yang dilakukan. Secara elementer dapat diartikan bahwa jumlah perjalanan adalah fungsi dari tata guna lahan yang menghasilkan perjalanan tersebut. Bentuk model sederhananya seperti persamaan
12 berikut ini :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑟𝑖𝑝 (𝑄 𝑡𝑟𝑖𝑝) = 𝑓 (𝑇𝐺𝐿) Keterangan :
𝑄 𝑡𝑟𝑖𝑝 = Jumlah perjalanan dari suatu kawasan tata guna lahan per satuan waktu ƒ = Fungsi Matematik
𝑇𝐺𝐿 = Karakteristik sosio ekonomi tata guna lahan dalam cakupan penelitian Metode analisis yang dapat digunakan dalam tahap bangkitan perjalanan adalah analisis regresi linear. Metode ini merupakan alat analisis statistik yang menganalisis faktor penentu yang menimbulkan suatu kondisi tertentu yang diamati, sekaligus menguji sejauh manakah kekuatan faktor penentu yang dimaksudkan berhubungan dengan kondisi yang ditimbulkan .
Metode ini digunakan untuk memperkirakan banyaknya perjalanan didaerah perkotaan pada tahap bangkitan perjalanan pada semua basis perjalanan zona dan basis rumah, serta perjalanan antar kota. Untuk perjalanan berbasis zona, metode analisis regresi linear menganalisis hubungan antara variabel-variabel bebas berupa karateristik sosio-ekonomi guna lahan dengan variabel terikat berupa jumlah arus lalu lintas (perjalanan) dari zona asal yang diamati ke zona tujuan yang diamati dan juga menghasilkan hasil berupa angka perkiraan jumlah perjalanan asal ke tujuan yang ditimbulkan karakteristik sosio ekonomi. Bentuk dari analisis regresi linear ada dua, yaitu analisis regresi linear sederhana dan analisis regresi linear berganda, analisis regresi yang dipergunakan dalam menghitung bangkitan dan tarikan pada penelitian ini adalah analisis regresi linear sederhana.
1. Analisis Regresi Linier Sederhana
Merupakan metode statistik yang digunakan untuk menguji hubungan sebab akibat antara variabel X yaitu faktor penyebab dengan Y sebagai faktor pengaruh.
Bentuk umum dari persamaannya adalah
Keterangan :
𝑌 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑄 = Variabel terikat yang akan diperkirakan besarannya. Dalam hal ini
13 variabel terikat adalah bangkitan dan tarikan kendaraan (kendaraan/jam).
𝑥 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑇𝐺𝐿 = Variabel bebas, dalam penelitian ini luas pusat kegiatan dan infrastruktur (m2) adalah variabel bebasnya.
𝑎 = Konstanta, yang berarti jika x atau TGL = 0 atau tetap, maka Y = a.
𝑏 = Koefisien berupa nilai yang diperuntukkan memperkirakan Y atau Q.
𝑒 = Nilai error yang mewakili semua faktor yang tidak berpengaruh.
2.10. Kapasitas Ruas Jalan
Menurut PKJI, kapasitas diartikan arus lalu lintas maksimum yang dapat dipertahankan pada suatu bagian jalan dalam kondisi geometrik jalan, lingkungan, komposisi lalu lintas tertentu. Faktor yang mempengaruhi kapasitas jalan adalah median, lebar lajur, letak jalan pada daerah perkotaan atau daerah luar kota, hambatan bahu / kerb jalan, median dan ukuran kota. Kapasitas suatu ruas jalan dihitung dengan menggunakan persamaan berikut ini:
Keterangan :
𝐶 = Kapasitas (smp/jam)
𝐶0 = Kapasitas dasar kondisi tertentu (ideal) (𝑠𝑘𝑟/𝑗𝑎𝑚) 𝐹𝐶𝐿𝐽 = Faktor penyesuaian lebar jalur lalu lintas
𝐹𝐶𝑃𝐴 = Faktor penyesuaian pemisah arah 𝐹𝐶𝐻𝑆 = Faktor penyesuaian hambatan samping 𝐹𝐶𝑈𝐾 = Faktor penyesuaian ukuran kota
2.10.1. Kapasitas Dasar Jalan Perkotaan (𝑪𝟎)
Kapasitas dasar adalah kapasitas segmen jalan untuk kondisi tertentu sesuai kondisi geometrik, pola arus lalu lintas, dan faktor lingkungan. Semua faktor penyesuai akan bernilai 1 apabila kondisi sesungguhnya sama dengan kasus dasar atau ideal.
14 Tabel 2.5. Kapasitas Dasar (𝑪𝟎) Jalan Perkotaan
Tipe Jalan Kapasitas Dasar
(skr/jam) Catatan
4/2 T atau Jalan Satu
Arah 1650 Perlajur (Satu Arah)
2/2 TT 2900 Perlajur (Dua Arah)
Sumber : PKJI (2014)
2.10.2. Faktor Penyesuai Lebar Jalur Lalu Lintas
Faktor penyesuai kapasitas lebar jalur lalu lintas jalan perkotaan adalah faktor penyesuai kapasitas akibat lebar jalur lalu lintas.
Tabel 2.6. Faktor Penyesuai Kapasitas (𝐅𝐂𝐋𝐉) Untuk Pengaruh Lebar Jalan Perkotaan
Tipe Jalan Lebar Jalur Lalu Lintas Efektif (Wc) (m)
𝐅𝐂𝐋𝐉
4/2 T atau Jalan Satu Arah
Lebar per Lajur
3,00 0,92
3,25 0,96
3,50 1,00
3,75 1,04
4,00 1,08
2/2 TT
Lebar Jalur 2 Arah
5,00 0,56
6,00 0,87
7,00 1,00
8,00 1,14
9,00 1,25
10,00 1,29
11,00 1,34
Sumber :PKJI (2014)
2.10.3. Faktor Penyesuai Pemisah Arah
Faktor penyesuai kapasitas pemisah arah lalu lintas adalah faktor penyesuai kapasitas dasar pada jalan dua arah tak terbagi akibat pemisahan arah lalu lintas.
Faktor ini mempunyai nilai paling tinggi pada prosentase pemisah arah 50-50 yaitu jika arus pada kedua arah sama pada periode satu jam.
15 Tabel 2.7. Faktor Penyesuai Kapasitas Pemisah Arah (𝐅𝐂𝐏𝐀)
Pemisahan arah SP
%-% 50-50 55-45 60-40 65-35 70-30
𝐹𝐶𝑃𝐴
Dua lajur 2/2 1,00 0,97 0,94 0,91 0,88
Empat lajur 4/2 1,00 0,985 0,97 0,955 0,94 Sumber : PKJI (2014)
2.10.4. Faktor Penyesuai Hambatan Samping
Faktor penyesuai kapasitas hambatan samping didefinisikan sebagai faktor penyesuai kapasitas akibat hambatan samping sebagai fungsi kereb penghalang dan lebar bahu.
Tabel 2.8. Faktor Penyesuaian Kapasitas (𝑭𝑪𝑯𝑺) Hambatan Samping
Sumber : PKJI (2014) Tipe Jalan
Kelas Hambatan
Samping
Faktor Penyesuai Hambatan Samping dan Lebar Bahu (𝑭𝑪𝑯𝑺)
Lebar Bahu (m)
≤ 0,5 1,0 1,5 ≥ 2,0
4/2 D
VL ML M
H VH
0,96 0,94 0,92 0,88 0,84
0,98 0,97 0,95 0,92 0,88
1,01 1,00 0,98 0,95 0,92
1,03 1,02 1,00 0,98 0,96
4/2 UD
VL ML M
H VH
0,96 0,94 0,92 0,87 0,80
0,99 0,97 0,95 0,92 0,86
1,01 1,00 0,98 0,94 0,90
1,03 1,02 1,00 0,98 0,95
2/2 UD Atau Jalan Satu Arah
VL ML M
H VH
0,94 0,92 0,89 0,82 0,73
0,96 0,94 0,92 0,86 0,79
0,99 0,97 0,95 0,90 0,85
1,01 1,00 0,98 0,95 0,91
16 Tabel 2.9. Faktor Penyesuai Kapasitas (𝑭𝑪𝑯𝑺)Pengaruh Hambatan Samping dan
Jarak Kereb-Penghalang (𝑭𝑪𝑺𝑭)
Tipe Jalan
Kelas Hambatan
Samping
Faktor Penyesuaian Hambatan Samping dan Lebar Bahu (𝐅𝐂𝐇𝐒)
Lebar Kereb-Penghalang (m)
1,0 1,5
VL 0,95 0,97 0,99 1,03
ML 0,94 0,96 0,98 1,00
4/2D M 0,91 0,93 0,95 0,98
H 0,86 0,89 0,92 0,95
VH 0,81 0,85 0,88 0,92
VL 0,95 0,97 0,99 1,03
ML 0,93 0,95 0,97 1,00
4/2UD M 0,90 0,92 0,95 0,97
H 0,84 0,87 0,90 0,93
VH 0,77 0,81 0,85 0,90
2/2UD VL 0,93 0,95 0,97 0,99
atau ML 0,90 0,92 0,95 0,97
Jalan M 0,86 0,88 0,91 0,94
Satu H 0,78 0,81 0,84 0,88
Arah VH 0,68 0,72 0,77 0,82
Sumber : PKJI (2014)
2.10.5. Faktor Penyesuai Ukuran Kota
Tabel 2.10. Faktor Penyesuai Kapasitas Ukuran Kota (𝐅𝐂𝐔𝐊) Ja1an Perkotaan
Ukuran Kota
(Juta Penduduk) Faktor Penyesuai untuk Ukuran Kota (𝐅𝐂𝐔𝐊)
< 0,1 0,86
0,1-0,5 0,90
0,5-1,0 0,94
1,0-3,0 1,00
> 3,0 1,04
Sumber : PKJI (2014)
2.11. Kapasitas Persimpangan 2.11.1. Persimpangan Tak Bersinyal
Kapasitas persimpangan tak bersinyal didapatkan dengan menggunakan persamaan berikut ini :
C = 𝐶0× 𝐹𝐿𝑃× 𝐹𝑀× 𝐹𝑈𝐾× 𝐹𝐻𝑆× 𝐹𝐵𝐾𝑖× 𝐹𝐵𝐾𝑎× 𝐹𝑅𝑀𝑖 Keterangan :
17 𝐶 = Kapasitas (𝑠𝑘𝑟/𝑗𝑎𝑚)
C0 = Kapasitas dasar untuk kondisi tertentu (𝑠𝑘𝑟/𝑗𝑎𝑚)
FLP = Faktor koreksi kapasitas untuk lebar lengan persimpangan FM =Faktor koreksi kapasitas pembatas median lengan persimpangan FUK = Faktor koreksi kapasitas akibat ukuran kota
FHS = Faktor koreksi kapasitas akibat adanya tipe lingkungan jalan, gangguan samping, dan kendaraan tak bermotor
FBKi = Faktor koreksi lapangan akibat adanya pergerakan belok kiri FBKa = Faktor koreksi lapangan akibat adanya pergerakan belok kanan
FRMi = Faktor koreksi lapangan akibat adanya arus lalu lintas pada jalan minor 2.11.2. Persimpangan Bersinyal
Kapasitas persimpangan bersinyal dapat dihitung dengan menggunakan persamaan ini :
𝐶 = 𝑆 × 𝑔/𝑐 Keterangan :
𝐶 = Kapasitas (𝑠𝑘𝑟/𝑗𝑎𝑚) 𝑆 = Arus jenuh (𝑠𝑘𝑟/𝑗𝑎𝑚) 𝑔 = Waktu hijau efektif 𝑐 = Waktu siklus
𝑆 = 𝑆0× 𝐹𝐻𝑆× 𝐹𝑈𝐾 × 𝐹𝐺× 𝐹𝑃 × 𝐹𝐵𝐾𝐼× 𝐹𝐵𝐾𝐴 Keterangan :
S = Arus jenuh (𝑠𝑘𝑟/𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 ℎ𝑖𝑗𝑎𝑢 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓)
S0 = Arus jenuh dasar (𝑠𝑘𝑟/𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 ℎ𝑖𝑗𝑎𝑢 𝑒𝑓𝑒𝑡𝑖𝑘𝑡𝑖𝑓) FHS = Faktor koreksi arus jenuh akibat ukuran kota
FUK = Faktor koreksi arus jenuh akibat tipe lingkungan jalan, hambatan samping dan kendaraan tak bermotor
FG = Faktor koreksi arus jenuh akibat kelandaian jalan
FP = Faktor koreksi arus jenuh akibat adanya kegiatan perkiraan dekat lengan persimpangan
FBKi = Faktor koreksi arus jenuh belok kiri FBKa = Faktor koreksi arus jenuh belok kanan
18 2.12. Manajemen Lalu Lintas
Manajemen lalu lintas menurut Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 14 Tahun 2006 adalah upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan seluruh jaringan jalan, guna peningkatan keselamatan dan kelancaran lalu lintas.
Menurut Malkhamah (1996), Manajemen lalu lintas merupakan tahapan pengaturan dan penggunaan sistem jalan yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan tertentu tanpa perlu penambahan infrastruktur yang baru. Kegiatan pengaturan lalu lintas ini meliputi penetapan kebijakan lalu lintas dan pengawasan. Kebijakan lalu lintas dapat diterapkan pada ruas jalan tertentu antara lain rambu, marka dan lampu lalu lintas, sedangkan kegiatan pengawasan diantaranya :
1. Penilaian terhadap pelaksanaan lalu lintas;
2. Tindakan korektif terhadap pelaksanaan kebijakan lalu lintas;
3. Pemberian arahan dalam pelaksanaan kebijakan lalu lintas;
4. Pemberian penyuluhan kepada masyarakat dalam pelaksanaan kebijakan lalu lintas.
2.13. Strategi dan Teknik Manajemen Lalu Lintas
Strategi dalam memanajemen lalu lintas pada umumnya terbagi menjadi tiga yaitu:
1. Manajemen Kapasitas
Syarat utama dalam manajemen kapasitas adalah pergerakan lalu lintas yang lancar, sehingga yang pertama harus dilakukan dalam manajemen lalu lintas adalah memastikan penggunaan kapasitas dan ruas yang efektif. Teknik yang digunakan dalam manajemen kapasitas diantaranya perbaikan simpang, manajemen ruas jalan yang termasuk didalamnya pemisahan tipe kendaraan, kontrol on-street parking, pelebaran jalan serta pada area traffic control yang termasuk didalamnya batasan membelok, sistem jalan satu arah dan koordinasi lampu lalu lintas.
2. Manajemen Prioritas
Ada banyak opsi terutama pada angkutan umum karena mempunyai penumpang yang relatif banyak dan dengan ukuran yang bermacam-macam.
Teknik yang dilakukan untuk mencapai efesiensi penggunaan kapasitas dan
19 ruas jalan diantaranya jalur khusus bus, prioritas persimpangan, jalur sepeda, akses angkutan barang atau izin short term dimana kendaraan lain tidak diperbolehkan berhenti juga.
3. Manajemen Demand
Teknik yang dipergunakan dalam manajemen demand diantaranya penutupan jalan kemudian mengubah rute pada jaringan dengan tujuan memindahkan kendaraan dari daerah macet ke daerah yang tidak macet, mengubah moda perjalanan saat jam sibuk.