• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Debu

a. Pengertian Debu

Debu adalah partikel zat padat yang memiliki diameter 0,1-50 mikron atau lebih yang disebabkan karena proses pengolahan, penghancuran, pelembutan, pengepakan, penenunan kapas, peledakan bahan organik maupun anorganik seperti batu, bijih logam, arang batu dan lain-lain (Suma'mur, 2014). Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2003 debu adalah partikel yang berukuran kecil dihasilkan oleh proses mekanis yang berukuran kecil sebagai hasil dari suatu proses alami maupun mekanik.

Debu kapas biasanya terdapat di udara tempat kerja yang terdapat proses penanganan dan pengolahan kapas. Kegiatan pada industri tekstil selalu menghasilkan limbah atau serat-serat kapas baru atau serat kapas dari produk-produk tekstil yang menghasilkan debu kapas. Debu kapas yang bukan merupakan serat kapas adalah penyebab dari penyakit paru yaitu Byssinosis (Berry, et al., 2007).

Debu kapas yang terhirup masuk mampu merusak struktur normal paru-paru dengan melepas histamin yang dapat mengkontriksi saluran pernapasan. Debu kapas lalu akan terakumulasi di dalam paru-

commit to user

digilib.uns.ac.id

(2)

paru dan menyebabkan pernapasan menjadi sulit seiring dengan periode waktu serta menyebabkan paru-paru menjadi berwana cokelat..

Debu kapas dapat menyebabkan efek kesehatan lain yang sangat merugikan melalui proses inhalasi (pernapasan). Pertama, untuk paparan jangka pendek debu kapas dapat menyebabkan bronkitis dan byssinosis akut yaitu penyakit pernapasan yang bersifat reversibel.

Selanjutnya, dalam paparan jangka panjang (kronis) debu kapas dapat menyebabkan obstruksi jalan napas paru (mengurangi kapasitas ventilasi) hingga menyebabkan kecacatan paru dan kematian dini.

Menurut NIOH (2012) dalam Prasetyo (2016) mengungkapkan bahwa debu kapas mampu menyebabkan penyakit byssinosis. Debu kapas dapat diklasifikasikan menurut ukuran partikelnya ke dalam empat jenis yaitu: Trash berukuran > 500 µm, Dust berukuran 50-100 µm, micro dust berukuran 15-50 µm, dan breathable dust berukuran

<15 µm.

b. Sifat-sifat Debu

Menurut Siswanto (1991) dalam Imaduddin (2012) mengungkapkan bahwa sifat-sifat debu terdiri dari:

1) Sifat permukaan basah

Debu dapat bersifat basah karena dilapisi oleh lapisan air yang sangat tipis. Sifat debu yang basah seperti ini dapat dimanfaatkan untuk pengendalian debu di tempat kerja.

commit to user

(3)

2) Sifat pengendapan

Debu bersifat cenderung selalu mengendap karena adanya gaya gravitasi bumi. Ukuran debu yang relatif kecil terkadang juga bisa melayang-layang di udara.

3) Sifat penggumpalan

Debu dapat menggumpal satu sama lain dikarenakan permukaan debu yang basah serta adanya pengaruh tekanan udara juga dapat meningkatkan pembentukan penggumpalan debu.

Kelembaban udara dibawah saturasi, memiliki pengaruh kecil terhadap penggumpalan debu sedangkan kelembaban udara yang melebihi tingkat huminitas diatas titik saturasi dapat mempermudah penggumpalan debu.

4) Sifat listrik statis

Debu bersifat listrik statis karena dapat saling Tarik-menarik dengan partikel-partikel debu lain yang saling berlawanan.

5) Sifat optis

Sifat debu yang basah dan lembab akan dapat berkilau seakan memancarkan sinar sehingga dapat dilihat dalam keadaan ruangan yang gelap.

Debu dibedakan atas dasar sifatnya dan juga didasarkan pada efeknya. Secara garis besar, ada tiga macam debu, yaitu (Depkes RI, 2003):

1) Debu Organik contohnya debu kapas, debu daun tembakau dll.

10 digilib.uns.ac.id

(4)

2) Debu Mineral contohnya silicon dioksida dan silicon trioksida.

3) Debu Metal contohnya timah hitam, merkuri, aseton dll.

c. Reaktifitas Debu

Menurut Suma'mur (1996) mengungkapkan bahwa debu mampu menimbulkan gangguan kesehatan disebabkan oleh:

1) Solubility

Bahan kimia penyusun debu dibagi menjadi dua yaitu mudah larut dan tidak mudah larut. Bahan yang mudah larut dapat langsung memasuki pembuluh darah kapiler alveoli sedangkan bahan yang tidak mudah larut memiliki ukuran yang kecil sehingga dapat memasuki dinding alveoli-saluran limpa-kapiler darah/saluran kelenjar limpa-dinding alveoli ke ruang peribronchial lalu keluar menuju bronchiole oleh rambut-rambut getar dikembalikan ke atas.

2) Komposisi kimia debu a) Inert dust

Debu golongan ini memiliki efek yang sangat sedikit atau tidak ada sama sekali bagi sistem pernapasan manusia normal sehingga tidak dapat menyebabkan kerusakan atau fibrosis paru

b) Poliferatif dust

Debu golongan ini dapat masuk ke dalam paru lalu membentuk jaringan parut atau fibrosis paru. Fibrosis commit to user

(5)

paru menyebabkan pengerasan pada jaringan alveoli sehingga mengganggu sistem fungsi paru. Debu golongan ini dapat menyebabkan fibrocytic pneumoconiosis yang biasanya berasal dari debu silika, debu asbes, kapas, berilium, dan sebagainya.

c) Debu non inert dust dan non poliferatif dust

Debu golongan ini hanya dapat menimbulkan efek iritasi pada paru yang disebabkan oleh debu yang bersifat asam atau asam kuat.

3) Konsentrasi debu

Apabila semakin tinggi tingkat konsentrasi debu di tempat kerja maka semakin besar pula kemungkinan keracunannya.

4) Ukuran partikel debu

Ukuran partikel debu yang besar akan mudah ditangkap oleh saluran napas bagian atas.

d. Macam-macam Debu

Menurut Darmawan (2013), debu berdasarkan macamnya dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu:

1) Debu Organik yaitu: debu kapas, debu daun daunan, tembakau dan sebagainya.

2) Debu Mineral, merupakan senyawa komplek: SiO2, SiO3, arang batu, dll.

12 12 digilib.uns.ac.id

(6)

3) Debu Mineral debu yang memiliki unsur logam: Pb, Hg, Cd, Arsen, dll.

e. Anatomi dan Fisiologi Saluran Pernapasan Manusia

Paru-paru merupakan organ yang paling penting pada proses respirasi. Paru-paru juga berfungsi menyaring partikel/gas toksik yang ikut terhirup bersama udara inspirasi guna melindungi proses pertukaran gas pada alveolus. Apabila seseorang terlalu lama berada dalam lingkungan yang mengandung gas atau partikel debu akan dapat mengakibatkan gangguan pada organ saluran pernapasan, sehingga menimbulkan berbagai jenis penyakit paru. Pekerja di sektor industri umumnya terpapar polusi gas/bahan-bahan kimia toksik pada kosentrasi yang tinggi sehingga menyebabkan pekerja akan menderita gangguan kesehatan. Menurut International Labour Organization (ILO) diagnosis penyakit paru kerja yang disebabkan oleh penimbunan debu dapat melalui pemeriksaan radiologis (Sujoso, 2012).

Menurut Soemanri (2009) dalam Irjayanti (2012) mengungkapkan bahwa sistem pernapasan melalui 2 (dua) proses, antara lain sebagai berikut:

1) Pernapasan Dalam (Interna) yaitu, melalui pertukaran gas antar sel- sel dan medium cairnya, artinya pernapasan dalam (interna) melalui metabolisme intraseluler yang terjadi di mitokondria, proses yang dilakukan yaitu meliputi konsumsi O2 dan CO2 serta pengambilan energi.

commit to user

(7)

2) Pernapasan Luar (Eksterna), yaitu melalui proses absorbsi O2 dan pembuangan CO2 dari tubuh menuju lingkungan luar, melalui urutan yakni.

a) Pertukaran udara dalam alveoli melalui proses mekanik pernapasan, disebut sebagai proses ventilasi.

b) Pertukaran O2 dan CO2, oleh alveoli darah di dalam pembuluh kapiler paru-paru, disebut sebagai proses difusi.

c) Pengangkutan O2 dan CO2 oleh sistem peredaran darah bermula dari paru-paru ke jaringan begitu pula sebaliknya.

d) Pertukaran O2 dan CO2 melalui proses difusi dari pembuluh kapiler jaringan dan sel-sel jaringan kemudian masuk ke dalam pernapasan interna. Respirasi ini ialah gabungan dari berbagai mekanisme dalam proses suplai O2 ke seluruh tubuh dan pembuangan CO2 (hasil pembakaran sel).

Respirasi ini berfungsi menjamin tersedianya O2 dalam kelangsungan metabolise sel-sel tubuh serta mengeluarkan CO2 yang merupakan hasil metabolisme sel.

14 digilib.uns.ac.id

(8)

Gambar 1. Organ Sistem Pernapasan

Sumber: Smith, Byron. Energy and The Human Body Background Material. Canada: The Everest 2000; 2000.

Menurut Siswanto (1991) dalam Imaddudin (2012) mengungkapkan bahwa udara masuk kedalam paru melalui rongga hidung, pharing, laring, trachea, bronkus, bronkioli terminal, bronkioli respiratoris ductus alveolaris, serta alveoli.

1) Rongga hidung, yang terdiri dari:

a) Flexus venosus, merupakan anyaman pembuluh darah yang saling berhubungan, berfungsi untuk pemanasan udara yang masuk melalui hidung. Didalam keadaan alergi, infeksi, flexus venosus ini dapat mengembang dan menyebabkan rasa sesak saat bernapas.

commit to user

(9)

b) Kelenjar lendir, yaitu mengatur kelembapan udara dan menangkap partikel yang masuk ke rongga hidung, dan juga berfungsi membersihkan udara yang masuk.

c) Sinus-sinus dan sekat rongga hidung, yaitu untuk memperluas permukaan rongga hidung sehingga proses pencampuran, pembasahan dan pembersihan udara di rongga hidung berlangsung sempurna.

d) Rambut getar, untuk menyaring partikel-partikel yang berukuran lebih dari 20 mikron tersaring di rongga hidung.

e) Pharing

Persimpangan saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Saat makanan lewat, laring ditarik keatas kemudian ditekan pada pangkal lidah, sehingga epiglotis menutup jalan napas, pada saat inilah pernapasan dihentikan sesaat.

f) Laring

Pita suara terdapat pada laring yang selama ini menghasilkan suara kita, berfungsi untuk berfonasi (bersuara) dan yang terpenting untuk mekanisme pertahan paru. Saat kita batuk dan terpapar gas beracun atau gas iritan maka secara reflex pita suara menutup.

16 digilib.uns.ac.id

(10)

g) Trachea dan bronkus

Pada bagian saluran pernapasan ini terdapat silia (rambut getar) dan sel-sel goblet yang berfungsi untuk memproduksi mucus. Mukus tersebut bersama dengan partikel yang tertangkap olehnya secara terus-menerus dikeluarkan oleh silia yang selalu bergerak kearah atas (laring) atau melalui batuk secara refleks.

Sistem saluaran napas dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:

(1) Conductive airways, yaitu bagian dari saluran atau sistem pernapasan yang berfungsi sebagai penghatar udara.

Conductive airways ini bermula dari trachea sampai ke bronkioli terminalis.

(2) Respiratory airways, yaitu bagian saluran napas yang berfungsi untuk pertukaran udara (respiratorik). Bagian ini bermula dari respiratory bronchioles, ductus alveolaris, dan alveoli. Terdapat pertukaran udara antara udara didalam kapiler-kapiler pembuluh darah dengan udara didalam paru.

Respiratory airways memiliki dinding sangat tipis dan tidak dilengkapi dengan silia atau sel kelenjar mucus.

h) Paru-paru

Seluruh permukaan paru tertutup oleh selaput yang disebut pleura visceralis. Pada hilus pulmonalis, pleura visceralis ini membalik lalu menyelimuti dinding rongga dada, diafragma dan mediastinum. Selaput ini kemudian dinamakan

commit to user

(11)

pleura parietalis. Antara pleura visceralis dan pleura parietalis terdapat ruangan yang disebut cavum interpleuralis yang selalu terisi dengan udara. Apabila tekanannya tinggi maka menekan paru-paru sehingga menyebabkan terjadinya pneumothorax.

a. Mekanisme Penimbunan Partikel Debu

Menempelnya partikel debu di nasofaring dan trakeobronkial serta terdesposisinya di alveoli mengikuti mekanisme sebagai berikut (Soedirman & Suma'mur, 2014):

1) Inertia atau kelembaman atau gaya sentrifugal dari gerakan membelok atau berputar partikel berukuran ≥ 5-10 mikron dalam saluran yang tidak lurus. Partikel yang berukuran besar tidak ikut membelok bersama-sama udara, melainkan terlempar keluar dari lintasan gerak kemudian membentur dinding saluran napas dan menempel pada selaput lendir mukosa.

2) Sedimentasi partikel debu berukuran ≥ 3-5 mikron dalam bronki dan bronkiolus, karena pada saluran pernapasan ini kecepatan aliran udara sangat kecil yaitu 1 cm/detik. Akibatnya, partikel debu terkena gaya tarik bumi sehingga partikel debu mengendap dan menempel di dinding saluran pernapasan.

3) Partikel debu yang memiliki ukuran ≥ 0,1-1 mikron sulit mengendap sehingga mengikuti gerakan udara bolak-balik dalam saluran pernapasan, ada kemungkinan partikel debu menempel di dinding bronki dan bronkiolus oleh gaya sentrifugal atau gaya tarik bumi.

18 digilib.uns.ac.id

(12)

4) Gerak Brown dari partikel debu berukuran ≤ 0,1 mikron mengakibatkan partikel debu membentur alveoli dan terdesposisi.

Partikel debu yang terdesposisi di nasofaring dan trakeobronkial akan mengalami (Soedirman & Suma'mur, 2014) :

1) Bergeser ke atas oleh gerakan mukosa dan getaran silia, dengan kecepatan 3 cm/jam dalam nasofaring dan 1 cm/jam dalam bronkus tertius dan bronkioli, yang setelah sampai di persimpangan jalan napas dan jalan makanan, kemudian tertelan bersama-sama ludah atau makanan/minuman.

2) Merangsang batuk sehingga dapat mengakibatkan partikel debu bersama keluarnya lendir dari permukaan dalam nasofaring.

3) Partikel debu dalam alveoli mungkin menyusup sampai lubang permukaan alveoli dan setelah dekat dengan batas bronkiolus, tertangkap oleh silia, yang karena getarannya akan bergerak sampai ke saluran pernapasan bawah dan atas.

4) Apabila partikel debu merupakan senyawa kimia yang mudah larut dalam air atau cairan tubuh, maka senyawa kimia tersebut akan larut dan langsung diabsorpsi oleh darah melalui kapiler alveoli, masuk ke pembuluh darah dan disebarkan ke seluruh tubuh sehingga mencapai organ terget atau tempat terjadinya efek toksik.

5) Apabila partikel debu mempunyai ukuran yang kecil dan tidak larut dalam air atau cairan tubuh, maka partikel tersebut dapat masuk ke dinding alveoli kemudian menuju saluran limfa atau ruang commit to user

(13)

peribronkial.

6) Dimakan oleh sel darah putih yang biasanya histosit atau inti atau sel-sel mesenkim yang tidak berdiferensiasi, yang memasuki saluran limfe atau dinding alveoli ke ruang peribronkial atau keluar bronkiolus, mencapai silia yang bergetar kemudain ke atas.

g. Nilai Ambang Batas (NAB)

Menurut Permenakertrans No. 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja bahwa Nilai Ambang Batas (NAB) adalah standar faktor bahaya di tempat kerja sebagai intensitas rata-rata tertimbang waktu (time weighted average) yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan gangguan kesehatan dalam pekerjaan yaitu untuk waktu yang tidak melebihi dari 8 jam perhari atau 40 jam seminggu.

Nilai Ambang Batas (NAB) kadar debu kapas total menurut SNI 19-0232-2005 tentang Nilai Ambang Batas Zat Kimia di Udara Tempat Kerja adalah 0,2 mg/m3, apabila kadar debu melebihi NAB dapat mengakibatkan Bronchitis, Gangguan fungsi paru, dan Byssinosis.

h. Pengukuran Kadar Debu

Pengukuran kadar debu bertujuan untuk mengetahui kondisi lingkungan kerja aman dan sehat serta berada pada konsentrasi yang sesuai bagi pekerja apakah kadar debu tersebut berada di bawah atau di atas nilai ambang batas (NAB). Hasil pengukuran kadar debu kapas total dijadikan pedoman oleh pihak pengusaha ataupun instansi terkait untuk merumuskan kebijakan yang tepat untuk menjaga lingkungan 20 digilib.uns.ac.id

(14)

kerja tetap sehat dan aman bagi pekerja sehingga dapat mengurangi penyakit akibat kerja.

Menurut Rahmadhani (2017) pengukuran kadar debu di udara biasanya dilakukan dengan metode gravimetric, yaitu dengan cara menghisap udara pada volume tertentu dengan melalui saringan serat gelas/kertas saring. Berikut ini alat-alat yang biasa digunakan dalam pengambilan sampel debu total (TSP) di udara yaitu:

1) High Volume Sampler (HVS)

Alat ukur kadar debu kapas yang menggunakan pompa berkecepatan 1,1-1,7 m³/menit sehingga partikel debu berdiameter 0,1-10 mikron akan terhisap masuk bersama aliran udara melewati saringan dan berakhir pada permukaan serat gelas. Alat ini dapat digunakan untuk pengukuran selama 24 jam namun apabila kandungan partikel debu sangat tinggi maka waktu pengukuran dapat dikurangi menjadi 6–8 jam.

2) Personal Dust Sampler (LVDS)

Alat ukur kadar debu ini memiliki flow rate 2 liter/menit dan dapat menangkap debu berukuran <10 mikron. Alat ini dapat digunakan untuk menentukan Respiral Dust (RD) di udara atau mengukur debu yang terhirup oleh hidung manusia selama bernafas.

Alat ini biasanya digunakan pada lingkungan kerja yang berdebu dan dipasang pada pinggang pekerja karena ukurannya yang sangat kecil.

commit to user

(15)

i. Upaya pengendalian kadar debu di tempat kerja

Menurut Siswanto (1991) dalam Imaduddin (2012) diperlukan upaya pengendalian untuk melindungi pekerja dari bahaya yang ada.

Upaya pengendalian ada 3 jenis, yaitu:

1) Pengendalian teknik

Sasaran dari pengendalian teknik adalah menghilangkan bahaya yang ada secara langsung dan memiliki efektifitas yang tidak tergantung dari perilaku pekerja.

a) Isolasi sumber kontaminan

Isolasi sumber kontaminan dilakukan untuk mengisolasi sumber bahaya, supaya tenaga kerja tidak bersinggungan langsung dengan zat-zat berbahaya.

b) Subtitusi

Mengganti jenis bahan yang berbahaya dengan jenis bahan yang kurang berbahaya tetapi dengan tidak mengurangi kualitas bahan.

c) Ventilasi

Ventilasi merupakan proses suplay (pengaliran) dan exhaust (pengeluaran) dengan mengalirkan udara segar ke dalam ruang kerja melalui jendela atau pintu, agar udara yang dihirup aman dari bahan yang berbahaya.

Ventilasi sangat diperlukan untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara, bau-bauan, zat-zat pencemar, dan uap-

22 digilib.uns.ac.id

(16)

uap larutan bahan kimia yang mudah terbakar/meledak. Upaya pengendalian ventilasi tersebut memiliki dua cara yaitu:

(1) Ventilasi umum

Melalui proses mengalirkan udara bersih ke dalam ruanagan atau tempat kerja dan mengeluarkan udara yang kotor untuk menciptakan kondisi kerja yang nyaman.

Ventilasi umum dapat diterapkan baik secara alami maupun secara buatan ataupun perpaduan antara alami dan buatan Klasifikasi ventilasi ada 2 yaitu:

(a) Ventilasi alami

Suatu sistem ventilasi yang memiliki aliran atau gerakan udara melalui kekuatan alam (natural forces), kekuatan gravitasi (gravitational forces), kekuatan yang ditimbulkan oleh konveksi udara (thermal forces of convection) dan kekuatan angin (anmotive forces) yaitu kekuatan yang timbul karena adanya perbedaan kekuatan angin. Aliran udara didalam suatu ruangan dapat disebabkan oleh kekuatan gravitasi atau kekuatan angin atau kombinasi dari kekuatan tersebut.

Arah angin dan konveksi termis biasanya tidak menentu dan sering pula tidak bisa ditemukan atau diramalkan sebelumnya maka pemanfaatan

commit to user

(17)

ventilasi alami untuk pengendalian kadar kontaminan dalam udara tempat kerja biasanya kurang efektif.

(b) Ventilasi buatan

Ventilasi buatan memiliki cara kerja memasukkan dan mengeluarkan udara kedalam suatu ruangan dengan menggunakan bantuan alat mekanis, yaitu fan atau sistem dorong kecil.

(2) Ventilasi keluar setempat

Dibutuhkan untuk mengurangi zat kimia toksik, debu, fume, udara panas atau kadar kontaminan sangat tinggi. Sistem ventilasi ini terdiri dari rangkaian: hood, ducts, air cleaner, dan fan.

2) Pengendalian administratif

Menurut Siswanto (1991) dalam Imaduddin (2012) mengungkapkan bahwa pengendalian administratif tidak dapat menghilangkan bahaya secara langsung, tetapi hanya untuk membatasi waktu terpapar antara pekerja dengan bahaya yang ada..

Beberapa contoh pengendalian administratif antara lain:

a) Pelatihan dan pendidikan K3

Pekerja perlu diberi pelatihan dan pendidikan K3 secara berkala untuk memberi tahu tentang bahaya paparan debu, paparan bahan-bahan kimia, kesehatan dan keselamatan kerja, 24 digilib.uns.ac.id

(18)

cara kerja yang aman, manfaat alat pelindung diri dan cara merawatnya, pemeliharaan hygiene perorangan yang baik, pertolongan pertama pada kecelakaan dan lain-lain.

b) Housekeeping (pemeliharaan rumah tangga perusahaan)

Aspek housekeeping yang baik tidak hanya sesekali melakukan pembersihan namun memiliki arti lebih dari sekedar menjaga fasilitas pabrik tetap bersih dan bebas dari limbah atau sampah, tetapi juga berarti teratur segalanya termasuk mengatur penempatan perkakas alat kerja, penyimpanan fasilitas dan bahan. Perencanaan housekeeping dilakukan melalui pelaksanaan, pengecekan dan evaluasi yang teratur.

Kebersihan umum tempat kerja sangat penting dalam pencegahan penyakit akibat kerja. Housekeeping bertujuan untuk mengurangi risiko bahaya dengan jalan meningkatkan kebersihan di lingkungan kerja. Pembersihan lantai tempat kerja dan mesin-mesin yang berdebu hendaknya dilakukan dengan alat penghisap (vacum cleaner) yang dilengkapi dengan filter yang memiliki efisiensi tinggi, tidak dianjurkan menggunakan sapu atau udara kompresor.

c) Higiene perorangan yang baik

Penyelenggaraan higiene perorangan yang baik merupakan upaya pencegahan untuk melindungi pekerja dari paparan debu dan bahan-bahan kimia berbahaya, juga

commit to user

(19)

dimaksudkan untuk melindungi dari pemaparan bahan-bahan kimia berbahaya yang bisa terbawa pulang oleh karyawan yang tidak memperhatikan kebersihan dirinya.

d) Fasilitas saniter

Fasilitas saniter yaitu meliputi kamar mandi, kamar kecil, ruang ganti pakaian, tempat cuci muka dan tangan beserta kelengkapannya perlu disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja yang ada.

e) Pemeriksaan Kesehatan

Pemerikasaan kesehatan bertujuan agar tenaga kerja yang diterima berada pada kondisi yang benar-benar sehat, tidak sedang mengalami penyakit menular yang dapat menularkan pada tenaga kerja lainnya, dan untuk menyerasikan tenaga kerja dengan pekerjaan atau lingkungan kerjanya. Pemeriksaan kesehatan kerja dapat dibagi menjadi pemeriksaan sebelum kerja, pemeriksaan kesehatan berkala/periodik dan pemeriksaan kesehatan dengan tujuan khusus (Sujoso, 2012).

(1) Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja (pre health examination)

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran jasmani, radiologis, dan laboratorium rutin serta pemeriksaan lain sesuai dengan jenis pekerjaanya.

26 digilib.uns.ac.id

(20)

(2) Pemeriksaan kesehatan berkala (periodic health examination)

Diperlukan untuk menilai sedini mungkin adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan atau lingkungan kerja serta menilai efektivitas dari usaha pencegahan yang telah dilakukan perusahaan. Pemeriksaan kesehatan berkala hendaknya diselenggarakan minimal setahun sekali.

Bilamana di tempat kerja ditemukan resiko bahaya kesehatan yang besar, maka pemeriksaan ini harus diselenggarakan dalam periode waktu yang lebih pendek.

(3) Pemeriksaan kesehatan khusus (spesific health examination) Diselenggarakan bagi tenaga kerja yang sembuh dari penyakit atau kecelakan yang membutuhkan perawatan lebih dari seminggu, tenaga kerja wanita, tenaga kerja cacat, dan tenaga kerja yang berusia muda yang melakukan pekerjaan tertentu. Selain itu pemeriksaan kesehatan kerja khusus diberikan pula pada tenaga kerja yang kesehatannya mulai terganggu, tenaga kerja yang akan memasuki usia pensiun dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan akibat kerja.

f) Pemantauan lingkungan kerja

Menurut Siswanto (1991) dalam Imaduddin (2012) mengungkapkan bahwa lingkungan kerja yang melebihi batas

commit to user

(21)

dapat merugikan produktifitas kerja dan menjadi sebab terjadinya penyakit atau kecelakaan kerja. Demi menjaga kondisi kesehatan tenaga kerja maka diperlukan lingkungan kerja yang aman, selamat dan nyaman.

3) Peralatan pelindung

Manurut OSHA (2009) alat pelindung diri (APD) yaitu alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan adanya kontak dengan bahaya (hazards), baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik dan lainnya.

Menurut fungsinya Alat Pelindung Pernapasan dapat dibedakan menjadi:

a) Air purifying respirators

Memiliki fungsi membersihkan udara melalui filtrasi, adsorpsi dan absorbsi serta melindungi pemakainya dari paparan debu, gas, mist (kabut), fumes, asap dan fog. Air Purifying Respirators dipakai apabila toksisitas zat kimia yang terpapar dan kadarnya dalam udara tempat kerja rendah. Menurut cara kerjanya Air Purifying Respirators dapat dibedakan menjadi:

(1) Chemichal respirator

Chemical respirators dapat dibedakan menjadi cartridge respirator dan canister gas mask (canister respirator).

28 digilib.uns.ac.id

(22)

(2) Mechanical filter respirators

Digunakan untuk melindungi pemakainya dari paparan aerosol padat (debu, asap, fume) dan cair (mist dan fog) melalui berbagai proses filtasi.

b) Air supplying respirators.

Alat pelindung pernapasan ini digunakan untuk melindungi pemakainya dari paparan zat kimia toksik atau dari bahaya kekurangan oksigen. Macam Air Supplying Respirators yaitu airline respirator, air hose respirator, Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).

Menurut Siswanto (1991) dalam Imaduddin (2012) mengungkapkan bahwa alat pelindung diri (APD) merupakan garis pertahanan yang terakhir. APD harus dipilih secara teliti dan harus memenuhi beberapa ketentuan yaitu:

a) Dapat memberikan perlindungan terhadap bahaya spesifik yang dihadapi oleh tenaga kerja dan tidak membatasi gerakan serta mudah diperoleh.

b) Memiliki berat seringan mungkin dan tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan pada penggunanya.

c) Harus mudah dipakai dan tidak mudah rusak.

d) Tidak menimbulkan bahaya tambahan bagi pemakainya dan harus memenuhi standart yang telah ditetapkan.

commit to user

(23)

2. APD

a. Pengertian APD

Alat pelindung diri atau pesonal protective equipment adalah alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan karena adanya kontak dengan bahaya (hazards) di tempat kerja, baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik dan lainnya (OSHA, 2009).

Selain menggunakan alat pelindung diri (APD) diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian. Upaya pencegahan dan pengendalian resiko kecelakaan dilakukan secara teknis sampai tingkat resiko tersebut dapat ditekan sekecil mungkin sesuai batas yang diperkenankan (Tarwaka, 2014).

Ketentuan penggunaan APD ditempat kerja telah diatur dalam pasal-pasal UU No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yaitu:

1) Pasal 3 ayat 1: Peraturan perundangan menetetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk memberikan alat-alat perlindungan diri kepada para pekerja.

2) Pasal 9 ayat 1c: Pengurus wajib menunjukkan dan menjelaskan pada tenaga kerja baru tentang alat-alat pelindung diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan.

b. Alat Pelindung Pernapasan (Respiratory Protection)

Digunakan untuk melindungi pernapasan dari gas, uap, debu, atau udara yang terkontaminasi dan beracun, korosi atau yang bersifat 30 digilib.uns.ac.id

(24)

rangsangan. Menurut Tarwaka (2014), pemilihan alat pelindung pernapasan yang tepat harus sesuai dengan informasi tentang potensi bahaya atau kadar kontaminan di lingkungan kerja, antara lain:

1) Bentuk kontaminan di udara, yaitu gas, uap, kabut, fume, debu atau kombinasi dari berbagai bentuk kontaminan tersebut.

2) Kadar kontaminan yang terdapat di udara lingkungan kerja.

3) Nilai Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan untuk setiap kontaminan.

4) Menimbulkan reaksi fisiologis bagi pekerja, seperti menyebabkan iritasi mata dan kulit.

5) Kadar O2 di udara tempat kerja dll.

Menurut Tarwaka (2014) terdapat beberapa jenis alat pelindung pernapasan yang banyak digunakan di perusahaan antara lain:

1) Respirator yaitu alat pelindung pernapasan dari paparan debu, kabut, uap logam, asap dan gas-gas berbahaya. Jenis-jenis respirator ini antara lain:

a) Chemical Respirator: untuk mencegah dari kontaminan gas dan uap yang memiliki kadar toksik rendah. Alat ini terdiri dari catridge dari adsorben dan karbon aktif, arang dan silica gel dan canister yang digunakan untuk mengadsobsi khlor dan gas atau uap zat organik.

b) Mechanical Filter Respirator: untuk menghalangi masuknya partikel zat padat yaitu debu, kabut, uap logam, dan asap dengan

commit to user

(25)

kadar kontaminasi yang tidak terlalu tinggi atau pertikel yang tidak terlalu kecil. Alat ini memiliki filter yang terbuat dari fiberglas atau wol dan serat sintetis dilapisi dengan resin untuk memberi muatan pada partikel.

2) Masker digunakan untuk mengurangi paparan debu atau partikel- partikel besar yang dapat terhirup ke dalam saluran pernapasan manusia. Menurut Anizar (2009) alat pelindung diri (APD) masker adalah sebagai berikut:

a) Masker penyaring debu

Digunakan untuk melindungi pernapasan dari serbuk logam, atau serbuk lainnya.

b) Masker berhidung

Masker ini dapat menyaring debu atau benda lain yang memiliki ukuran 0.5 mikron. Apabila pada saat menggunakannya pekerja sudah merasa kesulitan bernapas maka filternya harus segera diganti.

c) Masker Bertabung

Masker bertabung mempunyai filter yang lebih baik daripada masker berhidung. Masker ini sangat tepat digunakan untuk melindungi pernapasan dari gas tertentu.

d) Masker Sekali Pakai/Disposable Mask

Menurut J.M. Harrington (2003:145) yaitu masker yang terbuat dari bahan filter dan beberapa cocok untuk paparan debu 32 digilib.uns.ac.id

(26)

yang dapat terhirup oleh pernapasan. Masker sekali pakai ini memiliki efisiensi perlindungan sebesar 5 untuk mencegah kontaminasi udara yang dapat masuk ke dalam pernapasan .

Penggunaan APD masker digunakan pada tempat kerja yang memiliki udara kotor atau diakibatkan oleh bermacam-macam sebab antara lain:

1) Debu-debu yang merupakan hasil dari pengindaraan atau operasi- operasi sejenis.

2) Racun dan debu halus yang dihasilkan dari proses pengecatan atau asap.

3) Uap beracun atau gas beracun yang dihasilkan dari pabrik kimia.

4) Gas CO2 yang menurunkan konsentrasi oksigen di udara.

Menurut Fahmi (2012) kurang maksimalnya penggunaan APD masker dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

1) Ketidaksesuaian saat pemilihan jenis masker.

2) Cara pemakaian masker yang salah.

3) Kondisi masker yang telah rusak.

4) Tidak mengganti masker yang rusak.

c. Program Penggunaan APD

Program penggunaan APD telah diatur pada Pasal 14 huruf c UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, yang berbunyi

“Pengusaha atau pengurus perusahaan wajib menyediakan APD secara cuma-cuma terhadap tenaga kerja dan orang lain yang memasuki

commit to user

(27)

tempat kerja. Apabila kewajiban pengusaha/pengurus perusahaan tersebut tidak dipenuhi merupakan suatu pelanggaran undang-undang”.

Berdasarkan Pasal 12 huruf b, tenaga kerja wajib memakai APD yang telah disediakan.

d. Pemilihan dan Persyaratan APD

Saat melakukan pemilihan alat pelindung diri diperlukan adanya suatu interventarisasi potensi bahaya yang ada di tempat kerja masing- masing untuk menghindari pemborosan perusahaan, apabila alat pelindung diri yang dipilih dan digunakan ternyata tidak sesuai dengan potensi bahaya yang ada di tempat kerja. Menurut Tarwaka (2014) pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri harus memperhatikan aspek-aspek diantaranya:

1) Aspek Teknis, meliputi:

a) Pemilihan didasarkan atas jenis dan bentuknya dengan bagian tubuh yang dilindungi.

b) Pemilihan didasarkan pada mutu atau kualitas sesuai uji laboratorium sehingga dapat diketahui tingkat perlindungan APD terhadap suatu kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin terjadi. Semakin rendah mutu alat pelindung diri, maka akan semakin tinggi tingkat keparahan atas kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang terjadi.

34 digilib.uns.ac.id

(28)

c) Penentuan jumlah alat pelindung diri yang sesuai dengan jumlah pekerja yang terpapar potensi bahaya sehingga masing-masing pekerja dapat menggunakan APD di tempat kerja.

d) Teknik penyimpanan dan pemeliharaan. Penyimpanan dan pemeliharaan alat pelindung diri harus baik sehingga dapat digunakan sebagai investasi untuk penghematan daripada pembelian alat yang baru.

2) Aspek Psikologis

Aspek psikologis menyangkut masalah kenyamanan dalam penggunaan alat pelindung diri seperti ketidaknyamanan pada saat menggunakan APD harus dihilangkan dan tidak mengganggu kebebasan gerak pekerja pada saat memakai alat pelindung diri.

Pengguanaan alat pelindung diri juga tidak boleh menimbulkan alergi atau gatal pada kulit pekerja serta bentuk alat pelindung diri yang menarik saat digunakan, dsb.

Menurut Tarwaka (2014) perlu diperhatikan beberapa kriteria dalam pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri antara lain:

a) Harus mampu memberikan perlindungan efektif kepada setiap pekerja sesuai potensi bahaya di tempat kerja.

b) Mempunyai berat yang seringan mungkin, nyaman dipakai dan tidak memberikan beban tambahan bagi pemakainya.

c) Bentuknya yang menarik pada saat pekerja memakainya.

d) Tidak menimbulkan gangguan kepada pemakainya.

commit to user

(29)

e) Mudah dipakai dan dilepas kembali.

f) Pekerja tidak mengalami gangguan pengelihatan, pendengaran dan pernapasan serta gangguan kesehatan apabila dipakai dalam waktu yang cukup lama.

g) Pada saat menggunakannya tidak mengganggu persepsi sensori pekerja untuk menerima tanda-tanda peringatan.

h) Suku cadang alat pelindung diri mudah dicari.

i) Mudah disimpan dan dipelihara.

j) Alat pelindung diri harus sesuai standar yang ditetapkan, dsb.

e. Pemeliharaan dan Penyimpanan APD

Alat pelindung diri harus dapat digunakan untuk waktu yang cukup lama, selain dari beberapa jenis alat pelindung diri yang hanya bisa sekali pakai seperti ear plug yang terbuat dari spon dan ada yang hanya dapat digunakan beberapa kali seperti masker, catridge dan canister karena mengalami penurunan efektivitas setelah menyerap gas, uap atau debu. Menurut Tarwaka (2014) pemeliharaan alat pelindung diri dapat dilakukan dengan cara berikut ini:

1) Dijemur di bawah panas matahari agar bau yang menempel hikang dan tidak ada jamur dan bakteri.

2) Dicuci menggunakan air sabun untuk alat pelindung diri yaitu helm keselamatan, kacamata, ear plug yang terbuat dari karet, sarung tangan kain/kulit/karet, dll.

36 digilib.uns.ac.id

(30)

3) Rutin mengganti catridge atau canister pada respirator apabila telah dipakai beberapa kali.

3. Keluhan Saluran Pernapasan

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi Keluhan Saluran Pernapasan 1) Usia

Penyakit dapat menyerang setiap orang pada semua golongan usia, tetapi terdapat penyakit tertentu yang lebih banyak menyerang golongan umur tertentu. Penyakit-penyakit kronis cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, namun berbeda dengan penyakit penyakit akut tidak mempunyai suatu kecenderungan yang jelas. Seiring bertambahnya usia seseorang akan berpengaruh pada kerentanan faal paru terhadap penyakit, contohnya dapat mengalami gangguan saluran pernapasan. Berdasarkan salah satu studi yang dilakukan, usia mempunyai hubungan bermakna secara statistic yang dapat menimbulkan terjadinya kelainan faal paru (Irjayanti, 2012).

2) Jenis Kelamin

Menurut Siswanto (1991) dalam (Imaduddin, 2012) mengungkapkan bahwa seorang laki-laki dan perempuan mempunyai kapasitas paru pernapasan yang berbeda disebabkan karena adanya perbedaan anatomi tubuh terutama besar rongga dada.

commit to user

(31)

Penelitian lain menyatakan bahwa kapasitas vital paru pada pemuda dewasa adalah 4,8 liter dan wanita 3,5 liter.

3) Masa Kerja

Menurut Lipman (1997) dalam Rahmadhani (2017) mengungkapkan bahwa masa kerja ialah lama pekerja telah bekerja di sebuah perusahaan. Masa kerja dapat digunakan sebagai indikasi lama masa suatu paparan terhadap kondisi lingkungan di area kerja salah satunya lama paparan terhadap kadar debu total. Semakin lama pekerja terpapar debu di lingkungan kerja, maka semakin beresiko pekerja terpapar debu berukuran kecil <3µm yang dapat mengendap di saluran pernapasan bagian tengah dan dalam.

4) Kebiasaan Merokok

Rokok adalah produk yang berasal dari tanaman nicotina tabacum, nicotina rustica dan spesies lain yang dimaksudkan dibakar, dihisap dan/atau dihirup contohnya rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan.

Asap rokok merupakan salah satu Particulate Matter (PM) yang berada di udara. Ukuran partikel PM di udara ada yang besar atau gelap seperti smoke (asap), dan partikel lainnya ada yang berukuran sangat kecil sehingga hanya terlihat jika diperiksa dengan mikroskop elektron. Partikel yang halus dari asap rokok dapat terhirup masuk dan mengendap dalam paru dan terserap ke dalam 38 digilib.uns.ac.id

(32)

pembuluh darah pada waktu yang lama. PM dapat menimbulkan iritasi, mengganggu pernapasan dan merusak paru manusia. Apabila terpapar PM kronis dapat menyebabkan risiko penyakit kardiovaskuler dan pernapasan sampai penyakit kanker paru.

Seseorang perokok menghisap bahan kimia yang terkandung di dalam rokok kemudian merangsang permukaan sel saluran pernapasan sehingga keluar lendir atau dahak namun asap rokok dapat melumpuhkan bulu getar yang terdapat dalam hidung sehingga lendir si daluran pernapasan tidak dapat keluar sehingga menyebabkan berkembangbiaknya bakteri, inilah yang akan menyebabkan bronchitis kronis (Pujiani & Siwiendrayanti, 2017).

Menurut New Zealand Ministry of Health (2015) menyatakan bahwa status merokok seseorang dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:

a) Bukan Perokok (Never Smoker)

Indikator orang bukan perokok (never smoker) adalah orang yang tidak pernah merokok atau pernah merokok kurang dari 100 rokok selama hidupnya, dan sekarang ini sedang tidak merokok.

b) Bekas perokok (ex-smoker)

Indikator orang bekas perokok (ex-smoker) adalah orang yang telah merokok lebih dari 100 rokok selama hidupnya, tetapi ia tidak lagi merokok dalam 28 hari terakhir/ke belakang.

commit to user

(33)

c) Masih Perokok (Current smoker)

Indikator orang masih perokok (current smoker) adalah orang yang telah merokok lebih dari 100 rokok (termasuk sigaret, rokok linting, dll) selama hidunya, dan sampai sekarang masih merokok dalam 28 hari terakhir/ke belakang.

5) Status Gizi

Status gizi seseorang berpengaruh dalam penilaian kapasitas fungsi paru. Secara umum orang yang tinggi kurus mempunyai kapasitas fungsi paru yang lebih besar dibandingkan orang yang pendek gemuk. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa status gizi seseorang dikategorikan normal apabila memiliki persentase 62,2% (Fahmi, 2012).

5) Paru-paru yang fibrosis

Apabila semakin banyak bahan/material berbahaya yang terhirup oleh seseorang akan menyebabkan fibrosis dan terjadi kerusakan pada alveoli akibatnya akan mengurangi elastisitas pada paru-paru sehingga menurunkan nilai kapasitas pernapasan (Pearce, 2008).

7) Penyakit paru lain

Penyakit paru lain seperti TBC, asma dan bronchitis berpengaruh terhadap penurunan kapasitas pernapasan seseorang.

Penyakit ini dapat terjadi sebelum maupun sesudah bekerja pada perusahaan (Pearce, 2008).

40 digilib.uns.ac.id

(34)

Hal yang perlu diperhatikan dalam karakteristik pekerja yaitu respiratory rate atau intensitas seseorang saat memasukkan atau mengeluarkan udara per menit. Intensitas pernapasan pada manusia umumnya antara 16-18 kali. Frekuensi pernapasan dapat dipengaruhi umur; umur baru lahir sekitar 35-50 x/menit, umur 2-12 tahun 18-26 x/menit, umur dewasa 16-20 x/menit (Pearce, 2008).

b. Keluhan Pada Saluran Pernapasan

Menurut Djojodibroto (1999) dalam Imaduddin (2012) mengungkapkan bahwa kualitas udara di tempat kerja berpengaruh pada kenyamanan lingkungan tempat kerja. Apabila kualitas udara buruk maka akan mengakibatkan dampak negatif yaitu keluhan kesehatan terhadap tenaga kerja. Salah satunya adalah dampak terhadap saluran pernapasan. Beberapa keluhan terhadap saluran pernapasan, antara lain:

1) Batuk

2) Hidung Tersumbat 3) Napas pendek 4) Sesak napas 5) Mengi

6) Nyeri tenggorokan 7) Nyeri dada

Keluhan subjektif saluran pernapasan dapat diukur dengan menggunakan kuesioner baku dari American Thoracic Society (ATS) commit to user

(35)

jenis kuesioner ATS-DLD-78 A. Kuesioner ATS-DLD-78 A telah melalui uji validitas dan reabilitasnya oleh Tanzil Jamali dan dipublikasikan pada IOHA International Scientific Conference ke 10 di London pada tahun 2015. Hasil uji validitas tersebut memperoleh nilai spesifik pertanyaan kuesioner ATS-DLD-78 A yaitu gejala batuk kronik, mengi kronik, dan kombinasi gejala kronik mencapai 93,1%, 85,7%, dan 63% . Diperoleh kesimpulan bahwa kuesioner ATS-DLD- 78-A adalah instrumen yang telah tervalidasi untuk melakukan screening keluhan subjektif saluran pernapasan bagi pekerja di industri tekstil (Jamali & Nafees, 2017).

c. Penyakit Saluran Pernapasan Akibat Paparan Debu Kapas

Penyakit khusus yang disebabkan paparan debu kapas pada industri tekstil yaitu Byssinosis tergolong kepada pneumoconiosis yang penyebab utamanya oleh debu kapas. Debu kapas yang berukuran kecil dapat masuk kedalam pernapasan sehingga mengakibatkan alveoli tertutup oleh timbunan debu kapas tersebut.

Status berat-ringannya penyakit Byssinosis dapat digolongkan kedalam beberapa kelompok yaitu:

Tabel 2.1. Tingkat Keparahan Penyakit Byssinosis

No. Tingkatan Indikasi

1 Tingkat 0 Tidak ada gejala-gejala Tingkat ½

Tingkat 1

Kadang-kadang berat dada dan sesak napas pada hari senin atau rangsangan-rangsangan pada alat pernapasan pada hari senin

Berat dada atau sesak napas pada hari senin hampir setiap hari tersebut

3 2

42

commit to user

digilib.uns.ac.id

(36)

Tingkat 2 Berat dada atau sesak napas pada hari-hari senin atau hari-hari lainnya

5 Tingakat 3 Byssinosis dan cacat paru-paru Sumber: Suma’mur, 2014.

Selain penyakit Byssinosis juga terdapat suatu penyakit khas yang disebut demam perusahaan tekstil. Penyakit ini adalah penyakit yang biasanya diderita oleh pekerja yang baru masuk kerja di perusahaan atau baru saja kembali setelah berlibur yang cukup lama, dengan gejala- gejala yang menyertai yaitu panas, muntah, pusing, dan lain-lain.

Berlangsung 3 sampai 5 hari saja sedangkan untuk seterusnya akan sembuh tidak pernah diderita lagi (Suma’mur, 2014).

4. Hubungan Kadar Debu Kapas dengan Keluhan Subjektif Saluran Pernapasan

Paparan debu kapas menyebabkan timbulnya keluhan subyektif saluran pernapasan berupa mengi, batuk, sesak napas, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat. Keluhan ini terjadi karena obstruksi akut. Jika keluhan ini tidak segera ditangani dan dibiarkan terus menerus maka obstruksi akut yang mula-mula reversible berubah menjadi penyakit akibat kerja berupa bissinosis (Kalasuramath, et al., 2015).

Hubungan Kadar Debu Kapas dengan Keluhan Subjetif Saluran Pernapasan dapat dilihat dalam penelitian yang dilakukan Akunsari (2010) melalui uji pearson correlation atau product moment nilai p value=0,009 sehingga p value <0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Ho ditolak yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara paparan debu kapas

4

commit to user

(37)

dengan kejadian penurunan kapasitas fungsi paru pada tenaga kerja wanita di unit spinning II PT. DAN LIRIS Sukoharjo.

Penelitian lain menurut Hinson, et al., (2016) yang meneliti mengenai “Pajanan Debu kapas dan Kelainan Paru Diantara Pekerja Tekstil di Industri Tekstil di Bagian Selatan Benin” mengemukakan analisa mereka membuktikan bahwa pajanan debu kapas dapat lebih menyebabkan kelainan paru dibandingkan yang tidak terpajan (36,9%

dengan 21,2%). Sampel diambil pada tenaga kerja yang telah bekerja selama 2 tahun di perusahaan terkait.

5. Hubungan Penggunaan APD masker dengan Keluhan Subjektif Saluran Pernapasan

Pemakaian APD masker pada responden dibedakan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu pekerja “Selalu” memakai APD masker selama 8 jam kerja, pekerja yang menggunakan APD masker “Kadang-kadang” (kadang menggunakan dan kadang melepas selama 8 jam kerja) dan pekerja yang

“Tidak Pernah” menggunakan APD masker sama sekali selama melakukan pekerjaanya (Imaduddin, 2012).

Penelitian mengenai hubungan penggunaan APD masker dengan keluhan subjektif saluran pernapasan dapat dilihat pada penelitian Septantiana & Asfawi (2015) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara pemakaian APD masker dengan keluhan subjektif saluran pernapasan pedagang unggas wanita di RPU Penggaron Kota Semarang.

44 digilib.uns.ac.id

(38)

Dibuktikan dengan uji Pearson Product Moment nilai signifikansi p value= 0,116.

Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Rikmiarif dkk (2012)

“Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) masker dengan kapasitas vital paru” terdapat hubungan yang signifikan. Akan tetapi penelitian yang dilakukan Damayanti dkk (2007) “Kebiasaan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) masker dengan kelainan klinis, faal paru dan foto toraks akibat pajanan debu semen” tidak terdapat hubungan yang signifikan karena kebiasaan buruk penggunaan masker pada pekerja pabrik semen PT. X dan menunjukkan kecenderungan penurunan faal paru walaupun secara statistik tidak bermakna.

commit to user

(39)

B. Kerangka Pemikiran

Keterangan:

: Diteliti : Tidak Diteliti

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Hubungan Kadar Debu Kapas, Penggunaan APD Masuk ke dalam

saluran pernapasan

Faktor yang mempengaruhi:

1. Umur

2. Jenis Kelamin 3. Masa Kerja 4. Kebiasaan

Merokok 5. Status gizi 6. Paru-paru

fibrosis 7. Penyakit paru

lain.

Keluhan Subjektif Saluran Pernapasan:

1. Batuk 2. Nyeri

Tenggorokan 3. Nyeri Dada 4. Sesak Napas 5. Napas Pendek 6. Mengi

7. Hidung Tersumbat

Upaya Pengendalian:

Penggunaan Alat Pelindung Pernapasan (masker)

Debu Kapas

Sifat Debu Kapas

Mekanisme Penimbunan Debu

Reaktivitas Debu Ukuran Partikel Debu

NAB Debu Kapas

1. Inertial Inpaction 2. Sedimentasi 3. Gaya Sentrifugal 4. Gerak Brown

46

commit to user

digilib.uns.ac.id

(40)

C. Hipotesis

1. Ada hubungan Kadar Debu Kapas dengan Keluhan Subjektif Saluran Pernapasan Pekerja di PT. Kharisma Parwitex.

2. Ada hubungan Penggunaan APD masker dengan Keluhan Subjektif Saluran Pernapasan Pekerja di PT. Kharisma Parwitex.

3. Ada hubungan Kadar Debu Kapas, Penggunaan APD masker dengan Keluhan Subjektif Saluran Pernapasan di PT. Kharisma Parwitex.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Technology Acceptance Model memprediksi user acceptance terhadap teknologi apapun berdasarkan dua faktor, perceived usefulness (tingkatan dimana user pecaya bahwa dengan

Alat pengering makanan dengan prinsip kerja alat pengering dengan proses pengurangan kandungan air atau menguapkan air dalam suatu bahan sehingga mencapai kadar air yang

Debu secara periodik disisihkan dari kantong dengan goncangan atau menggunakan aliran udara terbalik, sehingga dapat dikatakan bahwa bag filter adalah alat yang

Sebuah dioda normal, biasanya terbuat dari silikon atau germanium, memancarkan cahaya tampak dekat-inframerah, tetapi bahan yang digunakan untuk sebuah LED memiliki energi

Hal ini dikarenakan siswa dengan motivasi belajar tinggi cenderung akan aktif dalam proses pembelajaran, memiliki perhatian yang tinggi, memiliki keinginan yang

Kabel Snur adalah kabel yang terdiri dari beberapa saluran penghantar. Tiap saluran penghantar terdiri dari kawat halus yang dibungkus dengan isolasi yang terbuat dari

Nilai raw accelerometer yang dihasilkan dimana pada dasarnya memiliki (noise) difilter dengan menggunakan low-pass filter dan nilai raw gyroscope yang dihasilkan memiliki

Penelitian selanjutnya berjudul “Program Aplikasi Alat Pengukur Kadar Glukosa Dalam Darah Non Invasive Bebasis Desktop” (Sulehu &amp; Senrimang, 2018) menjelaskan