19
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Konsep moderasi beragama di IndonesiaMasyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang plural dan multikultural, cara pandang pemahaman moderasi beragama diperlukan agar semuanya dapat hidup damai dalam keragaman, baik ragam kepercayaan, filosofi hidup, ilmu pengetahuan, tradisi, agama, dan adat istiadat masing-masing daerah. Moderasi beragama mewajibkan pemeluk agama untuk tidak bersifat eksklusif, tidak mengurung diri, melainkan terbuka, melebur, beradaptasi, dan bergaul dengan berbagai macam kelompok komunitas juga mau belajar di samping juga memberi pelajaran. Dengan begitu, moderasi beragama akan mendorong masing-masing pemeluk agama untuk tidak berlebih-lebihan dalam menyikapi keragaman, termasuk keragaman agama, tafsir agama, selalu bersikap adil, dan seimbang sehingga dapat hidup damai dalam sebuah kesepakatan bersama (Kementrian Agama RI, 2019b).
Dalam bernegara, prinsip moderasi juga merupakan peran penting pada awal kemerdekaan yang mampu mempersatukan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan.
Mereka memiliki pemikiran yang berbeda, siasat politik masing-masing, agama, dan kepercayaan. Mereka bergerak untuk mencari titik temu serta bersama-sama menerima bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai keputusan bersama. Keikhlasan dalam menerima NKRI sebagai akhir dalam memperjuangkan kemerdekaan dari para penjajah dapat dikategorikan sebagai sikap moderat dalam menerima keberagaman.
Konsep moderasi Islam di Indonesia memiliki setidaknya lima karakteristik.
Pertama, ideologi dakwah Islam tanpa kekerasan. Kedua, mengadopsi kemajuan teknologi modern yang masih relevan dengan ajaran Islam. Ketiga, penggunaan perpaduan pikiran rasional dalam memahami ajaran Islam dengan memadukan dalil aqli dan naqli. Keempat, menggunakan pendekatan pemahaman kontekstual
dalam memahami sumber-sumber ajaran Islam. Kelima, dilaksanakan ijtihad dalam menetapkan hukum Islam. Kelima karakteristik tersebut dapat diperluas menjadi beberapa karakteristik lagi seperti kerjasama antar kelompok agama lain, toleransi, dan harmoni.
Di era globalisasi sekarang, dampak negatif teknologi dan informasi saat setiap pengguna internet mengalami kebanyakan informasi dalam dunia maya, prinsip adil dan bijak dalam moderasi beragama pada dasarnya juga dapat dijadikan sebagai nilai yang difungsikan untuk mengelola informasi juga meminimalisir ujaran kebencian, penanaman paham aliran sesar, dan berita hoax.
Moderasi beragama dapat digunakan untuk berfikir dan bertindak bijak, tidak fanatik oleh satu pandangan kelompok saja tanpa memahami dasar yang jelas, serta tanpa mempertimbangkan pandangan lainnya (Kementrian Agama RI, 2019b).
Pada prinsip keseimbangan dan adil dalam konsep moderasi beragama, seseorang dilarang berlebih-lebihan terhadap perspektifnya dan harus mencari titik tengah dan titik temu. Moderasi merupakan pemahaman penting ajaran Islam yang sering dilupakan oleh umat Islam sendiri. Padahal, wasathiyyah itu bagian dari ajaran Islam. Moderasi bukan hanya diajarkan oleh agama Islam, tapi juga agama lain yang ada di Indonesia. Lebih spesifik lagi, moderasi merupakan kebajikan yang mendorong terciptanya harmoni sosial dan keseimbangan dalam lingkungan kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat hingga hubungan sesama manusia yang lebih luas (Kamali, 2015).
Gambar 2.1 Peta konsep moderasi beragama Proses Moderasi Beragama
Hasil Sikap Toleransi Ajaran
Agama
Agama tidak dimoderasi karena agama sudah mengajarkan prinsip tersebut.
Bukan agama yang harus dimoderasi, tetapi sikap pemeluk agama dalam menjalankan agamanya yang dimoderasi. Tidak ada agama yang memberi ajaran ekstrim, tapi banyak orang yang menjalankan ajaran agama kemudian berubah menjadi ekstrim. Toleran ialah hasil yang diakibatkan oleh moderasi dalam beragama. Moderasi merupakan proses, toleransilah hasilnya. Seseorang yang moderat bisa saja tidak setuju dengan tafsir ajaran agama tertentu, tapi ia tidak akan menyalahkan orang yang berbeda pendapat dengannya. Begitu juga seorang yang moderat pasti mempunyai pemahaman dasar yang kuat atas suatu tafsir agama tertentu, tetapi ia juga tidak akan memaksakan pemahamannya berlaku untuk orang lain (Kementrian Agama RI, 2019a).
Dapat diidentifikasi dari beberapa hal lain yang wajib dipenuhi sebagai syarat untuk bermoderasi, seperti: kewajiban berpengetahuan yang komprehensif terkait beribadah. Pengetahuan yang komprehensif mengenai hukum pelaksanaan ibadah dalam agamanya. Hal tersebut sebagai pedoman umatnya untuk memilih jalan lain, meski bukan untuk menyepelekan ibadah dalam agamanya. Supaya mengedepankan prinsip kemudahan dalam beragama, sejauh dimungkinkan pelaksanaannya. Hal ini memang sulit dimiliki karena anggapannya bahwa umat tersebut harus benar-benar memahami agamanya sendiri secara komprehensif, tekstual, maupun kontekstual.
B. Landasan moderasi beragama dalam pandangan Islam Wasathiyyah Islam wasathiyyah, berasal dari dua kata yaitu Islam dan wasathiyyah. Islam sebagaimana diartikan sebagai agama yang penuh dengan keberkahan dan toleransi, dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Islam merupakan agama mayoritas yang ada di Indonesia dengan penduduk terbanyak di dunia saat ini (Ahmad Iffan, Muhammad Ridho, 2020). Wasathiyyah diartikan sebagai pemahaman berpikir, berinteraksi, dan berperilaku yang didasarkan atas sikap tawazun (seimbang) dalam menyikapi dua keadaan yang dimungkinkan untuk
mencari jalan tengah. Sehingga mampu mewujudkan sikap yang sesuai dengan kondisi dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama dan norma- norma yang berlaku.
Sikap wasathiyyah akan menghindarkan seseorang dari kecenderungan terjerumus pada sikap ekstrim (Muchlis, 2009). Wasathiyyah atau moderasi Islam sebagai sesuatu yang mengantar seseorang melakukan aktivitas yang tidak menyimpang dari ketetapan aturan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan hal ini tentunya dihadapkan dengan persoalan ekstrimisme dan radikalisme (Shihab, 2019). Islam wasathiyyah dapat diklasifikasikan menjadi empat wilayah pembahasan, yaitu:
1. Moderat dalam persoalan aqidah.
2. Moderat dalam persoalan ibadah.
3. Moderat dalam persoalan akhlak dan budi pekerti.
4. Moderat dalam persoalan pembentukan syariat (Yasid, 2010).
Keberadaan Islam moderat ini menjadi penjaga dan pengawal konsistensi Islam yang sesuai oleh ajaran Rasulullah SAW. Moderasi Islam yang sesuai tujuan Rahmatan lil ’Alamin, mestinya perlu memahami perbedaan yang mungkin terjadi, menggunakan istinbath untuk menerapkan hukum terkini, sikap toleran dalam masyarakat, mengutamakan mufakat dalam memaknai suatu perdebatan, serta menggunakan pendekatan sains dan teknologi untuk membenarkan dan mengatasi suatu masalah dalam masyarakat modern.
Semestinya perbedaan sikap menjadi sebuah keharusan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang menjadi bagian dari masyarakat dan tak dapat dipungkiri (Fahri & Zainuri, 2019).
Dalam bukunya yang berjudul “Islam yang Saya Pahami” Shihab menjelaskan beberapa sejarah kisah Nabi yang dapat dipetik dari situ nilai-nilai keteladanan dalam berwarganegara. Selain langkah pencegahan aksi fanatisme, terorisme, liberalisme, dalam bermasyarakat dan bernegara, masyarakat juga
harus memiliki cara berpikir yang baik dan benar agar mampu bersikap bijaksana dalam menanggapi perbedaan pendapat. Sangat berbeda dengan sekarang yang semakin melonjaknya perbedaan pendapat yang mencuat, baik dari segi keagamaan maupun kewarganegaraan. Pandangan Islam tidak menyepelekan dan merendahkan kewarganegaraan, Islam tetap mementingkan kepentingan baik bersama seluruh manusia tanpa memandang suku, agama, ras, dan budaya.
Dengan diperkuat dasar pemikiran M. Quraish Shihab, secara historis jika dilihat dari kisah khulafaurrasyidin, perbedaan pendapat antara kaum muslimin sudah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Perbedaan pendapat pada masa itu bisa diselesaikan dengan jalan tengah yang baik karena Rasulullah SAW ada diantara mereka. Beliau membenarkan suatu masalah, dan tidak membenarkan suatu masalah, tetapi seringkali membenarkan kedua pendapat. Dapat dikatakan bahwa umat Islam saat itu tidak mengalami perpecahan yang mencuat. Sebagai contoh kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang merupakan kelompok berbeda, namun mereka menyatu dalam persaudaraan Islam dan saling membantu (Shihab, 2020).
Dasar moderasi Islam yang terdapat pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 143 berikut:
ىَلَع َءٰٓاَدَهُش ا ْوُن ْوُکَتِ ل ا طَس َّو ةَّمُا ْمُك نْلَعَج َكِل ذَك َو َتْنُك ْيِتَّلا َةَلْبِقْلا اَنْلَعَج اَم َو ًؕا دْيِهَش ْمُكْيَلَع ُل ْوُس َّرلا َن ْوُكَي َو ِساَّنلا
َّلِْا ة َرْيِبَكَل ْتَناَك ْنِا َو ًِؕهْيَبِقَع ى لَع ُبِلَقْنَّي ْنَّمِم َل ْوُس َّرلا ُعِبَّتَّي ْنَم َمَلْعَنِل َّلِْآٰاَهْيَلَع ًُّؕالل ىَدَه َنْيِذَّلا ىَلَع
ُ ّالل َناَك اَم َو
ٌمْي ِح َّر ٌف ْوُء َرَل ِساَّنلاِب َ ّالل َّنِا ًْؕمُكَناَمْيِاَعْي ِضُيِل
۞
Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”.
Terdapat kata ummatan washatan yang dilukiskan seperti manusia tidak dijadikan sebagai pemihak yang kiri maupun yang kanan. Juga menjadikan
ummatan washatan tersebut dapat dilihat dari perspektif yang berbeda-beda, dan
menjadi contoh yang baik bagi semua pihak.
Hal tersebut juga dijelaskan pula pada Surat Ali Imran ayat 110
ًِّؕللاِب َن ْوُنِم ْؤُت َو ِرَكْنُمْلا ِنَع َن ْوَهْنَت َو ِف ْوُرْعَمْلاِب َن ْوُرُمْأَت ِساَّنلِل ْتَج ِرْخُا ٍةَّمُا َرْيَخ ْمُتْنُك َنَم ا ْوَل َو
َن ْوُقِس فْلا ُمُه ُرَثْكَا َو َن ْوُنِمْؤُمْلا ُمُهْنِم ًْؕمُهَّل ا رْيَخ َناَكَل ِب تِكْلا ُلْهَا ۞
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
Seseorang yang bermoderasi/menerapkan moderasi beragama adalah siapa yang beriman kepada Allah SWT menyeru kepada kebaikan, dan melarang kepada keburukan. Sikap menyeru kepada kebaikan dan melarang kepada keburukan inilah yang menjadi permasalahan sekarang ini dalam penyampaiannya yang agaknya kurang memperhatikan hal-hal lain sehingga dalam moderasi beragama harus diiringi juga dengan sikap kehati-hatian (Shihab, 2019).
Disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits akan pentingnya sikap moderat dan posisi umat Islam sebagai umat penengah diantara yang lainnya. Karakteristik ini dapat menjadi rumusan untuk mengatasi beragam persoalan umat manusia di era modern. Persoalan seperti radikalisme keagamaan, takfir, fanatisme buta, yang tentunya memerlukan sebuah sikap proporsional dan adil yang teridentifikasikan dalam sebuah konsep yaitu wasathiyyah. Quraish Shihab yang menafsirkan bahwa Q.S. Al-Baqarah ayat 143 umat Islam dijadikan umat pertengahan, moderat, dan teladan, sehingga dengan demikian keberadaan umat Islam dalam posisi tengah-tengah. Posisi pertengahan mengharuskan manusia tidak memihak ke kiri dan kanan, tentunya dapat dilihat perspektif yang berbeda juga mengantarkan manusia berlaku adil dan dapat menjadi teladan bagi semua pihak (Shihab, 2019).
Umat Islam akan menjadi saksi atas perbuatan manusia di masa mendatang, tentu kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa adanya konflik di masa mendatang.
Ummatan wasathan inilah yang akan menjadi rujukan dan saksi tentang kebenaran dan kezaliman di masa mendatang. Banyaknya masalah dalam menemukan standar terbaik sebagai umat yang moderat merupakan hal yang sangat kompleks. Sikap moderat tidak hanya berlaku terhadap sesama pemeluk Islam, tapi juga dengan agama lain. Melacak gambaran sikap moderat yang diajarkan oleh Islam tentu harus merujuk kepada pegangan utama Islam yakni, Al-Qur’an dan Sunnah (Zamimah, 2018).
Gambar 2.2 Peta konsep Islam Wasathiyyah
Dari skema gambar di atas sudah jelas bahwa wasathiyyah merupakan sikap jalan tengah antara penggunaan wahyu dan rasio akal manusia sehingga dimungkinkan dapat terjadi penyesuaian terhadap perubahan-perubahan di masyarakat sepanjang tidak melawan dan bertentangan dengan ajaran Islam.
Islam wasathiyyah memahami dan mengakui perbedaan yang mungkin terjadi di masyarakat. Islam wasathiyyah selalu mengutamakan kontekstualisasi dalam menafsirkan dan memaknai sumber pokok agama Islam, dan tidak hanya sebatas tafsir tekstual saja (Adya et al., 2020).
Istilah Wasathiyyah dalam ajaran Islam yang mengarahkan umatnya agar adil, seimbang, bermaslahat dan bijaksana, atau sering disebut dengan moderat dalam semua dimensi kehidupan. Wasathiyyah dewasa ini telah menjadi wacana ke- Islaman yang mampu membawa umat Islam lebih bijaksana serta mampu berinteraksi dengan peradaban modern di era globalisasi. Wasathiyyah bukanlah sesuatu yang baru muncul di abad 20 M. Tapi wasathiyyah Islam telah ada seiring
Pokok Agama
Tafsir Agama Islam
Wasathiyyah
dengan turunnya wahyu dan munculnya Islam di muka bumi pada 14 abad yang lampau. Hal ini dapat dilihat dan dirasakan oleh umat Islam yang melaksanakan ajaran Islam yang sebenar-benarnya (Arif, 2020).
Quraish Shihab menyimpulkan bahwa hakikat wasathiyyah merupakan keseimbangan dalam segala persoalan hidup duniawi dan ukhrawi, yang selalu harus disertai upaya penyesuaian diri dengan situasi yang dihadapkan berdasarkan petunjuk agama dan kondisi objektif yang sedang dialami. Dalam artian, wasathiyyah ini tidak sekedar menghidangkan dua kutub yang berbeda lalu memilih apa yang ada di tengahnya, tapi juga disertai dengan prinsip tidak berkekurangan dan tidak berlebihan. Wasathiyyah ini adalah bentuk dari proses yang terus-menerus berlangsung karena sifatnya yang dinamis mengikuti perkembangan zaman dalam menanggapi keseimbangan antara jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, individu dan masyarakat, idealisme dan realitas, agama, negara, modernitas, tradisi, dan seterusnya (Shihab, 2019). Maka menurut hemat penulis dapat dianggap bahwa wasathiyyah atau moderasi ini sikap bijak, adil, dan seimbang dalam segala penyelesaian masalah.
C. Moderasi beragama di lingkungan sekolah
Setelah penjelasan mengenai moderasi beragama di atas secara umum, sesuai fokus pembahasan yang diteliti oleh penulis. Maka dapat disamakan bahwa moderasi beragama di skala kewarganegaraan maupun di lembaga pendidikan khususnya sekolah sama saja. Hanya saja sekolah yang dijadikan tempat penelitian oleh penulis di sini kebetulan tidak ada peserta didik yang beragama non-Islam. Meskipun pihak SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang secara terbuka menerima peserta didik yang beragama non-Islam, akan tetapi ketika penulis melakukan penelitian di sekolah ini, seluruh peserta didik di SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang beragama Islam.
Lebih detail lagi, dikarenakan latar belakang dari objek penelitian tersebut tidak ada peserta didik non-Islam di SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang. Maka
hal yang peneliti perhatikan di sini adalah moderasi Islam atau wasathiyyah yang terbangun dan terjalin hubungan dengan sesama ummat Islam. Di sekolah adanya proses belajar, membimbing, mengarahkan, dan memberi contoh tidak lepas kaitannya juga dengan Q.S. Ali Imran ayat 104 mengenai amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini yang kita perlu tekankan bukan mengenai menyeru kepada kebaikan dan melarang kepada keburukan, akan tetapi cara penyampaiannya.
Kecenderungan mengajak dan menyuruh ini juga bisa mempengaruhi kebiasaan peserta didik secara psikologis bagaimana pendidik bisa secara maksimal menjadi contoh bagi peserta didiknya. Hal ini juga perlu ditekankan agar ketika ada peserta didik yang diberi teguran oleh guru, tidak timbul masalah lain dan nasihat yang disampaikan dapat dimengerti.
Di SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang ini memiliki banyak keanekaragaman latar belakang peserta didik yang berbeda-beda. Ada yang dari kalangan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, LDII, dll. Paling tidak, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam hal tersebut. Penanaman nilai-nilai religius tidak boleh dipaksa, tapi disampaikan secara lemah lembut dalam bentuk pendekatan serta ajakan kepada kebaikan. Pendekatan tersebut diupayakan agar peserta didik dapat terhindar dari pola pikir yang keliru dan mendahulukan emosi ketika terdapat perselisihan. Menurut Shihab, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai Islam wasathiyyah ini. Jika dipadukan, pendapat ini yang bersifat umum pada penerapan moderasi Islam dalam lingkungan luas, dan objek penelitian penulis merupakan masyarakat yang lebih spesifik yakni SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pemahaman terhadap Fiqh Al-Maqashid berfungsi sebagai studi tentang latar belakang dari satu ketetapan hukum, bukan sekedar pengetahuan tekstual.
2. Pemahaman terhadap Fiqh Al-Awlawiyat berfungsi sebagai pemilah apa yang terpenting dari yang penting dan yang penting dari yang tidak
penting. Kesalahan dalam hal ini dapat mengakibatkan didahulukannya apa yang mestinya ditangguhkan.
3. Pemahaman terhadap Fiqh Al-Muwazanat berfungsi sebagai pembanding kadar kebaikan untuk dipilih mana yang lebih baik. Demikian juga membandingkan antara kebaikan dan keburukan yang atas dasar ditetapkannya dalam kaidah “Menghilangkan keburukan lebih diutamakan daripada mendatangkan kebaikan”.
4. Pemahaman terhadap Fiqh Al-Ma’alat berfungsi untuk meninjau akibat dari pilihan, apakah mencapai tujuan yang diharapkan atau sebaliknya yang berkaitan dengan dampak kebajikan tertentu (Shihab, 2019).
Kemudian ciri-ciri wasathiyyah yang sesuai dengan aspek ajaran Islam menurut Quraish Shihab ada 3 pokok antara lain:
1. Wasathiyyah akidahnya (iman/kepercayaan yang tidak berlebihan juga tidak berkurangan).
2. Wasathiyyah syari’ahnya (ketetapan hukum Islam dalam beribadah baik ritual maupun non-ritual).
3. Wasathiyyah akhlaknya (berbudi pekerti yang baik).
Pembagian aspek pokok dalam ciri-ciri wasathiyyah ini merupakan pembagan teoritis dalam kajian ilmiah dan teknis pembelajaran. Bahwa 3 pokok ini sangat penting dan saling berkaitan antara akidah, syari’ah, akhlak harus menyatu. Pengalaman tidak terlepas dari iman, amal tidak sah tanpa iman, iman juga menuntut pengalaman. Demikian juga akhlak yang berlaku baik secara vertikal maupun horizontal (Shihab, 2019). Yang mana jika dikaitkan dengan pembahasan penulis yakni moderasi di sekolah, pastinya ada penanaman nilai- nilai akidah oleh guru yang mestinya ditanamkan dengan baik dan pada porsinya untuk menciptakan pemahaman siswa/i yang moderat dan tidak ekstrim.
Kemudian beribadah dan beramal sesuai dengan porsinya, setelah nilai-nilai akidah Islam ini ditanamkan kepada siswa/i maka dapat dilanjutkan diikuti dengan
pembiasaan beribadah dan beramal yang takarannya pada porsinya pula. Pada poin terakhir adalah akhlak ini sangat ditekankan karena memuat value tidak hanya sebatas pemahaman dan kemampuan saja tetapi harus disertai aspek sosial dan afektif yang menjadi pengaruh besar dalam proses penanaman akhlak yang Islami.
Perumusan karakter wasathiyyah sebagai indikator untuk menerapkan sikap moderat pada pemahaman dan praktik amaliah keagamaan bagi seluruh warga sekolah dapat diperinci sebagai berikut:
1. Tawassuth (tengah-tengah), mengambil jalan tengah, tidak berlebihan, dan tidak meremehkan substansi.
2. Tawazun (seimbang), memahami agama dengan seimbang dalam segala hal, baik secara dunia maupun akhirat, sehingga dapat diterapkan sesuai porsinya, dan tidak ada kewajiban yang terlewat.
3. I’tidal (tegak lurus), menegakkan sesuatu pada tempatnya tanpa menambah dan mengurangi substansinya.
4. Tasamuh (berbuat baik terhadap sesama), sikap akhlak terpuji yang terdapat dalam pergaulan dimana terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas tertentu.
5. Musawamah (egaliter/adil), berlaku adil dengan orang lain meskipun berbeda derajat, suku, ras, dan agama.
6. Ishlah (reformasi), mengadakan pembaharuan menjadi lebih baik.
7. Syura (musyawarah), pengambilan keputusan melalui musyawarah.
8. Aulawiyah (berprioritas), memiliki pemikiran yang luwes dan bisa memilih yang prioritas. Karena agama tidak bersifat statis namun dapat dipahami secara fleksibel dalam kondisi tertentu.
9. Tathawur wa Ibtikar (dinamis dan inovatif), selalu memiliki pikiran terbuka untuk melakukan ide-ide baru untuk mendukung perubahan lebih baik.
10. Tahaddhur (beradab), sebagai umat terbaik maka menjunjung tinggi akhlaqul karimah (Afrizal Nur, 2015).
Tujuan utama dalam konteks moderasi beragama oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, ke dalam dunia pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan agaknya menjadi power pertama dalam penanaman nilai-nilai dan penguatan moderasi beragama, seperti dengan melakukan pembaharuan kurikulum dan materi belajar mengajar yang mengandung nilai-nilai moderasi beragama. Kementerian Agama wajib memastikan bahwa semua kurikulum di lembaga pendidikan di bawah naungannya, bermuatan nilai-nilai moderasi beragama. Seluruh kegiatan belajar mengajar sedapat mungkin mempunyai wawasan moderasi beragama, terutama mata pelajaran yang berdimensi sosial, politik, dan keagamaan. Dan sumber belajar lainnya baik berupa buku, gambar, audio-visual, yang dapat memperkuat nilai nasionalisme, toleransi, dan sikap anti-radikalisme. Konten media sosial yang bisa menjadi sumber belajar anak juga harus diperbanyak dengan konten moderasi beragama (Kementrian Agama RI, 2019b).
Selain pada kurikulum, penguatan moderasi beragama di jalur pendidikan juga harus tertuju kepada pendidik yang menjadi peran penting, karena pendidik berperan sebagai sumber informasi, pengetahuan, dan penanaman nilai-nilai tertentu pada peserta didik. Pendidik di sini bukan saja yang mengemban materi keagamaan, tapi semua bidang. Pendidik harus memiliki pemahaman pandangan moderasi beragama. Pendidik bukannya malah menjadi juru bicara kelompok yang anti-pancasila, menanamkan nilai-nilai intoleransi, dan mengarahkan peserta didik mempunyai cara pandang yang radikal, dan mengajarkan kekerasan.
Lembaga pendidikan yang harus menjadi roda penggerak moderasi beragama secara menyeluruh baik lembaga pendidikan yang formal maupun non-formal, termasuk TPQ, pesantren, majelis taklim, sekolah minggu, boarding school, dan
madrasah diniyah. Sejumlah survey menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama masuknya pemahaman radikal dan intoleransi di lembaga pendidikan. Pertama, kegiatan ekstrakurikuler. Kedua, peran pendidik dalam kegiatan belajar mengajar.
Ketiga, melalui kebijakan yang lemah dalam mengontrol masuknya radikalisme.
Oleh karenanya, perlunya kehati-hatian pada tiga aspek tersebut (Kementrian Agama RI, 2019b).