40
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Objek Penelitian
Objek penelitian di dalam tesis ini adalah sistem pelaporan debitur bank umum pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk yang berfungsi untuk melaporkan data debitur yang dikelola kepada Bank Indonesia sebagai salah satu laporan bulanan yang bersifat wajib.
4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan
Berdiri sejak 1946, PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk yang dahulu dikenal sebagai Bank Negara Indonesia, merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Sejalan dengan keputusan penggunaan tahun pendirian sebagai bagian dari identitas perusahaan, nama Bank Negara Indonesia 1946 resmi digunakan mulai akhir tahun 1968. Perubahan ini menjadikan Bank Negara Indonesia lebih dikenal sebagai 'BNI 46'. Penggunaan nama panggilan yang lebih mudah diingat - 'Bank BNI' - ditetapkan bersamaan dengan perubahaan identitas perusahaan tahun 1988. Tahun 1992, status hukum dan nama BNI berubah menjadi PT Bank Negara Indonesia (Persero), sementara
berkelanjutan dari masa ke masa. Hal ini juga menegaskan dedikasi dan komitmen BNI terhadap perbaikan kualitas kinerja secara terus – menerus.
Pada tahun 2004, identitas perusahaan yang diperbaharui mulai digunakan untuk menggambarkan prospek masa depan yang lebih baik, setelah keberhasilan mengarungi masa-masa yang sulit. Sebutan 'Bank BNI' dipersingkat menjadi 'BNI', sedangkan tahun pendirian - '46' - digunakan dalam logo perusahaan untuk meneguhkan kebanggaan sebagai bank nasional pertama yang lahir pada era Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada akhir tahun 2011, Pemerintah Republik Indonesia memegang 60% saham BNI, sementara 40% saham selebihnya dimiliki oleh pemegang saham publik baik individu maupun institusi, domestik dan asing.
Saat ini, BNI adalah bank terbesar ke-4 di Indonesia berdasarkan total aset, total kredit maupun total dana pihak ketiga. Kapabilitas BNI untuk menyediakan layanan jasa keuangan secara menyeluruh didukung oleh perusahaan anak di bidang perbankan syariah (Bank BNI Syariah), pembiayaan (BNI Multi Finance), pasar modal (BNI Securities), dan asuransi (BNI Life Insurance). Dengan total aset senilai lebih dari Rp 300 triliun pada akhir 2012 dan lebih dari 23.639 karyawan pada akhir tahun 2011, BNI mengoperasikan jaringan pelayanan yang luas mencakup 1.364 outlet domestik dan 5 cabang luar negeri di New York, London, Tokyo, Hong Kong dan Singapura, 6.227 unit ATM milik
sendiri, serta fasilitas Internet banking dan SMS banking yang memberikan kemudahan akses bagi nasabah.
4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan
Visi PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk adalah “Menjadi bank yang unggul, terkemuka dan terdepan dalam layanan dan kinerja”, dengan pernyataan visi yaitu “BNI berupaya menjadi Bank yang menunjukkan kinerja unggul untuk memberikan nilai investasi yang memuaskan bagi para pemegang saham, menjadi the bank of choice dengan menyajikan kualitas layanan yang terbaik, serta menjadi dominant player (market leader) dengan menyajikan produk/jasa bernilai tinggi di segmen pasar yang dilayani”.
Misi PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk yaitu :
• Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pillihan utama (the bank choice)
• Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor.
• Menciptakan kondisi terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi.
• Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.
• Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik.
Visi dan misi tersebut diharapkan dapat mewujudkan value perusahaan yaitu “Kenyamanan dan Kepuasan”. PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk
4.1.3 Budaya dan Struktur Organisasi Perusahaan
Budaya kerja PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk adalah ”PRINSIP 46” yang merupakan tuntunan perilaku insan BNI, terdiri dari :
¾ Empat Nilai Budaya Kerja
• Profesionalisme
• Integritas
• Orientasi pelanggan
• Perbaikan tiada henti
¾ Enam Nilai Perilaku Utama Insan BNI
• Meningkatkan Kompetensi dan Memberikan Hasil Terbaik
• Jujur, Tulus dan Ikhlas
• Disiplin, Konsisten dan Bertanggungjawab
• Memberikan Layanan Terbaik Melalui Kemitraan yang Sinergis
• Senantiasa Melakukan Penyempurnaan
• Kreatif dan Inovatif
Setiap nilai budaya kerja PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk memiliki perilaku utama yang merupakan acuan bertindak bagi seluruh insan BNI. Struktur organisasi PT. Negara Indonesia (Persero), Tbk dipaparkan pada gambar 4.1 berikut:
4.2 Analisa Kondisi Perusahaan Saat Ini
4.2.1 Analisa SWOT Perusahaan
Untuk menganalisa kondisi perusahaan saat ini digunakan metode analisa SWOT (Stregth, Weakness, Opportunities, Threat) yang hasilnya seperti pada tabel 4.1 sebagai berikut.
Tabel 4.1 Analisis SWOT Perusahaan
Strenghts Weaknesses
- Memiliki produk yang lengkap sesuai dengan kebutuhan pelanggan - Dukungan manajemen terhadap
infrastruktur, jaringan, dan sistem untuk perusahaan.
- Memiliki jaringan yang luas meliputi dalam negeri dan luar negeri.
- Produk yang lengkap tidak didukung dengan pemasaran yang baik dan tidak tepat sasaran.
- Sistem pelaporan data debitur masih manual di masing – masing cabang.
Opportunities Threats
- Kebutuhan produk perbankan di masyarakat Indonesia terus meningkat
- Perkembangan teknologi
informasi yang pesat
- Penggunaan sistem untuk mempercepat dan mempermudah proses laporan operasional.
- Pesaing yang semakin banyak dan inovasi pesaing yang semakin baik.
- Kerugian financial dan reputasi tidak terhindarkan pada saat pelaporan data debitur salah atau terlambat.
- Perubahan regulasi dan sistem yang tidak menentu dari regulator
4.2 berikut :
Tabel 4.2 Matriks SWOT Perusahaan
EFI
EFE
Strengths
- Memiliki produk yang lengkap sesuai dengan kebutuhan nasabah
- Dukungan
manajemen terhadap infrastruktur,
jaringan, dan sistem untuk perusahaan.
- Memiliki jaringan yang luas meliputi dalam negeri dan luar negeri.
Weaknesses
- Produk yang
lengkap tidak didukung dengan pemasaran yang baik dan tidak tepat sasaran.
- Sistem pelaporan data debitur masih manual di masing – masing cabang.
Opportunities - Kebutuhan
produk perbankan di masyarakat Indonesia terus meningkat - Perkembangan
teknologi informasi yang pesat
- Penggunaan
sistem untuk mempercepat dan mempermudah
proses laporan operasional.
Strategi SO - Mengembangkan
produk yang inovatif dan kompetitif sesuai dengan kebutuhan pelanggan
- Memanfaat teknologi informasi untuk meningkatkan layanan dan kinerja - Membangun
sistem untuk mempercepat dan mempermudah proses laporan operasional
Strategi WO - Evaluasi sistem
pemasaran agar pemasaran produk lebih baik dan lebih tepat sasaran.
- Membangun sistem yang terintegrasi dan terotomasi untuk mempercepat dan mempermudah proses laporan data debitur - Menjadikan
sistem informasi sebagai alat bantu dalam proses laporan operasional
Threats
- Pesaing yang
semakin banyak dan inovasi pesaing yang semakin baik.
- Kerugian
financial dan reputasi tidak terhindarkan pada saat pelaporan data debitur salah atau terlambat.
- Perubahan regulasi dan sistem yang tidak menentu dari regulator
Strategi ST - Melakukan inovasi dalam
membuat produk baru namun tetap
berdasarkan
kebutuhan pelanggan - Membangun
sistem terintegrasi dan terotomasi untuk meminimalkan risiko - Dukungan
manajemen terhadap perubahan regulasi dan sistem yang tidak menentu dari
regulator
Strategi WT - Melakukan
pemasaran produk yang lebih baik dengan terus
meningkatkan inovasi - Membangun
sistem tersentralisasi , terotomasi, dan mudah disesuaikan dengan peraturan dari regulator
Setelah melakukan rekapitulasi faktor internal dan eksternal perusahaan, maka langkah selanjutnya adalah memberikan bobot terhadap faktor - faktor perusahaan. Pembobotan dilakukan dengan mengisi kuisioner, kuisioner ini bertujuan untuk mengetahui tingkat preferensi perusahaan terhadap faktor - faktor internal dan juga eksternal perusahaan. Bobot yang diberikan untuk mengetahui dan mengukur pengaruh diantara 2 alternatif yang ada. Kuisioner pembobotan dilakukan dan diolah dengan metode perbandingan berpasangan (pairwise comparison). Setelah mendapatkan hasil kuisioner pembobotan faktor internal dan eksternal perusahaan, maka selanjutnya meminta responden untuk mengisi kuisioner penilaian skor faktor internal dan eksternal. Hasil dari proses pembobotan dan skoring faktor internal dan eksternal perusahaan adalah sebagai berikut.
Memiliki produk yang lengkap sesuai dengan kebutuhan pelanggan
0.272 3.7 1.011
Dukungan manajemen terhadap infrastruktur, jaringan, dan sistem untuk perusahaan
0.243 3.4 0.833
Memiliki jaringan yang luas meliputi dalam negeri dan luar negeri
0.133 3.2 0.430
Jumlah Strengths (S) 0.648 10.4 2.274 Weaknesses (W)
Produk yang lengkap tidak didukung dengan pemasaran yang baik dan tidak tepat sasaran
0.271 1.3 0.362
Sistem pelaporan data debitur masih manual di masing – masing cabang.
0.081 1.7 0.138
Jumlah Weakness (W) 0.352 -3 0.5
Total 1 7.3 1.774
Total skor pembobotan faktor internal perusahaan dihitung dengan rumus Nilai(kekuatan-kelemahan) = Σ (rating(Sn) x bobot(Sn) ) + Σ (rating(Wn) x bobot(Wn) ) sehingga didapatkan bobot skor internal perusahaan adalah 1.774.
Tabel 4.4 Faktor-faktor Strategis Eksternal (External Strategic Factors Analysis Summary (EFAS))
Faktor-faktor Strategis Eksternal
Bobot Rating Skor
Pembobotan (Bobot x Rating) Opportunities (O)
Kebutuhan produk perbankan di masyarakat Indonesia terus meningkat.
0.216 3.8 0.687
Perkembangan teknologi informasi yang pesat.
0.136 3.5 0.601
Penggunaan sistem untuk mempercepat dan
mempermudah proses laporan operasional.
0.098 3.3 0.571
Jumlah Opportunities (O) 0.450 10.6 1.619 Threats (T)
Pesaing yang semakin banyak dan inovasi pesaing yang semakin baik.
0.305 1.3 0.392
Kerugian financial dan reputasi tidak terhindarkan pada saat pelaporan data debitur salah atau terlambat.
0.173 1.5 0.256
Perubahan regulasi dan sistem yang tidak menentu dari regulator
0.071 1.8 0.126
Jumlah Threats (T) 0.550 -4.5 0.774
Total 1 6.1 0.846
Total skor pembobotan faktor eksternal perusahaan dihitung dengan rumus Nilai(peluang-tantangan) = Σ (rating(On) x bobot(On) ) + Σ (rating(Tn) x bobot(Tn) ) sehingga didapatkan bobot skor eksternal perusahaan adalah 0.846.
Gambar 4.2 Kuadran Strategi SWOT Perusahaan
Penjelasan dari gambar 4.2 adalah posisi PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk berada pada kuadran I, yaitu perusahaan dapat menerapkan strategi SO (Strenght – Opportunity). Posisi sumbu X bernilai positif (1.774), artinya perusahaan memiliki strenght (kekuatan) lebih besar daripada weakness (kelemahan). Sedangkan untuk sumbu Y juga bernilai positif (0.846), artinya opportunity (peluang) yang dimiliki perusahaan lebih besar dibandingkan dengan threat (ancaman). Sebagai kesimpulan dari analisis SWOT, saat ini PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk perlu melakukan tindakan progressif untuk dapat meraih peluang dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki perusahaan saat ini.
Berikut adalah tindakan yang dapat dilakukan perusahaan dari strategi SO:
1. Mengembangkan produk yang inovatif dan kompetitif sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Kebutuhan jasa dan produk perbankan di Indonesia terus meningkat dan menuntut inovasi bagi para pelaku perbankan di
1.774 0.846
STRENGTH WEAKNESS
THREAT KUADRAN IV
Strategi Bertahan
KUADRAN II Diversifikasi Stratgei
Indonesia. PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk harus mampu menangkap peluang tersebut dengan terus mengembangkan produk – produk baru ataupun meningkatkan nilai tambah pada produk yang telah ada, serta memberikan inovasi – inovasi terhadap layanan dan produknya.
2. Memanfaat teknologi informasi untuk meningkatkan layanan dan kinerja.
Perkembangan teknologi informasi dewasa ini sangat pesat hal tersebut harus mampu dijadikan momentum bagi PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk khususnya manajemen dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk terus meningkatkan layanan dan kinerja, karena saat ini teknologi dan perbankan tidak bisa dipisahkan.
3. Membangun sistem untuk mempercepat dan mempermudah proses laporan operasional. Salah satu kebutuhan perusahaan dalam menunjang bisnisnya adalah adanya laporan – laporan pendukung. PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk membagi laporan tersebut menjadi 3 besaran yaitu laporan financial, laporan operasional, laporan adhoc.
Dari hasil analisa SWOT penerapan strategi SO (Strenght – Opportunity) khususnya point 3 didapatkan bahwa PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk perlu membangun sistem untuk mempercepat dan mempermudah proses laporan operasional. Di dalam laporan operasional salah satunya adalah laporan data debitur bulanan yang harus dilaporkan bank kepada Bank Indonesia. PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk sendiri memiliki cabang meliputi dalam negeri dan luar negeri dengan jumlah debitur yang dikelola memiliki kecenderungan meningkat. Untuk itu diperlukan sistem yang terintegrasi, tersentralisasi, dan
mendukung strategi perusahaan agar mempercepat dan mempermudah proses laporan operasional yaitu laporan data debitur.
4.3 Analisa Sistem Berjalan
Perkembangan jumlah debitur yang dikelola oleh PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk terus mengalami peningkatan. Pada bulan Januari 2012 jumlah debitur 252.606 debitur, pada bulan Juni terdapat 277.773, dan terus mengalami peningkatan sampai dengan bulan Desember 2012 menjadi 297.412.
Detail data debitur selama tahun 2012 adalah seperti tabel 4.5 dan untuk pola peningkatan data debitur digambarkan pada gambar 4.3.
Tabel 4.5 Data Debitur Tahun 2012
SUM_OF_DEBT BULAN
252.606 1 255.236 2 262.634 3 268.265 4 270.491 5 277.773 6 283.633 7 287.124 8 293.120 9 295.802 10 298.788 11 297.412 12
Gambar 4.3 Digram Data Debitur 2012
Untuk fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur juga cenderung mengalami peningkatan. Pada bulan Januari 2012 terdapat 295.072 jumlah fasilitas kredit yang diberikan, pada Juni 2012 terdapat 322.192 fasilitas, dan pada bulan Desember 2012 terdapat 346.271. Detail data fasilitas kredit selama tahun 2012 adalah seperti tabel 4.6 dan untuk pola peningkatan data debitur digambarkan pada gambar 4.4.
Tabel 4.6 Data Kredit Tahun 2012 SUM_OF_CRE BULAN
295.072 1 299.636 2 306.899 3 311.643 4 314.717 5 322.192 6 327.049 7 329.972 8 336.459 9 340.400 10
343.505 11 346.271 12
Gambar 4.4 Diagram Data Kredit 2012
Untuk fasilitas Letter of Credit (L/C) yang diberikan oleh kepada debitur juga cenderung mengalami peningkatan walaupun sedikit fluktuatif pada tengah tahun 2012. Pada bulan Januari 2012 terdapat 760 jumlah fasilitas Letter of Credit (L/C) yang diberikan, pada bulan Juni 2012 terdapat 829 fasilitas, dan pada bulan Desember 2012 terdapat 983 fasilitas. Detail data fasilitas L/C selama tahun 2012 adalah seperti tabel 4.7 dan untuk pola peningkatan data debitur digambarkan pada gambar 4.5.
Tabel 4.7 Data Letter of Credit Tahun 2012
SUM_OF_L/C PERIOD
760 1 818 2 871 3 832 4 835 5 829 6 809 7 825 8 945 9 978 10
984 11
983 12
Gambar 4.5 Diagram Data Letter of Credit Tahun 2012
Untuk fasilitas kredit Garansi Bank (GB) yang diberikan oleh kepada debitur juga cenderung mengalami peningkatan. Pada bulan Januari 2012 terdapat 8.323 jumlah fasilitas Garansi Bank yang diberikan, pada Juni 2012 terdapat 9.819 fasilitas, dan pada bulan Desember 2012 terdapat 11.365. Detail data fasilitas Garansi Bank selama tahun 2012 adalah seperti tabel 4.8 dan untuk pola peningkatan data debitur digambarkan pada gambar 4.6 berikut :
Tabel 4.8 Data Garansi Bank Tahun 2012
SUM_OF_GB PERIOD
8.323 1 8.257 2 8.867 3 9.221 4 9.506 5 9.819 6 9.925 7 10.044 8
10.359 9
10.492 10 10.766 11 11.365 12
Gambar 4.6 Diagram Data GB Tahun 2012
Proses pelaporan data debitur yang dikelola diawali dari pelapor. Pelapor melakukan input dan pengkinian data debitur ke aplikasi Sistem Informasi Debitur Bank satu per satu setiap formnya. Ada beberapa form yang harus diisi ataupun diperbarui datanya oleh petugas, antara lain form 01, form 02, form 3C, form 3D, form 3E, form 3F, form 3G, form 3H, form 4A dan form 4B. Keterangan setiap formnya adalah pada tabel 4.9 berikut :
Tabel 4.9 Detail Laporan Data Debitur
FORM KETERANGAN
Form 1 Detail data debitur yang dikelola
Form 2
Detail data pengurus jika debitur adalah debitur non perorangan atau badan usaha
Form 3A Detail data penempatan pada bank lainnya Form 3B Detail data surat berhargas
Form 3C
Detail data fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur
Form 3D Detail data tagihan lainnya
Form 3E
Detail data penyertaan kredit yang diberikan kepada debitur
Form 3F Detail data irrevocable L/C debitur Form 3G Detail data garansi bank
Form 3H Detail data penerusan kredit Form 4A Detail data agunan
Form 4B Detail data penjamin
Jika seluruh data debitur selesai diinput atau diperbarui, langkah selanjutnya adalah petugas melakukan validasi. Fitur validasi tersedia di Sistem Informasi Debitur Bank. Setelah semua form berhasil di validasi, maka petugas akan membuat file kirim. File kirim ini yang nantinya di upload ke SID Web Bank Indonesia. Setelah file terkirim, akan ada notifikasi dari Bank Indonesia bahwa file telah terkirim atau tidak. Proses pelaporan data debitur dari pelapor sampai dengan diterima oleh Bank Indonesia adalah seperti gambar 4.7 berikut:
Gambar 4.7 Alur Proses Pelaporan Data Debitur oleh Pelapor
Proses pelaporan data debitur yang selama ini berjalan di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk adalah sebagai berikut :
1) Data Repository atau biasa disebut Data Repo merupakan datawarehouse yang terdapat di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. Salah satu isi dari data repo tersebut adalah data debitur yang dikelola masing – masing cabang. Data debitur tersebut disajikan dalam sebuah aplikasi yang disebut aplikasi CMOD. Aplikasi CMOD adalah aplikasi berbasis web yang bisa diakses oleh seluruh petugas ADC, selama petugas ADC tersebut terhubung dengan jaringan BNI.
2) Di dalam aplikasi CMOD, terdapat laporan yang berisi informasi lengkap tentang seluruh data rekening debitur yang dikelola oleh masing – masing cabang yang disebut Laporan Saldo List Pinjaman.
3) Laporan Saldo List Pinjaman bisa diunduh oleh petugas ADC dan digunakan sebagai bahan pelaporan Sistem Informasi Debitur.
4) Petugas melakukan input dan pengkinian data debitur ke dalam aplikasi SID Bank berdasarkan Saldo List Pinjaman dan dokumen pendukung secara manual.
5) Aplikasi SID Bank merupakan aplikasi desktop yang dibuat oleh Bank Indonesia sebagai sarana pelaporan data debitur. Di dalam setiap aplikasi Sistem Informasi Debitur Bank, terdapat satu basis data yang berfungsi untuk menyimpan data debitur yang dilaporkan yaitu basis data SID Bank.
6) Setelah proses pengkinian dan input data selesai, maka petugas ADC akan melakukan cek validasi data sebelum dikirimkan ke Bank Indonesia. Di dalam aplikasi SID Bank, fungsi validasi data sudah disediakan. Jika data laporan sudah valid, petugas ADC akan membuat file kirim yang juga fungsinya sudah tersedia di SID Bank. Output dari aplikasi SID Bank adalah file kirim yang siap untuk diunggah ke web SID sebagai laporan data debitur bulanan. Petugas ADC mengunggah file kirim ke web SID melalui jaringan ekstranet Bank Indonesia.
7) Jika proses unggah atau pelaporan data berhasil diterima dengan sempurna oleh Bank Indonesia, web SID akan mengirimkan notifikasi bahwa laporan telah diterima dan petugas ADC melakukan backup data di komputer masing – masing.
Secara skematis proses pelaporan yang selama ini berjalan di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk adalah seperti gambar 4.8 berikut :
Gambar 4.8 Alur Proses Pelaporan Data Debitur di BNI
Kendala atau kelemahan di dalam proses pelaporan data debitur yang berjalan selama ini adalah :
1. Human error di dalam proses pelaporan data debitur masih tinggi, karena proses pelaporan yang berjalan sekarang ini masih manual. Petugas melakukan insert dan update data debitur yang dikelola langsung ke dalam aplikasi SID Bank. Kesalahan input atau update data yang tidak disengaja, ataupun memang adanya fraud dari pegawai membuat data pelaporan menjadi salah. Dan jika data yang dilaporkan ke Bank Indonesia salah, maka denda dan teguran resmi dari Bank Indonesia akan diterima oleh BNI.
2. Ketergantungan terhadap petugas ADC menjadi tinggi (key person issue), karena proses yang berjalan selama ini bertumpu pada petugas ADC. Jika petugas ADC tidak bisa hadir dikarenakan sakit atau pun cuti, maka pelaporan data debitur menjadi terganggu, dan jika pelaporan sampai terlambat atau bahkan tidak melaporkan maka maka denda dan teguran resmi dari Bank Indonesia akan diterima oleh BNI
3. Data pelaporan sistem informasi debitur belum terintegrasi atau masih tersebar di komputer masing – masing cabang yang melaporkan data debitur yaitu di dalam basis data SID Bank.
4. Kendala pada saat pelaporan, karena koneksi ke jaringan ekstranet Bank Indonesia masih menggunakan koneksi dial up yang terbatas bandwith serta sering terputus. Jaringan saat ini akan dijelaskan lebih lanjut di bab 4.4
4.4 Topografi Jaringan Saat Ini
Proses pelaporan data debitur di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk saat ini secara desentralisasi yaitu masing – masing cabang melaporkan secara mandiri data debitur yang dikelolanya. Menggunakan modem dial up dengan koneksi saluran telepon langsung (telepon tetap kabel/fixed wire line) petugas Administrasi Cabang mengirimkan data debitur ke Bank Indonesia.
Petugas terhubung dengan jaringan Bank Indonesia, dan mengirimkan file kirim melalui koneksi dial up. Setelah itu, Bank Indonesia mengirimkan file notifikasi tanda pengiriman berhasil. Permasalahan disini adalah koneksi dial up melalui saluran telepon atau kabel telepon tetap memiliki bandwith yang kecil dan kadang sering terputus. Apabila laporan gagal terkirim karena masalah koneksi tersebut, denda secara financial dan surat teguran dari Bank Indonesia pun akan diterima BNI. Topografi jaringan saat ini dapat digambarkan pada gambar 4.9 beikut ini.
Gambar 4.9 Topografi Jaringan Saat ini
4.5 Analisa Kebutuhan Sistem
Dari kendala atau kelemahan di dalam proses pelaporan data debitur yang telah disebutkan di dalam sub bab 4.2, maka dapat dibuat analisa kebutuhan sebagai berikut :
1. Dibutuhkan sebuah aplikasi untuk membantu petugas ADC dalam melakukan proses insert dan pengkinian data debitur, sehingga proses menjadi terotomasi dan waktu pengerjaan lebih cepat
2. Dibutuhkan sistem yang tersentralisasi dimana data, komputer, dan petugas pelapor berada dalam satu unit atau organisasi yang mempunyai tanggung jawab dalam pelaporan data debitur setiap cabang di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, dengan dukungan kebijakan organisasi dan sumber daya manusia di dalamnya. Dengan adanya aplikasi otomasi untuk membantu petugas dalam melakukan input dan pengkinian data,
sehingga proses pelaporan lebih cepat, maka seorang petugas bisa bertanggung jawab untuk melaporkan data debitur yang dikelola 3 sampai 4 cabang.
3. Dengan sistem yang tersentralisasi, otomatis data akan terpusat dalam suatu tempat, sehingga kontrol atau pemantauan data laporan dapat dilakukan dengan baik
4. Dibutuhkan jaringan koneksi selain dial-up connection yang digunakan sebagai sarana pelaporan data debitur kepada Bank Indonesia
4.6 Analisa Desain Sistem
Dalam proses pelaporan data debitur tiap bulannya, sistem otomasi debitur adalah sistem yang sangat penting, sehingga tidak diharapkan terjadinya kesalahan atau gagal sistem. Oleh sebab itu dalam perancangannya diperhatikan aspek - aspek dependability atau keandalan (Sommerville, 2007) yang terdiri dari:
1. Availability,
Yaitu sebuah sistem yang dapat berjalan dan memberikan layanan yang diperlukan kapan saja.
2. Reliability
Yaitu sebuah sistem dapat memberikan layanan yang tepat sesuai yang diharapkan oleh pengguna dalam periode waktu tertentu.
Yaitu sebuah sistem yang dapat bertahan dari gangguan secara sengaja atau tidak.
Keandalan sistem komputer dapat disamakan dengan tingkat kepercayaan atas sistem tersebut, dimana para pengguna yakin bahwa sistem akan berjalan sesuai yang diharapkan dan tidak akan mengalami kegagalan dalam penggunaan normal.
Di bawah ini adalah analisa desain sistem berdasarkan aspek - aspek dependability atau keandalan.
4.6.1 Availability dan Reliability
Ketersediaan (availability) yaitu kemampuan sistem untuk dapat berjalan dan menyediakan layanan atau service sesuai yang diinginkan oleh pengguna pada saat dibutuhkan. Aspek ketersediaan saat berhubungan dengan aspek keandalan (reliability). Keandalan (reliability) adalah kemampuan sistem untuk berjalan sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan. Aspek reliability ini sering dihubungkan dengan kecepatan sistem untuk kembali berjalan (recovery) setelah terjadi gagal sistem (failure). Di dalam aspek reliability yang perlu diperhatikan adalah sistem berjalan sesuai dengan spesifikasi yang telah didefinisikan (correctness), sistem mampu memberikan informasi detail dan lengkap sesuai kebutuhan (precision), dan informasi diberikan dalam waktu yang tepat
(timelines).
Belum tentu sistem dengan availability tinggi juga memiliki reliability yang tinggi. Untuk memperoleh aspek ketersediaan (availability) sistem yang tinggi diperlukan persyaratan yang tinggi pula sesuai keinginan pengguna.
Sedangkan dengan tingginya persyaratan, aspek keandalan (reliability) akan semakin menurun karena sistem semakin berat, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk kembali setelah terjadinya gagal sistem (failure).Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya sistem failure, sehingga sistem tidak dapat memenuhi spesifikasi yang diinginkan. Beberapa diantaranya adalah penggunaan dari user yang mengeksplorasi sistem, spesifikasi yang diberikan kurang jelas serta kesalahan dari pengguna dalam menjalankan sistem (Sommerville, 2007)
Dalam pengembangan rancangan Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi ini, diperhatikan aspek keandalan dan ketersedian sistem. SID Otomasi dirancang untuk memenuhi kebutuhan para petugas Administrasi Cabang dan Admin, dengan memperhatikan kemampuan petugas itu sendiri dalam menggunakan teknologi. Sistem dan user interface akan dirancang dengan sederhana dengan tujuan agar mudah dioperasikan oleh pemakai sehingga mampu mempercepat proses pelaporan. Hal ini juga dapat meningkatkan kecepatan sistem dan mempercepat waktu recovey jika terjadi kegagalan sistem.
4.6.2 Safety
Hal pokok yang diperhatikan dalam aspek safety adalah jika sistem terjadi
perangkat keras dan perangkat lunak. Pengelolaan perangkat keras berupa pemeliharaan dan penempatan. Sedangkan perangkat lunak diperlukan untuk memantau jika terjadi error atau kesalahan sistem maupun kesalahan perangkat keras. Aspek safety juga bisa didukung dengan perancangan user interface yang baik, sehingga dapat meminimalkan kesalahan oleh pengguna. Dalam pelaksanaanya juga diperlukan bantuan sebuah unit, divisi atau department Teknologi Informasi dalam hal penempatan dan pemeliharaan perangkat keras, sehingga keamanan sistem dapat dimaksimalkan untuk menyediakan sistem yang handal (reliable).
Sistem otomasi debitur ini adalah sistem yang sangat diutamakan keamanan sistem karena dalam pelaksanaannya sistem ini sangat mempengaruhi baik proses maupun bagi organisasi dan personel. Jika error terjadi dalam proses pelaporan, maka data yang dilaporkan ke Bank Indonesia menjadi salah dan jika fatal data bisa rusak dan hilang. Jika hal tersebut terjadi maka risiko – risiko yang melekat pada pelaporan data debitur ini tidak dapat dihindari. Bagi PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk akan mendapat teguran, sangsi, atau denda dari Bank Indonesia. Bagi personal yang melaporkan, tentu saja akan mendapatkan teguran ataupun sangsi atas risiko yang diterima Bank Negara Indonesia. Oleh karena itu, alur proses serta user interface dirancang dengan sederhana dan fleksible, sehingga pengguna dapat menggunakan sistem dengan mudah, dan jika
terjadi kesalahan dapat segera diperbaiki.
4.6.3 Security
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aspek security, yaitu integritas (meyakinkan bahwa program dan data tidak mengalami kerusakan), dan kerahasiaan (meyakinkan bahwa informasi hanya dapat diakses oleh pihak yang memiliki otorisasi). Selain itu perlu diperhatikan kemampuan sistem untuk bertahan dari serangan eksternal seperti virus, malware, akses yang tidak diotorisasi, dan akses terhadap informasi rahasia terutama sistem yang terhubung dengan jaringan. Jika security sebuah sistem adalah rendah makan availability, reliability, dan safety juga akan menurun. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah dengan menempatkan anti virus dan attack detector, untuk memperingati para petugas agar dapat melakukan tindakan yang bersifat pencegahan dan selalu berusaha meningkatkan keamanan. User atau pengguna jika diberikan pengarahan atau sosialisasi dalam hal akses sistem, ganti password, dan sebagainya sehingga sistem tidak diakses oleh sembarang orang, serta perlu dilakukan pembagian hak akses yang jelas. Informasi data debitur adalah bersifat rahasia, sehingga sistem ini tidak diakses oleh orang yang tidak berwenang. Jika informasi ini keluar dan diakses oleh umum, maka akan terdapat kemungkinan penyalahgunaan informasi.
4.7 Critical Success Factors (CSF) Sistem
Untuk mendapatkan critical success factors sistem, penulis melakukan wawancara dengan group head dan manager group management information system serta beberapa pengguna (petugas Administrasi Cabang). Dari hasil
a. Setting Parameter
Dalam pelaporan data debitur bank ada beberapa parameter yang sering berubah dari Bank Indonesia yaitu versi aplikasi, versi validasi, versi referensi. Untuk itu tersedianya setting parameter dalam sistem otomasi debitur ini adalah penting, sehingga sistem bisa dengan mudah menyesuaikan dengan perubahan – perubahan dari Bank Indonesia tersebut.
b. Perbandingan data
Proses pelaporan sistem informasi debitur di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk secara keseluruhan terdapat dua basis data yaitu data Core Banking yang tersimpan di basis data Repository yang terpusat di kantor besar dan basis data SID Bank yang terdistribusi di masing – masing cabang. Segala transaksi dan pencatatan data di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk dilakukan di sistem Core Banking sehingga sumber data terkini adalah data Core Banking yang ada di basis data Repository. Namun, data terakhir yang dilaporkan kepada Bank Indonesia adalah data yang ada di basis data SID Bank yang melekat pada aplikasi SID Bank. Sehingga dibutuhkan layanan untuk membandingkan kedua
basis data tersebut agar terjaga konsistensi data antara data Core Banking dengan data SID Bank. Hal ini untuk menghindari risiko denda apabila Bank Indonesia menemukan perbedaan data laporan dengan data yang ada di sistem Core Banking PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
c. Import data Core Banking
Segala transaksi dan pencatatan data di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk dilakukan di sistem Core Banking sehingga sumber data terkini adalah data Core Banking yang ada di basis data Repository. Untuk mempermudah dan mempercepat proses, maka dibutuhkan suatu layanan yang bisa melakukan import data Core Banking dari basis data Repository ke dalam SID otomasi untuk kemudian dilakukan proses banding data dengan basis data SID Bank.
d. Import data SID Bank
Data terakhir yang dilaporkan kepada Bank Indonesia adalah data yang ada di basis data SID Bank yang melekat pada aplikasi SID Bank. Untuk mempermudah dan mempercepat proses, maka dibutuhkan suatu layanan yang bisa melakukan import data dari basis data SID Bank ke dalam sistem otomasi SID untuk kemudian dilakukan proses banding data dengan basis data Repository.
tersebut berupa data text file sesuai format dari Bank Indonesia agar dapat diimport langsung ke aplikasi SID Bank. Bank Indonesia telah memberikan spesifikasi atau petunjuk teknis untuk struktur text file yang dapat diimport ke aplikasi SID Bank yang terdapat lampiran 1.
f. Report
Sebelum proses pengiriman ke Bank Indonesia terdapat proses validasi data debitur yang dikelola, dan jika terjadi error validasi maka petugas ADC melakukan pengkinian data di aplikasi SID Bank. Agar konsistensi data Core Banking dan SID Bank tetap terjaga, maka setelah akhir pelaporan dibutuhkan layanan report data yang diubah, untuk selanjutnya dilakukan cleansing data di sistem Core Banking PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. Untuk mempermudah pengguna, layanan report ini bisa dikonversikan ke file pdf ataupun file doc sebagai laporan ke atasan atau sebagai bahan cleansing.
g. User friendly
Selain kehandalan sistem, pengguna juga membutuhkan sebuah sistem informasi yang jelas dan mudah dipahami oleh pengguna. Sistem informasi dengan rangkaian proses yang mudah dan jelas dilengkapi menu
yang dapat cepat dipahami oleh pengguna. Dengan demikian interaksi antara pengguna dan sistem dapat berjalan dengan baik.
4.8 Desain Antar Muka Sistem
Terdapat delapan aturan yang dapat digunakan sebagai petunjuk dasar yang baik untuk merancang suatu user interface atau antar muka. Delapan aturan ini disebut dengan Eight Golden Rules of Interface Design (Shneiderman, 2000).
Delapan aturan tersebut menjadi dasar dalam perancangan Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi, yaitu:
Tabel 4.10 Delapan Aturan Emas SID Otomasi Delapan Aturan Emas
Penjelasan
No. Aturan
1. Konsistensi
Antar muka Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi dari segi konsistensi dilakukan pada urutan tindakan, perintah yang digunakan pada menu, serta layar bantuan. Sehingga pengguna yaitu petugas ADC dan admin mudah dalam menggunakan sistem.
2.
Memungkinkan pengguna untuk menggunakan shortcut
Ada kebutuhan dari pengguna yang sudah terbiasa untuk meningkatkan kecepatan interaksi, sehingga diperlukan singkatan, tombol fungsi, perintah tersembunyi, dan fasilitas makro. Sistem Informasi Debitur
3.
Memberikan umpan balik yang informatif
memberikan umpan balik untuk tindakan pengguna. Untuk tindakan yang sering dilakukan dan tidak terlalu penting diberikan umpan balik yang sederhana. Tetapi ketika tindakan merupakan hal yang penting, maka umpan balik sebaiknya lebih substansial.
Misalnya muncul pesan kesalahannya dengan tanda seru atau tanda silang.
4. Merancang dialog untuk tindakan
Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi mengorganisasikan umpan balik yang informatif dalam tindakan pengguna. Sistem dirancang untuk memberikan indikasi bahwa cara yang dilakukan sudah benar ataupun proses yang dilakukan sudah selesai atau berhasil dan untuk selanjutnya pengguna dapat melakukan tindakan yang berikutnya
5.
Memberikan penanganan kesalahan
Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi dirancang sehingga pengguna tidak dapat melakukan kesalahan fatal. Jika kesalahan terjadi, sistem dapat mendeteksi kesalahan
dengan cepat dan memberikan mekanisme yang sedehana seperti pesan kesalahan dan mudah dipahami untuk penanganan kesalahan
6.
Mudah kembali ke tindakan sebelumnya
Dalam mengoperasikan sebuah sistem, kadang pengguna salah dalam mengambil tinndakan. Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi dapat mengurangi kecemasan pengguna karena pengguna mengetahui kesalahan yang dilakukan dapat dibatalkan sehingga pengguna tidak takut untuk mengekplorasi pilihan-pilihan lain yang belum biasa digunakan.
7.
Mendukung pengendali internal (internal locus of control)
Pengguna memiliki kecenderungan ingin menjadi pengontrol sistem dan berharap sistem akan merespon tindakan yang dilakukan pengguna daripada pengguna merasa bahwa sistem mengontrol pengguna.
Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi dirancang agar pengguna dapat mengontrol tindakan dengan memberikan respon tindakan kepada pengguna. Sehingga sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi menjadikan
penggunan inisiator daripada responden
8. Mengurangi beban ingatan jangka pendek
sebaiknya disatukan. Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi memiliki tampilan yang sederhana yang mengakomodir kebutuhan pengguna tanpa harus mengingat kode tertentu.
4.9 Use Case Diagram
Petugas Administrasi Cabang (ADC) berinteraksi dengan Statutory Report Portal (SRP) untuk mengunduh data Core Banking sesuai dengan penggambaran use case diagram pada gambar 4.10 berikut.
Gambar 4.10 Use Case Diagram Unduh Data Core Banking
Tabel 4.11 Use Case Spesification unduh data Core Banking Nama Unduh data Core Banking
Deskripsi Singkat
Sistem akan memberikan text file data Core Banking untuk diproses di SID Otomasi sesuai kebutuhan pengguna
Pre Condition Sistem menyediakan menu unduh data Core Banking
Post Condition
Sistem memberikan text file data Core Banking untuk diproses di SID Otomasi
Di dalam pelaksanaannya setiap petugas Administrasi Cabang (ADC) berinteraksi dengan Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi sesuai dengan penggambaran pada use case diagram pada gambar 4.11 berikut.
Gambar 4.11 Use Case Diagram Petugas ADC
Post Condition Sistem mengimport data SID Bank untuk siap di proses
Tabel 4.13 Use Case Spesification Import data Core Banking Nama Import data Core Banking
Deskripsi Singkat
Sistem akan mengimpor data text file yang merepresentasikan data Core Banking untuk siap diproses di aplikasi sistem otomasi debitur
Pre Condition Sistem menyediakan menu import data SID Bank dan text file data Core Banking sudah siap
Post Condition Sistem mengimport data SID Bank untuk siap di proses
Tabel 4.14 Use Case Spesification Create Text File Nama Create Text File
Deskripsi Singkat
Sistem akan membuat text file yang merupakan hasil perbandingan antara data yang ada di Core Banking dengan data yang ada di SID Bank
Pre Condition
Sistem menyediakan menu create text file dan proses export data SID Bank dan import data Core Banking sudah berhasil dilakukan
Post Condition
Sistem akan menghasilkan text file laporan yang siap untuk diimport ke sistem Sistem Informasi Debitur Bank Umum
Tabel 4.15 Use Case Spesification Lihat Laporan/Rekap
Nama Lihat Laporan/Rekap
Deskripsi Singkat Sistem menampilkan laporan atau rekap data laporan yang berhasil dibentuk tiap form
Pre Condition Sistem menyediakan menu lihat laporan tiap form laporan
Post Condition
Tabel 4.16 Use Case Spesification Export Laporan/Rekap Nama Export Laporan/Rekap
Deskripsi Singkat
Sistem akan mengekspor atau menghasilkan laporan/rekap dalam bentuk dokumen yang dapat disimpan di disk dan bisa dicetak
Pre Condition Sistem menyediakan menu export laporan/rekap Post Condition Sistem menghasilkan file document laporan yang dapat
disimpan di disk dan bisa dicetak
Tabel 4.17 Use Case Spesification Backup Data SID Bank ADC
Nama Backup Data SID Bank
Deskripsi Singkat Sistem akan menghasilkan file backup yang dapat disimpan di disk
Pre Condition Sistem menyediakan menu backup data SID Bank Post Condition Sistem menghasilkan file backup yang dapat disimpan di
disk
Pre Condition Sistem menyediakan menu setting parameter Post Condition Sistem mengupdate setting parameter hasil inputan
petugas ADC
Selain petugas Administrasi Cabang (ADC), user yang berinteraksi dengan Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi adalah admin. Interaksi admin dengan sistem sesuai dengan penggambaran pada use case diagram gambar 4.12 berikut.
Gambar 4.12 Use Case Diagram Admin
Tabel 4.19 Use Case Spesification Setting Parameter Admin Nama Konfigurasi Sistem dan Data
Deskripsi Singkat
Sistem akan mengkofigurasi sistem dan data yang dituju sesuai dengan input ataupun update parameter yang dilakukan.
Pre Condition Sistem menyediakan menu konfigurasi sistem dan data Post Condition Sistem mengkonfigurasikan sistem dan data yang dituju
sesuai dengan input ataupun update parameter
Tabel 4.20 Use Case Spesification Pengelolaan User dan Password Nama Pengelolaan User dan Password
Deskripsi Singkat
Sistem dapat melakukan pengelolaan user seperti insert, update, dan delete user. Selain itu sistem juga dapat melakukan pengelolaan password pemakai.
Pre Condition Sistem menyediakan menu pengelolaan user dan password
Post Condition Sistem menambah, memperbaruhi ataupun menghapus pemakai. Sistem juga dapat merubah password pemakai.
Tabel 4.21 Use Case Spesification Backup Data SID Bank Admin
Nama Backup Data SID Bank
Deskripsi Singkat Sistem akan menghasilkan file backup yang dapat disimpan di disk
Pre Condition Sistem menyediakan menu backup data SID Bank Post Condition Sistem menghasilkan file backup yang dapat disimpan di
disk
4.10.1 Sequence Diagram Unduh Data Core Banking
Gambar 4.13 Sequence diagram Unduh Data Core Banking
Pada saat petugas ADC berinteraksi dengan sistem SRP untuk unduh data core banking (gambar 4.10) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_unduh(bln,thn) ke form_unduh_core. Dengan inputan parameter bulan dan tahun data, form_unduh_core akan melakukan cek_unduh(bln,thn) dan get_unduh(text). Jika data yang dimaksud tersedia, maka form_unduh_core akan mengembalikan pesan result_unduh(text) ke form_utama.
4.10.2 Sequence Diagram Petugas ADC
Gambar 4.14 Sequence Diagram Import Data SID Bank
Pada saat petugas ADC berinteraksi dengan SID Otomasi untuk import data SID Bank (gambar 4.11) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_import_sid(db) ke form_import_sidbank. Dengan inputan parameter basisdata, form_import_sidbank akan melakukan val_import_sid(db).
Jika proses impor basis data berhasil, maka form_import_sidbank akan mengembalikan pesan result_import_sid(data) ke form_utama.
Gambar 4.15 Sequence Diagram Import Data Core Banking
Pada saat petugas ADC berinteraksi dengan SID Otomasi untuk import data core banking (gambar 4.11) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_import_core(file) ke form_import_core. Dengan inputan
Gambar 4.16 Sequence diagram Create Text File
Pada saat petugas ADC berinteraksi dengan SID Otomasi untuk create text file (gambar 4.11) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_create_text(dir) ke form_create_text. Dengan inputan parameter directory penyimpanan file, form_create_text akan melakukan get_core(file), get_sid(db), dan get_text_file(). Jika proses create text file berhasil, maka form_create_text akan mengembalikan pesan result_out_text(file) ke form_utama.
Gambar 4.17 Sequence Diagram Lihat dan Export Report
Pada saat petugas ADC berinteraksi dengan SID Otomasi untuk lihat laporan dan export laporan (gambar 4.11) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_view_report(bln) ke form_show_report.
Dengan inputan parameter bulan data, form_show_report akan melakukan get_report(data). Jika proses ambil data report berhasil, maka form_show_report akan mengembalikan pesan display_report(data) ke form_utama. Jika petugas ADC melakukan export laporan, maka form_utama mengirimkan pesan set_exp_lap(bln,dir) ke form_exp_report. Dengan inputan parameter bulan dan directory penyimpanan laporan, form_exp_report akan melakukan get_exp_lap(db). Jika proses export laporan berhasil, maka form_exp_report akan mengembalikan pesan result_exp_lap ke form_utama.
Gambar 4.18 Sequence Diagram Backup Data SID Bank
Pada saat petugas ADC berinteraksi dengan SID Otomasi untuk backup data SID Bank (gambar 4.11) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_backup(dir) ke form_backup. Dengan inputan parameter directory penyimpanan data backup, form_backup akan melakukan get_backup(db). Jika proses backup berhasil, maka form_backup akan mengembalikan pesan result_backup(data) ke form_utama.
Gambar 4.19 Sequence Diagram Setting Parameter ADC
Pada saat petugas ADC berinteraksi dengan SID Otomasi untuk setting parameter (gambar 4.11) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_param(db,cab,ver) ke form_param. Dengan inputan
parameter basisdata, cabang, dan versi aplikasi form_param akan melakukan set_config_db(db), set_bln_cab(cab), dan set_versi(ver). Jika proses setting parameter berhasil, maka form_param akan mengembalikan pesan hasil_param(db,cab,ver) ke form_utama.
4.10.3 Sequence Diagram Admin
Gambar 4.20 Sequence Diagram Setting Parameter Admin
Pada saat petugas Admin berinteraksi dengan SID Otomasi untuk setting parameter (gambar 4.12) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_param(db,cab,ver) ke form_param. Dengan inputan parameter basisdata, cabang, dan versi aplikasi form_param akan melakukan set_config_db(db), set_bln_cab(cab), dan set_versi(ver). Jika proses setting parameter berhasil, maka form_param akan mengembalikan pesan hasil_param(db,cab,ver) ke form_utama.
Gambar 4.21 Sequence Diagram Pengelolaan User dan Password
Pada saat petugas Admin berinteraksi dengan SID Otomasi untuk pengelolaan user dan password (gambar 4.12) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_user(user_detail) ke form_conf_user. Dengan inputan parameter detail pengguna, form_conf_user akan melakukan get_user(user_detail). Jika proses konfigurasi berhasil, maka form_conf_user akan mengembalikan pesan display_user(user_detail) ke form_utama.
Gambar 4.22 Sequence Diagram Backup Data SID Bank Admin
Pada saat petugas Admin berinteraksi dengan SID Otomasi untuk backup data SID Bank (gambar 4.12) proses yang terjadi di dalam sistem adalah form_utama mengirimkan pesan set_backup(dir) ke form_backup. Dengan inputan parameter directory penyimpanan data backup, form_backup akan melakukan
get_backup(db). Jika proses backup berhasil, maka form_backup akan mengembalikan pesan result_backup(data) ke form_utama.
4.11 Activity Diagram
Dalam proses pelaporan data debitur menggunakan Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi sebelumnya petugas ADC harus mengambil data Core Banking yang telah tersedia di portal Statutory Report Portal PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. SRP dipilih karena memang laproan data debitur merupakan salah satu statutory report ke Bank Indonesia. Petugas yang mengakses portal SRP adalah petugas yang terdaftar dalam sistem untuk menjaga unsur security. Setelah petugas ADC berhasil login ke dalam portal, petugas bisa mengambil data Core Banking untuk pelaporan debitur dengan memilih bulan dan tahun data pelaporan. Proses ini dapat digambarkan dalam activity diagram gambar 4.23 berikut.
Ambil_Data input_bulan_tahun_data
cek_data valid invalid
ada tidak ada
Gambar 4.23 Activity Diagram Ambil Data Core Banking di SRP
Setelah data Core Banking berhasil diambil oleh petugas ADC sesuai dengan cabang masing – masing, selanjutnya petugas ADC dapat melakukan proses otomasi menggunakan sistem Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi.
Petugas login ke SID Otomasi dengan user masing – masing. Kemudian petugas bisa mengakses menu import data Core Banking. Petugas melakukan proses import data Core Banking yang telah diambil dari proses ambil data Core Banking di SRP. Setelah tahapan ini berhasil, selanjutnya petugas mengakses menu import data Sid Bank. Petugas melakukan proses import data Sid Bank hanya dengan menekan tombol yang telah tersedia. Setelah tahapan ini berhasil, selanjutnya petugas mengakses menu create text file. Petugas melakukan proses create text file laporan hanya dengan menekan tombol yang telah tersedia. Setelah tahapan ini berhasil, petugas sudah memiliki text file yang siap diimport ke aplikasi SID
Bank sebagai laporan data debitur yang dikelola. Proses ini dapat digambarkan dalam activity diagram gambar 4.24 berikut.
Gambar 4.24 Activity Diagram Create Text File di SID Otomasi
Petugas ADC atau admin dapat melakukan setting parameter berup bulan data, tahun data, kode cabang, versi aplikasi, versi referensi, versi validasidan koneksi data yang diperlukan sesuai proses pelaporan setiap bulannya. Petugas ADC atau cabang hanya perlu melihat parameter yang ada di sistem, dan jika
ADC SID Otomasi
Gambar 4.25 Activity Diagram Setting Parameter di SID Otomasi
Pada saat proses validasi pada aplikasi SID Bank dimungkinkan terjadinya beberapa kesalahan validasi data. Untuk itu petugas melakukan proses update atau penyesuaian data di aplikasi SID Bank agar lolos validasi untuk dikirim ke Bank Indonesia. Setelah proses pengiriman laporan selesai, petugas ADC dapat membuat laporan data yang diupdate atau disesuaikan tersebut untuk selanjutnya
ADC/ADMIN SID Otomasi
dilakukan cleansing atau pengkinian data di sistem Core Banking PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. Proses membuat laporan update tersebut dapat digambarkan dalam activity diagram gambar 4.26 berikut.
Gambar 4.26 Activity Diagram Create Laporan Update di SID Otomasi
Sistem SID otomasi dilengkapi dengan fitur backup basis data yang bertujuan untuk meningkatkan sisi safety di sistem. Jika terjadi kerusakan data atau kehilangan data dikarenakan virus atau kegagalan sistem, petugas telah memiliki data backup. Petugas ADC atau Admin dapat melakukan backup basis data SID Bank dengan mudah dan cepat di dalam sistem SID Otomasi ini. Untuk menggambarkan aktivitas backup basis data SID Bank dapat digambarkan pada gambar 4.27 berikut ini.
ADC SID Otomasi
Gambar 4.27 Activity Diagram Backup Basis Data SID Bank di SID Otomasi
Sistem SID otomasi dilengkapi dengan fitur pengelolaan pengguna yang bertujuan untuk meningkatkan sisi security di sistem. Hanya pengguna yang terdaftar yang berhak menggunakan sistem dan mengakses data. Admin dapat melakukan pengelolaan pengguna dengan mudah pada sistem SID Otomasi.
Untuk menggambarkan aktivitas backup basis data SID Bank dapat digambarkan pada gambar 4.28 berikut ini.
Gambar 4.28 Activity Diagram Pengelolaan Pengguna di SID Otomasi
4.12 Perancangan Antar Muka
4.12.1 Statutory Report Portal
Untuk mengakses Statutory Report Portal (SRP) PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, maka petugas ADC harus melakukan login terlebih dahulu berdasarkan NPP dan password sesuai batasan akses yang ditetapkan (gambar 4.29).
ADMIN SID Otomasi
Gambar 4.29 Halaman Log on di Statutory Report Portal
Setelah berhasil login ke Statutory Report Portal, petugas ADC dapat mengambil data Core Banking pada menu Sumber Data SID Otomasi. Petugas memilih bulan dan tahun laporan data yang akan diambil. Selanjutnya petugas dapat mengunduh data tersebut untuk digunakan dalam proses SID Otomasi (gambar 4.30).
Gambar 4.30 Halaman Download Sumber Data SID Otomasi
4.12.2 Sistem Informasi Debitur Otomasi
Untuk mengakses Sistem Informasi Debitur Otomasi PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, maka petugas ADC atau Admin harus melakukan login terlebih dahulu. Berdasarkan user dan password yang telah ditentukan (gambar 4.31).
Gambar 4.31 Halaman Log in SID Otomasi
Jika proses login user berhasil, maka Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi akan menampilkan halaman utama sistem. Halaman utama untuk petugas ADC dan admin adalah sama. Tampilan halaman utama dapat digambarkan pada gambar 4.32
Gambar 4.32 Halaman Utama SID Otomasi
konfigurasi koneksi dan data digambarkan pada gambar 4.33
Gambar 4.33 Menu Konfigurasi Koneksi dan Data
Petugas admin disediakan menu untuk mengelola pengguna SID Otomasi.
Admin dapat menambahkan pengguna baru, melakukan pengkinian data terhadap pengguna yang telah ada, dan dapat menghapus pengguna. Tampilan menu konfigurasi pengguna seperti pada gambar 4.34
Gambar 4.34 Menu Konfigurasi Pengguna
Proses import data Core Banking (data yang diambil dari SRP) dapat dilakukan petugas ADC dengan mengakses menu import data Core Banking.
Petugas ADC hanya perlu menentukan di direktori mana file data Core Banking disimpan. Selanjutnya sistem akan membaca file tersebut. Tampilan menu import data Core Banking tergambar pada gambar 4.35 berikut.
Gambar 4.35 Halaman Menu Import Data Core Banking
Gambar 4.36 Halaman Menu Import Data SID Bank
Proses membuat text file dapat dilakukan petugas ADC dengan mengakses menu create text file. Petugas ADC hanya perlu menentukan direktori tempat menyimpan hasil text filenya. Setelah itu petugas ADC cukup menekan tombol proses untuk memerintah sistem membuat text file laporan. Text file ini yang diimport ke aplikasi SID Bank. Tampilan menu create text file tergambar pada gambar 4.37 berikut.
Gambar 4.37 Halaman Menu Create Text File
Proses lihat dan export laporan dapat dilakukan petugas ADC dengan mengakses menu laporan update. Petugas ADC akan disajikan halaman berisi data yang diupdate pada saat proses validasi laporan di SID Bank. Petugas ADC dapat melihat laporan tiap formnya. Tampilan menu laporan update data SID tergambar pada gambar 4.38 berikut
Gambar 4.38 Halaman Menu Laporan Update Data SID
Gambar 4.39 Halaman Menu Save As Laporan
Petugas ADC dan admin dapat melakukan backup basis data dengan memilih menu backup. Setelah itu, pengguna diminta untuk menentukan direktori penyimpanan hasil backup basis data seperti pada gambar 4.40 berikut
Gambar 4.40 Halaman Penyimpanan Hasil Backup
4.13 Topografi Jaringan SID Otomasi
Rancangan sentralisasi Sistem Informasi Debitur (SID) Otomasi PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk membutuhkan database server yang berfungsi sebagai penyimpanan data debitur seluruh cabang. Database server ini menggunakan Microsoft SQL Server 2005 sebagai basis datanya, sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia bahwa basis data yang digunakan dalam pelaporan data debitur adalah Microsoft SQL Server 2005. Basis data dari seluruh cabang dimigrasi ke database yang terpusat di head office PT. bank Negara Indonesia (Persero), Tbk di Jakarta. Database server terhubung dengan komputer petugas menggunakan LAN (Local Area Network). Masing masing komputer petugas Administrasi Cabang dan Admin diinstall aplikasi SID Bank dan SID Otomasi. Di dalam aplikasi SID Bank dan SID Otomasi dilakukan setting parameter menunjuk basis data sesuai data cabang masing – masing. Setting dilakukan terhadap ip address server, database name, username dan password database. Untuk koneksi pada saat proses pelaporan data debitur, Bank Indonesia menyediakan satu direct line ke setiap bank umum termasuk BNI sebagai sarana penyampaian laporan operasional. Direct line ini berupa kabel jaringan yang terhubung langsung antara BNI dengan BI. Memanfaatkan direct line tersebut, maka pelaporan data debitur dari BNI ke Bank Indonesia bisa lebih cepat dari sebelumnya. Berikut adalah gambar topografi jaringan SID Otomasi (gambar 4.41).
Gambar 4.41 Topografi Jaringan SID Otomasi
4.14 Sistem yang diusulkan
Proses pelaporan data debitur yang selama ini berjalan di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk adalah sebagai berikut :
1) Data Repository atau biasa disebut Data Repo merupakan datawarehouse yang terdapat di PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. Salah satu isi dari data repo tersebut adalah data debitur yang dikelola masing – masing cabang. Data debitur tersebut disajikan dalam bentuk flat file ke dalam portal Statutory Report Portal (SRP). Portal SRP adalah portal berbasis web yang dikhususkan oleh BNI untuk delivery laporan – laporan ke pihak ketiga, yang bisa diakses oleh seluruh petugas ADC selama petugas ADC tersebut terhubung dengan jaringan BNI.
2) Di dalam Statutory Report Portal (SRP), dibuat satu menu untuk unduh data core banking. Data core banking tersebut berisi data lengkap tentang seluruh data rekening debitur yang dikelola oleh masing – masing cabang.
3) Untuk mengunduh data core banking di SRP, petugas harus login sesuai dengan username dan password yang telah diberikan. Setelah data core banking diunduh oleh petugas ADC langkah berikutnya, petugas melakukan proses data debitur melalui aplikasi SID Otomasi dan SID Bank.
4) Petugas melakukan proses otomasi di dalam aplikasi SID Otomasi.
Pertama, petugas melakukan import data core banking melalui SID Otomasi (gambar 4.35), dimana petugas hanya perlu menentukan directory data core banking disimpan dan sistem secara otomasi akan membaca file tersebut. Kedua, petugas melakukan import data SID Bank melaui SID Otomasi (gambar 4.36), dimana petugas hanya perlu menekan tombol proses dan sistem secara otomasi akan membaca basis data SID Bank.
Ketiga, petugas melakukan create text file yang merupakan hasil dari proses perbandingan data antara data core banking dengan data SID Bank (gambar 4.37), dimana petugas hanya perlu menentukan directory penyimpanan data dan sistem akan secara otomasi melakukan proses perbandingan data antara data core banking dan SID Bank yang hasilnya berupa text file siap diimport ke SID Bank Umum.
Data SID Bank ini juga dibaca di aplikasi SID Otomasi pada saat proses import SID Bank.
6) SID Otomasi menghasilkan text file berupa hasil perbandingan data antara core banking dan SID Bank yang siap dilaporkan ke Bank Indonesia. Hasil text file tersebut diimport ke dalam aplikasi SID Bank yang telah disediakan di aplikasi SID Bank.
7) Di aplikasi SID Bank petugas ADC akan melakukan cek validasi data sebelum dikirimkan ke Bank Indonesia. Di dalam aplikasi SID Bank, fungsi validasi data sudah disediakan. Jika masih ada beberapa data yang error saat divalidasi, maka petugas bisa melakukan pengkinian data di SID Bank. Apabila data laporan sudah valid, petugas ADC akan membuat file kirim yang juga fungsinya sudah tersedia di SID Bank. Output dari aplikasi SID Bank adalah file kirim yang siap untuk diunggah ke web SID sebagai laporan data debitur bulanan. Petugas ADC mengunggah file kirim ke web SID melalui jaringan ekstranet Bank Indonesia.
8) Jika proses unggah atau pelaporan data berhasil diterima dengan sempurna oleh Bank Indonesia, web SID akan mengirimkan notifikasi bahwa laporan telah diterima dan petugas ADC melakukan backup data di komputer masing – masing.
9) Setelah pelaporan ke Bank Indonesia dilakukan, petugas berkewajiban membuat laporan data yang diupdate di SID Bank pada saat proses validasi. SID Otomasi sudah menyediakan laporan tersebut untuk mempermudah petugas ADC.
10) Laporan update data yang dilakukan tersebut dilaporkan ke penyelia (supervisor) untuk dilakukan monitoring data cleansing agar untuk ke depannya data sudah benar dan lolos validasi.
Secara skematis proses pelaporan yang diusulkan di dalam tesis ini untuk PT.
Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk adalah seperti gambar 4.42 berikut :
Gambar 4.42 Alur Proses Pelaporan yang diusulkan
Dengan menggunakan SID Otomasi, petugas Administrasi Cabang (ADC) tidak lagi melakukan input secara manual ke dalam aplikasi SID Bank.
Petugas hanya perlu menjalankan fungsionalitas di aplikasi SID seperti yang telah dijelaskan pada sub bab 4.14 point 4. Bahwa untuk melakukan proses otomasi, petugas hanya perlu menjalankan fungsi import data core banking, import SID Bank, dan create text file tanpa ada inputan manual di dalamnya.
2. Dengan adanya aplikasi SID Otomasi, ketergantungan terhadap petugas Administrasi Cabang berkurang. Untuk melakukan proses laporan, petugas yang tidak memiliki pengetahuan tentang kredit, agunan, L/C,dan garansi bank juga bisa melakukannya. Petugas hanya perlu menjalankan aplikasi SID Otomasi dan mengikuti petunjuk di dalamnya.
3. Dengan topografi jaringan SID Otomasi yang tersentralisasi (gambar 4.41), maka sistem dan data yang dulunya tersebar di masing – masing cabang, dapat dipusatkan di head office BNI. Sehingga untuk pemeliharaan software dan hardware mudah dilakukan dan integrasi data dapat terjaga dengan baik.
4. Pada topografi jaringan SID Otomasi yang telah digambar pada gambar 4.41 dijelaskan bahwa dengan sentralisasi maka dial up connection menggunakan jaringan kabel telepon tidak digunakan lagi. Untuk pelaporan ke Bank Indonesia, menggunakan jaringan direct line yang menghubungkan langsung head office BNI dengan Bank Indonesia seperti yang dijelaskan pada sub bab 4.13