• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGUJIAN ALAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV PENGUJIAN ALAT"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUJIAN ALAT

(2)

4.1. PENGUJIAN LPF ANALOG

Pengujian LPF analog ini menggunakan input sinyal smus dari function generator. Ouput function generator dihubungkan pada input rangkaian LPF pada Gambar 4.1 dan chane! 1 (CH 1) oscilloscope. Amplituda sinyal input diatur sampai sebesar 5 Vpp. Kemudian output rangkaian LPF pada Gambar 4.1 dihubungkan pada chanel 2 (CH2) Oscilloscope. Proses pengujian rangkaian LPF dilakukan dengan mengubah-ubah besarnya frekuensi sinyal function generator dan hasil pengukuran dan pengamatannya dapat dilihat pada TabeI4.1.

>---.-..

OUTPUT

Gambar 4.1

Rangkaian pengujian LPF analog

(3)

Tabel4.1

Basil pengamatan dan pengukuran output LPF analog

TIME VOLT/DIV AMPLITUDO FREK. FUNCTION OUTPUT

BASE (ms) (VIDIV) V-IN (Vpp) GENERA TOR (Hz) LPF (Vpp)

0.1 5 5 O-IOK 5

0.1 5 5 15K 2

0.1 5 5 20K 1

0.1 5 5 30K- seterusnya 0

4.2. PENGUJIAN ADC

• Pengujian tegangan referensi pada ADC dengan meIakukan pengukuran pada pin REF (pin 23) MAXl96 pada Gambar 4.2 dengan muItitester digital. Dari hasi1 pengukuran didapat tegangan referensi sebesar 4,09V, mendekati spesifikasi tegangan referensi IC yaitu 4,096Y.

• Pengujian hasil konversi ADC. Dengan menggunakan cara memberi tegangan konstan DC pada pin 16 (CHO) input analog ADC pada Gambar 4.2 dan membuat program sederhana seperti pada Gambar 4.3b untuk membaca data hasil konversinya. Data hasil konversi ADC dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan diagram alir program pengujian ADC dapat dilihat pada Gambar 4.3a.

(4)

vIm

Dll fWR 26

DiO IRD 25

Il9 lINT 24

D8 REF 23 O,OluF +

D7 REFADJ

Il6 CH.5

m CH4

D4 CH3

Il3 CHl

D2 CHI

Di ClIO

00 AGhll

Gambar 4.2

Rangkaian pengujian ADC

Tabel4.2 Hasil konversi ADC

1

~4'7uF

O,OIUF 4,7uF

l

+ -

ANALOG IN

Input analog ADC (Volt) Pembacaan ADC pada program (desimal)

+10 4095

+5 3072

0 2048

-5 1024

-10 0

Gambar 4.3a

Diagram alir program pengujian ADC

(5)

Uses crt;

Const ADC=$302;

Var Data: integer;

Begin

Portw[ADC] :=$58;

Repeat

Data:=Portw[ADC] and $FFF;

Data:=Data xor $800;

Gotoxy(25,ll);writeln(Data);

Portw [ADC] : =$58;

Until keypressed;

End.

4.3. PENGUJlAN DAC

Gambar 4.3b Program pengujian ADC

• Pengujian tegangan referensi pada DAC dengan melakukan pengukuran pin VREF (pin 10) pada Gambar 4.4 dengan multitester digital. Dari hasil pengukuran didapat tegangan referensi sebesar + IO,02V, mendekati tegangan referensi yang dinginkan yaitu 10 V.

• Pengujian DAC dilakukan dengan memberikan beberapa input digital melalui program sederhana seperti pada Gambar 4.5b. Kemudian dilakukan pengukuran tegangan output pada rangkaian DAC pada Gambar 4.4 untuk tiap-tiap data digital yang dimasukkan. Data hasil konversi DAC dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan diagram alir program pengujian DAC dapat dilihat pada Gambar 4.5a.

(6)

< OUYL;

Gambar 4.4

Rangkaian pengujian DAC

Tabel4.3 Hasil konversi DAC

Input digital (desimaI) Output analog DAC (V)

4095 + 10.02

3072 +5,03

2048 0

1024 -5,02

0 -10,01

Gambar4.5a

Diagram alir program pengujian DAC

(7)

Uses crt;

Const DAC=$300;

VarData : integer;

Begin Clrscr;

Writeln('Data = ');readln(Data);

Repeat

Portw[DAC] :=Data;

Until keypressed;

End.

Gambar 4.5b Program pengujian DAC

4.4. Pengujian ADC dan DAC

Pengujian ADC dan DAC secara bersama-sama adalah dengan memberikan beberapa tegangan DC ke pin 16 (CHO) input analog ADC pada Gambar 4.2 tanpa melalui LPF analog. Kemudian membuat program sederhana seperti pada Gambar 4.6c untuk membaca data ADC dan mengirimnya ke DAC. Tegangan output DAC pada Gambar 4.4 diukur dengan multitester digital. Data hasil pengujian ADC dan DAC dapat dilihat pada Tabel 4.4 dan diagram alir program pengujian ADC dan DAC dapat dilihat pada Gambar 4.6b.

Tabel4.4

Hasil pengujian ADC dan DAC Input ADC (Volt) Output DAC (Volt)

+10 +9,98

+5 +4,96

0 0

-5 -4,98

-10 -9,97

(8)

Inisialisasi ADC

set interupt vector

Gambar4.6a

Diagram alir program utama pengujian ADC dan DAC

start ')

1"

baca data padaADC

r

kirim data ke DAC

r

ADC start konversi lagi

1

End of interrupt

T

end

')

Gambar4.6b

Diagram alir prosedur interupsi pengujian ADC dan DAC

(9)

Uses crt,dos;

Const ADC=$302;

DAC=$300;

Fcb=$58;

Var Data: integer;

{prosedur interupsij

Procedure Baca_ADC; interrupt;

Begin

End;

Data:=portw[ADC] and FFF;

Data:=Data xor $800;

Portw[DAC] :=data;

Portw[ADC] :=Fcb;

Port [$20] :=$20;

{program utamaj Begin

Portw[ADC] :=Fcb;

Setintvec($OD,Addr(Baca_ADC)) ; Port[$21] :=port[$21] and $DF;

Repeat until keypressed;

Port[$21] :=port[$21] or $20;

End.

Gambar 4.6c

Program pengujian ADC dan DAC

(10)

Pengujian filter digital dilakukan dengan menetapkan harga frekuensi cutoff, transition width dan stopband attenuation melalui program. Setelah itu dilakukan pengamatan dan pengukuran dengan menggunakan oscilloscope dihrital. Oscilloscope digital yang digunakan adalah oscilloscope digital merk Hewlet Packard tipe 54501A 100 MHz. Hal yang diamati dan dianalisa pada pengujian filter digital ini adalah attenuation (perbandingan penguatan) sinyal input dan output.

4.5.1. PENGUJIAN LOWPASS FILTER (LPF)

Pada program dipilih menu "1" yaitu menu lowpass filter, kemudian diinputkan sebagai berikut :

• Frekuensi cutojf(fc) = 1 KHz

• Transition Width (tw) = 500 Hz

• Stopband Attenuation

s

21 dB (untuk window rectangular)

• J umlah koefisien filter (perhitungan dari program) = 41

Hasil pengamatan dapat dilihat pada Gambar 4.7a, 4.7b, dan 4.7c.

Gambar 4.7a menunjukkan hasil pengujian LPF dengan frekuensi input di bawah frekuensi cutoff, Gambar 4.7b menunjukkan hasil pengujian LPF dengan frekuensi input sarna dengan frekuensi cutoff, dan Gambar 4.7c menunjukkan hasil pengujian LPF dengan frekuensi input di atas frekuensi cutoff.

(11)

1.~.1 . (:, 0 I, -) () (I

5C!C.i U :::; ,/ d j, ')

frequency! 1 I ::;(11, (iO() H:: fre.qu2i"iC:U1 :2

"/3rnp( 2 -:.

\/;3mp(1) 9.6t375C)

Garnbar 4.7a

;).+ (iT ,,>-

elf

E l l

Pengujian LPF dengan frekuensi input di bawah frekuensi cutoff

frequenC1d( 1

\";jmp ( 1 )

. i) 12 i 21110 r(8qui~nCidf. 2

· .... amp I 2 )

Garnbar 4.7b

• .

.~"---~-':.

I

of f

IiJJ_ \

,

. _ - - ._---

. i I

1. ____ , __________________ .,1

pr-e-::et.

p 1- 0 t~! e

Pengujian LPF dengan frekuensi input sarna dengan frekuensi cutoff

(12)

(lr'intlnq

O,OOO(I() S

~iOI) I.J S / tj i './

l' r8quencl~ (

\' a f}i p r 1 )

fr-equetlC!dl 2) L,C!'::::;~9()VHz

Vamp( 2) .--! IElf_::'!) ,~"

Gambar4.7c

Pengujian LPF dengan frekuensi input di atas frekuensi cutoff

Keterangan untuk Gambar 4.7a, 4.7b, dan 4.7c:

Frequency(l) = frekuensi sinyal input (Hz) Frequency(2) = frekuensi sinyal output (Hz) Vamp(l) = amplitudo sinyal input (V)

• Vamp(2) = amplitudo sinyal output (V)

Analisa data untuk Gambar 4.7a :

Attenuation = 20 log [Vamp (2)]

Vamp(l)

= 2010 [8,90625J g 9,6875

= -0,73 dB

(13)

Tabel4.5

Analisa data pengujian LPF

Window

Rectangular Hamming Blackman

Transition Width{Hzl 500 1200 2000

Stopband Attenuation (dB)

:s:

2 I 22 - 53 54-73

lumlah koefisien filter 41 48 48

Vampin(V) 9,68750 9,68750 9,68750 fin<fc (fin = 500 Hz) Vampout (V) 8,90625 9,13750 9,34250

Gain (dB) -0,73 -0,51 -0,31

Vampin(V) 9,68750 9,68750 9,68750

fin = fc = I KHz Vam2out{Vl 6,87500 6,54350 6,78650

Gain (dB) -2,97 -3,41 -3,09

Vampin{V) 9,68750 9,68750 9,68750 fin>fc (fin = 2 KHz) Vampout (V) 2,18750 2,45500 2,97250

Gain (dB) -12,93 -11,92 -10,26

Kesimpulan :

LPF bekeIja dengan cukup baik untuk ketiga macam metode Window (Rectangular, Hamming, dan Blackman). Hal ini terlihat dari hasil perhitungan pada Tabel 4.5 di mana sinyal input dengan frekuensi di bawah frekuensi cutoff tidak mengalami peredaman yang sangat kecil, sinyal input dengan frekuensi di atas frekuensi cutoff mengalami peredaman yang besar, dan sinyal output dengan frekuensi sinyal input sarna dengan frekuensi cutoff memiliki attenuation mendekati -3 dB.

(14)

Pada program dipilih menu "2" yaitu menu bandpass filter, kemudian diinputkan sebagai berikut :

• Frekuensi cutoffatas (fa) = 2 KHz

• Frekuensi cutoffbawah (fb)= 1 KHz

• Transition Width (tw) = 500 Hz

• Stopband Attenuation

s

21 dB (untuk window rectangular)

• J urnlah koefisien filter (perhitungan dari program) = 41

Hasil pengamatan dapat dilihat pada Garnbar 4.8a, 4.8b, dan 4.8c dan analisa datanya dapat dilihat pada Tabel4.6. Gambar 4.8a menunjukkan hasil pengujian BPF dengan frekuensi input sarna dengan frekuensi cutoff bawah, Gambar 4.8b rnenunjukkan hasil pengujian BPF dengan frekuensi input di antara frekuensi cutoff atas dan bawah (frekuensi tengah), dan Gambar 4.8c rnenunjukkan hasiI pengujian BPF dengan frekuensi input sarna dengan frekuensi cutoff atas.

Keterangan untuk Garnbar 4.8a, 4.8b, dan 4.8c :

• Frequency(l) = frekuensi sinyal input (Hz)

• Frequency(2) = frekuensi sinyal output (Hz)

• Vamp(l)

• Varnp(2)

= amplitudo sinyal input (V)

= amplitudo sinyal output (V)

(15)

1 i-8quencl~ ( 1 I

".lame] ( 1 )

1 requencljl 1 :1

\ li3ri1p( 1 )

C/ ,(r(ir){jl.) 5

50(,1 US'/c11\'

t teque.nc1d I 2 "!

'o.,r';3mp ( .2 ,)

Gambar 4.8a

Pengujian BPF dengan fin = fc bawah

(.1 ,':)0("'))0 S 5()(:i u:~:/:ji\-I

f requencld I 2 )

'v'3mp( 2 ;:

Gambar4.8b

- *'" of ::::cre8n';

I -

I f~1 f f f r-,3 ffl (~ I

....

,~

...•

(~j:~=-~__

Ellil!

r " ( . 0 n n E.~ c t (j (I t ':; ""---,

\_~~~---~~~-j

Pengujian BPF dengan frekuensi input sarna dengan frekuensi tengah

(16)

f r-equencid ( 1

\I'ismp::: 1 )

.5(10 uS./ljiv ()t)40rJkH:

9, tlf:::i750 "i

frequenC!d( 2) ~ jtl~ll(lrH,

Vamp(2) 6,71i:i7r:; ".'

Gambar 4.8c

Pengujian BPF dengan fin = fe atas

Analisa data untuk Gambar 4.8a :

Attenuation = 20 log [Vamp (2)]

Vamp(l)

= 20 10 [6,5625J g 9,6875

=-3,38 dB

,--~ P I~ t-'~: 1 ::' -:-" i7.:' n C f~' - - ' ]

,

i r :~ !"(~' i

_ _ ~ _ _ _ ~~ _ _ u _ _ _ .. .-[

(17)

Tabel4.6

Analisa data pengujian BPF

Window I

Rectangular Hamming Blackman

Transition Width (Hz) 500 1200 2000

Stopband Attenuation (dB) :0; 21 22- 53 54 -73

.lumlah koefisien filter 41 48 48

~n = fc bawah = Vampin(V) 9,68750 9,68750 9,68750

1 KHz Vampout (V) 6,56250 6,83250 7,01250

Gain (dB) -3,38 .. 3,03 -2,81

fc bawah < fin < fc Vampin(V) 9,68750 9,68750 9,68750 atas (fin = 1,5 KHz) Vampout (V) 9,37500 9,10350 9,02500

Gain (dB) -0,28 -0,54 -0,62

fin = fc atas = Vampin(V) 9,68750 9,68750 9,68750

2KHz Vampout(V) 6,71875 6,67250 6,81225

Gain (dB] -3,18 -3,24 -3,06

Kesimpulan :

BPF bekeIja dengan cukup baik untuk ketiga macam metode Window (Rectangular, Hamming, dan Blackman). Hal ini terlihat dari hasil perhitungan pada TabeI 4.6 di mana sinyal input dengan frekuensi di bawah frekuensi cutoff bawah dan di atas frekuensi cutoff atas mengalami peredaman yang besar, sinyal input dengan frekuensi di antara frekuensi cutoff atas dan bawah (fin = frekuensi tengah) memiliki amplitudo yang terbesar (mengalami peredaman yang terkecil), dan sinyal output dengan frekuensi sinyal input sarna dengan frekuensi cutoff atas dan bawah memiliki attenuation mendekati -3 dB.

(18)

Pada program dipilih menu "3" yaitu menu bandstop filter, kemudian diinputkan sebagai berikut :

• Frekuensi cutoffatas (fa) = 2 KHz

• Frekuensi cutoffbawah (fb)= 1 KHz

• Transition Width (tw) =500 Hz

• Stopband Attenuation :::; 21 dB (untuk window rectangular)

• Jumlah koefisien filter (perhitungan dari program) = 41

Hasil pengamatan dapat dilihat pada Gambar 4.9a, 4.9b, dan 4.9c dan analisa datanya dapat dilihat pada Tabel4.7. Gambar 4.9a menunjukkan hasil pengujian BSF dengan frekuensi input sarna dengan frekuensi cutoff bawah, Gambar 4.9b menunjukkan hasil pengujian BSF dengan frekuensi input di antara frekuensi cutoff atas dan bawah (frekuensi tengah). dan Gambar 4.9c menunjukkan hasil pengujian BSF dengan frekuensi input sarna dengan frekuensi cutoff atas.

Keterangan untuk Gambar 4.9a, 4.9b, dan 4.9c :

• Frequency(l) = frekuensi sinyal input (Hz)

• Frequency(2) = frekuensi sinyal output (Hz)

• Vamp(l)

• Vamp(2)

= amplitudo sinyal input (V)

= amplitudo sinyal output (V)

(19)

ft-equenc~di 1

\lampC 1 )

/7p ",topped

-2, ::;(j()I:)CI rns

ft'equ8nc~C 1

\"amp( 1 )

1.(r1212kH;::

9, i:i.::l375 \,/

f requencid C 2

"iarflp ( 2 )

Gambar 4.9a

Pengujian BSF dengan fin = fc bawah

(.I.00(!!.)0

500 U :::: ./d 1 \1

irequenCI~!. 2:- ' .... ampi 2)

Gambar 4.9b

2 ,5(1(1()() rn .,::

mat

I

_ _ -'CD I :;~E.l: A V ___ _

~-n \,'

!

I

_ _ _ _ I

# of ::::crt3ens

off fr-,':Jrne. 1

j~ 2'_

__I!..J:iD!.j_1

- CI~lnn8C t :jot':. -"1 Ii ot f

MoI+

I

Pengujian BSF dengan frekuensi input sarna dengan frekuensi tengah

(20)

f rE:'quenc~ ( 1 'I -.::: I:JLl4iJ!)kH2 'v'amp( 1 ) 9,6;::;750 'y'

f requencIJ'. :2 ',lamp' 2 )

:2', \:)~490kH;::

6,711375 \,'

Gambar 4.9c

Pengujian BSF dengan fin = fc atas

Analisa data untuk Gambar 4.9a :

. [VamP(2)]

AttenuatIOn = 20 log

Vamp(l)

= 20 10 [6,5625]

g 9,6875

= -3,38 dB

en \'

':,cr-eei"!;:;

-1

of f MIUIII

(21)

Tabel4.7

Analisa data pengujian BSF

Window

Rectangular Hamming Blackman

Transition Width (Hz) 500 1200 2000

Stopband Attenuation (dB) < 21 22 - 53 54 -73

lumlah koefisien filter 41 48 48

fin = fc bawah = Vampin(V) 9,68750 9,68750 9,68750

1 KHz Vampout (V) 6,56250 6,78500 6,81750

Gain (dB) -3,38 -3,09 -3,05

fc bawah < fin < fc VamPin(V) 9,68750 9,68750 9,68750 atas (fin = 1,5 KHz) Vampout (V) 1,71875 2,00435 1,98650

Gain (dB) -15,02 -13,68 -13,76

fin = fc atas = Vampin(V) 9,68750 9,68750 9,68750

2KHz Vampout (V) 6,71875 6,87500 7,00135

Gain (dB) -3,18 -2,98 -2,82

Kesimpulan :

BSF beketja dengan cukup baik untuk ketiga macam metode Window (Rectangular, Hamming, dan Blackman). Hal ini terlihat dari hasil perhitungan pada Tabel 4.7 di mana sinyal input dengan frekuensi di bawah frekuensi cutoff bawah dan di atas frekuensi cutoff atas mengalami peredaman yang sangat kecil, sinyal input dengan frekuensi di antara frekuensi cutoff atas dan bawah (fin = frekuensi tengah) memiliki amplitudo yang terkecil (mengalami peredaman yang terbesar), dan sinyal output dengan frekuensi sinyal input sarna dengan frekuensi cutoffatas dan bawah memiliki attenuation mendekati -3 dB.

Gambar

Diagram alir program pengujian ADC
Diagram alir program utama pengujian ADC dan DAC

Referensi

Dokumen terkait

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir yang

8. Bila terdapat unit independen dalam fasilitas pelayanan pasien yang akan disurvei, rumah sakit memastikan bahwa unit tersebut mematuhi rencana penanganan bahan berbahaya...

Kaji ulang tentang kesetiaan pasien mengkonsumsi obat secara teratur dengan menanyakan beberapa hal penting sehingga pasien benar-benar mengerti pentingnya obat dan bantu

a) Dari hasil uji eksistensi (uji F) menunjukkan bahwa model yang digunakan eksis yang artinya secara serempak variabel inflasi, Retribusi Daerah dan kemiskinan

Hal ini dipertegas hadits Rasûlullâh Shallallahu „alaihi wa sallam,“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Pendidikan

Mention adalah cara yang paling umum digunakan dalam twitter untuk berkomunikasi dengan sesama pengguna twitter, jika mengirimkan pesan kepada orang lain dengan

Dari uji gen nucleoprotein (N), phosphoprotein (P), matriks protein (M) , non-virion protein (NV protein dan glikoprotein (G) yang disisipkan ke dalam vaksin plasmid maka

Pada dokumen uji dilakukan penamaan entitas (named entity) pada dokumen dengan menggunakan Named Entity Tagger bahasa Indonesia yang merupakan aplikasi hasil